Islami Pedia: Masjid di Jambi
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Jambi. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Jambi. Show all posts

Saturday, September 19, 2020

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi

Tertua di Kota Jambi. Masjid Jami' Ikhsaniyah kota Jambi pertama kali dibangun tahun 1880 (foto dari wikimapia)

Masjid al-Ikhsaniyah atau yang lebih dikenal sang warga setempat menggunakan nama Masjid Batu adalah Masjid tertua pada kota Jambi, Provinsi Jambi. Masjid ini terletak di seberang Kota Jambi yg dibelah sungai Batanghari, tepatnya Masjid ini berada di Jalan KH. Ibrahim, RT 05 Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi. Bangunan masjid ini telah mengalami ekspansi oleh pemerintah Belanda semasa penjajahan dengan mempertahankan karakteristik ciri spesial utamanya demi menjaga nilai historis-nya.

Lokasi Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah

Jalan KH. Ibrahim, RT 05

Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk

Kota Jambi, Propinsi Jambi

Indonesia

Koordinat geografi berada di : 1°35'7"S   103°36'8"E

Masuknya Islam Ke Jambi

Berdasarkan penuturan tokoh ulama Jambi, penyebaran Islam di Jambi diawali kedatangan rombongan kapal dari Kesultanan Turki untuk menyebarkan agama Islam yang dipimpin Ahmad Ilyas (sumber lain menyebut namanya Ahmad Salim atau Ahmad Barus atau Barus II). Kapalnya terdampar di Pulau Berhalo  pada 1120 H. Oleh rakyat Jambi, Ahmad Ilyas diberi gelar Datuk Paduka Berhalo. Karena keberhasilan beliau menyebarkan Islam di wilayah Jambi dimulai dari Pulau berhala. Konon beliaulah yang menghancurkan berhala berhala sembahan di pulau berhala.

Ahmad Ilyas lalu menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak, Putri bangsawan kerajaan Minangkabau yang berkuasa di Jambi, sebuah pernikahan politik yang kemudian memasukkan beliau ke dalam keluarga bangsawan. Tahun 1138, Ahmad Ilyas mendatangkan ulama dari Hadramaut keturunan Ahlul Bait Rasulullah, Sayyid Husin bin Ahmad bin Abdurahman. Kedatangan beliau disambut hangat oleh rakyat Jambi. Dari sanalah kemudian lahir kerajaan Islam di Jambi sampai ahirnya menjadi kesultanan, hingga ke Sultan Jambi terahir Sultan Thaha Syaifuddin yang menghabiskan masa kekuasaannya menentang penjajahan Belanda di wilayah Jambi hingga ahir hayatnya.

Foto tua Masjid Jami’ Ikhsaniyyah (foto dari id.wikimapia)

Sejarah Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid ini didirikan dalam tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus, seseorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo, dia merupakan seseorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus buat memenuhi fungsi tempat ibadah bagi warga seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi saat itu yang telah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah & aktivitas sosial lainnya.

Habib Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 & dimakamkan di depan masjid Ikhsaniyah yg didirikannya. Kini sekali dalam setahun famili akbar beliau menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus bin Hasan Al Jufri yg dipusatkan di masjid ini. Peringatan tadi di agendakan sekali dalam setahun, sang pihak keluarga dan warga muslim Sekoja (seberang kota Jambi) menjadi bentuk penghormatan atas jasa jasa dia. Peringatan tadi setiap tahun turut pula dihadiri sang tokoh kepercayaan , alim ulama, cendikiawan, gubernur & undangan lainnya.

Makam Sayid Idrus di depan Masjid Ikhsaniyah (amalimuadz.blogspot.com)

Mengenal Habib Idrus bin Hasan Al Jufri (Said Idrus)

Tanggal pasti kelahiran Said Idrus ini nir diketahui, satu satunya liputan menurut dokumen Belanda yg menjelaskan bahwa dalam tahun 1879, Said Idrus berumur lebih dari 40 tahun. Bisa dikatakan bahwa dia dilahirkan di Jambi sebelum tahun 1839 dari seseorang ayah asli Arab. Masih dari dokumen Belanda, disebutkan bahwa Said Idrus wafat pada tahun 1905 meskipun di makam dia dicantumkan angka 1902 menjadi tahun kematian-nya.

