Islami Pedia: masjid di Kamboja
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di Kamboja. Show all posts
Showing posts with label masjid di Kamboja. Show all posts

Tuesday, November 3, 2020

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 1)

Kamboja diantara negara negara tetangganya pada Indocina

Kamboja atau Cambodia merupakan negara  monarki konstitusional diAsia Tenggara, penerusKekaisaran Khmer yang pernah menguasai seluruh semenanjungIndochina antara abad ke-11 dan 14. Kamboja memperoleh kemerdekannya dari Prancis pada tanggal 9 November1953. Prancis berkuasa di Kamboja sejak tahun 1863 dan memasukkannya ke dalam bagian dari koloni Prancis di Indochina (French Indochina) bersama dengan Laos dan Vietnam, sejak itu Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja pertamanya, Norodom Sihanouk.

Kamboja ber-ibukota di Phnom Penh, kepala negaranya saat ini dipegang oleh Norodom Sihamoni yang merupakan putra dari Raja Norodom Sihanouk, sedangkan jabatan perdana menteri dipegang oleh Hun Sen.  Sejak tanggal 16 Desember 1998 Kamboja bergabung menjadi anggota Asean ke sepuluh.  Secara geografis, Kamboja berbatasan langsung denganThailand di sebelah barat,Laos di utara,Vietnam di timur, dan wilayah sisi selatannya menghadap ke Teluk Siam. SungaiMekong dan DanauTonle Sap melintasi negara ini.

Tahun 2011 yang lalu Kamboja sempat terlibat pertikaian bersenjata dengan Thailand di sekitar Kuil Preah Vihar. Perselisihan kedua negara bertetangga ini memang sudah berlangsung sejak lama meski di tahun 1962 Mahkamah Internasional telah menetapkan Kuil Preah Vihar adalah milik Kamboja, namun perselisihan tak berhenti disitu. Di tahun 2011 lalu baku tembak antara militer dua negara tak terhindarkan, mengundang keprihatinan banyak pihak. Pertempuran ahirnya berhenti namun Kamboja seringkali menutup akses dari Thailand menuju kuil yang memang hanya terpaut beberapa puluh meter dari garis perbatasan dua negara bertetangga tersebut.

Masjid An-Nikmah, Potiin, di Kampong Cham

Thailand dan Kamboja memiliki akar yang sama, kedua negara ini sama sama mengklaim diri sebagai pewaris kerajaan Khmer yang pada awal mulanya didirkan di Laos Utara tahun 657 oleh Jayavarman I sampai kemudian wilayahnya mencakup hampir keseluruhan kawasan Indochina hingga sebagian kecil wilayah utara Malaysia. Kuil Preah Vihar yang disebutkan tadi merupakan salah satu peninggalan masa kejayaan kerajaan Khmer. Sekitar 95% penduduk Kamboja merupakan etnis Khmer dan secara tradisi turun temurun menganut Agama Budha Theravada, sama seperti mayoritas penduduk Thailand, Laos dan Vietnam.

Agama Budha Theravada telah menjadi agama resmi Kamboja sejak abad ke 13 Masehi kecuali semasa kekuasaan Khmer Merah.  Agama Budha sudah di anut oleh sebagian besar rakyat Kamboja sejak abad ke 5 Masehi bahkan beberapa sumber lain menyebut jauh lebih tua dari itu. Namun diantara penduduk mayoritas Budha tersebut terdapat komunitas muslim dengan jumlah mencapai setengah juta jiwa, beberapa sumber bahkan menyebut angka yang jauh lebih besar dari itu.

Islam di Kamboja

Merujuk kepada situs CIA World Fact Book, tahun 1999 penduduk muslim di Kamboja mencapai 2.1% dari total penduduk Negara tersebut. Dan di tahun 2008, diperkirakan Muslim di Kamboja mencapai 321.000 jiwa. Mayoritas Muslim di Kamboja adalah muslim Sunni bermadzhab Syafi’i yang kebanyakan tinggal di provinsi Kampong Cham, provinsi seluas 9.799 km2 dan didiami 1.680.694 jiwa (data tahun 2008).

Menurut data Pew Research Center tahun 2009, jumlah Muslim di Cambodia mencapai 236 ribu atau 1,6% dari populasi Negara itu. Namun, menurut Ketua Senat Mahasiswa Muslim Kamboja, Sles Alfin (Saleh Arifin), populasi Muslim di negaranya diperkirakan mencapai 5%. Kebanyakan dari mereka ber-etnis Champa dan Melayu yang merupakan etnis minoritas di Kamboja. Sedangkan situs internet voa-islam menyebut angka yang jauh lebih tinggi, menurut mereka muslim Kamboja mencapai 6% dari total 11,4 juta jiwa penduduk Kamboja atau setara dengan 680.000 jiwa.

Sejarah Islam pada Kamboja

Kamboja seringkali di identikkan dengan Kerajaan Islam Champa, meskipun fakta sejarah menunjukkan bahwa Kerajaan Champa berkuasa di wilayah yang kini kita kenal sebagai Vietnam, di sebelah timur Kamboja. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sebagai dua kerajaan yang bertetangga interaksi antara penduduk dua negara ini terjadi sangat intensif dan sejarah Islam di Kamboja memang tak bisa dilepaskan dengan sejarah kebesaran Kerajaan Islam Champa yang berpusat di Vietnam tersebut.

Interaksi antara dua kerajaan ini memang terjalin dengan baik. Manakala kerajaan Champa mengalami kemunduran di penghujung abad  ke 17 akibat serangan kerajaan Vietnam dari dinasti Nguyen, banyak muslim Champa yang mengungsi ke Kamboja. Terlebih lagi setelah status Champa sebagai sebuah wilayah otonom bawahan Vietnam dibubarkan paksa di awal abad ke 19.

Muslim Champa diterima dengan baik di Kamboja, beberapa sumber bahkan menyebutkan beberapa petinggi kerajaan Champa yang turut mengungsi kemudian juga mendapatkan jabatan terhormat di kerajaan Kamboja. Selain muslim Champa, Muslim Melayu dari kepulauan Indonesia dan semenanjung Malaysia juga memasuki Kamboja sejak masa kejayaan Champa disekitar abad ke 15 masehi.  Muslim Arab, imigran dan Anak Benua India, dan pribumi yang masuk Islam juga menjadi bagian dari komunitas Muslim di Kamboja saat ini. Mereka tersebar di seluruh wilayah Kamboja, terutama di sepanjang sungai Mekong. Muslim Kamboja rata-rata bekerja di bidang perdagangan, pertanian, dan perikanan.

Masjid Nurul Ikhsan atau Lebih dikenal sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque di tepian Danau Boeng Kak, kota Phnom Penh.

Sebelum terjadinya tragedi pembantaian oleh Khmer Merah di tahun 1975 di perkirakan terdapat 150 ribu hingga 200 ribu muslim di Kamboja beberapa sumber lain bahkan menyebut angka hingga 700 ribu jiwa. Di sekitar tahun 1962 di terdapat sekitar 100 masjid di Kamboja dan meningkat di tahun 1975 terdapat 120 masjid, 200 musholla dan 300 madrasah serta satu sekolah penhafal Al’qur’an serta ratusan guru agama dan 300 khatib. Banyak di antara guru-guru tersebut yang belajar di Malaysia dan universitas-universitas Islam di Kairo, India atau Madinah.

