Islami Pedia: Masjid Agung Kabupaten
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Agung Kabupaten. Show all posts
Showing posts with label Masjid Agung Kabupaten. Show all posts

Saturday, August 22, 2020

Masjid Agung Tuban Jawa Timur

Warna meriah. Penggunaan warna warna terang pada masjid ini berhasil menjadikannya sebagai bangunan ikon kota Tuban yang memang sangat menarik perhatian.

Tuban, galat satu kabupaten pada provinsi Jawa Timur, keliru satu tempat Sunan Bonang Bedakwah. Dan salah satu daerah bawahan Majapahit yang lalu Bupatinya memeluk agama Islam. Di Tuban berdiri sebuah masjid megah yg sering disebut menjadi masjid dengan estetika layaknya bangunan pada dongeng 1001 malam, masjid tersebut merupakan Masjid Agung Tuban.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Tuban

Berdiri megah pada sisi barat alun alun Tuban, masjid ini sudah sebagai Ikon pujian rakyat Tuban. Lokasinya berdiri tidak saja berada pada pusat kota tapi pula bersebelahan menggunakan salah satu situs krusial sejarah tanah Jawa, yakni Kompek Makam Sunan Bonang yang ramai di ziarahi oleh banyak sekali lapisan masyarakat menurut berbagai tempat.

Arsitektur Masjid Agung Tuban

Aristektur masjid ini memadukan ragam budaya dari berbagai negara seperti Arab, Turki, & India. Secara umum bangunan masjid ini terdiri dari bangunan primer masjid yg diapit sang empat menara pada masing masing empat penjuru masjid, 2 bangunan serambi di sisi depan bagian kiri & kanan serta ditambah dua menara yg lebih tinggi dari empat menara lainnya.

Penggunaan aneka warna terperinci sangat kuat menonjolkan bangunan masjid ini ditengah tengah kota Tuban. Kubah utama diapit 2 kubah lainnya diantara enam menaranya yg menjulang seakan akan menghadirkan suasana negeri dongeng pada kehidupan konkret pada kota Tuban.

Sejarah Masjid Agung Tuban

Tuban & Sunan Bonang

Kota Tuban bagaimanapun nir bisa dipisahkan berdasarkan nama akbar Sunan Bonang. Meski Kota Tuban bukan satu-satunya kota tempat Sunan Bonang berdakwah, namun karena beliau dimakamkan pada Tuban maka tidak galat apabila beliau sering diklaim Sunan Tuban. Ada juga yg menyebutkan, makamnya di Lamongan. Seperti para wali yg lain, Sunan Bonang jua mendirikan sebuah masjid menjadi sentra aktivitas dakwahnya. Masjid tersebut dikenal menjadi Masjid Astana yg berada di bangunan kompleks makam Sunan Bonang. Bersebalahan menggunakan komplek masjid Agung Tuban.

Sepasang Landmark. Di latar depan foto adalah bangunan yang menaungi makam Sunan Bonang dan kerabat dekatnya dengan latar belakang Masjid Agung Tuban. Dua Landmark Tuban yang sangat penting bagi sejarah kota tersebut.

Dalam berdakwah, Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim, acapkali memakai alat musik tradisional yg disebut bonang. Bonang adalah sejenis gamelan yg terbuat dari besi atau kuningan yang bagian tengahnya dibuat menonjol. Jika tonjolan itu dipukul menggunakan kayu yg lunak maka akan muncul bunyi yang merdu.

Pada saat itu, suara demikian sudah sangat mengasyikkan indera pendengaran. Apalagi yg membunyikan bonang itu seseorang wali maka bunyinya mempunyai pengaruh yg luar biasa, sebagai akibatnya poly penduduk yg berbondong-bondong ingin menyaksikan dan mendengar berdasarkan dekat.

Sunan Bonang yang cerdik sudah memperhitungkan hal itu maka beliau mempersiapkan kolam di depan masjid. Siapa yang mau masuk ke masjid wajib membasuh kakinya. Setelah mereka berkumpul di pada masjid, dia pun mengajarkan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam.

Sepulangnya dari masjid, tembang itu mereka hafalkan di tempat tinggal . Sanak saudara mereka pun turut menyanyikan tembang itu karena tertarik akan kemerduan lagunya. Demikianlah cara Sunan Bonang berdakwah sebagai akibatnya santrinya tersebar di aneka macam penjuru Nusantara.

Masjid Agung Tuban Dulu dan Sekarang

Berdirinya Masjid Jam Tuban

Sebelum menjadi Masjid Agung Tuban, sebelumnya masjid ini dikenal sebagai Masjid Jami? Tuban. Sejarah pembangunan masjid ini tidak terdapat sangkut pautnya menggunakan Sunan Bonang, pembangunan masjid ini sendiri dilaksanakan dalam tahun 1894, terpaut sekitar empat abad dari masa Sunan Bonang. Namun demikian kehadiran masjid ini telah sebagai saksi sejarah keberhasilan dakwah Sunan Bonang di Tuban.

Masjid Jami’ Tuban pertama kali dibangun pada abad ke-15 Masehi, yakni pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo (Bupati Tuban ke-7), letaknya tidak jauh dari kompleks makam Sunan Bonang, Raden Ario Tedjo sendiri merupakan Bupati Tuban pertama yang memeluk Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, bangunan masjid ini diperluas menjadi bangunan masjid yang dikenal sebagai Masjid Agung Tuban saat ini.

Masjid tersebut sempat mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama kali dilakukan tahun 1894, yakni dalam masa pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-35 Tuban). Saat itu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda, BOHM Toxopeus. Sebagaimana disebutkan pada prasasti yg terdapat pada depan masjid ini yg berbunyi :

?Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang dalam hari Akad lepas 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus.?

