Islami Pedia: Masjid di Jawa Timur
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Jawa Timur. Show all posts

Wednesday, September 30, 2020

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Nasional Al-Akbar Surabya (MAS) foto dari panoramio

Surabaya, metropolitan di timur Pulau Jawa, baru saja menjadi tuan rumah perhelatan Unity Cup yg mempertemukan Juara Liga Sepakbola Nasional Indonesia & Malaysia dalam sebuah kompetisi yg bertujuan primer merekatkan dua bangsa serumpun melalui sepakbola. Pecinta sepakbola tanah air cukup terhibur dengan kemenangan Persebaya Surabaya Vs Kelantan FA dalam laga tadi.

Kota Surabaya mempunyai bangunan bangunan bangunan megah yang sebagai landmark kota Pahlawan ini. Sebut saja Jembatan Suramadu yang membentang menurut Surabaya ke Pulau Madura tercatat sebagai jembatan terpanjang pada Nusantara, pada pusat kota Surabaya menurut masa lalu masih berdiri jembatan merah yg begitu populer, dan dari arah laut terlihat begitu megah monumen Jalas Veva Jaya Mahe menjadi penanda kota Surabaya & menjadi kenangan bagi siapa saja yg pernah berkunjung kesana. Diperingatan hari Pahlawan 10 Nopember tahun 2000 lalu Surabaya kembali menambah kumpulan landmark kotanya seiring diresmikannya Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS).

Dua bentuk atap MAS : kubah dan limas (foto dari panoramio)
Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) didirikan diatas lahan seluas 11,2 hektar, dengan luas bangunan 28.509 m2 dan berkapasitas 59.000 jamaah. Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) diproyeksikan untuk mewujudkan konsep masjid dalam arti luas, sebagai Islamic Center dengan peran multidimensi dengan misi religius, cultural dan edukatif termasuk wisata religi, untuk membangun dunia Islam yang rahmatan al amien. Secara lahiriyah, MAS menjadi Landmark baru kota Surabaya, secara simbolik memperkaya peta dunia Islam, dan tentu saja mengangkat citra kota Surabaya di mancanegara.

Lokasi Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

MAS Berlokasi di tempat Pagesangan jalan Masjid Al Akbar Timur No. 1 Surabaya, lokasinya yg berada pada tepi jalan tol Surabaya ? Malang membuahkan MAS menjadi Landmark kota Surabaya yg menyambut siapa saja yang datang ke Surabaya menurut arah bandar udara internasioanl Juanda.

Alamat Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Jl.Masjid Al Akbar Timur No.1 Pagesangan, Surabaya

Telp.031-8289755, 031-8289756

Fax. 031-8286896

Email : info@masjidalakbar.Com

Website : www.masjidalakbar.com

Lihat Peta Lebih Besar

Sejarah Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Sejarah Awal Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

MAS dibangun atas gagasan H. Soenarto Soemoprawiro (Alm) Walikota Surabaya waktu itu. Peletakkan batu pertama pembangunan MAS dilakukan oleh wapres RI H. Try Sutrisno pada lepas 4 Agustus 1995, sedangkan pembangunannya baru dimulai September 1996. Bertepatan menggunakan hari Pahlawan pada lepas 10 Nopember 2000 MAS diresmikan oleh Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid. Dalam hal berukuran, MAS Merupakan masjid terbesar ke 2 pada Indonesia selesainya Masjid Istiqlal pada Jakarta. MAS jua memiliki mihrab yg adalah mihrab masjid terbesar pada Indonesia.

Lahan buat pembangunan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) disediakan sang pemerintah kota Surabaya dari lahan peruntukkan fasilitas umum ditambah lahan sawah penduduk yang telah dibebaskan sampai luas keseluruhannya lebih kurang 11,dua hektar menggunakan luas bangunan dan fasilitas penunjang seluas 22.300 meter persegi, menggunakan rincian panjang 147 meter & lebar 128 meter. Lokasinya terletak di tempat Pagesangan Surabaya Selatan, di tepi jalan tol Surabaya ? Malang. Keberadaan masjid ini jua sangat khas sebagai gerbang kota Surabaya berdasarkan arah Bandar Udara Internasional Juanda.

MAS dari udara (foto dari detik.com)
Rancang bangun arsitektur MAS dikerjakan oleh tim dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) bersama konsultan ahli yang telah berpengalaman membangun masjid-masjid besar di Indonesia maupun luar negeri. Langkah awal pembangunan dilakukan dengan loading test untuk mengetahui kekuatan beban tanah, dilanjutkan dengan menentukan arah kiblat yang berita acaranya dihadiri dan disahkan oleh pemuka-pemuka agama dari Departemen Agama, Dewan Masjid dan lain-lain. Untuk kelancaran proses pembangunan, Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum membuka jalan tol menuju masjid bagi keperluan pengangkutan alat-alat berat yang tidak mungkin dilaksanakan melalui ruas jalan di pemukiman penduduk.

Persiapan Lahan & Pengerjaan Struktur

Mengingat posisi lahan yang labil dengan tingkat kekerasan yang minim, maka pembuatan pondasi dilakukan dengan system pondasi dalam atau pakubumi, dengan menancapkan tiang pancang. Sempat terjadi kekurangan stok tiang pancang sehingga harus dipasok dari Jawa Tengah. Tidak kurang dari 2000 tiang pancang bagi pondasi masjid ini dan membutuhkan waktu selama tiga bulan untuk menyelesaikan keseluruhan proses pamancangannya.

Selasar MAS yang turut dipadari jamaah (foto detik.com)
Lantai dirancang dengan ketinggian 3 meter dari permukaan jalan sekitar lokasi, berarti diperlukan tanah pengurugan setinggi itu pula. Namun dalam pelaksanaan selanjutnya mengalami perubahan, ruang urugan dijadikan basement, lantai diatas basement (lantai 1) disangga dengan tiang-tiang (sistem flooting floor). Pengerjaan lantai dibuat dengan sistem pengecoran ditempat dan beton precast, terdiri dari plat lantai empat persegi panjang berukuran 3 x 3 meter dan tebal 15 cm. Sampai dengan tahap penyelesaian lantai yang memakan waktu kurang lebih 3 bulan, lokasi pembangunan masjid juga pernah digunakan untuk sholat Idul Fitri.

Sedangkan pengerjaan kolom memakan waktu cukup lama, sekitar 3 bulan. Kolom berbentuk sentrifugal (bulat) dengan diameter 110 cm, 70 cm dan 60 cm sedangkan kolom-kolom basement didominasi diameter 40 cm. Karena kolom ini akan tetap tampak ketika bangunan sudah selesai, maka posisinya diperhitungkan dengan cermat dan estetikanya sangat diperhatikan.

sholat ied di MAS (foto kompas)
Untuk dudukan struktur atap disiapkan, balok beton (ringbalk) dengan sistem vierendeel yang menghubungkan kolom-kolom struktur pada ketinggian 20 m dari atas lantai dasar (lantai 1). Ringbalk ini membentang 30 m tanpa kolom, sehingga bidang lantai tidak terpisah oleh sekat maupun kolom, dengan demikian dijamin bahwa jamaah tidak saling terpisah oleh sekat maupun kolom pada waktu sholat.

Kubah Masjid

Rangka kubah dibuat dengan sistem space frame, menggunakan bahan besi baja dengan sistem chremona atau struktur segitiga yang disambung-sambung. Selanjutnya kubah dibentuk di atas rangka atap dengan bentangan utama berukuran 54 x 54 meter, tanpa ada tiang penyangga. Bobot kubah tersebut hampir mencapai 200 ton. Keunikan bentuk kubah ini ditunjang dengan bentuk kubah yang menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Kubah ini menumpu pada atap piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter.

