Islami Pedia: Serial 10 Masjid Tertua di Indonesia
News Update
Loading...
Showing posts with label Serial 10 Masjid Tertua di Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Serial 10 Masjid Tertua di Indonesia. Show all posts

Friday, October 23, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Rangkaian bangunan di komplek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini ditandai dengan tembok pagarnya yang berwarna merah dengan tiga gerbang paduraksa. Bangunan aslinya adalah bangunan dengan atap paling tinggi seperti terlihat pada foto di atas. Langgam bangunan Jawa sangat kental pada bangunan masjid ini.

Pembauran Seni Arsitektural di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Bangunan utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun dalam bentuk atap bersusun tiga meski tidak berbentuk piramida (prisma) seperti Masjid Agung Demak. Makna mendalam terselip dalam susunan atap yang bersusun tiga ini. kepercayaan lama ditanah air memaknainya sebagai tiga tahapan kehidupan manusia mulai dari kehidupan di dalam Kandungan, di alam dunia dan di alam setelah kematian. Sedangkan dalam makna Islami diterjemahkan sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Selain bentuk atap limas bersusun, di masjid ini juga menyerap bentuk punden berundak pada pagar batanya yang mengitari kawasan masjid. Menilik jauh ke belakang, kamus besar bahasa Indonesia memaknai punden berundak ini sebagai “bangunan pemujaan tradisi megalitikum yg bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat”. Dan nyatanya makna tersebut tak bergeser hingga kini meski dalam kontek yang berbeda.

Bentuk Gerbang paduraksa dimasjid agung Cirebon, digunakan pada tiga gerbangnya termasuk gerbang utama. Bentuk gerbang seperti ini merupakan warisan budaya sebelum Islam.

Selain itu tiga gerbang depan masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengadopsi bentuk gerbang Paduraksa yang biasa digunakan pada bangunan bangunan candi, dengan berbagai modifikasi, namun ornamen punden berundak tak hilang dari gerbang ini, termasuk ornamen yang ditempelkan menjadi penghias gerbang dan pintu besarnya.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Perbedaan mendasar antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini baru terasa pada saat kita masuk ke dalam bangunan utama yang merupakan bangunan asli. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter.

seluruh dua belas sokoguru utama di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa sudah di topang dengan besi baja untuk menjaga keutuhan struktur kayu bangunan masjid tua ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian.

Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika. Keseluruhan sokoguru masjid ini berdiri di atas umpak batu kali. Umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat dan di bagian serambi berbentuk kotak.

Rangkaian rumit saling silang pasangan kayu konstruksi di dalam masjid ini benar benar melemparkan kita ke masa lalu mengingat teramat sulit untuk menemukan bangunan baru dengan rancangan yang serupa. Atap puncak masjid (wuwungan) ditopang oleh dua sokoguru paling tengah. Dan diantara dua sokoguru ini yang menjadi titik tengah bangunan utama sekaligus menjadi titik berdirinya muazin saat mengumandangkan azan termasuk azan pitu (azan tujuh) saat sholat Jum’at.

::Maksurah::

Maksurah. Di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ada dua Maksurah. Satu maksurah ditempatkan di shaf paling depan bersebelahan dengan mimbar, satu maksurah lagi ditempatkan pada shaf paling belakang disebelah kiri pintu masuk utama.

Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman.

Maksurah, banyak ditemui di masjid masjid tua Arabia, Afrika Utara hingga wilayah wilayah bekas kekuasaan emperium Turki Usmani. Fungsi awalnya adalah sebagai perlindungan bagi Sultan dan pejabat tinggi kerajaan selama melaksanakan sholat di masjid dari kemungkinan serangan fisik terhadap petinggi kerajaan. Di dalam maksurah ini pada masanya juga dilengkapi dengan senjata ringan pembelaan diri seperti tombak dan lainnya.

::Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa::

Ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.

Menjadi lebih menarik manakala kita masuk ke dalam bangunan masjid ini. nyaris tak ada ornamen Islami seperti yang biasa kita temukan di dalam sebuah bangunan masjid bergaya Arabia. Mihrab dan mimbar di masjid ini sepi dari ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Mihrab nya sendiri dibangun dari batu batu pualam berukuran floral, yang berpusat pada bentuk yang menyerupai bunga matahari pada bagian puncak mihrab.

Adanya bentuk bunga matahari di mihrab masjid ini mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit. Memang tak mengerankan, karena konon memang proses pembangunan masjid ini turut melibatkan Raden Sepat yang tak lain adalah panglima pasukan Majapahit yang kalah perang dalam serangannya ke Demak di masa kekuasaan Raden Fatah dan kemudian memeluk Islam.

Pola ukiran diatas mimbar masjid Agung Cipta Rasa ini sangat mirip dengan bentuk mahkota raja raja Jawa. Lebih menariknya lagi adanya ornament bunga matahari di bagian tengahnya itu mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit.

Maka wajar bila kemudian ada banyak kemiripan antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Sang Cipta Rasa ini termasuk Masjid Agung Banten di Banten Lama, provinsi Banten karena memang melibatkan orang yang sama dalam proses pembangunannya. Sampai sejauh ini belum ditemukan catatan tentang Raden Sepat dan sisa pasukannya yang dibawa ke Cirebon termasuk dimana beliau dimakamkan.

Seluruh bagian mihrab masjid ini menggunakan batu pualam putih. Selain ukiran floral dibagian atas mihrab, juga terdapat dua pilar pualam disisi kiri dan kanannya. Konon pilar ini di ukir oleh Sunan Kali Jaga dalam bentuk kelopak bunga teratai. Selain ukiran floral di sisi kiri dan kanan bagian depan mihrab ini terdapat ukiran geometris yang sangat menarik serupa dengan ukiran pada dinding depan masjid. Di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ubin tersebut dipasang olehSunan Gunung Jati,Sunan Bonang, danSunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Balok balok penghubung antara satu tiang dengan tiang lainnya di masjid ini bersusun hingga lima balok penghubung antara masing masing tiang untuk saling menguatkan, sedangkan dibagian bawah masing masing sokoguru ini berupa umpak batu berbentuk bundar.

Ada dua mimbar yang serupa di dalam masjid ini. dua duanya penuh dengan ukiran yang sangat indah. Satu mimbar diletakkan di sisi mihrab yang digunakan saat sholat Jum’at dan dua hari raya sedangkan mimbar yang lainnya diletakkan disebelah maksurah merupakan mimbar lama yang sudah tidak dipakai lagi. Pada bagian kaki mimbarnya ada bentuk seperti kepala macan, mengingatkan pada kejayaan Prabu Siliwangi raja Padjajaran yang tak lain adalah Kakek dari Sunan Gunung Jati dari garis Ibu.

::Masjid dengan Sembilan Pintu::

Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi utara dan selatan (kanan dan kiri) bangunan utama dengan ukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu.

Bungkukkan badan, rendahkan hati. Adalah pesan tak tertulis setiap kali kita akan masuk ke dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini melalui salah satu dari delapan pintu sampingnya yang sengaja dibuat dalam ukuran kecil.

Pada hari biasa hanya ada satu pintu yang senantiasa dibuka oleh pengurus masjid yakni satu pintu di sisi kanan bangunan. Seluruh delapan pintu samping masjid ini sengaja dibuat dalam ukuran kecil dan sempit memaksa setiap orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

Delapan pintu samping ini juga dilengkapi dengan daun pintu yang ukurannya juga kecil di cat warna hijau dan sepi dari ukuran. Berbeda dengan pintu utamanya yang berukuran besar dan penuh dengan ukiran yang sangat indah.ruang dalam masjid ini juga tidak digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu. Pelaksanaan sholat lima waktu dilaksanakan di pendopo depan. Sebuah partisi berukir dari kayu jati di sisi depan area pendopo sebagai penanda tempat bagi imam.

::Masjid Benteng atau Benteng Masjid ?::

Latar belakang merah pada foto interior masjid di atas merupakan tembok bata yang mengelilingi seluruh bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Tembok bata ini dibangun hanya tak sampai setengah dari tinggi keseluruhan bangunan-nya menyisakan sisi atasnya tetap terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Namun bagian itu kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat.

