Islami Pedia: Serial 5 Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat
News Update
Loading...
Showing posts with label Serial 5 Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat. Show all posts
Showing posts with label Serial 5 Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat. Show all posts

Wednesday, June 10, 2020

Masjid Jami' An-Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara An-Nur Mlangi (foto dari wijna.web)

Masjid Jami' An-Nur Mlangi, merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan menjadi batas negara di bagian barat. merupakan bangunan paling legendaris di dusun Mlangi karena dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Warga setempak menyebut masjid ini sebagai Masjid Gedhe.

Gapuro Masjid Pathok Negara

An-Nur Mlangi (foto dari tembi.org)

Meski telah mengalami renovasi dan beberapa perubahan, arsitektur aslinya masih dapat dinikmati. Diantaranya adalah gapura masjid dan dinding sekitar masjid yang didesain seperti bangunan di daerah Kraton. Di dalam masjid juga tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan sejak Kyai Nur Iman mengajar Islam.

Disekeliling Masjid juga terdapat pemakaman dan satu dari makam yang paling banyak dikunjungi oleh para peziarah adalah makam dari makam Kyai Nur Iman yang memiliki nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo merupakan kerabat dari Sultan Hamengku Buwono I.

LOKASI

Masjid Jami’ Pathok Negara An-Nur Mlangi terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

SEJARAH MASJID PATHOK NEGARA AN-NUR MLANGI

Masjid Jami' Mlangi dibangun pada masa Kyai Nur Iman sekitar tahun 1760-an.

Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro  adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun 1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin

Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)

Kyai Nur Iman sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.

Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman , di samping kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari

Keempat masjid tersebut adalah : di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, di sebelah Timur terletak di desa Babadan, di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.

Pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :

Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo, Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri. Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.

WISATA ZIARAH DI MASJID PATHOK NEGARA MLANGI

Masjid Pathok Negara An-Nur Mlangi (foto dari gudeg.net)

Makam Kyai Nur Iman senantiasa ramai di ziarahi oleh para peziarah terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.

Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu.

ARSITEKTUR MASJID PATHOK NEGARA MLANGI

Mastoko Masjid Pathok Negara

An-Nur Mlangi (foto dari yulibean.multiply)

Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi, yang terdiri atas bagian ruang utama 20 x 20 meter persegi, serambi masjid 12 x 20 meter persegi, ruang perpustakaan 7 x7 meter persegi, dan halaman seluas 500 meter persegi.

Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.

Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.

RENOVASI DAN PERLUASAN

Sayangnya, bentuk Masjid ini sudah banyak mengalami perubahan. Blumbang yang dulu mengelilingi masjid, sekarang sudah tidak ada lagi. Pada waktu itu, air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.

Hal ini terjadi bersamaan dengan renovasi yang dilakukan tahun 1985. Panitia pembangunan, pada saat itu sowan dulu ke Kraton meminta izin untuk renovasi. Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya. Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. Sekalipun demikian, bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m ; sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.

Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.

Mimbar yang ada di masjid ini juga masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga mempertahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.

PENGELOLA MASJID

Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah Kesultanan Ngayogyokarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itu masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami' Mlangi.

Namun, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.

Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.

MASYARAKAT MLANGI YANG ISLAMI

Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai begitu banyak Pondok Pesantren. Diantaranya Pondok Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki.

Cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.

Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an.

Beberapa Ponpes di wilayah Mlangi dipimpin oleh para kyai keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama'ah dan jum'atan. Pondok pondok Pesantren tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi'in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.

TRADISI MASJID AN NUR MLANGI

Bimbingan Agama Islam ba’da magrib dan ba’da subuh

Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba'da subuh dan ba'dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran.

Kegiatan di bulan Ramadhan

Selama Bulan Ramadhan dilaksanakan Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah.

Budaya Mercon

Daerah Mlangi juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Ramadhan. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.

Jenang manggul

Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Sultan Hamengkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. tradisi jenang manggul, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.

REFERENSI

Dusun Mlangi, Wisata Religius Islami Masjid Pathok Negara Mlangi

Melongok Nuansa Islami di Dusun Mlangi

Riwayat Mbah Kyai Nur Iman Mlangi Yogyakarta : Tarikh Nur Iman Mlangi RM. Sandeyo

Jelajah Desa Wisata II

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Masjid Kotagede Masjid Tertua di Yogyakarta

Tuesday, June 9, 2020

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat

Loma Masjid Pathok Negara Yogyakarta

Sesuai dengan namanya Masjid masjid Pathok Negara ini merupakan masjid masjid yg sebagai penanda batas wilayah kekuasan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang biasa kita sebut Yogyakarta atau Jogja. Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat berdiri lepas 13 Februari 1755 M atau bertepatan dengan Perjanjian Giyanti.