Kubah Masjid Al-Akbar Surabaya (foto daripanoramio)
Penutup struktur rangka atap dan kubah terdiri dari tiga lapis yaitu Atap Kedap Air (AKA), ESP sebagai cover atap terluar, dan penutup plafon. AKA ini adalah dalam bentuk segmen-segmen yang menumpu pada konstruksi space frame yang ada dibawahnya. Sedangkan ESP adalah Enamel Sheet Panel merupakan plat baja yang dicoating atau diwarnai, kemudian dipanaskan hingga 800 derajat Celcius, selanjutnya plat dipotong-potong dengan ukuran tertentu dan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan ukurannya yang pada akhirnya berfungsi sebagai cover penutup atap. ESP ini didesain khusus untuk atap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dengan kemampuan tahan panas dan hujan serta tahan karat, diharapkan akan mampu berfungsi sampai 50 tahun lebih. Kemudian penutup rangka bawah yang berfungsi sebagai plafon ditutup dengan bahan kedap suara, sehingga akustik pada bangunan ini didesain dengan sangat memadai. Kesemuanya elemen penutup rangka atap tersebut telah teradopsi dari Masjid Raya Selangor di Syah Alam, Malaysia.

Pintu MAS (rudydewanto)
Pintu Masjid, Keramik, Kaligrafi dan Mimbar

Masjid ini memiliki 45 pintu dengan daun pintu (bukaan) ganda yang berarti dibutuhkan 90 daun pintu dengan ukuran masing-masing : lebar 1,5 m dan tinggi 4,5 m. Pintu terbuat dari kayu jati yang didatangkan khusus dari Perhutani dan dibuat oleh para pengrajin dari Surabaya. Kusen terbuat dari rangka besi dilapisi kayu yang dihubungkan ke engsel maupun slot yang telah diselaraskan dengan struktur dan estetika masjid. Karena berat daun pintu ini lebih dari 250 kg, maka engsel didesain dan dibuat secara khusus.

Untuk memenuhi kenyamanan, estetika serta keserasian keseluruhan bangunan masjid, maka marmer dari Lampung dipilih untuk pelapis dinding dan lantai ruang dalam masjid, sehingga dukungan dari lantai terasa sekali ruangan menjadi sejuk dan kusuk. Kaligrafi merupakan unsur penting dalam desain masjid ini, karena sentuhan kaligrafi inilah yang memberi sentuhan nuansa Islami. Bahan yang digunakan untuk kaligrafi tersebut terbuat dari kayu jati dengan finishing cat sistem ducco. Sedangkan perancangnya adalah seorang ahli kaligrafi nasional yaitu Bapak Faiz dari Bangil. Mimbar dibuat dengan ketinggian 3 meter untuk mendukung kemantapan khotbah. Agar tercipta suasana khas, mimbar diberi sentuhan etnis dengan hiasan ornamen Madura yang digarap para pengrajin dari Madura.

Puncak menara MAS (petawisata)
Menara Masjid

Dalam rancangannya menara tadinya berjumlah 6 buah, namun karena pertimbangan-pertimbangan yang bersifat teknis maupun biaya, maka menara hanya dibuat satu. Untuk membangun menara masjid ini digunakan teknologi Slip Form dari Singapura yang memerlukan waktu sekitar 2 bulan dalam pengecorannya. Menara ini memiliki ketinggian 99 meter yang puncaknya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang dan pencapainnya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Plaza Masjid

Plaza dibangun dengan konsep kesatuan antara estetika lingkungan dan fungsi plaza sebagai lapangan ibadah, untuk ibadah tertentu seperti sholat Ied dan lain-lain. Luas plaza kurang lebih 520 m2, dengan bahan lantai paving stone, yang didesain khusus untuk Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, motif desain dibuat sesuai dengan ornamen arsitektur masjid, garis motif dibuat sejajar dengan garis shaf di halaman masjid.

Elemen arsitektur MAS juga didesain sedemikian rupa, untuk mencapai keindahan, kemewahan serta keanggunan. Antara lain elemen hiasan kaca patri (steined glass). Hiasan kaca patri yang digunakan masjid ini dibuat dengan sistem triple glazed unit. Yaitu pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered yang menggunakan bahan dan mesin-mesin buatan Amerika. Triple glazed unit ini selain menghemat biaya, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising.

ruang sholat utama MAS (foto daripanoramio)
Manajemen Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Manajemen / pengelola Masjid ini adalah terdiri dari Direktur Utama, Wakil Direktur Utama dan ditambah dengan lima direktorat yang masing masing dikepalai oleh seorang direktur. Pengurus MAS saat ini adalah sebagai berikut ;

Direktur Utama : Drs. H. Endro Siswantoro, Msi

Wakil Direktur Utama : Ir. H. Moch Djaelani. MM

Direktur Idarah : Drs. H. Kasno Sudaryanto, Mag

Direktur Imarah/Ijtimaiyyah : Drs H Moh Sudjak, M.Ag

Direktur Shiyanah : Ir H Moerhanniono, MT

Direktur Ma'had Aly : Prof DR H M Roem Rowi, MA

Wakil Direktur Ma'had Aly : Prof DR H Ahmad Zahro, MA

Perpustakaan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Dalam bidang Litbang dan perpustakaan, MAS telah membuka perpustakaan umum dan anak yang berdiri 1 Agustus 2008. Diresmikan oleh gubernur Jawa Timur pada waktu itu, Bpk Imam Utomo. Pengadaan buku perpustakaan MAS diantaranya dari anggaran rutin MAS, infaq jama’ah, dan juga sumbangan dari beberapa instansi, seperti PT.PJB, MUI, Perpusda, Taman Baca Blitar. Koleksi buku di perpustakaan MAS mencapai 8000 buku dalam 5000 judul buku.

Fasilitas Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Selain ruang sholat dan fasiltas pendukungnya, MAS juga dilengkapi dengan fasiltas fasiltas lainnya termasuk di dalamnya adalah ruang pertemuan dalam berbagai ukuran : Ruang Utama,Ruang Zaitun, Yasmin, Ma’wah & Firdaus, As Shofa, Al Marwah, Multazam, Ar-Raudhah, Umar, Abu Bakar, Ali, Usman, Bonang & Drajat, Husain, Aisyah & Khodijah, Area Zam-zam, Selasar / Serambi Utama, Area bebas depan perpustakaan (expo center) serta area luar ruang masing masing adalah : Halaman Parkir Barat, Halaman Parkir Timur, Halaman Parkir Selatan, Halaman Parkir Utara, Bahu Jalan, Menara Masjid dan Lift untuk naik menara.

area zamzam (foto darisitus resmi MAS)
Fasilitas fasilitas tersebut disewakan untuk umum dan menjadi salah satu sumber pendapatan untuk membiayai operasional MAS, namun dengan beberapa persyaratan spesisifik yang harus dipatuhi oleh para penyewa. Seperti contoh untuk pemasangan spanduk dan baliho di area masjid harus memenuhi syarat spesifik diantaranya adalah dilarang memasang iklan rokok dan foto prewedding sama sekali tidak diperbolehkan di seluruh area masjid.

Menara Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Salah satu daya tarik Masjid Nasional Al Akbar Surabaya adalah keberadaan menara. Menara setinggi 99 meter ini mampu melayani jamaah dalam melihat view of Surabaya from the top (Pemandangan Surabaya dari atas). Dilengkapi lift dengan kapasitas 550 kg (8 orang) untuk menuju ke atas menara, serta fasilitas kantin yang memadai, sehingga jamaah dapat puas melihat pemandangan dengan makanan ringan dan cemilan yang menemani.

turis asing di menara MAS

(foto darisitus resmi MAS) Aktifitas lain yang bisa dilakukan adalah mengambil gambar dari atas menara, sambil berpose atau berfoto bersama keluarga tercinta, mengambil potret kubah masjid, pemandangan kota, serta gedung-gedung sekeliling Masjid Al Akbar. Bahkan aktivitas shooting untuk kepentingan acara televisi pun bisa di lakukan di sana. Waktu Shalat menara tutup sementara

Radio Suara Akbar Surabaya (SAS) FM

Dari sederet fasilitas di atas, MAS masih memiliki lagi satu fasilitas yang tak semua masjid propinsi di tanah air memilikinya, yaitu sebuah stasiun radio milik masjid dengan nama Radio Suara Akbar Surabaya (SAS) FM, dapat didengar di frekuensi 97,2 MHz. Info lengkap tentang SAS FM ada di situs resminya di http://sasfmsurabaya.net. Stasiun ini dikelola oleh perseroan terbatas milik MAS bernama PT. Radio Media Assalam Surabaya.

