Islami Pedia: Masjid di Jawa Tengah
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Jawa Tengah. Show all posts

Sunday, October 4, 2020

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

# Masjid Masjid bergaya Tiongkok pada Indonesia

Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yg di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini telah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang telah sebagai bagian dari warga disana, pada keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa. Sejak tahun 2011 yang kemudian Purbalinga mempunyai satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid menggunakan bentuk mirip Klenteng yg sangat spesial . Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid pada Nusantara tercinta.

Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Ho sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Ho, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tadi nir lantas berarti hanya boleh dipakai dan dipakai sang Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, holistik masjid tersebut dibangun buat dipakai oleh semua kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan & lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Ho Purbalingga ini.

Alamat & Lokasi Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet

Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah

Indonesia

Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas mengenai Laksamana Cheng Ho

Haji Muhammad Cheng Ho (1371-1435) mempunyai berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seseorang Laksamana Muslim menurut kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau dari menurut suku Hui yg secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan sampai lalu menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yg melegenda menggunakan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di daerah Asia Tenggara, Asia Selatan sampai ke Afrika Timur dari tahun 1405 sampai tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui dia menjadi pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke banyak sekali kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yg masih mampu ditemui hingga kini . Sebagai keliru satu contoh, rekam jejaknya pada wilayah barat pulau Jawa sebagai pembuka jalan bagi dakwah Islam pada daerah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Ho selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yg beragama Islam. Salah seseorang mubaligh yg menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di daerah Cirebon.

Arsitektur itu seperti bungkus, Seperti sampul buku. Acapkali orang tertipu sang sampul buku hanya karena tak tertarik dengan sampulnya. Meskipun ternyata isinya adalah sesuatu yg dicari carinya. Seperti Arsitektur Masjid, bagaimanapun bentuknya tetaplah masjid.

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di daerah (yang sekarang dikenal menjadi) kabupaten Karawang pada provinsi Jawa Barat yang dalam waktu itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yg dikenal dengan nama Pondok Quro & Syech Hasanuddin dikenal menggunakan nama Syech Quro lantaran ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur?An. Dari pondok Quro itulah Islam lalu menyebar ke daerah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati menurut Syech Quro.

Bermula dari sana di lalu hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri menurut kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak usang selesainya berdirinya Kesultanan Demak menggunakan dukungan menurut para Wali. Pendiri & Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon merupakan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yg tidak lain adalah cucu kandung berdasarkan Pangeran Jaya Dewata yg ketika itu sudah menjadi Mahajara pada Kerajaan Pajajaran menggunakan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga menggunakan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal sang rakyatnya menggunakan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat rakyat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh pembawa Islam pada wilayah tadi namun nir bisa dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya. Maka wajar apabila lalu pada banyak sekali tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau menggunakan cara mengabadikan namanya menjadi nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun menggunakan bentuk bangunan tradisional yg biasa ditemui pada wilayah dari beliau yang kini menjadi bagian berdasarkan daerah Negara Republik Rakyat China.

Serba Merah. Interior Masjid Cheng Ho Purbalingga.

---------------ooo000ooo---------------

Artikel Terkait

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta

Masjid Lautze-2 Bandung

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Monday, September 28, 2020

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Agung Jawa Tengah (foto dari panoramio)

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Semarang menambah lagi khasanah arsitektural masjid masjid Indonesia dengan arsitekturalnya yang cukup unik dengan memadukan arsitektural jawa dengan arsitektural Eropa serta arsitektural masjid universal ke dalam satu bangunan masjid dengan bentuk yang begitu elok dilengkapi fitur masjid modern abad ke 21. Bentuk atap seperti atap MAJT ini mirip dengan atap Masjid Raya Al-Bantani, Banten dan atap Masjid Akbar di kawasan bekas bandara Kemayoran Jakarta Pusat, perpaduan bentuk atap yang unik tapi tak serupa juga dapat ditemui di Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan masjid provinsi bagi provinsi Jawa Tengah. Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya. Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu ahirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. MAJT sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut.

Lokasi Masjid Agung Jawa Tengah

Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo

Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang

Jawa Tengah - Indonesia

View Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) in a larger map

Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya lahan tanah yang merupakan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang kepada masyarakat muslim Semarang setelah melalui perjuangan panjang sejak tahun 1980. Kembalinya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang inilah yang menjadi latar belakang sejarah pendirian Masjid Agung Jawa Tengah.

Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119,127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu di tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

MAJT dengan payungnya yang terkembang (foto dari panoramio)

Akhirnya disepakati menciptakan tim terpadu pengembaliah banda wakaf Masjid Agung Kauman Semarang yg dimotori sang Mayir Jendral TNI Mardiyanto selaku Pangdam IV Diponegoro & ketua Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakortanasda) Jawa Tengah. Sedangkan ketua tim terpadu dijabat oleh Kol.Bambang Sugiyarto kemudian dilanjutkan sang Kol. Art. Slamet Prayitno yg menjabat Badan Kesbang & Linmas Jawa Tengah.

MAJT (foto dari Panoramio)

Akhirnya lepas 8 Juli 2000, Tjipto Siswoyo menyerahkan sertifikat tanah seluas 69,dua ha yg

dikuasainya kepada Pangdam IV Diponegoro Mayjen Tentara Nasional Indonesia Bibit Waluyo selaku Ketua Bakortanasda Jawa Tengah, yang selanjutnya diserahkan kepada Gubernur Mardiyanto.

Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah

Pada tanggal 6 juni 2001 Gubernur Jawa Tengah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah yg terdiri atas unsur Pemerintahan Propinsi, Majelis Ulama Indonesia, Masjid Besar Kauman Semarang, Departemen Agama, Departemen Pekerjaan Umum, Organisasi Kemasyarakatan Islam, Pemerintah Kota, dan Cendekiawan.

Tim ini yang kemudian lebih dikenal sebagai Panitia Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), bekerja keras menanggulangi kasus-masalah baik yg mendasar maupun teknis. Berkat niat yg luhur & silaturahmi yg erat, dalam ketika kerja yang amat singkat keputusan-keputusan pokok telah dapat ditentukan : status tanah, persetujuan pembiayaan menurut APBD sang DPRD Jawa Tengah, serta pemiilhan huma tapak dan program ruang.

dibalik pilar koloseum (panoramio)

Pada bulan September 2001, Panitia berhasil menerbitkan sebuah dokumen teknis yg menjadi kerangaka acuan kerja bagi para peserta sayembara. Masjid ini diperlukan menjadi pusat pelayanan ibadah dan kemasyarakatan, sekaligus sentra pelayanan ibadah & kemasyarakatan, sekaligus pusat pendiidkan dakwah islam ,silaturahmi & komunikasi global islam selain itu masjid tersebut jua diharapkan bisa menjadi sentra penemuan pemikiran islam dan sentra pemberdayaan ekonomi umat. Lingkup pelayanan yang dikehendaki adalah Jawa Tengah, bertempat di Semarang. Lantaran skala ukurannya tersebut, Masjid Agung Jawa Tengah wajib pula menjadi tuntunan atau landmark kota. Untuk itu bentuk masjid haruslah mengikuti perkembangan jaman sekaligus menyiratkan jiwa napas Jawa Tengah.

Proses Pembangunan MAJT

Pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz & Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut jua dihadiri sang tujuh duta besar berdasarkan Negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dabi. Dengan demikian mata & perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tadi. Sebelum dilakukan pemasangan tiang pancang tersebut, dilaksanakanlah pengajian dan mujahadah sang kiai-kiai karismatik misalnya KH. Munif Zuhri dari Girikusumo, KH. Baqoh Arifin menurut Kajoran, KH. Habib Luthfi dari Pekalongan dan lain-lain.

Batu prasasti pelantikan MAJT

(panoramio)

Akhirnya umat islam di Jawa tengah patut berbangga bahwa pada akhirnya mereka bisa memiliki masjid agung yg megah dan indah, diresmikan pada lepas 14 November 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Masjid menggunakan luas areal tanah 10 Hektar & luas bangunan induk buat shalat 7.669 meter persegi secara holistik pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.

Meskipun baru diresmikan dalam lepas 14 Nopember 2006, tetapi masjid ini telah difungsikan buat ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini sudah dipakai ibadah shalat jum?At buat pertama kalinya dalam tanggal 19 Maret 2004 menggunakan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak para ulama, kyai, cendekiawan, dan umat Islam buat membuahkan Masjid Agung Jawa Tengah sebagai pusat keunggulan dakwah dan siar Islam. Hal itu disampaikan Presiden pada sambutannya waktu meresmikan Masjid Agung Jawa Tengah. Hadir pula Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri M. Ma'ruf, & Gubernur Jateng Mardiyanto.

Usai peresmian, Presiden beserta Ibu Negara & rombongan terbatas mengadakan peninjauan ke dalam masjid dan melihat maket serta fasilitas yang dimiliki, dipandu Ahmad Fatani selaku desainer menurut Masjid ini.

Biaya pembangunan MAJT : Rp 198.692.340.000.

Biaya pembangunan jalan tembus ke jalan Soekarno-Hatta : Rp 6,8 miliar

Lua area Masjid Agung Jawa Tengah : lebih kurang 10 hektar

Luas bangunan induk seluas 7.669 m2

Kapasitas bangunan induk : 6.000 jamaah.

Luas Pelatarannya 7.500 m2, dilengkapi 6 payung super besar

Kapasitas pelataran masjid : 10.000 jamaah.

Kapasitas bangunan sayap kanan : 2000 jemaah

Kapasitas wisma penginapan : 23 Kamar

Tinggi menara : 99 meter

Jemaah MAJT (foto dari anasyith)

Arsitektural MAJT

Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitekrural adonan Jawa, Islam & Romawi. Diarsiteki sang Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Bandung yg memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan primer masjid beratap limas spesial bangunan Jawa tetapi dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah akbar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing dengan tinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap menggunakan satu menara terpisah berdasarkan bangunan masjid setinggi 99 meter.

