Islami Pedia: Masjid di Amerika Latin
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Amerika Latin. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Amerika Latin. Show all posts

Tuesday, October 27, 2020

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2)

Masjid Nazir Ahmad Seemab Memorial

Berdirinya Organisasi Islam di Trinidad & Tobago

Sayad Abdul Aziz dikenal sebagai tokoh dan karakter penting dalam sejarah Islam di Trinidad. Dan lebih dikenal sebagai tokoh stabilitas Islam di Trinidad. Ia salah satu orang yang bisa membaca, menulis dan memahami bahasa urdu. Disamping keahliannya di bidang matematika dan bidang teknis lainnya. Sayad datang ke Trinidad pada tahun 1883 sebagai mantan buruh dari Afghanistan untuk menyebarkan Islam.

Sayad tinggal di Princes Town, bagian selatan Trinidad. Tapi pengaruhnya terasa di seluruh koloni. Keramahannya membuat setiap orang bisa merasakan atmosfir Islam yang terpancar dari dalam dirinya. Ia pun mendirikan perkumpulan Islam pertama di Trinidad & Tobago yang dikenal dengan "Islamic Guardian Association of Princes Town" pada tahun 1906.

Sejak kemerdekaannya pada 1962, perekonomian Trinidad & Tobago membaik, dari sebelumnya bergantung pada ekspor gula, kemudian bergeser ke minyak bumi dan menjadikan negara ini sebagai negara paling makmur dan paling maju industri-nya diantara negara-negara di wilayah Laut Karibia. Namun, kemakmuran ini tak menjamin adanya kesamaan sosial dan juga stabilitas negara. Termasuk di dalamnya pengakuan atas agama-agama yang dianut oleh warga negaranya.

Hingga ahirnya pada tanggal 27 Juli 1990, 114 anggota kelompok muslim keturunan Afrika, Jemaah Al-Muslimin dibawah pimpinan Yasin Abu Bakar, menggempur Red House (Gedung parlemen) di Kota Port of Spain dan mengancam membunuh Perdana Menteri ANR Robinson serta pejabat tinggi negara lainnya, setelah sebelumnya meledakkan markas kepolisian negara.

Selama kudeta tersebut kelompok Yasin Abu Bakar juga menguasai stasiun televisi nasional yang merupakan satu satunya stasiun televisi disana saat itu. Selama tujuh hari pemerintahan Trinidad & Tobago lumpuh total sampai ahirnya Yasin Abu Bakar beserta anggotanya menyerahkan diri. Berdasarkan desas-desus kegiatan Jemaah Al-Muslimin ini dibiayai oleh pemimpin Libya, Muamar Qadafi.

Masjid Caroni, Trinidad & Tobago
Setelah huru hara berahir Yasin Abu Bakar dan pengikutnya tidak pernah dihukum karena mendapatkan amnesti dan diakui oleh pengadilan setempat, meskipun akibat dari kudeta tujuh hari tersebut telah mengakibatkan korban tewas 24 orang serta mengakibatkan kerugian jutaan dolar dari kerusakaan properti dan fasilitas umum yang terjadi selama kudeta tersebut.

World fact book menyebut populasi muslim di Trinidad & Tobago hanya sekitar 60% atau setara dengan kira kira 81 ribu jiwa, namun banyak pihak menyebut bahwa muslim disana mencapai sekitar 8% atau sekitar 100 ribu jiwa. Mereka merupakan keturunan dari muslim India Timur, Afrika dan lain-nya, dan sebagian besar dari mereka tinggal di pulau Trinidad terutama di kota Port of Spain. Dengan jumlah tersebut, Trinidad & Tobago disebut sebut sebagai negara Karibia dengan penduduk muslim terbanyak.

Organisasi Islam lainnya adalah Liga Muslim yang berdiri pada tanggal 15 Agustus 1947. Di hari yang sama dengan hari lahirnya negara Pakistan. Organisasi ini diprakarsai dan dibentuk oleh tiga orang tokoh muslim setempat yang berasal dari Pakistan, mereka adalah Moulvi Ameer Ali (1898-1973), Mohammed Hakeem Khan (1902-1957) dan Mohammed Rafeeq (1904-1962).

Bertempat di garasi di kediaman Mohammed Hakeem Khan, tiga orang tersebut mendeklarasikan pendirian Trinidad Muslim League Inc (TML). pada tanggal 21 April 1950, dan mendapatkan pengesahan dari Parlemen dengan nomor 26 tahun 1950. Kelompok ini merupakan organisasi muslim Ghair-Mukallid yang tidak mengikuti salah satu dari empat mazhab yang ada, sementara kebanyakan muslim disana mengikuti mazhab Syafi’i dan Hanafi.

Organisasi Islam di Trinidad & Tobago

Terbentuknya Islamic Guardian Asociation (IGA) sebagai organisasi Islam pertama, juga mengawali terbentuknya East Indian National Association (EINA), yang beranggotakan Muslim India. Bersatunya kaum Muslim ini mendorong terbentuknya organisasi yang lebih besar lagi, yaitu Tackveeyatul Islamia Association (TIA), organisasi untuk memperkuat Islam) yang terbentuk pada 1931. Menyusul kemudian berdiri organisasi Anjuman Sunnat-ul-Jamaat Association (ASJA) pada tahun 1936, yang mayoritas beranggotakan muslim keturunan anak benua India. ASJA menjelma menjadi organisasi Islam paling berpengaruh di Trinidad & Tobago.

Dengan komposisi penduduk muslim yang cukup besar, pemerintah setempat telah menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional bersama 7 hari libur nasional lainnya yang telah ditetapkan pemerintah. Saat Idul Fitri datang, shalat Idul Fitri berjemaah dilaksanakan di stadion nasional Port of Spain. Dan sedikitnya 100 orang Muslim Trinidad & Tobago menjalankan ibadah haji tiap tahunnya.

Tokoh Tokoh Muslim Trinidad & Tobago

Beberapa tokoh muslim Trinidad & Tobago turut memainkan peran penting di pemerintahan maupun di parlemen. Satu diantaranya sempat menjadi pusat perhatian karena merupakan muslimah Mualaf yang menduduki jabatan sebagai Menteri Dalam Negeri dan Pengembangan Sosial. Beliau adalah Madame Fatima Mik Davidson sebelum masuk Islam bernama Mrs. Model Donafarnik Davidson, beliau berikrar masuk Islam di tahun 1975 meninggalkan agama lamanya.

Masjid Muhammad Ali Jinnah di abadikan dalam Franko Trinidad & Tobago
Para petinggi organisasi organisasi Islam disana juga memainkan peran penting di dalam masyarakat. Selain itu Nizam Mohammed salah satu tokoh muslim disana juga pernah menduduki jabatan juru bicara parlemen. Dokter ahli bedah ternama di Trinidad & Tobago juga seroang muslim, beliau adalah Almarhum Senator Dr. Wahid Ali. Semasa hidupnya beliau pernah menerima bintang kehormatan tertinggi Trinity Cross serta anugerah the Clinical Prize in Surgery bergelar Distinguished Graduate, UWI, 1998. Juga menerima anugerah medali emas untuk layanan umum dari Vishva Hindu Parishad.

Selain itu juga menerima anugerah Sir Thomas Taylor Award untuk pertama kalinya. Semada hidupnya beliau pernah menduduki jabatan sebagai senator dari tahun 1971 hingga tahun 1986 dan sebagai Presiden pertama dari Inter-Religious Organisation. Beliau wafat pada tanggal 9 Agustus 2008 lalu karena sakit jantung yang sudah di-idapnya sejak tahun 1996.

Tokoh muslim lainnya yang begitu di hormati adalah sosok almarhum Sheik Mohamed Shafik Rahaman (1917-1984). Beliau merupakan pendiri dari inter-religious organization bersama dengan Dr. Wahid Ali. Beliau pernah menjabat sebagai sekjed OKI untuk wilayah Amerika Selatan dan Karibia, ketua dewan senat, anggota dewan Liga Muslim Dunia (Rabitat al Alam al Islami), sekaligus Chairman di organisasi tersebut, ketua dari the Anjuman Sunnat-ul-Jamaat Association (ASJA) hingga tahun 1970.

Untuk mengenang jasa jasa beliau, kini dipuncak bukit San Fernando, dibangun sebuah taman bermain dengan nama Haji Shafick Rahaman Play Park. Taman bermain ini diresmikan oleh Lincoln Myers selaku menteri Produksi Pangan dan Eksplorasi laut, kehutanan dan Lingkungan pada tangggal 17 Desember 1988.

Noor Muhammed Hasanali
Dan hal yang teramat penting dicatat dalam sejarah pemerintahan Trinidad & Tobago adalah bahwa Trinidad & Tobago adalah negara pertama di benua Amerika yang pernah dipimpin oleh seorang presiden Beragama Islam. Beliau adalah Noor Mohamed Hassanali, (13 August 1918 – 25 August 2006) yang merupakan presiden kedua Republik Trinidad & Tobago dengan masa jabatan 10 tahun dari 1987 hingga tahun 1997.

