Islami Pedia: masjid di jakarta utara
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di jakarta utara. Show all posts
Showing posts with label masjid di jakarta utara. Show all posts

Sunday, August 9, 2020

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Aerial View Masjid Jakarta Islamic Center

Dari Lokasi Prostitusi Menjadi Pusat Pengkajian Islam

Sulit membayangkan bahwa huma loka masjid ini berdiri dulunya adalah bekas lahan prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di daerah Jakarta Utara. Tapi begitulah faktanya. Situs resmi masjid ini menyebut kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yg merubah tanah hitam sebagai tanah putih, "min al-dzulumaat ila an-nuur", diperlukan sanggup menampilkan citra baru yg memancarkan nilai-nilai keimanan & ketakwaan yg menyejukkan nurani.

Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta atau yg lebih dikenal dengan Islamic Center Jakarta atau Jakarta Islamic Centre (JIC), merupakan organisasi Non Struktural pada bawah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dibangun para era kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Rancangannya ditangani sang Prof. Muhammad Nu?Man yang terkenal menggunakan mahakarya arsitekturnya, beberapa diantara-nya adalah Masjid Amir Hamzah pada Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Jl, Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara

Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara

Provinsi DKI Jakarta

Situs resmi : http://www.islamic-center.or.id/

Mengubah Tanah Hitam Menjadi Putih

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) yang berdiri megah saat ini sebelumnya adalah Lokasi Resosialisasi (Lokres) Kramat Tunggak dengan nama resmi Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak, bahasa sederhana-nya adalah Pusat Lokalisasi para WTS atau PSK, yang terletak di jalan Kramat Jaya RW 019, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara, menempati lahan seluas 109.435 m2 terdiri dari sembilan Rukun Tetangga (RT).

Lokres Kramtung tidak saja terkenal di Indonesia, namun pula populer sampai ke Asia Tenggara menjadi pusat jajan terbesar bagi para pria hidung belang, yg dalam ahirnya mengakibatkan begitu poly masalah sosial seiring dengan perkembangannya yg luar biasa, sanggup dibayangkan jika pada ketika dibuka tahun 1972, pada loka ini masih ada 300 orang WTS menggunakan 76 orang germo dan menjelang ditutupnya Lokres tersebut di tahun 1999, jumlahnya telah membengkak 1.615 orang WTS dan 258 orang germo. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang mempunyai 3.546 kamar.

Selain kasus sosial yang ditimbulkannya Lokres ini menciderai citra Jakarta yg tidak mampu dipisahkan dari sejarahnya menjadi sebuah kultur Betawi yang sangat identik sebagai komunitas Islam yg terbuka, bersemangat multikultur, toleran & sangat mencintai Islam menjadi bukti diri primer kebudayaan mereka. Kondisi ini menyebabkan friksi tidak henti-hentinya berdasarkan ulama dan masyarakat agar komplek tersebut segera ditutup. Merespon hal tadi Dinas Sosial beserta Universitas Indonesia melakukan penelitian di tahun 1997 & merekomendasikan penutupan komplek pelacuran tadi.

Interior Islamic Center Jakarta

Pada tahun 1998 dimuntahkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. 495/1998 tentang penutupan panti sosial tadi selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada 31 Desember 1999, Lokres Kramat Tunggak secara resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Selanjutnya Pemda Provinsi DKI Jakarta melakukan pembebasan lahan eks lokres Kramat Tunggak.

Setelah dibebaskan banyak muncul gagasan terhadap lokasi bekas Kramat Tunggak tersebut, ada yg mengusulkan pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran & lain sebagainya. Namun Gubernur H. Sutiyoso justru menggaungkan inspirasi membentuk Islamic Centre dilokasi tersebut. Sebuah ide yang brilian yg menyatukan kelompok-gerombolan lain yg awalnya berbeda-beda.

Pada tahun 2001 Gubernur Sutiyoso mengadakan Forum Curah Gagasan menggunakan semua elemen masyarakat buat mengetahui sejauhmana dukungan warga . Gagasan buat membentuk Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Gubernur Sutiyoso pada Prof. Azzumardi Azra (Rektor UIN Syarif Hidayatullah) pada New York pada sela-sela kunjungannya ke PBB dalam lepas 11-18 April 2001 & menerima respon yang sangat positif.

Ekterior Masjid Jakarta Islamic Center. Ada kemiripan yang relatif kuat antara foto kiri atas & foto kanan bawah dengan Masjid Agung At-Tin pada Jakarta Timur.

Master plan pembangunan JIC dirumuskan pada tahun 2002 sehabis konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi lokal maupun regional sampai international. Di tahun yang sama dilakukan studi banding ke Islamic Centre pada Mesir, Iran, Inggris & Perancis lalu dilanjutkan dengan perumusan Organisasi & Manajemen JIC.

Masjid Jakarta Islamic Center diresmikan pada lepas 4 Maret 2003 Luas bangunan masjidnya mencapai 2200 meter di atas lahan tanah seluas 109,435 m2 & sanggup menampung hingga 20.680 jemaah sekaligus. Pembentukan Organisasi & Tata Kerja Badan Pengelola Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) ditetapkan tahun 2003 melalui SK Gubernur KDKI No. 99/2003. Kemudian dilalkukan penetapan Badan Pengelola Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamci Centre) melaui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 651/2004 dalam bulan April 2004.

Tetapi selanjutnya, kehadiran JIC nir sekedar hanya merubah tanah hitam sebagai putih, atau hanya sebuah masjid saja, melainkan lebih berdasarkan itu JIC diperlukan sebagai keliru satu simpul sentra peradaban Islam pada Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia & Dunia. Ciri peradaban yg dimaksud adalah menggunakan adanya kelengkapan fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang terdiri menurut fungsi peribadatan, fungsi kediklatan dan fungsi pedagangan/usaha.

