Islami Pedia: masjid di afrika utara
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di afrika utara. Show all posts
Showing posts with label masjid di afrika utara. Show all posts

Wednesday, August 26, 2020

Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo

Tinggi menjulang di atas benteng Salahudin di atas bukit kota Kairo, Masjid Muhammad Ali Pasha tak pelak lagi menjadi landmark kota Kairo (foto dari wikipedia)

Tak galat bila Kairo dijuluki menjadi kota seribu menara, kota ini memang bertabur menara menara masjid latif berdasarkan banyak sekali era kekuasaan yang silih berganti menguasai Mesir. Salah satu masjid dengan menara tinggi & dapat dilihat dari jeda yang begitu jauh karena berada diketinggian Benteng Shalahuddin di atas sebuah bukit pada kota Kairo, yakni Masjid Muhammad Ali Pasha. Saking tingginya lokasi masjid ini, Ketika sudah berada disana, pengunjung dapat melihat hampir seantero Kota Kairo, bersama sungai Nil dan piramida dikejauhan berdasarkan laman masjid.

Tak pelak lagi menggunakan posisinya yg berada pada ketinggian & bisa dilihat berdasarkan aneka macam sudut kota, masjid ini menggunakan secara otomatis menjadi landmark kota Kairo. Masjid Muhammad Ali Pasha dinamai sinkron dengan nama Muhammad Ali Pasha penguasa Mesir berdasarkan dinasti Muhammad Ali, dinasti Islam terahir yang berkuasa pada Mesir sebelum lalu negeri ini berubah sebagai Republik sampai saat ini. Masjid Muhammad Ali Pasha mempunyai banyak nama lain, antara lain merupakan Masjid Alabaster lantaran sebagian besar dilapisi dengan marmer alabaster. Kadangkala juga disebut menjadi masjid Almarmari merujuk pada bahan marmer yang mendominasi bangunan masjid ini.

Masjid ini sengaja dibangun sang Muhammad Ali Pasha ditahun 1830 hingga 1848, buat mengenang Tusun Pasha, putra tertua-nya yang mangkat pada tahun 1816. Untuk membentuk masjid tersebut, dia mengundang sejumlah insinyur berdasarkan Prancis & Italia buat merancang Masjid ini. Diantara pandangan baru cemerlang yang dikemukakan para insinyur yang mendirikan Masjid Muhammad Ali Pasha merupakan pemilihan lokasi yang unik, yakni di puncak Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada pada pinggiran Kota Kairo. Dengan dipilihnya lokasi tersebut, panorama pada lebih kurang benteng tersebut pun sebagai sahih-benar berubah. Rekonstruksi Masjid Muhammad Ali Pasha dimulai pada tahun 1830 atau sekitar tujuh abad selesainya berdirinya Citadel dan selesai tahun 1848.

Jazad Muhammad Ali Pasha sendiri ahirnya pada makamkan di laman masjid ini. Muhammad Ali Pasha wafat di Istana Ras el-Tin Palace di Alexandria dalam tanggal 2 Agustus 1849 dan dimakamkan pada pemakaman Hosh al-Basha. Adalah Raja Abbas I yang tidak lain merupakan cucu dari Muhammad Ali Pasha, putra berdasarkan Tusun Pasha yang lalu memindahkan makam Muhammad Ali Pasha ke halaman masjid ini pada tahun 1857.

Menurut segi ukuran, Masjid Muhammad Ali Pasha ini adalah masjid terbesar yang pernah dibangun di awal abad ke 19, terutama di Mesir dan Afrika.

Bergaya Turki menggunakan sentuhan Prancis dan Italia

Masjid Muhammad Ali Pasha secara umum dibangun dengan mengadopsi gaya masjid dinasti Usmaniyah, bangunan masjid dengan 2 butir menara tinggi yang ramping dan runcing seperti sebuah pinsil, mengapit kubah utama & sejumlah kubah mini disekitarnya. Tinggi kedua menara ini mencapai 82 meter. Sementara itu, bagian kubahnya dibuat megah dan tinggi, mirip dengan Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Bangunan utamanya terdiri berdasarkan dua bagian. Pada bagian luar, terdapat tempat berwudhu yg letaknya sempurna pada tengah-tengah halaman masjid dan sebuah menara jam yang adalah hadiah menurut Raja Prancis, Louis Philippe I, pada tahun 1846. Konon, sebagai bantuan gratis balasan, Raja Muhammad Ali Pasha menaruh obelisk Ramses II menurut Kuil Luxor yg masih ada pada pintu masuk. Saat ini, obelisk Ramses II tersebut masih bisa dilihat di Place de la Concorde, Paris, Prancis.

Interior Masjid Muhammad Ali Pasha, tidak jauh tidak sinkron menggunakan interior masjid masjid berdasarkan masa Usmaniyah lainnya. Terutama Masjid Aya Sofia pada Istambul, Turki.

Ruang shalat berada pada bawah kubah-kubah yang terdiri atas satu kubah utama yang berada di tengah dan empat kubah berukuran menengah (sedang) serta empat kubah kecil yang mengapit kubah utama. Bagian langit-langit zenit kubah (menurut pada) dihiasi goresan geometris menggunakan empat pojok yang terukir kaligrafi empat nama Khulafaur Rasyidin. Dinding ruang sholat diberi celah-celah yg dihias menggunakan kaca patri berwarna-warni & pilar pilar pualam yang tidak membuat ruangan masjid tersebut terasa sempit. Di samping pilar pilar primer terdapat juga pilar pualam ramping yg menyangga atap dan kubah-kubah kecil.

Di pada Benteng Salahudin ini Selain Masjid Muhammad Ali jua terdapat dua museum, yaitu Museum Permata (Qashrul Jawharah) yg berisi perhiasan raja-raja Mesir, Singgasana Raja Farouk, & Museum Polisi (Mathaf As-Syurthah) yg terdiri menurut 6 bagian (diantaranya ruangan yang memamerkan senjata-senjata yg pernah dipakai polisi Mesir sepanjang sejarahnya, ruangan dokumen-dokumen krusial sejak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha hingga kini , dan ruangan-ruangan lainnya.