Anda dapat turut mengikuti perkembangan islam di Trinidad & Tobago melalui akun facebook mereka di http://www.facebook.com/TrinidadMuslims.

Masjid di Trinidad & Tobago

Trinidad & Tobago setidaknya memiliki 87 Masjid di seluruh negara. 85 Masjid berada di pulau Trinidad dan 2 Masjid di pulau Tobago. Hal ini dapat dimengerti mengingat sebagian besar penduduk negara ini memang terkonsentrasi di pulau Trinidad. Kota Port of Spain sebagai ibukota negara juga berada di pulau ini. merujuk kepada situs resmi ASJA, Masjid Calcuta di Calcutta Village – Freeport, merupakan masjid tertua di Trinidad & Tobago yang didirikan tahun 1863.

Diantara 87 masjid yang ada di Trinidad & Tobago, Masjid Mohammed Ali Jinnah memorial di Saint Joseph merupakan masjid terbesar di negara tersebut yang dibangun tahun 1954, pembangunan masjid ini didanai oleh pemerintah Pakistan, dan nama masjid ini sendiri merupakan nama pemimpin besar Republik Islam Pakistan. Masjid Mohammed Ali Jinnah memorial kini dikelola oleh Trinidad Muslim League Inc (TML). Karenanya Masjid ini kadangkala juga disebut sebagai Masjid TML

Masjid penting lainnya adalah Masjid Nur Ul Islam juga di Port of Spain, kemudian ada masjid Tua Marabella di San Fernando, Masjid Jami’ Port of Spain yang karena lokasinya biasa juga disebut sebagai Queen Street Mosque, Masjid-Ul-Ahad di Princes Town, Jamia Madinatul Uloom di Marabella dan Masjid Al Tawbah di Scarborough.

Masjid Al Tawbah di Scarborough dibangun pada tahun 1970 dibangun dengan donasi dari para jemaah muslim setempat dibawah pimpinan Mansoor Ali. Saat ini masjid yang berada di ujung barat pulau Tobago ini selain sebagai tempat peribadatan juga menyelenggarakan pendidikan bagi anak anak muslim disana. Sebagaimana dijelaskan oleh Kameel Ali, pengurus masjid ini, ada sekitar 25 anak anak yang belajar di masjid tersebut dibawah bimbingan 5 orang guru.

Sekolah di Masjid Al-Tawbah ini bermula dari pendidikan untuk anak anak usia dini dengan peserta didik hanya tujuh anak yang diselenggarakan di ruang pertemuan yang terhubung dengan masjid. sekolah tersebut kemudian berkembang menjadi Sekolah Dasar Islam yang terbuka untuk umum, tidak saja untuk anak anak muslim setempat sebagai, sebagai kontribusi bagi dunia pendidikan di negara tersebut.

Sholat Jum’at di Trinidad & Tobago dimulai pada kira kira pukul 12.30 dan khutbah serta bahasa pengantar yang dipakai menggunakan Bahasa Inggris. Sama seperti di belahan dunia Islam lainnya, masjid masjid di Trinidad & Tobago juga menyediakan tempat khusus untuk jemaah wanita.

Selain sebagai pusat peribadatan, Masjid masjid disana juga menjadi pusat pendidikan Islam, menyelenggarakan kursus tafsir Al-Qur’an dan pemahaman Islam. Beberapa dari masjid masjid tersebut juga menyelenggarakan pendidikan untuk menjadi penghafal Al-Qur’an (Hafiz), termasuk juga terlibat aktif dalam pendidikan khusus untuk anak anak dan remaja seperti yang dilakukan oleh Masjid Darul Ulum.

Bersamaan dengan geliat pembangunan desa yang semakin mantap di tahun 1870, setiap desa atau wilayah membangun masjid masing-masing dan dipimpin oleh seorang imam. Dalam catatan harian seorang misionaris bernama John Morton, disebutkan bahwa masjid mulai bermunculan di Trinidad & Tobago pada 1860-an. Ia mendeskripsikannya sebagai 'sebuah bangunan mungil yang cantik beratapkan galvanized'.

Imigran-imigran pertama yang datang dan keturunannya bertambah makmur. Mereka membangun masjid yang biasanya terbuat dari kayu. Masjid yang terbentang di sepanjang wilayah yang dihuni oleh kaum Muslimin biasanya digunakan beribadah oleh kaum laki-laki. Hal ini terus berlangsung sampai 1928, di mana jemaah perempuan mulai datang ke masjid di hari hari besar Islam, seperti shalat saat Idul Adha dan Idul Fitri.

Di awal 1930, maktab (kelas agama) mulai diadakan di masjid-masjid. Di dalam kelas ini yang menjalankan peran guru adalah para imam atau jemaah dewasa yang sudah menguasai ilmu agama dan mengajarkannya pada anak-anak. Kelas keleas agama ini mengajarkan bahasa Arab, bahasa Urdu, cara beribadah dan juga pengetahuan dasar Islam. Selain datang ke maktab, anak-anak laki-laki dan perempuan juga mendapatkan pengajaran tentang Islam dari pendahulu mereka. Dan hal ini terus mereka dapatkan, meskipun mereka sudah menjadi murid di maktab. .**kembali ke bagian-1)

Referensi

crescentrating.com – mosques in Trinidad and Tobago

caribbeanmuslims.com – History of Islam and Muslims in Trinidad

caribbeanmuslims.com - Trinidad-Muslim-League

caribbeanmuslims.com - T & T Muslims celebrate Eid after month of fasting

dialogo-americas.com - Fear and Islam In Trinidad

situs resmi ASJA - http://www.asjatrinidad.org

islamicfinder.com – Islamic places in Trinidad & tobago

discover-tt.net - masjid_and_muslim_organizations

islamweb.net - How a Minister in Trinidad and Tobago entered Islam

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago

Masjid Muhammad Ali Jinnah St. Joseph, Trinidad & Tobago

Apa dan Dimanakah Trinidad & Tobago

Republik Trinidad & Tobago adalah republik kepulauan yang terletak di laut Karibia bagian selatan ber-ibukota di Port of Spain. Lokasinya berada Teluk Paria persis di timur laut lepas pantai Venezuela, dan di sebelah selatan Grenada di gugus kepulauan Antilles kecil. Negara kecil ini hanya terdiri dari dua pulau utama yakni pulau Trinidad dan Pulau Tobago ditambah dengan beberapa pulau pulau berukuran mini.

Trinidad & Tobago berbagi wilayah laut dengan beberapa Negara tetangganya termasuk Barbados di sebelah timur laut, Guyana di sebelah tenggara dan Venezuela di sebelah selatan dan barat. Keseluruhan wilayah Negara Trinidad & Tobago hanya seluas 5128 km2, kira kira setara dengan 89% luas Provinsi Bali (5780 km2). Trinidad merupakan pulau terbesar setara dengan 94% dari keseluruhan wilayahnya dan 96% penduduknya tinggal di pulau Trinidad.

Trinidad & Tobago pernah di duduki Spanyol, Prancis dan terahir oleh Inggris. Itu sebabnya bahasa Inggris merupakan bahasa Nasional di Trinidad & Tobago. Merujuk kepada world fact book, penduduk Trinidad & Tobago berasal dari berbagai bangsa yang dibawa kesana oleh penjajah Eropa. 40% penduduk negaranya berasal dari India atau Asia selatan lainnya, 37.5% dari benua Afrika, 20.5% merupakan campuran dari berbagai bangsa, 2% sisanya adalah penduduk asli dan lain lain yang tidak didata 2%.

Lokasi Trinidad & Tobago di Karibia

Trinidad & Tobago merupakan negara multi etnis. 6.6% penduduk-nya beragama Islam atau kira kira setara dengan 81 ribu jiwa dari total 1.226.383 jiwa penduduk. Tidak ada agama mayoritas mutlak disana. Rasio pemeluk Agama di Trinidad & Tobago adalah 26% penganut agama Katolik Roma, 25.8% nya menganut berbagai aliran Protestan, disusul Hindu 5.8%, penganut Kristen lainnya 5,8% serta penganut ajaran lain lain dan yang tidak disebutkan dengan jelas sebesar 1.9%. Negara ini disebut sebut sebagai negara Karibia dengan penduduk muslim paling banyak.

Sejarah Singkat Trinidad & Tobago

Nama Trinidad atau nama asli “La Isla de la Trinidad” atau ‘The Island of the Trinity’ diberikan oleh Christopher Columbus yang tiba disana pada tanggal 31 Juli 1498 dan mengklaim pulau tersebut sebagai milik Spanyol dengan penguasa pertama-nya gubernur spanyol Don José Maria Chacón yang tiba disana bersama kedatangan kapal laut inggris di tahun 1797.