Tembok bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dari susunan bata merah yang sama sekali tidak diplester, namun memiliki ketebalan hampir 70cm. tembok yang sangat tebal layaknya tembok sebuah benteng. Tembok ini hanya dibangun setengah saja tidak sampai ke atap, bagian atasnya dibiarkan terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Hanya saja bagian terbuka di sisi atas tembok ini kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat untuk menghindari masuk dan bersarangnya burung dan hewan lainnya di dalam masjid.

Namun kehadiran dinding kaca dan anyaman kawat tersebut justru menghilangkan salah satu ciri khas masjid ini yang memang dirancang terbuka sebagai sebuah bangunan tropis. Ditambah lagi dengan bentuk ornamen kaligrafi yang digunakan untuk menghias dinding kaca tersebut tak senada dengan arsitektural keseluruhan bangunan asli. Ditambah lagi dengan konsekwensi rusaknya sirkulasi udara hingga harus dikonpensasi dengan pemasangan beberapa kipas angin di bagian dalam.***

Bersambung kebagian-3

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Thursday, October 22, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Masjid Agung Sang Cipta Rasa di depan Keraton Kasepuhan Cirebon ini dibangun setahun setelah pembangunan Masjid Agung Demak sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa. Dibangun atas usulan Putri Pakungwati kepada suaminya, Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) merupakan masjid tua di kompleks Keraton Kasepuhan,Cirebon,Jawa Barat,Indonesia. masjid ini adalah masjid tertua diCirebon,sekaligus sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Dibangun sekitar tahun 1480M atau semasa denganWali Songo menyebarkanagama Islam di tanahJawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.

Pembangunanmasjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang terdiri dari mantan pasukan Majapahit, dari Demak, dan dari Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya,Sunan Gunung Jati menunjukSunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu,Sunan Gunung Jati juga memboyongRaden Sepat, seorang mantan panglima pasukan Majapahit yang juga memiliki kemampuan rancang bangun, untuk membantuSunan Kalijaga merancang masjid tersebut.

Lokasi Masjid Agung Sang Ciptarasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Jalan Keraton Kasepuhan 43,Kelurahan Kesepuhan

Kecamatan Lemahwungkuk,Kota Cirebon

Jawa Barat,Indonesia

6° 43' 31.97" S, 108° 34' 11.71" E

Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak ±100 m sebelah baratlaut dari Keraton Kasepuhan, tepatnya disisi barat alun alun keraton Kesepuhan. Ciri utama bangunan masjid ini adalah tembok pagar kelilingnya yang dibangun dari bata merah dengan tiga pintu gerbang berbentuk padureksa.

Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Situs pemerintah propinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa : “Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 M oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Mesjid ini dinamai Sang Cipta Rasa karena merupakan pengejawantahan dari rasa dan kepercayaan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933, terlihat bangunan asli dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebelum dilengkapi dengan berbagai bangunan tambahan seperti yang kini kita lihat (foto : wikipedia)

Penduduk Cirebon pada masa itu menamai mesjid ini Mesjid Pakungwati karena dulu terletak dalam komplek Keraton Pakungwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan komplek Keraton Kesepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh”.

Masih menurut situs yang sama, disebutkan bahwa Masjid Sang Cipta Rasa ini menjadi tempat tutup usianya Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, dalam usia yang sangat tua di tahun 1549. Nama keraton Pakungwati bagi keraton kesultanan Cirebon (kini menjadi keraton Kasepuhan) dinisbatkan kepada dirinya karena memang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, ayahanda beliau yang juga merupakan putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.

Denah Masjid Agung Sang Ciptarasayang menunjukkan bagian bagian masjid lama : garis hitam A-A merupakan dari batu bata merah yang amat tebal. B: Michrab. C-C: titik penjuru dari bagian masjid lama, batas perluasan setelah terjadi kebakaran di abad ke 15. Tiang tiang kayu asli dari bangunan lama merupakan tiang tiang dalam kotak hitam C-C yang ditandai dengan tanda hitam, sedangkan tiang tiang yang dibangun kemudian di abad ke 19 adalah tiang yang ditandai dengan tanda lingkaran. (foto darilecturer.ukdw.ac.id)

Adapun Raden Sepat sebelumnya merupakan panglima pasukan Majapahit yang ditugasi memimpin pasukan menyerbu dan menaklukan Kesultanan Demak yang baru berdiri. Penyerbuan yang berahir dengan kekalahan. Beliau dan sisa pasukannya tak pernah kembali ke Majapahit karena memutuskan untuk mengabdi kepada Sultan Demak dan masuk Islam.

Pasangan Masjid Agung Demak

Menurut satu riwayat tutur menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini merupakan pasangan dari Masjid Agung Demak. Pada waktu pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Karena merupakan masjid yang sepasang maka, kedua masjid ini memiliki wataknya masing masing. Bila masjid Agung Demak berwatak Maskulin dengan tampilannya yang gagah, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berwatak feminim.

Masjid Sepasang. Bisa temukan kemiripannya ?. sejarah tutur menyebutkan bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dengan watak maskulin maka bangunan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon dibangun dengan watak Feminim.

Diceritakan juga bahwa para wali pada saat masjid ini selesai didirikan berjamaah sholat Maghrib disini dan kemudian Sholat Subuh di Masjid Demak. Sementara versi yang lain bahwa masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam, karena pada waktu ke esokan harinya sudah dipakai untuk sholat subuh. Sebagai sebuah pasangan disebutkan bahwa pembangunan dua masjid ini dilakukan bersamaan atau setidaknya dalam waktu yang tidak terpaut jauh.

Kontradiksi Tahun Pembangunan

Hanya saja bila mengikuti tahun pembangunan seperti yang disebut oleh situs pemprov Jabar bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun tahun 1498M, sedangkan pembangunan Masjid Agung Demak oleh Raden Fatah dilaksanakan tahun 1401 Saka atau 1477M (dua tahun setelah berdirinya kesultanan Demak), sepertinya cerita bahwa masjid ini dibangun dalam waktu bersamaan diragukan keberannya.

Gerbang Paduraksa atau Padureksa warisan dari kebudayaan Indonesia sebelum Islam di serap menjadi gerbang Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menjadi satu penanda bahwa masjid agung Cirebon dibangun oleh dan untuk muslim yang berasal dari berbagai latar belakang. pembangunan masjid ini pun dalam sejarahnya melibatkan berbagai kelompok masyarakat Jawa, Demak, Majapahit dan Cirebon sendiri.

Catatan Keraton Kasepuhan Cirebon, yang mengacu pada candrasengkala, masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada “waspada panembahe yuganing ratu”.Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka. Dari catatan tahun Saka tersebut-pun terpaut waktu 21 tahun yang memisahkan pembangunan antara kedua bangunan masjid tua tersebut.

Namun beberapa sejarawan justru memilih tahun 1478 sebagai tahun pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa bersamaan dengan didirikannya Kesultanan Cirebon dengan Sultan pertamanya Sunan Gunung Jati. Tahun 1478 hanya selisih satu tahun lebih muda bila dibandingkan dengan pembangunan masjid Agung Demak (1477).

Arsitektural Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tiga gerbang di bagian depannya tapi hanya satu gerbang di sebelah utara (kanan) ini yang paling sering dibuka di hari hari biasa menjelang waktu sholat. Diluar waktu sholat pengunjung harus melewati gerbang belakang dengan melewati jalan setapak di sebelah kanan tembok utara masjid atau lebih ke kanan dari foto di atas.

Dari sudut pandang arsitektur, Masid Agung Sang Cipta Rasa ini memang mewakili watak feminin. Tidak seperti masjid-masjid wali pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug atau limas bersusun dengan jumlah ganjil, Masid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan diatasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Bisa jadi inipun juga perlambang dari sifat feminin-nya. Bentuk konstruksi secara keseluruhan-pun terlihat lebih pendek dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang kelihatan tinggi dan gagah.

Denah Bangunan

Bangunan utama masjid Agung Sang Cipta Rasa berdenah persegi panjang seluas sekitar 400 meter persegi. Beberapa bangunan tambahan kini mengitari bangunan utama. Ada dua pendopo besar persegi panjang yang dibangun dan ditambahkan disisi timur (depan), dua pendopo panjang di sisi utara (kanan) dan satu pendopo dengan ukuran yang serupa juga dibangun disisi selatan (kiri).

