Islami Pedia: islam di afrika barat
News Update
Loading...
Showing posts with label islam di afrika barat. Show all posts
Showing posts with label islam di afrika barat. Show all posts

Saturday, October 3, 2020

Islam di Senegal

Peta Republik Senegal

Pernah mendengar tentang ajang balap lintas gurun ekstrim Paris-Dakar ?. Dakar yang diklaim dalam judul ajang balap tadi adalah Ibukota negara Republik Senegal. Republic of Senegal atau dalam bahasa Prancis diklaim R?Publique du S?N?Gal adalah keliru satu negara pada pantai barat benua Afrika bekas jajahan Prancis. Semasa penjajahan oleh bangsa Eropa, Wilayah ini terbagi pada dua kekuasaan, daerah disepanjang sungai Ghambia yang tidak lebih luas menurut propinsi Gorontalo merupakan wilayah jajahan Inggris dan dikemudian hari sebagai Republik Gambia beribukota di Banjul di muara sungai Ghambia pada tepian Samudera Atlantik. Seluruh wilayah daratan Ghambia berada ditengah tengah Negara Republik Senegal.

Sebagai negara bekas jajahan Prancis, Senegal memakai Bahasa Prancis menjadi bahasa resmi negara, tetapi mengakui bahasa Wolof, Soninke, Seres dan bahasa lokal lainnya menjadi bahasa nasional. Suku Wolof adalah suku terbesar di Senegal menggunakan rasio kurang lebih 43.Tiga% dari keseluruha populasi penduduknya, menyusul lalu suku Pular (23.8%), Serer (14.7%), Jola (tiga.7%), Mandinka (3.0%) Soninka (1.1%), Eropa (1.0%) & keturunan Lebanon sekitar 9.4%.

Senegal merdeka menurut Prancis pada lepas 20 Juni 1960, sempat bergabung pada Federasi Mali tetapi tak berlangsung lama lalu keluar berdasarkan Federasi dalam tanggal 20 Agustus 1960. Senegal pula pernah membentuk Federasi bersama menggunakan Ghambia dengan nama Senghambia namun pula tak berlangsung usang dan bubar pada tahun 1989. Luas holistik wilayah Senegal lebih kurang 196,723 km2 ditambah dengan wilayah perairan seluas 76,000 sq mi. Jumlah penduduk Negara ini di tahun 2011 lebih kurang 12,855,153. Iklim di Senegal hampir sama dengan di Indonesia, hanya memiliki dua trend, kering dan trend hujan. Wilayah negara Senegal berbatasan menggunakan Mauritania pada utara, Mali disebelah timur, Guyana & Guyana Bissau disebelah selatan & sisi sebelah baratnya menghadap ke Samudera Atlantis. Di bagian dalam wilayahnya berbatasan dengan negara Ghambia.

Masjid masjid akbar di Senegal homogen rata dibangun buat menghormati tokoh tokoh Islam terkenal disana, seperti para wali bila di Indonesia. Seperti Masjid Agung Touba yg ada di foto ini dibangun disebelah makam Syeikh Amadou Bamba yg adalah pendiri Tharikat Mouridiyyah. Hingga kini Kota Touba merupakan kota kudus pusat aktivitas Thariqat Mouridiyah.

Ibukota negara Senegal berada pada kota Dakar yang berada pada bagian ujung paling timur wilayah negara pada semenanjung Cap Vert yang menjorok ke Samudera Atlantik. Sekitar 500 kilometer dilepas pantai Dakar ini masih ada pulau Cape Verde. Sepanjang abad ke 17 sampai abad ke 18 daerah ini sebagai pos perdagangan bagi berbagai dinasti sampai lalu Prancis mendirikan pusat kekuasaannya pada kota St. Louis sebagai ibukota Prancis Afrika Barat (Afrique occidentale fran?Aise, or AOF) sebelum lalu dipundahkan ke Dakar pada tahun 1902.

Berawal menurut Salah Sebut

Nama Senegal diambil dari nama sungai yang sekarang menjadi batas daerah alami negara tersebut dengan Mauritania & Mali di sebelah utara & timur. Menurut pada teori David Boilat (1853) Kata Senegal sebenarnya asal dari bahasa Wolof ?Sunu gaal? Yang berarti ?Kanu (sampan) Kami? Tetapi terjadi miskomunikasi antara pelaut Portugis dengan para nelayan suku Wolof sehingga Para pelaut Portugis di sekitar abad ke 15 yang menyebut wilayah itu dengan nama Senegal. Namun para sejarawan modern menyebutkan teori yg lain bahwa Nama Senegal dari menurut nama suku Zenaga yang tinggal disebelah utara sungai Senegal waktu ini, teori lainnya merogoh menurut catatan geografer arab yg menuliskan nama Sanghana sebagai sebuah kota di abad pertengahan tetapi secara umum teori pertama jauh lebih populer. Tetapi dalam kepercayaan suku Serer mereka konfiden bahwa Sene Gall merupakan 2 istilah yg berarti ?Badan air? Alias Sungai.

Islam d i Senegal

Islam merupakan kepercayaan dominan di Senegal, diperkirakan kurang lebih 95% penduduk negara tadi merupakan pemeluk kepercayaan Islam. Islam sudah hadir di Senegal lebih menurut satu mileniemum. Kelompok etnik pertama yg masuk Islam merupakan orang orang dari suku Toucouleur di lebih kurang abad ke 11 masehi, & menggunakan cepat Islam berkembang disana sebagai akibatnya di awal abad ke 20 hampir semua orang Senegal telah beragama Islam. Sebagaian akbar muslim disana menganut aliran Tharikat Sufi Islam dan dalam rasio lebih kurang 1% dari mereka menganut Ahmadiyah.

Masjid Sheikh Oumar Foutiyou pada kota Dakar, perhatikan bentuk menaranya yang sangat spesial .

Ajaran sufi sangat kental dalam kehidupan muslim Senegal, lantaran memang menilik sejarah masuk & berkembangnya Islam disana tidak lepas berdasarkan peran para tokoh sufi. Hingga kini tradisi sufisme merupakan arus primer dan pimpinan masing masing Tharikat sebagai sosok yang teramat krusial pada dalam rakyat.

Sejarah Islam pada Senegal

Islam masuk ke daerah yg ketika ini dikenal sebagai negara Senegal pada permulaan abad ke sebelas masehi dengan mualafnya orang orang berdasarkan suku Toucouleurs, yang dalam mulanya dimulai kepala suku (dalam bahasa setempat diklaim Damel) Kerajaan Cayor yg bernama Lat Dyor Diop yg masuk Islam. Setelah ber-Islam beliau bersatu dengan kerajaan kerajaan menurut suku Wolof & Fulani lainnya buat menentang kolonialisasi sang Prancis disana.

Perubahan fundamental dilakukan oleh kepala suku (almamy) Rip, bernama Maba Diakhou B?, Selain mengganti sistem tata negara ke pada sistem Islam, beliau jua berupaya menghapus sistem tradisional keningratan Etnis Wolof siste aristokrasi Serer dalam upaya bergabung dengan kekuatan kekuatan muslim lainya, termasuk menjaiin kerjasama dengan Kekaisaran Islam di Mali dibawah pimpinan El Hadj Umar Tall.

Di penghujung abad ke 19, Tharikat tharikat Sufi Islam di Senegal termasuk Tharikat Tijani dan Mouridiyyah berjuang membebaskan diri menurut penjajahan Prancis & Inggris pada tanah air mereka. Namun seiring dengan ditangkapnya para tokoh masing masing Tharikat seperti Syeikh Malick Sy & Syeikh Amadou Bamba, perlawanan para pengikut Tharikat disana berubah menjadi perjuangan kebebasan menjalankan kepercayaan .

Prancis yang menjajah Senegal menjadikan wilayah itu sebagai sebuah negara menggunakan sistem Sekuler & bertaha hingga sekarang meski sudah merdeka dari penjajahan Prancis namun negara menjamin kebebasan beragama bagi warganegaranya. Meski demikian pengaruh Tharikat Sufi Islam dalam dunia politik sangat bertenaga di negara ini.

Tharikat Islam pada Senegal

Muslim pada Senegal hampir seluruhnya adalah anggota berdasarkan salah satu Tharikat Sufi Islam. Dua Tharikat Sufi Islam terbesar dinegara itu adalah Tharikat Maouridiyyah dan Tharikat Tijaniyyah, termasuk juga Tharikat Qodiriyyah dan beberapa tharikat tharikat lainnya meski menggunakan pengikut yang relatif sedikit. Tharikat Tijaniyyah mempunyai basis pengikut pada Kota Tivaouane & Kaolack, sedangkan Tharikat Maouridiyyah berbasis pada kota Touba. Masing masing Individu bergabung menggunakan salah satu Tharikat lantaran faktor keturunan ataupun karena pilihan langsung masing masing.

Syeikh Amadou Bamba, pendiri berdasarkan Tharikat Mouridiyyah sendiri asal berdasarkan famili pengikut Tharikat Qoddiriyyah.