Mereka membentuk komunitas muslim Kamboja dibawah kendali empat jabatan tokoh masyarakat muslim yang terdiri dari mupti, tuk kalih, raja kalik, dan tvan pake. Sementara tokoh di tiap kampung muslim di kepalai oleh hakim dan beberapa khatib, bilal, dan labi. Ke empat jabatan tokoh masyarakat tersebut termasuk Hakim turut menjadi bagian kerajaan Kamboja dan senantiasa turut serta sebagai undangan Negara dalam setiap perhelatan resmi kerajaan.

Ketika Kamboja Merdeka dari Prancis di tahun 1953, komunitas muslim berada dibawah kendali lima anggota majelis yang berisikan perwakilan dari masing masing komunitas muslim dengan fungsi yang resmi serta keterikatan dengan komunitas muslim yang lain. Masing masing komunitas muslim memiliki seorang Hakim yang memimpin Masjid masing masing komunitas, beliau juga bertindak sebagai Imam di masjid komunitasnya masing masing. Kegiatan ke-Islam muslim Kamboja berpusat di semenanjung Chrouy Changvar di dekat kota Phnom Penh yang sekaligus menjadi tempat tinggal beberapa petinggi muslim Kamboja.

Setiap tahun beberapa muslim Champa ini berangkat ke Kelantan di Malaysia untuk melanjutkan pendidikan Al-Qur’an. beberapa diantara mereka setiap tahun juga melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Hingga penghujung tahun 1950-an diperkirakan 7 persen dari Muslim Champa di Kamboja ini telah menunaikan ibadah Haji. Dan dalam kehidupan kesehariannya mereka biasa menggunakan sorban ataupun semacam kopiah berwarna putih sebagai penanda bahwa mereka telah ber-haji.***

Bersambung ke bagian dua

Referensi

asean.org - the founding of asean

id.wikipedia – kontingen garuda

en.wikipedia.org - history_of_vietnam

en.wikipedia.org - Religion_in_Cambodia

CIA world fact book - cambodia

voa-islam.com - islam-kamboja-berkembang-setelah-ditekan

mekong.net - champ muslims a look at cambodia’s muslim minority

nu.or.id – Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

omniglot.com - Cham Muslims of Phnom Penh

Artikel Terkait

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami? Vientiane, Laos

Islam & Masjid pada Laos (bagian 1)

Islam dan Masjid pada Laos (bagian dua)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian dua)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian 3)

Masjid Negara, Kuala Lumpur - Malaysia

Masjid Sultan Singapura ? Singapore

Masjid Al-Dahab Manila ? Filipina

Monday, November 2, 2020

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 2)

Muslim Kamboja di bawah Rezim Khmer Merah

Keadaan berubah ketika Khmer Merah yang berfaham Komunis mengambil alih kekuasaan negara di tahun 1975. Awalnya Khmer Merah berdiri di tahun 1968 sebagai organisasi cabang dari Tentara rakyat Vietnam yang kala itu berkuasa di Vietnam Utara.  Pergolakan politik di Kamboja memang cukup rumit. Setelah merdeka dari Prancis, Negara ini berkali kali mengalami pergolakan politik dan kudeta.

Di tahun 1970 tepatnya tanggal 18 Maret 1970 Jenderal Lol Nol bersama Pangeran Sisowath Sirik Matak dengan dukungan  Amerika melakukan kudeta dan menggulingkan kekuasaan pangeran Norodom Sihanouk, peristiwa yang terkenal dengan sebutan Cambodian coup . Tujuh bulan setelah itu tepatnya tanggal 9 Oktober 1970 mereka memproklamasikan pendirian Negara Republik khmer, Jenderal Lon Nol sebagai kepala Negara dan pangeran Sisowath Sirik Matak sebagai Perdana Menteri.

Negara Republik khmer berahir pada tanggal 17 April 1975 ketika pasukan Khmer Merah yang berkoalisi dengan pangeran Norodom Sihanouk berhasil menguasai kembali ibukota Phnom Penh. Khmer Merah kemudian mendirikan Negara Demokratik Kampuchea, pangeran Norodom Sihanouk bertindak sebagai kepala negara namun kemudian malah tersingkir tanggal 2 April 1976, Khmer Merah mengendalikan pemerintahan Negara secara utuh dibawah kendali Pol Pot,Nuon Chea,Ieng Sary,Son Sen, danKhieu Samphan. Sedangkan Pol Pot bertindak sebagai Kepala Negara.

Khmer Merah berupaya mengembalikan kejayaan pertanian Kamboja seperti yang pernah terjadi di abad ke sebelas dengan mengerahkan seluruh kekuatan rakyat ke lahan pertanian. Yang terjadi selanjutnya justru adalah malapetaka tak terperikan bagi rakyat Kamboja. Khmer Merah melakukan pembantaian secara massif terhadap rakyat Kamboja selama mereka berkuasa dari tahun 1975 hingga tahun 1979. Diperkirakan dua juta rakyat Kamboja terbunuh, dan 500 ribu diantaranya adalah warga muslim Kamboja, di samping itu juga terjadi pembakaran masjid, madrasah dan mushaf serta pelarangan menggunakan bahasa Champa.

Khmer Merah  telah menghancurkan setidaknya 132 masjid, muslim dilarang beribadah. Paska keruntuhan Khmer Merah di Phnom Penh tersisa 6 masjid saja dan dari ratusan ulama Islam hanya tersisa 20 orang saja yang selamat dari pembantaian. Selama kekuasaan rezim Khmer Merah terjadi gelombang pengungsian besar besaran Muslim Champa di Kamboja ke Berbagai Negara. Sebagian kecil dari mereka tiba di Laos dan membentuk komunitas muslim dan menetap disana hingga kini sebagaimana sudah di ulas dalam tulisan sebelumnya. (Baca Islam dan Masjid di Laos bagian 1 dan bagian 2).

Kekuasaan Khmer merah berahir, ketika pasukan Vietnam menginvasi Kamboja, dan meletuskan perang Kamboja-Vietnam. Pasukan Vietnam berhasil menguasai ibukota Phnom Penh tanggal 7 Januari 1979, dan membentuk pemerintahan baru. Pasukan Vietnam bertahan di Kamboja hingga tahun 1989, sampai kemudian Pasukan Internasional dibawah kendali UNTAC mulai masuk ke Kamboja di tahun 1979 termasuk di dalamnya adalah Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Kontingen Pasukan Garuda XII.

Tahun 1979 Vietnam Menginvasi Kamboja, dan di lepas 7 Januari 1979 pasukan Vietnam berhasil menguasai kota Phnom Penh, mengahiri kekuasaan rezim Khmer Merah yang lalu menjalankan pemerintahan pada evakuasi, tetapi perang baru justru baru pada mulai.

Muslim Kamboja Hari ini

Paska peristiwa mengerikan tahun 1970-an tersebut, secara umum keadaan penduduk Kamboja mulai membaik dan kaum Muslimin dapat melakukan kegiatan keagamaan mereka dengan bebas, mereka telah memiliki 268 masjid, 200 mushalla, 300 madrasah Islamiyyah dan satu markaz penghafalan Al Qur’anulkarim. Selain itu mulai bermunculan organisasi-organisasi keislaman, diantaranya adalah Islamic National Movement for Democracy of Cambodia, yang di ketuai oleh Sary Abdullah.

