Islami Pedia: serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia
News Update
Loading...
Showing posts with label serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia. Show all posts
Showing posts with label serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia. Show all posts

Sunday, October 4, 2020

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

# Masjid Masjid bergaya Tiongkok pada Indonesia

Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yg di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini telah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang telah sebagai bagian dari warga disana, pada keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa. Sejak tahun 2011 yang kemudian Purbalinga mempunyai satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid menggunakan bentuk mirip Klenteng yg sangat spesial . Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid pada Nusantara tercinta.

Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Ho sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Ho, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tadi nir lantas berarti hanya boleh dipakai dan dipakai sang Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, holistik masjid tersebut dibangun buat dipakai oleh semua kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan & lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Ho Purbalingga ini.

Alamat & Lokasi Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet

Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah

Indonesia

Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas mengenai Laksamana Cheng Ho

Haji Muhammad Cheng Ho (1371-1435) mempunyai berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seseorang Laksamana Muslim menurut kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau dari menurut suku Hui yg secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan sampai lalu menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yg melegenda menggunakan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di daerah Asia Tenggara, Asia Selatan sampai ke Afrika Timur dari tahun 1405 sampai tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui dia menjadi pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke banyak sekali kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yg masih mampu ditemui hingga kini . Sebagai keliru satu contoh, rekam jejaknya pada wilayah barat pulau Jawa sebagai pembuka jalan bagi dakwah Islam pada daerah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Ho selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yg beragama Islam. Salah seseorang mubaligh yg menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di daerah Cirebon.

Arsitektur itu seperti bungkus, Seperti sampul buku. Acapkali orang tertipu sang sampul buku hanya karena tak tertarik dengan sampulnya. Meskipun ternyata isinya adalah sesuatu yg dicari carinya. Seperti Arsitektur Masjid, bagaimanapun bentuknya tetaplah masjid.

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di daerah (yang sekarang dikenal menjadi) kabupaten Karawang pada provinsi Jawa Barat yang dalam waktu itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yg dikenal dengan nama Pondok Quro & Syech Hasanuddin dikenal menggunakan nama Syech Quro lantaran ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur?An. Dari pondok Quro itulah Islam lalu menyebar ke daerah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati menurut Syech Quro.

Bermula dari sana di lalu hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri menurut kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak usang selesainya berdirinya Kesultanan Demak menggunakan dukungan menurut para Wali. Pendiri & Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon merupakan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yg tidak lain adalah cucu kandung berdasarkan Pangeran Jaya Dewata yg ketika itu sudah menjadi Mahajara pada Kerajaan Pajajaran menggunakan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga menggunakan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal sang rakyatnya menggunakan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat rakyat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh pembawa Islam pada wilayah tadi namun nir bisa dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya. Maka wajar apabila lalu pada banyak sekali tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau menggunakan cara mengabadikan namanya menjadi nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun menggunakan bentuk bangunan tradisional yg biasa ditemui pada wilayah dari beliau yang kini menjadi bagian berdasarkan daerah Negara Republik Rakyat China.

Serba Merah. Interior Masjid Cheng Ho Purbalingga.

---------------ooo000ooo---------------

Artikel Terkait

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta

Masjid Lautze-2 Bandung

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Saturday, June 20, 2020

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Jakarta - Jam memperlihatkan pukul 10.30 pagi, suasana Pasar baru tampak lengang tidak seperti umumnya. Toko-toko baru beberapa terdapat yg menjajakan dagangannya. Menjadi pusat perdagangan, Pasar Baru menyimpan pusat syiar Islam pada kalangan warga etnis Tionghoa. Ruko-ruko yang bergelimpangan dengan keuntungan yg menjanjikan, menjadikan Pasar Baru menjadi pusat usaha perbelanjaan yg ada pada Jakarta.

Namun di pulang monumen-monumen keduniawian itu, persisnya di belakang Metro Pasar Baru ternyata masih tersisipkan sebuah domain spiritualitas. Namanya Masjid Lautze. Jangan bayangkan sebuah masjid gaya Arab atau Demak lengkap menggunakan menaranya. Masjid Lautze, bentuk fisiknya merupakan sebuah ruko.

Sesuai menggunakan namanya, masjid ini terletak di Jalan Lautze 87 ? 89, Jakarta. Saat awal berdirinya tahun 1991, masjid ini sekadar mengontrak ruko. Baru selesainya tahun 1994, ruko itu dimiliki sendiri sesudah sebelumnya dihibahkan oleh Wakil Presiden saat itu, BJ Habibie yg membelinya melalui PT Abdi Bangsa.

Pengelolaannya dilakukan sang Yayasan Abdul Karim OEI. Nama ini merogoh nama tokoh msulim tionghoa yang pula pedagang sukses dan aktif pada konvoi nasional. Tahun 1995, yayasan kemudian membeli ruko pada sebelahnya yg akhirnya disatukan dengan masjid usang.

Sebagai loka peribadatan muslim, Masjid Lautze memiliki ciri tersendiri. Ornamen-ornamen spesial Cina yang sebagai kebudayaan dari pemeluknya tampak mayoritas dalam interiornya. Lihat saja pintu masjid, konsep pintunya serupa dengan pintu yang ada pada klenteng atau vihara.

