Islami Pedia: Masjid Masjid di Arab Saudi
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Masjid di Arab Saudi. Show all posts
Showing posts with label Masjid Masjid di Arab Saudi. Show all posts

Friday, October 30, 2020

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid terapung laut merah di kota Jeddah Saudi Arabia, dulunya bernama Masjid Fatimah, lalu diganti dengan nama Masjid Arrahmah. (foto dari imageplanet)

Masjid satu ini boleh jadi merupakan masjid paling popular pada kota Jeddah bagi para jemaah haji ataupun jemaah umroh, termasuk jemaah berdasarkan Indonesia. Nama ?Masjid terapung bahari merah? Seolah telah melekat dalam daftar kunjungan yg disiapkan sang para penyelenggara ibadah haji & umroh pada tanah air, walaupun sebenarnya tak ada keistimewaan apapun dalam kaitannya menggunakan ibadah haji ataupun umroh dengan masjid satu ini, tidak ada kaintannya juga dengan sejarah Islam serta tak ada keistimewaan pahala sholat pada masjid ini, kunjungan ke sini hanya sebatas wisata.

Awalnya masjid ini sempat diberi nama masjid Fatimah, dikemudian hari pengunjung ke masjid ini se-akan terpeleset pengecap menyebut nama masjid ini menjadi Masjid Fatimah Az-Zahra, dan dikait kait kan menggunakan Nama putrid Rosulullah S.A.W tersebut, sampai kemudian pemerintah Saudi Arabia mengubah nama masjid ini sebagai Masjid Arrahmah hingga hari ini. Penggantian nama tersebut memang disengaja, keliru satu sebab adalah buat menghindari salah pengertian diantara para jemaah terkait menggunakan eksistensi masjid ini.

Masjid Arrahmah

Corniche Road, Al Shati Jeddah 23613 Arab Saudi‎

Masjid Arrahmah ini berdiri pada daerah Jeddah Corniche atau Jeddah Kurnis, daerah baru yg dikembangkan sang otoritas setempat menjadi kawasan wisata disepanjang pantai laut merah. Laut merah-nya sendiri memang disebutkan dalam Al-Qur?An pada kisah Nabi Musa A.S. Yg dikejar sang Fir?Aun dan tentaranya kemudian atas biar Allah S.W.T dia berhasil menyeberangi bahari merah yg terbelah sampai selamat hingga ke Palestina bersama para pengikut setianya, sedangkan Fir?Aun & bencana tentaranya mati ditelah sang laut merah.

Kota Jeddah sendiri sudah berdiri semenjak sebelum Islam, namun titik awal perkembangan pesat kota ini terjadi dalam masa pemerihan Khalifah Usman Bin Affan, Khalifah ke-tiga berdasarkan jajaran Khulafaur Rasyidin. Di tahun ke 26 Hijriah atau bertepatan menggunakan tahun 647M. Beliau yg pertama kali mengakibatkan kota Jeddah menjadi kota pelabuhan laut internasional bagi jemaah haji yg yang datang dari semua penjuru global, membuahkan Jeddah sebagai gerbang primer bagi para calhaj buat menuju ke Mekah dan Madinah karenanya kota Jeddah juga menerima julukan sebagai ?Pintu gerbang 2 tanah haram?.

Masjid Arrahmah dari udara (foto dari Hatim AL-harbi)

Kota Jeddah juga sangat populer menjadi tempat peristirahatan terahir ibu seluruh insan, Siti Hawa, Istri dari Nabi Adam A.S. Karena itu Jeddah sendiri sering diartikan menjadi ?Nenek? Pada kaitannya dengan sejarah tadi. Makam Bunda Hawa berada di tempat pemakaman kuno pada sentra kota Jeddah. Makam ini dikenal menjadi Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Meskipun begitu poly anggaran yg harus dipatuhi saat berziarah ke makam ini, antara lain merupakan dilarang membawa kamera, video dan alat perekam lainnya dan wanita tidak boleh masuk ke areal pemakaman tadi.

Seperti halnya kota metropolitan lainnya pada bagian global yg lain, kota Jeddah juga senantiasa bersolek, daerah kurnis kota Jeddah loka masjid terapung ini berada adalah galat satu daerah yg di tata begitu latif & sangata menawan. Wajar jika kemudian kota Jeddah pun mendapat julukan sebagai ?Pengantin perempuannya bahari merah?, & mengingat kota ini begitu ramai sejak masa ke khalifahan, kota Jeddah pun mendapat julukan menjadi "Kota di tengah Pasar".

Kawasan Kurnis Kota Jeddah

Satu lagi foto masjid Arrahmah dari udara, Masjid Arrahmah di kurnis kota Jeddah. satu dari beberapa masjid terapung yang ada di kawasan yang sama. (foto dari julycool dipanoramio)

Pemerintah Saudi Arabia menyulap kawasan pantai kota Jeddah yang menghadap ke Laut Merah menjadi sebuah kawasan kota baru yang terkenal dengan sebutan Jeddah cornice. Kata Kurnis atau Corniche berasal dari bahasa Prancis route à corniche yang bermakna ruas jalanan ditepian terjal.  Namun kemudian kata kurnis itu sendiri bergeser makna menjadi sebuah kawasan terbuka yang luas di tepian badan air. Ada banyak tempat seperti ini yang terkenal diantaranya adalah Corniche of beirut di Libanon, corniche of Alexandria di Mesir, dan tentu saja adalah Corniche of Jeddah ini.

Proyek pengembangan kawasan kurnis kota Jeddah ini berhasil menyabet penghargaan ?Big Project Middle East Award? Di bulan Desember 2012 yang diselenggarakan oleh Big Project Middle East Magazine, yg memberikan penghargaan bagi perusahaan ataupun individu yg sudah berkontribusi bagi pembangunan & industry yg berkelanjutan di negara negara teluk.

Jika anda berharap menemukan masjid yang sahih sahih terapung pada atas bahari merah waktu akan berkunjung kemari, pastinya anda akan kecewa. Karena memang bangunan masjid ini tidaklah benar benar mengapung pada atas air, melainkan dibangun diatas tiang pancang yg ditancapkan ke bahari. Kesan pandangan mata dari arah seberangnya lah yang menampilkan pemandangan seakan akan masjid ini mengapung di atas air (doc. Eksklusif).

Masjid Ar-Rahmah ini bukanlah satu satunya masjid yang terdapat di tempat Kurnis kota Jeddah. Tapi ada beberapa masjid lainnya yg berukuran lebih mini dibangun di sepenjang pantai tersebut sebagai fasilitas keagamaan bagi muslim mana saja yang sedang berada di kawasan tersebut. Diantara masjid masjid tersebut adalah Island Mosque atau Masjid Pulau, Masjid Ruwais dan masjid Kurnis yg semuanya berhasil mendapatkan penghargaan menurut Aga Khan Award of Architecture.

Masjid Terapung Kota Jeddah

Meskipun begitu banyak ulasan terkait masjid terapung kota Jeddah yg satu ini. Tetapi sangat sedikit fakta yg menyebutkan lebih detil mengenai sejarah pembangunannya. Berbagai sumber tulisan yg terdapat pada global maya menjelaskan bahwa masjid ini dibangun sang seorang janda kaya kota Jeddah, namun sama sekali tidak menyebut siapa namanya, kapan dibangunnya dan berapa porto yang dihabiskan buat proyek pembangunannya. Tetapi satu hal yang pasti bahwa pembangunan masjid ini telah sebagai pandangan baru poly negara buat membangun masjid serupa.

Mihrab bergaya mughal dengan denah setengah lingkaran. (doc. pribadi).

