Islami Pedia: Masjid di Sulawesi
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sulawesi. Show all posts

Saturday, August 29, 2020

Masjid Hunto Sultan Amay, Mahar Untuk Sang Permaisuri

Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo

Di kota Gorontalo, ibukota propinsi Gorontalo berdiri sebuah masjid tua yang merupakan masjid tertua sekaligus menandai dimulai berkembang pesatnya Islam pada Gorontalo. Masjid tua ini pertama kali dibangun dalam tahun 1495M sang Sultan Amay. Legenda warga Gorontalo menjelaskan bahwa masjid ini merupakan bantuan gratis perkawinan Sultan Amay kepada istrinya.

Sultan Amay sebelumnya adalah seorang raja penganut animisme begitupun seluruh warga dikerajaannya. Begitu dia masuk Islam seluruh rakyatnya pun mengikuti langkah oleh raja dan berbondong bondong masuk Islam. Kisah ini dituturkan turun temurun dari generasi ke generasi terutama setiap tahun di bulan ramadhan.

Lokasi Masjid Hunto Sultan Amay

Masjid Hunto Sultan Amay

Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan

Kota Gorontalo, Propinsi Gorontalo

Indonesia

Sejarah Masjid Hunto Sultan Amay

Mungkin anda merasa aneh dengan istilah hunto dalam nama masjid ini. Hunto adalah singkatan berdasarkan istilah Ilohuntungo berarti basis atau pusat perkumpulan kepercayaan Islam. Memang masjid ini adalah basis perkembangan dan penyebaran Islam pada Gorontalo waktu itu. Sedangkan nama Sultan Amay sendiri diambil berdasarkan nama pendirinya yg membentuk masjid ini bersama rakyatnya saat beliau resmi masuk Islam.

Menurut penuturan Haji Syamsuri Kaluku, Pengurus Badan Ta'mirul Mesjid Hunto Sultan Amay, Islam sebenarnya telah masuk di Gorontalo semenjak tahun 1300-an Masehi. Hanya saja Islam berkembang dalam tahun 1490-an pada saat masjid ini berdiri. Sejarah masjid ini bermula waktu raja Amay masuk Islam.

Interior bangunan asli Masjid Hunto Sultan Amay

Demi Cinta

Raja Amay adalah raja yang memerintah di Kerajaan Gorontalo dalam tahun 1472-1550 M, dia merupakan sosok seseorang pemimpin belia, ganteng , dan masih lajang. Raja dan para pengikutnya, saat itu, menganut agama animisme. Patung, pohon, & hal-hal yg dianggap mistik adalah persembahan warga ketika itu. Sang raja kemudian jatuh cinta dalam putri raja, Raja Palasay, Putri Boki Antungo, yg adalah gadis anggun berasal Mautong Sulawesi Tengah.

Raja Amay mendatangi eksklusif Raja Palasay untuk meminang Putri Boki Antungo. Dia mengungkapkan ingin memimang putri raja dan Raja Palasay mendapat baik niat Raja Amay. Raja Palasay yg ketika itu merupakan pengikut kepercayaan Islam yg taat, mengajukan satu syarat kepada Raja Amay. Jika persyaratan itu disetujui, Raja Palasay merestui anaknya dinikahi Raja Amay.

Satu syarat yg diajukan yaitu Raja Amay wajib masuk Islam menggunakan bukti Raja Amay wajib mendirikan masjid. Permintaan Raja Palasay disetujui Raja Amay. Pembangunan masjid pun dilakukan di Gorontalo pada tahun 899 Hijriah atau 1495 Masehi. Masjid tersebut lalu diberi nama Hunto Sultan Amay. Hunto singkatan berdasarkan Ilohuntungo berarti basis atau sentra perkumpulan agama Islam waktu itu.

Detil interior masjid Hunto Sultan Amay

Masjid Hunto Sultan Amay, Mahar buat mempelai Wanita

Sebelum menikah, Raja Amay mengumpulkan semua rakyatnya. Raja Amay dengan jelas-terangan mendeklarasikan diri sudah memeluk agama Islam. Raja meminta seluruh pengikutnya buat menggelar pesta yg meriah. Pada pesta tadi Raja Amay meminta kepada rakyatnya buat menyembelih babi disertai dengan pelaksanaan sumpah istiadat.

Tepatnya di page masjid ini digelar pesta & sumpah norma menggunakan hidangan babi. Darah babi lalu dijadikan simbol sumpah istiadat yang diteteskan dibagian kepala (jidat) dengan isi sumpah dalam hari tersebut adalah hari terakhir rakyatnya memakan babi. Usai proses sumpah istiadat, Raja Amay lalu meminta rakyatnya buat masuk Islam menggunakan membaca 2 kalimat syahadat.

Pernikahan Raja Amay & Putri Boki Antungo pun dilakukan di Mautong dan Masjid Hunto Sultan Amay menjadi hibah pernikahan Raja Amay pada istrinya. Syekh Syarif Abdul Aziz ahli kepercayaan Islam menurut Arab Saudi didatangkan sang Raja Amay buat mengajar & menyebarluaskan agama Islam di Gorontalo. Dan hingga ketika ini masih terbukti sebagian akbar rakyat Gorontalo menganut agama Islam atas upaya dari Raja Amay, sampai kini masjid Hunto Sultan Amay ramai dikunjungi jemaah.

Gerbang baru Masjid Hunto Sultan Amay

Dikeramatkan Warga Gorontalo

Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo diyakini keramat sang masyarakat sekitar sehingga poly yg tiba berkunjung dan berziarah buat menerima berkah.Berdasarkan pengalaman peziarah, pada mimbar masjid ini terkadang terdengar suara orang menangis & terdapat pula peziarah yang melihat orang banyak yg lagi salat padahal tidak terdapat orang yang masuk masjid.

Bahkan waktu salat sendiri, tiba-datang terdapat makmum yg mengeraskan bunyi dari belakang membalas kata amin atau salam. Cerita-cerita seperti itu dikisahkan oleh orang-orang yg berkunjung ke Mesjid Hunto Sultan Amay. Dikatakan setiap orang yg tiba berkunjung ke masjid ini akan diuji tingkat keimanannya. Apabila tujuannya ibadah akan terdengar bunyi-bunyi ibadah namun jika tiba dengan tujuan buat istirahat atau tidur maka akan diganggu menggunakan hal-hal aneh seperti gempa.

Di mihrab berbatasan menggunakan tempat posisi berdirinya imam, masjid tua ini terdapat makam Raja Amay. Ada batasnya dan sudah diatur antara kuburan Sultan Amay & posisi berdirinya imam biar tidak terkesan kita menyembah Raja Amay. Pada mimbar masjid tua tadi tak jarang mengeluarkan aroma yg harum alami tanpa pewangi protesis. Sedangkan dibagian belakang masjid merupakan kuburan tua termasuk Syekh-Syekh zaman dulu yg turut dan berbagi kepercayaan Islam pada Gorontalo.

Sumut tua pada Masjid Hunto Sultan Amay

Di masjid ini jua ada sumur tua yg hingga sekarang masih dipakai oleh jemaah dan warga sekitar. Posisinya terletak pada samping kiri mesjid, berdekatan menggunakan loka wudhu. Sumur tua tadi terbuat berdasarkan kapur dan putih telur Maleo menggunakan diameter lebih dari satu meter dan kedalaman air mencapai tujuh meter. Kondisi cuaca Gorontalo yg sering dilanda demam isu panas berkepanjangan tidak mensugesti kondisi airnya yg terus melimpah & jernih. Masyarakat setempat meyakini air sumur tua Mesjid Hunto Sultan Amay keramat & seringkali digunakan untuk mengobati aneka macam penyakit.