Denah Masjid Agung Sang Cipta Rasa saat ini. Gerbang belakang yang ditunjukkan dengan panah warna ungu adalah gerbang yang senantiasa dibuka untuk pengunjung masjid 24 jam sehari semalam. pengunjung luar kota biasanya akan langsung dikenali oleh para pengurus masjid dan diminta untuk mengisi buku tamu yang sudah disediakan di meja kecil di pendopo beberapa meter dari gerbang tersebut.

Bangunan tempat wudhu dan kamar mandi juga dibangun kemudian di sisi paling utara dan selatan. Sayangnya bangunan tempat wudhu dan kamar mandi ini dibangun dengan tidak mengikuti pakem dari bangunan utama maupun bangunan tambahannya sehingga terlihat sangat kontras. Ditambah lagi dengan tidak adanya pemisahan yang jelas antara area jemaah wanita dan pria.

Bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dapat dikenali dari tembok pagar dan gapuranya yang sangat khas. Tembok pagar masjid ini menggunakan susunan bata merah tanpa di plester memberikan kesan yang sangat unik, ditambah dengan padanan gerbang paduraksa yang kini menjadi ikon masjid Sang Cipta Rasa.***

Bersambung kebagian-2

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Wednesday, October 21, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Gerbang sisi baratnya.

Kebakaran dan Renovasi Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Baik catatan sejarah maupun sejarah tutur yang berkembang di masyarakat Cirebon, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini sempat mengalami kebarakaran hebat pada masa Awal bedirinya bangunan masjid ini. Disebutkan bahwa masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat yang pada bagian atapnya yang masih menggunakan daun rumbia sebagai akibat terror dari pendekar Menjangan Wulung yang memiliki kesaktian ilmu hitam. Kisah ini terkait dengan sejarah awal dikumandangkannya Azan Pitu (azan tujuh) di Masjid ini.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1549, Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang merupakan istri pertama Sunan Gunung Jati, wafat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam usia yang sangat tua setelah turut serta berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda Masjid Agung ini. Apakah kedua rentetan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama ? wallohua’lam. Paska kebararan yang mengakibatkan kerusakan pastinya dilakukan perbaikan atas bagian bagian yang rusak, meski tak ada catatan pasti tentang proses perbaikan tersebut.

:: Pemugaran Oleh Pemerintah R.I. ::

Prasati Pemugaran Masjid Agung Cirebon oleh Pemerintah R.I.

Beberapa meter dari pintu gerbang utara masjid, menghadap ke arah pintu gerbang tersebut, kini berdiri sebuah prasasti peringatan tentang renovasi yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap masjid ini dan diresmikan pada tanggal 23 Februari tahun 1978. berikut kutipan isi dari Prasasti tersebut :

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PADA HARI KAMIS TANGGAL 23 FEBRUARI 1978 MENTERI PdanK TELAH MERESMIKAN HASIL PEMUGARAN MESJID AGUNG CIREBON…..MENTERI PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN R.I…… SJARIF THAJEB”

Penyanggah penyanggah besi baja di dalam masjid Agung Sang Cipta Rasa dipasang pada 12 sokoguru masjid ini untuk menopangnya, mengingat bangunan masjid ini yang sudah tidak muda lagi.

Kemungkinan besar pemugaran yang dimaksud dalam prasasti ini adalah penambahan tiang besi baja pada 12 sokoguru di dalam ruang utama masjid serta beberapa sokoguru dibagian luar. Dan penambahan empat pendopo di sekeliling bangunan utama. Mengingat lokasi penempatan dari prasasti ini sendiri berada pada sisi luar pendopo.

Hikayat Azan Pitu, Memolo Dan Masjid Berpasangan

Azan Pitu atau azan tujuh adalah tradisi azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Biasanya azan ini dilantunkan saat jelang sholat subuh dan sholat Jum’at. Selain azan pitu, di Cirebon juga mengenal azan awal sebelum sholat subuh sebagai pengingat bagi kaum muslimin bahwa waktu subuh akan segera tiba supaya bersiap diri.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Dari titik tengah ini azan pitu dikumandangkan dari masjid ini.

Azan pitu pada mulanya dilaksanakan atas perintah dari Sunan Gunung Jati untuk memusnahkan pengaruh sihir yang ditebarkan oleh Menjangan Wulung terhadap jemaah yang akan masuk ke masjid Sang Cipta Rasa Cirebon untuk melaksanakan sholat subuh. Disebutkan bahwa pada suatu masa ketika Islam baru menunjukkan perkembangan yang baik di wilayah Cirebon, beberapa orang yang keberatan dengan hal tersebut berupaya menebar terror.

Sosok Menjangan Wulung sendiri menurut beberapa sumber merupakan sosok ghaib yang di utus oleh seseorang ke Masjid Agung Cirebon untuk menebar terror. Korban pertamanya adalah muazin yang akan mengumandangkan azan subuh di masjid ini yang mendadak tewas secara misterius. Mengakibatkan ketakutan yang luar biasa bagi jemaah lainnya yang akan masuk ke masjid ini. Amukan Menjangan wulung ini juga mengakibatkan atap masjid yang masih terbuat dari rumbia mengalami kebakaran hebat.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933 saat bangunan utama masjid ini belum dilengkapi dengan berbagai bangunan pendopo yang kini mengelilinginya. Perhatikan puncak atap masjidnya yang tidak dilengkapi dengan memolo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin, atas perintah dari Sunan Gunung Jati berdasarkan petunjuk Ilahi.

Menjangan Wulung berhasil ditaklukkan, konon dia melarikan diri ke arah Banten dan tak pernah kembali. Masih dalam kaitan dengan hikayat ini disebutkan juga bahwa menjangan wulung juga menghantam memolo yang ada di puncak masjid hingga terpental jauh. Ada juga yang menyebut bahwa memolo (mastaka / ornament hiasan berbentuk simbar dipuncak masjid) tersebut hancur akibat ledakan yang terjadi saat aksi Menjangan Wulung tersebut.

Memolo di puncak atap masjid Agung Banten. Memolo yang memang bertumpuk dua. Apakah salah satunya merupakan memolo Masjid Agung Cirebon yang terpelanting hingga ke Banten akibat ledakan semasa huru hara Menjangan Wulung, tiga tahun sebelum Masjid Agung Banten ini dibangun ?.

Namun satu hikayat yang senantiasa dituturkan oleh pemandu wisata di Masjid ini bahwa memolo tersebut terpental hingga ke Masjid Agung Banten. Dan itu sebabnya Masjid Agung Banten memiliki dua memolo sedangkan Masjid Agung Cirebon tanpa memolo sama sekali. Cerita terahir tersebut memiliki penafsiran yang bermacam macam.

Pertama bahwa masjid Agung Banten dibangun jauh setelah berdirinya Masjid Agung Cirebon. Bila kita merujuk kepada tahun wafatnya Ratu Dewi Pakungwati yakni tahun 1549 sebagai tahun terjadinya huru hara Menjangan Wulung, artinya : meski memolo tersebut memang terpental jauh hingga ke Banten, tidak serta merta langsung bertengger di Masjid Agung Banten tapi butuh setidaknya tiga tahun bagi siapapun disana untuk memungut memolo tersebut dan memasangnya ke Masjid Agung Banten yang baru dibangun tiga tahun kemudian (1552-1570).

::Masjid Sepasang:: Kanan adalah Masjid Agung Demak dan Kiri adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Bisa anda temukan persamaan dan perbedaannya ?.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektural, Masjid Agung Cipta Rasa disebutkan sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak Maskulin lengkap dengan memolo dan berdiri gagah, lain halnya dengan masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun dalam watak Fenimim dengan denah persegi panjang, boleh jadi sejak awal masjid ini memang dibangun tanpa memolo sebagai perwujudan dari kefemeninimannya.

Namun demikian, tradisi azan pitu ini tetap dilestarikan di Masjid Agung Cirebon ini. sebagai sebuah tradisi yang merupakan satu satunya masjid dengan tradisi yang amat unik dan langka ini. Azan pitu dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus dengan pakaian putih putih kadang dilengkapi dengan jubah. Mereka bertujuh berjejer di tengah tengah bangunan asli tepat dibawah wuwungan atap masjid.