Kemiskinan masih mendera Negara Kamboja termasuk sebagian besar muslim disana. Diperparah lagi dengan keterpencilan mereka dari pusat pemerintahan Negara. Rendahnya akses terhadap kebutuhan infrastuktur yang mendasar seperti jalan raya, air bersih, listrik telekomunikasi hingga surat kabar.  Masalah finansial turut mendera pendidikan bagi anak anak muslim disana, gaji para tenaga pengajar tidak mencukupi kebutuhan keluarga mereka, kurikulum pendidikan agama sangat kurang dan tidak baku.

Setiap sekolah ditangani sang seseorang guru yg menciptakan kurikulum sendiri yang umumnya masih lemah & kurang, bahkan ada beberapa sekolah diliburkan karena pengajar-gurunya berpaling mencari pekerjaan lain yg bisa menolong kehidupan mereka. Mereka jua sangat membutuhkan adanya terjemah Al Qur?Anulkarim & kitab -kitab Islami, khususnya yang berkaitan menggunakan akidah dan aturan-aturan Islam.

Muslimah Kamboja dapat dikenali menggunakan pakaian muslim yg mereka pakai, tampak hadir beserta warga Kamboja lainnya dalam perayaan hari jadi raya Kamboja yang diselenggarakan secara nasional.

Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Nos Sles (Nuh Saleh), Director of Deparatment of Education and Human Resources di Cambodian Muslim Development Foundation saat berkunjung ke PBNU Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2012 yang lalu. Nos Sles menjelaskan Muslim Kamboja masih hidup di bawah garis kemiskinan. Rata-rata adalah petani, dan sebagian menjual kue kecil-kecilan. Ia sangat berharap, lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia bisa memberikan beasiswa kepada anak-anak muda Muslim Kamboja. Lebih jauh, Nos Sles menceritakan umat Muslim di Kamboja. Selama ini, yang banyak memberikan bantuan dalam pendidikan adalah Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

Hingga tahun 2005, jumlah pemukiman Muslim di Kamboja telah mencapai 417 desa, dengan rata-rata tiga hingga tujuh sekolah Islam di setiap desa. Saat ini kaum Muslimin Kamboja berpusat di kawasan Free Campa bagian utara sekitar 40 % dari penduduknya, Free Ciyang sekitar 20 % dari penduduknya, Kambut sekitar 15 % dari penduduknya dan di Ibu Kota Pnom Penh hidup sekitar 30.000 Muslim. Di kota Phnom Penh sendiri terdapat setidaknya enam Masjid, yang terbesar adalah Masjid Nurul Ikhsan atau Lebih dikenal sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque di tepian Danau Boeng Kak, kota Phnom Penh.

Pemerintah Kamboja kini berinisiatif  memuluskan toleransi bagi muslim di Kamboja. Dari pihak pemerintah, Perdana Menteri Hun Sen memerintahkan pembangunan masjid dan memberi saluran udara gratis bagi Muslim untuk menyiarkan program-program khusus Islam. Beberapa waktu lalu, pemerintah setempat mengijinkan siswa Muslim yang ingin mengenakan atribut Islam termasuk jilbab. Tak hanya itu, Muslim pun menikmati hak-hak politik mereka. Ada lebih dari selusin Muslim yang kini bertugas di lembaga-lembaga politik papan atas negara, mulai dari Senat, Dewan Perwakilan. Senator Premier (salah satu anggota senat) pun memiliki penasihat khusus urusan Muslim.

Suasana Sholat Zuhur di Masjid Al-Azhar, keliru satu masjid di Kota Phnom Penh, Ibukota Kamboja.

Tiga Kelompok Muslim Kamboja

Sebagaimana dijelaskan oleh Sary Abdullah dari Islamic National Movement for Democracy of Cambodia, muslim Kamboja terbagi dua kelompok, yakni Muslim Suni yang menjalankan Islam sesuai dengan syariat sama seperti yang dilaksanakan oleh muslim Arab, dengan persentase sekitar 70% dari keseluruhan Muslim Kamboja. Dan ada kelompok ke dua yakni sekelompok muslim Fojihed sekitar 5% dari Muslim Kamboja yang masih mengikuti ajaran dan tradisi lama sebelum Islam terutama dalam hal supranatural dan kekuatan sihir. Sebuah tradisi yang juga menjangkiti sebagian kecil dari muslim Indonesia.

Selain dari itu bila di elaborasi lebih jauh berdasarkan latar belakang etnis (asal negara serta bahasa ibu yang digunakan) serta tata cara peribadatan mereka sehari hari, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok yakni : dua kelompok muslim yang tadi sudah dijabarkan oleh Sary Abdullah. Serta kelompok ketiga yang disebut kelompok muslim Chvea, yang merupakan muslim Kamboja bukan dari etnis Champa, juga tidak berbahasa Champa. Muslim Chvea ini adalah muslim yang berasal dari Indonesia terutama dari tanah Jawa, jumlah mereka ada sekitar 20 hingga 25% dari total keseluruhan muslim Kamboja saat ini. Mayoritas dari mereka tinggal di sekitar Battambang. Pemerintah Kamboja menyebut keseluruhan Muslim Kamboja ini sebagai “Khmer Muslim”.

Suasana Kampong Cham.

Hubungan Indonesia & Kamboja

Indonesia dikenang dengan manis oleh rakyat Kamboja. Menjelang kemerdekaannya, Indonesia banyak membantu negara Kamboja ini. Buku - buku taktik perang karangan perwira militer Indonesia banyak digunakan oleh militer Kamboja. Oleh karenanya, para calon perwira di militer Kamboja, wajib belajar dan dapat berbahasa Indonesia. Semasa bergejolaknya perang saudara di Kamboja, tahun 1992-1993 Indonesia secara resmi lima kali mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Kamboja yang tergabung dalam Kontingen Garuda XII/A,B,C,D dan  Garuda XII (Civpol) di bawah misi UNTAC.

Selain kasus politik, Indonesia jua memiliki peran akbar dalam bidang kebudayaan yakni pada acara restorasi Candi Angkor Wat yang lapuk dimakan zaman dan rusak dampak perang. Candi Angkor Wat yg telah populer ke mancanegara itu dibangun oleh Suryawarman II putra menurut Raja Jayawarman II tahun 7770, setelah menimba ilmu arsitektur cukup usang di kerajaan Mataram Hindu pada pulau Jawa. Maka tidak heran apabila lalu Kalangan sejarawan misalnya David Chandler, menduga bahwa Angkor Wat itu adalah pasangan berdasarkan Candi Borobudur.