Tharikat Mouridiyyah merupakan Tharikat asli dari Senegal yang berpusat di kota Touba sedangkan Tharikat Tijaniyyah berasal dari Kawasan Afrika utara kemudian menyebar ke Afrika barat termasuk wilayah Mali, Mauritania dan Senegal. Tharikat Qodiriyyah awalnya berdiri di Mauritania kemudian menyebar hingga ke Senegal. Tharikat Qodirriyah merupakan Kelompok Tharikat pertama dan tertua di Senegal. Syeikh Amadou Bamba, pendiri berdasarkan Tharikat Mouridiyyah sendiri asal berdasarkan famili pengikut Tharikat Qoddiriyyah. Dari jumlah pengikut, Tharikat Tijaniyyah sebenarnya merupakan Tharikat dengan pengikut terbesar di Senegal namun dari sisi Organisasi dan kapasitasnya mereka kalah populer dibandingkan dengan Tharikat Moudridiyyah. Masjid Tharikat Tijaniyyah di kota Tivaouane merupakan tempat kedua yang paling banyak dikunjungi jemaah di Senegal setelah masjid Agung Touba.

Syeikh Amadou Bamba adalah tokoh sentral menurut Tharikat Mouridiyyah yg dibentuknya seja masa penjajahan Prancis di sekitar tahun 1887. Setelah dua kali mengalami penangkapan & pengasingan sang Penguasa Prancis ahirnya dia dibebaskan & diberikan hak buat membangun komunitas sendiri pada Kota Touba. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis pada perang dunia pertama.

Kota Touba kemudian berkembang menjadi pusat Tharikat Maouridiyah. Sebuah masjid berukuran sangat besar bernama Masjid Agung Touba dibangun disamping makamnya 40 tahun setelah beliau wafat, dan sekali dalam setahun, pada  hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, hampir dua juta pengikut Tharikat Mouridiyah membanjiri kota tersebut memperingati hari kembalinya Syeikh Bamba dari pengasingan yang disebut peringatan Grand Magal. Kota Touba sendiri memiliki status khusus di Senegal sejak masa penjajahan Prancis, mirip seperti sebuah negara di dalam negara. Di Touba penguasanya hanya satu yakni Khalifah dari Tharikat Mouridiyah yang merupakan keturunan dari Syeikh Bamba ataupun salah satu dari pengikut setianya yang terpilih. Tak ada gubernur, walikota atau pejabat pemerintahan lainnya bahkan tidak ada polisi ataupun tentara, semua sektor kehidupan dibawah kendali Khalifah Tharikat dan para aparaturnya.

Menara Masjid Rabbani pada daerah Oakam, pinggiran kota Dakar. Menggunakan bentuknya yg unik. Bangunan masjid masjid pada Senegal nyaris tidak ada pola tertentu yang menjadi isu terkini atau gaya nasional misalnya di Indonesia.

Tharikat Mauridiyyah Memiliki impak yg sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya beredar sampai ke Paris & New York city dan banyak sekali kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yg terkenal merupakan Presiden Senegal Abdoulaye Wade yg menang pada pemilihan presiden selesainya mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf berdasarkan Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba buat meminta restu berdasarkan Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (S?Ri? Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Di kota Touba nyaris tidak pernah terjadi tindak kriminal disepanjang sejarahnya, aturan Islam secara ketat diberlakukan pada kota itu. Alkohol & sejenisnya, rokok & sejenisnya, tarian & musik bahkan bermain game pun terlarang di kota itu. (seperti dengan di Indonesia) Mushola dan masjid adalah bangunan yang wajar terlihat dimana mana. Seperti pada kota kudus Mekah, di kota Touba-pun denyut nadi perekonomian dan semua aktivitas terhenti waktu terdengat suara azan. Muslim disana bergegas menuju mushola atau masjid terdekat untuk melaksanakan sholat berjamaah.***

-------------------

Baca Juga

Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Masjid King Fahd di Banjul - Gambia

Masjid Larabanga, Masjid Pertama di Larabanga dan Afrika Barat

Masjid (bernama) Indonesia pada Maroko

Masjid Hassan II ?Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Agung Dakar, The Dakar Grand Mosque – Senegal

Masjid Maroko di Senegal. Masjid Agung Dakar dibangun oleh pemerintah Maroko dengan rancangan masjid Maroko yang sangat kental. Bangunan masjid ini menambah khazanah arsitektur masjid di Senegal yang masing masing bangunan masjid nya memiliki bentuk yang ceritanya sendiri sendiri.

Dakar adalah ibukota negara Senegal, sebuah negara di Afrika barat yang bertetangga dengan Mauritania di utara, Mali di timur serta Guyana dan Guyana Bisau di selatan. Uniknya ditengah tengah negara Senegal ini ada negara Gambia yang wilayahnya membentang dari muara sungai Gambia hingga beberapa kilometer ke hulu Sungai. Kota Dakar berada di sebuah semenanjung yang menjorok ke arah Samudera Atlantik menjadikannya sebagai salah satu pelabuhan laut penting di kawasan tersebut.

Islam memainkan peran penting di Senegal. Sekitar 94% penduduk Senegal menganut agama Islam. Di Kota Dakar berdiri sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Dakar atau dalam bahasa Inggrisnya disebut The Dakar Grand Mosque dan dalam Bahasa Prancis disebut Grande Mosquée de Dakar. Merupakan bangunan religi paling penting di Ibukota negara tersebut yang berdiri megah di kawasan Allée Pape Gueye Fall. Di titik koordinat 14° 40′ 40″ N, 17° 26′ 32″ W atau 14.677778, -17.442222

Lokasi Masjid Agung Dakar – Senegal

Grande Mosquée de Dakar

Allée Pape Gueye Fall

Dakar, Republic of Senegal

Koordinat : 14° 40′ 40″ N, 17° 26′ 32″ W

Lihat Peta Lebih Besar

Masjid Agung Dakar ini juga berfungsi sebagai masjid negara, dirancang bersama sama oleh aristek Maroko dan Prancis, di resmikan pada tahun 1964 oleh Raja Hassan II dari Maroko bersama sama dengan Presiden Senegal Léopold Sédar Senghor. Gaya rancangan masjid ini mirip dengan Masjid Muhammad V di Casablanca, Ibukota Maroko. Masjid megah yang kaya dengan taburan dekorasi indah dibagian interior maupun ekteriornya. Lengkap dengan menara tunggal setinggi 57 meter.

Sejak tahun 1964 sebuah lembaga pendidikan tinggi Islam diresmikan di masjid ini dengan nama Institut islamique de Dakar atau Institut Agama Islam Dakar yang merupakan merupakan institusi publik dibawah kendali kementrian pendidikan dan Budaya Senegal didedikasikan bagi Riset dan Pengajaran Islam di negara tersebut. Institut ini memiliki sebuah perpustakaan moderen yang diberi nama Naef Ben Abdelaziz Al-Saoud secara resmi dibuka pada tanggal 9 Oktober 2004.

Menara segi empat khas Maroko di masjid Agung Dakar menyembul diantara atap atap bangunan lainnya di langit kota Dakar
Pekarangan yang luas di depan masjid akan penuh sesak oleh jamaah di hari jum'at apalagi di dua sholat hari raya
Seperti halnya masjid masjid Maroko, Masjid Agung Dakar ini juga dilengkapi dengan Pelataran tengah

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------

Baca juga

Islam di Senegal

Masjid King Fahd di Banjul - Gambia

Masjid Larabanga, Masjid Pertama di Larabanga dan Afrika Barat

Masjid (bernama) Indonesia di Maroko

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Kembaran Masjid Baiturrahman Banda Aceh di Yogyakarta

Masjid Tertua di Singapura, dibangun pengusaha Palembang

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Agung Kolombo, Warisan bangsawan Bugis di Kolombo

Sunday, August 23, 2020

Islam di Kamerun

Kamerun merupakan negara yang berada di pantai barat bagian tengah benua Afika berbatasan menggunakan Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon & Equatorial Guinea. Nama Kamerun timbul berdasarkan orang orang Portugis yg mendarat di pantai kamerun tahun 1472 & melihat banyak usang pada perairannya, sebagai akibatnya menamakannya Rio des Cameroes (Sungai Udang).

Dengan daerah seluas 475.440 km2, Ibukora negaranya berada di kota YAOUNDE (semula beribukota di Buea) dan terbagi dalam 10 propinsi. Penduduk Kamerun cukup padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri menurut suku orisinil Afrika (black African) sebesar 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku orisinil Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang menurut Eropa & Arab. Mata uang yg dipakai adalah Comnmunaute Financiere Africaine Francs (XAF), & US $ 1,- berharga kurang lebih 581.2 XAF.

Kamerun juga dikenal memiliki tradisi sepakbola yg handal, sejak diperkenalkan oleh Jerman dalam tahun 1926. Pernah menjuarai Piala Afrika sebesar lima kali (1965-1980), dan terakhir, Kamerun dikenal global karena menjadi peserta pada Worldcup sejak tahun 1982. Kamerun jua banyak menelorkan pemain kelas global antara lain Roger Milla, Patrick Mboma, & Samuel Eto?O.

Bek Persib Jadi Mualaf. Abanda Herman (berpeci putih), Salah satu pesebakbola asal Kamerun yang maang melintang di persepakbolaan di Indonesia.  di tahun 2013 mengucapkan dua kalimah sahadat di Masjid Kiara Condong Bandung. kala itu dia memang sedang memperkuat tim kesebelasan Maung Bandung, Persib.

