Islami Pedia: Masjid di Sumatera Utara
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Sumatera Utara. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sumatera Utara. Show all posts

Thursday, August 27, 2020

Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran

Megah, Masjid Agung H. AHmad Bakrie Kisaran dengan empat menara menjulang

Masjid Agung H. Ahmad Bakri adalah masjid agung kabupaten Asahan. Masjid ini berdiri di huma seluas empat hektar, bekas huma Hak Guna Usaha (HGU) PT. Bakri Sumatera Plantation (BSP) pada kota Kisaran. Adapun nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada mendiang H. Ahmad Bakri, ayahanda berdasarkan ARB. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana lebih kurang Rp. 68 Milyar pada danai dari APBD Asahan secara sedikit demi sedikit sejak tahun 2011 sampai tahun 2015.

Lokasi Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie

Jalan Lintas Sumatera, Desa Sidomukti

Kec. Kisaran Barat, Kabupaten Asahan

Provinsi Sumatera Utara ? Indonesia

Masjid Agung H. Ahmad Bakrie berada di ruas jalan lintas sumatera di desa Sidomukti, kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Lokasinya berseberangan dengan komplek kantor Bupati Kabupaten Asahan & bersebelahan menggunakan Alun Alun Kota Kisaran menggunakan bangunan pendoponya yg unik.

Pembangunan masjid ini bersamaan menggunakan pembangunan kawasan disekitarnya termasuk pembangunan taman kota & Alun Alun Kota Kisaran, nantinya di komplek masjid ini pula akan dilengkapi menggunakan Islamic Center, Perpustakaan serta loka persinggahan bagi para musafir. Pembangunan komplek ini sejaran menggunakan visi & misi Pemkab Asahan yakni ?Terwujudnya Asahan Yang Religius, Sehat, Cerdas dan Mandiri?.

Masih dari Jaya Prana, Masjid Agung Ahmad Bakrie yang jua memiliki Islamic Center pada kurun waktu 2017 direncanakan akan dibangun loka perpustakaan dan juga tempat persinggahan para musafir yang berdasarkan luar Asahan saat menunaikan salat 5 ketika dengan aneka macam loka pembangunan makanan dan minuman.

Pemkab Asahan sangat menyadari pembagunan rakyat seutuhnya harus dimulai dari masjid, masjid bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi jua sentra pengkajian dan aktivitas kepercayaan Islam, sentra pendidikan & sentra pelayanan kesehatan, pusat kegiatan sosial ekonomi dan jua bisa berfungsi menjadi tempat rekreasi.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Rencana pembangunan masjid Agung bagi kabupaten Asahan sudah digaungkan semenjak masa kepemimpinan mendiang Bupati Risuddin lebih kurang tahun 2006, tetapi ilham itu hampir tidak terlaksana lantaran membutuhkan dana yg begitu akbar dan beberapa dilema lainnya. Di masa kepemimpinan Bupati Drs H Taufan Gama Simatupang MAP, rencana pembangunan masjid Agung pulang digulirkan. Sebuah planning yang sempat menyebabkan pro & kontra.

Masjid dan Alun alun. di sebelah kiri foto adalah bangunan pendopo alun alun kisaran

Dalam sebuah kunjungannya ke Jakarta, Bupati yang akrab dipanggil Buya Taufan ini, menyempatkan diri bertemu menggunakan Ibu Roosniah Nasution, Ibunda berdasarkan tokoh nasional Ir. H. Aburizal Bakrie, yang pula pemilik gerombolan usaha Bakri. Dalam rendezvous tersebut dia (Buya Taufan) mengungkapkan niat untuk menciptakan Masjid Agung Bagi Kabupaten Asahan yang rencananya akan pada bangun di atas lahan bekas HGU PT. BSP. Dalam kesempatan tersebut Ibu Roosniah menyambut baik planning tadi dan menyatakan bahwa lahan untuk pembangunan yg dimaksud nir perlu dibayar.

Dengan demikian Pemkab Asahan tidak perlu lagi memikirkan dana buat pembelian lahan bagi pembangunan masjid yg akan dibangun. Proses pembangunan dimulai menggunakan Peletakan batu pertama yang dilaksanakan dalam hari Kamis 19 Mei 2011 oleh Ir. H. Abu Rizal Bakrie (ARB) selaku pemilik dan pimpinan berdasarkan Grup Bisnis Bakrie.

