Islami Pedia: Masjid di Palembang
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Palembang. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Palembang. Show all posts

Wednesday, August 26, 2020

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 1)

KAWASAN MENUTUP AURAT. Masuk ke pekarangan masjid ini terpampang tulisan besar "kawasan menutup aurat".  Bagian yagn dipagar besi itu adalah prasasti yang bertuliskan akta wakaf masjid ini dari Kyai Marogan.

Berkunjung ke masjid ini terasa terlempar balik ke masa perkembangan Islam di Palembang. Terlebih ketika masuk ke dalam masjid menggunakan langgam masa kemudian yang teramat kental. Masjid Lawang Kidul adalah satu dari 3 masjid tua pada Kota Palembang dengan arsitektur yg serupa & masih terawat apik ke asliannya hingga sekarang. Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang kini berstatus sebagai masjid nasional, Masjid Ki Marogan & Masjid Lawang Kidul, merupakan 3 masjid tua saksi bisu perkembangan Islam pada Palembang & sekitarnya serta perjalanan peradaban-nya.

Masjid Lawang Kidul sangat identik menggunakan Masjid Kiai Merogan karena memang sama sama dibangun oleh Kiai Merogan pada era yang nyaris bersamaan. Masjid Lawang Kidul berada di tepian Sungai Musi, di kawasan Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Lokasinya persis bersebelahan dengan Kawasan Pelabuhan Boom Baru, pelabuhan tua pada tepian Sungai Musi pada kota Palembang yg masih berfungsi hingga kini . Dan juga tidak terlalu jauh dari Pasar Kuto.

Lokasi Masjid Lawang Kidul (MLK)

Jalan Selamet Riyadi, Lorong Masjid Lawang Kidul

Kecamatan Ilir Timur II, kota Palembang

Sumatera Selatan, Indonesia

Lokasi masjid ini berada pada tengah tengah pemukiman rakyat pada tepian Sungai Musi, Untuk menuju ke Masjid ini menurut Jalan Slamet Riyadi dari arah pasar Kuto, beberapa meter sebelum gerbang Pelabuhan Boom Baru ada Lorong Masjid Lawang Kidul yakni sebuah Gang Sempit di sisi kanan jalan raya lengkap menggunakan gerbangnya menggunakan tulisan ?MASJID LAWANG KIDUL? Ukuran cukup besar . Ruas gang tersebut hanya relatif buat dilewati satu kendaraan roda empat.

Bila dengan angkutan umum, dari pusat Kota Palembang (Pasar 16 Ilir) naik angkot tujuan Sayangan – Lemabang. Jangan lupa bilang ke sang sopir angkot, minta turun di Masjid Lawang Kidul. Bila menginginkan perjalanan yang berbeda anda dapat menggunakan moda angkutan air menyusuri Sungai Musi dengan menyewa perahu dari kawasan BKB (Benteng Kuto Besak) menuju ke dermaga Masjid Lawang Kidul di belakang masjid ini, dengan moda angkutan air ini anda juga dapat berwisata menikmati pemandangan kota Palembang dari sungai Musi termasuk melihat Jembatan Ampera yang melegenda itu dari sungai musi.

Papan nama di muara gang masjid Lawang Kidul di Jalan Slamet Riyadi, lengkap dengan informasi tentang status masjid tersebut.

Untuk Tarif angkutan umum sebaiknya ditanyakan langsung di lokasi sebelum menggunakan galat satu jasa angkutan generik tersebut. Dari ruas Jalan Slamet Riyadi, masjid ini dapat dicapat dengan berjalan kaki melalui lorong (gang) Masjid Lawang Kidul sembari menikmati suasana kampung disana yg beberapa tempat tinggal penduduknya masih berupa bangunan asli spesial Palembang. Sebelum masuk tempat masjid, terdapat baiknya terutama bagi pengunjung perempuan supaya menutup aurat (mengenakan jilbab). Himbauan ini dari plang bertuliskan ?Kawasan Menutup Aurat? Di area laman masjid.