Disaat yang sama pulau Tobago (diambil dari kata Tobacco – tembakau) mengalami peralihan kekuasaan dari Spanyol, Inggris, Prancis Belanda dan kolonialisasi oleh Courlander. Trinidad & Tobago menjadi milik Inggris sejak ditandatanganinya perjanjian Armiens tahun 1802. Trinidad & Tobago memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tanggal 31 Agustus 1962 dan berubah menjadi Republik pada tanggal 1 Agustus 1976. Trinidad & Tobago mengandalkan sektor industri sebagai sumber pendapatannya terutama dari sektor perminyakan dan petrokimia.

Trinidad & Tobago merupakan anggota terkemuka Komunitas negara negara Karibia atau Caribbean Community (CARICOM). Juga menjadi anggota dari Mahkamah Karibia atau the Caribbean Court of Justice (CCJ), yang dibentuk pada 16 April 2005 dengan tujuan untuk mengganti Komisi Yudisial Inggris.

Pemerintahan negara ini cukup stabil, meski sempat terjadi kudeta enam hari oleh Jemaah Al-Muslimin di tahun 1990. Kala itu 114 anggota Jemaah Al-Muslimin dipimpin oleh seorang mualaf bernama Yasin Abu Bakar yang sebelum ber-Islam bernama asli Lennox Phillip, menyerbu Gedung Merah (Red House – Gedung Parlemen Trinidad & Tobago), gedung stasiun televisi nasional yang merupakan satu satunya stasiun televisi disana saat itu dan menyandera aparat pemerintah negara selama enam hari sebelum kemudian ahirnya menyerah.

Masuknya Islam ke Trinidad & Tobago

Para ahli sejarah termasuk situs resmi ASJA yang merupakan organisasi Islam terbesar di Trinidad & Tobago, meyakini masuknya Islam ke negara pulau itu dibawa oleh budak-budak hitam dari suku Mandigo di Afrika Barat, bukan oleh orang India Timur, Hal ini terlihat dari banyaknya anggota suku Mandigo di Trinidad & Tobago yang memeluk Islam di tahun 1740. Budak budak Afrika ini tiba di Trinidad & Tobago sekitar tahun 1817 bersama dengan Resimen India Timur yang kemudian mendiami kawasan yang kini dikenal sebagai pemukiman sungai Hondo (Hondo River Setlement).

Masjid Nazir Ahmad Seemab Memorial

Sedangkan penulis Omar Hasan Kasule pada tahun 1978 menyusun laporan bahwa budak-budak hitam itu pertama kali tiba sekitar 1777, jauh lebih dulu seperti yang disebutkan oleh situs resmi ASJA. Mereka datang untuk menggarap perkebunan teh di Trinidad. Dan jumlah mereka terus bertambah menjadi 20.000 orang di tahun 1802.

Muslim Mandigo ini menjaga identitas Islamnya dan mendapatkan kebebasan dari perbudakan dari pemimpin kuat bernama Muhammad Beth. Mereka selalu merindukan untuk pulang ke tanah kelahiran mereka di benua Afrika. Namun akhirnya hubungan mereka dengan tanah kelahirannya terputus dan menetap di Trinidad. Sedangkan orang-orang India Timur datang belakangan dengan tetap menjaga hubungan dengan negara kelahirannya sehingga bisa mempertahankan iman-Islamnya.

Orang-orang India Timur ini pertama kali datang ke Trinidad sebagai pelayan berdasar perjanjian. Perjanjian yang diterima oleh para buruh ini adalah bentuk kerja paksa tanpa bayar. Para buruh tani ini bekerja di perkebunan tebu selama periode tertentu—biasanya lima tahun—untuk menghapus hutang-hutang mereka. Kondisi kemiskinan dan kehidupan yang keras menggelayuti para buruh tani ini dibarengi dengan usaha kristenisasi terhadap mereka oleh para majikan.

Mereka tiba di Trinidad untuk pertama kali bertepatan dengan perayaan ulang tahun Trinidad pada 31 Mei 1845 bersama dengan buruh lainnya menggunakan kapal Fath Al-Razak dan berlabuh di Port of Spain. Mereka datang dari Uttar Pradesh, India, dengan jumlah keseluruhan 227 orang dan rata rata beragama Hindu dan Islam. Selama periode 72 tahun tercatat 147.592 orang yang sudah diboyong ke Trinidad sejak Kapal pertama hingga kapal terahir s/s Ganges di tahun 1917.

Kapal Fath Al-Razak merupakan kapal kayu bertonase 415 ton milik Ibrahim Bin Yussef seorang saudagar muslim India di Bombay. Berangkat dari Calcutta, India menuju Trinidad pada tanggal 16 Februaru 1845 dan tiba di Port of Spain pada tanggal 30 Mei 1845. Ketika pemerintah penjajah Inggris di India memutuskan untuk membawa para buruh semi budak ini ke benua Amerika tak satupun pemilik kapal Inggris yang bersedia terlibat dalam hal itu. Pilihan terahir jatuh kepada kapal Cecrops yang ketika akan berangkat diganti nama menjadi Fath Al-Razak dan di manifest pelayarannya ditulis dengan nama Futtle Razak sehingga menghasilkan kesalahan nama menjadi Fatel Razak.

Dibawah tekanan peradaban yang sangat luar biasa dengan status mereka yang semi perbudakan, kaum muslimin awal di Trinidad & Tobago mempertahankan aqidah mereka dengan segala daya upaya. Namun di tengah pengajaran minim yang diterima anak-anak buruh tani ini, mendapatkan pelajaran bahasa Inggris mereka dapatkan dari sekolah sekolah Canadian Mission yang non muslim sedangkan pelajaran Bahasa Urdu dan Bahasa Arab untuk membaca Alquran secara privat diajarkan dari individu ke individu. Mereka yang bisa mengenyam pendidikan ini pun terbatas pada anak laki-laki saja, sedang anak perempuan tetap buta huruf. Di tengah muramnya kehidupan, ajaran Islam tetap memancarkan cahayanya, meski redup. Bersambung ke bagian-2

Referensi

crescentrating.com – mosques in Trinidad and Tobago

caribbeanmuslims.com – History of Islam and Muslims in Trinidad

caribbeanmuslims.com - Trinidad-Muslim-League

caribbeanmuslims.com - T & T Muslims celebrate Eid after month of fasting

dialogo-americas.com - Fear and Islam In Trinidad

situs resmi ASJA - http://www.asjatrinidad.org

islamicfinder.com – Islamic places in Trinidad & tobago

discover-tt.net - masjid_and_muslim_organizations

islamweb.net - How a Minister in Trinidad and Tobago entered Islam

Monday, October 26, 2020

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial, St Joseph - Trinidad & Tobago

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial Saint Joseph Trinidad & Tobago (foto dari panoramio)

Republik Trinidad & Tobago, salah satu negara dari beberapa negara dan wilayah kekuasaan di Laut Karibia yang berada di antara Amerika Utara dan Amerika Selatan. Dengan perkiraan jumlah penduduk muslim antara 6% hingga 8% atau setara dengan 81 ribu hingga 100 ribu jiwa, sudah cukup untuk menjadikan negara ini sebagai negara Karibia dengan penduduk Muslim terbanyak.

Republik Trinidad & Tobago tercatat sebagai negara di benua Amerika pertama yang pernah dipimpin oleh presiden yang beragama Islam. Beliau adalah Noor Muhammed Hasanali, yang merupakan presiden kedua di negara tersebut, menjabat selama 10 tahun dari tahun 1987 hingga tahun 1997.

Ber-ibukota di Port of Spain yang berada di Pulau Trinidad, menjadikan Trinidad sebagai pulau tempat terkonsentrasinya penduduk negara tersebut. Trinidad & Tobago memiliki setidaknya 87 masjid berukuran besar dan kecil dan hanya dua saja dari 87 masjid tersebut yang berdiri di pulau Tobago.

Sisi depan Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial

Situs resmi ASJA, organisasi Islam terbesar di negara tersebut menyebutkan bahwa Masjid Calcutta di Calcutta Village – Freeport, merupakan masjid tertua di Trinidad & Tobago. Masjid Calcita didirikan tahun 1863 oleh Dookie Meah, seorang muslim yang berasal dari Calcuta – India, beliau tiba di Port of Spain pada tanggal 31 Mei 1845 bersama para 227 buruh lainnya yang diangkut menggunakan kapal Fath Al-Razak.

Sedangkan Masjid terbesar adalah Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial atau biasa disingkat menjadi Masjid Jinnah Memorial yang berada di kota Saint Joseph. Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial dibangun oleh pemerintah Pakistan tahun 1954 untuk muslim Pakistan yang ada di Trinidad & Tobago. Sedangkan nama masjidnya sendiri merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang pahlawan Nasional sekaligus pendiri negara Pakistan, Muhammad Ali Jinnah.