Jika bentuknya kita amati, Masjid Jami Tuban ini memiliki cari spesial tersendiri. Secara garis akbar, bentuk bangunannya terdiri atas dua bagian, yaitu serambi dan ruang shalat primer. Bentuknya tidak terpengaruh dengan norma bentuk masjid di Jawa yang atapnya bersusun tiga. Arsitektur masjid ini justru terpengaruh sang corak Timur Tengah, India, & Eropa. Sekilas tampak ada kemiripan menggunakan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, terutama bentuk berandanya yang dipertahankan sampai kini .

Renovasi selanjutnya dilakukan tahun 1985. Masjid mengalami perluasan. Kemudian, pada tahun 2004 dilakukan renovasi total terhadap bangunan Masjid Agung Tuban oleh pemerintah Kabupaten Tuban. Renovasi yg dilakukan kali ini mencakup pengembangan satu lantai menjadi tiga lantai, menambah sayap kiri & kanannya dengan mengadopsi arsitektur bangunan aneka macam masjid populer di dunia dan penambahan enam menara masjid menggunakan luas keseluruhan mencapai 3.565 meter persegi. ***

----------------

Baca Juga Masjid di Jawa Timur Lainnya

Masjid Agung Sumenep

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Masjid Agung Jami Malang

Masjid KH Bedjo Darmoleksono

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel Surabaya

Masjid Sendang Dhuwur Lamongan

Masjid Agung Tuban

Sunday, August 16, 2020

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Megah menggunakan gemerlap lampu lampu yg menerangi bangunan masjid Agung Darussalam pada KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Agung Darussalam merupakah masjid agung kabupaten Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lokasi nya berada pada dalam tempat komplek tempat kerja pemerintahan terpadu kabupaten Sumbawa Barat yg diberi nama komplek KTC ? Komutar Telu Center pada Kecamatan Taliwang, sebuah komplek sentra pemerintahan kabupaten yg sangat impresif, jika dilihat berdasarkan ketinggian komplek sentra pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat ini terlihat dengan kentara dibangun menggunakan denah persegi delapan sebagai galat satu simbol global Islam, menyiratkan kehidupan Islami berdasarkan masyarakat kabupaten Sumbawa Barat yang secara tradisi terbuka serta siap menerima masukan berdasarkan manapun bagi kemajuan kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan masjid ini adalah keliru satu bangunan yg di dahulukan pembangunannya beserta dengan 2 gedung krusial lainnya, yakni, gedung Graha Fitra yg merupakan tempat kerja Bupati Sumbawa Barat & gedung Sekretariat pemerintahan daerah (Sekda) kabupaten, yg diklaim menjadi bangunan tiga serangkai. Pemilihan nama Graha Fitrah bagi nama gedung loka berkantornya Bupati, wakil Bupati & perangkatnya ini sebagai upaya buat senantiasa mengingatkan siapapun yang berkantor disana buat senantiasa kembali kepada fitrah sebagai pengemban amanat masyarakat yang wajib dipertanggungjawabkan baik pada global maupun di akhirat kelak.

Kubah hijau layaknya kubah masjid nabawi, Masjid Agung Darussalam hadir pada komplek sentra pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat.

Masjid Agung Darussalam Taliwang selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan bupati KH Zulkifli Muhadli, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 32 milyar Rupiah. Luas bangunan masjid ini 15.500 m2 sedangkan luas keseluruhannya dan 48.500 m2, dan berdaya tampung mencapai 8.000 jemaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid termegah dan terbesar di kabupaten Sumbawa Barat, dan tentu saja menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB yang sudah sejak lama dikenal dengan julukan provinsi seribu masjid.

Secara resmi Masjid Agung Darussalam mulai dipergunakan pada hari kamis 9 Juli 2010. Penggunaan masjid ini mulai diberlakukan untuk dapat dipergunakan dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu. Beberapa program kerja yang telah disiapkan oleh pengurus masjid antara lain program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan agama, kajian buku, dan kegiatan ilmiah lainnya.

Masjid Darussalam

Jl. Bung Hatta No.2 Kompleks KTC

Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Prov. Nusa Tenggara Barat

Indonesia

Masjid Darussalam ditopang oleh 99 tiang yang bermakna 9.9 nama Allah Swt. (Asma’ul Husna), 112 anak tangga yang menunjukkan surat Al-lkhlas sebagai surat ke-112 dalam Al-Quran, dan tiga lantai masjid yang mengimplementasikan tiga prinsip dasar masyarakat Sumbawa Barat. Tiga prinsip dasar tersebut adalah Assalamu’alaikum yang bermakna salam untuk silaturrah’im yang kokoh dalam persaudaraan yang harmonis sehingga menciptakan kedamaian dan keselamatan, Warahmatullahi yang berarti rahmat, serta Wabarakatuh yang berarti berkah.

Sekeliling masjid dihiasi kolam seluas lebih kurang 5.000 m2. Bagian dalamnya terbuat dari kaca sebagai akibatnya terlihat menurut lantai basement. Selain itu, kolam yang merefleksikan bentuk bangunan tersebut jua dihiasi 120 titik air mancur. Untuk memasuki masjid, jamaah wajib melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep ini sangat jarang terlihat dalam bangunan masjid umumnya.

Interior masjid agung Darussalam Taliwang dilihat berdasarkan lantai dua

Untuk mengumandangkan azan, masjid menggunakan delapan titik tempat pengeras suara. Jumlah ini mengandung makna bahwa syiar Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, juga melambangkan delapan kecamatan yang ada di Sumbawa Barat. Kubah besar di atap masjid melambangkan makna tauhid “laa ilaaha illallah”, dikelilingi lima kubah kecil sebagai representasi rukun Islam. Rukun iman direpresentasikan melalui tiang penyangga utama yang berjumlah enam buah. Adapun dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri masjid melambangkan dua kalimat syahadat. Interior masjid menampilkan pilar-pilar yang kokoh guna menciptakan skala ruangan yang agung dan megah.