KBRI di Phnom Pehn telah sejak lama membuka Pusat Kebudayaan Indonesia dengan program kursus bahasa Indonesia, tari dan drama, diikuti oleh puluhan warga Kamboja. Mereka menunjukkan minat yang besar terhadap kebudayaan Indonesia. Muslim disana berharap masyarakat Islam Indonesia khususnya bisa memberikan beasiswa bagi para siswa Muslim Kamboja, terutama yang berada di Kampong Cham. Hingga kini kitab kitab tulisan Ulama Indonesia masih menjadi rujukan pengajaran Islam disana termasuk penggunaan aksara Jawi (aksara arab pegon). Diantara kitab kitab yang masih dipakai adalah Tanbihul Ghofilin, kitab fiqah (fikih) Sabilul Muhtadin karya Syekh Arsyad Al Banjari (Banjar Kalimantan Selatan). Suatu hal yang menunjukkan begitu dekatnya muslim Kamboja dengan Muslim Indonesia.***

Referensi

asean.org - the founding of asean

id.wikipedia – kontingen garuda

en.wikipedia.org - history_of_vietnam

en.wikipedia.org - Religion_in_Cambodia

CIA world fact book - cambodia

voa-islam.com - islam-kamboja-berkembang-setelah-ditekan

mekong.net - champ muslims a look at cambodia’s muslim minority

nu.or.id – Muslim Kamboja Minta Dukungan untuk Pendidikan Islam

omniglot.com - Cham Muslims of Phnom Penh

Artikel Terkait

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 1)

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami? Vientiane, Laos

Islam & Masjid di Laos (bagian 1)

Islam & Masjid di Laos (bagian 2)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian dua)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian dua)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ? Brunei Darussalam (Bagian tiga)

Masjid Negara, Kuala Lumpur - Malaysia

Masjid Sultan Singapura ? Singapore

Masjid Al-Dahab Manila ? Filipina

Masjid internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 1)

Masjid Nurul Ihsan atau Intenational Dubai Phnom Penh Mosque atau juga kadang disebut sebagai Boeng Kak Lake Mosque karena memang lokasinya berdiri di tepian sebelah timur danau Boeng Kak di Kota Phnom Penh. Masjid ini sebenarnya kini sudah diruntuhkan dan dalam proses pembangunan ulang.

Nama masjid ini sebenarnya adalah Masjid Nurul Ihsan namun lebih sering disebut sebagai International Dubai Phnom Penh Mosque, merupakan masjid terbesar di kota Phnom Penh ibukota Kamboja. Berlokasi di sisi timur danau Boeng Kak di pusat kota Phnom Penh. Sayangnya keberadaan masjid ini jauh dari perhatian pemerintah, kondisinya kurang mendapatkan perawatan yang semestinya, cat dinding tampak kusam dan terkelupas di sana sini, maklum karena memang statusnya yang bukan sebagai Masjid Negara, mengingat muslim di Cambodia merupakan pemeluk agama Minoritas.

Danau Boeng Kak di kota Phnom Penh ini tadinya merupakan salah satu tempat paling popular di kota itu terutama bagi para pengelana berkantong pas pasan. Di sekitar danau ini bertaburan pondok pondok penginapan bertarif murah dengan pemandangan danau yang alami, termasuk Masjid Nur Ihsan yang berdiri di sisi timur danau ini tak luput dari objek foto menarik bagi para pengelana yang menginap di daerah tersebut.

Objek Wisata ::: dulu, Danau Boeng Kak ini merupakan salah satu objek wisata andalan kota Phnom Penh terutama untuk para back packer karena tersedia begitu banyak penginapan murah disekitar danau ini. Pemandangan alami danau yang memang di 'terkesan kumuh" di tengah kota Phnom Pen, menjadi daya tarik tersendiri. Sementara Masjid Nurul Ihsan di sisi timur danau ini menjadi salah satu objek foto pavorit para pengelana.

Sejak tahun 2007 lalu pemerintah Kamboja telah menjalankan rencana untuk mengubah kawasan tersebut menjadi kawasan bisnis dan hunian mewah. Danau Byoeng Kak sudah ditimbun dengan pasir sedot dari danau Tonle Sap dan Sungai Mekong. Bangunan Masjid Nurul Ihsan juga sudah dirobohkan tahun 2011 lalu dan sedang dalam proses pembangunan kembali menjadi sebuah masjid yang lebih besar dan lebih megah. Nantinya bila sudah selesai masjid ini mampu menampung lebih dari 1000 (seribu) jemaah sekaligus dan akan menjadi masjid terbesar dan termegah di Kamboja.

Lokasi dan Alamat masjid Nur Ihsan

International Dubai Phnom Penh Mosque

Phnom Penh  016 277 788

No. 1, Maot Chrouk (St. 86), Srah Chak commune

Phnom Penh’s Daun Penh district. Phnom Penh. Cambodia

Behind Phnom Penh Hotel, 12201

Lihat Peta Lebih Besar

Masjid Masjid di Kota Phom Penh

Komunitas muslim di Kamboja cukup besar dalam angka meskipun sangat kecil dalam persentase terhadap jumlah total populasi negara tersebut. Di pusat kota Phnom Penh sendiri diketahui secara umum ada dua masjid yakni Masjid Internasional Dubai Phnom Penh dan masjid Al-Azhar yang ukurannya lebih kecil. Namun berdasarkan catatan Yellow pages, di Phnom Penh ada 6 Masjid masing masing adalah :

(1).  International Dubai Phnom Penh Mosque

Phnom Penh  016 277 788. No. 1, Maot Chrouk (St. 86), Behind Phnom Penh Hotel, 12201

(2). Masjid Jami Saad Bin Abi Wakkas

Phnom Penh  016 826 768. No. 3, Street 173 Tuol Svay Prey I commune 12308 Chamkarmorn district, Pnom Penh.

(3). Masjid Al - Rahmah (Mukdach)

Phnom Penh  012 223 493. Tonle Sap (Rd.), Village 3, Sangkat Chroy Changvar, 12110

(4).  Masjid Jami'ul Islam (Toul Tumpoung)

Phnom Penh  012 688 499. No. 3, St. 173, Sangkat Toul Svay Prey 1, 12308

(5).  Masjid  Al - Azhar (Kolalaom)

Phnom Penh  012 582 559. Mekong River (Rd.), Village 2, Chroy Changvar,

(6).  Masjid  Al - Mukarram (Prek Raing)

Phnom Penh  011 894 257. Prek Tasek (St.), Prek Raing Village, Sangkat Prek Tasek

Boeng Kak Lake Mosque ::: dibangun pertama kali tahun 1968, di renovasi total tahun 1990 dengan bantuan dana dari Uni Emirat Arab, Dirobohkan tahun 2011 untuk dibangun kembali sebagai masjid terbesar dan termegah di Kamboja dengan dana juga dari Uni Emirat Arab.

Selain masjid masjid tersebut, di pinggiran kota Phnom Penh bertabur bangunan masjid, terutama di kawasan berpenduduk mayoritas muslim seperti di Kilometer ke 7 hingga kilometer ke 9, ke arah kota Uodong di Utara kota Phnom Penh. Diantara masjid masjid tersebut yang paling tua adalah Masjid Nurul Ihsan di Chrang Chamres yang berada di Kilometer ke 7 dari kota Phnom Penh. Masjid tersebut pertama kali dibangun tahun 1813 dan lolos dari penghancuran Rezim Komunis Khmer Merah, meski sempat dijadikan kandang babi. Nikmati foto menarik kampung muslim Kamboja, di sini.

