Islami Pedia: masjid di jakarta pusat
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di jakarta pusat. Show all posts
Showing posts with label masjid di jakarta pusat. Show all posts

Thursday, October 8, 2020

Masjid Jendral Sudirman WTC Jakarta

Tak mirip masjid. Bangunan masjid Jendral Sudirman ini memang sama sekali tidak mirip bangunan masjid seperti yang biasa sudah kita kenal.

Kawasan usaha supersibuk Jakarta & pula salah satu pusat usaha dunia, World Trade Center sekarang memiliki satu satunya masjid yg berada di ruas Jalan Jendral Sudirman Jakarta. Masjid ini jua menjadi masjid besar pertama yang berdiri di tempat usaha & perkantoran di sentra kota Jakarta yang dibangun dan dimiliki oleh pihak swasta. Kehadirannya memang telah usang ditunggu tunggu. Sudah direncakan semenjak lama , peletakan batu pertama pembangunannya telah dilaksanakan pada tahun 2012, mulai dibangun tahun 2014 dan diresmikan dalam tahun 2015.

Arsitektur bangunannya dirancang sedemikian rupa sehingga senada dengan gedung gedung superjangkung yang berdiri disekitarnya. Tak Ada kubah besar atau manara ramping yang tinggi menjulang dengan dengan bentuk bundar ditambah kubah di ujungnya. Bangunan Masjid Jendral Sudirman ini mengadopsi bentuk bentuk kubus  dengan konsep terbuka untuk memberikan pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik ke semua area di semua lantai masjid dari basement hingga ke lantai empat.

Alamat Masjid Jendral Sudirman

Komplek World Trade Center

Jl. Jend. Sudirman Kav.29-31, Jakarta

Telp/Fax : (021) 5790 7788

Email: info@mjs-wtc.or.id

situs resmi : http://mjs-wtc.or.id

Akun Facebook : https://www.facebook.com/masjidjenderalsudirman/

Diantara gedung gedung pencakar langit & hingat binger keseharian pusat bisnis dunia di kawasan World Trade Center Jakarta, berdiri satu satunya Masjid yang berada di Jalan Jendral Sudirman Jakarta, sekaligus menjadi Masjid terbesar yang dibangun oleh pihak partikelir. Masjid tadi bernama Masjid Jendral Sudirman. Hadirnya masjid ini misalnya oase menyegarkan bagi mereka yg sehari hari beraktivitas disekitar wilayah tersebut yang selama sekian tahun belakangan wajib rela berhimpitan di mushola mushola mini pada basement gedung buat menunaikan sholat.

Sejarah Masjid Jendral Sudirman

Berdirinya Masjid Jendral Sudirman pada Pusat ekonomi global ini sesudah melalui sebuah bepergian panjang berdasarkan para pemrakarsanya sampai ahirnya masjid ini berdiri. Berawal berdasarkan sebuah mushola pada basement Gedung Wisma Metropolitan 1 dan beberapa mushala-mushala kecil lainnya yg beredar di pelbagai gedung di sekitarnya, impian untuk sebuah masjid besar menjadi sentral kegiatan ummat mencuat.

Empat Lantai menggunakan rancangan modern namun tetap saja terlihat kecil menurut gedung sekitarnya.

Mushala di basement itu hanya berkapasitas 1000 lebih dan tidak mampu menampung jamaah Jum’at yang membludak. ratusan orang terpaksa berdiri, sampai keluar basement. Hingga PT Jakarta Land, pengelola WTC, pun membuatkan tenda-tenda sementara setiap Jum’at. Ketua Pengurus Harian Masjid Jenderal Sudirman sekarang, Muhammad Iskandar Umar, yang saat itu aktif sebagai Ketua Badan Dakwah Islamiyah (BDI) TOTAL E&P Indonesie bersama kawan-kawan sepemikiran dari PermataBank, dibentuk Forum Silaturrahim sebagai wadah bertukar pikiran antara organisasi keislaman di tiap perusahaan seperti Badan Dakwah Islmiyah (BDI), Kerohanian Islam (ROHIS), Kelompok Studi Islam (KSI) dan membentuk Yayasan Masjid Raya Metropolitan,

Yayasan Masjid Raya Metropolitan dengan para tokoh seperti Try Sutrisno,  Hoesein Soeropranoto, Fuad Bawazier, Ismail Sofyan, selalu mendorong dan berjuang agar pembangunan Masjid disegerakan. Pada tanggal 23 Desember 2012 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Wisma Metropolitan yang dilakukan oleh Nasruddin Umar selaku Wamen Agama waktu itu bersama dengan Jend. Purn. Try Sutrisno sebagai Pembina Yayasan dan Murdaya Poo (Owner PT. Jakarta Land).

Fasad masjid Jendral Sudirman dan pintu masuk utama

Bulan Agustus dan Oktober tahun 2013, diselenggarakan pertemuan Senior Manajemen gabungan seluruh tenant di WTC dengan pimpinan PT Jakarta Land yang menyampaikan akan segera membangun Masjid di kompleks WTC. Dan mulailah dibangun pada bulan april 2014 oleh PT Jakarta Land dan diresmikan oleh Basuki Tjahya Purnama Selaku Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 27 Februari 2015, bersama dengan Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno selaku ketua Pembina Masjid Jenderal Sudirman, Walikota Jakarta Selatan Syamsuddin Noor, Tokoh Agama hingga Dubes negara sahabat.

Pembiayaan Pembangunan Masjid

Pembangunan masjid dibiayai penuh oleh pengembang (PT Jakarta Land ) sebagai kewajiban untuk memenuhi fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum), nilai lahan dan bangunan sekitar Rp 120 miliar. Dibangun di atas lahan seluas 1.336 meter persegi dengan luas bangunan 2.200 m2, terdiri dari empat lantai, mampu menampung 2500 Jemaah.

Satu satunya ciri dari kejauhan yang mungkin terlihat bahwa bangunan ini masjid adalah adanya lambang bulan sabit diatas menaranya yang juga berbentuk persegi sama seperti bangunan utama masjidnya.

Nama Masjid Jenderal Sudirman diberikan oleh Pembina Yayasan, karena ingin seperti semangat Sudirman, seorang syuhada muslim, dan menjadi lokomotif umat. Dalam skala pusat bisnis di Sudirman, untuk menjadi pusat kajian ekonomi syariah sekaligus implementasinya dalam amal sosial nyata. PT Jakarta Land mengurus fisik masjid dengan baik. Standar Masjid sama dengan standar gedung. Baik keamanan maupun kebersihannya, bukan tak mungkin Masjid ini akan menjadi masjid percontohan, bahkan menjadi rujukan, seperti visi Masjid ini

Arsitektur Masjid Jendral Sudirman

Masjid Jenderal Sudirman didesain dengan konsep modern minimalis, bergaya kontemporer dengan lebih menonjolkan sudut dan kotak. Juga memasukkan unsur adat Betawi. dindingnya dibuat transparan sehingga memungkinkan cahaya masuk ke dalam ruangan. Eksteriornya dihiasi ornamen-ornamen geometris yang melambangkan keteraturan alam semesta. Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengatur alam semesta ini dengan sempurna, demikian pula seharusnya ummat manusia ikut dengan aturan Allah agar hidupnya bahagia di dunia dan akhirat.

Ruang utama

Bagian luar masjid juga ditanami dengan rerumputan dan pohon-pohon palem. Setiap hari pepohonan tersebut dirawat oleh tim pertamanan dari Jakarta Land sebagai pengelola komplek World Trade Centre Jakarta. Ruang dalam masjid Jenderal Sudirman dilengkapi dengan kipas angin dan jendela-jendela yang lebar, yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan dengan baik. Sebuah lampu gantung ukuran besar menjuntai dari atap masjid tengah tengah ruang sholat menambah keindahan interior masjid ini.

Pada pelaksanaan ibadah sholat Jum’at, empat lantai yang ada terisi penuh dengan jama’ah. Bahkan jama’ah meluber hingga ke teras. Sedangkan pada pelaksanaan sholat rawatib, jama’ah yang hadir memenuhi hingga hampir tiga perempat lantai 1. Adapun jama’ah wanita ditempatkan di lantai 2.

Pengurus Masjid Jendral Sudirman

dari lantai empat

Kepengurusan Masjid Jendral Sudirman ini bertabur bintang, alias di isi oleh para tokoh tokoh masyarkat sipil maupun militer. kepengurusan terdiri dari Dewan Pendiri, Dewan Pembina dan pengurus harian. Di jajaran dewan pendiri dan dewan Pembina diketuai oleh Mantan Presiden RI, Jendral (purn) Try Sutrisno dan tokoh tokoh nasional lainnya.

Pendiri : Gubernur DKI Jakarta (ex officio) | Try Sutrisno | Nasaruddin Umar | Hoesein Soeropranoto | Fuad Bawazier | Ismail Sofyan | KH. Moehammad Zain | Pudjojoko

PT Jakarta land

Ngaso, ba'da sholat Jum'at

Dewan Pembina : Try Sutrisno (ketua) | Ibu Sylviana Murni | Walikota Jaksel (ex officio) | Hoesein Soeropranoto | Fuad Bawazier | Ismail Sofyan | Musyanif | Alex Sarmada | Judy Bandoro | Slamet Supriadi | M. Riza Deliansyah.