Dominasi warna putih sebagai wujud kesucian dengan kombinasi warna emas dan hijau serta kaligrafi yang menghiasi sepanjang dinding masjid memberi kesan sejuk dan tenang. Selain di ruang utama yang berada di lantai satu, hiasan kaligrafi yang mengelilingi dinding terlihat di lantai dua dan tiga. Kedua lantai ini secara tata bangunan mengelilingi ruang utama masjid dan berfungsi layaknya mezzanine. Sebagai sentralisasi visual pada interior masjid, tepat di bagian tengah bawah kubah dalam terdapat lampu gantung dari kuningan. Lampu seberat sekitar 600 kilogram itu dipenuhi oleh 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan.

Masjid Agung Darussalam dengan Tugus Syukur (sebelah kanan foto)

Masjid Agung Darussalam Taliwang ini cukup semarak dengan beragam aktivitas termasuk selama bulan suci Romadhan, salah satu aktivitas nya adalah menyelenggarakan Pesantren kilat yang diikuti oleh  siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MAN/SMK. Serta program kompetisi pemilihan da’i cilik.

Musabaqah Tilawatil Qur?An (MTQ) ke XXIV tingkat provinsi NTB

Hari Rabu malam 9 November 2011, masjid Agung Darussaam Taliwang ini menjadi tuan rumah pelanksaan pembukaan MTQ ke XXIV tingkat provinsi NTB yang berlangsung meriah. Pembukaan MTQ tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Acara yang dihadiri ribuan kafilah dan tamu undangan dari seluruh kabupaten / kota di NTB serta masyarakat setempat tersebut turut dimeriahkan dengan atraksi kembang api. Kembang api yang digunakan pada upacara pembukaan MTQ NTB ini merupakan jenis kembang api yang pertama digunakan di Indonesia dan juga akan digunakan dalam pembukaan Sea Games ke-26 di Palembang.

Referensi

sumbawabaratkab.go.id -Masjid Agung Darussalam KTC Mulai Dipergunakan

gaungntb.com -Arah Kiblat Masjid Darussalam Sudah Tepat

gaungntb.com -Pembukaan MTQ di KSB Berlangsung Spektakuler

sumbawabaratkab.go.id -Kemutar Telu Centre (KTC)

sumbawabaratkab.go.id -Pesantren Kilat dan Da'i Cilik: Semarak Ramadhan Bagi Pelajar

duniamasjid.islamic-center.or.id -masjid-agung-darussalam

Baca Juga

Masjid ?Bengak? Al-Raisiyah Masjid Tertua pada Mataram

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Monday, July 20, 2020

Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Masjid Agung Al-Barkahkota Bekasi merupakan salah satu masjid tua di Indonesia. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama ketikakota Bekasi menjadi tuan rumah MTQ Jawa Barat 1998, lalu direnovasi lagi pada 2002. Sampai kemudian menjadi bentuknya yang semegah dan semewah sekarang ini setelah melalui renovasi total tahun 2004-2008

Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Lokasi Masid Agung A-Barkah, Kota Bekasi

Masjid Agung A-Barkahkota Bekasi berada di Jalan Veteran, Kawasan Alun alun, Pusat pemerintahankota Bekasi, ProvinsiJawa Barat. Lokasi masjid ini berseberangan dengan Rumah Sakit Daerahkota Bekasi.

Sejarah Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Masjid Agung Al-Barkahkota Bekasi, dibangun tahun 1890 dipelopori oleh Penghulu Lanraad (Alm) H. Abdul Hamid, diatas tanah wakaf dari (Alm). Haji Barun, seluas 3000 m2. yang terletak di jalan Veteran. Bangunan yang belum mencirikan bangunan sebuah masjid pada umumnya.

Tahun 1967 bangunannya direhab menjadi bentuk masjid oleh Bupati BekasiSubandi (ketika itukota Bekasi masih menjadi bagian dariKabupaten Bekasi).Subandi yang merupakan bupati Bekasi pertama asal Kampung GabusKabupaten Bekasi itu, melibatkan setiap jiwa wargaKabupaten Bekasi turut berpartisipasi menyumbang pembangunan masjid ini sebesar Rp 1.

Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi dari sisi selatan

Dalam kemajuan yang terjadi di Bekasi, oleh Bupati Bekasi H Abdul Fatah, pada 1985 kembali dilakukan pembangunan. Bangunannya pada bagian depan masih menggunakan awning berwarna-warni yang saat itu sangat banyak diminati masyarakat dalam setiap melaksanakan pembangunan. Dan saat itu pulalah masjid ini ditetapkan menjadi Masjid Agung Al BarkahKabupaten Bekasi.

Dengan ditetapkan sebagai Masjid Agung, Pemerintah DaerahKabupaten Bekasi mulai campur tangan dalam pembangunannya. Pembangunan di tahun 1985 menghabiskan biaya Rp 225 juta. Pada 1997 PemerintahKabupaten Bekasi saat bupatinya dijabat Muh Djamhari kembali melakukan pembangunan dengan tambahan biaya Rp 100 juta.

Perkembangan masjid Agung Al-Barkah. Foto paling kiri adalah masjid agung

Al-Barkah Bekasi ketika baru mempunyai dua menara, foto tengah saat menara ke 3amp;

ke empat dalam tahap penyelesaian, sedangkan foto paling kanan adalah Masjid -

Agung Al-Barkah saat ini lengkap dengan 4 menara nya.

Pada saatkota Bekasi terbentuk tahun 1997 dan terpisah dariKabupaten Bekasi di zaman wali kota dijabat H Achmad Zurfaih yang merupakan putra asli Bekasi, perhatian pemerintah daerah semakin besar dalam membangun masjid yang kini menjadi kebanggaankota Bekasi. Mulai tahun 2004 hingga 2008, pembangunan besar-besaran pun dilakukan.

Persiapan pembangunan masjid Agung Al-Barkahkota Bekasi ini mulai dilakukan tahun 2003 dengan penataan ulang tata ruang alun alun, jalan dan fasilitas lain yang ada. Masjid dirancang lebih modern, namun tetap mencirikan arsitektur timur tengah. Ada keinginan dari walikota saat itu untuk menghadirkan sebuah masjid agung yang referesentatif dan menjadi ikonkota Bekasi. Masjid yang juga dapat dimanfaatkan sebagai area publik, dimana orang bisa ibadah dan menikmati pesona taman kota.