Poliklinik Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS)

Poliklinik buka setiap hari: Senin-Sabtu : 08.00-16.00 WIB. Jam dokter hadir: 10.00-13.00 WIB. Waktu Shalat tutup sementara. Poliklinik MAS juga menyediakan jasa mobil Ambulance.

Sebagai jawaban nyata atas permasalahan degradasi aqidah dan akhlaq bangsa, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya telah memberikan kontribusi dengan mendirikan Pesantren Tinggi / Ma’had Aly al Qur’an dan al Hadits di Surabaya. Diharapkan upaya ini merupakan andil MAS agar terdapat lembaga tersebut di Jawa Timur, sebagai sebuah provinsi besar gudangnya Pesantren di Indonesia. Dengan fasilitas dan sumberdaya yang sangat memadai, diharapkan kontribusi yang diberikan MAS menjadi sangat signifikan dalam pencetakan kyai dan da’i muda di Jawa Timur pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Dari sederet lembaga dan organisasi dibawah binaan MAS seperti tersebut diatas masih ada sederet lembaga lagi yang bernaung di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, lembaga lembaga tersebut adalah : LAZ MAS (Lembaga Amil Zakat) Masjid Al Akbar Surabaya, Taman Pendidikan AlQur'an (TPQ) Masjid Al Akbar, Remaja Masjid Al Akbar Surabaya (Remas MAS), Pengamal (Pengajian Muslimah Masjid Al Akbar), Hisamal (Himpunan Santri Masjid Al Akbar), Karang Werda Masjid Al Akbar dan Forkomas (Forum Komunikasi Masjid) Masjid Al Akbar.

Menara Masjid Al-Akbar Surabya

(foto darisitus resmi MAS) Kunjungan anggota kongres Amerika ke MAS

Kemegahan MAS ini mengundang decak kagum lima orang anggota kongres Amerika Serikat yang melakukan kunjungan ke MAS pada 24 Februari 2011 lalu. Lima anggota kongres Amerika yang dipimpin oleh anggota kongres David Dreier. Lima anggota kongres tersebut tiba di MAS pada pukul 15.30 WIB dan diterima langsung oleh pengurus MAS yang diketuai Drs H Endro Siswantoro MSi di ruang Multazam MAS. Lima anggota kongres tersebut adalah California Congressman David Dreier (pimpinan rombongan), ranking member North Carolina Congressman, David Price. California Congressman Lois Capps, California Congressman Sam Farr, dan Washington Congressman Jim McDermott.

Dalam kunjungan tersebut kelima anggota kongres Amerika menyempatkan diri berdialog bersama pengurus MAS. Saking antusiasnya anggota kongres tersebut, dialog yang sedianya hanya sepuluh menit malah molor hingga tigapuluh menit. Selain menikmati keidahan MAS, anggota kongres Amerika tersebut juga menyempatkan diri menikmati pemandangan kota Surabaya dari atas menara MAS, sebelum kemudian berpamitan.

Foto Foto Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

MAS di malam hari (foto dari situs resmi MAS)
MAS di pagi hari (foto darisitus resmi MAS)
MAS saat dalam proses pembangunan (foto darisitus resmi MAS)
salah satu ruang MAS (foto darisitus resmi MAS)
ornamen bagian dalam kubah Masjid Al-Akbar Surabaya

Video Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Referensi

situs resmi masjid nasional al-akbar surabaya - www.masjidalakbar.com

republika – kongres as terkesima lihat masjid al-akbar surabaya

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Saturday, August 22, 2020

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan

Aerial view Masjid Agung Sultan Kadirun atau Masjid Agung Bangkalan (foto dari IG Sirojul Umam @siumam)

Masjid Agung Bangkalan merupakan salah satu masjid bersejarah di pulau Madura khususnya di kabupaten Bangkalan, sekaligus juga merupakan salah satu masjid warisan sejarah kerajaan Islam yang pernah ada di pulau Madura. Merujuk kepada situs simas Kemenag RI, Masjid Agung Bangkalan ini pertama kali dibangun tahun 1819.

Masih merujuk kepada situs yang sama, Masjid Agung Bangkalan terdaftar di sistem informasi masjid Kemenag RI dengan nomor ID 01.2.16.26.01.000001. Lahan tempat masjid ini berdiri seluas 11.527 m2, sedangkan luas bangunannya mencapai 3000 m2 dengan daya tampung 5000 jemaah. Masjid Agung Bangkalan ini menyandang nama resmi Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan, dinisbatkan kepada nama pendirinya, meskipun lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Bangkalan.

Masjid Agung Bangkalan

Jl. Sultan Abd. Kadirun No.Lima kecamatan Bangkalan

Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Provinsi Jawa Timur

Indonesia. Kode Pos 69115

Sejarah Masjid Agung Bangkalan

Masjid Agung Bangkalan Pertama kali dibangun sang Sultan Raden Maulana Abdul Kadir bergelar Pangeran Adipati Cakra Adiningrat II & lebih dikenal menggunakan nama Sultan Kadirun. Pembangunannya dimulai menggunakan pemancangan pertama dalam tanggal 14 Jumadil Akhir 1234 H atau 10 April 1819 M sehabis Sholat Jum?At. Bangunan awal masjid ini ukuran 30 m x 30 m. Sejarah perjalanan masjid ini cukup menarik, mengingat pada awalnya, masjid ini penggunaannya hanya dikhususkan bagi kerabat keraton, dan baru pada masa Sultan Kadirun, di renovasi dan diresmikan sebagai wakaf dan terbuka buat warga umum.

Raden Maulana Abdul Kadir (Sultan Kadirun), yang dikenal trengginas pada medan tempur itu wafat dalam hari Kamis Legi 11 Safar 1775 Rahun Jawa, atau lepas 28 Januari 1847 Masehi. Jasad beliau disemayamkan di sebuah cungkup berukuran akbar menggunakan konstruksi dan seni arsitektur bangunan bernuansa gugusan Eropa (Belanda) & Islam, di belakang Masjid Agung Bangkalan yg dibangun nya.

Di pada Cungkup Paseran Raden Maulana Abdul Kadir jua bersemayam belasan makam sanak keluarga dan kerabat dekat beliau. Diantaranya adalah makam Pangeran Muhammad Jusuf alias Panembahan Cakra Adiningrat VII (1847-1862), makam Raden Abdul Jumali alias Pangeran Pakuningrat (1862-1879), makam Raden Mohammad Ismail alias Panembahan Cakra Adiningrat V (1862-1882) & sanak keluarga & kerabat lainnya.

Interior Masjid Ag ung Sultan Kadirun Bangkalan (foto dari IG @ardypurnawansani)

Renovasi, perbaikan & ekspansi Masjid Agung Bangkalan

Sejak dibangun sang Raden Maulana Abdul Kadir, sepanjang perjalanan sejarahnya Masjid Agung Bangkalan ini telah beberapa kali dipugar. Pemugaran pertama dilakukan dalam tahun 1899-1900 atas prakarsa Bupati Bangkalan pertama Raden Moh. Hasyim bergelar Pangeran Suryonegoro. Pemugaran berikutnya dilakukan oleh Bupati Sis Tjakraningrat di tahun 1950 sesudah masjid tersebut mengalami kerusakan akibat gempa.

Di tahun 1965 Masjid tersebut telah nir sanggup menampung jemaahnya, terutama pada waktu sholat Jum?At & sholat led. Master plan planning perluasan masjid terwujud pada masa kepemimpinan Bupati HJ dibuat oleh ITS Surabaya. Realisasi proyek ekspansi baru terealisasi dalam masa pemerintahan Pejabat Bupati Soelarto dalam hari Jum?At 16 Syahban 1401 H atau tanggal 19 Juni 1981 perluasan Masjid dimulai dan dilaksanakan menggunakan sistem bertahap (dibagi 5 tahapan).

Proyek perluasan dilanjutkan sang bupati berikutnya, Bupati Drs. Soemarwoto, Bupati Abd. Kadir melanjutkan menuntaskan tahapan ke IV & ke V. Perluasan masjid dalam masa ini dibantu pendanaan sang pengusaha besar dari Kabupaten Bangkalan, Drs H Hoesein Soeropranoto, bekerja sama menggunakan Yayasan Ta?Mirul Masjid Agung Bangkalan. Proyek tersebut menghabiskan dana lebih menurut Rp. 545,lima juta Rupiah. Proyek tadi dilaksanakan lepas 28 Oktober 1990 s/d lepas 16 April 1991. Renovasi berikutnya dilakukan dalam masa pemerintahan Bupati Bangkalan, RKH Fuad Amin,Spd.