Renovasi & Perluasan

Saat ini bentuk dan ukuran Mesjid Hunto Sultan Amay telah dipugar & diperbesar tanpa menghilangkan keasliannya. Diantaranya mimbar yang biasa digunakan buat berkhotbah dan tiang-tiang Mesjid yg masih kokoh berdiri dan ornamen-ornamen beraksen kaligrafi Arab. Adapula bedug yg terbuat menurut kulit kambing yang sudah mulai menipis menggunakan kondisi sudah dihiasi lubang-lubang kecil tetapi masih digunakan hingga ketika ini. Posisinya terletak dibagian dalam, tepatnya di sudut kanan depan Mesjid. Semuanya orisinil.

Luas asli masjid ini adalah 144 meter persegi tapi sekarang sudah lebih besar. Ukuran aslinya itu merupakan wilayah pusatnya dan masih tetap asli sampai sekarang. Dilakukan perbaikan dikarenakan sudah rusak dan dipercantik kembali tanpa menghilangkan keasliannya. Area Mesjid yang telah diperlebar diantaranya dibagian depan dan sebelah kanan Mesjid yang dijadikan ruang shalat  wanita. Serta ada penambahan bangunan di lantai dua juga untuk wanita.

Referensi

gorontalo.tribunnews.com - masjid-tertua-gorontalo-jadi-mahar-pernikahan-raja

gorontalo.tribunnews.com - warga-gorontalo-keramatkan-masjid-hunto-sultan-amay

makassar.tribunnews.com - ini-masjid-tertua-di-gorontalo

manado.tribunnews.com - legenda-hunto-sultan-amay-mesjid-tertua-di-gorontalo

wisatasejarah.wordpress.com - masjid-sultan-amay

Baca Juga

Masjid Raya Makassar

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Agung Keraton Buton

Friday, August 28, 2020

Masjid Agung Keraton Liya Togo, Wakatobi

Masjid Mubarok di dalam Benteng Liya Togo

Masjid tua ini bernama masjid Mubarok namun lebih dikenal sebagai Masjid Agung Keraton Liya Togo atau Masjid tua Benteng Liya karena berada di dalam benteng Liya yang terbuat dari batu koral di pulau Wangi Wangi dalam lingkup wilayah desa Liya Togo, kecamatan Wangi wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, propinsi Sulawesi Tenggara. Masjid tua ini dibagun tahun 1546 atau delapan tahun setelah pelantikan Sultan Buton Pertama – Sultan Marhum di tahun 1538.  Masjid ini merupakan masjid tertua kedua di Kabupaten Waktobi yang masih berdiri hingga kini, setelah masjid Agung Keraton Wolio. Masjid Keraton Liya yang berjarak 8 Km atau 15 menit dari Ibukota Kabupaten, dapat ditempuh menggunakan alat transportasi roda dua dan empat.

Benteng Liya dibangun di atas bukit, jarak benteng menurut pinggir laut merupakan kurang lebih 1,lima km. Dengan bentuk jalan yang menyerupai nomor 9. Dari benteng terlihat kentara wilayah bahari utara, timur & selatan. Benteng Liya terdiri menurut empat lapis dengan 12 Lawa (Pintu), 12 lawa tadi adalah pintu keluar yang digunakan masyarakat kerajaan buat berinteraksi dengan rakyat sekitarnya.

Masjid Mubarok menjadi saksi penyebaran Islam pada Pulau Wangi-Wangi, yang saat ini masuk menjadi bagian menurut Kabupaten Wakatobi. Dinas Pariwisata Wakatobi, memasukannya sebagai galat satu destinasi wisata yang sedang dikembangkan. Salah satu acara yang akan digelar adalah membuat sinopsis sejarah tentang Masjid Liya Togo. Pemerintah Daerah pula menyiapkan acara pembinaan pada warga setempat supaya bisa memandu para tamu yang datang.

Di hadapan sisi kiri masjid, sebuah tanah pemakaman terhampar. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah makam yang letaknya di dataran paling tinggi.  Bentuknya tidak seperti bangunan makam pada umumnya. Makam cukup lebar ditandai dengan barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Sementara, area makam dikelilingi pagar batu. Menurut cerita legenda, makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir seorang pemuda bernama Talo-Talo,  pemuda sakti yang diberi daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton.

Sebagian akbar bangunan masjid ini masih orisinil

Talo-Talo diberi kekuasaan di Liya Togo karena dianggap berjasa terhadap Sultan Buton ketika diberi tugas menyelesaikan konflik di salah satu  negeri bagian. Liya Togo sendiri berdiri di dataran tinggi sebelah selatan Pulau Wangi-Wangi. Letaknya kira-kira 8 kilometer dari ibukota kabupaten. Selain bangunan masjid dan makam, Sebuah tempat pertemuan berbentuk rumah panggung yang disebut baruga juga berdiri tak jauh dari halaman depan masjid.

Versi lainnya disampaikan sang Forum Komunikasi (Forkom) Kabali yg ulet mengumpulkan data data sejarah di daerah tadi menyatakan bahwa gundukan batu yg ditinggikan (Ditondoi) yg terdapat di depan Masjid 'Al Mubaraq' Keraton Liya misalnya tersebut diatas merupakan makam Mahisa Cempaka yg pernah beserta Rangga Wuni memimipin pemerintahan pada Kerajaan Singosari di Pulau Jawa. Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi poly Pohon Kamboja yg sudah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan masih ada sekitar lima anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yg dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota famili, hingga ketika ini masih terus terjadi pada daerah Liya, Wangiwangi.

Masih berdasarkan output penelusuran sejarah yang dilakukan sang Forkom Kabali, jauh sebelum dibangun Masjid 'Al-Mubaraq' Keraton Liya, telah ada sebuah masjid di wilayah Liya Togo dikenal dengan nama Masjid Togo Lamantanari. Masjid itu diperkirakan dibangun tahun 1238 masehi oleh 8 orang Persia dipimpin Haji Muhammad yg terhempas gelombang ke Pulau Wangiwangi sesudah kapalnya remuk melabrak karang pada pelayaran menuju Filipina.

Kubah limas masjid, beduk dan batu makam

Kini masjid tersebut sudah nir terdapat lagi, tetapi demikian, menurut fakta yg dihimpun oleh Forkom Kabali dalam ketika waktu shalat dhuhur & masuk saat shalat ashar setiap hari masih selalu terdengar bunyi kumandang azan dari sekitar lokasi masjid tua ini. Kumandang azan yg sama hingga ketika ini masih selalu terdengar menurut lebih kurang makam H.Muhammad yang terletak di sekitar permandian Kohondao Liya Togo, Desa Woru, lebih kurang 800-an meter dari lokasi bekas masjid tua Togo Lamantanari.

Pemugaran

Dalam perjalanan sejarah Mesjid Mubaroq ini telah mengalami empat kali pemugaran, yakni tahun 1924, 1970, 1973 & tahun 2005. Pemugaran Pertama tahun 1924 sang Lakina Liya La Ode Taru yg melakukan perbaikan-perbaikan dalam sebagian dinding dan bagian atap yang telah lapuk. Pemugaran kedua dilakukan oleh Lakina Liya La Ode Bula yang mengganti dinding yang terdiri berdasarkan pasangan kayu yang sudah lapuk dengan pasangan batu, termasuk juga membarui mimbar kayu yang kala itu telah lapuk.