Ruas jalan sempit ini tidak terlalu panjang, di ujung jalan kita akan eksklusif bertemu dengan gerbang masjid ini menggunakan pekarangan yg relatif luas buat parkir kendaraan. Warga disana pun cukup ramah, ketika berkunjung kesana, warga setempat yg kebetulan sedang berada di lokasi dengan ramah memperlihatkan arah ke masjid ini, termasuk mengarahkan tunggangan masuk & keluar gang sempit tadi kembali ke jalan raya.

Gerbang Masjid Lawang Kidul diantara tempat tinggal tempat tinggal penduduk

Warisan Masa Lalu Yang Masih Terawat

Patut pada acungi jempol kepada otoritas dan muslim kota Palembang yg mampu mempertahankan galat satu warisan sejarah Islam di kota ini. Meski telah beberapa kali mengalami pemugaran, keaslian masjid ini masih dapat kita rasakan hingga sekarang. Bangunan Masjid Lawang kidul dibangun sangat seperti dengan bangunan orisinil Masjid Sultan Palembang (Masjid Agung Palembang) yg merupakan masjid resmi Kesultanan pada masanya.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya menggunakan masjid Agung Demak. Kemiripan arsitektur masjid masjid pada wilayah kesultanan Palembang menggunakan Bentuk Masjid Demak dapat dimaklumi lantaran memang dibangun sehabis Majid Demak & Kenyataan sejarah pun memberitahuakn keterikatan yg bertenaga antara muslim Palembang menggunakan Kesultanan Demak, mengingat bahwa Raden Fatah, selaku Sultan pertama pada Kesultanan Demak merupakan putra Prabu Brawijaya dari Majapahit yg lahir & akbar pada Palembang.

Masih Asli

Meski demikian. Masjid masjid tua pada Palembang memiliki karakteristik khasnya sendiri terutama pada bagian atapnya yg dibuat sedemikian rupa sehingga mempunyai penampilan seperti dengan atap bangunan kelenteng. Ornamen seperti tanduk atau misalnya taji atau duri sebagai ciri khas bangunan atapnya dengan jumlah homogen rata 12 buah pada masin masing sisi. Ornamen spesial Palembang pula ditemukan dibagian lisplang atau sisi bawah bagian ujung atap, & bagian bawah atap tertinggi yg ditutup seluruhnya dengan kayu membuat susunan atap teratas masjid ini menjadi sebuah kubah utuh.

Ornamen pada puncak tertinggi atap masjid ini pula sangat khas. Sebuah bentuk kubah ukuran mini yang juga dilengkapi menggunakan ornamen tanduk tanduk kecil berjumlah masing masing 3 buah di tiap sisi, ada beberapa bentuk sulur sulur berbentuk bunga di masing masing sisi. Di puncaknya dilengkapi dengan ornamen bulan bintang yang pula sangat spesial . Ornamen Bulan sabitnya simetris ke atas seperti ornamen bulan sabit di masjid masjid Turki tetapi dengan bentuk yg lebih lebar nir ramping misalnya bulan sabit di masjid masjid Turki, sedangkan ornamen bintangnya digunakan bintang bersegi delapan yang tampaknya menyimbolkan delapan penjuru mata angin.

Ornamen pada Puncak atap Masjid Lawang Kidul

Mihrabnya dibangun menjorok keluar bangunan primer menjadi sebuah bangunan yang menempel ke bangunan utama namun dilengkapi dengan sebuah pintu akses sendiri. Atap bangunan mihrab ini juga dibangun dengan bentuk yang khas, dengan beberapa ornamen unik pada bagian puncak atapnya. Bangunan masjid ini dilengkapi menggunakan sebuah menara yg tidak terlalu tinggi, bertingkat empat dengan berukuran makin megecil makin mengecil. Tiga strata menara dilengkapi dengan balkon kecuali tingkat teratas.

Dahulunya menara ini difungsikan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan menurut balkoninya di tingkat paling atas. Kini menara ini masih berfungsi sebagaimana semula hanya saja muazin nir lagi memanjat ke atas menara diganti dengan beberapa unit pengeras bunyi yg di tempatkan dibagian paling atas menara.