Kamerun sering dianggap menjadi Miniatur nya Afrika lantaran keberagaman nya mulai menurut keberagaman iklim, budaya, agama grup etnit nya, bahkan bahasa nasionalnya pun menggunakan dua bahasa yakni Bahasa Inggris lebih banyak didominasi dipakai di wilayah utara yg merupakan bekas jajahan Inggris, sekaligus Bahasa Prancis yg secara umum dikuasai digunakan dibagian selatan yang adalah bekas jajahan Prancis ditambah lagi menggunakan 24 bahasa lokal. Iklimnya mulai dari iklim tropis di daerah pantai hingga ke daratan sedangkan di wilayahnya beriklim panas. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik & Protestan) 40% & animis 40%

Islam dan Kemerdekaan Kamerun

Portugis merupakan kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu kurang lebih abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini tiba ke Kamerun buat memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), & Kamerun dijadikan protektorat Inggris.

Namun dalam tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian menggunakan Raja Doula, & pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris & Perancis berhasil mengusir Jerman menurut Kamerun, ke 2 negara terakhir menyebarkan kekuasaan pada Kamerun.

Abanda Herman bukanlah satu satunya pesebakbola Kamerun yang menemukan hidayahnya di luar negeri. di tahun 2014,23 Pesebakbola Kamerun masuk islam berbarengan saat mengikuti kamp latihan di Dubai Uni Emirat Arab.

Perjuangan buat memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai sesudah perang dunia kedua, yaitu saat pada tahun 1955 muncul revolusi pada wilayah kekuasaan Perancis yg dipelopori sang Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori sang suku Bamileke dan Bassa.

Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati menurut suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya l?Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya dalam tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pmerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, lantaran penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen & berbahas Perancis belum mampu mendapat kemerdekaan.

Untuk itu, pemerintah Kamerun pada bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum merupakan, penduduk bagian utara yan didominasi Islam & berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung menggunakan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, waktu disepakati adanya konstitusi baru yg dalam intinya membangun Republik Kesatuan Kamerun.

Pada pemerintahan Ahijo ini terdapat dua hal yg perlu dicatat, yaitu pertama mempersatukan dua wilayah yg bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Perancis, kedua berhasil memajukan pertanian & industri, sebagai akibatnya Kamerun sebagai negara Afrika termakmur (ekonomi stabil) & sebagai keliru satu negara Afrika yang mempunyai income per-kapita tertinggi.

Masjid AgungNgaoundéré, di bagian utara Cameroon

Pada tanggal 6 Nopember 1982, Ahijo mengundurkan diri menjadi presiden lantaran alasan kesehatan, & digantikan oleh PAUL BIYA. Ahijo wafat di Dakar, Senegal pada lepas 30 Nopember 1989. Pada tahun 1988, Paul Biya terpilih balik sebagai presiden dengan perolehan bunyi 98,75%. Seiring demokrasi yang semakin tumbuh di Kamerun, maka pada tahun 2004, diadakan pemilu multipartai, & Paul Biya, sekali lagi tetap terpilih sebagai presiden, dengan peroleh bunyi 70,90%. Saat ini Kamerun sedang menghadapi dilema-persoalan perbatasan menggunakan Nigeria, Chad dan Equatorial Guinea.

Islam di Kamerun

Jauh sebelum bangsa Eropa manapun mengenal Kamerun, Islam sebenarnya telah hadir di Kamerun semenjak abad ke 10, dibawa oleh para pedagang Arab yg datang berniaga ke tempat tersebut sekaligus membuatkan Islam pada wilayah utara. Mereka berdagang emas, garam, tembaga & budak. Tetapi Islam baru dikenal secara luas di abad ke 19 atau lebih kurang tahun 1800-an oleh Etnis Fulani. Etnis Fulani membawa Islam ke Afrika Barat pada abad ke-19 atau sekitar tahun 1800-an terutama melalui aktivitas komersial dan Thariqoh Sufi Islam Qadiriyah & Tijaniyah. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara & tengah hingga kini . Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang dalam abad ke-19, tetapi hampir menguasai semua aspek kehidupan rakyat Kamerun.

Muslim Kamerun

Penduduk Muslim di Kamerun terdiri berdasarkan lebih kurang 24 % dari sekitar 21 juta penduduk Kamerun. 27% Muslim Kamerun merupakan muslim Suni, 12% Ahmadiyah and 3% Syi?Ah, sedangkan sisanya nir mengikuti kelompok manapun. Menariknya lagi 48% muslim Kamerun mengaku sebagai pengikut galat satu Thariqat Sufi Islam, hal tadi memang dapat dimengerti mengingat bahwa Islam berkembang disana galat satunya karena memang diperkenalkan secara luas sang gerombolan Thariqat Sufi.

Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin sang dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam pada Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger juga Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu pada Kamerun ini berlanjut sampai abad ke-15. Islam sebagai kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, waktu suku Fulani (Fulbe) menguasai wilayah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yg meliputi Kamerun & Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus menjadi Gubernur propinsi Adamawa.

Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih membuatkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai ketika ini menguasai pemerintahan modern pada Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun & Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani sudah mengekspansi Kerajaan Bamoun yg didirikan sang Nshare Yen, & kerajaan Bamoun baru mendapat Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Pemandangan di salah satu desa Muslim pada Ngoundere, Utara Kamerun.

Sepakterjang suku Fulani, yg notabene merupakan Islam, sangat diakui keberadaannya pada Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani merupakan El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani & terpilih menjadi presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak bisa diteruskan sang kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya.

Pada pemilu 2004, galat seseorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih menjadi presiden Kamerun, & hanya memperoleh suara 4,lima%. Padahal dia merupakan tokoh muslim Kamerun waktu ini, & mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, diantaranya, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih poly lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya.

Perjuangan Islam pada Kamerun saat ini memang tergolong berat, lantaran sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini ditimbulkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Isu regional terkait Boko Haram sempat dijadikan alasan pemerintah Kamerun menutup Masjid & Islamic Center di wilayah bagian Barat negara itu menggunakan dalih buat menghindari kenaikan agresi bom bunuh diri berdasarkan Boko Haram. Sebuah keputusan yang menuai protes keras dari para ulama dan muslim Kamerun.

Namun, apapun yg terjadi, Islam pada Kamerun sudah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, & ummat Islam pada sana, tentu tak akan tinggal membisu, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.****

Tuesday, August 4, 2020

Islam di Republik Togo

Masjid dan Islamic Cultural Center di Lome, Ibukota Negara Togo.

Republik Togo, galat satu Negara di Afrika Barat yang memiliki penduduk muslim relatif signifikan meskipun nir terdapat angka pasti mengenai jumlah & persentase penduduk muslim disana. Republik Togo memiliki luas daratan 56,785 km2 sedikit lebih kecil bila dibandingkan menggunakan luas daratan propinsi Nangroe Aceh Darussalam 57,956 km2.

Dalam dunia persepakbolaan Togo cukup mengejutkan global waktu tampil pada piala dunia sepakbola FIFA tahun 2006 pada Jerman, negara bekas penjajahnya pada tahun 1884. Ali Khadafi keliru satu pesepakbola muslim Togo sekarang bergabung dengan Klub Indonesian Super League (ISL), Sriwijaya FC, Palembang.

Republik Togo beribukota di Lom? Yang menghadap ke teluk Guyana pada Samudera Atlantik. Togo bermakna ?Disisi airdanquot; dalam bahasa Ewe (keliru satu bahasa nasional Togo) merujuk pada wilayah togo yg berada disisi bahari Atlantik. Togo adalah Negara bekas jajahan Prancis hingga lalu merdeka pada tahun 1960.

Sejak 1991 negara ini dihantam perubahan politik yang cukup luar biasa yg memicu perseteruan bersenjata secara khusus pada kawasan sentral & selatan tetapi mengalami syarat yg relatif stabil beberapa tahun belakangan ini. Ekonomi Negara ini sangat tergantung pada perdagangan dan pertanian yang menaruh lapangan pekerjaan sampai 60% berdasarkan holistik tenaga kerjanya. Kakau, kopi dan kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

Letak Republik Togo pada Benua Afrika.

Muslim pada Togo merupakan 55% dari total populasi berdasarkan 13,tiga juta penduduk Negara tadi. Meskipun hingga kini nir terdapat angka akurat & pasti menyangkut jumlah pemeluk Islam disana. Namun demikian satu hal yang niscaya bahwa Islam telah hadir pada Togo bersamaan menggunakan masuknya Islam pada kawasan afrika Barat.

Sejarah Islam pada Togo

Islam pertama kali dikenalkan pada daerah Afrika Barat di selatan Sahara, melalui rute perdagangan garam dan emas pada kawasan tadi. Proses pengislaman yang dilakukan oleh para pedagang muslim Berber dan Tuareg yang melakukan perjalanan di sepanjang rute perdagangan Sahara. Seiring dengan berlalunya ketika para ulama islam mengajarkan islam dan membangun tempat loka ibadah disepanjang rute perdagangan yg mereka lalui.

Para ulama tersebut turut dan dalam kafilah perdangan tadi. Kelompok masyarakat Hausa & Fulani, grup yg secara tradisional senantiasa nomaden, mengembara diseluruh tempat Afrika Barat meninggalkan jejak dan mengajarkan Islam di wilayah yang kini menjadi Negara Guyana (Guinea), Siera Leone & Liberia.

Ghirah ber-Islam muslim Togo sangat tinggi pada tengah kesederhaan, tampak muslim Togo tengah menunaikan sholat berjamaah pada tengah kampung pada Togo.