Fungsi Masjid Pathok Nagara tidak semata-mata untuk pembatas saja, namun buat tempat ibadah, tempat belajar (mengaji), loka upacara pernikahan juga kematian & pula sebagai sentra penyiaran kepercayaan Islam (selain masjid raya kerajaan). Masjid-masjid itu pula menjadi bagian dari masjid raya Kerajaan sehingga menjalankan fungsi ketakmiran bersama-sama menggunakan masjid besar dan masjid pathok negara lainnya. Hal ini bisa dicermati menurut kedudukan para imam/pengulu/ kyai pengulu masjid yang sebagai anggota al-Mahkamah al-Kabirah (Badan Peradilan Kesultanan Yogyakarta) dalam taraf Peradilan Agama Islam. Imam Besar Masjid Raya sebagai ketua Mahkamah yang bergelar Kanjeng Kyai Pengulu.

Dalam sistem aturan dan peradilan Kerajaan, Sultan permanen memegang kekuasaan kehakiman tertingi. Ada tiga tempat aplikasi peradilan buat memutuskannya, keliru satunya di Masjid Pathok Nagara, yaitu: pasowanan bale mangu, pengadilan pradata (tempat kerja); & pengadilan hukum sarambi.

Selain Masjid Agung Kauman pada sebelah barat Alun-Alun Utara Jogja yang dikenal menjadi masjid kerajaan, setidaknya terdapat 5 masjid pathok negara yang tersebar pada empat penjuru mata angin. Yakni, Masjid Mlangi di barat, Masjid Babadan di timur, Masjid Plosokuning di utara, dan Masjid Nurul Huda Dongkelan & Masjid Wonokromo pada selatan. Ada yang bilang, Masjid Agung Kauman & masjid patok negara pada empat penjuru mata angin itulah yg diklaim kiblat papat lima pancer.

Lokasi 5 Masjid Pathok Negara ditambah Masjid Sultan Agung Babadan Baru.

Selain arsitekturnya yg seperti Masjid Agung pada Kauman, masjid-masjid patok negara itu menjadi sentra keagamaan di empat penjuru Jogja. Ada pesantren atau sekolah keagamaan pada masjid yg abdi dalem pamethakan itu. Masjid patok negara juga khas karena nir dijumpai pada Keraton Surakarta.

Arsitektur masjid patok negara spesial Jawa ditandai menggunakan atap tumpang gasal, denah bujur kandang atau persegi panjang, dengan batur lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Ciri lain, ada serambi, ruang pawestren, mihrab, mimbar, beduk, dan kentongan. Umumnya pula dilengkapi maksura sebagai loka salat raja. Di masjid itu pula terdapat kolam keliling.

Sejarah Masjid Pathok Negara

Pathok dalam bahasa dan dialeg Jawa sama maknanya dengan kata Patok dalam  Bahasa Indonesia, yaitu tonggak penanda tapal batas. Bermula ketika Sultan Jogja, Sultan Hamengkubuwon I berguru kepada Kyai Muhammad Faqih dan meminta nasihat kepada beliau tentang upaya untuk menjaga agar kesultanan Jogja senantiasa aman sentosa. Salah satu dari nasihat Kyai Muhammad Faqih kala itu adalah agar Sultan mengangkat Pathok Pathok negara.

Pathok yang dimaksud sang Kyai Muhammad Faqih saat itu adalah Para ulama yang bertugas menaruh pendidikan moral kepada rakyat yg bisa mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti. Kyai Muhammad Faqih sendiri pada ahirnya jua diangkat sebagai Pathok sang Sultan Hamengkubuwono I. Dan keliru satu masjid Pathok Negara Jogya, yaitu Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo didirikan pertama kali sang Kyai Muhammad Faqih di atas tanah perdikan anugerah Sultan Jogya.

Selain sebagai pengajar Sultan Jogya, Kyai Muhammad Faqih pula merupakan kakak ipar menurut Sultan Hamengkubuwono I, menurut keterkaitan hubungan mereka terhadap Ki Ki Derpoyudo karena Kyai Muhammad Faqih menikah menggunakan putri pertama Ki Derpoyodi sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah menggunakan putri ke 2 Ki Derpuyudo.

Lima Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat

Ada lima Masjid Pathok Negara yang sampai sekarang masih berdiri kokoh menjalankan manfaatnya buat masyarakat Jogya, Yaitu :

  1. Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning, batas utara, terletak di Desa Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  2. Masjid Jami Nur Mlangi, batas negara di bagian barat terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  3. Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, batas negara bagian timur terletak di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Masjid Sultan Agung di di Jalan kaliurang km 7 babadan baru condongcatur depok sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  4. Masjid Pathok Negara Nurul Huda, batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  5. Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo, juga merupakan batas negara di selatan terletak di desa Desa Wonokromo, Kec. Pleret, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berikut merupakan foto foto berdasarkan semua masjid Pathok Negara Yogyakarta tersebut.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning, batas utara, terletak di Desa Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masjid Jami Nur Mlangi, batas negara di bagian barat terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, batas negara bagian timur terletak di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Masjid Sultan Agung di di Jalan kaliurang km 7 babadan baru condongcatur depok sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masjid Pathok Negara Nurul Huda, batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo, juga merupakan batas negara di selatan terletak di desa Desa Wonokromo, Kec. Pleret, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lima postingan berikutnya Insya Allah akan membahas detil berdasarkan masing masing 5 masjid tadi pada serial Masjid Masjid Pathok Negara Ngayigyakarta Hadiningrat. [Updated :: 6-Oct-2012].