Pengurus Harian diketuai oleh M.Iskandar Umar membawahi berbagai bidang kerja. Selain itu dalam kepengurusan Masjid Jendral Sudirman ini juga di isi oleh para perwakilan dari tenant tenant besar yang berkantor di World Trade Center Jakarta, tempat dimana Masjid Jendral Sudirman ini berada.***

Friday, September 25, 2020

Masjid Cut Meutia – Jakarta

Masjid Cut Meutia - Jakarta (foto darimasoye)

Masjid Cut Meutia di Kawasan Menteng Jakarta Pusat ini memang tidak tampak seperti bangunan masjid pada umumnya. Karena memang awalnya bukanlah dibangun untuk keperluan sebuah masjid. Menengok jauh ke belakang tentang sejarah perjalanan masjid Cut Meutia, akan sedikit membuat kita terperangah betapa gedung ini awalnya adalah kantor arsitek dan Jenderal Belanda yang sedang membangun kawasan Elit Nieuw Gondangdia bagi orang orang kaya Belanda di Batavia.

Bangunan Masjid Cut Meutia merupakan bangunan alih fungsi dari gedung Bouwploeg warisan kolonial Belanda di kawasan Gondangdia yang kemudian di-alih-fungsikan menjadi sebuah masjid tanpa mengubah bentuk aslinya melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta. Proses Peralihan tersebut bukanlah perkara mudah dan memakan waktu cukup lama sampai ahirnya resmi menjadi Masjid Cut Meutia hingga hari ini.

Masjid Cut Meutia memang sama sekali tak terlihat seperti masjid lainnya

karena memang awalnya tidak dibangun untuk sebuah masjid tapi

merupakan kantor arsitek di jaman Belanda (foto darikompasiana)

Lokasi dan Akses ke Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia

Jl. Cut Meutia No.1, Jakarta Pusat

DKI Jakarta – Indonesia

Telp. 021-3902132.

Fax 021-3902132

Lihat lokasinya di wikimapia

Koordinat geografi : 6°11'14"S  106°49'59"E

GPS : -6.18741,106.8333

Untuk mencapai masjid ini cukup mudah. Dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Dengan angkutan umum dapat menaiki bus kopaja P20 lalu turun di stasiun kereta Gondangdia dan masjid ini berada di depannya. Jika dari Kampung Melayu dapat naik kopaja yang jurusan Tanah Abang (P502) lalu turun di perempatan cikini (depan kantor pos lama) lalu jalan kaki menyusuri jalan Cut Meutia.

Sejarah Masjid Cut Meutia

Gedung De Bouwploeg

Pada awalnya Masjid Cut Meutia adalah gedung kantor biro arsitek (sekaligus pengembang) N.V. (Naamloze Vennootschap, atau Perseroan terbatas) De Bouwploeg, perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1879 untuk membangun perumahan (pemukiman) bagi masyarakat Belanda di Batavia kelas menengah atas di kawasan Menteng. Lahan untuk membangun perumahan dibeli oleh Kotapraja dan kemudian dijual kepada orang-orang Belanda. De Bouwploeg artinya "Kelompok Membangun", Kegiatannya adalah memberikan jasa kepada orang-orang Belanda dari kalangan atas yang bermaksud memiliki rumah mewah, khusus di Menteng dan Gondangdia dengan nama Nieuw Gondangdia (kini terkenal dengan kawasan Menteng).

Berawal dari Gedung Boeploeg di jaman Belanda sampai kemudian

beberapa kali beralih fungsi dan ahirnya menjadi Masjid Cut Meutia

yang kini kita kenal (foto dariid.wikipedia)

Perusahaan Belanda itu mempelopori pembangunan pemukiman yang tertata dengan mengadaptasi konsep kota taman karya Ebenezer Howard. Perusahaan tersebut dikepalai oleh seorang arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879 - 1955). Dari gedung inilah dirancang kawasan pemukiman Menteng yang terbentang dari Jl. Gondangdia sampai JI. Diponegoro (Oranjelaan) dan JI. Imam Bonjol (Nassaulaan). Perusahaan yang dipimpin oleh P.A.J. Moojen ini, pailit pada tahun 1925 dan membuat gedung ini tidak dipergunakan kembali sebagai kantor biro arsitek.

Alih Fungsi Gedung De Boeploeg

Sebelum di-aluh-fungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942 - 1945). Di Era Kemerdekaan, pada tahun 1959 sampai 1960, bangunan tersebut pernah dijadikan kantor Wali kota Jakarta Pusat, lalu beralih fungsi menjadi kantor PAM, kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta, hingga menjadi Kantor Urusan Agama (1964 - 1970).

Tampak sisi depan masjid Cut Meutia (foto dariid.wikipedia)

Pernah juga menjadi kantor MPRS di zaman A.H. Nasution. Ketika MPRS pindah ke daerah Senayan (sekarang Gedung MPR-DPR) gedung tersebut diwakafkan kepada anggkatan 66 untuk digunakan sebagai tempat beribadah. Eksponen angkatan 66 seperti Akbar Tanjung dan Fahmi Idris yang kemudian mendirikan Yayasan Masjid Al-Jihad dan mempungsikan bangunan ini sebagai Masjid meski belum bernama Masjid Cut Meutia.

Perubahan fungsi gedung ini menjadi masjid tak lepas dari peran A.H. Nasution . Berawal dari pemikiran warga yang ingin memiliki masjid di kawasan itu. Mereka mendatangi Jenderal A.H. Nasution sebagai Ketua MPRS dan meminta Gedung Bouwploeg bisa dialih fungsikan jadi sebuah masjid. Permintaan itu disetujui oleh Wakil Gubernur Dr. Soewondo, dan jadilah masjid dengan nama Masjid Cut Meutia, karena terletak di Jl. Cut Meutia dan hingga kini dikelola oleh Yayasan Masjid Cut Meutia. Tekanan dari berbagai pihak termasuk dari Gubernur Ali Sadikin ahirnya keluar surat keputusan nomor Gubernur DKI Jakarta Nomor 5184 tanggal 18 Agustus 1987 menetapkan-nya sebagai masjid tingkat provinsi dan mengganti namanya menjadi Masjid Cut Meutia, di masa Gubernur DKI di jabat oleh Wiyogo Atmodarminto.

Jendral Abdul Haris Nasution

(biasa dipanggil Pak Nas)

Lika liku Politik di Masjid Cut Meutia

Di masa Presiden Suharto berkuasa masjid Cut Meutia sempat menjadi masjid sorotan oleh aparat pemerintah rezim berkuasa. Di masjid inilah ditandatanganinya Petisi 50, sebuah protes beberapa kalangan yang tidak setuju dengan kebijakan Presiden Soeharto waktu itu. Pada kurun tahun 1980-an, Pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Pak Harto memaksakan ideologi negara harus Pancasila sebagai asas tunggal. Ini yang kemudian mendapat kritik dari para anggota Petisi 50, salah satunya termasuk A . H . Nasution. Karenanya, sempat terjadi perselisihan antara A . H . Nasution dan Soeharto dan berimbas pada Masjid Cut Meutia.

Masjid Cut Meutia sempat mengalami tekanan bagi para pengurus Masjid sehingga pergerakan apa pun bahkan khotbah-khotbah para imam pun diawasi secara militer oleh Kopkmbtib, yang saat itu dikepalai oleh Jendral Sudomo. Dikirimkan intel-intel untuk mengawasi para khotib yang berprinsip ingin menggerakkan Islam secara kaffah. Setelah selesai ceramah dibawa ke kantor Kodim, kemudian diinterograsi dan ditekan secara psikologis.

14 Juni 1991 Masjid Cut Meutia menjadi perhentian pertama kali dari rombongan haji presiden Soeharto dan istrinya, Tien Soeharto beserta keluarga yang mendarat di Bandara Halim Perdana Kusumah. Sekitar pukul 11 siang, mereka tiba ke Masjid Cut Meutia, untuk melakukan sujud syukur. Mengingat Masjid Cut Meutia adalah masjid terdekat dengan kawasan Cendana – Menteng, tempat kediaman Keluarga Pak Harto.

ruang tengah masjid Cut Meutia

foto dari2dheart.wordpress.com

Di masjid ini juga Jenderal (Purnawirawan) A.H. Nasution pernah mengumpulkan para imam masjid dan jemaah untuk mendoakan kesehatan Soeharto ketika beliau mulai terpuruk dari panggung kekuasaan dan mulai jatuh sakit. Semasa hidupnya masjid ini menjadi tempat pavorit-nya Pak Nas untuk beri’tikaf hingga ahir hayatnya. Perselisihan dua Jenderal Besar itu berawal dari masjid ini dan di masjid ini juga semuanya kemudian pudar dan berahir.

Renovasi dan Perbaikan Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia dibawah dinas museum dan sejarah karena sejak tahun 1961 resmi menjadi gedung yang dilindungi menjadi gedung sebagai cagar budaya. Peruntukannya dapat berubah, namun bentuknya bangunan tidak boleh diubah hanya boleh direnovasi.