Upacara peletakan batu pertama tadi turut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Asahan, Drs H Taufan Gama Simatupang, para petinggi PT BSP, muspida Asahan serta para tokoh rakyat. Dalam kesempatan itu Bupati Asahan mengucapkan terima kasih Ir H Aburizal Bakrie atas bantuan yg diberikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan. Sebelumnya, Bupati Asahan jua menghadiri pelantikan DPD Golkar Kabupaten Asahan dan pelantikan gedung Golkar yg baru bersama Ketua Umum Partai Golkar, Ir H Aburizal Bakrie.

ARB. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran dilakukan oleh Ir. H. Aburizal Bakrie (ARB)

Sumber Dana

Biaya pembagunan masjid Agung & Islamic center kabupaten Asahan pada awalnya diperkirakan lebih kurang Rp 48 milyar yg bersumber berdasarkan dana APBD Asahan, dana sumbangan ummat & sumber dana lainya, sedangkan biaya buat pembagunan alun-alun dan hutan kota diperkirakan sekitar Rp 30 milyar yg direncanakan akan terselesaikan pada empat tahun,

Seiring pembangunan yg terus berjalan, terjadi fluktuasi harga terhadap bahan-bahan perlengkapan pembangunan Masjid Agung. Sehingga dana yg tadinya Rp45 miliar nir cukup. Kemudian diajukan pulang dana tambahan menjadi Rp68 miliar dan kebijakan itu mendapat persetujuan DPRD Asahan.

Peresmian Masjid Agung Kisaran & MTQ Sumut 2015

Masjid ini resmi dipakai menjadi tempat ibadah pertama kalinya pada hari Rabu 5 Agustus 2015, bertepatan dengan aplikasi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara ke 35. Acara pelantikan ditandai dengan salat zuhur berjamaah beserta Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP dan silaturahmi Pemkab Asahan beserta SKPD, FKUB, Forkopinda, Tokoh Masyarakat dan Agama, Camat, Lurah dan ketua desa bersama ratusan rakyat.

Interior Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Puncaknya saat Salat Idul Fitri 1437 Hijiriah dalam 6 Juli lalu, Masjid Agung Ahmad Bakrie disesaki masyarakat hampir lima ribuan jamaah. Ini sebagai bukti bahwa Masjid Agung ini merupakan galat satu Masjid yang mendapat tempat di hati warga & dipakai buat menyiarkan kepercayaan Islam pada Kabupaten Asahan. Saat ini, Masjid Agung Ahmad Bakrie diperlukan akan menjadi penyiaran umat Islam dimana setiap salat Jumat, ribuan umat Islam selalu mendatangi Masjid Agung buat melakukan salat, baik salat Jumat maupun salat lima waktu.

Arsitektur Masjid Agung Kisaran

Bangunan masjid Agung H. Ahmad Bakri Kisaran dibangun berdenah segi empat simetris. Bangun atapnya bertingkat 2, pada atap tingkat dua diletakkan satu kubah akbar dengan cincin bewarna strip kuning emas. Empat menara menjulang pada ke empat sudut masjid menggunakan warna kuning senada dengan rona kubah. Kubah ukuran lebih mini diletakkan diatas masing masing beranda masjid ini. Warna putih & kuning mendominasi bagian eksterior dengan aksen rona hijau lumut pada bagian kerawang yg menutup bukaan beranda.

Meski dibangun dengan mengadopsi gaya masjid masjid modern, bangunan masjid ini mempunyai aksen melayu yang sangat kental pada pernik ornamen nya dibagian atas dinding luar masjid dengan warna kuning, ditambah lagi menggunakan cincin penopang kubah primer dan cincin yang melingkar batangan menara juga dengan warna kuning. Sementara sisi kerawangnya lebih banyak didominasi menggunakan pola geometris menggunakan rona hijau lumut.

Sentuhan melayu sangat terasa pada bagian interior masjid ini

Melewati tangga masuk ke masjid ini langgam melayu semakin kental, tangga lebar yang cukup tinggi mengesankan tempat tinggal rumah panggung tradisional melayu, ditambah lagi menggunakan penggunaan jendela jendela berukuran besar dan lengkungan dan ornamen pada atas jendela yg jua menggunakan warna kuning menghadirkan nuansa melayu yg teramat kental.

