Islami Pedia: Masjid di Yokyakarta
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Yokyakarta. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Yokyakarta. Show all posts

Saturday, September 5, 2020

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta (foto dari sallamun)

Masjid Gedhe Kauman atau juga disebut Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta atau Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayokyakarta Hadiningrat, dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai masjid sentral yang dibangun di pusat kekuasaan Kesultanan Nyayokyakarta Hadiningrat. Masjid Agung Yogya sekaligus menjadi poros sentral bagi lima Masjid Pahtok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat yang dibangun di empat penjuru mata angin, sebagai penanda batas terluar wilayah kesultanan.

Berdiri megah di alun alun utara Yogyakarta, adalah salah satu bangunan cagar budaya Nasional dari Monumenten Ordonante 238/1931 dibangun dalam hari Ahad 29 Mei 1773 menjadikannya menjadi salah satu masjid tua pada pulau Jawa dan Indonesia. Masjid yang sarat dengan sejarah kesultanan Jogja jua sejarah nasional Indonesia. Gerakan Muhammadiyah yg merupakan galat satu organisasi Islam terbesar dan tertua pada tanah air lahir pada Masjid ini.

Lokasi dan Alamat

Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta

Jalan Alun-alun Utara, Gondomanan

Yogyakarta 55133, Indonesia

View Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta in a larger map

Sudah sebagai karakteristik spesial kota pusat kekuasaan kerajaan kerajaan Islam tanah Jawa menggunakan berakibat alun alun sebagai titik sentral pusat kekuasaan. Keraton menjadi sentra pemerintahan tempat bertahtanya sang Raja/Sultan berada di sisi selatan alun alun menghadap ke utara, kemudian pasar menjadi urat nadi perekonomian, simbol kekuatan ekonomi berada pada sisi utara & Masjid Agung menjadi pusat spiritual berada disisi barat alun alun. Komposisi rapikan letak semacam ini nir hanya berada pada Jogjakarta. Hampir semua kerajaan jawa mempunyai komposisi rapikan letak semacam ini.

Masjid yg pula dikenal menggunakan nama Masjid Gede Kauman ini terletak pada sebelah barat Alun- Alun Utara yang secara simbolis adalah transendensi buat memberitahuakn keberadaan Sultan pada samping pimpinan perang atau penguasa pemerintahan (senopati ing ngalaga), jua sebagai sayidina panatagama khalifatulah (khalifah Allah) pada global pada dalam memimpin kepercayaan (panatagama) di kasultanan.

Sejarah Masjid Gedhe Kauman

Sebagaimana disebutkan menggunakan kentara dalam prasasti pembangunan masjiid yang diletakkan dalam tembok pagar menghadap ke Alun alun, Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Raya Daerah Yogyakarta ini merupakan Masjid Kagungan Dalem Keraton Yogya.

Pembangunan Masjid Gedhe Kauman dilaksanakan delapan belas tahun selesainya berdirinya kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Proses pembangunan-nya dilaksanakan atas perintah menurut Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792) dan terselesaikan dibangun pada hari Minggu 29 Mei 1773 sebagai persembahan khusus dari Sultan pada kaum duafa.

Di bagian sisi selatan masjid bergaya tradisional Jawa ini, masih ada fasilitas mandi dan mencuci buat kaum dhuafa yg tidak memiliki tempat tinggal. Sultan ingin melihat rakyatnya hidup layak. Bahkan, saat mereka tinggal pada sana, kebutuhan kuliner pun akan dipenuhi sang masjid.

Ekterior Masjid Gedhe Yogyakarta

Selain membentuk fasilitas bagi kaum dhuafa, di seputaran masjid pula dibangun fasilitas bagi pengurus masjid. Para ulama, khotib, serta abdi dalem diberi fasilitas perumahan pada kurang lebih masjid yg diberi nama Kauman, yang berarti "loka para kaum". Sedangkan buat penghulu keraton & famili, Sultan menyediakan perumahan di sisi utara yang dinamakan Pengulon.

Beliau menunjuk arsitek K. Wiryokusumo buat merancang masjid ini. & Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat menjadi penghulu pertama. Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat atau Kyai Muhammad Faqih merupakan saudara ipar berdasarkan Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Muhammad Faqih menikah menggunakan putri pertama Ki Derpoyodo sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah menggunakan putri ke dua Ki Derpuyudo. Kyai Faqih yg lalu menyarankan pada sultan agar diangkatnya para Pathok Kesultanan.

Ekterior Masjid Ghede Kauman Yogyakarta

Pathok yang dimaksud oleh Kyai Muhammad Faqih ketika itu adalah Para ulama yang bertugas memberikan pendidikan moral kepada masyarakat yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti. Kyai Muhammad Faqih sendiri pada ahirnya juga diangkat sebagai Pathok oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dan salah satu masjid Pathok Negara Jogya, yaitu Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo didirikan pertama kali oleh Kyai Muhammad Faqih di atas tanah perdikan pemberian Sultan Jogya.

Dan keseluruhan ada lima Masjid Pahtok yang dibangun di empat penjuru mata angin yakni, Lima masjid pathok tersebut adalah : Masjid Pathok Taqwa Wonokromo dan Masjid Pathok Nurul Huda Dongkelan di selatan, Masjid Pathok Ad-Darojat Babadan di timur, Masjid Jami' An-Nur Mlangi di barat, dan Masjid Pathok Sulthoni Plosokuning di utara. Kelima masjid tersebut di pimpin oleh seorang imam yang juga menjadi perangkat peradilan Keraton Yogya di lokasinya berada dan menginduk kepada Masjid Agung Kauman di Alun Alun Yogya.

yang khas dari Masjid Gedhe Kauman Yogya ::: Ukiran khas Jawa yang begitu indah menghias interior Masjid Ghede Kauman Yogya ini sangat menawan sebagaimana terlihat pada balok balok kayu penyangga atap di foto kiri atas dan pada mimbar masjid foto kanan bawah,  dan layaknya sebuah masjid keraton, masjid Ghede Kauman Yogya ini juga dilengkapi dengan maksura yang merupakan area khsusus untuk Sultan bila sedang sholat di masjid ini seperti pada foto kanan atas.

Masjid Agung Kauman bersama masjid masjid Pathok Negara menjadi bagian dari masjid Kerajaan sebagai akibatnya menjalankan fungsi ketakmiran bersama-sama. Kedudukan para imam/pengulu/kyai pengulu masjid juga menjadi anggota al-Mahkamah al-Kabirah (Badan Peradilan Kesultanan Yogyakarta) dalam taraf Peradilan Agama Islam. Imam Besar Masjid Agung kauman menjadi kepala Mahkamah yg bergelar Kanjeng Kyai Penghulu. Dalam sistem hukum dan peradilan Kerajaan, Sultan tetap memegang kekuasaan kehakiman tertingi.

Masjid Agung Yogya merupakan masjid utama kerajaan yang berfungsi sebagai tempat beribadah, upacara kesagamaan, pusat syiar Islam, dan loka penegakan rapikan aturan Islam. Sejak awal mula sampai sekarang Masjid Agung Keraton Yogyakarta adalah masjid yg sangat penting tidak saja buat tempat peribadatan umat Islam secara umum, tetapi juga buat penyelenggaraan upacara-upacara norma Keraton Yogyakarta.

Rangkaian tradisi pada Masjid Ghede Yogyakarta setiap tahun selalu menarik perhatian warga Yogya & sekitarnya buat berebut tumpengan yang di bir sampai ke depan Masjid ini. Sementara di bulan suci Ramadhan, pengurus masjid menyediakan hidangan buka puasa bagi para jemaah seperti dalam foto kanan bawah.

