Islami Pedia: Masjid di Turki
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Turki. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Turki. Show all posts

Saturday, August 29, 2020

Aslanhane Masjid Sarang Singa, Tertua di Turki

Aslanhane begitu orang orang menyebut bangunan masjid ini, artinya gedung singa atau sarang singa, karena dulu ada banyak patung singa disekitar termpat ini namun kemudian semuanya dikubur disekitar tembok pagar masjid ini. nama asli masjid ini adalah Masjid Ahi Åžerafettin

Masjid Aslanhane atau Aslanhane Mosque adalah keliru satu masjid tertua yg masih eksis keberadaanya hingga ketika ini pada kota Ankara, Ibukota Turki, bahkan adalah keliru satu masjid tertua pada Negara Turki. Dibangun tahun 1290 dalam masa kekuasaan Dinasti Seljuk. Masjid ini menyimpan sejarah keindahan seni bersinar-sinar bangunan dari masa Seljuk, & adalah salah satu masjid tua pada Turki yang memakai pilar pilar penopang menurut kayu yang masih utuh sampai saat ini. Berdiri kokoh di daerah kota tua Ankara dekat menggunakan bangunan Kastil Ankara sekitar 3 Km berdasarkan pusat kota Ankara, pada wilayah dengan ketinggian 947 meter dari permukaan laut, menurut loka ini pengunjung bisa melihat panorama kota Ankara menurut ketinggian.

Aslanhane Bila pada-Indonesia-kan ialah cukup seram ? Gedung atau Sarang Singa ? Nama yg terlalu sangar buat sebuah nama masjid. Nama tersebut bukanlah nama sebenarnya berdasarkan masjid ini, dianggap Masjid Sarang Singa semata mata karena banyaknya patung singa disekitar tempat itu, yg lalu seluruhnya dikubur di bawah tembok pagarnya. Selain Aslanhane Masjid ini juga tak jarang dianggap dengan Masjid Lion Den. Aslinya Masjid ini bernama Masjid Ahi ?Erafettin tokoh pemimpin muslim setempat yg pernah memperbaiki masjid ini, makam beliau berada di dekat Masjid ini.

Address: Ä°zmir Caddesi Ihlamur Sokak No:9/19 Kızılay – Ankara

Phone: +90.312 419 9203

39?56?12?N 32?51?55?E

Ebubekir Mehmet selaku arsitek masjid ini merancang masjid ini dengan gaya Seljuk yg kental, terselesaikan dibangun tahun 1290 menggunakan material utama berupa batu batu kali yg disusun sebagai dinding bangunan, bagian lantai & ubin nya memakai batu kali yg diratakan, sesuatu yang sangat unik dan antik, ditambah lagi menggunakan pilar pilar penopang atapnya yang terbuat dari balok kayu utuh ukuran akbar dengan sentuhan seni ukir batu pada bagian atasnya.

Sejarah Masjid Aslanhane

Masjid Aslanhane merupakan keliru satu masjid tertua pada Turki yang masih berdiri sampai saaat ini. Dibangun dalam masa kekuasaan Sultan Mesud II dari kerajaan Seljuk Anatolia tahun 1290. Arsitek yang merancang masjid ini merupakan Ebubekir Mehmet. Pembangunannya dilaksanakan oleh 2 orang pemimpin suku Ahi bernama H?Samettin dan Hasaneddin. Masjid ini sempat diperbaiki tahun 1330 oleh pemimpin suku Ahi lainnya bernama Ahi ?Erafettin. Nama beliau lah yg lalu di abadikan sebagai nama masjid ini.

Struktur kayu mendominasi bangunan masjid ini. Dibagian dalamnya berjejer tiang tiang kayu utuh menopang struktur atapnya yg jua terbuat dari kayu.

Setelah mengalami beberapa pemugaran kecil bangunan masjid ini ahirnya di restorasi secara keseluruhan oleh pemerintah Turki tahun 2010-2013. Direktorat purbakala Turki menurunkan tim spesifik buat restorasi masjid ini untuk melakukan restorasi total namun permanen mengkonservasi ke-asliannya. Hasilnya seperti terlihat ketika ini bangunan masjid tersebut berhasil dipulihkan berdasarkan kerusakan tanpa menghambat ke-asliannya, termasuk struktur atapnya yg terbuat berdasarkan kayu dan bangunan menaranya yg terbuat dari batu bata.

Bangunannya berdenah segi empat berukuran 400m2 dilengkapi dengan satu bangunan menara. Dindingnya menggunakan susunan batu batu koral berukuran besar, sedangkan struktur atapnya seluruhnya dari kayu. Ada 24 tiang besar dari kayu utuh menopang struktur  atap masjid tua ini. sedangkan aksesnya dilengkapi dengan 3 pintu utama dan 12 jendela. Bagian menarik dari masjid ini ada di mihrabnya yang kental dengan langgam seni masjid masa kejayaan Dinasti Seljuk Anatolia.

Mihrab masjid Aslanhane, latif menggunakan tabrakan spesial masa kejayaan dinasti Seljuk

Bangunan masjid masjid pada Turki terkenal dengan bangunannya yang besar dilengkapi dengan kubah besar pada atap masjid ditambah dengan satu atau lebih menara ramping yang lancip menjulang misalnya pensil berdiri. Menggunakan interior megah yang indah. Tapi hal itu tidak berlaku di masjid ini dan masjid masjid peninggalan dinasti Seljuk lainnya. Masjid Aslanhane memang memiliki berukuran yg relatif akbar menggunakan dinding yang kokoh, namun tanpa plester, temboknya dibiarkan menunjukkan susunan batu batu koral yang berjejer rapi.

Tidak ada kubah besar di atap masjid, karena seluruh struktur atap masjid ini berbahan kayu. atapnya dibangun sama dengan atap bangunan lainnya. Seni pertukangan dan seni ukir kayu menjadi daya tarik tersendiri. Tiang tiang kayu berukuran besar dibiarkan polos tanpa sentuhan seni namun dibagian ujungnya yang menopang strtuktur atap dihias dengan ukiran stako bewarna putih, kontras dengan tiangnya. sementara plafon masjid ini terdiri dari susunan kayu  berukir indah.***

Monday, August 10, 2020

Masjid Sultan Ahmed (Masjid Biru) Istanbul

Megah pada puncak bukit Istambul, telihat nyaris menurut segala penjuru kota. Masjid Sultan Ahmed atau Masjid Biru Istanbul adalah keliru satu dari peningggalan Emperium Islam Usmaniyah yang telah berumur 4 abad.

Emperium atau Kekaisaran Usmaniyah atau oleh bangsa Eropa diklaim dengan Kekaisaran Otoman, sejatinya merupakan Ke-Khalifahan Islam terahir yg pernah eksis selama 623 tahun, sejak pertama kali dibentuk Oleh Osman Bey tahun 1299 hingga kemudian dihapuskan oleh Mustafa Kemal Attaturk dalam tahun 1922 & lalu bekas sentra daerah kekuasannya berubah sebagai Republik Turki yg kini kita kenal, sentra pemerintahannya pun dipindahkan dari Ankara.

Sejarah Emperium Usmaniyah yang paling terkenal ke seantero global merupakan sejarah kejatuhan Konstantinopel yg merupakan sentra kekuasaan Emperium Byzantium Romawi Timur oleh pasukan Muhammad Al-Fatih dalam Hari Jum,at lepas 23 Maret 1453. Al-Fatih membarui nama Konstantinopel menjadi Istambul dan menjadikan kota itu menjadi ibukota Emperium Usmaniyah, selesainya sebelumnya berada di Edirne. Masa ini adalah awal perkembangan luar biasa menurut Emperium Usmaniyah.

Paska penaklukan tadi, Al-Fatih mengganti Gereja Ayasofia menjadi Masjid resmi atau masjid nasional Emperium Usmaniyah. Satu setengah abad selesainya itu, pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I yg memerintah pada tahun 1603-1617 dibangun Masjid Nasional yang baru berhadapan dengan Masjid Hagia Shopia, yakni Masjid yang sekarang dikenal menggunakan nama Masjid Sultan Ahmed atau dikenal jua dengan nama Masjid Biru atau Blue Mosque.

The Blue Mosque / Sultan Ahmet Camii

Sultanahmet Mh., At Meydan? No:7, 34122 Fatih/?Stanbul, Turki

sultanahmetcamii.Org

90 212 458 44 68

Kini, Meski sudah berumur 4 abad, Masjid Sultan Ahmed ini masih terawatt baik & masih berfungsi sebagaimana mestinya sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata andalan kota Istanbul. Seperti Tradisi masjid masjid bersejarah lain-nya di pekarangan masjid ini jua menjadi tempat dimakamkannya mendiang Sultan Ahmed I, yg membangun masjid ini.

Sejarah Masjid Sultan Ahmed

Masjid Sultan Ahmed atau Masjid Biru dibangun dalam tahun 1609 sampai menggunakan tahun 1616 pada masa Kekuasaan Sultan Ahmed 1. Pembangunnya merupakan Husna Bint Mayram dibawah supervisi langsung berdasarkan H?Nd?N V?Lida Sult?N?, putra menurut Sultan Ahmed I. Pembangunan masjid ini sempat menuai protes dari kalangan ulama ke-khalifahan karena dilaksanakan dalam waktu Ke-Khalifahan Usmaniyah baru mencapai perdamaian Zsitvatorok & menderita kekalahan dalam perang Persia, tetapi justru tujuan menurut Sultan Ahmed 1 membangun masjid ini adalah buat mengembalikan lagi marwah Kekhalifahan.

Sebelumnya Ke-Khalifahan Usmaniyah di Istanbul menggunakan Hagia Sophia sebagai masjid Nasional. Para pengikut Sultan harus bekerja keras membangun masjid ini menjadi pengganti kekalahan perang, ad interim Sultan Ahmed 1 harus menguras perbendaharaan Negara buat porto pembangunannya, mengingat perang terhadap Persia nir menaruh hasil yg gemilang.

Masjid Sultan Ahmed berdasarkan kejauhan salah satu sudut kota Istanbul

Lokasi pembangunan Masjid ini dipilih dalam lokasi Istana kekaisaran Byzantium, di depan Katedral Aya Sofia yg sudah dikonversi menjadi Masjid Agung Hagia Shopia Sejak Kemenangan Muhammad Al-Fatih menghancurkan Emperium Byzantium (Romawi Timur) dengan menaklukkan Kota Konstantinopel dalam Hari Jum,at tanggal 23 Maret 1453 & mendirikan ke-Khalifahan Usmaniyah kemudian mengganti nama Konstantinopel menjadi Istambul.

Lokasi ini memang adalah tempat yg memiliki arti simbolis yang teramat krusial, mengingat disini 150 tahun sebelumnya merupakan sentra Kekuasaan Byzantium (Romawi Timur), dipuncak bukit yang mendominasi pemandangan kota Istambul menurut arah selatan. Sebagian akbar sisi selatan masjid ini berdiri tepat di pondasi bekas Istana Byzantium tersebut berdekatan menggunakan gedung Hippodrome. Wajar bila Sultan Ahmed 1 bersikukuh membangun masjid ini buat menerangkan kekuasaan & membangkitkan lagi marwah Ke-Khalifahan.

