Islami Pedia: islam di afrika
News Update
Loading...
Showing posts with label islam di afrika. Show all posts
Showing posts with label islam di afrika. Show all posts

Saturday, October 3, 2020

Islam di Senegal

Peta Republik Senegal

Pernah mendengar tentang ajang balap lintas gurun ekstrim Paris-Dakar ?. Dakar yang diklaim dalam judul ajang balap tadi adalah Ibukota negara Republik Senegal. Republic of Senegal atau dalam bahasa Prancis diklaim R?Publique du S?N?Gal adalah keliru satu negara pada pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis. Semasa penjajahan oleh bangsa Eropa, Wilayah ini terbagi pada dua kekuasaan, daerah disepanjang sungai Ghambia yang tidak lebih luas menurut propinsi Gorontalo merupakan wilayah jajahan Inggris dan dikemudian hari sebagai Republik Gambia beribukota di Banjul di muara sungai Ghambia pada tepian Samudera Atlantik. Seluruh wilayah daratan Ghambia berada ditengah tengah Negara Republik Senegal.

Sebagai negara bekas jajahan Prancis, Senegal memakai Bahasa Prancis menjadi bahasa resmi negara, tetapi mengakui bahasa Wolof, Soninke, Seres dan bahasa lokal lainnya menjadi bahasa nasional. Suku Wolof adalah suku terbesar di Senegal menggunakan rasio kurang lebih 43.Tiga% dari keseluruha populasi penduduknya, menyusul lalu suku Pular (23.8%), Serer (14.7%), Jola (tiga.7%), Mandinka (3.0%) Soninka (1.1%), Eropa (1.0%) & keturunan Lebanon sekitar 9.4%.

Senegal merdeka menurut Prancis pada lepas 20 Juni 1960, sempat bergabung pada Federasi Mali tetapi tak berlangsung lama lalu keluar berdasarkan Federasi dalam tanggal 20 Agustus 1960. Senegal pula pernah membentuk Federasi bersama menggunakan Ghambia dengan nama Senghambia namun pula tak berlangsung usang dan bubar pada tahun 1989. Luas holistik wilayah Senegal lebih kurang 196,723 km2 ditambah dengan wilayah perairan seluas 76,000 sq mi. Jumlah penduduk Negara ini di tahun 2011 lebih kurang 12,855,153. Iklim di Senegal hampir sama dengan di Indonesia, hanya memiliki dua trend, kering dan trend hujan. Wilayah negara Senegal berbatasan menggunakan Mauritania pada utara, Mali disebelah timur, Guyana & Guyana Bissau disebelah selatan & sisi sebelah baratnya menghadap ke Samudera Atlantis. Di bagian dalam wilayahnya berbatasan dengan negara Ghambia.

Masjid masjid akbar di Senegal homogen rata dibangun buat menghormati tokoh tokoh Islam terkenal disana, seperti para wali bila di Indonesia. Seperti Masjid Agung Touba yg ada di foto ini dibangun disebelah makam Syeikh Amadou Bamba yg adalah pendiri Tharikat Mouridiyyah. Hingga kini Kota Touba merupakan kota kudus pusat aktivitas Thariqat Mouridiyah.

Ibukota negara Senegal berada pada kota Dakar yang berada pada bagian ujung paling timur wilayah negara pada semenanjung Cap Vert yang menjorok ke Samudera Atlantik. Sekitar 500 kilometer dilepas pantai Dakar ini masih ada pulau Cape Verde. Sepanjang abad ke 17 sampai abad ke 18 daerah ini sebagai pos perdagangan bagi berbagai dinasti sampai lalu Prancis mendirikan pusat kekuasaannya pada kota St. Louis sebagai ibukota Prancis Afrika Barat (Afrique occidentale fran?Aise, or AOF) sebelum lalu dipundahkan ke Dakar pada tahun 1902.

Berawal menurut Salah Sebut

Nama Senegal diambil dari nama sungai yang sekarang menjadi batas daerah alami negara tersebut dengan Mauritania & Mali di sebelah utara & timur. Menurut pada teori David Boilat (1853) Kata Senegal sebenarnya asal dari bahasa Wolof ?Sunu gaal? Yang berarti ?Kanu (sampan) Kami? Tetapi terjadi miskomunikasi antara pelaut Portugis dengan para nelayan suku Wolof sehingga Para pelaut Portugis di sekitar abad ke 15 yang menyebut wilayah itu dengan nama Senegal. Namun para sejarawan modern menyebutkan teori yg lain bahwa Nama Senegal dari menurut nama suku Zenaga yang tinggal disebelah utara sungai Senegal waktu ini, teori lainnya merogoh menurut catatan geografer arab yg menuliskan nama Sanghana sebagai sebuah kota di abad pertengahan tetapi secara umum teori pertama jauh lebih populer. Tetapi dalam kepercayaan suku Serer mereka konfiden bahwa Sene Gall merupakan 2 istilah yg berarti ?Badan air? Alias Sungai.

Islam d i Senegal

Islam merupakan kepercayaan dominan di Senegal, diperkirakan kurang lebih 95% penduduk negara tadi merupakan pemeluk kepercayaan Islam. Islam sudah hadir di Senegal lebih menurut satu mileniemum. Kelompok etnik pertama yg masuk Islam merupakan orang orang dari suku Toucouleur di lebih kurang abad ke 11 masehi, & menggunakan cepat Islam berkembang disana sebagai akibatnya di awal abad ke 20 hampir semua orang Senegal telah beragama Islam. Sebagaian akbar muslim disana menganut aliran Tharikat Sufi Islam dan dalam rasio lebih kurang 1% dari mereka menganut Ahmadiyah.

Masjid Sheikh Oumar Foutiyou pada kota Dakar, perhatikan bentuk menaranya yang sangat spesial .

Ajaran sufi sangat kental dalam kehidupan muslim Senegal, lantaran memang menilik sejarah masuk & berkembangnya Islam disana tidak lepas berdasarkan peran para tokoh sufi. Hingga kini tradisi sufisme merupakan arus primer dan pimpinan masing masing Tharikat sebagai sosok yang teramat krusial pada dalam rakyat.

Sejarah Islam pada Senegal

Islam masuk ke daerah yg ketika ini dikenal sebagai negara Senegal pada permulaan abad ke sebelas masehi dengan mualafnya orang orang berdasarkan suku Toucouleurs, yang dalam mulanya dimulai kepala suku (dalam bahasa setempat diklaim Damel) Kerajaan Cayor yg bernama Lat Dyor Diop yg masuk Islam. Setelah ber-Islam beliau bersatu dengan kerajaan kerajaan menurut suku Wolof & Fulani lainnya buat menentang kolonialisasi sang Prancis disana.

Perubahan fundamental dilakukan oleh kepala suku (almamy) Rip, bernama Maba Diakhou B?, Selain mengganti sistem tata negara ke pada sistem Islam, beliau jua berupaya menghapus sistem tradisional keningratan Etnis Wolof siste aristokrasi Serer dalam upaya bergabung dengan kekuatan kekuatan muslim lainya, termasuk menjaiin kerjasama dengan Kekaisaran Islam di Mali dibawah pimpinan El Hadj Umar Tall.

Di penghujung abad ke 19, Tharikat tharikat Sufi Islam di Senegal termasuk Tharikat Tijani dan Mouridiyyah berjuang membebaskan diri menurut penjajahan Prancis & Inggris pada tanah air mereka. Namun seiring dengan ditangkapnya para tokoh masing masing Tharikat seperti Syeikh Malick Sy & Syeikh Amadou Bamba, perlawanan para pengikut Tharikat disana berubah menjadi perjuangan kebebasan menjalankan kepercayaan .

Prancis yang menjajah Senegal menjadikan wilayah itu sebagai sebuah negara menggunakan sistem Sekuler & bertaha hingga sekarang meski sudah merdeka dari penjajahan Prancis namun negara menjamin kebebasan beragama bagi warganegaranya. Meski demikian pengaruh Tharikat Sufi Islam dalam dunia politik sangat bertenaga di negara ini.

Tharikat Islam pada Senegal

Muslim pada Senegal hampir seluruhnya adalah anggota berdasarkan salah satu Tharikat Sufi Islam. Dua Tharikat Sufi Islam terbesar dinegara itu adalah Tharikat Maouridiyyah dan Tharikat Tijaniyyah, termasuk juga Tharikat Qodiriyyah dan beberapa tharikat tharikat lainnya meski menggunakan pengikut yang relatif sedikit. Tharikat Tijaniyyah mempunyai basis pengikut pada Kota Tivaouane & Kaolack, sedangkan Tharikat Maouridiyyah berbasis pada kota Touba. Masing masing Individu bergabung menggunakan salah satu Tharikat lantaran faktor keturunan ataupun karena pilihan langsung masing masing.

Syeikh Amadou Bamba, pendiri berdasarkan Tharikat Mouridiyyah sendiri asal berdasarkan famili pengikut Tharikat Qoddiriyyah.

Tharikat Mouridiyyah merupakan Tharikat asli dari Senegal yang berpusat di kota Touba sedangkan Tharikat Tijaniyyah berasal dari Kawasan Afrika utara kemudian menyebar ke Afrika barat termasuk wilayah Mali, Mauritania dan Senegal. Tharikat Qodiriyyah awalnya berdiri di Mauritania kemudian menyebar hingga ke Senegal. Tharikat Qodirriyah merupakan Kelompok Tharikat pertama dan tertua di Senegal. Syeikh Amadou Bamba, pendiri berdasarkan Tharikat Mouridiyyah sendiri asal berdasarkan famili pengikut Tharikat Qoddiriyyah. Dari jumlah pengikut, Tharikat Tijaniyyah sebenarnya merupakan Tharikat dengan pengikut terbesar di Senegal namun dari sisi Organisasi dan kapasitasnya mereka kalah populer dibandingkan dengan Tharikat Moudridiyyah. Masjid Tharikat Tijaniyyah di kota Tivaouane merupakan tempat kedua yang paling banyak dikunjungi jemaah di Senegal setelah masjid Agung Touba.

Syeikh Amadou Bamba adalah tokoh sentral menurut Tharikat Mouridiyyah yg dibentuknya seja masa penjajahan Prancis di sekitar tahun 1887. Setelah dua kali mengalami penangkapan & pengasingan sang Penguasa Prancis ahirnya dia dibebaskan & diberikan hak buat membangun komunitas sendiri pada Kota Touba. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis pada perang dunia pertama.