Kawasan di sekitar masjid merupakan kawasan pemukiman para santri ataupun ulama. Pemukiman tersebut lebih dikenal dengan nama Kauman dan Suronatan. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kehidupan religius di kampung tersebut menjadi inspirasi dan tempat yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya gerakan Muhammadyah pada tahun 1912 M yang dipimpin oleh K.H.Ahmad Dahlan.

Arsitektural Masjid Agung Keraton Yogyakarta

Masjid Agung Keraton Yogya dibangun tak jauh berbeda dengan masjid masjid di tanah jawa yang lebih dulu dibangun sebelumnya, seperti Masjid Agung Demak di kesultanan Demak yang masih eksis hingga kini bersama alun alun dan pasarnya meskipun keraton kesultanan Demak sudah tak bersisa karena dibumi hanguskan oleh penjajah Belanda. Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 16.000 meter persegi.

Interior Masjid Ghede Kauman Yogyakarta

Seluruh kompleks Masjid ini dikelilingi oleh pagar tembok tinggi, pada bagian utara dibangun Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal Penghulu Keraton dan keluarga Sultan serta kantor pengelola masjid. Abdi dalem pengulon inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin. Disekitar masjid juga dibangun fasilitas bagi para pengurus masjid, ulama dan khatib serta para abdi dalem yang diberi nama Kauman yang berarti "tempat para kaum". Sedangkan di sebelah barat masjid terdapat beberapa makam yang diantaranya adalah makam Nyai Ahmad Dahlan.,

Seperti halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap limas bersusun tiga, dalam tradisi Jawa disebut sebagai Tajuk Lambang Teplok, lengkap dengan mastaka/mustoko yang mirip dengan daun kluwih/daun simbar dan gadha di ujung atap tertinggi. Makna daun Kluwih adalah linuwih, atau punya kelebihan yang sempurna, sementara gadha yang berarti tunggal, hanya mengakui ke-esaan Allah SWT. Sistem atap tumpang tiga ini memiliki makna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat.  Keseluruhan struktur atap utama ditopang oleh empat sokoguru utama dari kayu jati Jawa utuh berumur lebih dari 200 tahun berdiri kokoh di ruang sholat utama.

Gerakan Muhammadiyah ::: Organisasi Islam ini tak mampu lepas Sejarahnya dari Masjid Ghede Kauman Yogyakarta. Bagi anda para pecinta Film Nasional, anda bisa menikmati kilasan sejarah organisasi ini dan keterkaitannya dengan Masjid Ghede Kauman dari film "Sang Pencerahdanquot;.

Masjid ini mempunyai dua bagian utama, ruang sholat utama dan serambi Al Makalah Al Kabiroh. Ada juga Pagongan di sebelah utara dan selatan halaman luar masjid yang merupakan tempat gamelan. Setiap bulan Maulid tiba, gamelan ini akan dimainkan mengiringi dakwah para ulama. Jamaah yang datang ke masjid ini diharapkan dapat berbuat baik kepada sesama. Harapan ini sudah muncul ketika pengunjung menginjakkan kaki di depan pintu gerbang masjid, Gerbang yang dikenal dengan nama Gapuro ini berbentuk Semar Tinandu yang melambangkan seorang punakawan yang tugasnya mengasuh, menjaga, dan memberi teladan yang baik. Masjid Agung Jogja dilengkapi lima gerbang untuk memasuki halaman masjid. Dua gerbang di sisi utara dan selatan. Sedangkan gerbang utama yakni Gapuro Semar tinandu berad di sisi timur.

Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi didirikan pada atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tadi berpola hias motif pinggir awan yg dipahatkan. Atap serambi masjid jua berbentuk limasan.

Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan orisinil serambi Masjid Gedhe Kauman, lalu diganti menggunakan menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan keraton. Tidak ketinggalan pula lantai dasar masjid yg terbuat dari batu kali kini telah diganti dengan marmer menurut Italia. Pesona menurut Masjid Gedhe Kauman terletak dalam beberapa keunikan galat satunya pemasangan batu kali putih pada dinding masjid tidak memakai semen dan unsur perekat lain.

Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak. Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman. Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah dengan ornamen floral berwarna emas.

Sebagai Masjid Keraton, Lambang kebesaran Keraton Yogya terpampang Jelas pada gerbang utama Masjid Ghede Kauman Yogyakarta ini.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot, blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid. Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Tak jauh tidak sinkron dengan masjid atau mushalla pada umumnya, menyambut bulan Ramadhan Masjid Gedhe jua menyiapkan rangkaian acara dan takjilan buka bersama yg tiap harinya dikunjungi hingga 600 orang jamaah. Panitia Ramadhan Masjid Gedhe, bahkan terdapat hari spesifik menggunakan hidangan khas. "Setiap hari Kamis panitia khusus menyembelih kambing dan menyediakan Gulai Kambing menjadi menu buka puasa". Apabila anda bukan penderita tekanan darah tinggi akut, penulis rasa, sajian special tadi patut buat dicoba dan jangan lupa buat membawa kamera apabila Anda nir ingin melewatkan wisata religi menurut nilai sejarah dan kemegahan yg unik menurut arsitektur masjid tertua di Jogja tersebut.

Referensi

wisatajogjakarta.com - masjid_agung_jogja

gudeg.net – masjid agung (gede) kauman

tembi.org – masjid agung

tembi.org – masjid agung jogja dulu dan kini

kotajogja.com - Masjid Gedhe Kauman

Baca Juga

Masjid Agung Demak

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Syuhada Kotabaru Jogjakarta

Masjid Syuhada Kotabaru - Yogyakarta dibangun buat mengenang para syuhada kemerdekaan yang sudah gugur dalam membela & mempertahankan kemerdekaan Indonesia, jua sebagai kenang kenangan bagi kota Yogyakarta yang pernah menjadi Ibukota Negara sekaligus sebagai ibukota usaha Republik Indonesia.

Masjid Syuhada berada pada kota Baru, Yogyakarta. Didirikannya Masjid Syuhada ini bertujuan spesifik buat memenuhi kebutuhan Umat Islam buat beribadah pada Allah. Dan menjadi monumen buat memperingati para syuhada (pahlawan yg gugur syahid di medan perang) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran & keadilan menjadi tanda mata peninggalan, kenang-kenangan buat Yogyakarta yang pernah dijadikan menjadi ibukota negara, ibukota perjuangan.

Masjid Syuhada dibangun di atas tanah wakaf dari Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat, peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Presiden Soekarno bahkan memberikan sambutan khusus atas pemabangunan masjid ini, tokoh krusial Nasional Muhammad Natsir pernah sebagai khatib di masjid ini sementara Muhammad Hatta (Bung Hatta) pernah menyempatkan menaruh kuliah nya disini sepulang menurut tanah kudus. Tak hanya itu, pembangunan masjid ini turut menarik perhatian muslim dan pemerintah Pakistan yang turut menyumbangkan permadani bagi masjid ini sebagai bentuk persahabatan dan persaudaraan 2 bangsa.

Dibangun pada perpaduan arsitektural dengan kubah bawang dan menar menara mini pada atap nya sebagai fitur utama masjid ini. Dan pada pada ruang primer masjid terhampar permadani hibah menurut Muslim dan Pemerintah Pakistan.

Lokasi dan Alamat Masjid Syuhada

Masjid Syuhada

Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 (Kotabaru)

Yogyakarta, Daerah Yogyakarta ? Indonesia

Blog masjid Syuhada di http://buletinsyuhada.blogspot.com

Masjid Syuhada berada di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 Kotabaru, Yogyakarta. Saat ini Masjid Syuhada juga mengelola Sekolah Islam dari Taman Kanak Kanak Islam hingga Sekolah Menengah Islam Terpadu yang semuanya bernama Syuhada. Untuk keterangan lebih lanjut tentang sekolah sekolah ini silahkan berkunjung ke situsnya masing masing di www.tkmasjidsyuhada.com dan http://smpitmasjidsyuhada.wordpress.com.

