Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi - Islami Pedia
News Update
Loading...

Saturday, September 19, 2020

Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi

Tertua di Kota Jambi. Masjid Jami' Ikhsaniyah kota Jambi pertama kali dibangun tahun 1880 (foto dari wikimapia)

Masjid al-Ikhsaniyah atau yang lebih dikenal sang warga setempat menggunakan nama Masjid Batu adalah Masjid tertua pada kota Jambi, Provinsi Jambi. Masjid ini terletak di seberang Kota Jambi yg dibelah sungai Batanghari, tepatnya Masjid ini berada di Jalan KH. Ibrahim, RT 05 Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi. Bangunan masjid ini telah mengalami ekspansi oleh pemerintah Belanda semasa penjajahan dengan mempertahankan karakteristik ciri spesial utamanya demi menjaga nilai historis-nya.

Lokasi Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah

Jalan KH. Ibrahim, RT 05

Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk

Kota Jambi, Propinsi Jambi

Indonesia

Koordinat geografi berada di : 1°35'7"S   103°36'8"E

Masuknya Islam Ke Jambi

Berdasarkan penuturan tokoh ulama Jambi, penyebaran Islam di Jambi diawali kedatangan rombongan kapal dari Kesultanan Turki untuk menyebarkan agama Islam yang dipimpin Ahmad Ilyas (sumber lain menyebut namanya Ahmad Salim atau Ahmad Barus atau Barus II). Kapalnya terdampar di Pulau Berhalo  pada 1120 H. Oleh rakyat Jambi, Ahmad Ilyas diberi gelar Datuk Paduka Berhalo. Karena keberhasilan beliau menyebarkan Islam di wilayah Jambi dimulai dari Pulau berhala. Konon beliaulah yang menghancurkan berhala berhala sembahan di pulau berhala.

Ahmad Ilyas lalu menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak, Putri bangsawan kerajaan Minangkabau yang berkuasa di Jambi, sebuah pernikahan politik yang kemudian memasukkan beliau ke dalam keluarga bangsawan. Tahun 1138, Ahmad Ilyas mendatangkan ulama dari Hadramaut keturunan Ahlul Bait Rasulullah, Sayyid Husin bin Ahmad bin Abdurahman. Kedatangan beliau disambut hangat oleh rakyat Jambi. Dari sanalah kemudian lahir kerajaan Islam di Jambi sampai ahirnya menjadi kesultanan, hingga ke Sultan Jambi terahir Sultan Thaha Syaifuddin yang menghabiskan masa kekuasaannya menentang penjajahan Belanda di wilayah Jambi hingga ahir hayatnya.

Foto tua Masjid Jami’ Ikhsaniyyah (foto dari id.wikimapia)

Sejarah Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid ini didirikan dalam tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus, seseorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo, dia merupakan seseorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus buat memenuhi fungsi tempat ibadah bagi warga seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi saat itu yang telah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah & aktivitas sosial lainnya.

Habib Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 & dimakamkan di depan masjid Ikhsaniyah yg didirikannya. Kini sekali dalam setahun famili akbar beliau menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus bin Hasan Al Jufri yg dipusatkan di masjid ini. Peringatan tadi di agendakan sekali dalam setahun, sang pihak keluarga dan warga muslim Sekoja (seberang kota Jambi) menjadi bentuk penghormatan atas jasa jasa dia. Peringatan tadi setiap tahun turut pula dihadiri sang tokoh kepercayaan , alim ulama, cendikiawan, gubernur & undangan lainnya.

Makam Sayid Idrus di depan Masjid Ikhsaniyah (amalimuadz.blogspot.com)

Mengenal Habib Idrus bin Hasan Al Jufri (Said Idrus)

Tanggal pasti kelahiran Said Idrus ini nir diketahui, satu satunya liputan menurut dokumen Belanda yg menjelaskan bahwa dalam tahun 1879, Said Idrus berumur lebih dari 40 tahun. Bisa dikatakan bahwa dia dilahirkan di Jambi sebelum tahun 1839 dari seseorang ayah asli Arab. Masih dari dokumen Belanda, disebutkan bahwa Said Idrus wafat pada tahun 1905 meskipun di makam dia dicantumkan angka 1902 menjadi tahun kematian-nya.