Perkiraan jumlah pemeluk Islam di Togo memang bervariasi tergantung dari sumber nya. Merujuk kepada artikel wikipedia, Islam di Afrika penganut Islam di Togo hanya 13.7% sedangkan situs CIA Factbook menyebut angka 20%, sementara sumber sumber situs Islam bahkan menyebut angka yang jauh lebih tinggi hingga mencapai 55% atau 2,513,792 jiwa dari total populasi Togo sebesar 4,570,530 jiwa berdasarkan data tahun 1998, menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Togo.

Tentang Togo & Masyarakatnya

Togo bermakna ?Disisi airdanquot; pada bahasa Ewe (keliru satu bahasa nasional Togo) merujuk pada wilayah togo yang berada disisi laut Atlantik. Secara umum Togo hanya selebar

100km & ukuran panjang 550km. Togo adalah Negara bekas jajahan Prancis sampai kemudian merdeka pada tahun 1960. Sejak 1991negara ini dihantam perubahan politik yang relatif luar biasa yang memicu pertarungan bersenjata secara khusus pada kawasan sentral & selatan tetapi mengalami syarat yg relatif stabil beberapa tahun belakangan ini. Ekonomi Negara ini sangat tergantung dalam perdagangan & pertanian yang memberikan lapangan pekerjaan hingga 60% dari holistik tenaga kerjanya. Kakau, kopi & kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

Ada poly muslim di tengah gerombolan masyarakat Togo. Satu berdasarkan kelompok muslim terbesar di Togo merupakan gerombolan masyarakat muslim Kotokoli (kurang lebih 200 ribu jiwa), terkonsentrasi pada kawasan sentral Togo, wilayah Sokode. Kaum Kotokoli ini yang mengontrol jalur perdagangan primer dan menajamkan reputasi mereka pada daerah tadi.

Saat ini muslim Kotokoli merupakan para petani yg menanam sorgum & ubi jalar menjadi kuliner pokok mereka termasuk jua milet, jagung, kacang kacangan, okra, kacang tanah dan labu pula berternak domba, sapi, keledai & kambing. Binatang ternak dipergunakan selain menjadi asset juga buat kurban, program pernikahan hingga transaksi pembayaran. Muslim Kotokoli kebanyakan tinggal di dalam tempat tinggal tempat tinggal tradisional berbentuk bulat dengan dinding lumpur & beratap jemani bentuk kerucut.

Seperti halnya di Indonesia, pada banyak sekali kota sampai ke pelosok kampung di Togo masih ada bangunan masjid. Seperti di sentra kota Lome berdiri megah Al-Furkan Center yg adalah masjid sekaligus Islamic Center terbesar pada Togo. Masjid ini didesain sang Arsitek Traor? Galadima dikelola sang African Muslim Agency, terselesaikan dibangun tahun 1997 yang lalu. Di Komplek Islamic Center ini masih ada sekolah Islam, pusat kebudayaan Islam & panti asuhan bagi sekitar seratusan anak anak yatim piatu.***

Monday, May 18, 2020

Islam di Republik Guinea

Republik Guinea pada Afrika Barat. Hubungan diplomatik Republik Indonesia menggunakan Republik Guinea diwakili sang Kedutaan Besar Indoneisa buat Senegal dan Guinea yang berkedudukan pada Dakar, Senegal.

Dimanakah letak Republik Guinea ?

Republik Guinea adalah negara bekas jajahan Prancis pada pantai barat benua Afrika menggunakan nama resmi The Republic of Guinea, dalam bahasa Prancis diklaim R?Publique de Guin?E. Sebelum merdeka dikenal menggunakan nama French Guinea atau Guin?E fran?Aise, Sejak merdeka hingga waktu ini sering disebut sebagai Guinea-Conakry buat membedakan dengan negara tetangganya yang sama sama bernama Guenea yakni Guinea-Bissau dan the Republic of Equatorial Guinea.

Negara berpenduduk 10,057,975 jiwa menggunakan luas wilayah 246,000 kilometer persegi ini menciptakan seperti bulan sabit diantara negara negara tetangganya. Hampir keseluruhan daerahnya membentang di daratan Afrika hanya bagian baratnya saja yang menghadap ke lautan Atlantik. Conarki, ibukota negara ini merupakan keliru satu kota yg menghadap ke Samudera Atlantik.

Guinea berbatasan menggunakan Samudera Atlantik di sisi barat, disebelah utara menggunakan Guinea-Bissau, Senegal, dan Mali, disebelah selatan bertetangga menggunakan Sierra Leone, Liberia, dan Pantai Gading (C?Te d'Ivoire). Sungai Gambia yg membelah negara Senegal & Gambia dan Sungai Niger yang mengalir sampai ke Siera Leone, dari menurut pegunungan pegunungan pada Guinea.

Islam di Guinea

Penduduk Guinea dominan beragama Islam, menjadikan negara ini sebagai salah satu negara berpenduduk muslim dominan di dunia. Penduduk di negara ini terdiri berdasarkan 24 (2 puluh empat) etnis & suku. Suku terbesarnya dalah suku Fula (40%), Mandingo (30%), & suku terbesar ketiganya adalah suku Susu (20%), Nama suku yang terdengar aneh buat orang Melayu, karena sama dengan nama minuman.

Merujuk kepada data statistik  tahun 2005 yang lalu, pemeluk Islam di Guinea mencapai 85% dari total penduduk negeri tersebut. Sebagian besar muslim Guinea merupakan muslim Suni bermazhab Maliki dan aliran sufi Qodiri dan Tijanu. Guinea merupakan bekas negara jajahan Francis sejak 1891 namun pengaruh Guinea di negara ini sangat lemah.

Guinea merdeka berdasarkan Prancis tahun 1958, Ahmed S?Kou Tour?, seseorang muslim yg beraliran Marxist naik sebagai presiden pertama namun sama sekali nir berpihak kepada Islam. Baru saat popularitasnya merosot tajam pada tahun 1970-an, dia mulai merapat ke aneka macam institusi Islam buat melegatimasi kekuasaannya. Tour?'s wafat di tahun 1984 dan jalinan kerjasama antara komunitas Islam yang merupakan mayoritas pada negara tadi terus terjalin sampai hari ini.

Masjid Agung Conarky pada Kota Conarky ibukota Republik Guinea

Masjid Agung Conarky

Di kota Conarky, Ibukota Guinea berdiri sebuah masjid agung bernama The Conakry Grand Mosque, Grande mosquée de Conakry, Mosquée Fayçal atau Masjid Agung Conarky yang merupakan masjid terbesar di Afrika Barat. Masjid ini berdiri di pusat kota Conarky bersebelahan dengan Rumah Sakit Donka Hospital di sisi timur Conakry Botanical Garden.

Masjid Agung Conarky dibangun semasa pemerintahan Ahmed Sékou Touré, dengan dana hibah dari Raja Fahd, Raja Saudi Arabia. Diresmikan dan dibuka untuk umum tahun 1982 sebagai masjid terbesar ke empat di benua Afrika dan terbesar di Afrika barat, mampu menampung 2500 (dua ribu lima ratus) jemaah di lantai atas untuk jemaah wanita dan 10,000 (sepuluh ribu) jemaah pria di lantai dasar, serta masih ada area di esplanade yang dapat menampung hingga 12,500 (dua belas ribu lima ratus) jemaah. Di taman masjid ini juga berdiri bangunan mausoleum (makam) bagi pahlawan nasional Guinea yakni Samori Ture, Sékou Touré (mantan presiden pertama) dan Alfa Yaya.

Wajah kota Conarky, Ibukota Guyana berdasarkan udara

Sayangnya, masjid megah ini kurang mendapatkan perawatan yang memadai dari pemerintah Guinea. Meskipun sempat mendapatkan dana hibah sebesar 20 juta Found Guinea dari pemerintah Saudi Arabia di tahun 2003 lalu. Lebih mirisnya lagi masjid ini sempat menjadi saksi pembantaian terhadap para demonstran tanggal 2 Oktober 2009 yang menjadi sejarah kelam negara itu di masa merdeka.

Dua Oktober 2009 terjadi demonstrasi akbar besaran di negara tersebut oleh kurang lebih 50 ribu masa menentang pemerintahan Junta militer yg naik tahta selesainya melakukan kudeta militer tahun 2008. Namun aksi demonstrasi yg memang tidak boleh oleh junta militer tadi disambut dengan berondongan gas air mata menurut aparat keamanan dan tidak sampai disitu berondongan peluru tajam menyebabkan tewasnya 58 jiwa di area esplanade Masjid Agung Conarky ini. Ad interim lainnya tewas di stadion primer negara tadi.*** (berdasarkan berbagai asal, data diolah).

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

🌎 informasi dunia Islam.

------------------------------------------------------------------

Baca juga

Islam di Burundi (Afrika Timur)

Islam di Swiss

Islam di Lithuania

Islam di Islandia

Islam di Siera Leone (Afrika Barat)

Friday, May 15, 2020

Islam di Nigeria

::: Bayi Ajaib Nigeria ::: Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo, bayi yang lahir membawa Alquran dari rahim ibunya. (republika)

Bayi Ajaib Nigeria, Lahir membawa Al-Qur?An

Di bulan Mei yang lalu,Nigeria digemparkan oleh berita lahirnya seorang bayi dari keluarga Kristen yang ketika lahir menggenggam sebuah mushaf kitab suci Al-Qur’an di genggaman tangannya. Sebagaimana dilansir olehRepublika online yang mengutip dari harian Pmnewsnigeria, disebutkan bahwa bayi tersebut lahir di 112 Olateju Street, Mushin, Lagos State, Nigeria Barat Daya pada 7 Mei 2012 lalu. Saat keluar dari rahim ibundanya, bayi tersebut membawa sebuah Mushaf kecil di tangannya.