Mimbar Berukir Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan (foto dari IG @alamsyah_nx)

Arsitektur Masjid Agung Bangkalan

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan dibangun di sentra kota Bangkalan, pada sisi barat Taman Paseban, Alun Alun Utara & Lapangan Karapan Sapi kota Bangkalan. Lokasinya terpaut sekitar 2,3 km berdasarkan komplek tempat kerja Bupati Bangkalan yg berada di barat Daya Alun Alun. Meski sudah mengalami berkali kali renovasi bangunan utama masjid ini masih mempertahankan bentuk aslinya berupa bangunan masjid khas Indonesia dengan atap limas bertingkat tanpa kubah bulat.

Di dalam masjid kita akan menemukan jejeran pilar pilar menopang struktur atapnya yang semuanya terbuat menurut kayu berukir sangat indah. Jejeran pilar ini mendominasi interior masjid, begitupun dengan kayu kayu struktur atapnya, menghadirkan suasana sejuk alami pada dalam masjid. Lampu gantung ukuran besar menjuntai di bawah atap limasnya tengah ruangan masjid.

Mihrab nya berupa ceruk berlengkung terdiri dari ceruk bagian tengah sebagai ruangan imam, sedangkan mimbar khutbah ditempatkan di ceruk disebelahnya. Mimbar kayu di masjid ini berupa mimbar kayu berukir dengan beberapa undakan anak tangga tanpa podium. Bentuk mihrab masjid ini senada menggunakan bentuk jendela ventilasi masjid yg pula dibentuk berlengkung pada bagian atasnya.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan (foto berdasarkan gmap)

Lantai masjid dibangun lebih tinggi dari bagian atas tanah pada sekitarnya. Ada jejeran tangga akbar menjadi akse ke masjid masing masing terdiri dari enam anak tangga. Tangga utama pada bagian depan mengarah ke jalan raya sedangkan tangga samping mengarah ke area loka wudhu di sebelah kiri dan kanan. Bangunan primer masjid kini menjadi bangunan induk yg dikelilingi menggunakan bangunan tambahan berupa teras pada sekeliling bangunan utama.

Masjid Agung Sultan Kadirun Bangkalan ini pula dilengkapi menggunakan sepasang menara yg dibangun pada halaman depan masjid di sisi kiri dan kanan. Sepasang menara ini dibangun pada gaya campuran Turki menggunakan ujung atap yg runcing dan badan menara yang bulat dan ramping, dipadu menggunakan gaya Arabia pada bagian balkoni nya yg spesial misalnya balkoni menara Masjidil Haram. Dari sisi arsitektur, menara masjid ini sama sekali tidak sama dengan bangunan utama masjid, lantaran memang dibangun di era yang tidak sinkron dengan langgam seni bangunan yg pula berbeda. (updated 17-8-2019)***

***

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

http://www.lontarmadura.com/sejarah-pemugaran-masjid-agung-bangkalan/

http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/24686/

https://www.pulaumadura.com/2015/04/sekilas-mengenai-sejarah-berdirinya.html

https://situsbudaya.id/masjid-agung-bangkalan/

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Masjid Agung Tuban Jawa Timur

Warna meriah. Penggunaan warna warna terang pada masjid ini berhasil menjadikannya sebagai bangunan ikon kota Tuban yang memang sangat menarik perhatian.

Tuban, galat satu kabupaten pada provinsi Jawa Timur, keliru satu tempat Sunan Bonang Bedakwah. Dan salah satu daerah bawahan Majapahit yang lalu Bupatinya memeluk agama Islam. Di Tuban berdiri sebuah masjid megah yg sering disebut menjadi masjid dengan estetika layaknya bangunan pada dongeng 1001 malam, masjid tersebut merupakan Masjid Agung Tuban.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Tuban

Berdiri megah pada sisi barat alun alun Tuban, masjid ini sudah sebagai Ikon pujian rakyat Tuban. Lokasinya berdiri tidak saja berada pada pusat kota tapi pula bersebelahan menggunakan salah satu situs krusial sejarah tanah Jawa, yakni Kompek Makam Sunan Bonang yang ramai di ziarahi oleh banyak sekali lapisan masyarakat menurut berbagai tempat.

Arsitektur Masjid Agung Tuban

Aristektur masjid ini memadukan ragam budaya dari berbagai negara seperti Arab, Turki, & India. Secara umum bangunan masjid ini terdiri dari bangunan primer masjid yg diapit sang empat menara pada masing masing empat penjuru masjid, 2 bangunan serambi di sisi depan bagian kiri & kanan serta ditambah dua menara yg lebih tinggi dari empat menara lainnya.

Penggunaan aneka warna terperinci sangat kuat menonjolkan bangunan masjid ini ditengah tengah kota Tuban. Kubah utama diapit 2 kubah lainnya diantara enam menaranya yg menjulang seakan akan menghadirkan suasana negeri dongeng pada kehidupan konkret pada kota Tuban.

Sejarah Masjid Agung Tuban

Tuban & Sunan Bonang

Kota Tuban bagaimanapun nir bisa dipisahkan berdasarkan nama akbar Sunan Bonang. Meski Kota Tuban bukan satu-satunya kota tempat Sunan Bonang berdakwah, namun karena beliau dimakamkan pada Tuban maka tidak galat apabila beliau sering diklaim Sunan Tuban. Ada juga yg menyebutkan, makamnya di Lamongan. Seperti para wali yg lain, Sunan Bonang jua mendirikan sebuah masjid menjadi sentra aktivitas dakwahnya. Masjid tersebut dikenal menjadi Masjid Astana yg berada di bangunan kompleks makam Sunan Bonang. Bersebalahan menggunakan komplek masjid Agung Tuban.

Sepasang Landmark. Di latar depan foto adalah bangunan yang menaungi makam Sunan Bonang dan kerabat dekatnya dengan latar belakang Masjid Agung Tuban. Dua Landmark Tuban yang sangat penting bagi sejarah kota tersebut.

Dalam berdakwah, Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim, acapkali memakai alat musik tradisional yg disebut bonang. Bonang adalah sejenis gamelan yg terbuat dari besi atau kuningan yang bagian tengahnya dibuat menonjol. Jika tonjolan itu dipukul menggunakan kayu yg lunak maka akan muncul bunyi yang merdu.

Pada saat itu, suara demikian sudah sangat mengasyikkan indera pendengaran. Apalagi yg membunyikan bonang itu seseorang wali maka bunyinya mempunyai pengaruh yg luar biasa, sebagai akibatnya poly penduduk yg berbondong-bondong ingin menyaksikan dan mendengar berdasarkan dekat.

Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu maka beliau mempersiapkan kolam di depan masjid. Siapa yang mau masuk ke masjid wajib membasuh kakinya. Setelah mereka berkumpul di pada masjid, dia pun mengajarkan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam.

Sepulangnya dari masjid, tembang itu mereka hafalkan di tempat tinggal . Sanak saudara mereka pun turut menyanyikan tembang itu karena tertarik akan kemerduan lagunya. Demikianlah cara Sunan Bonang berdakwah sebagai akibatnya santrinya tersebar di aneka macam penjuru Nusantara.

Masjid Agung Tuban Dulu dan Sekarang

Berdirinya Masjid Jam Tuban

Sebelum menjadi Masjid Agung Tuban, sebelumnya masjid ini dikenal sebagai Masjid Jami? Tuban. Sejarah pembangunan masjid ini tidak terdapat sangkut pautnya menggunakan Sunan Bonang, pembangunan masjid ini sendiri dilaksanakan dalam tahun 1894, terpaut sekitar empat abad dari masa Sunan Bonang. Namun demikian kehadiran masjid ini telah sebagai saksi sejarah keberhasilan dakwah Sunan Bonang di Tuban.

Masjid Jami’ Tuban pertama kali dibangun pada abad ke-15 Masehi, yakni pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo (Bupati Tuban ke-7), letaknya tidak jauh dari kompleks makam Sunan Bonang, Raden Ario Tedjo sendiri merupakan Bupati Tuban pertama yang memeluk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini.

