Islami Pedia: masjid agung demak
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid agung demak. Show all posts
Showing posts with label masjid agung demak. Show all posts

Monday, May 11, 2020

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara

Awal hari yang cerah di Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak adalah keliru satu masjid tertua di Indonesia & di Nusantara, sekaligus jua merupakan masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di Nusantara. Lokasinya berada di desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.

Sejak dibangun, masjid agung Demak sudah sebagai rujukan pembangun masjid masjid kesultanan lainnya di daerah Nusantara, baik yang sekarang menjadi daerah Republik Indonesia sampai ke wilayah Negara tetangga termasuk Malaysia dan Brunai Darussalam.

Masjid Agung Demak dipercaya menjadi tempat berkumpulnya Walisongo buat membahas penyebaran agama Islam pada Tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya. Pembangunan masjid ini seiring dengan berdirinya Kesultanan Demak sebagai Kesultanan pertama pada Nusantara melepaskan diri secara menyeluruh dari impak kerajaan Majapahit.

Kesultanan Demak berdiri menggunakan dukungan berdasarkan para wali yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertamanya. Raden Fatah sendiri diketahui adalah galat satu putra menurut Prabu Brawijaya, Raja Majapahit yg berkuasa dalam waktu berdirinya Kesultanan Demak di abat ke 15 miladiah.

Raden Fatah atau juga dikenal menggunakan Sultan Fatah wafat dan dimakamkan pada sebelah barat komplek Masjid Agung Demak bersama menggunakan sultan Demak yg lain beserta keluarga dan para abdinya.

Lokasi Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Berjarak lebih kurang 26 km dari Kota Semarang, atau 25 km dari Kabupaten Kudus, dan 35 km menurut Kabupaten Jepara.

Dibangun disisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Kesultanan Demak masih berdiri kokoh sampai sekarang dengan bentuk aslinya, lengkap menggunakan satu menara yang dibangun jauh setelah masjid ini berdiri.

Masjid Agung Demak berada pada tengah kota disisi sebelah barat alun-alun. Sebagai Kesultanan pertama di tanah Jawa & Nusantara, tata letak masjid Agung Demak ini sebagai rujukan tata kota lainnya di Nusantara menggunakan ciri khususnya merupakan adanya alun alun ukuran relatif luas di pusat kota dilengkapi dengan Masjid Agung disisi sebelah barat, begitupun dengan pusat pemerintahan & sentra perekonomian yang dibangun tidak jauh dari alun alun kota.

Namun demikian eksistensi keraton kesultanan Demak masih sebagai rahasia hingga kini . Meskipun poly pihak menganggap bahwa bekas keraton Kesultanan Demak berada pada sebelah selatan alun alun Demak.

Sejarah Masjid Agung Demak

Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak pada tahun 1401 Saka atau 1477 Miladiyah, atau 2 tahun selesainya dia mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan menurut para wali pada tahun 1475M, dia bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Munculnya nama Palembang pada gelar beliau karena dia memang lahir & akbar pada Palembang (Sumatera Selatan) menurut Ibu nya yg asal menurut campa.

Sebelumnya Demak adalah bagian dari daerah kesatuan kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya (Prabu Brawijaya V Pangeran Kertabhumi). Sebagai putra raja Majapahit, Raden Fatah memang dibentangkan karpet merah ke wilayah kekuasaan. Sebelum menjadi Sultan Demak dia sudah dianugerahi jabatan oleh ayahandanya Prabu Brawijaya menjadi Adipati Natapraja di Glagahwangi Bintoro Demak di tahun 1475 M.

Di pada ruang utama Masjid Agung Demak.

Beliau juga mendapat bantuan gratis 8 pilar berukir dari ayahnya yang dikemudian hari digunakan menjadi pilar penopang di serambi Masjid Agung Demak dimasa pemerintahan Adipati Yunus (Pati Unus). Pilar pilar tadi masih dapat kita lihat keberadaannya sampai sekarang dan dianggap dengan pilar Majapahit.

