Islami Pedia: Masjid di NTB
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di NTB. Show all posts
Showing posts with label Masjid di NTB. Show all posts

Monday, August 17, 2020

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin merupakan Masjid Kesultanan Bima.

Masjid Kesultanan Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal menjadi Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali dalam tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan Bima ke-8, Wajir Ismail, pada masa ke-emasan Kesultanan Bimal. Nama masjid ini dinisbatkan pada Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943), Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh menjadi Sultan di Kesultanan Bima sebelum wilayah Kesultanan disatukan ke dalam daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masanya masjid ini merupakan pusat pendidikan & penyebaran Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya & menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan & kemajuan Islam di Bima. Selain itu, masjid ini sanggup diajdikan ikon wisata andalan pada Bima. Seperti halnya tatanan pemerintahan kesultanan pada Nusantara, masjid Kesultanan Bima ini pula menjadi elemen penting yang sebagai kesatuan menurut pemerintahan Kesultanan Bima baik dari tata letak bangunan maupun dalam nafas pemerintahan Kesultanan.

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Jl. Sukarno Hatta, Kampung Sigi, Kelurahan Paruga

Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima

Provinsi Nusa Tenggara Barat

Lokasi masjid ini berada Kampung Sigi atau Kampung Masjid, tepatnya berada disebelah tenggara Museum Asi Mbojo, disebelah selatan alun alun Serasuba. Konsepsi tata letak bangunan kesultanan Bima tidak jauh tidak sama menggunakan kebanyakan rapikan letak bangunan kesultanan di tanah Jawa dengan memasukkan masjid sebagai galat satu elemen utamanya. Terdiri berdasarkan bangunan Istana kesultanan Bima, Masjid kesultanan dan alun-alun Serasuba.

Masing-masing unsur menciptakan satu kesatuan yang utuh antara pemerintahan (istana), religi (masjid), dan rakyat (alun-alun). Alun-alun Serasuba dari menurut istilah sera dan suba. Sera berarti tanah lapang, dan suba secara harfiahnya bermakna tombak, yang dikonotasikan menggunakan perintah atau titah. Jadi, alun-alun Serasuba dulu didirikan menjadi tempat bagi Sultan Bima buat mengungkapkan titah (perintah) kepada rakyatnya.

Di komplek Masjid Sultan Salahudin ini terdapat makam para petinggi kesultanan dan keluarganya yg berada pada sebelah barat bangunan masjid, termasuk makam Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, yang pertama kali menciptakan masjid tersebut. Setelah sekian lama tenggelam menurut anjung sejarah, Kesultanan Bima dibangkitkan kembali dalam tanggal 4 Juli 2013, dengan penobatan Sultan Bima ke 16, Sultan Jena Teke H. Ferry Zulkarnain. Meskipun sekarang legitimasi Sultan tidak lagi berkuasa pada ranah politik misalnya pada lalu namun lebih kepada sosok pengayom adat, tadisi, budaya dan kepercayaan Islam pada daerah kesultanan Bima.

Sejarah Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali dalam tahun 1770 M sang Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan ke-VIII. Pembangunan disempurnakan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yg mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip dengan Masjid Masjid Tradisional pada Pulau Jawa. Tetapi, pada masa perang global ke 2 masjid Kesultanan Bima tadi hancur lebur dibom sang pasukan Sekutu pada tahun 1943, saat Bima diduduki Jepang. Hanya tersisa mimbar masjid yg selamat dari kehancuran itu.

Pada tahun 1990, Hajah Siti Maryam yg merupakan putri menurut mendiang Sultan Muhammad Sallahuddin (Sultan Bima ke 15) memugar Masjid Kesultanan Bima & membangunnya pulang misalnya aslinya sebagai upaya konservasi terhadap bangunan masjid bersejarah tadi & kemudian dinamai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh pada Kesultanan Bima sebelum lalu bergabung menggunakan NKRI.

Sejarah Islam di Bima

Di dalam masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Buya Hamka, ulama legendaris Indonesia, pernah menyatakan Bima sebagai galat satu sentra syiar Islam pada Indonesia. Menurut catatan sejarah, tahun 1540 M merupakan tonggak awal kedatangan Islam pada tanah Bima. Proses islamisasi itu berlangsung pada 3 termin yaitu periode kedatangan Islam tahun 1540 ? 1621, periode pertumbuhan islam tahun 1621-1640 M, dan periode kejayaan islam dalam tahun 1640 ? 1950 M. Pada tahap awal sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan, ajaran Islam sudah masuk pada daerah-wilayah pesisir Bima.

Pada abad ke-16 M, Bima sudah menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai di wilayah bagian timur Nusantara. Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 M, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi oleh para  pedagang Nusantara dan para pedagang Bima berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda dan Malaka serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara. “Pada saat inilah kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam” kata sejarawan dan Indonesianis Prancis Henry Chambert-Loir dalam bukunya, Bima dalam Sastra dan Sejarah.

Masjid Sultan Bima di malam hari.

Persinggungan Bima menggunakan Jawa dan saudagar saudagar Islam melalui jalur bahari terjadi karena Bima berada pada jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Dari situ, pedagang & mubaligh berdasarkan Jawa & daerah muslim lainnya tiba ke Bima membuatkan Islam. Ataupun sebaliknya orang-orang Bima pulang berdagang ke Jawa & daerah muslim lainnya kemudian pulang dengan membawa ajaran Islam.