Bagian depan bangunan mesjid pun terkesan sangat oriental. Sementara di belakang mimbar, terdapat tergantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing . untuk penyanggah masjid, tiang masjid berdiri dengan kokoh berwarna hijau serta 6 buah kipas angin untuk menyejukkan masjid.

Corak ornamen yang tak jauh beda menggunakan klenteng memang disengaja. ?Masjid ini memiliki ornamen rona merah sinkron menggunakan etnis Tionghoa, maka warga Cina nir canggung buat datang ke masjid ini.? Ungkap Hj. Anna Kirbrandiana, Sekretariat Yayasan Haji Karim OEI ditemui detikcom.

Masjid ini terdiri dari empat lantai. Lantai 1 & 2 pada mesjid dipergunakan sebagai tempat shalat khususnya shalat Jumat, untuk lantai 3 terdapat beberapa ruangan sebagai tempat sekretariat yayasan, serta tempat konsultasi agama serta bimbingan masuk Islam dan terdapat beberapa foto pendiri yayasan. sedangkan untuk lantai 4 dipergunakan sebagai ruang serba guna. ruang ini difungsikan pada saat bulan puasa seperti halnya buka puasa bersama, serta sebagai ruang tata cara pernikahan serta resepsi pernikahan.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze  memang dipergunakan sebagai Pusat Informasi Islam khusus etnis Tionghoa. Saat ini, Masjid Lautze memiliki 3 cabang yakni, Tangerang, Bandung, dan Cirebon .

Detiknews.com

-----------------------ooOOOoo-------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami’ Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Saturday, June 6, 2020

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Masjid Cheng Ho Surabaya (foto dari indonesia.com)

Masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia atau lebih dikenal dengan nama Masjid Cheng Ho Surabaya adalah masjid pertama di Indonesia yg dibangun menggunakan arsitektur Tiongkok, seperti sekali dengan kelenteng & bangunan bangunan krusial lain nya di Tiongkok.

Masjid Cheng Ho Surabaya ini digagas dan didirikan atas prakarsa  HMY Bambang Sujianto ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia dan para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam atau sebelumnya dikenal dengan Persatuan Islam Thionghoa Indonesia) Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Masjid Chengho Surabaya ini mendapatkan Rekor MURI sebagai “Pemrakarsa dan Pembuat Masjid Berasitektur Tiongkok Pertama di Indonesia”

Lokasi Masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia

Lokasi masjid berada pada bagian belakang gedung serbaguna PITI Jawa Timur pada Jalan Gading Nomor dua, Ketabang, Genteng, Surabaya. Atau berada di belakang Komplek Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Surabaya.

View Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya in a larger map

Sejarah Pendirian Masjid Cheng Ho Surabaya

Papan Nama Masjid Cheng Ho

yang unik dengan dua aksara

sekaligus. Latin dan Cina.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Cheng Ho Surabaya dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2001 bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Proses pembangunannya dimulai pada tanggal 10 Maret 2002 dan rampung  keseluruhan dan sudah dapat dipakai sejak tanggal 13 Oktober 2002. Sebagaimana tertulis di prasasti pembangunan di depan masjid, Masjid Cheng Ho Surabaya diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA. pada tanggal 28 Mei 2003. Proses pembangunannya menghabiskan dana Rp 700 juta.

Sejarah Penamaan Masjid

Nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho,Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam. Pada abad ke 15 pada masaDinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dariYunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama dipulau Jawa. Kemudian Laksamana Cheng Ho atau Admiral Zhang Hee atau Sam Poo Kong atau Pompu Awang pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantaiSimongan,Semarang. Selain itu dia juga sebagai utusanKaisar Yung Lo untuk mengunjungi RajaMajapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Arsitektur Masjid Cheng Ho Surabaya

Sepintas kemudian Masjid Cheng Ho Surabaya memang mirip kelenteng, rumah ibadah umat Tri Dharma. Dengan penguasaan rona merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental perbedaan makna Tiongkok usang. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Ditambah relief naga & patung singa dari lilin. Jika dilihat lebih dekat, ada lafaz ''Allah'' pada alfabet Arab di zenit pagoda menunjukkan bangunan ini merupakan masjid, lengkap menggunakan beduk di sisi kiri bangunan. Masjid ini dibangun pada atas tanah 3.070 meter persegi dan ukuran keseluruhan masjid nir terlalu akbar hanya lebih kurang 200 meter persegi.

Ornamen dibawah kubah Pagoda

masjid Cheng Ho Surabaya

Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab memang menjadi ciri khas masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia. Arsitektur Masjid Cheng Ho diilhami Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing yang dibangun pada 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal Jawa. Arsiteknya Ir. Aziz Johan (anggota PITI asal Bojonegoro) serta didukung tim teknis, HS willy Pangestu, Donny Asalim SH, Ir Tony Bagyo, dan Ir Rahmat Kurnia.

Mahkota pada ujung atap lebih condong pada gaya arsitektur Hindu-Jawa. Tatanan atap Masjid Cheng Ho berbentuk segi delapan (pat kwa) yang memiliki Makna "keberuntungan" atau "kejayaan" menurut numorologi Tiongkok kuno. Hitungan atau angka pada bangunan masjid semuanya punya makna. Bangunan utama seluas 11 x 9 meter. Angka 11 sebagai ukuran Ka'bah pada awal pembangunannya dan angka 9 merupakan simbol Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa.

