Islami Pedia: masjid tertua
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid tertua. Show all posts
Showing posts with label masjid tertua. Show all posts

Monday, June 29, 2020

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karawang berdiri di kawasan alun alun kabupaten Karawang, disekitar alun alun pada depan masjid ini poly masih ada warung berbagai jenis kunliner.

Berdiri megah di kawasan alun alun kota Karawang, masjid Agung Karawang menyimpan sebuah sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah propinsi Jawa Barat. Sejarah masjid agung ini tidak dapat dilepaskan dari peran Sheikh Quro, yang bernama asli Sheikh Hasanuddin, seorang ulama besar yang begitu berjasa bagi masuk dan berkembangnya syiar Islam di wilayah Karawang khususnya dan propinsi Jawa Barat umumnya. Bangunan masjid yang kini berdiri megah itu memang bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Sheikh Quro. Renovasi, perbaikan hingga pembangunan kembali oleh para Bupati Karawang tempo dulu hingga para bupati di era Kemerdekaan turut andil dalam mempermegah dan memperindah masjid bersejarah ini.

Lokasi Masjid Agung Karawang

Jalan Brigadir Jenderal Polisi Nasuha

Telukjambe, Karawang, Indonesia

Karawang, Tarumanagara, Padjajaran & Sheikh Quro

NamaKarawang berasal dari Bahasa Sunda Karawa-an, adalahNama suatu kesatuan wilayah dan juga nama salah satu pelabuhan yang terletak ditepi kali Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran.  Sebagai suatu Wilayah, Karawang sudah memegang peranan penting pada masa Pemerintahan kerajaan Tarumanegara yang berkuasa pada abad IV - VI M. Tim Arkelogi Nasional  yang melakukan penelitian sejak tahun 1952 sampai sekarang, banyak menemukan peninggalan kerajaanTarumanegara seperti bekas bangunan candi dan lain-lainnya di sekitar Desa Seragan, Batu Jaya dan Desa Cibuaya. Demikian juga adanya nama Pataruman sebuah kampung di dekat Rengasdengklok, diduga bakas salah satu pelabuhan Tarumanegara.

Kala itu pelabuhan Karawang menjadi pelabuhan penting di kerajaan Tarumanegara hingga era kerajaan Padjajaran. Posisi Karawang yang berada di sepanjang kali Citarum yang merupakan jalur utama perdagangan di kawasan tersebut menjadikan nya teramat penting pada era Padjajaran sama pentingnya dengan pelabuhan Banten, Bekasi, dan Sunda Kelapa. Pentingnya peranan pelabuhan Karawang, bukan saja pada masa pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI  M, yakni hampir 800 tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang telah mengangkat  Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria Wirasaba. Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

Sisi depan Masjid Agung Karawang, menghadap ke Alun Alun.
Pelabuhan Karawang dengan kesibukan seperti dijelaskan itulah, rombongan Syeh Quro dengan 2 perahunya singgah kesana. Syekh Quro atau yang bernama asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kamboja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungan yang ke dua di pulau Jawa dan memulai menyebarkan Islam di kawasan tersebut Mushola yang dibangun oleh Syekh Quro inilah yang kini kita kenal sebagai masjid Agung Karawang.

Sheikh Quro, Masjid Agung Karawang dan Keruntuhan Padjajaran

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syeh Quro menyampaikan Da'wahnya di Musholla yang dibangunnya penuh keramahan. Uraiannya tentang Agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan,  Karena Ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al Qur'an  memberikan daya tarik tersendiri, karena Ulama Besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatkan masuk Islam.

Menara Masjid diresmikan tahun 2008.

Dakwah Syeikh Quro di Karawang ini terdengar Prabu Angga Larang yang pernah melarang Syeikh Quro melakukan kegiatan yang sama  ta'kala mengunjungi pelabuhan  Muara Jati Cirebon, ia mengirim utusan yang dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syeh Quro. Namun ta'kala Raden Pamanah Rasa ini tiba di tempat tujuan, hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Karancang.

Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang. Lamaran tersebut diterima dengan syarat mas kawinnya harus "Bintang Saketi" yaitu simbol dari "tasbeh" yang berada di Negeri Mekah. (Sumber lain menyatakan bahwa, hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam). Selain itu, Nyi santri juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan-nya kelak harus ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, dan beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, di mushola Pesantren Syeikh Quro dan Syeh Quro sendiri yang bertindak sebagai penghulunya. Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran kemudian bergelar Prabu Siliwangi.

Perkawinan di musholla yang senantiasa mengagungkan asma Allah SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar. Dari pernikahan tersebut lahirlah putera bernama Raden Walangsungsang, lalu seorang puteri bernama Raden Nyi Rara Santang dan putra bungsu bernama Raden Kian Santang.

Setelah melewati usia remaja, bersama adiknya Raden Nyi Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran untuk mendapat bimbingan dari Ulama Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Sedangkan Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Mubaligh dan menyebarkan Agama Islam di daerah Garut.

Setelah kakak beradik Raden Walangsungsang dan Nyi Rara Santang menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang  memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang (Cirebon) bergelar Pangeran Cakrabuana . Sedangkan Raden Nyi Mas Rara Santang waktu di Mekah diperistri oleh Sultan Mesir, Syarif Abdillah. Raden Nyi Rara Santang kemudian diganti namanya menjadi Syarifah Muda’im.

Dari pernikahan Raden Nyi Mas Rara Santang dengan Syarif Abdillah, mereka dikaruniai dua orang putera masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia jabatan sultan diserahkan kepada Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas dari para Ulama Mekah dan Bagdad, ia bertekad untuk menjadi Mubaligh di Cirebon.

Tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibundanya berlayar ke Cirebon, setibanya disana disambut dengan suka cita oleh Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat atau pangeran Walangsungsang yang tak lain adalah kakak tertua dari ibundanya. Syarif Hidayatullah kemudian dipercaya untuk menggantikan Pangeran Cakraningrat untuk memimpin negeri Caruban, dengangelar Susuhunan atauSunan. Syarif Hidayatullah ini yang kemudian kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Reka gambar paras Sunan Gunung Jati.

Pengangkatan Syarif Hidayatullah tersebut mendapat dukungan terutama dari Raden Fatah, Pemimpin Pesantren dan Sunan Bintoro, putera Raja Majapahit Brawijaya V, yang diangkat menjadi Sultan Kerajaan Islam Demak I. Dalam rangka pembangunan Mesjid Agung Demak, Sunan Cirebon diundang untuk menetapkan kebijaksanaan tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sidang para Sunan yang dikenal Wali Songo itu juga menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah diangkat menjadi ketua atau pimpinan dari Wali Songo, dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Sejarah Nasional kita mencatat bahawa pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak dibawah pimpinan Fatahillah berhasil mematahkan kekuasaan Portugis di Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta, Batavia dan kemudian menjadi Jakarta yang kini kita kenal. Keturunan Sunan Gunung Jati juga yang kemudian mendirikan kesultanan Banten dan secara tuntas menghapus sisa sisa kekuasaan Pajajaran, ketika tahun 1579 Syeh Yusuf, Putera Sultan Hasanuddin atau cucu Sunan Gunung Jati melumpuhkan secara total sisa sisa kekuatan Pajajaran. Peristiwa heroik penaklukan Sunda Kelapa oleh gabungan pasukan Demak dan Cirebon terhadap pasukan Portugis itu kini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sejarah besar itu bermula dari mushola kecil sheikh Quro yang kini menjadi Masjid Agung Karawang. Apa yang dikatakan Sheikh Quro bahwa keturunan pajajaran kelak akan ada yang menjadi Waliullah dan permohonan Nyi Subang Karancang (Subang Larang) agar keturunannya dari perkawinan dengan Prabu Siliwangi ada yang menjadi raja, pun ahirnya terwujud.

Bersambung ke bagian II

Menara Masjid Agung Karawang diresmikan tahun 2008.
Sisi depan masjid dilengkapi dengna jejeran anak tangga dari dan ke pelataran.
Dari arah alun alun.
Enam Pilar Masjid Agung Karawang.
Interior Masjid Agung Karawang.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid Karawang lainnya

Masjid Al-Jihad Karawang – Jawa Barat

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Masjid Jami' Al-Huda Loji, Karawang

Masjid Jami’ Arrohman, Kampung Kereteg, Karawang

Masjid Raya Al-Kasiah, Klari, Karawang

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karwang (bagian II)

Masjid Agung Karawang (bagian II)

Pelataran depan masjid Agung Karawang.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya Masjid Agung Karawang (bagian I) klik untuk kembali ke bagian I

Renovasi, Perbaikan & pembanguan Masjid Agung Karawang

Adipati Singaperbangsa Bupati Karawang (memerintah 1633-1677M), semula berkantor di daerahUdug-udug. Kemudian karena berbagai pertimbangan, ia memindahkannya ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini telah ada pasar, masjid Agung, dan sarana penunjang lain, termasuk pelabuhan itu sendiri yang memperlancar kegiatan lalu lintas perdagangan, pemerintah, dan sebagainya. di dekat masjid Agung dibangun alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin di bagian kanan kirinya, kantor dan pendopo kebupaten, kantor keamanan dan tempat tahanan. Adipati Singaperbangsa memperindah bangunan masjid dan direnovasi diselaraskan dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.

Dari balik kisi-kisi pagar alun alun.

Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya dan Karawang dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC /Kompeni di Batavia, dan Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan memotivasi masyarakat agar berperan serta dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraannya.

Adipati Singaperbangsa wafat pada tahun 1677 M dan dimakamkan diManggung Ciparage , tiga Bupati penerusnya masing masing Panatayuda I,II dan III tidak berkantor di Babakan Kartayasa, dan tidak melanjutkan perbaikan terhadap Masjid Agung Karawang. Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I (menjabat 1677 - 1721 M) berkantor di Waru dekat Loji, Pangkalan. Raden Martanegara atau Panatayuda III (menjabat 1732 - 1752 M) juga berkantor di Waru Pangkalan

Pada masa Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV (memerintah 1752 - 1786M), Kantor bupati dipindahkan kembali ke Babakan Kertayasa. Bupati V  ini, dikenal sebagai dalem nalon. Bupati ini mendapat kehormatan "naik nalon". Dari pemerintahan Kolonial Belanda, dan pada waktu itu hal tersebut  jarang terjadi. Ia termasuk pembina Masjid Agung, dan waktu meninggal Dunia ia dimakam kan dekat Masjid ini, tahun 1993 atas persetujuan para sesepuh, kerangka jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang di Desa Manggung Jaya Cilamaya.

Zenit atap limas Masjid Agung Karawang

Masa Penjajahan Kolonial Belanda

Sejak masa Bupati Karawang VI  sampai Bupati Karawang IX yakni antara tahun 1786 - 1827, tidak ada petunjuk dilakukannya perbaikan yang berarti apalagi perluasan bangunan dan sebagainya. Sebab sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai bupati XXI atas kebijakan pemerintahan Kolonial Belanda tidak lagi berkantor di kota Karawang melainkan ke Wanayasa dan Purwakarta, Sehingga dapat dipahami apabila para Bupati yang berkedudukan di Wanayasa dan Purwakarta perhatiannya kurang terhadap pembinaan Masjid Agung secara langsung, kemunginan dipercayakan kepada wedana atau camat yang bertugas di kota Karawang

.