Interior Masjid Jakarta Islamic Center. Lega dan lapang tanpa tiang tiang penyanggah di tengah tengah ruangan masjid, serta unik dengan ornamen lampu gantung berbentuk ornamen spesial Betawi menjadi penghias ruangan.

Arsitektural Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Sebagai sebuah Islamic Center, pada dalam komplek JIC ini nir hanya terdapat bangunan Masjid dengan ukuran sangat besar tetapi jua dilengkapi dengan fasilitas fasilitas pendukung termasuk komplek gedung perkantoran, aula dan perpustakaan dan fasilitas pendukung lainnya. Kesan megah & terbaru sangat terasa pada komplek Islamic Center terbesar Indonesia ini. Sejauh ini JIC jua eksis pada dunia maya melalui situs yang mereka kelola.

Gaya Usmaniyah Turki sangat kental dalam bangunan masjid ini, baik pada gaya juga ukurannya, kesan tadi sangat terasa saat memandang masjid ini menurut kejauhan. Masjid masjid menurut era Usmaniyah terkenal menggunakan ukurannya yang gigantik alias tinggi akbar, kubah besar dan menara tinggi yg ramping & lancip, ditambah dengan area pelataran (court yard) yang memang sudah mentradisi sebelum masa Emperium Usmaniyah. Masjid JIC ini seolah menghadirkan Masjid Usmaniyah (Turki) di Ibukota Negara Indonesia dengan rasa Nusantara

Perbedaan paling menyolok Antara masjid ini dengan masjid Klasik Usmaniyah terlihat kentara di ruang primer masjid yang sama sekali nir masih ada tiang penyanggah, yg justru menjadi salah satu karakteristik spesial Masjid Usmaniyah. Dalam skala yg lebih mini , Penggunaan contoh atap masjid misalnya atap masjd JIC ini bisa anda temukan pada Masjid Agung Kota Cimahi, Jawa Barat.

Dari kejauhan tampak menggunakan utuh kemegahan masjid ini beserta sebatang menaranya yang menjulang.

Ruangan masjid tanpa tiang misalnya ini telah lama dijadikan baku sang Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) bagi 1000 masjid yang telah mereka bangun baik pada pada maupun pada luar negeri. Rancangan misalnya ini menghadirkan perbedaan makna lebih luas di pada masjid yg pada Masjid Usmaniyah disiasati dengan pembuatan ventilasi jendela kaca ukuran akbar pada jumah poly.

Sebagai pengganti ?Kekosongan? Elemen? Tiang penyanggah ini dihadirkan elemen elemen dekoratif spesial tradisi Betawi pada langit langit bangunan yg plong tanpa plafon ditambah menggunakan dominasi rona biru diseluruh langit langit menghadirkan perbedaan makna langit tanpa awan ke dalam masjid ini. Pada kubah akbar masjid ini dilengkapi dengan ?Jendela jendea? Transfaran menciptakan pola menara menara mini disekeliling diameter kubah terlihat latif di siang hari waktu cahaya mentari menerebos masuk ke dalam masjid melalui ventilasi ventilasi tersebut.

Rancangan atap masjid ini memang tampak relatif rumit, sederhananya adalah berupa tumpukan tumpukan atap menyiratkan atap tradisional masjid masjid orisinil Indonesia. Pada setiap tingkatan atap masih ada sisi vertical & ditempatkan beberapa ventilasi kaca berukuran akbar menghadirkan penerangan gratis ke pada masjid dari cahaya surya disiang hari sekaligus memberikan imbas fantastis pada dalam masjid.

Untuk menghindari kesan sumpek dan pengap, dinding bagian pada masjid ini dibalut menggunakan warna cerah, kontras menggunakan rona langit langitnya yang lebih gelap, & area mezanin (lantai dua) nya dibangun tanpa menutupi area sholat primer. Rancangan seperti ini tentu saja pula akan anda temukan pada Masjid Agug At-Tin pada kawasan TMII, Jakarta Timur, lantaran memang dirancang oleh arsitek yg sama.

Bangunan bergaya Usmaniyah dengan cita rasa Indonesia.

Mihrab di dalam masjid ini di dominasi oleh Mimbar khatib yang relatif besar . Khatib akan menyampaikan khutbahnya pada mimbar yg ditempatkan cukup tinggi hingga bisa telihat sang Jemaah paling belakang. Posisi imam saat memimpin sholat nir pada pada mihrab akan tetapi beberapa meter di depan mihrab. Satu butir beduk yg jua ukuran akbar ditempatkan di dalam masjid ini di sudut kanan depan. Kehadiran beduk ini tentu saja menghadirkan nuansa yang sangat Indonesia.

Ruang sholat primer masjid ini berada di lantai dua, ada tangga akbar menuju ke lantai 2 yg mengarah pribadi ke pelataran masjid. Selain tangga masjid ini pula dilengkapi menggunakan perangkat eskalator. Lantai dasar masjid dipakai sebagai area pendukung & tempat kerja serta area tempat wudhu dan lainnya. Selain pada lantai dasar, loka wudhu juga tersedia di area pelataran yg dibangun relatif unik. Hal yang sama jua akan anda temui pada kebanyakan masjid masjid Usmaniyah.

Pelataran masjid ini relatif luas dikelilingi rangkaian koridor tak terputus. Seluruh bagian atas pelataran telah diberikan garis shaf tetap buat memudahkan Jemaah yg sholat pada luar masjid memilih garis shaf mereka. Sebatang menara ramping menjulang tinggi dibangun tepisah relatif jauh dari bangunan utama masjid.