Paralelisasi Sejarah

Pembangunan Masjid Sultan Ahmed ini dalam tahun 1609 sampai tahun 1616. Bila disejajarkan menggunakan sejarah Kesultanan pada Nusantara, dalam waktu di Istambul dilaksanakan pembangunan Masjid ini pada Nusantara saat yg sama sedang berkuasa Kesultanan Jayakarta (1527-1619). Menunjukkan bahwa masa kekuasaan Sultan Ahmed 1 di Emperium Usmaniyah (Turki) bersamaan menggunakan masa Kekuasaan Pangeran Jayakarta pada Kesultanan Jayakarta (Indonesia).

Masjid Sultan Ahmed dalam dasarnya terdiri dari satu bangunan utama & satu pelataran tertutup yg diintegrasikan menjadi satu.

Hanya saja tiga tahun selesainya Pembangunan Masjid Sultan Ahmed ini terselesaikan & dipakai menjadi Masjid Nasional bagi Emperium Usmaniyah, Masjid Agung Jayakarta justru tak bersisa pada bumi hanguskan oleh J.P. Coen sehabis berhasil menaklukkan Jayakarta dalam 12 Maret 1619, sedangkan Emperium Usmaniyah masih berkuasa hingga tiga abad selesainya itu. Dan Masjid Sultan Ahmed masih berfungsi hingga hari ini.

Ar sitektur Masjid Sultan Ahmed

Masjid Sultan Ahmed dirancang sang arsitek Sedefk?R Mehmed A?A (wafat tahun 1622) menggunakan enam menara lancip, ramping & menjulang, bangunan utamanya ditutup dengan 5 kubah utama, dan enam kubah sekunder. Rancangan ini disebut sebut menjadi titik kulminasi berdasarkan dua abad perkembangan masjid masjid Emperium Usmaniyah. Sangat kentara terdapat gugusan Antara rancangan berdasarkan bangunan Masjid Hagia Shopia yg berada disebelahnya.

Rancangan tersebut lalu dipadu menggunakan tradisi arsitektur Islam & menjadikannya sebagai Masjid Agung terahir yang di bangun dalam periode klasik. Arsitek Sedefk?R Mehmed A?A sahih berhasil mensintesa ide wangsit berdasarkan gurunya, Mimar Sinan (1450?-1588) yg dikenal menjadi arsitek termashur Emperium Usmaniyah, dengan rancangan masjid ukuran super besar, menakjubkan & bagus. Rancangan masjid Sultan Ahmed ini dan masjid masjid lainnya yg dibangun pada era Emperium Usmaniyah ini dikemudian hari menjadi galat satu acum rancang bangun Masjid pada semua global & kini dikenal sebagai gaya rancangan masjid Turki Usmani.

Serba biru. itu sebabnya disebut Blue Mosque atau masjid biru, merujuk kepada warna biru yang mendominasi langit langit senatero bagian dalam masjid tua ini.

Secara generik bangunan masjid Sultan Ahmen ini dibagi menjadi 2 bagian utama yakni bangunan primer masjid dan area pelataran tengah atau court yard yg dikelilingi menggunakan korodor menyatu menggunakan bangunan utama. Rancangan misalnya ini memang telah mentradisi sejak masa ke-khalifahan Islam sebelumnya, dimana hampir semua masjid berukuran besar didesain dengan pola yang sama. Pelataran tengah berupa plaza terbuka ini dipakai menjadi area sholat tambahan bagi jamaah yg tidak tertampung di pada bangunan primer.

Berdasarkan perhitungan matematika menggunakan mempertimbangan postur homogen rata orang Eropa, Masjid Sultan Ahmed ini dapat menampung sampai 10 ribu Jemaah sekaligus. Dengan berukuran ruang utamanya mencapai 73 x 65 meter. Ketinggian utamanya dalam sisi luar mencapai 43 meter dan garis tengah lingkarannya mencapai 23,5 meter. Sementara tinggi masing masing menara runcingnya itu mencapai 64 meter.

Interior Masjid Sultan Ahmed

Pada setiap tingkatan pada bagian pada masjid Sultan Ahmed ini sarat dengan jejeran lebih dari 20 ribu keeping keramik buatan tangan bergaya Iznik yg memang dibuat di Iznik (Nicaea Kuno) corak yg digunakannya berupa lebih menurut 50 corak bunga tulip yg tidak sinkron. Pada bagian bawah banyak memakai gaya tradisional pada rancangannya sedangkan pada permukaan rancangannya lebih flamboyan dengan kehadiran aneka corak bunga, buah & pepohonan hijau.

Seperti rancangan masjid tradisional di Indonesia, Masjid ini pula ditopang menggunakan empat tiang, hanya saja tiang tiang di masjid ini ukuran sangat akbar & terbuat menurut beton berlapis batu granit & ornamen keramik hias menurut Iznik bewarna biru.

Pembuatan masing masing keping keramik hias tersebut diawasi eksklusif oleh seseorang ahli Iznik, sedangkan harga masing masing kepingan keramik tersebut ditetapkan menggunakan dekrit dari Sultan Ahmed menggunakan harga yg permanen kendatipun pada kala itu harga masing masing kepingan keramik Iznik senantiasa semakin tinggi sepanjang waktu.

Interior bagian paling atas masjid ini pada dominasi menggunakan balutan rona biru, warna ini yang kemudian lengket dengan nama masjid ini sebagai Masjid Biru. Ada l ebih menurut 200 jendela kaca patri dengan rancangan yg relatif rumit memainkan cahaya alami mentari & kini dibantu dengan tambahan cahaya lampu gantung. Uniknya dalam lampu gantung ini terdapat cangkang telur burung onta buat mencegah keluarnya jaring keuntungan keuntungan pada pada masid ini. Lampu lampu gantung ini jua dilengkapi dengan bola bola Kristal, namun Pernik Pernik unik tadi kini telah disimpan di museum.

Dekorasi kaligrafi di masjid ini dibentuk oleh Seyyid Kasim Gubari, yg dikenal sebagai kaligrafer ternama dalam masa itu. Seluruh lantai pada masjid dilapis dengan karpet yg adalah sumbangan menurut Jemaah & secara terencana diganti dalam saat terdapat kerusakan. Banyaknya ventilasi ventilasi besar pada masjid ini mengesankan ruang yg lebih lega dari aslinya.Tingkap (kusen dan bingkai jendela) dalam bagian lantai bawah dihias dengan teknik Opus Sectile yakni ragam hias menggunakan merangkai rabat potongan aneka macam material pilihan kemudian dirangkai satu persatu membentuk pola eksklusif sebagaimana sebuah mozaik.

Mohrab & mimbar pada Masjid Sultan Ahmed, keduanya sama sama dibangun tinggi sekali.

Kubah utama Masjid Sultan Ahmed dilengkapi dengan 28 ventilasi (5 antara lain merupakan ventilasi tanpa kaca) sedangkan masing masing semi kubah nya dilengkapi dengan 14 Jendela & setiap Exedra (ruang ceruk yang terbentuk sang bangun semi kubah) dilengkapi dengan lima jendela). Kaca ventilasi berwarna warni pada masjid ini adalah hibah berdasarkan Signoria of Venice pada Sultan. Beberapa menurut jendela jendela rona warti itu kini telah mengalami penggantian.

Mihrab & Mimbar

Sesuai menggunakan ukuran masjidnya, ruangan dalam masjid ini didesain sebagai sebuah aula besar beratap sangat tinggi setara menggunakan gedung berlantai 4, Begitupun mihrab dan mimbarnya yang dibangun begitu tinggi. Bentuk mihrabnya berupa ceruk 1/2 bulat lalu dibingkai menggunakan bentuk menyerupai sebuah gapura besar dilengkapi dengan 2 bentuk pilar di kiri & kanan yang bagian atasnya dihias dengan ukiran bewarna emas. Bahan nya memakai batu pualam yang pada ukir & dipahat begitu halus, lalu diberikan aksen rona emas. Dibagian atas ceruk pada hias dengan sedikit Muqornas (ragam hias stalaktit) dan pada sisi Mihrab paling atas diletakkan 2 inskripsi kaligrafi.

Mimbar diletakkan disebelah kanan mihrab. Sebuah mimbar yang cukup tinggi dilengkapi dengan jejeran anak anak tangga dan sebuah bentuk seperti gapura di depannya. bagian atas mimbar diberikan atap runcing seperti halnya ujung Menara masjid ini. rancangan mimbar seperti ini bertujuan untuk menempatkan khatib pada posisi yang mudah dilihat oleh seluruh jamaah di dalam masjid dan memungkinkan suaranya terdengar hingga Jemaah terjauh dari mihrab.  dinding pada sisi kiblat masjid ini juga dilengkapi dengan begitu banyak jendela termasuk di sisi kiri, kanan dan atas mimbar dan mihrabnya.

Pelataran tengah tertutup pada Masjid Sultan Ahmed. Bangunan segi delapan ditengah tengah itu adalah pancuran air.

Masjid Sultan Ahmed dilengkapi menggunakan area sholat spesifik buat keluarga kerajaan, bila pada Indonesia area tadi dikenal menggunakan istilah Maksura yg masih ada pada berbagai masjid kesultanan pada Indonesia. Selain itu pada masjid ini pula dilengkapi menggunakan area khusus buat keluarga kerajaan berikut dengan ruangan buat mereka beristirahat. Masih di masjid ini pula terdapat ruangan loka tinggal Imam masjid.

Exterior Masjid Sultan Ahmed

Seperti disebutkan di bagian depan tulisan ini, masjid Sultan Ahmed terdiri dari bangunan primer masjid dan pelataran dengan masing masing berukuran luasnya hampir sama. Pelataran tengah ini dikelilingi sang koridor arcade berkesinambungan terhubung pribadi ke bangunan primer masjid. Disana juga ditempatkan loka berwudhu pada ke 2 sisinya. Dibagian tengah pelataran ini jua masih ada pancuran kecil berdenah heksagonal.

Sebuah gerbang dibangun menuju ke area pelataran masjid menggunakan rancangan arsitektur yg cukup memukau dilengkapi jua menggunakan semi kubah dan struktur muqarnas yang apik. Pada puncak gapura ini dilengkapi menggunakan satu kubah ukuran mini berdiri diatas tholobate (bentuk silindris seperti drum yang menopang kubah). Di komplek masjid ini jua masih ada bekas bangunan Sekolah Dasar (S?Byan Mektebi) yg sangat bersejarah & sekarang digunakan sebagai pusat informasi masjid. Pada sentra keterangan ini pengunjung sanggup menerima keterangan mengenai Masjid Biru dan informasi mengenai Islam secara umum dengan Cuma Cuma alias gratis.

Enam menara ?, Seharusnya adalah Menara Emas. Hanya saja yang sudah terlanjur berdiri adalah enam menara, bukan menara emas.

Satu hal menarik lainnya dari masjid ini merupakan adanya rantai besi yang digantungkan di pintu masuk menuju ke pelataran masjid menurut arah barat yg dulunya hanya dipakai spesifik sebagai akses untuk Khalifah (sekarang tebiasa dianggap dengan Sultan). Rantai tadi digantung relatif rencah sehingga setiap kali Sultan hendak masuk ke masjid, beliau harus menundukkan kepala supaya tidak tersangkut di rantai besi tersebut. Sengaja dibentuk demikian sebagai sebuah simbol menurut perilaku merendahkan diri & bahwa kekuasaan penguasa sama sekali tidak sebanding menggunakan kekuasaan Allah Subhanahuwata?Ala.