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena pada Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, pada gerbang ditulis 2 kalimat syahadat, dalam bidang datar tertulis huruf Arab Melayu ?Sucining Guno Gapuraning Gusti?.

Perpaduan dua arsitektural pada atap MAJT (dimaspriambada)

Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yg tingginya 99 meter. Bagian dasar menurut menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 & lantai tiga dipakai menjadi Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 masih ada Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 buat menara pandang, dilengkapi lima teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H kemudian, teropong di masjid ini buat pertama kalinya dipakai buat melihat Rukyatul Hilal sang Tim Rukyah Jawa Tengah menggunakan menggunakan teropong canggih dari Boscha.

menara dan pilar bergaya koloseum Romawi di MAJT (faridzkomar)

MAJT dilengkapi menggunakan beberapa jalan akses. Satu jalan akses primer ke ruas Jalan Gajah Raya yang adalah jalan akses pertama MAJT, lalu dilanjutkan dengan pembangunan jalan akses ke Jalan Soekarno Hatta sepanjang 750 meter yang dibangun sebagai persiapan peresmian MAJT sang presiden SBY 14 November 2006 silam. Berikutnya, akan dibuat juga akses baru melalui Jl Jolotundo dan akses belakang menuju Jembatan Kartini & jalan Citarum.

Pendanaan Pengelolaan MAJT

MAJT adalah galat satu mega proyek pada propinsi Jawa Tengah & membutuhkan dana tidak sedikit buat pemeliharaannya. Pendanaan tersebut akan ditanggung pada APBD provinsi Jateng hingga dua tahun sehabis serah terima ke pengelola dan selanjutnya diperlukan MAJT sudah bisa membiayai operasionalnya sendiri dari asal dana berdikari menurut output pengelolaan fasilitas yang dimilikinya misalnya pemanfaatan convention hall, wisma penginapan, menara pandang, serta fasilitas lain yang dimiliki MAJT, bisa digali asal-sumber pendapatan itu. Mulai 2008, MAJT nir akan mengganggu lagi APBD. Bahkan, mulai 2008 mampu menyantuni masjid-masjid lain.

Interior MAJT (foto dari seputarsemarang)

Susunan Pengurus MASA BAKTI 2009 - 2012

Pembina : H. Mardiyanto, H. Bibit Waluyo dan H. Masyhudi

9 orang dewan penasihat diketuai oleh H. M.A Sahal Mahfudz

8 orang dewan pengawas diketuai sang KH. Masruri Mughni

Pengelola MAJT terdiri menurut :

Ketua : Drs. H. Ali Mufiz, ditambah dengan MPA,

Wakil ketua I : Dr. H. Noor Achmad, MA

Wakil Ketua II : Prof. DR. H. Ali Mansur, SH. M.Hum

Sekretaris : Drs. H. Agus Fathuddin Yusuf

Wakil Sekretaris : Drs. Muchsin Jamil

Bendahara : Hj. Gatyt Sari Chotijah, SH

Wakil Bendahara : Hj. Sofiana Subarakah

Pengelolaan MAJT dilengkapi menggunakan beberapa bidang yaitu :

Bidang Ketakmiran : Prof. DR. H. Muhtarom. HM,

Sub Bidang peribadatan : KH. Ubaidillah Shodaqoh,

Sub Bidang Pendidikan, dakwah & Wanita : Drs. KH. Ahmad Hadlor Ikhsan,

Sub Budang Kemasyarakatan : Drs. H. Rozihan, SH,

Sub Budang PHBI : Muhaimin, S.Sos,

Bidang Usaha : Ir. h. Khamad Ma'sumah,

Sub Bidang Kerjasama : Kukrit Suryo Wicaksono, MBA,

Sub Bidang Aset : Ir. H. Djatmiko Waluyono,

Sub Bidang umum dan Ketertiban : Drs. Kombes Pol. H. Chasanan, SH, MBA, dan

Sub Budang Humas : Drs. H. Abdul Wahid, SH

MAJT memiliki 4 orang Imam Besar yang kesemuanya adalah hafiz Al-qur’an dengan gaya bacaan ala Masjidil Haram Makkah Almukarramah, yaitu (1) KH Ulil Abshar Alhafidz dari Jepara (2). KH Zaenuri Ahmad Alhafidz dari Salatiga (3). KH Ahmad Thoha Alhafidz dari Pekalongan, dan (4). KH Muhaimin Alhafidz dari Semarang.

nice pict of MAJT from flickr
Fasilitas MAJT

Luas tanah kompleks MAJT 10 hektar, Luas bangunan MAJT 7,669 m2, kran wudhu pria 93 wanita 56, kran gedung sayap kanan 50 buah, gedung sayap kiri 20 buah, jumlah total 219 kran, urinoir VIP 14, urinoir umum 16, WC pria 8 buah wanita 8 buah, kamar mandi pria 6 buah wanita 6 buah, washtafel 4 pria 4 wanita, 1 ruang imam, 1 ruang transit, 1 kantor sekretariat MAJT, 1 ruang sidang dan Parkir VIP kapasitas 6 mobil

Menara Asma Al-Husna Setinggi 99 Meter terdiri dari : lantai 1 untuk Studio Radio DAIS MAJT, lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal.

Pusat penampungan pedagang : Souvenir shop, Sebanyak 70 kios, Pedagang makanan, Toilet Umum 2 buah untuk wanita dan 2 buah untuk pria.

Ruang perkantoran, Luas total 2100 m2, Jumlah perkantoran 19 unit, Hall 200 m2, Fasilitas lain berupa AC, Telepon Telkom, Listrik PLN / Genset

Ruang perpustakaan : Luas 1650 m2, Counter desk 1 buah, Toilet 1 buah di lantai 1 dan 1 buah di lantai 2, Ruangan perpustakaan yang mempunyai fasilitas AC sebanyak 2 buah.

Area parkir, Bus 30 buah, Kapasitas mobil 680 buah, Sepeda motor 670 buah.

Pertamanan : Luas 48.500 m2, Sektor pintu gerbang, Sektor Selatan Convention Hall, Sektor Sebelah utara perpustakaan, Sektor Belakang Masjid, Sektor Timur Rumah Kyai

Listrik : Kebutuhan daya listrik 685 KVA, Konsumsi listrik perbulan Rp. 30.000.000, Listrik yang sekarang sudah ada 105 KVA, Biaya listrik sekarang Rp. 14.000.000,-

Fasilitas Water Supply : Sumur 1 buah, Tower dengan kapasitas 25 m3, Tinggi tower 30 m, Pompa air 1 buah berkekuatan 3 HP / PK.

Museum MAJT di lantai dua menara (foto dariseputarsemarang)
Dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

MAJT memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat shalat.

Beduk raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm. Merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia.

Tongkat khatib MAJT merupakan tongkat pemberian Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darusalam. 

Video Masjid Agung Jawa Tengah

Foto Foto Masjid Agung Jawa Tengah

Approach to MAJT (foto dariseputarsemarang)
Puncak menara MAJT (coretanpetualang)
Di atas menara MAJT (foto dariseputarsemarang)
interior MAJT (foto daridimaspriambada)
Atap Limas plus kubah dan 4 menara dengan payung di pelataran

Referensi

situs resmi majt – www.majt.org

semarangtourism.info – masjid agung jawa tengah.pdf

suaramerdeka 30 Juli (di forum agraria) – ditemukan tanah wakaf yg “raib”

bwi.or.id - Penghargaan Gubernur untuk Pengembangan Wakaf

eprints.undip – penyelesaian sengketa tanah wakaf, studi terhadap tanah wakaf banda masjid agung semarang

---------------------------------ooOOOoo-----------------------------------

Baca juga artikel masjid lainnya

Masjid Raya Al-Bantani, Banten

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri, Depok

Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor

Masjid Al-Mujahidin Cibarusah Pangkal Perjuangan Laskar Hisbullah

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Besar Kauman Semarang

Monday, September 7, 2020

Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah

Masjid Agung Surakarta - Jawa Tengah

Masjid Agung Surakarta atau Masjid Agung Solo, pada masa lalu merupakan Masjid Agung Negara Keraton Surakarta Hadiningrat, segala keperluan masjid disediakan sang kerajaan dan masjid jua digunakan buat upacara keagamaan yg diselenggarakan kerajaan. Semua pegawai dalam Masjid Agung merupakan abdi dalem Keraton, menggunakan gelar menurut keraton contohnya Kanjeng Raden Tumenggung Penghulu Tafsiranom (penghulu) dan Lurah Muadzin.

Masjid Agung dibangun sang Sunan Paku Buwono III tahun 1763M atau 1689 tahun Jawa dan terselesaikan dalam tahun 1768. Masjid Agung merupakan kompleks bangunan seluas 19.180 meter persegi yang dipisahkan menurut lingkungan lebih kurang dengan tembok pagar keliling setinggi tiga,25 meter. Bangunan Masjid Agung Surakarta secara holistik berupa bangunan tajug yang beratap tumpang 3 & berpuncak mustaka.

Lokasi & Alamat Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta yang terletak di sebelah barat Alun-Alun UtaraKeraton Kasunanan Surakarta bersebelahan dengan Pasar Klewer Surakarta.

View Masjid Agung Surakarta in a larger map

Sejarah Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta merupakan elemen yg tidak dapat dipisahkan begitu saja menurut proses perkembangan sejarah Islam di Jawa umumnya & Keratorn Surakarta Hadiningrat khususnya. Karena seperti kita ketahui bahwa dari tradisi Islam suatu pusat pemerintahan wajib mempunyai unsur-unsur antara lain Keraton menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja, Masjid sebagai tempat ibadah utama dan berkumpulnya mukmin, Alun-alun sebagai tempat warga bertemu dengan rajanya & Pasar sebagai tempat kegiatan ekonomi.