Tak pelak, berdirinya Kesultanan Demak menjadi kerajaan Islam dan melepaskan diri berdasarkan dampak Majapahit mengundang kemarahan pihak keraton Majapahit yg kemudian mengirimkan pasukan buat menyerang Demak. Namun serangan itu dapat dipatahkan sang pasukan Demak. Disebutkan bahwa galat satu dari pimpinan pasukan Majapahit bernama Raden Sepat bahkan kemudian mengikrarkan ke-Islaman nya dan bergabung menggunakan kesultanan Demak.

Raden Sepat yang kemudian terlibat eksklusif dalam proses merancang Masjid Agung Demak menggunakan, kemungkinan akbar dia adalah bagian dari pasukan zeni tempur Majapahit sehingga mempunyai kemampuan arsitektur yg relatif memadai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan seni arsitektur Majapahit sangat kental dalam rancang bangun Masjid Agung Demak ini, menggunakan menerapkan bentuk bangunan aula luas beratap limasan bertingkat sebagaimana lazimnya sebuah bangunan besar di era Majapahit.

Serambi Masjid Agung Demak, perhatikan pilar pilar Majapahit yang latif terbuat menurut kayu jati berukir.

Masjid Agung Demak dibangun dibangun di lokasi bangunan pondok pesantren Glagahwangi, loka Raden Fatah menimba ilmu agama dibawah asuhan Sunan Ampel. Wajar bila lalu para wali mendukung penuh berdirinya kesultanan Demak. Pesantren Glagahwangi didirikan sang Sunan Ampel ditahun 1466 Miladiyah, sekaligus berfungsi menjadi Masjid.

Pembangunan Masjid Agung Demak tersebut kemudian diabadikan pada sebuah prasasti yg ditempatkan di dalam ruang mihrab dan dikenal sebagai Condro Sengkolo Memet. Sebuah prasasti berbentuk bulus (kura kura) yg berarti ?Sariro Sunyi Kiblating Gusti?.

Gambar bulus terdiri menurut ; satu ketua yang berarti angka satu, empat kaki berarti nomor empat, badan bulus yang bundar berarti nomor nol, satu ekor bulus berarti angka satu, yg bermakna tahun 1401 Saka yg kemudian disepakati tahun tersebut bertepatan menggunakan tahun 1477 Miladiyah.

Masjid agung Demak dari arah komplek makam para Sultan Demak, sesaat sehabis ketika sholat subuh.

Berdirinya Kesultanan Demak ini dikemudian hari diikuti menggunakan berdirinya kesultanan Cirebon yang selanjutnya diikuti dengan berdirinya Kesultanan Banten & berbagai Kesultanan lainnya pada wilayah Nusantara.

Disebutkan bahwa Raden Sepat yg mengarsiteki pembangunan masjid Agung Demak jua terlibat dalam proses rancangan Masjid Agung Sang Ciptarasa pada Kesultanan Cirebon & Masjid Agung Banten pada Kesultanan Banten.

Sehingga anda akan menggunakan gampang menemukan kemiripan diantara tiga masjid tersebut. Bahkan beberapa penulis tidak segan menyebut ketiga masjid tersebut menjadi tiga masjid kembar. Beberapa menyebutkan masjid Agung Demak sebagai kembaran Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. (seluruh foto berdasarkan akun instagram @hendrajailani).

(Bersambung)

.

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua pada Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 2)

Ba'da Subuh di Masjid Agung Demak.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Bangunan asal yang dibangun dalam era Raden Fatah kini sebagai bangunan induk tempat mihrab, mimbar dan maksurah berada. Bangunan induk tersebut kemudian ditambah dengan bangunan Serambi pada masa pemerintahan Adipati Unus atau Pati Unus atau dikenal pula dengan nama Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak ke 2 (1518-1521).

Pembangunan masjid Agung Demak melibatkan eksklusif para wali yang masih hayati di masa itu. Sejarah mengungkapkan bahwa para wali tadi yang menciptakan langsung empat sokoguru atau pilar penopang primer masjid ini. Tiga pilar dibuat dari kayu jati utuh ukuran akbar sedangkan satu pilar dibuat menurut serpihan serpihan kayu menurut 3 pilar tersebut. Nama masing masing para wali tersebut sekarang terukir di masing masing sokoguru.