Enam Menara Atau Menara Emas ?

Masjid Sultan Ahmed ini merupakan galat satu berdasarkan dua Masjid pada Turki yang memiliki enam Menara, salah satunya lagi merupakan Masjid Sabanci pada kota Adana yg dibangun dalam era terbaru. Konon, menurut kisah ungkap, enam Menara pada masjid Sultan Ahmed ini dibangun karena Arsitek yang merancangnya galat mendengar perintah Sultan. Kala itu, pada Bahasa Turki Sultan memerintahkan dibangun ?Altin Minareler? Atau ?Menara emas? Tetapi yg terdengar sang arsiteknya justru ?Alti Minare? Yang berarti ?Enam Menara?.

Masalahnya merupakan pada ketika itu baru Masjidil Harom pada Mekah yg mempunyai Enam Menara dan sudah sebagai karakteristik khasnya sebagai masjid menggunakan Menara terbanyak. Karenanya lalu Sultan memerintahkan pembangunan satu menara lagi buat Masjidil Haram di Mekah, hingga jumlah Menara Masjidil Haram menjadi tujuh lebih banyak dari Menara pada masjid Sultan Ahmed sebagai akibatnya permanen berakibat Masjidil Haram menjadi masjid menggunakan Menara terbanyak.

Merendahlah dihadapan Allah. Siapapun yang akan lewat pintu ini harus menunduk bila tak ingin kepala terbentur rantai baja tersebut. sebuah simbol bahwa kekuasaan yang dimiliki manusia tak ada apa apa-nya dibandingkan kekuasaan Allah.

Menara Pinsil

Anda tahu bentuk pensil yg diraut, nah begitulah kira kira bentuk dasar Menara Menara masjid berdasarkan era Emperium Usmaniyah. Bentuknya selalu ramping, semampai & runcing. Masing masing Menara dilengkapi menggunakan 3 balkoni (pada Bahasa Turki dianggap (?Erefe) menggunakan penopangnya yang dibentuk seni muqornas (Stalaktit). Pada masanya, Menara ini benar benar berfungsi sebagai tempat Muazin mengumandangkan azan menurut balkoni teratas Menara.

Setiap kali menjelang ketika sholat datang, muazin akan naik ke Menara meniti tangga melingkar yang sempit pada pada Menara sampai ke balkoni puncak dan mengumandangkan azan disana sekeras kerasnya agar suaranya terdengar sejauh mungkin. Fungsi tersebut kini sudah digantikan menggunakan sistem pengeras bunyi elektronik dan jangkauan suara azan dari masjid ini pun sekarang terdengar hingga ke seantero tempat.

Lukisan paras Sultan Ahmed 1.

Azan magrib pada Masjid ini juga sebagai salah satu objek wisata menarik bagi para wisatawan asing disana sambil menyaksikan tenggelamnya surya di senja hari seiring menggunakan lantunan azan yang merdu, bebeberapa media bahkan menyebutkan beberapa wisatawan asing yang pernah menikmati momen tersebut kemudian bahkan tersentuh buat memeluk Islam.

Kunjungan Paus Benedict us XVI ke Masjid Sultan Ahmed

Paus Benedictus XVI selaku pemimpin ummat Katholik sedunia, pernah berkunjung ke Masjid Sultan Ahmed pada tanggal 30 November 2006 dalam rangkaian kunjungan beliau ke Turki. Ditemani oleh Mufti dan Imam Masjid Sultan Ahmed, Paus Benedictuts XVI melepaskan sepatunya, masuk ke masjid menuju ke depan mihrab kemudian berdiam diri disana sambil memejamkan mata sekitar dua menit. Kunjungan tersebut memiliki sejarah tersendiri bagi Masjid Sultan Ahmed dan Turki, mengingat bahwa kunjungan tersebut baru merupakan kunjungan kedua kalinya dari Orang Nomor Satu di Vatikan ke tempat ibadah ummat Islam sepanjang sejarah.***

Sunday, August 9, 2020

(Masjid) Hagia Sophia Istanbul

Dari gereja sebagai Masjid berahir menjadi Musium.

Hagia Sophia, atau Aya Sofia satu berdasarkan bangunan bersejarah dunia yang masih berdiri sampai ketika ini. Bangunan yg mempunyai arti penting karena faktor sejarah, arsitektural, keagungan, berukuran serta manfaatnya. Nama Haga Sophia sendiri sudah identik dengan kota Istanbul meskipun Istanbul bukanlah satu satunya kota global yg memiliki bangunan menggunakan nama tersebut.

Haga Shopia sampai hari ini berstatus menjadi museum dari tahun 1935. Sebelumnya Haga Shopia sempat difungsikan sebagai masjid selama 482 tahun atau hampir 5 abad lamanya. Perubahan tadi seiring menggunakan runtuhnya Emperium Usmaniyah dan berganti menggunakan Republik Turki yang didirikan sang Mustafa Kemal Pasha atau lebih dikenal menggunakan nama Attaturk.

Kota Istanbul tidak saja memainkan perang teramat krusial bagi Turki, namun juga bagi peradaban. Letak geografisnya yang berada pada garis batas benua Eropa & Asia berakibat kota ini sebagai titik pertemuan peradaban timur dan barat sepanjang sejarah. Kehancuran dan kejayaan diwaktu bersamaan pernah di alami kota ini, begitupun dengan bangunan bangunan bersejarah yang masih berdiri pada kota ini sampai hari ini termasuk keliru satunya merupakan Haga Shopia.

Berawal Sebagai Gereja

Hagia Sophia pada awalnya adalah gereja terbesar yang pernah dibangun oleh Emperum Romawi Timur di Konstantinopel. Bangunan ini pernah 3 kali dibangun di lokasi yang sama. Ketika pertama kali berdiri bangunannya diberi nama Megale Ekklesia (Gereja Besar). Perubahan nama terjadi selesainya abad ke 5, loka tadi dianggap menjadi Hagia Sophia (Holy Wisdom / Kebijaksanaan Suci) lantaran Gereja tersebut jua dipakai sebagai tempat penobatan penguasa, dan menjadi Katedral terbesar sepanjang sejarah Byzantium.

Bangunan Gereja pertama dibangun oleh Kaisar Konstantios (337-361) pada tahun 360 atau dipenghujung masa kekuasaannya. Bangunan pertama tersebut beratapkan kayu dan dibangun cukup tinggi layaknya bangunan Basilica, namun kemudian ludes terbakar dalam rusuh massa pada tahun 404 sebagai akibat dari ketidaksetujuan antara Istri Kaisar Arkadios (395-405) yang bernama Ratu Eudoksia dengan Ioannes Chrysostomos yang merupakan patriarch Konstantinopel.

Potret mozaik sang patriarch ditemukan masih berada di tembok tymphanon yang berada disisi utara bangunan gereja, padahal pada saat itu dia sudah dalam pengasingan. Tidak terdapat yang tersisa berdasarkan bangunan pertama tersebut, namun terdapat batu bata yang ditemukan di gudang museum bertuliskan ?Megale Ekklesia? Pada duga batu bata tersebut adalah remah yg tersisa menurut bangunan gereja pertama tadi.

Interior Hagia Sophia ketika masih difungsikan sebagai masjid

Bangunan Gereja kedua dibangun ditempat yang sama oleh Kaisar Theodosios II (408-450) pada tahun 415. Bangunan tersebut diketahui memiliki lima ceruk dan pintu masuk yang monumental namun masih beratap kayu. Namun, lagi lagi bangunan tersebut luluh lantak oleh rusuh masa yang dikenal dengan Nika Revolts pada tanggal 13 Januari 532. Atau di tahun kelima naik tahtanya Kaisar Justinianos (527-565), kala itu kelompok Biru yang mewakili para aristocrat dan kelompok hijau yang mewakili para pedagang dan saudagar berkolaborasi menentang Kaisar.

Puing puing menurut bangunan kedua ini sempat ditemukan dalam eskavasi yg dipimpin oleh

A. M. Scheinder dri the Istanbul German Archeology Institute, 2 meter dibawah tanah ditemukan beberapa sisa reruntuhan termasuk anak anak tangga menurut pintu monumental, bagian dasar kolom kolom bangunan & beberapa temuan lainnya, dan menjadi tambahan beberapa pernik arsitektural menurut pintu masuknya yg monumental tadi dapat dicermati pada taman sebelah barat.

Gereja ketiga dibangun oleh Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles), yang merupakan dua arsitek pembaharu pada masa itu atas perintah dari Kaisar Justinianos (527-565). Informasi dari sejarawan Prokopios menyatakan bahwa pembangunanya dimulai pada tanggal 23 February 532, dan selesai dalam waktu cukup singkat selama lima tahun, dibuka secara resmi pada tanggal 27 Desember 537.

Hagia Shopia saat ini

Berbagai asal menunjukkan bahwa dalam hari pembukaan Hagia Shopia, Kaisar Justinianos memasuki bangunan tadi dan berkata ?My Lord, thank you for giving me chance to create such a worshipping place,? Yg lalu dilanjutkan menggunakan kalimat ?S?Leyman, I beat you?. Secara harfiahnya bermakna ?Terima kasih Tuhan telah memberiku kesempatan membentuk Tempat Ibadah ini? Lalu dilanjutkan menggunakan ?Sulaiman Kukalahkan Kau?. Merujuk pada Kuil Sulaiman pada Jerusalem. (Dalam sejarah Islam kuil yang dimaksud sang sang Kaisar tak lain merupakan Masjidil Aqso pada kota Al-Quds, Palestina). Bangunan Gereja ketiga yang dibangun dalam Kaisar Justianos inilah yang masih berdiri hingga hari ini.

Bangunan gereja ketiga ini menggabungkan tiga rancangan tradisional basilica dengan kubah sentra dalam rancangannya. Ketinggian kubah primer berdasarkan permukaan lantai mencapai 55.6 meter menggunakan radius masing masing 31.87 meter dari utara ke selatan & 30.86 meter dari timur ke barat.

Kaisar Justinianos memerintahkan pada seluruh provinsi dibawah kekuasaannya buat mengirimkan material bangunan terbaik buat digunakan bagi pembangunan Hagia Shopia sebagai akibatnya pembangunan gereja untuk ketiga kalinya itu haruslah adalah yg terbesar dan teragung. Kolom kolom pualam yang digunakan dalam struktur bangunannya di ambil berdasarkan kota kuno Anatolia & Suriah dan sekitarnya termasuk berdasarkan kota kota Aspendus Ephessus, Baalbeek & Tarsa.

Interior Hagia Sophia dengan satu partisi putih panjang pada pada masjf.

Batu pualam putih diambil berdasarkan Pulau Marmara, green porphyry diambil berdasarkan Pulau E?Riboz, Pualam merah belia dari Afyon, sedangkan pualam kuning diambil dari Afrika Utara. Elemen dekoratif dalam bagian interior yg dipakai buat menutup dinding bagian interior dibuat menggunakan cara membagi dua sama akbar satu blok batu pualam kemudian menyatukannya lagi buat menerima bentuk yang sahih benar simetris.

Sebagai tambahan, buat bagian struktur bangunannya termasuk kolom kolom yang digunakan diangkut menurut Kuil Artemis di Ephessus, termasuk 8 kolom diambil dibawa berdasarkan Mesir dipakai menjadi penopang kubah. Keseluruhan struktur bangunannya menggunakan 104 kolom (tiang), 40 kolom dalam bagian bawah & 64 kolom dalam permukaan.