Bangunan menara berdenah segi empat nir misalnya menara masjid Usmani yang bulat. Melihat menara ini mengesankan sebagai menara masjid Agung Demak dalam bentuk lebih akbar & terbaru. Ujung menara dilengkapi menggunakan kubah lonjong berwarna senada menggunakan kubah utama, pada atas kubah terdapat ornamen tusuk sate dengan 5 bentuk bola menyimbolkan lima rukun Islam & pada ujungnya ditempatkan simbol bulan sabit berbentuk simetris ke atas.

Masjid Masjid rancangan Prof. Muhammad Nu?Man mempunyai benang merah yg sangat kuat terhadap rancangan masjid masjid berdasarkan era ke-khalifahan Islam (Emperium) Usmaniyah yg berpusat di Istanbul, Turki. Namun sudah barang tentu dibangun dengan teknik terkini dan pada oplos dengan tradisi Islam Indonesia.

Bila Emperium Usmaniyah (Turki) memiliki arsitek ternama Mimar Sinan yang begitu melegenda, hingga hingga pemerintah Turki menciptakan sebuah masjid megah buat menghormatinya. Saya pribadi menjadi orang awam arsitektur menganggap Prof. Muhammad Nu?Man dengan karya karyanya yang sangat Usmaniyah, menjadi Mimar Sinan-nya Indonesia.*** (menurut aneka macam asal, data diolah).

Referensi

suarajakarta.com - Jakarta Islamic Centre : Gelapnya Hilang Menjadi Terang

insistnet.com - Ir. Achmad Noe'man: Sang Arsitek Pejuang

situs resmi JIC – http://islamic-center.or.id

jakarta.go.id - Jakarta Islamic Centre

dakwatuna.com - Kramat Tunggak, Dari Surga Prostitusi Menjadi Pusat Kegiatan Islam

Tuesday, August 4, 2020

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta Utara

TERTUA, Masjid Al-Alam Cilincing merupakan satu dari dua masjid tertua di jakarta bersama dengan Masjid Al-Alam Marunda.

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh  “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat kota jakarta.

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta

JL Cilincing, RT. 005/04, RT.Tiga/RW.4, Cilincing

Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 17131

Indonesia

Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan perbaikan masjid sang Dinas Museum & Sejarah DKI Jakarta, waktu masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, & bangunan ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Pada saat itu dilakukan penggantian dinding bata dengan tinggi 1 meter, namun tetap mempertahankan keaslian bagian atasnya yg terbuat dari dinding bambu. Sedangkan di sisi Selatan dan Barat dibentuk pelataran parkir. Pada 1989 dilakukan ekspansi serambi Timur dan Utara, dan membuat tempat wudhu & WC.

Masjid Al Alam Cilincing memiliki 5 pintu masuk, masing masing dua pintu di utara & selatan dan satu pintu di sisi timur. Serambi berada di sisi Selatan, Timur, dan Utara menggunakan lantai keramik berwarna merah hati. Pada serambi sisi timur masih ada kentongan kayu & bedug yg ditopang empat kayu penyangga. Serambi terbuka pada sisi Utara ditopang sang 11 tiang.

Masjid Al-Alam Cilincing dimalam hari

Ruang utama Masjid Al Alam Cilincing berukuran 10 x 10 m, menggunakan empat soko pengajar berdasarkan kayu jati, Dilengkapi dengan mihrab yang menjorok ke luar bangunan menyerupai sebuah relung dengan dinding menurut keramik putih yang berhiaskan kaligrafi bertuliskan dua kalimat syahadat, Sebuah mimbar berada di relung yg lebih mini yang juga terbuat dari keramik rona putih.

Atapnya yang berbentuk limas dan nir mempunyai langit-langit tetapi langsung ditutupi menggunakan papan berplitur coklat. Dindingnya juga setengah tembok & setengah kayu. Bagian luarnya ditutup genteng berbentuk limas tumpang 2 dengan puncak memolo berbentuk mahkota raja.

Dan pada keliru satu sisi masjid terletak sebuah kayu berukir yg bertuliskan ?Wasiat Sunan Gunung Jati? . Di bawahnya tertulis dalam aksara hanacaraka & Latin ?Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin? Menggunakan terjemahan pada Bahasa Indonesia ?Aku Tititpkan Masjid dan Fakir Miskin?.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Arsitektur masjid adalah gaya orisinil masjid masjid Nusantara. Tiang, soko guru, pintu, & kayu-kayu induk kabarnya masih asli. Empat soko guru melambangkan iman, Islam, ilmu, amal. Sedangkan ventilasi yg berjumlah 8, melambangkan jumlah surga .

Di bagian luar di sisi timur bahari masih ada sebuah ruangan yang digunakan buat kantor Sekretariat Ikatan Remaja Masjid. Di samping ruangan ini terdapat tempat wudhu dan kamar kecil, berupa bangunan baru. Pada dinding bagian luarnya terdapat tujuh buah kran air.

Di bagian belakang masjid jua terlihat deretan kuburan yang sebagian syahdan sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Sebuah bangunan pendopo ditambahkan di sisi timur bangunan asli. Lantai pendopo berlapiskan keramik warna coklat dengan  tiang tiang berukir dan dicat warna emas. Atapnya berbentuk limas bersusun dua dan kalau diperhatikan mirip dengan atap bangunan utama masjid.  Bangunan masjid yang asli agak sulit dilihat secarah utuh karena sudah ditutupi oleh pendopo tambahan ini yang lebih tinggi.

Interior Masjid Al-Alam Cilincing

Beda ketinggian permukaan  lantai antara pendopo dan bangunan utama ini menyebabkan Jemaah harus menuruni beberapa anak tangga menuju bangunan utama yang sekan-akan tenggelam karena lantainya lebih rendah sekitar satu meter. Karena masjid ini dibangun di kawasan rawa di dekat laut, maka air rob selalu membuat masjid ini rentan  banjir, itu sebabnya bangunan pendopo yang dibangun belakangan dibangun lebih tinggi.