Menjulang di titik tertinggi benteng Shalahuddin

---------------------

Baca Juga

Masjid Amru Bin Ash

Masjid Omar Makram, Saksi Bisu Reformasi Mesir

Thursday, August 13, 2020

Masjid Maidan Al-Jazair Square, Tripoli

Masjid Jamal Abdul Naseer atau Masjid Maidan Sl-Jazair Square, masjid megah pada pusat kota Tripoli, Libya. Dahulunya adalah sebuah bangunan Katedral.

Libya, Selayang Pandang

Mungkin anda pernah menyaksikan film ‘Lion of the Desert (1981)” yang menceritakan tentang tokoh bernama Omar Mukhtar. Sejatinya Omar Mukhtar memang tokoh nyata yang merupakan pejuang kemerdekaan Libya dari penjajahan Italia. Omar Mukhtar di hukum mati oleh tentara penjajahan Italia tahun 1931. Dua puluh tahun setelah itu Libya memproklamirkan kemerdekaannya, dan lukisan wajah Omar Mukhtar diabadikan di uang dinar Libya, sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pahlawan nasional Libya tersebut.

Nama Libya adalah penamaan sang orang Yunani buat menyebut seluruh daerah Afrika Utara. Italia-lah yang kemudian memakai Nama itu buat menyebut wilayah jajahannya yg kini dikenal menjadi Negara Libya. Libya merupakan galat satu negara pada wilayah magribi, berada pada sebelah utara benua Afrika, menghadap ke laut mediterania, berseberangan menggunakan benua Eropa. Sepanjang sejarahnya daerah ini silih berganti penguasa terutama oleh beberapa kerajaan Eropa.

Tahun 647 pasukan Islam menyerbu wilayah Libya dari tiga penjuru dibawah pimpinan para sahabat nabi yakni Amru Bin Ash, Abdullah bin Sa’ad dan Uqba bin Nafi merebut seluruh wilayah Libya dari kekuasaan Bizantium dan kekuatan lainnya. Setelah itu Libya secara tradisi menjadi wilayah beberapa dinasti kekhalifahan Islam hingga ke khalifahan Usmaniyah yang berpusat di Istambul, Turki.  Namun kemudian Libya jatuh ke tangan Italia di tahun 1912 setelah Turki mengalami kekalahan dalam perang dunia pertama.

Masjid Maidan pada tahun 2012 & saat masih berupa katedral di tahun 1960-an

Dalam perang global kedua Italia mengalami kekalahan berdasarkan pasukan sekutu. Adalah Idris al-Mahdi as-Sanussi yg adalah Emir pada wilayah Cyrenaica, mewarisi kekuasaan semenjak masa kekuasaan Islam, memimpin usaha kemerdekaan Libya dan memproklamasikan kemerdekaan Libya dalam tanggal 24 Desember 1951 sebagai kerajaan merdeka. Idris al-Mahdi as-Sanussi menjadi Raja pertama Libya merdeka, berkuasa selama 18 tahun.

Di tahun 1969 Raja Idris pada kudeta sang kol Muamar Khadafi yg saat itu baru berusia 27 tahun. Namun kemudian sejarah pulang berulang, sesudah 42 tahun berkuasa giliran Khadafi yg di kudeta oleh aneka macam faksi di Libya pada dukung sang pasukan NATO & Uni Eropa. Muammar Khadafi terbunuh pada kota Sirte lepas 20 Oktober 2011. Sirte adalah kota kelahiran Muammar Khadafi & pada kota itu pula dia wafat.

Paska tumbangnya pemerintahan Khadafi, Libya tak lagi sahih sahih utuh menjadi sebuah negara dengan satu pemerintahan. Pemerintahan yg terbentuk sesudah itu tidak pernah sahih sahih berkuasa dan mengendalikan negara. Dari aneka macam laporan media menjelaskan bahwa sampai hari ini Libya terpecah pecah pada aneka macam faksi menggunakan kekuatan dan daerah kekuasaan mereka masing masing.

Sudah berdiri semenjak zaman kolonial Italia dan masih bertahan hingga kini pada sentra kota Tripoli.

Pemerintahan pusat Libya yg diakui PBB dan negara negara global, nir mempunyai pengalaman & kekuatan buat menegakkan kewibawaan pemerintahan negara lantaran tidak mempunyai angkatan bersenjata nasional yg dapat diandalkan buat mengendalikan kondisi negaranya sendiri. Sementara kekuatan asing yg tadinya disambut hangat buat menggulingkan rezim khadafi ?Lepas tangan? Dengan buruknya situasi sesudah itu.

Islam sudah memerintah di daerah Libya selama hampir 13 abad meski menggunakan silih berganti dinasti. Dengan sejarah pemerintahan yang begitu panjang maka lumrah bila secara umum dikuasai penduduk Libya beragama Islam, & paska runtuhnya pemerintahan Khadafi beberapa faksi Islam pun bersikukuh buat menegakkan syariat Islam di negara tadi, ilham yg tak sejalan dengan faksi lainnya & menjadi galat satu amunisi ke-engganan masing masing faksi buat tunduk kepada pemerintahan Negara yang berpusat pada Tripoli.

Tentang kota Tripoli Sepintas Lalu

Tripoli merupakan ibukota negara Libya sekaligus kota terbesar di negara tersebut, dulunya merupakan pusat dari wilayah Tripolitania, salah satu nama yang dinisbatkan kepada wilayah Libya. Nama Libya baru digunakan tahun 1934 oleh Italia yang menjajah wilayah itu.  Di pusat kota Tripoli terdapat sebuah lapangan yang disebut Al-Jazair Square, tempat salah satu bangunan penanda kota ini berdiri, yakni Masjid Maidan Al-Jazair Square atau Masjid Jamal Abdel Nasser.

Tampak samping Masjid Maidan

Dilapangan yang berada di depan masjid ini seringkali dijadikan tempat pavorit warga Libya untuk berkumpul dan berorasi menyuarakan kebebasan berpendapat di muka umum paska keruntuhan pemerintahan Libya dibawah Presiden Muammar Khadafi.  Masjid Maidan ini juga merupakan bangunan dari masa pemerintahan mendiang Muammar Khadafi. Awalnya bangunan ini adalah sebuah katedral katholik yang terkenal dengan nama Tripoli Cathedral atau dalam Bahasa Italia disebut La Cattedrale di Tripoli.