Keseluruhan dinding Hagia Sophia kecuali satu bagian yg di tutup menggunakan batu pualam, dihias dengan mozaik. Emas, perak, kaca terakota, & batuan warna warni dipakai buat membangun mozaik dimaksud. Mozaik nya membentuk pola pola flora dan bentuk geometris berdasarkan abad ke 6 Miladiyah, bentuk mozaik yang dari berdasarkan masa

Iconoclast.

Mihrab Masjid Hagia Sohia, Istanbul.

Selama masa kekuasaan Emperium Romawi Timur, Hagia Sophia digunakan sebagai gereja kekaisaran, loka dimana para Kaisar dinobatkan. Tempat penobatan tadi berada pada tempat yang lantainya ditutup menggunakan batu warna warni membangun rancangan sirkular.

Konstantinopel sempat jatuh ke tangan Kekuasaan Bangsa Latin dalam tahun 1204 - 1261 yg menyebabkan kehancuran kota Konstantinopel berikut bangunan Gereja Hagia Sophia. Pada tahun 1261 pada saat pasukan Romawi Timur berhasil merebut pulang Konstantinopel, mereka mendapati Hagia Sophia dalam syarat rusak parah.

Hagia Sophia Sebagai Masjid

Pada hari Jum?At tanggal 23 Maret 1453, Muhammad Al-Fatih atau Fatih Sultan Mehmed (1451-1481) berdasarkan dinasti Usmaniyah berhasil menaklukkan konstantinopel, menadai berahirnya masa kekuasan Romawi Timur (Byzantium) di daerah tersebut berganti menggunakan kekuasaan Islam. Al-Fatih lalu membarui nama Kota Konstantinopel sebagai Istambul, melakukan perbaikan terhadap Hagia Sophia & menjadikannya menjadi masjid sesudah selama satu milennium berfungsi sebagai gereja.

Panel Kaligrafi terbesar di dunia pada Hagia Sophia

Bangunan menara kemudian dibubuhi atas rancangan arsitek Mimar Sinan. Pembangunan empat menara di Masjid Hagia Sophia ini nir dilakukan bersamaan. Pada masa Al-Fatih dibangun sebuah menara pada bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun lagi dua buah menara sekaligus & diubah bagian-bagian masjid yg masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti pertanda salib dalam zenit kubah dengan hiasan bulan sabit.

Sebuah bangunan madrasah lalu dibangun dalam sisi utara Hagia Sophia dalam masa Al-Fatih, namun bangunan tadi kemudian dirobohkan dalam abad ke 17. Seiring perubahan fungsi sebagai masjid, Hagia Sophia mengalami aneka macam perubahan, Mihrab & Mimbar dibubuhi menggantikan altar, lalu dibubuhi jua Maksurah menjadi tempat khusus bagi Sultan dan kerabatnya, serta ditambahkan jua Muezzin mahfili yang merupakan tempat spesifik bagi muazin buat meneruskan ucapan imam.

Pada masa kekuasaan Sultan Abd?Lmecid?S (Sultan Abdul Majid 1839-1861), dilakukan renovasi terhadap Masjid Hagia Sophia oleh Fossati, beliau juga membentuk pulang bangunan Madrasah yg dirobohkan pada abad ke 17 dilokasi yang sama. Reruntuhan bangunan madrasah ini ditemukan pada ekskavasi tahun 1982.

Lampu perunggu yang berada di dua sisi mihrab merupakan hadiah kepada masjid dari Kanuni Sultan Süleyman (1520-1566) sekembalinya beliau dari Budin. Dua buah kubus dari pualam yang berada di dua sisi pintu masuk utama berasal dari era (abad ke 3 - 4 sebelum masehi) dibawa khusus dari Bergama dan diserahkan ke Masjid sebagai hadiah dari Sultan Murad III (1574-1595).

Pada masa kekuasaan Sultan Abd?Lmecid Antara tahun 1847 dan 1849, dilakukan renovasi ektensif terhadap Hagia Sophia yang dilaksanakan oleh perusahaan Swiss Fossati brothers, pada masa itu, H?Nk?R Mahfili (tempat Sultan melaksanakan sholat) yg sebelumnya berada di mihrab dibongkar dan dibuatkan yang baru di depan mihrab sisi kiri.

Kaligrafi besar berdiameter 7,5 hingga 8 meter di masjid ini merupakan karya kaligrafer Kadıasker Mustafa İzzet Efendi yang kemudian dipasangkan pada beberapa titik struktur bangunan Hagia Sophia. Masing masing Kaligrafi bertuliskan Lafadz Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hasan dan Husen. Panel panel Kaligrafi berbentuk bundar ini dikenal sebagai panel kaligrafi berukuran terbesar di dunia Islam.

Hagia Sphia di malam hari

Berahir Sebagai Musium

Seiring dengan runtuhnya Emperium Usmaniyah & terbentuknya Republik Turki dibawah komando Mustafa Kemal Atat?Rk, Hagia Sophia pada alih fungsi sebagai Musium sejak tanggal 1 Februari 1935, sehabis selama 482 tahun berfungsi menjadi masjid. Berdasarkan akta tahun 1936 Hagia Sophia di daftarkan menjadi ?Ayasofya-i Kebir Camii ?Erifi mewakili Fatih Sultan Mehmed Foundation for maoseleum, akaret, muvakkithane dan madrasah yg berada pada 57 pafta, 57 island & 7th parcel. Sejak ketika itu seluruh kegiatan ke-islaman terhenti di Hagia Sophia.

Upaya mengembalikan fungsinya sebagai masjid telah dilakukan oleh pemerintahan Turki dibawah pemerintahan Presiden Erdogan sejak tahun 2013, namun gagasan itu juga direspon unjuk rasa sebagian orang di Turki. Di bulan Mei tahun 2015 untuk pertama kali diperdengarkan lagi lantunan ayat suci Al-Qur’an di Hagia Sophia dalam sebuah acara pameran bertajuk cinta nabi.

Pada bulan kudus Romadhan tahun 2016 yang kemudian pemerintah Turki mengeluarkan izin ad interim penggunaan kembali Hagia Sophia menjadi masjid selama bulan suci Romadhan. Keputusan tersebut sudah menimbulkan ketersinggungan menurut pemerintah Yunani. Dari faktor sejarah Yunani merupakan penerus Kekaisaran Romawi dan tentu saja mempunyai keterikatan yg bertenaga menggunakan Hagia Sophia. Setelah masa biar nya berahir, Hagia Sophia pulang menjadi Musium.

Kini, sebagai sebuah musium, Hagia Sophia dapat dikunjungi dengan bebas oleh kalangan manapun, tanpa harus mematuhi tata krama sebagaimana memasuki sebuah bangunan masjid. Beberapa pernik menurut masa sebelumnya memang masih bisa dipandang, karena memang pada waktu bangunan ini pada ubah sebagai masjid tidak secara keseluruhan menghapus seluruh ornamen pada pada masjid ini termasuk mozaik mozaik antik yang menghias bagian interiornya, ditambah lagi dengan upaya berdasarkan para peneliti yang melakukan upaya menemukan pernik pernik gereja dibalik mozaik, & ornamen Islami yg dibubuhi semasa kekuasaan Islam sudah Mengganggu beberapa bagian tersebut dan memunculkan kembali beberapa lukisan antik era Kristen di Hagia Sophia.

Hagia Sophia pada malam hari

Paralelisasi Sejarah

Bagaimana situasi pada tanah air Indonesia dalam ketika kejatuhan Konstantinopel ke tangan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453?. Di Abad ke 15 Miladiyah bagian barat pulau Jawa berada dibawah kekuasaan Prabu Siliwangi berdasarkan Kerajaan Pajajaran. Daerah sekitar kota Cirebon saat ini berada di bawah kendali Ki Gde Ing Tapang sebagai Syah Bandar Muara Jati, bagian dari kerajaan Pajajaran.

Merujuk kepada buku Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati dan Sekilas Riwayatnya, Pada tahun 1456 (tiga tahun setelah kemenangan Al-Fatih atas Byzantium di Konstantinopel) Pangeran Cakrabuwana, putra Prabu Siliwangi dari Subang Larang (Putri Ki Gde Ing Tapang) pulang ke tanah Jawa dari Jazirah Arab dan mendirikan Nagari Caruban Larang. Negeri ini diresmikan oleh Prabu Siliwangi, dan Pangeran Cakrabuana diberinya gelar “Sri Manggana“.  Cakrabuana lalu membangun Istana Pakungwati, sesuai nama puterinya yang lahir ketika dia masih di Mekkah.

Negeri Caruban dikemudian hari berubah sebagai Kesultanan Cirebon sang Sunan Gunung Jati dalam kurang lebih tahun 1478, sebagai kesultanan ke 2 pada Nusantara setelah kesultanan Demak. Susul menyusul kemudian berdirinya Kesultanan Jayakarta & Kesultanan Banten. Maknanya bahwa Masa berdirinya kesultanan kesultanan di Indonesia bersamaan menggunakan masa dinasti Emperium Usmaniyah (Turki).***

Referensi

hidayatullah

http://ayasofyamuzesi.Gov.Tr/en/history

http://www.Republika.Co.Id/kabar/dunia-islam/islam-nusantara/15/04/17/nmxklk-pertama-kalinya-pembacaan-alquran-di-hagia-sophia

Saturday, August 8, 2020

Ulu Cami, Masjid Agung Bursa, Turki

Masjid dua puluh kubah. Masjid Ulu Cami atau Masjid Agung Bursa pada Turki ini dibangun menggunakan 2 puluh kubuh merepresentasikan 2 puluh masjid yg dijanjikan sang Sultan.

Apa & dimanakah Bursa

Bursa merupakan galat satu kota tua di Turki yang mempunyai perangan teramat penting badi sejarah Turki, sekaligus jua merupakan kota terbesar ke 4 sesudah Istanbul, Ankara dan Izmir. Bursa, merupakan kota tempat Turki Usmani atau Dinasti / Emperium / Kekaisaran / Ke-Khalifahan Usmaniyah berawal. Lokasi Bursa yang cukup dekat dengan Konstantinopel (kini Istanbul), telah menjadi pilihan lokasi yang strategis oleh para penguasa baik dari bangsa Arab juga Seljuk yg memang berlomba-lomba buat bisa menaklukan Konstantinople ketika itu.

Tahun 1075 bangsa Muslim Seljuk telah menguasai kota ini. 22 tahun setelahnya Pasukan Perang Salib (Crusaders) yang pertama datang, merebut kota ini. Setelah itu Bursa selalu menjadi perebutan silih berganti. Baik oleh Crusaders maupun Muslim Seljuk. Bangsa Turki mengalami perpindahan ke daerah Anatolia sepanjang abad ke 12 dan 13 kemudian menumbuhkan  entitas entitas pemerintahan kecil dipimpin kepala suku atau panglima perang mereka. Termasuk Ertugrul Gazi yang mendirikan pemerintahan kecil di dekat Bursa.

ULU CAMI tertulis pada dinding depan pintu utama masjid utama di kota Bursa ini, dalam bahasa Indonesia mungkin sepadan dengan Istilah Masjid Jami'. Foto bawah adalah pancuran, loka wudhu yang tersedia di laman masjid. Pancuran misalnya ini dapat ditemukan di seluruh masjid berdasarkan era dinasti Usmaniyah.