Di Masjid Al-Alam Cilincing ini masih ada sebuah sumur tua yang terletak pada samping masjid. Banyak orang menyakini air sumur tersebut mempunyai khasiat buat menyembuhkan aneka macam penyakit. Meski berukuran mini , masjid ini jua selalu didatangi oleh banyak orang menurut berbagai daerah buat beribadah.

Pada saat shalat jumat karena terlalu banyaknya jumlah jamaah, beberapa jamaah bahkan ada yang melakukan ibadah shalat jumat hingga ke samping tempat wudhu dan toilet. Sedangkan pada jumat malam, banyak orang yang datang ke masjid ini untuk melakukan istiqosah bersama. Di bulan suci Romadhan Jemaah masjid ini akan lebih ramai lagi, pelaksanaan sholat Tarawih di masjid ini dilaksanakan 20 rekaat ditambah 3 witir 3 rekaat.

Interior area Pendopo pada Masjid Al-Alam Cilincing, dibagian depan merupakan bangunan usang.

Sunda Kelapa, Fatahillah & Sunan Gunung Jati

Sama halnya dengan Masjid Al-Alam Marunda, pembangunan masjid ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tempat ibadah bagi anggota pasukan gabungan Kesultanan Demak & Kesultanan Cirebon dibawah pimpinan Fatahillah selama penyerbuan ke Sunda Kelapa yang dikuasai Portugis.

Sebelum bertolak ke Sunda Kelapa, sesuai perintah Sultan Demak, Fatahillah singgah ke Cirebon untuk menggabungkan pasukannya dengan Pasukan Kesultanan Cirebon, baru kemudian bertolak ke Sunda Kelapa setelah mendapat arahan dari Sunan Gunung Jati. Gabungan pasukan dua kesultanan ini kemudian juga mendapatkan dukungan dari Banten.

Meski demikian, cerita turun temurun mengaitkan sejarah Masjid ini dengan para Wali Songo terutama Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah yang kala itu memang sedang memegang kekuasaan sebagai Sultan di Kesultanan Cirebon. Terlebih lagi sebagian dari masyarakat kita terlanjur mengidentikkan Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sebagai sosok atau orang yang sama. Meskipun faktanya beliau berdua adalah dua sosok yang berbeda.

Atap limas penutup ruang sholat utama.

Itu sebabnya kemudian terdapat tulisan wasiat Sunan Gunung Jati di Masjid ini. Wasiat yang sama juga akan anda temukan pada saat berkunjung ke Makam Syech Quro di Pulo Bata di Kabupaten Karawang, meskipun tidak ada keterkaitan antara Syech Quro dengan Sunan Gunung Jati karena diantara dua tokoh ini hidup di masa yang berbeda.

Namun demikian, wasiat tersebut merupakan wasiat yang baik dari sorang Wali dan tentu saja sangat pantas ditempatkan di tempat yang ramai dikunjungi masyarakat luas sebagai pengingat dan nasihat. Sunan Gunung Jati dan Fatahillah sama sama wafat dan dimakamkan di Cirebon.

Makam mereka berdua berada di titik tertinggi Astana Gunung Jati di Gunung Sembung kota Cirebon. Namun dengan berbagai pertimbangan, hanya anggota keluarga keraton saja yang diperkenankan masuk ke komplek makam tersebut, sedangkan masyarakat umum disediakan tempat di luar tembok pemakaman.***

Referensi

http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1407/masjid-al-alam-cilincing-jakarta-utara

http://www.thearoengbinangproject.com/masjid-al-alam-cilincing-jakarta/

http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/743/Al-Alam-Cilincing-Masjid

http://www.kompasiana.com/taufikuieks/tenggelamnya-masjid-al-alam-cilincing_578ceb4be6afbdf6087535e2

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Masjid Kuno Indonesia. Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat.

Wednesday, July 15, 2020

Masjid “Si Pitung” Al Alam – Marunda, Jakarta Utara

Dalam penyerbuan ke Sunda Kelapa, Fatahillah bersama pasukannya mendirikan Masjid sebagai tempat mereka beribadah dan menyusun strategi. Salah satunya adalah Masjid Al-Alam Marunda ini.

Masjid Al-Alam atau Masjid Si Pitung ini memang bukan dibangun oleh Si Pitung, Pahlawan di tanah Betawi yang begitu melegenda. Tapi nama Bang Pitung sudah begitu melekat ke masjid tua ini. Masjid tua yang sudah dijadikan bangunan cagar budaya oleh pemerintah sejak tahun 1975 ini, ukurannya memang tidak terlalu besar dan bukanlah bangunan mewah, tapi sejarah yang melekat padanyalah yang menjadikan Masjid ini begitu istimewa.

Lokasi Masjid Al ALam

Masjid Al Alam terletak di tepi pantai Marunda, Jalan Marunda Besar RT 09/RW 01, Kampung Marunda Besar Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Untuk menjangkau masjid ini dari Tanjung Periok ada angkutan umum yang menuju ke Pasar Cilincing, pengunjung harus berganti angkutan yang menuju ke arah Marunda. Dapat pula dipilih angkot jurusan Bulak Turi, yang melintas ke jalan masuk wilayah perkampungan Marunda.

Masjid Al-Alam Marunda

Jl. Marunda RT.09 / RW.01, Cilincing, RT.3/RW.7

Marunda, Cilincing, Kota Jkt Utara

Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14150

Di tahun 1527 Fatahillah memimpin pasukan gabungan kesultanan Demak dan pasukan kesultanan Cirebon menyerbu ke Sunda Kelapa didukung oleh pasukan Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin (putra Sunan Gunung Jati), penyerbuan yang berahir gemilang pada tanggal 22 Juni 1527 dengan dengan hengkangnya Portugis dibawah pimpinan Alfonso D Alboquerqy dari Sunda Kelapa. Fatahillah kemudian mengganti nama Kota Pelabuhan tersebut dengan nama Jayakarta yang berarti Kota Kejayaan.