Di Indonesia sendiri telah terdapat beberapa ?Masjid terapung? Yang dibangun. Diantaranya adalah Masjid Munawaroh pada Ternate, Masjid Terapung Kota Palu, & Masjid Terapung Kota Makasar. Belum lagi yg masih dalam termin pembangunan misalnya Masjid terapung Al-Alam di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara dan Masjid Terapung Banten (MTB) yang baru saja dicanangkan oleh pemerintah provinsi Banten. Satu decade belakangan ini pembangunan masjid terapung seakan menjadi musim baru pada banyak sekali negara Islam.

Meskipun sebenarnya semua masjid yg diklaim menjadi masjid terapung tadi mulai dari Masjid Hasan II di Maroko, masjid masjid terapung kota Jeddah termasuk Masjid Arrahmah ini, masjid masjid masjid terapung di Malaysia (barat & timur) sampai ke masjid Al-Munawwaroh di Ternate, Masjid terapung kota Palu sampai Makasar, tidak satupun yang benar sahih mengapung pada atas air. Tetapi sebuah masjid yang dibangun pada atas landasan yang di tancapkan ke dasar bahari tempatnya berdiri atau sebagian landasannya berada di dalam air bahari.

Panorama Masjid Arrahmah foto dari Sakhr Abdullah di panoramio.

Nama Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid Terapung kota Jeddah yang kita ulas ini dalam awalnya diberi nama ?Masjid Fatimah?. Fatimah yang dimaksud adalah nama Ibunda berdasarkan pembangun masjid ini, tak kaitannya menggunakan Fatimah Az-Zahra putrid Nabi & tidak ada kaitannya menggunakan sejarah Islam ataupun sejarah Saudi Arabia. Tetapi dikemudian hari rakyat luas mengait ngaitkan nama tersebut dengan ?Fatimah Az-Zahra? Putri Rosulullah S.A.W. Keberadaan masjid ini pun seakan akan terdapat kaitannya dengan putri nabi & sejarah Islam.

Untuk mencegah keliru penafsiran yg berkepanjangan, ditambah dengan fenomena bahwa masjid ini sudah menjadi galat satu kunjungan pavorit jemaah menurut Asia (termasuk Indonesia) dan terutama menurut Iran, dan buat meluruskan berita, maka pada bulan Desember tahun 2010 kemudian pemerintah kota Jeddah mengganti nama masjid ini berdasarkan ?Masjid Fatimah? Sebagai ?Masjid Arrahmah?.

Seringnya jemaah Asia (terutama yang paling banyak dari Indonesia) melaksanakan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini, sampai sampai pengurus masjid memasang larang melakukan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini. (Foto dari Faruk Ramzi di Kompasiana)

Jemaah Sholat Ganda pada Masjid Arrahmah

Boleh jadi masjid ini satu satunya masjid pada dunia yg pengurusnya hingga sampai memasang larangan sholat berjamaah lebih berdasarkan satu gerombolan , menggunakan pengumuman tetap yg dipasang pada dalam masjid. Mungkin karena jemaah haji dan umroh yang tiba ke Saudi Arabia tiba dalam grup kelompok sinkron menggunakan agen perjalanannya sebagai akibatnya masing masing mereka melaksanakan sholat berjamaah pada dalam masjid dalam masing masing gerombolan dan enggan bergabung dengan jemaah yg telah ada dan sedang berlangsung di pada masjid. Padahal hal tersebut tidak diperbolehkan. Semestinya jika didalam masjid tersebut telah terdapat class sholat berjammah maka anda tinggal mengikuti jammaah tersebut, bila tertinggal rakaatnya tinggal (masbuk) tinggal melanjutkan sejumlah rakaat yg telah tertinggal.

Daya Tarik Masjid Arrahmah

Masjid berukuran sekitar 20 x 30 meter ini memang cukup menarik untuk dikunjungi. Bagian dalam masjid dihias dengan banyak tulisan kaligrafi. Bukan hanya Masjid Terapung yang bisa dinikmati, air Laut Merah pun menjadi objek favorit jemaah. Bangunan masjid yang menggabungkan arsitektur modern dan seni bangunan Islam kuno. Memiliki ruang sholat yang luas dengan dekorasi sangat indah, dilengkapi peralatan berteknologi terbaru terutama dalam hal sound system. Sementara  selama musim dingin,  disediakan keran-keran air hangat.

Interior masjid Arrahmah ini memang cukup menawan, cahaya alami matahari masuk ke dalam ruang utama dengan lembut melalui celah diantara kubah utama dan atapnya. Bukaan jendela yang lebar, penyejuk udara, karpet lembut dan suasana yang nyaman (foto dari arminarekajatim)

Referensi

jafariyanews.com - saudis_change_Masjid_Fatimah

scta.gov.sa - historical jeddah

spirithaji.com - jeddah-dan-masjid-terapung

arabnews.com - jeddah-corniche-project-wins-award

kompasiana.com - masjid-terapung-yang-tidak-mengapung-di-laut-merah-jeddah

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid pada Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II ?Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana?A ? Yaman

Monday, October 19, 2020

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

::: Ada 27 kubah pada Masjid Nabawi yang didesain buat bisa dibuka & di tutup tergantung pada kondisi cuaca disana, semua sistem kendali kubah ini dikendalikan dengan sistem personal komputer :::

Sudah pernah ke Masjid Nabawi ? Alhamdulillah bila sudah, bila belum, semoga kita sama sama segera diberi kesempatan untuk datang kesana, setidaknya sekali dalam rangkaian memenuhi panggilan ilahi.  Masjid Nabawi merupakan tempat suci kedua bagi 1.6 milyar lebih muslim di seluruh dunia, di masjid ini Baginda Rosulullah S.A.W junjungan kita dimakamkan.

Bagi yang sudah pernah kesana mungkin sempat mengamati Kubah Geser dan Payung di masjid ini.  27 kubah di Masjid Nabawi ini yang semuanya dirancang sebagai sliding dome atau kubah yang dapat digeser untuk dibuka dan ditutup kembali sesuai keperluan layaknya sebuah pintu atau jendela di atap masjid.  27 sliding dome tersebut masing masing 12 kubah ditempatkan di bangunan sayap kiri dan kanan dan 3 kubah di bangunan sayap belakang bangunan utama masjid Nabawi.

View Masjid Nabawi in a larger map

Ke-27 kubah geser tersebut merupakan dari proyek perluasan Masjid Nabawi yang dilaksanakan oleh Raja Fahd di tahun 1992-1994. Proyek perluasan Raja Fahd ini disebut sebut sebagai proyek perluasan paling komplit dan komprehensif dalam sejarah Masjid Nabawi. Dari bagian utama Masjid Nabawi seluas 16.500 m2 kemudian ditambah dengan bangunan perluasan Raja Fahd yang seluruhnya seluas 82.000 m2. Dua hal yang paling menyedot perhatian dalam proyek ini adalah 27 Sliding Dome nya serta dipasangnya serangkaian 105 payung elektronik untuk memayungi seantero plataran terbuka di sekitar masjid Nabawi.

Payung Masjid Nabawi ini yang dikemudian hari menjadi trend baru bagi masjid masjid di seantero bumi termasuk di Indonesia. Sebut saja diantaranya adalah penggunaan payung yang serupa di Masjid Az-Zikra (d/h Masjid Muammar Qadaffy) di Sentul – Bogor dan payung di Pelataran Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang.

Kubah geser dan payung payung pada Masjid Nabawi ini dibuat memakai material material spesifik serta teknologi terdepan. Kubah gesernya dibuat berdasarkan material terpilih mulai menurut baja ringan, adonan resin spesifik untuk pembentuk kubah, lembaran kain menurut material khusus buat payung, kayu kayu oak terpilih untuk ukuran interior kubah dan lain lainnya. Serta masing masing interior kubah ini dilapis dengan enam kilo emas murni, ditambah dengan taburan permata Amazonite.