Pada tahun 1317, Osman atau Usman (anak menurut Ertugrul Gazi) mengepung Bursa sampai jatuh ke dalam kekuasaannya dalam tahun 1326 dan berakibat kota ini sebagai bunda kota. Osman inilah yg selanjutnya mendirikan Emperium Usmaniyah yang sang orang Eropa disebut menggunakan Kekaisaran Otoman lantaran ketidakmampuan menjelaskan menggunakan baik Nama Osman atau Usman. Selama 39 tahun Bursa menjadi Ibukota Usmaniyah sampai tahun 1365.

Ibukota Emperium Usmaniyah kemudian dipindahkan ke kota Edirne dan bertahan hingga 90 tahun, namun ahirnya dipindahkan lagi ke Istanbul setelah Sultan Mehmet II atau Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Byzantium di Konstantinopel tahun 1453.  Istanbul menjadi ibukota terahir Emperium Islam Usmaniyah selama 469 tahun hingga dibubarkannya Emperium tersebut di tahun 1922 oleh Kemal Attaturk lalu mendirikan Republik Turki yang kini kita kenal sekaligus memindahkan lagi Ibukota negara ke Ankara hingga hari ini.

Grand Mosque of Bursa

Murat Aklar Nalbanto?Lu Mahallesi

Ulucami Caddesi No:dua, 16010 Osmangazi

Bursa, Turki

Telepon: 90 224 220 21 66

Geographic coordinates: 40.183841?N 29.061960?E

Bursa terletak di Turki bagian barat, ditepian bahari Marmara yg memisahkannya menggunakan Istanbul. Bursa jua merupakan wilayah Turki yg berada di tanah Benua Asia. Selain dikenal menjadi kota bersejarah, Bursa jua adalah kota industry & sudah sebagai semacam sentranya industry otomotif bagi aneka macam merek kendaraan beroda empat Eropa. Dari Istanbul yg dikenal luas menjadi ?Ibukotanya Turki? Di Eropa, Bursa bisa dicapai melalui bepergian darat & ferry penyeberangan lebih kurang 4 jam perjalanan.

Bursa jua sebagai destinasi favorit turis karena menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam. Kota Bursa, Banyak loka-loka bersejarah yang sanggup dikunjungi disana. Seperti mesjid-mesjid yg sebagai tujuan wisata, misalnya Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) yang merupakan mesjid terbesar pada Turki, Green Mosque, Emir Sultan Ildirim Bayezit Cami, & Orhan Cami. Selain dari itu, kota Bursa syahdan jua adalah berasal muasal berdasarkan Kebab Turki yang terkenal itu. Dan di Kota Bursa ini juga, sebagai loka peristirahatan terahir pendiri Emperium Usmaniyah, Osman dan putranya Orhan Gazi.

Masjid Agung Bursa (Ulu Camii)

Masjid Agung Bursa atau Bursa Grand Mosque atau Bursa Ulu Cami adalah masjid tua yg berada di kota Bursa. Lokasi masjid ini berada di Atat?Rk Boulevard pada tempat kota tua Bursa. Dibangun menggunakan deretan gaya Seljuk - Usmaniyah, pada tahun 1396 hingga tahun 1399, atas perintah berdasarkan Sultan Y?Ld?R?M Bayezid I. Rancangan & pembangunan masjid ini dilaksanakan sang Arsitek Ali Neccar pada tahun 1396?1399. Pembangunan masjid ini adalah janji berdasarkan Y?Ld?R?M Bayezid I pada waktu memenangkan perang Battle of Nicopolis in 1396.

SISI UTARA. Kiblat atau arah sholat di Turki kira kira menunjuk ke selatan lantaran letak Ka'bah pada kota Mekah berada pada selatan daerah Turki, sebagai akibatnya pintu masuk primer Masjid Agung (Ulu Cami) Bursa berada di sisi utara, Mimbar dan Mihrabnya di sisi selatan. Sisi utara Masjid Agung Bursa ini ditandai dengan dua menaranya yang mengapit pintu primer.

Cerita yang beredar disana menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa atau Ulu Cami ini dibangun dengan dua puluh kubah berhubungan dengan Janji dari Yıldırım Bayezid I yang akan membangun 20 masjid apabila berhasil memenangkan perang melawan Pasukan Salib di  Perang Nicopolis. Namun rencana ini akhirnya diubah menjadi membangun masjid dengan 20 kubah. Para pengamat seni bina arsitektur masjid menyebutkan bahwa masjid Agung Bursa ini sebagai masjid dengan gaya  arsitektur murni Bangsa Seljuk.

Masjid Agung Bursa merupakan masjid terbesar di Bursa sekaligus merupakan landmark arsitektur Seljuk lantaran memang menggunakan begitu banyak elemen berdasarkan arsitektur dinasti Seljuk yg sangat kental, & pembangunannya dalam Era awal emperium Usmaniyah. Badan global UNESCO telah memasukkan Masjid Agung Bursa (Ulu Cami) ke dalam daftar warisan budaya dunia di tahun 2014 dengan menyebut Masjid Agung Bursa menjadi galat satu masjid terpenting pada sejarah Islam.

Bangunanya berdenah persegi panjang dengan luas mencapai 2200 m2. Ada dua puluh kubah dibagian atapnya yang menjadi ciri khas masjid ini. kubah kubah tersedbut terdiri dari empat baris, masing masing baris terdiri dari lima kubah, ditopang oleh 12 tiang persegi empat yang juga berukuran sangat besar. Jejeran tiang tiang besar tersebut menghasilkan lorong lorong dan ruang yang tercipta diantara jejerannya, dibawah masing masing kubah. Hal ini menciptakan privasi tersendiri bagi Jemaah. Selain dua puluh kubah besar, masjid ini juga dilengkapi dengan dua Menara.

KOLEKSI KALIGRAFI. Masjid Agung Bursa memiliki begitu poly karya kaligrafi dari 41 Kaligrafer ternama pada masa-nya. Kaligrafi kaligrafi tadi di lukis pada dinding, tiang sampai pada lempengan panel berukuran akbar & kecil.

Bagian yang cukup unik dari masjid Agung Bursa ini merupakan, adanya loka wudhu pada dalam masjid, yg pada Bahasa setempat diklaim ?Ad?Rvan. Letaknya sesudah melewati pintu primer dibawah kubah kaca yang juga menjadi asal cahaya mentari yang lembut ke pada ruangan masjid. Interiornya yang serba horizontal & pencahayaan yang nir terlalu terang benderang memang sengaja dibuat demikian untuk menghadirkan suasana damai dan hening serta kontemplatif.

Kaligrafi

Di pada masjid ini terdapat 192 inskipsi yang ditulis tangan oleh 41 ahli penulis kaligrafi ternama di masa itu. Dengan koleksi kaligrafi-nya Masjid Agung Bursa adalah contoh terbesar kaligrafi di dunia. Kaligrafi kaligrafi tadi ditulis baik di bagian dinding masjid, tiang tiang besarnya serta lempengan lempengan besar & kecil. Daun pintu dan Mimbar dibuat menggunakan apik oleh para pemahat yg memang pakar dibidangnya dari jenis kayu terpilih dan bermutu. Ukiran dalam mimbar masjid ini mengambil tabrakan dengan contoh rapikan surya. Sebuah pintu berumur ratusan tahun yang merupakan pintu Ka?Bah pada Mekah ditampilkan pada masjid ini dalam sebuah kotak kaca.

Pintu Ka?Bah dan Legenda Masjid Agung Bursa

Ekterior Masjid Agung Bursa seluruhnya terbuah dari bahan batu. Satu unit pancuran air penuh ornamen ditempatkan di pelataran masjid di depan menara masjid. Menara kembar yang tampak identik satu dengan lain yang mengapit masjid ini sebenarnya dibangun pada waktu yg tidak selaras. Satu menara pada sisi barat adalah bangunan menara yang dibangun bersamaan menggunakan pembangunan masjid pada saat awal, sedangkan menara yg berada disebelah timur dibangun lalu sang Sultan Mehmet I dalam abad ke 15.

FITUR INTERIOR MASJID AGUNG BURSA. Kiri atas : Pancuran tempat berwudhu di dalam Masjid Agung Bursa, Kanan Atas : Mihrab Masjid Agung Bursa, bergaya Seljuk. Kanan bawah : Sisi kiblat Masjid Agung Bursa. Kiri Bawah : Kubah transparan Masjid Agung Bursa.

Sebagaimana bangunan masjid tua yg pekat menggunakan sejarah, terdapat sebuah legenda yang tersebar sejak ber-abad lalu. Konon kata legenda yg berkembang disekitar Karag?Z dan Hacivat, syahdan disebutkan bahwa seni pertunjukan bayangan boneka (misalnya pertunjukan wayang kulit pada Jawa) yang berkembang pada kota Bursa para tokohnya itu diambil dari cerita para para pekerja bangunan Masjid Agung Bursa ini.

Diceritakan bahwa 2 pekerja bernama Karag?Z & Hacivat mempunyai watak tidak baik senang mengganggu para pekerja lainnya dengan gurauan dan lelucon yang membuahkan kepada terlambatnya pekerjaan mereka membentuk masjid ini dan mengungang kemarahan berdasarkan Sultan dan berbuntut kepada hadiah sanksi pada mereka.

Legenda lainnya terkait dengan pancuran loka wudhu yg terdapat pada dalam ruangan masjid. Konon disebutkan bahwa pada saat akan dibangun masjid ditempat tadi sempat terhambat dalam saat proses pembebasan lahan lantaran ada seseorang wanita tua yang nir mau melepaskan lahan dan rumahnya untuk dibebaskan sebagai huma pembangunan masjid tadi.

Tetapi dalam ahirnya belau justru dengan sukarela melepaskan rumah dan lahannya buat dibeli sang Sultan bagi keperluan pembangunan masjid tadi sesudah terus terusan bermimpi hal yg sama, nah sebagai bentuk penghormatan pada perempuan tadi, arsitek masjid ini dengan sengaja membangun sebuah pancuran tempat wudhu pada pada masjid ini pada lokasi persis bekas tempat tinggal perempuan tua tadi.

Masjid Agung Bursa pada malam hari, dengan kemilai cahaya lampu termasuk jua cahaya berdasarkan kendaran yang kemudian lalang pada ruas jalan Attaturk pada sebelah selatan masjid ini.

Objek Wisata

Saat ini Masjid Agung Bursa (ulu cami) telah menjadi keliru satu objek wisata yg menarik perahtian wisatawan berdasarkan mancanegara. Masjid terbuka setiap hari buat kunjungan wiisatawan di luar saat sholat, dan para pengunjung diharuskan buat berpakaian sopan dan sederet anggaran lainnya sebagaimana layaknya masuk ke dalam masjid.

Paralelisasi Sejarah Turki Vs Sejarah Indonesia

Pada saat Masjid Agung Bursa dibangun di Turki tahun 1396, di Nusantara sedang berkuasa Kerajaan Majapahit sedangkan pada sisi barat pulau Jawa berada dibawah kendali Kerajaan Sunda. Masjid Agung Bursa ini dibangun 13 tahun setelah Deklarasi pendirian Kerajaan Gelgel pada Bali (1383), Dalem Ktut Ngelesir didampingi sang Patih Agung Arya Patandakan & Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh) menghadap Prabu Hayam Wuruk ketika upacara Cradha & rapat tahunan negeri-negeri vasal imperium Majapahit.