Setelah kekalahannya di Sunda Kelapa, Alfonso D Alboquerqy sesunggunya sempat mengggalang kekuatan untuk melakukan serangan balasan dan merebut kembali Bandar tersibuk di pantai utara Pulau Jawa tersebut, namun kemudian trauma atas kekalahan yang mengerikan pada perang pertamanya di Sunda Kelapa menyisakan trauma mendalam yang pada ahirnya membatalkan rencana serangan balasan tersebut.

Fatahillah adalah panglima pasukan Kesultanan Demak di masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sultan Trenggono memerintahkan beliau untuk menggabungkan pasukannya dengan pasukan dari Kesultanan Cirebon dibawah pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) untuk bersama sama menyerang Sunda Kelapa. Seperti di ketahui perjalanan laut dari Demak ke Sunda Kelapa akan melewati pelabuhan laut Cirebon, sangat memungkinkan untuk melakukan kondolidasi pasukan kedua kesultanan di Cirebon sebelum bertolak mendekati Sunda Kelapa lalu berkonsolidasi lagi dengan pasukan dari Banten.

Masjid Al-Alam Marunda dari arah gerbang utama

Saat penyerbuan ke Sunda Kelapa tersebut, Fatahillah bersama pasukannya sempat mendirikan sebuah masjid kecil di kawasan Marunda, Jakarta Utara, sebagai tempat mereka beribadah. Masjid tua berukuran kecil itu dikenal dengan nama Masjid Al Alam. Meski ukurannya tidak terlalu besar, masjid berarsitektur tradisional ini cukup kokoh dengan tiang tiang beton antik berukuran besar dan tembok yang cukup tebal.

Fatahillah dan pasukannya berhasil menaklukkan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1257. Beliau kemudian mengganti nama Bandar tersebut dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang bermakna Kota Kejayaan. beliau memegang langsung tampuk pemerintahan di Jayakarta, namun kemudian beliau memutuskan kembali ke Cirebon untuk berdakwah serta memenuhi permintaan Sunan Gunung Jati untuk memperluas wilayah kesultanan Cirebon ke wilayah sekitarnya.

Jabatan pemerintahan di Jayakarta diserahkan Oleh Fatahillah kepada Ki Bagus Angke atau Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke. Dan disaat yang hampir bersamaan Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Banten.

Versi riwayat yang lain tentang masjid Al-Alam ini yang konon dibangun oleh para wali dalam waktu satu malam memang terdengar sangat ajaib. Namun demikian tidak dapat difungkiri bahwa pada saat penyerbuan ke Sunda Kelapa, Sunan Gunung Jati juga memiliki peran sangat penting dan kita pun tahu bahwa Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh Wali Songo, dan tentu saja ada benarnya bila dikatakan bahwa masjid ini dibangun di era Wali Songo.

Bangunan asli Masjid Al-Alam Marunda

Sedangkan satuan waktu yang konon hanya dikerjakan dalam waktu satu malam, bisa jadi hanya merupakan kalimat kiasan untuk menyebut proses pembangunannya yang sangat cepat. Pengerahan pasukan Islam dalam jumlah besar tentunya bukanlah hal sulit untuk membangun masjid sederhana dalam waktu yang tidak telalu lama. Lagipula belum ada informasi akurat tentang seberapa sederhana bangunan masjid asli yang dibangun oleh Fatahillah dan apakah bangunan yang kini berdiri merupakan bangunan asli sejak era tersebut atau sudah mengalami renovasi berkali kali termasuk penggantian material bangunannya setelah melewati rentang waktu yang begitu lama.

Masjid Si Pitung

Kejayaan Jayakarta berahir pada tanggal 12 Maret 1619, kota Kejayaan itu luluh lantak dan bersisa oleh serbuan pasukan V.O.C Belanda dibawah pimpinan J.P. Coen yang kemudian melakukan bumi hangus terhadap kota Jayakarta dan kemudian mengganti nama kota tersebut dengan nama Batavia. Perlawanan terhadap penjajahan Belanda tak pernah usai di Batavia, salah satu tokoh Pahlawan Masyarakat Betawi yang begitu melenda adalah Si-Pitung.

Menurut penuturan tokoh masyarakat Marunda, Pahlawan tanah Betawi ini banyak menghabiskan waktunya untuk istirahat dan bersembunyi dari kejaran kompeni di Masjid Al-Alam yang dibangun oleh Fatahillah ini. Dulu Bang Pitung menggunakan masjid ini untuk sembunyi dari kejaran tentara Belanda. Konon, bila beliau bersembunyi di masjid ini, dia bisa tidak terlihat oleh Belanda. Itu sebabnya, masjid ini seringkali disebut sebagai Masjid Si Pitung.

Masjid Al-Alam terdiri dari bangunan utama, serambi dan sebuah sumur tua. Kini ditambahkan dengan pendopo dan beberapa bangunan penunjang lainnya.

Di bangunan masjid terdapat lubang kecil berbentuk setengah oval di bagian kiri masjid. Konon, kala itu lubang tersebut sering digunakan untuk mengintai tentara musuh. Telepas dari semua kisah legenda pada masjid ini, bila melihat tahun pembangunannya, Masjid Al Alam ini merupakan masjid tertua di Jakarta, wajar bila kemudian di tahun 1975 pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai Cagar Budaya.

Arsitektur Masjid Al-Alam Marunda

Meski dibangun ratusan tahun lalu, namun bangunan masjid ini cukup terawat walau kondisi ketuaannya tak lagi bisa disembunyikan. Pengaruh arsitektur masjid Demak sangat kental di masjid ini. Beratap Joglo bersusun dua di tutup dengan genteng, ditopang empat sokoguru besar bergaya Eropa tapi pendek. Dilengkapi mihrab yang terlihat gagah ditambah dengan tempat duduk khatib sholat jum’at yang elegan. Sebagaimana masjid masjid tua asli Indonesia, Masjid Al-Alam ini pun tidak dilengkapi dengan menara.

