Islami Pedia: Masjid di Kalimantan Barat
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Kalimantan Barat. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Kalimantan Barat. Show all posts

Sunday, September 27, 2020

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Tertua di Pontianak, Kalimantan Barat

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak atau biasa dianggap

dengan Masjid Jami Pontianak (Foto dari ianimaru.com)

Sejarah kota Pontianak setali tiga uang dengan sejarah Islam di kota tersebut. Sejarah Pontianak dimulai di abad ke 18 ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie beserta para pengikut dan keluarganya membabat hutan untuk kemudian mendirikan pemukiman baru yang kemudian berkembangan menjadi kesultanan Pontianak.

Kesultanan Pontianak adalah tempat bertahtanya Sultan Hamid II, Sultan ke delapan sekaligus Sultan terahir dari kesultanan Pontianak sebelumnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia., beliau adalah penggagas dan perancang lambang Negara kita, Garuda Pancasila. Salah satu dari simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid Jami Pontianak berdasarkan arah Sungai Kapuas menggunakan latar depan

perahu motor yang adalah galat satu moda transportasi di

kota Pontianak (Foto dari vivanews.com)

Di komplek keraton tempatnya bertahta berdiri megah hingga kini sebuah masjid Jami Kesultanan Pontianak yang dibangun pertama kali oleh sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang sekaligus menjadi awal dimulainya sejarah kota Pontianak yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman – Pontianak.

Lokasi Masjid Sultan Abdurrahman

Masjid Sultan Abdurrahman berada pada dalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, propinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid tua ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk menggunakan pasar Ikan yg begitu dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid Jami? Bisa di jangkau dengan memakai sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan tunggangan darat melewati jembatan kapuas.

Koordinat geografi : -0°1'36"N   109°20'51"E

View Masjid Sultan Abdurrahman Kota Pontianak in a larger map

Sejarah Kota Pontianak

Sejarah kota Pontianak dimulai dari 23 Oktober 1771 bertepatan dengan lepas 24 Rajab 1181 Hijriah saat rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil & Sungai Kapuas buat membentuk tempat tinggal & sebuah surau sederhana. Tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang sebagai kota Perdagangan dan Pelabuhan.

Dalam bahasa Melayu, Pontianak berarti hantu kuntilanak. Dalam sejarahnya konon dalam waktu awal pembukaan daerah ini buat dijadikan tempat pemukiman baru oleh rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie acapkali diganggu oleh hantu kuntilanak, itu sebabnya tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Pontianak.

Foto dari pontianakpost

Pada hari senin tanggal 8 Sya’ban 1192H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Kesultanannya sendiri kemudian terkenal dengan nama kesultanan Kadriah, dinisbatkan kepada namanya. Tercatat 8 Sultan pernah berkuasa di kesultanan Pontianak sejak dari Sultan pertama Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808 hingga sultan terahir atau sultan ke delapan Syarif Hamid Alkadrie. Sultan terahir ini terkenal juga dengan nama Sultan Hamid II yang sudah disinggung di awal tulisan ini.

Letak sentra pemerintahan kesultanan Kadriah ditandai menggunakan berdirinya bangunan Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriah, kawasan masjid dan istana ini sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Kota Pontianak propinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ? Pontianak

Sultan Hamid II

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman didirikan sang Sultan Syarif Abdurrahman waktu pertama kali membuka kawasan hutan persimpangan 3 Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas tahun 1771. Tempat yg sekarang dikenal sebagai kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman pula membangun Istana tidak jauh berdasarkan masjid ini.

Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan seseorang keturunan Arab, anak Al Habib Husein, penyebar agama Islam dari Semarang (Jawa Tengah). Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib Husein menikah menggunakan putri Raja Matan (sekarang Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua, & dia diangkat menjadi Mufti Kerajaan. Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Dalam perkembangannya, lalu terjadi perselisihan antara Sultan menggunakan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan buat meninggalkan Kerajaan Matan, pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim pada kerajaan tadi sampai beliau tewas global. Setelah al-Habib Husein tewas dunia, posisinya digantikan sang anaknya. Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian menetapkan pulang berdasarkan Mempawah dengan tujuan untuk berbagi agama Islam.

Syarif Abdurrahman melakukan bepergian berdasarkan Mempawah menggunakan menyusuri sungai Kapuas. Ikut dalam rombongannya sejumlah orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman hingga di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian membuka & menebas hutan pada dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru, termasuk bangunan Masjid dan Istana & membangun Kesultanan Pontianak.

Masjid yg dibangun aslinya beratap rumbia & konstruksinya menurut kayu. Ketika Syarif Abdurrahman mangkat pada 1808 Masehi kekuasaanya diteruskan ad interim ketika oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karena putera Syarif Abdurrahman yg bernama Syarif Usman masih kanak-kanak waktu ayahnya mati global. Setelah Syarif Usman dewasa, beliau menggantikan pamannya menjadi Sultan Pontianak pada tahun 1822 sampai menggunakan 1855 Masehi. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Syarif Usman, & dinamakan menjadi Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Sejak masjid ini didirikan, selain berfungsi sebagai sentra ibadah, jua digunakan sebagai basis penyebaran Agama Islam pada kawasan tadi. Beberapa ulama populer yg pernah mengajarkan Agama Islam pada masjid ini di antaranya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H Ismail Jabbar & H Ismail Kelantan.

Arsitektural Masjid Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak

Subuh di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (foto dari panoramio)

Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman berdenah segi empat ukuran 33,27 meter x 27,74 meter, dikelilingi sang selasar melingkar berpagar dapat menampung lebih kurang 1.500 jamaah salat sekaligus. Bagian dalam masjid terdiri dari 26 shaf, setiap shaf bisa menampung sekitar 50 jemaah ditambah dengan area selasarnya.

Masjid akan penuh terisi jamaah salat, waktu waktu salat Jumat & tarawih Ramadan. Bangunan masjid berdasarkan kayu bulian ini dibangun seperti layaknya bangunan bangunan rakyat lebih kurang yang berupa tempat tinggal anjung. Tiang kayu masjid ini tadinya eksklusif bersentuhan menggunakan tanah tetapi kini telah pada cor setinggi 50 sentimeter pada atas permukaan dan 50 sentimeter ke dalam tanah buat mencegah pelapukan

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (antara)

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman hampir keseluruhan bangunan memakai kayu bulian, rona kuning mendominasi dinding kayu masjid ini ad interim plafonnya dicat menggunakan warna hijau. Warna kuning melambangkan keagungan sedangkan rona hijau melambangkan rona kenabian atau ke-Islaman. Atap masjid bertumpuk empat ditutup lembaran lembaran kayu bulian ukuran lebih akbar menurut atap sirap biasa. Antara atap paling bawah & ke 2, terdapat celah yang dipakai buat ventilasi. Jendela tersebut mengelilingi seluruh celah tadi, sehingga ruang pada cukup menerima cahaya pada siang hari.