Masjid Cheng Ho memiliki kolom sederhana & dinding dilapisi keramik bermotif batu bata. Di beberapa bagian dihadirkan ornamen horizontal berwarna hijau tua dan biru muda. Pewarnaan itu diulang pula dalam bentukan kuda-kuda yg dibiarkan telanjang pada bagian interior.

Kaligrafi dengan sentuhan Tiongkok

memperindah masjid Cheng Ho Surabaya

Ada juga bukaan lengkung pada dinding, karakteristik spesial arsitektur India & Arab. Pada bagian dalam masjid, terdapat podium. Di Tiongkok, podium ini dimaksudkan guna menghindari kelembapan. Podium Masjid Cheng Ho dibagi 2, tinggi & rendah. Podium yg lebih tinggi terletak pada bangunan utama. Sedangkan yang rendah berada di sayap kanan & kiri bagian primer masjid. Papan nama masjid ini cukup istimewa, karena bantuan gratis pribadi dari Duta Besar China buat Indonesia, Lu Shu Ming.

Pada sisi utara masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo beserta armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan pada muslim Tionghoa di Indonesia dalam khususnya supaya nir risih & sombong sebagai orang Islam. Orang Tionghoa menjalankan ajaran Islam bukanlah adalah hal yg aneh atau luar biasa. Hal itu merupakan lumrah, lantaran 600 tahun yang kemudian pun telah terdapat laksamana Tionghoa yg taat menjalankan ajaran Islam bernama Muhammad Cheng Hoo. Beliau juga turut mensyi'arkan agama Islam di Indonesia.

Kegiatan Masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia

Ramadhan di Masjid Cheng  ho Surabaya

Fasilitas yang terdapat di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo antara lain: kantor, sekolah Taman Kanak-kanak, lapangan olah raga, kelas kursus bahasa mandarin dan kantin. Fasilitas tadi disediakan demi kenyamanan beribadah dan buat mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu poly jua aktivitas sosial yg diselenggarakan PITI merogoh tempat pada kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Masjid ini dikelola PITI Korwil Jawa Timur & Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Indonesia. Berbagai aktivitas keagamaan dilaksanakan di masjid ini, misalnya pengajian, tablig besar , atau majelis taklim. Kegiatan perayaan hari-hari keagamaan Islam seperti Idul Fitri atau Idul Qurban pun dipusatkan di masjid ini. Kadang halaman dipakai buat acara resepsi pernikahan menggunakan latar belakang bangunan masjid.

Hampir setiap pekan di masjid ini, biasanya setelah salat Jumat, dua-tiga warga keturunan Tionghoa mengucapkansyahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai tanda masuk agama Islam.

Lain lain

Video Masjid Cheng Ho Surabaya

Referensi

Osdir.com-Masjid Muhammad Cheng Ho - Rumah Indah Persaudaraan

Mediaindonesia-Balutan Arsitektur Tiongkok di Masjid Cheng Ho

Wikipedia-Masjid Cheng Ho Surabaya from wikipedia

Mimimama-Masjid Muhammad Cheng Hoo, Surabaya

Situsresmi-PITI Jatim

PKSgajahmungkur-Masjid Cheng Hoo, Sarat Pesan Kedamaian

--------------------ooOOOoo-------------------------

Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok pada Indonesia

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Palembang

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Al-Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya, Palembang

Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho Sriwijaya Palembang atau biasa disebut sebagai Masjid Cheng Ho Palembang berlokasi di Perumahan Amen Mulia, Jakabaring,Palembang. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan yang diketuai oleh H. A. Afandi serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitarPalembang.

Masjid Cheng Ho Palembang merupakan salah satu dari 3 Masjid Cheng Ho yang sudah berdiri di Indonesia, dua yang lain berada di Surabaya dan Pasuruan. Dibandingkan dua Masjid Cheng Ho Lain nya Masjid Cheng Ho Palembang merupakan Masjid Cheng Ho terbesar. Fungsi masjid Cheng Ho lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi sebuah tujuan wisata yang menarik para pengunjung dari Malaysia, Singapura, Taiwan dan bahkan Rusia.

Arsitektur Masjid

Salah satu berdasarkan 2

menara Masjid Cheng Ho

Palembang yg seperti

menggunakan bangunan

Pagoda Cina.

Bangunan masjid dibangun dengan gugusan unsur Cina, Melayu, Nusantara & arab ini dilengkapi dengan tempat tinggal imam, Tempat Pendidikan Al-Quran buat anak-anak secara perdeo, Kantor DKM, perpustakaan masjid, serta ruang serbaguna. Bangunan masjid berukuran 25 x 25 meter berdiri di atas tanah 5000 meter persegi. Pembangunan masjid menelan porto kurang lebih Rp 4 miliar.

Masjid Sriwijaya MuhammadCheng Hoo, mampu menampung sekitar 600 jemaah dan berlantai 2. Lantai pertama digunakan untuk jemaah laki laki, sedangkan lantai dua digunakan khusus untuk jemaah wanita. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng diCina, dicat warna merah dan hijau giok.

