Islami Pedia: Masjid di Maluku
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Maluku. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Maluku. Show all posts

Monday, July 27, 2020

Masjid Raya Al-Munawwar Ternate

Masjid Raya Ternate dari Arah Laut (foto dari matanews.com)

Masjid Raya Al-Munawwar Kota Ternante, propinsi Maluku Utara. Merupakan masjid yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota itu. Masjid yang begitu menawan dipandang dari laut, dengan dua  menaranya yang memang dibangun di laut, memberikan pemandangan yang begitu indah. Masjid Raya Al-Munawwar kini menjadi landmark kota ternate. Bila dipandang dari arah laut masjid ini begitu menawan dengan gunung Gamalama di latar belakang.

Lokasi Masjid Raya Al-Munawwar Ternate

Masjid Raya Al-Munawwar terletak di tepi laut kawasan pantai Sewiring Gamalama Kota ternate, Provinsi Maluku Utara. Pantai Sewiring merupakan pusat berkumpulnya warga kota. Dari pantai ini bisa melihat kemegahan Pulau Maitara dan Tidore yang diabadikan dalam lembaran uang kertas seribu rupiah.

View Masjid Raya Al-Munawaroh, Kota Ternate in a larger map

Sejarah Pembangunan Masjid Raya Al-Munawwar

Mulai dibangun pertengahan tahun 2003 dengan dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) hampir senilai 48 miliar rupiah. Mulai dipakai pertama kali tanggal 6 Agustus 2010 dengan Sholat jum’at berjamaah sekaligus takbir akbar menyambut bulan suci ramadhan 1431H, meskipun belum keseluruhan pembangunan masjid selesai di kerjakan.  Walikota Ternate, Syamsir Andili Turut hadir dalama acara tersebut bersama ribuan ummat Islam Kota Ternate dan sekitarnya.

Masjid Raya Ternate di pandang ke arah laut (foto dari flickr.com)

Pembangunan Masjid Al-Munawwar ini sempat mengalami keterlambatan yang mengakibatkan Pemerintah Kota Ternate memberikan teguran kepada pelaksana pembangunan dan mewajibkan mereka membayar ganti rugi sebesar lima ratus juta rupiah sebagai rekomendasi dari hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) tahun 2007.

Arsitektur Masjid Raya Al-Munawwar

Foto dari molied.multiply

Masjid dibangun pada atas huma seluas 6 Hektar, dengan luas masjid nya sendiri mencapai 9512 meter persegi, dibuat buat menampung 15.000 jamaah sekaligus. Hal yg wajar mengingat kota Ternate memang bervisi menjadi kota Madani menggunakan penduduk 650 ribu jiwa lebih dan 95% penduduknya beragama Islam. Pembangunan masjid ini memakan saat selama tujuh tahun dari tahun 2003 sampai tahun 2010.

Masjid Raya Al-Munawwar dilengkapi dengan 4 menara setinggi 44 meter, dua dari menara tersebut memang dibangun di laut. Sesuai dengan Permendagri Nomor 45 Tahun 2007, Masjid Al-Munawwar termasuk kategori bangunan monumental dengan spesifikasi khusus. Dimana beberapa bahan bangunan masjid seperti keramik dan lampu didatangkan langsung dari Negara Turki.

Cukup menarik karena studi perencanaan struktur beton bertulang & pondasi tiang pancang pembangunan Masjid Raya Ternate ini dijadikan skripsi sang dua orang Mahasiswa acara sarjana Teknik, Universitas Muhamadiyah Malang tahun 2006 yg kemudian.

Video Masjid Raya Al-Munawwar Ternate

Sekelumit keindahan Masjid Raya Al-Munawwar Ternate dipandang dari arah laut dengan latar belakang gunung Gamalama, di bagian tengah rekaman video amatir berikut ini.