Pada tahun 1984 , dilakukan renovasi besar-besaran. Untuk memberikan kesan luas, sebagian anak tangga dipotong dan dipindahkan keluar. Selain itu arah kiblat dimiringkan 15 derajat ke arah kanan. Perombakan juga terjadi pada mihrab (tempat imam) dan mimbar. Keduanya dibuat 15 meter menjorok ke depan. Mihrab terpisah dari tempat mimbar. Genteng yang semula sirap diganti menjadi genting beglazur. Lantai pun dipasangi marmer.

Semula Masjid Cut Meutia tidak mempunyai halaman ataupun tempat parkir. Namun atas usaha Edi Marzuki Nala Praya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, kala itu, taman yang berada di depan Masjid Cut Meutia yang semula milik dinas pertaman, dibagi menjadi sehingga Masjid Cut Meutia pun mempunyai halaman.

Mimbar di Cut Meutia

foto dariid.wikipedia

Masjid para pejabat

Letaknya yang berada di kawasan elit, membuat banyak pejabat yang menjadi jamaah pada masjid tersebut. Herry mengatakan, pejabat-pejabat biasanya akan berkumpul saat shalat Jumat. Pak Boediono (wakil presiden) rutin melakukan shalat jumat di sini. Selain Boediono, para Duta Besar dari negara tetangga dan panglima-panglima TNI juga kerap beribadah di Masjid tersebut.

Keunikan Masjid Cut Meutia

Perubahan fungsi gedung de Bouwploeg  menjadi sebuah masjid menyebabkan penyesuaian terhadap ruangan dan bagian bangunan, diantaranya ruangan untuk kepengurusan masjid serta bagian bangunan seperti pintu, jendela, lantai, dan atap bangunan. Selain itu, terdapat penambahan bangunan seperti tempat wudhu, koperasi, aula dan pos keamanan.

Karenanya Masjid ini memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satu keunikannya, mihrab dari masjid ini diletakkan di samping kiri dari saf salat (tidak di tengah seperti lazimnya). Selain itu posisi safnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.

Gedung Masjid Cut Meutia ini dibangun (sebagai gedung de Boeploeg) tahun 1879 dengan gaya arsitektur Art Nouveau ini berlantai dua dengan bagian atas menara berbentuk persegi empat. Pada tiap sisinya mempunyai tiga buah jendela kaca yang menjadi ciri khasnya.

Arah kiblat di Masjid Cut Meutia ini sangat miring karena memang gedung

Boeploeg tidak mengarah ke kiblat saat dibangun (foto dariid.wikipedia)

Di masjid ini dulunya terdapat sebuah sirene yang berada di atas gedung yang berfungsi bila ada bahaya. Berat sirene kurang lebih 3 ton dan suaranya akan terdengar sampai ke daerah Gunung Sahari. Pada saat pemugaran tahun 1986/1987, sirene itu dihilangkan karena dikhawatirkan membahayakan masjid ini.

Untuk membuat bangunan ini tampak benar-benar seperti masjid maka masjid cut mutia ini dibuat kaligrafi disekeliling dinding di bangunan dalamnya, kaligrafi-kaligrafi ini dibuat dengan oleh M. Yusuf pada tahun 1985 yang diterbangkan langsung dari brunei darussalam, M. Yusuf juga seorang pelukis kaligrafi di istana Nurul Iman Milik Sultan Brunai, Sultan Hanasal Bolkiah di kota Bandar Sri Begawam, Brunai Darussalam.

sedikit sentuhan di atap kubahnya denganmenambahkan ornamen kubah

bawang ukuran kecil di empat sisi dan lambang bulan sabit dan bintang

pada puncak tengahnya (foto darimasoye)

Didalam masjid ini juga terdapat tempat itikaf J endral Abdul Haris N asution (biasa dipanggil Pak Nas), sejak pada masa Pak Nas memperjuangkan masjid Cut meutia hingga menjelang akhir hayatnya, sampai sekarang tempat itikaf ini sering digunakan oleh masyarakat luas ataupun pengikut beliau. Tempat I’tikaf ini terbuat dari kayu jati yang dipesan langsung ke Jepara oleh sahabat Pak Nas yaitu Bapak N ewton R assat pada tahun 1990. Disekeliling kayu ini dihias dengan ukiran ayat-ayat al-quran.

Aktivitas Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia juga sering mengadakan kegiatan sosial keagamaan, apalagi selama bulan Ramadhan. Tiap tahun menyelenggarakan kegiatan bhakti sosial dan santunan kepada anak yatim piatu dan anak anak panti asuhan. Semua acara yang didaulat di mesjid ini biasanya diselenggarakan sendiri oleh Pengurus Masjid atau Remaja Mesjid yang lebih dikenal dengan sebutan RICMA.

Foto Foto Masjid Cut Meutia

Dari stasiun Gondangdia (foto :masoye)

Suasana di dalam Masjid Cut Meutia (foto :republika)

langit langit masjid Cut Meutia, semua masih asli (foto :id.wikipedia)

Mihrab (tempat imam) di masjid Cut Meutia (foto :id.wikipedia)

Sekelompok kecil pengajian di Masjid Cut Meutia (Vivanews.com)

Referensi

2nheart.wordpress.com – masjid cut meutia jakarta

Id.wikipedia – masjid cut meutia

waspada.co.id - Masjid Cut Meutia dan lika-liku politik

ramadhan.kompas.com - Perjalanan.Panjang.Masjid.Cut.Meutia

benih.net - masjid-cut-meutia-jakarta-sangat-agamis-tapi-modern-abis

jakarta.go.id – cut meutia, masjid

bakulkueh.blogspot.com - masjid-cut-meutia

giornalistijunior.blogspot.com - banyak-sejarah-di-masjid-cut-mutiah

jakarta.go.id  - Bouwploeg, Gedung

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Hidayatullah – Setiabudi, Jakarta

Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta

Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta

Masjid “Si Pitung” Al Alam – Marunda, Jakarta

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Masjid Jami’ Cikini Al Ma'mur, Jakarta

Masjid Jami’ Cikini Al-Ma’mur atau Masjid Cikini, Surau Raden Saleh yang selamat dari penggusuran (foto darivivanews.com)

Di tepi Kali Ciliwung, membelakangi Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta, Berdiri kokoh melewati waktu lebih dari 150 tahun, sebuah masjid tua yang sarat dengan sejarah. Namanya Masjid Jami' Cikini Al-Ma'mur, namun lebih dikenal dengan nama Masjid Cikini. Masjid itu merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta, di bangun diatas tanah milik pelukis ternama Raden Saleh dalam tahun 1860. Masjid tua yang menyimpan kisah perjuangan panjang kaum muslimin mempertahankan hak atas masjid ini.

Sederet tokoh tokoh pahlawan Nasional pernah menorehkan nama mereka dalam sejarah mempertahankan masjid ini sejak era penjajahan Belanda hingga ke masa kemerdekaan sampai ahirnya Masjid Al Ma’mur Cikini ahirnya benar benar kembali ke pangkuan ummat Islam hingga hari ini. Tak hanya sejarah mempertahankannya tapi sejarah pembangunannya pun tak lepas dari kegigihan dan tekad muslim Batavia dalam masjid ini, sejarah mencatat warga muslim setempat bahkan rela mengumpulkan beras demi mendanai pembangunan masjid ini.

Lokasi dan Alamat Masjid Al Ma’mur Cikini

Jl. Raden Saleh Raya RT.3/RW.3, Cikini, Menteng,

Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330

Siapakah Raden Saleh

Beliau adalah seorang pelukis ternama, bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman. Lahir di Terbaya dekat Semarang sekitar tahun 1814 dari keluarga aristokrat keturunan Arab. Ia mendapat beasiswa untuk belajar di negeri Belanda tahun 1829, di sana berkenalan dengan kalangan ningrat dari banyak istana di Eropa, khususnya dengan Grojbherzog von Sachsen-Corburg-Gotha. Raden Saleh menerima gelar ksatria Belanda, Austria dan Prusia. Dialah pelukis Indonesia yang paling berbakat dan berhasil pada abad ke 19. Sekembalinya di Jawa dari Eropa pada tahun 1851, ia menetap di Batavia, di sebuah rumah bergaya gotik yang dirancang sendiri dan dibangun di daerah Cikini. Ia banyak melukis dalam gaya romantis dengan komposisi dramatis. Banyak lukisannya diterima ke dalam aneka koleksi kerajaan maupun pribadi di Eropa, khususnya di berbagai Museum di Amsterdam. Lukisannya yang terkenal antara lain: Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857) dan Berburu Banteng (1851) yang disimpan di Puri Bhakti (kompleks Istana).