Logo Ukuran besar dipasang di fasad depan

Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Peletakan batu pertama renovasi total Masjid Agung Al-Barkahkota Bekasidilakukan oleh Walikota Bekasi  H. Ahmad Zulfaih, pada hari Sabtu 26 Juni tahun 2004, disaksikan oleh sekitar 1000 jemaah bersama para ulama dan tokoh masyarakat Bekasi. Masjid yang semual berada di atas lahan wakaf seluas 3.000 meter kemudian diperlebar dengan bangunan tambahan seluas 7000 meter persegi.

Dalam renovasi terahir tersebut menghabiskan dana sekitar Rp22.860.660.000. Dana yang bersumber APBDkota Bekasi 2004, 2005 dan 2006, APBD Provinsi Jabar 2005, 2006 dan dari sumber sumber lain termasuk dari sumbangan jemaah dan tokoh tokoh masyarakat termasuk sumbangan dariSutiyoso (ketika menjabat sebagai GubernurDKI Jakarta) ketika berkunjung ke masjid ini pada Hari ulang Tahunkota Bekasi ke-9.

Salah satu Menara masjid Agung Al-Barkah.

Puncak menara ini tidak dilengkapi dengan

Bulan bintang ataupun Lafazd Allah. Namun

rancangannya cukup futuristik.

Aktivitas Masjid Agung Al-Barkah Bekasi

Pada masa Ramadhan, kegiatan di masjid tersebut seakan tidak terhenti. Kegiatan dilakukan mulai dari shalat subuh yang dilanjutkan dengan kuliah tujuh menit (kultum) yang diisi dengan ceramah-ceramah. Pada sore hari menjelang berbuka puasa, DKM setiap harinya menyelenggarakan buka puasa bersama yang dihadiri sekitar 200 orang. Pelaksanaan tarawih pun dihadiri sekitar 1.000 jemaah.

Berbagai kegiatan keagamaan lainnya dan tiga hari menjelang Idul Fitri, DKM Al-Barkahkota Bekasi memberikan santunan kepada anak yatim piatu dan kaum duafa yang bersumber dari zakat mal.

Detil Kubah Masjid Agung Al-Barkah, Bekasi.

Pemeliharaan Masjid

Pemeliharaan masjid ini, setiap hari melibatkan 19 karyawan mulai dari pengurus taman hingga petugas kebersihan. Cukup besar biaya operasional yang harus disiapkan termasuk gaji para karyawannya. Tak kurang dari Rp 15 juta setiap bulan, biaya operasional termasuk gaji para karyawan yang menjadi tanggung jawab DKM. Untuk membayar listrik rata-rata satu bulan Rp 7 jutaan. Belum termasuk penggunaan air PAM.

Arsitektur Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Arsitektur masjid mengadaptasi masjid masjid timur tengah yang disublimasi dengan unsur tropis. Masjid di timur tengah tidak mengenal teras atau kanopi, karena iklim Indonesia tropis, masjid membutuhkan kantilever dan kanopi agar air hujan tidak tempias ke dalam masjid makanya kemudian masjid ini dilengkapi dengan teras.

Interior Masjid Agung Al-Barkah Bekasi dilihat dari

lantai dua masjid. Delapan daun pintu dari kayu jati berukir kaligrafi mencerminkan 8 pintu menuju surga. Daun pintu tersebut terbuat dari kayu jati yang dipesan langsung dari Jepara, Panitia pembangunan Masjid bahkan datang langsung ke Jepara untuk memilih kayu yang benar benar bagus dari pohon yang sudah berusia di atas 90 tahun. Kubah masjid memiliki diameter 18 meter dan dibawahnya bertuliskan 99 nama Allah (Asmu’ul Husna).

Tiang tiang masjid dilapisi kayu untuk memberi kesan hangat. Ini diadopsi dariMasjid Agung Demak  yang dibuat dari kayu. Juga terdapat elemen floral dan ornamen Islam seperti bintang atau bentuk segi delapan yang umum banyak dipakai pada bangunan masjid. Masjid Agung Al-Barkahkota Bekasidilengkapi tempat Thaharah, gedung pertemuan dan tempat majelis taklim, perpustakaan, kantor ta’mir dan kantor remaja masjid, taman, plaza dan area Parkir.

Detil ornamen dibawah kubah
Konsep rancangan arsitektur Masjid Agung Al Barkahkota Bekasi dilandasi esensi dan referensi Al-Qur’an, Sunnah Nabi dan seni Islam. Masjid dilengkapi dengan dua kubah, kubah besar dan kubah kecil dengan 4 menara. Ornamen Islam pada kerrawang, selain elemen dekorasi juga untuk perputaran sirkulasi udara. Untuk mencirikankota Bekasi diambil unsur hijau daun untuk warna sentuhan ahir di beberapa dekorasi.

Simbolisasi Islam

Arsitektur masjid tidak lepas dari simbolisasi Islam, setiap detil bangunan memiliki arti. Simbolisasi islam bisa kita jumpai pada 4 buah menara yang memiliki arti 4 tiang ilmu, yakni Bahasa Arab, Syariah, sejarah dan filsafat. Serta syarat hidup bahagia yakni aqidah, ahlak, syariah dan Ibadan. Tiga bagian bentuk dasar bangunan menara mencerminkan iman islam dan ikhsan, sedangkan ketinggian menara 35 meter diambil dari salah satu surat Al-qur’an.