Sejarah Masjid Maidan

Bangunan masjid Maidan ini awalnya merupakan sebuah katedral katholik Roma yang pertama kali dibuka secara resmi pada tahun 1928. Proses pembangunannya juga melibatkan seorang interior designer dari Libya yang bernama Othman Nejem. Pembangunannya di arsiteki oleh arsitek Italia Saffo Panteri, dengan rancangan gaya Romanesque dilengkapi dengan kubah besar di atapnya. Sedangkan Menara loncengnya dihias dengan ukiran gaya Venetian. Kala itu Katedral ini merupakan gereja katholik kedua yang dibangun di Tripoli setelah gereja Santa Maria degli Angeli, yang dibangun oleh komunitas orang orang Malta di Tripoli pada tahun 1870.

Ada sekitar 50,000 umat katholik pada Libya sebagian besar tinggal di daerah Tripoli & sekitarnya atau kurang menurut satu persen dibandingkan menggunakan penduduk Libya secara holistik. Kebanyakan menurut penganut Katholik di Libya adalah orang berdarah Itali, Malta, Imigran berdasarkan Philipina & para masyarakat migran lainnya. Sebagian akbar berdasarkan mereka bahkan telah meninggalkan Libya tahun 2010-2015 ketika pecah perang saudara pada Libya.

Di Ubah sebagai Masjid Maidan

Di Masa kekuasan Muammad Khadafi, lebih kurang tahun 1970 atau tahun 1990-an bangunan katedral tadi pada konversi menjadi bangunan masjid dengan nama Masjid Maidan Al-Jazair Square. Perubahan fungsi menurut katedral sebagai masjid telah merubah bangunan ini secara total meski pola bangunan usang masih tampak pada bangunan masjid ini. Hampir keseluruhan pernak Pernik menurut bangunan usang dibongkar & diganti menggunakan rancangan baru bergaya arabia. Bangunan tersebut masih difungsikan sebagai masjid hingga hari ini. ***

Monday, July 6, 2020

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Uqba, Masjid Agung Kairouan (darisites-tunisie)

Tunisia, Negeri muslim arab di ujung utara benua Afrika yang baru reda dari ketengan politik akibat demonstrasi masa besar besaran menuntut mundurnya pemetintahan presiden Ben Ali dari tampuk kekuasaan negara tersebut. Ben Ali pada ahirnya mundur dari jabatannya meski harus melarikan diri dari negara yang sudah membesarkan pundi pundi harta pribadinya itu.

Ada beberapa persamaan antara Indonesia dan Tunisia, sama sama negeri dengan mayoritas Muslim, sama sama pernah mencatatkan diri dalam sejarah sebagai negeri yang menurunkan presidennya melalui kekuatan demonstrasi masa, dan sama pernah di jajah negara Eropa. Bedanya mereka baru merdeka dari jajahan Prancis 20 Maret 1956, 11 tahun setelah kita merdeka dari Belanda di tahun 1945 tapi pemdapatan perkapita penduduknya jauh di meninggalkan kita, dengan jumlah penduduk hanya seperduapuluh dari penduduk negeri kita.

Ada satu persamaan lagi antara Indonesia danTunisia, tiap kota diTunisia memiliki masjid agung, sama persis dengan di negeri kita. Salah satu masjid agung yang begitu terkenal diTunisia adalah masjid Agung di kotaKairouan yang akan kita bahas dalam artikel kali ini. Masjid yang disebut sebut sebagai salah satu masjid tertua di Bumi, yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Aerial view Masjid Uqba dari sisi yang lain (Foto daripicasa album)
Masjid agung kota Kairouan resminya bernama Masjid Uqba Bin Nafi atau terkenal juga dengan nama Sidi Uqba atau Uqba Bin Nafis atau Uqba Bin Nafaa. Uqba Bin Nafi adalah salah satu sahabat Rosulullah S.AW. yang juga salah satu panglima perang Islam penakluk Afrika utara ke dalam pangkuan Islam. Beliaulah yang pertama kali membangun masjid ini tahun 670M sekaligus menjadi penguasa muslim pertama disana.

Di Biskra, Aljazair ada sebuah tempat bernama Sidi Uqba atau Sidi Oqba, tempat wafatnya Uqba bin Nafi dan dimakamkan. Di Sana juga berdiri sebuah Masjid Agung yang terkenal dengan nama Masjid Agung Sidi Uqba, atau Sidi Oqba. Masjid Agung yang juga dinamai sesuai dengan nama dan terkait dengan sejarah sahabat Rosulullah ini.

Alamat & Lokasi Masjid Agung Keirouan

Teletak di timur laut wilayah medina kota Kairouan, masjid ini masuk dalam wilayah Houmat a-Jami (wilayah Masjid Agung). Lokasi ini memang terkait dengan wilayah asli yang dibangun oleh Panglima Uqba Bin Nafis. Dalam perkembangannya wilayah yang memang menjadi pertemuan beberapa wadi beberapa suku, wilayah inipun berkembang ke arah selatan.

Kota Kairouan berjarak 116 kilometer dari Kota Tunis ibukota Tunisia. Kairouan berjarak 116 kilometer dari Tunis. Perjalanan ke sana membelah padang rumput yang kering. Banyak pohon anggur dan pohon zaitun sepanjang jalan. Ada pohon zaitun yang masih berbuah meski usianya sudah 1.000 tahun, di sepanjang perjalanan dari Tunis ke Kairouan yang beraspal mulus.

Kairouan atau dalam bahasa Arab Qayrawan yang berarti "kemah". Diambil dari Qayrawan yang digunakan oleh pasukan Uqba Bin Nafis selama dalam perjalanan dari Mesir sampai kemudian tiba di lokasi ini dan mendirikan kemah selama beberapa hari. Awalnya Kairouan adalah kota yang terpencil, jauh dari jalur perdagangan. Namun, sekarang menjadi salah satu tujuan wisata dan dianggap kota suci. Menurut legenda.saat rombongan Uqba berkemah, seekor kuda tersandung oleh sebuah piala yang tertimbun pasir. Piala ini konon hilang dari Mekah beberapa tahun sebelumnya. Ketika piala itu digali dari pasir, secara ajaib air me-mancar yang konon berasal dari sumber yang sama seperti sumber air Zamzam di Mekah.

Foto lama Masjid Uqba di awal abad ke 20 (Wikipedia)

Sejarah Masjid Agung Kairouan

Masjid agung ini merupakan masjid pertama yang dibangun di kota Kairouan, dibangun tahun 670M tak lama setelah kedatangan muslim Arab ke Afrika utara, bertepatan dengan tahun ke 50 Hijriah.