Masjid, Saksi Keteguhan Muslim Kamboja

Kekejaman rezim Pol Pot terhadap rakyat Kamboja meninggalkan bekas mendalam di negeri itu terutama bagi ummat Islam. belakangan diketahui bahwa Pol Pot dan rezimnya memang menarget ummat Islam di Kamboja untuk dibersihkan dari negeri itu karena dianggap bukan bagian dari Kamboja. Berbagai laporan tentang jumlah pasti korban pembantaian yang dilakukan oleh “Jagal Indocina” itu memang tak ada yang sama. Diperkirakan 2 juta penduduk Kamboja meregang nyawa dan hampir 500 ribu diantaranya adalah penduduk muslim.

Tampak Depan ::: kondisi masjid ini memang cukup memprihatinkan, kerusakan disana sini termasuk catnya yang mengelupas termakan usia tanpa perawatan. wajar bila kemudian Penyandang dana dari Uni Emirat Arab lebih memilih untuk merobohkan bangunan ini dan membangun ulang masjid baru di lokasi yang sama.

Kuburan kuburan massal para korban masih saja terus ditemukan termasuk temuan tanpa sengaja saat penggalian pondasi bagi pembangunan gedung kawasan bisnis di kota Phnom Penh. Kerangka manusia ditemukan bertumpuk dalam satu liang, sebagian besar dari mereka dalam kondisi tangan terikat ke belakang dan mata tertutup. Dari kalangan ummat Islam sendiri hanya tersisa 21 orang imam, salah satu diantaranya adalah imam masjid di Kilometer 7 Phnom Penh.

Sebuah keteguhan yang luar biasa dalam mempertahankan Aqidah ditunjukkan oleh imam Masjid Nurul Ihsan di KM 7 ini ketika di tahun 1981, dua tahun setelah runtuhnya rezim Khmer Merah, wartawan Indonesia Sabam Siagian berkunjung kesana dan mewawancarai Imam Masjid tersebut dan luar biasanya meski mereka baru saja mengalami peristiwa pembantaian paling memilukan sepanjang sejarah Indocina.

Boeng Kak lake Land Mark ::: setelah sekian lama menjadi penanda di sisi timur danau Boeng Kak Masjid Nurul Ihsan di bongkar tahun 2011 lalu, begitu pun dengan danaunya yang ditimbun oleh pemerintah Kamboja lalu lahan hasil reklamasi tersebut disewakan selama 99 tahun kepada pihak swasta untuk dijadikan kawasan bisnis dan hunian mewah.

imam masjid ini sama sekali tidak meminta bantuan kemanusiaan yang semestinya merupakan hal yang paling utama mereka butuhkan saat itu, tapi beliau justru meminta dibantu segera memperbaiki masjid masjid mereka yang hancur.

“mereka (khmer merah) anti agama dan tidak bisa menerima kehadiran muslim champa disini”. Lebih lanjut beliau meminta Sabam Siagian untuk menyampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa mereka membutuhkan bantuan financial untuk membangun kembali masjid masjid mereka yang hancur, juga meminta dikirimi kitab suci Al-Qur’an, guru guru agama serta kemungkinan bagi mereka untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah***.

Bersambung ke Bagian 2.

Senarai Pustaka

wap.com.kh - Unsafe mosque at Boeung Kak demolished

travelpod.com  - Among Descendents Of The Champa Kingdom

tentangcambodia.wordpress.com - semangat-toleransi-muslim-kamboja-di-tengah-keterbatasan

Agnès De Féo - Transnational Islamic Movement in Cambodia.pdf

hotsocialevent.blogspot.com - A Muslim mosque to be built at Boeung Kak Lake

constructingcambodia.wordpress.com - Mosque gone, more houses demolished

hotsocialevent.blogspot.com - muslim-mosque-to-be-built-at-boeung-kak

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Asean Lain-nya

Masjid internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 1)

Masjid Internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 2)

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 1)

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 2)

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami’ Vientiane, Laos

Islam dan Masjid di Laos (bagian 1)

Islam dan Masjid di Laos (bagian 2)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Masjid Negara, Kuala Lumpur - Malaysia

Masjid Sultan Singapura – Singapore

Masjid Al-Dahab Manila – Filipina

Sunday, November 1, 2020

Masjid internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 2)

Masjid Internasional Dubai Phnom Penh atau Masjid Nurul Ihsan (panoramio)

Perjalanan Sejarah Masjid Internasional Dubai Phnom Penh

Paska peristiwa berdarah yang dilancarkan oleh rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot di Kamboja tahun 1975-1979, bantuan dari berbagai negara mengalir masuk ke Kamboja termasuk dari negara negara Timur Tengah yang paling banyak berperan dalam pembangunan kembali negara tersebut dari kehancuran akibat perang. Bantuan dari negara negara Timur tengah ini terutama ditujukan kepada pembangunan kembali infrastruktur ummat Islam termasuk di dalamnya pembangunan kembali masjid masjid yang hancur ataupun yang rusak.

Salah satunya adalah pembangunan Masjid Nurul Ihsan di tepian Danau Boeng Kak di pusat kota Phnom Pen, dilakukan tahun 1990 yang lalu. Saya belum menemukan tanggal pasti, kapan masjid ini dibangun (kembali), Hampir semua sumber sumber di intenet menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini di danai oleh sumber pendanaan dari Ke-emiran Dubai, Uni Emirat Arab.

penandatanganan kesepakatan pembangunan Masjid Nurul Ihsan Phnom Pen antara pendonor dana dari Uni Emirat Arab dan perwakilan komunitas muslim Kamboja.

Para pendonor dana pembangunan tersebut bernama Mahmoud Abdallah Kasim and Hisham Nasir (mungkin yang dimaksud adalah Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal). mereka yang mendanai pembangunan masjid Nurul Ihsan ini, dan tidak itu saja mereka juga membantu memberangkatkan 30 muslim cham setiap tahun menunaikan ibadah haji, itu sebabnya masjid ini juga sering disebut sebagai Masjid internasional Dubai Phnom Penh. Sedangkan satu sumber yang lain mengatakan bahwa masjid internasional dibangun dengan sumbangan dari Saudi Arabia sebesar US$350,000.

Namun demikian informasi terahir ini sepertinya meragukan mengingat pada bulan Juni 2011 lalu dilaksanakan penandatangan nota kesepahaman antara Pemerintah Kamboja dengan Perwakilan Pemerintah Uni Emirat Arab, bagi bantuan dana untuk pembangunan ulang Masjid Nurul Ihsan di tepian danau Beung Kak. Tim dari UEA setelah meninjau masjid tersebut menyatakan bahwa kondisi masjid ini sudah terlalu lama tidak terawat, pondasinya sudah amblas, dan terancam akan roboh.

Pembongkaran dan Pembangunan Kembali Masjid Nurul Ihsan

Masjid Nurul Ihsan atau masjid Internasional Dubai Phnom Penh, Dulu dan Nanti

Disebutkan bahwa masjid Nurul Ihsan ini pertama kali dibangun tahun 1968 kemudian dilakukan perbaikan besar besaran di tahun 1990, namun dalam kurun waktu yang cukup lama masjid ini tidak mendapatkan perawatan memadai mengakibatkan kerusakan parah disana sini. Penandatangan kesepakatan pembangunan masjid ini ditandatangani oleh Usman Hasan, Presiden CMDA (Cambodia Muslim Depelovement Association) sekaligus sebagai sekretaris menteri tenaga kerja Kamboja bersama dengan Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal dari Uni Emirab Arab. Dana yang dianggarkan untuk pembangunan masjid ini sebesar US$ 1 (satu) Juta Dolar Amerika.