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial atau lebih dikenal dengan nama TML Masjid, merujuk kepada Trinidad Muslim League yang mengelola masjid ini.

Kota Saint Joseph (San Jose De Oruna) tempat masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial ini berdiri, merupakan ibukota pertama bagi pulau Trinidad saat pulau ini dibawah penguasaan Spanyol antara tahun 1592-1783. Didirikan pada tanggal 15 Mei 1592 oleh sang penakluk Spanyol Domingo de Vera, atas perintah dari Gubernur Don Antonio de Berrio y Oruna.

Don Antonio de Berrio y Oruna, menjelajah ke Karibia dalam petualangan untuk menemukan kota Eldorado yang disebutkan dalam dongeng sebagai sebuah kota yang bertabur emas untuk Raja Spanyol di tahun 1580. Setelah gagal menemukan kota emas yang diburu-nya, dia memutuskan membangun kota disana, karena lokasinya yang sangat dekat dengan Amerika Latin yang di duga memiliki harta karun yang dicarinya. Kota itu yang kini dikenal sebagai kota Saint Joseph.

Lokasi Masjid Jinnah Memorial

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial berada di ruas jalan Eastern Main Road, Saint Joseph, bersebelahan dengan kantor polisi yang juga merupakan bangunan bersejarah di Trinidad & Tobago. Kantor polisi ini menjadi saksi diterimanya telegraph pertama di negara itu untuk Gubernur Arthur Gordon pada tanggal 4 Maret 1870.

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial

Eastern Main Rd, St. Joseph

Trinidad and Tobago 34 m NE

10°39'6.07"N  61°24'47.83"W

View St Joseph T.M.L. Masjid in a larger map

Masjid Mohammed Ali Jinnah memorial kini dikelola oleh Trinidad Muslim League Inc (TML). Karenanya Masjid ini kadangkala juga disebut sebagai Masjid TML

Sejarah Masjid Jinnah Memorial

Interior Masjid Jinnah Memorial

Pembangunan masjid Jinnah Memorial ini selesai dilaksanakan pada tahun 1954 dan dinamai sesuai dengan nama pendiri Negara Pakistan Mohammed Ali Jinnah. Rancangan masjid ini dibuat oleh dewan dari Liga Muslim Trinidad (Trinidad Muslim League) di tahun 1948 dengan arsiteknya bernama Mence and Moore. Peletakan batu pertama pembangunannya dilaksanakan oleh Al-Haj Mirza Abdul Hassan Ispahani selaku duta besar Pakistan untuk Amerika Serikat pada tanggal 10 November 1948.

Masjid Jinnah Memorial secara resmi dibuka pada hari Senin tanggal 25 April 1954. Upacara pembukaan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sir Hubert Rance, K.C.M.G., C.B.E, dan Menteri Tenaga Kerja, Perindustrian dan Perdagangan, Albert Gomes. Peresmian masjid tersebut juga ditandai dengan azan pertama untuk sholat asyar oleh M. Yarcub Khan sedangkan sholat asyar pertama di-imami oleh Haji Moulvi Ameer Ali.

Peranko Masjid Jinnah.

Sebagai sebuah simbol persahabatan antara dua negara, Trinidad & Tobago dan Pakistan, Gambar Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial ini di abadikan dalam Perangko Trinidad & Tobago terbitan tahun 1960 dan diterbitkan ulang tahun 1992. Kehadiran masjid Muhammad Ali Jinnah turut menjadi Landmark bagi Trinidad & Tobago dan diperkenalkan ke seluruh dunia melalui terbitnya perangko tersebut.

Arsitektur Masjid Jinnah Memorial

Kubah utama masjid Jinnah Memorial ini berukuran 40 kaki pada diameternya dan setinggi 24 kaki, berdiri di tengah dari bangunan utama masjid dikelilingi oleh kisi kisi jendela kaca dan dimahkotai dengan padanan ornamen bulan dan bintang di puncaknya. Landasan tempat kubah utama ini berdiri beruba silinder besar dan diapit oleh empat bentuk setengah kubah karena menempel ke silinder kubah utama.

Serta dilengkapi pintu ke masing masing kubah separo tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat interior kubah utama dan lantai dasar dibawahnya. Atap masjid ini masih lagi di hiasi dengan enam kubah dengan ukuran lebih kecil berdiri di atap masjid pada landasan yang berbentuk heksagonal.***

One moment in Jinnah Memorial Mosque

Referensi

keyhole.com – jinnah memorial mosque, trinidad & tobago

araneo.info – mohammed ali Jinnah memorial mosque

caribbeanmuslims.com – dookie meah founder of the first trinidad mosque

caribbeanmuslims.com – historical review of the tml

Baca Juga

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2)

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia

Masjid As-Salam dan Islamic Center Santiago, Chile

Masjid Agung Coquimbo, Chile

Masjid Babul Islam, Tacna, Peru

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd, Buenos Aires, Argentina

Islam di Barbados

Masjid Pertama di Barbados. Tempat ibadah muslim pertama di Barbados adalah masjid di Kensington New Road, Masjid Jumma atau Jumma Masjid - Bridgetown, yang dibangun tahun 1950.

Bila anda mengenal Rihana atau nama lengkapnya Robyn Rihanna Fenty, penyanyi pop dunia itu, mestinya anda juga akan mengenal negara asalnya, Barbados. Barbados, negara pulau yang terkenal dengan sebutan The Little England atau Inggris Kecil ini adalah sebuah pulau di Laut Karibia berjarak sekitar 218 kilometer sebelah timur laut pulau Trinidad & Tobago. Pulau ini merupakan rantai paling selatan dari rangkaitan gugus pulau pulau Karibia bagian timur. Secara defacto dan de jure pulau Barbados merupakan sebuah negara merdeka sejak tahun 1966 berbentuk monarki parlementer dengan Ratu Elizabeth II sebagai kepala negara, diwakili oleh seorang Gubernur Jenderal, sedangkan pemerintahannya dikepalai dan dikelola oleh seorang Perdana Menteri.

Luas keseluruhan negaranya hanya 430 kilometer persegi atau setara dengan hanya sekitar 64% dari luas propinsi DKI Jakarta (664.01 Km2). Penduduk negara ini biasa menyebut diri mereka sebagai Barbadian atau Bajan. 93% dari penduduk negaranya berkulit hitam, hanya 3,2% saja yang berkulit putih sisanya dari etnis campuran 2,6%, menyusul berbagai suku India 1% dan etnis lainnya 0,2%. Dengan jumlah penduduk di bulan Juli 2012 lalu sebanyak 287.733 jiwa, dan hampir separuhnya menetap di kota Bridgetown (122.000 jiwa) sebagai ibukota negara.

Lokasi Barbados di Karibia

Agama di Barbados

Merujuk kepada world fact book disebutkan bahwa rasio pemeluk agama di Barbados terdiri dari Protestant 63,4% (Anglican 28,3%, Pentekosta 18,7%, Methodist 5,1%, lain lain 11.3%), Katholik Roma 4,2%, Kristen Lainnya 7%, agama lainnya 4,8%, sisanya 20,6% tak beragama atau tak menyebutkan agamanya secara jelas. world fact book sama sekali tak menyebutkan rasio pemeluk pemeluk agama lain.

Wikipedia tentang Barbados sedikit menyinggung keberadaan pemeluk agama minoritas di Barbados termasuk hindu, Islam, Baha’i dan Yahudi meskipun tak menyebut dengan pasti angka dari jumlah pemeluk agama agama minoritas tersebut. Masih dari situs Wikipedia dibawah judul Islam in Barbados menyebutkan bahwa populasi muslim di negara tersebut mencapai 4000 ribu jiwa. Angka yang memang tak terlihat bila dibandingkan dengan jumlah total penduduk negara Barbados.

Jumma Masjid - Jumma Masjid, Kensington New Road, Bridgetown, St. Michael. Barbados. Tel: 426-0117

Rekaman Sejarah Islam di Barbados

Berdasarkan pada hasil riset diketahui bahwa muslim pertama yang tiba di Barbados lebih dari 90 tahun yang lalu, ketika di tahun 1913 Abdul Rohul Amin seorang pedagang sutera dari Benggala Timur (India bagian timur atau Bangladesh) tiba di Barbados. Segera setelah itu beberapa orang Bengali menyusul datang ke Barbados dan secara bersama sama berbagi tempat tinggal di Wellington Street di pusat kota. beberapa dari mereka juga menetap di Milk Market dan Tudor Street di lantai atas toko sepatu Bata di Bridgetown.  Sebagian besar imigran dari Bengali tersebut menikah dengan wanita setempat dan memulai membina keluarga disana. Kini begitu banyak orang orang Barbados yang merupakan keturunan dari pertalian pernikahan tersebut.