Interior masjid dirancang lega dan minimalis tanpa banyak ornamen. Bagian yg sarat dengan ragam hiasan hanya dalam bagian bingkai mihrabnya, satu lampu gantung ukuran akbar menjuntai dibagian bawah kubah ke tengah tengah ruang masjid ini. Menggunakan dominasi warna putih ditambah menggunakan banyaknya bukaan menurut ventilasi jendela mini pada atap masjid dan ventilasi ventilasi lebar disekeliling masjid ini menghadirkan suasana terperinci benderang di pada masjid ini disiang hari. Atapnya yg tinggi menghadirkan suasana yang teduh.

Masjid Agung ini terdiri dari 3 Lantai. Lantai pertama merupakan tempat wudhu serta kantor  pengurus Masjid. Kamar mandi untuk wudhu juga begitu luas. Ruang sholatnya ditempatkan di lantai 2 dan 3. Untuk jemaah wanita ditempatkan di bagian shaf belakang dengan partisi dari kain bewarna hijau. Untuk kepengurusan masjid, Bertindak sebagai Ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM Syafii.***

Referensi

humas-asahan.blogspot.co.id  - Aburizal Bakrie Meletakan Batu Pertama Pembagunan Masjid Agung Kisaran

medanbisnisdaily.com - Bupati Asahan Kunjungi Masjid Agung Kisaran

medanwisata.com  - Kemegahan serta Keindahan Masjid Agung H.Ahmad Bakrie Kisaran

metroasahan.com  - Kisah Buya Taufan di Balik Perjuangan Membangun Masjid Agung Kisaran

asahankab.go.id  - masjid-agung-kisaran-resmi-digunakan

medanbisnisdaily.com -masjid-agung-kisaran-lokasi-utama-mtq-ke-35-sumut

Wednesday, August 26, 2020

Mesjid Raya Sultan Akhmadsyah Tanjung Balai, Warisan Kesultanan Asahan

Diantara Ruko dan sarang walet. Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dibangun tahun 1886, jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai. Kini bangunan tua bersejarah ini berhimpitan dengan jejeran pertokoan dan bangunan bangunan beton sarang walet yang menjulang menandingi tingginya menara masjid.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak di jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara. Masjid dibangun pada atas tanah wakaf Kesultanan Asahan menggunakan luas 10.000 meter persegi & luas bangunan 1000 meter persegi. Masjid Raya ini adalah bangunan masjid bersejarah yang telah berumur lebih berdasarkan satu abad, warisan dari kesultanan Asahan yg pernah berjaya di Sumatera Timur. Selesai dibangun tahun 1886 digagas oleh Sultan Akhmadsyah yg namanya pada-abadikan sebagai nama masjid raya ini. Beliau merupakan Sultan Asahan ke sembilan.

Alamat Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Jalan Mesjid, kelurahan Indra Sakti

Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjung Balai

Provinsi Sumatera Utara, indonesia

Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian pada Sumatera Timur 1946

Penampilan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah pada kota Tanjung Balai ini kentara menyiratkan sebuah perjalanan panjang berdasarkan sebuah bangunan masjid yang sebagai saksi bisu sebagian bepergian sejarah kesultanan Asahan & kota Tanjung Balai khususnya. Masjid ini jua menjadi saksi bisu kerusuhan sosial pada bulan Maret tahun 1946, yg meluluhlantakkan kesultanan kesultanan pada daerah Sumatera Timur termasuk Kesultanan Asahan. Di laman masjid ini terdapat satu makam yang merupakan pemakaman massal 73 korban meninggal pada kerusuhan sosial tadi.

Kuburan tadi ditandai dengan batu prasasti berpahatkan 73 nama nama korban penyerbuan & pembantaian yang terjadi di Asahan, bulan Maret 1946. Jasad-jasad yang terdapat di kuburan ini pada mulanya ditemukan pada bentuk tulang belulang yg terserak di Sungai Lendir tahun 2003, sebuah kampung di Asahan, yg buat mencapainya harus memakai perahu atau motor boat. Mereka merupakan para petinggi Kesultanan Melayu Asahan bersama cerdik pandai & warga umum, termasuk 2 orang orang Mandailing bermarga Siregar dan Nasution.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah menggunakan gerbangnya. Gerbang ini merupakan bangunan baru begitupun menggunakan satu bangunan menara nya yang lebih tinggi.

