|
| Add caption |
Wilayah Luar Batang tak terpisahkan dari sejarah kota Jakarta. Di tempat ini berdiri masjid yang berada di daerah Pasar Ikan, Jakarta Utara. Di masjid ini dimakamkan seorangulama bernama Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus, ulama besar tanah Betawi yang wafat pada tanggal 24 Juni 1756. Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein, yaitu Habib Luar Batang. Masyarakat sekitar dan para peziarah bahkan menyebut masjid ini sebagai masjid keramat Luar Batang. Lokasinya tidak jauh dari benteng (kastil) VOC daerah pelabuhan.
Jalan Luar Batang V berada sekitar 300 meter dari jalan utama, berada dalam gang sempit yang hanya memuat 2 mobil yang harus berjalan pelan. Bus rombongan harus memutar agak menjauh lewat jalur belakang yang sepi dan becek terkena air pasang laut. Sementara pemukiman miskin dan super padat mengepung lokasi masjid. Salah satu akibatnya, saat banjir menerjang Jakarta 2007 dan gelombang laut pasang awal 2008, tim pemadam kebakaran kesulitan memompa air yang sempat merendam masjid hingga sebatas dada orang dewasa. Dibutuhkan waktu sehari untuk menguras banjir tersebut.
Alamat dan Lokasi Masjid Luar Batang
Jalan Luar Batang V RT 4/3 No. 1
Kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan
Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta 14440
Mengenal Habib Luar Batang
Sayid Husein Bin Abu Bakar Bin Abdillah Al-laydrus atau Habib Husein atau Habib Luar Batang adalah seorang ulama yang dari dari Hadramaut, Yaman. Ketika tiba pada daerah Luar Batang yang kala itu masih berupa rawa-rawa, keliru satu ujung Jakarta, pada tepi bahari Jakarta yg dekat menggunakan Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan Internasional tempat kapal saudagar berdasarkan seluruh penjuru dunia menambatkan perahu, gerbang Batavia ketika itu.
Suatu malam, Habib Husein dikejutkan menggunakan kedatangan seorang yang basah kuyup. Ternyata, dia seorang Tionghoa yang sedang dalam pengejaran tentara VOC. Habib pun menampung orang ini pada musholahnya. Siangnya, tentara VOC mendatangi musholah tadi buat menangkap sang pelarian. Tapi, Habib Husein mencegah. ?Aku akan melindungi tawanan ini & akulah sebagai jaminannya," tegas Habib begitu lantang.
Mendapati ketegasan menurut seseorang yang berpengaruh di daerah itu, tentara VOC pun mengalah. Haru dengan pembelaan Habib Husein, sang pelarian yang non muslim pun akhirnya masuk Islam. Dan beliau menjadi pembantu Habib pada menyiarkan kepercayaan Islam pada wilayah itu.
Luar Batang adalah Julukan Habib Husein
Luar Batang merupakan julukan yang diberikan kepada Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus. Cerita turur menyebutkan bahwa ketika Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756) pada usia sekitar 30-40 tahun, Belanda melarang melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanahabang.
|
| Masjid Keramat Luar Batang lebih kurang tahun 1925 |
Ketika akan dimakamkan, pada saat digotong memakai "kurung batangdanquot; (keranda menurut bambu) menuju ke Pemakaman pada Tanah Abang, waktu tiba pada pemakaman jenazahnya telah tidak terdapat di dalam kurung btg, dan saat para jemaah kembali ke kediaman Habib Husein mereka mendapati Jenazah dia masih berada pada kediamannya. Kala itu,
Hal tadi berlangsung sampai 3 kali. Akhirnya para jama'ah kala itu bermufakat buat memakamkan beliau di tempatnya sekarang ini dan Belanda lagi-lagi mengalah. Sejak itulah, loka itu dinamakan musholah luar batang, yang lalu dipugar sebagai Masjid Luar Batang.
Versi lain Luar Batang
Ada vesi lain tentang Luar Batang. Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Batavia karena keramat Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus (w. 1756). Keramat ini banyak peziarah. Pada peta-peta abad ke-19 terkadang tertulisHeilig graf, artinya "makam keramat"di tempat Masjid Luar Batang sekarang. Masjid ini terletak disebelah utara tembok kota lama, di daerah yang sesudah pertengahan abad ke-17 diuruk dan baru boleh dihuni oleh orang Jawa dari Cirebon sejak 1730. Mereka bertugas membersihkan mulut kali Ciliwung dari lumpur, Supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan yang letaknya tidak jauh dari masjid ini.