Mimbar dan Mihrab Masjid Agung Al-Barkah.
Dewan Kemakmuran Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Sebagai Masjid Agung Kota Bekasi, dewan kemakmuran masjid Agung Al-Barkah ini melibatkan para petinggi kota bekasi terdiri dari : Walikota & Wakil Walikota Bekasi, Ketua DPRD kota Bekasi, Muspida kota Bekasi, Kakandepag Kota Bekasi dan Ketua MUI Kota Bekasi. selain itu juga dibentuk dewan penasihat terdiri dari : H. Akhmad Zurfan Sos, Drs. H. Tjandra Utama Efendi, MM. Mba, Drs. H. Muhtadi Muchtar, Ir. H. Imron Zubaidy, H. Moh. Nosin Sanusi, Ir. H. Muharram. A. Ketua Umum dijabat oleh Sekretaris Daerah Kota Bekasi, dan Ketua harian : Drs. H. Abdul Hadie MM. Sementara posisi sektertaris dan bendahara dipegang masing masing oleh 3 pengurus, ditambah dengan beberapa ketua bidang yang langsung menangani aktivitas Masjid Agung.

Video Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Belum tersedia rekaman video Masjid Agung Al-Barkahkota Bekasi di Youtube, rekaman video Masjid Al-Barkahkota Bekasi di situs indosiar yang sebelum ditautkan ke artikel ini bertajuk Masjid Al-Barkah Bekasi sudah tidak eksis lagi. Silahkan bila ingin berkontribusi untuk menyumbang rekaman video masjid ini.

Foto Foto Masjid Agung Al-Barkah Kota Bekasi

Kaca Mozaik menghias fasad depan Masjid Agung Al-Barkah
Paduan warna warni menghias kubah dan menara masjid Agung Al-Barkah
Interior Masjid Agung Al-Barkah, hamparah karpet warna hijau menutup keseluruhan

lantai masjid. dipadu dengan unsur kayu yang menutup tiang tiang masjid.

Lampu yang cukup unik di pasang dibagian atas ruang sholat utama.
Seorang Jemaah khusu' di dalam masjid agung Al-Barkah, Bekasi.
jendela kaca kubah besar Masjid Agung Al-Barkah ini membeirkan penerangan alami

di siang hari.

Referensi

Masjid Agung Al Barkah Kota Bekasi

Masjid Al-Barkah Kota Bekasi

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura - Kalsel

Masjid Agung Al-Karomah Martapura (Wikipedia)

Kota Martapura adalah ibukota Kabupaten Banjar, provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang terkenal didalam dan diluar negeri dengan produki intan-nya. Dengan ke kayaan alam dari hasil pertambangan intan tersebut tak mengherankan bila Kota Martapura yang hanya sebuah ibukota kabupaten tersebut memiliki masjid yang begitu mewah dan megah di pusat kota nya tak jauh dari pasar intan di kota tersebut. Masjid Agung Al-Karomah di klaim sebagai masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Masjid Agung Al-Karomah pada awalnya bernama Masjid Jami’ Martapura. Dibangun dari bahan Kayu Ulin (kayu besi) dengan bentuk bangunan meniru bangunan Masjid Agung Demak. Dengan atap limasan bersusun tiga bukan seperti bentuknya yang sekarang.

Lokasi Masjid Agung Al-Karomah Martapura

Masjid Agung Al-Karomah terletak di Kota Martapura, Kabupaten Banjar,Kalimantan Selatan, dapat dicapai selama +/- 1 jam perjalanan dari kota Kota Banjarmasin atau 1/2 jam jika dari bandar udara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Berada di pinggir jalan trans Kalimantan ruas Kalimantan Selatan-Kaltim, beseberangan dengan Perkantoran Sekretariat Daerah Kabupaten Banjar yang juga Kantor Bupati Banjar di pusat Kota Martapura.

Koordinat : 3° 24' 19.50" S  114° 50' 53.13" E

View Masjid Agung Al-Karomah, Martapura in a larger map

Sejarah Masjid Al-Karomah, Martapura

Masjid Agung Al Karomah, dulunya bernama Masjid Jami’ Martapura yang didirikan oleh panitia pembangunan masjid yaitu H.M. Nasir, H.M. Taher (Datu Kaya), H.M. Apip (Datuk Landak), kepanitiaan ini didukung oleh Raden Tumenggung Kesuma Yuda dan Mufti H.M. Noor.

Dibangun dengan meniru Masjid Agung Demak. Bangunan masjid dengan atap limasan bersusun tiga. H.M. Apip (Datuk Landak) dengan ditemani oleh H.M. Khalid bin Yahya, H.M. Idris dan M. Kotoh ditugasi Untuk mencari Kayu Ulin untuk sokoguru ke Barito Kalimantan Tengah. Sedangkan utusan desa Dalam pagar berangkat ke Demak untuk mendapatkan miniatur masjid demak lengkap dengan skalanya sebagai referensi pembangunan masjid.

Masjid Jami’ Martapura 1910-1940 cikal bakal

masjid Agung Al-Karomah, Martapura Wikipedia

10 Rajab 1315 H ( 5 Desember 1897 M) dimulailah pembangunan masjid jami’ Martapura dengan struktur utama dari kayu Ulin dengan atap sirap, dinding dan lantai papan kayu ulin. Masjid Jami’ Martapura dibangun dengan ukuran 37,5 meter x 37,5 meter. Malam Senin 12 Rabiul Awal 1415 H dalam perayaan hari kelahiran nabi besar Muhammad SAW, Masjid Jami’ Martapura diresmikan menjadi Masjid Agung Al Karomah.

Sejak dibangun hingga saat bangunan masjid sudah mengalami tiga kali renovasi dan ahirnya membentuk masjid modern, megah dan mewah seperti saat ini. Renovasi terahir tahun 2004 menelan biaya Rp 27 milyar. Dengan menggabungkan bentuk bangunan modern eropa, timur tengah dan tetap mempertahankan empat tiang Ulin yang menjadi Saka Guru peninggalan bangunan pertama Masjid Jami’ Martapura. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Masjid.

Tiang sokoguru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella atau ruang keramat. Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab. Pada saat pembangunan awal masjid Martapura ini tiang sokoguru empat ditarik beramai-ramai oleh Datuk Landak bersama masyarakat menggunakan tali alias seradang.