Menara Masjid Lawang Kidul

Sebelum dibangun bangunan tambahan di sisi selatan bangunan primer, menara masjid ini masih bisa dicermati dengan kentara dari sisi selatan masjid. Namun kini menara ini telah masuk ke dalam bangunan tambahan meski masih permanen dijaga misalnya aslinya. Lantai dasar menara sekarang sejajar menggunakan lantai cor pada bangunan tambahan. Dari pada bangunan hanya dapat dilihat dua butir pilar kayu berukuran akbar yang merupakan tiang orisinil berdasarkan menara ini. Sedangkan tangga & bagian lainnya dari menara ini dibagian bawah sudah dibongkar.

Di depan bangunan mihrab, di halaman depan masjid di terdapat prasasati yang berisikan salinan surat akta wakaf berdasarkan Kiai Merogan yg seluruhnya ditulis menggunakan aksara Arab Gundul atau aksara Arab Melayu yang ditulis tanpa pertanda baca. Di sekeliling masjid ini pula dipasang beberapa penanda batas batas tanah wakaf dimaksud.

Mihrab Masjid Lawang Kidul dari sebelah luar, tampak prasasti wakaf disebelah kiri foto

Sebagai masjid yang dibangun pada tepian sungai, masjid Lawang Kidul ini aslinya dilengkapi dengan dermaga kecil di tepian sungai musi yang dikenal dengan nama tangga raja, lantaran dulunya memang dipakai sang Sultan & keluarganya jika ke Masjid ini berdasarkan jalur sungai. Tangga itu pula menjadi tempat berlabuhnya Kiai merogan, namun tangga itu sekarang sudah tidak difungsikan lagi, menjadi gantinya dibangun satu dermaga mini pada belakang masjid ini. Disamping masjid ini memang ada ruas jalan mini buat pejalan kaki menjadi jalan akses ke dermaga dan jalan akses bagi rakyat yang tinggal disana. Ruas jalan mini itu pula masih merupakan huma masjid Lawang Kidul walaupun berada diluar pagar masjid.

Memandang masjid ini dari arah dermaga menyajikan pemandangan unik tersendiri, tampak menara masjid ini menjulang diantara menara pengawas pada Pelabuhan Boom Baru yg sekarang telah dibangun lebih moderen, dan menara telekomunikasi dengan berbagai peralatannya yang bergelantungan. Menyiratkan perkembangan peradaban di tempat itu bergandengan dengan warisan masa kemudian yg masih terawat baik. Dihalaman masjid ini jua dipasang papan peringatan larangan bagi anak anak untuk bermain bola di page masjid ini demi menjaga ketertiban.

Bersambung

Dermaga Masjid Lawang Kidul di lihat dari jendela masjid
MLK dari arah Sungai Musi
Pelabuhan Boom Baru dilihat dari pelataran belakang Masjid Lawang Kidul

Tuesday, August 25, 2020

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 2)

Mimbar & mihrab Masjid Lawang Kidul

Interior Masjid Lawang Kidul

Di hari biasa, masjid ini dapat pada akses berdasarkan pintu sebelah utara atau jika dari arah gerbang ke sebelah kiri bangunan. Area tempat wudhu dan kamar mandi pula berada di sisi ini. Di sebelah utara ini pula telah ditambah dengan bangunan tambahan menyatu dengan bangunan primer masjid. Sisi selatannya yg adalah area bangunan tambahan ditutup di hari biasa, karena disana juga merupakan loka tempat kerja pengurus masjid & madrasah. Secara holistik bagian dalam masjid ini di dominasi rona putih di bagian atap, soko guru hingga lantai marmernya, sedangkan dindingnya seluruhnya ditutup menggunakan keramik dinding bewana hijau lumut.