Ketika menaklukkan Tunisia di tahun 670 M, Panglima Uqba Bin Nafis memilih sendiri lokasi untuk pembangunan masjid ini, tepat di tengah kota yang belau dirikan. Sengaja dibangun berdekatan dengan kantor pusat pemerintahan. 20 tahun setelah dibangun, tepatnya di tahun 690M masjid ini hancur lebur oleh serbuan pasukan suku Berber yang mencaplok kota Kairouan di bawah pimpinan Kusaila.

Masjid Uqba (Wikipedia)

Tahun 703M, Hasan bin Al-Nu’man yang kemudian membangun kembali masjid ini dari kehancuran. Dengan terus membengkaknya penduduk kota Kairouan dan berkonsekwensi dengan membengkaknya pula jemaah masjid, Khalifah dinasti Umayyah Hisyam Ibnu Malik meminta Gubernur Bishr ibnu Safwan melaksanakan perluasan kota termasuk perluasan Masjid agung Kairouan di tahun 724-728M.

Dalam proses perluasan tersebut Bishr ibnu Safwan meruntuhkan masjid yg usang menggunakan hanya menyisakan bangunan mihrabnya, dibawah pemerintahan dia juga bangunan menara masjid ini mulai dibangun.

Tahun 774 rekonstruksi baru disertai dengan modifikasi dan penambahan pernak pernik hiasan dilakukan dibawah arahan dari Gubernur dinasti Abasiah Yazid Ibu Hatim. Era kekuasaan Aghlabids, Kairouan mencapai puncak kegemilangannya dengan masjid agung nya yang merupakan salah satu warisan ke emasan periode kekuasaan ini, dengan stabilitas dan kejayaan nya. Keseluruhan luas masjid yang kini ada adalah warisan dari dinasti ini.

Pintu Utama Masjid Uqba dari area halaman dalam (Wikipedia)

Sekitar tahun 862-863, Abul Ibrahim memperluas area mihrab, Di tahun 875 Ibrahim II kembali membangun mihrab ini. Masjid yang kini berdiri dapat ditelusuri ke era kekuasaan Aghlabids, tidak ada satu elemen pun yang berasal dari sebelum abad ke 9 masehi disekitar mihrab kecuali beberapa restorasi kecil  dan penambahan di masa pemerintahan Zirids tahun 1025, tahun 1249 dan 1293 hingga 1294 dibawah kekuasaan Hafsids dan tahun 1618 dimasa kekuasaan mouradites beys.

Restorasi besar besaran dilaksanakan tahun 1967 dilaksanakan dibawah arahan dari Institut Arkeologi dan Seni Nasional Tunisia. Restorasi dilaksanakan terhadap keseluruhan komplek masjid. pekerjaan restorasi ini selesai dilaksanakan dan di resmikan bertepatan dengan peringatan maulid nabi tahun 1972.

Gambaran tiga dimensi Masjid Uqba (Wikipedia)

Masjid agung Kairouan ini begitu besar , seluas 9000 meter persegi, menggunakan tembok dinding yg begitu akbar menggunakan sembilan g erbang utama. Non muslim diperkanankan berkunjung ke masjid ini melalui gerbang pada jalan rue Oqba ibn Nafaa dan diminta buat memakai kostum muslim. Di pintu masuk tadi pengurus masjid telah menyediakan jubah dan sandang yg layak bagi pengunjung non muslim buat bisa dipakai sebelum masuk ke area masjid.

Halaman tengah masjid ini dibuat menurut bongkahan bongkahan batu batu besar segi empat dilengkapi dengan sistem drainase yg sangat baik. Beberapa bagian laman ini dilengkapi dengan cekungan buat menampung debu supaya tidak turut masuk ke dalam sistem drainase. Dari laman tengah ini kita dapat menikmati keindahan setiap lengkungan yang menghias masjid ini yg terdiri berdasarkan sekitar 400 pilar tua. Pilar pilar tersebut konon pada ambil berdasarkan gedung gedung bekas bangunan gereja gereja Romawi, Bizantium dan bangunan Latin disekitar lokasi.

Di ujung utara halaman tengah berdiri bangunan menara masjid setinggi 115 kaki, bangunan menara yg masiv terdiri berdasarkan 3 lantai. Di lantai paling bawah yg dibangun tahun 728 masih masih ada inskripsi latin pada balok batu akbar jaman Rowami. Balok tersebut keliru satu material yang dipakai berdasarkan bangunan bekas sekitar lokasi.

Puncak Menara Masjid Uqba

Pintu utama masjid ini adalah pintu kayu berukir protesis tahun 1829M. Pengunjung non muslim nir dperkenankan buat masuk ke ruang sholat tetapi diperkenankan buat sekedar melihat menurut luar. Ruang primer masjid ini terdiri dari 17 lorong ditopang sang 414 tiang penyanggah menurut batu pualam menurut Carthage & Sousse. Ruang pada masjid alas dengan permadani diseluruh permukaan lantainya.

Mihrab masjid berada di lorong tengah ruangan, mihrab yang berasal dari abad ke 9 masehi ini berada di sisi selatan masjid dan tentu saja menghadap ke Ka’bah di Mekah Al-Mukarromah. Mimbar ini merupakan mimbar dari kayu penuh dengan ukiran cantik dan keseluruhan ukiran kayu tersebut didatangkan dari Bagdad (Irak). Disekitar masjid ini juga terdapat beberapa makam dari para tokoh dan ulama Kairouan.

Interior Masjid Uqba Bin Nafi

Dibawah pemerintahan Aghlabids bagian dari Bani Tamim di abad ke 9 masehi, sebuah pekerjaan besar restorasi, renovasi dan perluasan terhadap masjid ini dilakukan menghadirkan masjid yang kini dapat kita nikmati di Kairouan, Tunisia. Masjid Agung Uqba Bin Nafis dan berbagai tempat bersejarah lainnya di kota Kairouan ini memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perkembangan dan reputasi kota tersebut.