Referensi

Masjid ?Pathok Negara? Wonokromo: Kisah Menegakkan Negara menggunakan Membangun Akhlak Bangsa

Tarawih Keliling ke Masjid Pathok Negara

Lima Masjid Pathok Negara pada Empat Penjuru Mata Angin

Masjid Pathok Negoro

Masjid Pathok Nagara

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Masjid Kotagede Masjid Tertua di Yogyakarta

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning merupakan keliru satu berdasarkan lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Didirikan di atas tanah kasultanan seluas dua.500 m2. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 & selesainya pengembangan sebagai 328 m2. Diantara kelima masjid Pathok Negara milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negara pada Plosokuning merupakan bangunan yg paling terjaga kelestariannya.

Lokasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara ?Plosokuning? Berlokasi pada Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Letak masjid ini sekitar 9 km arah utara berdasarkan Kraton Yogyakarta.

View Masjid Sulthoni Plosokuning in a larger map

Arsitektur Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro didirikan sehabis pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sebagai akibatnya bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai keliru satu bisnis legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini jua didukung oleh beberapa komponen yang terdapat di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro memiliki karakteristik beratap tajuk menggunakan tumpang 2. Mahkota masjid jua memiliki kecenderungan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang mengindikasikan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang 3. Ciri-ciri lain berdasarkan kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah dalam masing-masing masjid masih ada kolam keliling, pohon sawo kecik dan masih ada mimbar yg terdapat di dalam masjid.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Dalam perkembangan ketika ini, arsitektur trradisional telah banyak mengalami perubahan dan galat satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern pada Indonesia. Hal di atas jua berpengaruh terhadap Masjid Pathok Negoro yang terdapat. Dari kelima masjid yg ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning saja yang hingga ketika ini masih mempertahankan bentuk aslinya.

Sejarah Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro Plosokuning didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III yg 1812-1814. Beliau merupakan ayahanda Pangeran Diponegoro, saat Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) sebagai Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yg berkedudukan di Plosokuning.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah nir terdapat. Satu hal yang menarik berdasarkan desa ini. Hingga kini wilayah pada sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. Daerah pada sekitar masjid dikenal menggunakan sebutan daerah Mutihan yang memiliki arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yg disebut daerah Mutihan jua diklaim menjadi wilayah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yg memiliki ikatan darah menggunakan pendiri masjid. Sedangkan wilayah yang agak jauh menurut masjid diklaim Ploso Kuning Jobo.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Sebagai salah satu masjid pathok Negoro, pada masjid Plosokluning pula ditempatkan abdi dalem kemasjidan. Abdi dalem yang menjalankan tugas di masjid Plosokuning dengan fungsi masing masing menjadi Khotib, Muadzin, Jajar Jama'ah, Jajar Ulu-ulu (penghulu) dan Jajar Merbot. Kesemua fungsi tersebut pada emban oleh andi dalem bergelar Raden.

Renovasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Keaslian Masjid pathok Negoro Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap dimana di atasnya masih ada mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang hingga sekarang masih terpasang di zenit atap masjid. Dulu, penutup atap masjid memakai sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng dalam tahun 1946.

Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa menggunakan memakai semen merah, lalu pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu jua menggunakan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian dalam tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal dua batu, tetapi lantaran terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya terdapat satu dan sangat rendah yg mengakibatkan ruang masjid sebagai gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan supaya setiap orang yg masuk masjid hendaknya menunduk & memberitahuakn rasa tatakrama dan sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian mengakibatkan ruangan pada pada masjid menjadi gelap, sebagai akibatnya pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian dan ditambah ventilasi di ruang pada masjid.

Semua penambahan & pemugaran bangunan pada masjid, terlebih dahulu dimintakan persetujuan menurut Sinuhun Kanjeng yg berada pada kraton, baik tentang bentuk dan modelnya. Beberapa tahun terakhir, takmir masjid mengadakan pemugaran & penambahan ruang yang ada di samping kanan & kiri masjid. Hal ini bertujuan agar kegiatan pengajian & tadarus dapat berlangsung nyaman sekaligus buat menambah shaf putri. Pada ruang pada masjid masih ada tiang-tiang yg berfungsi sebagai resistor konstruksi atap. Semua tiang penyangga ini sebagian akbar masih orisinil dan terbuat menurut kayu jati.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, masjid ini balik mengalami renovasi pada bagian serambi & loka wudhu. Renovasi ini dilaksanakan sang Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Pada tahun tadi warga secara swadaya juga mengubah lantai tegel masjid menggunakan keramik, memasang konblok di page dan mendirikan menara pengeras bunyi.