Foto Foto Masjid Raya Almunawwar

Masjid Raya Almunawwar dari arah laut (Panoramio)

Masjid Raya Almunawwar saat dalam proses penyelesaian (Panoramio)

Masjid Raya Almunawwar lebih dekat (Panoramio)

Fasad Masjid Raya Almunawwarr (Panoramio)

Masjid Raya Almunawarroh pelabuhan Ternate (Panoramio)

Fasad Masjid Raya Almunawwar (Panoramio)

Referensi

Ied, Jadi Salat Perdana Masjid Raya Ternate

Warga Ternate Miliki Masjid Raya

Dewan Rekomendasikan BPK Audit Menyeluruh

Mengemas Ternate Sebagai Water Front City

Walikota Resmikan Masjid Raya Al-Munawwar

Saturday, July 25, 2020

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Sigi Lamo, Masjid Kesultanan Ternate (panoramio)

Lokasi Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate atau Sigi Lamo berada di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara,Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Di bagian belakang masjid, terdapat benteng Oranye yang dibangun Belanda antara 1606-1607M.

Klik zoom ( ) buat melihat lebih dekat lokasi masjid ini

View Masjid Sigi Lamo - Ternate in a larger map

Sejarah Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate antara tahun 1920-1930
Belum ada angka valid tentang kapan Masjid Sultan Ternate ini pertama kali dibangun. Sejauh ini ada dua pendapat tentang tarikh pendirian masjid ini. Diperkirakan pendirian masjid ini telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin, raja Ternate kedua yang sudah beragama Islam dan mengukuhkan Islam sebagai agama resmi kerajaan serta mengganti gelar kolano (raja) menjadi Sultan. Namun direktori masjid bersejarah Departemen Agama RI menyatakan bahwa pendirian Masjid Sultan Ternate baru dilakukan awal abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1606 saat berkuasanya Sultan Saidi Barakati. Pembangunan masjid dilanjutkan oleh Sultan Mudafar dan diselesaikan oleh Sultan Hamzah pada tahun 1648 Masehi

Pada tahun 1679 Masehi, dilakukan renovasi oleh Sultan Sibori Amsterdam, Putra Sultan Mandarsyah, dengan bentuk atap tumpang 3 dan berbahan kayu. Tahun 1705 masehi masjid ini mengalami kebakaran, dan dibangun balik oleh Sultan Said Fathullah atau Kaicil Toluki atau Pangeran Rotterdam. Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1818 Masehi sang Sultan Muhammad Zain. Pemugaran terahir dilakukan dalam tahun 1983 dengan melakukan perombakan total tanpa merubah bentuk orisinil.

Akan namun, melihat fenomena sejarah, kurang lebih setengah abad sebelum Sultan Saidi Barakati naik tahta, Kesultanan Ternate telah mengalami kemajuan yg sangat pesat, baik pada bidang keagamaan, ekonomi, maupun angkatan perang. Perjuangan Sultan Khairun (1534-1570) dilanjutkan oleh penerusnya, Sultan Baabullah (1570-1583) buat mengusir pasukan Portugis, menjadi galat satu fase kegemilangan Kesultanan Ternate.

Masjid Sigi Lamo tampak depan (panoramio). Bentuk Gerbang multifungsi seperti

masjid Sigi Lamo ini telah sangat sporadis & sudah tidak lagi di aplikasikan pada

bangunan bangunan masjid baru pada Indonesia

Arsitektur Masjid Sultan Ternate

Sebagaimana Kesultanan Islam lainnya di Nusantara, Masjid Sultan Ternate dibangun tidak jauh berdasarkan istana Sultan Ternate, namun bukan menjadi bagian kompleks istana. Jarak antara keduanya kurang lebih 100 meter sebelah tenggara istana sultan yg dibangun tahun 1234M. Posisi masjid ini tentu saja berkaitan menggunakan kiprah penting masjid dalam kehidupan beragama di Kesultanan Ternate. Tradisi atau ritual-ritual keagamaan yang diselenggarakan kesultanan selalu berpusat pada masjid ini. Masjid Sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu menggunakan bahan perekat dari adonan kulit kayu pohon kalumpang.