Pemugaran di tahun 1973 dilaksanakan dalam masa camat Wangi-Wangi dijabat sang Andi Sultan. Dilaksanakan perombakan Mimbar/Mihrab yang semula terbuat menurut Kayu Ukir menurut Jenis kayu Jati dengan contoh atap dari susunan atap nipah sebanyak 2 helai dipasang pada bagian kisi luar atap penutup Mimbar/Mihrab, lalu diganti lagi menggunakan Mimbar/Mihrab berdasarkan pasangan batu.

Pemugaran terahir dalam tahun 2005 pada masa Gubernur Sulawesi tenggara dijabat oleh Ali Mazi SH. Pemugaran menggunakan mengganti empat sokoguru ditengah mesjid dengan pilar cor beton karena sulitnya menerima kayu ukuran akbar sebagaimana tiang orisinil masjid yang sudah lapuk tersebut. Plafon masjid pula diganti berdasarkan sebelumnya terdiri dari pasangan papan yang disusun bertingkat.***

------------------

Baca Juga

Masjid Raya Makassar

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Agung Keraton Buton

Monday, July 27, 2020

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien - Manado

Tertua di Manado

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien adalah masjid pertama yang didirikan pada Manado & wilayah Minahasa, & sekarang sebagai masjid terbesar kedua di kota Manado selesainya Masjid Raya Ahmad Yani Manado. Bermula menurut bangunan sederhana dari kayu sampai lalu sebagai bentuknya yg semegah ketika ini, sebagai saksi sejarah perkembangan Islam pada kota Manado dan sekitarnya.

Lokasi Masjid Agung Awwal Fathul Mubien

Referensi Koordinat : 1?30'23.5966''N 124?50'44.2828''E.

View Masjid Awwal Fathul Mubien in a larger map

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien berada di Jalan Sultan Hasanuddin, kelurahan Islam, kecamatan Tuminting,Kota Manado. Disebut Kampung Islam atau kelurahan Islam, karena dulunya wilayah tersebut memang seluruh penduduknya adalah pemeluk agama Islam. Baru kemudian di era penjajahan Jepang terjadi perubahan komposisi penduduk, masuk pemeluk-pemeluk agama selain Islam. Meski demikian, hingga kini 80% penduduk kampung ini beragama Islam.

Sejarah Masjid Agung Awwal Fathul Mubien

Masjid Agung Manado ini berdiri tahun 1802. Awwal Fathul Mubien jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya awal atau pembuka yang nyata. Berdirinya masjid ini lantaran masa itu lokasi tersebut sering terjadi konflik antar suku asli yang mendiami kawasan Manado bagian utara dengan suku yang mendiami kawasan bagian selatan. Karena perseteruan inilah makanya di tengah-tengah kampung ini didirikan masjid yang diberi nama Awal Fathul Mubien.

Pada masa awal didirikan bangunan masjid masih sangat sederhana. Pondasi hanya menggunakan batu karang karena wilayah itu merupakan daerah pesisir pantai. Lantainya berdasarkan papan, dan dinding sebagian masih papan. Seiring menggunakan perjalanan ketika, & umat mulai banyak, maka masjid itu mengalami perbaikan.

Di pugar pertama kali pada tahun 1830. Masjid ini direnovasi menjadi lebih besar ukurannya menjadi 8 x 8 meter. Pondasinya pun mulai memakai campuran kapur dengan tras. Kemudian dipugar lagi Sampai pada tahun 1967 dan 1995, sehingga ukuran bangunan masjid menjadi 26x26 meter. Sampai sekarang ukurannya tidak berubah.

Kini paras Masjid Agung-nya Kota Manado itu sudah tampak begitu indah. Bangunannya telah dilapisi menggunakan keramik pada seluruh bagian masjid. Kaligrafi besar pada atas pintu masuk masjid yg melengkung. Tulisannya Awwal Fathul Mubien menggunakan kaligrafi Allah di sebelah kanan & kaligrafi Muhammad di sebelah kiri.

Bangunan masjid ini diarsiteki & dikerjakan sang pendatang berdasarkan Jawa, menurut beberapa asal mereka merupakan para pengikut Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Manado oleh Belanda, yang pada waktu itu mendiami wilayah kurang lebih masjid. Dari pertama kali masjid ini didirikan sampai sekarang, tercatat beberapa orang sebagai imam. Yakni Akwan Hamadi, H. Said Bachmid, Drs H. Abdurrahman Noh, & Prof. H. Hasan Yan.

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien dari udara

Masjid ini selain sebagai sarana untuk beribadah pula kegiatan keumatan. Seperti selama Ramadhan terdapat kuliah Subuh, Tadarusan. Selain itu terdapat jua kegiatan pendidikan pada Taman Kanak-kanak Awwal Fathul Mubien di bangunan sekolah yg didirikan di samping masjid. Sampai waktu ini jumlah jamaah yg memanfaatkan masjid Awwal Fathul Mubien sekitar 800 Kepala Keluarga.

Arsitektur Masjid Agung Awwal Fathul Mubien

Keberadaannya sekarang telah megah. Lantai & sebagian dinding sudah keramik. Ukiran kaligrafi kuning ukuran akbar memanjang pada bagian depan. Bercat putih & hijau, menara juga menjulang ke langit. Suara azan 5 kali sehari berkumandang dari pengeras suara yg ada di atas menara itu. Masjid ini berdiri diatas tanah seluas 1916 meter persegi sesuai menggunakan tanah hak milik No 393 KMP Islam tertanggal 18 Mei 1995.

Referensi

Thursday, July 16, 2020

Proyek - Masjid Al-Alam Kota Kendari

Rancangan masjid terapung Al-Alam Kota Kendari (foto dari kendarinews.com)

Tahun 2010 Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara mencanangkan pembangunan masjid besar yang begitu prestisius dan ambisius bernama Masjid Al-Alam di kota Kendari. Sebuah komplek Masjid yang dibangun di atas pulau buatan di teluk Kendari yang akan menghabiskan dana sekitar 250 milyar rupiah dan akan selesai selama empat tahun. Masjid yang menurut mantan menteri agama Said Agil Al Munawar merupakan masjid di Tengah Laut yang Ketiga Setelah masjid di kerajaan Maroko dan Jeddah, Kerajaan Saudi Arabia.

Lokasi Pembangunan Masjid Al-Alam Kendari

Lihat Teluk Kendari di peta yang lebih besar

Masjid Al Alam direncanakan dibangun di tengah-tengah Teluk Kendari sebagai sebuah ikon ibadah ummat Islam Provinsi Sulawesi Tenggara. Masjid ini dibangun dengan kubah buka tutup secara otomatis, berbentuk teratai kuncup mekar. Masjid ini menggunakan tiga konsep kubah yakni Kubah Utama Mekar Bunga, Kubah Sekunder Geser Nabawi dan Tenda Payung. Masjid ini dirancang sedemikian rupa, tidak hanya sekadar tempat ibadah tetapi di sekelilingnya akan dibangun tempat olah raga air berkelas dunia. Total waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan pembangunan masjid adalah empat tahun.