Said Idrus adalah galat satu famili Al-Jufri di Jambi yang dari menurut golongan Said (sayyid). Dan adalah satu menurut sembilan famili terhormat dan terpandang menurut famili ahlul bait (famili Rosulullah), lantaran silsilah keluarga dia dapat ditelusuri hingga ke Nabi Muhammas S.A.W dari garis Putri & menantu Baginda Rosullullah. Keluarga Al-Jufri pada jambi turut memainkan peran mereka pada perpolitikan disana dari tahun 1812. Keluarga Al-Jufri yg datang ke Nusantara lalu menikah menggunakan putri berdasarkan kalangan bangsawan lantaran memang wanita Arab nir turut serta bermigrasi ke Nusantara.

Papan Nama Masjid Ikhsaniyah, sangat tua (Foto dari wikimapia)

Kelauarga Arab memainkan kiprah krusial menjadi perantara antara penguasa lokal menggunakan penguasa penjajahan Belanda. Selain itu juga menjadi juru bicara antara keluarga Al-Jufri terhadap keraton Jambi dan Penguasa penjajahan Belanda. Said Idrus memegang peran unik tersebut direntang waktu 1860 sampai wafatnya pada tahun 1902 atau 1905. Said Idrus menikah menggunakan Putri Sultan Nazaruddin dan mendapatkan gelar Pangeran Wiro Kusumo langsung berdasarkan Sultan.

Gelar Pangeran ini pula memberi kekuasaan pada said Idrus buat sebagai ?Pepati pada? Pada keraton Jambi yg merogoh kiprah Sultan dalam ketika Sultan nir ditempat. Menurut dokumen Belanda, pangeran Wiro Kusumo memainkan peran yg sangat krusial ini di tahun 1858-81 ketika Sultan Nazaruddin lebih poly menentukan mengasingkan diri ke loka yang jauh berdasarkan keraton buat menjaga jeda menggunakan penguasa penjajah Belanda pada Jambi. Mungkin itu sebabnya beberapa penulis bahkan sempat menyebut pangeran Wiro Kusumo menjadi Sultan Jambi. Bisa di maklumi, lantaran Pangeran Wiro Kusomo memang mempunyai efek yg begitu akbar pada keraton Jambi, selain menjadi menantu berdasarkan Sultan Nazaruddin beliau juga merupakan besan menurut Sultan Thaha Syaifuddin, Sultan Jambi Terahir yang tidak lain jua merupakan ipar-nya sendiri.

Ciri khas Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Bangunan pada Masjid dipenuhi menggunakan hiasan kaligrafi aneka macam rupa. Mimbar asli berdiri anggun pada sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada pada bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari Mesjid ini merupakan banyaknya jendela. Jendela-ventilasi yang dipasang berpasangan itu mengelilingi Mesjid. Hanya tembok mihrab yang tidak berjendela.

Hingga kini, kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Pangeran Wiro Kusumo semasa hidup masih  dilakukan keturunan dan pengikutnya. Salah satunya adalah menyantap makan dalam tempeh (wadah besar)  ramai-ramai. Tradisi seperti itu memang merupakan salah satu tradisi para ulama yang berasal dari Yaman yang kemudian berkembang di tanah air. Tadisi yang sama dapat juga dijumpai di masjid masjid tua lainnya di tanah air seperti di Masjid Sultan Palembang ataupun Masjid Al-Hawi di Condet – Jakarta.

Mimbar dan Mihrab Masjid Ikhsaniyah (Foto dari wikimapia)

Tradisi Sumpah di Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Sekitar tahun 60-an, Masjid Ikhsaniyah adalah loka orang menuntaskan sengketa. Jika terdapat orang berselisih wacana kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa masalah itu ke Mesjid dan mengambil sumpah menggunakan disaksikan para pendudk dan pemuka kepercayaan .

Masjid ini diyakini mempunyai keramat tersendiri lantaran apabila terdapat yang berani bersumpah palsu pada dalamnya, maka beliau akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur & tak terdapat seorang pun yg berani mengambil risiko bersumpah palsu pada dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, sesudah hingga mereka tak berani & mengakui perbuatannya. Apabila terdapat yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya hingga diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan apabila dia sudah sadar umumnya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.

Mimbar Masjid Ikhsaniyah

(Foto dari wikimapia)

Tetapi sayang, tradisi itu telah hilang sama sekali. Tak terdapat lagi orang yang berakibat Mesjid itu menjadi sarana mempertemukan kebenaran & mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yg mengetahui kisah tersebut.