Seperti tertulis pada galat satu bo atau buku catatan kerajaan, dalam tahun 1640 Ruma Ta Ma Bata Wadu, Raja Bima ke-27, menikah menggunakan wanita bernama Daeng Sikontu, adik ipar menurut Sultan Alauddin, raja Makassar Alauddin. Lantaran perkawinan itu, Sang Raja memeluk agama Islam. Ia pun membarui gelar dan nama sebagai Sultan Abdul Kahir. Ialah sultan Bima pertama yg beragama Islam. Dengan demikian, Bima sudah menjadi sebuah kesultanan di abad ke 17 miladiiyah menggunakan perubahan status kerajaan menjadi sebuah kesultanan.***

Referensi

kekunaan.blogspot.co.id - masjid-sultan-muhammad-salahuddin

diasporaiqbal.blogspot.co.id - menengok-masjid-kesultanan-bima

alanmalingi.wordpress.com - menyusuri-jejak-islam-di-tanah-bima

Sunday, August 16, 2020

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Megah menggunakan gemerlap lampu lampu yg menerangi bangunan masjid Agung Darussalam pada KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Agung Darussalam merupakah masjid agung kabupaten Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lokasi nya berada pada dalam tempat komplek tempat kerja pemerintahan terpadu kabupaten Sumbawa Barat yg diberi nama komplek KTC ? Komutar Telu Center pada Kecamatan Taliwang, sebuah komplek sentra pemerintahan kabupaten yg sangat impresif, jika dilihat berdasarkan ketinggian komplek sentra pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat ini terlihat dengan kentara dibangun menggunakan denah persegi delapan sebagai galat satu simbol global Islam, menyiratkan kehidupan Islami berdasarkan masyarakat kabupaten Sumbawa Barat yang secara tradisi terbuka serta siap menerima masukan berdasarkan manapun bagi kemajuan kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan masjid ini adalah keliru satu bangunan yg di dahulukan pembangunannya beserta dengan 2 gedung krusial lainnya, yakni, gedung Graha Fitra yg merupakan tempat kerja Bupati Sumbawa Barat & gedung Sekretariat pemerintahan daerah (Sekda) kabupaten, yg diklaim menjadi bangunan tiga serangkai. Pemilihan nama Graha Fitrah bagi nama gedung loka berkantornya Bupati, wakil Bupati & perangkatnya ini sebagai upaya buat senantiasa mengingatkan siapapun yang berkantor disana buat senantiasa kembali kepada fitrah sebagai pengemban amanat masyarakat yang wajib dipertanggungjawabkan baik pada global maupun di akhirat kelak.

Kubah hijau layaknya kubah masjid nabawi, Masjid Agung Darussalam hadir pada komplek sentra pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat.

Masjid Agung Darussalam Taliwang selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan bupati KH Zulkifli Muhadli, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 32 milyar Rupiah. Luas bangunan masjid ini 15.500 m2 sedangkan luas keseluruhannya dan 48.500 m2, dan berdaya tampung mencapai 8.000 jemaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid termegah dan terbesar di kabupaten Sumbawa Barat, dan tentu saja menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB yang sudah sejak lama dikenal dengan julukan provinsi seribu masjid.

Secara resmi Masjid Agung Darussalam mulai dipergunakan pada hari kamis 9 Juli 2010. Penggunaan masjid ini mulai diberlakukan untuk dapat dipergunakan dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Beberapa program kerja yang telah disiapkan oleh pengurus masjid antara lain program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan agama, kajian buku, dan kegiatan ilmiah lainnya.

Masjid Darussalam

Jl. Bung Hatta No.2 Kompleks KTC

Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Prov. Nusa Tenggara Barat

Indonesia

Masjid Darussalam ditopang oleh 99 tiang yang bermakna 9.9 nama Allah Swt. (Asma’ul Husna), 112 anak tangga yang menunjukkan surat Al-lkhlas sebagai surat ke-112 dalam Al-Quran, dan tiga lantai masjid yang mengimplementasikan tiga prinsip dasar masyarakat Sumbawa Barat. Tiga prinsip dasar tersebut adalah Assalamu’alaikum yang bermakna salam untuk silaturrah’im yang kokoh dalam persaudaraan yang harmonis sehingga menciptakan kedamaian dan keselamatan, Warahmatullahi yang berarti rahmat, serta Wabarakatuh yang berarti berkah.

Sekeliling masjid dihiasi kolam seluas lebih kurang 5.000 m2. Bagian dalamnya terbuat dari kaca sebagai akibatnya terlihat menurut lantai basement. Selain itu, kolam yang merefleksikan bentuk bangunan tersebut jua dihiasi 120 titik air mancur. Untuk memasuki masjid, jamaah wajib melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep ini sangat jarang terlihat dalam bangunan masjid umumnya.

Interior masjid agung Darussalam Taliwang dilihat berdasarkan lantai dua

Untuk mengumandangkan azan, masjid menggunakan delapan titik tempat pengeras suara. Jumlah ini mengandung makna bahwa syiar Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, juga melambangkan delapan kecamatan yang ada di Sumbawa Barat. Kubah besar di atap masjid melambangkan makna tauhid “laa ilaaha illallah”, dikelilingi lima kubah kecil sebagai representasi rukun Islam. Rukun iman direpresentasikan melalui tiang penyangga utama yang berjumlah enam buah. Adapun dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri masjid melambangkan dua kalimat syahadat. Interior masjid menampilkan pilar-pilar yang kokoh guna menciptakan skala ruangan yang agung dan megah.

Dominasi warna putih sebagai wujud kesucian dengan kombinasi warna emas dan hijau serta kaligrafi yang menghiasi sepanjang dinding masjid memberi kesan sejuk dan tenang. Selain di ruang utama yang berada di lantai satu, hiasan kaligrafi yang mengelilingi dinding terlihat di lantai dua dan tiga. Kedua lantai ini secara tata bangunan mengelilingi ruang utama masjid dan berfungsi layaknya mezzanine. Sebagai sentralisasi visual pada interior masjid, tepat di bagian tengah bawah kubah dalam terdapat lampu gantung dari kuningan. Lampu seberat sekitar 600 kilogram itu dipenuhi oleh 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan.