View Masjid Agung Syuhada Kotabaru Jogjakarta in a larger map

Sejarah Pembangunan Masjid Syuhada Kotabaru

Pada masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni sang orang-orang kulit mulus dan orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru merupakan merupakan bagian kota yang terkini, higienis, sehat namun sama sekali nir ada masjid di daerah tersebut. Di masa penjajahan Jepang awal tahun 1942 seluruh warga kulit bening & Belanda dipindahkan berdasarkan Kotabaru. Rumah-tempat tinggal kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang & sebagian orang-orang Indonesia yg beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu loka ibadah buat Umat Islam. Dan komposisi penduduk kotabaru balik berubah pada masa kemerdekaan RI, rakyat Kotabaru sebagai terdiri berdasarkan anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar muslim dan kebutuhan akan loka ibadah Umat Islam semakin terasa.

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI pada Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia & Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI berdasarkan Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian muncul harapan adanya suatu peninggalan, tanda mata & peringatan buat Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan & peringatan usaha kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian usaha bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang meninggal, melainkan sebuah Masjid Jami? Yang setiap saat implisit perbedaan makna kehidupan Umat Islam.

Foto sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta :: peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Masjid Syuhada ini dilakukan langsung sang Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam lepas 23 September 1950 bertepatan dengan hari raya Qurban kedua.

Proses pembangunan masjid Syuhada dimulai pada tanggal 14 Oktober 1949 dengan dibentuknya Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada. Menyusul kemudian tanggal 17 Agustus 1950 dilaksanakan penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi. Dan sebulan kemudian upacara peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Raja Yogya, Sultan Hamengkubuwono IX selaku menteri pertahanan RI sekaligus sebagai Kepala Daerah Propinsi DIY pada tanggal 23 September 1950/11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua.

Pada tanggal 25 Mei 1952 dibentuk secara resmi Yayasan Asrama  dan Masjid Syuhada (YASMA Syuhada). Dan dua tahun setelah peletakan batu pertama yakni pada tanggal 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372. Selang beberapa hari setelah peresmian diselenggarakan sholat Jum’at pertama di Masjid ini pada hari Jum’at 26 September 1952.

Dulu & Sekarang :: foto atas merupakan lokasi dimana Masjid Syuhada berdiri seperti terlihat dalam foto bawah masjid Syuhada berdiri megah disana.

Ibadah Sholat Jum?At pertama tadi di imami oleh tokoh Nasional Muhammad Natsir, yang sekaligus bertindak sebagai khatib. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru pulang menurut menunaikan Ibadah Haji di Mekkah menaruh ceramahnya pada ruang aula/kuliah masjid syuhada ini. Pembangunan masjid ini rupanya turut menarik perhatian pemerintah & rakyat Pakistan yg dalam lepas 13 September 1953 menyumbangkan 24 helai permadani buatan Karachi - Pakistan buat masjid Syuhada.

Pengelolaan Masjid Syuhada

Dengan selesainya pembangunan Masjid Syuhada maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya dilaksanakan oleh Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA) sebagai kelanjutan dari Panitia Pembangunan Masjid Syuhada.  Jabatan Ketua Umum DKM Masjid Syuhada selalu diiberikan kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai waqif tanah dimana Masjid Syuhada didirikan. Saat ini (2008 – 2013) jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada H. Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat (H. Tirun Marwito, SH).

Eksterior Masjid Syuhada dari banyak sekali sudut.

Dengan tujuan dakwah & berkontribusi dalam global pendidikan, maka YASMA SYUHADA membangun susunan kepengurusan masjid Syuhada yg komposisinya mungkin akan menciptakan anda tercengang karena berisikan sederet tokoh tokoh Nasional yg sudah dikenal luas oleh rakyat. Susunan pengurus Masjid Syuhada periode 2008 ? 2013 merupakan sebagai berikut :

Penasihat : Sri Sultan Hamengku Buwono X êSri Paduka Paku ALam IX êProf. Dr. H. M. Amien Rais, MA êGBPH H. Joyo Kusumo êProf. Dr. H. Moh. Mahfudz MD êKa. Kanwil. DEPAG D. I. Yogyakarta  êdan Wali Kota Yogyakarta.

Pembina : Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag êDr. Ir. H. Harsoyo, M.Sc êProf. H. M. Suyanto, M.Pd., Ph.D  êdan Dr. H. Jawahir Thontowi, SH.

Pengawas : Drs. H. Subowo, M.M êIr. H. Harsoyo M., Dipl.HS êDrs. DIdi Wahyu Sudirman, M.M ê

Eksterior Masjid Syuhada (foto diambil dari aneka macam sumber pada internet)

Ketua I : Ir. H. Muhammad Hanif, MT

Ketua II : H. E. Zainal Abidin, SH., MS., MPA

Bidang Pendidikan : Ketua, Dr. Ir. H. Hary Sulistyo

Bidang Sarana dan Prasarana : Ketua, Ir. H. Eddy Sofyan H, MT

Bidang Pengembangan Usaha : Ketua, Amir Fansuri, SE

Bidang Ibadah, Keta’miran, Asrama dan Alumni : Ketua, H. Dachwan, M.Si

Bidang Kajian dan Pembinaan Kader : Ketua, Drs. Kusworo, M.Hum

Bidang Kewanitaan : Ketua, Dra. Hj. Yayah Kusiah, M.Pd

Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Kotabaru Yogya ini pula memiliki sederet forum lembaga yg dikelola sang Masjid, terdiri menurut lembaga lembaga pendidikan formal dan non formal yang kesemuanya bernaung dibawah Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA). Lembaga Lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

Interior Masjid Syuhada

Lembaga Pendidikan Formal : Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa, Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa, Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiri dari dua prodi yaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Lembaga Non Formal terdiri dari : Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS) sejak 1952, Pendidikan Anak Masjid Syuhada (PAMS) didirikan 20 Oktober 1953, Pendidikan kader Masjid Syuhada (PKMS) didirikan 20 Nopember 1954, Training Center dan Event Organizer, Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS), Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah dan Bantuan Hukum (LPKSBH) Masjid Syuhada, Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Masjid Syuhada (LAZIS MS), Baitul Maal Wat Tamwiil Syuhada (BMT Syuhada), Pengajian Putri Masjid Syuhada (PPMS), Kelompok Pengajian Al-Quran (KPA)  Al-Hijrah Masjid Syuhada dan Forum Shoilihat.

Keliru satu sisi Masjid Syuhada.

Asrama Putra dan Putri : Masjid Syuhada juga mengelola asrama Putera dan Puteri YASMA SYUHADA. Asrama Putra terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru-Yogyakarta 55224 Tlp. 0274-547227 atau tepatnya di sebelah timur Masjid Syuhada.  Asrama putra ini berkapasitas 20 mahasiswa. Asrama putri beralamat di Jl. Pringgokusuman No. 12 berdampingan dengan kampus STAIMS Telp. 0274-514520. Setiap warga yang mondok di Asrama tidak dipungut biaya tetapi sebagai konsekuensinya bertanggungjawab  sepenuhnya atas kegiatan-kegiatan lembaga non-formal.

Program Reguler : Masjid Syuhada juga menyelenggarakan Program Reguler Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada termasuk di dalamnya : Studi Islam Efektif, Kajian Keluarga Sakinah, Pelatihan Kader Da’I, Pendidikan Jurnalistik, Pelatihan Bahasa Asing, Training Ustadz/ah TPA, Pelatihan Nasyid dan Pengembangan Masyarakat

Arsitektural Masjid Syuhada Kotabaru

Masjid yang menggabungkan berbagai arsiktektur selain sejumlah perlambang inheren pada setiap bangunan, pada kubahnya mengambil bentuk-bentuk bangunan yg berkembang pada Persia, India & sebagai bagian berdasarkan masjid-masjid yg dibangun ketika itu. Kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah mini di empat sudutnya.