Selain Kuburan tadi, pada page masjid ini jua masih ada makam para Sultan Asahan & kerabatnya serta kuburan kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Kuburan kuburan tersebut rata homogen dilengkapi menggunakan batu nisan berdasarkan batu pualam yang kebanyakan didatangkan menurut Penang, Malaysia, berpahatkan nama nama para mendiang menggunakan hurup Arab Melayu (Arab Gundul) menggunakan khat yang relatif indah.

Salah satu sultan Asahan yang dimakamkan di halaman masjid ini merupakan Tengku Muhammad Husain Syah yg lahir tiga Dzulhijjah 1278 dan wafat 25 Sya'ban sanah 1333, beberapa nisan bahkan bertuliskan tahun yang lebih tua ratusan tahun dari itu. Saat ini pada pendopo masjid juga masih ada tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan. Sultan Asahan lainnya yang dimakamkan pada laman masjid ini adalah Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan terakhir Asahan yg wafat tahun 1980.

Kesultanan Asahan Selayang Pandang

Sejarah Kesultanan Asahan dimulai dengan penobatan Sultan Abdul Jalil sebagai Sultan pertama yang berlangsung meriah disekitar kampung Tanjung pada tanggal 27 Desember 1620. Kesultanan Asahan pernah diperintah oleh delapan orang Sutan yang sejak Sultan Abdul Jalil pada tahun 1620 sampai dengan Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah yang naik tahta sebagai sultan Asahan di tahun 1933. Kejayaan Kesultanan Asahan berahir kelam di bulan Maret tahun 1946. Tujuh bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta.

Mimbar dengan bendera hijau Kesultanan

Pada Bulan Maret tahun 1946 pecahlah apa yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur yang dimotori sang PKI pada sebuah aksi yg disebutnya perlawanan terhadap feodalisme. Kelompok masyarakat bersenjata membantai keluarga Kesultanan Melayu pada Asahan, Kualuh, Langkat, Bilah, dan Kotapinang. Pembantaian serupa juga terjadi di Karo dan Simalungun. Konon pada waktu itu berita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang baru berumur tujuh bulan, bahkan belum sampai ke daerah Sumatera Timur, termasuk wilayah Kesultanan Asahan.

Massa yang dimotori PKI melakukan penyerbuan terhadap pihak kesultanan yang berujung pada aksi penjarahan, penghancuran aset aset kesultanan, penculikan dan pembunuhan massal terhadap famili Kesultanan dan para tokoh tokoh nya. Meskipun selamat berdasarkan bencana tahun 1946 tadi, Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, simpel sudah kehilangan sebagian besar anggota keluarga dan para petinggi kesultanan yg sebagai korban genosida dan kehilangan aset kesultanan yg sebagai korban perampasan & penghancuran. Beliau wafat pada kota Medan dalam tanggal 17 April 1980 & dimakamkan di kompleks Mesjid Raya Tanjungbalai.

Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai mulai dibangun tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas pembangunannya adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888, Sultan Ahmadsyah naik tahta menggantikan ayahanda-nya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854). Dari tahun pembangunannya, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai.

Sentuhan Eropa di masjid ini ditandai dengan jejeran pilar pilar besar pada teras masjid.

Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya menjadi sebuah loka ibadah, namun juga merupakan loka strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai loka ritual, masjid juga sebagai sentra tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam. Di dalamnya dilakukan penyusunan taktik, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam pada tengah kehidupan warga . Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, pula mempunyai kepentingan politis buat melawan intervensi penjajah.

Arsitektur

Ciri utama dari masjid ini merupakan bangunan Melayu. Hal ini terlihat menurut bentuk bangunannya yg berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya pula masih ada ciri spesial bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung. Keunikan masjid ini merupakan nir terdapat pilar pada bagian pada masjid yg bermakna Allah tidak memerlukan penyangga buat berdiri. Padahal bangunan dasar berdasarkan masjid ini hampir nir memakai semen melainkan pasir dan tanah liat dan batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak pada tengah bangunan melainkan pada bagian depan masjid sehingga bila dicermati dari depan, masjid ini terkesan biasa tetapi menyembunyikan keunikannya.