Dipugar Belanda

Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam pada Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yg ditandai menggunakan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadatuddarein, Pesantren Jauharein, & Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat pencerahan keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan tempat seberang kota Jambi poly didatangi orang menurut banyak sekali daerah untuk belajar.

Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin usang jamaah Masjid itu semakin penuh sampai akhirnya tak lagi bisa menampung jamaah yg terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh warga lalu menggelar musyawarah dan bermufakat buat memperbaharui Mesjid. Disepakati dana pembangunan Mesjid dikumpulkan menurut sedekah & infaq rakyat hingga akhirnya terkumpul dana yg cukup buat memugar Mesjid pad tahun 1935.

Beduk tua di masjid Al-Ikhsaniyah (foto dariamalimuadz.blogspot.com)

Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Para tokoh masyarakat meminta izin pada Belanda. Lalu masuklah permohonan perbaikan Mesjid ke pemerintah Belanda yg ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang & sejarah berdirinya Mesjid.

Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tadi merupakan peninggalan Sayyid Idrus yg merupakan galat seseorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Lantaran menduga bahwa Mesjid tadi bernilai sejarah menjadi Mesjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial merogoh alih pembangunan Mesjid. Dana pun turun berdasarkan pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu biar karena dana telah tersedia. Jadilah dana menurut rakyat itu tidak terpakai yg akhirnya digunakan buat menciptakan pagar mengelilingi Masjid.

Update Desember 2016

Agustus 2015

Berdasarkan image menurut google street view yg direkam dalam bulan Agustus tahun 2015, bentuk masjid Batu Al-Ikhsaniyah ini telah kembali berubah. Bentuk Ekteriornya mengalami perubahan disana sini membuatnya lebih tampak sebagai bangunan masjid modern. Perubahan paling signifikan pada bagian atapnya, kubah dengan bentuk atap limasnya yg merupakan salah satu karakteristik spesial masjid masjid tua Nusantara, telah tidak ada lagi berganti dengan kubah parabola berdasarkan beton. Perubahan signifikan lainnya tampak pada bangunan makam Sayid Idrus yg kini dibuat terbuka.***

Foto Foto Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Al-Ikhsaniyah sekitar tahun 1920.
Tempat wudhu Masjid Ikhsaniyah (foto dariamalimuadz.blogspot.com)

Referensi

amalimuadz.blogspot.com - mesjid-batu-al-ikhsaniyah

Majalah Hidayah edisi 58, Mei 2006 halaman 126-129

jambi.tribunnews.com - hari-ini-haul-pangeran-wiro-kusumo

jambiekspres.co.id - menelusuri-jejak-penyebar-islam

sumatfeet.wordpress.com - list-of-of-jambi-leaders

sumatfeet.wordpress.com - sayyid-idrus-bin-hasan-al-jufri

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid pada pulau Sumatera lainnya

Masjid Azizi, Masjid Kesultanan LangkatMasjid Raya Sulaimaniyah, Masjid Kesultanan Serdang Masjid Raya Al Mashun Medan Masjid Al Osmani Tertua di Kota Medan Masjid Lama Gang Bengkok Kota Medan Mesjid Nurul Iman kota Padang‎ Masjid Ganting Kota Padang Gerakan 1000 Surau Minangkabau Paska Gempa 2009 Mesjid Nurul Iman kota Padang‎ Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru Masjid Raya Batam Masjid Raya Natuna Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II) Masjid Jami' Indrapuri Aceh Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang Masjid Agung Sultan Palembang (Bagian I) &(Bagian II) Masjid Babussalam GelumbangMasjid Raya Sulaimaniyah, Masjid Kesultanan Serdang Masjid Jami’ Bengkulu Kenang Kenangan dari Bung Karno

Friday, September 18, 2020

Masjid Agung Pondok Tinggi, Masjid Tertua di Kerinci - Jambi

Masjid Agung Pondok Tinggi, Sungai Penuh, Jambi (foto dari ms.wikipedia.org)

Masjid Agung Pondok tinggi merupakan salah satu masjid tertua di wilayah Kerinci (Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh) di Provinsi Jambi. Masjid yang dibangun pada 1874 M itu merupakan saksi nyata penyebaran Islam ke wilayah tersebut. Kota Sungai Penuh sebelumnya merupakan ibukota dari Kabupaten Kerinci yang kemudian menjadi kota mandiri berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 2008 lepas dari administrasi Kabupaten Kerinci. Sebagian wilayah Kota Sungai Penuh ini merupakan Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang terkenal dengan keindahan alam nya.