Raden Saleh

(foto : wikipedia)

Raden Saleh adalah pelukis Jawa pertama yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik Barat: realisme pada potret, pencarian gerak, perspektif dan komposisi berbentuk piramid dan sebagainya. Kini ia dikenal sebagai "bapak" ilmu seni lukis Indonesia. Sebagian masyarakat seni rupa (ahli sejarah, kritikus, praktisi, pecinta seni) menyebut bahwa seni lukis Indonesia modern diawali sejak Raden Saleh (1807-1880), yang berkiprah pada pertiga abad ke-19. Sebagai cicit Sayid Abdullah Bustam dan putra Sayid Husein bin Yahya, Raden Saleh selama di Maxem, Jerman mendirikan sebuah mushola bertuliskan basmalah dalam bahasa Jerman dan Jawa. Sementara di dekat kediamannya di Cikini ia juga membangun sebuah surau (1860). Setelah beberapa kali tergusur surau tersebutlah yang kini menjadi masjid Cikini Al-Ma’mur. Dari garis keturunannya Raden Saleh merupakan saudara sepupu dari Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi Atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang, Ulama kondang dan berpengaruh di Batavia, pendiri majelis taklim Kwitang, Masjid Ar-Riyadh Kwitang dan Islamic Center Indonesia di Kwitang.

Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh mendirikan kebon binatang pertama di Cikini, yang masih merupakan bagian dari tanah kediamannya. Kebon Binatang ini pada masa gubernur Ali Sadikin akhir 1960-an dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan. Kediamannya di Cikini terbentang dari TIM, dua bioskop (Garden Hall dan Podium), kolam renang Cikini, hingga SMP I Cikini, yang dulunya merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kediamannya. Ketika pindah ke Bogor, pelukis ini menjual rumah beserta tanahnya pada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, pemilik gedung Museum Tekstil di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Kemudian rumah dan tanah yang luas itu dijual pada Koningen Emma Ziekerhuis (Yayasan Ratu Belanda Emma), dengan harga 100 ribu gulden. Mengetahui rumah dan tanah akan dijadikan rumah sakit, Abdullah Alatas memotong harga penjualan jadi 50 ribu gulden. Ketika Indonesia merdeka, yayasan ini menyerahkannya kepada RS PGI Cikini.

Masjid Jami Cikini setelah proses pemugaran oleh Belanda di tahun 1926. besarnya sokongan Syarikat Islam kepada Masjid ini membuat Parpol terbuat memasang lambang partainya berupa Bintang dan Bulan Sabit pada fasad depan masjid ini sebagai simbol perlawanan terhadap arogansi Belanda.

Ketika terjadi kerusuhan di Bekasi pada 1869 oleh kelompok Islam, Raden Saleh dituduh turut mendalanginya. Kediamannya digeledah, setelah dikepung 50 serdadu bersenjata lengkap. Pelukis ini meninggal di Bogor tahun 1880 dan dimakamkan di Jl. Bondongan (kini Jl Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari Keraton Kesultanan Mataram.

Sejarah Masjid Jami’ Cikini Alma’mur

Surau Raden Saleh

Sejarah Masjid Cikini dimulai pada tahun 1860, Raden Saleh dan masyarakat sekitar membangun sebuah surau disamping kediamannya (kini menjadi asrama perawat RS Cikini). Akibat kedekatan pelukis kondang ini dengan umat Islam setelah ia menikah kembali dengan wanita keturunan Kraton Yogyakarta ia dituduh terlibat dalam kerusuhan di Tambun (Kabupaten Bekasi). Kerusuhan tersebut digerakkan kelompok Islam yang menentang pemerintah kolonial Belanda. Meskipun tuduhan itu tidak terbukti, tapi Belanda tetap mengenakan tahanan rumah kepadanya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Yayasan Masjid Al Ma'mur, sesudah Raden Saleh meninggal dunia (1906), tanah itu dimiliki Sayed Abdullah bin Alwi Alatas, yang pemilikannya diperkuat oleh Keputusan Pengadilan Negeri No 694 tanggal 25 Juni 1906, sebagai suatu kelanjutan dari Keputusan Pengadilan Negeri No 145 tanggal 7 Juli 1905.

Tanah itu dibeli melalui sebuah pelelangan. Tanah yang sangat luas ini kemudian oleh Sayed Abdullah Bin Alwi Alatas, salah satu tokoh gerakan Pan Islam dijual kepada 'Koningen Emma Stichingi' (Yayasan Ratu Emma - yang bernaung di bawah Pemerintah Kolonial Belanda) dengan harga 100 ribu gulden. Tapi karena yayasan ini ingin membangun rumah sakit, harganya dikurangi menjadi 50 ribu gulden dengan penegasan bahwa masjid (surau) yang ada di sana tidak boleh dibongkar.

Keaslian Masjid Jami CIkini masih terkonservasi hingga kini, sebagai benda cagar budaya, Masjid Jami Cikini memang dirawat ke-asliannya termasuk tulisan nama masjid dalam huruf arab berikut dengan lambang Syarikat Islam di fasad depannya.

Selamat dari Penggusuran Oleh Pemerintah Belanda

Perjanjian jual beli antara Sayed Abdullah Bin Alwi Alatasdengan 'Koningen Emma Stichingi' diingkari pemerintah kolonial Belanda. Masjid yang dibangun Raden Saleh digusur dan dipindahkan ke pinggir kali Ciliwung. Akibatnya, tempat ibadah ini kerap kebanjiran. Tahun 1890 tercatat sebagai tahun ketika masjid itu dipindahkan secara gotong-royong dengan diusung beramai-ramai oleh masyarakat sekitar. Tanah yang dipilih sebagai lokasi baru adalah tanah milik Sayid Ismail Salam bin Alwi Alatas yang lain di lokasi masjid sekarang.

Kala itu masjid masih berbahan bambu. Pada tahun 1925, 'Koningen Emma Stichingi' yang masih saja merasa gerah dengan keberadaan masjid yang beberapa ratus meter saja jaraknya dari tempat mereka, dengan dukungan pemerintah kolonial Belanda, meminta agar masjid yang sudah dirasakan sebagai milik umat Islam Cikini harus dipindahkan (digusur) ketempat lain. Dengan alasan, di tempat masjid itu berada akan dibangun gereja.

Niat untuk memindahkan masjid ini menimbulkan reaksi yang keras bukan saja dari masyarakat di Betawi, tapi juga umat Islam di Pulau Jawa. Umat Islam merasa tertusuk hatinya, dengan perintah pembongkaran rumah Allah ini. Sebagai rasa setiakawan, maka kala itu mereka melakukan perlawanan. Tidak tanggung-tanggung, perlawanan ini dipelopori oleh sejumlah tokoh Islam, HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansyur, H Agus Salim, dan Abikoesno Tjokrosoeyoso. Mereka adalah tokoh-tokoh Syarikat Islam (SI), yang kala itu merupakan satu-satunya ormas Islam yang kemudian menjadi PSII. Inilah sebabnya pada gapura masjid terdapat lambang SI hingga saat ini.

Pemugaran Tahun 1926

Gencarnya reaksi menentang dari umat Islam ternyata menciutkan nyali Belanda. Sekiranya Belanda tetap ngotot niscaya terjadi pertumpahan darah. Sesudah pertentangan mereda, pada 1926 masjid Al Ma'mur dipugar oleh ummat Islam. Pemugaran ini dimotori oleh tokoh umat Islam diatas, sebagai manifestasi perlawanan umat Islam terhadap tindakan pemerintah kolonial, diketuai oleh H Agus Salim. Masyarakat muslim bergotong royong membangun masjid dengan mengandalkan sumbangan segenggam beras, Beras yang dikumpulkan itu dijual ke pasar dan hasilnya dibelikan bahan bangunan untuk membangun masjid ini. keseluruhan proses pembangunan itu selesai tahun 1935.

Interior di bangunan asli Masjid Jami Cikini Al-Ma'mur

Perjuangan 27 Tahun

Pada 1960-an, saat demokrasi terpimpin, situasi politik di tanah air memanas. Saat itu umat Islam (menjelang G30S/PKI), sibuk menghadapi move-move politik. Dalam situasi demikian, tanpa sepengetahuan umat Islam/pengurus masjid tanah masjid diambil/diakui oleh Dewan Geredja-geredja Indonesia menjadi miliknya dengan cara mensertifikatkan tanah masjid tersebut di atas namanya. Saat itu yang menjadi Menteri Agraria adalah Hermanses SH dan Perdana Menteri Dr . J Leimena.

Tahun 1964, ketenangan beribadah kaum muslimin di sekitar Masjid Al Makmur diganggu oleh Kementrian Agraria RI yang menerbitkan SK hak milik berupa sertifikat tanah atasnama Dewan Gereja Indonesia (DGI). Dalam sertifikat itu disebutkan bahwa tanah di sekitar masjid ::: termasuk tanah yang di atasnya dibangun masjid itu ::: diklaim milik DGI. Padahal di tahun yang sama, Masjid Al Makmur telah berbadan hukum berbentuk Yayasan Masjid Al Makmur bernomor akta notaris 13, tertanggal 8 Juli 1964 dengan notaris Adasiah Harahap. Badan pendirinya, disebutkan adalah Sukaryo Mustafa seorang pedagang yang bertempat tinggal di jalan Cisadane, serta Kamil Cokroaminoto (keturunan HOS Cokroaminoto), lalu H. Abdul Karim Naiman, seorang pegawai negeri (sekarang anaknya  ::: H. Sabihun Naiman::: menjadi ketua pengurus Masjid Al Makmur).