Arsitektur Masjid Agung Al-Karomah Martapura

Arsitektur Masjid Agung Al-Karomah Martapura yang kini berdiri dibangun dengan gaya masjid-masjid di arab karena memang masyarakat Martapura kebanyakan keturunan Arab, dipadukan dengan bangunan modern Eropa dan gaya tradisional Demak. Masjid megah dengan baluran warna hijau, ini masih menyisakan 4 sokoguru asli dari masjid asli yang kala itu masih disebut sebagai Masjid Jami’ Martapura.

Suasana di dalam masjid Agung

Al-Karomah, Martapura (blogspot)

Mimbar tempat khatib berkhutbah yang berumur lebih satu abad sampai sekarang masih dipakai. Mimbar dengan berukiran untaian kembang dan berbentuk panggung dilengkapi tangga diarsiteki HM Musyafa. Pola ruang pada Masjid Agung Al Karomah mengadopsi pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan.

Masjid Al-Karomah Martapura kini menjadi Landmark bagi Kota Martapura. Terlihat begitu indah dan menawan dimalam hari dengan cahaya lampunya yang berkilau menghadirkan pemandangan tersendiri dipandang dari jembatan Besi disamping Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Gerbang Masjid Al-Karomah, Martapura (wikipedia)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (blogspot)

Kubah Masjid Agung Al-Karomah, Martapura, Kalimantan Selatan (blogspot)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura dilihat dari udara

Masjid Agung Al-Karomah Martapura (panoramio)

Masjid Agung Al-Karomah Martapura (panoramio)

Interior masjid Agung Al-Karomah Martapura (panoramio)

Di bawah Kubah masjid Agung Al-Karomah,

Martapura (panoramio)

Dalam rekaman video lagu daerah banjar berikut sedikit memberi gambaran tentang budaya Banjar dengan masjid Agung Al-Karomah Martapura.

Referensi

Megahnya Masjid di Martapura, Kalsel

Masjid al-karomah martapura

Masjid Agung Al Karomah ( The Great Al Karomah Mosque ) Martapura

Wikipedia

Radar Banjarmasin

--------------------------ooOOO----------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Jami Malang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Bagian I)

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian II)

Monday, June 29, 2020

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karawang berdiri di kawasan alun alun kabupaten Karawang, disekitar alun alun pada depan masjid ini poly masih ada warung berbagai jenis kunliner.

Berdiri megah di kawasan alun alun kota Karawang, masjid Agung Karawang menyimpan sebuah sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah propinsi Jawa Barat. Sejarah masjid agung ini tidak dapat dilepaskan dari peran Sheikh Quro, yang bernama asli Sheikh Hasanuddin, seorang ulama besar yang begitu berjasa bagi masuk dan berkembangnya syiar Islam di wilayah Karawang khususnya dan propinsi Jawa Barat umumnya. Bangunan masjid yang kini berdiri megah itu memang bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Sheikh Quro. Renovasi, perbaikan hingga pembangunan kembali oleh para Bupati Karawang tempo dulu hingga para bupati di era Kemerdekaan turut andil dalam mempermegah dan memperindah masjid bersejarah ini.

Lokasi Masjid Agung Karawang

Jalan Brigadir Jenderal Polisi Nasuha

Telukjambe, Karawang, Indonesia

Karawang, Tarumanagara, Padjajaran & Sheikh Quro

NamaKarawang berasal dari Bahasa Sunda Karawa-an, adalahNama suatu kesatuan wilayah dan juga nama salah satu pelabuhan yang terletak ditepi kali Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran.  Sebagai suatu Wilayah, Karawang sudah memegang peranan penting pada masa Pemerintahan kerajaan Tarumanegara yang berkuasa pada abad IV - VI M. Tim Arkelogi Nasional  yang melakukan penelitian sejak tahun 1952 sampai sekarang, banyak menemukan peninggalan kerajaanTarumanegara seperti bekas bangunan candi dan lain-lainnya di sekitar Desa Seragan, Batu Jaya dan Desa Cibuaya. Demikian juga adanya nama Pataruman sebuah kampung di dekat Rengasdengklok, diduga bakas salah satu pelabuhan Tarumanegara.

Kala itu pelabuhan Karawang menjadi pelabuhan penting di kerajaan Tarumanegara hingga era kerajaan Padjajaran. Posisi Karawang yang berada di sepanjang kali Citarum yang merupakan jalur utama perdagangan di kawasan tersebut menjadikan nya teramat penting pada era Padjajaran sama pentingnya dengan pelabuhan Banten, Bekasi, dan Sunda Kelapa. Pentingnya peranan pelabuhan Karawang, bukan saja pada masa pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI  M, yakni hampir 800 tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang telah mengangkat  Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria Wirasaba. Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

Sisi depan Masjid Agung Karawang, menghadap ke Alun Alun.
Pelabuhan Karawang dengan kesibukan seperti dijelaskan itulah, rombongan Syeh Quro dengan 2 perahunya singgah kesana. Syekh Quro atau yang bernama asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kamboja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungan yang ke dua di pulau Jawa dan memulai menyebarkan Islam di kawasan tersebut Mushola yang dibangun oleh Syekh Quro inilah yang kini kita kenal sebagai masjid Agung Karawang.

Sheikh Quro, Masjid Agung Karawang dan Keruntuhan Padjajaran

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syeh Quro menyampaikan Da'wahnya di Musholla yang dibangunnya penuh keramahan. Uraiannya tentang Agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan,  Karena Ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al Qur'an  memberikan daya tarik tersendiri, karena Ulama Besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatkan masuk Islam.

Menara Masjid diresmikan tahun 2008.

Dakwah Syeikh Quro di Karawang ini terdengar Prabu Angga Larang yang pernah melarang Syeikh Quro melakukan kegiatan yang sama  ta'kala mengunjungi pelabuhan  Muara Jati Cirebon, ia mengirim utusan yang dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syeh Quro. Namun ta'kala Raden Pamanah Rasa ini tiba di tempat tujuan, hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Karancang.

Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang. Lamaran tersebut diterima dengan syarat mas kawinnya harus "Bintang Saketi" yaitu simbol dari "tasbeh" yang berada di Negeri Mekah. (Sumber lain menyatakan bahwa, hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam). Selain itu, Nyi santri juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan-nya kelak harus ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, dan beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, di mushola Pesantren Syeikh Quro dan Syeh Quro sendiri yang bertindak sebagai penghulunya. Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran kemudian bergelar Prabu Siliwangi.

Perkawinan di musholla yang senantiasa mengagungkan asma Allah SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar. Dari pernikahan tersebut lahirlah putera bernama Raden Walangsungsang, lalu seorang puteri bernama Raden Nyi Rara Santang dan putra bungsu bernama Raden Kian Santang.

Setelah melewati usia remaja, bersama adiknya Raden Nyi Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran untuk mendapat bimbingan dari Ulama Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Sedangkan Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Mubaligh dan menyebarkan Agama Islam di daerah Garut.

Setelah kakak beradik Raden Walangsungsang dan Nyi Rara Santang menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang  memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang (Cirebon) bergelar Pangeran Cakrabuana . Sedangkan Raden Nyi Mas Rara Santang waktu di Mekah diperistri oleh Sultan Mesir, Syarif Abdillah. Raden Nyi Rara Santang kemudian diganti namanya menjadi Syarifah Muda’im.

Dari pernikahan Raden Nyi Mas Rara Santang dengan Syarif Abdillah, mereka dikaruniai dua orang putera masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia jabatan sultan diserahkan kepada Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas dari para Ulama Mekah dan Bagdad, ia bertekad untuk menjadi Mubaligh di Cirebon.

Tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibundanya berlayar ke Cirebon, setibanya disana disambut dengan suka cita oleh Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat atau pangeran Walangsungsang yang tak lain adalah kakak tertua dari ibundanya. Syarif Hidayatullah kemudian dipercaya untuk menggantikan Pangeran Cakraningrat untuk memimpin negeri Caruban, dengangelar Susuhunan atauSunan. Syarif Hidayatullah ini yang kemudian kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Reka gambar paras Sunan Gunung Jati.

Pengangkatan Syarif Hidayatullah tersebut mendapat dukungan terutama dari Raden Fatah, Pemimpin Pesantren dan Sunan Bintoro, putera Raja Majapahit Brawijaya V, yang diangkat menjadi Sultan Kerajaan Islam Demak I. Dalam rangka pembangunan Mesjid Agung Demak, Sunan Cirebon diundang untuk menetapkan kebijaksanaan tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sidang para Sunan yang dikenal Wali Songo itu juga menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah diangkat menjadi ketua atau pimpinan dari Wali Songo, dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Sejarah Nasional kita mencatat bahawa pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak dibawah pimpinan Fatahillah berhasil mematahkan kekuasaan Portugis di Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta, Batavia dan kemudian menjadi Jakarta yang kini kita kenal. Keturunan Sunan Gunung Jati juga yang kemudian mendirikan kesultanan Banten dan secara tuntas menghapus sisa sisa kekuasaan Pajajaran, ketika tahun 1579 Syeh Yusuf, Putera Sultan Hasanuddin atau cucu Sunan Gunung Jati melumpuhkan secara total sisa sisa kekuatan Pajajaran. Peristiwa heroik penaklukan Sunda Kelapa oleh gabungan pasukan Demak dan Cirebon terhadap pasukan Portugis itu kini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sejarah besar itu bermula dari mushola kecil sheikh Quro yang kini menjadi Masjid Agung Karawang. Apa yang dikatakan Sheikh Quro bahwa keturunan pajajaran kelak akan ada yang menjadi Waliullah dan permohonan Nyi Subang Karancang (Subang Larang) agar keturunannya dari perkawinan dengan Prabu Siliwangi ada yang menjadi raja, pun ahirnya terwujud.

Bersambung ke bagian II

Menara Masjid Agung Karawang diresmikan tahun 2008.
Sisi depan masjid dilengkapi dengna jejeran anak tangga dari dan ke pelataran.
Dari arah alun alun.
Enam Pilar Masjid Agung Karawang.
Interior Masjid Agung Karawang.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid Karawang lainnya

Masjid Al-Jihad Karawang – Jawa Barat

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Masjid Jami' Al-Huda Loji, Karawang

Masjid Jami’ Arrohman, Kampung Kereteg, Karawang

Masjid Raya Al-Kasiah, Klari, Karawang

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karwang (bagian II)

Masjid Agung Karawang (bagian II)

Pelataran depan masjid Agung Karawang.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya Masjid Agung Karawang (bagian I) klik untuk kembali ke bagian I

Renovasi, Perbaikan & pembanguan Masjid Agung Karawang

Adipati Singaperbangsa Bupati Karawang (memerintah 1633-1677M), semula berkantor di daerahUdug-udug. Kemudian karena berbagai pertimbangan, ia memindahkannya ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini telah ada pasar, masjid Agung, dan sarana penunjang lain, termasuk pelabuhan itu sendiri yang memperlancar kegiatan lalu lintas perdagangan, pemerintah, dan sebagainya. di dekat masjid Agung dibangun alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin di bagian kanan kirinya, kantor dan pendopo kebupaten, kantor keamanan dan tempat tahanan. Adipati Singaperbangsa memperindah bangunan masjid dan direnovasi diselaraskan dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.

Dari balik kisi-kisi pagar alun alun.

Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya dan Karawang dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC /Kompeni di Batavia, dan Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan memotivasi masyarakat agar berperan serta dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraannya.