Masih mengenai memolo, versi lain menyebutkan bahwa memolo tersebut hancur karena secara tidak sengaja terkena lemparan tongkat Panebahan Satu pada saat Cirebon dilanda wabah penyakit yang konon datang secara ghaib. Panebahan Ratu adalah Raja ke empat Kesultanan Cirebon, beliau adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.

Pengeras suara di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini diletkaan dibawah empat penjuru atap puncaknya. Sama hal nya dengan masjid masjid tua tanah Jawa Lainnya.

Menara dan Penghormatan Kepada Raja

Bila diperhatikan masjid masjid tua di tanah Jawa termasuk Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Saka Tunggal di Banyumas, Sunan Ampel di Surabaya dan lainnya, selalu saja dibangun tanpa menara. Meski dari sisi tradisi arsitektural tanah air, ketiadaan menara ini sudah menjadi pakem bagi masjid tradisional Indonesia namun dibalik semua itu ada makna filosofis yang mendalam.

Ketiadaan menara pada bangunan masjid masjid tua tersebut kait mengait dengan tradisi tanah jawa yang menjungjung tinggi ewuh pakewuh. Keberadaan menara yang memang pada masa awalnya merupakan tempat muazin mengumandangkan azan akan memposisikan muazin yang berada di menara lebih tinggi dari seluruh jemaah yang ada di dalam masjid termasuk Raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Hal tersebut dianggap tidak sopan.

Karenanya masjid masjid tua tanah Jawa hampir seluruhnya tidak dilengkapi dengan menara. Menara di Masjid Agung Demak pun dibangun belakangan bukan merupakan komponen asli yang dibangun sejak awal pembangunan masjid. Seiring dengan telah dikembangkannya perangkat pengeras suara, muazin tak perlu lagi menaiki menara pada saat akan mengumandangkan azan cukup pengeras suaranya yang disimpan di menara sedangkan azannya dilantunkan muazin dari dalam masjid.

Bersambung kebagian-4

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

Sisi depan Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon

Terhindar dari ledakan Bom

Jum’at, 26 Februari 2010 Masjid Agung Sang Ciptarasa dihebohkan dengan ditemukannya bungkusan yang di duga Bom. Merujuk kepada penjelasan pihak kepolisian bom tersebut berdaya ledak rendah dan dilengkapi dengan pengatur waktu. Bom tersebut ditemukan selang sehari setelah perayaan besar peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W di masjid tersebut.

Peringatan Maulid Nabi atau Mauludan diperingati setiap tahun secara meriah di masjid ini dan dihadiri ribuan jemaah dari penjuru Nusantara memadati masjid hingga ke luar halaman. Merujuk kepada Ustadz Rahmad salah satu pengurus masjid yang menemukan bungkusan tersebut, Bila melihat kondisi fisiknya, kemungkinan bom tersebut semestinya sudah meledak namun Alhamdulillah Allah melindungi masjid ini beserta jemaahnya dari bencana.

Anggota GEGANA POLRI di Masjid Agung

Sang Ciptarasa - Cirebon.

Menurut penjelasan Putra mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, kepada media, kemungkinan besar bom tersebut sengaja dipasan dengan menjadikan sultan sepuh Maulana Pakuningrat sebagai target utama mengingat lokasi penemuannya berada di dekat denga Krapyak (maksurah) Sultan Sepuh di shaf paling depan disamping mihrab dan mimbar masjid. Kemungkinan besar bom tersebut akan diledakkan saat sholat Jum’at atau proseso Pajang jimat yang kan digelar dihari yang sama. Seyogyanya hari Jum’at tersebut Sultan akan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid tersebut namun batal karena sesuatu dan lain hal.

Ancaman bom di tahun 2010 tersebut bukanlah pertama kali terjadi di masjid ini. Merujuk penjelasan para tetua disana, semasa perang kemerdekaan masjid ini beberapa kali menjadi target serangan bom oleh pasukan Belanda maupun Jepang, namun tak satupun bom bom tersebut yang berhasil menyasar masjid tua ini, tapi justru menghantam sasaran lain.

Tradisi Tradisi di Masjid Agung Sang Ciptarasa

Seperti halnya masjid masjid tua serta merupakan masjid keraton kesultanan. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon ini juga memiliki beberapa tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun tanpa terputus sejak awal pembangunannya hingga kini. Diantara tradisi tradisi tersebut merupakan tradisi unik dan hanya ada di masjid ini. Terutama adalah tradisi Azan Pitu atau azan tujuh yang sudah di ulas tuntas dalam bagian-3.

Azan Pitu

Azan pitu atau azan tujuh adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Tradisi ini bermula sejak awal berdirinya masjid Agung Sang Ciptarasa dan sejak awal berkembangnya Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Azan pitu pada awalnya dilakanakan atas perintah langsung dari Sunan Gunung Jati untuk mengatasi serangan ghaib dari Menjangan wulung yang menyebar terror di masjid ini sehingga menyebabkan tewasnya beberapa muazin serta menyebabkan kebakaran di masjid ini.

Kemungkinan besar peristiwa tersebut terjadi di tahun 1549 masehi. Tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Dewi Pakungwati, permaisuri Sunan Gunung Jati yang wafat di masjid ini. Beberapa sumber menyebutkan beliau wafat dalam usia yang sanga tua di dalam masjid ini setelah turut serta dalam upaya memadamkan kebakaran yang terjadi di masjid ini.

Khutbah Berbahasa Arab

Mimbar di masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, tanpak sedikit disebelah kanan foto adalah Maksurah atau Krapyak tempat sholat khusus Sultan dan Keluarga. disebelah Maksurah itu ada satu lagi mimbar lama yang disimpan disana.

Tradisi yang tak kalah uniknya dari masjid ini adalah sampai saat ini khotbah Jum'at selalu dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan meski hampir semua jama'ah tak memahami artinya jamaah tetap menyimaknya dengan khusu tanpa mengobrol dengan rekan disebelahnya. Tujuan dari tetap dilestarikannya khotbah berbahasa Arab ini sendiri konon untuk memotivasi jamaahnya agar mau belajar bahasa Arab.

Ada jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at

Pada setiap sholat Jum'at yang kebetulan jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dengan satu keyakinan bahwa bila mereka ikut sholat Jum'at yang jatuh tepat pada hari Jum'at Kliwon maka yang bersangkutan akan memperoleh berkah. Atas dasar keyakinan itulah, pada Jum'at Kliwon banyak jemaah perempuan yang datang tidak hanya dari daerah Cirebon tapi juga banyak yang datang dari luar kota untuk ikut bersholat Jum'at di Masjid ini.

Sumur Keramat

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapatsumur zam-zam atauBanyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulanRamadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Sumur Banyu Cis yang dikenal sebagai zam zamnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Beberapa jamaah masjid ini datang jauh jauh dari berbagai daerah selain untuk sholat di masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur tersebut. Dua kolam dari batu bundar ini dulunya berada di luar bangunan utama namun kini sudah berada di dalam pandopo utara. Disekitar kolamnya juga sudah di kelilingi dengan pagar besi. Menariknya air dari sumur ini dipercaya juga dapat digunakan sebagai media untuk menguji kejujuran seseorang.

Pesan Sunan Gunung Djati

Sunan Gunungjati, sultan pertama Kesultanan Cirebon dan pendiri Masjid Agung Sang Ciptarasa ini, wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Selama hidupnya Sunan Gunung Jati pernah berpesan, diantara yang paling terkenal dari pesan pesan beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang lain diantaranya sebagai berikut.

Ilustrasi wajah Sunan Gunung Jati

Singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), Duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), Angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya), Aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), Den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu), Angasana diri (harus mawas diri), Tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik).

Ngoletena rejeki sing halal (carilah rejeki yang halal), Aja akeh kang den pamrih (jangan banyak mengharap pamrih), Gegunem sifat kang pinuji (miliki sifat terpuji), Aja ilok gawe lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang), Ake lara ati, namung saking duriat (jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri), Aja ujub ria suma takabur (jangan sombong dan takabur), Aja duwe ati ngunek (jangan dendam), Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua), Den hormat ing leluhur (harus hormat pada leluhur), Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka), Den welas asih ing sapapada (hendaklah menyanyangi sesama manusia).