Ruang sholat primer yang lega tanpa tiang tiang penopang pada tengah ruang sholat

Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. Panji hijau kembar terpancang kokoh di bagian belakang mimbar, seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya. Di bagian depan mimbar, terpahat kaligrafi dengan gaya khat tsuluts yang amat indah. Kaligrafi ini bertuliskan dua bait syair yang berisi ajaran tentang rukun khutbah Jum'at dalam mazhab imam Syafi'i. Dua bait syair itu kira-kira  bermakna:

Rukun khutbah Jum'at dari imam-imam kita

Seluruh terdapat lima, ketahulah wahai sidang Jumat yang mulia

Yaitu membacan pujian, kemudian sholawat & berwasiat takwa

Lalu membaca ayat, dan doa sebagai penutup khutbah kita

Selain itu jua ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yg terletak tepat pada belakang mimbar. Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya poly yang diganti maupun ditambah. Seperti loka wudhu? Yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti menggunakan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara.

Aktivitas Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah menjadi loka ibadah warga muslim Tanjung Balai. Selain itu, pada Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi menjadi loka latihan manasiq haji dan tempat sosial kemasyarakatan misalnya mutilasi fauna kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah.

Sejarah Singkat Kota Tanjung Balai

Sebelum kemerdekaan, Kota Tanjung Balai merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Asahan (1620 – 1946). Statusnya sebagai kotapraja di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia disyahkan melalui UU No. 1 Tahun 1957. Namun demikian peringatan hari jadi Kota Tanjung Balai diperingati setiap tanggal 27 Desember, didasarkan kepada sejarah penobatan Sultan Pertama Kesultanan Asahan pada tanggal 27 Desember 1620. Penetapan hari jadi tersebut disyahkan melalui keputusan DPRD Kota Tanjungbalai Nomor 4/DPRD/TB/1986 Tanggal 25 November 1986.

Kuburan masal korban Tragedi pada Bulan Maret 1946.

Di masa penjajahan Belanda, Kota Tanjungbalai berstatus sebagai Gementee berdasarkan Besluit G.G. tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl.1917 No. 284. Sebagai kota pelabuhan dan berstatus sebagai Gementee, Kota Tanjung Balai menjadi tempat kedudukan bagi Assisten Resident dan Ketua Dewan (Voorzitter van den Gemeen-teraad). Tanjung Balai juga menjadi tempat kedudukan Sultan Kerajaan Asahan. Kota ini menjadi kota bandar yang sangat penting bagi Belanda terlebih dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di derah Sumatera Timur termasuk daerah Asahan seperti H.A.P.M., SIPEF dan lain-lain, menjadikan Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan.

Dengan telah berfungsinya jembatan Kisaran dan dibangunnya jalan kereta api Medan – Tanjungbalai, maka hasil-hasil dari perkebunan dapat lebih lancar disalurkan atau diekspor melalui kota pelabuhan Tanjungbalai. Untuk memperlancar kegiatan perkebunan, maskapai-maskapai Belanda membuka kantor dagangnya di kota Tanjungbalai antara lain: kantor K.P.M., Borsumeij dan lain-lain, maka pada abad XX mulailah penduduk bangsa Eropa tinggal menetap di kotaTanjungbalai.

Setelah proklamasi kemerdekaan, berahir juga kekuasaan politik Asahan menjadi sebuah kesultanan ditambah lagi dengan kerusuhan sosial pada tahun 1946. Di tahun 1956 Pemerintah Republik Indonesia mengerluarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 lalu di-umumkan pada Lembaran Negara angka 60 tahun 1956 nama Hamintee Tanjungbalai diganti menjadi Kota Kecil Tanjungbalai. Kemudian jabatan Walikota Tanjung Balai dipisahkan dari Bupati Asahan menurut Surat Mentri Dalam Negeri No. UP 15/dua/tiga lepas 18 September 1956. Selanjutnya menggunakan UU No. 1 Tahun 1957 nama Kota Kecil Tanjungbalai diganti sebagai Kotapraja Tanjungbalai.

Walikota Termuda 2016

Walikota Tanjung Balai memegang rekor menjadi Walikota termuda pada Indonesia. Adalah Muhammad Syahrial, Walikota Tanjungbalai yang dilantik di Lapangan Merdeka Medan pada hari Rabu 17 Februari 2016, ternyata masih berumur 26 tahun. Dengan usia tadi, Syahrial didaulat sebagai Wali Kota termuda pada Indonesia. Muhammad Syahrial dilantik sebagai Walikota Tanjung Balai bersama dengan 14 Kepala Daerah Se-Sumut lainnya oleh Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, menjadi hasil dari Pilkada serentak di provinsi Sumatera Utara tahun 2016.***

Referensi

poskotanews.com - walikota-tanjung-balai-termuda-di-indonesia-usia-26-tahun

Gpswisataindonesia – masjid raya sultan ahmadsyah tanjung balai

armansyah.my.id  - Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian pada Sumatera Timur 1946

