Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 3) - Islami Pedia
News Update
Loading...

Sunday, May 10, 2020

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 3)

Simetrical Masjid Agung Demak.

Refleksi Sejarah

Kesultanan Demak terjadi pada tahun 1475 di tahun yg sama dengan diangkatnya Raden Fatah sebagai Adipati Natapraja pada Glagahwangi Bintoro Demak oleh Prabu Brawijaya selaku Raja Majapahit yang tak lain merupakan ayah kandung berdasarkan Raden Fatah sendiri. Seperti disebutkan tersebut bahwa pengangkatan beliau sebagai adipati pula diberikan beberapa hadiah termasuk 8 pilar yang sekarang digunakan menjadi pilar penopang serambi masjid agung dan dampar kencana yg kini dipakai sebagai mimbar khutbah di masjid agung.

Hampir dapat dipastikan bahwa hibah pilar pilar berukir adalah buat keperluan pembangunan keraton, & Dampar Kencana buat singgasana oleh Adipati, jika memang untuk pembangunan keraton merupakan dalam ketika itu, Demak belum mempunyai Keraton.

Dapat difahami karena memang pada ketika itu Demak sendiri masih berstatus menjadi Glagahwangi, bagian berdasarkan kadipaten Jepara. Kadipaten Jepara sendiri dalam waktu itu adalah satu satunya kadipaten di wilayah Majapahit pada tanah Jawa yang adipatinya sudah memeluk Islam.

Atap tajuk atau atap limas atau atap berbentuk piramida dibangun sangat mirip antara atap Masjid Agung Demak (bagian belakang foto) dan atap yang menaungi Makam Raden Fatah dan Keluarga yang berada di belakang Masjid Agung Demak.
Dikemudian hari delapan pilar berukir itu nyatanya justru dipakai untuk pembangunan serambi Masjid Agung Demak oleh Sultan Yunus (Pati Unus) memunculkan dugaan bahwa keraton Demak tidak pernah benar benar dibangun, bahwa kemungkinan para Sultan Demak tinggal di kediaman mereka diantara kediaman masyarakat umum yang juga difungsikan sebagai Keraton.

Adapun agresi yang dilakukan Majapahit ke Demak terntunya merupakan sebuah kebijakan politik sebuah Negara berdaulat buat mempertahankan keutuhan daerahnya, terlepas dari kemungkinan bahwa agresi itupun merupakan serangan setengah hati berdasarkan raja Mapahit, lantaran yang diserbu notabene adalah anak kandungnya sendiri.

Namun sejarah panjang yang telah berlalu berabad abad itu menyisakan banyak sekali ragam & versi sejarah. Versi lainnya menjelaskan bahwa Prabu Brawijaya ayahanda berdasarkan Raden Fatah bukanlah raja terahir Majapahit. Ayahanda Raden Fatah disebutkan adalah raja Majapahit ke 11 yang bergelar Brawijaya V (berkuasa 1468-1478) dan lalu takluk kepada Girindrawardhana yang kemudian berkuasa pada Majapahit menggunakan gelar Brawijaya VI (1478-1498).

Makam para Sultan Demak.
Girindrawardhana atau Brawijaya VI merupakan menantu Brawijaya V atau ipar Raden Patah yang justru merebut takhta mertuanya itu. Situasi ini membuat peluang Raden Patah untuk menjadi raja Majapahit penerus ayahnya pun pupus. Berahirnya kekuasaan Brawijaya V terjadi tiga tahun setelah kesultanan Demak berdiri.

Benang merah Jakarta, Cirebon dan Demak

Sejak masa kekuasaan kerajaan hingga kesultanan, tanah Jawa tak pernah bersatu pada bawah satu pemerintahan. Pada masanya Majapahit berkuasa dibagian timur dan Pajajaran menguasai bagian barat pulau Jawa. Dua kerajaan akbar yg pernah terlibat dalam perang besar & lalu menjadi sebab melemahnya kedua kerajaan itu.

Sampai datang suatu masa, Kesultanan Demak berdiri di tahun 1475, & sebagai titik pulang kejayaan kerajaan Majapahit. Sementara pada bagian barat pulau Jawa, tidak lama selesainya itu Kesultanan Cirebon berdiri memerdekakan diri berdasarkan kekuasaan Pajajaran. Demak dibangun sang Raden Fatah Anak Prabu Brawijaya Raja Majapahit, sedangkan Cirebon dibangun oleh Syarif Hidayatullah cucu berdasarkan Prabu Siliwangi Maharaja Pajajaran.

Dibagian atas mihrab (pengimaman) jauh di bagian depan diantara dua sokoguru anda dapat melihat lambang Surya Majapahit bewarna kuning dengan warna dasar hijau.
Anda akan menemukan lambang ‘mirip” Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, dan anda juga akan menemukan lambang yang ‘mirip’ Surya Majapahit di atas mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Anda dengan mudah menemukan hal hal beraroma Majapahit di Masjid Agung Demak dan anda juga akan menemukan hal hal yang berkaitan erat dengan Pajajaran di Keraton hingga ke Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

Dan sejarah mencatat dengan latif ke 2 kesultanan itu kemudian manunggal padu menyerbu kekuasaan Portugis yg mulai bercokol di Sunda Kelapa, serbuan yg Berjaya dan sebagai titik awal berdirinya Kesultanan Jayakarta yg sekian abad selesainya itu, kota yang dididirkan oleh para penerus 2 kerajaan akbar tanah Jawa itu menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia.

Suatu saat jika saja anda mau sedikit merenung pada silang Monas, anda akan menemukan ruh masa lalu Nusantara di Ibukota Negara, dimana sebuah alun alun besar menjadi titik pusat kekuasaan dilingkupi menggunakan Masjid Agung, Pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Semua mengingatkan kita bahwa kita merupakan bangsa yang akbar menggunakan sejarah yg teramat panjang, & jangan pernah sekali sekali melupakan sejarah. Wallahuwa'lam bisshawaab.***

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done