Pendanaan pembangunan Masjid Al-Alam

Anggaran yang disediakan guna keperluan pembangunan Mesjid Al Alam di tahun 2010 sebesar 10 Miliar murni dari APBD. Sedangkan penambahan dana selanjutnya dilihat dari keberhasilan pembangunnya. Alokasi dana 10 Miliar ini digunakan untuk pembangunan pada tahap awal dan pembangunan puluhan tiang Mesjid Al Alam.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Alam

Pemancangan pembangunan Mesjid Al Alam, dilakukan hari Selasa 17 Agustus 2010 dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam.  Dalam sambutannya beliau menyebutkan bahwa jumlah dana secara keseluruhan yakni sebesar 250 Milyar. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Gubernur menghimbau kepada para dermawan dan pengusaha untuk membantu dana pembangunan Mesjid Al Alam agar tidak membebani dana dari APBD. Dalam acara pemancangan perdana pembangunan masjid tersebut turut juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Saleh Lasata, Walikota Kendari Ir Asrun, Wakil Ketua DPRD, La Pili, Muspida lainnya dan mantan Menteri Agama, Prof DR Said Agil Al Munawar.

pemancangan tiang pertama masjid Al-Alam Kota Kendari

(kendarinews.com)

Pembangunan Mesjid Al Alam telah dimulai bertepatan dengan HUT RI ke-65. Tentunya pembangunan mesjid tersebut diharapkan bisa sekaligus menjadi kado terindah bagi Negara ini. Pihak DPRD Sultra akan melakukan pengawasan mengenai pembangunan Mesjid Al Alam serta alokasi dana 10 Miliar yang telah diberikan dari APBD. Pemancangan tiang perdana tangga 17 Agustus 2010 tersebut merupakan bagian dari 509 tiang yang akan ditancapkan di teluk Kendari hingga kedalaman 30 meter. Tahun 2010 dilakukan proses tender untuk pemasangan 37 tiang pancang.

Proses pemancangan tiang perdana yang dilakukan tanggal 17 Agustus 2010 tersebut menurut Gubernur Sulawesi Tenggara memiliki makna filosofi yang mendalam mulai dari tempat, waktu dan tanggal pelaksanaannya. Peletakan batu pertama memiliki nilai filosofi yang sangat dalam karena dilakukan pada dua momentum yakni, Ramadhan dan HUT Kemerdekaan. Tanggal 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan, angka 17 merupakan jumlah rakaat sholat wajib sehari semalam, tanggal 17 Agustus bertepatan dengan 7 Ramadhan. Angka 7 sangat tekait dengan posisi Nur Alam sebagai gubernur (definitif) Sulawesi Tenggara yang ketujuh. Sebagai muslim, ketika berdoa sangat berharap agar doanya bisa tembus langit ketujuh, Ketika seseorang menunaikan ibadah haji harus melakukan sya’i sebanyak 7 kali.

Masjid terapung Pertama

Masjid Hassan II, Casablanca (maroco-holiday-guide)

Mantan Menteri Agama Said Agil Al Munawar yang memberikan tauziah sebelum pencanangan, berulang kali menyampaikan bahwa setiap orang yang menyumbang pembangunan masjid dengan ikhlas, akan mendapatkan balasan pahala dari Allah SWT. Dan menurut beliau baru ada dua masjid yang berada di tengah laut. Yakni Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko, dan masjid terapung di Laut Merah, Jeddah. Kedua masjid tersebut sekarang selain menjadi tempat beribadah, juga menjadi pusat kunjungan para wisatawan. Dan masih menurut beliau kalau masjid Al Alam ini sudah rampung, ini akan lebih indah karena letaknya betul-betul di tengah laut. Beliau juga mengatakan bahwa masjid tersebut nantinya akan menjadi monumen di Kawasan Indonesia Timur, dan menjadi tujuan wisata religi.

Masjid terapung Jeddah, Saudi Arabia (flickr)

Menurut catatan penulis, sebenarnya sudah ada setidaknya empat masjid yang posisinya “terapung” dalam artian dibangun di laut, selain dua masjid yang disebutkan oleh Pak Said Agil, sudah ada Masjid Terapung Selat Malaka di wilayah Malaka, Malaysia. BahkanMasjid Raya Al-Munawaroh Ternate di provinsi Maluku Utara juga sebagian besar bangunan masjidnya dibangun di laut. Namun demikian, benar seperti yang beliau katakan bahwa masjid Al-Alam adalah masjid pertama yang dibangun “benar benar di tengah laut”.

menurut kepala dinas Pekerjaan Uumum Sulawesi Tenggara, Ir Dody P Djalante MTP secara teknis, salah satu poin penting dalam pembangunan masjid Al Alam ini, selain sebagai sarana beribadah, pembangunan masjid juga untuk rekonstruksi kawasan teluk. Saat ini diperkirakan sebanyak 20 juta meter kubik sedimentasi menutupi teluk Kendari. Sedimentasi tersebut ketebalannya diperkirakan mencapai dua meter. Dengan membangun masjid Al Alam dan sarana publik lainnya yang disinkronkan dengan jembatan Bahteramas, masyarakat akan lebih merasa memiliki teluk Kendari.

Data Teknis Masjid Al-Alam Kota Kendari

M asjid Raya Al-Munawaroh, Kota Ternate (matanews.com)

Bangunan kedua adalah bangunan plaza tertutup yang terdiri dari lantai basemen dan plaza ukuran 30x30 meter. Bangunan plaza tertutup akan menggunakan kubah contoh geser. Bangunan terakhir merupakan plaza terbuka yang berfungsi sama menggunakan plaza tertutup. Hanya atap model payung masjid Madinah saja yg membedakannya. Setiap tiang pancang dilengkapi dengan anoda pencegah korosi yang dapat bertahan selama 30 tahun. Untuk 509 tiang pancang yang dipakai menelan anggaran paling poly. Dari total anggaran Rp 250 miliar, tiang pancang menelan Rp 130 miliar.

Penolakan Masyarakat

Masjid Terapung di Selat Malaka, Malaysia

Proses pembangunan masjid terapung kota Kendari ini mendapat penolakan dari beberapa elemen masyarakat Kendari diantaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda Cabang Kendari, Sulawesi Tenggara. HMI berpendapat rencana pembangunan masjid di Teluk Kendari yang diberi Mesjid Al’Alam itu  dianggap hanya merupakan program yang sifatnya simbolik, yang dikhawatirkan hanya akan meninggalkan kesan sesaat apalagi bukan yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat Sultra. dana pembangunan masjid yang mencapai Rp 250 miliar itu lebih baik digunakan untuk kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti pemberdayaan masyarakat miskin. Sementara Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, menganggap penolakan masyarakat tersebut karena adanya provokator.

Referensi

Kendarinews.com-10M dana awal masjid Al-Alam

Kendarinews.com-Al Alam Masjid ketiga di dunia

Kendarinews.com- Gubernur Canangkan Masjid Al-Alam Teluk Kendari

Regionalkompas.com-HMI Kendari Tolak Pembangunan Masjid

Metrotvnews.com-Gubernur: Provokator Berada Dibalik Penolakan Masjid Al Alam

Kapanlagi.com-Masjid Al-Alam Monumen Kawasan Indonesia Timur

------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate

Masjid Hassan II, Casablanca - Maroko

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Raya Makassar

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Agung Awwal Fathul Mubien, Manado

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Agung Keraton Buton

Friday, July 3, 2020

Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makassar, foto dari masjidnet

Mari kita ke Makassar, Ibukota propinsi Sulawesi Selatan, markas nya klub sepak bola PSM, oleh ayam jantan berdasarkan timur yg sekarang hijrah bertarung pada Liga Primer Indonesia (LPI) meninggalkan sasana lamanya di Liga Super Indonesia. Seperti halnya Klub Bola PSM, Kota Makassar loka klub ini bersarang memang mempunyai sejarah yang teramat panjang dan telah melahirkan begitu poly tokoh nasional dan iternasional. Bahkan nama Makassar sendiri tidak hanya kita temukan pada Sulawesi Selatan akan tetapi sudah menjadi nama beberapa tempat pada tanah air hingga manca negara, menjadi penanda bahwa pelaut pelaut Makassar pernah berjaya di daerah tersebut. Sebut saja Kampong Macassar pada Afrika Selatan yg begitu identik menggunakan Sheikh Yusuf, Pahlawan Nasional Indonesia yang juga sekaligus sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan.