Mengetahui hal tersebut ibu dan nenek dari sang bayi yang sejatinya beragama Kristen langsung mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan diri masuk Islam. Kelahiran bayi tersebut pun menyedot perhatian para ulama di negara benua hitam tersebut. Para ulama diNigeria berkumpul untuk memberikan nama kepada bayi tersebut. Setelah menyampaikan ceramah singkat, seorang ulamaNigeria, Ustad Abdul Rahman Olanrewaju Ahmed, memberikan nama kepada bayi tersebut Abdul Wahab Iyanda Aderemi Irawo.

Tentang Nigeria

Nigeria bernama resmi Federal Republic ofNigeria, merupakan negara republik Federasi yang terdiri dari 36 negara bagian ditambah satu Daearah Khusus IbukotaAbuja. “Jangan Sampai tertukar dengan Republik Niger, yang merupakan tetangganya disebelah utara”.Nigeria berada di bagian barat benua Afrika, daerah pantainya yang menghadap ke Samudera Atlantik berada di sebelah selatan, disebelah utara bebatasan darat dengan Republik Niger, timur dengan Kamerun, Benin di sebelah barat, sedangkan di penjuru timur laut,Nigeria berbagi wilayah di danau Chad dengan Niger, Chad dan Kamerun.

Lokasi Nigeria

Nigeria beribukota diAbuja yang merupakan daerah khusus Ibukota diNigeria.Abujamerupakan wilayah kota baru yang sengaja dibangun untuk dijadikan ibukota menggantikan kota Lagos pada tahun 1980-an dan secara resmi menjadi ibukota negara pada tanggal 12 Desember 1991.Nigeria merupakan negara bekas jajahan Inggris, memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1960. NamaNigeria sendiri diambil dari nama sungai yang mengalir membelah negara tersebut. Semasa penjajahan Inggris mengakui kekuasaan para pemimpin suku di negara ini. paska kemerdekaan sempat terjadi perang sipil di negara ini sebagai akibat dari perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh suku Biafra yang ingin mendirikan negara sendiri.

Nigeria memiliki luas wilayah seluas 923,768 km, menempati peringkat ke 32 dalam ukuran, terdiri dari luas daratan 910,768 km dan perairan seluas 13,000 sq km. dengan jumlah total penduduk mencapai 170,123,740 (perkiraan bulan Juli 2012) dan terdiri dari 250 suku. Suku suku terbesar disana melipytu suku Hausa dan Fulani 29%, Yoruba 21%, Igbo (Ibo) 18%, Ijaw 10%, Kanuri 4%, Ibibio 3.5%, dan Tiv 2.5%.

Islam pada Nigeria

Merujuk kepada situsworld fact book komposisi keber-agama-an diNigeria terdiri dari Muslim 50%, Kristen 40%, kepercayaan tradisonal lama sekitar 10%. Muslim diNigeriamerupakan muslim Suni bermazhab Maliki. Muslim Syiah juga eksis diNigeria, mereka merupakan minoritas diNigeria dan sebagian besar menetap di negara bagian Sekoto.

Masjid Nasional Abuja, Nigeria

Kehidupan beragama diNigeria cukup mendapatkan perhatian dari pemerintah. Ketika pemerintah memutuskan untuk memindahkan ibukota negara dari Lagos keAbuja, di pusat kotaAbuja dibangunMasjid Nasional Abuja beseberangan dengan Gereja Nasional Abuja yang keduanya berukuran besar.Masjid Nasional Abuja sendiri hingga kini menjadi Land Mark KotaAbuja.

Islam mulai masuk ke bagian utaraNigeria di awal abad ke 9 dan berkembang pesar di wilayah ke kaisaran Kanem-Bornu dimasa kekuasaan Kaisar Humme Hilmi. Darisana kemudian menyebar ke kota kota penting di bagian utara negara tersebut hingga abad ke 16 dan kemudian tersebar hingga ke pelosok pelosok negeri.

Beberapa pihak bahkan yakin Islam telah masuk keNigeria sejak abad pertama Hijriah, sebagaimana disampaikan oleh ulama kelahiranNigeria, Sheikh Dr. Abu-Abdullah Abdul-Fattah Adelabu yang mengatakan bahwa Islam sudah mencapai wilayah Sub Sahara termasukNigeria sejak abad pertama Hijriah melalui para pedagang muslim dan ekspedisi selama penaklukan oleh Bangsa Arab pimpinan Uqba bin Nafi (622–683) dari dinasti bani Umayah semasa Muawiyah dan Yazid, islam telah menyebar di Afrika Utara atau Magribi Al-Arabi termasuk wilayah yang kini dikenal sebagai Aljiria, Tunisia dan Maroko.

Islam juga masuk keNigeria di daerah barat daya yang berbahasa Yoruba semasa kekuasaan Mansa Musa dari Emperium Mali yang menyebarkan Islam berhadapan dengan kerajaan Emperium Yoruba diNigeria. Pengaruh dari kebesaran dinasti Abbasiah (750-1258) turut memperkuat penyebaran Islam di daerah tersebut dan mengahiri kekuasaan Katholik di Afrika selama beberapa abad.

::: Masjid Sental Lagos ::: Lagos, bekas ibukota pemerintahan Nigeria & kini sebagai Ibukota perdagangan Nigeria menggunakan penduduk mencapai 16 juta jiwa menggunakan nomor pertumbuhan penduduk mencapai 6% pertahun akan segera menggantikan Kairo menjadi kota terbesar pada benua Afrika

Namun demikian dari data tertulis yang sudah berhasil ditemukan oleh para peneliti, Islam masuk keNigeria di Abad ke 9. Arsip arsip yang ada menunjukkan bahwa islam sudah menjadi agama mayoritas dimasa kekuasaan Emperium Bornu dibawah kekuasaan Mai (Raja) Idris Alooma (1571-1603) meskipun kala itu masih banyak pendudukNigeria yang menjalankan ritual keagamaan tradisional mereka. Dimasa itu muslim diNigeria sudah menggunakan peradilan Islam, mendirikan masjid membangun penginapan di Mekah bagi jemaah haji mereka dan tentu saja penyelenggaraan ibadah haji.

Perang antar suku sempat terjadi di abad ke 19 antara suku Fulani Muslim melawan Kerajaan Hausa diNigeria Utara, berahir dengan kemenangan dan terbentuknya emporium Fulani dengan ibukotanya di Sokoto. Wajar bila kini suku Hausa dan Fulani merupakan suku Islam terbesar diNigeria. Disusul oleh Suku Yoruba.

Kini, meski Islam bukan satu satunya agama diNigeria namun pengaruhnya cukup besar. Kehidupan beragama berjalan dengan baik termasuk penyelanggaraan peribadatan sehari hari hingga ke pengurusan penyelenggaran ibadah Haji, dan tidak terlalu aneh bila kegiatan kenegaraan diNigeria pun dibuka dan ditutup dengan berdoa secara Islam sejak era 1990-an. Bahasa Arab turut mempengaruhi bahasaNigeriatermasuk penamaan hari yang kental dengan pengaruh bahasa Arab.

Nigeria secara umum terbagi dua menjadi wilayah Islam di utara dan Kristen di Selatan, namun kerukunan di negara ini cukup baik meski sengketa dan perselisihan hingga kudeta dan pergantian kekuasaan tak henti mendera negara tersebut. Dan satu kelompok Islam yang menamakan dirinya Jamā'atu Ahlis Sunnah Lādda'awatih wal-Jihad)  atau lebih dikenal dalam bahasa Hausa sebagaiBoko Haram didirikan olehMuhammad Yusuf sejak tahun 2001 lalu melancarkan gerakan jihad untuk menegakkan syari’ah Islam diNigeria hingga hari ini.*** (dari berbagai sumber, data di olah).

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

🌎 informasi dunia Islam.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Islam di Republik Togo

Islam di Siera Leone (Afrika Barat)

Islam di Burundi (Afrika Timur)

Islam di Swiss

Islam di Lithuania

Islam di Islandia

Wednesday, May 13, 2020

Islam di Republik Gabon

Masjid Hassan II di kota Libreville, lokasinya berdiri berada di belakang istana kepresidenan Republik Gabon (bila dipandang dari arah laut). Masjid dengan gaya Maroko ini memang dibangun oleh Kerajaan Maroko pada tahun 1983. Merupakan Masjid terbesar di Gabon dengan kapasitas mencapai 5000 jemaah sekaligus. Raja Maroko Muhammad VI pernah singgah untuk menunaikan sholat di Masjid ini dalam rangkaian kunjungannya resmi nya ke Republik Gabon, Burkina Faso dan Senegal tahun 2005 lalu. (foto dari panoramio)

Apa dan dimanakah Gabon berada ?

Gabon adalah sebuah Negara Republik di pantai barat benua Afrika bagian tengah, bertetangga dengan Guyana Katulistiwa dan Kamerun disebelah utara, Republik Kongo di sebelah timur hingga ke selatan, dan tentu saja sebelah baratnya adalah wilayah pantai sepanjang 810km yang menghadap ke Samudera Atlantik. Gabon adalah bekas jajahan Prancis dan memperoleh kemerdekaanya 17 August 1960. Karenanya bahasa Prancis merupakan bahasa resmi Negara, sedikit sekali penduduknya yang mampu berbahasa Inggris. Republik Gabon ber-Ibukota di Libreville.