Sejarah Masjid Cheng Ho Palembang

Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama bulan September 2005. Modal awal pembangunan lebih kurang Rp 150 juta diperoleh menurut output urunan anggota PITI Sumatera Selatan. Sedangkan tanah tempat masjid berdiri adalah bantuan gratis menurut pemerintah daerah & mulai digunakan semenjak hari Jum?At 22 Agustus 2008 dengan digelarnya sholat jum?At berjamaah & di hadiri tidak kurang berdasarkan 1500 jemaah menurut berbagai etnis dan wilayah pada Palembang. Acara tadi pula dihadiri sang walikota Palembang yg turut sholat jum?At berjamaah. Sedikit acara selamatan di selenggarakan sang pengurus PITI Sumatera Selatan sebelum sholat jum?At dilaksanakan.

Keterkaitan Laksamana Cheng Ho menggunakan Palembang

Sejarah kota Palembang memang tak terpisahkan dengan LaksamanaCheng Ho. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Cheng Ho sempat 4 kali datang kePalembang. Cheng Ho adalah seorang kasimMuslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dariTiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dariDinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保), berasal dari provinsiYunnan.

Suasana Masjid Cheng Ho Palembang Ketika pertama kali

dipakai untuk Sholat Jum'at Bejamaah 22 Agustus 2008 yang lalu.

Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap kemudian diwajibkan buat menjalani pendidikan militer hingga lalu menjadi Laksamana. Cheng Ho berasal menurut suku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip menggunakan suku Han, namun beragama Islam.

Penyebaran Islam diIndonesia, selain dilakukan para pedagang dari Arab dan sekitarnya, ternyata para pedagang asalTionghoa ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Ho dalam menyebarkanIslam di Palembang. Armada Cheng Ho sebanyak 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 yang dipimpinnya itu pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang.

Pada tahun 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta donasi armada Tiongkok yang terdapat di Asia Tenggara buat menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yg mengganggu ketenteraman. Kepala perampok tadi yang bernama Chen Tsu Ji berhasil diringkus & dibawa ke Peking. Semenjak itu, Laksamana Cheng Ho membentuk masyarakat Islam Tionghoa di Kota Palembang yg memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya.

Gerombolan perompak yg dipimpin Chen Tsu Ji, sebenarnya bekas seseorang perwira angkatan laut China asal Kanton. Dia melarikan diri ketika Dinasti Ming berkuasa. Pelariannya berlabuh pada Palembang. Kedatangannya ke Palembang telah membuat resah para pedagang yang singgah. Sebab, Chen Tsu Ji membawa ribuan pengikutnya dan membangun basis kekuasaan pada Palembang, atau po-lin-fong pada bahasa China, yg berarti ?Pelabuhan tua.? Selama berkuasa di Palembang, Chen Tsu Ji menguasai wilayah lebih kurang muara Sungai Musi, perairan Sungsang, dan Selat Bangka.

Jemaah Masjid Cheng Ho Palembang, Ukiran pada mimbar khatib

tersebut  sangat  khas  ukiran  Palembang,  yang  senantiasa

di dominasi oleh ukiran flora dibalur dengan warna emas

Anak buah Chen Tsu Ji merompak semua kapal yang melintasi perairan itu. Kebetulan atau tidak, daerah-daerah itu sampai kini jadi kantung-kantung bandit Palembang. Selama perjalanan Cheng Ho antara 1405–1433 M, dia pernah empat kali ke Palembang. Tahun 1407 masehi, armada Cheng Ho mampir ke Palembang dalam rangka menumpas perompak yang dipimpin Chen Tsui Ji tersebut. Kemudian, pada tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M, armada Cheng Ho berlabuh ke Palembang. Setelah memberantas para perampok,LaksamanaCheng Ho berlabuh hingga tiga kali ke Palembang. Namun, tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya.

Hingga kini etnis thionghoa sebagai keliru satu etnis yg mendiami daerah Sumsel, & menurut catatan waktu ini Tionghoa muslim di Sumsel berjumlah lebih kurang 4.000 orang. Sekitar dua.000 orang lebih muslim Tionghoa telah usang menetap di Palembang.

Referensi

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Cheng Ho: Paduan Budaya China - Palembang yg Diabadikan

Semarak Ramadhan di Masjid Cheng Ho Palembang

Mesjid Cheng Ho Terus Berbenah Sambut Ramadan

Sultan, Saya Punya Dongeng

-----------------------ooOOOoo------------------------

Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Friday, June 5, 2020

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Indonesia memang sangat kaya dengan ke aneka ragaman budaya, sampai kepada arsitektur masjid pun begitu beragam. Seiring dengan reformasi yang bergulir sejak 1998 lalu, kungkungan terhadap etnis tertentu di negeri inipun tergerus habis. Seiring perjalanan waktu. Saudara saudara muslim Tionghoa Indonesia yang semasa pemerintahan sebelum reformasi tak bebas mengekspresikan budaya mereka kini tak lagi harus merasa takut menunjukkan jati diri sebagai bagian dari anak bangsa Republik tercinta ini.

Masjid Nasional Sultan Mahmud

Badarudin II - Palembang

Fakta sejarah membuktikan bahwa pengaruh budaya Tiongkok memang sudah sejak lama mempengaruhi arsitektur masjid masjid tua di Indonesia . Sebut saja diantanya adalah Masjid Nasional Sultan Mahmud Badarudin II di Kota Palembang dan Masjid Hidayatullah di kawasan Karet, Setiabudi, Jakarta yang begitu kental dengan nuansa Tiongkok nya.