Masa kemerdekaan

Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950tentang pembentukan daerah daerah Kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat maka kabupaten Karawang terpisah dari kabupaten Purwakarta dan Ibukotanya kembali di Karawang. Sedangkan Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959, pada tahun 1950 atas persetujuan para Ulama dan Umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 m ditambah menara ukuran kecil dan satu Kubah ukuran  3 x 3 m dengan tinggi 12 m, atap dari seng adapun luas tanah mesjd termasuk makam adalah 2.230 m.

Bangunan Masjid agung karawang yg kini kita lihat berdiri megah di sentra kota Karawang adalah bangunan hasil pembangunan yg diresmikan dalam lepas 28 Januari 1994 sang Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. Tercatat dalam prasasti pembangunan ucapan terima kasih pada 4 perusahaan yg berkonribusi pada pembangunan masjid ini masing masing (1) PT. Bintang Puspita Dwi Karya, (dua) PT. Argo Pantes, (tiga) PT. Astakona Megahtama dan (4) PT. Bestland Pertiwi. Prasasti tadi ditandatangani sang Bupati Karawang H. Sumarno Suradi & Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Jamil Sfiuddin. Sedangkan bangunan menara yang menjulang tinggi pada depan masjid diresmikan sang Bupati Karawang H. Dadang S Muchtara pada lepas 11 Agusutus 2006.

Kaligrafi ukuran besar pada Masjid Agung Karawang.

Arsitektur Masjid Agung Karawang

Sejatinya masjid Agung Karawang dibangun dalam arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar , menggunakan atap limas bersusun 3 dengan empat sokoguru utama menopang atap masjid. Plafon masjid dibiarkan terbuka buat member ruang bagi masuk nya cahaya matahari ke dalam ruang masjid & bagi kepentingan sirkulasi udara. Bagian dalam masjid dibangun 2 lantai berbentuk mezanin member ruang terbuka cukup luas dibagian depan masjid bagi jemaah di lantai dua buat bisa melihat ke lantai utama masjid.

Di 3 masjid berdiri kokoh masing masing 6 pilar bundar cerminan enam rukun Islam. Dan ketiga sisi masjid agung ini dibangun menggunakan dinding berkerawang / berongga memungkinkan peredaran udara secara alami dan keindahan tersendiri bagi bangunan masjid ini. Di sisi selatan masjid berdiri gedung remaja masjid & tempat bersuci. Sedangkan disisi mihrab lantai 2 juga difungsikan sebagai kantor pengelola masjid.

Sisi Mihrab, masjid agung Karawang.
Pada sisi mihrab dibagian kiri dan kanannya terikir indah kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran besar. Kaligrafi Al-qur’an juga terlukis indah di sisi kiri dan kanan dinding masjid bagian dalam. Kaligrafi dan lukisan geometris turut memperindah sisi migrab masjid ini.

Layaknya masjid khas Indonesia. Disisi selatan masjid ini jua berdiri bangunan kecil terpisah dari masjid sebuah bangunan loka menyimpan dua butir beduk pada ukuran akbar lengkap menggunakan kentongan yg jua dalam berukuran besar . Masjid agung yang begitu megah dan besar ditambah dengan pelataran depan yg sudah dilapis menggunakan keramik ini begitu meriah selama bulan Ramadhan. Terutama di dua hari raya Islam, jemaah masjid ini membludak sampai ke alun alun dan jalan raya disekitar nya. Subhallah sebuah pemandangan yg begitu indah.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Karawang.
Jendela dan dinding sisi selatan
Interior masjid agung Karawang.
Suasana Lantai Dua Masjid Agung Karawang.

Pelataran Masjid

Jemaah sholat Idul Ffitri di masjid agung Karawang.

buanatirta.blogspot.com - sejarah masjid agung karawang, bagian 2 dan bagian 3

kompasiana.com – misteri masjid agung karawang

pelitakarawang.com – sejarah masjid agung karawang

poskota.co.id – pengungsi nginap di masjid agung karawang

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid Karawang lainnya

Masjid Al-Jihad Karawang – Jawa Barat

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Masjid Jami' Al-Huda Loji, Karawang

Masjid Jami’ Arrohman, Kampung Kereteg, Karawang

Masjid Raya Al-Kasiah, Klari, Karawang

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karwang (bagian II)

Monday, May 11, 2020

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara

Awal hari yang cerah di Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak adalah keliru satu masjid tertua di Indonesia & di Nusantara, sekaligus jua merupakan masjid pertama yang dibangun sebagai masjid kesultanan di Nusantara. Lokasinya berada di desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.

Sejak dibangun, masjid agung Demak sudah sebagai rujukan pembangun masjid masjid kesultanan lainnya di daerah Nusantara, baik yang sekarang menjadi daerah Republik Indonesia sampai ke wilayah Negara tetangga termasuk Malaysia dan Brunai Darussalam.

Masjid Agung Demak dipercaya menjadi tempat berkumpulnya Walisongo buat membahas penyebaran agama Islam pada Tanah Jawa khususnya dan di Nusantara pada umumnya. Pembangunan masjid ini seiring dengan berdirinya Kesultanan Demak sebagai Kesultanan pertama pada Nusantara melepaskan diri secara menyeluruh dari impak kerajaan Majapahit.

Kesultanan Demak berdiri menggunakan dukungan berdasarkan para wali yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertamanya. Raden Fatah sendiri diketahui adalah galat satu putra menurut Prabu Brawijaya, Raja Majapahit yg berkuasa dalam waktu berdirinya Kesultanan Demak di abat ke 15 miladiah.

Raden Fatah atau juga dikenal menggunakan Sultan Fatah wafat dan dimakamkan pada sebelah barat komplek Masjid Agung Demak bersama menggunakan sultan Demak yg lain beserta keluarga dan para abdinya.