Pesan beliau yang berbunyi "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)" juga dipampang di depan makam beliau. Dan menariknya pesan yang sama dipampang di depan Makam Sheh Quro di Karawang. Hanya saja, entah karena kesalahan penafsiran terhadap pesan beliau, hingga kini bila anda berkunjung ke masjid Agung Sang Ciptarasa bertepatan dengan sholat Jum’at atau pada peringatan hari besar Islam di halaman masjid ini berjejer para peminta peminta.

Peminta minta di Makam dan Masjid Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya di masjid, kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau di komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di komplek pemakaman  tersebut, para pengemis dan peminta minta tidak sekedar berjejer tapi sudah sampai para tahap mengerubuti para peziarah. Bagi mereka yang tak terbiasa akan terkaget kaget dengan kondisi itu. Terlebih bila anda hanya memberikan sedekah hanya kepada salah satu dari mereka maka yang lainnya sontak akan beramai ramai menghampiri.

Kondisi yang hampir sama juga akan kita temui saat berziarah ke makam Sheh Nur Jati di gunung Jati. Peminta minta disana bahkan dari golongan pria dewasa yang berbadan sehat segar bugar dengan sedikit memaksa. Saya pribadi lebih menghargai mereka mereka yang mencari berkah disekitar makam para wali tersebut dengan menawarkan jasa sebagai pemandu, tukang parkir, atau mereka yang rela begadang menjaga kendaraan peziarah, atau berjualan keperluan bagi para peziarah hingga membuka warung makan disana.

Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau menitipkan tajuk dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau sepertinya bukanlah refleksi yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.  (SELESAI).***

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Tuesday, October 20, 2020

Sepuluh Masjid Tertua di Indonesia Versi Bujangmasjid (Bagian-1)

Masjid tertua di Indonesia versi Bujangmasjid.blogspot.com bagian pertama. 1. Masjid Saka Tunggal, 2. Masjid  Wapauwe, 3. Masjid Sunan Ampel, 4. Masjid Agung Demak,. 5. Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon.

Masjid Agung Demak ternyata bukanlah masjid tertua di Indonesia. Pada tanah Jawa telah berdiri sebuah masjid bahkan sebelum kerajaan Majapahit berdiri, pula tentu saja sebelum kehadiran wali sanga untuk berbagi Islam pada tanah Jawa. Begitu poly literatur dalam & luar negeri yg terlanjur mencantumkan Masjid Agung Demak sebagai masjid tertua di Indonesia termasuk wikipedia.

Pada urutan pertama memang masjid pada Tanah Jawa yakni Masjid Saka Tunggal pada Kabupaten Banyumas, Jawa Timur, tetapi menjadi menarik karena pada urutan ke 2 justru adalah masjid di Kawasan Indonesia timur yakni Masjid Wapauwe yg ada di Provinsi Maluku. Posting kali ini membeberkan sepuluh masjid tertua di Indonesia yang dibagi dalam 2 bagian. Berikut bagian pertama yg menampilkan masjid tertua pertama sampai ke 5.

1. Masjid Saka Tunggal Banyumas (1228M)

Masjid Tertua pada Indonesia Versi Bujangmasjid

Masjid saka tunggal atau Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya berada di titik koordinat geografi 7°28'26.05"S 109° 3'20.32"E. disebut Masjid saka tunggal karena masjid ini hanya memiliki satu tiang penyangga tunggal. Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.

Masjid saka tunggalmenjadi satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16M. Sedangkan masjid ini didirikan tahun 1288 Masehi sebagaimana tertulis di prasasti yang terpahat di saka masjid itu. lebih tua dari kerajaan majapahit yang berdiri tahun 1294 Masehi. Diperkirakan masjid ini berdiri ketika masa kerajaan Singasari, 2 abad sebelum Wali Songo. Sekaligus menjadikan Masjid saka tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.

Sejarah Masjid saka tunggalsenantiasa terkait dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang hidup dalam Kesultanan Mataram Kuno. Itu sebabnya, tidak heran bila unsur Kejawen masih cukup melekat. Dalam syiar Islam yang dilakukan, Mbah Mustolih memang menjadikan Cikakak sebagai "markas" dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut.  Beliau dimakamkan tak jauh dari Masjid saka tunggal.

Dua. Masjid Wapauwe, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku (1414)

Masjid Wapauwe, Masjid tertua ke-dua di Indonesia

Masjid Wapauwe berada di Desa Kaitetu, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, dibangun tahun 1414 Masehi. Hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam masa lampau dan masih digunakan oleh muslim setempat. Untuk mencapai desa Kaitetu dari pusat Kota Ambon kita bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Desa Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak.

Masjid Wapauwe mmasih dipertahankan arsitektur aslinya, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia. Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter.

Bangunannya berbentuk empat bujur kandang. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak memiliki serambi. Meskipun mini dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang sporadis dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk didesain tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu. Di masjid ini tersimpan dengan baik Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua pada Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy (imam pertama majid Wapauwe) yg selesai ditulis (tangan) dalam tahun 1550 & tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya merupakan Mushaf Nur Cahya yang terselesaikan ditulis dalam tahun 1590, & jua tanpa iluminasi dan ditulis tangan dalam kertas produk Eropa.

3. Masjid Sunan Ampel, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur (1421)

Masjid Sunan Ampel, masjid tertua ke 3 pada Indonesia

Masjid Sunan Ampel merupakan masjid tertua ke tiga di Indonesia, didirikan oleh Raden Achmad Rachmatullah pada tahun 1421, di dalam wilayah kerajaan Majapahit. Masjid ini dibangun dengan arsitektur Jawa kuno, dengan nuansa Arab yang kental. Raden Achmad Rachmatullah yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel wafat pada tahun 1481. Makamnya terletak di sebelah barat masjid. Hingga tahun 1905, Masjid Sunan Ampel adalah masjid terbesar kedua di Surabaya. dulunya masjid ini menjadi tempat berkumpulnya para ulama dan wali Allah untuk membahas penyebaran Islam di tanah Jawa.

Di komplek pemakaman Masjid Sunan Ampel juga terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong dan juga makam Mbah Soleh, pembantu Sunan Ampel yang bertugas membersihkan Masjid Sunan Ampel. Keberadaan Kedua Makam tersebut tak terlepas dari cerita tutur dari masyarakat setempat.  Di kompleks tersebut terdapat juga makam seorang pahlawan nasional, KH. Mas Mansyur, kondisinya sangat bersahaja, setara dengan makam-makam keluarganya yang hanya ditandai sebuah batu nisan di atas tanah yang datar. Sepi dari peziarah. Di dekat makam Mbah Bolong (Mbah Sonhaji) terdapat 182 makam syuhada haji yang tewas dalam musibah jemaah haji Indonesia di Maskalea-Colombo, Sri Lanka pada 4 Desember 1974.

Kompleks makam dikelilingi tembok akbar dengan tinggi 2,lima meter. Makam Sunan Ampel beserta istri dan lima kerabatnya dipagari baja tahan zat oksidasi setinggi 1,5 meter, melingkar seluas 64 meter persegi. Khusus makam Sunan Ampel dikelilingi pasir putih.

4. Masjid Agung Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (1477)

Masjid Agung Demak, Masjid tertua ke empat

Masjid Agung Demak adalah masjid tertua ke empat di Indonesia. Terletak di desa Kauman, Demak, Jawa Tengah. Dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Walisongo, untuk membahas penyebaran agama Islam di Tanah Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, Sultan pertama dari Kesultanan Demak, pada sekitar abad ke-15 Masehi. Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam sultan Kesultanan Demak dan para abdinya.

Kisah tutur yang paling terkenal terkait pembangunan Masjid Agung Demak adalah pembuatan salah satu sokogurunya yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan tatal (serpihan kayu) jati yang kemudian dirangkainya menjadi satu menjadi sebatang sokoguru yang solid sama dengan sokoguru sokoguru lainnya yang disiapan oleh para sunan yang lain.

Masjid Agung Demak menjadi cikal bakal bangunan masjid di Nusantara yang menggunakan atap limas bersusun. Arsitektural Masjid Agung Demak ini kemudian ditiru dan menyebar ke seluruh Nusantara, tidak saja di Indonesia tapi juga hingga ke Negara Negara tetangga termasuk Malaysia, Thailand hingga Brunei Darussalam. Bebeberapa masjid Megah yang baru dibangun di berbagai daerah Indonesia turut mengadopsi Arsitektural masjid ini. Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila telah menjadikah bentuk Masjid Agung Demak ini sebagai odel bagi seribu lebih bangunan masjid yang dibangunnya diseluruh wilayah Nusantara.