Logo kota Sungaipenuh

Sepintas lalu bentuk Masjid Agung Pondok Tinggi ini mirip dengan rancangan Masjid Batu Al-Ikhsaniyah di Sekoja (Seberang Kota Jambi) sebelum direnovasi oleh Belanda, dan rancangan Masjid Jami’ Bengkulu yang dirancang ulang oleh Bung Karno. Namun, Masjid Agung Pondok Tinggi di Sungai Penuh ini tidak memiliki keterkaitan dengan Bung Karno tapi dengan Bung Hatta yang pernah berkunjung dan sholat di masjid ini tahun 1953 didampingi Bpk. Ruslan Mulyohano, Gubemur Sumatra Tengah waktu itu.

Beliau berpesan agar masjid bersejarah tadi dijaga kelestariannya, sekaligus memberinya nama ?Masjid Agung Pondok Tinggi?. Menurut warga setempat, pembangunan masjid ini dimulai dalam Rabu, 1 Juni 1874, & terselesaikan pada 1902. Dibangun menggunakan cara swadaya gotong royong rakyat muslim setempat. Lokasi Masjid Jami Pondok Tinggi sekarang berada ditengah tengah pemukiman masyarakat pada RT.02 Desa Pondok Agung / Pondok Tinggi. Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi.

Alamat & Lokasi Masjid Jami Pondok Tinggi

Masjid Agung Pondok Tinggi

Desa Pondok Tinggi, Kecamatan Sungai Penuh

Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, Indonesia

Koordinat geografi : dua?Tiga'58danquot;S 101?23'37"E

Lihat lokasi masjid Agung Pondok Tinggi di wikimapia

Masjid Agung Pondok Tinggi di Kota Sungai Penuh dapat ditempuh melalui tiga alternatif jalur darat. Pertama, perjalanan dari Kota Jambi ke Kota Sungai Penuh berjarak sekitar 500 km, dengan waktu tempuh sekitar 10 jam. Kedua, perjalanan dari Kota Padang ke Tapan kemudian dilanjutkan ke Kota Sungai Penuh yang berjarak sekitar 278 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Ketiga, perjalanan dari Kota Padang ke Muaralabuh, lalu dilanjutkan ke Kota Sungai Penuh. Jarak dari Kota Padang ke lokasi objek wisata sekitar 211 km dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam. Bagi anda pecinta wiasaya kuliner yang berkunjung ke Kota Sungai Penuh dapat mencicipi kuliner khas masyarakat Kerinci berupa beras payo, gulai ikan semah, dendeng bateko, kacang tojin, lemang, atau minum kopi kerinci dan teh kayu aro khas Kerinci.

Masjid Agung Pondok Tinggi Kerinci

sekitar tahun 1901-1912 (foto dari

phi-kualatungkal.blogspot.com)

Warisan Sejarah dan Ikon Kota Sungai Penuh

Masjid Agung Pondok Tinggi di Kota Sungai Penuh ini, selain masuk sebagai warisan budaya yang harus dilindungi dibawah Monumen Ordonasi tahun 1931 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Cagar Budaya, Pemerintah Kota Sungai Penuh juga mengabadikan Masjid Agung Pondok Tinggi ke dalam lambang kota Sungai Penuh ketika Sungai Penuh resmi berstatus sebagai sebuah kota otonom lepas dari administasi Kabupaten Kerinci. Masuknya Masjid Agung Pondok Tinggi ke dalam lambang kota Sungai Penuh ini menunjukkan penghargaan yang tinggi dari masyarakat dan pemerintah Kota Sungai Penuh terhadap warisan budaya mereka.