Merujuk kepada penjelasan Usman Hasan, Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal selama ini juga turut membantu syiar Islam di Kamboja termasuk memberangkatkan 30-an muslim Kamboja ber-haji setiap tahun dan membangun masjid Nurul Ihsan ini sebelumnya. Sementara imam Masjid Nurul Ihsan, San Muhammad (80 thn) menyambut baik pembangunan ulang masjid yang dipimpinnya karena memang selama ini masjid tersebut jauh dari sentuhan perawatan, bagian atapnya sudah mengalami kebocoran di berbagai tempat.

Masjid Nurul Ihsan Phnom Penh, Dulu, Kini dan Nanti

Masjid baru yang akan dibangun di lokasi ini sama sekali berbeda dengan bangunan masjid sebelumnya. Nantinya masjid baru ini dibangun dalam gaya arsitektural Turki yang menonjolkan menara menara tinggi dan kubah kubah besar di atap masjid. Tim ahli dari Uni Emirat Arab akan terlibat langsung dalam penanganan proses pembangunan maupun pendanaannya. Proses pembangunan masjid baru tersebut diperkirakan akan memakan waktu selama 18 (delapan belas) bulan. Kemungkinan besar nama masjidnya juga akan diganti menjadi Masjid Al-Serkal, sesuai dengan nama pembangunnya. Setelah selesai nanti masjid ini akan mampu menampung lebih dari 1000 (seribu) jemaah sekaligus dan akan menjadi masjid terbesar dan termegah di Kamboja.

Kontoversi Danau Boeng Kak

Seiring dengan perkembangan kota, pemerintah Kamboja dibawah kepemimpinan perdana menteri Hun Sen, sedang gencar gencarnya memoles kota Phnom Penh sebagai ibukota negara. Sebuah rencana yang tak popular dilancarkan oleh pemerintah Kamboja dengan menimbun keseluruhan Danau Boeng Kak untuk dijadikan kawasan bisnis dan pemukiman kelas atas. Kawasan reklamasi ini disewakan ke pengelola dengan hak konsesi selama 99 tahun. Sumber sumber dari media setempat menggambarkan dengan gamblang perkembangan proyek tersebut. Aksi protes dari masyarakat miskin yang sudah sekian lama tinggal di kawasan tersebut namun harus menerima kenyataan rumah rumah mereka digusur oleh pemerintah tanpa dispensasi apapun.

Danu Boeng Kak Phnom Penh dulu dan kini. lingkaran merah menandai lokasi Masjid Nurul Ihsan, yang dalam foto bawah sudah rata dengan tanah, di sisi timur danau Boeng Kak yang sudah di reklamasi seluruhnya.

Proses penimbunan danaunya pun terbilang tak lazim. Pemeritah setempat melakukan penimbunan menggunakan pasir yang disedot dari danau Tonle Sap dan Sungai Mekong, pasir sedot bercampur air tersebut di alirkan langsung menggunakan pipa ke Danau Boeng Kak. Akibatnya sudah dapat diduga, air danau Boeng Kak tumpah kemana mana mengakibatkan banjir di sekitar area tersebut. Danau alami ini berubah menjadi pemandangan aneh ketika ada beberapa kapal kayu yang teronggok di tengah lapangan pasir, rumah rumah sederhana milik penduduk yang separuhnya tenggelam dalam pasir, dan tentu saja adalah Masjid Nurul Ihsan yang sejak berdiri berada ditepian danau sontak berganti pemandangan latarnya dengan lapangan kosong hasil reklamasi. salah satu kumpulan foto foto penggusuran 3000-4000 warga danau byong keok dapat dilihat disini.

Gelombang protes dari para korban terus menggema hingga ke Amnesti Internasional, namun pemerintah Kamboja tetap melanjutkan proses pembangunan di kawasan tersebut. Seluruh permukaan danau kini sudah berubah menjadi kawasan siap bangun. Sebagian sudah memulai proses pembangunan termasuk pembangunan kembali Masjid Nurul Ihsan di lokasi aslinya di sisi timur (bekas) danau Boeng Kak. Nantinya di komplek masjid ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas pendidikan dan Islamic Center. Kita tunggu saja kabar berita perkembangan pembangunan Masjid terbesar di Kamboja ini. (selesai).

Kembali kebagian 1

Senarai Pustaka

wap.com.kh - Unsafe mosque at Boeung Kak demolished

travelpod.com  - Among Descendents Of The Champa Kingdom

tentangcambodia.wordpress.com - semangat-toleransi-muslim-kamboja-di-tengah-keterbatasan

Agnès De Féo - Transnational Islamic Movement in Cambodia.pdf

hotsocialevent.blogspot.com - A Muslim mosque to be built at Boeung Kak Lake

constructingcambodia.wordpress.com - Mosque gone, more houses demolished

hotsocialevent.blogspot.com - muslim-mosque-to-be-built-at-boeung-kak

Artikel Terkait

Masjid internasional Dubai Phnom Penh – Kamboja (bagian 1)

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 1)

Islam dan Masjid di Kamboja (bagian 2)

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami’ Vientiane, Laos

Islam dan Masjid di Laos (bagian 1)

Islam dan Masjid di Laos (bagian 2)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Masjid Negara, Kuala Lumpur - Malaysia

Masjid Sultan Singapura – Singapore

Friday, August 21, 2020

Masjid Agung Al-Serkal, Terbesar di Kamboja (Bagian 1)

IKON BARU. Masjid megah dengan gaya Turki yang kental menjadi ikon baru bagi kota Phnom Penh ibukota Kamboja. Masjid yang berdiri di tepian bekas Danau Boeng Kak ini sebelumnya bernama Masjid Internasional Dubai Phnom Penh yang kemudian dibongkar dan dibangun ulang lebih besar, megah dan modern oleh donatur yang sama.

Kamboja kini memiliki sebuah Masjid megah bergaya Turki Usmani. Berdiri megah di kawasan Boeng Kak di pusat kota Phnom Pehn, Ibu Kota Kamboja. Nama Al-Serkal bagi masjid ini merupakan nama dari seorang pebisnis sukses Uni Emirat Arab, Eisa Bin Nasser Bin Abdullatif Alserkal. Beliau mengucurkan dana US$ 2.5 juta dolar untuk pembangunan masjid ini. Total keseluruhan dana pembangunan masjid ini mencapai US$ 2.9 juta dolar, US$400 ribu dolar merupakan dana dari pemerintah Kamboja sebagai bentuk perhatian dari pemerintah kepada muslim disana.

Jauh sebelumnya pada tempat ini sudah ada bangunan masjid yg telah berdiri sejak tahun 1968 menggunakan nama Masjid Nurul Ikhsan, pada tepian danau Boeng Kak yg begitu melegenda. Masjid tersebut sempat di perbaiki & dibangun ulang tahun 1990 menggunakan dana menurut Ke-Emiran Dubai - Uni Emirat Arab, sebagai akibatnya lebih dikenal menjadi Masjid Internasional Dubai Phnom Pehn. Masjid tadi kemudian di robohkan di tahun 2012 karena telah mengalami kerusakan parah lalu dibangun pulang sebagai sebuah masjid megah bergaya Turki Usmani pada lokasi yg sama seperti yg kita lihat saat ini.