Daerah Luar Batang ialah wilayah di luar btg besar (groote boom) yg menutup pelabuhan pada malam hari, merupakan tanah endapan dan berukuran yang semakin menjorok keutara. Pada peta-peta Batavia lama . Wilayah disebelah utara tembok kota & kali yang menghubungkan kali besar dan Muara Baru, terbentuk perlahan-lahan antara tahun 1650 dan 1700. Sejak awal tahun 1730-an wilayah ini sangat tidak sehat, lantaran nyamuk yang berkembang biak pada tambak ikan di pantai utara, menyebarkan malaria.
|
| Menara Masjid Luar Batang menjulang diantara bangunan disekitarnya. |
Sejarah Masjid Luar Batang
Menurut situs pemerintah DKI Jakarta, masjid Luar Batang pertama kali dibangun tahun 1739. Dibangun sendiri oleh Khatib Sayid Husein Bin Abu Bakar Bin Abdillah Al-laydrus atau Habib Husein atau Habib Luar Batang. Bentuknya mungil buat berukuran masjid masa sekarang, kurang lebih 6x6 meter. Pada waktu itu, lebih akrab dianggap surau/langgar. Terbuat menurut kayu menggunakan gaya bangunan khas Betawi. Hanya saja, kubah bawang sudah dikenalkan saat itu.
Tetapi tahun pembangunan masjid sebagaimana disebut pada situ pemerintah DKI itu tidak sama menggunakan asal sumber yang lain. Belum adanya sejarah resmi mengenai sejarah masjid ini yg didasarkan pada penelitian dan data kompreshensif menimbulkan kesimpangsiuran sejarah.
Pada sebuah batu dalam Masjid Luar Batang ditulis, bahwa'al Habib Husein bin Abubakar Bin Abdillah al-Alaydrus yang telah wafat pada hari kamis 27 Puasa 1169 berkebetulan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. sebab, L.W.C, Van Berg dalam buku yang termasyur tentang orang Hadhramaut, menyebut, bahwa Habib Husein baru wafat 1798 (!). sedangkan Ronkel sudah menyebut batu peringatan tersebut dalam karangannya yang diterbitkan pada tahun 1916. Batav Courant edisi 12 Mei 1827 menyebutkan, Habib Husein meninggal dalam rumah komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid.
| |
| Masjid Keramat Luar Batang, saat ini telah menjelma sebagai sebuah bangunan masjid megah & modern. |
Pada tahun 1916 telah dicatat diatas pintu masjid, bahwa gedung ini terselesaikan dibangun dalam 20 Muharam 1152 H yg sama menggunakan 29 April 1739. Qiblat masjid ini kurang sempurna dan ditentukan lebih persis oleh Muh. Arshad al-Banjari (w. 1812) waktu singgah bepergian pulang menurut Hejaz ke Banjar pada tahun 1827. Masjid ini kurang berkiblat, sama misalnya Masjid Kebon Sirih dan Cikini. Oleh karenanya, ada penulis (misalnya Abubakar Atjeh) yg beranggapan, bahwa semula ruang masjid ini merupakan bekas rumah kediaman seseorang, yg lalu dipakai sebagai mushola atau masjid.
Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada tahun 1736 ia meninggalkan Batavia dari sheng mu gang,artinya 'pelabuhan makam keramat', pelabuhan Sunda Kelapa sekarang. Bukankah Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756). Maknanya bahwa pada tahun 1736 (dua puluh tahun sebelum Habib Luar Batang Wafat) sudah terdapat suatu makam yang dianggap keramat di daerah pelabuhan Batavia, lalu Itu keramat siapa ?.
Koran Bataviaasche Caurant, tanggal 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat pada tulisan ini, bahwa Habib Husein mati dalam tahun 1796, sesudah usang berkhotbah diantara surabaya dan Batavia. Pada tahun 1812 makamnya dikijing dengan batu & masih terletak pada luar gedung masjid sampai tahun 1827. Pada ketika ini rupanya derma nir lagi diterima sang komandan (semacam lurah) wilayah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh (pengurus) masjid sebagai akibatnya gedung bisa diperluas. Di lain pihak suatu masjid (!) bukan surau sudah dicatat dalam peta yg dibuat C.F.Reimer pada tahun 1788.
|
| Di dalam Masjid Keramat Luar Batang |
Dengan merangkumkan segala data yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa suatu makam yg dianggap keramat sudah terdapat di Luar Batang pada tahun 1736 Mushola atau masjid didirikan 1739, Habib Husein tinggal diadaerah itu dan meninggal nir sebelum 1756 (mungkin baru pada tahun 1796 atau 1798), makam keramat Habib Huseinlah yg menarik banyak peziarah, sebagai akibatnya Masjid Luar Batang sebagai Masjid populer pada Batavia usang.