Pengendalian 27 kubah dan 105 payung pada Masjid Nabawi ini dikendalikan menggunakan jaringan computer sophisticated menggunakan serangkaian sistim kontrol dan sensor otomatis, untuk memudahkan pengendaliannya yg diubahsuaikan dengan kondisi cuaca setempat. 105 payung pada pelataran masjid Nabawi ini nir sekedar membuka pada waktu cuaca panas. Untuk menaruh rasa nyaman bagi jemaah, namun pula dengan otomatis akan menyemburkan udara sejuk secara berkelanjutan pada waktu telah membuka paripurna.

Siapa Pembangun Sliding Dome Dan Payung Masjid Nabawi

Dari aneka macam literatur disebutkan bahwa pembangunan kubah geser dan payung dalam proyek perlusan Raja Fahd pada Masjid Nabawi ini melibatkan begitu banyak pihak. Sejak menurut proses perencanaan, pemilihan material, pemilihan teknologi yg tepat, perencanaan rancang bangun, pemilihan para artis dan energi ahli sampai ke proses pembuatan, perakitan, pemasangan sampai perawatannya.

Proses pembuatan kubah itu sendiri dikerjakan secara terpisa pisah di berbagai Negara sinkron menggunakan spesialisasi yg dibutuhkan. Begitu poly Negara yg terlibat pada proses ini mulai menurut Saudi Arabia sendiri, lalu Kanada, Inggris, Swiss, Maroko, Kenya, Jerman hingga Negeri jiran kita, Malaysia, & ingat juga jasa berdasarkan para energi kerja dari Indonesia.

Dr. Bodo Rasch merupakan tokoh yg menangani rancang bangun structural (Struktural Engineering) kubah dan payung payung tersebut. Beliau tidak bekerja sendirian, beliau bekerja beserta Ian Liddell, Eddie Pugh menggunakan perusahaan Buro Happold yg menangani pembuatan kain khusus yg digunakan buat payung payung di masjid tersebut. Ada 105 lima payung yang dipasang di pelataran Masjid Nabawi yang produksi masalnya ditangani oleh sang perusahaan Liebherr lalu di kapalkan ke Saudi Arabia.

Proses pembuatan 27 kubah geser ini pula melibatkan perusahaan Uni Emirat Arab yang bertanggung jawab dalam proses pembuatannya menggunakan material composite yang tersusun berdasarkan serat gelas & resin yg kemudian disatukan dengan busa thermoplastic sebagai intinya. Hasilnya merupakan kubah berukuran 18x18 meter yg beratnya 15% lebih ringan dibandingkan dengan kubah beton tetapi mempunyai keunggulan lebih dalam kekuatannya.

Dipilihnya material dengan kriteria tadi mengingat bahwa kubah ini wajib sanggup pada buka & di tutup dengan gampang oleh sitem robotik yg menggerakkannya. Material yg lebih ringan akan mengurangi beban stuktur yg menopangnya dan tentu saja mengurangi beban sistim robotik yang menggerakkannya. Selain menurut itu, material composite ini mempunyai taraf pemuaian yang sangat rendah terhadap perubahan suhu udara ekstrim padang pasir, sebagai akibatnya mengurangi pengaruh kerusakan struktur & komponen penunjangnya sebagai akibat berdasarkan perubahan dimensi.

Proses pembuatan kubah kubah itu sendiri nir dikerjakan pada Uni Emirat Arab tetapi dikerjakan oleh beberapa perusahaan terpisah pada Jerman dan perusahaan subkontraktor lainnya yang tersebar di berbagai negara. Selain material material yg sudah disebutkan di atas, kubah kubah tadi pula menggunakan lapisan keramik dibagian luarnya dan memakai struktur baja ringan.

::: Sliding Dome Masjid Nabawi dengan proses pembukaannya :::
Ornamen interior kubah geser ini ditangani oleh Jay Bonner dengan melibatkan berbagai seniman interior dari berbagai Negara termasuk Maroko yang memang sudah dikenal sebagai pengukir handal.  Ukiran ornament interior kubah ini didasarkan pada ukiran sesuai syariah dengan menggunakan ornament floral (tumbuh tumbuhan). Seluruh ukiran interior kubah menggunakan kayu Cedar Maroko dipadu dengan beragam batu permata Amazonite dan lempengan lempengan emas. Masing masing kubah ini menghabiskan 6 kilo emas murni.

150 orang pengukir professional Maroko dilibatkan pada proyek ini selama lebih dari satu tahun penuh. Jay Boner juga bertanggung jawab atas mutu gesekan kayu yg dibentuk sang para pengukir Maroko tadi termasuk pula bagi bertanggung jawan bagi mutu ornamen batu batu permata yang akan dipasang di kubah tersebut hingga menggunakan proses intalasi awal elemen dekoratif tersebut yg dilaksanakan pada Jerman.

Proyek luar biasa tersebut berada di bawah kendali perusahaan Bin Ladin Group bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas King Saud, Saudi Arabia. Kelompok perusahaan ini yang mengendalikan semua proses pembangunan bekerja sama menggunakan begitu poly perusahaan musltinasional menurut aneka macam Negara.

Saat ini Masjid Nabawi balik pada proses perluasan buat kesekian kalinya sang pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Perluasan kali ini mengarah kea rah timur & barat daya Masjid Nabawi dan menyebabkan kekhawatiran poly pihak, lantaran proyek tadi pada khawatirkan akan turut menggusur bangunan bangunan bersejarah dan sudah berusia lebih menurut seribu tahun di lokasi tadi. Sebagaimana diklaim oleh Wikipedia, sempat jua beredar keterangan bahwa pemerintah setempat juga akan meratakan makam Baginda Rosul berikut kubah hijau yg menaunginya dan sudah sebagai ciri spesial masjid Nabawi.

Masjid Nabawi mengajarkan pada kita seluruh, bahwa dominasi ilmu pengetahuan & teknologi sebagaimana diamanatkan sang Baginda Rosulullah merupakan hal mutlak bagi ummat Islam dimanapun berada. Suka atau tidak, proyek ekspansi Raja Fahd pada Masjid Nabawi yg melibatkan begitu poly bangsa sudah membuktikan hal tersebut. Kejayaan hanya dapat dicapai dengan kekuatan salah satunya adalah kekuatan teknologi. Semoga berguna. Bila ada tambahan informasi dipersilahkan menghubungi kami atau dituliskan di kolom komentar berikut menggunakan referensinya.***

Referensi

pct.ae - 27 Sliding Domes for the Prophet's Holy Mosque in Medinah

bonner-design.com - Sliding Domes – Medina

en.wikipedia.org - Masjid Al-Nabawi

www.iaarc.org - Robotics and automation in the construction of the sliding domes of king Fahd's extension of the prophet's holy mosque in Madinah, kingdom of Saudi Arabia

www.facebook.com – sliding domes of al-masjid al-nabawi

Baca Juga

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung kota Jeddah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Sejak pertama kali dibangun oleh dinasti Mamluk, kubah hijau Masjid Nabawi di kota Madinah, Saudi Arabia sudah menjadi ikon penting bagi Masjid Nabawi & kota Madinah secara holistik. Dan semenjak dibangun pula kubah ini senantiasa menuai silang pendapat dikalangan umat Islam sendiri, dan sangat menarik bahwa, kubah hijau tersebut turut sebagai perhatian ulama Indonesia di tahun 1926, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan sang Bung Karno & Bung Hatta.

Kubah hijau yang dikemudian hari menginspirasi poly orang buat membangun kubah yg seperti, di masjid masjid di kampung halaman mereka untuk sekedar mengobati kerinduan akan Masjid Nabi yg pernah mereka kunjungi dalam rangkaian ibadah haji atau umroh yg pernah mereka lakukan. Namun, ada golongan umat Islam yang menginginkan agar kubah tersebut dirobohkan lantaran dipercaya tidak sinkron menggunakan syariat, atau setidaknya akan mengganggu keyakinan ummat Islam.

