Islam di Pantai Gading - Islami Pedia
News Update
Loading...

Friday, August 14, 2020

Islam di Pantai Gading

Masjid Agung pada kota Yamoussoukro, ibukota pemerintahan Pantai Gading.

Republik Pantai Gading, dalam bahasa Prancis disebut Republique de Cote D'Ivote dan Ivory Coast dalam bahasa Inggris, merupakan sebuah negara di pantai barat benua Afrika, berbatasan langsung dengan Liberia dan Guyana disebelah timur, Burkina Faso di Utara dan Republik Ghana di sebelah timur, sedangkan sisi selatannya menghadap langsung ke Samudera Atlantik. Pantai Gading mulanya ber-ibukota di Abidjan kemudian dipindahkan ke Yamoussoukro di tahun 1983. Menjadikan negara ini sebagai salah satu negara yang memindahkan pusat pemerintahannya. Namun demikian banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.

Pantai Gading dikenal oleh para pecinta liga sepakbola Inggris dari pemain sepakbolanya yang merumput di liga Inggris dan liga Eropa lainnya, salah satunya yang cukup terkenal adalah Kolo Toure atau bernama lengkap Kolo Habib Toure[i], pesepakbola muslim asli Pantai Gading ini mengundang decak kagum ketika dia berhasil mengantarkan Manchester City sebagai juara liga Inggris [ii].

Bahasa nasional Pantai Gading merupakan bahasa Perancis, pada samping bahasa Dioula, yg merupakan bahasa orisinil setempat. Dengan wilayah seluas 322.460 km2, dihuni sekitar 17.327.724 orang, terdiri menurut suku asli Afrika 97% (Akan 42%, Gur/Voltaiques 17%, Mende 27%, Krous 11%, lain-lain tiga%).

Islam pada Pantai Gading

Menurut situs Islamonline, dari 16 juta penduduk Pantai Gading, 60% beragama Islam disusul oleh pemeluk Katolik 22% dan 18% animis. Situs world fact book menyebutkan Agama Islam dianut sekitar 38,6%, Kristen 32,8%, penganut kepercayaan asli setempat 11.9% dan tak beragama 16,7%. world fact book juga menyebutkan bahwa 70% tenaga kerja asing disana beragama Islam dan 20% beragama Kristen[iii]. Sementara penelitian Library of Congress Country Studies, menyatakan bahwa 1 dari 4 penduduk Pantai Gading adalah Muslim, sedangkan Kristen 1 berbanding 8.

PEW yang menyebutkan bahwa muslim di Pantai Gading mencapai angka 36.7% dari jumlah total penduduk atau setara dengan 7.745.000 jiwa berdasarkan data tahun 2009 lalu[iv]. Data tersebut menjadikan Pantai Gading sebagai salah satu negara dengan minoritas muslim yang cukup besar.

Masuknya Islam ke Benua Afrika

Islam sudah masuk ke benua Afrika sejak abad ke tujuh, pada masa khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan. Beliau mengutus Uqba Bin Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibukota di Fustat. Uqba Bin Nafi memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqba Bin Nafi juga lah yang pertama kali menembus padang pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana . Pada masa pemerintahan Yazid I, Uqba Bin Nafi memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke Maroko di Afrika utara dan sekitarnya[v].

Sebuah Masjid Megah pada pusat kota Metropolitan Abidjan

Islam datang ke wilayah Afrika Bagian Barat dalam tiga gelombang. Pertama pada abad ke-9 ketika bangsa Berber (Maroko dan sekitarnya di Afrika Utara) menyebarkan Islam di Ghana. Gelombang kedua terjadi pada abad ke-13, ketika Kesultanan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhir pada abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan ke arah selatan Afrika.

Masuknya Islam Ke Pantai Gading

Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang ke-2, yaitu pada abad ke-13 ketika Kesultanan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen baru datang ke kawasan itu pada abad ke-17. Mayoritas pemeluk Islam pada Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas Muslim Pantai Gading. Aliran sufi yang dianut adalah Qadiriyah dan Tijaniyah.

Pada awalnya, Pantai Gading merupakan suatu perkampungan yg sangat terisolasi, didiami tak kurang menurut 60 suku, ditemukan sang para pedagang Portugis dan Perancis pada abad ke-15. Mereka mencari gading & budak, & dalam akhirnya Perancis menduduki Pantai Gading hingga abad ke-20. Mungkin Pantai Gading adalah sebuah negara pada antara sedikit negara yang dibangun penuh dengan konfrontasi agama hingga saat ini, yaitu Islam & Kristen. Islam di utara & Kristen di selatan, yg saling berebut kekuasaan.