Masjid Luar Batang pada Masa sekarang
Kini lebih berdasarkan tiga abad berlalu. Bekas-bekas masa lampau sudah hampir nir ada lagi. Seluruh bangunan telah dirombak total dalam 1992. Kubah bawang diganti sebagai kubah joglo atau kubah limas tadisional Indonesia. Menara masjid dipancang tinggi-tinggi, menyembul ditengah pemukiman super padat tersebut. 12 tiang primer berdasarkan kayu dibongkar dan diganti pilar beton bergaya Romawi. Sementara lantai kayu & ubin diganti menggunakan keramik & batu granit.
Selain plafon kayu jati yang masih asli, penanda yang menunjukan masjid tersebut terbilang uzur adalah prasasti di makam Husein bin Ali Idrus. Di situ tertulis makam bertanggal 24 Juni 1756. Di dalam ruangan 6x7 meter tersebut menjadi pusara terakhir Husein bin Alaydrus. Meski telah mengalami perubahan bentuk secara total dari bangunan masjid yang pertama kali dibangun oleh Habib Husein namun masjid ini tetap terdaftar dalam bangunan bangunan bersejarah pemerintah DKI Jakarta, dan harus dilindungi dan dilestarikan karena faktor kesejarahan nya.
Masjid Keramat Ramai Peziarah
Masjid & makam Husein bin Alaydrus sebagai magnet bagi ratusan bahkan ribuan ummat Muslim pada Indonesia, pengurus masjid & maqom terus berbenah. Berbagai fasilitas pendukung disiapkan misalnya area parkir yang representatif, dan air bersih buat berwudlu. Begitupula menggunakan banyak sekali kegiatan yg mempererat rasa persaudaraan (ukhuwah) umat Islam.
Gema tentang ketokohan Habib Husein tak bisa diingkari memang luar biasa. Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC van den Berg pada 1886 menunjukkan betapa populernya Habib Husein. Ia menulis, "Tidak hanya golongan pribumi, namun juga orang-orang Tionghoa campuran, dan kaum Indo, berziarah memohon keberhasilan dalam usaha mereka memperoleh keturunan, dan sebagainya. Penjualan benda-benda keramatnya saat itu mencapai 8.000 gulden setahun."
kini menurut pengelola masjid, setiap malam Jumat kliwon, masjid ramai dikunjungi peziarah. Sebagian mereka datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Irak, dan Iran. Untuk menyemarakkan suasana, pengelola masjid menggelar musik rebana biang atau rebana hadroh. Suasana masjid menjadi lebih ramai saat Ramadhan datang. Hidangan khas Betawi bercita rasa Arab (Hadramaut, Yaman) disajikan kepada seluruh peziarah. Nasi kebuli, kurma, minuman selasih, pacar cina, dan es kelapa muda menjadi hidangan pembuka puasa.
Puncak keramaian makan besar pada masjid ini berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta hari kelahiran Habib Husein lepas 25 Agustus. Setiap memperingati maulid & hari kelahiran habib, pengurus memasak nasi kebuli hingga 40 kuali buat lima.000 peziarah. Selain makan akbar, setiap Ramadhan, pengelola masjid bersama sejumlah pengelola masjid tua lain menyelenggarakan tradisi khatam Quran secara bergantian.
Video Masjid Luar Batang
Referensi
Id.Wikiipedia – Masjid Luar Batang
Na-2.blogspot.com – wisata masjid masjid tua
Jakarta.go.id – bangunan cagar budaya
Detiknews.com – Masjid Luar Batang Oase di kampung dhuafa
Masjidluarbatang.blogspot.com – sekilas sejarah masjid luar batang
Travel.kompas.com – Ada mercusuar di masjid luar batang
--------------------------------ooOOOoo--------------------------------
Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya
Masjid Langgar Tinggi Pekojan - Jakarta
Masjid Jami? Al Atiq, Kampung Melayu ? Jakarta Selatan
Masjid Jami? Al-Anwar, Angke - Jakarta
Masjid Al-Ma?Mur Tanah Abang, Jakarta
Masjid Jami? Al-Makmur Sawah Lio, Jakarta
Masjid Jami Cikini Al-Ma?Mur - Jakarta
Masjid Jami? Annawier, Pekojan