Masjid Agung Darussalam dengan Tugus Syukur (sebelah kanan foto)

Masjid Agung Darussalam Taliwang ini cukup semarak dengan beragam aktivitas termasuk selama bulan suci Romadhan, salah satu aktivitas nya adalah menyelenggarakan Pesantren kilat yang diikuti oleh  siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MAN/SMK. Serta program kompetisi pemilihan da’i cilik.

Musabaqah Tilawatil Qur?An (MTQ) ke XXIV tingkat provinsi NTB

Hari Rabu malam 9 November 2011, masjid Agung Darussaam Taliwang ini menjadi tuan rumah pelanksaan pembukaan MTQ ke XXIV tingkat provinsi NTB yang berlangsung meriah. Pembukaan MTQ tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Acara yang dihadiri ribuan kafilah dan tamu undangan dari seluruh kabupaten / kota di NTB serta masyarakat setempat tersebut turut dimeriahkan dengan atraksi kembang api. Kembang api yang digunakan pada upacara pembukaan MTQ NTB ini merupakan jenis kembang api yang pertama digunakan di Indonesia dan juga akan digunakan dalam pembukaan Sea Games ke-26 di Palembang.

Referensi

sumbawabaratkab.go.id -Masjid Agung Darussalam KTC Mulai Dipergunakan

gaungntb.com -Arah Kiblat Masjid Darussalam Sudah Tepat

gaungntb.com -Pembukaan MTQ di KSB Berlangsung Spektakuler

sumbawabaratkab.go.id -Kemutar Telu Centre (KTC)

sumbawabaratkab.go.id -Pesantren Kilat dan Da'i Cilik: Semarak Ramadhan Bagi Pelajar

duniamasjid.islamic-center.or.id -masjid-agung-darussalam

Baca Juga

Masjid ?Bengak? Al-Raisiyah Masjid Tertua pada Mataram

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Masjid Al-Falah atau lebih dikenal sebagai masjid Pusaka pada desa Songak

Masjid Pusaka Songak, merupakan masjid tua suku sasak yg berada pada Desa Songak, kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Al-Falah tetapi lebih dikenal dengan nama Masjid Pusaka. Desa Songak secara tradisi turun temurun sampai kini adalah rakyat muslim yg menjunjung tinggi ajaran agama Islam pada kehidupan mereka. Masjid adalah salah satu elemen yang teramat krusial pada kehidupan rakyat Songak yang dari cerita turut merupakan keturunan berdasarkan Raja Selaparang & Bayan.

Konon, masjid ini dibangun ditempat yang dulunya merupakan tempat bertemunya para wali yang dikemudian hari dibangun masjid menjadi penanda loka tersebut. Menurut tradisi setempat, Masjid pusaka Songak dibangun sekitar tahun 1309 Miladiyah oleh sembilan orang tokoh yg dikenal dengan nama Ki Sanga Pati. Sebelum kedatangan sembilan orang tersebut, desa Songak sudah lama menjadi kota hantu tak berpenghuni karena ditinggalkan seluruh penduduknya yang tidak betah lagi tinggal disana akibat pada cap menjadi warga Leak.

Sekitar tahun 1299 sembilan orang tokoh tersebut tiba di desa Songak yang telah tidak berpenghuni dan menetap disana. Mereka sengaja datang dan menetap ke desa Songak untuk menyepi menurut keramaian. Setelah bertahun tahun tinggal disana baru lalu masyarakat pada luar daerah desa itu mengetahui eksistensi mereka dan berangsur balik tinggal di desa Songak. Nama Songak bagi nama desa ini, syahdan jua berasal berdasarkan kata Sanga dalam nama Ki Sanga Pati yang membuka balik desa itu menggunakan membawa ajaran Islam, selesainya begitu lama ditinggalkan para penghuninya.

Tradisi Masjid Pusaka Songak

Masjid ini diyakini sang Masyarakat Songak sebagai loka penyimpanan semua kekayaan Datu Selaparang I. Masjid ini sang Masyarakat Songak dahulu dijadikan menjadi ajang pertahanan menurut serangan musuh perorangan maupun berkelompok. Pada jaman dahulu, mereka yg akan berangkat berperang akan berkumpul pada masjid ini untuk berdoa bersama dipimpin oleh pemimpin mereka, sesudah berdoa pada masjid ini barulah mereka berangkat berperang. Tradisi tadi disebut dengan tradisi Mangkat. Selain tradisi Mangkat, tradisi lainnya yg diselenggarakan di masjid ini merupakan tradisi tahunan pengesahan minyak Ki Sanga Pati yg sekarang populer dengan Minyak Songak. Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabi?Ul Awwal, menjadi bagian menurut Ritual Mulut Adat atau peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Selain tradisi tradisi tadi terdapat tradisi Ritual Bubur Putiq disetiap bulan Muharram (athun baru Hijriah) pada lepas lima atau tanggal 10 atau paling lambat lepas 15 Muharram setiap tahunnya. Kemudian disetiap bulan Safar diselenggarakan tradisi Ritual Bubur Beaq, yang lalu dilanjutkan pada bulan berikutnya dengan penyelenggaraan ritual Mulut Adat misalnya sudah disebutkan sebelumnya. Hampir sepanjang tahun Masjid Pusaka Songak ini ramai dengan aneka macam macam ritual tradisi kecuali 3 bulan yg diklaim menjadi Bulan Suwung masjid ini sepi berdasarkan kegiatan selain aktivitas rutin sholat harus 5 waktu & sholat Jum?At.