Masjid tersebut sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1894, yakni dalam masa pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-35 Tuban). Saat itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan pada prasasti yg terdapat pada depan masjid ini yg berbunyi :

?Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang dalam hari Akad lepas 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.?

Jika bentuknya kita amati, Masjid Jami Tuban ini memiliki cari spesial tersendiri. Secara garis akbar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu serambi dan ruang shalat primer. Bentuknya tidak terpengaruh dengan norma bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga. Arsitektur masjid ini justru terpengaruh sang corak Timur Tengah, India, & Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan menggunakan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan sampai kini .

Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1985. Masjid mengalami perluasan. Kemudian, pada tahun 2004 dilakukan renovasi total terhadap bangunan Masjid Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yg dilakukan kali ini mencakup pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah sayap kiri & kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan aneka macam masjid populer di dunia dan penambahan enam menara masjid menggunakan luas keseluruhan mencapai 3.565 meter persegi. ***

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Friday, August 21, 2020

Mesjid Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur

Masjid Sendang Duwur dengan latar depan komplek makam Sendang Duwur

Mesjid Sendang Dhuwur, merupakan mesjid tertua pada Lamongan. Mesjid tersebut adalah bukti kebesaran usaha Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan & Tuban. Meski berusia 477 tahun, bangunannya masih berdiri kokoh & menjadi bukti sejarah Islam yg tidak lekang dimakan saat. Bangunan masid Sendang Dhuwur sempat mengalami perbaikan dalam tahun 1920. Tetapi, arsitektur aslinya masih tampak & menggambarkan kebesaran dalam zamannya. Beberapa peninggalan sejarah masih tersisa seperti mimbar, beduk kulit, dan gentong tempat air minum.

Sejarah berdirinya masjid ini kondisi menggunakan cerita yang luar biasa. Masyarakat setempat konfiden bahwa masjid ini dibangun dalam waktu satu malam. Disebutkan bahwa Sunan Sendang Dhuwur memindahkan masjid ini dari Mantingan pada Jepara ? Jawa Tengah ke Lokasi yang sekarang, dalam saat satu malam. Itu sebabnya masjid ini pula diklaim menjadi masjid Tiban. Kini, Mesjid Sendang Dhuwur menjadi satu di antara 3 mesjid peninggalan wali yang masih terawat menggunakan baik. Dua di antaranya yakni Mesjid Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Lokasi Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran

Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra berdasarkan Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yg asal berdasarkan Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir dalam tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini bisa ditinjau pada pahatan yang terdapat di dinding makam dia. Beliau merupakan tokoh kharismatik yang pengaruhnya bisa disejajarkan menggunakan Wali Songo pada waktu itu.

Ada yg mengungkapkan Sunan Sendang Duwur sebagai putra Abdul Qohar menurut Sedayu (Gresik), keliru satu anak didik Sunan Drajad. Ada jua yang menyebut Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar tapi nir berguru dalam Sunan Drajad. Namun dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya diwisuda Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Sejarah Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap sanggup mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Lantaran tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad membicarakan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang ketika itu memiliki masjid.

Interior Masjid Sendang Duwur

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di daerahnya dalam 1531 Masehi. Banyak ulama & kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pulang ke Jepara buat menanyakan masjid tadi. Tapi apa istilah Mbok Rondo Mantingan waktu itu? Hai anak rupawan, mengertilah, aku nir akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (waktu itu telah tewas, Red) berpesan, siapa saja yang sanggup memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan aku berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yg masih belia saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya & tentunya dengan izin Allah, pada waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri pada sana, ditandai mentari sengkala yg berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tadi dibawa rombongan (yg diperintah Sunan Drajad & Sunan Sendang Duwur) melalui bahari berdasarkan Mantingan menuju timur (Lamongan) pada satu malam. Rombongan itu diminta mendarat pada pantai penuh bebatuan seperti kodok (Tanjung Kodok) yg terletak pada sebelah utara bukit Amitunon pada Sendang Duwur.

Akulturasi budaya pada komplek masjid dan makam Sendang Duwur

Tradisi Kupatan pada Tanjung Kodok Lamongan

Rombongan menurut Mantingan itu disambut Sunan Drajat & Sunan Sendang Duwur bersama pengikutnya. Sebelum meneruskan bepergian membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sesudah menunaikan tugas berat. Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu menggunakan kupat atau ketupat & lepet serta legen, minuman spesial daerah setempat. Berawal menurut sini, sebagai akibatnya setiap tahun pada Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

Masjid itu sekarang sudah berusia 477 tahun (didirikan R. Thoyib di Mantingan dalam 1531). Karena usianya yang tua, beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang orisinil tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Maski masjid antik itu sempat dipugar, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak & mendeskripsikan kebesaran pada zamannya.

Ajaran Sunan Sendang Dhuwur

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yg masih relevan pada zaman kini merupakan : "mlakuho dalan kang sahih, ilingo wong kang sak burimudanquot; (berjalanlah pada jalan yg sahih, & ingatlah pada orang yg terdapat di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau dalam seseorang supaya berjalan pada jalan yg benar & jikalau telah menerima kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Meski berada pada ketinggian, masjid & komplek makam ini bisa di capai dengan tunggangan bermotor.

Hubungan Sunan Drajad menggunakan Sunan Sendang Duwur sangat erat dalam siar kepercayaan Islam, & interaksi itu terus mengalir hingga kini . Terlihat, nir jarang para peziarah ke makam Sunan Drajad di Desa Drajad, Kec. Paciran untuk singgah ke Sunan Sendang Duwur.

Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid & makam. Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini memiliki page sendiri-sendiri. Dari arah jalan, yang tampak lebih dulu merupakan kompleks pecandian. Sedangkan gapura page berbentuk mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi misalnya ini telah dikenal semenjak zaman Majapahit, misalnya Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur yg dikeramatkan sang penduduk lebih kurang tadi berarsitektur tinggi yang mendeskripsikan gugusan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar & gapura bagian pada berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi gesekan kayu jati yg bernilai seni tinggi & sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

Makam Sunan Sendang Duwur yg letaknya di atas bukit itu, namun bisa dijangkau oleh kendaraan generik ataupun langsung. Sarana jalan yg telah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yg ingin kesana buat berwisata ziarah.***

Saturday, August 15, 2020

Masjid Jabal Nur dan Kisah Kembalinya Suku Tengger ke Pangkuan Islam

Masjid Jabal Nur Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Masjid Jabal Nur merupakan masjid tertinggi di pulau Jawa, karena terletak  di ketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut. Diapit gunung Semeru dan Bromo

Sekilas tak ada yg istimewa berdasarkan masjid yg satu ini, ukurannya pun terbilang kecil buat sebuah masjid jami?. Tapi terdapat yg teramat istimewa menurut masjid mini ini. Masjid Jabal Nur Hidayatullah nama resminya, diklaim sebut menjadi masjid tertinggi pada pulau Jawa, lokasinya berdiri di dataran tinggi Tenger berada di ketinggian lebih berdasarkan 2000 meter berdasarkan permukaan bahari. Yang paling istimewa merupakan masjid ini adalah salah satu representasi dari usaha panjang selama 20 tahun dua da?I handal mengislamkan pulang warga Suku Tengger.

Topografi dataran tinggi Tengger memang berbukit bukit dan bergunung gunung, wajar bila kemudian masjid Jabal Nur ini pun  berdiri di punggungan bukit dengan bidang bukaan yang tidak terlalu lebar. Bahkan untuk menuju kesana pun butuh perjuangan ekstra menempuh medan yang terjal. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan ustadz muda Ali Farqu, selama 20 tahun malang melintang di kawasan tersebut seorang diri menempuh perjalanan puluhan kilo per hari dengan berjalan kaki demi syiar Islam.