Beliau (Raja Gelgel) balik ke Bali dikawal oleh pasukan spesifik majapahit yang semuanya beragama islam, menjadi awal masuk-nya Islam ke Pulau Bali. Masjid Agung Bursa di Turki Selesai dibangun tahun 1399, setahun sesudah itu, Tahun 1400, di Nusantara, Raja Gelgel pertama, Dalem Ketut Ngulesir wafat.***

Referensi

https://en.Wikipedia.Org/wiki/Grand_Mosque_of_Bursa

http://www.Thebestofbursa.Com/ulu-camii-bursa-grand-mosque/

Masjid Eyüp Sultan, Istanbul

Penghormatan untuk Sahabat Ayub Al-Anshari. Masjid dan Maosoleum Eyup dibangun oleh Muhammad Al-Fatih sebagai bentuk penghotmatan kepada sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari yang gugur dalam perang penaklukan Konstantinopel hampir delapan abad sebelum ahirnya Konstantinopel berhasil ditaklukkan oleh Muhammad Al-Fatih.

Masjid Eyüp atau Eyüp Sultan Cami merupakan salah satu masjid tertua di Republik Turki dan dalam sejarahnya merupakan masjid pertama yang dibangun setelah Emperium Usmaniyah menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 dan mengganti nama Konstantinopel menjadi Istanbul. Pembangunan-nya merupakan bentuk penghormatan kepada Sahabat Rosulullah, Ayub Al-Anshari r.a.

Masjid Eyüp pertama kali dibangun tahun 1458 oleh ‘Sang penakluk Konstantinopel”, Sultan Muhammad Al-Fatih atau Sultan Mehmet II. Bangunan tersebut sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan kemudian dibangun ulang oleh Sultan Selim III yang merupakan penguasa Usmaniyah ke 28 pada sekitar tahun 1800 dengan gaya Baroque.

Masjid Eyüp Sultan

Merkez Mh., Kalenderhane Cd. No:1, 34050 Eyüp/İstanbul, Turki

+90 212 417 70 40

Penghormatan Untuk Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Masjid Eyüp memiliki arti teramat penting bagi Muslim Turki, karena faktor sejarahnya yang mengulur jauh hingga ke masa Rosulullah S.A.W. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar, salah seorang sahabat Rosulullah S.A.W, beliau gugur dalam penyerbuan pertama ke ibukota Romawi Timur (Byzantium) di Konstantinopel tahun 668 dimasa dinasti Bani Umayyah. Lalu siapa sebenarnya Abu Ayub Al-Anshari r.a.?

Kisah bermula pada peristiwa Bai’at Aqobah kedua, pada saat itu utusan dari Madinah pergi ke Makkah untuk berbaiat. Ai Aqobah, Abu Ayub Al-Anshari termasuk di antara 70 orang Mukmin yang mengulurkan tangan kanan mereka ke tangan kanan Rasulullah serta menjabatnya dengan kuat, berjanji setia dan siap menjadi pembela.

Hari Jum'at 16 Rabiul Awal / 28 September 622 Nabi Muhammad S.A.W Hijrah dari Mekah ke Madinah. Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, Muslim Madinah berebutan menawarkan rumah mereka sebagai kediaman Rosulullah, namun sejarah menjelaskan kepada kita, saat itu Rosulullah menyatakan beliau akan tinggal di rumah, dimana untanya berhenti.

Dan Allah menentukan pada saat itu, unta baginda Rosulullah berhenti di depan rumah Bani Malik bin Najjar. Salah seorang Muslim tampil dengan wajah berseri-seri karena kegembiraan yang membuncah. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya, kemudian mempersilakan Rasulullah masuk ke dalam rumah. Nabi SAW pun mengikuti sang pemilik rumah. Siapakah orang beruntung yang dipilih sebagai tempat persinggahan Rasulullah dalam hijrahnya ke Madinah ini, Dialah Abu Ayub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.

Interior. Masjid Eyup dibangun begitu megah dengan sentuhan gaya Baroque setelah diperbaiki dan dibangun ulang pada masa pemerintahan Sultan Selim III. foto kanan bawah adalah makam Ayub Al-Anshari

Sejarah juga mencatat bahwa, bangunan pertama yang dibangun Rosulullah di Madinah adalah Masjid, dan selama proses pembangunan masjid dan sebuah bilik sebagai tempat kediaman Rosulullah disamping masjid berlangsung selama itu pula beliau tinggal di rumah keluarga Abu Ayub Al-Anshori r.a.

Sejak Kafir Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang Madinah, sejak itu pula Abu Ayub r.a. mengalihkan aktifitasnya dengan berjihad di jalan Allah bersama Rosullulah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud dan Khandaq. Di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan nyawa dan harta bendanya. Hampir dalam setiap pertempuaran beliau tampil sebagai pengusung panji panji Islam di garda terdepan.

Semboyan yang selalu diulang-ulangnya, baik malam ataupun siang, dengan suara keras atau perlahan adalah firman Allah SWT, "Berjuanglah kalian, baik di waktu lapang, maupun waktu sempit..." (QS At-Taubah: 41). Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali Bin Abu Thalib dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali Bin Abu Thalib tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah dari Bani Umayyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.

Ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, ia segera menunggang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan. Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika komandannya datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah panglima pasukan waktu itu, Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub?"

Maosoleum Ayub Al-Anshori di tahun 1855

Abu Ayub meminta kepada Yazid, bila ia telah meninggal agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak yang dapat ditempuh ke arah musuh, dan di sanalah ia akan dikebumikan. Kemudian hendaklah Yazid berangkat dengan balatentaranya sepanjang jalan itu, sehingga terdengar olehnya bunyi telapak kuda kaum Muslimin di atas kuburnya, dan diketahuinya bahwa mereka telah berhasil mencapai kemenangan.

Meskipun pasukan muslimin dari Bani Umayyah gagal menaklukkan Konstantinopel dalam perang tahun 668-669 tersebut, pengepungan terhadap konstantinopel tersebut berahir dengan perjanjian damai selama 40 tahun antara Byzantium dengan Bani Umayyah. Namun wasiat Abu Ayub berhasil ditunaikan, jazad beliau dimakamkan di samping tembok kota Konstantinopel, di Jantung pertahanan Romawi Timur (Byzantium). Dan kisah perang tersebut meleganda melewati zaman, tidak saja dikalangan kaum Muslimin namun juga dikalangan orang orang Romawi.

Jatuhnya Konstantinopel dan Pembangunan Masjid Eyup

Sekitar 784 tahun setelah gugurnya Abu Ayub dalam pengepungan Konstantinopel oleh Bani Umayyah,  di tahun 1453 Emperium Usmaniyah dibawah Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) berhasil menaklukkan Konstantinopel, mengganti nama kota itu menjadi Istanbul sekaligus menutup sejarah Byzantium. Paska penaklukan Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih menjadikan Istanbul sebagai ibukota baru bagi pemerintahan Emperium Usmaniyah, membangun kota tersebut menjadi pusat peradaban Islam dan dari sana pula wilayah Usmaniyah kemudian melebar hingga ke Azerbaijan di ujung timur dan Al-Jazair di ujung barat.

Di tahun 1485 atau sekitar 32 tahun setelah jatuhnya Konstantinopel Sultan Muhammad Al-Fatih (Sultan Mehmet II) membangun Maosoleum di atas kubur Ayub Al-Anshari sekaligus membangun Masjid Eyup Sultan di lokasi yang sama, sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Sahabat Rosulullah Ayub Al-Anshari r.a, pahlawan perang Islam dalam perang pengepungan Konstantinopel di masa dinasti Bani Umayyah.

Masjid masjid dari dinasti Usmani memang terkenal dengan kemegahan-nya, seperti Masjid Eyup Sultan ini yang kini menarik perhatian wisatawan dari dalam negeri Turki dan juga dari mancanegara.

Nilai penting masjid Eyup semakin meningkat sepanjang waktu. Disebutkan bahwa masjid ini menjadi tempat penobatan dan pengambilan sumpah para Sultan Emperium Usmaniyah, tidak hanya itu beberapa dari para penguasa Usmaniyah-pun meninggalkan wasiat untuk dimakamkan di komplek Masjid Eyup. Beberapa diantara mereka adalah Sokollu Mehmet Paşa, Ziya Osman Saba, dan Fevzi Çakmak, dengan demikian, Masjid Eyup ini kemungkinan juga merupakan satu satunya komplek masjid di Istanbul yang berhimpitan dengan Maosoleum dan Pemakaman yang membentang disekitarnya di tengah kota Istanbul.

Objek Wisata

Masjid Eyup Sultan kini menjadi salah satu objek wisata menarik di kota Istanbul, berbagai kalangan mengunjungi masjid dan mausoleum ini baik dari kalangan muslim maupun non muslim. Kunjungan untuk umum ke masjid terbuka setiap hari kecuali pada waktu waktu pelaksanaan sholat fardu. Kunjungan ke komplek ini gratis alias tidak ada biaya tiket masuk, namun donasi untuk measjid akan diterima dengan baik.

Salah satu fitur menarik di masjid ini yang menjadi paforit para pengunjung adalah cetakan telapak kaki Nabi Muhammad yang tercetak di batu marmer dilindungi dengan bingkat perak. Di komplek ini juga seperti masjid masjid tua bersejarah di Turki lainnya selalu diramaikan oleh aneka warna burung merpati yang berterbangan dengan bebas di seantero komplek ditambah dengan kawanan kucing kucing khas Turki turut meramaikan komplek masjid dan pamakaman ini.

Interior Masjid Eyup sangat elegan dengan dekorasi ke-emasan, lampu gantung elegan menjuntai dari kubah besarnya dan karpet oriental menghampar menutupi seluruh lantai ruangan. Dinding makamnya di hias dengan keramik hias dari beragam periode. Empat ratus keping keramik ini menjadi keindahan tersendiri. Sebuah teralis yang dipasang di depan kuburan Abu Ayub r.a. di dalam mausoleum terbuat dari perak murni merupakan pemberian dari Sultan Selim III.

Berlatar laut

Selain diabadikan sebagai nama masjid dan kompleknya, nama Abu Ayub r.a. juga di abadikan sebagai nama Distrik tempat masjid dan makam ini berada yang disebut distrik Eyup. Secara tradisi pada musim semi dan musim panas ada banyak anak anak berpakaian khusus sebelum mereka mengikuti prosesi di masjid ini dan pada hari Jum’at masjid ini dipadati oleh ribuah Jemaah sholat Jum’at.

Legenda Seputar Masjid dan Maosoleum Eyup Sultan

Kisah yang beredar menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Eyup dilakukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih atas nasihat gurunya Seyh ül-Islam Akshemsuddin, untuk menemukan makam sang pejuang. Setelah diketemukan, Al-Fatih kemudian mengurus makam tersebut, membangun Maosoleum diatasnya dan juga membangun masjid besar sebagai penghormatan kepada Abu Ayub Al-Anshari r.a.