Tradisi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Di depan masjid masih ada 2 kolam menggunakan kedalaman tiga meter. Setiap orang yg akan memasuki masjid wajib bersuci terlebih dahulu pada kolam itu. Makna lain dari dua kolam ini merupakan bila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya. Saat ini kolam tersebut pula digunakan untuk memelihara ikan serta buat mencuci kaki sebelum masuk ke mesjid.

Di dalam masjid, terdapat mimbar tua yg terbuat menurut kayu jati menggunakan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini jua dilengkapi menggunakan sebuah tongkat yg dipakai sang khatib pada saat menaruh khotbah yang sampai sekarang masih dipakai. Masjid ini pula masih menganut norma lama dimana adzan dalam waktu sholat Jum'at dilakukan 2 kali. Dahulu lebih kurang tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan ke 2 dilakukan keliru seorang menurut mereka.

Begitu pula dengan khotbah dilakukan dengan memakai bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 istiadat tadi berubah, muadzin yg semula berjumlah 5 orang sebagai dua orang, tetapi adzan permanen dilakukan 2 kali. Khotbah pula diganti menggunakan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini mempunyai pintu gerbang yang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam & ikhsan. Pada lima undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu terdapat 5 sedangkan dalam 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu terdapat 6.

Pada momen-momen eksklusif, pada masjid ini juga dilaksanakan aktivitas keagamaan yg diikuti sang keluarga kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini telah sebagai bagian berdasarkan tradisi keraton yg lestari hingga kini . Maksud & tujuannya nir lain adalah buat mempelajari ajaran & tuntunan Nabi menggunakan membaca & memahami hadist-hadist yang terdapat pada Sahih Bukhari.

Referensi

pathoknegoro.com - Masjid Pathok Negoro Plosokuning

hizbut-tahrir.or.id - Masjid Pathok Nagara

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Pahtok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid An-Jami Nur Mlangi

Monday, June 8, 2020

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto darionthelpotorono)

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo merupakan salah satu menurut Lima Masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Tulisan ini adalah bagian ahir berdasarkan 6 goresan pena serial lima masjid pathok negara kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lokasi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Masjid Taqwa berdiri pada atas tanah kesultanan (Sultan Ground) seluas 5000 meter persegi. Luas bangunan masjid ketika didirikan merupakan 420 meter persegi dan sampai kini sudah dilakukan pengembangan sebagai akibatnya luasnya menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi luasnya 250 meter persegi, & ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi, & laman seluas 4000 meter persegi.

Lihat Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa, Wonokromo didirkan pertama kali oleh Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam Bertempat tinggal di desa Ketonggo. Dan terkenal juga dengan panggilan "Kyai Welit". Karena kesenangannya menganyam daun alang alang menjadi atap atau disebut welit. Welit yang dibuatnya tidaklah untuk dijual tapi hanya dibagi bagikan ke mereka yang membutuhkan.

Kyai Muhammad Fakih merupakan guru sekaligus kakak ipar dari Sultan Hamengkubuwono I (Raja Yokyakarta) Karena Sultan Sultan Hamengkubuwono menikah dengan putri kedua Ki Derpoyudo sedangkan Kyai Muhammad Fakih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo yang merupakan seorang tokoh masyarakat Laweyan Surakarta.

Ketika menjadi murid dari Kyai Muhammad Fakih Sultan pernah meminta nasihat kepada Kyai Muhammad Faqih bagaimana agar negara senantiasa aman. Kyai Muhammad Faqih memberikan nasihat agar sultan agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut "Pathok". Dan memilih "Kenthol" (kepala pedesaan/desa). Sultan setuju dengan nasihat Kyai Muhammad Faqih dan mengangkat Pathok yang ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning,Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng.

Gerbang, Lambang Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat di fasad depan Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto darionthelpotorono)

Tahun 1774 M Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon awar-awar, karenanya disebut alas awar-awar. Tanah anugrah Sultan yang masih berupa hutan awar-awar itu dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil. Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih menghadap Sultan menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid.  Atas amanat Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama "WA ANA KAROMA" yang maksudnya "Supaya benar-benar Mulya" atau "Agar Mulya Sungguh-sungguh"

Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranyaKH Abdullah terdampar di selat Malaka.

Arsitektural Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Arsitektur asli bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka berdasarkan kuwali yang terbuat berdasarkan tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan menggunakan satu pintu pada depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, & dindingnya berdasarkan gedhek. Sebelum lalu mengalamai beberapa kali renovasi & ekspansi sampai ke bentuknya saat ini.