Kairouan Kota Santri

Setelah lebih dari 1400 tahun sejak pertama dibangun oleh Uqba Bin Nafis Masjid Uqba hingga kini masih menampakkan keanggunannya dan reputasinya. Kota Kairouan sendiri sampai kini terkenal sebagai kota santri di Tunisia.  Memasuki Kota Kairouan memang segera terkesan tentang sebuah kota santri yang bernuansa agamis.penduduk sekitar menyebutkan, ada sekitar 250 masjid yang tersebar di seluruh pelosok Kota Kairouan. Mereka juga mengungkapkan, dari seusai sholat magrib hingga waktu isa tiba, para murid dari Afrika, Tunisia, dan negara Arab lain menghafal Al Quran di Masjid Uqba bin Nafi. Kota Kairouan merupakan salah satu tujuan utama wisatawan dari mancanegara.

Video Masjid Agung Kairouan

Ada begitu banyak video tentang masjid ini di youtube, namun berikut ini saya pilihkan salah satunya untuk anda.

Referensi

sacret-destination.com – kairouan great mosque

en.wikipedia – mosque of uqba

resep.web.id – kairouan tunisia paduan khazanah dan modernitas

bataviase – ziarah ke makam tukang cukur nabi

www.ne.jp – sidi uqba mosque in qayrawan tunisia

sacretsites.com – kairouan

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------

Baca juga

Masjid (bernama) Indonesia pada Maroko

Masjid Hassan II ?Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Kembaran Masjid Baiturrahman Banda Aceh pada Yogyakarta

Masjid Tertua di Singapura, dibangun pengusaha Palembang

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Agung Kolombo, Warisan bangsawan Bugis pada Kolombo

Sunday, July 5, 2020

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair (foto dariPanoramio)

Masjid Sidi Uqba yang akan dibahas ini masih terkait menggunakan tokoh yg sama dengan Masjid Uqba, Masjid Agung Kairouan, Tunisia. Beberapa artikelpun bahkan ada yg menuliskan dua masjid yg tidak selaras ini menggunakan nama Masjid Sidi Uqba, yg akan membuat resah siapapun yang baru pertama membaca tentang dua masjid ini. Dua hal yang sebagai pembeda antara 2 masjid ini. Masjid Uqba pada Kairouan, Tunisia, dibangun sendiri sang Uqba Bin Nafi. Sementara masjid Sidi Uqba di Biskra dibangun justru disekitar Makam Uqba Bin Nafi sang penguasa disana untuk menghormati & mengenang jasa jasa dia, sekian ratus tahun setelah wafatnya Uqba Bin Nafi.

Sidi Uqba, merupakan sebuah kota kecil di Biskra, Aljazair. Tempat wafat dan dimakamkannya Uqba Bin Nafi dalam pertempuran melawan pasukan pemberontak dibawah pimpinan Kusaila atau Koceila di tahun 683M. Sidi Uqba yang berada sekitar 6 km sebelah selatan kota Tehouda dan sekitar 20 km sebelah timur kota Biskra, berada di jalan Khengat Sidi Nadji, Sidi Uqba, Biskra, Aljazair. Kata sidi sendiri berasal dari kata Sayidina. Seperti kata Siti di Indonesia yang konon berasal dari kata Sayidati.

Sejarah Masjid Sidi Uqba, Biskra

Masjid Sidi Uqba, dibangun sekitar tahun 416H / 1025M di era kekuasaan Dinasti Zirid. Menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid tertua di kawasan Afrika Utara. Sama seperti masjid Uqba bin Nafi di Kairouan di Tunisia, masjid Sidi Uqba juga dinamai dengan nama Uqba Bin Nafi. Uqba bin Nafi, gubernur Ifriqiya, wafat ditempat ini dalam peperangan melawan Koceila (kusaila) dan pasukannya yang sudah menunggunya di Tehouda sekembalinya beliau dari kemenangan ekspedisi yang beliau pimpin sendiri hingga ke Atlantik.

Perkiraan tanggal pendirian masjid ini di dasarkan pada data data historis yang terkumpul serta analisa gaya bangunan. G. Marcias menyebut tahun 67H/686M dan 416H/1025H sebagai tahun pendirian. Tahun 67H/686M merupakan tahun pembangunan komplek pemakaman Uqba Bin Nafi; dibandingkan dengan inskipsi di nisan makam dengan   dengan tulisan bergaya kairouan bertarikh 416H/1025M memberikan dugaan bahwa bangunan yang ada disekitar makam juga didirikan di tahun yang sama.

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair (foto dari Panoramio)
Inskripsi lain juga eksis di dinding bangunan. Sebuah papan kayu dengan ukiran tahun 1215H/1800M; memiliki kesamaan dengan mihrab masjid yang bertarikh 1214H/1789M. Menurut kapten H. Simon dalam bukunya “Notes sur le mausolée de Sidi Okba” (Revue africaine, 1909, pl. III), tarikh tersebut merupakan tarikh perluasan ataupun tahun perbaikan komplek masjid dan makam tersebut.

Arsitektur Masjid Sidi Uqba

Masjid dan tempat bersejarah ini menampakkan sebuah kesederhanaan, holistik elemen arsitektural-nya ditutup dengan adukan semen putih, tidak terdapat satupun material atau hiasan mahal yang digunakan di bangunan masjid & komplek pemakaman ini. Seperti kebanyakan masjid awal di

Foto tua masjid Sidi Uqba (artabu.com)
Denah masjid ini hampir sama dengan masjid Nabawi di Madinah. Bagian dasar tiang tiang masjid lebih ditinggikan sekitar 10 cm. Hal tersebut juga mempermudah meluruskan barisan shaf sholat bagi jemaah. Beberapa kolom merupakan batang pohon kurma yang di tutup dengan adukan semen putih, kemudian diperindah dengan hiasan yang juga terbuat dari adukan semen putih. Kolom kolom tersebut juga menyanggah lengkungan lengkungan yang sepi dari dekorasi.

Mihrab masjid ini dibentuk menggunakan rancang bangun seperti mihrab di masjid agung Bagdad, Ditandai dengan lengkungan besar dihias adukan semen dengan motif geometris sederhana menggunakan paduan warna merah dan hijau, ditambah dengan pola tabrakan tidak teratur & di mahkotai menggunakan kubah setengah lingkaran beralur. Masjid Agung Bagdad (Irak) dibangun sang Khalifah Abu Mansur tahun 762 M. Disebelah mihrab dilengkapi menggunakan pintu menurut papan kayu berukir dengan dekorasi bunga mawar & beberapa inskripsi arab. Dua kubah pada bangunan ini masing masing dibangun menutup ruang sholat utama di ruang yang berada pada depan mihrab dan satu kubah lagi menutup bangunan makam.