5. Masjid Agung Sang Ciptarasa, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat (1478)

Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, Masjid tertua ke lima

Masjid Agung Sang Ciptarasa, Cirebon ini berada di wilayah territorial Keraton Kesepuhan Cirebon. Dibangun atas usulan dari Dewi Pakungwati, Istri pertama (permaisuri) Sunan Gunung Jati, selaku Sultan pertama Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati yang kemudian membangun masjid ini di tahun 1478 atau setahun setelah pembangunan Masjid Agung Demak dengan dukungan penuh dari para wali dan Raden Fatah, Sultan pertama Kesultanan Demak.

Bertindak sebagai Kontraktornya adalah Sunan Kalijaga, sedangkan arsiteknya adalah Raden Sepat yang sebelumnya juga merancang Masjid Agung Demak. Berbagai pihak menyebut masjid Agung Sang Ciptarasa ini sebagai pasangan Masjid Agung Demak, karena memang pada saat pembangunan Masjid Agung Demak sedang berlangsung, Sunan Gunung Jati memohon kepada Raden Fatah untuk membangun pasangan masjid tersebut di Cirebon.

Bangunan induk masjid ini berukuran 20x20 meter dengan atap limas berususun tiga sama persis seperti Masjid Agung Demak, hanya saja denah atap dan bangunannya tidak bujur sangkar tapi empat persegi panjang, konon bentuk tersebut mewakili sifat feminimnya, untuk membedakan dengan pasangannya di Demak yang berwatak Maskulin. Kini masjid ini sudah dilengkapi dengan Pendopo disekelilingnya hasil pembangunan tahun 1978 dimasa menteri pendidikan dan kebudayaan Syarif Thayeb.

Bersambung ke Bagian-2

Artikel Terkait

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Wapauwe

Masjid Sunan Ampel, Surabaya

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Sang Ciptarasa

Sepuluh Masjid Tertua di Indonesia Versi Bujangmasjid (Bagian-2)

Sepuluh Masjid Tertua pada Indonesia Jilid-dua

Bila dalam posting sebelumnya di bagian -1 sudah di ulas lima dari sepuluh masjid tertua di Indonesia versi bujangmasjid masing masing adalah 1. Masjid Saka Tunggal, 2. MasMasjid Saka Tunggal, (2). Masjid Wapauwe, (3). Masjid Sunan Ampel, Surabaya, (4). Masjid Agung Demak dan (5). Masjid Agung Sang Ciptarasa. jid maka dalam posting berikut ini akan kita ulas lima masjid tua berikutnya.

Lima masjid tua berikut ini terdiri sangat menarik karena dua diantaranya merupakan masjid di luar pulau Jawa yakni dua masjid di pulau Sulawesi, tepatnya di provinsi Sulawesi Selatan. Lima masjid tersebut adalah (6). Masjid Menara Kudus , (7). Masjid Agung Banten, (8). Masjid Mantingan, (9). Masjid Tua Al-Hilal Katangka, dan (9). Masjid Jami? Tua Palopo.

6. Masjid Menara Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (1549)

Masjid Al-Aqso atau Masji Menara Kudus. Masjid tertua angka 6 pada Indonesia

Nama asli masjid ini sebenarnya adalah Masjid Al-Aqso, didirikan oleh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus pada tahun 956H atau bertepatan dengan tahun 1549M. Namun lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Masjid Menara Kudus, Karena memang bangunan menaranya yang berupa sebuah bangunan candi itu yang menjadi ciri khas dari masjid tua satu ini. Di dalam komplek masjid ini juga terdapat Makam Sunan Kudus.

Sejarah Masjid Menara Kudus tak bisa dilepaskan dari sejarah Kota Kudusnya sendiri. Menurut (alm) Profesor Purbacaraka, seorang antropolog dari Universitas Udayana, Bali, nama kota Kudus berasal dari kata Al-Quds. Al-Quds adalah nama asli kota Jerusalem di Palestina tempat bedirinya Masjid Al-Aqso yang merupakan kiblat pertama umat Islam. Hal tersebut sejalan dengan pendapat para sejarawan yang mengatakan bahwa kota Kudus didirikan oleh para pelaut Arab Palestina, maka wajar bila kemudian masjid yang mereka bangun pun menggunakan nama Al-Aqso, untuk mengenang tanah kelahiran mereka.

Masjid Menara Kudus ini awalnya memang merupakan sebuah bangunan candi pada masa Hindu yang kemudian disesuiakan kegunaanya sebagai menara masjid. Dari bentuknya bangunan menaranya memiliki kemiripan dengan menara Kul Kul di Bali. Sedangkan ragam hiasnya memiliki kemiripan dengan candi candi di Jawa Timur seperti Candi Jago dan Candi Singosari. Kehadiran Menara Candi di komplek Masjid Al-Aqso di Kudus ini memberikan gambaran betapa baiknya akulturasi budaya yang dilakukan oleh Sunan Kudus saat menyebarkan Islam disana.

7.Masjid Agung Banten, Kota Serang, Provinsi Banten (1552)

Masjid Agung Banten, di tempat Banten Lama, kota Serang propinsi Banten merupakan masjid tertua ketujuh pada Indonesia.

Masjid Agung Banten dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Banten yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon. Masjid ini dikenali dari bentuk menaranya yang sangat mirip dengan bentuk sebuah bangunan mercusuar.

Masjid Agung Banten dirancang oleh 3 arsitek. Yang Pertama adalah Raden Sepat, Arsitek Majapahit yang sebelumnya telah berjasa merancang Masjid Agung Demak dan Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon. Arsitek kedua adalah arsitek China bernama Cek Ban Su ambil yang  memberikan pengaruh kuat pada bentuk atap masjid bersusun 5 mirip layaknya pagoda China. Karena jasanya dalam membangun masjid itu Cek Ban Su memperoleh gelar Pangeran Adiguna.

Lalu arsitek ketiga adalah Hendrik Lucaz Cardeel, arsitek Belanda yang kabur dari Batavia menuju Banten di masa pemerintahan Sultan Haji tahun 1620, dalam status mualaf dia merancang menara masjid serta bangunan tiyamah di komplek Masjid Agung Banten. Karena jasanya tersebut, Cardeel kemudian mendapat gelar Pangeran Wiraguna. Menilik bentuk dan denah bangunannya menunjukkan bahwa Masjid Agung Banten tidak dibangun yang kini berdiri tidak dibangun sekaligus melainkan secara berkelanjutan sejak sultan pertama hingga ke masa pemerintahan Sultan Haji.

8. Masjid Mantingan, Jepara, Jawa Tengah (1559M)

Masjid Mantingan pada Kabupaten Jepara provinsi Jawa Tengah, Masjid tertua ke 8 di Indonesia

Masjid Mantingan adalah galat satu dari 10 masjid tertua pada Indonesia. Terletak di pada Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Lima km kearah selatan berdasarkan pusat kota Jepara. Dibangun dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, undak-undakannya didatangkan dari Makao. Sedangkan bangunan atap hingga bubungan-nya bergaya Tiongkok. Dinding luar dan pada dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah loka imam & khatib dihiasi menggunakan relief-relief persegi bergambar margasatwa, & penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua.

Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M, sesuai dengan pernyataan yang terdapat didalam masjid RUPA BRAHMANA WANASARI yang ditulis oleh Raden Toyib yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiri, Adipati Jepara, yang juga adik Ipar dari Sultan Trenggono (Sultan Demak).

Raden Toyib berasal dari Aceh,  beiau merupakan utusan Sultan Aceh, setelah mempelajari agama Islam di Mekah lalu bersyiar di Cina, kemudian berlabuh di tanah Jawa, bermukim di Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono Penguasa Kesultanan Demak Terahir. Dinobatkan sebagai Adipati Jepara dengan gelar Sultan Hadiri berkuasa pada periode 1536-1549 sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan. Kekuasaan pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hadiri, Ratu Kaliyamat tahun 1549-1579.***

9. Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Gowa, Sulawesi Selatan (1603)

Masjid Al-Hilal di desa Katangka, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid tertua di Indonesia angka delapan.