Denahnya empat persegi berukuran 12 x 12 m menghadap ke selatan, dengan pintu masuk ruang utama di sisi selatan dan timur. Ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 8 x 8 m, tinggi plafonnya hanya 2,2m menjadikan flapon masjid ini lebih rendah dibandingkan dengan masjid masjid lain pada umumnya. Sementara di sisi selatan dan timur ruang utama terdapat serambi.

Interior Masjid Al-Alam, ada empat pilar bundar beton yang tidak terlalu tinggi di dalam masjid ini.

Langit-langitnya ditutup dengan multiplek menutupi atap aslinya yang sudah termakan usia, Bagian kiri bangunan dulunya merupakan kolam untuk mencuci kaki sebelum masuk ke masjid, seperti di Masjid Agung Banten. Kini, kolam ini sudah tertutup ubin merah, sementara bekas sumurnya dikelilingi tembok melingkar dengan papan peringatan untuk tak lagi menggunakannya.

Di sisi kiri masjid tua itu, didirikan bangunan tambahan berupa pendopo berukuran 100m². Di sebelah tenggara terdapat bangunan kecil untuk WC berukuran 2 x 3 m. Dibelakang masjid terdapat beberapa makam tua para pendiri dan atau pengelola, yang tertata rapi diselingi rerumputan hijau yang menambah sejuk udara sekitar.

Renovasi Masjid Al-Alam

Tahun 1970 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung berupa plastik pada bagian bawah atap agar terlindung dari kelembaban dan siraman air hujan, pembuatan tanggul di sisi utara masjid untuk melindungi masjid dan ancaman abrasi pantai.

Kini masjid Al-Alam sudah diberi tambahan pagar beton sekeliling kawasan masjid dengan pintu masuk di sisi selatan, dengan halaman di bagian selatan. Di sebelah timur bangunan masjid terdapat sebuah bangunan tambahan berupa bangunan terbuka berbentuk empat persegi, yang digunakan untuk pengajian dan pertemuan-pertemuan lainnya. Di sebelah tenggara terdapat bangunan kecil untuk WC berukuran 2 x 3 m.

Tujuan Wisata Religi

Meski ukurannya relatif kecil bahkan lebih mirip sebuah mushola, masjid ini begitu dicintai masyarakat sekitar. Setiap waktu sholat masjid in senantiasa dipenuhi oleh jemaah. Pendopo masjid ini menjadi tempat beristirahat bagi para pengunjung yang datang dari berbagai daerah yang berkunjung ke masjid bersejarah ini. (update 5 Jan 2017)***

Referensi

Wartakota-Masjid Al Alam Dibangun Dalam Satu Malam

Iwanabdurr-Masjid Si Pitung Al-Alam

Jakarta.go.id-Al Alam Marunda, Masjid

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Langgar Tinggi Pekojan

Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke

Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang

Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur

Masjid Jami’ Annawier, Pekojan

Masjid Cut Meutia, Jakarta

Masjid Luar Batang, Penjaringan

Friday, July 3, 2020

Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta

Add caption

Wilayah Luar Batang tak terpisahkan dari sejarah kota Jakarta. Di tempat ini berdiri masjid yang berada di daerah Pasar Ikan, Jakarta Utara. Di masjid ini dimakamkan seorangulama bernama Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus, ulama besar tanah Betawi yang wafat pada tanggal 24 Juni 1756. Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein, yaitu Habib Luar Batang. Masyarakat sekitar dan para peziarah bahkan menyebut masjid ini sebagai masjid keramat Luar Batang. Lokasinya tidak jauh dari benteng  (kastil) VOC daerah pelabuhan.

Jalan Luar Batang V berada sekitar 300 meter dari jalan utama, berada dalam gang sempit yang hanya memuat 2 mobil yang harus berjalan pelan. Bus rombongan harus memutar agak menjauh lewat jalur belakang yang sepi dan becek terkena air pasang laut. Sementara pemukiman miskin dan super padat mengepung lokasi masjid. Salah satu akibatnya, saat banjir menerjang Jakarta 2007 dan gelombang laut pasang awal 2008, tim pemadam kebakaran kesulitan memompa air  yang sempat merendam masjid hingga sebatas dada orang dewasa. Dibutuhkan waktu sehari untuk menguras banjir tersebut.

Alamat dan Lokasi Masjid Luar Batang

Jalan Luar Batang V RT 4/3 No. 1

Kampung Luar Batang, Kelurahan Penjaringan

Kecamatan Penjaringan, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta 14440

Mengenal Habib Luar Batang

Sayid Husein Bin Abu Bakar Bin Abdillah Al-laydrus atau Habib Husein atau Habib Luar Batang adalah seorang ulama yang dari dari Hadramaut, Yaman. Ketika tiba pada daerah Luar Batang yang kala itu masih berupa rawa-rawa, keliru satu ujung Jakarta, pada tepi bahari Jakarta yg dekat menggunakan Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan Internasional tempat kapal saudagar berdasarkan seluruh penjuru dunia menambatkan perahu, gerbang Batavia ketika itu.

Suatu malam, Habib Husein dikejutkan menggunakan kedatangan seorang yang basah kuyup. Ternyata, dia seorang Tionghoa yang sedang dalam pengejaran tentara VOC. Habib pun menampung orang ini pada musholahnya. Siangnya, tentara VOC mendatangi musholah tadi buat menangkap sang pelarian. Tapi, Habib Husein mencegah. ?Aku akan melindungi tawanan ini & akulah sebagai jaminannya," tegas Habib begitu lantang.