Kaum muslimin pertama di Barbados ini menjalani kehidupan mereka sebagai pedagang keliling dan masih berlanjut hingga hari ini. pada tahap awal proses perniagaan mereka dilakukan dengan warga Barbados yang tinggal di kawasan pedesaan yang memang menemui kesulitan untuk pergi ke Bridgetown guna membeli kebutuhan hidup mereka. Para pedagang ini pergi ke wilayah pedesaan menggunakan Bis untuk membawa barang dagangan mereka, ketiadaan angkutan umum terkadang membuat mereka harus berjalan kaki menembuh jarak yang begitu jauh.

Madina Masjid di Sobers Lane, masjid kedua di Barbados dibangun tahun 1957

Pada masa itu orang orang Barbados memiliki kesulitan untuk membayar tunai, itu sebabnya para “coolie Man” (orang Kuli – sebutan bagi muslim keturunan Bengali) menawarkan pembelian dengan berhutang untuk barang dagangan mereka. selama bertahun tahun berlalu terjalin hubungan yang sangat baik antara para imigran muslim dengan warga Barbados lainnya hingga hari ini, dalam sebuah hubungan yang saling menguntungkan satu dengan yang lainnya.

Gelombang kedatangan muslim berikutnya adalah kedatangan muslim dari beberapa desa di Gujarat, India Timur. kedatangan pertama mereka ke Barbados pada tahun 1929. Kelompok ini kemudian bertolak ke Brazil sebagai penebang pohon kemudian meneruskan perjalanan mereka hingga ke Guyana lalu menetap beberapa lama disana. Dari sana mereka mengetahui bahwa mereka dapat mendapatkan uang dengan berdagang batubara dengan Barbados, sampai kemudian mereka melakukan perjalanan beberapa kali ke Barbados sampai kemudian memutuskan untuk menetap di Barbados.

Makki Masjid di 6th Avenue Belleville, St. Michael. Masjid ketiga di Barbados

Kebanyakan dari muslim Gujarat ini pada awalnya menetap di Tudor Steet di Milk Market. Seiring dengan keberhasilan yang mereka peroleh sebagian dari mereka berpindah ke berbagai lokasi di kota Bridgetown. Keberhasilan bisnis yang mereka kelola mengikuti pola bisnis yang telah lebih dulu dijalankan oleh muslim Bengali beberapa dari mereka kemudian memiliki toko di kawasan Swan Street dan Tudor Street serta memiliki rumah di pusat kota.

Organisasi Islam di Barbados

Beberapa Organisasi Islam telah berdiri dan beroperasi di Barbados, mengorganisir dan melayani kebutuhan ummat Islam disana. Organisasi organisasi tersebut berada dibawah naungan The Barbados Muslim Association (B.M.A). B.M.A adalah organisasi payung bagi seluruh masjid dan Mushola di Barbados, saat ini ada empat masjid ditambah satu Mushola di seluruh negara pulau Barbados.

Masjid Ibn Umar, Harts Gap, Hastings, Chrsit Church, Barbados. Tel: 427-0120

Empat Masjid yang dimaksud adalah : Jumma Masjid – Kensington New Road, Bridgetown, Madina Masjid – Sobers Lane, Bridgetown, Makki Masjid – 6th Avenue Belleville di St. Michael, Masjid Ibn Umar di Harts Gap, Hastings, Christ Church, dan Musalla Wanstead di Cave Hill, St. James. Selain itu BMA juga membawahi lembaga lembaga Islam lainnya yakni : Al-Falah School, Barbados Association of Muslim Ladies (BAML), Barbados Association of Muslim Youth (BAMY), Islamic Academy of Barbados (IAB), Jamiatul Ulama (Barbados), The Medinah Foundation, Muslim Funeral Trust dan UWI Cave Hill Islamic Society.

The Barbados Muslim Association (B.M.A) dibentuk tahun 1997 untuk mewakili seluruh masjid yang ada di Barbados yang kala itu mencapai sekitar 2000 jiwa. Masing masing masjid memiliki pengurusnya sendiri dan terdaptar di pemerintahan secara mandiri. Masing masing masjid menempatkan perwakilannya dalam dewan kepengurusan B.M.A. sebagai tambahan ada lima orang muslim yang dipilih oleh dewan dalam rapat umum tahunan yang dihadiri oleh seluruh komunitas muslim setempat.

Musholla Wanstead Gardens, St. Michael, Barbados

BMA juga bertindak sebagai juru bicara nasional bagi Muslim Barbados kepada pemerintah dalam semua hal terkait dengan kehidupan muslim Barbados termasuk di dalamnya penggunaan Jilbab bagi muslimah, mengorganisir dan memfasilitasi donasi ke berbagai lembaga amal hingga menghadiri berbagai acara nasional yang diselenggarakan pemerintah. Dalam kesempatan hari kemerdekaan yang lalu, tokoh muslim disana diundang untuk memimpin do’a dalam peringatan hari kemerdekaan Barbados.

Masjid di Barbados

Tempat ibadah muslim pertama di Barbados adalah sebuah bangunan masjid di Kensington New Road, Masjid Jumma atau Jumma Masjid - Bridgetown, yang dibangun tahun 1950. Menyusul kemudian Masjid kedua, Madina Masjid di Sobers Lane tahun 1957. Saat ini ada sekitar 4000 muslim tinggal di pulau Barbados, sebagian besar dari mereka tinggal di Bridgetown menempati properti milik mereka sendiri. Masjid Jumma telah mengalami perluasan di penghujung tahun 1980-an hingga mampu mengakomodir lebih dari 600 jemaah sekaligus. Peribatan dilakukan di masjid Jumma dan Masjid di Sober Lane Lima kali sehari termasuk penyelenggaraan sholat Jum’at berjamaah.

Suasana di masjid Jumma sesaat setelah sholat idul fitri

Dikemudian hari menyusul pembangunan dua masjid lainnya yakni Makki Masjid di 6th Avenue Belleville, St. Michael, dan Masjid Ibnu Umar di Harts Gap, Hastings, Christ Church ditambah dengan Musholla Wanstead di Cave Hill, St. James. Makki Masjid di 6th Avenue Belleville dibangun pada era 1990-an oleh beberapa keluarga muslim yang memutuskan untuk pindah dari Bridgetown ke Belleville dan sekitarnya. Pembangunan masjid masjid dan musholla tersebut untuk memenuhi kebutuhan muslim setempat akan tempat ibadah yang semakin meningkat.

Pusat pendidikan Islam mulai dibuka tahun 1970 dan kini telah memiliki gedung permanen di kawasan Harts Gap, Hastings. Lembaga pendidikan ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan lembaga pendidikan bagi warga muslim disana.  Di rentang waktu awal tahun 60-an hingga tahun 70-an sejumlah warga Barbados keturunan Afrika mulai memeluk Islam. trend tersebut terus berlanjut hingga hari ini dengan begitu banyak individu yang menunjukkan ketertarikannya kepada Islam dan sebagian lagi pada ahirnya benar benar memeluk Islam.

Perdana Menteri Barbados, Freundel Stuart menjabat tangan seorang jemaah cilik di Masjid Jumma Bridgetown sesaat setelah sholat Idul Fitri.

Kehidupan Sosial Kemasyarakatan Muslim Barbados

Beragam aktivitas dijalankan oleh komunitas muslim Barbados untuk menyebarkan informasi tentang Islam. aktivitas tersebut termasuk didalamnya dengan menuliskan artikel di berbagai surat kabar, pemberitaan media nasional melalui radio dan televise, kuliah kuliah umum dan pengajaran di sekolah sekolah serta lembaga pendidikan lainnya. Kaum muslimin dari negara negara sekitarnya seperti Muslim Trinidad & Tobago serta Guayana yang ber-migrasi dan kemudian menetap di Bridgetown turut menjadi bagian dari Komunitas muslim Barbados.

Kini, setelah hampir seabad berlalu anak cucu dan keturunan dari muslim muslim pertama di Bridgetown terlibat secara aktif dalam semua segmen kehidupan masyarakat serta menyumbangkan  kontribusi yang cukup signifikan bagi perkembangan Bridgetown secara khusus dan Barbados umumnya. Beberapa dari mereka berprofesi sebagai dokterm pengacara, insinyur hingga pegawai negeri.

Miranda Sealy, satu dari mualaf Barbados yang ingin mendalami Islam dan menjalankannya dalam kehidupan secara kaffah.

Sebuah kehormatan ditunjukkan oleh senator sekaligus Menteri Dalam Negeri Barbados, Mr. Glyne Murray pada tahun 2002 yang lalu. Beliau berkenan berkunjung dan menghadiri perayaan hari raya Idul Fitri yang diselenggarakan di Jumma Masjid, Kensington New Road – Bridgetown. Beliau menyempatkan diri menyampaikan sambutan dari Perdana Menteri Barbados yang kutipannya sebagai berikut :

. . . “pada saat ini kita tahu bahwa dunia seakan terjerembab dalamkecurigaan dan kebencian terhadap Islam, tapi saya fikir kita di Barbados justru memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa hidup bersama sama sebagai saudara karena kita tahu bahwa kita semua bekerja untuk satu hal yakni kehidupan yang lebih baik bagi diri kita sendiri dan bagi Barbados yang lebih baik, tempat kita berbagi bersama”.