Fasad depan Masjid Syuhada. Sekilas mempunyai kemiripan dengan masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta.

Masjid Syuhada Yogyakarta sebagai satu menurut saksi sejarah warga muslim pada memperjuangkan kemerdekaan. Masjid Syuhada menyimpan candrasengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai akibatnya hal itu digambarkan dalam bagian-bagian krusial bangunan masjid ini, misalnya 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapura-nya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas.

Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, ruang bawah buat ruangan kuliah, dilengkapi 20 ventilasi yang diharapkan sebagai peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Di lantai 2 untuk ruang shalat bagi jema?Ah wanita, terdapat dua tiang yg seolah-olah menyangga bangunan yg menggambarkan dua butir iktikad insan. Sedang pada lantai tiga sebagai ruang shalat primer, termasuk shalat Jumat pada mihrabnya masih ada lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada warga muslim akan lima rukun Islam.

Program untuk anak anak taman kanak kanak pada masjid Syuhada.

Serangan Bom di Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta

Kamis, 23 Desember 2010 pukul 14.00 WIB sebuah bom rakitan meledak di pekarangan Masjid Syuhada ini, Dari output olah TKP, Polda DIY menyimpulkan, bom rakitan tadi merupakan contoh bom yang dilontarkan. Saat dilontarkan, bom mengenai pohon, lalu jatuh di dekat pagar masjid. Cara kerja bom ini mirip dengan mercon & berjenis low explosive. Saat meledak, bom ini membuat pengurus masjid & masyarakat sekitar kaget. Mereka kemudian berbondong-bondong menuju lokasi ledakan.

Tidak terdapat korban jiwa pada ledakan ini. Polisi juga mengamankan barang bukti sisa ledakan berupa pipa aluminium dan pipa paralon dengan diameter 1 inchi menggunakan panjang sekitar 30 centimeter. Tidak jelas apa motif berdasarkan pelaku pelemparan Bom tadi. Yang pasti pihak kepolisian meminta masyarakat warga buat nir terprovokasi oleh ulah pihak yg tak bertanggung jawab tadi.

Referensi

malioboro11.blogspot.com - masjid-agung-syuhada-kotabaru

blog masjid Syuhada - http://buletinsyuhada.blogspot.com

detik.news.com – bom rakitan meledak di halaman masjid syuhada yogya

----------------------------

Baca Juga

Masjid Agung Demak

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Friday, September 4, 2020

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (foto : apriyoga)

Kotagede di Yogyakarta menyimpan sejarah masa lalu yang tak ternilai, khususnya bagi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan bagi sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa dan Indonesia pada umumnya. Di Kota tua ini pernah berdiri Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam), menggantikan kerajaan Mataram Hindu yang sebelumnya juga berdiri dan berpusat di lokasi yang sama.

Era kejayaan Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam) memang sudah berlalu ber-abad yang lalu. Kerajaan Islam terbesar Nusantara tersebut kemudian terpecah menjadi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, namun peninggalan masa ke emasan nya masih dapat kita temui saat ini, Termasuk Masjid Agung Mataram Kotagede, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu sebuah kerajaan yang pernah berjaya dan menguasai hampir seluruh tanah Jawa, dan jejak kemashurannya bertebaran hingga ke ibukota Negara, Jakarta.

Lokasi Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Agung Mataram Kotagede

Kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan

Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Indonesia

View Masjid Agung Kotagede in a larger map

Masjid yang merupakan salah satu komponen asli Kotagede ini berdiri di selatan kawasan Pasar Kotagede sekarang, tepatnya di kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan masjidnya sendiri tidaklah semegah masjid masjid modern, bahkan bila dibandingkan dengan Masjid Agung  Yogyakarta pun masih kalah megah. Namun masjid ini jauh labih tua dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta dan masjid masjid tua lainnya di Yogyakarta.

Keunikan yg sangat menyolok menurut arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede ini terletak dalam deretan 2 unsur budaya menurut 2 latar belakang kepercayaan yg berbeda, lalu diramu menggunakan apik ke dalam satu kesatuan bangunan masjid. Pengaruh budaya Hindu masih sangat kental dalam bangunan masjid ini. Nuansa itu bisa eksklusif ditemui waktu berkunjung kesana dari tampilan gerbang yang mengadopsi gerbang gerbang bangunan pura sampai bentuk bangunan primer nya yang menggunakan atap berundak.

Mastaka di puncak atap bangunan utama masjid agung Mataram Kotagede (foto : aroengbinang)

Hal lain yang sangat menarik dari masjid masjid tua tanah jawa adalah mastaka pada puncak atap masjid yang tidak pada hias dengan bulan sabit ataupun lafaz Allah melainkan sebuah gada ukuran besar dihias menggunakan ornamen misalnya daun simbar. Gada besar itu melambangkan hurup alif ataupun angka 1 yg menyimbolkan ke-Esa-an Allah Subhanahuwata?Ala.

Megunjungi masjid bersejarah seperti Masjid Agung Kotagede ini, tak lengkap rasanya bila kita tidak menilik sejenak jauh kebelakang tidak saja tentang sejarah masjid nya sendiri tapi juga sejarah kerajaan dan masyarakat tempat nya berdiri, karena seperti kita semua ketahui bahwa bangunan masjid tak lepas dari peran ummat dan Ulama dan Umaro di tempatnya berdiri. Berikut sejarah singkat sejarah Kesultanan Mataram di rangkum dari berbagai sumber.

Mengenal Sejarah Kesultanan Mataram

Hingga tahun 1952 Kotagede dan Imogiri merupakan exclave kasunanan Surakarta pada dalam daerah Yogyakarta, sampai lalu dilebur ke pada wilayah Daerah Yogyakarta beserta dengan wilayah Pakualaman & exclave Ngawen milik Mangkunegaran.

Kotagede tempat berdirinya Masjid Agung Kotagede, memang sudah tak lagi menjadi ibukota sebuah kerajaan, tapi saksi bisu serangkaian sejarah besar. Pada abad ke-8, Kotagede menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Hindu dibawah kekuasan dinasti wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra hingga Wangsa Isyana yang menguasai seluruh Pulau Jawa, kerajaan ini memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa, jejak kebesarannya masih dapat kita nikmati hingga detik ini diantaranya adalah candi Prambanan dan candi Borobudur.

Berabad lamanya waktu berlalu kerajaan di tanah Jawa pun patah tumbuh silih berganti. Di penghujung kejayaan Majapahit, Kesultanan Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Ketika kekuasaan Kesultanan Demak berahir, tahta Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Jaka Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang paska keruntuhan Kesultanan Demak akibat pemberontakan Arya Penangsang tahun 1546.

Penebahan Senopati

Penumpasan Arya Penangsang dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan dibantu oleh putranya, Danang Sutawijaya atas perintah Jaka Tingkir. Atas jasanya tersebut beliau mendapatkan hadiah sebidang tanah hutan yang luas di Mentaok di tahun 1556, sebuah kawasan hutan yang tak lain adalah bekas pusat pemerintahan kerajaan Mataram Hindu. Di Kawasan hutan tersebut Ki Ageng Pemanahan bersama keluarga dan pengikutnya mendirikan sebuah desa kecil dengan status sebagai tanah perdikan swatantra dibawah kekuasaan Kesultanan Pajang.