Lokasi Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak terletak di Desa Kauman, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Berjarak lebih kurang 26 km dari Kota Semarang, atau 25 km dari Kabupaten Kudus, dan 35 km menurut Kabupaten Jepara.

Dibangun disisi barat alun alun Demak, Masjid Agung Kesultanan Demak masih berdiri kokoh sampai sekarang dengan bentuk aslinya, lengkap menggunakan satu menara yang dibangun jauh setelah masjid ini berdiri.

Masjid Agung Demak berada pada tengah kota disisi sebelah barat alun-alun. Sebagai Kesultanan pertama di tanah Jawa & Nusantara, tata letak masjid Agung Demak ini sebagai rujukan tata kota lainnya di Nusantara menggunakan ciri khususnya merupakan adanya alun alun ukuran relatif luas di pusat kota dilengkapi dengan Masjid Agung disisi sebelah barat, begitupun dengan pusat pemerintahan & sentra perekonomian yang dibangun tidak jauh dari alun alun kota.

Namun demikian eksistensi keraton kesultanan Demak masih sebagai rahasia hingga kini . Meskipun poly pihak menganggap bahwa bekas keraton Kesultanan Demak berada pada sebelah selatan alun alun Demak.

Sejarah Masjid Agung Demak

Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak pada tahun 1401 Saka atau 1477 Miladiyah, atau 2 tahun selesainya dia mendirikan Kesultanan Demak dengan bantuan menurut para wali pada tahun 1475M, dia bergelar Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Munculnya nama Palembang pada gelar beliau karena dia memang lahir & akbar pada Palembang (Sumatera Selatan) menurut Ibu nya yg asal menurut campa.

Sebelumnya Demak adalah bagian dari daerah kesatuan kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Prabu Brawijaya (Prabu Brawijaya V Pangeran Kertabhumi). Sebagai putra raja Majapahit, Raden Fatah memang dibentangkan karpet merah ke wilayah kekuasaan. Sebelum menjadi Sultan Demak dia sudah dianugerahi jabatan oleh ayahandanya Prabu Brawijaya menjadi Adipati Natapraja di Glagahwangi Bintoro Demak di tahun 1475 M.

Di pada ruang utama Masjid Agung Demak.

Beliau juga mendapat bantuan gratis 8 pilar berukir dari ayahnya yang dikemudian hari digunakan menjadi pilar penopang di serambi Masjid Agung Demak dimasa pemerintahan Adipati Yunus (Pati Unus). Pilar pilar tadi masih dapat kita lihat keberadaannya sampai sekarang dan dianggap dengan pilar Majapahit.

Tak pelak, berdirinya Kesultanan Demak menjadi kerajaan Islam dan melepaskan diri berdasarkan dampak Majapahit mengundang kemarahan pihak keraton Majapahit yg kemudian mengirimkan pasukan buat menyerang Demak. Namun serangan itu dapat dipatahkan sang pasukan Demak. Disebutkan bahwa galat satu dari pimpinan pasukan Majapahit bernama Raden Sepat bahkan kemudian mengikrarkan ke-Islaman nya dan bergabung menggunakan kesultanan Demak.

Raden Sepat yang kemudian terlibat eksklusif dalam proses merancang Masjid Agung Demak menggunakan, kemungkinan akbar dia adalah bagian dari pasukan zeni tempur Majapahit sehingga mempunyai kemampuan arsitektur yg relatif memadai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa warisan seni arsitektur Majapahit sangat kental dalam rancang bangun Masjid Agung Demak ini, menggunakan menerapkan bentuk bangunan aula luas beratap limasan bertingkat sebagaimana lazimnya sebuah bangunan besar di era Majapahit.

Serambi Masjid Agung Demak, perhatikan pilar pilar Majapahit yang latif terbuat menurut kayu jati berukir.

Masjid Agung Demak dibangun dibangun di lokasi bangunan pondok pesantren Glagahwangi, loka Raden Fatah menimba ilmu agama dibawah asuhan Sunan Ampel. Wajar bila lalu para wali mendukung penuh berdirinya kesultanan Demak. Pesantren Glagahwangi didirikan sang Sunan Ampel ditahun 1466 Miladiyah, sekaligus berfungsi menjadi Masjid.

Pembangunan Masjid Agung Demak tersebut kemudian diabadikan pada sebuah prasasti yg ditempatkan di dalam ruang mihrab dan dikenal sebagai Condro Sengkolo Memet. Sebuah prasasti berbentuk bulus (kura kura) yg berarti ?Sariro Sunyi Kiblating Gusti?.

Gambar bulus terdiri menurut ; satu ketua yang berarti angka satu, empat kaki berarti nomor empat, badan bulus yang bundar berarti nomor nol, satu ekor bulus berarti angka satu, yg bermakna tahun 1401 Saka yg kemudian disepakati tahun tersebut bertepatan menggunakan tahun 1477 Miladiyah.

Masjid agung Demak dari arah komplek makam para Sultan Demak, sesaat sehabis ketika sholat subuh.

Berdirinya Kesultanan Demak ini dikemudian hari diikuti menggunakan berdirinya kesultanan Cirebon yang selanjutnya diikuti dengan berdirinya Kesultanan Banten & berbagai Kesultanan lainnya pada wilayah Nusantara.

Disebutkan bahwa Raden Sepat yg mengarsiteki pembangunan masjid Agung Demak jua terlibat dalam proses rancangan Masjid Agung Sang Ciptarasa pada Kesultanan Cirebon & Masjid Agung Banten pada Kesultanan Banten.