Di atas atap kedua, terdapat teras yang cukup luas berbentuk segi empat panjang, di setiap sudutnya terdapat gardu. Karena ada empat sudut, maka terdapat juga empat gardu. Menurut sebagian warga setempat, gardu tersebut dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai simbol dari empat sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin yakni Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Hattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Nice view from kapuas river

(panoramio)

Teras pada atas lapisan atap kedua ini mengelilingi sebuah unit bangunan yang pula berdenah segi empat. Di atas unit ini terdapat atap lapis ketiga. Di atas atap lapis ketiga terdapat lagi unit mini misalnya gardu, berfungsi sebagai menara. Atap menara ini bersisi empat menggunakan dudur yg menciptakan penampang huruf S. Sehingga secara holistik menara ini berbentuk misalnya lonceng.

Untuk akses keluar masuk masjid, tersedia tiga pintu utama yang tingginya sekitar 3 meter. Satu pintu posisinya di bagian depan, satu di  sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Selain itu, di antara pintu-pintu besar tersebut, masih ada lagi 20 pintu lain dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (tinggi lebih kurang 2 meter).

Semua pintu pada masjid ini memiliki dua daun yang membuka keluar. Bahan utamanya dari kayu belian & kaca warna-warni yg berbentuk kotak-kotak akbar. Uniknya, fungsi pintu ternyata jua sebagai jendela. Model pintu masjid ini sama dengan rumah contoh usang. Bentuk & berukuran pintunya sama dengan jendela. Hanya saja di empat pintu bagian depan, sengaja dipasangi papan pagar sehingga bentuknya tampak lebih mini dan misalnya ventilasi zaman kini .

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman (antara)

Di pada masjid berdiri kokoh enam sokoguru menurut kayu bulian (kayu Ulin atau kayu besi) menggunakan diameter yang relatif akbar menopang struktur atap masjid. Enam pilar ini jua melambangkan 6 rukun iman. Selain sokoguru bundar tersebut terdapat lagi pilar pilar berbentuk segi empat menjulang ke langit langit masjid. Pilar segi empat ini jua ukuran diatas rata homogen dibandingkan dengan pilar pilar kayu yg biasa dipakai dirumah rumah penduduk.

Mihrab masjid ini berdenah segi enam melambangkan rukun Islam yang enam. Bentuk mihrab ini mirip dengan mihrab Masjid Tanah Grogot, Kalimantan Timur dan pada pada mihrab masih ada sebuah mimbar warna kuning mengkilap dengan ukiran-tabrakan yang latif berwarna emas. Di atas mimbar ini terdapat inskripsi huruf Arab yg menyatakan bahwa Sultan Syarif Usman membangunnya dalam hari Selasa Bulan Muharram tahun 1237H. Sultan Syarif Usman (1819-1855) atau Sultan ke-3 Pontianak tercatat menjadi sultan yang pertama kali meletakkan pondasi masjid ini kurang lebih tahun 1821 M/1237 H menggantikan bangunan bangunan masjid mini (mushola) yg dibangun ayahandanya Sultan Syarif Abdurrahman.

Rasanya sulit menemukan pemandangan seperti ini ditempat lain

tapi ini adalah jemaah sholat Ied di Masjid Jami Pontianak (antara)

Arsitektur dan bentuk dari masjid ini hampir semuanya masih asli. Pengurus masjid memang sengaja mempertahankan keaslian bangunan yang bernilai sejarah tinggi ini. Mengingat Masjid ini adalah ikon budaya sekaligus saksi perkembangan Kota Pontianak dari waktu ke waktu. Upaya mempertahankan keaslian bangunan juga merupakan titah dari Almarhum Sultan Hamid II.

Sekitar tahun 1960-an, pernah ada upaya untuk mengubah arsitektur dan bentuk asli masjid. Waktu itu, sempat dibangun dua buah menara tambahan di pojok masjid yang tingginya kira-kira 25 meter. Pondasi pun ingin diubah. Ketika itu, Sultan Hamid II (1945-1978) datang dari luar kota dan beliau tidak senang melihatnya. Beliau memerintahkan supaya bangunan baru itu dibongkar dan bentuknya dikembalikan lagi ke semula. Padahal menara itu sudah 90 persen jadi. Sejak saat itulah, upaya-upaya untuk mengubah bentuk atau arsitektur masjid ini tidak lagi pernah dilakukan hingga kini.

Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun di tanah Jawa, beberapa puluh meter pada sebelah selatan menurut masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Aspek rapikan letak masjid-istana & alun-alun ini misalnya ini memperlihatkan adanya imbas berdasarkan tradisi kesultanan pada tanah Jawa.

Foto Foto Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami Pontianak dipersimpangan sungai (Foto daridesaasri)

Senja di masjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak (skyscrapercity)

Menyembul diantara rumah rumah penduduk kampung Beting

(skyscrapercity)

Jemaah sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman(skyscrapercity)

Masjid Jami Pontianak (panoramio)

Masjid Jami Pontianak dipandang dari jembatan Kapuas (panoramio)

Referensi

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman pontianak (1)

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman (bagian 2)

pontianakpost.com - pertahankan keaslian bangunan, junjung titah sultan

pontianakkota.go.id - berdirinya kota pontianak

------------------------------------ooOOOoo------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Raya Darussalam Samarinda ? Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua pada Samarinda ? Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda ? Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Monday, August 24, 2020

Masjid Jamiatul Khair Kraton Amantubillah – Mempawah

Kokoh di tepi Sungai Mempawah. Dibangun di masa kekuasaan kesultanan Mempawah, Masjid Jamiatul Khair masih kokoh berdiri hingga hari ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Mempawah.

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tua di Kalimantan Barat, masjid Jamiatul Khoir merupakan masjid kerajaan dari Kesultanan Mempawah di Kabupaten Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Pertama kali dibangun pada tahun 1906 oleh Panebahan Mempawah Mohammad Atufik Akamaddin. Lokasi Masjid Jamiatul Khair tak jauh dari Keraton Amantubillah kesultanan Mempawah. Bersama dengan Keraton Amantubillah, Masjid Jamiatul Khair menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Mempawah.

Lokasi Masjid Jamiatul Khair

Masjid Jamiatul Khair berdiri di tepian sungai Mempawah. Ditempatkan di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid, karena pada saat itu sungai dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya dan lainnya. Lokasi masjid ini juga tidak jauh dari Istana Amantubillah yang merupakan Istana Kerajaan Mempawah.

Masjid Jamiatul Khair

Kampung Pedalaman Kecamatan Mempawah Timur

Kabupaten Mempawah, Propinsi Kalimantan Barat

Indonesia

Koordinat geografi : 0° 22' 12.00" N  108° 57' 39.10" E

Tentang Mempawah

Kabupaten Mempawah merupakan salah satu kabupaten di propinsi Kalimantan Barat dengan julukan Bumi Galahherang. Sampai tahun 2014 kabupaten ini masih bernama Kabupaten Pontianak, kemudian diganti dengan nama Kabupaten Mempawah untuk membedakannya dengan Kota Pontianak, dan dari sisi sejarah, Nama mempawah merupakan kerajaan yang pernah berkuasa di daerah ini. Perubahan nama tersebut juga seiring dengan pemekaran kabupaten tersebut dengan disyahkannya Kabupaten Landak dan menyusul kemudian Kabupaten Kubu Raya sebagai Daerah Otonom Baru.