Kota Touba kemudian berkembang menjadi pusat Tharikat Maouridiyah. Sebuah masjid berukuran sangat besar bernama Masjid Agung Touba dibangun disamping makamnya 40 tahun setelah beliau wafat, dan sekali dalam setahun, pada  hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, hampir dua juta pengikut Tharikat Mouridiyah membanjiri kota tersebut memperingati hari kembalinya Syeikh Bamba dari pengasingan yang disebut peringatan Grand Magal. Kota Touba sendiri memiliki status khusus di Senegal sejak masa penjajahan Prancis, mirip seperti sebuah negara di dalam negara. Di Touba penguasanya hanya satu yakni Khalifah dari Tharikat Mouridiyah yang merupakan keturunan dari Syeikh Bamba ataupun salah satu dari pengikut setianya yang terpilih. Tak ada gubernur, walikota atau pejabat pemerintahan lainnya bahkan tidak ada polisi ataupun tentara, semua sektor kehidupan dibawah kendali Khalifah Tharikat dan para aparaturnya.

Menara Masjid Rabbani pada daerah Oakam, pinggiran kota Dakar. Menggunakan bentuknya yg unik. Bangunan masjid masjid pada Senegal nyaris tidak ada pola tertentu yang menjadi isu terkini atau gaya nasional misalnya di Indonesia.

Tharikat Mauridiyyah Memiliki impak yg sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya beredar sampai ke Paris & New York city dan banyak sekali kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yg terkenal merupakan Presiden Senegal Abdoulaye Wade yg menang pada pemilihan presiden selesainya mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf berdasarkan Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba buat meminta restu berdasarkan Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (S?Ri? Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Di kota Touba nyaris tidak pernah terjadi tindak kriminal disepanjang sejarahnya, aturan Islam secara ketat diberlakukan pada kota itu. Alkohol & sejenisnya, rokok & sejenisnya, tarian & musik bahkan bermain game pun terlarang di kota itu. (seperti dengan di Indonesia) Mushola dan masjid adalah bangunan yang wajar terlihat dimana mana. Seperti pada kota kudus Mekah, di kota Touba-pun denyut nadi perekonomian dan semua aktivitas terhenti waktu terdengat suara azan. Muslim disana bergegas menuju mushola atau masjid terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah.***

-------------------

Baca Juga

Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Masjid King Fahd di Banjul - Gambia

Masjid Larabanga, Masjid Pertama di Larabanga dan Afrika Barat

Masjid (bernama) Indonesia pada Maroko

Masjid Hassan II ?Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Wednesday, August 26, 2020

Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo

Tinggi menjulang di atas benteng Salahudin di atas bukit kota Kairo, Masjid Muhammad Ali Pasha tak pelak lagi menjadi landmark kota Kairo (foto dari wikipedia)

Tak galat bila Kairo dijuluki menjadi kota seribu menara, kota ini memang bertabur menara menara masjid latif berdasarkan banyak sekali era kekuasaan yang silih berganti menguasai Mesir. Salah satu masjid dengan menara tinggi & dapat dilihat dari jeda yang begitu jauh karena berada diketinggian Benteng Shalahuddin di atas sebuah bukit pada kota Kairo, yakni Masjid Muhammad Ali Pasha. Saking tingginya lokasi masjid ini, Ketika sudah berada disana, pengunjung dapat melihat hampir seantero Kota Kairo, bersama sungai Nil dan piramida dikejauhan berdasarkan laman masjid.

Tak pelak lagi menggunakan posisinya yg berada pada ketinggian & bisa dilihat berdasarkan aneka macam sudut kota, masjid ini menggunakan secara otomatis menjadi landmark kota Kairo. Masjid Muhammad Ali Pasha dinamai sinkron dengan nama Muhammad Ali Pasha penguasa Mesir berdasarkan dinasti Muhammad Ali, dinasti Islam terahir yang berkuasa pada Mesir sebelum lalu negeri ini berubah sebagai Republik sampai saat ini. Masjid Muhammad Ali Pasha mempunyai banyak nama lain, antara lain merupakan Masjid Alabaster lantaran sebagian besar dilapisi dengan marmer alabaster. Kadangkala juga disebut menjadi masjid Almarmari merujuk pada bahan marmer yang mendominasi bangunan masjid ini.

Masjid ini sengaja dibangun sang Muhammad Ali Pasha ditahun 1830 hingga 1848, buat mengenang Tusun Pasha, putra tertua-nya yang mangkat pada tahun 1816. Untuk membentuk masjid tersebut, dia mengundang sejumlah insinyur berdasarkan Prancis & Italia buat merancang Masjid ini. Diantara pandangan baru cemerlang yang dikemukakan para insinyur yang mendirikan Masjid Muhammad Ali Pasha merupakan pemilihan lokasi yang unik, yakni di puncak Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada pada pinggiran Kota Kairo. Dengan dipilihnya lokasi tersebut, panorama pada lebih kurang benteng tersebut pun sebagai sahih-benar berubah. Rekonstruksi Masjid Muhammad Ali Pasha dimulai pada tahun 1830 atau sekitar tujuh abad selesainya berdirinya Citadel dan selesai tahun 1848.

Jazad Muhammad Ali Pasha sendiri ahirnya pada makamkan di laman masjid ini. Muhammad Ali Pasha wafat di Istana Ras el-Tin Palace di Alexandria dalam tanggal 2 Agustus 1849 dan dimakamkan pada pemakaman Hosh al-Basha. Adalah Raja Abbas I yang tidak lain merupakan cucu dari Muhammad Ali Pasha, putra berdasarkan Tusun Pasha yang lalu memindahkan makam Muhammad Ali Pasha ke halaman masjid ini pada tahun 1857.

Menurut segi ukuran, Masjid Muhammad Ali Pasha ini adalah masjid terbesar yang pernah dibangun di awal abad ke 19, terutama di Mesir dan Afrika.

Bergaya Turki menggunakan sentuhan Prancis dan Italia

Masjid Muhammad Ali Pasha secara umum dibangun dengan mengadopsi gaya masjid dinasti Usmaniyah, bangunan masjid dengan 2 butir menara tinggi yang ramping dan runcing seperti sebuah pinsil, mengapit kubah utama & sejumlah kubah mini disekitarnya. Tinggi kedua menara ini mencapai 82 meter. Sementara itu, bagian kubahnya dibuat megah dan tinggi, mirip dengan Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Bangunan utamanya terdiri berdasarkan dua bagian. Pada bagian luar, terdapat tempat berwudhu yg letaknya sempurna pada tengah-tengah halaman masjid dan sebuah menara jam yang adalah hadiah menurut Raja Prancis, Louis Philippe I, pada tahun 1846. Konon, sebagai bantuan gratis balasan, Raja Muhammad Ali Pasha menaruh obelisk Ramses II menurut Kuil Luxor yg masih ada pada pintu masuk. Saat ini, obelisk Ramses II tersebut masih bisa dilihat di Place de la Concorde, Paris, Prancis.

Interior Masjid Muhammad Ali Pasha, tidak jauh tidak sinkron menggunakan interior masjid masjid berdasarkan masa Usmaniyah lainnya. Terutama Masjid Aya Sofia pada Istambul, Turki.

Ruang shalat berada pada bawah kubah-kubah yang terdiri atas satu kubah utama yang berada di tengah dan empat kubah berukuran menengah (sedang) serta empat kubah kecil yang mengapit kubah utama. Bagian langit-langit zenit kubah (menurut pada) dihiasi goresan geometris menggunakan empat pojok yang terukir kaligrafi empat nama Khulafaur Rasyidin. Dinding ruang sholat diberi celah-celah yg dihias menggunakan kaca patri berwarna-warni & pilar pilar pualam yang tidak membuat ruangan masjid tersebut terasa sempit. Di samping pilar pilar primer terdapat juga pilar pualam ramping yg menyangga atap dan kubah-kubah kecil.

Di pada Benteng Salahudin ini Selain Masjid Muhammad Ali jua terdapat dua museum, yaitu Museum Permata (Qashrul Jawharah) yg berisi perhiasan raja-raja Mesir, Singgasana Raja Farouk, & Museum Polisi (Mathaf As-Syurthah) yg terdiri menurut 6 bagian (diantaranya ruangan yang memamerkan senjata-senjata yg pernah dipakai polisi Mesir sepanjang sejarahnya, ruangan dokumen-dokumen krusial sejak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha hingga kini , dan ruangan-ruangan lainnya.

Menjulang di titik tertinggi benteng Shalahuddin

---------------------

Baca Juga

Masjid Amru Bin Ash

Masjid Omar Makram, Saksi Bisu Reformasi Mesir

Sunday, August 23, 2020

Islam di Kamerun

Kamerun merupakan negara yang berada di pantai barat bagian tengah benua Afika berbatasan menggunakan Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon & Equatorial Guinea. Nama Kamerun timbul berdasarkan orang orang Portugis yg mendarat di pantai kamerun tahun 1472 & melihat banyak usang pada perairannya, sebagai akibatnya menamakannya Rio des Cameroes (Sungai Udang).

Dengan daerah seluas 475.440 km2, Ibukora negaranya berada di kota YAOUNDE (semula beribukota di Buea) dan terbagi dalam 10 propinsi. Penduduk Kamerun cukup padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri menurut suku orisinil Afrika (black African) sebesar 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku orisinil Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang menurut Eropa & Arab. Mata uang yg dipakai adalah Comnmunaute Financiere Africaine Francs (XAF), & US $ 1,- berharga kurang lebih 581.2 XAF.

Kamerun juga dikenal memiliki tradisi sepakbola yg handal, sejak diperkenalkan oleh Jerman dalam tahun 1926. Pernah menjuarai Piala Afrika sebesar lima kali (1965-1980), dan terakhir, Kamerun dikenal global karena menjadi peserta pada Worldcup sejak tahun 1982. Kamerun jua banyak menelorkan pemain kelas global antara lain Roger Milla, Patrick Mboma, & Samuel Eto?O.

Bek Persib Jadi Mualaf. Abanda Herman (berpeci putih), Salah satu pesebakbola asal Kamerun yang maang melintang di persepakbolaan di Indonesia.  di tahun 2013 mengucapkan dua kalimah sahadat di Masjid Kiara Condong Bandung. kala itu dia memang sedang memperkuat tim kesebelasan Maung Bandung, Persib.