Foto lama Masjid Sultan Ternate
Masjid Sultan Ternate dibangun diatas lahan berukuran 76,70 x 62,45 Meter dan bangunan berukuran 22 x 22,5 meter. Hampir menyerupai masjid tua di Jawa, lantai Masjid Agung Sultan Ternate juga ditinggikan. Bahan atap masjid pada awalnya menggunakan daun rumbia kemudian diganti dengan seng di tahun 1995. Atap masjid bertumpuk empat, dengan kemiringan yang tidak tajam, kecuali pada atap puncaknya. Di antara atap puncak dan atap bawahnya, terdapat celah kecil, untuk masuknya udara dan cahaya ke dalam ruagan. Pada setiap sisi atap puncak, terdapat jendela atap. Arsitektur ini nampaknya merupakan gaya arsitektur khas masjid-masjid awal di Nusantara, dimana masjid tidak memiliki kubah melainkan atap yang berbentuk limasan.

Ruang Utama Masjid Sultan Ternate
Saat ini, selain bangunan masjid yang masih utuh, peninggalan lain yang masih bisa ditemui di dalam masjid adalah empat buah koleksi kitab al-Quran, hasil tulisan ulama Ternate sendiri. Tulisannya masih jelas dan kertasnya masih baik, belum lapuk dimakan zaman, walaupun usianya sudah berabad-abad. Selama bulan Ramadan, al-Quran ini masih digunakan oleh masyarakat untuk /tadarusan/. Pada sisi selatan-timur masjid, terdapat sebuah sumur tua yang menyatu dengan masjid, digunakan untuk tempat berwudu.

Di laman depan masjid, tepat dalam sumbu garis mihrab, masih ada bangunan kecil bertingkat yang menjadi gerbang primer masjid. Di bagian atasnya dipakai sebagai tempat buat menyimpan beduk dan mengumandangkan azan. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar, atapnya sama misalnya atap bangunan utama masjid, tetapi hanya mempunyai 2 susun atap.

Tradisi Masjid Sultan Ternate

Larangan embargo

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Sultan Ternate Sigi Lamo. Masjid ini populer unik lantaran memiliki aturan-aturan tata cara yg tegas, misalnya embargo memakai sarung atau wajib mengenakan celana panjang bagi para jamaahnya, kewajiban memakai epilog ketua (kopiah), dan embargo bagi wanita buat beribadah di masjid ini. Berbagai aturan ini syahdan berasal menurut nasihat para leluhur (yg dianggap Doro Bololo, Dalil Tifa, dan Dalil Moro) yang hingga sekarang masih ditaati oleh masyarakat Ternate, terutama pada lingkungan istana kesultanan.

Dibawah Kubah limas Masjid Sultan Ternate
Menurut keterangan Imam Masjid Sultan Ternate yang bergelar Jou Kalem atau Kadhi, larangan-larangan tersebut memiliki dasar aturan yang kuat. Sejak dahulu, masjid memang menjadi salah satu tempat yang dianggap suci dan harus dihormati oleh masyarakat Ternate. Larangan kaum hawa untuk beribadah di masjid ini didasarkan pada alasan untuk menjaga kesucian masjid, yaitu supaya tempat ibadah ini terhindar dari ketidaksengajaan perempuan yang tiba-tiba saja datang bulan (haid). Di samping itu, kehadiran perempuan ditengarai juga dapat memecah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah di masjid ini.

Sementara larangan bagi jamaah yang memakai sarung atau pakaian sejenisnya didasarkan pada alasan yang bersifat tasawuf. Menurut kepercayaan mereka, posisi kaki pria ketika salat dengan mengenakan celana panjang menunjukkan hurufLam Alif terbalik yang bermakna dua kalimat syahadat. Hal ini sebagai perlambang bahwa orang tersebut telah mengakui ke-Esa-an Allah dan Muhammad sebagai utusannya, sehingga jiwa dan raganya telah siap untuk melaksanakan ibadah salat. Oleh sebab itu, setiap pria yang akan melaksanakan ibadah wajib mengenakan celana panjang.