Di Metropolitan Makassar ini berdiri Masjid megah yg juga menyimpan sejarah bagi Masyarakat Makassar dan bagi negeri ini, yakni Masjid Raya Makassar yg akan kita ulas pada artikel kali ini, satu dari 2 masjid penting pada kota Makassar. Membaca sejarah pembangunan masjid ini mungkin akan menciptakan tercengang sebagian orang saat tahu porto yang dulu dimuntahkan untuk membangunnya. Hanya 1,dua juta rupiah saja buat sebuah masjid besar nan megah itu. Murah bukan ?. Tunggu dulu. Sepertinya anda membutuhkan kalkulator buat mengkonversi nomor tadi ke nilai rupiah ketika ini, supaya dapat tahu betapa besarnya porto 1.Dua juta rupiah pada masa tersebut.

Alamat dan Lokasi Masjid Raya Makassar

Jalan Masjid Raya, Bontoala, Andalas

Makassar, Sulawesi Selatan 90111

Lokasi masjid di wikimapia : klik disini

Lihat Peta Lebih Besar

Sejarah Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makassar, dibangun di atas huma lapangan sepakbola Exelsior Makassar seluas 13.912 meter persegi yg dihibahkan buat pembangunan masjid tadi. Bangunan awal Masjid Raya Makassar didesain oleh M Soebardjo dan dibangun pada tanggal 25 Mei 1949.

Masjid raya kebanggaan muslim Makassar ini menjadi tempat dilaksanakannya untuk pertama kali perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)  pada tahun pada 1955 silam. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno pernah singgah dan melaksanakan sholat Jumat di masjid ini di tahun 1957. Sedangkan mantan Presiden Soeharto juga berkunjung dan sholat Jumat di masjid perjuangan ini pada tahun 1967.

Masjid Raya Makasar, foto dari rs-stutz.com

Bangunan induk masjid ini memuat 10 ribu jemaah, bila digabung dengan laman masjid bisa menampung sampai 50 ribu jemaah. Ketika pertama kalinya ditempati salat Jumat pada Agustus 1949, sekalipun bangunannya belum rampung tetapi semua ruangan penuh sesak sampai melimpah ke jalan generik.

Pada masa itu, pemerintah menganjurkan seluruh masjid pada kota ini ditutup & bersatu di Masjid Raya guna melaksanakan salat Jumat berjemaah. Kegiatan tadi menciptakan tentara KNIL yg masih berkuasa di Makassar, merasa gusar dan meratapi pemberian biar menciptakan masjid. Sebab, Masjid Raya nir hanya menjadi tempat ibadah saja akan tetapi juga digunakan menjadi markas pertemuan dan kegiatan pejuang kemerdekaan.

Menara Masjid Raya Makasar

foto dari heningkata.multiply.com

Seiring bepergian saat, Masjid Raya Makassar dirombak total berdasarkan bentuk aslinya dalam Februari 1999. Saat itu, Ketika Jusuf Kalla melontarkan inspirasi perombakan akbar-besaran masjid tersebut, timbul reaksi dengan tudingan sebagai kapitalis murni, menggunakan tuduhan akan mendirikan plaza pada atas lokasi bekas bangunan masjid itu. Namun, seiring menggunakan perkembangan & kemajuan pembangunan masjid semenjak peletakan batu pertama sang Gubernur HZB Palaguna 9 Oktober 1999, maka Jusuf Kalla menjadi pebisnis mengambarkan tekadnya buat memperbarui bangunan dan contoh masjid tersebut.

Di kembali kontroversi pembangunan pulang masjid pujian warga Makassar itu, masjid itu berkembang menjadi sebagai tempat tinggal ibadah yg berdiri megah mirip menggunakan masjid di Timur Tengah dengan sentuhan arsitektural meditaria.

Menurut Pak JK (Yusuf Kalla, Mantan Wakil Presiden), renovasi pertama Masjid Raya Makassar semenjak dibangun tahun 1949, dilakukan dalam tahun 1978 sang Gubernur Ahmad Lamo. Tetapi, 29 tahun lalu atap masjid bocor-bocor sebagai akibatnya sangat sulit dipertahankan. Lantaran itu, masjid ini dibangun balik dengan struktur dan arsitektur baru mengadopsi Masjid Cordoba Spanyol, ad interim bangunan lama hanya menyisahkan menara disamping kiri masjid.

Bangunan Masjid Raya Makassar yg baru ini dibangun memakai bahan bangunan dari bahan baku lokal sekitar 80 %, memiliki 2 menara dengan tinggi 66,66 meter, berdaya tampung 10.000 jamaah & fasilitas berupa perpustakaan, tempat kerja Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel.

Interior Masjid Raya Makasar, foto dari rs-stutz.com

Dana pembangunan masjid masing-masing bersumber menurut Jusuf Kalla (JK) sebesar Rp18,lima miliar, Aksa Mahmud (Bosowa Coorporation) Rp1,lima miliar, Pemerintah Kota Makassar Rp3 miliar, Pemprov Sulsel Rp1 miliar, jamaah masjid Rp1 miliar & Andi Sose Rp500 juta. Pada hari jumat 27 Mei 2005 bertepatan dengan 18 Rabiul Akhir 1426 H, Masjid Raya Makassar diresmikan pemakaiannya oleh Wakil Presiden RI, Drs H Muhammad Jusuf Kalla.

Cerita para penjaga sepatu

Ada berkah tersendiri bagi beberapa remaja tiap hari Jumat datang. Mereka mencari rezeki menggunakan sebagai penjaga alas kaki di Masjid Raya Makassar. Hanya berbekal pengalas (terpal atau koran) & kartu bernomor, mereka siap beraksi. Setiap Jumat selalu menjadi penjaga alas kaki di Masjid Raya. Beroperasi pada pintu masuk lantai bawah menuju loka wudhu. Penghasilannya Bisa sampai seratus ribu, & dibagi dua sama pengurus Masjid. Di Masjid Raya, banyak titik tempat penitipan sendal, kita tinggal menentukan sinkron posisi ideal kita, mau di lantai bawah, lantai atas, samping kiri, & samping kanan. Semua terbukti bisa menjaga alas kaki dengan kondusif.

Al-qur?An Raksasa pada Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makassar mempunyai koleksi sebuah Al-Qur?An besar berukuran 1 x 1,lima meter yang dipajang secara tetap pada lantai dua Masjid. Alqur?An ini senantiasa menerima perhatian jamaah yang datang beribadah. Bahkan hampir setiap saat tampak ada jamaah masjid yang berphose pada samping Al-Qur?An yang dipajang dalam kotak kayu jati tertutupi kaca tembus pandang tersebut.