Interior masjid Sidi Uqba (dive-deep.org)
Ketiga sisi masjid ini dilengkapi dengan pintu utama, masing masing dengan dua daun pintu yang terbuat dari kayu cedar berukir sangat indah. Dalam proyek pengembangan yang dilaksanakan antara tahun 1969M hingga 1970M dilakukan renovasi terhadap bangunan masjid termasuk integrasi masjid menjadi komplek pusat kebudayaan Islam.

Bangunan makam Uqba Bin Nafi, dibagun tiga ratus 5 puluh tahun sehabis beliau dimakamkan disana, dilengkapi menggunakan hiasan hiasan termasuk pintu depan yg indah menggunakan seni ukir kayu berdasarkan era Fatimiyah yg mempunyai kesamaan menggunakan seni ukir pada masjid Uqba pada Kairouan, Tunisia. Ditambah dengan dekorasi bergaya arab yang seperti dengan anyaman. Beberapa detil hiasan masjid ini misalnya ukiran semak semak yang menjulur pula ditemukan kecenderungan menggunakan yang ada pada pintu dan mihrab masjid Agung Cordoba, Spanyol.

Sidi Uqba, kota wisata ziarah

Sidi Uqba menggunakan masjid tuanya, hingga sekarang sebagai kota wisata ziarah bagi kaum muslimin menurut berbagai kota di Aljazair & sekitarnya sampai ke manca negara. Makam Uqba Bin Nafi dan masjid Sidi Uqba menjadi magnet tersenditi bagi para peziarah muslim ataupun pengunjung non muslim yg ingin berziarah atau sekedar berkunjung ke salah satu loka yg memiliki nilai sejarah begitu tinggi bagi perkembangan peradaban Islam di benua Afrika bagian utara khususnya & bagi dunia Islam secara generik.

Video Masjid Sidi Uqba, Biskra

Foto Foto Masjid Sidi Uqba, Biskra

Foto dariPanoramio

Foto tua masjid Sidi Uqba (cgi.ebay.com)

Lukisan masjid Sidi Uqba (artabu.com)
Foto tua masjid Sidi Uqba (Wikipedia

Referensi

discoverislamicart.org – Sidi Uqba mosque minaret and tomb

fr.wikipedia – Mosque de Sidi Okba

fr.wikipedia – Oqba ibn Nafaa

fr.wikipedia – Sidi Okba

skyscrapercity.com - Mausoleum and mosque of Sayyida (Sidi) 'Uqba

-------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Afrika Lain nya

│Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso│Masjid King Fahd di Banjul, Gambia│Masjid Larabanga, Masjid Pertama di Ghana dan Afrika Barat│Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko│Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair│Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia│Masjid Gaddafi, Masjid Nasional Uganda│Masjid Nurul Islam, Cape Town, Afrika Selatan│Palm Tree Mosque Cape Town, Afrika Selatan│Masjid Auwal - Cape Town, Masjid Pertama di Afrika│Masjid Agung Djenne, Republik Mali│Potret Kearifan Lokal Masjid Mali│Masjid Nasional Abuja, Nigeria│Mengenal Lebih Jauh Masjid Agung Touba, Senegal│

Wednesday, May 20, 2020

Masjid Ketchaoua Aljazair

Masjid Ketchaoua landmark kota tua Casbah, Aljir.

Masjid Ketchaoua merupakan masjid tua di kota Aljir (Algiers), Ibukota Aljazair (Algeria), masjid ini berdiri di wilayah Casbah pada pada kota Aljir dan dibangun dimasa kekuasaan dinasti Usmaniyah di abad ke 17 masehi, & sudah terdaftar sang UNESCO menjadi warisan budaya global.

Masjid ini berdiri pada bagian anak tangga pertama Casbah yang memang mempunyai banyak anak tangga, yg secara logistik & simbolis merupakan titik perhatian dalam masa pra-kolonial bagi kota Aljir. Bangunan masjid ini dikenal luas keunikannya karena memadukan gaya arsitektur Bangsa Moor (Maroko) & gaya arsitektur Byzantium (Romawi Timur).

Bangunan orisinil masjid ini awalnya dibangun tahun 1612, namun kemudian pada ubah fungsi menjadi Katedral St Philippe pada tahun 1845 pada masa penjajahan Prancis pada Aljazair sampai tahun 1962, dan di tahun 1962 jua dikembalikan lagi kegunaannya sebagai masjid.

Meskipun sudah melewati rentang waktu begitu usang hampir selama empat abad & sempat dialih fungsi menjadi gereja, masjid ini masih menampakan kemegahannya yang orisinil dan menjadi galat satu objek wisata sejarah paling penting pada Aljazair.

Casbah, loka masjid ini berdiri, merupakan bagian paling bersejarah pada Aljir, letaknya berada di sisi utara kota, terpaut lebih kurang 250 meter sebelah barat menurut Masjid Agung Aljazair, tempatnya berdiri pula berdekatan menggunakan istana uskup Aljazair & gedung perpustakaan Nasional.

Sejarah Masjid Ketchaoua

Sejarah Masjid Ketchaoua tidak dapat dipisahkan menurut sejarah kota kuno Casbah yang Dibangun pada situs bekas tempat berdirinya Icosium, pemukiman orang orang Phoenisia pada masa lalu. Pada saat pembangunannya sang dinasti Usmaniyah di abad ke 17 masehi, Casbah adalah bagian inti kota.

Eksterior Masjid Ketchaoua

Lokasinya sangat strategis, berdiri megah pada anak tangga pertama Casbah yang menunjuk ke 5 gerbang kota di distrik-nya para aristokrat, yang merupakan loka tinggalnya orang orang kaya dan keluarga kerajaan, para tokoh politik dan para pelaku usaha terkemuka pada masa itu.

Casbah sendiri berarti benteng, berdiri di tepian laut mediterania. Sebuah kota islam yang unik yg memposisikan Masjid Ketchaoua pada tengah tengah nya. Posisi masjid ini juga sebagai titik temu berdasarkan persimpangan jalan menurut bagian bawah Casbah menuju ke 5 gerbang kota Aljir, misalnya telah disebutkan tersebut.