Kabupaten Mempawah memiliki luas 254,40 km, dengan ibukota pemerintahannya berada di kota Kecamatan Mempawah. Kota ini terletak di jalur perdagangan antara Pontianak, Singkawang dan Sambas. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang di sebelah Utara, Kabupaten Ketapang di bagian Selatan dan Laut Natuna di bagian Barat dan dengan Kabupaten Landak di bagian Timur.

Masjid Jamiatul Khair tampak depan

Di Mempawah pernah berdiri kerajaan pada abad 17 dan rajanya yang terkenal adalah Opu Daeng Menambon. Peninggalan sejarah kerajaan Mempawah masih dapat kita saksikan sampai saat ini. Makam Opu Daeng Menambon terletak sekitar 5 km dari Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Beliau adalah raja Mempawah yang pertama dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara yang wafat pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Letak makamnya di atas bukit dan untuk menuju ke atas dengan melewati anak tangga yang ada. Makam ini sering dikunjungi masyarakat setempat pada hari Kamis dan Minggu.

Sejarah Masjid Jami'atul Khair

Masjid Jami'atul Khair berdiri tanggal 25 Desember 1906 oleh Panembahan Menpawah Mohammad Atufik Akamaddin. Masjid ini terletak tak jauh dari Keraton Amantubillah di tepian Sungai Mempawah. Masjid Jamiatul Khair sudah tiga kali mengalami perpindahan tempat. Yakni di Kampung Brunai, Kampung Siantan dan Kampung Pedalaman yang terletak di pinggir Sungai Mempawah. Masjid yang sekarang ini merupakan bangunan yang kedua, karena masjid pertama pernah terbakar

Ditempatkan di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid. Karena pada saat itu sungai dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya dan lainnya. Sejak dulu hingga saat ini tidak terlalu banyak perubahan fisik bangunan masjid. Bahkan dulunya, masjid memiliki pekarangan yang cukup luas dan sekelilingnya ditumbuhi pepohonan. Tetapi sekarang tanahnya sudah dikavling dan berikan kepada kerabat keraton untuk membangun rumah.

Interior Masjid Jamiatul Khair

Tempatnya yang berada tidak jauh dari Istana Amantubillah Mempawah. Setiap pengujung yang datang ke Istana Amantubillah Mempawah, pasti menyempatkan berkunjung dan beribadah di masjid  tersebut. Serta menikmati pemandangan indah Sungai Mempawah. Keraton Amantubillah didirikan oleh Raja Adidaya pada tahun 1961 dan beliau rnerupakan raja pertama dari Kerajaan Mempawah. Salah satu peninggalannya adalah Keraton Amantubillah yang terletak di kelurahan pedalaman, Kecamatan Mempawah Hilir. Keraton ini dibangun kembali oleh Panembahan Mohd. Atufik Akamaddin pada 1922 karena bangunan lama habis terbakar. Keunikan dalam keraton ini adalah terdapatnya Sigondah yang memiliki banyak cerita keanehannya.

Masih berkaitan dengan Kerajaan Mempawah, Syayid Al Habib Husein Al Qadry bergelar Tuanku Besar di kerajaan itu. Beliau wafat Rabu, 3 Djulhijjah 1184 Hijriah dan dimakamkan di Desa Sejeki, Kecamatan Mempawah Hilir. Pada masa Kerajaan Mempawah beliau adalah seorang tokoh dalam menyebarkan agama Islam di bumi Galahherang ini. Beliau juga tabib istana yang memiliki kesaktian mandraguna sehingga banyak dibutuhkan masyarakat. Hingga kini makamnya banyak dikunjungi masyarakat terutama pada hari besar Islam dan hari libur.

Arsitektural Masjid Jami'atul Khair

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Mempawah. Masjid tersebut selalu ramai dipenuhi jemaah baik untuk salat Jumat, Idulfitri maupun Iduladha. Masjid tersebut memiliki panjang kurang lebih 40 meter dan lebar 30 meter. Fondasi bangunan masjid menggunakan tongkat dari jenis belian. Dulunya bagian bawah atau kolong masjid belum diberi dinding. Sekarang sudah disemen agar kolong tak terlihat. Sedangkan bagian lantai masjid masih menggunakan papan belian. Secara keseluruhan, masjid mampu menampung kurang lebih 800 orang jemaah.

Masjid Jamiatul Khair dari jembatan gantung sungai Mempawah

Meski seiring berjalannya waktu, sudah banyak bagian masjid dilakukan perbaikan. Seperti atap masjid yang dulunya menggunakan atap sirap dari belian, kini telah menggunakan atap seng, tapi bentuk aslinya masih tetap dipertahankan. Bangunan masjid memiliki dua kubah, dengan atap paling atas berbentuk limas. Dimana di atas kubah terdapat tempayan kendi, yang masih dipertahankan. Bangunan masjid yang berwarna hijau tersebut, di setiap dinding memiliki satu pintu dan empat jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara.

Demikian pula pada bagian ruangan lainnya yang tetap dipertahankan untuk menjaga keasliannya. Misalnya tiang atau pilar bangunan berjumlah empat buah termasuk motif dan bentuk daun pintu serta jendela masjid. Dinding bangunan juga masih menggunakan papan belian. Sedangkan atap masjid juga masih dipertahankan menggunakan atap sirap. Namun, bagian luarnya dilapisi dengan atap seng. Juga ditambahkan dek pada bagian tengah masjid. Agar, pantulan panas matahari tidak masuk ke dalam ruangan.

Dinding dan lantai, serta empat pilar di dalam masjid masih asli. Hanya atap dan tiang bawah masjid sudah dilakukan perbaikan. Dipertahankan tempayan kendi di atas kubah masjid karena ada amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin, yang meminta tempayan kendi di atas kubah tetap dipertahankan. Bentuk bangunan juga tidak pernah di ubah sesuai dengan amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin.

Referensi

sunudotcom.blogspot.com - mempawah

equator-news.com - masjid-jamiatul-khair-berusia-ratusan-tahun

borneotribune.com - bukti-sejarah-berdirinya-kerajaan-mempawah

pontianakpost.com - Amanah Panembahan Jaga Bentuk Keaslian Bangunan

Baca Juga

Masjid Sultan Kasimudin Bulungan – Kalimantan Utara

Masjid Raya Darussalam Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Shirothal Mustaqim, Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah Martapura – Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin – Kalimantan Selatan

Masjid Kyai Gede Kotawaringin – Kalimantan Tengah

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman - Kalimantan Barat

Masjid Jami’ Kraton Landak – Kalimantan Barat

Sunday, August 23, 2020

Masjid Jami Sultan Nata Warisan Kesultanan Sintang

Salah satu masjid tua dan bersejarah pada provinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami Sultan Nata menurut Kraton Kesultanan Sintang.

Masjid Jamik Sultan Nata merupakan salah satu peninggalan sejarah pada Provinsi Kalimantan Barat. Masjid ini terletak pada sebelah barat Istana Al Mukarramah Kesultanan Sintang di Jalan Bintara No.22 Lingkungan 1 RT.02 RW.01 Kelurahan Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang.