Sokoguru yang berada di barat laut (kanan depan) didirikan Sunan Bonang, di barat daya (kiri depan) karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara (kiri belakang) buatan Sunan Ampel, dan yg berdiri pada timur bahari (kanan belakang) karya Sunan Kalijaga. Masyarakat Demak menamakan tiang protesis Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Empat sokoguru didalam Masjid Agung Demak, semuanya telah dilapisi menggunakan lapisan kayu yg sama dibagian luarnya untuk mengkonsevasi tiang orisinil.

Ke empat sokoguru tadi terbuat berdasarkan kayu jati tua dan kini masih berdiri kokoh ditempatnya. Upaya perlindungan terhadap empat tiang bersejarah tersebut dilakukan menggunakan menambahkan pelapis pada bagian luar jua dengan kayu jati ukuran tebal melapisi seluruh masing masing tiang tersebut dibagian luar.

Satu menurut ke empat pilar tersebut, pilar buatan Sunan Kalijaga menjadi yang paling unik, karena dibuat berdasarkan serpihan serpihan kayu jati menurut residu residu rabat (tatal) kayu jati berdasarkan proses pembuatan tiga pilar masjid oleh tiga Sunan lainnya, oleh Sunan Kalijaga serpihan serpihan tersebut dijadikan satu menjadi sebuah pilar, sehingga dikenal sampai sekarang menjadi soko tatal.

Beberapa bangunan dan fasilitas dibubuhi ke masjid Agung Demak ini dikemudian hari termasuk penambahan bangunan pawastren atau loka sholat spesifik Jemaah wanita dibangun pada masa K.R.M.A.Arya Purbaningrat 1866 M. Menara masjid ini pun dibangun jauh sehabis pembangunan masjid, dibangun di abad ke 20 di prakarsai para ulama seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin.

Pemugaran terhadap Masjid Agung Demak pernah dilakukan di masa pemerintahan Presiden Soeharto & diresmikan pada tanggal 21 Maret 1987.

Pembangunan fasilitas penunjang dan perbaikan komplek masjid terus belanjut hingga ke masa kemerdekaan termasuk pembangunan termpat wudhu, kantor takmir dan pengurus juga pembangunan museum masjid Agung Demak yg menyimpan banyak sekali artifak sejarah yg herbi Masjid Agung & kesultanan Demak.

Duplikasi Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak secara utuh kemudian di tiru oleh para tokoh masyarakat dan Ulama kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan) saat mereka membangun Masjid Jami’ Martapura (1897 M), utusan dari Kesultanan Banjar sengaja datang ke Demak untuk melihatMasjid Agung Demak dan membuat maket masjid tersebut lengkap dengan skala demi keperluan pembangunan masjid Jami’ kesultanan Banjar. Masjid Jami’ Martapura yang asli kini sudah berganti menjadi sebuah masjid yang begitu megah dan modern bernamaMasjid Agung Al-Karomah Martapura.

Bentuk masjid beratap Joglo seperti ini tak hanya ditemui pada masjid masjid yang dibangun setelah eraMasjid Agung Demak, tapi pada masjid masjid yang dibangun sebelumMasjid Agung Demak berdiri pun sudah memakai struktur demikian. Seperti contoh pada masjid tertua di IndonesiaMasjid Saka Tunggal(1288) di Banyumas yang menggunakan atap joglo bertiang tunggal, itu sebabnya disebut masjid saka tunggal. Lebih jauh ke timur kita akan temukan bentuk yang sama padaMasjid Wapauwe (1414) Masjid tua Maluku Tengah.

Dari sudut ini hampir holistik Masjid Agung Demak tampak dalam satu frame. Saat waktu menjelang pagi hari, saat para peziarah telah mulai bergerak berdasarkan masjid menuju komplek pemakaman para Sultan Demak di bagian belakang masjid ini.