Referensi

caribbeanmuslims.com – overview of barbados muslims

situs resmi B.M.A - www.islambarbados.com

---------------

Baca Juga

Masjid Babul Islam, Tacna, Peru

Masjid As-Salam dan Islamic Center Santiago, Chile

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd, Buenos Aires, Argentina

Masjid Sheikh Ibrahim Al-Ibrahim, Caracas

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia

Masjid Agung Coquimbo, Chile

Masjid Muhammad Ali Jinnah Memorial, St Joseph - Trinidad & Tobago

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2)

Sunday, October 25, 2020

Masjid Sheikh Ibrahim Al-Ibrahim, Caracas

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim pada kota Caracas ini berdiri tidak jauh dari Gereja Katedral Katholik Roma dan Synagog Yahudi. Menjadi simbol toleransi beragama di negara tersebut.

Masjid Sheikh Ibrahim Al-Ibrahim adalah masjid terbesar Venezuela sekaligus terbesar- kedua di kawasan Amerika Latin setelah Masjid dan Islamic Center King Fahd di Buenos Aires, Argentina. Masjid yang dibangun oleh Sheikh Ibrahim Bin Abdul Aziz dari Saudi Arabia ini dinamai sesuai dengan nama pembangunnya. Mulai dibangun tahun 1989 dan selesai tahun 1993.

Sejak selesai dibangun, tak pelak lagi menara masjid ini yang menjulang setinggi 113 meter memberikan warna tersendiri bagi wajah kota Caracas, Ibukota Venezuela, menegaskan kehadiran Islam di negara yang dipimpin oleh Hugo Chávez, satu dari sedikit pemimpin dunia yang dengan berani secara terbuka menentang hegemoni Amerika Serikat. Salah kebijakannya yang bersinggungan langsung dengan kepentingan Amerika adalah langkah besarnya menasionalisasi perusahaan perusahaan minyak milik Amerika yang beroperasi di wilayah Venezuela.

Menaranya yang menjulang lebih menurut seratur meter menghadirkan pemandangan tersendiri diantara bangunan bangunan pencakar langit di kota Caracas. Menara Masjid ini sebagai menara masjid tertinggi pada semua tempat Amerika Latin.

Kepesertaan Venezuela dalam organisasi negara negara pengekspor minyak yang di dominasi oleh dunia Arab di Timur Tengah memberikan peluang besar bagi perkembangan Islam di negara tersebut. Tak mengherankan bila kemudian di kota Caracas hadir sebuah bangunan masjid megah bergaya Arabia yang dibangun oleh keluarga kerajaan Saudi Arabia.

Sheikh Ibrahim Mosque

Calle Real de Quebrada Honda,Los Caobos, A.P. 52106 Sabana Grande,

Caracas, 1050, VENEZUELA

Koordinat Geograpi 10?30?6?N 66?53?43?W

Phone: 02-577-7382

Fax:     02-5775932

View Larger Map

Lokasi masjid ini berada pada Distrik El Recreo pada kota Caracas. Mulai bangun tahun 1989 sang Sheikh Ibrahim Bin Abdulaziz merujuk kepada hasil rancangan dari arsitek Zuhe Fayez, dan terselesaikan dibangun tahun 1993. Bangunan masjid ini berdiri pada atas huma seluas 5000 m? Lengkap dengan menara dengan tinggi 113 meter, menjadikannya menjadi menara masjid tertinggi pada Amerika Latin. Kubah akbar tunggalnya itu dengan tinggi 23 meter. Dan keseluruhan bangunan masjid ini bisa menampung 3500 jemaah sekaligus.

Korban Perampokan

Masjid terbesar pada Venezuela ini sempat menjadi korban peramporan oleh para penjarah sebagaimana dilaporkan sang pengurus masjid ini. Para perampok tadi menjarah perangkat computer dan melakukan pengrusakan serta penistaan buku kudus yang tersimpan di dalam ruang administrasi masjid tersebut. Pengurus masjid & pemuka muslim setempat menekan pihak berwenang buat memberikan proteksi lebih terhadap loka tempat ibadah mengingat peristiwa tersebut bukan yang pertama terjadi.

Tak galat bila dianggap bahwa menara masjid ini mendominasi pemandangan dikawasan ditempatnya berdiri. Ditambah dengan kubahnya yg begitu menonjol menghadirkan pemandangan tak biasa di ibukota negara dengan dominan penduduknya beragama Katholik Roma tersebut.

Area masjid ini menempati lahan seluas 5000 meter persegi, cukup luas buat diawasai sang hanya 2 orang penjaga keamanaan masjid. Pemuka muslim setempat pula cukup menyayangkan sepinya pemberitaan terhadap perampokan yg terjadi pada masjid tadi tidak selaras menggunakan yang terjadi pada Synagog yg juga sebagai korban perampokan beberapa bulan sebelumnya. Di Kota Caracas ini sendiri menjadi rumah bagi setidaknya 50.000 muslim sebagaian besar berdasarkan mereka adalah muslim keturuan Arab.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dan Islam di Venezuela

Ketika para pelaut Spanyol mendarat buat pertama kali di pantai Venezuela pada tahun 1498 yg kemudian mereka sebut menjadi Little Venice, & sejak itu agama Katholik Roma mendominasi daerah tersebut. Di tahun 1993, sebuah menara masjid setinggi 370 kaki berdiri menjulang pada pusat kota Caracas, menara yang pada mahkotai menggunakan bulan bintang sebagai symbol toleransi kehidupuan beragama sekaligus symbol kehadiran Islam pada negara kaya minyak tadi. Menara masjid ini bahkan berkali lipat lebih tinggi dibandingkan menggunakan menara Katedral Katholik yang hanya terpisah beberapa blok sebelah timur berdasarkan masjid tadi.

Simbol toleransi. Di foto di atas terlihat menggunakan kentara bangunan masjid Ibrahim Al-Ibrahim berseberangan dengan gereja Katedral Katholik Roma.

Hassan Majzoub, selaku presiden berdasarkan Venezuela's Islamic Center, menyebut berdirinya masjid tadi menjadi sebuah mimpi yg sebagai nyata. Proyek empat tahun pembangunan masjid itu ahirnya berwujud di bulan maret tahun 1993 menggunakan diresmikannya masjid tadi sekaligus menjadi Caracas Islamic Center. Merujuk pada penerangan Hassan Majzoub, yg berimigrasi dari Lebanon tahun 1968 bahwa di Venezuela masih ada setidaknya 100 ribu muslim yg dapat kapan saja menyalib jumlah muslim pada Argentina, Brazil dan Amerika Serikat.

Venezuela adalah galat satu negara anggota & pendiri organisasi pengekspor minyak (OPEC), 80 persen pendapatan negara tadi diperoleh berdasarkan ekspor minyak. Namun pemerintah negara tadi menetapkan buat menerima kucuran dana menurut pemerintah Saudi Arabia sebesar 8.5 juta dolar buat pembangunan masjid terbesar di Amerika Latin ini. Beberapa pengamat menyebut tindakan tadi menjadi diplomasi relijius yg dilancarkan sang pemerintah Venezuela. Dalam sebuah wawancara presiden Venezuela, Carlos Andres Perez, bahkan menyebut pembangunan masjid tersebut tidak saja menjadi sebuah contoh sempurna berdasarkan kebebasan beragama tapi jua interaksi yang sempurna antara Venezuela dan Saudi Arabia.

Exterior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Berdirinya Masjid Ibrahim Al-Ibrahim di Caracas ini merupakan satu berdasarkan masjid yang dibangun sang yayasan Ibrahim Bin Abdul Azis Al-Ibrahim dari Kerajaan Saudi Arabia, setelah sebelumnya yayasan yg sama juga menciptakan masjid di Dusseldorf (Jerman), Gibraltar di semenanjung Iberia, Milan (Italia) dan Moscow (Russia) serta beberapa loka lainnya.

Kubah masjid ini mendominasi galat satu kawasan paling bergengsi di pusat kota Caracas, lokasinya berada di tepian ruas jalan Avenida Libertador yg adalah jalan arteri primer, berada diantara gedung teater nasional, museum seni, perusahaan telekomunikasi dan kebun raya.

Interior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Dari sisi arsitektural masjid ini adalah karya seni tidak ternilai mengingat bentuk-nya yang memang tak biasa diantara gedung gedung lainnya yang berdiri pada kota Venezuela. Berdiri megah dilahan seluas satu hektar yg diperoleh dari pemerintah, masjid ini mampu menampung hingga 3500 jemaah sekaligus. Lahan tempat masjid ini berdiri berada 40 kaki diatas jalur subway, dan berada ditepian delapan lajur ruas jalan bebas kendala.