Masjid ini terlihat jelas berdasarkan pulau tempat berdirinya pos dagang orang orang Charthaginia di abad ke 6. Sedangkan kota kota Aljazair sendiri baru dibangun sang orang orang Zirid pada abad ke 10, & selama berabad abad sehabis itu penguasa loka ini silih berganti dari bangsa Birbir, Romawi, Romawi Timur (Byzantium), Arab & Spanyol pun meninggalkan pengaruhnya disini

Ada pula yang menyatakan bahwa masjid ini telah dibangun pada abad ke 14 masehi, namun dokumen dokumen resmi yg ditemukan menerangkan bahwa masjid ini baru dbangun di tahun 1612 (abad ke 17). Namun demikian memang terdapat proses pembangunan pulang oleh Hasan Pasha, merujuk pada inskripsi peringatan pada abad ke 18 (tahun 1900-an) dalam waktu masjid ini disebut menjadi sebuah ?Keindahan tidak tertandingi?.

Interior Masjid Kechaoua

Di ubah menjadi Katedral kemudian sebagai Masjid Lagi

Di tahun 1838 masjid ini pada ubah sebagai Katedral St. Philippe sang penjajah Prancis yang pada waktu itu menjajah Aljazair & dalam tahun 1840 secara resmi lambang salib di letakkan di puncak bangunannya sang Marshal Sylvain Charles Val?E, seiring dengan jatuhnya kota Constantin ke tangan Prancis.

Dan saat Aljazair memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1962, bangunan ini dikembalikan lagi ke fungsinya semula menjadi Masjid Ketchaoua, & dinyatakan menjadi bangunan krusial bagi budaya & kepercayaan , dan telah memperkaya khasanah catatan sejarah mengenai masjid ini yg disebut sebut sebagai ?Masjid yg di ubah sebagai gereja dan menjadi masjid pulang?.

Pengembalian kegunaannya sebagai masjid dilaksanakan pada tahun pertama kemerdekaan Aljazair dalam sebuah upacara resmi yang dipimpin oleh Tawfiq al Madani, selaku Menteri urusan pelabuhan, dan diselenggarakan pada Ben Badis Square (sebelumnya diklaim dengan Lavigere).

Momemtum tadi digambarkan sebagai ?Penaklukkan kembali keaslian Aljazair sebagai simbol tertinggi dari pemulihan integritas nasional?. Terpisah berdasarkan masjid Ketchaoua, Casbah jua masih mempunyai residu reruntuhan Citadel, bangunan masjid tua yang lainnya, istana bergaya Usmaniyah serta reruntuhan perkotaan tradisional masa lalu.

Arsitektur

Pintu masuk utama masjid ini dilengkapi dengan 23 anak tangga. Pada pintu masuknya terdapat portico berornamen, yang ditopang sang empat kolom berdasarkan batu marmer bercorak hitam. Didalam masjid masih ada jejeran arcade yg dibangun memakai kolom kolom batu marmer putih. Keindahan ruangan masjid ini, menara & langit langitnya di aksentuasi dengan sentuhan seni plester semen bergaya Moor.

Masjid Kethaoua di abadikan dalam keliru satu seri perangko Aljazair

Masjid ini kini terlihat kentara dari lapangan terbuka pada Casbah, menggunakan pemandangan bahari di sisi depan dan memiliki dua menara berdenah oktagonal yg mengapit pintu masuknya. Dengan sentuhan gaya Moor dan Byzantium menghadirkan pemandangan yg memukau.

Sebagian besar dari kolom kolom marmer putih masjid ini memang asal berdasarkan bangunan asli. Dan uniknya di dalam salah satu ruangan masjid ini masih ada makam dari San Geronimo, menurut masa penjajahan Prancis ketika masjid ini dijadikan Katedral.

Restorasi

Restorasi terhadap masjid ini dilaksanakan pada tahun 2009 sang Departemen Warisan Budaya Aljazair, meliputi perbaikan terhadap menara masjid, ruang tengah dan pembatas tangga di dalam masjid. Proyek restorasi tersebut direncakan akan rampung dalam waktu 12 bulan. Hal tersebut cukup mendesak karena keliru satu dari menara masjid ini terancam runtuh sebagian.

Restorasi tersebut dijalankan pada tiga tahap termasuk restorasi terhadap Casbah nya sendiri secara generik. Rencana tadi sudah diluncurkan semenjak September 2008 meliputi renovasi sejumlah masjid antik di Aljir serta mengubah beberapa tempat tinggal rumah tua pada Casbah menjadi perpustakaan generik dengan dana awal yg dikucurkan mencapai 300 juta Dinar Aljazair.***

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

🌎 informasi dunia Islam.

------------------------------------------------------------------

Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Djama%C3%A2_el_Kebirhttp://www.djazairess.com/fr/elwatan/289711

Baca Juga

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Tuesday, May 19, 2020

Masjid Djama’a al-Djedid Aljir, Aljazair

Masjid Al-Jadid Aljir, Aljazair

Masjid Al-Jadid dalam bahasa Inggris disebut dengan nama The Djama’a al-Djedid, sedangkan dalam bahasa setempat disebut dengan nama Jamaa al-Jadid sedangkan dalam bahasa Turki disebut dengan nama Yeni Camii yang berarti Masjid Baru, adalah masjid kuno di kota Aljir, ibukota negara Aljazair.

Masjid ini dibangun pada tahun 1660 Masehi atau 1770 Hijriah dan Pada masa penjajahan Prancis di Aljazair masjid ini disebut dengan nama Mosquée de la Pêcherie atau Masjid di dermaga nelayan (the Mosque of the Fisherman's Wharf).

Kubah utama masjid ini dibangun cukup tinggi hingga mencapai ketinggian 24 meter di topang dengan empat pilar penyangga dengan dasar bundar besar dan dilengkapi dengan tatakan seperti umpak. Di ke empat penjuru masjid di tutup dengan empat kubah setengah bundar berdenah dasar octagonal.

Tarikh pembangunan masjid ini disebutkan dalam sebuah plakat yang ditempatkan diatas pintu masuk utama masjid ini, disebutkan disana bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1770 Hijriah atau tahun 1660 Masehi, oleh Haji Habib yang merupakan Gubernur Aljazair, yang ditunjuk oleh pemerintahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Istanbul, Turki.

Pada masa itu, wilayah Aljazair merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Usmaniyah. Haji Habib sendiri merupakan anggota pasukan khusus Infanteri Dinasti Usmaniyah yang disebut Janissary atau Yanisari atau dalam bahasa Turki disebut yeniçeri, yang berarti Pasukan Baru.