Masjid Pusaka Songak ketika ini

Perkembangan Masjid Pusaka Songak

Masjid Pusaka Songak dibangun menggunakan atap daun alang alang dan masih dipertahankan hingga saat ini. Semenjak dibangun tahun 1308 Miladiyah masjid ini baru dilakukan perbaikan bagian atapnya pada tahun 1499 Miladiyah. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1549 Miladiyah, lalu secara rutin dilakukan perbaikan atap setiap kurun saat 25 tahun. Tahun 1719 wilayah Songak yang merupakan bagian dari kerajaan Purwa Dadi, jatuh ke dalam kekuasaan Anak Agung dari kerajaan Karang Asem, Bali. Masjid Pusaka Songak sepi menurut kegiatan ke-agamaan secara terang terangan, masayarakat setempat bahkan tidak berani menyebutnya sebagai masjid melainkan loka ibadah atau bahkan Bale Bleq (loka pertemuan banjar). Hal tadi berlangsung hingga penghujung abad ke 18.

Setelah peralihan penguasa barulah masjid ini kembali semarak. Sekitar tahun 1897-1899 masjid ini mulai dilengkapi dengan Kolam di halaman masjid tua ini. Kolam sebelah kiri buat jemaah perempuan & kolam buat jemaah laki laki di sebelah kanan. Pembangunan tadi bersamaan dengan pembangunan jembatan penghubung antara desa Songak dengan Desa Rumbuk. Pada masa itu jua dilakukan renovasi terhadap bangunan masjid Pusaka Songak dengan mulai digunakannya bahan bangunan semen namun tetap mempertahankan bentuk dan ukuran aslinya.

Renovasi selanjutnya dilakukan sekitar tahun 1920, saat itu desa Songak kedatangan seorang guru agama dari Darmaji Lombok Tengah yang mulai mengajak muslim Songak kembali menjalankan syariat. Muslim setempat kembali ramai sholat berjamaah di masjid Pusaka Songak.  Di masa itu juga dilakukan penggantian dinding masjid dengan dengan cetakan bata mentah  yang berukuran besar beberapa bahkan hingga berukuran 60 x 80 cm. Pengerjaan tembok ini di motori oleh Jero Kertasih (Kepala desa Songak), Papuq Candra (Penghulu Desa Songak), Papuq Delah (Sesepuh Masyarakat Songak) bersama Tuan guru dari Lopan. Kepengurusan masjid ini selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada penghulu desa yaitu Papuq Candra  Yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Papuq Pengulu sampai beliau wafat sekitar tahun 1980 dalam usia 160 tahun.

Perluasan Masjid Pusaka Songak

Di kurang lebih tahun 1962 pada desa Songak dibangun Masjid baru yg lebih besar bernama Masjid AL-Mujahidin atas prakarsa H. Athar & dari tahun 1972 kegiatan peringatan hari besar Islam juga sholat jum?At mulai dilaksanakan bergilir antara Masjid Pusaka Songak dengan masjid Al-Mujahidin. Di sepanjang tahun 1975 hingga tahun 1987 Masjid Pusaka Songak sempat mengalami ekspansi ke tiga sisi bangunannya menggunakan ditambahkan bangunan tambahan sampai menutupi bangunan utama yang merupakan bangunan orisinil masjid tersebut. Penambahan bangunan disekeliling masjid orisinil ini seakan sudah menutupi secara holistik bangunan aslinya. Seluruh bangunan tambahan tadi juga ditinggikan lantainya sama tinggi menggunakan bangunan asli.

Dikembalikan ke Bentuk Asli

Pada permulaan tahun 1999 masjid ini di kembalikan  seperti  bangunan semula, Dengan susah payah semua Masyarakat mengangkat kembali tanah urugan tahun 1987 secara bergotong royong menggali kembali timbunan tanah yang mengelilingi pondasi bangunan tua tersebut. Membangun kembali tembok bangunan asli yang sempat dirobohkan dan mengembalikan lagi bentuknya seperti semula. Barulah masjid tua berukuran 9 x 9 meter ini kembali kelihatan kokoh berdiri seprti yang kita saksikan sekarang ini.

Tahun 2005 halaman Masjid ini diperluas atas upaya dari Kepala desa Saifullah Aman sekaligus, bersamaan dengan diadakan nya peresmian keberadaan Makam sebengak yang diberi nama Makam Keramat Songak oleh Bupati Lombok timur pada Saat itu di pegang oleh Hajji Ali Bin Dahlan, yang terkenal dengan sebutan Ali Bd. Sedangkan perluasan halaman di sebelah selatan Masjid di  laksanakan  pada ahir tahun 2007, dan dilanjutkan  di bagian utara pada pertengahan tahun 2009.***

Referensi

Masjidsongak.Blogspot.Com

Baca Juga

Masjid ?Bengak? Al-Raisiyah Masjid Tertua pada Mataram

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Saturday, July 18, 2020

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Kuno Bayan Beleq

Pulau Lombok, di provinsi Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani dan Pantai Senggigi-nya yang menawan. Pulau nan indah disebelah timur pulau Bali ini menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam yang teramat tua namun masih terawat dengan baik hingga kini. Sebuah Masjid berarsitektur tradisional khas Pulau Lombok bernama Masjid Bayan Beleq. Masjid Bayan Beleq kini menjadi salah satu ikon pariwisata kabupaten Lombok Utara, bersama sama dengan Gunung Rinjani. Masjid kuno ini juga diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq di gambar dalam bentuk siluet bewarna merah menggambarkan integritas peradaban masyarakat Lombok Utara.

Lambang Kabupaten Lombok utara

Dalam situs resmi pemerintah kabupaten Lombok Utara disebutkan bahwa bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual. Konstruksi Masjid Kuno Bayan terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.