Beberapa Masjid baru dengan arsitektur sangat Tiongkok telah berdiri di beberapa kota di Indonesia . 3 masjid telah di bangun di 3 kota yang ketiga nya sama sama mengabadikan nama Laksamana Cheng Ho sebagai nama Masjid. Sebagaimana kita ketahui Laksamana Cheng Ho memiliki andil begitu besar bagi penyebaran Islam di kawasan Nusantara di era awal masuknya Islam ke Indonesia .

Masjid Hidayatullah, Setiabudi

Jakarta

3 masjid yang sudah berdiri tersebut adalah ; Masjid Cheng Ho Surabaya, Masjid Cheng Ho Palembang dan Masjid Cheng Ho Pasuruan. Sementara dua kota berikutnya juga berencana akan membangun masjid Cheng Ho sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasa  beliau. Dua kota yang sudah berencana membangun Masjid Cheng Ho Beikutnya adalah Gowa di Sulawesi Selatan dan Jember di Jawa Timur.

Selain masjid masjid Cheng Ho tersebut, masih ada lagi masjid masjid bergaya Tiongkok di Indonesia tapi tidak menggunakan nama Laksamana Cheng Ho. Masjid masjid tersebut adalah : Masjid  Tan Kok Liong – Cibinong, Jawa Barat, Masjid di komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang, Masjid Lautse Jakarta dan Masjid Lautze2 di Bandung.

Masjid Cheng Ho - Surabaya
Masjid Cheng Ho - Palembang
Masjid Cheng Ho - Pasuruan
Masjid Tan Kok Liong - Cibinong
Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang
Masjid Lautze, Pasar Baru - Jakarta
Masjid Lautze 2 - Bandung

Kesemua masjid yang bergaya Tiongkok tersebut  tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang  suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya.

Uniknya dari 7 masjid tersebut di atas, tidak semuanya di dirikan oleh komunitas Muslim Tionghoa Indonesia, masjid Cheng Ho Pasuruan didirikan oleh Pemkab Pasuruan, sedangkan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang didirikan oleh Muhammadiyah. Ke tujuh masjid tersebut akan di ulas lebih detil dalam 7 posting berikut di blog ini dengan tag ‘serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia’.

--------------------------ooOOOoo--------------------------

Lanjutkan Membaca

Artikel Masjid Bergaya Tiongkok pada Indonesia

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Palembang

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze dua Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Pasuruan.

Masjid Cheng Ho Pandaan, Pasuruan adalah salah satu menurut tiga Masjid Cheng Ho di Indonesia. Dua yg lain nya adalah Masjid Cheng Ho Surabaya & Palembang. Berbeda dengan Masjid Cheng Ho Surabaya dan Palembang yg didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) dan tokoh warga Tionghoa, maka masjid Cheng Ho Pandaan ini dibangun dengan biaya berdasarkan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Masjid ini telah mejadi salah satu ikon baru pariwisata kabupaten Pasuruan. Keindahan masjid ini pada abadikan sang PT Pos Cabang Kabupaten Pasuruan dalam kartu lebaran 1431H (2010M) yg dibagi bagikan perdeo kepada rakyat, sebagai bagian dari promosi pariwisata kabupaten Pasuruan.

Lokasi Masjid Cheng Ho ? Pandaan

Masjid Muhammad Cheng Hoo

Jl. Raya Kasri No.18, Petung Sari, Petungasri, Kec. Pandaan

Pasuruan, Jawa Timur 67156

Masjid Cheng Ho Panda?An terletak pada pinggir jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes, Propinsi Jawa Timur. Lokasinya yg terletak di wilayah yang mempunyai pemandangan alam memukau mengakibatkan Masjid ini loka istirahat sejenak yg menyenangkan bagi mereka yang melalui ruas jalan tersebut.

Sejarah Pendirian Masjid Cheng Ho Pandaan

Papan nama masjid
Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya, yang dikelola para pengusaha-pengusaha anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Masjid Cheng Hoo Pandaan langsung ditangani Pemkab Pasuruan. Pembangunan Masjid ini di gagas oleh Jusbakir Aldjufri, bupati Pasuruan. Untuk dijadikan Landmark (penanda) yang religius bagi pengguna jalan yang melintas di wilayah .

Interior Masjid
Maksud dan tujuan dipilihnya bentuk masjid dengan bentuk pagoda atau kelenteng yang identik dengan tempat ibadah bagi ummat Tridharma itu hendak menunjukkan kepada masyarakat tentang universalitas Islam. Islam itu rahmat bagi semesta (rahmatin lil alamin), tak mengenal sekat-sekat bangsa, etnis, negara, dan seterusnya. Jadi, walaupun bentuknya bergaya Tiongkok, masjid ini dipakai oleh umat Islam dari mana saja.

Arsitektur Masjid Cheng Ho Pandaan

Ornamen di atap masjid
Masjid Cheng Ho Pandaan gaya arsitekturnya mengadopsi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi ikon pariwisata. Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran. Ukuran keseluruhan masjid dua lantai ini adalah 50 x 50m.***

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

--------------------ooOOOoo-------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami’ Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Jami’ Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Tan Kok Liong – Cibinong, Jawa Barat

Masjid Tan Kok Liong adalah salah satu dari sedikit masjid di Indonesia yang ber-arsitektur Tiongkok. Sepintas lalu memang tak tampak seperti bangunan masjid kebanyakan karena memang bentuk masjid ini mengadopsi gaya arsitektur era dinasti Ching di China.