Lokasi Masjid Jabal Nur

Masjid Jabal Nur Hidayatullah

Dusun Puncak, Desa Argosari

Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang

Jawa Timur ? Indonesia

Sejarah Masjid Jabal Nur

Berdirinya Masjid Jabal Nur ini tidak lepas dari kiprah Ustadz Ali Farqu Thoha, da?I yg sudah menghabiskan 20 tahun buat berdakwah mengislamkan kembali warga di pegunungan Tengger. Disebut ?Mengislamkan balik ? Karena faktanya menurut Warsito, salah satu dai yang jua aktif berdakwah di tempat Tengger, sebenarnya kepercayaan lebih banyak didominasi warga Dusun Puncak merupakan Islam. Terbukti dengan adanya sejumlah peninggalan berupa mushola & sebagainya. Tapi, sehabis ditinggal juru dakwah, Islam pada sana pun redup, bahkan mati.

Setelah ada dai kembali berdakwah, lambat laun gelombang masyarakat yg balik ke Islam semakin besar . Hingga akhirnya dari lebih kurang 37 KK atau 250 jiwa, hanya 9 KK yang masih tercacat beragama Hindu. Metoda dakwah yg dijalankan oleh Ustadz Ali Farqu Thoha menggunakan mengenalkan Islam menurut hal yang paling sederhana misalnya menggunakan mengucap salam. Setiap bertemu dengan masyarakat, selalu mengucapkan salam. Lambat laun, mereka pun terbiasa & mendapat Ali. Ali sendiri dengan medan pegunungan seperti itu, tak jarang menempuh dengan jalan kaki. Gelap, hujan, & jatuh telah sebagai sajian yang menemaninya selama berdakwah.

Tak hanya tantangan alam, ancaman teror dari pihak pihak yg tak bahagia menggunakan perkembangan Islam di kawasan tadi jua menerpa. Usaha kerasnya ahirnya berbuah anggun, satu persatu rakyat dusun Puncak pulang ber-Islam kemudian diikuti sang masyarakat dari dusun dusun disekitar dusun puncak lainnnya. Sampai dititik tadi mulai diperlukan loka ibadah buat sholat berjamaah dan keperluan lainnya. Bersama sama rakyat setempat lalu dibangun sebuah mushola sederhana ukuran 5 x 5 m berdinding papan dan beratap karung.

Masjid Jabal Nur beberapa bulan sehabis diresmikan

Berdirinya Masjid Jabal Nur

Ketika digulirkan planning pembangunan Masjid Jabal Nur pada tahun 2009, warga Hindu dusun Puncak sempat berencana buat membangun sebuah pura yang posisinya tepat berhadap hadapan dengan lokasi bakal masjid. Namun berkat pendekatan tokoh muslim setempat yg sebelumnya merupakan tokoh rakyat Hindu disana, lokasi pembangunan pura digeser lebih kurang 500 meter ke arah timur menggunakan metoda pertukaran huma.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Jabal Nur ini dilaksanakan pada tanggal 10 Januari 2009 oleh Wakil Bupati Lumajang Drs. As'at Malik, di hari yang sama beliau juga meresmikan Masjid Al Hidayah Desa Argosari Kecamatan Senduro, sekitar lima kilometer dari Masjid Jabal Nur. Saking sulitnya medan menuju lokasi Masjid Jabal Nur ini, petinggi Kabupaten Lumajang tersebut mau tidak mau harus menumpang ojek yang sudah disiapkan oleh panitia.

Pembangunan Masjid Jabal Nur ini menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta lebih. Dananya dari berbagai sumber. Ada dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH), LSM, swadaya, dan aghniya. Dana tersebut memang cukup besar. Pasalnya, membawa material bangunan cukup sulit. Harus digotong sejauh sekitar 3 kilometer. Kontan, ketika masa pembangunan tersebut, para mualaf libur kerja selama lima bulan. BMH adalah salah satu lembaga Amil Zakat Nasional yang konsisten dalam berdakwah, kini BMH telah mengirim ratusan da’i keseluruh pelosok negeri, khususnya daerah-daerah pedalaman.

Setahun kemudian Masjid Jabal Nur Hidayatullah diresmikan langsung oleh Wakil Bupati Lumajang, Drs. H. As’at Malik pada hari Ahad tanggal 18 juli 2010, dalam sambutan Wakil Bupati yang telah dikenal masyarakat sebagai seorang Kiyai ini, menyampaikan terimakasih kepada Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  yang telah berperan aktif membina para muallaf tengger lewat para da’i yang ditugaskan didaerah tersebut. berbarengan dengan acara peresmian tersebut BMH juga mengadakan acara, sunnat Massal yang diikuti 20 orang anak, dan pengobatan gratis yang diikuti 1050 orang.

Mungil ::: inilah masjid pada lokasi tertinggi pada pulau Jawa. Masjid di tengah dusun berselimut kabut diantara 2 gunung tersohor pulau jawa, Bromo & Semeru.

Peresmian tadi dihadiri lebih kurang 500 orang mulaf Tengger juga diisi menggunakan ceramah kepercayaan oleh K.H. Makhrus Ali , & K. H. Habib Alwi Alhabsy dari Lumajang. Kedua tokoh ini begitu bersemangat membicarakan pesan-pesan kepercayaan kepada para muallaf disana, bahkan mereka mewanti-wanti buat diundang balik bila terdapat program disana, ?Tanpa disangoni, saya lapang dada? Ujar K.H. Makhrus Ali. Begitupun para pesertanya tampak begitu antusias, gemuruh sholawat yg keluar menurut suara peserta menggaung diantara lereng-lereng gunung yg terjal, membahana menembus kabut tipis.

Ribuan muallaf tumpah ruah dalam acara peresmian Masjid Jabal Nur Hidayatullah, mereka datang dari berbagai dusun Desa Argosari, Dusun Gedok, Pusung Duhur, dan puncak tempat mereka datang. Untuk mencapai tempat acara para muallaf rela berjalan kaki berpulu-puluh kilo meter, dengan medan jalan yang  terjal, menanjak, menukik, kanan dan kiri dipagari jurang. Ummat muslim yang masih mualaf disana sangat bersyukur telah dibangun masjid yang bisa dipakai untuk ibadah sholat jumat, sholat jamaah lima waktu, pengajian dan Taman Pengajian Al qur’an (TPA).

Berlatar bentang alam yg latif alami

Arsitektural Masjid Jabal Nur

Masjid itu bernama Jabal Nur. ?Jabal? Artinya gunung, sedangkan ?Nur? Adalah cahaya (Islam). Menurut, nama itu sengaja dibuat karena ingin Islam menjadi cahaya pada zenit tertinggi di Senduro itu. Ukurannya tak terlalu besar kurang lebih 10 x 8 m, tapi setidaknya cukup apabila menampung lebih dari 50 jamaah. Belum lagi pada bagian teras luar masjid. Desain masjid dibuat minimalis, tapi terbaru. Dihiasi kubah bundar besar , menambah masjid ini penuh wibawa. Pada pucuk kubah bertuliskan ?Allah?. Seluruh dinding masjid bercat putih dengan keramik lantai berwarna hijau muda. Yang menambah latif masjid ini, posisinya relatif tinggi dibanding menggunakan rumah-rumah para penduduk. Bagian tangganya dibikin semacam tangga yang berundak-undak tinggi. Eksotis sekali.

Lokasinya yg berada diketinggian menaruh pemandangan bentang alam yang begitu indah menurut masjid ini, sebuah zenit di lereng Semeru yang latif. Dan, akan lebih indah lagi jika berdiri pada teras masjid. Panorama cantik akan terlihat jelas. Jurang yg menganga begitu terjal pada kanan dan kiri. Masjid yang benar -benar sebagai berkah bagi warga dusun Puncak. Mengingat, bukan hal mudah buat mendirikannya. Bukan lantaran dana, tapi jua lahan yg akan dijadikan masjid. Tapi, itu semua berkah sesudah mereka hijrah dari Hindu ke Islam. Allah pun mempermudah pendirian masjid tersebut.

Referensi

sosbud.kompasiana.com - bmh-resmikan-masjid-tertinggi-di-pulau-jawa

lumajang.go.id – peresmian masjid alhidayah dan peletakan batu pertama masjid jabal nur

hidayatullah.com - jabal-nur,-masjid-eksotis-di-lereng-semeru

Wednesday, July 22, 2020

Masjid Agung Jami Malang

Mendengar nama Malang, para pencinta sepakbola di tanah air niscaya akan pribadi teringat dengan klub sepakbola Persema & Arema Indonesia, klub yang disebut terahir ini adalah jawara Liga Super Idonesia animo kemudian (2009-2010). Di kota nya Aremania ini terdapat masjid agung tua yang bernama Masjid Agung Jami Malang. Masjid tua yg cantik penuh kharisma, menenangkan hati siapapun yang beribadah disana.