Ada Apa di Bawah Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah hijau Masjid Nabawi dibangun buat menaungi makam Rosulullah Muhammad S.A.W, Makam Khalifah Abu Bakar Asy-Sidik dan Makam Khalifah Umar Bin Khattab. Ketiga makam ini sesungguhnya berada pada dalam tempat tinggal baginda Rosulullah bersama istri Beliau Aisyah r.A. Yang seluruhnya sekarang dikelilingi tiga lapis dinding, sebagai pemisah-nya berdasarkan Masjid Nabawi.

Kubah hijau masjid Nabawi ini sebagai begitu krusial bagi ummat Islam dunia karena dibawah kubah inilah tempat dimakamkannya jenazah Baginda Rosululullah Muhammad S.A.W, Nabi epilog para nabi, junjungan kita semua, bersama 2 sahabatnya Khalifah Abu Bakar Asy-Siddik r.A. Dan Khalifah Ummar Bin Khattab r.A.

Tempat yg sekarang dinaungi dengan kubah hijau itu, semasa Rosulullah hayati, merupakan rumah beliau yang sangat sederhana. Di rumah tadi beliau tinggal bersama Ummul Mu?Minin Aisyah, sampai menutup mata pada ahir hayatnya. Ditempat itu pula jenazah beliau dimakamkan. Rumah kediaman Rosulullah tadi sering jua dianggap menjadi tempat tinggal Aisyah.

Apakah Makam Baginda Rosulullah berada pada Dalam Masjid Nabawi ?

Tertutup rapat

Rumah Rosulullah dan Aisyah yang menjadi tempat bermakamnya Rosulullah ini dibangun menempel dengan dinding Masjid Nabi (Masjid Nabawi). Dibangun setelah pembangunan Masjid Nabi selesai dilaksanakan. Masjid Nabawi sendiri merupakan bangunan pertama yang dibangun oleh Rosulullah  bersama sama dengan ummat Islam di Kota Madinah sekitar tahun 622 masehi, ketika pertama kali sampai di kota Madinah dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah.

Saat dia wafat, jenazah dia dimakamkan di rumah tadi. Aisyah r.A lalu menciptakan sekat dinding, sebagian buat makam Rosulullah dan sebagian lagi sebagai tempat tinggal Aisyah. Dan saat Khalifah Abu Bakar Wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Rosullullah, Aisyah berpindah loka tinggal dan waktu Khalifah Umar Bin Khattab wafat, jenazah dia pun turut dimakamkan berdampingan dengan makam Rosulullah S.A.W

Raudhah atau Raudhatul Jannah. Adalah loka diantara rumah Rosulullah dengan Mimbar beliau. Loka ini senantiasa menjadi incaran para jemaah berdasarkan mancanegara buat berdoa di loka ini lantaran sinkron dengan sabda Rosulullah bahwa loka ini merupakan galat satu tempat yg makbul.

Makam Rosulullah, Khalifah Abu Bakar r.a dan Khalifah Umar tetap berada di luar kawasan Masjid Nabawi hingga tahun ke 88 Hijriah atau tahun 707 masehi. Sampai kemudian pada bulan Rabiul Awwal tahun 88H, Khalifah Al-Walid (705-715) dari bani Ummayah yang berkedudukan di Damaskus, memerintahkan kepada gubernur Hijaz (kini Saudi Arabia) Umar Bin Abdul Aziz, untuk membongkar bangunan lama Masjid Nabawi dan membangunnya menjadi masjid yang lebih besar dan megah serta menyatukan rumah Aisyah dengan masjid Nabawi.

Sempat terjadi pertentangan dikalangan fuqaha yang menolak upaya tadi menggunakan alasan bahwa rumah tadi merupakan lambang berdasarkan khidupan zuhud Rosulullah. Said bin al-Musayyab nir menyatakan ketidaksetujuannya kerana takut makam Nabi s.A.W dan dua teman Baginda dijadikan menjadi daerah masjid. Namun, para tabiin rahiamahumullah memahami perkara ini lalu mereka memisahkan kubur Nabi s.A.W & 2 sahabat baginda menggunakan tiga lapis dinding menjadi pemisah menggunakan tempat Masjid Nabawi.

Kubah hijau Masjid Nabawi diantara kubah kubah kecil pada atas bangunan Masjid Nabawi yang dibangun dalam era Dinasti Usmaniyah (Turki).

Umar bin Abdul Aziz menambahkan tembok pemisah terluar menurut tembok rumah Aisyah menjadi pembatas tempat tempat tinggal Aisyah yang sebagai Makam Rosulullah menggunakan daerah Masjid Nabawi. Ada jarak yang cukup jauh antara tembok Umar Bin Abdul Aziz menggunakan tembok tempat tinggal Aisyah.

Maka dinding Umar ini sekaligus mengeluarkan daerah perkuburan Rasulullah s.A.W & 2 sahabat Baginda dari tempat masjid buat menghindari jemaah yang sholat menghadap ke kuburan. Sejak saat itu seluruh area rumah Aisyah tertutup kedap tanpa pintu dan jendela buat menuju kesana.

Siapa Yang Membangun Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah Hijau Masjid Nabawi saat ini.

Dinasti Mamluk yg pertama kali membentuk kubah di atas makam Nabi Muhammad pada proyek pembangunan Masjid Nabawi. Lalu saat Madinah berada di bawah kekuasaan Dinasti Usmaniyah (Turki) dari tahun 1517 sampai perang dunia pertama, Sultan Sulaiman (1520-1566) membangun mihrab baru disebelah Mihrab Nabi serta memasang kubah baru pada atas Rumah & makam Nabi. Kubah berdasarkan tembaga & di cat menggunakan rona hijau.

Kubah tersebut dibangun ulang di masa pemerintahan Mahmud II bersamaan menggunakan pembangunan Ar-Raudah di tahun 1817 dan kembali di cat menggunakan rona hijau tahun 1839 hingga ahirnya dikenal menggunakan kubah hijau sampai hari ini. Sisi dalam kubah lalu pada hias menggunakan kaligrafi Al-Qur?An dimasa pemerintahan Sulan Majid II (1839-1861) menurut dinasti Usmaniyah.

Bersambung ke Bagian-2

Sunday, October 18, 2020

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Berdiri Megah di Kota Madinah. Kubah Hijau Masjid Nabawi.

Kebohongan Tentang Mayat pada Atas Kubah Hijau Masjid Nabawi

Beberapa waktu lalu sempat beredar luas di global maya warta hoax mengenai adanya mayat yg melekat di kubah hijau masjid Nabawi menggunakan bebeberapa versi. Intinya ada mayat yang menempel pada kubah tadi dan sama sekali tidak bisa dilepaskan hingga ahirnya mayat tadi dibuatkan epilog dan dibiarkan ditempatnya menempel. Pada atas kubah hijau masjid Nabawi memang ada benda menonjol yg diikat dengan tali apabila sekilas pandang memang akan terlihat layaknya sesuatu yg ditutupi.

Tapi sebenarnya benda tersebut adalah sebuah jendela yang dibubuhi kemudian buat menutup ventilasi atau celah atau jendela tetap yg dipasang pada kubah tersebut. Seluruh ruang dibawah kubah hijau ini dikemudian hari ditutup permanen tanpa pintu & jendela karenanya jendela di kubah inipun nir diperlukan lagi & lalu ditutup.

Titik mini yang di ikat dengan tali pada atas kubah hijau ini sempat sebagai isue sebagai kuburan seorang yg di sambar petir & mayatnya melekat disana nir mampu dilepaskan & ahirnya ditutup & di ikat menggunakan tali. Aslinya benda ini adalah penutup tetap bagi ventilasi yg dulunya sengaja dibentuk menjadi ventilasi di kubah ini.