Ada enam pintu berukuran besar di masing masing sisi masjid ini. Masing masing pintu berukuran besar dengan dua daun pintu berdasarkan kayu di cat putih polos tanpa ornamen. Engsel besi pada masing masing pintu itu sahih benar tampak tua & kuno & pastinya agak sulit buat menemukannya pada pasaran waktu ini.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Ada empat jendela besar di sisi mihrab. Masing masing ventilasi terdiri berdasarkan 2 permukaan dan bawah. Jendela bagian atas berupa ventilasi terbuka tanpa jaun ventilasi hanya ditutup teralis besi lurus, kegunaannya menjadi jendela udara, namun sekarang pada tutup permanen menggunakan kaca. Jendela bagian bawah jua di beri teralis namun dilengkapi menggunakan sepasang daun jendela yg juga polos tanpa ornamen.

Di pada masjid ini terasa lega dengan atap limasnya yang begitu tinggi di topang oleh empat sokoguru utama setinggi 8 (delapan) meter menopang kayu alang (penyanggah) sepanjang 20 (2 puluh) meter. Disekeliling sokoguru primer ini pada tambah dengan 12 (dua belas) pilar tambahan yg berukur lebih kecil masing masing setinggi kurang lebih 6 (enam) meter. Semua pilar tersebut dibuat menurut kayu dan dibentuk bersegi delapan. Seluruh struktur atap masjid ini dibentuk dari kayu Ulin termasuk 16 (enam belas) sokogurunya.

Cahaya mentari senja menerobos masuk lewat jendela MLK Palembang

Ruangan primer berdasarkan bangunan asli masjid ini ukuran 20 x 20 meter, ditambah menggunakan bangunan tambahan sebagai akibatnya luas seluruhnya sebagai 40 x 41 meter. Seluruh dinding bagian dalamnya pada lapis menggunakan keramik dinding bermotif natural bewarna hijau lumut. Berbeda menggunakan masjid masjid tradisional Indonesia di tanah Jawa yg homogen homogen memiliki asal cahaya dari ventilasi jendela kecil yang diletakkan diantara susunan atap bertingkatnya. Di masjid ini bagian atap-nya tertutup seluruhnya. Sumber cahaya mentari hanya dari ventilasi masjid. Seluruh plafon masjid pula dibiarkan polos bercat putih tanpa poly ornamen selain kayu kayu kaso-nya yang dihaluskan dan pada profil seragam.

Ada satu lampu gantung berukuran besar pada tengah masjid, & beberapa lampu lampu gantung berukuran kecil pada bagian lainnya. Hanya terdapat satu ornamen lukisan di kayu Alang Panjang (kayu penopang atap yg di sokong oleh 12 soko guru yg lebih mini ) berupa lukisan bermotif flora bewarna kuning tua, hijau, merah & merah muda. Ornamen yg sama pula ditempatkan di rendezvous atap & sisi teratas dinding bagian pada. Lukisan floral ini sama persis dengan ormanen di Masjid Agung (Sultan) Palembang.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang yg sangat spesial

Mimbar Masjid Lawang Kidul (MLK)

Bagian yang paling menarik perhatian di pada masjid ini adalah mimbar dan mihrabnya. Sejatinya ruang mihrab ini merupakan loka imam memimpin sholat, namun di masjidi ni sama misalnya di Masjid Agung Palembang, posisi Imam nir pada pada mihrab tapi sedikit di depan mihrab relatif disamping mimbar, ditandai menggunakan sebuah pembatas berukir. Ruang mihrabnya digunakan buat menempatkan beberapa perangkat pengeras bunyi dan alat-alat lainnya. Ruang mihrabnya dilengkapi menggunakan dua pintu akses keluar masuk di sisi kiri & kanannya, & dihubungkan ke masjid menggunakan dua akses berbentuk gapura disisi kiri dan kanan mimbar.