Sehingga anda akan menggunakan gampang menemukan kemiripan diantara tiga masjid tersebut. Bahkan beberapa penulis tidak segan menyebut ketiga masjid tersebut menjadi tiga masjid kembar. Beberapa menyebutkan masjid Agung Demak sebagai kembaran Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. (seluruh foto berdasarkan akun instagram @hendrajailani).

(Bersambung)

.

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua pada Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 2)

Ba'da Subuh di Masjid Agung Demak.

Arsitektur Masjid Agung Demak

Bangunan asal yang dibangun dalam era Raden Fatah kini sebagai bangunan induk tempat mihrab, mimbar dan maksurah berada. Bangunan induk tersebut kemudian ditambah dengan bangunan Serambi pada masa pemerintahan Adipati Unus atau Pati Unus atau dikenal pula dengan nama Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak ke 2 (1518-1521).

Pembangunan masjid Agung Demak melibatkan eksklusif para wali yang masih hayati di masa itu. Sejarah mengungkapkan bahwa para wali tadi yang menciptakan langsung empat sokoguru atau pilar penopang primer masjid ini. Tiga pilar dibuat dari kayu jati utuh ukuran akbar sedangkan satu pilar dibuat menurut serpihan serpihan kayu menurut 3 pilar tersebut. Nama masing masing para wali tersebut sekarang terukir di masing masing sokoguru.

Sokoguru yang berada di barat laut (kanan depan) didirikan Sunan Bonang, di barat daya (kiri depan) karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara (kiri belakang) buatan Sunan Ampel, dan yg berdiri pada timur bahari (kanan belakang) karya Sunan Kalijaga. Masyarakat Demak menamakan tiang protesis Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Empat sokoguru didalam Masjid Agung Demak, semuanya telah dilapisi menggunakan lapisan kayu yg sama dibagian luarnya untuk mengkonsevasi tiang orisinil.

Ke empat sokoguru tadi terbuat berdasarkan kayu jati tua dan kini masih berdiri kokoh ditempatnya. Upaya perlindungan terhadap empat tiang bersejarah tersebut dilakukan menggunakan menambahkan pelapis pada bagian luar jua dengan kayu jati ukuran tebal melapisi seluruh masing masing tiang tersebut dibagian luar.

Satu menurut ke empat pilar tersebut, pilar buatan Sunan Kalijaga menjadi yang paling unik, karena dibuat berdasarkan serpihan serpihan kayu jati menurut residu residu rabat (tatal) kayu jati berdasarkan proses pembuatan tiga pilar masjid oleh tiga Sunan lainnya, oleh Sunan Kalijaga serpihan serpihan tersebut dijadikan satu menjadi sebuah pilar, sehingga dikenal sampai sekarang menjadi soko tatal.

Beberapa bangunan dan fasilitas dibubuhi ke masjid Agung Demak ini dikemudian hari termasuk penambahan bangunan pawastren atau loka sholat spesifik Jemaah wanita dibangun pada masa K.R.M.A.Arya Purbaningrat 1866 M. Menara masjid ini pun dibangun jauh sehabis pembangunan masjid, dibangun di abad ke 20 di prakarsai para ulama seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin.

Pemugaran terhadap Masjid Agung Demak pernah dilakukan di masa pemerintahan Presiden Soeharto & diresmikan pada tanggal 21 Maret 1987.

Pembangunan fasilitas penunjang dan perbaikan komplek masjid terus belanjut hingga ke masa kemerdekaan termasuk pembangunan termpat wudhu, kantor takmir dan pengurus juga pembangunan museum masjid Agung Demak yg menyimpan banyak sekali artifak sejarah yg herbi Masjid Agung & kesultanan Demak.

Duplikasi Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak secara utuh kemudian di tiru oleh para tokoh masyarakat dan Ulama kesultanan Banjar (Kalimantan Selatan) saat mereka membangun Masjid Jami’ Martapura (1897 M), utusan dari Kesultanan Banjar sengaja datang ke Demak untuk melihatMasjid Agung Demak dan membuat maket masjid tersebut lengkap dengan skala demi keperluan pembangunan masjid Jami’ kesultanan Banjar. Masjid Jami’ Martapura yang asli kini sudah berganti menjadi sebuah masjid yang begitu megah dan modern bernamaMasjid Agung Al-Karomah Martapura.

Bentuk masjid beratap Joglo seperti ini tak hanya ditemui pada masjid masjid yang dibangun setelah eraMasjid Agung Demak, tapi pada masjid masjid yang dibangun sebelumMasjid Agung Demak berdiri pun sudah memakai struktur demikian. Seperti contoh pada masjid tertua di IndonesiaMasjid Saka Tunggal(1288) di Banyumas yang menggunakan atap joglo bertiang tunggal, itu sebabnya disebut masjid saka tunggal. Lebih jauh ke timur kita akan temukan bentuk yang sama padaMasjid Wapauwe (1414) Masjid tua Maluku Tengah.

Dari sudut ini hampir holistik Masjid Agung Demak tampak dalam satu frame. Saat waktu menjelang pagi hari, saat para peziarah telah mulai bergerak berdasarkan masjid menuju komplek pemakaman para Sultan Demak di bagian belakang masjid ini.

Kita akan menemukan pola yang sama pada masjid masjid tua Indonesia diberbagai daerah seperti contoh,Masjid Sultan Suriansyah (1526) di Banjarmasih Kalimantan Selatan,Masjid Al-Hilal Katangka (1603) di kampung halaman nya Shekh Yusuf di Kabupaten Gowa, Sulsel. DanMasjid Tua Palopo(1604) peninggalan Kesultanan Luwu di Kota Palopo, SuIawesi Selatan. Masih ada lagiMasjid Djami Keraton Landak (1895) di Kabupaten Landak, Kalimantan barat sertaMasjid Agung Air Mata - Kupang (1806). Arsitektural masjid dengan atap joglo atau bentuk limas ini menyebar di seluruh tanah air dari pulau sumatera di barat hingga ke wilayah timur Indonesia.