Kamerun sering dianggap menjadi Miniatur nya Afrika lantaran keberagaman nya mulai menurut keberagaman iklim, budaya, agama grup etnit nya, bahkan bahasa nasionalnya pun menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris lebih banyak didominasi dipakai di wilayah utara yg merupakan bekas jajahan Inggris, sekaligus Bahasa Prancis yg secara umum dikuasai digunakan dibagian selatan yang adalah bekas jajahan Prancis ditambah lagi menggunakan 24 bahasa lokal. Iklimnya mulai dari iklim tropis di daerah pantai hingga ke daratan sedangkan di wilayahnya beriklim panas. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik & Protestan) 40% & animis 40%

Islam dan Kemerdekaan Kamerun

Portugis merupakan kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu kurang lebih abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini tiba ke Kamerun buat memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), & Kamerun dijadikan protektorat Inggris.

Namun dalam tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian menggunakan Raja Doula, & pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris & Perancis berhasil mengusir Jerman menurut Kamerun, ke 2 negara terakhir menyebarkan kekuasaan pada Kamerun.

Abanda Herman bukanlah satu satunya pesebakbola Kamerun yang menemukan hidayahnya di luar negeri. di tahun 2014,23 Pesebakbola Kamerun masuk islam berbarengan saat mengikuti kamp latihan di Dubai Uni Emirat Arab.

Perjuangan buat memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai sesudah perang dunia kedua, yaitu saat pada tahun 1955 muncul revolusi pada wilayah kekuasaan Perancis yg dipelopori sang Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori sang suku Bamileke dan Bassa.

Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati menurut suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya l?Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya dalam tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pmerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, lantaran penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen & berbahas Perancis belum mampu mendapat kemerdekaan.

Untuk itu, pemerintah Kamerun pada bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum merupakan, penduduk bagian utara yan didominasi Islam & berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung menggunakan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, waktu disepakati adanya konstitusi baru yg dalam intinya membangun Republik Kesatuan Kamerun.

Pada pemerintahan Ahijo ini terdapat dua hal yg perlu dicatat, yaitu pertama mempersatukan dua wilayah yg bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Perancis, kedua berhasil memajukan pertanian & industri, sebagai akibatnya Kamerun sebagai negara Afrika termakmur (ekonomi stabil) & sebagai keliru satu negara Afrika yang mempunyai income per-kapita tertinggi.

Masjid AgungNgaoundéré, di bagian utara Cameroon

Pada tanggal 6 Nopember 1982, Ahijo mengundurkan diri menjadi presiden lantaran alasan kesehatan, & digantikan oleh PAUL BIYA. Ahijo wafat di Dakar, Senegal pada lepas 30 Nopember 1989. Pada tahun 1988, Paul Biya terpilih balik sebagai presiden dengan perolehan bunyi 98,75%. Seiring demokrasi yang semakin tumbuh di Kamerun, maka pada tahun 2004, diadakan pemilu multipartai, & Paul Biya, sekali lagi tetap terpilih sebagai presiden, dengan peroleh bunyi 70,90%. Saat ini Kamerun sedang menghadapi dilema-persoalan perbatasan menggunakan Nigeria, Chad dan Equatorial Guinea.

Islam di Kamerun

Jauh sebelum bangsa Eropa manapun mengenal Kamerun, Islam sebenarnya telah hadir di Kamerun semenjak abad ke 10, dibawa oleh para pedagang Arab yg datang berniaga ke tempat tersebut sekaligus membuatkan Islam pada wilayah utara. Mereka berdagang emas, garam, tembaga & budak. Tetapi Islam baru dikenal secara luas di abad ke 19 atau lebih kurang tahun 1800-an oleh Etnis Fulani. Etnis Fulani membawa Islam ke Afrika Barat pada abad ke-19 atau sekitar tahun 1800-an terutama melalui aktivitas komersial dan Thariqoh Sufi Islam Qadiriyah & Tijaniyah. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara & tengah hingga kini . Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang dalam abad ke-19, tetapi hampir menguasai semua aspek kehidupan rakyat Kamerun.

Muslim Kamerun

Penduduk Muslim di Kamerun terdiri berdasarkan lebih kurang 24 % dari sekitar 21 juta penduduk Kamerun. 27% Muslim Kamerun merupakan muslim Suni, 12% Ahmadiyah and 3% Syi?Ah, sedangkan sisanya nir mengikuti kelompok manapun. Menariknya lagi 48% muslim Kamerun mengaku sebagai pengikut galat satu Thariqat Sufi Islam, hal tadi memang dapat dimengerti mengingat bahwa Islam berkembang disana galat satunya karena memang diperkenalkan secara luas sang gerombolan Thariqat Sufi.

Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin sang dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam pada Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger juga Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu pada Kamerun ini berlanjut sampai abad ke-15. Islam sebagai kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, waktu suku Fulani (Fulbe) menguasai wilayah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yg meliputi Kamerun & Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus menjadi Gubernur propinsi Adamawa.

Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih membuatkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai ketika ini menguasai pemerintahan modern pada Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun & Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani sudah mengekspansi Kerajaan Bamoun yg didirikan sang Nshare Yen, & kerajaan Bamoun baru mendapat Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Pemandangan di salah satu desa Muslim pada Ngoundere, Utara Kamerun.

Sepakterjang suku Fulani, yg notabene merupakan Islam, sangat diakui keberadaannya pada Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani merupakan El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani & terpilih menjadi presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak bisa diteruskan sang kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya.

Pada pemilu 2004, galat seseorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih menjadi presiden Kamerun, & hanya memperoleh suara 4,lima%. Padahal dia merupakan tokoh muslim Kamerun waktu ini, & mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, diantaranya, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih poly lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya.

Perjuangan Islam pada Kamerun saat ini memang tergolong berat, lantaran sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini ditimbulkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Isu regional terkait Boko Haram sempat dijadikan alasan pemerintah Kamerun menutup Masjid & Islamic Center di wilayah bagian Barat negara itu menggunakan dalih buat menghindari kenaikan agresi bom bunuh diri berdasarkan Boko Haram. Sebuah keputusan yang menuai protes keras dari para ulama dan muslim Kamerun.

Namun, apapun yg terjadi, Islam pada Kamerun sudah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, & ummat Islam pada sana, tentu tak akan tinggal membisu, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.****

Wednesday, August 19, 2020

Islam di Mauritius (1)

Mauritius terletak di Samudera Hindia lebih kurang 5538.7 km berdasarkan Jakarta.

Mauritius merupakan salah satu negara pulau yang terletak di Samudera Hindia, terpisah lebih kurang 2000km dari lepas pantai tenggara benua afrika atau kurang lebih 900km sebelah timur pulau Madagaskar. Jika ditarik lurus, jarak menurut Indonesia ke Mauritius ini lebih kurang 5538.7 kilometer dan butuh waktu penerbangan dengan pesawat selama kurang lebih 13 jam. Negara Mauritius ini berbentuk Republik dengan seorang Presiden menjadi kepala Negara dan Seorang Perdana Menteri menjadi ketua pemerintahan. Ibukota negaranya berada di kota Port Louis.

Wilayah negara Mauritius terdiri dari beberapa pulau yang terpisah pisah di samudera Hindia, yakni Pulau Mauritius yang merupakan pulau terbesar, Pulau Rodrigues [560 kilometres sebelah timur, Pulau Agaléga, dan pulau St. Brandon. Mauritius juga mengklaim wilayah kepulauan Chagos yang kini merupakan wilayah seberang lautan Inggris Raya serta pulau Tromlin yang kini merupakan wilayah seberang lautan Prancis. Bila digabungkan seluruh daratan Mauritius ini seluruhnya seluas 2.040 km2 atau sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pulau Morotai di kabupaten Kepulauan Morotai, provinsi Maluku Utara yang memiliki luas 2.266km2.

Mauritius dianugerahi alam yang begitu mempesona, galat satu pemandangan alamnya yg mengundang decak kagum dunia merupakan pemandangan air terjun bawah laut yang sangat fenomenal, meskipun sebenarnya bukanlah air terjun yg sebenarnya tetapi karena memang jernihnya air laut disana menghasilkan pengaruh pemandangan yg luar biasa tadi.

Agama kepercayaan di Mauritius

Merujuk kepada data wikipedia agama Hindu memiliki penganut terbesar di Mauritius dengan presentase mencapai 48.5%, disusul dengan penganut agama Nasrani 32.7%, sedangkan Islam berada di urutan ke tiga dengan 17,3%, kemudian Budha 0.4% dan Agama lainnya sebesar 1.1%.

Masyarakat keturunan India (Indo-Mauritian) kebanyakan menganut agama Hindu dan Islam. Kemudian masyarakat keturunan Perancis (Franco-Mauritians), Keturunan Afrika (Creoles) dan Masyarakat keturunan China (Sino-Mauritians) kebanyakan menganut agama Kristen. Sebagian kecil dari Sino-Mauritian ini menganut gama Buda dan agama lainnya termasuk agama Islam. Konstitusi Mauritius tahun 1968 telah mengakui empat katagori agama yakni : Hindu, Muslim, Sino-Mauritian dan Masyarakat Umum.

Senja pada kota Port Louis, Ibukota Mauritius

Ada yg menarik tentang grup warga Sino-Mauritian ini. Seperti halnya bagian menurut gerombolan komunitas lainnya pada Mauritius, homogen homogen mereka tiba ke Mauritius secara sukarela buat berdagang & sebagainya termasuk gerombolan pendatang awal dari China, tetapi terdapat satu masalah dimana terdapat orang orang china yang ?Diculik? Dari Pulau Sumatera (Indonesia) tahun 1740 sang Laksamana Angkatan Laut Perancis, Admiral Charles Hector, untuk dipaksa bekerja di Mauritius. Mereka kemudian melakukan mogok kerja sebagai aksi protes atas penculikan mereka. Beruntung aksi tersebut nir berujung kematian sang tindakan kejam menurut oleh admiral, mereka lalu semuanya dikembalikan ke pulau Sumatera.

Islam di Mauritius

Masih merujuk kepada data Wikipedia, muslim di Mauritius sekitar 17.3% dari total penduduknya, data tersebut sama dengan data word fact book. Sementara situs muslimpopulation.com dan pewforum.org menampilkan data berdasarkan sensus tahun 2000 menyebutkan angka 16.6% atau setara dengan 214.000 jiwa dari sekitar 1.3 juta jiwa penduduk negara tersebut.