Alqur'an Raksasa di Masjid Raya Makassar.
Al-Qur’an besar ini merupakan produk ke-6 dari Yayasan Al-Asy’ariah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Penulis utama Al-Qur’an ini adalah KH.Ahmad Faqih Muntaha, anak dari penghafal dan penulis kaligrafi terkenal KH.Muntaha Al-Hafidz, pendiri Yayasan Al-Asy’ariah yang mengelola berbagai pendidikan formal, seperti Pondok Pesantren Al-Asy’ariah. Juga pendiri Padepokan Agung tertua di Wonosobo, lembah Pegunungan Dieng.

Produk pertama Al-Qur?An akbar misalnya ini, berdasarkan catatan pihak pengelola Masjid Raya Makassar, diserahkan ke Presiden RI pada 5 Juli 1994. Produk serupa yang kedua disimpan di Istana Negara, Jakarta. Produk ketiga dibuat atas pesanan Gubernur DKI Jakarta, H.Sutioso. Kemudian, keempat, dibentuk atas pesanan dari Gubernur Provinsi Jawa Tengah, H.Murdianto. Produk kelima dibuat atas pesanan Sultan Hasanah Bolkia berdasarkan Brunai Darussalam.

Produk Al-Qur?An besar yg dipajang di Masjid Raya Kota Makassar adalah pesanan menurut Pembina Masjid Raya Makassar yg pula pendiri Bosowa Coorporation, Drs.H.M.Aksa Mahmud. Al-Qur?An besar menggunakan 6666 ayat, 114 surah, dan 30 jus tadi terdiri atas 605 lbr. Menggunakan kertas berkualitas produksi Perum Peruri. Penulisan menggunakan campuran Tinta Cina dan Air Teh kental supaya tahan tidak meluntur. Al-Qur?An akbar yang pembuatannya hingga selesai memakan ketika satu tahun (12 bulan), berat total termasuk tempatnya 584 kg.

Video Masjid Raya Makassar

Foto Foto Masjid Raya Makassar

Masjid Raya Makasar, foto dari heningkata.multiply.com

Foto dari Ferry Zuljanna di panoramio

Foto dari Muhammad Nur di Panoramio

Referensi

Wisata.makassarkota.go.id – masjid raya makassar

masjidnet.wordpress.com – masjid raya makasar

makasarakku.blogspot.com – masjid raya makassar

kabarkami.com - geliat penjaga alas kaki di masjid raya makassar

tribun-timur.com - Pengemis Panuhi Masjid Raya Makassar Sejak Malam

detiknews.com - Keluarga Sumbang Rp 18 M, Kalla Resmikan Masjid Raya Makassar

Tuesday, June 16, 2020

Masjid Agung Keraton Buton

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Masjid Agung Keraton Buton terletak di dalam Lingkungan Benteng Kesultanan Buton, Benteng tua terluas di dunia menurut catatan rekor MURI. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang berukuran 20,6 x 19,40 m dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton.

Lantai satu yg lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai 2 yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan. Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil & merupakan zenit kerucut menurut holistik bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air.

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Jangkar Kapal VOC yg karam di Buton pada latar depan & di belakang adalah Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti semenjak didirikan merupakan fondasi & bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid pula masih tetap misalnya aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter. Masjid Agung Keraton Buton merupakan salah satu menurut sembilan Masjid antik di Indonesia dan sudah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai benda cagar budaya atau situs cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan & Pariwisata No : KM.8/PW.007/MKP.03 Tanggal 04 Maret 2003

Lokasi

Masjid Agung Keraton Buton terletak di komplek Keraton Kesultanan Buton yg dikenal menggunakan sebutan Keraton Wolio pada pada tembok Benteng Kesultanan Buton. Masuk dalam wilayah Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Dapat dicapat dari berdasarkan Kota Kendari ke Bau-Bau menggunakan pesawat pioner selama 1 jam penerbangan atau kapal laut selama 4 jam pelayaran.

Sejarah

Masjid Agung Keraton Buton pertama kali didirikan pada tahun 1538 M. Tidak lama berselang, masjid ini terbakar dampak perang saudara yg terjadi di Kesultanan Buton dalam perebutan kekuasaan. Pembangunan masjid tersebut baru dimulai lagi pada tahun 1712 M menggunakan lokasi yg nir begitu jauh menurut tempat semula pada masa pemerintahan Sultan Zakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX)

Renovasi

Renovasi mesjid ini telah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929, 1978, 1986 dan 2002. Renovasi pertama dilakukan tahun 1930, pada masa Sultan Hamidi (Sultan Buton ke-37). Struktur asli bangunan tetap dipertahankan dan hanya membarui sebagian rangka kayu lantaran telah lapuk dimakan usia, lantainya disemen. Sedangkan atap yg semula menggunakan atap rumbia diganti menggunakan seng. Pemugaran kedua dan ketiga masing masing tahun 1978, & 1986 pula buat membarui atap seng yg telah usang. Renovasi terahir dilakukan tahun 2002. Dengan merenovasi lantai masjid menggunakan marmer atas donasi Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Didalam Masjid Agung Kraton Buton

Megawati pernah berkunjung ke masjid tua itu menjelang Pemilu 1999. & kemudian menaruh donasi buat merenovasi Masjid terebut waktu dia telah menjadi Presiden. Pelaksanaan renovasi masjid itu ditangani Gubernur Sultra Laode Kaimuddin & Ketua PDI-P Sultra Laode Rifai Pedansa.

Keunikan

Masjid Agung Keraton Buton nir mempunyai menara. Tetapi, pada sisi bangunan sebelah utara berdiri sebuah tiang bendera yg ujungnya lebih tinggi dibandingkan puncak kerucut masjid. Menurut Buya Hamka pada buku tafsirnya, Al Azhar, tiang bendera itu jua berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung menurut syariat Islam.

Menurut Buya Hamka, Tiang bendera di areal Masjid Agung ini difungsikan jua menjadi tiang gantungan buat aplikasi hukuman gantung di masa pemerintahan Kesultanan Buton

Tiang bendera itu didirikan nir lama setelah masjid dibangun. Kayu yang digunakan untuk tiang bendera tadi dibawa sang pedagang beras berdasarkan Pattani, Siam (sekarang Thailand). Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengubah bagian bahtera yang rusak di perjalanan, Setelah dagangan mereka habis dan hendak balik ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan buat dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yg berwarna kuning, merah, putih, dan hitam pada tiang tadi.

Total perangkat pengurus masjid Keratorn itu berjumlah 60 orang, terdiri dari lakina kepercayaan , imam, empat khatib, 12 moji, dan 40 mukimi. Khatib & moji melakukan tugasnya secara bergilir. Perangkat semacam itu tidak dimiliki masjid lain di Nusantara.

Masjid Agung Kraton Buton pada malam hari

Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang galat satu pada antaranya berfungsi menjadi pintu utama. Pada bagian depan masjid - di sebelah timur masjid, masih ada serambi terbuka. Pada pada masjid terdapat sebuah mihrab & mimbar yg terletak secara berdampingan. Keduanya terbuat menurut batu bata yang pada bagian atasnya masih ada hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tanaman yang seperti menggunakan gesekan Arab.

kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Drs. Alaihi Salam Tamrin, MH dan Wa Ode Maasra Manarfa, S.Sos, M. Si saat doa beserta perangkat Masjid Agung Keraton Buton, pada rangkaian pelantikannya menjadi Walikota dan Wakil Walikota Baubau periode 2013-2018

Di depan pintu primer di antara 2 selasar masih ada sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tadi telah ditempatkan pada situ semenjak adanya masjid ini menjadi penampungan air buat berwudu

Sebuah lampu antik yg terbuat dari perunggu bercabang 3 yang digantung sempurna pada tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tadi, tersedia tiga loka buat bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan contoh itu hanya masih ada di 3 loka di Indonesia, dua lagi masih ada di pada Istana Negara Jakarta & Keraton Yogyakarta.