Lokasi Masjid Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Belek KLU NTB

Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara

Nusa Tenggara Bar. 83354

Masjid Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok dapat dicapai dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum atau dapat juga ditempuh dengan kendaraan sewaan. Masjid Bayan Beleq berjarak sekitar 87 kilometer dari kota Mataram, berada pada ketinggian 355 meter dari permukaan laut (*)

Sejarah Masjid Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Bayan Beleq diperkirakan dibangun dalam abad ke 17 masehi, meskipun tidak terdapat angka tahun yg niscaya. Namun Pengulu Adat Bayan berkeyakinan bahwa Masjid Bayan Beleq dibangun bersamaan menggunakan masuknya Islam ke pulau Lombok di Abad ke sebelas atau lebih kurang tahun 1020 masehi. Jika hal ini benar maka akan membarui sejarah masuknya Islam ke Indonesia yg selama ini selalu disebutkan masuk dan berkembang pada Indonesia kurang lebih abad ke 13 Masehi.

Walaupun nampak sederhana, Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok dan kecamatan Bayan sendiri memang terkenal sebagai salah satu pintu gerbang masuk nya ajaran Islam ke Pulau Lombok. Masjid Bayan Beleq telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Dikarenakan usianya yang lebih dari 300 tahun.

Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun menggunakan pondasi batu koral, dinding anyaman bambu & beratap daun

Arsitektur Masjid Bayan Beleq, Lombok

Bentuk bangunan Masjid Bayan Belek pada pulau Lombok ini serupa menggunakan bentuk bangunan tempat tinggal tempat tinggal tradisional orisinil rakyat Bayan. Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin nir akan menduga bahwa bangunannya adalah sebuah masjid. Ukurannya nisbi kecil sekitar 9 x 9 meter, berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yg dikeraskan & dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat berdasarkan bilah bilah bambu. Pondasi masjid memakai batu kali tanpa semen.

Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid sertabeleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal.

Denah masjid berbentuk bujur sangkar, panjang sisinya 8,90 m.  Di topang 4 Soko Guru (tiang utama) yang dibuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang tersebut berasal dari empat desa (dusun) yaitu : Tiang sebelah Tenggara, dari desa Sagang Sembilok. Tiang sebelah Timur laut, dari desa Tereng. Tiang sebelah Barat laut, dari desa Senaru, Tiang sebelah Barat Daya, dari desa Semokon.

Menurut informasi para Pemangku Adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para Pemangku Masjid yaitu : Tiang sebelah tenggara buat Khatib. Tiang sebelah timur bahari buat Lebai. Tiang sebelah barat bahari untuk Mangku Bayan Timur. Dan tiang sebelah barat daya buat Penghulu.

Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk 2 buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m, & tiang Mihrab 80 centimeter. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai resistor atap pertama, juga berfungsi menjadi tempat menempelkan dinding terbuat menurut bambu yg dibelah menggunakan cara ditumbuk, diklaim ?Pagar rancak?. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari 18 bilah papan kayu suren. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis, bahwa loka kedudukan ?Imam? (pemimpin) nir sama dengan ?Makmum? (pengikut atau rakyat). Perbedaan loka menampakan disparitas kedudukannya.

Atap berbentuk tumpang, terbuat dari bambu (diklaim ?Santek?). Pada bagian puncaknya masih ada hiasan ?Mahkota?. Ukuran tinggi dinding bangunan yg hanya 125 centimeter, jauh dibawah berukuran tinggi rata-homogen insan normal. Dengan demikian, setiap orang yg hendak masuk ke pada masjid nir mungkin berjalan menggunakan langkah tegap, tetap harus menunduk. Hal ini pun mengandung makna penghormatan.

Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia akhirat.

Pada bagian atas mimbar, masih ada hiasan berbentuk naga. Pada bagian ?Badan naga? Terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu pula terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, & rusa. Di pada seni rupa Islam pada umumnya, hampir nir pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hayati yg digambarkan secara kentara. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup dalam mimbar masjid di Bayan Beleq menampakan betapa kuatnya dampak tradisi pra Islam yang masih mewarnainya.

Tradisi Semetian di desa Bayan

Tradisi Tradisi pada Masjid Bayan Beleq

Tradisi Renovasi dan Perbaikan Masjid Bayan Beleq

Bahan atap bangunan masjid diambil berdasarkan loka spesifik, pada desa Senaru. Bila atapnya rusak atau musnah, perbaikannya wajib dalam tahun Alip yg datangnya sewindu (8 tahun) sekali. Pembebanan biayanya secara tardisional telah terbagi pada masyarakat desa pada sekitarnya yaitu : atap sebelah utara, desa Anyar. Atap sebelah timur, desa Loloan. Atap sebelah selatan, desa Bayan. Atap sebelah barat, desa Sukasada. Pelaksanaan pemugaran dilakukan secara gotong royong, dipimpin sang para Pemangku Adatnya.

Tradisi Semetian di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Masjid Bayan Beleq kini tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masjid ini akan kembali ramai pada hari hari besar Islam. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad. Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung ini diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, semisal harus menggunakan baju adat sasak sepertidodot, sapuk, dan lainnya.

Prosesi Maulid adapt ini diawali menggunakan Menutu Dirantok Belek atau menumbuk padi yang dilakukan sang inaq Lokak serta Inaq Menik, para Inaq Lokak, pembekel, pande, istri para pranata tata cara yang ada di Karang Bajo. Sebuah simbol dari ungkapan rasa syukur akan keberhasilan panen. Dilanjutkan dengan pembuatan reranggon, atau loka menyimpan sekam padi bulu, Kemudian dilanjutkan menggunakan prosesi menjemput alat musik tradisional atau Ngalu Gendang Gerantung dari tempat tinggal norma Bale Beleq Karang Bajo.