Disebutkan bahwa Seyh ül-Islam, Akshemsuddin turut membantu pencarian makam tersebut, Setelah seminggu pencarian tak menemukan hasil, Akshemsuddin menggelar sajadahnya disekitar tembok Konstantinopel memohon petunjuk dari Allah S.w.t sampai tertidur disana. Saat beliau terbangun sontak berteriak bahwa makam Abu Ayub berada tak jauh dari tempatnya menggelar sajadah.

Ditemani tiga orang pendampingnya, Akshemsuddin melakukan penggalian ditempat tersebut dan menemukan sekeping batu bertulisan antik menggunakan aksara sufik “inilah makamnya Abu Ayub”. Legenda ini juga menyatakan bahwa Jenazah Abu Ayub r.a. ditemukan masih dalam keadaan utuh seperti baru saja dimakamkan, meski sudah dimakamkan disana hampir delapan abad lamanya.

Interior Masjid Eyup Sultan

Legenda lainnya  menyebutkan bahwa, sebelum penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih, bahkan orang orang Romawi dan penduduk Konstantinopel-pun memandang Abu Ayub di makamnya itu sebagai orang suci. Dan yang mencengangkan, para ahli sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa itu berkata, "Orang-orang Romawi sering berkunjung dan berziarah ke kuburnya dan meminta hujan dengan perantaraannya, bila mereka mengalami kekeringan.

Seiring perjalanan sejarah selama berabad abad, Istanbul tidak saja menjadi sebuah kota Metropolitan tapi juga menjadi pusat komplek pemakaman tua. Kekuasaan Kristen di Konstantinopel meninggalkan pemakaman tua yang berada di sisi bukit di luar tembok kota, seiring dengan penguasaan muslim atas kota tersebut, pemakaman Muslim hadir bersebelahan dengan pemakaman Kristen, berdiri diam di salah satu sisi kota Istanbul menghadirkan suasana yang seakan akan menghentikan waktu.***

Referensi

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/05/30/lm02yb-kisah-sahabat-nabi-abu-ayub-alanshari-pahlawan-perang-konstantinopel

http://www.oskartours.com/eyup-mosque-istanbul/

http://www.weloveist.com/listing/eyup-sultan-mosque

Masjid Hijau (Yesil Cami) Bursa, Turki

Masjid Yesil atau Masjid Hijau di kota Bursa, Turki, adalah galat satu masjid tertua di Turki. Denah masjidnya tidak generik dipakai dengan denah misalnya hurup T terbalik. Ekteriornya menggunakan batu marmer sedangkan interiornya dipenuhi dengan keramik hias buatan tangan.

Tentang kota Bursa tempat masjid ini berdiri sudah di ulas pada posting terdahulu berjudul ?Masjid Agung Bursa?. Di bekas ibukota Negara Emperium Usmaniyah ini jua terdapat sebuah masjid tua bersejarah bernama Yesil Cami, atau dalam Bahasa Indonesianya ?Yesil? Berarti ?Hijau?, sedangkan ?Cami? (dibaca Jami?) secara harfiah bermakna ?Masjid Jami?? Lantaran buat bangunan mushola atau masjid kecil biasa disebut menggunakan ?Mescid?. Sehingga Yesil Cami secara harfiah dalam Bahasa Indonesia bermakna ?Masjid HIjau? Atau dalam Bahasa Inggris dianggap ?Green Mosque?.

Penyebutan Yesil Cami atau Masjid Hijau atau Green Mosque ini berkaitan menggunakan warna interior masjid ini yg di dominasi warna hijau dan toska. Sama halnya dengan Masjid Sultan Ahmad pada Istanbul yang lebih kenal menggunakan sebutan sebagai Blue Mosque karena langit langit interiornya yang di penguasaan rona biru. Yesil Cami atau Green Mosque berdiri di atas sebuah bukit pada kota Bursa, di loka yg kini juga dikenal menggunakan tempat Yesil atau daerah Hijau. Meski demikian, masjid ini jua kerap kali dianggap menjadi Masjid Mehmet I merujuk kepada nama pembangunnya.

Meski ukurannya tak sebanyak Masjid Agung Bursa (Uu Cami), Green Mosque menghadirkan estetika tersendiri, masjid ini menampilakn peralihan seni bina bangunan dari era Seljuk Turki ke Era Usmaniyah-Turki dengan kubah akbar dan menara tinggi yg dikemudian hari menjadi ciri spesial bangunan masjid Emperium Usmaniyah. Green Mosque mulai dibangun tahun 1419 & terselesaikan tahun 1421 dimasa pemerintahan Sultan Celebi Mehmet.

Green Mosque (Yesil Cami)

Ye?Il 16360 Y?Ld?R?M/Bursa, Turki

Pembangunan Masjid Yesil (Green Mosque) Bursa

Yesil Cami dibangun oleh arsitek Hac? Ivaz Pasha atas perintah dari Sultan Celebi Mehmet antara tahun 1419 hingga tahun 1421. Bangunan masjid Yesil dihias menggunakan beraneka ragam ornament yg dibentuk secara hand made oleh para pelukis ternama dimasanya termasuk pelukis Haci Ali, Ilyas Ali. Serta seorang artis ternama bernama Mehmet Mecnun yg melengkapi keindahan masjid ini menggunakan kemegahan karya keramik lukisnya yg dibuat spesifik buat masjid ini. Selain masjid dikomplek masjid Yesil pula masih ada Maosoleum (bangunan makam) yang berada diseberang jalan dari masjid, kemudian juga ada Bangunan Madrasah dan Hamam (pemandian spesial Turki)

Keramik Hias Buatan Tangan

Seperti disebutkan di awal tadi bahwa penamaan masjid ini terkait menggunakan ornamen interior nya yang didominasi rona hijau berdasarkan ribuan keeping keramik protesis tangan berdasarkan para seniman ternama pada masa itu. Mihrab Masjid Yesil cukup tinggi sampai mencapai 10 meter, rancangan nya telah memakai bentuk cerukan ke pada tembok dengan ornamen Muqornas (sarang lebah menggantung misalnya staklaktit) di sisi atasnya, namun tanpa dilengkapi menggunakan dua pilar akbar di sisi kiri dan kanannya seperti pada masjid masjid Usmaniyah yg dibangun kemudian.

Interior serba hijau pada masjid ini yang lalu menjadi namanya. Ada seperangkat pancuran berdasarkan terbuat berdasarkan batu granit ditengah ruangan masjid ini.

Mihrab Masjid Yesil menampilkan galat satu model terbaik menurut estetika keramik hias buatan tangan, sama halnya menggunakan sebagian besar menurut masjid ini pula dihias menggunakan keramik sejenis sebagai akibatnya keramik keramik ini menjadi sesuatu yg istimewa & pembeda masjid ini dengan masjid masjid tua era Usmaniyah lainnya. Area spesifik buat Muazin (Mehfil) termasuk jua area khusus buat Sultan pula dihias menggunakan keramik buatan tangan. Dalam area khusus buat Sultan keramik yang digunakan bermotif bunga. Dengan begitu banyaknya keramik protesis tangan dimasjid ini menjadikannya sebuah mahakarya menurut para seniman keramik pada masa itu.

Berdenah Hurup ?T? Terbalik

Keunikan lainnya menurut Masjid Yesil di Bursa ini merupakan denah bangunannya yang tidak biasa. Denah bangunan masjid Yesil berbentuk hurup ?T ? Terbalik, sebagai akibatnya secara artifisial membagi ruang sholat di dalam masjid ini menjadi tiga bagian, yakni ruang primer disekitar mihrab dan mimbar lalu ruangan di sayap kiri dan ruangan di sayap kanan. Sedangkan di bagian tengahnya ditempatkan satu pancuran yg berfungsi menjadi tempat berwudhu berdasarkan bahan baru pualam.

Mihrab & mimbar Masjid Yesil Cami Bursa

Untuk penjelasan ruangan masjid di sisi mihrab dilengkapi dengan empat pintu yang dibentuk menjorok jauh ke dalam tembok dan dilengkapi menggunakan teralis. Dua ventilasi disisi kiri dan kanan mihrab sedangkan 2 ventilasi lainnya diletakkan pada sisi kiri dan kanan ruangan. Jendela jendela ini dihias menggunakan goresan batu marmer yg menyajikan tabrakan misalnya tulisan tulisan tangan yg belum selesai.

Perlu pada ingat bahwa arah kiblat sholat dinegara negara Eropa termasuk Turki, arah kiblat sholatnya tidak menunjuk ke barat misalnya kita pada Indonseia tapi mengarah ke selatan, karena wilayah Turki berada di sebelah utara Ka?Bah. Dengan demikian fasad atau sisi depan masjid ini berada pada sebelah utara bangunan sedangkan sisi mihrabnya berada di sisi selatan. Fasad Masjid Yesil dibentuk dari batu batu pualam.

Khusus buat pintu masuk utamanya dibangunsebagai sebuah gapura besar berbentuk cerukan ke pada dari bahan marmer menggunakan ukiran Muqornas pada sisi atasnya. Butuh ketika hingga tiga tahun buat menyelesaikan seluruh gesekan muqornas yg begitu rumit dan ornament lainnya dalam gapura di pintu masuk utama Masjid Yesil ini.

Ukiran dan muqornas pada gapura pintu masuk masjid Yesil Cami Bursa.

Tidak ada komunitas rakyat ataupun perkantoran pemerintahan menurut era Usmaniyah ditempat masjid ini berdiri, konon hal tersebut terjadi karena masjid ini sendiri sempat terbengkalai pembangunannya lantaran wafatnya Sultan Celebi Mehmet dalam ketika pembangunan masjid sedang berjalan & belum terselesaikan. Menaranya sendiri baru dibangun dalam abad ke 19. Ada juga yg menyatakan bahwa Masjid ini lalu dijadikan semacam Masjidl Konsul Negara Usmaniyah pada masa itu.

Masjid Yesil sempat mengalami kerusakan akibat gempa bumi di tahun 1855 namun sudah diperbaiki dimasa Gubernur Bursa dijabat oleh Ahmet Vefik Pasha, beliau menunjuk seniman Prancis Léon Parvillée, untuk memulihkan masjid tersebut sesuai aslinya meskipun tidak seratus persen dari bangunan awal, namun Léon Parvillée yang memang terkenal sangat memahami arsitektur Usmani berhasil memulihkan sebagian besar bangunan masjid Yesil ke kondisi aslinya sebelum terjadi kerusakan.

Maosoleum, Madrasah dan Hamam

Di komplek Masjid Yesil ini selain masjid juga masih ada komplek Makam Sultan Sultan ?Elebi Mehmet dan keluarganya di pada sebuah Maosoleum lokasi berada pada seberang jalan menurut Masjid Yesil. Seperti masjidnya, mausoleum ini pun di penguasaan warna hijau sebagai akibatnya disebut sebagai Green mausoleum dan sama sama dirancang oleh arsitek is skilful artist Haci Ivaz Pasha. Bangunannya berdenah octagonal di bagian dalamnya pula dihias dengan satu mihrab ukuran mini , mungkin sekedar penunjuk arah kiblat dan penghias ruangan, lantaran toh mausoleum bukanlah loka sholat.

Pintu masuk utama masjid Yesil Cami. Butuh ketika tiga tahun buat menyelesaikan goresan rumit dalam gerbang pintu masuk ini.