Luas Negara Gabon adalah 267,667 km2 berada dalam urutan ke 77 luas Negara di dunia, terdiri dari wilayah daratan seluas 257,667 km2 dan perairan seluas 10,000 km2. Negara ini beriklim tropis, letaknya berada beberapa derajat disebelah selatan garis Katulistiwa kira kira sama seperti letak pulau Jawa terhadap garis Katulistiwa. Titik terendahnya berada di permukaan samudera Atlantik (0 m) dan titik tertingginya berada di puncak gunung Iboundji (1,575 m).

Penduduk nya yang sedikit dengan sumber daya alam yang cukup melimpah, sebagian besar bahkan belum tersentuh, menjadikan Republik Gabon sebagai salah satu Negara Afrika yang paling makmur dan memiliki stabilitas politik yang baik serta membuat Negara ini sebagai salah satu Negara yang mampu menjaga keaslian hutan hujan tropis berikut kekayaan biodiversity-nya.

Islam pada Republik Gabon

Merujuk kepada the-world-factbook-cia, penduduk Gabon terdiri dari bebeberapa suku, yakni Suku bantu, termasuk empat kelompok suku utama masing masing adalah Fang,  Bapounou, Nzebi, dan Obamba), lalu ditambah suku suku Afrika dan Eropa, sebanyak 154.000 jiwa termasuk 10,700 orang Prancis dan 11.000 jiwa warga dengan kewarganegaraan ganda.

Islam merupakan agama minoritas di Republik Gabon. 55% hingga 75% penduduk Gabon memeluk agama Kristen disusul penganut Animisme, sedangkan pemeluk Islam kurang 1% dari total penduduk Gabon yang berjumlah 1,608,321 (July 2012). Meski demikian beberapa sumber lain menyebutkan bahwa angka dibawah 1% tersebut sudah lama terlampaui.

Gabon, galat satu Republik pada panta barat benua Afrika.

Diperkirakan saat ini ada sekitar 12 persen penduduk Gabon sudah memeluk Islam meskipun disebutkan juga bahwa 80-90% dari jumlah itu adalah orang asing. Lebih lanjut disebutkan bahwa komposisi pemeluk agama di Gabon terdiri dari 70% Kristen (Katholik dan Protestan), 12% Islam, 10% masih menjalanjan kepercayaan tradisional dan 5% sisanya sama sekali tidak beragama.

Kehidupan beragama di Gabon cukup baik. Pemerintah memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama dan keyakinannya masing masing, setidaknya sampai tahun 2007 tidak ada laporan apapun tentang pelanggaran hak atas kebebasan beragama. Meski tidak ada dukungan dana apapun dari pemerintah untuk lembaga lembaga pendidikan swasta baik lembaga pendidikan keagamaan yang di dominasi oleh sekolah Kristen (Katolik dan Protestan) maupun lembaga pendidikan sekuler. Namun pemerintah tetap mewajibkan semua lembaga tersebut untuk mengikuti silabus pendidikan sesuai standar pemerintah.

Secara resmi pemerintah mengakui hari hari akbar keagamaan sebagai hari libur nasional termasuk Idul Fitri dan Idul Adha. Televisi nasional milik pemerintah juga menyediakan jam tayang perdeo bagi para tokoh kepercayaan untuk menyiarkan agama mereka masing masing, termasuk bagi tokoh muslim disana. Meskipun sempat ada keluhan dari gerombolan denominasi Protestan yg menuduh stasiun televisi pemerintah nir adil dalam menerapkan jam tayang perdeo yg dimasa kemudian pemerintah dan militer lebih mengutamakan Katholik & Islam.

Foto mantan presiden Omar Bonggo

Perkembangan Islam di Gabon cukup baik. Ber-Islamnya presiden Gabon kedua Omar Bonggo sejak tahun 1973 tentunya turut memberikan pengaruh bagi perkembangan Islam di Negara tersebut baik langsung ataupun tidak langsung. Keluhan yang disampaikan oleh perwakilan Protestan terkait hak tayang gratis di saluran televisi nasional negara tersebut yang dinilainya lebih condong kepada ummat Katholik dan Islam menunjukkan bahwa Islam bersama Katholik memang mendapatkan ‘sesuatu’ dari penguasa pemerintahan dan militer setempat.

Pada bulan Juni tahun 2004 yang lalu untuk pertama kalinya diselenggarakan Konfrensi Nasional Muslim Gabon di Ibukota Negara, Libreville, dibuka oleh Presiden Majelis Tinggi Islam Gabon (Supreme Council for Islamic Affairs of Gabon - CSAIG) Ali Bonjo dan turut dihadiri oleh Uskup Agung Lebreville serta Pimpinan Gereja Anglican setempat. Konfrensi Nasional Muslim Gabon pertama tersebut mengusung tema ‘United for the sake of a flourishing and tolerant Islam’ atau dalam bahasa Indonesia nya “Bersatu Untuk Perkembangan Islam dan Toleransi”.

Perhelatan nasional tersebut merupakan hal yang positif bagi ukhuwah Islamiah, tak kurang 34 komunitas Muslim dari berbagai daerah di Republik Gabon turut serta dalam konfrensi tersebut dan turut menandatangan nota kesepakatan untuk senantiasa melakukan koordinasi dalam setiap langkah kerja. Di dalam struktur Majelis Tinggi Islam Gabon. Presiden Gabon, Haji Ali Bonggo Ondimba sendiri bertindak sebagai Penasehat khusus, sedangkan jabatan Chaiman sekaligus sebagai imam Besar Gabon dijabat oleh Ismael Oceni Ossa.

Dipimpin Presiden Mualaf

Setelah merdeka dari Prancis di tahun 1960, Gabon dipimpin oleh presiden pertamanya bernama Gabriel Léon M'ba. Di bulan Februari 1964 Jean-Hilaire Aubame melakukan kudeta terhadap pemerintahan Léon M'ba meski kekuasaanya tak berlangsung lama karena di intervensi oleh pemerintah Prancis. Léon M'ba menjabat sebagai presiden Gabon hingga wafat karena penyakit kanker di bulan November 1967 dan digantikan posisinya oleh wakil presiden Albert-Bernard Bongo yang dikemudian hari masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Haji Omar Bonggo Ondimba atau lebih dikenal sebagai Omar Bonggo.

Albert-Bernard Bongo atau Haji Omar Bonggo Ondimba menjadi salah satu kepala Negara dengan masa jabatan terlama di dunia. Beliau mendominasi kekuasaan politik Negara Gabon selama empat dekade (1967-2009), sebelum menjabat sebagai presiden pun dia sudah  berada di jajaran puncak kekuasaan sebagai wakil presiden yang dijabatnya dari tahun 1960 ketika Gabon merdeka hingga tahun 1967.

Seperti halnya 55%-75% penduduk Gabon, Presiden Albert-Bernard Bongo terlahir sebagai penganut Kristen sampai menjabat wakil presiden hingga menduduki jabatan presiden beliau masih mempertahankan agama lamanya. Interaksi dengan para pemimpin Negara Negara anggota OPEC yang mayoritas dihuni oleh Negara Negara muslim Teluk Arabia, memberinya kesempatan bergaul dengan para peminmpin Negara Negara Islam. Di tahun 1973 secara mengejutkan Albert-Bernard Bongo mengumumkan bahwa dirinya sudah masuk Islam dan setelah menunaikan Ibadah Haji mengganti nama nya menjadi Haji Omar Bonggo dan di tahun 2003 dia menambahkan Odimba dibelakang namanya.

Libreville

Sebuah keputusan kontroversional yang tak pelak mengundang aksi tak simpatik dari rakyatnya sendiri yang bahkan meminta dia mengundurkan diri dari jabatan presiden. Selama menjabat sebagai presiden selama hampir 42 tahun presiden Omar Bonggo memang banyak menuai kontroversi termasuk kebijakannya dibidang ekonomi. Namun secara keseluruhan Gabon mencapai prestasi sebagai salah satu Negara Afrika yang paling makmur.

Presiden Omar Bonggo begitu banyak mendapat kecaman dari lawan lawan politiknya termasuk kritikan tajam atas 7x hasil pemilu presiden yang memenangkannya dinilai penuh dengan kecurangan. Termasuk pemilu terahir tanggal 27 November 2005 ketika Omar Bonggo Bonggo memenangkan hingga 80% suara. Namun bukan lawan politik yang ahirnya melengserkan Omar Bonggo. Pada tanggal 8 Juni 2009 Omar Bonggo wafat di sebuah rumah sakit di Barcelona, Spanyol, akibat penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.

Gabon dan Omar Bonggo dikenal luas di Negara Negara tetangganya sebagai tokoh kuat yang mampu menjadi juru damai dan memecahkan masalah masalah pelik di kawasan tersebut termasuk menjadi mediator dan penjaga perdamaian di Negara Negara konflik  Republik Afrika Tengah, Congo-Brazzaville, Burundi, dan Democratic Republic of Congo. Sebuah warisan yang sangat baik kepada putranya Ali Bonggo Ondimba yang kini meneruskan tahta Bapaknya sebagai presiden Gabon, sesuai dengan hasil pemilu 2009.