Kita akan menemukan pola yang sama pada masjid masjid tua Indonesia diberbagai daerah seperti contoh,Masjid Sultan Suriansyah (1526) di Banjarmasih Kalimantan Selatan,Masjid Al-Hilal Katangka (1603) di kampung halaman nya Shekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulsel. DanMasjid Tua Palopo(1604) peninggalan Kesultanan Luwu di Kota Palopo, SuIawesi Selatan. Masih ada lagiMasjid Djami Keraton Landak (1895) di Kabupaten Landak, Kalimantan barat sertaMasjid Agung Air Mata - Kupang (1806). Arsitektural masjid dengan atap joglo atau bentuk limas ini menyebar di seluruh tanah air dari pulau sumatera di barat hingga ke wilayah timur Indonesia.

Yang lebih menarik kemudian bahwa arsitektural  masjid asli Nusantara ini juga dipakai di masjid masjid tua di negeri serantau, seperti contohnya adalah dua masjid tua di Kota Malaka, Malaysia yakniMasjid Kampung Keling Malaka, Malaysia (1748M) danMasjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia (1728M).

Para peziaran menurut berbagai daerah memadati area komplek pemakaman para Sultan Demak pada komplek Masjid Agung Demak ini. Mereka yg tiba dari berbagai daerah memakai berbagai moda tunggangan menginap di masjid Agung dan dibimbim sang para pembimbingnya masing masing menuju ke komplek pemakaman ini melalui koridor disebelah kanan masjid.

Tak hanya masjid masjid tua yang menggunakan rancangan masjid warisan kejayaan Majapahit itu. Arsitektur Masjid dengan atap Joglo bersusun tiga ini seperti sudah menjadi ciri khusus masjid khas Indonesia. Bila anda masih ingat denganYayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yayasan yang didirikan olehAlm. Pak Harto semasa masih berkuasa, setiap masjid yang dibangun dengan dana dari yayasan ini selalu menggunakan atap limasan (joglo) bersusun tiga dengan 4 sokoguru pada masjid masjid yang dibangun.

Masjid masjid megah yang di beberapa kota tanah air yang didirikan di abad ini pun tak sedikit yang masih mengadopsi arsitektur tradisional asli Indonesia ini, meski dengan sentuhan modern dan berteknologi terkini, beberapa juga dibangun tanpa 4 sokoguru. Seperti contohMasjid Raya Batam yang dibangun tahun 1997 dan bagian bangunan perluasanMasjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan struktur atap limas untuk tetap memberikan harmonisasi dengan atap limas bersusun tiga pada bangunan masjid asli yang masih terjaga dengan baik di bagian paling depan dari keseluruhan komplekMasjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II.

(Bersambung ke bagian tiga, ahir)

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Sunday, May 10, 2020

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 3)

Simetrical Masjid Agung Demak.

Refleksi Sejarah

Kesultanan Demak terjadi pada tahun 1475 di tahun yg sama dengan diangkatnya Raden Fatah sebagai Adipati Natapraja pada Glagahwangi Bintoro Demak oleh Prabu Brawijaya selaku Raja Majapahit yang tak lain merupakan ayah kandung berdasarkan Raden Fatah sendiri. Seperti disebutkan tersebut bahwa pengangkatan beliau sebagai adipati pula diberikan beberapa hadiah termasuk 8 pilar yang sekarang digunakan menjadi pilar penopang serambi masjid agung dan dampar kencana yg kini dipakai sebagai mimbar khutbah di masjid agung.

Hampir dapat dipastikan bahwa hibah pilar pilar berukir adalah buat keperluan pembangunan keraton, & Dampar Kencana buat singgasana oleh Adipati, jika memang untuk pembangunan keraton merupakan dalam ketika itu, Demak belum mempunyai Keraton.

Dapat difahami karena memang pada ketika itu Demak sendiri masih berstatus menjadi Glagahwangi, bagian berdasarkan kadipaten Jepara. Kadipaten Jepara sendiri dalam waktu itu adalah satu satunya kadipaten di wilayah Majapahit pada tanah Jawa yang adipatinya sudah memeluk Islam.

Atap tajuk atau atap limas atau atap berbentuk piramida dibangun sangat mirip antara atap Masjid Agung Demak (bagian belakang foto) dan atap yang menaungi Makam Raden Fatah dan Keluarga yang berada di belakang Masjid Agung Demak.
Dikemudian hari delapan pilar berukir itu nyatanya justru dipakai untuk pembangunan serambi Masjid Agung Demak oleh Sultan Yunus (Pati Unus) memunculkan dugaan bahwa keraton Demak tidak pernah benar benar dibangun, bahwa kemungkinan para Sultan Demak tinggal di kediaman mereka diantara kediaman masyarakat umum yang juga difungsikan sebagai Keraton.