Mimbar masjid ini dibangun dari susunan batu bata & semen berupa susunan undakan anak tangga, khatib akan berdiri pada anak tangga tertinggi ketika membicarakan khutbah. Sisi atas mimbar berbentuk kubah bagian puncaknya diberi oranmen seperti lampu aladin menurut bahan metal bewarna emas. Sedangkan pada sisi depan kubahnya ditempatkan dua ornamen berbentuk kuncup kembang. Sekelilingnya diberi profil berdasarkan semen, menggunakan sedikit strip bewarna emas. Ada dua bendera segitiga bewarna hijau bertuliskan kalimat tauhid ?Laa Ila ha Illallah? & beberapa kalimat lainnya dipasang pada bagian atas mimbar.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Di sisi depan tangga mimbar diberi gapura menurut kayu berukir spesial Palembang berbalut warna emas menggunakan dua tiang bundar menjadi penopangnya. Ukirannya pada dominasi ukiran bermotif tanaman . Ukiran floral warna emas jua menghias bagian tempat duduk khatib. Ornamen di ujung 2 tiang mihrab ini memang tak biasa, mirip sepasang buli buli dengan bagian ujungnya berbentuk batangan bewarna kuning yang sengaja dibengkokkan. Reiling tangga mimbar ini juga dihias dengan gesekan floral bewarna emas. Sedangkan bagian lain berdasarkan mimbar di tutup dengan keramik dinding bewarna hijau lumut sama seperti dinding bagian dalam masjid.

Bangunan tambahan di masjid ini menambah luas masjid pada disi utara dan selatan serta bagian belakang masjid. Tangga menuju ke lantai 2 masjid ini diberada pada area tambahan dibelakang masjid. Pintu ke lantai dua ini pada kunci pada hari biasa. Terlihat kentara upaya untuk menciptakan bangunan tambahan ini semirip mungkin dengan bangunan aslinya, meski tidak sepenuhnya identik.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Pengurus Masjid Lawang Kidul

Pengurus Masjid Lawang Kidul berbadan aturan dengan nama Yayasan Masjid Lawang Kidul. Dibentuk dari Akta Notaris Haji Gunata Ibrahim, SH. Nomor 066 tertanggal 13 Juli 2012. Struktur kepengurusan Yayasan Masjid Lawang Kidul Palembang Masa Khidmat 2012- 2017 merupakan sebagai berikut :

Pembina :

Kemas Komarudin, A. Halim, S.Pd (Ketua) 0821 8212 5853

Kiagus H.M. Kamil Abu Mansur 0811 7860 69

Masagus H. Memet Ahmad, SE.  0711 7061 250

Yahya Zagladi

Kiagus M, Janaluddin A. Syukur 0852 7344 7070

Area Tamabahan (baru) di Masjid Lawang Kidul Palembang. Dua pilar kayu dalam foto kiri atas merupakan tiang orisinil menara masjid ini.

Pengurus:

Mansur Husen, S.Pd (Ketua Umum) 0711 7929 306

Kiagus H.M. Thoyyib A. Roni (wakil kepala) 0711 7371 828

Hendrik Junior Ibrahim (sekretaris) 0813 6749 2589

Asep Kokasih Mahdi (Wakil Sekretaris) 0821 8418 2210

Kiagus Lukmanul Hakim (Bendahara) 0711 777 9849

Bunyamin Bahruddin (wakil Bendahara) 0813 7324 0014

Pengawas:

M. Syukur H. Alwi (Ketua

Muhammad Yusuf Atma 0711 5313 863

Ardianto Abus

A. Sofiyan Sarmanik 0853 6670 3037

Kiagus Abdullah Amin 0812 7307 2174

Detil Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Khsusus buat pelaksanaan sholat Jum?At, masjid Lawang Kidul sudah mengatur Jadwal Imam, Khatib dan Imam, Khatib cadangan selama satu tahun penuh. Pada jawal yang sudah disusun tersebut dimuat juga himbauan yang menghimbau pada para imam & khatib dan cadangannya buat hadir lebih awal paling telat 15 mnt sebelum saat zuhur, kemudian di atur jua bahwa penyampaian khutbah jum?At antara 10-15 mnt saja mengingat kepentingan Jemaah yg sangat majemuk