Alamat Masjid Jami' Sultan Nata

Kapuas Kiri Hilir, Kecamatan Sintang

Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat 78615

Indonesia

Masjid Masjid Jamik Sultan Nata didirikan pada hari Senin 12 Muharram 1883 H atau 10 Mei 1672. Pembangunan itu bertepatan dengan penobatan Sultan Nata sebagai raja. Saat dinobatkan, usianya baru sepuluh tahun & langsung dianugerahi gelar Sultan Nata Muhammad Syamsudin Sa?Adul Khairiwaddin, sekaligus menjadi raja Islam ke-3 pada sejarah Kesultanan Sintang.

Mengawali pembangunan masjid, didirikan sembilan tiang penyangga primer (soko). Pemasangan tiang tadi terselesaikan dalam satu malam di hari waktu penobatan Sultan. Dan, pembangunan secara keseluruhan memakan waktu selama dua tahun. Masjid itu sebagai pusat penyebaran Islam di Sintang.

Di tepian sungai Kapuas, Masjid Jami Sultan Nata terlihat berjejer menggunakan Kraton Kesultanan Sintang

Membangun masjid sendiri merupakan galat satu dari tujuh konvensi kerabatan kesultanan yang harus dijalankan Sultan Nata begitu dinobatkan. Ketujuh kesepakatan itu mencakup mendirikan istana sebagai loka tinggal raja, mendirikan masjid, menciptakan Undang-Undang (qanun), menulis silsilah raja, menciptakan jalan pada sepanjang tepian sungai, raja bergelar Sultan, & memerintahkan penghulu Luan mengambil Al Qur?An 30 juz goresan pena tangan ke Banjar.

Pembangunan masjid dievaluasi telah sangat mendesak ketika Sultan Nata dinobatkan. Pasalnya jumlah umat Islam di Sintang mulai banyak tapi belum memiliki masjid. Tempat beribadah dilangsungkan ? Misalnya salat ? Masih di istana kesultanan. Tokoh dibalik pencetus pembangunan yaitu Senopati Laket & Pangeran Mungkumilik. Keduanya mendampingi Sultan berhubung Sultan masih berusia muda.

Komplek Kraton Kesultanan Sintang. Di sebelah kiri foto adalah kraton Kesultanan Sintang, Berjejer dengan masjid Jami' Sultan Nata.

Masuknya Islam Ke Kerajaan Sintang

Sementara Islam mulai masuk ke Sintang sekitar abad ke-16. Tonggaknya yakni Raja Sintang ke-17 Pangeran Agung memeluk Islam. Ia pun sebagai Raja Sintang Islam pertama, sekaligus merupakan Raja Sintang Hindu terakhir. Penyebaran Islam ke Sintang dilakukan dua ulama akbar. Mereka merupakan Muhammad Saman berdasarkan Banjarmasin & Encik Somad berdasarkan Sarawak Malaysia.

Sepeninggal Pangeran Agung, kekuasaan dilanjutkan putranya, Pangeran Tunggal. Raja Sintang Islam kedua ini, memiliki 2 orang putra, Pangeran Purba & Abang Itut. Pengaruh Islam kian besar pada Sintang. Seiring telah berjalan pada 2 generasi kesultanan. Hanya saja masjid belum dibangun. Pangeran Purba menikah menggunakan Dayang Mengkuing, putri Raja Sanggau. Dia menetap pada sana. Enggan pulang ke Sintang serta menolak mewarisi tahta kesultanan. Bahkan hingga dijemput kerabat kerajaan sekalipun, saat Pangeran Tunggal sakit keras.

Masjid Jami' Sultan Nata menurut pintu gerbang

Hingga ajal menjemput Pangeran Tunggal, bujukan kepada Pangeran Purba permanen gagal. Sementara Abang Itut tidak memungkinkan mewarisi tahta kesultanan lantaran sakit. Kondisi itu menciptakan kerabat kesultanan bermufakat buat memilih pengganti Pangeran Tunggal. Perundingan menghasilkan kesepakatan , pewaris kesultanan dicari berdasarkan keturunan saudara Pangeran Tunggal. Saudara Pangeran Tunggal adalah seseorang wanita bernama Nyai Cilik. Nyai Cilik bersuamikan Pangeran Mungkumilik menurut Ambaluh (Kapuas Hulu). Buah pernikahan mereka melahirkan seorang putra, yakni Sultan Nata.

Sultan Nata yang masih berusia sepuluh tahun tetap dinobatkan menjadi Raja. Langkah itu diambil guna mengantisipasi kekosongan kekuasaan di Kesultanan Sintang. Hanya dalam memerintah dia didampingi dua kerabat istana, yakni Senopati Laket ? Yang dikenal lantaran kejujurannya ? & Pangeran Mungkumilik merupakan ayah dari Sultan Nata. Mereka berdua mendampingi hingga Sultan Nata berusia 20 tahun.

Interior Masjid Jami Sultan Nata

Renovasi Masjid Jami Sultan Nata

Masjid ini telah mengalami lima kali renovasi menggunakan nir membarui bangunan aslinya. Bentuk bangunan dan ukurannya masih sama. Pertama dibangun, luasnya 20 x 20 meter. Renovasi tersebut dilakukan hanya pembangunan teras masjid saja. Penambahan itu sepenuhnya supaya kapasitas daya tampung masjid memadai. Perluasan pertama masjid berlangsung pada masa kepemimpinan Sultan Abdurrasyid. Dia merupakan putra Sultan Abdurrahman. Sultan Abdurrahman menggantikan Sultan Nata.

Pada abad ke 18, renovasi dilakukan pada masa kepemimpinan Adipati Muhammad Djamaludin yang bergelar Ade Moh Yasin. Ia adalah anak berdasarkan Rahmad Kamarudin, pengganti Sultan Abdurrasyid. Lalu renovasi balik dilakukan saat panembahan Abdurrasyid Kesuma 1 berkuasa. Dan, lalu dalam tahun 1994 dilakukan renovasi kembali atas bantuan menurut pemerintah pusat. Tahun 2000, masjid ini dilengkapi menggunakan taman rumput yg relatif luas, dengan hiasan pohon-pohon palem yang rindang. Di bagian muka masjid, juga dibangun jembatan penyeberangan dari kayu yang menghubungkan masjid & istana yang dipisahkan oleh jalan beraspal. Sejak tahun itu juga, masjid ini ditetapkan menjadi situs cagar budaya Kabupaten Sintang.

Bangunan masjid ini berarsitektur adonan, ada unsur Melayu, Jawa, juga Timur Tengah. Konstruksi bangunannya terbuat menurut kayu bulian, kayu yg tumbuh pada bumi Kalimantan. Bentuk atap masjid bercirikan spesial undak layaknya tajug pada arsitektur Jawa. Atap pertama dan kedua berbentuk limas, sedangkan atap ketiga berbentuk kerucut bersegi delapan. Meski sudah berusia tiga abad lebih, Masjid Sultan Nata Sintang permanen kokoh berdiri. Menjadi loka ibadah umat muslim, sekaligus sebagai saksi sejarah mengenai perkembangan Islam pada Sintang.

Masjid Kayu yang masih bertahan sampai sekarang

Arsitektur Masjid Jami Sultan Nata

Masjid Sultan Nata be-rsitektur rumah panggung khas pesisir sungai. Konstruksi bangunan masjid seluruhnya terbuat menurut kayu dari pondasi hingga epilog atapnya. Masjid Sultan Nata sebetulnya telah mengalami beberapa kali renovasi, tetapi delapan tiang penyangga yang terbuat berdasarkan kayu belian tetap dipertahankan sinkron aslinya hingga ketika ini. Tiang berupa kayu silinder dengan tinggi lebih menurut 10 meter tadi permanen berdiri kokoh meski usianya sudah melampaui 3 abad.