Pertikaian Muslim ? Kristen

Pantai Gading sebenarnya merupakan sebuah negara kaya, penghasil coklat terbesar di dunia, disamping kopi dan minyak botani, tetapi rakyatnya tidak kunjung makmur akibat konfrontasi berdarah yang tidak kunjung usai pada negeri tadi. Perseteruan berdarah di Pantai Gading sudah berlangsung usang terutama konfrontasi antara komunitas Muslim dan Kristen disana, yg berurat berakar semenjak pembentukan

Pantai Gading adalah Negara bekas jajahan Perancis, pertama kali terbentuk menjadi sebuah sebuah Rpublik otonom dibawah kendali Prancis pada tahun 1893. Tahun 1959 dibentuk kesatuan tata cara antara Pantai Gading, Benin, Niger & Burkina Faso, barulah pada tanggal 7 Agustus 1960 Pantai Gading memperoleh kemerdekaan berdasarkan Perancis, & Felix Houphouet-Boigny terpilih menjadi Presiden pertama di Negara Pantai Gading yang baru terbentuk dengan azaz demokrasi. Felix Houphouet-Boigny terpilih pulang secara demokratis dalam pemilu presiden tahun 1990, dan beliau wafat dalam tahun 1993. Henri Konan Bedie menggantikan dia sampai dengan tahun 1999.

Jemaah di laman Masjid di Kota Abidjan

Berbeda menggunakan Felix Houphouet-Boigny yang memerintah secara demokratis dan berupaya mempersatukan Pantai Gading, Henri Konan Bedie justru mengeluarkan kebijakan sectarian yang bertajuk ?Program pujian atas kemurnian bangsa Pantai Gading?, yang berimplikasi kepada penyingkiran terhadap etnis yang diklaim sebagai pendatang menurut Mali dan Burkina Faso yg mendiami kawasan utara Pantai Gading & notabene merupakan daerah yg meyoritas penduduknya beragama Islam.

Tak pelak upaya tersebut memicu kontroversi dan ketegangan lantaran dipercaya menjadi upaya pencegalan terhadap calon Preiden muslim, Alassane Ouattara yg berasal menurut utara yang jua merupakan mantan Perdana Menteri antata tahun 1990-1993 pada era pemerintahan mendian presiden Felix Houphouet-Boigny, beliau jua adalah mantan pejabat senior di organisasi internasional IMF. Alassane Ouattara termasuk tokoh muslim berdasarkan utara yang dipercaya bukan penduduk orisinil, tetapi dari menurut Burkina Faso.

Alassane Ouattara mundur menurut jabatan Perdana Menteri pada tahun 1993 pada waktu Henri Konan Bedie naik sebagai presiden & meluncurkan kebijakan rasis tersebut dan menuduh dia sebagai bukan trah asli Pantai Gading. Kebijakan pemerintah tersebut tidak pelak memicu pertentangan politik yang dalam ahirnya berujung pada perang saudara tak berkesudahan.

Pemilu presiden yg akan diselenggarakan dalam bulan Oktober 2000 pun nyaris gagal dilaksanakan dampak kudeta yang dilakukan sang Jendral Robert Guei pada bulan Desember 1999. Meski ahirnya tetap terlaksana dan dimenangkan Laurent Gbagbo, tetapi dipercaya menjadi kemenangan yang penuh tipu daya. Alassane Ouattara memboikot output pemilu, sedangkan Jenderal Robert Guei hengkang keluar negeri dan memobilisasi pemberontakan, dan akhirnya terbunuh pada lepas 19 September 2002.

Dengan dukungan penuh dari penduduk muslim bagian utara Alassane Ouattara menentukan sebagai opposan terhadap Laurent Gbagbo sebagai presiden yg penuh kontroversi dan mendapat dukungan penduduk bagian selatan yang dominan Kristen. Tekanan yang begitu bertenaga yg melibatkan suku dan agama, yang menyebabkan tewasnya ribuan penduduk, memaksa Presiden Laurent Gbagbo mengadakan rekonsoliasi dengan pihak oposisi.

Megahnya Masjid Agung Yamoussoukro

Perundingan di Paris pada bulan Januari 2003 menghasilkan kesepakatan Laurent Gbagbo bersedia membagi kekuasaan pada pihak oposisi. Bulan Maret 2003 Seydou Diarra, seseorang tokoh muslim dari utara, diangkat menjadi Perdana Menteri Pantai Gading. Sedangkan Alassane Ouattara yang diragukan kewarganegaraannya, pada bulan Juni 2002 sudah diakui penuh menjadi warga Negara Pantai Gading.