Masjid Jummah pada Port Louis

Di Mauritius sangat banyak Masjid & Madrasah. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Creole (Bahasa Resmi seperti dengan Bahasa Perancis), kemudian Bahasa Perancis, kemudian bahasa Inggris & Bahasa Arab. Mauritius merupakan bekas jajahan Perancis selama 20 th, & jua Inggris pada tahun 1950. Muslim Mauritius kebanyakan adalah keturunan India tetapi sekarang tumbuh & berkembang rakyat umum yang masuk Islam berdasarkan kelompok Creole serta menurut gerombolan Sino Mauritian serta berdasarkan masyarakat China. Komunitas muslim yg dari menurut majemuk latar belakang ini membuat keanekaragaman budaya muslim disana.

Pemerintah setempat memberikan kebebasan beragama bagi penduduknya & diatur dalam konstitusi. Idul Fitri telah lama di akui menjadi hari libur nasional sebagai akibatnya menaruh keleluasaan pada muslim disana buat berlebaran. Setiap hari Jum?At muslim disana jua diberi kesempatan untuk melaksanakan sholat jum?At berjamaan meskipun selama jam kerja dan setiap masjid disana bebas menyuarakan azan berdasarkan speaker masjid masjid-nya tanpa larangan ataupun keberatan dari komunitas pemeluk agama lain.

Kelompok Jemaah Tabligh cukup memainkan peran pada negara ini galat satu aktivitas mereka merupakan menggunakan membentuk Salat-ul-Khanah yakni semacam mushola kecil bagi muslim yang tinggal pada luar pulau Mauritius ataupun yg tinggal pada daerah non muslim sehingga jumlah mereka hanya sedikit saja. Mushola mushola mini sudah dibangun di wilayah Albion, Pointe aux Sables dan Petite Rivi?Re. Kelompok Jemaah Tabligh juga secara rutin melakukan kunjungan dakwah ke berbagai bagian daerah negara tadi.

Seorang turis asing mengikuti pengurus masjid masuk ke dalam komplek Masjid Jummah pada Port Louis untuk berkunjung.

Beragam model dakwah yg dilakukan di negara ini sudah mengundang minat berdasarkan masyarakat generik buat memeluk Islam. Dakwah konvensional sampai street dawah telah dilaksanakan semenjak beberapa tahun terahir oleh beberapa gerombolan muslim, menjadi bagian dari upaya menyampaikan risalah.

Kelompok grup Muslim Mauritius

sebagian akbar muslim Mauritius adalah muslim suni yg terbagi dalam aneka macam grup seperti Salafi, Sufi, Tawhidis dan Jeamaah Tabligh (JT). Mayoritas bermazhab Hanafi serta sebagian lagi bermazhab Syafe?I. Sebagian kecil muslim disana pula menganut faham Syiah dan Ahmadiyah.

Diantara kaum muslimin di Mauritius masih ada 3 kelompok yang dikenal menggunakan nama grup Memon dan Surti yakni gerombolan para pedagang kaya yg datang berdasarkan daerah Kutch dan Surat provinsi Gujarat, India. Kemudian kelompok Hindi Calcattias adalah kelompok muslim yang datang ke Mauritius menurut provinsi Bihar, India, menjadi para pekerja paksa di masa penjajahan. Sebuah Novel populer di Mauritius berjudul Humeirah karya Sabah Carrim, menceritakan tentang gerombolan Memons & Hindi Calcattias yang terdapat di Mauritius.***

Bersambung

---------------

Baca Juga

Islam di Reunion - Prancis

Masjid dan Islamic Center Sultan Thakurufaanu Al-A zzam - Maladewa

Masjid Hukuru Miskiiy, Masjid Tertua pada Maladewa

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami? Cheraman, Masjid Pertama pada India

Islam di Mauritius (2)

Jemaah sholat jum'at di masjid jummah Port Louis

Menurut sejarawan, kehadiran muslim di Mauritius telah dimulai dari tahun 1722. Mereka terdiri berdasarkan para artis, pelaut & pedagang menurut India. Satu data pasti bahwa pada tahun 1724 Ali Khan mengeluarkan petisi pada Gubernur de Nyon (1722-1725) untuk kebebasan istrinya berdasarkan perbudakan. Selama periode 1768-89, disebutkan bahwa disana ada 12 muslim india orisinil yang lahir di pulau Mauritius. Kemudian di tahun 1758 sekelompok pedagang India membentuk koloni pada menjalankan bisnis mereka di tahun 1758. Keluarga Gassy Sobedar tercatat dalam catatatan resmi sebagai keluarga muslim pertama yang tinggal pada Mauritius di tahun 1791. Dan masih di masa kolonial Perancis famili keluarga seperti Dina, Goumany dan Sakir sudah menetap pada Mauritius.

Masjid Masjid pada Mauritius

Di Mauritius masih ada poly masjid baik di sentra kota hingga ke daerah pedesaan. Dia masjid yang dikenal secara luas merupakan Masjid Al-Aqso di pada Camp des Lascars sebagai bangunan masjid pertama dan tertua pada Mauritius dan Masjid Jummah pada pusat kota Port Louis yang adalah masjid sentral. Konsentrasi muslim tertinggi berada di kota Port Louis selaku ibukota negara, terutama pada wilayah Plaine Verte, Ward IV, Valle Pitot dan lingkungan Camp Yoloff. Terdapat juga muslim cukup banyak di wilayah Plaine Wilhems tertutama pada Phoenix.

Kepengurusan masjid di Mauritius, secara hukum diakui oleh negara & Imam masjid menerima honor bulanan berdasarkan pemerintah. Pernikahan dengan aturan Islam di akui sang negara, termasuk juga pengakuan pertalian famili dari nazab menurut garis Bapak. Para janda dan yatim piatu berhak menerima tunjangan bulanan berdasarkan negara. Mereka yg masuk Islam mempunyai hak buat membarui nama mereka berikut nama keluarganya. Muslim di Mauritius juga menerima kebebasan buat menunaikan ibadah umroh & haji ke tanah kudus Mekah.

Masjid Al-Aqso

Bangunan pertama yg difungsikan sebagai loka ibadah muslim di Mauritius adalah Masjid di Camp des Lascars di lebih kurang tahun 1805. Bangunan tersebut sempat musnah akibat bencana angin topan pada tahun 1818. Dalam saat singkat bangunan tersebut lalu diperbaiki dan kembali berfungsi dengan baik menggunakan dana menurut para jemaah, galat satu donatur pembangunan pulang masjid tersebut adalah anggota famili Sobedar. Selama beberapa tahun selesainya itu yg bertindak sebagai imam masjid tadi jua menurut famili Sobedar.

Masjid pada Camp des Lascars atau Masjid Al-Aqso

Adalah Haji Sobedar yg kemudian menciptakan mihrab pada masjid Jummah Port Louis dalam ketika masjid tersebut dibangun tahun 1850, dia adalah galat satu tokoh muslim pada Camp des Lascars. Beliau wafat pada tanggal 29 April 1881 & dimakamkan di samping masjid Camp des Lascars yang kini dikenal menggunakan nama Masjid Al-Aqsha atau Al-Aqso merujuk kepada Kiblat pertama ummat Islam di Al-Quds (Jerusalem), Palestina.

Bangunan masjid ini secara berkelanjutan terus berkembang dibangun & diperluas diadaptasi dengan kebutuhan jemaah yang semakin semakin tinggi. Kini bangunan masjid ini nir lagi berupa bangunan mini sebagaimana dimasa kolonial Perancis pada Mauritius, bangunannya sudah diperluas & pada renovasi secara terpola selama beberapa tahun meskipun masih berdiri pada lokasi yang sama sejak pertama kali dibangun.

Masjid Jummah Port Louis

Kemudian menyusul masjid Jummah pada Port Louis yang dibangun tahun 1850 & tercatat pada kementrian pariwisata Mauritius menjadi galat satu bangunan tempat ibadah terindah di Mauritius. Masjid Jummah Port Louis ini jua merupakan Otoritas Islam yang diakui oleh pemerintah layaknya sebagai masjid nasional yang mewakili kepentingan ummat Islam Mauritius termasuk Dewan urusan Halal serta Lembaga Riset Halal yang konsen terhadap makanan halal serta berwenang menerbitkan sertifikat halal. Artikel lengkap masjid Jummah ini dapat dibaca pada posting Masjid Jummah Mauritius.

Masjid Suni di Rose Hill

Masjid Suni pada Rose Hill atau Rose Hill Suni Mosque dibangun tahun 1863 buat memenuhi kebutuhan muslim yg semakin meningkat jumlahnya. Adalah Ismail Jeewa yg membeli sebidang huma pada Remono Street dan kemudian dihibahkan kepada komunitaa Muslim untuk kepentingan pembangunan masjid sesudah itu bangunan masjid berdiri disana. Perluasan bangunan masjid dilakukan tahun 1893, 1912 dan 1915.

Salah satu sudut Masjid Jummah Port Louis

Di pergantian abad ke 20, Rose Hill ini seakan berubah sebagai sentra bagi debat perkara kepercayaan , debat tadi dikenal menggunakan istilah Religious Repartees. Perhelatan tadi menarik perhatian banyak orang buat turut menghadiri. Tujuan berdasarkan debat tersebut justru merupakan ajang buat melatih secara sehat buat membawa masayarakat yang berasal menurut beragam kepercayaan dan kepercayaan bersama sama secara sosial & membantu mempromosikan toleransi & saling pengertian diantara sesama rakyat negara.

Lembaga Lembaga Islam pada Mauritius

Madad-ul-Islam Society atau setingkali disingkat menjadi Madad merupakan lembaga Islam pertama yang dibentuk di Mauritius pada tanggal 22 Januari 1902 bergerak dibidang pendidikan Islam dan merupakan salah satu lembaga nirlaba pertama di Mauritius. Kemudian menyusul dibentuknya Dewan Wakaf pada tahun tahun 1938 dan disahkan menjadi undang undang pada tanggal 25 April 1941, Lembaga wakaf ini menjadi penanggungjawab bagi pendistribusian dana sunsidi dari pemerintah untuk semua masjid di Mauritius sejak tahun 1959.