Ukuran ventilasi tersebut pula terlalu mini buat berukuran tubuh orang dewasa yg sedang berbaring. Dan tentu saja nir akan cukup buat menampung ?Mayat? Yang pungkasnya meninggal tersambar petir karena berniat menghancurkan kubah hijau tadi. Ada beberapa orang yang telah mengunggah kabar tadi pada youtube & terdapat beberapa orang jua yang lalu mengunggah bantahannya.

Saudi Arabia, Wahabi & Peran Ulama Indonesia

Seiring dengan runtuhnya kekhlaifahan Islam Usmaniyah yg berpusat pada Istambull Turki pada tahun 1923, semenanjung Arabia terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan akbar. Hejaz & Najd. Tahun 1921 Ibnu Saud memproklamirkan dirinya menjadi Sultan Najd. Tahun 1924-25 beliau menaklukkan Hejaz & pada tanggal 10 Januari 1926 memproklamirkan diri sebagai Raja Hejaz menyusul setahun lalu menambahkan gelar-nya sebagai Raja Najd. Dengan sendirinya keseluruhan daerah Najd dan Hejaz Berada di bawah kekuasaan dia yg dikemudian dalam lepas 23 September 1932 memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia menggunakan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa'ud menjadi raja pertamanya.

Denah penampang melintang kubah hijau Masjid Nabawi ini akan menaruh citra letak ventilasi di atas kubahnya yg di isue-kan sebagai kuburan itu.

Ibnu Saud naik ke zenit kekuasaan menggunakan dukungan penuh berdasarkan gerakan wahabi dibawah pimpinan Muhammad bin Abdul Wahab. Gerakan Wahabi ini yang kemudian menghancurkan semua makam dan situs sejarah yg di Mekah & Madinah buat menghindari khurafat. Turut dihancurkan seluruh makam para syuhada yang ada pada pemakaman Jannatul Baqi termasuk makam khalifah Usman Bin Affan.

Pemerintah Saudi Arabia dalam ahirnya tetap mempertahankan kubah hijau tadi berikut makam Nabi dan dua Sahabat yang berada pada pada rumah Aisyah pada bawah kubah tersebut. Meski hingga sekarang tak jelas latar belakang dari kaum Wahabi mengurungkan niat menghancurkan Kubah Hijau berikut Makam Nabi & dua Sahabat Beliau dibawah kubah tersebut. Dalam bepergian sejarah, Ulama Indonesia turut berperan dalam hal itu.

KH. Wahab Hasbullah

Lahir keprihatinan atas apa yang terjadi pada semenanjung Arabia, ulama ditanah air yang ketika itu masih dibawah penjajahan Belanda menciptakan komite Hejaz atas gagasan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Komite yg awalnya dibuat buat mewakili muslim & ulama Indonesia pada rendezvous ummat Islam sedunia yang di gagas sang Ibnu Saud pada kota Mekah tahun 1926.

Komite Hejaz ini yg kemudian bermetamarfosis menadi Jamiatul Nahdhatul Ulama (NU Pada tanggal 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah beserta Syekh Ghonaim al-Misri diutus oleh NU buat menghadiri konfrensi umat Islam sedunia di Mekah sekaligus buat menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud guna membicarakan pesan dari ummat Islam Indonesia (Hindia Belanda) galat satunya adalah meminta Raja Abdul Aziz buat menaruh kebebasan bermazhab termasuk pula ?Penyelamatan makam Rosulullah menurut penghancuran?.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad & situs-itus sejarah Islam nir jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar & memimpin di Haramain. Dua utusan ini pulang dengan membawa surat resmi berdasarkan raja Abdul Aziz ke Indonesia tertanggal 28 Dzul Hijjah 1347 H./ 13 Juni 1928 M., angka: 2082.

Dimasa Kekuasaan Saudi Arabia, Masjid Nabawi setidaknya sudah 3 kali mengalami renovasi besar besaran dan permanen memelihara kubah Hijau masjid Nabawi beserta semua yang ada di dalamnya, termasuk jua memperindah dan merawat unit bangunan tersebut. Perluasan Masjid Nabawi dimasa kekuasaan Saudi Arabia dilaksanakan sang Raja Abdul Aziz pada tahun 1951. Menyusul kemudian oleh Raja Faisal tahun 1973 dan terahir sang Raja Fahd. Saat ini-pun masjid Nabawi sedang pada proyek ekspansi akbar besaran buat kesekian kalinya.

Kabar tidak sedap sempat balik beredar di tahun 2007 kemudian ketika Kementerian Urusan Islam Kerajaan Saudi Arabia menerbitkan pamphlet yg turut pada paraf oleh Mufti Agung Saudi Arabia, yg menyatakan bahwa kubah hijau masjid Nabawi akan dihancurkan dan tiga makam dibawahnya akan diratakan. Dan lagi lagi risalah tadi mendapat kecaman dari ummat Islam berdasarkan banyak sekali penjuru dunia. Jangankan buat menghancurkan kubah dan makam Rosulullah, rencana pemerintah Saudi buat menghancurkan masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi dalam upaya menyediakan lahan bagi ekspansi Masjid Nabi tersebut-pun mendapatkan kecaman keras menurut seantero dunia Islam termasuk dari para sejawan dari aneka macam Negara.

Namun demikian, apabila mencermati maket masterplan mega proyek perluasan Masjid Nabawi yang disiapkan sang pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, sangat kentara terlihat, bagian Masjid Nabawi menggunakan kubah hijaunya masih dipertahankan pada sayap timur bangunan super besar yang akan dibangun dalam mega proyek ekspansi tersebut. Akankah kubah hijau yang telah sebagai ikon masjid Nabi tadi dalam ahirnya sahih benar dihancurkan berikut makam Baginda Rosulullah & 2 Sahabatnya ? Wallahu A'lam Bishawab.***

Tuesday, May 5, 2020

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Masjid Al-Ghamamah adalah galat satu masjid bersejarah pada kota Madinah, di lokasi tempat masjid ini berdiri pernah sebagai loka Rosulullah melaksanakan sholat Istisqo' (sholat meminta hujan) dan setelah itu awang mendung (Al-Ghomammah) pun menggelayut diatas tempat itu.

Masjid Al-Ghamamah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini berada sekitar 300 meter sebelah barat daya Masjid Nabawi, tak bejauhan dengan Masjid Abu Bakar Siddiq R.A dan Masjid Ali Bin Abi Thalib R.A. Bangunan masjid ini dibangun untuk mengenang beberapa peristiwa penting dimasa kehidupan Rosulullah S.A.W. dan peristiwa peristiwa penting tersebut juga yang hingga kini melekat sebagai nama masjid ini.

Masjid ini beserta masjid masjid bersejarah yang berada disekitar Masjid Nabawi lainnya sempat pada kabarkan banyak sekali media, akan di gusur sang pemerintah Arab Saudi pada rangka proyek perluasan Masjid Nabawi. Hal tadi lebih kepada ke khawatiran akan lenyapnya situ situs sejarah Islam disana misalnya yg telah dilansir berbagai media bagaimana mega proyek perluasan Masjidil Haram pada kota Mekah sudah mengakibatkan lenyapnya situs situs sejarah disana.

Tetapi, sampai goresan pena ini kami muat, masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk aslinya & pemerintah Arab Saudi pula sudah melakukan langkah langkah perlindungan terhadap bangunan bangunan tersebut termasuk renovasi dan penataan kawasan disekitarnya bersamaan menggunakan proyek perluasan Masjid Nabawi.