Sejarah Masjid Agung Pondok Tinggi

Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun secara bergotong-royong oleh warga Desa Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi pada tahun 1874 M. Menurut masyarakat setempat, pembangunan dimulai pada Rabu, 1 Juni 1874, dan selesai pada 1902. Kala itu warga Sungai Penuh tak lebih dari 90 Kepala keluarga saja. Untuk melakukan pembangunan masjid, sebagian besar warga baik laki-laki dan perempuan bergotong-royong mengumpulkan kayu. Untuk meningkatkan semangat kerja, warga dusun juga mengadakan pergelaran berbagai seni pertunjukan tradisional Kerinci, di antaranya pencak silat.

detail atap Masjid Agung Pondok Tinggi (foto :fallenpx.blogspot.com)

Setelah kayu terkumpul & pondasi berhasil dibangun, warga lalu mengadakan musyawarah untuk membentuk panitia pelaksana pembangunan masjid. Dalam musyawarah tersebut, disepakati empat orang pelaksana inti, yaitu Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah Taat, dan Haji Rajo Saleh (Rio Tumenggung). Sementara buat arsitektur bangunan dipercayakan kepada M. Tiru seorang warga Dusun Pondok Tinggi. Untuk mengerjakan rancangan tersebut, dipilih 12 tukang bangunan yang dianggap mempunyai keahlian mumpuni.

Ke 12 orang tukang bangunan tadi bertugas membantu mengukur, memotong, dan memilah banyak sekali komponen bangunan. Sementara itu, masyarakat setempat turut serta membantu pembangunan secara bergotong royong, terutama pada menyediakan bahan-bahan buat keperluan pembangunan. Pembangunan Masjid Agung Pondok Tinggi baru selesai secara tetap pada tahun 1902.

Kata ?Rio? Yg pada nama para tokoh warga tersebut kemungkinan besar yg dimaksud merupakan ?Krio? Gelar tokoh warga Kesultanan Palembang setingkat kepala Kampung, semenjak masa Sultan Mahmud Badaruddin II, yang merujuk kepada buku ketatanegaraan kesultanan palembang yang berjudul ?Simbur Cahaya?. Atau kemungkinan juga memiliki akar istilah yang sama dengan itu.

Cerita yg berkembang di rakyat juga menyebutkan, pembangunan masjid itu diawali menggunakan pesta keramaian selama tujuh hari tujuh malam menggunakan menyembelih 12 kerbau. Selain dihadiri semua warga dusun, pesta keramaian pula dihadiri seorang pangeran pemangku berdasarkan Jambi. Awalnya dinding masjid terbuat berdasarkan anyaman bambu dan dalam tahun 1890, sang masyarakat setempat, dinding yg terbuat menurut anyaman bambu tadi diganti menggunakan kayu yg diukir dengan indah.

Ornamen di bawah atap masjid Pondok Tinggi (foto :fallenpx.blogspot.com )
Arsitektural Masjid Agung Pondok Tinggi

Arsitekur Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun mengikuti contoh arsitektur masjid orisinil Nusantara menggunakan karakteristik atap limas tumpang tiga, bagian atasnya dihiasi dengan lambang bulan sabit & bintang. Bagi warga setempat, tiga taraf atap tersebut berkaitan dengan 3 filosofi hayati yg mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu bapucak satu (berpucuk satu), berempe Jurai (berjurai empat), & batingkat tigae (bertingkat 3). Berpucuk satu melambangkan bahwa warga setempat memiliki satu ketua norma & beriman kepada Tuhan Yang Esa (satu); berjurai empat, lambang dari 4 jurai yang terdapat di Pondok Tinggi tempat masjid dibangun; dan batingkat 3 merupakan simbolisasi menurut keteguhan masyarakat pada menjaga 3 pusaka yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu pusaka tegenai, pusaka ninik mamak, dan pusaka depati.

Masjid Agung Pondok Tinggi ditopang 36 tiang penyangga. Ke 36 tiang tersebut dibagi sebagai tiga kelompok tiang, yaitu tiang panjang sembilan (tiang tuo), tiang panjang limau (panjang 5), dan tiang panjang duea (tiang panjang dua). Tiang-tiang tersebut ditata sesuai menggunakan ukuran, komposisi, dan letaknya masing-masing. Tiang panjang sembilan (tiang tuo) sebesar empat butir tertata membangun segi empat yang terletak di ruangan bagian dalam. Tiang tuo tersebut diberi paku emas untuk menolak bencana, dan dalam puncaknya diberi kain berwarna merah dan putih sebagai lambang kemuliaan.Untuk tiang panjang limau (panjang 5) sebanyak 8 buah tertata membentuk segi empat & tiang-tiang ini terletak di ruangan bagian tengah. Sementara itu, tiang panjang duea (panjang dua) sebesar 24 buah tertata membentuk segi empat dan terletak pada ruangan bagian luar.