Ditahun 1959 Prof. Mohammed Hussein Malik mendirikan lembaga yang disebut The Qur’an House yang bergerak dibidang pendidikan dalam upaya meningkatkan standard kehidupan muslim Mauritius. Lemaga ini juga merupakan Gerakan Islam Pertama di Mauritius. Masjid Sayyidah Khadijah Mosque merupakan masjid yang dibangun oleh The Qur’an House sebagai masjid khusus untuk jemaah wanita yang juga dilengkapi dengan perpustakaan Islam.

Pemerintah Mauritius telah mendaftarkan Masjid Al-Aqso Mauritius sebagai galat satu warisan budaya dunia UNESCO. Masjid Al-Aqso adalah masjid pertama yg dibangun pada Mauritius & masih berfungsi & berkembang hingga hari ini.

Islamic welfare Foundationdibentuk tahun 1969 dengan tujuan untuk membantu pembiayaan bagi pengusaha muslim, pemberian beasiswa, donasi, simpan pinjam, promosi pendidikan Islam, publikasi dan penerbitan majalah dan buku buku Islam. World Islamic Mission Mauritius dibentuk tahun 1975 sebagai bagian dari organisasi Islam yang dibentuk tahun 1972 di Mekah Almukarromah dan berpusat di Bradford, Inggris. Islamic Cultural Centre Mauritius dibentukPada tahun 1987 dan akta pendirian nya secara resmi diumumkan pada 15 Desember 1989 dengan tujuan untuk memelihara dan mempromosikan seni dan budaya Islam, menyelenggarakan pendidikan bahasa Arab dan Urdu dan aktivitas keIslaman lainnya, termasuk pengawasan dan penyelenggaraan ibadah haji.

Di tahun 1990 pemerintah Mauritius dibawah pimpinan Perdana Menteri Sir Aneerood Jugnauth, mengajukan perubahan perundang undangan yang memberikan status legal bagi pernikahan muslim dan membantu pembentukan lembaga Muslim Family Council (MFC). Undang undang ini memberikan kewenangan kepada lembaha ini untuk menyelenggarakan, merayakan, mencatat, mengeluarkan dan menyimpan catatan pernikahan sesuai dengan hukum Islam. Lembaga ini merupakan lembaga resmi pemerintah bagi muslim Mauritius.

Lembaga Pendidikan Islam pada Mauritius

Darul Ulum atau Rumah Ilmu pengetahuan, merupakan lembaga pendidikan yang mengelola pendidikan resmi berbasis Islam, meski tidak banyak namun ada beberapa sekolah yang dikelola lembaga ini di mauritius yakni Darul Uloum Aleemiah, Darul Uloum Majlis Raza dan Ahmad Raza Khan Academy. Muslim Mauritius juga memiliki Madrasah serta Islamic Cultural College khusus bagi siswa laki laki dibuka tahun 1949 dengan hanya 35 siswa dan kini berkembang hingga 2500 siswa. Selain itu muslim disana juga memiliki lembaga pendidikan yang bernama Madadul Islam, Muslim Girls College, dan lembaga pendidikan yang bernama Doha dibentuk tahun 2003 dan didanai oleh Pemerintah Qatar.

---------------

Baca Juga

Islam pada Reunion - Prancis

Masjid & Islamic Center Sultan Thakurufaanu - Maladewa

Masjid Hukuru Miskiiy, Masjid Tertua di Maladewa

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India

Friday, August 14, 2020

Islam di Pantai Gading

Masjid Agung pada kota Yamoussoukro, ibukota pemerintahan Pantai Gading.

Republik Pantai Gading, dalam bahasa Prancis disebut Republique de Cote D'Ivote dan Ivory Coast dalam bahasa Inggris, merupakan sebuah negara di pantai barat benua Afrika, berbatasan langsung dengan Liberia dan Guyana disebelah timur, Burkina Faso di Utara dan Republik Ghana di sebelah timur, sedangkan sisi selatannya menghadap langsung ke Samudera Atlantik. Pantai Gading mulanya ber-ibukota di Abidjan kemudian dipindahkan ke Yamoussoukro di tahun 1983. Menjadikan negara ini sebagai salah satu negara yang memindahkan pusat pemerintahannya. Namun demikian banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.

Pantai Gading dikenal oleh para pecinta liga sepakbola Inggris dari pemain sepakbolanya yang merumput di liga Inggris dan liga Eropa lainnya, salah satunya yang cukup terkenal adalah Kolo Toure atau bernama lengkap Kolo Habib Toure[i], pesepakbola muslim asli Pantai Gading ini mengundang decak kagum ketika dia berhasil mengantarkan Manchester City sebagai juara liga Inggris [ii].

Bahasa nasional Pantai Gading merupakan bahasa Perancis, pada samping bahasa Dioula, yg merupakan bahasa orisinil setempat. Dengan wilayah seluas 322.460 km2, dihuni sekitar 17.327.724 orang, terdiri menurut suku asli Afrika 97% (Akan 42%, Gur/Voltaiques 17%, Mende 27%, Krous 11%, lain-lain tiga%).

Islam pada Pantai Gading

Menurut situs Islamonline, dari 16 juta penduduk Pantai Gading, 60% beragama Islam disusul oleh pemeluk Katolik 22% dan 18% animis. Situs world fact book menyebutkan Agama Islam dianut sekitar 38,6%, Kristen 32,8%, penganut kepercayaan asli setempat 11.9% dan tak beragama 16,7%. world fact book juga menyebutkan bahwa 70% tenaga kerja asing disana beragama Islam dan 20% beragama Kristen[iii]. Sementara penelitian Library of Congress Country Studies, menyatakan bahwa 1 dari 4 penduduk Pantai Gading adalah Muslim, sedangkan Kristen 1 berbanding 8.

PEW yang menyebutkan bahwa muslim di Pantai Gading mencapai angka 36.7% dari jumlah total penduduk atau setara dengan 7.745.000 jiwa berdasarkan data tahun 2009 lalu[iv]. Data tersebut menjadikan Pantai Gading sebagai salah satu negara dengan minoritas muslim yang cukup besar.

Masuknya Islam ke Benua Afrika

Islam sudah masuk ke benua Afrika sejak abad ke tujuh, pada masa khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Beliau mengutus Uqba Bin Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibukota di Fustat. Uqba Bin Nafi memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqba Bin Nafi juga lah yang pertama kali menembus padang pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana . Pada masa pemerintahan Yazid I, Uqba Bin Nafi memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Maroko di Afrika utara dan sekitarnya[v].

Sebuah Masjid Megah pada pusat kota Metropolitan Abidjan

Islam datang ke wilayah Afrika Bagian Barat dalam tiga gelombang. Pertama pada abad ke-9 ketika bangsa Berber (Maroko dan sekitarnya di Afrika Utara) menyebarkan Islam di Ghana. Gelombang kedua terjadi pada abad ke-13, ketika Kesultanan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhir pada abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan ke arah selatan Afrika.

Masuknya Islam Ke Pantai Gading

Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang ke-2, yaitu pada abad ke-13 ketika Kesultanan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen baru datang ke kawasan itu pada abad ke-17. Mayoritas pemeluk Islam pada Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas Muslim Pantai Gading. Aliran sufi yang dianut adalah Qadiriyah dan Tijaniyah.

Pada awalnya, Pantai Gading merupakan suatu perkampungan yg sangat terisolasi, didiami tak kurang menurut 60 suku, ditemukan sang para pedagang Portugis dan Perancis pada abad ke-15. Mereka mencari gading & budak, & dalam akhirnya Perancis menduduki Pantai Gading hingga abad ke-20. Mungkin Pantai Gading adalah sebuah negara pada antara sedikit negara yang dibangun penuh dengan konfrontasi agama hingga saat ini, yaitu Islam & Kristen. Islam di utara & Kristen di selatan, yg saling berebut kekuasaan.

Pertikaian Muslim ? Kristen

Pantai Gading sebenarnya merupakan sebuah negara kaya, penghasil coklat terbesar di dunia, disamping kopi dan minyak botani, tetapi rakyatnya tidak kunjung makmur akibat konfrontasi berdarah yang tidak kunjung usai pada negeri tadi. Perseteruan berdarah di Pantai Gading sudah berlangsung usang terutama konfrontasi antara komunitas Muslim dan Kristen disana, yg berurat berakar semenjak pembentukan

Pantai Gading adalah Negara bekas jajahan Perancis, pertama kali terbentuk menjadi sebuah sebuah Rpublik otonom dibawah kendali Prancis pada tahun 1893. Tahun 1959 dibentuk kesatuan tata cara antara Pantai Gading, Benin, Niger & Burkina Faso, barulah pada tanggal 7 Agustus 1960 Pantai Gading memperoleh kemerdekaan berdasarkan Perancis, & Felix Houphouet-Boigny terpilih menjadi Presiden pertama di Negara Pantai Gading yang baru terbentuk dengan azaz demokrasi. Felix Houphouet-Boigny terpilih pulang secara demokratis dalam pemilu presiden tahun 1990, dan beliau wafat dalam tahun 1993. Henri Konan Bedie menggantikan dia sampai dengan tahun 1999.

Jemaah di laman Masjid di Kota Abidjan

Berbeda menggunakan Felix Houphouet-Boigny yang memerintah secara demokratis dan berupaya mempersatukan Pantai Gading, Henri Konan Bedie justru mengeluarkan kebijakan sectarian yang bertajuk ?Program pujian atas kemurnian bangsa Pantai Gading?, yang berimplikasi kepada penyingkiran terhadap etnis yang diklaim sebagai pendatang menurut Mali dan Burkina Faso yg mendiami kawasan utara Pantai Gading & notabene merupakan daerah yg meyoritas penduduknya beragama Islam.

Tak pelak upaya tersebut memicu kontroversi dan ketegangan lantaran dipercaya menjadi upaya pencegalan terhadap calon Preiden muslim, Alassane Ouattara yg berasal menurut utara yang jua merupakan mantan Perdana Menteri antata tahun 1990-1993 pada era pemerintahan mendian presiden Felix Houphouet-Boigny, beliau jua adalah mantan pejabat senior di organisasi internasional IMF. Alassane Ouattara termasuk tokoh muslim berdasarkan utara yang dipercaya bukan penduduk orisinil, tetapi dari menurut Burkina Faso.

Alassane Ouattara mundur menurut jabatan Perdana Menteri pada tahun 1993 pada waktu Henri Konan Bedie naik sebagai presiden & meluncurkan kebijakan rasis tersebut dan menuduh dia sebagai bukan trah asli Pantai Gading. Kebijakan pemerintah tersebut tidak pelak memicu pertentangan politik yang dalam ahirnya berujung pada perang saudara tak berkesudahan.