Nama resmi masjid ini adalah Masjid Al-Hilal, karena berada di desa Katangka maka disebut sebagai Masjid Al-Hilal Katangka, sebagian lagi masyarakat setempat menamainya dengan nama Masjid Agung Syeh Yusuf. Ulama Kharismatik yang merupakan pahlawan nasional di Indonesia dan juga pahlawan nasional di Afrika Selatan.

Masjid Tua Al-Hilal dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV bernama Aku Manga'ragi Daeng - Manrabbiakaraeng Lakiung (Sultan Alauddin I) tahun 1603, Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Sultan Alauddin adalah kakek dari I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke enam belas.

Arsitektur masjid Tua Al-Hilal Katangka ini telah menginspirasi gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada tahun 2009 untuk mendirikan masjid masjid dengan bentuk yang sama di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Dimulai dengan pembangunan masjid di kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep (Pangkajene kepulauan) Sulawesi Selatan

10. Masjid Jami? Tua Palopo, Kota Palopo, Sulawesi Selatan (1604M)

Masjid Jami' Tua Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid tertua ke sepuluh pada Indonesia

Masjid Jami? Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu berada di kota Palopo,  Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu tahun 1604 M. Di beri nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunanMasjid Jami? Tua Palopo ini.

Masjid ini adalah masjid kerajaan yang didirikan waktu Kerajaan Luwu sedang berada pada masa kejayaannya dibawah kekuasaan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Ketika dia naik tahta menggantikan ayahnya tahun 1604 M, beliau memindahkan ibukota kerajaan dari Patimang ke Ware, menggunakan alasan Ware berada di pantai dan lebih dekat dengan pelabuhan, sebagai akibatnya aktifitas ekonomi sanggup lebih gampang dilakukan. Sumber sejarah lain ada pula yang mengkaitkan perpindahan ibukota kerajaan ini dengan kepentingan buat penyebaran Islam.

Hal ini sanggup ditinjau berdasarkan konstruksi kompleks ibukota kerajaan yg baru, di mana masjid dan istana dibangun berdekatan membangun satu komplek kerajaan. Satu unsur lagi yg dibangun dalam kompleks kerajaan Luwu adalah lapangan luas yg terbuka (alun-alun). Struktur & rapikan letak pusat pemerintahan yg misalnya ini mirip menggunakan struktur & tata letak kerajaan Islam di Jawa. Seiring menggunakan penamaan masjid ini dengan Masjid Palopo, wilayah tadi lalu jua dianggap menjadi daerah Palopo. Maka, dari tahun 1604 M tersebut, wilayah Ware ini berubah nama menjadi Palopo.

Kembali ke bagian-1

Artikel Terkait

Sepuluh Masjid Tertua pada Indonesia Versi Bujangmasjid (Bagian-1)

Masjid Saka Tunggal, Masjid Tertua di Indonesia

Masjid Wapauwe

Masjid Sunan Ampel, Surabaya

Masjid Agung Demak

Masjid Agung Sang Ciptarasa

Masjid Menara Kudus

Masjid Agung Banten,

Masjid Mantingan

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Sunday, August 30, 2020

Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah

Perpaduan tradisional & terbaru di Masjid Menara Kudus

Salah Satu Masjid Tertua pada Indonesia

Masjid Menara Kudus sebenarnya bernama Masjid Al-Aqso, merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Bangunan aslinya masih bisa dijumpai hingga kini meski sudah mengalami perbaikan dan perluasan berkali kali sejak pertama kali dibangun sekitar tahun 1549 oleh Sunan Kudus, sekitar sepuluh tahun lebih dulu dari Masjid Mantingan Jepara (1559) yang dibangun oleh Sultan Hadiri, atau sekitar 70 tahun setelah Masjid Agung Demak (1479) yang dibangun pada masa Raden Fatah, atau kira kira sezaman dengan Masjid Kesultanan Banjar di Banjarmasin yang dibangun oleh Sultan Suriansyah (1526-1550).

Kudus Berasal dari kata Al-Quds

Menurut antropolog dari Universitas Udayana - Bali, mendiang Prof. Purbacaraka, nama kota Kudus berasal menurut bahasa Arab, ?Al-Quds? (sekarang Jerusalem - Ibukota Palestina). Sedangkan para sejarawan Islam percaya bahwa pelaut muslim arab-lah yg menaruh nama tadi buat mengenang tanah kelahiran mereka di Al-Quds ? Palestina. Tak mengherankan bila lalu masjid tua pada kota suci yg populer dengan menara berbentuk candi-nya itu pun kemudian diberi nama Masjid Al-Aqso, sebagaimana nama masjid kudus ketiga Ummat Islam di kota Al-Quds.

Foto tua masjid Menara Kudus

Masjid Al Aqsa dan Menara Kudus adalah tempat bersejarah peninggalan keliru satu Walisongo, Ja?Far Shodiq atau lebih dikenal menggunakan nama Sunan Kudus yang makamnya terdapat pada komplek itu. Tempat tersebut sekarang sebagai destinasi andalan wisata reliji kota Kudus, terutama bagi para peziarah, disamping makam Sunan Muria yang berada pada daerah wisata Colo, Kecamatan Dawe Kudus, pegunungan Muria. Nama Jafar Shodiq terukir pada batu di atas mihrab masjid ini. Syahdan batu bertulis tadi asal dari Al-Quds (Baitul Maqdis) di Palestina.

Lokasi Masjid Menara Kudus

Masjid menara kudus berada di pusat kota Kudus. Secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kauman Kulon kecamatan Kota, kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Lingkungan yg mengelililingi masjid menara suci ini berupa tempat tinggal rumah penduduk desa Kauman kulon yang telah tidak kentara lagi batas batas yg memisahkan antara rumah penduduk dengan komplek masjid lantaran antara dinding komplek masjid dengan tempat tinggal penduduk telah menjadi satu.

Sebelumnya Adalah Candi ?

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Masjid ini sebenaranya bernama Masjid Al-Aqso sebagaimana tertulis pada papan nama masjid yg diletakkan di gerbang utama masjid menggunakan aksara arab. Hanya saja rakyat luas lebih mengenalnya menjadi Masjid Menara Kudus merujuk pada bangunan menaranya yg unik itu. Pendapat generik & cerita kata yg tersebar luas mengungkapkan bahwa Masjid Menara Kudus sebelumnya adalah sebuah candi yang kemudian di konversi (di alih fungsi) menjadi sebuah masjid. Benarkah Masjid Menara Kudus ini merupakan konversi dari sebuah Candi ?, Apa nama candi itu sebelumnya ?. Menjadi menarik untuk sekedar bertanya.

Sudah di fahami secara generik bahwa metoda da?Wah yang dijalankan para wali dalam membuatkan Islam pada Nusantara termasuk pada tanah Jawa menggunakan melalui pendekatan budaya. Mereka nir dan merta menentang atau menghapus budaya yg telah berkembang pada dalam rakyat namun secara perlahan melakukan editing secara cermat menggunakan memasukkan ajaran Islam kedalam setiap pernik budaya yg telah ada. Perubahan yg perlahan namun niscaya membarui paras budaya menjadi sesuatu yang Islami.

KEBANGGAAN NASIONAL. Gambar Masjid Menara Kudus diabadikan di uang kertas pecahan lima ribu Rupiah.

Tidak hanya pada masa para wali, pada masa kini pun metoda yg mempunyai kemiripan diterapkan sang kaum muslimin minoritas yang tinggal di daerah non muslim. Seperti contoh dalam ketika saudara saudara kita itu akan membentuk masjid mereka nir memaksakan diri buat membangun masjid dengan bentuk masjid umumnya yang mempunyai kubah & menara dan kumandang azan dari menara. Misalnya saja Muslim di Estonia yang minoritas membentuk masjid menggunakan bentuk yg serupa dengan gedung gedung bertingkat disekitarnya, & sama sekali tidak misalnya masjid yang biasa kita kenal yg mempunyai kubah akbar, simbol bulan sabit di ujung kubah dan menara serta kumandang azan berpengeras bunyi dari menara-nya. Tidak hanya di Estonia yang berada pada Eropa sana, saudara saudara muslim pada Tolikara pun menciptakan masjid mengikuti bentuk bangunan disekitarnya supaya nir terlalu mencolok demi toleransi.