Aksi penyerobotan itu rupanya (lagi-lagi) dirancang oleh pihak Koningen Emma Stichting, yang mensertifikatkan tanah itu atasnama DGI secara diam-diam. Sertifikat itu didaftarkan kepada Kementrian Agraria---yang ketika itu dirangkap oleh PM J.Leimena yang juga sekaligus Direktur RS Cikini, dan dinyatkan secara sah milik DGI. Sampai tahun 1970-1975, pihak rumah sakit tetap bersikeras menyatakan bahwa tanah masjid adalah bagian dari kompleks rumah sakit.

Interior Masjid Jami Cikini

Pada tahun 1987 saat perundingan segi tiga antara gubernur, DGI dan pengurus masjid, pihak RS DGI Cikini menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan tanah tersebut. Namun pengurus masjid menegaskan, ''Kami tidak ada sangkut pautnya dengan DGI. Kami meminta agar tanah kami dikembalikan.'' Upaya upaya perundingan turut dibantu oleh Walikota Jak-Pus Abdul Munir di tahun 1989 hingga tahun 1990.

27 tahun lamanya perjuangan mengembalikan hak kaum muslimin atas tanah masjid Cikini dan ahirnya, pada hari Jumat  24 Mei 1991, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Admod a rmint o atas nama pemerintah RI dihadapan jamaah Masjid Cikini mengumumkan sertifikat tanah atas nama DGI yang mencakup tanah masjid Al-Ma'mur telah dicabut. Tanah masjid telah dikembalikan kepada umat Islam dengan sertifikat tersendiri atas nama Yayasan Masjid Al Ma'mur yang diketuai oleh Mayjen (purn) HM Joesoef Singedekane, mantan gubernur Jambi.

Pada 1993, setelah berbulan-bulan berusaha mendapatkan IMB untuk merenovasi/membangun masjid dan sekolah/madrasahnya, maka pada 4 Maret 1993 izin IMB keluar. Dan dimulailah membangun sekolah berlantai dua untuk menggantikan sekolah yang lama. Kini, di samping masjid Cikini ini berdiri cukup megah perguruan Islam. Mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai SLTA. Masyarakat sekitar Cikini merasa bangga akan keberadaan masjid ini, karena ia merupakan lambang perjuangan umat Islam menghadapi kolonialisme Belanda.

Masjid Jami’ Cikini Al-Ma’mur Saat ini

Saat ini masjid Cikini memiliki dua bangunan utama, bangunan pertama merupakan bangunan masjid asli yang dibangun dimasa penjajahan Belanda, kemudian pengurus masjid Cikini membangun duplikat masjid lama tepat dibelahnya dengan arsitektur bangunan yang lebih modern dan lebih luas. Bangunan baru ini tidak difungsikan setiap hari, pusat kegiatan tetap di bangunan asli, sedangkan di bangunan baru difungsikan untuk kegiatan tertentu termasuk sholat Jum’at, dua sholat hari raya maupun kegiatan keagamaan lainnya. Di samping Masjid Cikini juga berdiri gedung sekolah Islam milik Masjid CIkini yang terdiri dari TK Islam, Madrasah Ibtidaiyah, SMP Islam, Madrasah Diniyah hingga sekolah menengah kejuruan bisnis manajemen.

Referensi

mualaf.com – masjid alma’mur cikini jakarta

kompas.com via indowebster - bangun masjid al-ma'mur dari beras

wildanielearning.blogspot.com – masjid al-ma’mur cikini

salimalt.multiply.com - masjid-masjid bersejarah" masjid al-makmur (1840)

Jakarta.go.id – raden saleh

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Jami’ Annawier, Pekojan

Masjid Cut Meutia, Jakarta

Masjid Hidayatullah – Setiabudi, Jakarta

Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta

Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta

Masjid “Si Pitung” Al Alam – Marunda, Jakarta

Lautze, Masjid Ruko dengan Ornamen Klenteng

Thursday, September 24, 2020

Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang – Jakarta

Di wilayah Kwitang, Jakarta Pusat, diantara jalanannya yang sempit, ada dua lokasi yang menjadi salah satu pengukir sejarah perkembangan Islam di Jakarta dan tanah air secara keseluruhan sejak dari era Jakarta masih bernama Batavia semasa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang hingga era Jakarta di masa kemerdekaan. Dua lokasi tersebut adalah Majelis Ta’lim Kwitang sekaligus Islamic Center Indonesia dan Masjid Jami’ Al-Riyadh yang keduanya tak bisa dilepaskan dari Habib Ali Alhabsyi Bin Habib Abdurrahman Alhabsyi atau lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Habib Kwitang.

Majelis Ta’lim Kwitang dipercaya sebagai majelis Ta’lim tertua di Indonesia dan masih aktif dengan ribuan jemaah, yang tidak saja menjadi motor penggerak syiar Islam tapi juga menjadi motor penggerak pergerakan kemerdekaan di tanah air. Begitu banyak tokoh pergerakan kemerdekaan nasional yang lahir maupun bersinggungan langsung dengan majelis ini hingga para pimpinan negara sejak dari Proklamator Kemerdekaan, Bung Karno sampai ke presiden Republik Indonesia saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono pun memberikan perhatian besar kepada Majelis ilmu yang begitu melegenda ini. Masjid Jami Al-Riyadh menjadi salah satu warisan dari Habib Kwitang yang senantiasa dipadati jamaah, masjid yang menjadi tempat peristirahatan terahir Habib Kwitang.

Masjid Jami' Al-Riyadh di Jalan Kembang IV Kwitang, Jakpus

Alamat dan Lokasi Masjid Al-Riyadh Kwitang

Jl. Kembang VI RT 001 RW 02 Kwitang, Senen

Jakarta Pusat 10420, DKI Jakarta - Indonesia

Telp : (021) 31905369 ‎

Koordinat : 6°11'0"S   106°50'17"E

Sekilas Sejarah Kwitang

menara masjid Al-Riyadh menjulang di-

antara atap pemukiman warga.

Kwitang di Jakarta memiliki dua konotasi, pertama nama kampung sekaligus nama kelurahan yang ada di Jakarta Pusat. Nama ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya bernama Kwik Tang Kiam. Kwik Tang seorang tuan tanah yang kaya dan hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya. Kwik Tang merniliki seorang anak tunggal yang mempunyai sifat yang tidak baik, dia suka berjudi dan mabok. Setelah Kwik Tang meninggal semua tanah milik bapaknya ini habis terjual dan banyak yang dibeli oleh saudagar keturunan Arab. Sehingga sampai sekarang daerah ini disebut Kwitang dan banyak keturunan Arab yang tinggal di kampung Kwitang.

Dan kedua, aliran baru dalam silat perpaduan antara silat Betawi dan Silat Cina (kuntao). Hal ini merupakan hasil proses akulturasi antara silat Betawi dengan Kuntao Cina. Di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, setidaknya sampai tahun 1960-an dikenal sebagai salah satu gudang jago pencak silat di Ibukota. Di antara belasan jagoan terdapat H Muhammad Djaelani, yang lebih dikenal dengan sebutan Mad Djaelani. Ilmu silatnya, Mustika Kwitang, kini diwariskan pada cucunya, sekaligus muridnya, H Zakaria. Ialah yang mengembangkan warisan budaya, hingga jumlah muridnya mencapai puluhan ribu, dan tersebar bukan hanya di seluruh Indonesia, tapi juga di manca negara.

Sejarah Masjid Al-Riyadh Kwitang

Majelis Ta’lim Kwitang semasa penjajahan Jepang

(foto :alwishahab)

Masjid ini didirikan oleh Ali Al HabsyiSekitar tahun 1356H/1938M. Di tempat inilah Habib Ali bersama murid-muridnya dan penduduk setempat mendirikan sebuah majelis taklim di rumah pribadinya. Tempat tersebut lantas ia beri nama Baitul Makmur. Beberapa tahun berjalan majelis itu dia beri nama Unwanul Falakh. Sekitar tahun 1950, majelis tersebut resmi diberinama Masjid Al Riyadh. Namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Masjid Kwitang. Sedangkan Ali Al Habsyi dikenal masyarakat sebagai Habib Ali Alhabsji seorang tokoh ulama Betawi yang begitu berpengaruh di zamannya.

Sampai tahun 1960-an, Habib Ali selalu mengajar di masjid ini. Ia kemudian membangun Islamic Centre Indonesia di kediamannya, kira-kira 300 meter dari masjid. Masjid ini pada tahun 1963 pernah diresmikan Bung Karno. Oleh proklamator kemerdekaan Indonesia ini, masjid itu diberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat. Tapi kemudian diganti lagi dengan nama semula.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, selain digunakan untuk syiar agama Islam, masjid ini dipakai untuk tempat pertemuan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ini tidak mengagetkan karena Ali Al Hasyi adalah salah satu penasehat dan orang kepercayaan Presiden Soekarno. Beliau bagian dari tentara Hisbullah. Suara Jakarta, pelopornya Beliau. Tanpa persetujuannya rakyat sulit bergerak.