Masjid Agung Pondok Tinggi berukuran 30 x 30 meter dengan tinggi bangunan setinggi 100 kaki atau sekitar 30,lima meter berdasarkan lantai dasar hingga ke puncak atap. Dinding masjid terbuat dari kayu dan dihias menggunakan gesekan motif tumbuhan dan mempunyai terali yang berfungsi menjadi jendela. Dilengkapi dengan banyak sekali hiasan motif geometris. Pada setiap sudut dinding masih ada hiasan motif sulur-suluran. Sedangkan lantai masjid terbuat berdasarkan ubin. Masjid ini mempunyai dua buah pintu masuk berdaun ganda yang berhiaskan goresan motif tumpal dan sulur-suluran.

Mihrab masjid terletak pada sebelah barat, berdenah persegi panjang menggunakan ukuran tiga,10 x dua,40 m. Pada bagian depan mihrab masih ada bentuk lengkung yg dihias dengan tabrakan motif geometris dan sulur-suluran, dan tempelan tegel keramik. Keunikan lain menurut masjid ini adalah loka muadzin mengumandangkan adzan terletak pada atas tiang utama masjid. Untuk mencapainya dihubungkan menggunakan tangga berukir motif sulur-suluran & diakhiri sebuah anjung kecil berbentuk bujur kandang yg berukuran 2,60 x dua,60 m dilingkupi pagar berhias ukiran motif tanaman . Panggung mini inilah yg merupakan tempat muadzin berdiri & mengumandangkan adzan. Sedangkan bagian mimbar masjid berukuran 2,40 x dua,80 m, dihias dengan gesekan motif sulur-suluran dan atap berbentuk kubah.

Tabuh Larangan

Mesjid Agung Pondok Tinggi memiliki dua beduk akbar. Yang besar diklaim ?Tabuh Larangan?. Beduk ini dibunyikan, apabila ada peristiwa misalnya kebakaran, banjir, & lain-lain. Beduk akbar ini berukuran : panjang 7,lima m, garis tengah bagian yang dipukul 1,15 m, dan bagian belakang 1, 10 m. Beduk yg kecil berada pada luar mesjid dengan ukuran : panjang 4, 25 m, garis tengah yang dipukul (bagian depan 75 centimeter dan bagian belakang 69 centimeter). Beduk ini dibuat menurut kayu yang sangat akbar, ditarik beramai-ramai berdasarkan rimba, dan dilubangi bergotong-royong.

Foto Foto Masjid Agung Pondok Tinggi

Interior Masjid Agung Pondok Tinggi (Foto :fallenpx.blogspot.com)

detil Mihrab (foto :fallenpx.blogspot.com)

Isra' Mi'raj SMAN 2 Sungai Penuh di adakan pada tanggal 25 Februari 2012 di Masjid Agung Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh Di hadiri oleh seluruh siswa dan siswi, majelis guru dan staf tata usaha (foto dari sman2-sungaipenuh.sch.id)

salah satu indahnya ukiran kayu di Masjid Agung Pondok Tinggi (foto daritourismjambi.com)

Referensi

jambinews.com - Masjid Agung Pondok Tinggi

tourismjambi.com - Pondok Tinggi Grand Mosque

travel.detik.com - masjid-agung-pondok-tinggi-berdiri-kokoh-di-usia-137-tahun

puti-jasmien.blogspot.com - kecamatan-pondok-tinggi-antara-harapan

ikhwanpcr.blogspot.com - wista-daerah-kerinci-jambi-yang-wajib dikunjungi

jambi-independent.co.id - Melihat Sejarah Masjid Agung Pondok Tinggi

purbakalajambi.budpar.go.id – Masjid Agung Pondok Tinggi

------------------------------------------------

Baca Juga Masjid Masjid di Jambi Lainnya

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Agung Pondok Tinggi  Tertua di Jambi

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua pada Jambi

Monday, July 6, 2020

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Seribu Tiang. Lantaran banyaknya tiang tiang penopang pada masjid ini, masyarakat setempat menyebut masjid Agung ini sebagai Masjid Seribu Tiang, meski apabila dihitung jumlahnya tak sampai seribu.