Adipati Singaperbangsa wafat pada tahun 1677 M dan dimakamkan diManggung Ciparage , tiga Bupati penerusnya masing masing Panatayuda I,II dan III tidak berkantor di Babakan Kartayasa, dan tidak melanjutkan perbaikan terhadap Masjid Agung Karawang. Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I (menjabat 1677 - 1721 M) berkantor di Waru dekat Loji, Pangkalan. Raden Martanegara atau Panatayuda III (menjabat 1732 - 1752 M) juga berkantor di Waru Pangkalan

Pada masa Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV (memerintah 1752 - 1786M), Kantor bupati dipindahkan kembali ke Babakan Kertayasa. Bupati V  ini, dikenal sebagai dalem nalon. Bupati ini mendapat kehormatan "naik nalon". Dari pemerintahan Kolonial Belanda, dan pada waktu itu hal tersebut  jarang terjadi. Ia termasuk pembina Masjid Agung, dan waktu meninggal Dunia ia dimakam kan dekat Masjid ini, tahun 1993 atas persetujuan para sesepuh, kerangka jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang di Desa Manggung Jaya Cilamaya.

Zenit atap limas Masjid Agung Karawang

Masa Penjajahan Kolonial Belanda

Sejak masa Bupati Karawang VI  sampai Bupati Karawang IX yakni antara tahun 1786 - 1827, tidak ada petunjuk dilakukannya perbaikan yang berarti apalagi perluasan bangunan dan sebagainya. Sebab sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai bupati XXI atas kebijakan pemerintahan Kolonial Belanda tidak lagi berkantor di kota Karawang melainkan ke Wanayasa dan Purwakarta, Sehingga dapat dipahami apabila para Bupati yang berkedudukan di Wanayasa dan Purwakarta perhatiannya kurang terhadap pembinaan Masjid Agung secara langsung, kemunginan dipercayakan kepada wedana atau camat yang bertugas di kota Karawang

.

Masa kemerdekaan

Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950tentang pembentukan daerah daerah Kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat maka kabupaten Karawang terpisah dari kabupaten Purwakarta dan Ibukotanya kembali di Karawang. Sedangkan Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959, pada tahun 1950 atas persetujuan para Ulama dan Umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 m ditambah menara ukuran kecil dan satu Kubah ukuran  3 x 3 m dengan tinggi 12 m, atap dari seng adapun luas tanah mesjd termasuk makam adalah 2.230 m.

Bangunan Masjid agung karawang yg kini kita lihat berdiri megah di sentra kota Karawang adalah bangunan hasil pembangunan yg diresmikan dalam lepas 28 Januari 1994 sang Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. Tercatat dalam prasasti pembangunan ucapan terima kasih pada 4 perusahaan yg berkonribusi pada pembangunan masjid ini masing masing (1) PT. Bintang Puspita Dwi Karya, (dua) PT. Argo Pantes, (tiga) PT. Astakona Megahtama dan (4) PT. Bestland Pertiwi. Prasasti tadi ditandatangani sang Bupati Karawang H. Sumarno Suradi & Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Jamil Sfiuddin. Sedangkan bangunan menara yang menjulang tinggi pada depan masjid diresmikan sang Bupati Karawang H. Dadang S Muchtara pada lepas 11 Agusutus 2006.

Kaligrafi ukuran besar pada Masjid Agung Karawang.

Arsitektur Masjid Agung Karawang

Sejatinya masjid Agung Karawang dibangun dalam arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar , menggunakan atap limas bersusun 3 dengan empat sokoguru utama menopang atap masjid. Plafon masjid dibiarkan terbuka buat member ruang bagi masuk nya cahaya matahari ke dalam ruang masjid & bagi kepentingan sirkulasi udara. Bagian dalam masjid dibangun 2 lantai berbentuk mezanin member ruang terbuka cukup luas dibagian depan masjid bagi jemaah di lantai dua buat bisa melihat ke lantai utama masjid.

Di 3 masjid berdiri kokoh masing masing 6 pilar bundar cerminan enam rukun Islam. Dan ketiga sisi masjid agung ini dibangun menggunakan dinding berkerawang / berongga memungkinkan peredaran udara secara alami dan keindahan tersendiri bagi bangunan masjid ini. Di sisi selatan masjid berdiri gedung remaja masjid & tempat bersuci. Sedangkan disisi mihrab lantai 2 juga difungsikan sebagai kantor pengelola masjid.

Sisi Mihrab, masjid agung Karawang.
Pada sisi mihrab dibagian kiri dan kanannya terikir indah kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran besar. Kaligrafi Al-qur’an juga terlukis indah di sisi kiri dan kanan dinding masjid bagian dalam. Kaligrafi dan lukisan geometris turut memperindah sisi migrab masjid ini.

Layaknya masjid khas Indonesia. Disisi selatan masjid ini jua berdiri bangunan kecil terpisah dari masjid sebuah bangunan loka menyimpan dua butir beduk pada ukuran akbar lengkap menggunakan kentongan yg jua dalam berukuran besar . Masjid agung yang begitu megah dan besar ditambah dengan pelataran depan yg sudah dilapis menggunakan keramik ini begitu meriah selama bulan Ramadhan. Terutama di dua hari raya Islam, jemaah masjid ini membludak sampai ke alun alun dan jalan raya disekitar nya. Subhallah sebuah pemandangan yg begitu indah.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Karawang.
Jendela dan dinding sisi selatan
Interior masjid agung Karawang.
Suasana Lantai Dua Masjid Agung Karawang.

Pelataran Masjid

Jemaah sholat Idul Ffitri di masjid agung Karawang.

buanatirta.blogspot.com - sejarah masjid agung karawang, bagian 2 dan bagian 3

kompasiana.com – misteri masjid agung karawang

pelitakarawang.com – sejarah masjid agung karawang

poskota.co.id – pengungsi nginap di masjid agung karawang

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid Karawang lainnya

Masjid Al-Jihad Karawang – Jawa Barat

Masjid Nur Al-Anwar, Karya Mulya, Batujaya, Karawang

Masjid Jami' Al-Huda Loji, Karawang

Masjid Jami’ Arrohman, Kampung Kereteg, Karawang

Masjid Raya Al-Kasiah, Klari, Karawang

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karwang (bagian II)

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done