Masjid Agung Surakarta adalah galat satu unsur yg masih tegak dan secara fisik masih dapat dicermati sampai kini . Berdiri megah di sebelah barat alun alun Surakarta bersebelahan menggunakan pasar Klewer, Masjid Agung Surakarta mulai didirikan oleh Raja Surakarta Paku Buwono III (PB III) pada tahun 1785 M bertepatan menggunakan 1689 tahun Jawa. Tetapi dari Basit Adnan (1996:12) & Eko Budihardjo (1989:63) masjid ini didirikan pada tahun 1757 menggunakan acuan bentuk masjid Demak, tepat 12 tahun setelah peristiwa dipindahnya Keraton Kasunanan Surakarta menurut Kartasura ke wilayah desa Sala dalam masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana III. (Keraton Surakarta didirikan pada tahun 1745)

Konon disebutkan bahwa kubah (mustoko) Masjid itu pada zaman dulu dilapisi dengan emas murni seberat 7,lima kilogram terdiri dari 192 keping uang ringgit emas. Pemasangan lapisan kubah Masjid itu diprakarsai sang Sri Susuhunan Paku Buwono VII tahun 1878M atau 1786 tahun Jawa menggunakan condro sangkolo ?Rasa Ngesti Muji ing Allah?.

Gerbang Utama Masjid Agung Surakarta

Namun kubah emas itu sekarang telah nir ada lagi, lapisan emas murni itu tidak diketahui secara pasti keberadaannya. Konon, kubah berlapis emas itu jua pernah disambar petir sehingga porak poranda. Sebagian reruntuhannya diambil orang, lainnya, sebagian lagi tak diketahui dimana rimbanya.

Masjid Agung Surakarta pernah mengalami pemugaran. Pemugaran pertama kali dilaksanakan oleh PB IV, kemudian dilakukan penyempurnaan oleh PB VII. Pada tanggal 21 Agustus 1856, dibangun serambi yang maksudnya untuk pertemuan dan pengajian maupun untuk melakukan peringatan hari-hari besar Islam. Selain itu, PB X juga mengadakan perbaikan berupa pembuatan menara untuk adzan, memperbaiki gapuro depan dan tempat wudhu. Gapura masjid ini tadinya berbentuk limasan khas Jawa, namun dibangun ulang  oleh PB X dengan gaya Persia seperti saat ini.

Biaya pada membangun menara masjid mencapai 100.000 gulden pada tahun 1929 lalu. Tinggi menaranya sekitar 30 meter terbuat dari beton tulang. Untuk penguat pondasinya dipancangkan batang-batang kayu cemara.Pada masa lalu, sebelum dipasangi pengeras suara, muazin mengundangkan adzan eksklusif berdasarkan atas menara tadi.

Kiri atas : Beduk besar dan kentongan di serambi Masjid. Kanan Atas : Ponpes di Masjid Agung Surakarta. Kiri Bawah : Menara Masjid Agung Surakarta dan Kanan bawah : Kantor pengelola Masjid Agung Surakarta.

Tradisi Sekaten

Di Masjid Agung Surakarta masih ada dua bangsal buat menyimpan gamelan yg dimainkan setiap Sekaten, atau seremoni kelahiran Nabi Muhammad SAW, terutama pada lepas 5 hingga 12 Maulud. Setiap kali Sekaten, rakyat akan berbondong-bondong ke masjid. Mendengar gamelan Sekaten dimainkan, terutama zaman dulu, ibarat aktivitas wajib . Apalagi, gamelan itu hanya dimainkan setahun sekali. Masjid ini pula menjadi pusat penyebaran kepercayaan Islam pada Surakarta. Bahkan, Sekaten adalah bagian berdasarkan kegiatan penyebaran kepercayaan lewat laku budaya pada Surakarta.

Sejarah Mudik pada Masjid Agung Surakarta

Masjid dan alun-alun Surakarta ini jua punya sejarah besar berkenaan dengan tradisi pulang kampung. Konon, dulu, Mangkunegoro I atau Pangeran Sambernyawa yg bergerilya melawan Belanda, selalu pergi dalam saat Idul Fitri buat shalat Ied di alun-alun Keraton Surakarta. Setelah itu dia akan sungkem meminta maaf kepada orang tuanya.

Ciri khas masjid Agung Surakarta

Kebiasaan Pangeran Sambernyawa itu lalu ditiru warga lain yang mengembara, bahkan kemudian menjadi tradisi sampai kini . Meski begitu, tradisi mudik, istilah almarhum budayawan Umar Kayam, telah mentradisi pada warga petani sejak zaman Majapahit. Hanya saja, tradisi itu meluntur & tidak terlalu besar , lalu sebagai tradisi akbar lagi dalam masa Pangeran Sambernyawa.

Arsitektural Masjid Agung Surakarta

Bentuk bangunan Masjid Agung Surakarta itu memang menyerupai Masjid Agung Demak. Dengan atap berbentuk atap limasan bersusun. Di pada ruang sholat utama berdiri kokoh empat soko pengajar & 12 saka rawa. Arsitekturnya mengandung filsafat Islam. Atap-atap masjidnya sarat menggunakan makna. Atap pertama (bagian terbawah) yg lebar, mengandung makna bahwa pada hidup ini kita harus dapat ngayomi (melindungi) umat menjalankan perintah agamanya.

Atap kedua yg relatif sempit bermakna bahwa perlindungan terhadap umat pilihan yg JUMLAHNYA SEDIKIT, merupakan telah menuju jalan kesempurnaan. Sedangkan atap ketiga yang teratas melambangkan ilmu hakekat, yaitu citra bagi umat yg paling atas tingkatannya yaitu KEKASIH ALLAH atau ?Mukhibbin?. Mereka ini orang yg benar-benar ?Muttaqien? Menjauhi larangan dan menjalankan segala perintah Allah SWT.

Ratusan Abdi Dalem mengikuti prosesi Malem Selikuran pada Masjid Agung Surakarta, Rabu (8/8/2012) malam. Malem Selikuran digelar buat menyambut malam ke-21 bulan Ramadhan, & dimeriahkan dengan parade lampion mengelilingi komplek Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Secara keseluruhan Masjid Agung Surakarta ini terdiri dari beberapa bagian yaitu : Serambi yang mempunyai semacam lorong yang menjorok ke depan (tratag rambat) yang bagian depannya membentuk kuncung. Pawestren, (tempat salat untuk wanita) dan Balai Musyawarah, Tempat berwudhu, Pagongan, terdapat di kiri kanan pintu masuk masjid, bentuk dan ukuran bangunan sama yaitu berbentuk pendapa yang digunakan untuk tempat gamelan ketika upacara Sekaten (Upacara Peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW).

Istal dan garasi kereta untuk raja ketika Salat Jumat dan Gerebeg, diperkirakan dibangun bersamaan dengan dibangunnya Masjid Agung Surakarta. Gedung PGA Negeri, didirikan oleh Susuhunan Paku Buwono X (1914) dan menjadi milik kraton. Menara Adzan, mempunyai corak arsitektur menara Kutab Minar di India. Didirikan pada tahun 1928. Gedang Selirang, merupakan bangunan yang dipergunakan untuk para abdi dalem yang mengurusi masjid Agung.

Awalnya Masjid Agung Surakarta ini dibangun tanpa menara seperti halnya Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (foto kiri bawah). Menara tunggal yang kini berdiri anggun disamping masjid dibangun belakangan oleh raja berikutnya.

Pagar tinggi dibangun mengelilingi masjid ini dengan pintu gerbang di depan dan dua pintu samping kanan dan kiri dibangun pada masa Sunan Paku Buwono VIII tahun 1858. Bangunan masjid dibuat secara berurut dengan elevasi (pembedaan tinggi) lantai dan keluasannya yaitu : teras, serambi, ruang utama. Secara umum bentuk yang muncul adalah wujud arsitektur Jawa. Ruang utama berdenah persegi empat dengan sisi yang hampir sama dengan 4 (empat ) soko guru berbentuk silinder dilengkapi 12 penanggap. Blandar dibuat secar polos dengan hiasan saton pada plafonnya.

Di sayap kiri dari ruang utama terdapat pawestren yang dipisah atau disekat dengan dinding permanen dari batu bata. Sedangkan di sayap kanan terdapat ruang untuk aktifitas keagamaan yang lain. Pada ruang serambi, teradapat 40 buah tiang dengan hiasan tradisional putri mirong, dan kaligrafi. Sedangkan di teras bawah terdapat 20 tiang batu bata yang dibuat dengan bentuk doric dan kearah depan disambung dengan tratag rambat yang berbentuk kuncung. Akses hubungan dari masing-masing ruang disediakan tangga antara serambi bawah dan serambi utama.

Sedangkan berdasarkan serambi primer ke ruang sholat utama terdapat 7 buah pintu. Motif floral diterapkan pada tiga pintu primer pada tengah, dua bermotif flora dan sisanya 2 pintu dibuat polos. Secara holistik finishing ruang didominasi menggunakan warna biru bahari yang diterapkan dalam bagian-bagian yg terbuat menurut kayu. Seluruh pilar & bahan bangunan masjid ini menggunakan kayu jati yang telah sangat tua menurut hutan Donoloyo (Alas Donoloyo).

Sebagian kecil detil ornamen Masjid Agung Surakarta ::: Kiri Atas, Lambang Kerajaan Kasunanan Solo di gerbang utama Masjid Agung Surakarta, Kanan Atas : Puncak Menara tunggal Masjid Agung Surakarta yang sangat khas. Kiri Bawah : detil salah satu ubin di Masjid Agung Surakarta. Kanan Bawah : Lukisan kaligrafi di salah satu soko rowo Masjid Agung Surakarta.