Masjid Jami’ Tan Kok Liong, merupakan bagian dari komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Terpadu At-Ta’ibin yang didirikan oleh Mohammad Ramdan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan mantan napi yang kemudian sukses menjadi da’i dan pengusaha. Tan Kok liong adalah nama beliau semasa masih kanak kanak.

Masjid Tan Kok Liong

Komplek Pesantren At-Ta’ibin

Jl. Raya Kampung Sawah No. 100 RT02/RW08

Kp. Bulak Rata, Kel Pondok Rajeg, Kec. Cibinong

Kab. Bogor 16914, Jawa Barat.

Telepon : (021) 70238033

Dengan angkutan umum, dapat ditempuh dari terminal Depok dengan rute : naik angkot D10 dari terminal depok lalu turun di terminal kampung sawah, lalu naik sekali lagi angkot 72 (warna biru) dan turun di gapura pesantren, dari gapura bisa berjalan kaki ataupun menggunakan ojek ke pesantren.

Sejarah Pendirian Masjid Tan Kok Liong

Masjid Jami' Tan Kok Liong mulai dibangun pada 2005 dengan dana 2 Milyar Rupiah. Ide awalnya muncul dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cina tahun 2004. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Yudhoyono berusaha meyakinkan pengusaha Cina supaya bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Anton Medan, yang hanya melihat acara tersebut di televisi, tergerak untuk menunjukkan kepada pengusaha Cina bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia diakui dan dilindungi pemerintah.

Masjid Tan Kok Liong

Bermodal keuntungan usaha percetakan dan sablon bagi peserta Pemilu 2004, Anton mulai mendesain bentuk masjid bergaya klenteng. Dia mendesain sendiri tanpa jasa arsitek atau desainer interior. Untuk mewujudkannya, Anton berburu VCD bentuk-bentuk istana di Cina ke Pluit. Dari berbagai bentuk itu akhirnya terpilih tiga istana: Istana Dinasti Ching, Ming, dan Han. Pilihan jatuh pada istana Dinasti Ching, yang mendekati kemiripan dengan desain masjid di Indonesiaز

Arsitektur Masjid Jami’ Tan Kok Liong

Rancang bangun masjid Jami’ Tan Kok Liong ini di buat sendiri oleh pembangun dan pemiliknya, Anton Medan. Bangunan berlantai tiga berukuran 16 x 20m ini memang lebih menyerupai kelenteng dibandingkan sebuah masjid. Bangunan yang menjulang tinggi itu didominasi warna merah menyala. Ornamen naga menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Lantai dasarnya digunakan untuk kantor pesantren, lantai satu dan dua untuk shalat. Kubah masjidnya berukuran kecil  berada di atap depan lantai dasar. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berkubah besar dan berada di puncak atap utama.

Ornamen Masjid Tan Kok Liong, Bagian Atas terpasang Lafaz Allah dan di bagian bawah dipasang lafaz Raja dalam aksara Cina.

Cat dindingnya berwarna merah muda, sedangkan pilarnya didominasi merah marun, ada juga dua pilar yang berwarna emas. Sementara atapnya berwarna hijau. Ornamen naga khas arsitektur Tiongkok, menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Papan nama yang bertuliskan “Masjid Jami Tan Kok Liong” bergaya tulisan Tiongkok sedangkan lafaz Allah ada di pucuk atapnya.  Tiga penanda yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid adalah terdapatnya lafal Allah pada pucuk atapnya. Lalu papan namanya bertulisan "Masjid Jami' Tan Kok Liong". Terakhir, kubah di bagian atap kanopi.

Atap bangunan terdiri atas tiga undakan. Setiap jengkal atapnya berornamen Cina, seperti lampion merah. Ujung-ujung wuwungan dihiasi kepala naga yang merupakan simbol kesuksesan, seolah menyembul dari awan. Ujung gentingnya bulat berdiameter 7,5 sentimeter bertulisan dalam aksara Cina berlafal "huang" atau raja dan berlafal "Allah". "Ornamen bertulisan 'raja'  di taruh di bawah tulisan 'Allah'

Tan Kok Liong/Anton Medan/

Mohammad Ramdan Effendi

Masjid ini semiterbuka. Hampir semua dindingnya adalah pintu yang dibuka ketika ada perhelatan. Uniknya, desain pintu masing-masing berbeda sebagaimana pintu-pintu kerajaan di Cina. Pintu-pintu biasanya merupakan sumbangan penduduk berbagai daerah. Setiap daerah menyumbang pintu dengan desainnya sendiri. Hanya, ukurannya sama, karena telah ditetapkan.

Referensi

--------------------ooOOOoo-------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Thursday, June 4, 2020

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lutze dua Bandung

Kurangnya sentra fakta bagi etnis Tionghoa yg ingin memeluk kepercayaan Islam, dan bagi mualaf Tionghoa pada Bandung dan sekitarnya, sebagai salah satu alasan didirikan Masjid Lautze 2 pada Bandung yg kepengurusannya ditangani oleh Yayasan Haji Kariem Oie (YHKO).