Tetapi masalah dan perang saudara tidak usai hingga disitu, Presiden Laurent Gbagbo menciptakan blunder politik paling berat dalam sejarah pemerintahannya, ketika pada tanggal 6 Nopember 2004 pasukan militer-nya mengebom kamp militer Perancis yg menyebabkan tewasnya 31 tentara. Perancis membalas menggunakan menembak dua pesawat Sukhoi dan 5 helikopter milik Pantai Gading. Ketegangan pun merebak, baik antara Perancis dan Pantai Gading, maupun sebagian warga Pantai Gading yang berkeinginan bertenaga buat mengusir warga Perancis keluar dari Pantai Gading. Kehadiran militer Prancis di Pantai Gading adalah bagian dari pasukan perdamaian internasional pada bawah komando PBB.

Tentu saja situasi ini nir menguntungkan Laurent Gbagbo, pada satu pihak memimpin pemerintahan yang sangat tidak stabil, didera konfrontasi sectarian antara Kristen & Muslim, pada lain pihak berhadapan dengan Perancis yg pernah menjajah negaranya, & kecaman global intenasional. Perang saudara pulang berkecamuk pada Negara tadi manakala Laurent Gbago enggan menyerahkan kekuasaannya, meski sudah kalah dalam pemilu demokratis tahun 2010 oleh versus politiknya Ouattara, dengan perolehan suara 54,1 %, unggul dibanding Gbago yang mendapat 45,9 %.

Alih alih mengakui kemenangan pihak oposisi, Laurent Gbago lalu malah membatalkan ribuan perolehan bunyi Ouatarra & mengumumkan dirinya menjadi pemenang pemilu. Keputusan yg tentu saja ditentang oleh pihak oposisi & dunia internasional. Pertikaian bersenjata antara 2 pihak tak terelakkan, diperkirakan 800 orang meninggal pada pertempuran sepekan tadi & sekitar satu juta orang mengungsi sampai ke Negara Negara tetangga.

The Smiling President, Mr. Allasane Ouattara

Konflik agak mereda setelah Laurent Gbago akhirnya tertangkap oleh pasukan loyalis presiden terpilih yang mendapatkan dukungan internasional, di bunker persembunyiannya pada bulan April 2011, bersama istri dan ibu mertuanya yang ditengarai selama ini memiliki pengaruh begitu kuat atas keputusan dan kebijakannya selama menjabat[vi]

Presiden Muslim Pertama Pantai Gading

Jum?At, 6 Mei 2011, merupakan hari bersejarah bagi muslim Pantai Gading, Mahkamah Agung (MA) Pantai Gading, memutuskan Alassane Ouattara menjadi presiden, 5 bulan sesudah ia memenangkan pemilu. Alassane Ouattara, menjadi presiden ke empat pada Pantai Gading, sekaligus sebagai presiden muslim pertama di Pantai Gading, membuka jalan bagi rekonsiliasi nasional menjadi sebuah Negara tenang seperti yang pernah terjadi di era awal kemerdekaan Negara tersebut.

Alassane Ouattara, pria kelahiran Dimbokro pada tanggal 1 Januari 1942, merupakan salah satu tokoh intelektual Muslim Pantai Gading, Doktor pakar ekonomi lulusanUniversity of Pennsylvania. Sangat disegani baik dalam politik maupun karir internasionalnya. Menjabat sebagai Perdana Menteri tahun 1990-1993, kemudian sebagai wakil direktur manajemen di IMF, 1 Juli 1994- 31 Juli 1999, dan kemudian menjadi presiden dari Partai Rally of the Republicans (RDR) 1 Agustus 1999.*** [vii]

Referensi

[i] yaya toure ; saya muslim tak minum alcohol

[ii] Kolo Toure Menikah di Masjid

[iii] Cote de Ivore

[iv] Maping the Global Muslim Population

[v] pantai gading negeri muslim yang terlupakan

[vi] http://www.suaramedia.com/berita-dunia/afrika/42454-tertangkapnya-gbagbo-akhiri-krisis-berdarah-pantai-gading.html

[vii] http://senyumislam.wordpress.com/2011/08/11/islam-di-pantai-gading/

Artikel Terkait

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Djenne, Republik Mali

Islam pada Burkina Faso

Islam di Ghana

Islam pada Guyana

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done