Menilik hal hal yg demikian, bukan tidak mungkin toh, bila dulu Ja?Far Shodiq & kaum muslimin awal di Kudus menciptakan masjid dengan mengikuti bentuk / arsitektur tempat ibadah ummat mayoritas yg terdapat disana. Bukankah rapikan letak bangunannya pun sudah persis menghadap kiblat, termasuk rapikan letak bangunan menaranya. Bukankah sejarah mencatat bangunan yg awal sekali dibangun sudah mengalami beberapa kali ekspansi, menerangkan bahwa bangunan awalnya memang nir terlalu besar , dan pembangunan masjid telah barang tentu sinkron menggunakan kebutuhan jemaah nya, alias disesuaikan menggunakan jumlah jemaahnya. Wallohuwa?Lam.

DA GAPURA DI DALAM MASJID. Ini galat satu keunikan yang ada di Masjid Menara Kudus, terdapat gapura / gerbang paduraksa di pada masjid, tak terdapat pada masjid lain.

Keunikan yg Menarik Perhatian

Ke-unikan arsitektural menjadi daya tarik primer masjid ini. Sejauh ini Masjid Menara Kudus merupakan satu satunya masjid dengan paduan arsitektural bangunan candi dengan bangunan masjid terkini sebagaimana biasa dikenal. Telah difahami secara umum bahwa masjid ini sebelumnya memang merupakan bangunan candi yang kemudian pada alih fungsi sebagai masjid seiring dengan telah muslim nya masyarakat disana. Menara setinggi 17 meter yang berada pada sisi kiri gerbang primer masjid ini yang berbentuk bangunan candi dibangun dengan susunan bata merah tanpa semen, berdiri megah hingga kini menggunakan bentuk aslinya, dengan fungsi sebagai menara masjid lengkap dengan perangkat pengeras bunyi terpasang disana. Gaya arsitektur Menara masjid ini disebut sebut menyerupai candi-candi pada Jawa Timur pada masa Majapahit dan jua mempunyai kemiripan menggunakan Menara Kukul pada Bali.

Menara ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kaki, tubuh & zenit. Kaki menara berbentuk bujur sangkar ukuran 6.Tiga meter. Sedangkan zenit menara berupa ruangan seperti pendopo berlantai papan. Di atas menara di beri atap tumpang bertingkat 2 dari sirap. Menurut G.F. Pijpet dan A.J. Bernet Kemperes, menara masjid kudus ini seperti dengan menara Kul Kul pada Bali dan dalam awalnya bukanlah menara masjid melainan sebuah bangunan candi dalam masa Hindu yg kemudian disesuaikan fungsinya menjadi menara masjid ini. Beberapa peneliti lain seperti Soekmon, Syafwandi dan Parmono atmadi menghubungkan bentuk menara masjid Kudus dengan candi candi pada Jawa Timur seperti candi jago dan candi singasari berkaitan dengan bentuk arsitektural dan ragam hiasnya.

Restorasi menara

Keunikan bangunan masjid ini tidak hanya dalam menaranya. Beberapa bagian antik menurut bangunan masjid ini masih dapat ditemui menggunakan pola dan bahan bangunan yang sama, termasuk empat bangunan gapura (gerbang), terdiri berdasarkan dua gerbang berbentuk paduraksa dan 2 gerbang berbentuk candi bentar. Gerbang gerbang tersebut tetap pada konservasi keberadaan dan keasliannya meski sekarang telah berada pada dalam bangunan masjid. Bentuk dan keberadaannya yg tak biasa pada dalam masjid membuat gerbang gerbang ini sebagai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Gerbang gerbang tadi sejatinya merupakan pembatas antar halaman pada komplek masjid ini. Komplek masjid menara kudus ini terbagi menjadi sebelas page yg dibatasi dengan pagar dan gapura dari bata yg berbentuk candi bentar maupun padureksa. Fitur dari masa kemudian yang tidak kalah menarik yg masih bisa dijumpai, masih ada disebelah selatan masjid, ada kolam berwudhu kuno yg relatif unik, terdapat delapan pancuran dihiasi goresan batu berbentuk kepala kala. Sekarang pancuran tadi ditambah menggunakan keran buat memudahkan Jemaah berwudhu.

Terhimpit. Masjid Menara Kudus dari udara terlihat terjepit diantara padatnya rumah penduduk di sekitarnya.

Pembangunan dan Perluasan Masjid Menara Kudus

Sejak dibangun oleh Ja?Far Shodiq alias Sunan Kudus dalam tahun 956 Hijriah atau 1549 M. Masjid menara kudus sudah beberapakali mengalami pemugaran & ekspansi. Pada awal tahun 1918 sampai ahir tahun 1919 sudah diadakan pembongkaran dibeberapa bagian masjid. Tahun 1925 bagian depan masjid ditambah dengan serambi buat menampung jemaah khususnya di hari Jum'at yg semakin membludak. Tahun 1933 serambi tadi diperluas dengan serambi tambahan menyebabkan gapura kori agung atau gapura lawang kembar menjadi ternaungi atap serambi depan masjid. Di atas serambi itupun dibangun kubah. Perubahan terahir tahun 1960 ketika terjadi pergantian mustaka.

Bagian yang masih asli di masjid ini berupa tembok sisi timur, sebagian tembok sisi utara dan selatan, gapura paduraksa, tembok luar mihrab, delapan buah pancuran tempat wudhu serta menara. Seperti  bangunan lainnya di komplek masjid ini, tembok timur masjid juga dibangun dari batu bata tanpa perekat. Pada tembok sisi timur ini terdapat empat buah gapura, dua buah gapua berbentuk candi bentar dan dua gapura berbentuk paduraksa.

Pintu menuju menara

Legenda Masjid Menara Kudus

Dikisahkan bahwa pada saat Sunan Kudus berhaji dia terserang penyakit kudis. Karena penyakitnya itu beliau di hina & disingkirkan menurut pergaulan sehari hari, Sunan kudus pun membalas menggunakan kesaktiannya dan timbullah wabah penyakit yg menimpa negeri arab. Berbagai upaya dilakukan oleh pera pemuka negeri arab untuk mengatasi wabah tersebut namun tidak mengakibatkan output. Ahirnya sunan kudus diminta mengatasi endemi tersebut. Atas jasanya para pemuka negeri arab tersebut memberikan banyak sekali bantuan gratis menarik akan tetapi sunan kudus menolaknya & justru memilih batu yang lalu digunakan buat memperingati pendirian masjid menara suci. Batu tersebut kini terdapat pada mihrab masjid bertuliskan nama Sunan Kudus.

Banyu Panguripan

Masih menurut cerita kata, dahulu dibawah bangunan menara masih ada dua buah sumber air. Oleh penduduk sumber air itu dianggap sumber banyu panguripan. Disebut demikian karena apabila seseorang meminum air itu maka orang itu akan hidup tak pernah mati. Sunan Kudus sangat risi apabila khasiat air asal panguripan itu disalahgunakan oleh orang orang berwatak jahat. Oleh karena itu asal air itu ahirnya ditutup & pada atasnya didirikan bangunan menara. Dari legenda ini jelas disebutkan bahwa bangunan menara tadi dibuat atas perintah atau setidaknya atas prakarsa Sunan Kudus. Bisa jadi legenda itu sebenarnya adalah potongan cerita dari proyek pembangunan Masjid di tempat itu yg sekarang dikenal sebagai Masjid Menara Kudus.

T radisi B eduk Dhandhang

Ada norma unik Sunan Kudus dalam berdakwah menggunakan mengadakan beduk dhandhang yakni tradisi memukul beduk bertalu talu menjelang ramadhan buat mengundang jemaah datang ke masjid. Setelah jamaah berkumpul, Sunan Kudus pun mengumumkan kapan persisnya hari pertama puasa. Beduk sendiri adalah galat satu pernik tradisi Nusantara, sama halnya dengan kentongan atau pun digunakan berpadanan. Namun lalu diserap menjadi galat satu tradisi Islam Nusantara.***

----------ooo000ooo----------

Artikel Masjid Masjid Tertua Di Nusantara Lainnya

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Banten

Masjid Agung Demak

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Sultan Suriansyah - Banjarmasin

Masjid Saka Tunggal

Masjid Mantingan, Jepara

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Jami? Tua Palopo

Masjid Patimburak, masjid tua kota Kokas

Masjid Wapauwe

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done