Yang lebih menarik kemudian bahwa arsitektural  masjid asli Nusantara ini juga dipakai di masjid masjid tua di negeri serantau, seperti contohnya adalah dua masjid tua di Kota Malaka, Malaysia yakniMasjid Kampung Keling Malaka, Malaysia (1748M) danMasjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia (1728M).

Para peziaran menurut berbagai daerah memadati area komplek pemakaman para Sultan Demak pada komplek Masjid Agung Demak ini. Mereka yg tiba dari berbagai daerah memakai berbagai moda tunggangan menginap di masjid Agung dan dibimbim sang para pembimbingnya masing masing menuju ke komplek pemakaman ini melalui koridor disebelah kanan masjid.

Tak hanya masjid masjid tua yang menggunakan rancangan masjid warisan kejayaan Majapahit itu. Arsitektur Masjid dengan atap Joglo bersusun tiga ini seperti sudah menjadi ciri khusus masjid khas Indonesia. Bila anda masih ingat denganYayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila, yayasan yang didirikan olehAlm. Pak Harto semasa masih berkuasa, setiap masjid yang dibangun dengan dana dari yayasan ini selalu menggunakan atap limasan (joglo) bersusun tiga dengan 4 sokoguru pada masjid masjid yang dibangun.

Masjid masjid megah yang di beberapa kota tanah air yang didirikan di abad ini pun tak sedikit yang masih mengadopsi arsitektur tradisional asli Indonesia ini, meski dengan sentuhan modern dan berteknologi terkini, beberapa juga dibangun tanpa 4 sokoguru. Seperti contohMasjid Raya Batam yang dibangun tahun 1997 dan bagian bangunan perluasanMasjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan struktur atap limas untuk tetap memberikan harmonisasi dengan atap limas bersusun tiga pada bangunan masjid asli yang masih terjaga dengan baik di bagian paling depan dari keseluruhan komplekMasjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II.

(Bersambung ke bagian tiga, ahir)

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Sunday, May 10, 2020

Masjid Agung Demak, Masjid Kesultanan Pertama di Nusantara (bagian 3)

Simetrical Masjid Agung Demak.

Refleksi Sejarah

Kesultanan Demak terjadi pada tahun 1475 di tahun yg sama dengan diangkatnya Raden Fatah sebagai Adipati Natapraja pada Glagahwangi Bintoro Demak oleh Prabu Brawijaya selaku Raja Majapahit yang tak lain merupakan ayah kandung berdasarkan Raden Fatah sendiri. Seperti disebutkan tersebut bahwa pengangkatan beliau sebagai adipati pula diberikan beberapa hadiah termasuk 8 pilar yang sekarang digunakan menjadi pilar penopang serambi masjid agung dan dampar kencana yg kini dipakai sebagai mimbar khutbah di masjid agung.

Hampir dapat dipastikan bahwa hibah pilar pilar berukir adalah buat keperluan pembangunan keraton, & Dampar Kencana buat singgasana oleh Adipati, jika memang untuk pembangunan keraton merupakan dalam ketika itu, Demak belum mempunyai Keraton.

Dapat difahami karena memang pada ketika itu Demak sendiri masih berstatus menjadi Glagahwangi, bagian berdasarkan kadipaten Jepara. Kadipaten Jepara sendiri dalam waktu itu adalah satu satunya kadipaten di wilayah Majapahit pada tanah Jawa yang adipatinya sudah memeluk Islam.

Atap tajuk atau atap limas atau atap berbentuk piramida dibangun sangat mirip antara atap Masjid Agung Demak (bagian belakang foto) dan atap yang menaungi Makam Raden Fatah dan Keluarga yang berada di belakang Masjid Agung Demak.
Dikemudian hari delapan pilar berukir itu nyatanya justru dipakai untuk pembangunan serambi Masjid Agung Demak oleh Sultan Yunus (Pati Unus) memunculkan dugaan bahwa keraton Demak tidak pernah benar benar dibangun, bahwa kemungkinan para Sultan Demak tinggal di kediaman mereka diantara kediaman masyarakat umum yang juga difungsikan sebagai Keraton.

Adapun agresi yang dilakukan Majapahit ke Demak terntunya merupakan sebuah kebijakan politik sebuah Negara berdaulat buat mempertahankan keutuhan daerahnya, terlepas dari kemungkinan bahwa agresi itupun merupakan serangan setengah hati berdasarkan raja Mapahit, lantaran yang diserbu notabene adalah anak kandungnya sendiri.

Namun sejarah panjang yang telah berlalu berabad abad itu menyisakan banyak sekali ragam & versi sejarah. Versi lainnya menjelaskan bahwa Prabu Brawijaya ayahanda berdasarkan Raden Fatah bukanlah raja terahir Majapahit. Ayahanda Raden Fatah disebutkan adalah raja Majapahit ke 11 yang bergelar Brawijaya V (berkuasa 1468-1478) dan lalu takluk kepada Girindrawardhana yang kemudian berkuasa pada Majapahit menggunakan gelar Brawijaya VI (1478-1498).

Makam para Sultan Demak.
Girindrawardhana atau Brawijaya VI merupakan menantu Brawijaya V atau ipar Raden Patah yang justru merebut takhta mertuanya itu. Situasi ini membuat peluang Raden Patah untuk menjadi raja Majapahit penerus ayahnya pun pupus. Berahirnya kekuasaan Brawijaya V terjadi tiga tahun setelah kesultanan Demak berdiri.