Ubin hias pada Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta ini dihias menggunakan relatif indah menggunakan berbadai ragam ubin hias, apabila dihitung, masih ada 20 jenis ragam hias dalam bahan ubin yang digunakan baik pada bagian luar dan bagian pada. Untuk pada bagian luar hingga sekarang masih terpelihara dengan baik, sedangkan yg bagian dalam sudah digantikan dengan marmer putih dan disisakan beberapa lbr saja pada bagian sudut tenggara ruang sholat utama. Sebenarnya jenis ragam hias itu jua masih ada di bangunan-bangunan pada dalam keraton atau tempat tinggal -tempat tinggal saudagar kaya pada lebih kurang keraton hingga Laweyan. Tetapi untuk disatukan pada upaya memperindah ruang-ruang pada masjid, hanya pada masjid inilah kita temukan.

Gapura Masjid Agung Solo

Bangunan gapura ini dalam awalnya berbentuk limasan, kemudian dalam masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana X diganti menggunakan bangunan berbentuk arsitektur Persia. Gapura Gapura masjid Agung Surakarta terselesaikan dibangun pada tanggal 6 Mulud 1831 tahun Je atau 1901 Masehi. Pembangunan gapura ini menghabiskan dana 100.000 gulden. Berukuran panjang ? 25 meter, tinggi ? 10 meter, menggunakan ketebalan ? 2 meter. Posisinya membujur berdasarkan utara ke selatan sejajar dengan tampak depan masjid.

Gapura ini sebagai akses primer ke area masjid selain 2 (2) gapura pada sisi selatan yg merupakan akses dari pasar Klewer & sisi utara yang merupakan akses menurut kampung Kauman. Gapura ini dihubungkan menggunakan gapura di sisi utara & selatan dengan pagar dinding batu bata dengan tinggi 2,lima meter. Gapura ini juga berfungsi membatasi area page masjid dengan area luar, dimana bisa ditinjau menurut adanya 3 (tiga ) akses pintu yg dilengkapi dengan daun pintu berupa teralis besi.

kiri atas : Jemaah sedang bersiap siap untuk berbuka dengan ta'jil di Masjid Agung Surakarta. Kiri Atas : Anak anak sekolah yang sedang mengikuti program MOS dengan berkunjung ke Masjid Agung Surakarta. Kiri Bawah : Dua pekerja sedang sibuk melakukan perbaikan di Masjid Agung Surakarta. Kanan Bawah : Puluhan Jemaah tidur siang di serambi Masjid Agung Surakarta, meskipun sebenarnya ada amaran yang jelas dipasang disana "dilarang tidur di serambi masjid".

Fisik bangunan dibuat menurut batu bata yg kokoh dengan finishing cat tembok warna krem nir bertekstur. Di atas pintu primer terdapat relief simbol Kraton Kasunanan Surakarta yg terbuat menurut besi, sedangkan di atas 2 pintu samping terdapat kaligrafi bertuliskan do?A masuk & keluar dari masjid. Pada bagian atas terdapat jam dinding dengan dikelilingi relief bintang. Sedangkan dalam tiap pilar, puncaknya dibuat dengan bentuk kuluk (topi) & butir keben terbalik.

Jam Istiwa? (Jam Matahari) di Masjid Agung Surakarta

Jam istiwa' atau jam Matahari dulunya dipakai sebagai penunjuk saat sholat dari bayangan sinar matahari. Jam Istiwa? Masjid Agung Surakarta berada pada bagian kiri halaman Masjid Agung atau di depan kantor rapikan usaha masjid. Kondisi jam yang berusia hampir seratus tahun ini cukup terawat. Dipasang di atas tembok kokoh & ditutup menggunakan kaca bening terbuka sebagai akibatnya setiap ketika mampu dipandang sang siapapun. Jam matahari ini dibentuk tahun 1926, dalam masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono X, bertepatan menggunakan ulang tahun raja ke 64 tahun.

Kitab Kuno Masjid Agung Surakarta

Masjid Agung Surakarta ini pula memiliki koleksi berharga berupa 67 buku kuno yang telah berumur ratusan tahun yang membutuhkan perhatian lebih buat mengkonservasinya dari kerusakan. Di antara koleksi kitab kuno itu yg bernilai tinggi. Antara lain, Al Quran yang ditulis tangan yg dibentuk kurang lebih tahun 1800-an, kitab berisi gugusan hadis, dan buku Ihya Ulumuddin yang menggunakan alfabet Arab gundul. Kitab-kitab kuno tadi saat ini disimpan dalm dalam sebuah lemari kaca yg ditempatkan pada ruang perpustakaan masjid.

Ustad Ahmad Al Habsyi menyampaikan tausiah pada tabligh akbar di Masjid Agung, Solo, Senin (15/8/2011).Kegiatan tersebut diikuti seribuan peserta.

Beberapa pihak pula sudah menunjukkan buat membeli naskah-naskah kuno tadi, termasuk di antaranya rakyat negara Malaysia yg pernah menawar untuk membelinya & dibawa kenegara Malaysia. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh pengelola Masjid Agung karena menilai naskah kuno tadi adalah koleksi yang sangat berharga & tidak boleh keluar berdasarkan Indonesia.

Pengelolaan Masjid Agung Surakarta

Sebagai bagaian dari aset kerajaan, masjid ini dalam awalnya dikelola spesifik oleh pejabat kraton yg bergelar KRTP (Kanjeng Raden Tumenggung Pengulu Tafsiranom ) yang diangkat oleh Raja dan secara struktural berada di bawahnya. Semua pengelolaan masjid termasuk antara lain honor pengelola ditanggung sang raja. Hal demikian terjadi karena sebagai wujud dari eksistensi raja yang juga bergelar Sayidin Panatagama Kalifatullah atau Kalifatullah Pengatur Bidang Keagamaan (Basit Adnan, 1996:lima).

Sampai saat masa pemerintahan diambil alih sang pemerintah RI pada masa kemerdekaan, masjid ini masih dikelola oleh KRTP Tafsiranom sampai generasi KRTP Tafsiranom VI. Baru kemudian semenjak lepas 3 Juli 1962 oleh Menteri Agama waktu itu K.H. Syaifuddin Zuhri diserahkan pengelolaannya kepada umat Islam sendiri dan pemerintah hanya sebagai pengawas. Meskipun demikian Keraton Surakarta masih mempunyai impak relatif besar di masjid ini, termasuk pada pengangkatan Imam yang ditunjuk pribadi sang Raja sebagaimana dengan penunjukan salah satu imam masjid agung Solo KRT Tafsir Anom H. Muhammad Dasuki, tahun 1986 silam yg ditunjuk pribadi oleh mendiang Sinuwun PB XII. Gelar KRT Tafsir Anom merupakan gelar kehormatan yg diberikan langsung sang mendiang PB XII menjadi gelar kehormatan kepada dia selaku imam Masjid Agung Solo sekaligus Imam Masjid Keraton.

Atas : Jemaah yang memadati ruang utama Masjid Agung Surakarta, Kiri Bawah : Para abdi dalem yang dikawal prajurit Keraton membawa gunungan dalam rangka perayaan Grebeg Syawal dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung Surakarta untuk didoakan. Gunungan ini lantas diperebutkan warga, Rabu (31/8/2011). Dua buah gunungan tersebut terbuat dari hasil bumi serta berbagai macam makanan tradisional.Kanan Bawah : Ratusan Abdi Dalem mengikuti prosesi Malem Selikuran di Masjid Agung Solo, Rabu (8/8/2012) malam. Malem Selikuran digelar untuk menyambut malam ke-21 bulan Ramadhan, dan dimeriahkan dengan parade lampion mengelilingi komplek Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Renovasi

Dari tahun 2010 lalu Masjid Agung Surakarta ini telah ditemukan mengalami kerusakan pada bagian atap dan tiang penyangga, dan wajib segera diperbaiki. Dinas Tata Ruang Kota Surakarta mengucurkan aturan pemugaran awal sebesar Rp 1 miliar, & donasi menurut pemerintah provinsi & Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Pengurus Masjid Agung Surakarta sudah melakukan perbaikan sebagian atap, kayu penyangga atap, tiang, struktur papan di bawah atap, & saluran air di bawah atap. Memang belum meliputi semua. Karena menyesuaikan anggaran yg ada,

Masjid Agung terakhir kali direnovasi pada 2005-2006. Saat itu memperbaiki bangunan induk, yang menghabiskan aturan Rp 4,53 miliar. Renovasi yg dilakukan tahun 2010 merupakan termin ke 2. Proses konservasi serambi Masjid Agung Surakarta tahap I terselesaikan dilaksanakan pada bulan September 2010. Konservasi serambi Masjid Agung Surakarta tahap I meliputi pemugaran tiang & atap bagian barat. Proyek dengan kontrak senilai Rp 778.129.000 dari dana hadiah APBD Kota Solo ini mulai dikerjakan pada awal Juli 2010.

Selain mengalami kerusakan di bagian atap, 40 pilar penyangga (saka rawa) bangunan serambi Masjid Agung Surakarta juga sempat mengalami pelapukan & bahkan terdapat yg sudah anjlok hingga beberapa sentimeter. Sebagai langkah antisipasi, pegurus masjid sempat memasang tiang tambahan menurut besi pada delapan pilar penyangga di serambi masjid tadi.

Kiblat Masjid Agung Solo

Arah kiblat Masjid Agung Surakarta ini telah mengalami pergeseran sejak tahun 2010 kemudian, sehabis dilakukan pengukuran secara akurat dan mengikuti fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan arah kiblat seharusnya menunjuk ke barat laut bukan barat seperti yang terjadi sebelumnya. Sebelumnya arah kiblat masjid ini pernah dilakukan pengukuran & telah disertifikasi namun sertifikat tadi hilang waktu terjadi banjir akhir 2008.