Prosesi selanjutnya merupakan menurunkan Penginang Lekoq Buaq, yg tujuannya untuk mempermaklumkan bahwa gendang dan alat musik tetabuhan lainnya bakal digunakan pada persiapan Maulid Adat. Setelah prosesi penginang terhadap alat musik yg terdiri menurut sebuah Gong, Gendang dan Gamelan dilakukan, kemudian dimainkan beberapa waktu pada Berugaq Malang, yg mengindikasikan bahwa dalam hari ini Entekkan Kayu Aik Mulud Adat Bayan sedang dilangsungkan.

Interior Masjid Kuno Bayan Beleq, sangat sederhana

Setelah beberapa saat ditabuh, peralatan musik ini lalu diboyong menuju Bale Beleq Bayan Barat, buat menjalani prosesi pemandian mata Gerantung Lanang atau Gong Pria, & Gerantung Wadon, yang mewakili simbol perempuan , buat kemudian ditabuh seraya menunggu keluarnya perbekalan yang sedang dipersiapkan di pada Bale Beleq Bayan Barat. Selama prosesi tersebut dilangsungkan, dilakukan juga prosesi pencarian Bambu Tutul oleh para pranata adat pada setiap dusun, buat kemudian dibawa ke Masjid Kuno, dipasang sebagai umbul-umbul pada setiap pojoknya, menyimbolkan bahwa perayaan ini dirayakan sang semua masyarakat Bayan pada segala penjuru mata ngin.

Keseluruhan prosesi ini dilakukan pada masing-masing dusun yang berada pada wilayah Bayan. Dan pada setiap Bale Beleq yg terdapat pada masing-masing dusun mempersiapkan perbekalan berupa beberapa helai kain tenun yang akan digunakan buat menghias masjid antik. Dulunya seluruh kain penghias dibuat menggunakan menenun, akan tetapi saat ini yang ditenun hanya kain buat umbul-umbul saja. Setelah semua perbekalan sudah siap, untuk kemudian diarak menuju masjid antik, diiringi Ngalu Gendang Gerantung, serta dikawal sang para pepadu yg membawa tameng serta tongkat peresean, disaksikan sang rakyat & wisatawan menyambut munculnya rombongan yang berjalan hanya diterangi sang sebuah lampu jojor, menuju areal halaman masjid kuno Bayan Beleq.

Setelah seluruh perwakilan dusun lengkap berada pada laman depan masjid, buat kemudian melakukan prosesi adat Ngegelaq, menghiasi masjid menggunakan kain tenun yang dibawa, menghias tiang masjid yg dibalut sang kain tenun tersebut, dilakukan oleh Kiyai Penghulu, Kiyai Lebe, Nyaka Mantri & Pemangku.

Pada waktu prosesi itu selesai yang ditandai menggunakan berdirinya umbul-umbul berwarna putih yg terbuat menurut kain tenun, acara yg dinantikan-tunggu khalayak ramai pun dilangsungkan. Peresean atau berdasarkan bahasa istiadat Bayan dinamakan Semetian ini dilangsungkan pada halamana masjid antik semalam suntuk. Semeti itu berarti rotan, dan waktu rotan ini diadu, akhirnya menjadi Semetian, yg bertujuan untuk saling unjuk dan mengukur kemampuan masing-masing pepadu.

Papan pengumuman yg menyatakan masjid kuni Bayan Beleq ini adalah benda cagar budaya yang dilindungi undang undang

Dibawah siraman sinar bulan para pepadu bertarung, seraya menantang satu sama lainnya. Untuk memeriahkan suasana para Pengembar atau wasit pun berteriak meminta dukungan kepada para penonton. Teriakan Pengembar ini pun disambut para penonton, memacu adrenalin setiap orang yang menyaksikan perseteruan tersebut.

Di pinggir medan laga, Ngalu Gendang Gerantung yang bertalu-talu, selain mengiringi proses Semetian, dilakukan juga prosesi Serucapan, sebuah prosesi untuk membayar Nazar atau mengucapkan nazar. Kedua prosesi ini Semetian dan Serucapan dilakukan semalam suntuk, dan berakhir menjelang Azan shubuh Tiba. Di hari kedua, prosesi adat ini dilanjutkan dengan mempersiapkan ternak yang akan dipotong dibalai adat masing masing, yang berada di bayan Timur, Bayan Barat, Lolongan, Bayun Birah, dan Karang Bajo. Untuk kemudian semua kegiatan selanjutnya terpusat di masjid kuno.

Sebelum menuju masjid kuno, di setiap balai norma pula dilangsungkan pembuatan Ancak berdasarkan bambu, indera yang dipakai untuk menyuguhkan nasi, sesudah sebelumnya Ancak tadi dilapisi daun pisang. Setelah seluruh persiapan dirampungkan, nasi Ancak ini lalu dibawa oleh Pemangku, Kiyai Lebe, Kiyai Penghulu Bayan Timur, Bayan barat, Karang Bajo, Lolongan, dan Bayun Birah, sambil diiringi Praja Maulud, iringan yang mendeskripsikan pasangan penganten yang dipayungi payung agung, menuju masjid antik.

Praja Mulud ini menunjukan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yg disimbolkan menggunakan pasangan penganten. Prosesi ini dilakukan sang pranata-pranata adat Bayan. Setelah berada pada pelataran dalam masjid, dilanjutkan menggunakan proses Periyapan Selametan Praja Mulud atau Selametan Maulid Adat Bayan, yg doanya dipimpin Kiyai Penghulu, sekaligus menutup proses perayaan Maulid Adat yg berlangsung selama 2 hari, menurut Lingsereat atau kalender adat Bayan, yg memberitahuakn 12 Rabiul awal bulan atas, atau tepat tidak sinkron tiga hari menggunakan kalender perayaan Maulid secara Nasional.