Desa kecil yang dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan ditahun 1556 mulai makmur. Tahun 1577 beliau memindahkan pusat pemerintahannya ke Pasargede dan membangun istana disana hingga beliau wafat tahun 1584M, beliau digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Di bawah kepemimpinan Sutawijaya desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut sebagai Kotagede (kota besar).

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, terjadi perebutan takhta di Kesultanan Pajang. Putra mahkota, Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Sutawijaya karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Sutawijaya.

Lukisan wajah Sultan Agung

di Perangko terbitan tahun 2006

Pangeran Benawa lalu menawarkan tahta Pajang kepada Sutawijaya namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat dan sempat berwasiat agar Pajang dipimpin oleh Sutawijaya. Tahun 1588M Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Kotagede mendirikan Kesultanan Mataram dan dilantik menjadi raja pertama di Kesultanan Mataram melanjutkan tahta Kesultanan Pajang.

Setelah dilantik menjadi raja, Sutawijaya bergelar Panebahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Beliau sengaja tidak memakai gelar Sultan untuk menghormati mendiang Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Panebahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan Mataram hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Beliau wafat tahun 1601 dan kekuasannya diteruskan oleh putra nya,Mas Jolang  bergelar Prabu Hanyokrowati yang pemerintahannya tak berlangsung lama.

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (foto : salamgowes)

Tahta kesultanan diteruskan oleh Mas Wuryah bergelarAdipati Martoputro. Beliau adalah putra keempat Prabu Hanyokrowati, namun merupakan putra tunggal dari istri pertamanya. Adipati Martoputro hanya berkuasa sebentar saja, bahkan ada yang menyebutnya hanya berkuasa satu hari. Namun sumber lain menyebutkan beliau menderita sakit jiwa hingga tahta kesultanan berpindah ke Raden Mas Rangsang yang merupakan putra sulung Prabu Hanyokrowati dari istri kedua.

Raden Mas Rangsang alias Raden Mas Jatmika bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kesultanan Mataram mengalami masa keemasan. menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia).

Bersambung ke Bagian 2

Referensi

id.berita.yahoo.com – mengolah iman di masjid kotagede

gudeg.net – masjid agung mataram kotagede

kotajogja.com - Masjid-Kotagede

salamgowes.wordpress.com - masjid-kotagede-tiga-agama-dalam-satu-bangunan

uun-halimah.blogspot.com - masjid-besar-mataram-kotagede-daerah

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid pada Yogyakarta Lainnya

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso KuningôMasjid Pathok Negara Taqwa WonokromoôMasjid Pathok Negara Nurul HudaôMasjid Pathok Negara Ad-Darojat BabadanôMasjid Jami Nur MlangiôMasjid Gedhe Kauman YogyakartaôMasjid Syuhada Kotabaru - Yogyakartaô

Artikel Terkait

Masjid Jami al-Mansyur Sawah Lio - JakartaôMasjid Al-Ma’mur Tanah Abang Jakartaô Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur, JakartaôMasjid Agung Karawang Bagian I dan Bagian IIô

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (Bagian 2)

masjid Agung Mataram Kotagede (foto : kotajogja.com )

Catatan sejarah kekuasaan Sultan Agung, Raja terbesar Kesultanan Mataram terukir indah sebagai salah satu raja Jawa yang melakukan peperangan sengit melawan penjajahan Belanda. Beliau melakukan dua kali ekspedisi militer menyerang pusat kekuatan Belanda di Batavia. Meski dua serangan tersebut mengalami kegagalan namun jejak yang ditinggalkan masih dapat ditelusuri hingga kini terutama disekitar kota Batavia atau kini kita kenal sebagai kota Jakarta.

Beberapa kawasan dan masjid masjid tua di kota Jakarta tak dapat dilepaskan dari pasukan Kesultanan Mataram yang tergabung dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Sultan Agung ke Batavia. Diantaranya adalah Masjid Jami’ Matraman, Masjid Jami al-Mansyur di Sawah lio – Jembatan lima, Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang, dan bila membaca sejarah Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur kita akan menemukan fakta bahwa Raden Saleh yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut beristrikan seorang putrid dari keraton Mataram.

Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : yogyes.com)

Tak hanya masjid masjid di Jakarta yang memiliki sentuhan sejarah dengan kebesaran Kesultanan Mataram. Masjid Agung Karawang di pusat kota Karawang pun pernah menjadi tempat persinggahan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia mengingat kala itu Karawang merupakan wilayah bawahan Kesultanan Mataram dan turut membantu penyediaan logistik bagi pasukan tersebut.

Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat-I. Sejak naik tahtanya Amangkurat I Kesultanan Mataram mengalami konflik internal akibat berbagai ketidakpuasan. Sunan Amangkurat I wafat di Tegalarum tahun 1677. Perselisihan dan pertikaian internal kerajaan tak kunjung usai sampai ahirnya Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua kerajaan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal13 Februari1755.

Pembagian daerah Mataram di tahun 1830. Awalnya terdiri menurut dua wilayah, Yogya & Surakarta kemudian pecah lagi sebagai empat dengan eksisnya Mangkunegaran & Pakualaman. Wilayah Yogya sendiri mempunyai beberapa exclave menurut negeri tetangganya.

Perjanjian Giyanti tersebut membagi dua Kesultanan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sultan Hamengkubuwana-I dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwana III sebagai raja pertama. Dan Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.

Sejarah Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Besar Mataram, atau Masjid Agung Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Ageng Pemanahan. Artinya Masjid ini sudah eksis sejak masa Kesultanan Pajang, dan wilayah kotagede (Mataram/Alas Mentaok) masih merupakan wilayah swatantra di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, sebelum Kesultanan Mataram Bediri ditandainya dengan dilantiknya Sutawijaya menjadi Panebahan Senapati (berkuasa 1588-1601), sebagai pertama raja Kesultanan Mataram, di tahun 1588M.

Monumen peringatan pembangunan Masjid oleh Kasunanan Surakarta berdiri megah di halaman masjid ini, menandai bahwa Pakubuwono X penguasa Kasunanan Surakarta penah membangun masjid ini saat Kotagede menjadi exclave Surakarta. Dibagian belakang terlihat gerbang yang sangat bercorak Hindu (foto : Panoramio)

Sutawijaya atau Panebahan Senapati mengembangkannya langgar yang dibangun ayahnya itu menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab. Disebutkan pula bahwa Sultan Agung (memerintah tahun 1613-1645) turut membangun bangunan inti masjid ini.

Paska Perjanjian Giyanti hingga tahun 1952 sebagian wilayah Kotagede dan Imogiri menjadi ekslave Kasunanan Surakarta di dalam wilayah Kesultanan Ngayokyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Agung Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.

dua tanda tahun di fasad depan masjid ini menandakan dua periode pembangunan masjid ini (foto : profesirandi)

Di fasad depan masjid terukir angka tahun 1856 dan 1926, merupakan tahun dilakukannya penambahan emperan dan tempat wudhu, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono X.

Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian dalam 2002 dilakukan renovasi besar menggunakan memasang marmer Italia pada liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) menggunakan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, dan perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.