Said Idrus adalah galat satu famili Al-Jufri di Jambi yang dari menurut golongan Said (sayyid). Dan adalah satu menurut sembilan famili terhormat dan terpandang menurut famili ahlul bait (famili Rosulullah), lantaran silsilah keluarga dia dapat ditelusuri hingga ke Nabi Muhammas S.A.W dari garis Putri & menantu Baginda Rosullullah. Keluarga Al-Jufri pada jambi turut memainkan peran mereka pada perpolitikan disana dari tahun 1812. Keluarga Al-Jufri yg datang ke Nusantara lalu menikah menggunakan putri berdasarkan kalangan bangsawan lantaran memang wanita Arab nir turut serta bermigrasi ke Nusantara.

Papan Nama Masjid Ikhsaniyah, sangat tua (Foto dari wikimapia)

Kelauarga Arab memainkan kiprah krusial menjadi perantara antara penguasa lokal menggunakan penguasa penjajahan Belanda. Selain itu juga menjadi juru bicara antara keluarga Al-Jufri terhadap keraton Jambi dan Penguasa penjajahan Belanda. Said Idrus memegang peran unik tersebut direntang waktu 1860 sampai wafatnya pada tahun 1902 atau 1905. Said Idrus menikah menggunakan Putri Sultan Nazaruddin dan mendapatkan gelar Pangeran Wiro Kusumo langsung berdasarkan Sultan.

Gelar Pangeran ini pula memberi kekuasaan pada said Idrus buat sebagai ?Pepati pada? Pada keraton Jambi yg merogoh kiprah Sultan dalam ketika Sultan nir ditempat. Menurut dokumen Belanda, pangeran Wiro Kusumo memainkan peran yg sangat krusial ini di tahun 1858-81 ketika Sultan Nazaruddin lebih poly menentukan mengasingkan diri ke loka yang jauh berdasarkan keraton buat menjaga jeda menggunakan penguasa penjajah Belanda pada Jambi. Mungkin itu sebabnya beberapa penulis bahkan sempat menyebut pangeran Wiro Kusumo menjadi Sultan Jambi. Bisa di maklumi, lantaran Pangeran Wiro Kusomo memang mempunyai efek yg begitu akbar pada keraton Jambi, selain menjadi menantu berdasarkan Sultan Nazaruddin beliau juga merupakan besan menurut Sultan Thaha Syaifuddin, Sultan Jambi Terahir yang tidak lain jua merupakan ipar-nya sendiri.

Ciri khas Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Bangunan pada Masjid dipenuhi menggunakan hiasan kaligrafi aneka macam rupa. Mimbar asli berdiri anggun pada sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada pada bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari Mesjid ini merupakan banyaknya jendela. Jendela-ventilasi yang dipasang berpasangan itu mengelilingi Mesjid. Hanya tembok mihrab yang tidak berjendela.

Hingga kini, kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Pangeran Wiro Kusumo semasa hidup masih  dilakukan keturunan dan pengikutnya. Salah satunya adalah menyantap makan dalam tempeh (wadah besar)  ramai-ramai. Tradisi seperti itu memang merupakan salah satu tradisi para ulama yang berasal dari Yaman yang kemudian berkembang di tanah air. Tadisi yang sama dapat juga dijumpai di masjid masjid tua lainnya di tanah air seperti di Masjid Sultan Palembang ataupun Masjid Al-Hawi di Condet – Jakarta.

Mimbar dan Mihrab Masjid Ikhsaniyah (Foto dari wikimapia)

Tradisi Sumpah di Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Sekitar tahun 60-an, Masjid Ikhsaniyah adalah loka orang menuntaskan sengketa. Jika terdapat orang berselisih wacana kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa masalah itu ke Mesjid dan mengambil sumpah menggunakan disaksikan para pendudk dan pemuka kepercayaan .

Masjid ini diyakini mempunyai keramat tersendiri lantaran apabila terdapat yang berani bersumpah palsu pada dalamnya, maka beliau akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur & tak terdapat seorang pun yg berani mengambil risiko bersumpah palsu pada dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, sesudah hingga mereka tak berani & mengakui perbuatannya. Apabila terdapat yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya hingga diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan apabila dia sudah sadar umumnya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.