Maosoleum ini memang dibangun buat Sultan & keluarganya sebagai akibatnya proses pembangunannya sangat dtk dan apik termasuk semua fitur seni nya memiliki keindahan yang menawan. Di dalam area utama Maosoleum ini terdapat makam berdasarkan Sultan ?Elebi Mehmet, kemudian makam putranya Mustafa, Mahmud & Yusuf serta makam putrinya yg bernama Sel?Uk Hatun, Sitti Hatun & Ayse Hatun dan makam pengasuh Sultan ?Elebi Mehmet yg bernama Daya Hatun.

Masjid Yesil pula dilengkapi dengan Madrasah yg letaknya kurang lebih 100 meter menurut masjid, Madrasah Sultaniye begitu namanya. Bangunan madrasahnya dikelilingi menggunakan pelataran dan gazebo berkubah. Madrasah ini dilengkapi menggunakan pusat pembelajaran & ruangan buat para siswa. Pada tengah tengah laman-nya terdapat sebuah kolam dengan pancuran yang dibentuk berdasarkan batu marmer. Dulunya disekitar masjid Yesil juga masih ada pemandian generik spesial Turki (Hamam) namun sekarang sudah nir terdapat lagi berganti menjadi pusat perdagangan. Seperti halnya masjid Agung Bursa, Masjid Yesil Cami atau Green Mosque ini juga menjadi salah satu destinasi wisata pavorit pada Bursa.

Paralelisasi Sejarah

Tahun 1419, Jika sejajarkan dengan sejarah Indonesia, Usia Masjid Yesil (Blue Mosque) di kota Bursa ini lebih belia 5 tahun dibandingkan menggunakan Masjid Tua Wapauwe yang telah lebih dulu dibangun tahun 1414 di Maluku. Pada waktu pembangunan masjid Yesil ini dimulai tahun 1419, bersamaan menggunakan tahun wafatnya Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur. Sementara di wilayah barat pulau Jawa sedang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dengan Prabu Siliwangi sebagai Maharajanya.

Ruangan pada Masjid Yesil Cami ke arah pintu masuk primer.

Di tahun 1420 pada waktu masjid Yesil pada Bursa menjelang penyelesaian ahir, di pelabuhan Muara Jati (sekarang Cirebon) datanglah serombongan pedagang Islam dari Baghdad yang dipimpin Syekh Idlofi Mahdi. Oleh Ki Surawijaya penguasa disana kala itu, Syekh Idlofi diijinkan menetap dan tinggal di kampung Pasambangan yg terletak di Gunung Jati. Disana dia mulai berdakwah, & ajaran Islam berkembang begitu cepat.

Itulah awal mula Gunung Jati menjadi Pangguron Islam. Muridnya antara lain adalah Raden Walangsungsang dan adiknya, Ratu Rarasantang, serta istrinya Nyi Endang Geulis. Raden Walangsungsang dan Ratu Rara Santang merupakan anak berdasarkan Prabu Siliwangi menurut Istrinya yg bernama Subang Larang.***

Referensi

http://www.Turkeytravelplanner.Com/go/ThraceMarmara/bursa/sights/yesilcami.Htm

https://en.Wikipedia.Org/wiki/Green_Mosque_(Bursa)

http://www.Tourmakerturkey.Com/green-mosque-and-tomb.Html

http://www.Cheria-travel.Com/2015/09/paket-umroh-plus-turki-2015-perbedaan makna.Html

Hasan Basari, Sekitar Komplek Makam Sunan Gunung Jati & Sekilas Riwayatnya

Friday, August 7, 2020

Masjid Zagan Pasha Balikesir, Turki

Batu alam kotak kotak menjadi material utama pembangunan gedung masjid Zagan Pasha, menaruh estetika alami tersendiri dalam keliru satu masjid tua pada Republik Turki ini..

Masjid Zagan Pasha  atau dalam Bahasa Turki disebut sebagai ZaÄŸnospaÅŸa Camii, adalah masjid bersejarah dan terbesar di Balıkesir, yang berada di bagian Barat Laut Turki. Diberi nama sebagai Masjid Zagan Pasha karena memang pertama kali dibangun tahun 1461 oleh Zagan Pasha (1446–1462/1469). Beliau merupakan tokoh penting di masa pemerintahan Muhammad Al-Fatih / Sultan Mehmed II / Mehmed The Conqueror / Sang penakluk Konstantinopel.

Zagan Pasha pernah menjabat sebagai Panglima tertinggi tentara sekaligus sebagai pejabat tinggi setingkat perdana menteri yang pada masa itu disebut dengan Grand Vizer pada tahun 1453 – 1456 dan kemudian menjabat sebagai Kapudan Pasha pada periode 1463–1466 sebuah jabatan tertinggi di angkatan laut dinasti Usmaniyah.Beliau juga pernah menjabat sebagai Gubernur di Thessaly dan Macedonia. Masjid ini dikenal luas sebagai masjid tempat Mustafa Kemal Atatürk menyampaikan khutbah-nya yang terkenal dengan "Balıkesir Khutbah" di tahun 1923.

Zagan Pasha Mosque

Karesi, 10100 Bal?Kesir Merkez/Provinsi Bal?Kesir, Turki

Telepon: 90 266 239 40 44

Koordinat : 39.6486?N 27.8797?E

Siapakah Zagan Pasha ?

Zagan Pasha yg namanya diabadikan menjadi nama masjid ini merupakan tokoh sentral dalam keberhasilah Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453. Dia merupakan seorang perwira militer yg begitu ambisius buat manklukkan pusat pemerintahan Romawi Timur tadi.

Dia memiliki loyalitas tinggi kepada Al-Fatih semenjak Al-Fatih masih berstatus sebagai pangeran. Bahkan saat Al-Fatih diasingkan tahun 1446, Zagan turut menyertainya. Sekembalinya Al-Fatih menurut pengasingan & kembali ke tampuk pimpinan Negara, Zagan Pasha bisa menunjukkan ketangguhan & prestasinya nya sebagai perwira tinggi.

Dalam penaklukkan Konstantinopel pasukan Zagan Pasha yg pertama kali menerobos tembok benteng Konstantinopel. Anggota pasukan Zagan yg bernama Ulubatl? Hasan menjadi pasukan Usmaniyah pertama yang berhasil mencapai menara pengawas di benteng kota Konstantinopel. Selama pengepungan begitu banyak tugas zeni tempur & penyapu ranjau yang dibebankan di bawah tanggung jawab Zagan Pasha. Dan memang Al-Fatih memposisikan saran dari Zagan Pasha secara ekslusif.

Kokoh dan masih terawat baik hingga sekarang.

Zagan Pasha lalu nir saja menjadi Panglima tertinggi Angkatan laut tetapi juga sekaligus menjadi Penasihat, Mentor, tutor, konselor dan pelindung Sultan. Beliau kemudian menjabat sebagai Gubernur Thessaly & Macedonia. Al-Fatih sendiri menaruh penghargaan kepada Zagan Pasha menggunakan mengabadikan nama Zagan Pasha sebagai nama galat satu dari 3 menara Rumeli Hisari bersama dengan Vizer yang lain yakni Halil Pasha & Sarica Pasha.

Tentang jatidiri Zagan Pasha termasuk daerah asalnya, hingga sekarang para sejarawan belum setuju mengenai dari mana beliau berasal, tetapi bila menjejak bepergian karir militernya sejak beliau mengikuti acara training termin dini, besar kemungkinan dia berasal berdasarkan wilayah semenanjung Balkan ataupun menurut Anatolia, meskipun cakupan dua daerah tersebut terlalu luas buat bisa menelusur wilayah berasal beliau karena memang tak pernah timbul pada catatan sejarah.

Di Balikesir, Zagan Pasha menikmati hari tuanya beserta famili, membangun Masjid disana dan setelah wafat pun dia di makamkan pada pekarangan masjid ini, begitupun anggota keluarganya. Di tahun 1897 masjid beserta bangunan makamnya sempat mengalami kerusakan parah & kemudian dilakukan pemugaran dalam tahun 1908 sang Mutasarr?F (Gobernur) ?Mer Ali Bey. Di komplek Masjid ini, selain terdapat kompek pemakaman, mausoleum Zagan Pasha dan hammam (pemandian generik khas Turki).

Beberapa fitur masjid Zagan Pasha. Kanan atas : serambi masjid, kanan bawah : galat satu loka wudhu masjid Zagan Pasha, kiri bawah : Makam Zagan Pasha.

Arsitekrural Masjid Zagan Pasha

Bangunan Masjid Zagan Pasha dibangun dalam arsitektur masjid masjid Usmaniyah. Masjidnya berdenah segi empat dibangun dengan seni pertukangan batu Ashlar yakni seni pengolahan batu alam yang secara umum dibentuk kota kotak sangat presisi.

Bangunan masjid dilengkapi menggunakan satu kubah utama dikelilingi empat kubah samping. Akses ke masjid ini melalui pintu dengan masing masing dua daun pintu di sisi utara, timur dan barat. Sisi selatan masjid merupakan sisi kiblat tempat mihrab dan mimbar masjid.

Pada tiga sisi masjid di depan pintu, dilengkapi menggunakan tiga beranda tertutup menggunakan ventilasi ventilasi dan pintu kaca beratap joglo yang adalah atap kayu pada tutup menggunakan lapisan tembaga di topang menggunakan 2 tiang batu pualam segi empat.

Interior Masjid Zagan Pasha

Bangunan masjid Zagan Pasha dilengkapi dengan satu menara tinggi dan lancip yg diletakkan di sudut barat laut masjid, menara ini adalah sumbangan Hac? Haf?Z Efendi menurut Arabac?O?Ullar?, seorang anggota keluarga terhormat pada kota Bal?Kesir.

Di pelataran masjid terdapat dua bangunan loka wudhu berupa gazebo beratap kubah yang diklaim shardivans dan makam. Diluar pelataran masjid di sudut barat laut, masih ada shadirvan ketiga berdenah pentagonal yang adalah bangunan makam Zagan Pasha. Disekitarnya pula masih ada makam anggota famili beliau yg terawatt menggunakan baik hingga kini , pada tengah kota Balikesir yg sudah bertransformasi menjadi sebuah kota yang maju dan terkini.

Satu hal yang unik di masjid ini adalah adanya jama surya, berupa sebuah meja yang diletakkan sebuah kolom berukuran pendek berada d sudut selatan pelataran masjid, jarum perunjuknya di lindungi menggunakan kotak kaca. Pada masa kini jam tersebut tentu saja telah tidak difungsikan lagi, namuntetap dirawat menggunakan baik menjadi perlindungan warisan sejarah.

Balkesir Khutbah

Dalam sejarah Turki menjadi sebuah Republik, Masjid ini lebih dikenal pada kaitannya menggunakan Mustafa Kemal Atat?Rk tokoh pembaharuan Turki. Dalam sebuah kunjungan singkat-nya ke Balikesir dalam tanggal 7 Februari 1923 tidak lama setelah berahirnya perang kemerdekaan Turki (9 Mei 1919 hingga 7 Februari 1923), Mustafa Kemal Attaturk yang lalu dikenal menggunakan nama Gazi Mustafa Kemal Pasha, mengungkapkan khutbah yg kemudian dikenal sebagai "Bal?Kesir Khutbah".***

Referensi

https://en.Wikipedia.Org/wiki/Zagan_Pasha_Mosque

https://www.Revolvy.Com/main/index.Php?S=Zagan Pasha

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done