Pemilu presiden yg akan diselenggarakan dalam bulan Oktober 2000 pun nyaris gagal dilaksanakan dampak kudeta yang dilakukan sang Jendral Robert Guei pada bulan Desember 1999. Meski ahirnya tetap terlaksana dan dimenangkan Laurent Gbagbo, tetapi dipercaya menjadi kemenangan yang penuh tipu daya. Alassane Ouattara memboikot output pemilu, sedangkan Jenderal Robert Guei hengkang keluar negeri dan memobilisasi pemberontakan, dan akhirnya terbunuh pada lepas 19 September 2002.

Dengan dukungan penuh dari penduduk muslim bagian utara Alassane Ouattara menentukan sebagai opposan terhadap Laurent Gbagbo sebagai presiden yg penuh kontroversi dan mendapat dukungan penduduk bagian selatan yang dominan Kristen. Tekanan yang begitu bertenaga yg melibatkan suku dan agama, yang menyebabkan tewasnya ribuan penduduk, memaksa Presiden Laurent Gbagbo mengadakan rekonsoliasi dengan pihak oposisi.

Megahnya Masjid Agung Yamoussoukro

Perundingan di Paris pada bulan Januari 2003 menghasilkan kesepakatan Laurent Gbagbo bersedia membagi kekuasaan pada pihak oposisi. Bulan Maret 2003 Seydou Diarra, seseorang tokoh muslim dari utara, diangkat menjadi Perdana Menteri Pantai Gading. Sedangkan Alassane Ouattara yang diragukan kewarganegaraannya, pada bulan Juni 2002 sudah diakui penuh menjadi warga Negara Pantai Gading.

Tetapi masalah dan perang saudara tidak usai hingga disitu, Presiden Laurent Gbagbo menciptakan blunder politik paling berat dalam sejarah pemerintahannya, ketika pada tanggal 6 Nopember 2004 pasukan militer-nya mengebom kamp militer Perancis yg menyebabkan tewasnya 31 tentara. Perancis membalas menggunakan menembak dua pesawat Sukhoi dan 5 helikopter milik Pantai Gading. Ketegangan pun merebak, baik antara Perancis dan Pantai Gading, maupun sebagian warga Pantai Gading yang berkeinginan bertenaga buat mengusir warga Perancis keluar dari Pantai Gading. Kehadiran militer Prancis di Pantai Gading adalah bagian dari pasukan perdamaian internasional pada bawah komando PBB.

Tentu saja situasi ini nir menguntungkan Laurent Gbagbo, pada satu pihak memimpin pemerintahan yang sangat tidak stabil, didera konfrontasi sectarian antara Kristen & Muslim, pada lain pihak berhadapan dengan Perancis yg pernah menjajah negaranya, & kecaman global intenasional. Perang saudara pulang berkecamuk pada Negara tadi manakala Laurent Gbago enggan menyerahkan kekuasaannya, meski sudah kalah dalam pemilu demokratis tahun 2010 oleh versus politiknya Ouattara, dengan perolehan suara 54,1 %, unggul dibanding Gbago yang mendapat 45,9 %.

Alih alih mengakui kemenangan pihak oposisi, Laurent Gbago lalu malah membatalkan ribuan perolehan bunyi Ouatarra & mengumumkan dirinya menjadi pemenang pemilu. Keputusan yg tentu saja ditentang oleh pihak oposisi & dunia internasional. Pertikaian bersenjata antara 2 pihak tak terelakkan, diperkirakan 800 orang meninggal pada pertempuran sepekan tadi & sekitar satu juta orang mengungsi sampai ke Negara Negara tetangga.

The Smiling President, Mr. Allasane Ouattara

Konflik agak mereda setelah Laurent Gbago akhirnya tertangkap oleh pasukan loyalis presiden terpilih yang mendapatkan dukungan internasional, di bunker persembunyiannya pada bulan April 2011, bersama istri dan ibu mertuanya yang ditengarai selama ini memiliki pengaruh begitu kuat atas keputusan dan kebijakannya selama menjabat[vi]

Presiden Muslim Pertama Pantai Gading

Jum?At, 6 Mei 2011, merupakan hari bersejarah bagi muslim Pantai Gading, Mahkamah Agung (MA) Pantai Gading, memutuskan Alassane Ouattara menjadi presiden, 5 bulan sesudah ia memenangkan pemilu. Alassane Ouattara, menjadi presiden ke empat pada Pantai Gading, sekaligus sebagai presiden muslim pertama di Pantai Gading, membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional menjadi sebuah Negara tenang seperti yang pernah terjadi di era awal kemerdekaan Negara tersebut.

Alassane Ouattara, pria kelahiran Dimbokro pada tanggal 1 Januari 1942, merupakan salah satu tokoh intelektual Muslim Pantai Gading, Doktor pakar ekonomi lulusanUniversity of Pennsylvania. Sangat disegani baik dalam politik maupun karir internasionalnya. Menjabat sebagai Perdana Menteri tahun 1990-1993, kemudian sebagai wakil direktur manajemen di IMF, 1 Juli 1994- 31 Juli 1999, dan kemudian menjadi presiden dari Partai Rally of the Republicans (RDR) 1 Agustus 1999.*** [vii]

Referensi

[i] yaya toure ; saya muslim tak minum alcohol

[ii] Kolo Toure Menikah di Masjid

[iii] Cote de Ivore

[iv] Maping the Global Muslim Population

[v] pantai gading negeri muslim yang terlupakan

[vi] http://www.suaramedia.com/berita-dunia/afrika/42454-tertangkapnya-gbagbo-akhiri-krisis-berdarah-pantai-gading.html

[vii] http://senyumislam.wordpress.com/2011/08/11/islam-di-pantai-gading/

Artikel Terkait

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Djenne, Republik Mali

Islam pada Burkina Faso

Islam di Ghana

Islam pada Guyana

Thursday, August 13, 2020

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Masjid Jamal Abdul Naseer atau Masjid Maidan Sl-Jazair Square, masjid megah pada pusat kota Tripoli, Libya. Dahulunya adalah sebuah bangunan Katedral.

Libya, Selayang Pandang

Mungkin anda pernah menyaksikan film ‘Lion of the Desert (1981)” yang menceritakan tentang tokoh bernama Omar Mukhtar. Sejatinya Omar Mukhtar memang tokoh nyata yang merupakan pejuang kemerdekaan Libya dari penjajahan Italia. Omar Mukhtar di hukum mati oleh tentara penjajahan Italia tahun 1931. Dua puluh tahun setelah itu Libya memproklamirkan kemerdekaannya, dan lukisan wajah Omar Mukhtar diabadikan di uang dinar Libya, sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pahlawan nasional Libya tersebut.

Nama Libya adalah penamaan sang orang Yunani buat menyebut seluruh daerah Afrika Utara. Italia-lah yang kemudian memakai Nama itu buat menyebut wilayah jajahannya yg kini dikenal menjadi Negara Libya. Libya merupakan galat satu negara pada wilayah magribi, berada pada sebelah utara benua Afrika, menghadap ke laut mediterania, berseberangan menggunakan benua Eropa. Sepanjang sejarahnya daerah ini silih berganti penguasa terutama oleh beberapa kerajaan Eropa.

Tahun 647 pasukan Islam menyerbu wilayah Libya dari tiga penjuru dibawah pimpinan para sahabat nabi yakni Amru Bin Ash, Abdullah bin Sa’ad dan Uqba bin Nafi merebut seluruh wilayah Libya dari kekuasaan Bizantium dan kekuatan lainnya. Setelah itu Libya secara tradisi menjadi wilayah beberapa dinasti kekhalifahan Islam hingga ke khalifahan Usmaniyah yang berpusat di Istambul, Turki.  Namun kemudian Libya jatuh ke tangan Italia di tahun 1912 setelah Turki mengalami kekalahan dalam perang dunia pertama.

Masjid Maidan pada tahun 2012 & saat masih berupa katedral di tahun 1960-an

Dalam perang global kedua Italia mengalami kekalahan berdasarkan pasukan sekutu. Adalah Idris al-Mahdi as-Sanussi yg adalah Emir pada wilayah Cyrenaica, mewarisi kekuasaan semenjak masa kekuasaan Islam, memimpin usaha kemerdekaan Libya dan memproklamasikan kemerdekaan Libya dalam tanggal 24 Desember 1951 sebagai kerajaan merdeka. Idris al-Mahdi as-Sanussi menjadi Raja pertama Libya merdeka, berkuasa selama 18 tahun.

Di tahun 1969 Raja Idris pada kudeta sang kol Muamar Khadafi yg saat itu baru berusia 27 tahun. Namun kemudian sejarah pulang berulang, sesudah 42 tahun berkuasa giliran Khadafi yg di kudeta oleh aneka macam faksi di Libya pada dukung sang pasukan NATO & Uni Eropa. Muammar Khadafi terbunuh pada kota Sirte lepas 20 Oktober 2011. Sirte adalah kota kelahiran Muammar Khadafi & pada kota itu pula dia wafat.

Paska tumbangnya pemerintahan Khadafi, Libya tak lagi sahih sahih utuh menjadi sebuah negara dengan satu pemerintahan. Pemerintahan yg terbentuk sesudah itu tidak pernah sahih sahih berkuasa dan mengendalikan negara. Dari aneka macam laporan media menjelaskan bahwa sampai hari ini Libya terpecah pecah pada aneka macam faksi menggunakan kekuatan dan daerah kekuasaan mereka masing masing.

Sudah berdiri semenjak zaman kolonial Italia dan masih bertahan hingga kini pada sentra kota Tripoli.

Pemerintahan pusat Libya yg diakui PBB dan negara negara global, nir mempunyai pengalaman & kekuatan buat menegakkan kewibawaan pemerintahan negara lantaran tidak mempunyai angkatan bersenjata nasional yg dapat diandalkan buat mengendalikan kondisi negaranya sendiri. Sementara kekuatan asing yg tadinya disambut hangat buat menggulingkan rezim khadafi ?Lepas tangan? Dengan buruknya situasi sesudah itu.