Mendapati ketegasan menurut seseorang yang berpengaruh di daerah itu, tentara VOC pun mengalah. Haru dengan pembelaan Habib Husein, sang pelarian yang non muslim pun akhirnya masuk Islam. Dan beliau menjadi pembantu Habib pada menyiarkan kepercayaan Islam pada wilayah itu.

Luar Batang adalah Julukan Habib Husein

Luar Batang merupakan julukan yang diberikan kepada Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus. Cerita turur menyebutkan bahwa ketika Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756) pada usia sekitar 30-40 tahun, Belanda melarang melarang keras para pendatang dimakamkan di daerah itu. Mereka harus dimakamkan di Tanahabang.

Masjid Keramat Luar Batang lebih kurang tahun 1925

Ketika akan dimakamkan, pada saat digotong memakai "kurung batangdanquot; (keranda menurut bambu) menuju ke Pemakaman pada Tanah Abang, waktu tiba pada pemakaman jenazahnya telah tidak terdapat di dalam kurung btg, dan saat para jemaah kembali ke kediaman Habib Husein mereka mendapati Jenazah dia masih berada pada kediamannya. Kala itu,

Hal tadi berlangsung sampai 3 kali. Akhirnya para jama'ah kala itu bermufakat buat memakamkan beliau di tempatnya sekarang ini dan Belanda lagi-lagi mengalah. Sejak itulah, loka itu dinamakan musholah luar batang, yang lalu dipugar sebagai Masjid Luar Batang.

Versi lain Luar Batang

Ada vesi lain tentang Luar Batang. Masjid Luar Batang termasuk masjid terkenal di Batavia karena keramat Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus (w. 1756). Keramat ini banyak peziarah. Pada peta-peta abad ke-19 terkadang tertulisHeilig graf, artinya "makam keramat"di tempat Masjid Luar Batang sekarang. Masjid ini terletak disebelah utara tembok kota lama, di daerah yang sesudah pertengahan abad ke-17 diuruk dan baru boleh dihuni oleh orang Jawa dari Cirebon sejak 1730. Mereka bertugas membersihkan mulut kali Ciliwung dari lumpur, Supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan yang letaknya tidak jauh dari masjid ini.

Daerah Luar Batang ialah wilayah di luar btg besar (groote boom) yg menutup pelabuhan pada malam hari, merupakan tanah endapan dan berukuran yang semakin menjorok keutara. Pada peta-peta Batavia lama . Wilayah disebelah utara tembok kota & kali yang menghubungkan kali besar dan Muara Baru, terbentuk perlahan-lahan antara tahun 1650 dan 1700. Sejak awal tahun 1730-an wilayah ini sangat tidak sehat, lantaran nyamuk yang berkembang biak pada tambak ikan di pantai utara, menyebarkan malaria.

Menara Masjid Luar Batang menjulang diantara bangunan disekitarnya.

Sejarah Masjid Luar Batang

Menurut situs pemerintah DKI Jakarta, masjid Luar Batang pertama kali dibangun tahun 1739. Dibangun sendiri oleh Khatib Sayid Husein Bin Abu Bakar Bin Abdillah Al-laydrus atau Habib Husein atau Habib Luar Batang. Bentuknya mungil buat berukuran masjid masa sekarang, kurang lebih 6x6 meter. Pada waktu itu, lebih akrab dianggap surau/langgar. Terbuat menurut kayu menggunakan gaya bangunan khas Betawi. Hanya saja, kubah bawang sudah dikenalkan saat itu.

Tetapi tahun pembangunan masjid sebagaimana disebut pada situ pemerintah DKI itu tidak sama menggunakan asal sumber yang lain. Belum adanya sejarah resmi mengenai sejarah masjid ini yg didasarkan pada penelitian dan data kompreshensif menimbulkan kesimpangsiuran sejarah.

Pada sebuah batu dalam Masjid Luar Batang ditulis, bahwa'al Habib Husein bin Abubakar Bin Abdillah al-Alaydrus yang telah wafat pada hari kamis 27 Puasa 1169 berkebetulan 24 Juni 1756. Batu ini dibuat antara tahun 1886 dan 1916. sebab, L.W.C, Van Berg dalam buku yang termasyur tentang orang Hadhramaut, menyebut, bahwa Habib Husein baru wafat 1798 (!). sedangkan Ronkel sudah menyebut batu peringatan tersebut dalam karangannya yang diterbitkan pada tahun 1916. Batav Courant edisi 12 Mei 1827 menyebutkan, Habib Husein meninggal dalam rumah komandan Abdul Raup dan dimakamkan di samping masjid.

Masjid Keramat Luar Batang, saat ini telah menjelma sebagai sebuah bangunan masjid megah & modern.

Pada tahun 1916 telah dicatat diatas pintu masjid, bahwa gedung ini terselesaikan dibangun dalam 20 Muharam 1152 H yg sama menggunakan 29 April 1739. Qiblat masjid ini kurang sempurna dan ditentukan lebih persis oleh Muh. Arshad al-Banjari (w. 1812) waktu singgah bepergian pulang menurut Hejaz ke Banjar pada tahun 1827. Masjid ini kurang berkiblat, sama misalnya Masjid Kebon Sirih dan Cikini. Oleh karenanya, ada penulis (misalnya Abubakar Atjeh) yg beranggapan, bahwa semula ruang masjid ini merupakan bekas rumah kediaman seseorang, yg lalu dipakai sebagai mushola atau masjid.

Berita tertua berasal dari seorang turis Tionghoa, yang menulis bahwa pada tahun 1736 ia meninggalkan Batavia dari sheng mu gang,artinya 'pelabuhan makam keramat', pelabuhan Sunda Kelapa sekarang. Bukankah Habib Husein wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1169 (24 Juni 1756). Maknanya bahwa pada tahun 1736 (dua puluh tahun sebelum Habib Luar Batang Wafat) sudah terdapat suatu makam yang dianggap keramat di daerah pelabuhan Batavia, lalu Itu keramat siapa ?.