Untuk menegakkan tradisi tersebut, setiap datang waktusalat, Balakusu (penjaga masjid) akan mengawasi setiap jemaah yang hendak memasuki masjid. Jika ada jamaah yang memakai sarung, maka akan ditegur dan disuruh mengganti dengancelana panjang. Jika tidak, maka jamaah tersebut disarankan untuk salat di tempat lain. Tak hanya wajib mengenakan celana, para jamaah juga diharuskan memakai penutup kepala atau kopiah. Hal ini agar para jamaah tidak terganggu oleh helai-helai rambut ketika sedang melakukansalat. Berbagai macam aturan ini berlaku tidak pandang bulu, sehingga harus ditaati oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk sultan dan para kerabatnya.

Tradisi Malam Qunut dan Kolano Uci Sabea

Prosesi Kolano Uci Sabea
Salah satu tradisi yang setiap tahun diadakan di Masjid Sultan Ternate adalahMalam Qunut yang jatuh setiap malam ke-16 bulan Ramadhan. Dalam tradisi ini, sultan dan para kerabatnya dibantu olehBobato Akhirat (dewan keagamaan kesultanan) mengadakan ritual khusus yaituKolano Uci Sabea, yang berarti turunnya sultan ke masjid untuk salat dan berdoa.

Kolano Uci Sibea dimulai dari istana menuju masjid untuk melaksanakansalat Tarawih. Sekitar pukul setengah delapan waktu setempat, sultan akan ditandu oleh pasukan kesultanan menuju masjid dan diiringi alunan alat musikTotobuang (semacan gamelan) yang ditabuh oleh sekitar dua belas anak kecil yang mengenakan pakaian adat lengkap di depan tandu sultan. Konon, alat musik ini merupakan pemberianMaulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) kepada salah satu Sultan Ternate yang berguru kepadanya.

Sebelum salat Tarawih dilakukan, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut sebagian orang, ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empatSoa (kelurahan pertama) di daerahTernate. Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan Dufa-Dufa), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid sultan sendiri. Namun, ada juga yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaituTernate,Tidore,Bacan, danJailolo. Keempat kerajaan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat biasa disebutMoloku Kie Raha (pemangku empat gunung atau kerajaan).

Usai melaksanakan Tarawih, sultan akan pulang ke istana dengan ditandu kembali seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di istana sultan bersama permaisuri (Boki) akan memanjatkan doa di ruangan khusus, tepatnya di makam keramat leluhur. Usai berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Tentu saja, pertemuan langsung antara sultan dan rakyatnya ini menarik minat masyarakat di seluruh Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya.

Dalam satu tahun, ritual Kolano Uci Sabea dilaksanakan empat kali, antara lain pada Malam Qunut, MalamLailatul Qadar (keduanya pada bulan Ramadhan), serta pada Hari RayaIdul Fitri dan Idul Adha. Pelaksanaan Kolano Uci Sabea dilakukan secara turun temurun oleh setiap Sultan Ternate hingga kini. Menurut kepercayaan, dalam kondisi apapunKolano (Sultan) memang harus melakukanSabea (salat) diSigi Lamo (Mesjid Sultan).

Dihapusnya Tradisi larangan bagi perempuan

Ornamen Mimbar Masjid Sultan Ternate
Hari Rabu tanggal 16 September 2009 bertepatan dengan tanggal 26 Ramadhan 1430 Hijriyah, Kolano (Raja) Ternate, Sultan Mudaffar Sjah, menghapuskan satu tradisi lama Masjid Sigi Lamo, yaitu tradisi yang melarang muslimah untuk sholat di Masjid Sultan Ternate atau Sigi lamo. Dalam ritual Kolano Uci Sabea tahun 2009M / 1430H menyambut datangnya malam Ela-ela atau Lailatul Qadar di masjid Kesultanan Ternate, Sultan Mudaffar Sjah mengajak serta Boki (permaisuri) Nita Budhi Susanti untuk salat di Masjid Sigi Lamo.