Pasukan ini merupakan pasukan elit pertama di Eropa yang dibentuk dimasa kekuasaan Sultan Murad I (1362–89) sebagai pasukan pengawal pribadi Sultan dan memang dilatih berkemampuan khusus sebagai pasukan yang memiliki loyalitas tinggi dan hanya patuh kepada perintah Sultan.

Eksterior Masjid Al-Jadid

Pembangunan masjid Al-Jadid ini dibangun dengan gaya arsitektur masjid masjid Usmaniyah baik dari bentuk struktur bangunan maupun ornamen nya namun mengingat lokasi pembangunannya yang berada di wilayah Afrika utara, budaya lokal turut mempengaruhi seni bina masjid ini.

Hasilnya adalah sebuah masjid yang cukup unik dengan penggabungan beberapa tradisi seni bina bangunan masjid, termasuk juga penggunaan beberapa elemen dari gaya arsitektur Andalusia dan Italia yang pada saat itu juga berpengaruh di kawasan Afria Utara.

Lokasi masjid ini berada di ujung barat dari Place des Martyrs, sedangkan sisi kiblatnya bersebelahan dengan sisi utara dari Boulevard Amilcar Cabral, tempat dimana Masjid Agung Almoravid Aljazair (The Almoravid Grand Mosque of Algiers) juga berada terpaut hanya sekitar 70 meter ke arah timur dari Masjid Al-Jadid ini.

Sisi tenggara masjid ini tak seberapa jauh dari ruas jalan pelabuhan nelayan kota Aljir, itu sebabnya masjid ini juga seringkali secara tak resmi juga disebut dengan the Mosque of the Fisherman's Wharf atau masjid di pelabuhan nelayan, dan faktanya masjid ini memang banyak digunakan oleh para nelayan yang beraktifitas di lokasi tersebut.

Interior Masjid Al-Jadid

Seperti halnya dengan Masjid Ketchaoua (1612), Masjid Al-Jadid ini sesungguhnya juga berada di dalam wilayah Casbah Almohad kota Aljir yang sebagian besar mengalami kehancuran dimasa penjajahan Prancis di Aljazair di abad ke 18.

Secara umum masjid ini berukuran lebar 27 meter (timur barat) dan panjangnya 48 meter (utara-selatan), arah bangunannya sendiri sedikit miring hingga 28 derajat terhadap kutub utara selatan menyesuaikan dengan garis kiblat, sisi kiblat masjid ini berada di sisi selatan bangunan, mengingat bahwa lokasi Ka’bah di kota Mekah berada di selatan negara Aljazair.

Jejeran tiang tiang penyangga atap di dalam masjid ini membentuk tiga lorong memanjang dan lima lorong sejajar dengan garis shaf masjid. Lorong bagian tengah masjid ini menjadi titik tengah tempat pintu masuk utama berada segaris dengan mihrab.

Ada delapan tiang besar di dalam masjid ini masing masing tiang berukuran sekitar dua meter persegi, masing masing tiang dihubungkan dengan lengkungan beton sekaligus menjadi penopang struktur atap diatasnya. Masing masing lengkungan ini mencapai ketinggian sekitar 9 meter dari permukaan lantai pada bagian lengkungan tengahnya yang merupakan bagian tertinggi.

Kubah utama masjid ini berdiameter sekitar 10 meter, dasar kubahnya menjulang sekitar 8 meter dari penopang tertingginya bertumpu di atas tiang tiang masjid. Puncak tertinggi kubah utama masjid ini mencapai 24 meter. Struktur penopang kuba masjid ini juga berbentuk bundar dilengkapi dengan empat jendela di empat sisi untuk penerangan di siang hari.

Mimbar dan mihrab masjid ini ditempatkan tepat dibawah kubah utama masjid. Karena letak kubah utama masjid ini tidak berada di tengah tengah bangunan, namun lebih berada di atas lorong shaf terdepan pada sumbu tengah bangunan, dan bukan pada sisi tembok sisi kiblat di bagian terdepan masjid.

Masjid Al-Jadid di malam hari

Seiring dengan pembangunan kota Aljir berakibat pada semakin tingginya permukaan jalan raya di sekitar masjid ini menyebabkan lantai masjid ini lebih rendah dari permukaan jalan raya dan karenanya kemudian pintumasuk masjid ini dilengkapi dengan beberapa anak tangga untuk masuk ke masjid. Saat ini lantai bawah masjid ini sudah berada lima meter lebih rendah dari permukaan jalan raya.

Hampir keseluruhan tembok luar masjid Aljadid di cat dengan warna putih dari tembok hngga kubah nya kecuali sedikit saja beberapa bagian diberikan sedikit ornament dengan warna berbeda. Satu hal yang menarik dari Masjid Al-Jadid ini adalah bahwa meskipun secara umum bangunan masjid ini dibangun dengan gaya Usmaniyah namun teramat berbeda dengan bangunan menaranya.

Bangunan menara masjid ini justru dibangun dengan gaya Afrika Utara, berupa bangunan menara berdenah segi empat, tidak seperti gaya menara Usmaniyah yang bundar, tinggi dan lancip. Pada mulanya menara masjid ini hanya setinggi 13 meter saja, namun kemudian dibangun lebi tinggi hingga 25 meter dari permukaan tanah Place des Martyrs seiring dengan semakin tingginya permukaan jalan raya.

Bangunan menara ini terdiri dari tiga lantai yang dihubungkan dengan tangga tertutup di dalam menara. Pada tingkat ke tiga nya ditempatkan sebuah jam berukran besar. Jam ini ditempatkan oleh Bournichon, yang diambil dari Palais Jénina. Menara masjid ini juga dilengkapi dengan balkoni yang ditempatkan di bagian teratasnya. Bentuk menar seperti ini memang tidak lazim bagi sebuah bangunan masjid dari era dinasti Usmaniyah dan itu justru menjadi salah satu keunikan dari masjid Al-Jadid di Kota Aljir, Aljazair ini.***

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

🌎 informasi dunia Islam.

------------------------------------------------------------------

Referensi

https://en.wikipedia.org/wiki/Djama%E2%80%99a_al-Djedid https://en.wikipedia.org/wiki/Janissaries

dan berbagai sumber dari internet

Baca Juga

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done