Renovasi Dan Perluasan Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Tahun 1867M Bentuk asli Masjid Pathok Negara Taqwa direnovasi oleh Kyai Muhammad Fakih II bentuk bangunan masjid dibongkar diganti dengan bentuk atap tumpang. Serambi tetap berbentuk limasan. mustoko yang dulu hanya dari kuwali yang dibuat dari tanah liat kemudian diganti dengan bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka.

mihrab dan serambi masjid Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto darionthelpotorono)

Kerangka yg semula bambu sebagian besar diganti menggunakan kayu nangka dan sebagian dengan gelugu. Tembok anyaman bambu diganti menggunakan batu bata yg direkatkan dengan tanah liat diplester menggunakan adukan aci gamping menggunakan tumbukan bata & pasir. Lantainya dibentuk dari bata yg ditata lalu diplester menggunakan adonan yang sama misalnya membuat tembok.

Ruangan pada pada masjid ditambah. Di sisi kiri dan kanan bangunan masjid dibentuk ruangan untuk jamaah sholat bagi muslimah yang dianggap pawestren. Tempat wudhu yang semula menurut padasan, dibuatkan kolam di depan serambi masjid. Air dialirkan dari sungai Belik.

Tahun 1958, masjid kembali di renovasi atas biaya dari H. Prawiro Suwarno.Atap tumpang tetap dipertahankan, malah ditambah dengan gulu melet sebagai penyela antara atap tumpang sebelah atas dan atap tumpang sebelah bawah.  Serambi masjid diperluas. Kolam di tempat wudhu ditimbun tanah dijadikan halaman masjid. Tempat wudhu dibuat kulah yang berada di sisi utara dan selatan serambi masjid. Pawestren tempat jamaah sholat untuk muslimah dipertahankan. Bangunan masjid diganti tembok yang disemen. Empat tiang utama di dalam masjid menjadi terlihat jelas. Tempat khotib dibuatkan rumah-rumahan semacam gazebo ukuran 2 x2 m. Di bagian serambi ada beberapa tiang dari cor beton dan di dalam serambi tiang dibuat dari balok kayu jati. Di depan serambi masjid dibuat kanopi. Lantai ruangan masjid maupun serambi diganti dengan tegel. Ruangan dalam masjid, tegel dibuat warna warni dengan corak ornamen kembang-kembang.

Tahun 1973 M, warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan seperangkat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk mengumandangkan adzan. Tahun inilah pertama kali adzan dikumandangkan dengan pengeras suara di masjid Taqwa.

tempat berwudhu, bedhug dan kenthongan, serta parit dengan air jernih di Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo (foto darionthelpotorono)

Tahun 1976 M, mustoko dalam bentuk bawangan yg dibentuk menurut kayu nangka, diganti dengan mustoko pada bentuk bawangan yg dibentuk dari aluminium menggunakan berukuran yang lebih akbar.

Pada tahun 1986 M, masjid menerima bantuan dari Presiden RI sejumlah Rp. 25.000.000,- Karena kondisi masjid sudah poly yang rusak, terutama kayu penyangga yg lapuk karena terkena tetesan air hujan, atas biar tertulis dari Keraton, bangunan masjid dibongkar dan diperluas.

Secara total, masjid dibangun menggunakan konstruksi beton bertulang, menggunakan nir meninggalkan arsitektur masjid Jawa Yogyakarta. Termasuk pada pemilihan rona catnya antara komposisi hijau, kuning dan merah dan kuning emas karena warna-rona ini mengandung nilai filosofis yang pada. Keinginan warga menciptakan menara berdasarkan konstruksi beton nir mendapatkan ijin dari keraton karena corak masjid Yogyakarta tidak terdapat menaranya.

Tahun 2003 M, masjid ini menerima bantuan pengembangan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta. Dengan membentuk gedung pertemuan pada utara serambi masjid. Kulah dibikin simetris antara kulah di sebelah utara serambi masjid & di sebelah selatan serambi masjid. Ada penambahan bangunan kanopi & dihidupkannya kolam pada depan pada sisi kiri dan kanan serambi masjid. Juga penyempurnaan dapur buat mengolah air pada saat dilaksanakan hari-hari besar Islam di masjid taqwa.

Nama Masjid Taqwa

Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun,masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.

Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yg mengandung pengertian generik buat siapa saja. Siapa saja menurut tingkatan kyai hingga menggunakan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak terdapat bedanya menggunakan siapa pun. Termasuk yg boleh masuk ke masjid ini nir hanya masyarakat Wonokromo, akan tetapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yg mengandung pengertian spesifik, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus buat warga Wonokromo saja.

Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi di serambi masjid.

Tradisi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Hukuman untuk yg galat membunyikan beduk

Zaman dulu, pada depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yg dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu pula berfungsi unuk menghukum orang yang salah pada memukul kentongan dan beduk, dengan diceburkan di dalam kolam.

Bunyi Beduk & kentongan yg khas

Untuk tanda waktu masuk sholat, selain azan, dibuat kentongan dan beduk. Suara dan irama beduk di hari-hari biasa berbeda dengan saat tanda masuk sholat ashar di hari Kamis. Suara irama beduk disebut dengan sarwo lemah, asar dowo malem jemuah. Bila tiba waktu ashar di hari Kamis, beduk itu dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang. Artinya apabila terdengar suara beduk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum'at.