Bukan hanya itu saja, apabila sebelum-sebelumnya hanya kolano (sultan) yg ditandu menurut Istana menuju masjid, malam itu Boki Nita Budhi Susasti pun ikut ditandu menuju masjid Sigi Lamo. Bersama ratusan ibu-mak & remaja putri yg mengusungnya, Nita menjadi jamaah wanita pertama di masjid tersebut.

Meskipun tindakan Sultan tersebut sempat menjadi kontroversi di tengah rakyat Ternate, namun Sultan kukuh menggunakan pendiriannya buat menghapus tradisi tadi, pada pernyataannya pada wartawan dan warga , sultan berkata bahwa menjadi muslim dia berusaha sekuat energi untuk patuh pada tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Menurut sunnah Rasulullah bahwa sesungguhnya kewajiban salat bukan hanya bagi laki-laki saja akan tetapi jua buat perempuan .

Referensi

Keagungan Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate, Maluku Utara

Masjid Sultan Ternate

Runtuhnya Tradisi Masjid Sigi Lamo

Video Masjid Sultan Ternate

Azan di Masjid Sultan Ternate

Prosesi Malam Qunut pada Masjid Sultan Ternate

Sunday, June 21, 2020

Masjid Wapauwe, Masjid Tertua di Indonesia

Seperti halnya sejumlah daerah lain di Indonesia yang menyimpan sejarah peradaban agama-agama dunia, Provinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan sejarah Islam yang masih ada & tidak lekat dimakan zaman. Di utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun tahun 1414 Masehi. Masih berdiri kokoh dan sebagai bukti sejarah Islam masa lampau.

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, berdasarkan pusat Kota Ambon kita mampu menggunakan transportasi darat dengan menempuh ketika satu jam bepergian. Bertolak menurut Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan kita mampu menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yg terkadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan flora cengkih & pala hijau menyejukkan mata.

Sebelum mencapai Kaitetu, kita terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga, kita dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang. Tiba di simpang empat Hitu, kita harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah kita menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, kita akan menemukan Negeri Kaitetu.

KONSTRUKSI PELEPAH SAGU

Masjid yg masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yg sang warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya pada antara pemukiman penduduk Kaitetu pada bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kemarau) & beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai loka ber-shalat Jumat maupun shalat lima ketika, kendati sudah ada masjid baru di desa itu.

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi ukuran 6,35 x 4,75 meter. Typologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan orisinil pada ketika pendiriannya nir memiliki serambi. Meskipun kecil & sederhana, masjid ini memiliki beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu dalam setiap sambungan kayu.

Hal lainnya yang bernilai sejarah menurut masjid tadi yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Alquran yg konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua merupakan Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yg terselesaikan ditulis (tangan) dalam tahun 1550 & tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya merupakan Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis dalam tahun 1590, & juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy merupakan imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya merupakan cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf output ke 2 orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal pada Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya merupakan: Kitab Barzanzi atau syair puji-kebanggaan kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun.

Kesemuanya peninggalan sejarah tersebut, ketika ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yg masih tersimpan menggunakan baik pada tempat tinggal pusaka Hatuwe yg dirawat sang Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara tempat tinggal pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

RENOVASI

Masjid ini direnovasi pertama kali sang pendirinya, Jamilu dalam tahun 1464, tanpa merubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi ke 2 kali dalam tahun 1895 menggunakan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid.

Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai memakai semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi 2 kali renovasi akbar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 menggunakan pergantian 12 butir tiang menjadi kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, menggunakan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom primer.