Oscar Bracho, arsitek Venezuela yg menangani pembangunan masjid ini merancang bangunan ini sedemikian rupa termasuk melakukan langkah inovativ buat meredam bunyi bising dari jalur sub way yg dibawah bangunan ini menggunakan memfungsikan lantai dasar masjid sebagai ruang serbaguna yg bisa digunakan menjadi ruang rendezvous, acara pernikahan, area perpustakaan dan sekolah al-Qur?An. Untuk mengatur pencahayaan alami ke pada ruangan sholat, cahaya matahari di filter melalui kaca jendela ganda, dan sistem pencahayaan protesis memakai lampu gantung menurut kuningan sepanjang 56 kaki yang khusus didatangkan berdasarkan Mesir.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim diwaktu malam

Sebagai sebuah masjid, bangunan ini dibangun menunjuk ke Ka?Bah di kota Mekah, berada di kawasan yang diklaim Santa Rosa atau Mawar Suci, ruas jalan Avenida Libertador kini diawali dengan secara berurutan merupakan bangunan masjid, lalu Gereja Katholik dan pada ahiri menggunakan sebuah bangunan Synagog. Di hadapan masjid adalah Peace Square, sebuah plaza kecil menggunakan sebuah tugu monolit menurut batu pualam menggunakan relief berdasarkan kuningan berbentuk bulan sabit Islam, cedar berdasarkan Lebanon dan bintang Daud.

Kehadiran bangunan masjid ini benar benar sebagai sejumput pemandangan tidak lazim tetapi begitu menarik perhatian bagi penduduk Venezuela yg 95% menurut 20 juta penduduknya merupakan penganut Katholik. Saking menariknya sampai hingga selama proses pembangunan masjid ini, para pengendara taksi yang terjebak kemacetan di ruas jalan bebas hambatan di depan masjid ini selalu saja menurunkan kaca ventilasi mobilnya buat sekedar bertanya pada para pekerja disana buat menanyakan sudah sampai sejauh mana proses pembangunan bangunan yg mereka sebut sebagai ?Gereja muslim? Atau ?Synagog muslim? Tadi.

Referensi

en.wikipedia.org - Mosque_of_Sheikh_Ibrahim_Al-Ibrahim

nytimes.com - caracas-getting-continent-s-biggest-mosque

eluniversal.com – Denuncian robo en la principal mezquita musulmana de Caracas

arrahmah.com - mesjid-terbesar-di-venezuela-dirampok

Baca Juga

Masjid Ali Jinnah Memorial, St Joseph - Trinidad & Tobago

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago

Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2)

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia

Masjid As-Salam dan Islamic Center Santiago, Chile

Masjid Agung Coquimbo, Chile

Masjid Babul Islam, Tacna, Peru

Masjid Pusat Kebudayaan Islam Raja Fahd, Buenos Aires, Argentina

Saturday, October 24, 2020

Islam di Brazil

Masjid pertama di Brazil. Brazil Primeira Mesquita do Brasil atau biasa dianggap sebagai masjid Av. Do Estado, karena letaknya yg berada di ruas jalan tadi di kota Sao Paolo, menandai keberadaan Islam pada negara Amerika Latin itu.

Ingat Brazil, Ingat Sepakbola, saking lengketnya negara tersebut dengan sepakbola. Brazil, negara di amerika latin itu yang namanya memang telah begitu identik dengan tiga hal yakni sepakbola, karnaval dan bikini, terkait dengan hamparan pasir pantainya yang mempesona. Brazil juga menyandang predikat sebagai negara dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia bersama Indonesia, negara berbahasa Portugis terbesar di dunia, negara Katholik terbesar di dunia, Negara terluas sekaligus berpenduduk terbanyak di Amerika Latin. Kekatholikan Brazil di tandai dengan pembangunan patung Cristo Redentor yang begitu besar di puncak Bukit Corcovado, Rio de Janeiro di tahun 1850-an.

Negeri satu ini memang keliru satu negeri gila bola, menurut segi prestasi pula memang pilih tanding. Sebagian pecinta bola yg relatif cermat pastinya masih ingat dalam momen kemenangan dua-0 Brazil atas Australia pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Kala itu 18 Juni 2006 pencetak Gol Brazil, Frederico Chaves Guedes mengejutkan dunia ketika merayakan gol kemenangannya dengan melakukan sujud syukur, sebuah celebrasi spesial para pesepakbola muslim. Fred memang keliru satu masyarakat muslim Brazil.

Fred bukanlah satu satunya pesohor muslim di Brazil, di tataran pemerintahan negara tersebut juga masih ada beberapa tokoh muslim yg relatif disegani antara lain Muhammad Murad yang adalah anggota dewan kota S?O Paulo yg sehari harinya berprofesi sebagai pembela terdakwa resmi. Islam memang telah hadir pada Brazil seumur dengan sejarah negara itu, meski pada perjalanannya memang tak mulus.

Dalam sejarahnya semasa masih dijajah sang Portugis, Brazil dikenal menjadi pengimpor budak Afrika terbanyak pada dunia, lebih berdasarkan 3 juta budak hitam Afrika sudah di datangkan ke negara itu selama penjajahan Portugis, buat dijadikan pekerja paksa di huma huma perkebunan milik Portugis. Sebagian dari para budak hitam Afrika itu merupakan Muslim, & menggunakan sendirinya gelombang kedatangan 3 juta budak afrika ke Brazil ini menjadi titik awal masuknya Islam ke Brazil.

Populasi Muslim pada Brazil

Data resmi di world fact book sama sekali tak menyebut Islam dalam deretan agama yang di anut di Brazil. Selain menyebut data sensus tahun 2000 yang terdiri dari 73.6% Katolik, 15.4% Protestan, 1.3% Aliran kepercayaan, 0.3% Bantu/voodoo, 1.8% lain lain, 0.2 tidak jelas, dan sisanya 7.4 tidak beragama.

Data yang lain muncul di Wikipedia yang menyebutkan bahwa pemeluk agama di Brazil terdiri dari Katolik Roma 64.6%, Protestan 22.2%, Tak beragama mencapai 8%, aliran kepercayaan 2% dan 3.2 dikatagorikan sebagai lain lain.

PEW Research Center dalam artikel Mapping the Global Muslim Population, menyebutkan bahwa populasi muslim di Brazil mencapai angka 191-ribu jiwa didasarkan pada data tahun 2009. Angka tersebut setara dengan 0.1% dari total populasi di negara tersebut.

Suasana buka puasa pada Masjid Rio De Jeneiro, Brazil.

Sensus penduduk pada Brazil memang tidak memasukkan Islam menjadi galat satu agama yang pada sensus tapi memasukkan Islam, Budha & agama minioritas lainnya pada kolom ?Lain lian?. Maka wajar bila kemudian tidak ada data yg benar benar valid & up to date terkait nomor niscaya jumlah muslim pada negara tersebut.

Otoritas muslim di Brazil menyakini pemeluk Islam di Brazil mencapai antara 1 juta hingga 2 juta jiwa didasarkan kepada data etnografi yang mereka ketahui. Namun Professor Paulo G. Pinto da Rocha, seorang profesor Antropologi dan Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Universidade Federal Fluminense (Brazil), dengan yakin mengatakan bahwa ada sekitar 1 juta muslim di Brazil saat ini, jumlah yang memang terlalu kecil dibandingkan 200 jutaan penduduk negara tersebut. Angka 1 juta itu pun di sebut berbagai pihak sebagai angka yang terlalu dibesar besarkan.

Masuknya Islam pada Brazil

Seperti disebutkan dimuka bahwa Islam pertama kali mencapai Brazil dibawa oleh para budak belian berdasarkan Afrika. Mereka dibawa ke Brazil secara paksa oleh tentara Portugis ke daerah tersebut buat dijadikan kuli pada perkebunan perkebunan yg dibuka disana.

Bangunan masjid kini sudah mencapai 127 masjid diseluruh Brazil. Salah satunya adalah Masjid di Lajes pada foto di atas yang dikelola oleh Sociedade Beneficente Muçulmana de Lajes.

Di abad ke 16 tepatnya dari tahun 1550, Portugis menggunakan budak Afrika buat bekerja di perkebunan tebu yg sebelumnya dimusnahkan oleh penduduk setempat. Brasil tercatat menerima sekitar 37% dari semua budak Afrika yang diperdagangkan ke benua Amerika atau berkisar 3 juta orang. Jumlah tadi membuahkan Brazil menjadi Negara penerima budak terbesar.