Habib Ali Kwitang (foto : pecintarasulhabaib)

Mengenal Habib Ali Kwitang

Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman bin ‘Abdullah bin Muhammad al-Habsyi. Atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang, Lahir di Kwitang, Jakarta, pada 20 Jamadil Awwal 1286H / 20 April 1870M. Ayahanda beliau adalah Habib ‘Abdur Rahman al-Habsyi seorang ulama dan da’i yang hidup zuhud, sedangkan ibunda beliau adalah seorang wanita sholehah bernama Nyai Hajjah Salmah puteri seorang ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.

Kakeknya, Habib Abdullah bin Muhammad Al-Habsyi, dilahirkan di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia menikah di Semarang. Dalam pelayaran kembali ke Pontianak, ia wafat, karena kapalnya karam. Adapun Habib Muhammad Al-Habsyi, kakek buyut Habib Ali Kwitang, datang dari Hadramaut lalu bermukim di Pontianak dan mendirikan Kesultanan Hasyimiah dengan para sultan dari klan Algadri.

Habib ‘Abdur Rahman meninggal dunia sewaktu Habib ‘Ali masih kecil. Sebelum wafat, Habib ‘Abdur Rahman berwasiat agar anaknya Habib ‘Ali belajar ke Hadhramaut untuk mendalami ilmunya dengan para ulama di sana. Dua tahun setelah sang ayah wafat, Habib Ali Kwitang yang saat itu masih berusia 11 tahun, berangkat belajar ke Hadramaut. – sesuai wasiat ayahandanya. Tempat pertama yang dituju adalah Habib Abdurrahman bin Alwi Alaydrus. Selama 4 tahun, Habib Ali Kwitang tinggal di sana, lalu pada tahun 1303 H/1886 M ia pulang ke Betawi.

Pintu Utama Masjid Jami' Al-Riyadh langsung menghadap ke Jalan

Kembang IV Kwitang

Pulang dari Hadramaut, ia belajar kepada Habib Utsman bin Yahya (mufti Batavia, yang juga pernah mengajar di Masjid Jami Annawier – Pekojan), Habib Husein bin Muhsin Alatas (Kramat, Bogor), Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Umar bin Idrus Alaydrus, Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Aththas (Pekalongan), Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor (Bondowoso).

Pada tahun 1356H/1938M ia membangun masjid di Kwitang yang dinamakan masjid Ar-Riyadh. Ia mengusahakan pada kawan-kawan dari keluarga Al-Kaf agar mewakafkan tanah masjid itu, sampai ia menulis surat kepada Sayyid Abubakar bin Ali bin Abubakar Shahabuddin agar berangkat ke Hadramaut untuk berbicara dengan mereka. Setelah Sayyid Abubakar bernegosiasi, akhirnya masjid itu diwakafkan, sehingga tanah itu sampai sekarang tercatat sebagai wakaf pada pemerintah Hindia Belanda. Ukuran tanah masjid itu adalah seribu meter persegi. Habib Ali Habsyi juga membangun madrasah yang dinamakan unwanul Falah di samping masjid tersebut yang tanahnya sekitar 1500 meter persegi dan membayar sewa tanah sebesar 25 rupiah setiap bulan.

Makam Habib Ali Kwitang di Komplek

Masjid Jami Al-Riyadh Kwitang

Habib Ali menunaikan haji 3 kali. Pertama tahun 1311 H/1894 M di masa Syarif Aun, kedua tahun 1343 H/1925 M di masa Syarif Husein, dan ketiga tahun 1354 H/1936 M di masa Ibnu Saud dan pergi ke Madinah 2 kali. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi wafat 23 Oktober 1968 dalam usia 102 tahun. Ketika itu, TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang menyiarkan berita duka cita. Ribuan orang berbondong-bondong melakukan takziah ke kediamannya di Kwitang, Jakarta Pusat, yang sekaligus menjadi majelis taklim tempat ia mengajar.

Sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Sejumlah murid almarhum dari seluruh Jawa, bahkan seluruh Indonesia dan luar negeri, juga datang bertakziah. Sebelum jenazah di makamkan di Masjid Ar-Riyadh, yang dipimpinnya sejak ia muda, Habib Salim bin Jindan, yang sering berdakwah bersama almarhum, membaiat Habib Muhammad, putra almarhum, sebagai penerusnya. Ia berpesan agar meneruskan perjuangan almarhum dan memegang teguh akidah Alawiyin.

Ada kisah menarik sebelum almarhum wafat. Suatu hari, ia minta tiga orang kiai kondang asal Jakarta maju ke hadapannya. Mereka adalah K.H. Abdullah Syafi’i, K.H. Thahir Rohili, dan K.H. Fathullah Harun. Habib Ali mempersaudarakan mereka dengan putranya, Habib Muhammad. Dalam peristiwa mengharukan yang disaksikan ribuan jemaah itu, Habib Ali berharap, keempat ulama yang dipersaudarakan itu terus mengumandangkan dakwah Islam.

Presiden SBY bersama Fauzi Bowo (gubernur DKI Jakarta) saat -

berziarah ke makam Habib Ali Kwitang setelah hadir di masjelis taklim

kwitang dan Islamic Center Indonesia - Kwitang.

Harapan Habib Ali menjadi kenyataan. Habib Muhammad meneruskan tugas ayahandanya memimpin majelis taklim Kwitang selama 26 tahun. K.H. Abdullah Syafi’i, sejak 1971 hingga 1985, memimpin Majelis Taklim Asy-Syafi’iyah, dan K.H. Thahir Rohili memimpin Majelis Taklim Ath-Thahiriyah. Sedangkan K.H. Fathullah Harun belakangan menjadi ulama terkenal di Malaysia. Ketiga majelis taklim tersebut menjadikan kitab An-Nasaih ad-Diniyyah, karya Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi dari Hadramaut, penyusun Ratib Hadad, sebagai pegangan. Sebab, kitab itu juga menjadi rujukan Habib Ali Kwitang.

Arsitektural Masjid Al-Riyadh Kwitang

Masjid Kwitang itu terdiri dari dua lantai dengan sebuah menara besar di sisi kanan bagian depan masjid. Lantai pertama masjid tesebut biasanya digunakan untuk shalat berjamaah seperti biasa, dan saat Ramadhan seperti saat ini, ruangan tersebut juga masih muat menampung jamaah shalat terawih. Sementara lantai kedua, khusus digunakan untuk shalat Ied. Sedangkan dalam kesehariannya di lantai dua ini menjadi tempat penyelenggaraan pendidikan Madrasah yang dikelola oleh Masjid Jami Al-Riyadh.

Interior Masjid Al-Riyadh Kwitang

Tiang tiang besar segi empat mendominasi bangunan masjid tua ini. lokasnya yang berada di tengah pemukiman padat penduduk membuat masjid ini tak memiliki halaman luas layaknya sebuah masjid besar. Pintu utama masjid ini hanya beberapa meter dari jalan raya di depannya. Letaknya yang demikian bahkan sedikit menyulitkan untuk mengambil gambar masjid ini utuh dalam satu frame.

Dibagian dalam masjid terasa lega dengan atap sisi mihrab yang cukup tinggi. Lantai dua masjid berbentuk mezanin dengan menyisakan ruang kosong disisi mihrab. Mihrab masjid ini tidak dipakai sebagai tempat imam karena lokasi sajadah imam berada di depan mihrab bukan di dalam ruang mihrab. Sementara mimbar khatib dibuat dari kayu berukir, bukan sebagai sebuah podium tapi benar benar sebuah mimbar dimana khatib berdiri di puncak tangga tertinggi. Mimbar seperti ini memang lazim digunakan di negara negara timur tengah dan kebanyakan masjid masjid di Indonesia.

Sisi depan Masjid Al-Riyadh dengan pilar pilar besar segi empat

Makam Habib Kwitang

Ada aturan ketat saat berziarah ke makam Habib Kwitang di dalam komplek masjid ini. ditulis dengan jelas disana pesan dari Almarhum Habib Kwitang semasa hidupnya bagi siapa saja yang akan menziarahi makamnya : Wasiat Habib Ali Alhabsy ini dipegang teguh oleh putra beliau K.H.S. Muhammad Bin Ali Alhabsyi semada hidupnya, wasiat tersebut adalah :

  • Jangan taruh tromol (kotak amal) makna nya dilarang memberikan / meletakkan uang dimakamnya
  • Jangan taruh kemenyan, membawa / menaruh air, di area / di atas makam. Maknanya : almarhum tidak ingin dikultuskan / disucikan, apabila umat islam melakukan kekeliruan dalam berziarah ini, maka almarhum ikut pula menanggung dosanya.
  • Kalau ingin memberikan hadiah bacaan Fatihah / Yasin, maknanya almarhum masih mengharapkan bantuan ummat, agar almarhum mendapat ampunan Alloh SWT.

Madrasah Diniyyah Masjid Jami' Al-Riyadh

Aktivitas Masjid Al-Riyadh Kwitang

Pada masa kemerdekaan sampai era reformasi saat ini, masjid bersejarah ini tetap berdiri kokoh. Selain digunakan untuk berdakwah dan menjalankan ibadah sehari-hari, oleh pengurus dan pengelola, masjid ini dijadikan tempat belajar secara formal. Sebuah sekolah dasar Islam bernama Madrasah Diniyyah Al Riyadh didirikan sekitar tahun 1975. Melalui lembaga pendidikan ini, masyarakat lebih mudah mengenalkan Islam pada putra-putrinya.