Masjid Agung Kraton Buton

Tak jauh berdasarkan masjid, masih ada makam raja terakhir sekaligus Sultan pertama Buton, Murhum yg jua dikenal menggunakan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum bisa menyelesaikan perang saudara antara Konawe menggunakan Mekongga dalam saat delapan hari.

Murhum merupakan raja Buton pertama yg menganut ajaran Islam. Sejak itu jua, sistem pemerintahan berubah menurut Kerajaan sebagai kesultanan. Makam Murhum terletak pada belakang Baruga Keraton Buton (balai rendezvous) yg berada di hadapan Masjid Agung Keraton Buton.

Tradisi Ramadahan pada Masjid Agung Kraton Buton

Pelaksanaan Shalat Tarwih di beberapa malam Ramadhan, seperti malam pertama (Tembaana Bula), Malam Nuzul Quran ke-17 (Qunua), malam 27 (Qadiri/ lailatur Qadar). Pada malam tersebut shalat tarwih dilaksanakan tepat dalam pukul 00.00 malam yg dirangkai dengan sahur beserta yg dilakukan perangkat Syara Masjid Agung Keraton Buton bersama pemerintah wilayah. Tradisi itu masih terjaga sampai sekarang.***

Monday, June 15, 2020

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Al-Hilal Katangka pada Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Mesjid Tua Al-Hilal Katangka disebut juga Masjid Agung Syeh Yusuf merupakan mesjid pertama dan tertua di Pulau Sulawesi dan di wilayah waktu Indonesia bagian tengah, sekaligus masjid tertua ke sembilan di Indonesia. Penamaan mesjid ini dari nama Syufi Kharismatik yang dipuja masyarakat Sulawesi Selatan. Syufi tersebut adalah Syeh Yusuf Al Makkasari yang merupakan kerabat raja Gowa.

Syekh Yusuf lahir 3 Juli 1626 di Kabupaten Gowa, gigih melawan penjajah Belanda, diasingkan ke Capetown, Afrika Selatan dan meninggal dunia pada usia 73 tahun pada lepas 23 Mei 1699, dimakamkan di wilayah pertanian Zanvliet pada Distrik Stellenbosch, Afrika Selatan. Atas permintaan Raja Gowa, Abdul Djalil, lima April 1795, makam Syekh Yusuf dipindahkan ke Lakiung, tak jauh menurut Masjid Katangka.

Pemerintah Indonesia tetapkan Syekh Jusuf menjadi pahlawan nasional & di Afrika Selatan, ia mendapat tempat yg sangat istimewa di hati masyarakat sebagai pahlawan pembebasan kaum tertindas dan juga dianugerahi gelar pahlawan nasional di negara itu.

Sejarah Masjid Al-Hilal Katangka

Pada foto zaman Belanda (atas)

terlihat bangunan ini  memiliki

menara yang sekarang telah tak ada-

lagi.

Masjid Tua Al-Hilal dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV bernama Aku Manga'ragi Daeng - Manrabbiakaraeng Lakiung (Sultan Alauddin I) tahun 1603, Sultan Alauddin merupakan Raja Gowa pertama yang memeluk kepercayaan Islam. Sultan Alauddin merupakan kakek berdasarkan I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke enam belas.

Arsitektur masjid Tua Al-Hilal Katangka ini sudah menginspirasi gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo dalam tahun 2009 buat mendirikan masjid masjid dengan bentuk yg sama di 24 kabupaten/kota pada Sulsel. Dimulai dengan pembangunan masjid di kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep (Pangkajene kepulauan) Sulawesi Selatan

Lokasi

Masjid ini Terletak di Jl. Syeh Yusuf, Desa Katangka, Kecamatan Sumba Ompu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Masjid ini berada di perbatasan antara KotaMakassar dan Kabupaten Gowa. Jarak lokasi sekitar 10 kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi).  Terletak di koordinat S5 11 27.0 E119 27 05.5.  dan hanya 1,5 kilometer (km) dari Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa atau sekitar 9 km dari Kota Makassar, tak jauh dari makam Pahlawan Nasional Syekh Jusuf atau tokoh yang dijuluki Tuanta Sa-lamaka, pemimpin yang membawa keselamatan ummat.

View Masjid Al-Hilal Katangka in a larger map

Status

Masjid Tua Al-Hilal terdaftar sebagai benda cagar budaya pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dengan nomor urut inventaris 98. dan sudah ditetapkan sebagai  benda cagar budaya nasional melalui surat keputusan Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Juwono Sudarsono

Arsitektur

Luas bangunan 212,7 m2 & dikelilingi pagar besi, dengan tiang pagar dari tembok. Arsitektur bangunan adalah adonan seni bangunan Makassar & Islam. Dalam bangunan terdapat tiang soko guru, mimbar dan mihrab. Pintu masuk menuju ke beranda mesjid hanya sebuah terletak pada muka. Pada dinding depan sebelah kiri-kanan pintu masih ada hiasan terawang yang berfungsi menjadi lubang angin.

Di beranda ini terdapat tembok dan pada bagian atasnya berterawang menurut keramik yg semula dipergunakan pembatas tempat wudhu. Tiga buah pintu masuk ke ruang tengah tempat sholat memiliki hiasan tulisan Arab dan berbahasa Makassar. Tulisan ini masih ada di ambang pintu bagian atas. Atap mesjid bertingkat tiga menurut bahan genteng. Antara atap mesjid taraf 2 dan tiga masih ada pemisah berupa ruangan berdinding tembok menggunakan jendela di keempat sisinya. Di zenit mesjid terdapat mustaka.

Bila dilihat dari foto tua Dari sumber KITLV Leiden, disebut dengan tulisan: Grote moskee van Gowa, vermoedelijk teMakassar 1910. dengan keadaan sekarang. Ternyata bahwa masjid tua Al-Hilal dulunya memiliki Menara dan sekarang menara di masjid itu telah hilang.

Luasnya 174,24 meter persegi. Pada zamannya, masjid ini termasuk besar , glamor, dan dipercaya krusial karena konstruksinya terbuat dari batu bata. Hanya bangunan penting yg dibuat dari batu bata ketika itu, seperti istana dan benteng. Fungsi utamanya tentu menjadi tempat ibadah. Setiap datang saat salat, masjid ini ramai dipenuhi jamaah. Namun, terdapat beberapa makam di laman masjid. Itu adalah makam para pemuka agama & kerabat pendiri masjid. Khusus makam para pendiri masjid memiliki atap di atasnya berbentuk kubah.

Salah satu yang mencirikan masjid ini adalah bangunan kuno adalah dindingnya. Dinding yang terbuat dari batu bata itu relatif tebal, mencapai 120 cm. Struktur atapnya seperti bangunan joglo. Memiliki empat tiang penyangga yg pada arsitektur Jawa dianggap soko guru. Hanya saja terbuat berdasarkan susunan batu, bukan kayu. Terdapat dua lapis atap. Atap permukaan berbentuk segi tiga piramida menggunakan bahan dari genting. Masjid ini jua mempunyai serambi sebagaimana umumnya masjid pada Jawa.