Bangunan masjid ini mempunyai 3 susun atap. Atap pertama & kedua berbentuk limas, sedangkan atap ketiga berbentuk kerucut bersegi delapan. Bentuk atap kerucut ini jua digunakan pada atap 2 menara kembar yang berada pada samping masjid. Tiap bagian di pada masjid dibalut menggunakan cat rona putih menggunakan sedikit garis-garis hijau di beberapa bagian, misalnya dalam jendela, dasar tiang, serta dinding. Sebagai pemanis hiasan, korden epilog jendela dipilih yang berwarna kuning, rona spesial Melayu. Sementara di pojok masjid. Di masjid ini pula masih ada bedug berusia ratusan tahun yg terbuat dari sebatang pohon utuh.

Di masjid ini, para pelancong dapat menyaksikan susunan penghulu/menteri agama Kerajaan Sintang berdasarkan masa ke masa. Selain itu, takmir masjid pula menyediakan kitab sederhana yang menceritakan sejarah berdirinya masjid dan renovasi-renovasi yang pernah dilakukan.***

Baca Juga

Masjid Sultan Kasimudin Bulungan ? Kalimantan Utara

Masjid Raya Darussalam Samarinda ? Kalimantan Timur

Masjid Shirothal Mustaqim, Samarinda ? Kalimantan Timur

Masjid Islamic Center Samarinda ? Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah Martapura ? Kalimantan Selatan

Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin ? Kalimantan Selatan

Masjid Kyai Gede Kotawaringin ? Kalimantan Tengah

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman - Kalimantan Barat

Masjid Jami? Kraton Landak ? Kalimantan Barat

Thursday, August 20, 2020

Masjid Raya Mujahidin Kota Pontianak

Megah dan mewah. Kesan pertama melihat Masjid Raya Al-Mujahidin Pontianak ini.

Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Timur, kini memiliki sebuah masjid raya megah dan moderen dengan nama Masjid Raya Mujahidin. Dinamakan Masjid Raya Muhajidin karena ingin menandakan perjuangan. Banyak perjuangan yang dilakukan di Pontianak. Mulai dari perjuangan kemerdekaan RI sampai perjuangan menyebarkan agama Islam di pulau ini. Diharapkan masjid ini bisa selalu menjadi pengingat para Muslim untuk terus aktif di kegiatan agama.

Kota Pontianak merupakan salah satu kota tua di Indonesia dengan sejarahnya yang teramat panjang, di kota ini pernah berdiri kesultanan Pontianak dengan salah satu warisan sejarahnya adalah Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman yang merupakan masjid tertua di Kota Pontianak dan Kalimantan Barat. Kesultanan Pontianak merupakan salah satu dari sekian banyak kerajaan di Nusantara yang mendukung penuh kemerdekaan Republik Indonesia dengan salah satu tokoh terkenalnya yang juga merupakan pahlawan nasional, adalah Sultan Hamid II yang turut berkontribusi dalam merumuskan “Garuda Pancasila” sebagai Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alamat Masjid Agung Mujahidin

JL. A.Yani, Kec.Pontianak Selatan

Kota Pontianak, Prov.Kalimantan Barat

Masjid Raya Muhajidin pertama kali diresmikan sang Presiden Soeharto dalam lepas 23 Oktober 1978 (20 Zulkaidah 1398), bertepatan dengan ulang tahun Kota Pontianak ke 207. Dalam rangka perluasan dan peremajaan bangunan masjid, dalam November 2011 dilakukan perbaikan Masjid Raya & diresmikan sang presiden Joko Widodo pada tanggal 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H).

Bangunan Megah Masjid Raya Mujahidin Pontianak berdiri di atas huma seluas 4 hektar dan bisa menampung setidaknya 9 ribu Jemaah sekaligus. Secara generik terbagi sebagai 3 bagian yakni ; Bangunan primer Masjid berukuran 60 x 60 meter, kemudian bangunan menara primer yang dibangun terpisah berdasarkan bangunan utama, dan area plaza berdenah segi empat yang dikelilingi koridor panjang berada diantara bangunan primer masjid & menara primer.

Masjid Raya Muhajidin dibangun dengan memadukan beragam unsur arsitektur Islami dari berbagai peradaban Islam dan dipadu menggunakan ornamen spesial warga pontianak. Bangunan utamanya dibangun dua lantai, ruang sholat primer berada di lantai dua sedangkan lantai dasar digunakan buat berbagai kegiatan pendukung. Dari area plaza ada tangga besar pribadi menghubungkan ke area sholat di lantai 2.

Aerial View Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Kubah akbar bewarna keemasan sarat dengan mozaik spesial Kalimantan pada semua bagian atas kubah dengan motif yang indah. Dibagian ujung kubah diletakkan ornamen sederhana meruncing sebagaimana tegaknya hurup alif. Empat buah menara menjulang di keempat penjuru masjid dengan bentuk & tinggi yang sama, ujung menara dilengkapi dengan kubah bewarna ke-emasan polos tanpa ornamen. Seperti halnya pada kubah primer, pada puncak menara ini pun dilengkapi dengan ornamen yg senada dengan kubah masjid. Bangunan masjid seperti ini mengingatkan kita pada bangunan bangunan masjid dinasti Usmaniyah yg ditandai dengan menara menaranya yang menjulang & kubah kubahnya yg berukuran akbar.

Disekeliling bangunan utama dilengkapi menggunakan sederatan pilar pilar tinggi & akbar lengkap menggunakan lengkungan lengkungan 2 rona khas masjid Masjid Cordova & Istana Alhambra hingga masjidil Harom & Masjid Nabawi. Motif Kalimantan sangat kental terasa pada interior masjid menggunakan balutan rona emas pada setiap mozaik yg menghias interior masjid ini. Pembangun masjid ini relatif jeli dalam memadukan beragam unsur peradaban Islam pada membentuk masjid ini.

Masjid Raya Mujahidin Pontianak sekarang & dulu

Pembangunan Masjid Agung Mujahidin Kota Pontianak

Keinginan membangun masjid begitu besar dikalangan umat muslim pontianak berawal dari dibangunnya Masjid Syuhada di Jogjakarta [1949] dan ditahun yang sama dibangun Masjid Al-Azhar di Jakarta serta direncanakannya pembangunan Masjid Istiqlal oleh Bung Karno pada awal 1950-an. Delegasi Kalimantan mengirimkan utusannya, Achmad Mawardi Djafar, Abdur Rani Macmud, Mohamad Akib, Hasan Koeboe, Muzani A Rani dan Azhari Djamaluddin untuk mengikuti Kongres Muslimin Indonesia [KMI] dan bertemu dengan Mr Assat Sutan Mudo yang saat itu menjadi pengggas dalam pembangunan Masjid Syuhada di Jogjakarta.