Di hari Jum'at, setengah jam sebelum tiba waktu sholat jum?At, beduk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk sisipi pemukulan kenthongan. Ini menandakan bahwa aplikasi ibadah Jum'ah sudah akan dimulai.

Azan Limo

pada waktu sholat Jum'at, pelaksanaan adzan dilakukan 2 kali. Adzan pertama dilakukan sebagai indikasi ketika masuknya ketika sholat dhuhur (masuk waktu sholat Jum'at). Pada waktu adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, 'asar, maghrib, isya' berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan beserta-sama. Hal ini dimaksudkan agar terdapat keadilan, manunggal dan bertemunya para muadzin berdasarkan masing-masing waktu, maka pada sini dikenal dengan istilah adzan limo

Bodho Kupatan

Adalah tradisi saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal bulan syawal

Peran Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini buat jama'ah sembahyang Jum'at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua pada wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya.

Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping buat sholat jama'ah para gerilyawan RI juga sebagai loka koordinasi buat menggempur Belanda yg berkedudukan di Pleret. Daerah ini adalah basis kekuatan militer & pejuang dan kekuatan warga dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yg bermarkas di Pleret maupun di Bantul

Masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer kompi III Batalion I Brigade 10yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.

Pengurus Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Otoritas Kyai

Pada awal berdirinya, belum dikenal kata takmir masjid buat mereka yg mengurusi masjid. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik buat urusan fisik masjid juga urusan peribadatannya.

Khodimul Ummah

Tahun 1913 M orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah. Perangkat pengurus masjid memiliki nama dan peran masing masing misalnya : khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin. Masing masing muadzin memiliki tugas masing-masing di masing masing 5 waktu sholat. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.

Imamah

Tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun.

Takmir

Paska wafatnya Kyai Makmun tanggal 2 Mei 1990 M. pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.

Berikut daftar kepengurusan masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo sejak awal sampai tahun 2007.

Kyai Muhammad Fakih

(1755 1763 M)

Kyai Abdullah

(1763 1808 M)

Kyai Ibrahim

(1708 1863 M)

Kyai Muhammad Fakih II

(1863 1913 M)

Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat

(1913 1953 M)

Kyai Dimyati

(1953 1969 M)

Kyai Makmun

(1969 1990 M)

Kyai Moh Syifak

(1990 1994 M)

R. Zaenuri Isma'il

(1994 1997 M)

Drs. Muhammad Wakhid

(1997 2000 M)

Kyai Isma'il

(2000 2003 M)

Kyai Ismail

(2003 2006 M)

Kyai Ismail

(2006 sekarang).

Referensi

Onthelpotorono -masjid-pathok-nagara-wonokromo-kisah-menegakkan-negara…

gudeg.net -Masjid-Pathok-Negara-Taqwa-Wonokromo

-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Masjid Kotagede Masjid Tertua pada Yogyakarta

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan

Masjid Nurul Huda Dongkelan,  batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (foto dariwijna.web)

Masjid Pathok Negoro Dongkelan Kauman atau seringkali juga disebur Nurul Huda adalah galat satu masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan buat menangkal serangan musuh. Dalam sejarahnya sempat ludes dibakar oleh Belanda dalam perang melawan Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830, lalu dibangun pulang & manfaatnya sebagai basis pertahanan negara pun terhapus menggunakan sendirinya waktu Republik Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan asing. Di sebelah barat masjid terdapat komplek makam tua. Di sini dimakamkan Kiai Syihabudin yg sebagai cikal bakal desa Dongkelan sebagai tanah perdikan.

LOKASI

Masjid Nurul Huda Dongkelan yang terletak di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah spesial Yogyakarta

Seperti halnya Masjid Pathok Negoro lain pada Yogyakarta, Masjid Nurul Huda Dongkelan, memang sederhana dan berfungsi sebagai tempat beribadah meskipun keberadaannya hingga sekarang telah berumur lebih kurang 230 tahun, masjid ini permanen menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan warga lebih kurang.

Lihat Masjid Nurul Huda Dongkelan (Pathok Negoro Selatan) di peta yang lebih besar

SEJARAH

Masjid Pathoknegara Nurul Huda didirikan pertama kali tahun 1775. Sejarah masjid ini berawal waktu Pangeran Mangkubumi mengadakan sayembara untuk mencari pengawal yang mempunyai kesaktian tinggi. Dari sejumlah kontestan yang ikut, sayembara tadi akhirnya dimenangkan oleh Kiai Syihabudin. Setelah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama di Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756, Kiai Syihabudin diangkat sebagai penghulu, mengelola masjid di atas tanah perdikan (Tanah Bebas Pajak) Desa Dongkelan.