Masjid ini dipercaya sebagai satu menurut tiga masjid tua di propinsi Jawa Timur yg di anggap menjadi tempat Mustajabah, atau loka dimana doa doa berdasarkan hamba hamba yang beriman akan dikabulkan oleh Allah Subhanahuwata?Ala. Dua masjid lain nya merupakan Masjid Ampel Surabaya, Masjid Jami? Pasuruan

Lokasi Masjid Agung Jami Malang

Masjid Agung Jami? Berada di Jalan Merdeka Barat No 3 Malang, provinsi Jawa Timur. Letaknya relatif strategis dipusat kota. Pada sebelah barat alun-alun sentra kota Malang. Di sebelah selatan masjid masih ada gedung Bank Mandiri (eks. Bank Bumi Daya) & di sebelah utara terdapat bangunan kantor Asuransi Jiwasraya.

Telepon : 0341 – 321365 dan 0341 - 326359

Situs resmi : http://www.masjidjami.com

Email untuk pengiriman naskah tulisan : redaksi@masjidjami.com

Email untuk beriklan : iklan@masjidjami.com

Email untuk saran atau kritik : admin@masjidjami.com

Email ke Radio majid : madinafm@masjidjami.com

View Larger Map

Sejarah Masjid Jami Agung Malang

Malang pada awal berdirinya Masjid Agung Jami’ Malang masih bernama Masjid  Jami’ Malang. Sebagai masjid utama di Kota Malang, Masjid Agung Jami’ menjadi institusi yang amat penting dalam kehidupan umat Islam. Selain itu, masjid merupakan sarana keagamaan yang memiliki makna strategis bagi umat Islam, tidak saja dalam masalah ritual keagamaan tapi juga berkaitan dengan persoalan-persoalan kemasyarakatan, sosial dan budaya dalam arti luas.

Ta'mir Masjid Agung Jami' Malang

Masjid Agung Jami? Malang didirikan dalam tahun 1890 M pada atas tanah Goepernemen atau tanah negara kurang lebih 3.000 m2. Menurut prasasti yg ada, Masjid Agung Jami? Dibangun dalam 2 termin. Tahap pertama dibangun tahun 1890 M, lalu termin kedua dimulai pada 15 Maret 1903, dan selesai dalam 13 September 1903. Bangunan masjid ini berbentuk bujursangkar, berstruktur baja dengan atap tajug tumpang dua, dan hingga waktu ini bangunan asli itu masih dipertahankan keberadaannya.

Arsitektur Masjid Agung Jami Malang

Dari bentuknya, Masjid Agung Jami? Malang mempunyai dua gaya arsitektur, yaitu arsitektur Jawa dan Arsitektur Arab. Gaya arsitektur Jawa terlihat berdasarkan bentuk atap masjid bangunan lama yang berbentuk tajug. Sedangkan gaya arsitektur Arab terlihat berdasarkan bentuk kubah dalam menara masjid dan jua konstruksi lengkung pada bidang-bidang bukaan pintu dan ventilasi.

Presiden SBY di Masjid Agung Jami' Malang

Pada dasarnya seluruh bagian bangunan Masjid Agung Jami? Malang mulai batas suci merupakan sakral. Hal ini implisit menggunakan adanya disparitas ketinggian lantai yg terlihat mencolok, dimana bagian lantai bangunan yang sakral kurang lebih 105 cm menurut muka tanah bangunan pada sekitarnya. Di bagian mihrab (tempat imam) lebih sakral lagi, hal ini implisit menggunakan peninggian lantai dalam bagian tersebut. Bahkan sampai sekarang pada belakang mihrab terdapat beberapa makam leluhur pendiri masjid.

Bangunan Masjid ini di topang oleh empat sokoguru utama yang terbuat dari kayu jati dan 20 tiang yang bentuknya dibuat  mirip dengan 4 kolom itu, dibangun dengan penuh tirakat dan keihlasan para pendirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Meski Takmir Masjid Agung Jami’ Malang melakukan renovasi terhadap bangunan masjid bangunan asli masjid tetap dilestarikan.

Radio Masjid Agung Jami’ Malang, RADIO MADINA FM 99,8

Dalam menjalankan galat satu kegunaannya menjadi pusat aktivitas dakwah & pusat pengembangan budaya, serta pula menjadi pusat berita sebagai upaya peningkatan kualitas sumberdaya insan dan umat Islam, ditengah-tengah meningkatnya serangan faham sekulerisme, pendangkalan kepercayaan dari banyak sekali sudut yg semakin gencar dari mulai media cetak, media elektronik, aktivitas budaya, kenaikan pangkat kenakalan remaja melalui penggunaan narkoba, provokasi konfrontasi antar massa & lain sebagainya.

Untuk merespon serangan agresi pemikiran tersebut menggunakan bijaksana. Takmir masjid Agung Jami? Malang terpanggil buat memberikan satu alternativ keterangan dan dakwah Islam dengan mendirikan Radio Madina FM 99.8 menggunakan asa sebagai surat keterangan ummat Islam di Malang Raya & sekitarnya pada memeriksa & mendalami ajaran Islam yg dibawa Rasulullah SAW.

Masjid Agung Jami? Malang menyelenggarakan pengajian generik secara rutin berupa kuliah subuh setiap hari & pengajian bakada Magrib yang isi sang para kyai kyai ternama kota Malang. Kegiatan remaja masjid pada Masjid Agung Jami? Malang ini juga cukup semarak.

Sumur Artesis Masjid Agung Jami? Malang

Fasad Masjid Agung

Jami' Malang

Untuk penyediaan air higienis bagi semua aktivitas masjid, takmir masjid Agung Malang telah menciptakan sebuah sumur bor artesis sedalam 205 meter. Sumur artesis tadi sudah mengeluarkan air sendiri meski tanpa memakai pompa dengan debit mencapai 15 liter per dtk. Berdasarkan hasil uji oleh PDAM kota Malang, air dari sumur artesis ini memenuhi syarat buat eksklusif diminum. Air itu mengandung alkalinitas (Ph) 273.31, kandungan total dissolved water (TDS) mendekati kandungan TDS air zam-zam. TDS air artesis masjid jami sebanyak 437 sedangkan air zam-zam 430 TDS.

Pengeboran sumur mulai dilakukan hari Rabu, 27 Januari 2010M /11 Muharram 1431H. Dengan dana sebesar Rp 150 juta ditanggung sepenuhnya oleh seorang dermawan.  Dan air dari sumur artesis tersebut baru keluar dengan sendirinya tanpa pompa di hari ke 41 pekerjaan pengeboran, hari Rabu, 10 Maret 2010M / 24 Rabiul Awwal 1431H Sekitar jam 23.00 WIB justru di saat tidak ada lagi pekerjaan pengeboran.

Ladang Jariyah

Bagi anda yang ingin beramal jariyah dengan ikut dan mendanai proyek perluasan dan pembangunan Masjid Agung Jami? Malang dapat berpartisipasi menggunakan mengantarkan langsung ke sekretariat Masjid atau melalui rekening rekening berikut :

  • Bank Syariah Mandiri No. 029 704 5856 atas nama : Achmad Syahid c.q. Masjid Agung Jami’ Malang
  • Bank Jatim  No.004 102 9211atas nama : Takmir Masjid Agung Jami’ Malang

Masjid Agung Jami' Malang Tahun 1910
Masjid Agung Jami' Malang Tahun 1914
Masjid Agung Jami' Malang Feb 1948
Masjid Agung Jami' Malang Tahun 1950
Masjid Agung Jami' Malang, Dulu dan Kini
Dipangang dari alun alun

Referensi

Situs resmi Masjid Agung Jami’ Malang http://www.masjidjami.com

Malang post Hampir Putus Asa, Tiba-Tiba Air Keluar

Foto foto dari Balimuslim.com

----------------

Baca Juga Masjid pada Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Sunday, June 28, 2020

Masjid Agung Sumenep, Pulau Madura – Jawa Timur

Gerbang Masjid Agung Sumenep - Madura (freetimeindonesia )

Masjid Agung Sumenep, dulunya disebut masjid Jami’ Sumenep, berada di tengah tengah kota Sumenep, menghadap ke taman Kota, dengan gerbang besar yang unik, pintu kayu kuno, berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid yang sudah berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh, menjalankan fungsingya dengan baik dan menjadi salah satu penanda kota Sumenep.