Islam sudah memerintah di daerah Libya selama hampir 13 abad meski menggunakan silih berganti dinasti. Dengan sejarah pemerintahan yang begitu panjang maka lumrah bila secara umum dikuasai penduduk Libya beragama Islam, & paska runtuhnya pemerintahan Khadafi beberapa faksi Islam pun bersikukuh buat menegakkan syariat Islam di negara tadi, ilham yg tak sejalan dengan faksi lainnya & menjadi galat satu amunisi ke-engganan masing masing faksi buat tunduk kepada pemerintahan Negara yang berpusat pada Tripoli.

Tentang kota Tripoli Sepintas Lalu

Tripoli merupakan ibukota negara Libya sekaligus kota terbesar di negara tersebut, dulunya merupakan pusat dari wilayah Tripolitania, salah satu nama yang dinisbatkan kepada wilayah Libya. Nama Libya baru digunakan tahun 1934 oleh Italia yang menjajah wilayah itu.  Di pusat kota Tripoli terdapat sebuah lapangan yang disebut Al-Jazair Square, tempat salah satu bangunan penanda kota ini berdiri, yakni Masjid Maidan Al-Jazair Square atau Masjid Jamal Abdel Nasser.

Tampak samping Masjid Maidan

Dilapangan yang berada di depan masjid ini seringkali dijadikan tempat pavorit warga Libya untuk berkumpul dan berorasi menyuarakan kebebasan berpendapat di muka umum paska keruntuhan pemerintahan Libya dibawah Presiden Muammar Khadafi.  Masjid Maidan ini juga merupakan bangunan dari masa pemerintahan mendiang Muammar Khadafi. Awalnya bangunan ini adalah sebuah katedral katholik yang terkenal dengan nama Tripoli Cathedral atau dalam Bahasa Italia disebut La Cattedrale di Tripoli.

Sejarah Masjid Maidan

Bangunan masjid Maidan ini awalnya merupakan sebuah katedral katholik Roma yang pertama kali dibuka secara resmi pada tahun 1928. Proses pembangunannya juga melibatkan seorang interior designer dari Libya yang bernama Othman Nejem. Pembangunannya di arsiteki oleh arsitek Italia Saffo Panteri, dengan rancangan gaya Romanesque dilengkapi dengan kubah besar di atapnya. Sedangkan Menara loncengnya dihias dengan ukiran gaya Venetian. Kala itu Katedral ini merupakan gereja katholik kedua yang dibangun di Tripoli setelah gereja Santa Maria degli Angeli, yang dibangun oleh komunitas orang orang Malta di Tripoli pada tahun 1870.

Ada sekitar 50,000 umat katholik pada Libya sebagian besar tinggal di daerah Tripoli & sekitarnya atau kurang menurut satu persen dibandingkan menggunakan penduduk Libya secara holistik. Kebanyakan menurut penganut Katholik di Libya adalah orang berdarah Itali, Malta, Imigran berdasarkan Philipina & para masyarakat migran lainnya. Sebagian akbar berdasarkan mereka bahkan telah meninggalkan Libya tahun 2010-2015 ketika pecah perang saudara pada Libya.

Di Ubah sebagai Masjid Maidan

Di Masa kekuasan Muammad Khadafi, lebih kurang tahun 1970 atau tahun 1990-an bangunan katedral tadi pada konversi menjadi bangunan masjid dengan nama Masjid Maidan Al-Jazair Square. Perubahan fungsi menurut katedral sebagai masjid telah merubah bangunan ini secara total meski pola bangunan usang masih tampak pada bangunan masjid ini. Hampir keseluruhan pernak Pernik menurut bangunan usang dibongkar & diganti menggunakan rancangan baru bergaya arabia. Bangunan tersebut masih difungsikan sebagai masjid hingga hari ini. ***

Wednesday, August 5, 2020

Islam di Burundi

Masjid Al-Markaz Burundi, berdiri megah di daerah Nyakabiga, kota Bujumbura, Ibukota Negara Burundi.

Negara satu ini mungkin jarang terdengar di telinga orang Indonesia. Burundi adalah sebuah Negara kecil yang berada di tengah tengah daratan benua Afrika tanpa akses ke laut.  Negara ini berbatasan dengan Rwanda di utara, Tanzania di selatan dan timur, serta Republik Demokratik Kongo di barat. Meskipun negara ini tidak mempunyai batas laut, perbatasan di sebelah barat-nya hampir separuh berada di Danau Tanganyika yang menjulur dari utara ke selatan di perbatasan antara Burundi dengan Kongo, juga menjadi batas alami antara Tanzania dengan Konggo dan Malawi.

Burundi merupakan salah satu Negara termiskin di dunia dengan pendapatan perkapitanya sekitar 400 kali lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia. Kondisi geografisnya yang tanpa akses ke laut, penduduknya yang padat di wilayah yang sempit ditambah lagi dengan sumber alamnya yang terbatas, diperburuk dengan kondisi negaranya yang tak pernah sepi dari konflik yang berkepanjangan.  Burundi menjadi salah satu Negara di dunia yang paling banyak konflik terutama perseteruan antara Etnis Tutsi yang minoritas namun berkuasa di elit politik terhadap Etnis Hutu yang mayoritas dalam jumlah namun terpinggir.

Luas wilayahnya 27.834 km2, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan luas provinsi Maluku Utara (31.982,5 km2) dengan perkiraan populasi 10.216.190 jiwa. Meski berada di wilayah Afrika Timur, posisinya di Benua Afrika membuatnya kerap dianggap sebagai bagian dari Afrika Tengah. Burundi merupakan sebuah kerajaan merdeka sejak abad ke-16. Hingga jatuhnya kerajaan pada tahun 1966. Pada tahun 1903, Burundi menjadi jajahan Jerman dan diserahkan kepada Belgia pada Perang Dunia II. Ia kemudian menjadi bagian dari mandat Liga Bangsa-Bangsa Belgia, Ruanda-Urundi pada tahun 1923, dan kemudian Wilayah Kepercayaan PBB di bawah otoritas Belgia setelah Perang Dunia II dan Merdeka dari kolonialisasi Belgia pada 1 Juli 1962.

Namun semenjak kemerdekaannya sampai tahun pemilu dalam tahun 1993, Burundi dikuasai serangkaian diktator militer, seluruhnya berdasarkan grup minoritas Tutsi. Periode tadi dipenuhi kerusuhan etnis termasuk insiden insiden akbar dalam tahun 1964, 1972 dan akhir 1980-an. Pada tahun 1993, Burundi mengadakan pemilu demokratis pertamanya, yg dimenangi Front untuk Demokrasi pada Burundi (FRODEBU) yang didominasi suku Hutu. Pemimpin FRODEBU Melchior Ndadaye menjadi presiden Burundi pertama yg berasal menurut suku Hutu, namun beberapa bulan kemudian dia dibunuh sekelompok tentara suku Tutsi yang lalu menyebabkan pecahnya perang saudara antara kedua suku ini.

Perang saudara antar suku Hutu & Tustsi terus berlanjut hingga tahun 1996, saat mantan presiden Pierre Buyoya merogoh alih kekuasaan dalam suatu kudeta. Antara tahun 1993 & 1999, perang antar suku Tutsi & Hutu telah merenggut 250.000 korban jiwa. Pada Agustus 2000, persetujuan tenang ditandatangani dilanjutkan lalu pada tahun 2003, gencatan senjata disetujui antara pemerintah Buyoya dan gerombolan pemberontak Hutu terbesar, CNDD-FDD. Meski sudah ada persetujuan damai, sampai sekarang perseteruan masih berlanjut. Dalam pemilu yang diadakan bulan Juli 2005, mantan pemberontak Hutu, CNDD-FDD berhasil memenangkan pemilu.

Islam pada Burundi

Islam merupakan agama minoritas di Burundi.  Merujuk kepada data kementerian luar negeri Amerika Serikat tahun 2010, diperkirakan sekitar 2-5% penduduk Burundi beragama Islam. Menurut data pada Pew Research Center, pada 2009 jumlah Muslim di Burundi sekitar 180 ribu jiwa atau dua persen dari total populasi. Namun, berdasarkan data The World Factbook dalam situs CIA yang diperbarui setiap pekan, populasi Muslim di Burundi mencapai 10 persen dari total penduduk. Agama mayoritas di negara itu adalah Kristen yang mencapai  67 persen. Sisanya adalah agama pribumi, yang dipeluk oleh 23 persen penduduknya.

Muslim Burundi berasal menurut suku dan bangsa yg majemuk. Selain penduduk orisinil Burundi (Hutu dan Tutsi, konon telah berada pada Burundi semenjak abad 15), Muslim Burundi pula dari berdasarkan Rwanda. Selain itu, ada jua Warabu (sebutan bagi pedagang Arab dan Oman yang sudah tinggal pada Burundi), dan Bahindi (orang-orang India dan Pakistan yang juga telah usang bermukim pada Burundi).

Masjid & Islamic Center Bujumbura

Selain mereka, orang-orang Afrika Barat pula memasuki Burundi pada beberapa dekade terakhir. Mereka adalah para pedagang berdasarkan Mali, Senegal, dan Pantai Gading yang datang buat mengimpor pakaian dan kain atau bertransaksi emas yg ditambang menurut Kongo. Banyak menurut mereka lalu meninggalkan Burundi ketika konflik pecah pada 1993. Sisanya tetap tinggal & membuka toko-toko kecil di pasar pusat atau di Bwiza.

Satu hal yang menarik menurut muslim pribumi Burundi, meskipun mereka dari menurut 2 suku yang pada sejarahnya tidak pernah akur, tetapi sehabis memeluk Islam mereka hidup bersaudara dan tak lagi terlibat dalam pertikaian antar etnis yg begitu keras sejak Negara tadi merdeka. Muslim Burundi memainkan peran teramat penting dalam proses rekonsiliasi ke 2 belak pihak yg berteru pada negara tadi pada era 1990-an.

Libur Nasional

Konstitusi Burundi menganut sistem Sekuler, namun demikian beberapa peringatan hari hari besar Islam ditetapkan sebagai hari libur Nasional, yakni perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sejak Idul Fitri 1426 H bertepatan dengan 2005, hari raya umat Islam itu untuk pertama kalinya ditetapkan sebagai hari libur nasional Burundi. Dan meskipun secara jumlah, muslim Burundi terbilang sedikit namun eksistensi mereka cukup terwakili hingga posisi pejabat senior di kancah politik dan kemasayarakatan, terutama sejak berahirnya perang Sipil disana tokoh tokoh Islam pada Burundi memutuskan untuk terjun ke kancah politik.