No. 1, Maot Chrouk (St. 86), 12201 Phnom Penh

E-Mailmasjiditpp@gmail.com

Koordinat: 11?34?45.57?N 104?54?50.11?E

Artikel lengkap tentang masjid Nurul Ikhsan dapat anda baca di artikel sebelumnya yang di posting di blog ini tahun 2012 yang lalu berjudul Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh bagian 1 dan bagian 2. Artikel tentang Islam di Kamboja serta pahit getir nya perjalanan kehidupan muslim disana, juga sudah di posting di blog ini dengan judul Islam dan Masjid di Kamboja bagian 1 dan bagian 2.

Berawal dari masjid Nurul Ikhsan pada tepian Danau Boeng Kak

Danau Boeng Kak adalah salah satu legenda bagi para pelancong bermodal pas pasan yg berkunjung ke Kamboja. Danau yang berada di tengah kota Phnom Pehn yang disekelilingnya dipadati oleh begitu banyak penginapan murah yang menjadi paforit bagi para pelancong backpacker. Di tepian danau tadi berdiri sebuah masjid yang sudah terdapat sejak tahun 1968 lalu pada lakukan pemugaran besar besaran dan di perbesar ukurannya di tahun 1990 dengan nama Masjid Nurul Ikhsan, tetapi lebih dikenal dengan nama Masjid Internasional Dubai Phnom Pehn.

Masjid Al-Serkal saat pembangunan. Masjid Nurul Ikhsan atau Masjid Internasional Dubai Phnom Penh dibongkar tahun 2011 kemudian dibangun bangunan baru yang kemudian diberi nama Masjid Al-Serkal

Disebut dengan nama demikian karena memang dipakai sang muslim menurut banyak sekali bangsa yg tinggal atau sekedar singgah pada kota Phnom Pehm dan dibangun dengan dana bantuan dari Ke-Emiran Dubai, Uni Emirat Arab. Berbagai asal mengungkapkan bahwa pembangun masjid tadi bernama Mahmoud Abdallah Kasim & Hisham Nasir (mungkin yg dimaksud merupakan Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal). Mereka tidak aja mendanai pembangunan masjid Nurul Ihsan ini, & nir itu saja mereka jua membantu memberangkatkan 30 muslim Cham setiap tahun menunaikan ibadah haji.

Di sekitar tahun 2011-2012 pemerintah Kamboja membuat keputusan kontroversial dengan melakukan proyek reklamasi terhadap danau Boeng Kak. Keseluruhan danau tersebut ditimbun dengan pasir sedot yang dialirkan langsung dari Danau Tonle Sap dan sungai Mekhong menggunakan pipa. Protes keras dari warga setempat hingga ke lembaga amnesti Internasional tak mengentikan proyek tersebut. Danau Boeng Kak kini sudah tak ada lagi berganti menjadi lahan terbuka yang luas dan sudah mulai dibangun kawasan bisnis seperti yang direncanakan semula oleh pemerintah Kamboja.

Di tahun yang sama masjid Nurul Ikhsan yang sudah lama tidak terawat dengan baik karena masalah dana, sudah mengalami kerusakan parah disana sini, sebagian pondasinya bahkan sudah amblas dan terancam roboh sehingga membutuhkan dana cukup besar untuk perbaikan menyeluruh. Di Bulan Juni tahun 2011 dilaksanakan penandatangan nota kesepahaman antara Pemerintah Kamboja dengan Perwakilan Pemerintah Uni Emirat Arab, bagi bantuan dana untuk pembangunan ulang Masjid Nurul Ihsan.

Penandatangan kesepakatan pembangunan masjid ini ditandatangani oleh Usman Hasan, Presiden CMDA (Cambodia Muslim Depelovement Association) sekaligus sebagai sekretaris menteri tenaga kerja Kamboja bersama dengan Sheik Eisa Bin Nasser bin Abdullatif Al-Serkal dari Uni Emirab Arab, pada tanggal 22 Juni 2011.

Tak nampak seperti pada Kamboja. Arsitektur masjid Al-Serkal pada pusat kota Phnom Penh, Kamboja ini sangat mencolok perbedaannya menggunakan bangunan disekitarnya. Mengaskan kehadiran Islam pada Negara tersebut.

Pembangunan Masjid Agung Al-Serkal

Proyek pembangunan Masjid dimulai menggunakan merobohkan total seluruh bangunan Masjid Nurul Ikhsan. Saat bangunan masjid Nurul Ikhsan pada robohkan, sebagai ganti nya dibangun bangunan masjid darurat di halaman masjid ini menjadi tempat peribadatan sementara selama proyek pembangunan berlangsung. Sebuah bangunan bertulang baja berdinding dan beratap seng menggunakan lantai semen cor. Atap bangunan sementaranya dibuat relatif tinggi buat mengurangi panasnya suhu pada dalam masjid beratap seng tersebut, ditambah menggunakan jejeran kipas kipas angin gantung di dalam masjid.

Masjid baru yg akan dibangun di lokasi ini sama sekali tidak sama dengan bangunan masjid sebelumnya. Nantinya masjid baru ini dibangun pada gaya arsitektural Turki yg menonjolkan menara menara tinggi dan kubah kubah besar di atap masjid. Tim pakar dari Uni Emirat Arab akan terlibat langsung dalam penanganan proses pembangunannya. Proses pembangunan masjid baru tadi memakan waktu selama 18 (delapan belas) bulan.

Peresmian Masjid Agung Al-Serkal

Masjid Agung Al-Serkal diresmikan oleh Perdana MenteriKamboja, Hun Sen pada tanggal 27 Maret 2015. Upacara peresmian tersebut di hadiri oleh lebih dari seribu jemaah yang memadati areal masjid ini. Wajah wajah sumringah penuh bahagia menyambut dibukanya masjid tersebut secara resmi. Masjid Al-Serkal menjadi masjid terbesar di Kamboja dan merupakan catatan penting dalam sejarah perkembangan Islam diKamboja, sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Yahya, selaku presiden Yayasan Pengembangan MuslimKamboja atau the Cambodian Muslim Community Development Organization (CMDF).

Pada upacara peresmian masjid Al-Serkal ini, perdana menteri Hun Sen menyampaikan rasa bangga nya kepada muslimKamboja yang hidup damai tanpa ada masalah dengan kelompok agama lain, dan juga tidak ada masalah dengan isue Suni dan Syiah seperti di kebanyakan negara lainnya. MuslimKamboja pernah mengalami masa teramat sulit, manakala negara tersebut berada di bawah rezim Khmer Merah yang beraliran Ultra Maois, hampir separuh muslim disana menjadi korban pembantaian selama kekuasaan rezim tersebut.

Perdana Menteri Hun Sen ketika pelantikan Masjid Agung Al-Serkal

Dengan diresmikannya masjid Agung Al-Serkal ini, tidak saja menjadi pusat Ke-Islaman diKamboja namun juga menjadi objek wisata ruhani bagi negara tersebut. Megahnya bangunan masjid dengan biaya pembangunan yang tidak sedikit dan lokasinya yang berada di pusat kota Phom Penh tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang datang kesana terutama bagi para pelancong muslim, dan disisi lain tentunya akan menambah ghirah bagi kaum muslimin disana.