Grebeg Besar Keraton Surakarta

Grebeg akbar adalah upacara tradisional buat memperingati Ibadah Haji (Idul Adha). Acara ini berlangsung pada depan Masjid Agung Solo. Puncak perayaan ditandai waktu Hajad Dalem Gunungan dibawa pada prosesi dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung.

Referensi

wikipedia.org - arsitektur_dan_peninggalan_sejarah_di_Surakarta

detiknews.com - melongok-jam-matahari-di-masjid-agung-surakarta

kompasiana.com - masjid agung surakarta sebagai barometer kemajuan umat Islam

travel.kompas.com  - masjid agung solo pernah dihiasi Emas

mulyadi.staff.uns.ac.id - masjid-agung-solo

radartegal.com - Kisah-Imam-Masjid-Agung-Solo

solopos.net - konservasi-serambi-masjid-agung-surakarta-tahap-i-selesai

tempo.co - Masjid-Agung-Surakarta-Diminta-Segera-Direnovasi

pasarsolo.com - Grebeg-Besar-2010

republika.co.id - alquran-kuno-di-masjid-agung-kurang-terawat

mediaindonesia.com - Arah-Kiblat-Masjid-Agung-Solo-Segera-Disesuaikan

republika - Masjid Agung Solo Belum Sempurnakan Arah Kiblat

republika.co.id - Alquran Kuno di Masjid Agung Kurang Terawat

------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid pada Jawa Tengah Lain nya

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Besar Kauman Semarang

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Sunday, September 6, 2020

Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo, Jawa Tengah

Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Di sebelah barat alun alun kota Purworejo, Kabupaten Purworejo, propinsi Jawa Tengah berdiri sebuah Masjid Agung yg sangat populer menjadi Masjid Agung yang memiliki beduk terbesar di dunia. Keberadaan beduk ini telah menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan yang tiba ke Purworejo. Sebuah beduk berukuran super akbar terbuat menurut kayu jati utuh yang dilobangi pada bagian tengahnya & beduk ini sudah berusia sama tua-nya dengan masjid tempatnya berada.

Masjid Agung Darul Muttaqin dibangun pada masa pemerintahan bupati Purworejo pertama, Kanjeng Adipati Arya Cokronegoro I pada tahun 1834M, empat tahun selesainya usai perang Diponegoro (1825-1830). Salah satu masjid tua pada tanah Jawa yg masih berdiri kokoh pada bentuk aslinya hingga hari ini dan sebagai kebanggaan muslim Purworejo.

Lokasi & Alamat Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Masjid Agung Darul Muttaqin

Jalan Mayir Jendral Sutoyo, Kelurahan Sindurjan

Kecamatan Purworejo Purworejo

Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah

Indonesia

View Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo in a larger map

Masjid Agung atau Masjid Darul Muttaqim berdiri di atas tanah seluas 8.825 meter persegi. Bangunan utama 21 X 21 meter, sayap kiri kanan 6 X 21 meter, serambi 25 X 21 meter.  Masjid Agung Darul Muttaqin dibangun dengan arsitektur Jawa berbentuk Tanjung Lawakan Lambang Teplok (mirip Masjid Agung yang terdapat pada Kraton Solo),  Atap Masjid Agung tumpang tiga. Tumpang tiga. Atap pertama disebut sebagai panilih yang mengandung arti syariah. Atap kedua disebut penangkup yang mengandung makna thoriqoh. Atap ketiga, brunjung yang maknanya hakekat. Sedang mahkota masjid mengandung arti ma’rifat.

Di pada masjid masih ada papan menggunakan tulisan Jawa dan Arab. Arti goresan pena tersebut jika dibaca : ?RAA Cokronagoro Ping I Mas Pateh Cokrojoyo Purworejo : 1762?. Tulisan tersebut dapat dibaca oleh setiap orang yang masuk ke pada masjid melalui serambi depan. Bangunan induk sudah memakai atap genteng pres. Di atas atap terdapat mustaka yang terbuat menurut perunggu dengan hiasan daun kandhaka hutan.

Masjid Agung Darul Muttaqien dibangun menggunakan arsitektur Jawa berbentuk Tanjung Lawakan Lambang Teplok (seperti Masjid Agung Kraton Solo). Tiang primer masjid dibuat menurut kayu Jati Bang (bercabang lima) yg sudah berumur ratusan tahun dan berdiameter lebih berdasarkan 200 centimeter, serta tinggi mencapai puluhan meter.

Masing-masing bagian bawah atap tumpang terdapat boven panil kaca es yang berfungsi sebagai pencahayaan. Atap ditopang oleh empat soko guru dan 12 soko rowo persegi yang dihubungkan dengan balok gantung rangkap dari kayu Jati Bang (hanya bercabang 5) dengan umur ratusan tahun. Soko guru di cat warna hijau dengan hiasan gometris lis kuning dan berdiri di atas umpak. Keempat  umpak mempunyai ukuran yang berbeda. Soko rowo terbuat dari batu bata dan bagian bawah dilapisi keramik warna hijau.

Sejarah Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo

Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo menempati tanah wakaf keluarga Cokronegaran seluas 8.825 meter persegi. Paska Perang Diponegoro (1825 ? 1830), Pemerintah Hindia Belanda merasa perlu mengangkat pemimpin menurut kalangan pribumi buat memerintah daerah Tanah Bagelen (Purworejo kini ). Sebagai Bupati pertama lalu diangkat Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I dan jabatan pepatih (pembantu Bupati) dipercayakan pada Raden Cokrojoyo.

Perbedaan paling menyolok antara bangunan usang & bangunan baru Masjid Agung Kabupaten Purworejo ini merupakan bangunan menara betonnya itu. Tradisi orisinil masjid Jawa dan masjid tradisional Indonesia tidak dilengkapi dengan menara, bangunan menara di masjid ini dibangun belakangan.

Pada masa pemerintahan Bupati Cokronegoro I ini mulai dibangun beberapa gedung pusat pemerintahan yang berpusat disekitar alun alun Purworejo seluas 6 hektar, terutama buat memperlancar kegiatan-aktivitas pemerintahan. Di sebelah utara alun-alun didirikan Gedung Kabupaten beserta Pendopo Agengnya untuk tempat bersidang. Gedung yang terdiri berdasarkan 2 buah bangunan ini disebut penghadapan, yaitu tempat para abdi Kabupaten, Lurah dan masyarakat menunggu panggilan menghadap ke Kabupaten. Bupati Cokronegoro I pula memerintahkan pembangunan Masjid Agung Kabupaten Purworejo sebagai loka beribadah. Berdasarkan Prasasti yang ditempelkan pada atas pintu utamanya, Masjid Agung Darul Muttaqin terselesaikan di bangun pada hari Ahad tanggal 2 bulan Besar Tahun Alip 1762 Jawa atau bertepatan dengan tanggal 16 April 1834 Masehi.

Ada beberapa alasan mengapa letak bangunan masjid ini berada pada kota Purworejo. Salah satu sebab bahwa Kota Purworejo terletak di daerah yg dilingkupi sang perbukitan, yaitu bukit Menoreh pada sebelah timur, bukit Geger Menjangan di sebelah utara, dan Gunung Pupur pada sebelah Barat. Alasan lainnya bahwa Kota Purworejo berada diantara dua genre sungai, yaitu Kali Bogowonto dan Kali Jali menggunakan latar belakang Gunung Sumbing.

Fitur utama interior masjid masjid kita yang nir dimiliki masjid masjid pada negara lain adalah sokoguru d itengah masjid yg kadang juga dilengkapi menggunakan soko rowo (tiang tambahan). Di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo ini sokoguru nya dibuat berdasarkan btg jati utuh bercabang lima yang telah berumur ratusan tahun dan masih utuh dan kokoh sampai kini meski telah berumur lebih dari se abad.

Dalam ilmu kalang (Kawruh Kalang) yaitu ilmu kejawen yg mempelajari pengetahuan masalah perencanaan dan pembuatan bangunan jawa, letak tanah pada keadaan demikian disebut "Tanah Sungsang Buwana" atau "Kawula Katubing Kaladanquot;. Orang-orang Tanah Bagelen ketika itu percaya bahwa apabila sebuah bangunan didirikan dalam letak Tanah Sungsang Buwana, maka orang-orang yg mendiami atau menggunakannya akan disegani dan dicintai oleh poly orang atau menjadi agama para pembesar.

Masjid Agung dengan Bedug Terbesar pada Dunia

Bedug awalnya bukanlah tradisi Islam, aksesoris masjid satu ini merupakan warisan dari kebudayaan Indonesia sebelum Islam yg kemudian di adopsi kedalam budaya Islam Melayu karena faktor fungsional serta norma norma yang telah berurat berakar pada warga kita saat itu sampai menjadi budaya Islam melayu yang tidak terpisahkan dari bangunan masjid seantero muslim pada tanah Melayu lintas negara.

Mimbar pada Masjid Agung Darul Muttaqin ini relatif unik menggunakan ukiran spesial Jawa tetapi pada bentuknya yg sangat khas. Mihrabnya tak terlalu akbar, ad interim imam nir menempati mihrab pada sholat harian, akan tetapi pada tempat yg telah disediakan sedikit di depan mihrab sejajar denga mimbar.

Di Masjid Agung Darrul Muttaqin Purworejo ini memiliki koleksi yang tak biasa berupa sebuah beduk yang diklaim sebut sebagai beduk dengan ukuran terbesar di global. Beduk tadi bernama beduk Pandawa atau Pendowo atau Beduk Kyai Bagelen. Tak hanya memiliki berukuran sebagai beduk terbesar di global, tetapi beduk ini pula memiliki sebuah perjalanan sejarah yang cukup panjang. Beduk Pendowo dibentuk tahun 1762 tahun Jawa bertepatan dengan tahun 1834M bersamaan dengan pembangunan masjid Agung Darul Muttaqin. Tabung beduknya dibuat menurut bahan kayu jati termasuk 120 paku keling dalam sisi depan dan 98 paku keling sisi belakang pula terbuat menurut bahan kayu jati.