Masjid Lautze dua Bandung ini boleh jadi menjadi masjid Indonesia pertama yang memanfaatkan situs jejaring sosial pada kegiatannya termasuk dalam aktivitas penggalangan dana ummat buat kemakmuran masjid. Dan masih menjadi satu satunya masjid yang menempati gedung kontrakan di kota Bandung. Meski masih ngontrak di ruko pada kawasan usaha kota Bandung, kehadiran masjid lautze dua telah memberikan manfaat yang tidak ternilai bagi ummat Islam Bandung & khususnya bagi Muslim Tionghoa di Bandung & sekitarnya.

Lokasi Masjid Lautze 2 Bandung

Sejak pertama berdiri hingga sekarang masjid Latze dua Bandung masih menempati ruko kontrakan di Jalan Tamblong No. 27 Bandung (dekat Patung Ajat Sudrajat mantan pemain Persib). Salah satu pusat bisnis di kota Bandung

Lihat Masjid Lautze 2 Bandung di peta yang lebih besar

Arsitektur Masjid Lautze dua Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung memiliki ukuran yang tak terlalu besar hanya 7 x 6 meter. arsitektur masjid bercirikan Tionghoa tanpa kehilangan kekhasan budaya lokal dan timur tengah.  Exterior dan interior masjid yang di dominasi oleh warna merah cerah mengingatkan kita pada warna warna vihara dan kelenteng. Namun ornamen kubah dari potongan kayu yang juga berwarna merah serta papan nama “masjid Lautze 2” yang menunjuk ke arah pintu masuk, menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah sebuah Masjid.

Bentuk depan masjid Lautze 2 Bandung

Lengkap dengan Papan nama-nya. Dinding depan masjid di hias dengan ornamen terawang berwarna kuning dengan garis garis merah. Dengan lengkungan akbar sebagai gerbang menuju pintu masuk masjid pula berwarna merah. Sementara kubah warna merah sengaja dipasang dibagian atas buat membedakan bangunan masjid ini menggunakan bangunan ruko pada sekiarnya.

Selain Arsitektur luarnya, dekorasi di pada Masjid pun di penguasaan sang perbedaan makna Tionghoa. Rona cat mesjid yg menggunakan warna-warna buat kelenteng misalnya merah menyala dan lampu-lampu berbentuk lampion. Selain itu masjid lauze 2 dilengkapi menggunakan penyejuk udara, sebagai akibatnya suasana di dalam masjid terasa lebih nyaman.

Penggunaan ornamen ornamen Tionghoa seperti dijelaskan di atas memang disengaja sang para penggagas & pengurus masjid. Seperti halnya yang dilakukan para wali songo dalam menarik rakyat sebagai akibatnya tertarik dengan agama Islam, yaitu supaya para Muslim Tionghoa yang baru saja belajar Islam merasa dekat, seperti berada pada rumahnya sendiri.

Sejarah Masjid Lautze dua Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung tak terlepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) yang didirikan tahun 1991 dan berpusat di Jakarta, YHKO sekaligus berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa, di setiap pecinan (pusat pemukiman etnis Tionghoa) di Indonesia. Pada tahun 2004 YHKO membentuk divisi Muallaf Networking. Divisi ini memiliki 7 fungsi yang salah satunya sebagai penyedia tempat penampungan sementara bagi para muallaf yang terisolir dari keluarga atau lingkunganya.

Bagian dalam Masjid Lautze dua Bandung

Nama yayasan itu di ambil dari nama (Alm) Haji Karim Oei Tjeng Hien / Haji Abdul Karim  (1905-1988). Seorang tokoh Muhammadiyah, mantan anggota Parlemen RI, pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), anggota Pimpinan harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat. Haji Karim Oei dikenal sebagai Muslim Tionghoa Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Haji Karim Oei masuk Islam tahun 1930-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka.

Pendirian masjid Lautze 2 Bandung bermula ketika di bulan Ramadhan Desember 1996, saat digelar pertemuan bulanan YHKO di Jakarta. Perwakilan YHKO  dari luar Jakarta datang, termasuk dari Bandung, Haji Mudirullah dan bapak Hendro. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa di Bandung belum ada sekretariat Cabang YHKO. Maka,  dibentuklah YHKO cabang Bandung di bulan Januari  1997, Untuk kebutuhan pembinaan umat Islam, khususnya etnis Tionghoa, sekaligus sekretariat cabang YHKO.

Di awal pendirian YHKO Bandung diputuskan buat mengontrak sebuah bangunan bekas toko kitab di daerah Tamblong ? Bandung, menggunakan dana awal buat sewa loka menggunakan dana yayasan. Karena saat itu masih banyak ruang kosong pada kantor baru tersebut, pengurus yayasan memutuskan buat menggunakan ruang tersebut menjadi masjid. Sejak ketika itu sekretariat YHKO Bandung jua di fungsikan menjadi Masjid dengan nama masjid Lautze 2, untuk membedakannya menggunakan Masjid Lautze pada Jakarta.

Kegiatan kesekretariatan YHKO pun dilaksanakan di masjid ini. Tetapi, ruangan yg tanpa sekat antara kantor & masjid ternyata cukup menyulitkan dalam aktivitas ibadah. Sehingga di tahun 2004 dibuatlah sekat ruangan bergaya arsitektur Cina dengan arsitek ITB, Umar Widagdo.