Mimbar Masjid Ikhsaniyah

(Foto dari wikimapia)

Tetapi sayang, tradisi itu telah hilang sama sekali. Tak terdapat lagi orang yang berakibat Mesjid itu menjadi sarana mempertemukan kebenaran & mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yg mengetahui kisah tersebut.

Dipugar Belanda

Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam pada Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yg ditandai menggunakan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadatuddarein, Pesantren Jauharein, & Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat pencerahan keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan tempat seberang kota Jambi poly didatangi orang menurut banyak sekali daerah untuk belajar.

Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin usang jamaah Masjid itu semakin penuh sampai akhirnya tak lagi bisa menampung jamaah yg terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh warga lalu menggelar musyawarah dan bermufakat buat memperbaharui Mesjid. Disepakati dana pembangunan Mesjid dikumpulkan menurut sedekah & infaq rakyat hingga akhirnya terkumpul dana yg cukup buat memugar Mesjid pad tahun 1935.

Beduk tua di masjid Al-Ikhsaniyah (foto dariamalimuadz.blogspot.com)

Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Para tokoh masyarakat meminta izin pada Belanda. Lalu masuklah permohonan perbaikan Mesjid ke pemerintah Belanda yg ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang & sejarah berdirinya Mesjid.

Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tadi merupakan peninggalan Sayyid Idrus yg merupakan galat seseorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Lantaran menduga bahwa Mesjid tadi bernilai sejarah menjadi Mesjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial merogoh alih pembangunan Mesjid. Dana pun turun berdasarkan pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu biar karena dana telah tersedia. Jadilah dana menurut rakyat itu tidak terpakai yg akhirnya digunakan buat menciptakan pagar mengelilingi Masjid.

Update Desember 2016

Agustus 2015

Berdasarkan image menurut google street view yg direkam dalam bulan Agustus tahun 2015, bentuk masjid Batu Al-Ikhsaniyah ini telah kembali berubah. Bentuk Ekteriornya mengalami perubahan disana sini membuatnya lebih tampak sebagai bangunan masjid modern. Perubahan paling signifikan pada bagian atapnya, kubah dengan bentuk atap limasnya yg merupakan salah satu karakteristik spesial masjid masjid tua Nusantara, telah tidak ada lagi berganti dengan kubah parabola berdasarkan beton. Perubahan signifikan lainnya tampak pada bangunan makam Sayid Idrus yg kini dibuat terbuka.***

Foto Foto Masjid Jami? Al-Ikhsaniyah Jambi

Masjid Al-Ikhsaniyah sekitar tahun 1920.
Tempat wudhu Masjid Ikhsaniyah (foto dariamalimuadz.blogspot.com)

Referensi

amalimuadz.blogspot.com - mesjid-batu-al-ikhsaniyah

Majalah Hidayah edisi 58, Mei 2006 halaman 126-129

jambi.tribunnews.com - hari-ini-haul-pangeran-wiro-kusumo

jambiekspres.co.id - menelusuri-jejak-penyebar-islam

sumatfeet.wordpress.com - list-of-of-jambi-leaders

sumatfeet.wordpress.com - sayyid-idrus-bin-hasan-al-jufri

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid pada pulau Sumatera lainnya

Masjid Azizi, Masjid Kesultanan LangkatMasjid Raya Sulaimaniyah, Masjid Kesultanan Serdang Masjid Raya Al Mashun Medan Masjid Al Osmani Tertua di Kota Medan Masjid Lama Gang Bengkok Kota Medan Mesjid Nurul Iman kota Padang‎ Masjid Ganting Kota Padang Gerakan 1000 Surau Minangkabau Paska Gempa 2009 Mesjid Nurul Iman kota Padang‎ Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru Masjid Raya Batam Masjid Raya Natuna Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II) Masjid Jami' Indrapuri Aceh Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang Masjid Agung Sultan Palembang (Bagian I) &(Bagian II) Masjid Babussalam GelumbangMasjid Raya Sulaimaniyah, Masjid Kesultanan Serdang Masjid Jami’ Bengkulu Kenang Kenangan dari Bung Karno

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done