Saat bertemu dengan dia, Mawardi Djafar & Mohamad Akib meminta petunjuk & pengalaman tokoh nasional yg sempat menjadi Pejabat Presiden RI waktu itu untuk membentuk Masjid serupa pada Kota Pontianak lantaran dalam waktu itu Delegasi KMI Kalimantan Barat belum mempunyai konsep yang niscaya tentang masjid akbar yang akan dibangun. Kepulangan delegasi KMI ke Pontianak dalam athun baru 1950 menambah semangat dan kerja keras buat mewujudkan pembangunan masjid akbar di Kota Pontianak. Achmad Mawardi Djafar & Mohamad Akib aktif bersilaturahmi dengan para pemuka warga muslim Pontianak buat mendapat dukungan & doa.

Lima Menara

Berawal berdasarkan Seribu Rupiah

Empat tahun sudah pembangunan masjid akbar direncanakan, dan dalam hari Jumat, 2 Oktober 1953 tokoh muslim terkemuka misalnya Mr Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Natsir, Syamsurizal, Buya Hamka dan Anwar Tjokroaminoto mengukuhkan & Membentuk Yayasan Mujahidin menggunakan para pengurus H Achmad Mashur Thahir [pengusaha terkemuka], Mohamad Saad Karim [Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Pontianak], Merah Kesuma Indra Mahyuddin [pengusaha terkemuka], Achmad Mawardi Djafar [Koordinator Penerangan Agama Daerah Kalimantan Barat], Gulam Abas [pengusaha] & Mohamad H Husein [pengusaha] dikukuhkan dalam Akta Notaris.

Keenam Tokoh tadi berbekal kapital tunai 1000 [seribu rupiah] pada merintis pembangunan rumah ibadah yg akan diberinama Masjid Mujahidin yang termaktub pada Pasal tiga Akta Notaris tadi dimana tujuan didirikannya Yayasan Mujahidin tadi pada Tujuan dan Usaha diuraikan bahwa: ??. Tujuan Mutlak Yayasan ini, artinya mendirikan sebuah Masjid pada Kota Pontianak yang akan diberi nama Masjid Mujahidin?? Para pengurus berusaha berbagi modal 1000 yang tersimpan pada BRI Pontianak dengan cara membuka kotak amal bagi masyarakat yg akan menyumbang dana, subsidi pemerintah dan penerimaan lainnya yg dianggap halal.

Ekterior Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Kepengurusan Pertamakalinya Yayasan Mujahidin yang terbentuk dalam tanggal dua Oktober 1953 yang terdiri dari dua orang penasehat, masing-masing Residen Koordinator Kalimantan Barat & Walikota Besar Pontianak. Komisi Pengawas terdiri dari Raden Djenal Asikin Judadibrata [Residen Koordinator Kalimantan Barat] & Raden Soedjarwo [Bupati Kabupaten Pontianak di Pontianak]. Badan Pengurus terdiri berdasarkan H Achmad Manshur Thahir [Ketua Umum], Mayor TNI Aminuddin Hamzah [Ketua I], Mohammad Saad [Ketua II], Merah Kesuma Indra Mahjuddin [Penulis I], Achmad Mawardi Djafar [Penulis II], Gulam Abas [Bendahara I] dan Mohammad H Husein [Bendahara II]. Selaku penandatangan akta notaris, mewakili para penghadap lainnya, masing-masing H Achmad Manshur Thahir, Mohamad Saad Karim, Merah Kesuma Indra Mahyuddin, Achmad Mawardi Djafar, Gulam Abas & Mohamad H Husein.

Dipilihnya nama Mujahidin

Dipilihnya nama Mujahidin buat yayasan & masjid yang dirintis tadi, diusulkan sang Achmad Mawardi Djafar, dengan pemikiran mengabadikan perjuangan kaum muslim dalam kancah kolektif mempersembahkan kemerdekaan Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat. Mereka maksudkan, Mujahidin menjadi monumen perjuangan ummat. Dan para penggagas yayasan ini sendiri notabene merupakan pelaku sejarah pada daerah ini, khususnya Achmad Mawardi Djafar dan H Achmad Manshur Thahir.

Interior Masjid Raya Mujahidin Pontianak

Setelah terbentuknya yayasan tadi, tidklah berarti segala kesulitan teratasi dalam rangka membangun masjid yang diidamkan. Sebab, membentuk masjid terkini untuk ukuran zamannya di Pontianak ketika itu, bukan perkara yang gampang. Berbagai usaha segera dijalankan. Dengan faktor minimnya pendanaan, sampai dari waktu ke ketika, masjid yg digagas inipun belum juga kunjung didirikan. Namun, Yayasan Mujahidin berusaha semaksimal mungkin sinkron tujuan semulanya.

Perjalanan ketika, delapan tahun kemudian, pada 7 September 1961, diadakan pembaharuan kepengurusan Yayasan Mujahidin. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan kecepatan pencapaian tujuan semula, membentuk masjid terbaru di tengah Kota Pontianak. Dalam kepengurusan yg diperbaharui itu, terdiri dari tiga Penasehat: Pangdam XII Tanjungpura Brigjen Soedarmo, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Letkol Iwan Soepardi dan Walikota Kepala Daerah Kotapraja Pontianak HA Muis Amin. Komisi Pengawas masing-masing Raden Djenal Asikin Joedadibrata, Mohammad Akib & H Abdussjukur Ketua DPR Daswati II Kalimantan Barat. Badan Pengurus masing-masing Ketua Umum H Achmad Manshur Thahir, Ketua I Andi Odang, Ketua II Ardan, Sekretaris I Muzani A Rani, Sekretaris II Achmad Mawardi Djafar, Bendahara I Merah Kesuma Indra Mahjudin & Bendahara II Hasnul Kabri. Anggota terdiri dari Burhanuddin, Mohamad Saad Karim, HM Saleh HA Thalib, Andi Jusuf, Saiyan Tiong, M Soedarjo, Aliaswat Saleh dan Mohamad H Husein.

Dari sudut yang lain

Kepengurusan baru ini berusaha mensinergikan secara optimal eksistensi mereka buat mencapai tujuan semula. Tetapi, malapetaka sejarah terjadi, beberapa pada antara pengurus baru ini tertimpa musibah kezaliman Partai Komunis Indonesia [PKI], akibatnya mereka ini dinon-aktifkan. Kondisi itu, bersamaan dibubarkannya Partai Masyumi, pada mana aktifis Yayasan Mujahidin serupa Achmad Mawardi Djafar dan Muzani A Rani adalah 2 tokoh primer Masyumi pada Kalimantan Barat. Mawardi Djafar anggota DPR Daswati I Kalimantan Barat dari Fraksi Masyumi dan Muzani A Rani anggota Konstituante wakil Masyumi berdasarkan Kalimantan Barat. Namun, kelahiran Orde Baru memberikan perubahan tatanan kenegaraan, dan mereka pun kembali beraktifitas pada tengah rakyat.

Selanjutnya, waktu Gubernur Kalimantan Barat dijabat Kol Kadarusno, kepengurusan yayasan mengalami perubahan buat kedua kalinya. Dua orang tokoh pemuka masyarakat muslim Kalimantan Barat, Achmad Mawardi Djafar & A Muin Idris, diberi mandat sang yayasan pada 18 Januari 1975 buat mewakili Yayasan Mujahidin buat melakukan pembaharuan kepengurusan dan mempertegas maksud dan tujuan berdasarkan yayasan ini. Maka, dalam Kamis 29 Februari 1975, menggunakan Akta Nomor 40 Notaris Mohamad Damiri di Pontianak, terbit Akta Perubahan Yayasan Mujahidin. Dan di bawah kepemimpinan Gubernur Kadarusno, pembangunan wujud fisik masjid dilaksanakan secara intensif.