Beduk Pandawa bergaris tengah 194cm atau hampir dua meter pada sisi depan sedangkan pada sisi belakang bergaris tengah 180 centimeter. Bila bahan tabung dibentuk berdasarkan kayu jati sepanjang 292cm, kulit yg dipakainya sendiri menggunakan kulit banteng. Kulit beduk ini bergaris tengah 220cm. Kulit beduk dalam bagian belakang sempat mengalami kerusakan ditahun 1936 & kemudian diganti dalam lepas 3 Mei 1936 dengan bahan kulit sapi benggala. Kulit bagian belakang ini tercatat telah tiga kali mengalami penggantian lantaran kerusakan yg pada alaminya.

Bedug Bagelen atau Beduk Pandowo/Pandawa ::: inilah daya tarik utama para wisatawan di Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo, sebuah beduk super besar dengan panjang lebih dari 2 meter. Kulit bagian depannya berdasarkan kulit banteng, kulit bagian belakangnya menurut kulit sapi Benggala. Di pada beduk dilengkapi dengan sebuah gong buat menambah nyaring suara beduk.

Pembuatan beduk menggunakan ukuran super akbar ini ditangai oleh Wedana Desa Bragolan, Raden Tumenggung Prawironegoro yg adalah saudara termuda menurut Bupati Cokronegoro I, bersama dengan Raden Patih Cokrojoyo (pepatih/pembantu Bupati) atas perintah eksklusif berdasarkan Bupati Cokronegoro I. Tabung Beduk dibuat menurut pangkal pohon Jati dari Dukuh (Dusun) Pendowo, Desa Bragolan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo yg telah berusia ratusan tahun dengan berukuran besar & bercabang 5. Dalam ilmu kejawen, pohon jati akbar bercabang lima yang disebut Pendowo mengandung sifat perkasa & berwibawa. Pangkal pohon jati itu yg kemudian dilobangi bagian tengahnya berdasarkan ujung ke ujung dan sebagai tabung bagi beduk Pendowo. Kawasan tempat pohon jati yg dipakai buat bedug Bagelen tersebut kini sudah berubah sebagai kompleks Puskesmas ?Jati? / Puskesmas Bragolan.

Pembuatan beduk ini dilakuan langsung pada Dukuh (Dusun) Pendowo yg berjarak sekitar 9 kilometer menurut kota Purworejo menggunakan syarat jalan ketika itu sangat sukar untuk dilalui. Untuk mengatasi duduk perkara itu, atas usul Raden Tumenggung Prawironegoro, lalu Bupati Cokronegoro I mengangkat Kyai Haji Muhammad Irsyad yang menjabat menjadi Kaum (Lebai/Naib) di desa Solotiyang, Kecamatan Loano buat mengepalai proyek pemindahan Bedug Kyai Bagelan. Atas kepemimpinan sang Kyai, beduk tersebut diangkat secara beramai-ramai diiringi suara gamelan lengkap menggunakan penari tayub yang sudah menanti pada setiap pos perhentian.

Bedug Bagelen memang cukup besar , bahkan sanggup dimasuki sang orang dewasa (takmir masjid) yang sedang memperbaiki kulit bagian belakang beduk ini sekaligus menyelidiki kondisi gong pada pada beduk ini.

Kini, Beduk kyai Bagelen diletakkan di sebelah pada serambi Masjid. Jika ingin mendengar suaranya, datanglah dalam waktu Ashar, Maghrib, Isya, Subuh & menjelang shalat Jum'at ke Masjid Agung Darul Muttaqin Kabupaten Purworejo. Di samping itu, dalam setiap ketika menjelang sholat Sunat Idul Fitri & Idul Adha, program-program atau peristiwa-insiden keagamaan Islam dan memperingati dtk-dtk Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Bedug Kyai bagelen ini selalu ditabuh buat memberi pertanda dan penghormatan.

Kiblat Masjid Agung Purworejo Meleset

Berdasarkan hasil penghitungan detil oleh Tim Hisab Rukyat dan Sertifikasi Arah Kiblat Provinsi Jawa Tengah, arah kiblat Masjid Agung yg selama ini digunakan buat sholat meleset tiga derajat. Secara detil, kiblat yang ada terlalu condong ke utara 19 menit, 4,01 dtk. Penghitungan dilakukan kurang lebih pukul 14.00 tanggal 25 Agustus 2009 pada laman & serambi masjid. Wakil Ketua Tim Hisab Rukhiyat dan Sertifikasi Arah Kiblat Provinsi Jateng Slamet Hambali menjelaskan, posisi arah kiblat yang berlaku di Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo sebelumnya dalam arah Barat ke Utara 28 derajat, 5 mnt, 47,73 dtk. Seharusnya arah kiblat sedikit ke selatan tiga derajat, 19 mnt, 4,01 dtk berdasarkan arah kiblat yg terdapat.

Penghitungan secara detil dengan metode astronomi menggabungkan cara menghitung arah kiblat, posisi matahari, dan pemanfaatan GPS (Global Position System) untuk menentukan bujur lintang yang akurat, disimpulkan, arah kiblat yang sebenarnya dari titik barat ke utara 24 derajat, 46 menit, 47,777 detik.  Ketua Taqmir Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo Najib Safrudin mengungkapkan, arah kiblat terakhir kali dihitung pada Juni 2009 Setelah dihitung kembali oleh Tim Hisab Rukhiyat dan Sertifikasi Arah Kiblat Provinsi Jateng dan diketahui meleset, secepatnya arah kiblat diperbaiki. Dengan mengganti garis-garis cat yang sudah ada.

Referensi

aktual.co - bedug-terbesar-di-dunia-ada-di-purworejo

banditgelen.blogspot.com - Bedug Kyai Bagelen di Masjid Agung

islamflash.blogspot.com  - Depag Jateng Terbitkan Sertifikat Kiblat Masjid

sabili.co.id - kiblat-masjid-agung-purworejo-meleset

cangkrep.blogspot.com - Masjid Agung Purworejo

------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid pada Jawa Tengah Lain nya

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Besar Kauman Semarang

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Saturday, September 5, 2020

Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta

Masjid Al-Wustho, Pura Mangkunegaran, Surakarta

Masjid Al-Wustho merupakan salah satu dari tiga masjid tua dan bersejarah di kota Surakarta, bersama dengan Masjid Darusallam, dan Masjid Agung Surakarta. Pembangunan Masjid Al-Wustho diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara-I (1725-1795) diPraja Mangkunagaran sebagai masjid kerajaan bagi Pura Mangkunagaran dalam menjalankan fungsinya sebagai panotogomo. Lokasi masjid ini sebelumnya berada di wilayahKauman, Pasar Legi, namun pada masa AdipatiMangkunagara-II dipindah ke wilayahBanjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepadaPura Mangkunagaran.

Sebagai masjid kerajaan pada awalnya masjid ini hanya diperuntukkan khusus bagi keluarga kerajaan Pura Mangkunagaran dalam menjalankan ibadahnya. Namun kemudian dalam perkembangannya masjid ini terbuka untuk umum. Nama Al-Wustho pada masjid ini baru eksis sejak tahun 1949, Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi yang memberikan nama tersebut. Meski dibangun dalam bentuk arsitektural khas Jawa dengan reka bentuk masjid Agung Demak, Dalam sejarahnya pembangunan masjid ini sempat melibatkan seorang arsitek dari Prancis.

Lokasi & Alamat Masjid Al-Wustho

Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo

Jl RA Kartini 3 RT 003/09, Ketelan, Banjarsari

Solo 57132 Jawa Tengah

Phone number: 62.271.634648

Koordinat geografi : 110º49’17” E  7º 33’ 55” S

View Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo in a larger map

Posisi masjid al-Wustho berada di sebelah barat  kompleks istana/Pura Mangkunegaran Surakarta yang dipisahkan dengan jalan R.A. Kartini,  di sisi utaranya bersebelah dengan Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Surakarta, sedangkan di sebelah barat masjid merupakan pemukiman penduduk yang cukup padat. Cukup berjalan kaki sekitar 100 meter menuju lokasi masjid ini dari Pura Mangkunegaran.

Arsitektural Masjid Al-Wustho

Dari bentuk arsitektur bangunan, hampir sama dengan bentuk bangunan masjid-masjid Jawa lainnya misalnya masjid agung Demak, masjid Agung Keraton Yogyakarta, yg mengambil bentuk gaya arsitektur tempat tinggal Jawa dengan atap bangunan teras berbentuk limasan dan atap tumpang buat bagian atap ruang primer, yang bersusun tiga. Bangunan tersebut mengandung makna filosofis Iman, Islam dan Ikhsan. Yang membedakannya menggunakan masjid lain adalah adanya markis atau kuncung yaitu semacam pintu utama menuju teras dengan tiga akses pintu masuk, yaitu pada sisi kanan atau utara, sisi depan atau timur dan kiri atau selatan, yg dalam masing-masing atasnya dihiasi dengan kaligrafi.

Kompleks masjid Al Wustho Mangkunegaran terdiri berdasarkan bangunan primer serta bangunan bangunan pendukungnya. Di sebelah selatan masih ada bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal yg bekerjasama eksklusif dengan bangunan tempat tinggal tinggal keluarga ta?Mir atau pengurus masjid. Di sebelah utara terdapat fasilitas Unit Kesehatan Masjid dan loka tinggal Ta?Mir masjid.