Meski sudah berumur sangat tua, masjid ini permanen terawat hingga sekarang

Tradisi Idul Fitri

Masyarakat muslim  bayan tempat dimana masjid  bayan beleq ini berada memiliki tradisi sendiri dalam merayakan hari raya idul fitri. Sholat idul fitri diselenggarakan di hari ketiga bukan di hari pertama idul fitri, permulaan puasa ramadhan pun dimundurkan tiga hari dibandingkan dengan kalender Islam.

Sholat idul fitri di masjid Bayan Beleq ini hanya dihadiri Puluhan kiyai, penghulu, lebe, ketip (khotib), Modin (muazin) & kiyai santri yang jumlahnya tidak lebih menurut 44 orang mengenakan baju dan ikat ketua berwarna putih, memasuki masjid bayan untuk menggemakan bunyi takbir. Yang lalu dilanjutkan menggunakan sholat idul fitri, & khutbah idul fitri semuanya disampaikan dalam bahasa arab. Seusai khutbah, para kiyai inipun berjabat tangan sambil membaca shalawat Nabi, dan dilanjutkan dengan silaturrahmi pada rakyat norma Bayan. Dan acara lebaran ini dikenal menggunakan lebaran tata cara. Masjid Bayan beleq memang nir boleh dimasuki oleh sembarangan orang, hanya para tokoh tata cara dan pemimpin kepercayaan Islam saja yang diperkenankan masuk dan sholat di masjid tua ini.

Sehari menjelang pelaksanaan sholat Id, aneka macam persiapanpun dilakukan, misalnya menyediakan kuliner bagi para kiyai, pengulu & tokoh rakyat yang akan menjalankan sholat Idul Fitri, mengeluarkan zakat, & lain-lain. Dalam hal zakat fitrah, warga tata cara Wetu Telu bukan saja mengeluarkan kuliner pokok seperti beras saja, tapi pula dilengkapi dengan aneka macam hasil bumi lainnya yg diserahkan kepada para tokoh kepercayaan .

Syahdan berdasarkan keliru satu tokoh masyarakat setepat, tradisi sholat idul fitri di hari ke tiga bulan syawal itu bermula pada jaman penjajahan Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda dulu, setiap lepas 1 Syawal, daerah Bayan selalu mendapat supervisi ketat dari kaum penjajah, sebagai akibatnya pelaksanaan sholat Id tidak berani dilakukan. Namun karena warga yang beragama Islam di Bayan saat itu cukup taat menjalankan perintah agamanya, ketimbang tidak dilaksanakan lebih baik ditunda, hingga melihat bulan menggunakan nyata yaitu lepas tiga Syawal. Sebuah pekerjaan tempat tinggal yang nir ringan bagi ulama setempat buat meluruskan tradisi lama tersebut.

Video Masjid Bayan Beleq

Referensi

Mediaindonesia.com-Kesederhanaan Masjid Bayan Beleq

Primadonalombok-Gema Takbir Dari Masjid Tua

Kompasiana - Prosesi Tradisi Maulid Adat di Bayan Lombok

Purbakalabali.com-Studi teknis Masjid Kuno Bayan Beleq, Lombok Barat

Suarakomunitas.net-Komunitas Adat Wetu Telu Laksanakan Sholat Idul Adha

Situs resmi - Pemkab Lombok utara

Baca Juga

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Agung Air Mata - Kupang

Masjid ?Bengak? Al-Raisiyah Masjid Tertua di Mataram

Tuesday, June 16, 2020

Masjid “Bengak” Al-Raisiyah Masjid Tertua di Mataram

Masjid Al-Raisiyah atau juga seringkali disebut Masjid Bengak di kawasan Sekarbela, kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Al-Raisiyah atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Bengak berdiri kokoh diantara perkampungan warga di Sekarbela, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Masjid yang dibangun diatas lahan seluas 10 hektar. merupakan peninggalan tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak yang hidup pada abad ke 17 Masehi.

Kata ‘Bengak” yang melekat pada nama masjid ini, dalam bahasa setempat berarti “heran”. Dalam perjalanan sejarah masjid ini disebutkan bahwa, pada masa awal penyebaran Islam di Kawasan tersebut merupakan daerah yang sulit untuk mendapatkan air bersih. Sampai suatu hari pada saat Gaus Abdul Razak sedang memimpin pengajian di masjid tersebut yang kala itu masih berupa bangunan yang sangat sederhana, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat ter-“heran heran” dengan kejadian tersebut.  Keajaiban air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Lokasi Masjid Bengak al-Raisiyah

Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela

Kota Mataram, Prov. Nusa Tenggara Barat

Indonesia

Sejak berdiri, masjid tersebut sudah 4 kali direnovasi, Renovasi yang pertama dilakukan setelah Masjid terbakar akibat peperangan antara masyarakat Sekarbela yang menuntut kematian Tuan Guru Padang Reak dengan penguasa saat itu. Saat itu. Bentuk masjid Sekarbela berbentuk empat persegi dengan dinding bedek, atap rumbia, lantai tanah dan yang menjadi ciri khas adalah empat soko guru. Setelah kebakaran, Masjid dibangun kembali oleh TGH Mustafa dan TGH Moh. Toha. Bentuk Masjid masih sederhana dengan empat soko guru. Dari peninggalan yang ada yakni sebuah kaligrafi tertulis angka 1350 Hijriah.