Benang merah Jakarta, Cirebon dan Demak

Sejak masa kekuasaan kerajaan hingga kesultanan, tanah Jawa tak pernah bersatu pada bawah satu pemerintahan. Pada masanya Majapahit berkuasa dibagian timur dan Pajajaran menguasai bagian barat pulau Jawa. Dua kerajaan akbar yg pernah terlibat dalam perang besar & lalu menjadi sebab melemahnya kedua kerajaan itu.

Sampai datang suatu masa, Kesultanan Demak berdiri di tahun 1475, & sebagai titik pulang kejayaan kerajaan Majapahit. Sementara pada bagian barat pulau Jawa, tidak lama selesainya itu Kesultanan Cirebon berdiri memerdekakan diri berdasarkan kekuasaan Pajajaran. Demak dibangun sang Raden Fatah Anak Prabu Brawijaya Raja Majapahit, sedangkan Cirebon dibangun oleh Syarif Hidayatullah cucu berdasarkan Prabu Siliwangi Maharaja Pajajaran.

Dibagian atas mihrab (pengimaman) jauh di bagian depan diantara dua sokoguru anda dapat melihat lambang Surya Majapahit bewarna kuning dengan warna dasar hijau.
Anda akan menemukan lambang ‘mirip” Surya Majapahit di Masjid Agung Demak, dan anda juga akan menemukan lambang yang ‘mirip’ Surya Majapahit di atas mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Anda dengan mudah menemukan hal hal beraroma Majapahit di Masjid Agung Demak dan anda juga akan menemukan hal hal yang berkaitan erat dengan Pajajaran di Keraton hingga ke Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon.

Dan sejarah mencatat dengan latif ke 2 kesultanan itu kemudian manunggal padu menyerbu kekuasaan Portugis yg mulai bercokol di Sunda Kelapa, serbuan yg Berjaya dan sebagai titik awal berdirinya Kesultanan Jayakarta yg sekian abad selesainya itu, kota yang dididirkan oleh para penerus 2 kerajaan akbar tanah Jawa itu menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia.

Suatu saat jika saja anda mau sedikit merenung pada silang Monas, anda akan menemukan ruh masa lalu Nusantara di Ibukota Negara, dimana sebuah alun alun besar menjadi titik pusat kekuasaan dilingkupi menggunakan Masjid Agung, Pusat pemerintahan dan pusat perekonomian. Semua mengingatkan kita bahwa kita merupakan bangsa yang akbar menggunakan sejarah yg teramat panjang, & jangan pernah sekali sekali melupakan sejarah. Wallahuwa'lam bisshawaab.***

------------------------ooOOOoo--------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

10 Masjid tertua pada Indonesia

Saturday, May 9, 2020

Masjid Kizimkazi, Zanzibar

TERTUA DI ZANZIBAR, Masjid Kizimkazi ini dikenal sebagai masjid tertua pada Zanzibar, meskipun bentuknya sama sekali tidak seperti dengan bangunan masjid yg biasa kita kenal, lebih mirip bangunan rumah biasa. Masjid Kizimkazi juga tidak dilengkapi menggunakan menara.

Zanzibar adalah sebuah pulau yang terletak di lepas pantai timur benua Afrika, secara administratif pulau ini merupakan bagian dari Republik Tanzania dengan status Semi Otonom. Dengan statusnya itu, Zanzibar memiliki pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh seorang presiden. Islam di Zanzibar merupakan agama terbesar di Negara bagian itu, sangat berbeda dengan wilayah Negara Tanzania lainnya yang berada di daratan utama benua Afrika.

Berbeda dengan wilayah daratan Tanzania, dominan penduduk Zanzibar beragama Islam dengan segala tradisi & budayanya. Kehidupan keseharian pada Zanzibar tidak jauh tidak sama menggunakan daerah menggunakan penduduk dominan muslim di belahan dunia lainnya. Sektor Pariwisata adalah galat satu sumber penghasilan negara bagian ini menggunakan memperlihatkan keindahan panorama-nya.

Masjid Pertama & Tertua di Zanzibar

Masjid Kizimkazi berada pada ujung selatan pulau Zanzibar pada Tanzania dan adalah salah satu masjid tertua di pantai timur benua Afrika. Masjid ini dikenal menggunakan nama Masjid Kizimkazi meskipun sebenarnya berada di daerah Dimbani bukan pada Kizimkazi yang terpaut jarak hingga 3 mil. Hanya saja nama ke 2 nama tempat tersebut sama sama memakai nama Kizimkazi sebagai nama depan desanya yakni Kizimkazi Dimbani dan Kizimkazi Mtendeni.

Kizimkazi Dimbani Mosque

Kizimkazi Dimbani, Zanzibar, Tanzania

Merujuk pada inskripsi berpola Kufik yang terdapat dimasjid ini diperkirakan masjid ini dibangun tahun 1107 sang pemukim disana yang berasal dari daerah Shiraz atas perintah menurut Sheikh Said bin Abi Amran Mfaume Al Hassan bin Muhammad.

Meskipun inskripsi & sebagian besar elemen dekorasi pahatan batu pada masjid ini masih asli berasal berdasarkan periode pembangunannya namun bangunan yg sekarang berdiri merupakan bangunan yang dibangun ulang pada abad ke 18 yang lalu tepatnya antara tahun 1772-1773.

Cukup menarik bahwa masjid ini sedikit masih ada sentuhan seni bangunan Persia lantaran memang Islam masuk ke Zanzibar dibawa sang para pedagang muslim dari Persia & berdasarkan Arabia yang terpisah sejauh 5633 km jauhnya disebelah utara menurut Zanzibar. Selain sentuhan seni Persia masjid ini jua ditemukan sentuhan seni Swahili.

Mihrab dan dinding sisi kiblat Masjid Kizimkazi. Terlihat sederhana, menggunakan ornamen yg sulit untuk dibaca.