Upacara peresmian masjid ini berlangsung meriah dihadiri muslim pria dan wanita dari segala usia tumpah ruah ke area masjid untuk menyaksikan momen penting tersebut. Selesai acara peresmian dilanjutkan dengan sholat Jum’at berjamaah. Pengunjung disana menyempatkan makan siang dan belanja di kios kios yang berjejer di halaman masjid. Masjid Al-Serkal menjadi masjid termegah diantara 500 masjid diKamboja.

Bersambung ke bagian dua

-----------------

Artikel Terkait

Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh bagian 1

Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh agian 2.

Islam & Masjid di Kamboja (bagian 1)

Islam dan Masjid pada Kamboja (bagian dua)

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami? Vientiane, Laos

Islam dan Masjid di Laos (bagian 1)

Islam & Masjid di Laos (bagian 2)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian dua)

Masjid Agung Al-Serkal, Terbesar di Kamboja (Bagian 2)

Megahnya Masjid Agung Al-Serkal

Arsitektur Masjid Agung Al-Serkal

Masjid Agung Al-Serkal dibangun dengan gaya masjid modern dengan sentuhan Turki Usmani, telihat menurut bangun kubah besarnya yg sebagai atap primer bangunan masjid ditopang sang 2 bangun semi kubah menyokong kubah utama di atapnya. Dua menara tinggi mengapit bangunan primer masjid. Sentuhan arabia jua terlihat pada bangunan masjid ini. Keliru satu ciri primer menara masjid Turki Usmani adalah bangunan menaranya yang lancip menjulang, namun tidak seluruhnya di aplikasikan pada masjid ini.

Bangunan menaranya berbentuk bundar menggunakan landasan berbentuk segi empat mengerucut, dan badan menaranya makin ke ujung makin mengerucut. Ada 3 balkoni di setiap menaranya & di ujung menara di tempatkan simbol bulan sabit yg sedikit berdiri nir misalnya bentuk bulan sabit menara Turki Usamani yg bentuk bulan sabitnya simetris terbuka ke atas.

Baru dan Lama. Masjid Agung Al-Serkal dilihat dari arah pintu gerbang

Seluruh tembok sebelah luarnya pada tutup dengan batuan alami bewarna putih gading, sedangkan landasan masjid dibangun relatif tinggi berdasarkan permukaan tanah disekelilingnya menambah kesan lebih megah pada bangunan masjid ini. Ada lebih menurut 2 puluh anak tangga lebar yang wajib pada daki buat menuju ke pintu primer masjid ini. Empat jendela ukuran besar pada bagian depan ditambah menggunakan 2 jendela kaca di permukaan.

Bangunan utamanya berdenah segi empat. Ditambah dengan bangunan mihrab yg menjorok keluar keluar ke arah kiblat berdasarkan bangunan primer. Di sisi utara ditambahkan dengan bangunan serbaguna yg relatif akbar, digunakan menjadi tempat kerja pengelola dan tempat kerja lembaga lembaha Islam di Kamboja, begitu pun pada sisi selatannya. Kubah utamanya berada di titik pusat bangunan primer ditambah dengan empat kubah lebih mini masing masing di empat penjuru atap, ditambah lagi menggunakan enam kubah yg lebih kecil.

Megah pertama di tepian bekas danau Boeng Kak. Masjid Agung Al-Serkal ini menjadi bangunan megah pertama yang berdiri di sekitar bekas lokasi danau Boeng Kak yang sudah ditimbun,

Masjid ini pula dilengkapi menggunakan area loka berwudhu yg dibangun terpisah berdasarkan bangunan masjid. Bangunannya dibentuk menjadi pendopo terbuka beratap kubah yg juga berwarna coklat tembaga. Area tempat wudhu nya dilengkapi menggunakan bangku bangku menurut batu buat memudahkan jemaah ketika berwudhu.

Bila pada sisi utara dan selatan kubah primer pada topang menggunakan 2 bangun semi kubah, maka disisi barat dan timurnya dibangun dinding berlengkungan akbar buat menempatkan 5 Jendela kaca ukuran akbar. Garis lengkungan dalam 2 sisi ini menghadirkan aksen yg sangat kuat bagi bangunan masjid ini. Seluruh kubah kubah masjid ini termasuk bagian ujung menaranya diberi rona menggunakan warna cokelat tembaga.

Meriahnya upacara pelantikan Masjid Agung Al-Serkal

Muslim Kamboja terutama yang ditinggal di kota Phnom Penh memang cukup beruntung, karena bangunan masjid ini nir saja berukuran besar & sangat megah tapi pula mempunyai lahan yang sangat luas sebagai akibatnya nir sebagai masalah buat lahan parkir. Panitia pembangunannya jua nir dipusingkan buat mencari lahan bagi keperluan menciptakan masjid darurat dalam waktu proyek pembangunan masjid sedang berlangsung, sebagai akibatnya semua proses peribadatan dan aktivitas ke-Islaman lainnya permanen berjalan normal meskipun bangunan masjid Nurul Ikhsan yg sebelumnya berdiri sudah dirobohkan & bangunan masjid yg baru sedang pada termin pembangunan.

Kesan megah sangat terasa saat masuk ke dalam masjid. Langi langit ruang sholat utamanya berbentuk elipse hasil menurut bentukan kubah utama dan 2 bangun semi kubah yg menopangnya. Struktur tersebut ditopang menggunakan empat pilar segi empat ukuran cukup besar yang berdiri kokoh ditengah masjid. Sebuah lampu gantung dengan bentuk yg unik bewarna coklat tembaga menggantung latif di bawah kubah utama.

Perdana Menteri Hun Sen beserta istri waktu berkunjung ke dalam Masjid Al-Serkal, Sesaat sesudah upacara peresmian.

Seluruh lantai masjid di tutup dengan karpet tebal bewarna hijau santai dengan ornamen floral bewarna coklat dan merah hati, begitupun menggunakan garis shaf nya. Hampir semua dinding bagian pada masjid ini dihiasi menggunakan aneka macam ornamen floral menghadirkan estetika & ketenangan di pada masjid ini. Mihrabnya dibangun berupa ceruk berbentuk lengkungan dengan sedikit sentuhan goresan yg tak telalu meriah. Sedangkan Mimbarnya dibentuk berdasarkan kayu yang nir telalu tinggi seperti lazim nya mimbar mimbar di masjid masjid bergaya Turki Usmani lainnya.

Hadirnya masjid Agung Al-Serkal pada pusat kota Phnom Penh ini memang adalah titik balik bagi muslim Kamboja secara keseluruhan. Setelah sebelumnya perjalanan muslim disana berdarah darah oleh kekejaman rezim pemerintahan Khmer Merah. Kini muslim Kamboja mempunyai kehidupan baru dengan perhatian dari pemerintah & donasi berdasarkan aneka macam negara Islam.*** (Selesai)

---------------------

Artikel Terkait

Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh bagian 1

Masjid Internasinal Dubai Phnom Penh agian 2.

Islam & Masjid pada Kamboja (bagian 1)

Islam & Masjid di Kamboja (bagian 2)

Masjid Azhar Vientiane, Laos

Masjid Jami? Vientiane, Laos

Islam dan Masjid di Laos (bagian 1)

Islam dan Masjid di Laos (bagian dua)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian dua)

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done