Saat itu bangunan Masjid sudah lebih baik dari sebelumnya namun masih sederhana. Kemudian pada tahun 1890 M, atas prakarsa TGH M Rais, masjid direnovasi dengan memanfaatkan atap dari genteng. Jamaah yang semakin banyak menginspirasikan penerus selanjutnya, yakni TGH Muktamat Rais anak dari TGH Muhamaad Rais, untuk membangun kembali Masjid pada tahun 1974 dengan kontruksi beton.

(atas) Ukiran mimbar dan mihrab tua di dalam masjid, (kiri bawah) kolam di halaman Masjid Bengak. (kiri bawah) masjid bengak dari kejauhan.

Namun dikarenakan jamaah yang semakin beragamnya kegiatan, maka pada tahun 2001 Masjid direnovasi kembali dengan desain Timur Tengah dan berlantai tiga. Diperkirakan dana yang dihabiskan untuk membangun Masjid ini sekitar Rp 6 milyar Rupiah. Menghadirkan masjid Bengak yang Moderen, tekstur bangunan Masjid Al-Ra'isiyah itu meniru Masjid Nabawi. Hal tersebut tampak dari bentuk kubah dan menara setinggi 63 meter. Bahkan dinding pada mimbar Masjid berbahan marmer yang diambil dari Lampung, pulau Sumatera. Keseluruhan dana pembangunan tersebut hasil sumbangan dari warga masyarakat Sekarbela.

Kawasan Sekarbela sendiri terkenal sebagai sentra pengrajin mutiara, puluhan toko perhiasan berderet memamerkan kemilau aneka jenis mutiara. berbagai jenis perhiasan berbahan emas, perak, dan batu-batuan berharga lainnya, bila kita masuk ke kawasan Sekarbela banyak sekali dijumpai toko yang sekaligus difungsikan sebagai showroom berbagai macam perhiasan berharga, baik emas, perak, kecubung, safir, dan tentu saja mutiara yang menjadi primadona utama. Tak mengherankan bila kemudian pembangunan masjid Bengak yang begitu mahal mampu dipikul sendiri oleh warga setempat tanpa bantuan dari pihak luar.

Meski modern, Masjid tersebut tetap memiliki sejarah. Mimbarnya dihiasi oleh ukiran kayu ipil berwarna hitam setinggi 20 meter yang diukir dengan kaligrafi Surat Al-Jum’ah. Kayu tersebut diperkirakan berusia 100 tahun lebih. Kayu itu merupakan salah satu peninggalan sejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid Bengak itu, merupakan Masjid tertua di Kota Mataram. Keberadaan Masjid itu menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang Islami. Tidak jauh dari Masjid tersebut berdiri Pondok Pesantren yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Rais.

Mihrab dan Mimbar berukir di dalam masjid Bengak Al-Raisiyah

Masjid bengak dan air kolam ajaib

Menurut sesepuh masyarakat setempat, hadirnya tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak asal Jawa itu untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Lombok. Bahkan, menurut cerita, setiap tempat yang disinggahinya selama di Lombok, selalu diiringi munculnya sumber mata air, yang salah satunya terletak di Masjid Al-Ra'isiyah di Kota Mataram ini.

Dulunya daerah Kampung Sekarbela itu dikenal sebagai daerah tandus. Dalam sejarahnya daerah itu merupakan bagian dari daerah kekuasaan kerajaan Hindu dibawah pimpinan Anak Agung. Tak heran jika masyarakat Kampung Sekarbela saat itu, menganut faham animisme. Namun kondisi itu berubah seketika saat Gaus Abdul Razak masuk ke wilayah itu dan menyebarkan ajaran Islam.

Suatu ketika, Gaus Abdul Razak memimpin sebuah pengajian di masjid tersebut. Anehnya, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat kaget sehingga mereka pun menggalinya hingga kedalaman 8 meter.  Keajaiban munculnya air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Mata air tersebut, lanjut Alwi lambat laun terus membesar sehingga membentuk kolam. Meski demikian air tersebut tidak merusak bangunan masjid yang pada saat itu terbuat dari kayu ipil dengan beratapkan alang. Itulah mengapa masjid tersebut dinamakan 'Bengak', lantaran diambil dari bahasa sasak yang berarti heran. Masyarakat menjadi heran dengan kemunculan air yang berlimpah dari dalam tanah tersebut, yang akhirnya memakmurkan kehidupan warga.

interior masjid Al-Raisiyah

Tidak cukup sampai disitu, masyarakat mempercayai air tersebut mengandung kekuatan supranatural. Bahkan konon pada masa penjajahan Jepang, air itu berubah menjadi minyak yang oleh warga diyakini mampu menjadi kekebalan tubuh dari senjata tajam. Bahkan, sejumlah tentara Jepang yang terluka juga konon dibawa ke Masjid itu untuk memperoleh pengobatan.

Untuk menjaga kelestariannya, masyarakat sekitar membuat kolam berukuran 5 x 15 meter dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter, tepat didepan mimbar Masjid. Selain kolam juga terdapat sumur tua. Namun, sayangnya, hingga masjid tersebut semakin ramai di padati umat Islam yang beribadah, dan air yang keluar dari tanah kian membesar, Gauz Abdul Rozak meninggalkan kampung tersebut, dan menghilang hingga kini belum diketahui keberadaan makamnya.

Kini, masyarakat banyak menghabiskan waktu berbuka sambil duduk-duduk santai di palataran masjid. Haji Alwi menjelaskan suasana Masjid Bengak tersebut tetap ramai meskipun dihari biasa.***

Referensi

· Sasak.com

· Sekarbela, Kampung Mutiara di Lombok

· Jejak Islam di Lombok

Baca Juga

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Agung Air Mata - Kupang

Masjid “Bengak” Al-Raisiyah Masjid Tertua di Mataram

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done