Senja pada masjid Al-Wustho

Ornamen menarik pada masjid Al-Wustho ini berupa nukilan ayat ayat suci Al-Qur'an maupun hadist yang menghiasi beberapa bagian masjid. Selain pada gapura pertama & kedua, kaligrafi arab tadi pula bisa disaksisakan dalam pintu pintu masjid, ventilasi, 4 sokoguru masjid dan 12 soko rowo masjid, markis/kuncungan, soko & Maligin. Tiap tiap tiang pada dalam masjid tadi dihias menggunakan kaligrafi. Salah satu nukilan hadist nya berbunyi "siapa yang menciptakan masjid ini buat Allah, maka Allah kan mendirikan sebuah tempat tinggal untuknya pada nirwana kelak".

Aan Jaelani, dan mitra mitra, peneliti dari Puslitbang Lektur & Khazanah Keagamaan Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI yang melakukan penelitian terhadap inskripsi di Masjid Al-Wustho menemukan bahwa Inskripsi dalam masjid Al Wustho berjumlah lebih kurang 41 butir yg terdiri atas 2 isnkripsi pada gapura (luar & pada), 3 inskripsi dalam markis/kuncungan (depan, sisi kanan & sisi kiri), 10 inskripsi dalam ventilasi teras, 9 inskripsi dalam pintu, 16 inskripsi pada soko pengajar pada dalam ruang sholat, ditambah 1 inskripsi pada mihrab yg merupakan replica inskripsi pada gapura luar.

Bagian Bagian Masjid Al-Wustho

Luas kompleks masjid Al-Wustho sekitar 4.200 meter persegi dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar di muka berbentuk lengkung. Bagian belakang setinggi 3 m, bagian depan dengan bentuk lengkung setinggi 3 m. Gapura depan dihiasi dengan relief tulisan Arab. Bangunan utama masjid terdiri dari ; Serambi, Ruang Shalat Utama, Pawastren dan Maligin. Sedangkan di halaman masjid juga berdiri Tembok Keliling Halaman,  Pintu Gerbang utama, Pintu Gerbang Timur,  Pintu Gerbang Utara,  Markis, Kantor Pengurus Masjid dan Menara.

Detil Masjid Al-Wustho Mangkunegaran

Serambi Masjid

Serambi merupakan ruangan depan masjid dengan saka sebanyak 18 yang melambangkan umurRaden Mas Said (Mangkunagara I) ketika keluar dari Keraton Kasunan Surakarta untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunagaran. Di bagian timur laut serambi terdapatbedug yang bernamaKanjeng Kyai Danaswara dan kentongan. Ruangan Serambi berukuran 22 m, X 11 m.

Ruang Shalat Utama

Ruang Salat Utama: merupakan ruang dalam dengan 4 soko guru dan 12 soko rowo (penyangga pembantu) yang berhias huruf kaligrafi Alquran. Ruang utama untuk shalat berukuran 24 m X 22 m,  Mimbar ukiran untuk berkhotbah diletakkan di dekat mihrab mimbar dengan ukiran khas mataraman. Di bagian depan kaki mimbar yang menghadap ke timur dulunya ada figur dua ekor singa yang bagian kepalanya sudah hilang karena dipotong secara sengaja dengan gergaji. Hal ini dilakukan karena alasan agama yang melarang adanya patung di dalam masjid dan karena adanya keberatan dari beberapa orang jamaah. Sedangkan di pojok ruangan sebelah tenggara dibuat sebuah ruangan untuk menyimpan alat-alat pengeras suara yang dipakai setiap akan mulai shalat rawatib, dan shalat Jum’at.

Pawastren

Pawastren adalah bangunan tambahan yang digunakan buat tempat salat khusus wanita. Dahulu sebelum dibangun pawastren tambahan, terdapat sekat sebagai pemisah loka shalat buat wanita. Pawastren ini ukuran 10 m X 7 m. Di dalam ruangan pawastren, terdapat sebuah ruang gudang serta fasilitas kolah untuk berwudlu wanita dibangun pada sebelah timur pawastren.

Interior Masjid Al-Wustho

Maligin

Bangunan Maligin dibangun atas prakarsa AdipatiMangkunagara V (berkuasa 1881-1896), digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunagaran. Sejak pemerintahan Mangkunagara VII (1885-1944), Maligin diperkenankan untuk digunakan oleh Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum. Terpisah sedikit dengan pawastren, ada bangunan kecil bundar. Anak yang akan dikhitan di syahadad dulu di serambi masjid.

Tembok Keliling Halaman

Sebagai pembatas antara masjid menggunakan daerah sekitarnya dibuat tembok yang mengelilingi masjid. Adapun berukuran tembok keliling merupakan 260 m, dengan perincian sisi timur 60 m, sisi barat 69 m, sisi utara 70 m, sisi selatan 70 m. Pagar tembok pada sebelah barat/belakang, dibentuk rata sedangkan pada bagian depan/sisi timur & sisi selatan serta sisi utara, sebagian dibangun dengan hiasan lengkung. Gapura depan bagian luar & dalamnya dihiasi menggunakan relief Arab.

Gapura / Pintu Gerbang

Gerbang atau Gapura, gapura berasal dari kata Ghafara yang artinya ampunan Gapura halaman masjid ini dibuat tahun 1917-1918, dengan dinding berhiaskan relief kaligrafi huruf Arab. Ada dua buah pintu gerbang utama, sebelah depan dan sebelah utara dibuat dari jeruji besi.  Pintu Gerbang Timur dengan bentuk lengkungan tinggi dengan hiasan tulisan Arab yang berbunyi: “Al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” serta “Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”. Sedang di bagian belakang juga diberi relief Arab. Dan Pintu Gerbang Utara, disediakan untuk masuk masjid bagi orang kampung sekitar masjid sebagai jalan pintas, dengan ukuran lebar 2 m dan tinggi 3 m.

Renovasi Masjid Al-Wustho

Menara

Menara masjid Al-Wustho dibangun tahun1926 pada masa Mangkunagara VII (1885-1944), Digunakan untuk menyuarakanadzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orangmuadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke 4 arah yang berbeda. Bangunan menara ini berdiri di depan Kantor Pengurus Masjid  dengan tinggi 25 m dan bergaris tengah 2 m.

Markis

Markis adalah berada di sebelah depan bangunan serambi, merupakan bangunan tambahan dengan ukuran 5 m X 5m.  Markis/Kuncungan berbentuk bujur sangkar dengan lengkungan tembok menyerupai kubah atau gunungan, tempat ini adalah akses utama menuju masjid, dan merupakan batas akhir  bagi kalangan non muslim yang tidak diperkenankan masuk lebih dalam  ke masjid. Bagian depan dan kiri kanan dihias dengan relief Arab yang banyak mengandung makna.

Kantor Pengurus Masjid

Kantor penguru masjid Al-Wustho berada di sebelah utara masjid dengan ukuran 9m X 6m. Di kantor ini  ditempatkan perpustakaan masjid Al-Wustho.

Suasana sholat Idul Fitri pada Masjid Al-Wustho

Sejarah Masjid Al-Wustho

pembangunan masjid alwustho merupakan perwujudan berdasarkan fungsi pura mangkunegaran menjadi panotogomo yaitu pemerintahan yang nir hanya berfungsi secara politik melainkan jua berfungsi melaksanakan syiar kepercayaan . Sebelumnya, masjid Mangkunegaran terletak pada daerah kauman, Pasar legi. Karena dirasa jauh menurut istana, maka masjid tadi dipindah sang KGPAA Mangkunegara-II ke dekat istana pura Mangkunegaran. Sebagai masjid resmi pura mengkunegaran, maka pengelolaan masjid ini dilakukan oleh para abdi dalem pura. Dalam awalnya masjid ini merupakan tempat ibadah spesifik bagi famili pura tetapi pada perkembangan selanjutnya rakyat generik pula diperkenankan buat beribadah atau sekedar menikmati keunikan arsitekturnya.

Pendirian Masjid Mangkunagaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara-I (1725-1795) diPraja Mangkunagaran sebagai masjid kerajaan dalam menjalan fungsinya sebagai panotogomo atau piñata agama di dalam lingkup wilayah praja Mangkunegaran. Ketika pertama kali dibangun lokasi masjid ini berada di wilayahKauman, Pasar-Legi, namun pada masa AdipatiMangkunagara-II (berkuasa 1796-1835) dipindah ke lokasinya sekarang ini di wilayahBanjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepadaPura Mangkunagaran.

Pemugaran besar-besaran atas Masjid Mangkunagaran terjadi pada tahun 1878 dan selesai tahun 1918 saat pemerintahan AdipatiMangkunagara VII (1885-1944), pada saat itu beliau meminta seorang arsitek Ir. Herman Thomas untuk mendesain bentuk masjid ini. itu sebabnya meski secar keseluruhan masjid ini dirancang dalam arsitektural Jawa namun sentuhan gaya Eropa sangat terasa. Pada tahun 1949 Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi ditahun memberikan nama Masjid Al-Wustho pada masjid Pura Mangkunegaran ini.

Suasana ramainya jemaah di masjid ini bakda sholat Idul Fitri

Pengelolaan Masjid al-Wustho

Pengelolaan masjid sejak pertama berdiri dipercayakan pada para pengurus yang diangkat menjadi Abdi dalem Istana Mangkunegaran, sejak zaman penjajahan Belanda beralih ke penjajahan Jepang berjalan sebagaimana mestinya sebagai Masjid Keraton. Dengan diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, membawa perubahan-perubahan pula terhadap status masjid. Pengelolaannya diserahkan kepada kementerian Agama menggunakan suratnya angka: Pem.50/dua/7 tertanggal 12 April 1952, dan putusan Menteri Dalam Negeri nomor : E/23/6/7 tertanggal 14 September 1948.

Dalam keputusan Menteri Agama tahun 1962 disebutkan, bahwa Masjid Al Wustho Mangkunegaran adalah masjid yg diurus dan dipelihara Departemen Agama dengan mengikutsertakan eksponen-eksponen rakyat. Sebagai aplikasi Keputusan Menteri Agama tersebut maka biaya -biaya pengeluaran dibebankan dalam anggaran Departemen Agama. Akan tetapi menggunakan surat Dit. Ura. Islam tanggal 20 Desember 1974 nomor : 117/BKMP/1974, bantuan rutin menurut Departemen Agama khusus buat empat masjid di Kotamadya Surakarta dihentikan dari tahun 1972/1973.