Secara umum, kegiatan-kegiatan keagamaan masjid selama Ramadhan hampir sama dengan masjid-masjid yang lain yaitu ceramah keagamaan, terawih, buka puasa bersama, pesantren kilat dan lain-lain. Namun, tradisi khusus yang masih dijaga sampai saat ini adalah setiap malam 25 Ramadhan selalu diadakan Khotmil Qur'an atau khataman Al Qur'an di dalam shalat terawih. Setiap momen tersebut, banyak jamaah dari luar Jakarta, bahkan seluruh Indonesia berdatangan. Ada yang juga dari Surabaya, Blitar, Kalimantan. Acara diadakan dari pukul 21.00 WIB sampai dengan 23.00 WIB.

Makam Habib Ali Kwitang, Putra & menantunya di komplek Masjid Jami'

Al-Riyadh Kwitang.

Masjid Al Riyadh ini sendiri memiliki keunikan yang dapat membedakan dengan masjid-masjid yang lain. Di dalam masjid terdapat makam sang pendiri, Habib Ali Al Habsyi, beserta  putranya, Habib Muhammad bin Al Habsyi dan istri putranya. Keberadaan makam mereka menjadi daya tarik bagi sebagian umat Islam untuk berziarah. Ini salah satu bentuk karamah beliau (Habib Ali). Sudah wafat tetapi dapat memberikan berkah bagi masyarakat sekitar. Dengan banyaknya peziarah, puluhan bahkan ratusan orang bisa berdagang disini.

Foto Foto Masjid Ar-Riyadh Kwitang

Mihrab dan Mimbar di Masjid Al-Riyadh Kwitang.
Interior Masjid Al-Riyadh sisi selatan
Interior Masjid Al-Riyadh sisi utara
Papan jadwal sholat, di masjid Jami' Al-RIyadh
Papan Nama Masjid Jami' Al-RIyadh di atas pintu masuk masjid

Referensi

Jakarta.go.id - Kwitang

vivanews.com - masjid-kwitang--kokoh-di-tengah-jakarta

tarekatqodiriyah.wordpress.com – habib ali bin abdurrahman al habsyi kwitang

alwishahab.wordppress.com – majelis taklim kwitang di masa jepang

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Jami Al-Ma’mur Tanah Abang - Jakarta

Masjid Jami’ Al-Makmur Sawah Lio, Jakarta

Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur - Jakarta

Masjid Jami’ Annawier, Pekojan

Masjid Cut Meutia, Jakarta

Masjid Hidayatullah – Setiabudi, Jakarta

Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta

Masjid Al-Makmur, Tanah Abang - Jakarta

Masjid Al-Ma?Mur Tanah Abang, Megah pada usia nya yang telah

begitu tua (foto : siarmasjid)

Ada yang tak kenal Tanah Abang ?, rasa rasanya orang Indonesia sangat mengenal pasar satu ini setidaknya pernah mendengar keberadaan pusat ritel dan grosir terbesar di Asia Tenggara ini. Di Kawasan Tanah Abang berdiri sebuah masjid tua yang tak bisa dilepaskan dengan sejarah Tanah Abang, namanya Masjid Jami' Al-Makmur Tanah Abang. Masjid tua ini resminya bernama  Masjid Jami' Al-Ma'mur Tanah Abang [sebagaimana tertulis di atas pintu utama masjid] namun lebih dikenal dengan nama Masjid Al-Ma'mur saja, merupakan salah satu dari belasan masjid tua yang masih tersisa di Jakarta. Masjid ini dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro.

Kini masjid yang seumur menggunakan sejarah eksistensi Tanah Abang ini terkepung oleh hingar bingar sentra perdagangan Tanah Abang, Di kiri kanan masjid jami ini telah nir ditemukan lagi perumahan penduduk lantaran hampir semua wilayah sekitarnya sebagai pusat kegiatan usaha. Halaman depan masjid ini bahkan telah tergerus dalam arti sebenarnya sang perkembangan pusat bisnis Tanah Abang, pekarangan depannya habis digunakan buat pelebaran jalan & disesaki oleh para pedagang & parkir tunggangan.

Lokasi Masjid Al-Makmur ? Tanah Abang

Masjid Al-Makmur

Jl KH Mas Mansyur No.6, Tanah Abang

Jakarta Pusat, Propinsi DKI Jakarta

Indonesia

Sejarah Masjid Al-Makmur, Tanah Abang

Serangan Mataram ke Batavia

Puncak berdasarkan kegeraman raja Mataram, Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma dengan ulah VOC dibawah pimpinan Jenderal Jan Pieterzoen Coen pada Batavia maka, pada lepas 27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa [bupati Kendal] tiba pada Batavia. Pasukan ke 2 datang bulan Oktober dipimpin Pangeran Mandurareja. Total semuanya merupakan 10.000 prajurit. Menyerbu Batavia dalam gelombang agresi pertama. Perang akbar terjadi pada Benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami kehancuran lantaran kurang perbekalan.

Sultan Agung pulang menyerang Batavia buat kedua kalinya dalam tahun berikutnya. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan ke 2 dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Total seluruh 14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan cara mendirikan lumbung-lumbung beras tersembunyi di Karawang & Cirebon. Tetapi mata mata VOC berhasil menemukan dan memusnahkan semuanya, mengakibatkan pasukan Mataram kurang perbekalan, ditambah endemi penyakit malaria & kolera, sehingga kekuatan pasukan Mataram sangat lemah waktu mencapai Batavia.

Bagian depan Masjid Jami Al Ma'mur(okezone)

Walaupun balik mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung ini berhasil membendung & mengotori Sungai Ciliwung, yg menyebabkan endemi kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal VOC, Jenderal Jan Pieterzoen Coen mati sebagai korban endemi tersebut. Di antara anggota pasukan Mataram tadi terdapat yang memutuskan buat tidak balik ke Mataram, mereka kemudian menetap di Batavia menjadi da?I & membangun sejumlah masjid, Sedikit poly, orang-orang Mataram ini memberi efek pada pembentukan budaya awal rakyat Betawi. Mulai berdasarkan struktur bahasa, norma tata cara, sandang sampai nama-nama loka di lebih kurang Betawi tempo dulu.

Sejarah Awal Masjid Al-Ma?Mur ? Tanah Abang

Perkembangan Islam di Batavia ditradisikan juga sang orang-orang dari Mataram ini. Salah seseorang bangsawan keturunan Kerajaan Mataram yang tercecer dari perang itu, adalah KH. Muhammad Asyuro. Muhammad Asyuro kemudian memilih wilayah Tanah Abang sebagai loka mukimnya yang baru. Pada pemukiman baru tersebut sisa pasukan Mataram ini dibawah pimpinan KH Muhammad Asyura mendirikan sebuah mushola berukuran 12?8 meter pada tahun 1704 Masehi. Keberadaan langgar ini terus berlanjut sampai ke keturunan KH. Muhammad Asyuro berikutnya. Kedua anak KH Muhammad Asyuro, KH. Abdul Murod Asyuro dan KH. Abdul Somad Asyuro tercatat menjadi penerus dakwah ayah mereka sampai masuk ke abad 20.

Masjid Al-Ma’mur, masjid tua yang kini semakin terjepit diantara pusat

perbelanjaan di kawasan Tanah Abang (foto : indoplaces.com)

Pada lepas 30 Agustus 1735 (31 tahun setelah berdirinya Langgar KH. Muhammad Asyuro) Yustinus Vinck seseorang tuan tanah Belanda mulai mendirikan pasar pada Tanah Abang yg hanya buka setiap hari Sabtu, karena itu kemudian disebut Pasar Sabtu, dan waktu itu sanggup menyaingi pasar Senen yg telah lebih maju. Pembangunan pasar itu memicu percepatan perkembangan tempat Tanah Abang.

Pembangunan Besar Besaran

Semakin berkembangnya perkampungan dan bertambahnya jumlah penduduk sekitar langgar, maka atas inisiatif tokoh rakyat Tanah Abang keturunan Arab, Habib Abu bakar bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Habsyi, tahun 1915 langgar diubah sebagai masjid besar 44m x 28m, diatas tanah wakaf dari Habib Abu bakar dengan rancangan menurut seorang arsitek Belanda. Masjid yang dibangun pada atas tanah wakaf seluas 1.142 m2, ini kemudian diberi nama Al-Makmur. Habib Abu Bakar Alhabsyi adalah salah seorang pendiri rumah yatim piatu Daarul Aitam di jalan yang sama. Sebagian besar biaya pembangunan masjid ini yaitu f 35.000 bahkan ditanggung sendiri sang Habib Abu Bakar. Dalam badan pengurus Yayasan Misigit Djemat Tanah Abang Al-Mansoer (1914) selalu masih ada empat anggota keturunan Arab dan tiga orang muslim lain.