Pengaruh kebudayaan Cina terlihat dalam atap mimbar yang seperti bentuk atap klenteng. Di lebih kurang mimbar pula masih terpasang keramik berdasarkan Cina yang konon dibawa oleh galat satu arsiteknya yang dari berdasarkan sana.

Renovasi

Sejak didirikan tahun 1603M, oleh Raja Gowa ke-24, Sultan Alauddin (I Manga?Ragi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung). Kemudian ditahun 1605M dijadikan menjadi masjid kerajaan dengan nama Masjid Katangka, Masjid tua Katangka telah beberapa kali mengalami perombakan & renovasi. Berikut catatan renovasi yg pernah terjadi terhadap masjid tua Katangka.

  1. Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir
  2. Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf
  3. Tahun 1893 oleh Raja gowa XXXIV , Sultan Muhhamad Idris
  4. Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gowa H. Manysur Daeng Limpo
  5. Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Andi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa
  6. Tahun 1979 oleh Depdikbud RI, selanjutnya masjid ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai masjid  Al Hilal Katangka. Dan
  7. Terahir direhabilitasi pada tahun 2007 oleh pengurus masjid sendiri dengan dana yang bersumber dari swadaya masyarakat dan sebagian dari bantuan pemerintah. Kondisi terkini bagian dalam masjid bersejarah tersebut telah jauh lebih modern.

Dindingnya meski nir dilapisi keramik atau porselin tampak sangat terjaga. Tiang penyangga berbentuk pilar, berwarna putih. Lantai dasar telah dihiasi keramik berwarna krem. Lalu ada beberapa kipas angin gantung, sebagai pemberi hawa sejuk saat beribadah.

Referensi

* Masjid Katangka, Peninggalan Sejarah di Gowa

* Makassar Tempo Doeloe, Masjid Katangka Gowa

* MASJID AL HILAL KATANGKA

* Masjid Tua Katangka : Situs Masuknya Agama Islam

------------------------------------ooOOOoo------------------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Sunday, June 14, 2020

Masjid Jami’ Tua Palopo

Masjid Jami' Tua Palopo

Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalanKerajaan Luwu berada dikota Palopo, Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu tahun1604 M. Memiliki luas 15 m². Di beri nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan namaPalopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.

Sebagian masyarakat percaya bahwa bagi orang yang datang ke Kota Palopo, belum dikatakan resmi menginjakkan kaki di kota ini apabila belum menyentuh tiang utama Masjid Tua Palopo yang terbuat dari pohon Cinaduri, serta dinding tembok yang menggunakan bahan campuran dari putih telur. Oleh karena itu, masjid ini tidak pernah sepi dari jemaah, khususnya pada bulan Ramadhan, setiap selesai shalat dhuhur hingga menjelang berbuka puasa, biasanya para jamaah tetap tinggal di masjid untuk mengaji, tadarrus Alquran, dan berzikir. Jamaah yang datang bukan hanya warga Kota Palopo, tetapi banyak juga yang datang dari kabupaten tetangga, seperti Luwu, Luwu Utara, Sidrap, dan Wajo.

View Masjid Jami’ Tua Palopo in a larger map

Sejarah Masjid Jami' Tua Palopo

diperkirakan berdiri pada tahun 1604 M. merupakan masjid kerajaan yang didirikan ketika Kerajaan Luwu sedang berada dalam masa kejayaannya dibawah kekuasaan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Ketika ia naik tahta menggantikan ayahnya tahun 1604 M, ia memindahkan ibukota kerajaan dari Patimang ke Ware, dengan alasan Ware berada di pantai dan lebih dekat dengan pelabuhan, sehingga aktifitas ekonomi bisa lebih mudah dilakukan. Sumber sejarah lain ada juga yang mengkaitkan perpindahan ibukota kerajaan ini dengan kepentingan untuk penyebaran Islam. Jika pendapat ini benar, maka perpindahan tersebut juga menandakan bahwa pengaruh Islam semakin menguat dalam Kerajaan Luwu.

Hal ini bisa dilihat dari konstruksi kompleks ibukota kerajaan yang baru, di mana masjid dan istana dibangun berdekatan membentuk satu komplek kerajaan. Satu unsur lagi yang dibangun dalam kompleks kerajaan Luwu adalah lapangan luas yang terbuka (alun-alun). Struktur dan tata letak pusat pemerintahan yang seperti ini mirip dengan struktur dan tata letak kerajaan Islam di Jawa. Seiring dengan penamaan masjid ini dengan Masjid Palopo, daerah tersebut kemudian juga disebut sebagai daerah Palopo. Maka, sejak tahun 1604 M tersebut, daerah Ware ini berubah nama menjadi Palopo.

Di dalam Masjid Jami' Tua Palopo

Keunikan Arsitektur Masjid Jami' Tua Palopo

Masjid Tua Palopo berukuran 11,9 m x 11,9 m, tinggi 3,64 m, dengan tebal dinding 0,94 m yang terbuat dari batu cadas yang direkatkan dengan putih telur.  Arsitektur Masjid Tua Palopo ini sangat unik. Ada empat unsur penting yang melekat dalam konstruksi masjid tua ini, yaitu unsur lokal Bugis, Jawa, Hindu dan Islam.

Unsur lokalBugis terlihat pada struktur bangunan masjid secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susun yang mengikuti konsep rumah panggung. Konsep tiga susun ini juga konsisten diterapkan pada bagian lainnya, seperti atap dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun; tiang penyangga juga terdiri dari tiga susun, yaitupallanga (umpak),alliri possi (tiang pusat) dansoddu; dinding tiga susun yang ditandai oleh bentukpelipit (gerigi); dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, dimulai dari warnahijau,putih dancoklat.

UnsurJawa terlihat pada bagian atap, yang dipengaruhi oleh atap rumahjoglo Jawa yang berbentuk piramida bertumpuk tiga atau sering disebuttajug. Dua tumpang atap pada bagian bawah disangga oleh empat tiang, dalam konstruksi Jawa sering disebut sokoguru. Sedangkan atap piramida paling atas disangga oleh kolom (pilar) tunggal dari kayu cinna gori (Cinaduri) yang berdiameter 90 centimeter. Pada puncak atap masjid, terdapat hiasan dari keramik berwarna biru yang diperkirakan berasal dariCina.

UnsurHindu terlihat pada denah masjid yang berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konstruksi candi. Pada dinding bagian bawah, terdapat hiasan bunga lotus, mirip dengan hiasan diCandi Borobudur.

Pada dinding bagian atas juga terdapat motif alur yang mirip dengan hiasan candi di Jawa. UnsurIslam terlihat pada jendela masjid, yaitu terdapat lima terali besi yang berbentuk tegak, yang melambangkan jumlahshalat wajib dalam sehari semalam.

Renovasi Masjid Jami' Tua Palopo

Masjid Tua Palopo sudah beberapa kali renovasi untuk perbaikan. Renovasi pertama pada 1700 M dengan perbaikan pada lantai. Kedua, pada 1951, mengganti lantai yang lama dengan lantai dari tegel yang didatangkan dari Singapura. Renovasi ketiga pada 1981 untuk memperbaiki seluruh bagian masjid yang rusak. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti yang sekarang ini. Lahan masjid ini seluas 1.680 m².

Referensi

-----------------------------ooOOOoo------------------------------

Baca Juga Artikel Majid Tertua Lainnya

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Penuh Daya Pikat

Masjid Kasepuhan Cirebon, Kebesaran Masa Lalu

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done