Lanjutkan membaca ke bagian 3 (habis)

Kembali ke Bagian 1

Referensi

id.berita.yahoo.com – mengolah iman di masjid kotagede

gudeg.net – masjid agung mataram kotagede

kotajogja.com - Masjid-Kotagede

salamgowes.wordpress.com - masjid-kotagede-tiga-agama-dalam-satu-bangunan

uun-halimah.blogspot.com - masjid-besar-mataram-kotagede-daerah

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid di Yogyakarta Lainnya

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso KuningôMasjid Pathok Negara Taqwa WonokromoôMasjid Pathok Negara Nurul HudaôMasjid Pathok Negara Ad-Darojat BabadanôMasjid Jami Nur MlangiôMasjid Gedhe Kauman YogyakartaôMasjid Syuhada Kotabaru - YogyakartaôMasjid Agung Mataram Kotagede Bagian Iô

Artikel Terkait

Masjid Jami al-Mansyur Sawah Lio - JakartaôMasjid Al-Ma’mur Tanah Abang Jakartaô Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur, JakartaôMasjid Agung Karawang Bagian I dan Bagian IIô

Thursday, September 3, 2020

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (bagian 3, habis)

masjid Agung Mataram Kotagede (foto : blogkotagede)

Arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede

Bangunan inti Masjid Kotagede merupakan bangunan Jawa menggunakan atap limasan. Sedangkan ruangan masjid ini terbadi dua yaitu inti dan serambi. Sebelum memasuki area Masjid, disebelah barat Masjid berdiri gapura akbar yang dianggap Gapura Padureksa. Diatas gapura ini terdapat sebuah hiasan Kala seperti halnya ornamen dekoratif yg banyak dijumpai dalam bangunan candi antik bergaya Hindu.

Di kiri kanan jalan menuju gapura Gapura Padureksa, berjajar sejumlah tempat tinggal tradisional Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal famili Dondhong keturunan menurut Nyai Peringgit, para abdi dalem yang bertugas membersihkan laman masjid. Selain Gapura Padureksa pada sisi timur, masih terdapat dua butir gapura sejenis yang masih ada pada sisi utara & selatan. Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan page Masjid menggunakan kompleks Makam Senopaten.

parit yang mengelilingi Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : d3ptzz.kandangbuaya)

Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudhu di sebelah utara masjid. Memasuki halaman di depan serambi akan di temui beberapa pohon sawo kecik serta prasasti pembangunan Masjid berlambang Kasunanan Surakarta.

Bangunan Utama dan Bangunan Tambahan. Bangunan primer masjid berbentuk limasan yg terbuat menurut batu bata, semen, pasir & kayu. Bagian serambinya ditopang sang 26 buah tiang kayu jati. Lantai serambi dari tegel abu-abu. Sedangkan, atap serambi yang berbentuk tumpang terbuat dari sirap. Di serambi ini tersimpan kentongan dan Beduk bantuan gratis menurut Nyai Peringgit.

beduk Nyai Pringgit (foto : yogyes.com)

Bedug yg usianya tidak kalah tua menggunakan masjidnya itu merupakan hadiah berdasarkan Nyai Pringgit yg asal dari desa Dondong (daerah pada Kabupaten Kulon Progo). Atas jasanya menaruh bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak buat menempati wilayah sekitar masjid yang lalu dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda ketika sholat. Beduk tadi ukuran panjang 184 sentimeter dengan diameter 85 sentimeter sedangkan kentongannya ukuran panjang 114 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter.

Atap bangunan mesjid bertingkat 2. Atap tersebut terbuat dari kayu dan ditutup dengan genteng. Atap taraf atas berbentuk segi tiga menggunakan sudutnya yg runcing. Sedangkan, atap taraf bawah misalnya segi tiga yang terpotong bagian atasnya. Puncak atap diberi mahkota yg dianggap pataka. Sementara, bangunan tambahan yang masih ada pada kompleks mesjid ini terdapat di sebelah utara bangunan induk. Bangunan tambahan ini dipergunakan sebagai tempat wudlu yang berukuran tiga,47x2,20x1,94 meter dan dilengkapi menggunakan 2 buah kamar mandi. Bangunan ini merupakan output pemugaran karena bangunan yg asli telah rusak.

masjid Agung Mataram Kotagede (foto : yogyes.com )

Pintu Masjid. Pintu masuk masjid terdapat di sisi timur, utara dan selatan. Ada tiga pintu di sisi timur masjid semuanya terbuat dari kayu jati. Masing-masing pintu dilengkapi dua daun pintu. Pintu utama berada di tengah-tengah. Pada ambang atas pintu utama terdapat tulisan huruf Jawa yang sudah agak aus, namun masih dapat terbaca yang berbunyi : “kamulyaaken tahun Ehe ngademken cipto sawaraning jalmi”.  Masih ada lagi pintu masuk di sisi utara dan selatan masing-masing dua pintu yang juga terbuat dari kayu jati. Sedangkan dua pintu di sisi selatan menghubungkan ruang utama dengan tempat wudlu.

Ruang utama. Ruang Utama Masjid ini ukuran panjang 15,22x14,19 meter, ditopang sang empat soko guru utama terbuat berdasarkan kayu jati. Lantai ruang primer ditutup ubin teraso ukuran 30x 30 sentimeter. Dindingnya terbuat dari tembok dengan delapan ventilasi, masing masing enam jendela dilengkapi menggunakan jeruji besi & dua jendela dengan jeruji kayu. Di dalam ruang utama ini masih ada mihrab ukuran panjang 1,60x2,18x2,92 meter. Mihrab itu diperindah dengan tiang semu yang dalam bagian atasnya mempunyai sekumpulan bingkai. Di atas bingkai ini masih ada papan dari kayu jati yg penuh menggunakan ukir-goresan menggunakan motif sulur daun.

mimbar masjid Agung Mataram Kotagede (foto : yogyes.com )

Mimbar Dari Palembang. Mimbar tua dari kayu berukir di diletakkan dibelah mihrab dalam masjid ini berasal dari Palembang, konon disebutkan bahwa pada saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati disana. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Mimbar tadi ukuran 2,19x1,40x2,65 meter, berdiri pada atas lapik yang tersusun bertingkat. Lapik paling bawah berukuran dua,50x1,30 meter. Di atasnya terdapat lapik yg lebih masuk ke dalam yang berukuran dua,30x1,15 meter, sedangkan yg paling atas berukuran 2,10x1,05 meter. Bagian bawah mimbar adalah formasi pelipit. Pelipit yg pertama merupakan pelipit rata dan di atasnya adalah pelipit padma.

area serambi Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : zainazai.blogspot.com)

Bangunan Pawetren. Di sisi selatan bangunan primer, masih ada ruang shalat spesifik buat jemaah perempuan (pawestren), berukuran 12,50 x 6,50 m. Lantai ruang pawestren dilapis menggunakan ubin teraso. Antara pawestren & ruang utama dihubungkan sebuah pintu.

Makam di Komplek Masjid Kotagede. Di halaman masjid ini ada beberapa bangunan makam yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian depan yang disebut Prabayaksa, bagian tengah (Witana), dan bagian belakang (Tajug). Bangunan Prabayaksa dikelola oleh keraton Surakarta, sedangkan bangunan Witana dan Tajug dikelola oleh keraton Yokyakarta.

interior masjid Agung Mataram Kotagede (foto : nurrahmanarif)

Di pada bangunan Prabayaksa masih ada 64 makam yang keliru satunya adalah makam Sultan Sedo Ing Krapyak. Di pada bangunan Witana terdapat 15 makam yang di antaranya merupakan makam Kyai dan Nyai Ageng Senopati, & makam Ki Juru Mertani. Sedangkan, di dalam bangunan Tajug hanya terdapat tiga buah makam, yaitu: makam Nyai Ageng Enis, makam Pangeran Joyoprono, & makam Datuk Palembang.

Makam yg terbagi 2. Selain makam-makam tadi ada satu makam lagi, yaitu makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang letaknya sebagian pada pada & sebagian lagi diluar bangunan Prabayaksa. Hal ini memberi makna bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang musuh, namun pada interaksi keluarga dia diterima menjadi menantu Panembahan Senopati. Konon, sewaktu Ki Ageng Mangir akan dimakamkan, rombongan yg mengangkut jenazahnya nir diperkenankan melalui gapura dan nir boleh semua jasadnya dimakamkan pada dalam kompleks masjid ini. Oleh karenanya, sebagian tembok yg berada pada sisi utara kompleks masjid terpaksa dirobohkan untuk mengubur jasad Ki Ageng Mangir.