Tentang Sumenep - Madura

Sumenep merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, Lokasinya berada di ujung timur pulau Madura. Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi ±1 juta jiwa. Beribukota kota di Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan di pulau Madura juga terdiri dari berbagai pulau di Laut Jawa, keseluruhan pulaunya berjumlah 126 pulau.

klik untuk memperbesar

Sejarah Sumenep dimulai sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama Kadipaten Sumenep dibawah kekuasaan Kertanagara dari kerajaan Singosari pada tanggal 31 Oktober 1269. Arya Wiraraja merupakan sosok dibalik jatuh bangunnya beberapa kerajaan di tanah jawa termasuk Singosari, Gelang Gelang, Kediri dan Sumenep sebelum kemudian mendirikan kerajaan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya.

Sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai adipati pertama Sumenep, ada 35 Adipati yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan di era NKRI  ini telah dipimpin oleh 14 Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Sumenep. Tanggal 31 Oktober kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari jadi kabupaten Sumenep.  Kenali Kabupaten Sumenep lebih jauh melalui situs resmi nya di http://www.sumenep.go.id/ dan di situs pariwisata Sumenep di http://www.eastjava.com/tourism/sumenep/index.html

Islam di Sumenep

Merujuk kepada mediamadura.wordpress.com, penyebar  agama Islam di Sumenep adalah Syayyid Ahmadul Baidhawi atau yang dikenal dengan Pangeran Katandur sekitar pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan atau sekitar tahun 1550-an. Jauh sebelumnya atau sekitar tahun 1400-an ada juga ulama penyebar agama Islam yang bernama Raden Bindara Dwiryopodho dikenal dengan nama Sunan Paddusan, namun menurut cerita para pengamat sejarah masih ada penyiar agama Islam yang lebih awal di Sumenep, yakni sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari  (Adipati Sumenep kelima, memerintah 1319-1331). Masih menurut sumber yang sama, Panebahan Joharsari merupakan Raja Sumenep pertama yang memeluk Islam. (lihat bagan hubungan antara Pangeran Katandur dengan Adipati Sumenep).

Masjid Agung Sumenep tahun 1890-1917 (id.wikipedia)

Namun bila merunut perjalanan Islam di Sumenep, ada jeda waktu cukup lama antara masa pemerintahan Panebahan Joharsari (Adipati Sumenep ke lima, 1319-1331) hingga berdirinya masjid Laju di masa pemerintahan Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep ke 21, 1626-1644 M). apakah di kurun waktu tersebut belum ada masjid ? atau pelaksanaan ibadah sholat berjamaah dilaksanakan di kraton ?. Wallohua’lam bisshawab.

Masjid Agung Sumenep - Madura

Berdiri menghadap alun alun kota Sumenep Masjid Agung Sumenep yang dulunya disebut masjid Jami, menjadi salah satu penanda kota Sumenep. Usianya yang sudah ratusan tahun namun masih berdiri megah menjadikannya sebagai salah satu warisan sejarah masa lalu sekaligus memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga Sumenep.

Secara administrative Masjid Agung Sumenep masuk dalam desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Masjid ini seluas 100m x 100m dilengkapi dengan bangunan sekretariat, bangunan pesanggrahan kiri dan kanan, bangunan toilet dan tempat wudhu serta tempat parkir.

View Masjid Agung Sumenep in a larger map

Sejarah Masjid Agung Sumenep - Madura

Masjid Agung Sumenep dibangun setelah selesainya pembangunan Kraton Sumenep, pembangunan masjid ini digagas oleh Adipati Sumenep ke 31, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (berkuasa tahun 1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar, untuk menampung jemaah yang semakin bertambah. Bangunan masjid yang ada saat itu dikenal dengan nama Masjid Laju, dibangun oleh adipati Sumenep ke 21 Pangeran Anggadipa (berkuasa tahun 1626-1644 M) sudah tak lagi memadai kapasitasnya untuk menampung jemaah.

Pembangunan masjid Agung Sumenep di arsiteki oleh Lauw Piango, arsitek yang sama yang menangani pembangunan kraton Sumenep. Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M). proses pembangunan masjid dimulai tahun 1198 H (1779M) dan keseluruhan proses pembangunannya selesai pada tahun 1206H (1787M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Atap bersusun pada Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)

Arsitektural Masjid Agung Sumenep - Madura

Arsitektural masjid Agung Sumenep sepertinya memang sengaja dirancang oleh Arsiteknya waktu itu dengan menggabungkan berbagai unsur budaya. Arsiteknya yang ber-etnis Tionghoa turut menorehkan unsur budaya China pada seni bina bangunan masjid ini. Seni Arab, Persia, Jawa, India dan China menjadi satu kesatuan utuh pada bangunan masjid Agung Sumenep ini.

Bangunan utama masjid di tutup dengan atap limas bersusun. Atap limas bersusun atau berundak, susunan atap seperti ini selain merupakan ciri khas bangunan di tanah jawa yang menggunakan atap joglo tapi juga merupakan bentuk atap yang banyak dipakai pada bangunan klenteng yang biasa menggunakan atap bersusun. Di ujung tertinggi atap bangunan dipasang mastaka berbentuk tiga bulatan.

Mihrab dan mimbar ganda Masjid Agung Sumenep (ahmadramadlan)

Gerbang utama yang dibangun di masjid ini banyak di pakai di bangunan bangunan penting negeri China dan India, di dua negeri itu bangunan gerbang tidak semata mata sebagai pintu masuk utama tapi juga merupakan pos penjagaan. Bangunan ini cukup besar dan megah, dengan ruangan di atasnya, bisa jadi pada jamannya ruang ini merupakan tempat menyimpan beduk dan kentongan serta tempat muazin mengumandangkan azan. Sehingga wajar bila kemudian ruang di atas gerbang ini yang difungsikan layaknya menara. Gerbang masjid Agung Sumenep ini benar benar menyita perhatian karena bentuknya yang begitu besar dan megah. Jangan lupa bahwa masjid masjid awal di tanah air memang tidak dilengkapi dengan menara.

Ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan dengan seksama, ukiran ukiran yang ada di pintu utama masjid ini sangat kental pengarus budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Ukiran dengan nada yang serupa akan banyak di jumpai di daerah Palembang yang seni arsitekturalnya juga dipengaruhi cukup kuat oleh budaya China. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, diatas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa.

13 pilar di dalam bangunan utama Masjid Agung Sumenep (freetimeindonesia)

Sentuhan budaya China terasa lebih kental pada mihrab masjid. Uniknya masjid ini memiliki dua mimbar disisi kiri dan kanan mihrabnya. Hiasan keramik porselen warna biru cerah dengan corak floral mendominasi dua mimbar dan mihrab di masjid ini. Dilihat dari coraknya kemungkinan besar keramik porselen tersebut di import dari daratan China. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.

Sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya, dengan sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya.  Didalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan diatas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.

Video Masjid Agung Sumenep - Madura

Foto Masjid Agung Sumenep - Madura

Bangunan Asli dan tambahan terlihat jelas dari sisi ini (flickr)

Masjid Agung Sumenep

Tiang tiang utama dari 13 tiang utama di Masjid Agung Sumenep (Panoramio)

Mimbar dan Mihrab Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)

ukiran floral di Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)

Jendela besar berukir di Masjid Agung Sumenep (eastjava.com)

Referensi

Lontarmadura.com – masjid agung sumenep paduan arsitektur dunia

Tempointeraktif.com – beribadah sambil melek sejarah masjid agung sumenep

Bagianjawatimur.blogspot.com – masjid jami sumenep madura

lya-ordinarygirl.blogspot.com – mesjid agung sumenep

andiferdiyanto.blogspot.com – mesjid-jamik-atau-masjid-gung-sumenep

id.wikipedia – kabupaten sumenep

situs resmi pemkab sumenep - http://www.sumenep.go.id/

id.wikipedia – kadipaten sumenep

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done