Lokasi Masjid Al-Ghamamah saat ini hanya terpaut beberapa meter dari sudut barat daya areal pelataran Masjid Nabawi paska perluasan. Sehingga komplek Masjid Nabawi pun terlihat jelas dari masjid ini begitupun sebaliknya. Lokasi masjid Al-Ghamamah juga berdekatan dengan dua masjid bersejarah lainnya yakni Masjid AbuBakar Sidik dan Masjid Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Nama & Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Disebut menjadi masjid Al-Ghamamah yg berarti awan mendung, di lahan masjid ini berdiri adalah loka Rosulullah S.A.W melaksanakan Sholat Istisqo? Buat memohon kepada Allah supaya diturunkan hujan. Dan segera sehabis pelaksanaan sholat awan mendung pun datang menggelayut disusul dengan turun-nya hujan. Itu sebabnya sampai kini masjid ini diklaim Masjid Al-Ghamamah, mengabadikan insiden pada masa Rosulullah tersebut.

Masjid Al-Ghomamah paska renovasi bersamaan menggunakan proyek ekspansi Masjid Nabawi.

Masjid ini jua disebut sebagai masjid Id atau masjid Hari Raya, karena dalam sejarahnya, lokasi tempat masjid ini berdiri adalah loka Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan sholat hari raya pada empat tahun terahir kehidupan Beliau. Perlu di ketahui bahwa pada masa Rosulullah pada tempat ini hanyalah tanah lapang yang dia pakai buat melaksanakan sholat, belum berbentuk sebuah bangunan masjid.

Di lokasi ini atau di lokasi yg berdekatan menggunakan lokasi masjid ini, Rosulullah S.A.W pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi. Beliau adalah Kaisar Aksum pada Abbysinia (sekarang Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, tetapi menyambut baik kedatangan kaum muslimin yg mengungsi ke negerinya menghindar berdasarkan kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Ketika Najashi wafat, tidak terdapat siapapun yang bersedia memimpin sholat jenazah baginya & kemudian Rosulullah yang men-sholatkan dia secara ghaib. Peristiwa ini merupakan satu satunya insiden Rosulullah melakukan sholat ghaib atau sholat jenazah tanpa kehadiran menurut jenazah yg pada sholatkan.

Di latar belakang terlihat jelas masjid Nabawi & pelatarannya selesainya proyek ekspansi, tampak gemerlap dengan lampu lampu yg menyinarinya di malam hari.

Peristiwa tadi terekam dalam galat satu hadist Rosulullah;

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengumumkan kematian Al-Najasyi dalam hari kematiannya. Kemudian, beliau keluar menuju tempat shalat. Lalu, beliau membariskan shaf, lalu bertakbir empat kali. (HR Bukhari dan Muslim).

Pembangunan Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada Madinah antara tahun 89 sampai tahun 93 Hijriah (jangan sampai keliru dengan Khalifah Umar Bin Khattab). Bangunan tersebut lalu direnovasi sang Sultan dinasti Mamluk, Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah. Kemudian pemugaran pemugaran oleh Syarif Saifuddin Inal Al-Ala'i pada tahun 861 Hijriah.

Setelah itu, Sultan Abdul Majid I semasa kekuasaan Khalifah Islamiyah di Istabul ? Turki dalam tahun 1275 Hijriah / 1859 melakukan renovasi ke bentuk masjidnya misalnya saat ini, selain pemugaran-perbaikan yang dilakukan sang Sultan Abdul Hamid & di renovasi kembali oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, selaku Raja Saudi Arabia.

Payung payung sedang mekar di pelataran Masjid Nabawi, tampak pada latar belakang masjid Al-Ghamamah.

Masjid Al-Ghamamah balik direnovasi secara menyeluruh sang pemerintah Arab Saudi bersamaan dengan perluasan Masjid Nabawi menggunakan membentuk & menata kawasan disekitar masjid ini yang disinkronkan menggunakan Masjid Nabawi, yang pelataran sisi selatan-nya sekarang sudah sangat dekat dengan masjid Al-Ghamamah, karena itu Masjid Al-Ghamamah ini nir lagi digunakan buat penyelenggaraan sholat 5 ketika yg telah dialihkan ke Masjid Nabawi.

Arsitektur Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah ini dibangun pada arsitektur bangunan masjid bergaya klasik, tidak seutuhnya bergaya usmani meski sempat berada di bawah kekuasaan dinasti Turki Usmani. Denah bangunannya berbentuk persegi panjang, terdiri menurut dua bagian; bagian beranda dan ruang shalat utama. Berandanya berbentuk persegi panjang menggunakan panjang 26 meter & lebar empat meter, di bagian atapnya dilengkapi menggunakan 5 kubah, dilengkapi menggunakan lengkungan lengkungan.

Ruang sholat berukuran panjang 30 meter dan lebar 15 meter, ruangannya seolah terbadi 2 oleh jejeran pilar pilar berlengkung penyanggah struktur atap. Bagian atapnya masih ada enam kubah, atap masjid dibangun lebih tinggi dibandingkan atap bagian berandanya. Enam kubah diatap masjid ini dibangun dua jejer dengan kubah paling besar berada di bagian atas area mihrab yang menghadap ke selatan. Karena posisi Kota Madinah berada disebelah utara menurut Ka?Bah di kota Mekah, arah kiblat masjid ini menghadap ke selatan.

Gaya bangunan masjid masjid tua Turki sangat kental dalam gaya bangunan Masjid Al-Ghamamah karena memang dibangun dalam masa kekuasaan Turki Usmani.

Bentuk jendela nya sangat khas, gugusan 2 ventilasi dengan permukaan berbentuk oval dibagian atasnya ditempatkan satu jendela bulat. Padanan jendela ventilasi ini ditempatkan di seluruh sisi masjid. Pintunya dibuat dari kayu yang dihias ukiran khat Utsmani. Masjid Al-Ghamamah dilengkapi dengan satu menara yg dibangun menyatu menggunakan bagian masjid di pojok barat bahari bangunan utama.

Secara keseluruhan sisi luar Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian pada, dinding dan cekungan kubah dipoles menggunakan rona putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles menggunakan warna hitam sehingga memberikan pemandangan latif dalam masjid menggunakan 2 rona yg harmonis***.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

https://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/wijhat/14/10/28/ne50aq-masjidmasjid-bersejarah-di-madinah-masjid-alghamamah

https://ne3matullah.wordpress.com/2010/07/04/masjid-ghamama/

http://www.islamiclandmarks.com/madinah-other/masjid-ghamama

Baca Juga

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Monday, May 4, 2020

Masjid Abu Bakar Siddiq .R.A – Madinah

Meskipun berhubungan dengan sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, namun keberadaan bangunan masjid Abu Bakar Siddiq ini baru berdiri di masa pemerintahan Khalifah Ummar Bin Abdul Aziz. Jauh setelah Rosulullah wafat.

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A.merupakan salah satu dari tiga masjid tua bersejarah yang “tempatnya berdiri” berhubungan erat dengan sejarah awal perkembangan risalah Islam di kota Madinah. Lokasi masjid Abu Bakar Assidik berada di sisi barat daya Masjid Nabawi. Pelataran Masjid Nabawi setelah perluasan hanya berjarak beberapa meter dari masjid ini.

Lokasi Masjid Abu Bakar Assidiq ini sangat berdekatan dengan Masjid Ghamama dan Masjid Ali. Hanya terpaut sekitar 40 meter dari Masjid Ghamama dan pada saat pemerintah Arab Saudi meluncurkan proyek perluasan Masjid Nabawi, tiga masjid ini sempat menjadi buah bibir karena disebut sebut akan dibongkar untuk keperluan proyek perluasan Masjid Nabawi. Namun saat proyek perluasan berlangsung, pemerintah Arab Saudi justru merenovasi masjid masjid bersejarah ini.