Adapun agresi yang dilakukan Majapahit ke Demak terntunya merupakan sebuah kebijakan politik sebuah Negara berdaulat buat mempertahankan keutuhan daerahnya, terlepas dari kemungkinan bahwa agresi itupun merupakan serangan setengah hati berdasarkan raja Mapahit, lantaran yang diserbu notabene adalah anak kandungnya sendiri.

Namun sejarah panjang yang telah berlalu berabad abad itu menyisakan banyak sekali ragam & versi sejarah. Versi lainnya menjelaskan bahwa Prabu Brawijaya ayahanda berdasarkan Raden Fatah bukanlah raja terahir Majapahit. Ayahanda Raden Fatah disebutkan adalah raja Majapahit ke 11 yang bergelar Brawijaya V (berkuasa 1468-1478) dan lalu takluk kepada Girindrawardhana yang kemudian berkuasa pada Majapahit menggunakan gelar Brawijaya VI (1478-1498).

Makam para Sultan Demak.
Girindrawardhana atau Brawijaya VI merupakan menantu Brawijaya V atau ipar Raden Patah yang justru merebut takhta mertuanya itu. Situasi ini membuat peluang Raden Patah untuk menjadi raja Majapahit penerus ayahnya pun pupus. Berahirnya kekuasaan Brawijaya V terjadi tiga tahun setelah kesultanan Demak berdiri.

Benang merah Jakarta, Cirebon dan Demak

Sejak masa kekuasaan kerajaan hingga kesultanan, tanah Jawa tak pernah bersatu pada bawah satu pemerintahan. Pada masanya Majapahit berkuasa dibagian timur dan Pajajaran menguasai bagian barat pulau Jawa. Dua kerajaan akbar yg pernah terlibat dalam perang besar & lalu menjadi sebab melemahnya kedua kerajaan itu.

Sampai datang suatu masa, Kesultanan Demak berdiri di tahun 1475, & sebagai titik pulang kejayaan kerajaan Majapahit. Sementara pada bagian barat pulau Jawa, tidak lama selesainya itu Kesultanan Cirebon berdiri memerdekakan diri berdasarkan kekuasaan Pajajaran. Demak dibangun sang Raden Fatah Anak Prabu Brawijaya Raja Majapahit, sedangkan Cirebon dibangun oleh Syarif Hidayatullah cucu berdasarkan Prabu Siliwangi Maharaja Pajajaran.

Dibagian atas mihrab (pengimaman) jauh di bagian depan diantara dua sokoguru anda dapat melihat lambang Surya Majapahit bewarna kuning dengan warna dasar hijau.
Anda akan menemukan lambang ‘mirip” Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, dan anda juga akan menemukan lambang yang ‘mirip’ Surya Majapahit di atas mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Anda dengan mudah menemukan hal hal beraroma Majapahit di Masjid Agung Demak dan anda juga akan menemukan hal hal yang berkaitan erat dengan Pajajaran di Keraton hingga ke Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

Dan sejarah mencatat dengan latif ke 2 kesultanan itu kemudian manunggal padu menyerbu kekuasaan Portugis yg mulai bercokol di Sunda Kelapa, serbuan yg Berjaya dan sebagai titik awal berdirinya Kesultanan Jayakarta yg sekian abad selesainya itu, kota yang dididirkan oleh para penerus 2 kerajaan akbar tanah Jawa itu menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia.

Suatu saat jika saja anda mau sedikit merenung pada silang Monas, anda akan menemukan ruh masa lalu Nusantara di Ibukota Negara, dimana sebuah alun alun besar menjadi titik pusat kekuasaan dilingkupi menggunakan Masjid Agung, Pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Semua mengingatkan kita bahwa kita merupakan bangsa yang akbar menggunakan sejarah yg teramat panjang, & jangan pernah sekali sekali melupakan sejarah. Wallahuwa'lam bisshawaab.***

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done