Hal itu nir saja berlaku bagi masjid Al-Wustho tetapi pula pada empat masjid yang ada di (Kotamadya) Surakarta. Sejak saat itu pengurus harus mencari sendiri dana untuk biaya operasional masjid Al-Wustho tanpa bantuan berdasarkan Departemen Agama, Untuk mencukupi kebutuhan masjid, pengurus harus mencari dana sendiri dengan sekuat tenaga, sementara itu dana diperoleh dari: Kotak amal jama?Ah yg dibuka pada masjid tiap-tiap sesudah shalat Jum?At, dan dana infaq, shadaqah, & bantuan-donasi berdasarkan rakyat secara insidentil. Meskipun pengangkatan pengurusnya disahkan melalui surat keputusan yang dimuntahkan oleh lembaga pemerintah tersebut.

Referensi

mulyadi.staff.uns.ac.id – masjid al-wustho mangkunegaran solo

id.wikipedia.org - Arsitektur_dan_peninggalan_sejarah_di_Surakarta

regional.kompas.com – blusukan solo.gelar merapah masjid tua

kekunaan.blogspot.com – masjid al-wustho mangkunegaran

aanjaelani75.blogspot.com – inskripsi masjid al-wustho pura mangkunegaran

------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid pada Jawa Tengah Lain nya

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Besar Kauman Semarang

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Masjid Agung Surakarta

Friday, September 4, 2020

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan – Surakarta (bagian 2)

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan atau lebih dikenal dengan nama masjid Laweyan merupakan masjid tertua di Surakarta. pertama kali dibangun oleh Ki Ageng Henis, seorang ulama/imam di keraton kesultanan Pajang pada masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya atau lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir (foto dari laweyan.org)

Arsitektural Masjid Laweyan

Bentuk arsitek masjid yang mirip seperti Kelenteng Jawa, juga menjadi ciri khas Masjid Laweyan yang berbeda dengan bentuk arsitek masjid pada umumnya. Juga ada kentongan besar yang usianya ratusan tahun, tapi jarang dibunyikan, karena digantikan dengan bedug. Sisa bangunan yang usianya tua, adalah dua belas tiang utama masjid dari kayu jati. Terdapat tiga lorong jalur masuk di bagian depan masjid. Tiga lorong itu menandakan tiga jalan menuju kehidupan yang bijak yakni Islam, Iman dan Ihsan.

Wujud akulturasi budaya sangat terlihat pada arsitektur bangunannya beserta ornamen yang menghiasinya. Letak masjid berada di atas bahu jalan merupakan salah satu ciri dari pura Hindu. Pengaruh Hindu terlihat dari posisi masjid yang lebih tinggi dibandingkan bangunan di sekitarnya. Saat ini, sejumlah ornamen Hindu memang tak lagi menghiasi masjid. Tetapi, ornamen Hindu seperti hiasan ukiran batu masih menghiasi makam kuno yang ada di kompleks masjid.

Ekterior masjid Ki Ageng Henis atau Masjid Laweyan dari berbagai sumber ::: warisan budaya hindu terlihat dengan jelas diaplikasikan pada elevasi lantai masjid yang dibuat jauh lebih tinggi dari permukaan tanah disekitarnya, sementara peninggalan budaya hindu lainnya hanya dapat dinikmati di areal pemakaman kerajaan disebelah masjid ini.

Tata ruang Masjid Laweyan merupakan tipologi masjid Jawa pada umumnya. Ruang dibagi menjadi tiga, yakni ruang induk (utama) seluas 162 meter persegi dan serambi yang dibagi menjadi serambi kanan dan serambi kiri. Pengaruh Kerajaan Surakarta terlihat dari berubahnya bentuk masjid menyerupai bangunan Jawa yang terdiri atas pendopo atau bangunan utama dan serambi. Ada dua serambi, yakni kanan dan kiri. Serambi kanan menjadi kempat khusus putri atau pewastren, sedangkan serambi kiri merupakan perluasan untuk tempat shalat jamaah.

Ciri arsitektur Jawa ditemukan pula pada bentuk atap masjid, dalam arsitektur Jawa, bentuk atap menggunakan tajuk atau bersusun. Atap Masjid Laweyan terdiri atas dua bagian yang bersusun. Dinding masjid Laweyan terbuat dari susunan batu bata dan semen. Penggunaan batu bata sebagai bahan dinding, baru digunakan masyarakat sekitar tahun 1800. Sebelum dibangun seperti sekarang, bahan-bahan bangunan masjid, sebagian menggunakan kayu. Bukti bahwa dinding awal Masjid Laweyan adalah kayu, ditunjukkan dengan adanya rumah pelindung makam kuno terbuat dari kayu. Cungkup (rumah) di makam kuno yang terbuat dari kayu semua membuktikan bahwa Masjid Laweyan semula berbahan kayu.

Interior masjid Ki Ageng Henis atau Masjid Laweyan ini sangat bernuansa Jawa. dengan empat sakaguru di bagian tengah, mihrab yang menjorok ke dalam buka ke bagian luar, mimbar ukir dari kayu, atap tinggi tanpa plafon dan tentu saja tak ketinggalan sebuah beduk ditambah dengan kentongan.

Di makam ini terdapat tumbuhan langka pohon nagasari yang berusia lebih dari 500 tahun yang merupakan perwujudan penjagaan makam oleh naga yang paling unggul. Selain itu pada gerbang makam terdapat simbolisme perlindungan dari Batari Durga. Keberadaan makam direnovasi oleh Paku Buwono X bersamaan dengan renovasi Keraton Kasunanan. Sebuah bangunan semacam pendapa yang diangkat dari pindahan Keraton Kartasura.

Kompleks Masjid Laweyan menjadi satu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura dan Kasunanan Surakarta. Pada makam terdapat pintu gerbang samping yang khusus dibuat untuk digunakan oleh Sunan Paku Buwono X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu beliau wafat. Beberapa orang yang dimakamkan di tempat itu di antaranya adalah : Kyai Ageng Henis, Susuhunan Paku Buwono II yang memindahkan Keraton Kartasura ke Desa Sala hingga menjadi Keraton Kasunanan Surakarta. Konon Paku Buwono II ingin dimakamkan dekat dengan Kyai Ageng Henis dan bertujuan untuk menjaga Keraton Kasunanan Surakarta dari serangan musuh.

Anggota TNI, POLRI, masyarakat dan pelajar membersihkan makam Ki Ageng Henis di kompleks MasjId Laweyan, Solo, Rabu (23/11/2011). Kegiatan Karya Bhakti TNI yang digelar rutin tersebut sekaligus menyambut ulang tahun Hari Juang Kartika yang jatuh pada tanggal 15 Desember. (foto : Harianjogja.com)

Lalu ada makam dari Permaisuri Paku Buwono V, Pangeran Widjil I Kadilangu sebagai Pujangga Dalem Paku Buwono II & Paku Buwono III yang memprakarsai pindahnya Keraton dari Kartasura ke Surakarta, Nyai Ageng Pati, Nyai Pandanaran, Prabuwinoto anak bungsu dari Paku Buwono IX, Dalang Keraton Kasunanan Surakarta yang menurut legenda pernah diundang oleh Nyi Roro Kidul untuk mendalang di Laut Selatan dan Kyai Ageng Proboyekso, yang menurut legenda merupakan Jin Laut Utara yang bersama pasukan jin ikut membantu menjaga keamanan Kerajaan Kasunanan Surakarta.

Mata air Sunan Kalijaga

Salah satu peninggalan unik di Masjid Laweyan yang sering menjadi sasaran pengunjung adalah mata air sumur yang berada di sekitar kompleks masjid. Konon sumur tersebut muncul dari injakan kaki Sunan Kalijaga. Hingga saat ini airnya tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau. Oleh sebab itu, banyak pengunjung yang memanfaatkan air tersebut untuk pengobatan.

Kompleks Masjid Laweyan menjadi satu dengan makam kerabat Keraton Pajang, Kartasura dan Kasunanan Surakarta. Gerbang ini khusus dibuat untuk Sunan Paku Buwono X untuk ziarah ke makam dan hanya digunakan 1 kali saja karena 1 tahun setelah kunjungan itu beliau wafat.

Kepengurusan Masjid Laweyan

Meski Masjid Laweyan merupakan peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta, saat ini pemeliharaannya justru lebih didominasi masyarakat sekitar yang rata-rata sebagai pengusaha batik. Ritual tradisi budaya keraton juga jarang digelar di Masjid Laweyan. Bila semasa pemerintahan Kesultanan Pajang, masjid ini menjadi pusat pembelajaran. Saat ini hanya menjadi tempat ibadah biasa, namun demikian pengunjung dan peneliti dari luar daerah tetap terus berdatangan.

Kembali ke Bagian 1

Referensi

nasional.news.viva.co.id - masjid laweyan, saksi akulturasi hindu-islam

pasarsolo.com - masjid laweyan solo

indosiar.com - masjid laweyan masih tetap terjaga

semuthitampemenang.blogspot.com - masjid laweyan

kekunaan.blogspot.com – masjid laweyan surakarta

ramadan.okezone.com - masjid laweyan, pintu masuk islam di solo

kampoenglaweyan.com - obyek wisata jaman k.a. henis

coretanpetualang.wordpress.com - kampung batik laweyan

indoforum.org - wisata sejarah di laweyan

--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Jawa Tengah Lain nya

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Besar Kauman Semarang

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Agung Darul Muttaqin Purworejo

Masjid Agung Surakarta

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan Surakarta (bagian 1)

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done