Benda Cagar Budaya (foto :nurrahmanarif)

Tembok yang mengelilingi bangunan masjid memiliki dua karakter yang berbeda karena memang dibangun oleh dua tokoh yang berbeda. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa, dibangun pada masa Sultan Agung tanpa bahan semen melainkan menggunakan perekat dari air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. merupakan hasil renovasi Paku Buwono X.

Aktivitas Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hayati. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Jika datang saat waktu sholat, akan ditinjau puluhan rakyat menunaikan ibadah. Di luar saat sholat, poly rakyat yg memakai masjid buat loka berkomunikasi, belajar Al Qur'an, & lain-lain.

lampu gantung antik di Masjid Agung Mataram Kotagede (foto : zainazai.blogspot.com)

Selain itu, masjid ini juga selalu dikunci kedap dan hanya akan dibuka ketika datang menjelang waktu shalat. Dan sehabis terselesaikan ketika shalat pintunya akan balik dikunci. Tujuannya, tidak lain merupakan demi menjaga keamanan barang inventaris masjid. Karena, berdasar pengalaman, telah sering terjadi masalah kehilangan di pada masjid. Mulai menurut buku Alqur?An hingga perangkat sound system atau peralatan pengeras suara.

Kembali ke Bagian 2

Kembali ke Bagian 1

Referensi

id.berita.yahoo.com – mengolah iman di masjid kotagede

gudeg.net – masjid agung mataram kotagede

kotajogja.com - Masjid-Kotagede

salamgowes.wordpress.com - masjid-kotagede-tiga-agama-dalam-satu-bangunan

uun-halimah.blogspot.com - masjid-besar-mataram-kotagede-daerah

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid pada Yogyakarta Lainnya

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso KuningôMasjid Pathok Negara Taqwa WonokromoôMasjid Pathok Negara Nurul HudaôMasjid Pathok Negara Ad-Darojat BabadanôMasjid Jami Nur MlangiôMasjid Gedhe Kauman YogyakartaôMasjid Syuhada Kotabaru - YogyakartaôMasjid Agung Mataram Kotagede Bagian IôMasjid Agung Mataram Bagian 2ô

Artikel Terkait

Masjid Jami al-Mansyur Sawah Lio - JakartaôMasjid Al-Ma’mur Tanah Abang Jakartaô Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur, JakartaôMasjid Agung Karawang Bagian I dan Bagian IIô

Wednesday, September 2, 2020

Masjid Panepen Kraton Yogyakarta

Masjid Panepen pada Keraton Yogyakarta :: ukurannya mini , setara dengan namanya yg berarti loka menepi. Masjid memang ukuran mini hanya sanggup menampung sekitar 60 jemaah saja lantaran memang fungsinya menjadi masjid istana.

Masjid Kagungan Dalem Panepen atau Masjid Panepen, Masjid kecil pada pada lingkungan Keraton Yogyakarta ini nyaris tidak pernah mencuat keberadaannya & tidak pernah timbul di media cetak ataupun elektronik. Keberandaanya sendiri bahkan tidak ada pada peta wisata Yogyakarta. Statusnya memang sebagai masjid keluarga keraton sebagai akibatnya lumrah bila warga umum kurang bahkan tidak mengenal masjid ini.

Masjid Panepen dibangun sang Sultan Hamengkubuwono Ke-7 pada tahun 1327 Hijriyah. Keberadaan masjid ini muncul dan sebagai sentra perhatian publik waktu famili keraton mengakibatkan masjid ini sebagai tempat diselenggarakannya upacara akad nikah putri Sultan Hamengkubuwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) pada hari selasa pagi 18 Oktober 2011 yg kemudian. Sultan sendiri yg menikahkan kedua mempelai disaksikan kerabat dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Lokasi Masjid Panepen

Masjid Panepen terletak di sisi Barat kompleks Kraton Yogyakarta, searah menggunakan kompleks Kraton Kilen, kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono X berserta famili dan mengusut menurut namanya berarti menepi atau menyendiri atau bila diterjemahkan secara bebas merupakan tempat untuk refleksi diri.

Koordinates :  7°48'23.85"S 110°21'47.52"E

View Masjid Panepen in a larger map

Arsitektural Masjid Panepen

Masjid Panepen yang luasnya 7 kali 12 meter berkapasitas maksimum hanya 60 orang, terdiri berdasarkan 2 ruangan, serambi pada dengan enam jendela bercat hijau tua dibagian tengah masih ada empat soko guru yg menopang atap bangunan berbentuk joglo menggunakan jarak setiap tiang bundar tanpa goresan kurang lebih dua meter, bercat hijau tua, dipadu menggunakan dinding putih menciptakan suasana terasa adem, tenang dan nyaman buat digunakan sebagai loka ibadah, bertafakur kehadirat Sang Khalik.

Di bagian serambi luar dengan empat ventilasi bercat hijau tua 2 di dinding sebelah Utara dan 2 di dinding sebelah Selatan & diantara masing-masing ventilasi tersebut terpasang prasasti terbuat berdasarkan kuningan berhuruf arab gundul, keliru satu prasasti tadi menyebutkan tanggal pembangunan masjid Panepen tersebut.

Sehari-harinya masjid ini di jaga dan dirawat oleh tiga orang, seorang dari Konco Kaji yang mudah dikenali dengan busana putih berikut surban putihnya, serta dua orang dari Konco Suranata yang  senantiasa mengenakan busana peranakan, baju lurik warna biru tua, memakai kain batik dan tanpa alas kaki.

Aktivitas Masjid Panepen

Sejak dibangun Sultan Hamengku Buwono VII pada 1327 Hijriyah silam, masjid ini dijadikan lokasi ijab qobul putra putri ngarsa dalem termasuk putri Sultan HB X. Pada hari biasa loka tersebut dijadikan tempat kegiatan abdi dalem punokawan kaji yg jumlahnya 12 orang dibantu abdi dalem suranata. Pada Ramadan seperti sekarang ditambah kegiatan tarawih & tadarus Al Quran, namun nir terdapat aktivitas yg berlebihan lainnya.

Suasana di pada Masjid Penepen

Pengirit (pemimpin) Abdi Dalem Punokawan Kaji, Raden Riyo H Abdul Ridwan (sebelumnya bernama Ridwan Johan) menjelaskan masjid panepen ini adalah masjid langsung Sultan. Dilihat berdasarkan ukuran dan fungsi, sebenarnya seperti menggunakan langgar atau mushola lantaran tidak buat salat Jumat. Namun selanjutnya lebih tepat disebut menggunakan masjid kagungan dalem panepen.

Dilihat dari namanya Panepen artinya tempat buat menepi atau menyendiri. Tempat dimana sultan berkholwat, menyendiri buat mendekatkan diri menggunakan yang maha kuasa dalam ketika-saat tertentu. Jadi tidak setiap waktu Sultan menggunakan masjid tersebut buat beribadah. Beliau nir setiap ketika menepi, hanya momen tertentu.

Ngarsa dalem (Sultan) menepi bila ada situasi yang perlu menerima perhatian spesifik buat menambah kekuatan atau sudah pada situasi rawan. Ketika menepi dilakukan sendiri berada pada pojok tenggara masjid. Di sana disediakan tempat khusus, lebih tinggi sekitar 10 sentimeter berdasarkan lantai cukup buat menggelar satu sajadah. Namun jika menghendaki, ngarsa dalem mengajak para abdi dalem sinkron permintaan yg dipastikan jumlahnya gasal.