Koran Bataviaasche Caurant, tanggal 12 Mei 1827, memuat suatu karangan tentang Masjid Luar Batang. Dicatat pada tulisan ini, bahwa Habib Husein mati dalam tahun 1796, sesudah usang berkhotbah diantara surabaya dan Batavia. Pada tahun 1812 makamnya dikijing dengan batu & masih terletak pada luar gedung masjid sampai tahun 1827. Pada ketika ini rupanya derma nir lagi diterima sang komandan (semacam lurah) wilayah Luar Batang, tetapi dinikmati oleh (pengurus) masjid sebagai akibatnya gedung bisa diperluas. Di lain pihak suatu masjid (!) bukan surau sudah dicatat dalam peta yg dibuat C.F.Reimer pada tahun 1788.

Di dalam Masjid Keramat Luar Batang

Dengan merangkumkan segala data yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa suatu makam yg dianggap keramat sudah terdapat di Luar Batang pada tahun 1736 Mushola atau masjid didirikan 1739, Habib Husein tinggal diadaerah itu dan meninggal nir sebelum 1756 (mungkin baru pada tahun 1796 atau 1798), makam keramat Habib Huseinlah yg menarik banyak peziarah, sebagai akibatnya Masjid Luar Batang sebagai Masjid populer pada Batavia usang.

Masjid Luar Batang pada Masa sekarang

Kini lebih berdasarkan tiga abad berlalu. Bekas-bekas masa lampau sudah hampir nir ada lagi. Seluruh bangunan telah dirombak total dalam 1992. Kubah bawang diganti sebagai kubah joglo atau kubah limas tadisional Indonesia. Menara masjid dipancang tinggi-tinggi, menyembul ditengah pemukiman super padat tersebut. 12 tiang primer berdasarkan kayu dibongkar dan diganti pilar beton bergaya Romawi. Sementara lantai kayu & ubin diganti menggunakan keramik & batu granit.

Selain plafon kayu jati yang masih asli, penanda yang menunjukan masjid tersebut terbilang uzur adalah prasasti di makam Husein bin Ali Idrus. Di situ tertulis makam bertanggal 24 Juni 1756. Di dalam ruangan 6x7 meter tersebut menjadi pusara terakhir Husein bin Alaydrus. Meski telah mengalami perubahan bentuk secara total dari bangunan masjid yang pertama kali dibangun oleh Habib Husein namun masjid ini tetap terdaftar dalam bangunan bangunan bersejarah pemerintah DKI Jakarta, dan harus dilindungi dan dilestarikan karena faktor kesejarahan nya.

Masjid Keramat Ramai Peziarah

Masjid & makam Husein bin Alaydrus sebagai magnet bagi ratusan bahkan ribuan ummat Muslim pada Indonesia, pengurus masjid & maqom terus berbenah. Berbagai fasilitas pendukung disiapkan misalnya area parkir yang representatif, dan air bersih buat berwudlu. Begitupula menggunakan banyak sekali kegiatan yg mempererat rasa persaudaraan (ukhuwah) umat Islam.

Gema tentang ketokohan Habib Husein tak bisa diingkari memang luar biasa. Dalam bukunya yang terkenal tentang Hadramaut, LWC van den Berg pada 1886 menunjukkan betapa populernya Habib Husein. Ia menulis, "Tidak hanya golongan pribumi, namun juga orang-orang Tionghoa campuran, dan kaum Indo, berziarah memohon keberhasilan dalam usaha mereka memperoleh keturunan, dan sebagainya. Penjualan benda-benda keramatnya saat itu mencapai 8.000 gulden setahun."

kini menurut pengelola masjid, setiap malam Jumat kliwon, masjid ramai dikunjungi peziarah. Sebagian mereka datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Irak, dan Iran. Untuk menyemarakkan suasana, pengelola masjid menggelar musik rebana biang atau rebana hadroh. Suasana masjid menjadi lebih ramai saat Ramadhan datang. Hidangan khas Betawi bercita rasa Arab (Hadramaut, Yaman) disajikan kepada seluruh peziarah. Nasi kebuli, kurma, minuman selasih, pacar cina, dan es kelapa muda menjadi hidangan pembuka puasa.

Puncak keramaian makan besar pada masjid ini berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta hari kelahiran Habib Husein lepas 25 Agustus. Setiap memperingati maulid & hari kelahiran habib, pengurus memasak nasi kebuli hingga 40 kuali buat lima.000 peziarah. Selain makan akbar, setiap Ramadhan, pengelola masjid bersama sejumlah pengelola masjid tua lain menyelenggarakan tradisi khatam Quran secara bergantian.

Video Masjid Luar Batang

Referensi

Id.Wikiipedia – Masjid Luar Batang

Na-2.blogspot.com – wisata masjid masjid tua

Jakarta.go.id – bangunan cagar budaya

Detiknews.com – Masjid Luar Batang Oase di kampung dhuafa

Masjidluarbatang.blogspot.com – sekilas sejarah masjid luar batang

Travel.kompas.com – Ada mercusuar di masjid luar batang

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Langgar Tinggi Pekojan - Jakarta

Masjid Jami? Al Atiq, Kampung Melayu ? Jakarta Selatan

Masjid Jami? Al-Anwar, Angke - Jakarta

Masjid Al-Ma?Mur Tanah Abang, Jakarta

Masjid Jami? Al-Makmur Sawah Lio, Jakarta

Masjid Jami Cikini Al-Ma?Mur - Jakarta

Masjid Jami? Annawier, Pekojan

Masjid Hidayatullah ? Setiabudi, Jakarta

Masjid ?Si Pitung? Al Alam ? Marunda, Jakarta

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done