Related post

Tuesday, August 25, 2020

Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara

Masjid Jami' Kampung Hopong

Masjid Jami? Hopong dibangun lebih kurang tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, memiliki benang merah dengan sejarah masuk?Nya Islam ke Tapanuli & Sumatera Utara. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang. Beberapa tahun lalu diperluas sang Tuanku Rao. Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tadi dibangun balik menggunakan bentuk tempat tinggal panggung dari kayu. Kemudian kurang lebih tahun 1950, diganti atapnya sebagai seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris  Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah  bermukim tokoh tasawuf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Lokasi Masjid Jami? Hopong

Masjid Jamik Hopong

Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul

Kecamatan Simangumban

Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Koordinat Geografi : 1?44'13.12danquot;N 99?13'41.18danquot;E

View Masjid Jamik Hopong in a larger map

Dusun Hopong adalah satu berdasarkan 5 dusun dalam wilayah Desa Dolok Sanggul bersama dengan dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga. Masuk pada wilayah kecamatan Simangumban. Kecamatan seluas 150 km persegi dan merupakan satu menurut 15 kecamatan pada pada daerah kabupaten Tapanuli Utara, provinsi Sumatera Utara. Dusun ini dikenal menjadi dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di wilayah propinsi Sumatera Utara. Lokasinya jauh menurut keramaian kota, 40 kepala keluarga masyarakat dusun ini yg semuanya beragama Islam, tidak terjangkau tunggangan bermotor, belum terdapat penjelasan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon maupun sinyal telepon genggam.

Dusun Hopong hanya dapat dicapai dengan bejalan kaki nir kurang 24 KM berdasarkan jalan beraspal. Dapat ditempuh melalu jalur pekan Simangumban. Atau berdasarkan desa Padang Mandailing, kecamatan Saipar Dolok Hole melalui hutan belantara. Satu satunya kendaraan yg bisa sampai disana merupakan tunggangan Jip gardan ganda itupun hanya pada animo kemarau menggunakan resiko kecelakaan yg sangat tinggi karena medan yang terlalu sulit buat di lalui kendaran.

Jalan yang dibuka  Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, warga setempat melilih jalan kaki menuju dusun tersebut melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal dengan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

Rehabilitasi Masjid Jami? Hopong

Idul fitri 1413 H Masjid Jami’ Hopong sudah tampak Marhilong (mengkilap) begitu muslim setempat menyebutnya. Masjid tua ini sudah di rehabilitasi, lantainya sudah dikeramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius  5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” saat  orang masuk Masjid karena strukturnya yang sudah reot.

Sajadah kumal yang terbuat dari tikar pandan sudah berganti dengan karpet, Mimbar yang kumuh dimakan rayap  sudah terbuat dari papan yang sudah dihaluskan. Atap yang sering bocor jika turun hujan sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi  seperti rumah panggung yang menunggu rubuh. Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak, sudah dapat dilaksanakan malam hari berkat penerangan lampu listrik tenaga surya.

Bahkan air wudhu yang daholoe tak jarang ?Mellep? (tidak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, sekarang jua sudah sebagai tempat mandi yg mengasikkan menggunakan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat memakai pancuran itu menjadi loka MCK primer. Malam takbiran disana pun, telah semarak.

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu.  Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan  pembangunan masjid itu, betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil.

Adalah Mayjen Simanungkalit yang adalah salah satu pribumi setempat yg hidup diperantauan di tahun tahun 2009 bincang-bincang menggunakan Sigit Praono Asri SE, (kala itu) Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi donasi dari Biro Sosial & kemasyarakatan Pemprovsu sebanyak Rp 50 juta tahun aturan 2010.

Sajadah menurut karpet di masjid ini adalah donasi langsung Arifin Nainggolan SH,MSi, yang ketika itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan sekarang Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yg membeli 2 gulungan karpet & mengirimkan sendiri sampai ke Hopong. Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang sekarang telah lancar hingga sanggup melayani dusun Hopong & 3 dusun di sekitarnya, berkat advokasi Daudsyah MM yg waktu itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu melalui program PNPM Mandiri yg merupakan acara pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah warga .

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam disana sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia merdeka. Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak wudhu, dan bagian teras belum di kramik. Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. (disadur dari Catatan Mudik Mayjen Simanungkalit).***

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done