Suasana di dalam Masjid Al-Ma’mur (foto : masjid-alma’mur on fb)

Tahun 1932 masjid ini diperluas sampai ke arah utara seluas 508 m2. Perluasan pada atas tanah wakaf Salim Bin Muhammad bin Thalib itu kemudian ditambah lagi dengan sebidang tanah milik masjid di bagian belakang seluas 525 m2 pada tahun 1953. Jadi luas total masjid ini sebesar 2.175 m2. Ketika terdapat kuburan wakaf [kini jadi rumah susun Tanah Abang], masyarakat keturunan Arab yang meninggal global sebelum dimakamkan terlebih dulu jenazahnya dishalatkan pada Masjid Al-Makmur. Para pedagang & pembeli di Pasar Tanah Abang pula membuahkan masjid tua ini menjadi loka shalat mereka terutama shalat dzuhur & ashar.

Arsitektural Masjid Al-Makmur, Tanah Abang

Gaya bangunan masjid ini menyerupai arsitektur masjid pada Timur Tengah, namun dengan sentuhan yang cukup modern. Bangunan kubah utamanya berwarna hijau dan terlihat dari segala arah. Kesan klasik jua sangat terasa bila berada didalam masjid itu. Bentuk kusen pintu & jendela bergaya arsitektur abad 17, menambah kesan mendalam jika masjid tadi memiliki nilai historis yg tinggi.

Mimbar dan Mihrab Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang

(foto : masjid-alma’mur on fb)

Dua menara pendek mengapit tiga pintu masuk, yang atap bangunannya berbentuk kubah. Gaya bangunannya menyerupai masjid Timur Tengah. Bangunannya berkubah utama wama hijau menyolok, terlihat dari segala arah. Kubah, elemen bangunan yang umum dijumpai pada masjid-masjid Indonesia pada Masjid Al Makmur memiliki bentuk yg unik.

Bagian bawahnya berbentuk segi empat yang mengecil pada bagian atas menyerupai topi bishop atau kupola. Sedangkan zenit kedua menara yg mengapit kubah utama berbentuk bawang misalnya lazimnya kubah-kubah. Peletakan kubah & sepasang menara tersebut menyerupai bentuk arsitektur masjid pada Asia Barat pada mana pintu masuk utamanya (iwan) diapit sang dua menara tinggi. Bangunan masjid Al Makmur menerima penghargaan Sertifikat-Sadar Pemugaran 1996. Di pada lingkungan masjid yg bisa menampung sampai lima.200 jamaah ini masih ada tiga makam yg dikeramatkan, & terlihat masih banyak rakyat yang berziarah ke makam tadi.

Interior masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (foto dari tnol)

Masjid Al-Makmur, Tanah Abang kini

Bertahan pada gerusan zaman

Masjid yg sangat bersejarah ini, di depannya tampak kumuh. Terutama sang para pedagang kaki lima yang mangkal di depan masjid dan tumpah ruah ke jalan. Sementara kendaraan beroda empat dan motor menjadikannya sebagai tempat parkir waktu mereka hendak berbelanja ke sentra-pusat perdagangan Tanah Abang. Akibat pengembangan jalan, sekarang Masjid Al-Makmur hanya menyisakan (habis) beranda depan menggunakan tiga gerbang berpilar ramping berbentuk kelopak malati dan list-plang dengan lima lubang angin dan 2 menara berkubah mini bergaya mercusuar (menggunakan jendela & teras) di kiri kanan bangunan primer. Sementara pedagang kaki 5 kadang-kadang menggunakan enaknya menjajakan dagangannya di muka masjid.

Makin berkembangnya bisnis pada Tanah Abang, mengakibatkan Jalan KH Mas Mansyur & sekitarnya misalnya Kebon Kacang I hingga Kebon Kacang VI sekarang telah berubah fungsi. Sebagian akbar rumah telah menjadi tempat pertokoan, ekspedisi, dan gudang-gudang. Tidak heran bila harga tanah yang berdekatan dengan Proyek Pasar Tanah Abang termasuk termahal pada Jakarta. Seperti waktu pembangunan jembatan Metro Tanah Abang, tempat tinggal -rumah yg tergusur menerima ganti rugi Rp 10 juta per m2. Menurut sejumlah warga , harga tanah milik mereka ketika ini harganya Rp 20 juta per meter persegi.

lokasinya yang berada pusat perbelanjaan di kawasan Tanah Abang

menjadikan masjid ini benar benar berada di hiruk pikuknya aktivitas

masyarakat di kawasan perdagangan tersebut (foto : indoplaces.com)

Area Peratarungan Berebut rezeki

Jarak masjid Al-Makmur yg hanya seitar 100 meter berdasarkan pusat grosir tanah kakak sudah bisa dipastikan huma pada depan masjid ini menggiurkan beberapa pihak buat mengeduk keuntungan, akibatnya huma tersebut sebagai rebutan aneka macam pihak yang tak urung berujung dalam bentrokan misalnya yg pernah terjadi dalam hari rabu dinihari 21 Maret 2012 lalu waktu dua grup pemuda terlibat friksi pada Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat tepatnya di depan Masjid Al-Makmur ini.

Pemicu dari keributan, diduga lantaran memperebutkan lapak didepan Masjid tadi. Setiap harinya, didepan masjid terdapat puluhan pedagang kaki usang dan parkiran sepeda motor. Omset dari pedagang & parkiran disana tergolong relatif besar , tak ayal lahan tadi menjadi rebutan dua kelompok yang masih bertetangga ini. Saat ini polisi menurut Polsek Tanah Abang pada ahirnya harus turun tangan mengehntikan aksi anarkis tadi & berjaga-jaga di lokasi.

Fauzi Bowo [Gubernur DKI Jakarta] dalam suatu kesempatan memberikan

santunan kepada anak yatim piatu di Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang

(foto : bpadjakarta)

Disinggahi Pimpinan Negara

Sejumlah petinggi negeri pernah menyempatkan singgah dan sholat pada masjid ini. Termasuk Presiden Soekarno, M Natsir, KH. Ahmad Dahlan [pendiri Muhmmadiyah], tokoh NU Wahid Hasyim, Presiden Megawati, Wapres Hamzah Haz, Wakil Presiden Try Sutrisno dan presiden SBY waktu masih menjabat menjadi Pangdam, & tentu saja Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo atau mampu dipanggil Foke.

Mimbar dilengkapi dengan tulisan indah

kaligrafi. (okezone)

Selama bulan suci Ramadhan, pengelola masjid memiliki banyak sekali aktivitas keagamaan. Tujuannya buat menyemarakkan Ramadan. Seperti salat Tarawih berjamaah, mengundang da'i buat berceramah. Selain itu, setiap hari pada masjid ini diadakan program buka puasa beserta dengan para jamaah. Hampir setiap hari, sejumlah pedagang Tanah Abang menyumbangkan kuliner dan minuman buat menu berbuka bagi para jamaah masjid ini maupun para rakyat yg kebetulan singgah.

Masjid Masjid disekitar Tanah Abang

Sekedar fakta, bagi anda yg sedang berkunjung ke Tanah Abang selain Masjid Al-Ma?Mur ini pada tempat ini tersedia masjid masjid lainnya yaitu : Masjid Pasar Tanah Abang (MPTA) masjid besar relatif mewah pada atap lantai 14 Pasar Tanah Abang blok A. Masjid Al-Ikhlas pada Blok G lantai 4. Masjid pada lantai atap di Blok B & Masjid Al-Abraar di Jalan Jati Baru X, di seberang Stasiun Kereta Tanah Abang. Masjid ini berada pada gang yang juga dipenuhi kios pedagang pakaian jadi terutama pakaian muslim seperti gamis, baju koko, peci, jilbab, dan lainnya.

Lihat video Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang di republikaonline

Foto Foto Masjid Al-Ma'mur Tanah Abang

Bagian dalam terlihat sejumlah pilar kuat menopang bangunan besar

Masjid. Kesan lawas pun terlihat dari daun pintu, jendela, dan mimbar.

(foto :okezone)

gaya timur tengah sangat kental di fasad depan masjid Al-Ma'mur

foto dari pelitaonline

Musikus Dangdut kondang yang juga da'i, Rhoma Irama memberikan

ceramah menyambut Maulid Nabi di Mesjid Al-Makmur, Tanah Abang

jakarta,  (foto dari antara)

hamparan Sajadah Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (foto : siarmasjid)

Referensi

alwishahap.wordpress.com – masjid tua dikepung pusat perbelanjaan

beritabatavia.com – masjid-tua-diantara-semrawutnya-tanah-abang

travel.okezone.com – serba serbi  belanja di pasar tanah abang nan modern

Beritajakarta.com - Masjid Al-Makmur Saksi Sejarah Islam di Jakarta

Jakarta.go.id – almakmur tanah abang masjid

pesatnews.com - dua-kelompok-warga-tawuran-di-tanah-abang

Poskota.co.id – masjid al-makmur tempat salat bung karno sby

siarmasjid.blogspot.com – masjid masjid di kawasan pasar tanah abang

wikipedia – sultan agung dari mataram

Wikipedia – serangan besar di batavia

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya

Masjid Jami? Al-Makmur Sawah Lio, Jakarta

Masjid Jami Cikini Al-Ma?Mur - Jakarta

Masjid Jami? Annawier, Pekojan

Masjid Cut Meutia, Jakarta

Masjid Hidayatullah ? Setiabudi, Jakarta

Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta

Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta

Masjid ?Si Pitung? Al Alam ? Marunda, Jakarta

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done