Provinsi Jambi dengan semboyannya Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, beribukota di kota Jambi. Kota yang terkenal dengan sungai Batanghari-nya, sungai terbesar di Pulau Sumatera. Kota Jambi memiliki sebuah masjid agung bersejarah dan biasa disebut dengan masjid seribu tiang. Sebutan seribu tiang ini lahir dari para pendatang yang singgah dan sholat di masjid ini dan melihat begitu banyak tiang penyanggah bangunan masjid tanpa pintu dan jendela ini.

Wakil presiden RI, Pak Boediono, pernah singgah sholat Jum’at di masjid ini pada tanggal 1 April 2011 lalu, dalam kunjungan kerja beliau ke Jambi untuk memimpin rapat koordinasi gubernur se-Belajasumba (Bengkulu, Lampung, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung). Beliau mendapat sambutan hangat dari jemaah masjid Al-Falah Jambi. Sebagian jemaah sholat jum’at hari itu berebut untuk bersalaman atau sekedar melihat dari dekat sosok Pak Boed.

Alamat dan Lokasi Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

Jln. Sultan Thaha No.60

Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura,

Kota Jambi. Provinsi Jambi

Titik koordinat : 1.5936382S 103.6087346E

Masjid Agung Al-Falah berada di pusat kota Jambi. Terletak di ruas Jalan Sultan Thaha, ruas jalan yang sama dengan pasar Induk Angso Duo, PDAM Tirta Mayang, dan Musium Perjuangan Rakyat Jambi. Klik untuk melihat lokasi masjid di wikimapia.

Sejarah Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

Menurut penuturan Hasan Basri  salah satu imam masjid Al-Falah Jambi, masjid ini memang belum memiliki sejarah tertulis resmi. Sehingga wajar bila masyarakat Jambi sendiri banyak yang belum tahu sejarah masjid ini. Untuk kejelasan sejarah, pengurus masjid telah mengajukan ke pemerintah untuk membentuk tim yang melakukan pengkajian dan penulisan sejarah masjid Al-Falah ini.

Sisi lain masjid Al-Falah

Masih menurut beliau, tanah lokasi di mana Masjid Agung ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Tetapi dalam tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda & dijadikan pusat pemerintahan & benteng Belanda. Hal tadi sejalan dengan penerangan sejarawan Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di huma bekas Istana Tanah Pilih menurut Sultan Thaha Syaifudin.

Pada tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan pada kesultanan Jambi, Sultan Thaha Syaifudin membatalkan seluruh perjanjian yg dibentuk Belanda menggunakan mendiang ayahandanya, lantaran perjanjian tersebut sangat merugikan kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat murka dan mengancam akan menyerang Istana.

Interior Masjid Al-Falah

Namun Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda pada daerah Kumpe. Pasukan Belanda melakukan serangan balasan & membumi hanguskan komplek Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tadi dijadikan asrama tentara Belanda yang dipakai sebagai loka pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan hingga tahun 1970an lokasi tersebut masih difungsikan menjadi asrama Tentara Nasional Indonesia pada Jambi.

Pada awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI.

Lampu Gantung Di Masjid Agung Al-Falah

Salah satu alasan kenapa masjid yg dibangun pada lokasi bersejarah tersebut merupakan mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid. Selama proses pembangunan, lokasi ini sempat dijadikan lokasi suting film berjudul ?Intan Perawan Kubu? Yang diperankan salah satunya Ully Artha. Film yang disutradarai AN Alkaf, laki-laki asli Jambi ini, mengangkat kisah seseorang insinyur & Suku Kubu.

Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya sang presiden Soeharto pada tanggal 29 September 1980. Meski belum dapat dikonfirmasi, berdasarkan warta turun temurun, arsitektur masjid Al-Falah dulunya disayembarakan. Dan pemenangnya orang non-Muslim. Pembangunan Masjid Agung Al Falah jambi melalui beberapa termin. Kontrak Pengerjaan tahap pertama dilaksanakan dalam lepas 6 Januari 1971, dengan Dana : Rp. 30.600.000,- bersumber dari APBD Provinsi Jambi.

Aireal View
Masjid kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari 26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid.  dan mengganti pembungkus tiang di tahun 2008 yang lalu.

Arsitektural Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

Masjid agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap menggunakan kubah besar dan menara yg menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material beton bertulang. Bila ditinjau sepintas kemudian, jejeran tiang tiang masjid berwarna putih yg ramping pada masjid ini mempunyai kemiripan menggunakan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yg dibangun jauh lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.