Ribuan jemaah memadati masjid Raya Mujahidin Pontianak sampai ke plaza tengah.

Kepengurusan baru terdiri Ketua Umum Kadarusno, Ketua I Mohamad Barir SH, Ketua II H Achmad Manshur Thahir, Sekretaris I Achmad Mawardi Djafar, Sekretaris II Drs Noor Ismail, Bendahara Drs Nurdin. Pembantu Hasnul Kabri, HM Saleh H Thalib, Saiyan Tiong, Aliaswat Saleh, Muhamad Ali As SH, A Muis Amin, HM Jusuf Sjuib, A Muin Idris, HM Syah Bakie SE, Ir Daeng Arifin Hadi, Ir Said Djafar & HA Hamid Lahir.

Pada tanggal 23 Oktober 1978 (20 Zulkaidah 1398), bertepatan menggunakan ulang tahun Kota Pontianak ke 207, Masjid Raya Mujahidin Pontianak diresmikan oleh Presiden Soeharto. Dan 37 tahun sehabis itu Masjid Raya Mujahidin Pontianak dipugar total ke bentuknya yang megah mewah waktu ini & diresmikan sang Presiden Joko Widodo pada tanggal 20 Januari 2015 (29 Rabiul Awal 1436 H), setelah mengalami pemugaran yg dilaksanakan semenjak bulan November 2011.

Dalam program tersebut, Presiden yang didampingi Ibu Negara melakukan peninjauan kesejumlah bagian Masjid Raya Mujahidin. Ikut hadir dalam peresmian tersebut, antara lain: Sekretaris Kabinet (Andi Wijayanto), Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yg juga Ketua Umum Pembangunan (Oesman Sapta Odang), Wakil Ketua MPR (Hidayat Nurwahid), Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Sidharta Danusubroto), Kepala BIN (Maciano Norman), Gubernur Kalimantan Barat (Drs. Cornelis, M.H), Walikota Pontianak (H. Sutarmidji), Jajaran MUSPIDA dan warga umum. Kedatangan Presiden di Kota Pontianak ini juga disambut menggunakan tradisi tepung tawar, yang merupakan tradisi khas masyarakat Melayu Pontianak.***

--------------

Baca Juga

Masjid Jami? Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak

Monday, August 3, 2020

Masjid Raya Singkawang Kalbar

Berdiri di lahan berbentuk segitiga mengakibatkan Masjid Raya Singkawang begitu unik dipusat kota Singkawang.

Singkawang adalah salah satu kota di provinsi Kalimantan Barat, sebuah kota yang mempunyai tradisi toleransi beragama yang sangat baik yang tercermin pribadi menurut tata kotanya. Kota ini memiliki sebuah Masjid Raya yang dibangun pertama kali tahun 1880 dan lokasinya berdekatan dengan sebuah Klenteng atau Vihara Tri Dharma Bumi Raya yg menjad pusat peribadatan Etnit Thionghoa pada Kota Singkawang.

Tradisi toleransi telah mendarah daging bagi masyarakat kota ini. Sekedar contoh sederhana merupakan dalam ketika seremoni Cap Go Meh yg begitu meriah yang diselenggarakan sang pihak Vihara & kini sebagai salah satu atraksi pariwisata andalan kota Singkawang, akan berhenti sejenak manakala terdengar suara azan mengumandang menurut pengeras suara pada Masjid Raya Singkawang.

Masjid Raya Singkawang

Jalan Masjid, Melayu, Singkawang Barat

Kota Singkawang, Kalimantan Barat 79112

Indonesia

Masjid Raya Singkawang pertama kali didirikan dalam tahun 1880 oleh Bawasahib Maricar & keluarganya yang merupakan muslim pendatang dan pedagang berdasarkan Calcutta India, yg kemudian diangkat Pemerintah Belanda sebagai Kapitan di Singkawang dalam tahun 1875. Kapitan Bawasahib Maricar menciptakan Masjid Raya di daerah Pasar Baru Singkawang kala itu.

Saat dibangunnya Masjid tempat ibadah umat Islam di Singkawang ketika itu masih sederhana, masih berukuran kecil dan tidak mempunyai menara. Kapitan Bawasahib Maricar membentuk Masjid Raya di tanah miliknya yg berbentuk segitiga berdekatan dengan Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang dibangun sang seorang Kapitan dari etnis Tionghoa.

Namun sekitar tahun 1937, terjadi kebakaran hebat di pusat kota Singkawang kala itu, kebakaran itu telah membumihanguskan bangunan-bangunan, termasuk Masjid Raya dan Vihara. Namun tak lama berselang sekitar tahun 1940 Masjid Raya dibangun kembali  kembali ditempat yang sama oleh 3 orang bersaudara keluarga dari Bawasahib Maricar yaitu Haji B. Achmad Maricar, B. Mohammad Haniffa Maricar dan B. Chalid Maricar.

Perjalanan Sejarah Masjid Raya Singkawang sampai ke bentuknya ketika ini.

Kondisi Masjid diperluas menggunakan sumbangan huma tanah milik famili Kapitan Bawasahib Maricar, dan baru dalam tahun 1953 mulai dibangun menara yg terletak disamping kiri Masjid Raya, kendati semakin luas namun bentuk areal Masjid tersebut masih berbentuk segitiga, inilah galat satu keunikan dari Masjid Raya Singkawang berdiri menggunakan bentuk segitiga yg dikelilingi sang jalan raya.

Sehingga tidaklah mengherankan bila setiap pendatang atau pelancong yg mengunjungi kota Singkawang seakan akan tidak afdol apabila nir singgah atau menikmati panorama Masjid Raya Singkawang yg berdekatan menggunakan Kelenteng atau Vihara Tri Dharma Bumi Raya, ke 2 bangunan ini merupakan karakteristik khas tersendiri rakyat Singkawang.

Bangunan masjid menurut tahun 1940-an itu kini sudah dirombak menjadi sebuah bangunan masjid megah dan terbaru dilengkapi menggunakan dua menara menjulang disisi kiri & kanan bangunan primer. Ada beberapa bagian dari bangunan masjid usang yang masih dipertahankan keasliannya demi merawat sejarah masjid tersebut. Yang masih sahih benar utuh dipertahankan merupakan menara lama masjid tadi yang masih berdiri kokoh sebagaimana aslinya bersisian dengan galat satu menara baru-nya.

Megahnya Masjid Raya Singkawang.

Perpaduan berbagai langgam bangunan masjid sangat kentara di Masjid Raya ini. Langgam masjid masjid dinasti Islam Mughal (India) terlihat kentara pada menara lamanya yg berdenah segi empat, dilengkapi dengan kubah berbentuk bawang dan dilengkapi dengan balkoni pada zenit menara dibawah kubah. Bentuk kubah bawang masih dipertahankan dalam kubah primer bangunan baru yg kini di cat dengan warna emas.