Para imam dan khatib yang berhalangan hadir buat memberitahukan kepada pengurus & nir perlu menaruh mandat kepada orang lain menjadi pengganti. Ditambahkan juga bahwa bagi Imam & Khatib yang bertugas pada Jum?At awal bulan dibutuhkan untuk mengisi program ?Cawisan? (ceramah kepercayaan ) pada pukul 11.30 WIB sampai menggunakan beduk dibunyikan menjadi pertanda waktu sholat Zuhur/Jum?At sudah datang, selama ? 30 Menit. ****

-----------------------------

Bersambung ke bagian tiga

Artikel Terkait

Masjid Agung Sultan Palembang (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 3)

Pelataran depan Masjid Lawang Kidul dengan prasasti wakaf di bagian depan mihrab nya

Wakaf Kyai Marogan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, lahan seluas 2104 meter persegi tempat masjid Lawang Kidul ini bediri beserta bangunan masjid & seisinya adalah wakaf menurut Kiai Merogan yg aslinya pada Ikrarkan di depan Paduka Pangiran Penghulu Fatih Agama Muhammad ?Aqil disaksikan empat penghulu lainnya, dalam hari Ahad lepas 6 Syawal 1310H. Kemudian dijelaskan lagi didalam akta pengganti ikrar wakaf nomor W.Tiga/001/BA.03.Dua/05/1990 lepas 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M.

Pengesahan Nadzir Nomor W.Lima/001/BA032/05/1990 Tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M. Sertifikat Nomor 953/1993 tanggal 10 Maret 1993. Tanggal 6 Syawal 1310H atau bertepatan menggunakan tahun 1890M yang adalah lepas dari pernyataan wakaf dari Kyai Merogan yg sekarang dijadikan rujukan sebagai tahun pembangunan masjid ini.

Prasasti Salinan Akta wakaf Kiai Marogan

Salinan Akta Wakaf

Berikut ini merupakan salinan akta wakaf yang telah kami alih aksara. Ada beberapa bagian kata dan kalimat bewarna merah merupakan bagian yg kami belum fahami atau bahkan mampu jadi kami keliru dalam membacanya, termasuk beberapa perlengkapan atau perabot pada pada masjid yg disebutkan dalam akta yg bertanggal 6 Syawal 1310H/1890 M.

Cap Penghulu

Tandatangan

Penghulu Muhammad ?Aqil

Surat Tanda Munj a z Wakaf Lillahita’ala Nomor Empat Belas

Kepada hari Ahad tanggal enam Syawal Seribu Tiga Ratus Sepuluh, betul berhadap di muka Roada Agama P aduka Pangiran Penghulu F atih agama Muhammad ‘Aqil serta empat khotib Penghulu yang berteken di bawah ini yaitu Kiagus Haji Ma’ruf Haji Akhmad Haji Abdul Rokhman Kiagus Haji Abdul Karim – Alih seseorang laki laki nama Masagus Haji Abbdul Hamid Bin Masagus Mahmud Alias Kanang, umur delapan puluh tahun lebih kurang.

Orang ?Alim mengajar di Palimbang, Jiwa pada Kampung empat ulu ? Karena beliau orang akan membuwat surat liputan nazar Munjiz wakaf lillahita?Ala ? Maka Roada kepercayaan periksa (mendapat) kepadanya yang diya orang pada dalam Sihat badan nya & simpurnah Aqalnya lagi ja?Zal tashrif min ghoir ?Akroha wal ajbar ? Kemudian maka terikrarlah uleh Masagus Haji Abdul Hamid Al-Mazkur

dari aku ada punya milik yaitu duwa masjid di negeri Palimbang, Satu masjid di Kampung karang Baru marogan, dan lagi satu masjid di kampung lima ilir Lawang Kidul sarat pekakas pekakas yang ada di dalam itu masjid yang tersebut seperti Setulub setulub dan lampu lampu dan kandil kandil dan satrun satrun dan Gerubuk gerubuk semuanya pada yang ada di dalam itu duwa masjid yang tersebut pada masa sekarang ”.

“J uga aku nazarkan dengan nazar manjiz aku ‘abdikan waqaf lillahita’ala selama lamanya. Di tempat orang orang berbuat ibadah dan sembahyang. Tidak harus lagi ahli waris yang kubuwat juwal atau gadaikan atau bahagi waris aku tidak rhido duniya akhirat. Sehadangan catang sarot Aku Masagus Haji Abdul Hamid Al-Muzakir berteken dibawah ini dihadapan roada agama yang tersebut demikianlah adanya .