Sejarah Islam pada Burundi

Islam pertama kali masuk ke Burundi dari kawasan pantai Afrika Timur semasa perdagangan budak yang terjadi di awal abad ke 19. Perlawanan oleh kerajaan Burundi dipimpin oleh mwami (Raja) Mwezi IV Gisabo,  berhasil menangkal pendudukan kerajaan Burundi oleh bangsa Arab, namun demikian Bangsa Arab berhasil menguasai kawasan di Ujiji dan Uvira berdekatan dengan perbatasan Negara Burundi saat ini.

Masjid Bujumbura pada selembar kartu pos

Islam mula-mula diperkenalkan sang para pedagang Arab & Swahili yang tiba pada Burundi sejak awal abad 19, melalui Samudera Hindia melewati Ujiji (sekarang daerah di Tanzania) buat mencari gading dan jua budak. Sekitar tahun 1850, mereka menciptakan koloni pada Uvira. Ujiji & Uvira lalu sebagai titik pertemuan para kafilah dan para pedagang (orang-orang Arab dan Afrika). Dari sana, mereka kemudian mulai bertukar produk atau barang dagangan dengan Nyanza & Rumonge, dua kota tepi danau di Burundi.

Sedikit demi sedikit, Islam mulai masuk ke Burundi. Tahun 1885, gubernur Ujiji, Mohammed bin Khalfan tetapkan buat memperluas kekuasaannya ke selatan dengan tujuan memperoleh lebih banyak gading & budak belian. Bin Khalfan adalah bagian menurut Barwani, sebuah famili Oman yg masyhur & telah bermukim pada Afrika Timur.

Ia berkali-kali mengirim agresi ke wilayah tepian danau pada Burundi. Tetapi pertahanan Raja Mwami Mwezi IV Gisabo Bikata-Bijoga (raja Burundi yg berkuasa pada 1852-1908) berhasil menunda agresi-agresi tersebut sehingga Bin Khalfan gagal menguasai Burundi.

Pada 1890, rombongan misionaris pertama tiba pada daerah yang sekarang menjadi Kota Burundi. Di sana, mereka menemukan Wangwana, nama yang diberikan dalam Muslim Afrika pada Afrika Tengah. Dengan istilah lain, Muslim sudah datang lebih dahulu daripada Kristen. Saat Perang Dunia I pecah pada 1914, lebih banyak didominasi populasi Bujumbura adalah pemeluk Islam.

Peta pembagian wilayah administrasi negara Burundi. Bujumbura selaku ibukota negara, terbagi sebagai 2 daerah yakni Bujumbura Mairie yg adalah wilayah perkotaan & Bujumbura Rural yg lebih sebagai daerah penyanggah ibukota. Ke 2 wilayah ini berada pada tepian danau Tangayika, berseberangan langsung dengan wilayah Republik Demokratik Kongo (d/h Zaire).

Selanjutnya, Islam di Bujumbura semakin tinggi dengan kolonisasi yg dilakukan sang Jerman yang sebagian tentara kolonialnya beragama Islam. Pada ketika yang sama, para pedagang India dan Arab berduyun-duyun memasuki Bujumbura demi meraup laba berdagang yg lebih akbar menurut kota yg sedang berkembang tersebut.

Kala itu, Jerman memasukkan orang-orang Swahili dan Banyamwezi pada satuan polisi dan administrasi, & Kiswahili sebagai bahasa resmi Jerman Afrika Timur (nama buat daerah kolonial Jerman pada Afrika Timur).

Pada masa kolonisasi Belgia yg dimulai dalam 1919, penduduk Burundi mulai tinggal pada Bujumbura. Namun sampai 1957, orang-orang Burundi tidak lebih dari 27 % menurut total penduduk Bujumbura. Selain mereka, masih ada lebih dari 80 suku yg berbicara pada 34 bahasa tidak selaras. Saat itu, Muslim berjumlah 35,6 % menurut semua populasi yang beragam itu.

Pada ketika ini komunitas muslim Burundi terpusat pada kawasan perkotaan terutama di ibukota negara, Kota Bujumbura, khususnya di distrik Buyenzi dan Bwiza, Gitega, Rumonge, Nyanza, Muyinga & Makamba. Di kota Bujumbura sudah berdiri masjid utama Burundi & Islamic Cultural Center yang dibangun pemerintah Libia pada masa kepresidenan Bagaza (1976-1987). Sebagian akbar muslim Burundi merupakan muslim Suni, hanya sebagian mini saja yang menganut faham syi?Ah.

Salah satu masjid pada Bujumbura

Muslim Burundi homogen rata memakai bahasa Swahili pada kehidupan sehari hari, yg merupakan galat satu bahasa Nasional Burundi, Jarang ditemukan Muslim Burundi yang nir mampu berbicara bahasa ini, karena itu, istilah "Swahili" acapkali digunakan buat menyebut Muslim pada Burundi. Meskipun mereka juga memakai bahasa resmi nasional lainnya termasuk bahasa Kirundi yg merupakan bahasa resmi Burundi.

Berhaji

Di tengah aneka macam keterbatasan itu, umat Islam Burundi masih berupaya buat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Musim Haji 1432 H / 2012M, terdapat 44 Muslim menurut Burundi yg berkesempatan menunaikan Ibadah Haji. Bandingkan dengan Jemaah haji Indonesia yang mencapai 220 ribu Jemaah. Para jamaah haji dari Burundi itu mengaku sangat senang sanggup menunaikan rukun Islam yang kelima. Betapa nir. Untuk sanggup melakukan bepergian yang menghabiskan biaya 2.950 dolar Alaihi Salam atau 26,5 juta itu mereka wajib menunggu relatif usang.

Masalah Pendidikan

Sayangnya, kaum Muslim pada Burundi nir mempunyai dukungan yang signifikan dari global Islam pada bidang pendidikan. Lantaran itu, keberadaan sekolah Islam pada sana teramat sedikit. Itupun dengan kondisi yang serba terbatas, seperti bangunan sekolah yang setengah jadi atau dibangun sekadarnya, serta jumlah kitab ajar & Alquran yang terbatas.

Di Burundi, doa dan bacaan shalat dilafalkan dalam bahasa Arab sebagaimana pembacaan Alquran, meski banyak pula Muslim yang membaca Alquran terjemahan dengan bahasa Kiswahili.  Pada akhir abad 20, Alquran juga diterjemahkan ke dalam bahasa Kirundi. Alquran berbahasa Kirundi itu juga dipublikasikan di Kenya atas dana dari Arab Saudi.

Tokoh Tokoh Muslim Burundi

Beberapa tokoh muslim Burundi yg menduduki posisi krusial di negara tersebut diantaranya merupakan (mendiang) Zedi Feruzi yang adalah tokoh muslim sangat berpengaruh di Burundi, beliau adalah pemimpin partai oposisi Burundi, Union for Peace and Development. Zedi Feruzi terbunuh bersama para pengawalnya oleh sekelompok bersenjata pada 23 Mei 2015. Peristiwa tersebut mengakibatkan panasnya suhu politik di negara tersebut.

TOKOH MUSLIM BURUNDI : atas : (mendiang) Zedi Feruzi, Kanan bawah : Leontine Nzeyimana, & Kiri bawah : (mendiang) Hafsa Mossi.

Insiden pembunuhan tersebut terjadi pada tengah pergolakan politik yang dipicu sang protes yang sedang berlangsung terhadap keputusan kontroversial Presiden Pierre Nkurunziza berupaya kembali berkuasa menjadi presiden buat ketiga kalinya.

Nama (mendiang) Zedi Feruzi mencuat kepermukaan pada kancah perpolitikan Burundi terutama setelah pemecatan tokoh Islam lainnya, Hussein Radjabu pada tahun 2007, dari partai CNDD-FDD yg berkuasa dibawah presiden Nkurunziza dari suku Hutu. Padahal Hussein Radjabu sendiri adalah galat satu pendiri partai tadi.

Sosok tokoh muslim Burundi lainnya adalah Sheikh Mohammed Rukara, anggota parlemen negara tadi menurut pemilu tahun 2011. Beliau merupakan seseorang dosen Bahasa Swahili pada Universitas Burundi, sosok yang begitu disegani, sekaligus juga tokoh sentral pada penandatanganan perjanjian damai antara dua etnis bertikai dinegara itu. Perjanjian damai ditandatangani pada Ibukota negara Tanzania dalam tahun 2000 dan dikenal dengan Arusha Accords. Beliau pula dikenal sebagai sosok yang mampu menyelesaikan aneka macam sengketa kepemilikan tanah antara rakyat & pemerintah Burundi. Beliau jua dikenal dekat dengan Mufti Burundi, Abdallah Kajandi Sadiki.

Muslimah Burundi pun masuk ke kancah politik negara terebut, diantaranya merupakan Hafsa Mossi, beliau pernah menduduki jabatan setingkat Menteri yang bertanggung jawab menangani interaksi Burundi dengan Komunitas Afrika Timur (East African Community ? EAC). Beliau sebelumnya merupakan seorang wartawati dan menduduki jabatan dikementrian tadi selama tiga tahun, sejak tahun 2009 sekaligus memangku jabatan menjadi anggota legislatif pada parlemen East African Community. Beliau juga wafat akibat ditembak sang sekelompok orang tak dikenal pada tanggal 13 Juli 2016.

Muslimah berikutnya adalah Leontine Nzeyimana, yg merupakan penerus dari Hafsa Mossi di Kementrian Urusan Komunitas Afrika Timur. Beliau dilahirkan di provinsi Makamba & terpilih sebagai anggota parlemen mewakili wilayahnya pada tahun 2010, pada usianya yang baru menginjak 30 tahun. Beliau merupakan satu berdasarkan begitu sedikitnya perempuan di tataran Politik Burundi.***

Referensi

republika.co.id, islam di Burundi geliat islam ditengah konflik

worldbulletin.net, Despite small numbers Burundi Muslims still influential

islamicpopulation.com – Burundi Muslim Celebrates Muslim Holiday

openaccess.leidenuniv.nl, Muslims in Burundi: Discretion and Neutrality (pdf)

aljazeera.com, burundi-opposition-leader-zedi-feruzi-shot-dead

dailymail.co.uk, Former Burundi minister Hafsa Mossi shot dead

www.eac.bi, Hon Leontine Nzeyimana, Minister to the Office of the President Responsible for East African Community Affairs

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done