Dua menara kembarnya yang baru di masjid ini tentu akan sedikit mengobati kerinduan kepada masjid Nabawi dan Masjidil Harom bagi siapa saja yg pernah beribadah pada 2 masjid kudus tadi, karena dua menara masjid ini memang sangat seperti menggunakan menara menara masjid tadi. Sementara langgam masjid masjid Eropa bagian timur terlihat pada penggunaan penopang silindris dalam dua kubah besar masjid ini.

Fasad bangunannya dibangun begitu tinggi seperti halnya masjid masjid berdasarkan dinasti Usmaniyah (Turki), sedangkan sentuhan lokal begitu kental dibagian interior masjid dengan penggunaan material kayu dan ornamen tempatan & penggunaan kerawang (lubang jendela) hampir diseluruh dinding bangunan dengan jendela jendela ventilasi besar dan bangunan serambi yg sebagai salah satu karakteristik bangunan tropis.

Interior Masjid Raya Singkawang.

Masjid Raya Singkawang sekarang menjadi keliru satu landmark dan kebanggaan masyarakat kota Singkawang, buat mengembangkan kegiatan ibadahnya Masjid Raya Singkawang pula mendirikan TPA atau Taman Kanak-Kanak Al-Qur?An letaknya di area belakang masjid sebelah kanan. Keberadaannya telah tentu sangat membantu pengembangan wawasan anak-anak yang beragama Islam.

Masjid yang bersih dan tertata menaruh kesan nyaman, menggunakan dilatari oleh bangunan kota Singkawang dan panorama Gunung Poteng yang dikenal juga sebagai "Gunung Jempol" lantaran puncaknya menyerupai jari jempol manusia, panorama diwaktu malam tidak kalah indahnya Masjid Raya Singkawang penuh pesona.***

Referensi

http://ananda-widyas.Blogspot.Co.Id/2014/12/masjid-raya-singkawang.Html

http://pesonasingkawang.Com/detail-wisata-8-masjid-raya-singkawang.Html

Thursday, June 11, 2020

Masjid Djami Keraton Landak, Kalimantan Barat

Masjid Jami Kraton Ismahayana, Kabupaten Landak

Propinsi Kalimantan Barat

Masjid Djami Keraton Landak  atau Masjid Jami’ Keraton Ismahayana Landak berlokasi di komplek Keraton Ismahayana Landak diNgabang, IbukotaKabupaten Landak,Kalimantan Barat. Komplek keraton milik Kerajaan Landak ini terdiri dari tiga bagian yang saling melengkapi, yakni istana kerajaan, masjid, serta makam raja dan para kerabatnya. Terletak di utara istana, Masjid Djami' Keraton Landak tampak anggun dan sederhana. Masjid ini masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Maket Rencana Bentuk Pembangunan balik

Masjid Keraton Ismahayana - Landak

Sejarah Masjid Jami' Kraton Landak

Sejarah masjid ini bermula sejak masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulazis Kusuma Akamuddin (1895-1899) atau raja Landak ke-21. Pada awalnya, Masjid Djami Keraton Landak terletak di tepiSungai Landak atau di timur istana. Kemudian, beliau memerintahkan agar masjid yang dibangun dengan bahan utama kayu belian khas Kalimantan ini dipindahkan ke sebelah utaraistana. Bangunan masjid yang lama kini sudah tidak ada lagi. Saat ini, lokasi masjid lama telah menjadi sebuah kompleks pondokpesantren untuk belajar agama Islam bagi anak-anak di sekitar istana.

Kala itu, setelah masjid dipindahkan ke utara istana, Bilal Achmad menjadi Maha Sultan Imam masjid sampai masa pemerintahan Panembahan Gusti Abdulhamid (1922-1943) atauSultan Landak ke-22. Selanjutnya, Bilal Achmad digantikan oleh Osu Anang dari Banjar hinggaJepang berkuasa diKalimantan Barat pada medio tahun1943. Sebagai cagar budaya dan situs sejarah, masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi yang dilakukan olehDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1980-an dan pemerintah daerah pada tahun 2000-an.

Interior Masjid Jami Kraton Landak

Di Masjid Djami' Keraton Landak yang memiliki luas bangunan sekitar 400 m² ini, wisatawan akan menangkap nuansa religiusitas masyarakat muslim di DesaPedalaman yang berada di sekeliling kompleks istana. Apabila mengunjungi masjid ini di kala hari melangkah senja, saat lazuardi di ufuk barat mulai memerah dan menjelang adzan magrib berkumandang, tampak orang-orang mulai mendatangi masjid. Orang tua, pemuda-pemudi, para santri pesantren yang tak jauh dari istana, serta anak-anak kecil berjalan dari berbagai arah dan satu demi satu menuju pintu masjid yang menghadap ke timur. Di dalam masjid itu, jamaah puteri menempati bagian kiri yang disekat dengan tirai kain berwarna putih. Sementara, jamaah laki-laki membuat shaf di bagian tengah depan dan diikuti anak-anak di belakang barisan laki-laki dewasa. Mereka tampak khusuk melaksanakan solat magrib. Selesai sembahyang, sebagian dari mereka biasanya meluangkan waktunya untuk berdzikir sejenak.

Memasuki masjid ini, wisatawan akan mendapati konstruksi bangunan masjid yang tampak sederhana namun kokoh. Dengan kayu belian sebagai unsur utama dan atap sirap yang berbahan serupa, masjid yang memiliki empat pilar dari kayu utuh ini tetap memesona. Hal ini lantaran di tiap sudutnya nampak dihiasi ornamen-ornamen dari kayu berukir ayat-ayat suciAl-Quran dan motif-motif khasMelayu. Perpaduan warna biru muda dan putih gading pada dinding dan pilar-pilar masjid juga menambah sejuk gambaran keseluruhan masjid.

Masjid Jami Kraton Landak

Renovasi Masjid Jami Keraton Landak

Pada hari selasa tanggal 11 Agustus 2009 yang lalu sudah di adakan upacara peletakan batu pertama pembangunan kembali Masjid Jami’ Keraton Ismahayana Landak secara resmi oleh Bupati Landak DR Drs Adrianus Asia Sidot Msi dan Pangeran Ratu Ismahayana Landak Drs Gusti Suryansyah Msi. Pembangunan kembali yang dikecam dan di tentang oleh berbagai pihak karena merubah total bentuk Masjid Djami Kraton Landak. Masjid ini juga di usulkan oleh Pangeran Ratu Ismahayana Landak Drs Gusti Suryansyah Msi  agar berubah status Masjid Jami’ menjadi Masjid Agung Keraton Ismahayana Landak.

Bila melihat bentuk maket dari rencana pembangunan kembali masjid Jami Kraton Landak ini, maka bentuk masjid ini berubah secara total dari bentuknya semula. Meskipun belum ada kabar terbaru terkait pembangunan masjid tersebut. Bila ada pembaca yang memiliki informasi terkini tentang masjid Jami Kraton Landak, jangan sungkan untuk berkomentar atau menghubungi penulis di hendrag3371@gmail.com

Rererensi

Wikipedia bahasa Indonesia

Masjid Jami Peninggalan Sejarah

Masjid Jami Kraton Landak

--------------------------ooOOO----------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Jami Malang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Bagian I)

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian II)

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done