Stabilitas politik dan kekuatan ekonomi menjadikan Gabon sebagai Negara yang cukup disegani di kawasan serantau. Sudah sejak lama Negara ini memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik di Republik Afrika Tengah yang masih bergolak hingga kini dengan membentuk Misi Pedamaian Economic Community of Central African States. Gabon juga merupakan aktor dibalik layar bagi terbentuknya Brigade Pasukan Cadangan sebagai penjaga perdamaian yang bermarkas di Gabon, dibawah naungan Organisasi Persatuan Afrika (African Union).

OKI dan Hubungan Gabon dengan Indonesia

Pemerintah Indonesia tidak memiliki kantor perwakilan di Republik Gabon, hubungan diplomatic  Indonesia dengan Republik Gabon diwakili oleh kedutaan besar Indonesia di Dakar, Ibukota Senegal. Kedutaan Besar Indonesia di kota Dakar ini sekaligus menjadi perwakilan Indonesia untuk Senegal, Gambia, Gabon, Pantai Gading, Sierra Leone dan Zaire.  Semua kepentingan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Gabon ditangani oleh Kedubes RI di Dakar ini, termasuk pengurusan pemulangan Lima ABK Indonesia yang terdampar di kota Port Gentil, akibat ditelantarkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja pada bulan Maret 2012 lalu.

Meski pemeluk Islam di Gabon minoritas, namun Gabon sudah bergabung dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sejak tahun 1974 atau setahun setelah Presiden Omar Bonggo menyatakan diri masuk Islam, dan turut berperan aktif dalam organisasi tersebut. Presiden Gabon saat ini, Ali Bonggo (putra dari Omar Bonggo) dalam berbagai kesempatan pertemuan sesama anggota OKI selalu menyerukan media dunia Islam untuk menjadi yang terdepan dalam mempromosikan dan menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang benar. Sebab, inti dari stereotip negatif tentang Islam berawal dari kesalapahaman yang serius.***

Referensi

travel.state.gov - gabon country specific information

wikipedia.org – islam in gabon

the-world-factbook - gabon

wikipedia.org – religion in gabon

jafariyanews.com - first muslim national conference held in gabon

state.gov - U.S. relations with gabon

en.legabon.org - In gabon, Islam must remain separate to politics

oocities.org - Kedutaan Indonesia di Luar Negeri

republika.co.id - potret-perjalanan-islam-mewarnai-gabon

republika.co.id - gabon-berharap-media-bantu-mengubah-sterotip-negatif-islam

republika.co.id - lima-abk-indonesia-terlantar-di-gabon-dipulangkan

jobbarnasution- islamnya-presiden-gabon-omar-bongo

international religious freedom report - gabon

Baca Juga

Islam pada Botswana

Islam pada Nigeria

Islam di Burkina Faso

Islam pada Seychelles

Islam di Guinea (Republic of Guinea)

Tuesday, May 12, 2020

Islam di Guinea Khatulistiwa

Letak negara Guinea Khatulistiwa di teluk Guinea, pesisir barat benua Afrika.

Dimanakah Guinea Khatulistiwa

Guinea Khatulistiwa atau dalam literasi bahasa Indonesia juga seringkali disebut dengan Guyana Khatulistiwa, nama resminya adalah the Republic of Equatorial Guinea adalah negara yang berada di teluk Guinea di pantai barat benua Afrika bagian tengah, bertetangga dengan Gabon dan Kamerun. Nama “Guinea” merujuk kepada lokasinya yang berada di Teluk Guinea, sedangkan  kata “Khatulistiwa” pada namanya, karena memang wilayah daratannya yang berada di dekat garis Khatulistiwa dan juga untuk membedakannya dengan dua negara Afrika lainnya yang juga bernama Guinea yakni Republik Guinea dan Guinea Bissau.

Secara geografis, daerah negara ini terbagi 2 yakni daerah daratan utama yg berada pada benua Afrika yang juga disebut Rio Muni dan daerah kepulauan, karenanya secara geografis negara ini memang cukup unik, meskipun sebagian akbar daerahnya berada pada daratan benua Afrika tetapi demikian, kota Malabo menjadi ibukota negaranya justru terpisah begitu jauh di utara pada pulau Bioko yg berada ditengah Teluk Guinea pada tanggal pantai Republik Kamerun.

Selain pulau Bioko (d/h Fernando Pó), Guinea Khatulistiwa juga memiliki wilayah daratan di pulau Annobon yang merupakan sebuah pulau Vulkanis dan lokasinya terpisah sejauh 500 km dari garis pantai Rio Muni, uniknya lagi, wilayah laut pulau Bioko dan pulau Annobon ini terpisah oleh wilayah negara Kepulauan Republik Sao Tome & Principe dan lokasinya berada di Samudera Atlantik Selatan, jauh di lepas pantai Republik Gabon.

Rio Muni sebagai wilayah daratan utama Guinea Khatulistiwa di daratan benua Afrika juga memiliki wilayah daratan lainnya di beberapa pulau kecil di lepas pantainya yakni pulau Corisco, Elobey Grande, dan Elobey Chico, dan pulau pulau tersebut justru lebih dekat ke daratan Republik Gabon. Kota terbesar di Rio Muni adalah kota Bata dan kota Oyala yang dipersiapkan untuk menjadi Ibukota masa depan negara tersebut.

Rio Muni atau wilayah daratan utama Guinea Khatulistiwa, berbatasan dengan Gabon di sebelah selatan dan timur, serta Kamerun di sebelah utaranya. Sedangkan wilayahnya di pulau Bioko berbatasan laut dengan Kamerun, Sao Tome & Principe dan Nigeria. Padahal Nigeria sendiri lokasinya cukup jauh dari daratan Utama Guinea Khatulistiwa, terpisah oleh Negara Kamerun. Keunikan lain dari negara ini adalah satu satunya negara di benua Afrika yang menggunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa resmi negaranya, maklumlah karena memang bekas jajahan Spanyol.

Masjid di kota Bata, kota terbesar di Rio Muni.

Keseluruhan luas wilayah negara Guinea Khatulistiwa mencapai 28.000 km2 (sedikit lebih kecil dibandingkan dengan luas wilayah provinsi Maluku Utara 31.982,5 km2). Jumlah penduduknya diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 juta jiwa pada tahun 2015. Guinea Khatulistiwa termasuk negara kaya di Afrika sejak sumber minyak mulai dikelola sebagai penghasil devisa negara di tahun 1990-an, dan tak tanggung tanggung sumber penghasilan itu telah mengangkat derajat negara ini sebagai negara dengan pendapatan per kapita tertinggi di benua Afrika.

Sejarah Singkat Guinea Khatulistiwa

Guinea Khatulistiwa merdeka dari jajahan Spanyol pada tanggal 12 Oktober 1968 dan Francisco Macías Nguema menjadi presiden pertama. Namun kemerdekaan tidak serta merta membuat negara itu sejahtera. Sejarah negara ini setelah merdeka cukup berdarah darah dan cukup mengerikan. Di bulan juli 1970 Francisco Macías Nguema menjadikan negara itu sebagai negara dengan partai politik tunggal menyusul kemudian mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup di tahun 1972.

Ia juga mengubah haluan politik negara dengan memutus hubungan dengan Spanyol dan negara negara barat untuk kemudian menjalin hubungan khusus dengan negara negara beraliran sosialis terutama dengan China, Cuba dan Uni Soviet, termasuk mengizinkan Uni Soviet membangun pangkalan militer di Luba serta akses ke Bandara Internasional di Malabo.

Di pertengahan 1970-an Rezim Presiden Macias dituduh telah melakukan pembunuhan masal, menyusul kemudian di tahun 1974 Konsul Gereja Dunia mengafirmasi hal tersebut. Diperkirakan 80 ribu jiwa terbunuh sebagian besar dari etnis minoritas Bubi, rezim ini juga dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap lawan lawan politiknya, menutup sejumlah tempat ibadah dan tindakan lainnya yang berujung kepada keruntuhan ekonomi negara itu.

Kekuasaan Macías Nguema berahir melalui kudeta berdarah oleh Teodoro Obiang pada tanggal 3 Agustus 1979, Macias Nguema ditangkap, diadili dan kemudian di-eksekusi. Naiknya Teodore Obiang ke tampuk pimpinan negara membawa angin perubahan, negara ini mulai terbuka dan hubungan dengan dunia barat terjalin kembali.

Kota Ebebiyin (lingkaran merah) di timur laut Guinea Khatulistiwa merupakan kota yang berada di perlintasan perbatasan tiga negara, antara Guinea Khatulistiwa dengan tetangganya, Kamerun dan Gabon.

Di tahun 1995 perusahaan explorasi minyak Amerika menemukan kandungan minyak di perairan negara itu dan ekplorasi minyak mulai dilakukan dan perekonomian negara mulai membaik, namun tidak terlalu berdampak langsung kepada kondisi masyarakatnya. Menurut berbagai laporan, rakyat negara ini bahkan masih sulit mendapatkan kebutuhan mendasar mereka termasuk kebutuhan air bersih.

Berbagai media internasional melaporkan tindakan memperkaya diri sendiri telah dilakukan oleh Obiang dan kroni-kroninya, sehingga kekayaan alam yang berlimpah tidak berdampak baik baik kemakmuran rakyat. Meskipun dari sisi pendapatan negara, Guinea Khatulistiwa merupakan negara terkaya di Afrika, dibawah pimpinan Obiang, pemerintah setempat di tahun 2011 bahkan mengumumkan akan membangun kota Oyala sebagai ibukota baru negara-nya di masa depan.