Akad nikah putri Sultan Hamengkubuwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) menggunakan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) pada hari selasa pagi 18 Oktober 2011 yang lalu. Sultan sendiri yg menikahkan ke 2 mempelai disaksikan kerabat dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Ridwan bertugas mengkoordinir abdi dalem mulai dari Punokawan Kaji yang jumlahnya 12 orang sampai abdi dalem lainnya. Pernah satu waktu ia diminta menyiapkan 59 abdi dalem untuk ritual dzikir ataupun wasulan untuk sesuatu yang sangat penting. Misalnya menjelang erupsi Merapi 2010, menjelang jatuhnya pesawat Garuda Indonesia di Bandara Adisutjipta. Bahkan sebelum Gempa 2006 ngarsa dalem lebih dulu sudah menepi.  Dalam hal ini, ritual bertujuan meminimalkan korban. Namun tidak diketahui sebelumnya.

Ritual yang dilakukan selain wasulan yang pernah dijalani Ridwan bersama abdi dalem adalah khataman al quran sampai dengan duduk tidak boleh bersandar selama tiga jam. Dalam ritual ini ia bertugas memimpin menyambungkan dengan para pendahulu. Pasalnya Kraton tidak terlepas dengan perjalanan pendahulu. Kerajaan punya misi yang harus dilanjutkan penerusnya.  Misinya sama, tetapi jamannya beda dan menyikapinya pun juga berbeda yakni untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam kegiatan di pada kraton ini, Ridwan meminta agar Kraton nir dipercaya menjadi tempat gaib. Apapun kegiatan yg dilakukan ini dari ajaran islam sehingga nir dianggap sesuatu yang berlebihan jika terdapat pandangan tidak sama.

Referensi

rrijogja.co.id - masjid panepen kraton yogyakarta

solopos.com - masjid panepen tempat sultan menepi

news.detik.com – jelang royal wedding keraton Yogyakarta kebut renovasi

wikimapia – masjid panepen

tvonenews.tv sri sultan gelar akad nikah putri bungsu di masjid panepen

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid di Yogyakarta Lainnya

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso KuningMasjid Pathok Negara Taqwa WonokromoMasjid Pathok Negara Nurul HudaMasjid Pathok Negara Ad-Darojat BabadanMasjid Jami Nur MlangiMasjid Gedhe Kauman YogyakartaMasjid Syuhada Kotabaru - YogyakartaMasjid Agung Mataram Kotagede Bagian IMasjid Agung Mataram kotaged bagian 2Masjid Agung Mataram Kotagede Bagian 3

Wednesday, June 24, 2020

Masjid Kotagede, Masjid Tertua di Yogyakarta

Parit berair jernih mengelilingi masjid

Berkelana ke Kotagede nir akan lengkap bila tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, bangunan loka ibadah islam yang tertua di Yogyakarta. Bangunan itu merupakan loka yang seringkali hanya dilalui waktu wisatawan hendak menuju kompleks pemakaman raja Mataram, padahal pesona bangunannya tak kalah menarik. Tentu, poly pula cerita yg ada pada setiap piranti pada masjid yg berdiri lebih kurang tahun 1640-an ini.

Sebelum memasuki kompleks masjid, akan ditemui sebuah pohon beringin yang konon usianya telah ratusan tahun. Pohon itu tumbuh pada lokasi yg sekarang dimanfaatkan buat loka parkir. Karena usianya yg tua, penduduk setempat menamainya "Wringin Sepuhdanquot; & menganggapnya mendatangkan berkah. Keinginan seorang, menurut cerita, akan terpenuhi bila mau bertapa di bawah pohon tadi sampai mendapatkan dua lembar daun jatuh, satu tertelungkup dan satu lagi terentang.

Berjalan mendekat ke arah kompleks masjid, akan ditemui sebuah gapura yg berbentuk paduraksa. Persis pada bagian depan gapura, akan ditemui sebuah tembok berbentuk alfabet L. Pada tembok itu terpahat beberapa gambar yang merupakan lambang kerajaan. Bentuk paduraksa & tembok L itu merupakan wujud toleransi Sultan Agung pada warga yang ikut membangun masjid yang masih memeluk agama Hindu & Budha.

Masjid Kota Gede

Memasuki page masjid, akan ditemui sebuah prasasti yang berwarna hijau. Prasasti bertinggi tiga meter itu adalah tanda bahwa Paku Buwono pernah merenovasi masjid ini. Bagian dasar prasasti berbentuk bujur sangkar & pada bagian puncaknya terdapat mahkota lambang Kasunanan surakarta. Sebuah jam diletakkan di sisi selatan prasasti menjadi acuan saat sholat.

Adanya prasasti itu membuktikan bahwa masjid Kotagede mengalami dua tahap pembangunan. Tahap pertama yang dibangun pada masa Sultan Agung hanya adalah bangunan inti masjid yg ukuran mini . Lantaran kecilnya, masjid itu dulunya diklaim Langgar. Bangunan ke 2 dibangun oleh raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Perbedaan bagian masjid yang dibangun sang Sultan Agung dan Paku Buwono X ada dalam tiangnya. Bagian yang dibangun Sultan agung tiangnya berbahan kayu sedangkan yg dibangun Paku Buwono tiangnya berbahan besi.

Bangunan inti masjid adalah bangunan Jawa berbentuk limasan. Cirinya dapat dicermati pada atap yang berbentuk limas dan ruangan yg terbagi dua, yaitu inti dan serambi.

Sebuah parit yg mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu pada masa kemudian dipakai sebagai saluran drainase selesainya air dipakai wudlu pada sebelah utara masjid. Kini, warga setempat memperbaiki parit menggunakan memasang porselen di bagian dasar parit & menggunakannya menjadi loka memelihara ikan. Untuk memudahkan masyarakat yang ingin beribadah, dibentuk sebuah jembatan mini yang terbuat berdasarkan kayu-kayu yg disusun berderet.

Pada bagian luar inti masjid masih ada bedug tua yang bersebelahan dengan kentongan. Bedug yg usianya tidak kalah tua menggunakan masjidnya itu merupakan hibah menurut seseorang bernama Nyai Pringgit yg asal berdasarkan desa Dondong, wilayah pada Kabupaten Kulon Progo. Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak buat menempati wilayah lebih kurang masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, sampai kini masih dibunyikan sebagai penanda ketika sholat.

Bedug tua Masjid Kotagede
Sebuah mimbar untuk berkhotbah yang terbuat dari bahan kayu yang diukir indah dapat dijumpai di bagian dalam masjid, sebelah tempat imam memimpin sholat. Mimbar itu juga merupakan pemberian. Saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati di tempat itu. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Berjalan mengelilingi halaman masjid, akan dijumpai disparitas pada tembok yang mengelilingi bangunan masjid. Tembok bagian kiri terdiri berdasarkan batu bata yg ukurannya lebih akbar, rona yang lebih merah, serta terdapat batu misalnya marmer yang pada permukaannya ditulis aksara Jawa. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna relatif belia, berukuran lebih mini , dan polos.

Tembok tua masjid Kotagede

Tembok yg terdapat di kiri masjid itulah yang dibangun pada masa Sultan agung, sementara tembok yang lain adalah hasil renovasi Paku Buwono X. Tembok yg dibangun pada masa Sultan agung berperekat air aren yg dapat membatu sebagai akibatnya lebih kuat.Masjid yang usianya sudah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup.

Warga setempat masih menggunakannya menjadi loka melaksanakan kegiatan keagamaan. Jika datang saat ketika sholat, akan dilihat puluhan masyarakat menunaikan ibadah. Di luar saat sholat, poly masyarakat yg menggunakan masjid buat tempat berkomunikasi, belajar Al Qur'an, & lain-lain.

source : yogyes.com

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Nurul Huda

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Jami Nur Mlangi

Masjid Pathok Negara Sulthoni

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done