Di masa perang Jawa yg dipimping Oleh Pangeran Diponegoro (putra dari Sultan Hamengkubuwono III) melawan tentara penjajah Belanda dalam kurun tahun 1825-1830M masjid ini pernah di bakar habis oleh Belanda. Mereka menganggap Masjid Nurul Huda Dongkelan sebagai loka berkumpulnya pemberontak. Seusai perang itu, pihak keraton beserta-sama masyarakat Kauman Dongkelan menciptakan kembali Masjid Nurul Huda Dongkelan

ARSITEKTUR MASJID

Suasana tenang penuh kesederhanaan, masih tercermin sampai kini . Arsitektur masjid yg dibangun Keraton Yogyakarta sebagian masih menyisakan kekhasan masjid keraton pada masa itu. Pilar-pilar penyangga masjid tampak minimalis, hanya ada sedikit tabrakan motif ukiran. Lantai masjid yg dulunya berwarna hitam, kini hanya digantikan keramik putih polos.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (foto yogyakarta.panduanwisata.com)

Beduk warna coklat kusam berusia 106 tahun pada sayap utama serambi masjid pula masih terdapat pada masjid ini. Bangunan masjid ini terhitung kecil dibandingkan Masjid Pathok Negoro lainnya, yaitu seluas lebih kurang 200 meter persegi.

RENOVASI DAN PERLUASAN

awalnya bangunan masjid tidak begitu luas & hanya beratapkan ijuk. Namun, kesederhanaan tadi nir menyurutkan niat rakyat Dongkelan buat beribadah dan memperdalam ilmu keagamaan & ?Kanuragan?. Awalnya (1830-an), bagian inti masjid dibangun lagi menurut puing puing kehancuran akibat dibakar sang Belanda pada masa Perang Jawa yg dipimpin sang Pangeran Diponegoro. Kemudian, mengacu dalam goresan pena di saka guru serambi masjid berbahan kayu jati yg memberitahuakn angka 1948, dimulailah renovasi Masjid Nurul Huda Dongkelan termin berikutnya.

Tetapi, luas bangunan masjid simpel tak banyak berubah setelah renovasi itu. Pada tahun 1950-an, Masjid Nurul Huda Dongkelan akhirnya tidak lagi dipakai buat basis pertahanan Keraton Yogyakarta. Masjid ini lalu lebih banyak digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah, mengaji, memperdalam ilmu keagamaan, dan loka peringatan hari-hari akbar Islam, seperti Idul Fitri.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (foto yogyakarta.panduanwisata.com)

TRADISI MASJID PATHOK NEGARA NURULHUDA DONGKELAN

Pada bulan Ramadhan tahun ini, masyarakat Kampung Kauman Dongkelan tetap melakukan tradisi menggunakan menjalankan berbagai kegiatan kepercayaan , mulai menurut kegiatan takjilan bagi remaja & anak-anak menjelang buka puasa, shalat tarawih, kuliah subuh, sampai pengkajian ilmu kepercayaan & Al Quran.

Pusat Informasi Ramadhan (PIR) masjid Nurul Huda Dongkelan didirikan tahun 2004 telah sebagai akibatnya membantu aplikasi aktivitas keagamaan di masjid. PIR jua mendirikan radio komunitas Pathok Negoro FM yang berfungsi menyiarkan dakwah dan siaran pribadi segala aktivitas yg diadakan pada masjid ini, termasuk menurut tarawih, subuhan sampai takjilan. Uniknya takjilan disini buat bapal-bapak masyarakat desa ini, selebihnya buat anak-anak mini hanya dilakukan seminggu 3 kali yaitu, Senin, Kamis & Sabtu. (updated : 28/08/2012).

REFERENSI

krjogja.com - Kesederhanaan Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan (akses pada 24/9/20100)

sarjiono774.wordpress.com - Masjid Patok Negara Dongkelan

penamas-depag-bantul.com - SISTEM INFORMASI MASJID KABUPATEN BANTUL (akses pada 24/9/20100)

-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Masjid Kotagede Masjid Tertua pada Yogyakarta

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Ad-Darojat Babadan (foto dari wijna.web)

Masjid Pathok Negara Ad-Darojah Babadan, adalah salah satu berdasarkan 5 Masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Masjid ini memiliki sejarah yang unik dalam sejarah usaha kemerdekaan karena pernah dipaksa pada pindahkan sang pasukan penjajahan Jepang berikut semua penduduk yg ada di kurang lebih lokasi masjid. Lantaran lokasi tadi akan dijadikan pangkalan militer sang pasukan Jepang.

Lokasi Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, berada pada Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah spesial Yogyakarta, INDONESIA. Rute buat menuju ke masjid dari JEC (Jogja Expo Center), berdasarkan Jalan raya Janti pada depan JEC ada sebuah pohon beringin yg menghadap ke sebuah pertigaan. Salah satu jalan di pertigaan itu bernama Jl. Pathok Negara. Ikut Jalan Pathok Negara hingga hingga pada lokasi masjid.

View Masjid Ad-Darojat Babadan in a larger map

Sejarah Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Ad-Darojat Babadan adalah keliru satu masjid patok negara yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I dalam tahun 1774 di atas tanah mutihan atau Sultan ground seluas 120 meter persegi.

Pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan rakyat Babadan dipindah ke Desa Badabadan baru pada Jl. Kaliurang KM-7, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan ketika itu daerah Babadan terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan menjadi gudang senjata. Akibat perpindahan tadi denyut kampung Babadan menjadi kampung santri sempat mengalami tidur panjang. Akibat perpindahan yang dilakukan oleh Jepang tersebut, masjid Patok Negara tersebut menjadi tidak terurus.

Masjid Sultan Agung Babadan baru (foto dariwijna.web)

Saat terjadi pengusiran sang Jepang, memang nir semua penduduk ikut boyong ke Kentungan. Sebagian warga Babadan tetap tinggal di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan warga , masjid ini hanya tersisa fondasi & temboknya saja. Hal ini dikarenakan semua konstruksi kayu masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di Babadan Kentungan.

Setelah Jepang kalah pada Perang Dunia ke-2 yg akhirnya seluruh personil & tentaranya meninggalkan Indonesia, secara otomatis pembangunan ekspansi pangkalan udara pun urung dilaksanakan. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak warga yg datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap pada sana.

View Masjid Sultan Agung Babadan Baru in a larger map

Pada tahun 1960-an keliru seorang warga Babadan bernama Muthohar memiliki niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tadi. Pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan semasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Atas dukungan Sultan maka nama Sultan Hamengku Buwana IX "Ndoro Jatun" diabadikan menjadi nama masjid Patok Negara tadi menggunakan nama Masjid Ad-Darojat.

Meski bentuk masjid mengalami perubahan, tetapi bentuk khas sebagai masjid kraton masih permanen dipertahankan. Seperti pada masjid Pathok Negoro lainnya, pada sisi barat masjid merupakan pemakaman loka bersemayam para tokoh agama maupun rakyat setempat. Masjid ?Pindahan? Di Desa Babadan Baru masih bertahan hingga kini dan diberi nama Masjid Sultan Agung.

Lantaran latar belakang sejarah demikian ini, antara warga Babadan dengan Babadan Baru Kentungan meskipun terpisah secara geografis namun permanen terjalin hubungan yang serasi. Setiap tahun menjelang datangnya bulan kudus Ramadhan, banyak rakyat Babadan Baru yang tiba ke Babadan buat menggelar acara tradisi nyadran. Silaturahmi setiap kegiatan nyadran tersebut berlanjut waktu Lebaran Idul Fitri tiba, lantaran banyak pula diantara mereka yg masih adalah saudara sedarah.

Arsitektural, Renovasi & Perluasan

Pertama kali masjid ini dibangun pada tahun 1774, arsitektur Masjid Ad-Darojat sama persis menggunakan ketiga masjid Patok Negara lainnya. Kesamaan bentuk masjid tadi terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru dan masih ada pawestren disampingnya. Serambi masjid memakai konstruksi bentuk limasan serta terdapat kolam pada sebelah timur masjid sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid, pada depan masjid juga masih ada pohon kepel.

Kompilasi foto Masjid Pathok Ad-Darojah dari (ritnokurniawan.com)

Dikarenakan pengusiran sang Jepang dalam tahun 1940-an, bersamaan menggunakan boyongnya penduduk Babadan ke Kentungan, seluruh bangunan masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di daerah Kentungan. Tempat tadi kemudian diberi nama Kampung Babadan Baru. Baru dalam tahun 1960-an bekas lokasi masjid pada Babadan kembali dibangun.

Pada pembangunan awal pada tahun 1964, bentuk masjid masih semi tetap. Baru pada tahun 1988 dibangun balik serambi tengah dengan sumber dana menurut pemerintah & swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri spesial menjadi Masjid Pathok Negara permanen dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan menggunakan baik. Baru dalam tahun 1992 bangunan induk primer dibongkar balik & disarankan supaya diadaptasi seperti bentuk semula yakni joglo yang dari dari kayu jati.

Pada tahun 1993 pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membentuk joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid misalnya serambi depan, gerbang masuk, dan loka wudhu & wc dilakukan pada tahun 2001. Atas konvensi para tokoh agama setempat dalam tahun 2003, mustoko yg asli yg terbuat berdasarkan tanah liat nir jadi dipasang & diganti dengan mustoko menurut kuningan. Meskipun demikian mustoko yg orisinil sampai kini masih tersimpan dengan baik pada Masjid Ad-Darojat.

Tradisi di Msjid Ad-Darojah

Shalat tarawih di Masjid Ad-Darojat adalah 11 rakaat (dua x 4 ditambah tiga witir) dengan ceramah. Sedangkan pada Masjid Sultan Agung merupakan 23 rakaat (dua x 10 ditambah 2 1 witir) menggunakan ceramah.

Referensi

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Tarawih Keliling ke Masjid Pathok Negara

Masjid Babadan Saksi Arogansi Jepang

Merangkai Kiblat Papat Lima Pancer

updated ::: 6-Oct-2012

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Masjid Kotagede Masjid Tertua pada Yogyakarta

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done