Pada tahun 1997, atap masjid yang semula memakai seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap 5 tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini permanen orisinil karena nir merubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga sekarang. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat menurut pelepah sagu diganti yang baru.

WARISAN SEJARAH

Bukan suatu kebetulan, Masjid Wapauwe berada di wilayah yg mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter berdasarkan masjid ke arah utara, pada tepi jalan raya masih ada sebuah gereja tua peninggalan Portugis & Belanda. Kini gereja itu telah musnah akibat konflik kepercayaan yang meletus pada Ambon tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter berdasarkan gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdamdanquot;. Benteng peninggalan Belanda yang mulanya merupakan loji Portugis. Benteng New Amsterdam terletak pada bibir pantai ini dan sebagai saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

"Masjid ini mempunyai nilai historis arkeologis yang penting. Didalamnya terpancar budaya masa lalu sehingga perlu kita lestarikan," kata Pejabat Negeri Kaitetu, Yamin Lumaela, pada tempat tinggal Raja Negeri Kaitetu. Lumalea berharap, eksistensi Masjid Wapauwe beserta beberapa peninggalan sejarah Islam lainnya yg telah tua, sanggup menjadi keliru satu daerah atau daerah tujuan wisata pada Kepulauan Maluku.

"Sebelum kerusuhan banyak wisatawan yg tiba kemari. Kondisinya berubah ketika pertarungan. Sekarang pengunjungnya sangat kurang," ungkapnya. Berdirinya Masjid Wapauwe pada Negeri Kaitetu nir terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang tiba berdasarkan Timur Tengah membawa karakteristik khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan warga yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, yakni jazirah Hitu yg dikenal dengan sebutan Tanah Hitu. Ciri spesial ini kemudian melahirkan satu peradaban yg bernuansa Islam dan masih bertahan dilingkungan masyarakat setempat hingga ketika ini misalnya, budaya kesenian (hadrat), perkawinan, & khitanan.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu kurang lebih tahun 1400 M, yakni buat menyebarkan ajaran Islam dalam 5 negeri di lebih kurang pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala & Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa sang mubaligh dari negeri Arab.

Masjid ini mengalami perpindahan loka dampak gangguan dari Belanda yg menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 selesainya Portugis pada tahun 1512. Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda telah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yg sudah menganut ajaran Islam pada kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak kondusif menggunakan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan dalam tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane. Kondisi loka pertama masjid ini berada yakni di Lereng Gunung Wawane, dan kini ini telah menyerupai kuburan.

Dan apabila ada daun berdasarkan pepohonan di lebih kurang tempat itu gugur, secara ajaib tidak satupun daun yg jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada pada suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yg dalam bahasa Kaitetu dianggap Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, ialah masjid yg didirikan pada bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya bisa menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda lalu melakukan proses penurunan penduduk menurut daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tersebut. Proses pemindahan 5 negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan lalu menjadi tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

PINDAH SECARA GAIB

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan waktu masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung sebagai negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada pada dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika warga bangun dari tidurnya masjid secara mistik telah berada pada tengah-tengah pemukiman penduduk pada tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. "Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu, red) masjid ini berpindah secara gaib. Lantaran dari cerita orang tua-tua kami, waktu masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah terdapat," istilah Ain Nukuhaly, masyarakat Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun telah mengalami sedikit kerusakan misalnya berlobang mini , sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah dampak udara lembab.

Menurut Rahman Hatuwe, pakar waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut dampak faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat obat serbuk (nir disebutkan namanya) buat menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.

"Alquran Nur Cahya ini masih kentara, & ketika-waktu tertentu aku masih sering membaca (ayat-ayat kudus Alquran dari Mushaf ini, red) misalnya dalam ketika Ramadan sekarang ini," kata Rahman yang adalah keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy.

Sumber :Detiknews.com

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done