Tiga tahun lalu, 2007, direnovasi balik untuk menciptakan kantor terpisah dari ruangan masjid. Dibuatlah sebuah tangga kayu yg dicat merah yang menuju ke kantor di atas masjid. Bangunan yg telah mengarah ke kiblat ini tidak banyak merubah struktur bangunan pada merenovasi. Karena masjid ini awalnya hanya sebagai pertokoan dan berdiri pada huma milik pemerintah Kota Bandung, maka keberadaan masjid ini pun masih ngontrak sampai sekarang.

Di pertengahan tahun 2010, masjid lautze dua Bandung sempat mengalami krisis air bersih. Sumur pompa sedalam 12 meter yg dimiliki tak lagi mengeluarkan air. Akibatnya aktifitas masjid sempat terganggu. Jam buka masjid di sesuaikan menggunakan ketersediaan air. Sehingga tak sanggup melayani jamaah buat melakukan sholat 5 ketika. Meski pasokan air dibantu sang Hotel Istana yang tepat berada di belakang masjid. Namun, itu pun tidak memadai.

Bagian dalam Masjid Lautze dua Bandung

Dilatarbelakangi kondisi tersebut, Masjid Lautze 2 Bandung mencanangkan program Gerakan Air untuk Masjid Lautze 2 Bandung. Gerakan ini bertujuan menggalang dana masyarakat untuk membiayai pembuatan sumur di Masjid Lautze 2 Bandung. DKM masjid cukup inovatif dengan memanfaatkan situs jejaring sosial facebook untuk menyampaikan program ini kepada khalayak ramai.

Dan Alhamdulillah berkat donasi dari para jemaah dan dermawan lain nya dana yang terkumpul sampai bulan Juli 2010  sumur pompa masjid lautze 2 Bandung kembali berfungsi dan masjidpun kembali dapat dipergunakan oleh jemaah lima waktu sholat sholat fardhu. Selain memperbaiki sumur bor DKM juga memperbaiki fasilitas yang lain termasuk  perbaikan lantai toko Lautze, tempat sumur dan pompa air berada, perbaikan keran wudhu dan pemasangan tempat penampungan serta filter air, pintu masjid, ruangan masjid, kubah masjid, atap masjid, dan rangka kanopi masjid sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan 1431 H yang lalu.

Kegiatan Masjid Lauze 2 Bandung

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Masjid Lautze 2 Bandung diketuai oleh Syarief Abdurrahman (Ku Khie Fung) dan sektetaris DKM dipercayakan kepada Jesslyn Reyner, memiliki segudang aktivitas yang tidak semata mata ditujukan pada muslim Tionghoa. Masjid ini menjalan fungsinya sebagaimana fungsi sebuah masjid yang senantiaa terbuka bagi seluruh kalangan tanpa memandang suku, bangsa, ras, warna kulit & sebagainya.

Galat satu poster aktivitas Masjid Lautze 2 Bandung

Karena ukuran masjid yang tak terlalu besar dan hanya mampu menampung 50-an jemaah saja.  Ditambah lagi Masjid Lautze ini merupakan satu-satunya masjid yang berdiri di Jl Tamblong, akibatnya setiap shalat Jumat, jamaahnya pasti meluber hingga ke trotoar. Tak hanya warga muslim Tionghoa yang shalat Jumat disana melainkan semua warga sekitar masjid dan masyarakat lain yang kebetulan lewat jalan tersebut pun turut memenuhi masjid berwarna merah tersebut.

Program kerja yg banyak dilakukan oleh Masjid Lautze 2 Bandung merupakan pendampingan muallaf dengan mendampingi mualaf buat menyempurnakan keIslamannya. Tak hanya itu saja akan tetapi juga melayani orang-orang Tionghoa yang berniat masuk Islam. Sangat lumrah, lantaran belajar sesuatu, lebih nyaman waktu didampingi oleh orang yang mempunyai akar budaya yang sama. Program lainnya merupakan Lautze Education. Dalam program ini, ada kursus Bahasa Mandarin, kursus Bahasa Arab, & kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa)

Program lainnya yg relatif menarik adalah Khalifah Singer & Lautze Publishing. Khalifah Singer sendiri merupakan grup vokal lagu-lagu religi Islam menggunakan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yg memfokuskan diri mencetak kitab -buku Islam dan Tionghoa

Komunitas Lautze di Facebook

Aspek budaya Tionghoa yang sudah melekat, permanen dilestarikan oleh pengurus masjid ini. Seperti pangilan kepada masing-masing anggota dengan ?Cicih? & ?Koko?, meski orang tadi bukan dari berdasarkan etnis Tionghoa.

Selain digunakan sebagai tempat shalat lima ketika, sejumlah aktivitas keagamaan secara rutin diadakan pada masjid ini seperti shalat tarawih saat bulan Ramadhan dan pengajian rutin mingguan. Kegiatan pengajian setiap hari Minggu diadakan dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Pesertanya tidak hanya mualaf masyarakat Tionghoa, akan tetapi seluruh mualaf berdasarkan keturunan manapun yg ingin mendalami mengenai Islam.

Infomasi Lain nya

FB acocunt : Komunitas Lautze

Situs resmi : http://lautze.or.id/

Referensi

---------------------ooOOOoo------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Jakarta

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done