Masjid Abu Bakr Siddeeq RA

Al Haram, Madinah 42311, Arab Saudi

Renovasi yang dilakukan pemerintah Saudi lebih kepada perbaikan masjid dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya serta melakukan penataan kawasan disekitar masjid ini sehingga tampak lebih apik serta disinkronkan dengan kawasan Masjid Nabawi. Keseluruhan kawasan disekitar tiga masjid ini dirapikan dengan dilapis dengan lantai batu dari berbagai jenis ditambah dengan bangku bangku dari batu dan penanaman pepohonan pelindung.

Pada saat proses renovasi masjid masjid ini ditutup termasuk masjid Abu Bakar Assidiq, dan kemudian dibuka lagi untuk umum setelah renovasi dan proyek penataan selesai dilaksanakan. Namun demikian tidak seperti Masjid Al-Ghamamah yang pintunya selalu dibuka sehingga Jemaah bisa masuk ke dalam masjid, Masjid Abu Bakar ini pintunya tidak pernah dibuka untuk umum.

Masjid Abu Bakar Siddiq di latar depan, di belakang sebelah kanan adalah masjid Al-Ghamamah, jauh di belakangnya sebelah kiri atas foto adalah sisi paling selatan pelataran Masjid Nabawi.

Beberapa Jemaah yang datang kesana dan sepertinya memang berniat untuk sholat di masjid ini tampak melakukan ibadah shoat sunnat di depan pintu masjid. Tiga masjid bersejarah ini memang tidak lagi menyelenggarakan sholat lima waktu, karena sudah dialihkan ke Masjid Nabawi yang kini sudah begitu dekat terutama setelah proyek perluasan.

Sejarah Masjid Abu Bakar Siddiq

Ada dua versi tentang latar belakang sejarah Masjid Abu Bakar, versi pertama menyebutkan bahwa di lokasi masjid ini, Khalifah Abu Bakar Siddiq semasa hidupnya pernah menyelenggarakan sholat Hari Raya bersama Rosululah dan muslim terdahulu. Versi kedua menyebutkan bahwa dilokasi tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan rumah kediaman Abu Bakar Siddiq. R.A. Bisa jadi kedua peristiwa tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

Karena tidak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah, pintunya pun selelu terkunci, masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai tugu peringatan sejarah dari tempatnya berdiri.

Karena latar belakang sejarah tersebutlah, masjid ini dibangun di lokasi ini. Kemudian dibangun sebuah masjid untuk megenang sejarah tersebut oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun ke 50H. Masjid tersebut kemudian dibangun ulang dalam bentuknya sekarang oleh Sultan Mahmud Khan al-Utsmani (Sultan Mahmud II, wafat tahun 1255 H/ 1839M).

Bangunan masjid dari masa Sultan Mahmud Khan Al-Usmani tersebut kemudian direnovasi oleh Raja Fahd tahun 1411H tanpa mengubah bentuk aslinya. Luas Masjid Abu Bakar Siddiq ini berukuran 19.5 x 15 m, lebih kecil dibandingkan dengan Masjid Al-Ghamamah.

Karena tidak difungsikan sebagai tempat ibadah dan pintunya pun selalu terkunci, Masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai sebuah bangunan prasasti pengingat sejarah masa lampau. Meski bangunannya terawatt dengan baik, beberapa bagian masjid terutama pada bagian pintu terdapat banyak sekali coretan coretan baik dengan hurup arab maupun dengan hurup latin. Entahlah apa tujuan dari orang orang pelaku pencoretan tersebut.

Gaya Byzantium (Romawi Timur) sangat kental pada bentuk kubah tunggalnya.

Arsitektur Masjid Abu Bakar Siddiq

Masjid Abu Bakar Siddiq dibangun dalam gaya klasik era awal Usmaniyah. Terdiri dari dua bangunan yakni bangunan masjid dengan kubah besar haya Byzantium di atapnya, ditambah dengan satu menara degan satu balkoni berukiran qurnis dan ujung menara nya dibuat lancip seperti lazimnya masjid masjid Usmani. Menara ini dibangun disi utara menempel dengan bangunan masjid. Fasad depannya dilapis dengan batu batu alam hitam.

Ada dua pintu akses di masjid ini yang sedikit masuk ke dalam tembok bangunan membentuk sebuah ceruk berlengkung yang tak terlalu dalam. Dua pintu ini dibuat senada, terbuat dari bahan kayu tanpa ornamen. Pintu utama berada ditengah dengan bukaan yang berukuran lebih besar, dibagian atasnya terdapat tulisan nama masjid ini dalam aksara arab.***

Detail bagian atas pintu utama Masjid Abu Bakar Siddiq.
Batu batu basal pada fasad depan Masjid Abu Bakar Assidiq yang tampak sudah begitu tua termakan waktu.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

http://www.jurnalhaji.com/masjid-masjid-bersejarah-di-madinah-masjid-abu-bakar-shiddiq/

http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2011/12/mengunjungi-masjid-masjid-bersejarah-di-madinah-2/

http://jelajahdunia.wordpress.com/2010/03/28/madinah-hari-ke-7-melihat-masjid-masjid-di-sekitar-masjid-nabawi/

http://www.aulia-e-hind.com/dargah/Intl/masjidAbubakr.htm

http://www.ahlanpk.org/md800.htm

Baca Juga

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Sunday, May 3, 2020

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid serba putih, Masjid Ali Bin Abi Thalib di kota Madinah, dibangun atas lahan bekas rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan istrinya tercinta Fatimah Az-Zahra yang juga merupakan Putri Rosulullah S.A.W.

Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan satu dari tiga masjid bersejarah yang berada di sebelah barat Masjid Nabawi bersama sama dengan Masjid Al-Ghamamah dan MasjidAbu Bakar Siddiq R.A. Lokasi Masjid ini hanya terpaut sejauh sekitar 100 meter sebelah barat dari gerbang nomor 7 pelataran masjid Nabawi setelah perluasan dan sekitar 122 meter ke utara dari Masjid Al-Ghamamah. Lokasi Masjid Ali bin Abi Thalib berada di sisi selatan ruas jalan As-Salam, ruas jalan yang berahir ke gerbang Nomor 7 pelataran Masjid Nabawi.

Masjid Ali Bin Abu Thalib tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah, karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, semua aktivitas sholat lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi. Pintu masjid ini selalu terkunci, namun tetap menarik perhatian Jemaah dari berbagai Negara untuk sekedar berkunjung. Sayangnya ada saja Jemaah yang melakukan perbuatan kurang terpuji dengan mencoret coret tembok masjid ini terutama di sisi sekitar pintu gerbang sisi timur masjid.

Sejarah Masjid Ali Bin Abu Thalib

Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahra yang merupakan putri kesayangan Rosulullah S.A.W. itu sebabnya masjid ini dinamai dengan nama Masjid Ali Bin Abu Thalib.

Bersamaan dengan dimulainya proyek perluasan Masjid Nabawi, masjid Ali Bin Abi Thalib dan dua masjid lainnya di lokasi yang berdekatan sempat dikabarkan akan di gusur, namun ternyata berita itu tak terbukti, masjid Ali Bin Abu Thalib masih berdiri ditempatnya meski tidak dibuka untuk umum. Semua aktivitas sholat berjamaah lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi karena memang lokasinya yang tidak berjauhan. Dan memang tidak ada anjuran ataupun keistimewaan untuk melakukan sholat di masjid ini.

Masjid Ali Bin Abu Thalib di tepi jalan Assalam dilihat dari arah pintu gerbang nomor 7 pelataran Masjid Nabawi. di sebelah kanan foto tepat disamping gerbang sebelah kanan terdapat gedung Museum Assalam.

Sejarah Pembangunan Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abi Thalib pertama kali dibangun ole Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang memerintah di Madinah sebagai pengingat sejarah tempatnya berdiri. Bangunan tersebut kkemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I pada saat Arab Saudi menjadi bagian dari wilayah Khalifah Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Renovasi terhadap masjid ini kembali dilakukan tahun 1269 H.