Dibulan februari 2016 presiden Obiang dicap oleh berbagai kalangan dan media sebagai diktator Afrika terlama. Bagaimana tidak, dia sudah menjabat sebagai presiden selama 36 tahun dan enggan untuk mundur dari jabatannya meskipun konstitusi baru telah disyahkan dan salah satunya mengatur masa jabatan presiden yang hanya boleh menjabat dua periode, satu periode selama 7 tahun.

Obiang sendiri enggan untuk mundur dari jabatannya meskipun telah terpilih kembali sebagai presiden setidaknya empat kali dengan alasan bahwa; konstitusi baru tersebut tidak berlaku surut sehingga tidak berpengaruh kepada masa jabatannya sebelum itu diberlakukan, dan dengan sendirinya dia merasa berhak untuk kembali mengikuti pemihan presiden di tahun 2016 untuk kembali berkuasa di dua periode berikutnya sebagaimana diatur konstitusi yang baru tersebut.

Islam di Guinea Khatulistiwa

Muslim merupakan minoritas di Guinea Khatulistiwa. Situs guineaecuatorialpress.com menyebutkan bahwa muslim di negara itu ada sekitar 3,5% dari seluruh populasi penduduk. Namun demikian kementrian luar negeri Amerika Serikat memperkirakan penduduk muslim di Guinea Khatulistiwa kurang dari 1% dari total penduduknya, demikian juga dengan adheren.com yang menyebutkan angka sekitar 1% saja. Sulit untuk mendapatkan data akurat tentang pemeluk Islam di negara tersebut karena sedikitnya sumber informasi yang bisa di dapatkan.

Islam diperkirakan masuk ke wilayah Guinea Khatulistiwa melalui para pedagang suku Hausa yang masuk ke wilayah Guinea Khatulistiwa dari Nigeria dan Kamerun. Mereka melakukan perdagangan di Malabo, pulau Bioko. Jejak suku Hausa ini masih bisa ditemukan di Malabo hingga kini yang aktif dalam berbagai bidang perdagangan. Di masa lampau para pedagang Hausa ini telah berinteraksi dengan para penjelajah Eropa untuk berdagang berbagai hasil bumi termasuk Kakao hingga bahan obat obatan yang mereka bawa dari Nigeria.

Suku Hausa ini masuk ke Guinea Khatulistiwa terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah para buruh dan pekerja perkebunan dimasa kolonial. Kemudian kelompok Hausa yang bergabung dalam dinas ketentaraan dimasa perang dunia pertama dan kelompok Hausa pedagang seperti yang telah disebutkan tadi.

Sekelompok besar suku Hausa masuk ke Guinea Khatulistiwa di pulau Bioko ditahun 1915, sekitar 40.000 orang Hausa masuk ke Guinea bersama dengan sekitar 3000 tentara ekspedisi kekaisaran Jerman di tahun 1915. Mereka menjual kuda kepada pasukan Jerman termasuk juga menyediakan jasa untuk merawat dan mengurus kuda kuda tersebut.

Tidak hanya diwilayah kepulauan, Hausa juga aktif di wilayah daratan utama Guinea Khatulistiwa, kota Ebebiyin yang berada di perlintasan perbatasan Guinea Khatulistiwa dengan Gabon dan Kamerun telah lama dikenal sebagai kotanya orang orang Hausa. Disana mereka berdagang mata uang asing dan juga berbagai komoditi perkebunan seperti kopi dan kakao kepada orang orang Jerman dan Inggris. Bisnis yang serupa masih mereka lakukan hingga kini baik di daratan maupun di wilayah kepulauan Guinea Khatulistiwa.

Suku Hausa lainnya yang berasal dari Kamerun dikenal sebagai para pedagang kaya yang berdagang di Guinea Khatulistiwa dengan modal besar. Kelompok Hausa ini juga dikenal taat beragama, mereka juga yang menjadi kelompok penyokong berdirinya masjid agung di kota Yaonde, ibukota Kamerun di sekitar tahun 1970-an.

Suku Hausa di Guinea Khatulistiwa terutama Hausa dari Nigeria mengalami kemerosotan jumlah cukup tajam paska eksodus masal di tahun 1975, dimasa kekuasaan Presiden Francisco Macías Nguema. Kala itu hubungan antara kedua negara memanas akibat tindakan presiden Francisco Macías Nguema terdahap kelompok minoritas termasuk terhadap para pekerja dari Nigeria.

Akibatnya pemerintah Nigeria dibawah pimpinan presiden Murtalla Mohammed pun berang, pesawat tempur Nigeria sempat berseliweran di atas kota Malabo ibukota negara Guinea Khatulistiwa di pulau Bioko, dan presiden Francisco Macías Nguema melarikan diri ke kampung halamannya di kota Mongomo di wilayah perbatasan wilayah daratan Guinea Khatulistiwa dengan Gabon.

Pemerintah Nigeria kala itu mengambil keputusan sepihak secara cepat dengan memanggil pulang seluruh orang Nigeria dari Guinea Khatulistiwa. Semua proses itu dilakukan mendadak. Akibatnya sekitar 25.000 orang Nigeria di Guinea Khatulistiwa berbondog bondong memadati pelabuhan dan bandara di Guinea Khatulistiwa untuk ikut serta dalam penjemputan yang semua biayanya ditanggung oleh pemerintah Nigeria termasuk biaya penempatan dan menata kembali kehidupan baru mereka di Nigeria.

Empat tahun setelah peristiwa eksodus itu, Presiden Francisco Macías Nguema sendiri dikudeta oleh Teodoro Obiang pada 3 Agustus 1979 dalam sebuah kudeta berdarah, dan kemudian di eksekusi. Beberapa dari suku Hausa Nigeria yang tadinya sudah ditarik pulang ke Nigeria, kemudian kembali lagi melanjutkan hidup mereka di Guinea Khatulistiwa.

Masjid di Guinea Khatulistiwa

Masjid berukuran besar dapat ditemukan di kota Bata, kota terbesar di Rio Muni (wilayah daratan utama Guinea Khatulistiwa). Kota Bata memang merupakan kota terbesar di wilayah Rio Muni. Masjid besar lainnya ada di Malabo, ibukota negara Guinea Khatulistiwa dan merupakan masjid terbesar di negara itu.

Masjid baru di Malabo, Ibukota Guinea Khatulistiwa.

Masjid di Malabo diresmikan pada tanggal 21 Juli 2015. Peresmian masjid di ibukota negara ini dihadiri oleh presiden Obiang Nguema Mbasogo dan istrinya Constancia Mangue de Obiang. Upacara peresmian masjid ini ditandai dengan sambutan dari Pedro Benigno Matute Tang selaku Imam dan pimpinan spiritual muslim sekaligus pimpinan komunitas muslim Guinea Khatulistiwa dan dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh ibu negara Constancia Mangue de Obiang, menandai dibukanya masjid tersebut secara resmi.

Upacara peresmian tersebut juga dihadiri oleh beberapa kepala negara yang sedang berada di Guinea Khatulistiwa untuk menghadiri konfrensi internasional perang melawan penyakit Ebola.  Diantara mereka hadir Presiden Republik Persatuan Kepulauan Komoro, Ikililou Dhoinine, dan perdana menteri Mesir Ibrahim Mahlab, dan dua wakil presiden Guinea Khatulistiwa yakni Ignacio Milam Tang dan Teodoro Nguema Obiang Mangue, para tokoh masyarakat dan ribuan muslim yang hadir dari berbagai daerah di Guinea Khatulistiwa.

Pembangunan Masjid Malabo tersebut dibiayai oleh ibu negara (istri presiden) Guinea Khatulistiwa Constancia Mangue de Obiang, wajar bila kemudian beliau juga yang meresmikan penggunaan masjid tersebut. Dana pembangunannya diperkirakan sebesar 2 Milyar CFA francs atau setara dengan 3 jura Euro, dan diperkirakan mampu menampung hingga 2000 jemaah. Lokasinya berada diwilayah Sacriba Fang, di pinggiran kota Malabo, ditepian ruas jalan menuju distrik Luba.

Bangunan masjid Baru Malabo ini berdiri di atas lahan seluas 2500 meter persegi, dan merupakan kontribusi dari pemerintah Guinea Khatulistiwa. Sementara pemerintah Mesir, sebagaimana disampaikan oleh perdana mentri Ibrahim Mahlab, berjanji akan mengirimkan para ulama dan imam ke masjid tersebut melalui kementrian wakaf Mesir, sebagai bagian dari upaya pemerintah mesir untuk da’wah Islam.***

--------------------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo.id

--------------------------------------------------------------------------------

Referensi

http://www.guineaecuatorialpress.com/noticia.php?id=6774&lang=en

http://www.opensourceguinea.org/2013/07/interview-and-series-of-encounters-with.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Guinea_Khatulistiwa

http://www.arabstoday.net/en/248/mahlab-attends-inauguration-of-malabo-new-mosque

Baca Juga artikel Islam di negara Afrika lainnya

Islam di Kamerun

Islam di Nigeria

Islam di Burkina Faso

Islam di Seychelles

Islam di Guinea (Republic of Guinea)

Islam di Republik Togo

Islam di Siera Leone

Islam di Burundi

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done