Jejeran ratusan tiang tiang ini yg membuat masjid ini dianggap pula menjadi masjid seribu tiang

Jejeran ratusan tiang pada masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama merupakan tiang tiang lansing bewarna putih menggunakan 3 sulur ke atas menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang ke 2 berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di area tengah bangunan masjid. Penggunaan material tembaga buat menutup tiang tiang silinder ini memberikan kesan kuno tetapi megah pada interior masjid Al-Falah.

Di rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela,  benar benar sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.

Dengan rancangan yang demikian, telah dapat dipastikan masjid ini nir memerlukan perangkat penyejuk udara bagi jemaah, bukaan lebar pada 3 sisi masjid ini meniadakan kekhawatiran gangguan aliran udara & sinar mentari . Dibawah kubah beton ukuran akbar masjid ini pada lengkapi dengan bukaan ditutup kaca mozaik menaruh cahaya alami ke dalam masjid pada siang hari.

Sementara bagian pada kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring akbar pada bawah kubah di hias menggunakan lukisan kaligrafi Al-Qur?An bewarna emas. Sebuah lampu gantung ukuran sangat akbar berbahan tembaga memperindah tampilan ruang di bawah kubah.

Dua Jenis Tiang di Masjid Agung Al-Falah Jambi, bila anda perhatikan bentuk tiang yang bewarna putih memiliki kemiripan dengan tiang tiang penopang di Masjid Agung Roma - Italia yang diresmikan tahun 1995.

Karya seni ukir yang sangat latif menghias mihrab, mimbar hingga dinding depan masjid Al-Falah. Ukiran yg senada dengan ukiran tembaga penutup tiang tiang utama di tengah masjid. Sebuah ukiran kaligrafi Al-Qur?An bewarna emas ukuran akbar sangat menarik perhatian karena dipasang dalam posisi melengkungi ruang mihrab & mimbar. Mimbar masjid ini selain berukir juga dilengkapi dengan sebuah kubah mini .

Aktifitas Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

Setiap bulan Ramadan salah satu acara masjid ini yg cukup menarik merupakan tadarus Alquran setiap malamnya dan disiarkan pribadi oleh RRI Jambi. Tadarus ini di isi oleh qori dan qoriah terbaik Provinsi Jambi termasuk para hafizh (penghapal Alquran) pada provinsi Jambi.

Selama bulan Ramadhan pengurus mesjid ini pula menyediakan paket kuliner buat berbuka puasa beserta. Malam harinya diadakan shalat Taraweh 23 rakaat. Paket berbuka puasa diperoleh dari para donatur, yang umumnya pejabat pada lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi.

Tanpa Pintu & ventilasi

Di dua sholat hari raya masjid ini menjadi langganan gubernur Jambi, keluarga & jajarannya buat melaksanakan sholat sunnah hari raya bersama masyarakat Jambi. Seperti pada kota kota lain di tanah air, selama aplikasi sholat hari raya masjid agung ini tak mampu menampung jemaah yang meluber sampai ke jalan raya. Dan tak mengherankan bila lalu Jalanan pada kurang lebih mesjid Agung ini mengalami kemacetan sampai radius 1 kilometer, setidaknya dua kali dalam setahun.

Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi dibawah naungan Yayasan Al-Falah mengelola lembaga pendidikan Al-Falah dengan menciptakan sekolah Islam di sebelah masjid menggunakan nama yang sama untuk hingga tingkat Sekolah Menengah pertama. Sementara di sisi lain berdasarkan masjid Agung Al-Falah Berdiri Bangunan Islamic Center Jambi, yg dibangun bersamaan dan satu komplek dengan Masjid Agung Al-Falah.

Video Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi

Foto foto Masjid Agung Al-Falah kota Jambi

Referensi

www.kotajambi.co.ccmasjid agung al-falah jambi

rachmawan.worlpress.com – masjid agung al-falah masjid 1000 tiang

www.tribunnews.comwapres akan salat jum’at di masjid agung al-falah jambi

jambitourism.co.id – masjid seribu tiang dulunya istana sultan thaha

infojambi.com – gubernur hba sholat ied di mesjid agung dan gelar openhouse

infojambi.com – mesjid agung al-falah wujud keagungan jambi

----------------------------ooOOOoo------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid pada Jambi Lainnya

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Agung Pondok Tinggi  Tertua di Jambi

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done