Khotib Penghulu, tanga tangan, Ki Agus Haji Ma?Ruf

Khotib Penghulu, indikasi tangan, Haji Akhmad

(Haji Masagus Abdul Hamid)

Khotib Penghulu, pertanda tangan, Haji Andul Rohman

Khotib Penghulu, pertanda tangan, Ki Agus Abdul Karim

Kiri depan adalah adalah prasasti salinan akta wakaf berdasarkan Kiai Marogan

Sejarah Pembangunan Masjid Lawang Kidul (MLK)

Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H (1890 M), angka tahun pembangunan ini merujuk kepada tanggal di akta wakaf dari Kyai Merogan di depan Penghulu Muhammad ?Aqil pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 1890 Miladiah (masehi).

Beliau lebih dikenal menjadi Kiai Merogan, merujuk pada loka tinggal dan sentra aktifitas da?Wah dia yang berada pada muara sungai Ogan di Kawasan Seberang Ulu, tidak jauh berdasarkan stasiun Kereta Api Kertapati. Sungai Ogan merupakan galat satu dari sekian poly anak Sungai Musi.

Plakat Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul

Sejak dibangun tahun 1890 masjid Lawang Kidul sudah dilakukan perbaikan tahun 1983-1987. Meskipun sebagian akbar materialnya asli, terdapat beberapa bagian yang terpaksa diganti, terutama bagian atapnya yang semula genteng belah bamboo, kemudian diganti dengan genteng kodok. Beberapa sumber mengungkapkan bahwa Material bangunan orisinil bangunan masjid ini terdiri atas adonan kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya ?Tiang, pintu, atap, & bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu Ulin atau dalam bahasa Palembang disebut Kayu Onglen.

Sebagaimana disebutkan pada plakat yang dipasang pada beberapa bagian masjid ini, Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul dilasanakan mulai tanggal 7 Januari 2008 dan selesai pada tanggal 20 Juni 2012 menggunakan dana sebanyak sekitar Rp. 1 (satu) Milyar Rupiah dari sodaqoh jariyah muslim dan muslimat.

Ornamen atap mihrab dan & zenit atap masjid Lawang Kidul menggunakan bentuk yang unik

Siapakah Kiai Merogan

Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan dilahirkan tahun 1811 dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1901. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang sukses. Beliau cukup lama menetap di Mekkah, kemudian pulang ke kampung halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berda’wah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan.

Selama tinggal pada Mekah beliau sempat membentuk Tiga pemondokan jemaah haji bagi para jemaah berdasarkan Nusantara & sekitarnya. Di tanah air beliau, selain Masjid Lawang Kidul & Masjid Kiai Merogan di Palembang, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid pada Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (Ogan Ilir). Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi dalam antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini jua, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan. Makam beliau berada pada areal Masjid Kiai Merogan, pada tempat Seberang Ulu, Kota Palembang dan hingga sekarang makam dia terawat baik & senantiasa ramai peziarah.

Kiai Marogan diketahui juga mempunyai seorang Adik Laki Laki bernama KH. Masagus Abdul Aziz lebih dikenal dengan sebutan Kiai Mudo karena usianya yang lebih muda dari Kiai Marogan. Bila Masagus Abdul Hamid lebih dikenal sebagai Kiai Marogan karena pusat aktivitasnya yang berada di Muara Sungai Ogan, adik beliau, KH Masagus Abdul Aziz lebih dikenal luas di daerah Belida yang membentang di sepanjang aliran Sungai Belida seperti Gelumbang, Gumai, Kartamulia, Betung, Sukarame, Lembak dan sekitarnya. Baik Sungai Belida maupun Sungai Ogan merupakan anak sungai Musi yang sama sama bermuara ke sungai Musi. (selesai)

---------------------------

Artikel Terkait

Masjid Agung Sultan Palembang (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done