Sebagian akbar bangunan masjid yang sekarang berdiri, tidak tampak layaknya sebagai bangunan tua menggunakan adanya bagian tembok dinding baru di sisi timur dan atap seng gelombang yg dipakai menjadi atap nya.

Namun dibagian luar masjid terdapat beberapa makam tua menggunakan beberapa inskripsi yg memberitahuakn bahwa mereka adalah para tokoh muslim yang dimakamkan disana, antara lain yg paling dikenal luas merupakan Sheikh Ali bin Omar, seseorang ulama yg hanya mempunyai satu kaki dan satu tangan. Beberapa makam tadi dihias menggunakan pilar & salah satunya pada beri atap.

Di page depan masjid ini terpampang satu papan pengumuman status masjid ini menjadi benda cagar budaya dari Departemen file, Musium dan Purbakala Zanzibar yang pula berisi penerangan singkat tentang masjid ini. Papan pengumuman tersebut menyebutkan bahwa :

. . . . . ?Hasil menurut ekskavasi memberitahuakn bahwa Masjid Kizimkazi ini adalah masjid tertua pada Zanzibar yg masih berfungsi sebagaimana mestinya hingga kini , pembangunan pulang masjid ini di abad ke 18 memakai pondasi dari bangunan masjid asli & tembok dinding utara adalah elemen orisinil berdasarkan bangunan pertama yg masih berdiri. Dikemudian hari diketahui menurut inscripsi kufik yg ada pada sisi kiri mihrab diketahui bahwa bangunan pertama masjid ini dibangun tahun 500H atau bertepatan menggunakan tahun 1107 Miladiyah. Inskripsi tadi merupakan peringatan pembangunan pulang bangunan masjid tadi sang Sheikh Abu Musa Al-Hassan Bin Muhammad.

Ornamen pada dinding sisi kiblat Masjid Kizimkazi.

Sementara itu, inskripsi yg lain yang berdekatan (disebelah kanan mihrab) ditulis dengan hurup arab & menjelaskan nomor tahun 1184Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1770 Miladiyah waktu bangunan masjid ini dibangun balik . Di sebelah luar masjid terdapat sebuah sumur yang digali buat kepentingan jemaah buat berwudhu.

Disekitar masjid ini juga masih ada beberapa makam para Syarif atau mereka yg merupakan keluarga Nabi Muhammad S.A.W, termasuk Sheikh Ali Umar, Sayyid Abdullah Said Bin Sharif, maulana Bin Muhammad & putri nya Mfaume Ali Umar oleh penjaga drum kota.? . . . .

Restorasi Masjid Kizimkazi

Ditahun 2008 Kedutaan akbar Amerika Serikat pada Tanzania mengucurkan dana bantuan buat restorasi tiga masjid tua di Tanzania termasuk Masjid Kizimkazi. Bantuan tahun 2008 tadi dipakai buat memperbaiki & merestorasi atap masjid, langit langit masjid, pintu dan jendela termasuk pula bagian mihrab masjid. Restorasi tersebut jua memperbaiki jaringan listrik masjid, pemugaran penjelasan listrik pada pada masjid, penambahan kipas angin, pengecatan dan penggantian karpet masjid.

Masjid Kizimkazi di usianya yg telah antik masih difungsikan sebagai sentra kegiatan warga muslim disana. Beberapa bagian masjid ini memang telah mengalami kerusakan karena kurang perawatan. Beberapa bagian rusak dan bocor lantaran cuaca dan usia termasuk atap dibagian mihrab bahkan bagian dalam masjid juga mengalami kerusakan lantaran sebagai sarang burung dan kelelawar

Penjelasan mengenai masjid kizimkazi di page masjid.

Bantuan restorasi masjid ini diperlukan bisa membantu menaikkan sector pariwisata disana, mengingat desa loka masjid ini berada memang merupakan titik keberangkatan bagi wisatawan yg ingin menikwati wisata lumba lumba sekaligus memperkenalkan wisatawan pada kekayaan budaya Negara itu.

Restorasi masjid Kizimkazi ini berbarengan dengan proyek restorasi dua masjid antik Tanzania lainnya yang berada pada pulau Pemba yang galat satunya merupakan masjid di Shumba, yang jua dibangun pertama kali pada pertengahan abad ke 17 sampai awal abad ke 18, yg semuanya direstorasi menggunakan donasi dari kedutaan besar Amerika Serikat.

Besarnya kecintaan pada masjid bagi muslim disana mengemuka pada ketika staf kedubes Amerika berkunjung kesana buat berdialog dengan warga , sebelum masjid ini di restorasi. Masyarakat sempat mengeluhkan sulitnya kehidupan mereka termasuk sulitnya buat mendapatkan air bersih.

Namun dalam ketika staf kedutaan menunjukkan pilihan mana yg harus didahulukan, antara pengadaan air higienis menggunakan restorasi masjid, masyarakat dan tokoh muslim setempat menyatakan mereka lebih menentukan buat dibantu memperbaiki (restorasi) masjid yang menjadi sentra kegiatan warga muslim disana. Ghirah yang luar biasa, ditengah kehidupan yg sulit. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat nya kepada saudara saudara muslim kita disana.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Wilayah Tetangga Zanzibar

Islam di Zanzibar

Masjid Kibuli Kampala Uganda

Masjid Gaddafi, Masjid Nasional Uganda

Mayotte, Prancis yang tak Prancis

Masjid Mahe, Seychelles

Islam di Seychelles

Referensi

http://www.afrik-news.com/article17257.html

http://www.zanzibartourism.go.tz/index.php/what-to-do/zanzibar-in-culture/munoments/673-kizimkazi-mosque

http://www.odyssei.com/travel-tips/13282.html

http://www.panoramio.com/photo/13050252

https://en.wikipedia.org/wiki/Kizimkazi_Mosque

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done