Dimasa kekuasaan kekuasaan Kerajaan Arab Saudi, Masjid Ali Bin Abu Thalib kembali  direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H, sebagaimana dijelaskan pada prasasti yang dipasang ditembok pagar disamping gerbang timur masjid. Raja Fahd memperluas masjid ini hingga mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter.

Sisi depan Masjid Ali Bin Abu Thalib menghadap ke jalan As-Salam, tampak dua gerbang pagarnya yang selalu tertutup dan terkunci rapat. Kini ada mesin ATM di depan masjid di area pedesterian, disebelah kanan gerbang utama-nya.

Arsitektur Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abu Thalib terdiri dari bangunan utama, satu menara, gerbang dan pagar keliling serta kamar mandi. Bangunan utama masjid ini dilengkapi dengan serambi dengan lima lengkungan berceruk dalam bentuk senada. Pintu utama berada di lengkungan tengah, empat lengkungan lain terdapat jendela berbentuk segi empat. Pintu masjid ini sejajar dengan gerbang utama masjid yang menghadap ke jalan raya As-Salam di sebelah utara masjid.

Bangunan utama masjid ini memanjang timur barat sepanjang 35 meter dengan lebar 9 meter. Dengan tembok massif warna putih tanpa kanopi. Bagian atapnya dilengkapi dengan tujuh kubah. Satu kubah utama sedikit ditinggikan dibagian tengah dengan denah segi delapan,sementara enam kubah lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan masing masing berdenah segi empat.

Masa kini Masjid Ali Bin Abu Thalib, berdiri diantara jejeran gedung gedung hotel yang berjejer di sekitar Kompleks Masjid Nabawi.

Sisi kiblat masjid Ali Bin Abi Thalib berada di sisi selatan karena memang kota Madinah berada di sebelah utara kota Mekah. Mihrab masjid ini berada dibagian tengah sisi kiblat berupa sebuah cerukan sedalam 1.25 meter di tembok sisi selatan yang sedikit dibangun menonjol kesisi luar, setinggi sekitar tiga meter. Dinding sisi selatan masjid ini dilengkapi dengan beberapa penopang tembok di sisi luar.

Secara keseluruhan masjid Ali Bin Abu Thalib ini memiliki langgam bangunan yang mirip dengan Masjid Al-Ghamamah, namun menaranya dibangun serupa dengan menara MasjidAbu Bakar Assidiq, berupa menara berdenah segi delapan dengan satu balkoni dan bagian puncaknya berbentuk kerucut lancip layaknya bangunan menara gaya Usmani. Satu menaranya ini dibangun di sudut tenggara masjid menempel ke tembok masjid.

Bangunan kamar mandi dan tempat wudhu dibangun di sebelah barat bangunan utama. Sekeliling masjid ini kini dilengkapi dengan pagar tembok dan dua gapura. Gapura utama di sisi utara dan gapura kedua di sisi timur. Pintu pagar di dua gerbang ini kini selalu dalam keadaan terkunci. Di bagian depan masjid di tengah jalur pedestrian kini berdiri 4 unit bangunan ATM berdenah segi delapan.***

Masjid Ali Bin Abu Thalib dengan latar depan arkade Hotel Aramas yang berada diseberang jalan masjid Ali bin Abu Thalib.
Aerial view Masjid Ali Bin Abu Thalib dari sisi selatan (sisi kiblat) tampak area mihrabnya yang sedikit menonjol keluar dari tembok masjid dibagian tengah.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A. Madinah

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Friday, May 1, 2020

Masjid Miqot Bir Ali, Madinah

Gerbang primer Masjid Miqot Bir Ali di Dhul Hulaifah, Madinah.

Masjid Miqot Bir Ali atau Masjid Miqot Dhul Hulaifah adalah salah satu masjid tempat miqot  atau memulai ihram bagi Jemaah haji dan umroh yang berasal dari Madinah atau yang melalui Madinah. Secara harfiah, Bir Ali berarti “sumur sumur Ali”, nama tersebut berkaitan dengan peristiwa saat Ali bin Abu Thalib menggali sumur dengan jumlah yang sangat banyak di masjid ini.

Oleh karenanya loka ini diberi nama Bir Ali, bir yg ialah adalah sumur menggunakan bentuk jamak, sedangkan Ali merupakan tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak. Tetapi saat ini sumur-sumur itu tertutup sang bangunan-bangunan disekitar masjid & bangunan masjid itu sendiri. Masjid ini pula biasa diklaim menjadi Masjid Miqot Dhul Hulaifah merujuk pada nama wilayah tempatnya berada.

Dhul Hulaifah Miqat Mosque

Dhul Hulaifah, Medina 42393, Arab Saudi

Masjid Bir Ali adalah masjid miqot terjauh berdasarkan kota suci Mekah, sedangkan jarak tempuh berdasarkan kota Madinah ke Bir Ali lebih kurang 11 kilometer. Menggunakan mobil hanya memakan saat sekitar 15 mnt.

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri dalam masa Rosulullah masih ada sebuah pohon jenis akasia yg sebagai tempat Rosulullah berteduh waktu miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tadi kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun dalam masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Masjid yang sama lalu direnovasi dalam masa dinasti Abbasiyah & direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada ketika itu masjid masih berbentuk sangat mini dan terbuat berdasarkan batu, & belum terdapat jemaah haji & umrah yang singgah pada masjid ini.

Diantara pohon pohon kurma.

Perluasan & peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yg memerintahkan renovasi dan ekspansi masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini sudah diperluas beberapa kali lipat, & diberikannya fasilitas yang diharapkan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar menggunakan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dilingkupi koridor koridor panjang menggunakan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri secara umum dikuasai bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar menggunakan 2 menara diatasnya.

Menara spiral masjid miqot Bir Ali.

Bangunan primer masjid berada pada dalam ?Tembok benteng? Tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yg teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat ?Inner courtyard? Atau pelataran tengah dilengkapi menggunakan satu pancuran air pada bawah bangunan kecil berkubah dilingkupi taman yang menghijau.

?Bangunan seperti benteng? Yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, loka wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, tempat kerja petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Mihrab dan mimbar masjid miqot Bir Ali.

Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral dengan tinggi 62 meter, lokasinya berada pada bagian pada tembok benteng. Masuk ke pada masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran akbar yang masing masing terhubung menggunakan lengkungan menjadi penyangga struktur atap diatasnya.

Dominasi rona merah pada permukaan lengkungan & hamparan karpetnya menaruh kesan glamor di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yg relatif akbar, dibagian bawahnya dibentuk relung relung yg difungsikan sebagai rak loka menyimpan kitab kudus Al-Qur?An.

Didalam masjid miqot Bir Ali.

Untuk kenyamanan Jemaah masjid Bir Ali dilengkapi dengan lebih dari 500 toilet dan kamar mandi dibagi menjadi tiga peruntukan masing masing toilet dan kamar mandi untuk Jemaah pria, wanita dan Jemaah difabel.  Banyaknya kamar mandi dan toilet tersebut sangat membantu Jemaah yang akan membersihkan diri dan bersuci sebelum memulai ihram dari masjid ini. Di masjid ini Jemaah juga akan melaksanakan sholat sunah umrah dilanjutkan dengan berniat dan melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Landscape disekeliling masjid ini berupa pegunungan batu & pasir dan perkebunan kurma yg cukup luas. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Bir Ali pula dilengkapi menggunakan laman parkir yg relatif luas & parkirnya tidak berbayar alias gratis.***

Koridor panjang di Masjid Miqot Bir Ali.
Inner courtyard di masjid miqot Bir Ali.
Jejeran pintu masjid miqot Bir Ali.
Taman di Masjid Miqot Bir Ali.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Ali Bin Abu Thalib Madinah

Masjid Abu Bakar Siddiq Madinah

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done