Sebagian dari para budak hitam Afrika yang diboyong kesana merupakan kaum muslimin afrika menurut aneka macam suku. Sejarah Brazil mencatat pada tahun 1835 sempat terjadi pemberontakan sang kaum budak muslim di kota Bahia. Pemberontakan oleh campuran muslim berdasarkan banyak sekali bangsa tersebut mengakibatkan korban jiwa namun berahir dalam kekalahan.

Akibatnya penguasa Portugis menerapkan upaya kristenisasi terhadap para budak yg beragama Islam menggunakan banyak sekali cara. Berbagai tekanan dan paksaan serta pelarangan yg dilakukan sepanjang abad 19 terbukti tak bisa memupus Islam berdasarkan benak para budak disana. Terbukti dalam tahun 1910 tercatat masih terdapat sekitar 10 ribu budak afrika yg masih mempertahankan Islam sebagai agamanya.

Perkembangan Islam disana memasuki era baru menggunakan kebijakan pembebasan perbudakan pada penghujung abad ke 16 yg kemudian memunculkan berbagai komunitas muslim disana & dikemudian hari bergabung menggunakan muslim imigran dari India & Pakistan. Perkembangan Islam juga diperkuat dengan masuknya imigran muslim berdasarkan Timur tengah (Arab) yang masuk ke Brazil pada sekitar tahun 1850 sampai tahun 1860.

Mezquita do Brazil pada Sao Paolo.

Gelombang masuknya imigran arab ini meningkat pada era 1970-an seiring menggunakan terjadinya perang saudara di Lebanon (1975-1990) dan berlanjutnya pendudukan daerah Palestina oleh Israel. Meskipun sebagian besar muslim pada Brazil adalah para imigran arab dan keturunan mereka tetapi di decade terahir sudah tumbuh dengan pesat pemeluk Islam mualaf dari kalangan non arab yg turut sebagai bagian menurut komunitas muslim disana.

Komunitas muslim pada Brazil memang secara umum dikuasai adalah para muslim pendatang mencapai 99.04% dengan konsentrasi populasi berada pada negara bagian S?O Paulo, Paran?, Rio Grande do Sul & Rio de Janeiro. Sebagian besar dari mereka menganut faham shiah yang bermukim pada S?O Paulo & daerah selatan Brazil, seperti di Curutiba dan Foz do Igua?U. Sementara muslim Suni kebanyakann tinggal pada Paulo, Paran?, Rio Grande do Sul, Rio de Janeiro dan Distrito Federal.

Organisasi Islam pada Brazil

Institusi Islam di Brazil menggunakan nama resmi ?Islamic Mutual-Aid Associations?

(Sociedades Beneficentes Mu?Ulmanas - SBM). Organisasi tertuanya pertama kali dibentuk pada S?O Paulo tahun 1929. Organisasi ini juga yang kemudian membangun masjid pertama di Brazil menggunakan nama the Mesquita Brasil (Brazil Mosque). Masjid yang dibangun menggunakan dana donasi menurut famili kerajaan Mesir dimulai pada tahun 1942 dan pada resmikan dalam tahun 1960.

Sociedade Beneficente Mu?Ulmana do Paran?

Dalam kurun waktu yang cukup lama antara 1929-1969 organisasi ini menjadi satu satunya organisasi payung bagi muslim disana baik Suni maupun Shiah, baru kemudian wilayah Druses dan Alaouites menciptakan organisasi mereka sendiri di negara bagian Minas Gerais, Rio de Janeiro & S?O Paulo. Sedangkan organisasi Islam lainnya dibuat di Rio de Janeiro dan Paran? Selama tahun 1950-an.

Pembangunan loka tempat ibadah bagi muslim di wilayah Brazil lainnya baru dimulai di kurun tahun 1980-an. Sejak itu beberapa masjid sebagian akbar berdasarkan muslim Suni mulai berdiri pada negara bagian Paran?, S?O Paulo, Mato Grosso, Goi?S dan Minas Gerais. Masjid masjid tersebut dibangun menggunakan gaya arsitektural Arab yang sangat kental, sebagai respon meningkatnya imigran arab ke negara tadi. Sampai permulaan abad ke 21 banyak sekali organisasi Islam telah bertebaran pada seantero negeri.

Perkembangan relatif menarik bagi komunitas muslim di Rio de Janeiro yang tergabung dalam organisasi SBJR (Sociedade Beneficente Mu?Ulmana do Rio de Janeiro), 85% dari 500 keluaga muslim disana justru bukan menurut Etnis Arab atau keturunannya akan tetapi asal dari beragam latar belakang, dibandingkan dengan organisasi Islam pada bagian lain negara tersebut. Karenanya komunitas muslim pada Rio de Janeiro tidak bertendensi untuk menonjolkan bukti diri Arabia dalam kehidupan beragama keseharian mereka.

Merujuk kepada penerangan Antropologis Brazil bernama Silvia Montenegro diseluruh Brazil sudah berdiri 58 organisasi Islam pada tahun 2000, 90% mewakili muslim suni dan sisanya shiah.

Intreior ataupun interior masjid masjid di Brazil ini tak jauh tidak sinkron dengan masjid masjid lainnya diseluruh global misalnya dalam interior Mesquita Omar ibn Khattab - Foz do Igua?? Pada foto di atas.

Masjid pada Brazil

Komunitas muslim Brazil terkonsentrasi pada beberapa kota besar misalnya kota Sao Paolo yg adalah kota terbesar di Brazil, di kota ini jua masjid pertama pada Brazil dibangun menggunakan nama Brazil Primeira Mesquita do Brasil pada Av. Do Estado, yg dibangun di atas huma yg dibeli secara patungan tokoh-tokoh muslim Brasil ditahun 1939.

Peletakan batu pertamanya dilakukan dalam tahun 1948 dan baru berakhir pembangunannya tahun 1960. Lamanya pembangunan masjid tidak lepas dari sulitnya upaya penggalangan dana yang dilakukan umat Islam di negeri tersebut. Begitu pembangunan masjid rampung, umat Islam sudah tersebar ke seantero Brasil yg kini sudah mencapai 127 masjid.

Madrasah mulai berdiri pada Brasil dari tahun ?60-an. Madrasah pertama berdiri pada Sao Paulo, Setelah itu, berdiri jua madrasah pada wilayah Cortiba & beberapa loka lainnya. Madrasah digunakan menjadi semacam diniyah, yaitu buat mengajarkan ilmu kepercayaan & bahasa Arab.

Dampak Positif Telenovela

Perkembangan Islam di Brazil justru terjadi ledakan paska agresi teroris terhadap menara kembar WTC New York pada 11 September 2009 yang dikait kait kan menggunakan terorisme Islam. Sebuah efek yg tidak disangka sangka, masyarakat setempat justru menjadi bertanya-tanya dengan ajaran Islam yg senantiasa dianggap sebut dalam semua pemberitaan insiden 911 tadi.

Satu masjid nyetrik di Brasil, Mesquita de Mogi das Cruzes.

Tiga minggu paska agresi tersebut stasiun tivi the Globo Channel meluncurkan seri perdana telenovela berjudul ?Clone series?. Sebuah serial tivi berlatar belatar belakang kehidupan muslim pada Maroko yg menampilkan kehidupan muslim & arab yg sebenarnya. Tanpa disangka sangka tayangan tadi justru menjadi tontonan pavorit warga setempat dan berdampak pada melonjaknya ketertarikan buat mempelajari Islam ke berbadai Islamic Center disana.

Hal tersebut diakui oleh Professor Paulo G. Pinto da Rocha dan Francirosy Feirreira, pemerhati Islam di University of Sao Paulo sebagai salah satu bahan bakar utama meledaknya minat untuk berislam di Brazil, dan berdampak langsung kepada membengkaknya komunitas muslim disana.

Indikator lain adalah semakin bertambahnya masjid pada negara tersebut menjadi pusat peradaban bagi muslim atau pada bahasa setempat disebut ?Turcos? Merujuk kepada Emperium Turki selaku emperium Islam terahir.

Referensi

dailystar.com.lb  - Islam takes root in land of mini-bikinis

censored31.blogspot.com  - Islam conquering Brazil

paulo g. pinto, Universidade Federal Fluminense - muslim identities in brazil

madinatulilmi.com - Islam di brasil: geliat beragama di negeri samba

globalprayers.info - amanda dias: The Islamic presence in brazil & in rio de janeiro

republika.co.id - cetak gol, pemain timnas brasil ini sujud syukur

---------------

Baca Juga

Islam di Brazil

Masjid Brazil di Sao Paolo

Masjid Brás – Brazil

Masjid Islamic Center Brazil di Brazilia

Masjid Salahudin Al-Ayubi, Sao Paolo – Brazil

Masjid Abu Bakar Assidik, São Bernardo - Brazil

Friday, October 23, 2020

Masjid Brazil di Sao Paolo

Masjid Brazil adalah masjid pertama yang dibangun di Brazil, berada di kota Sao Paolo

Masjid Brazil atau dalam bahasa Portugis yang menjadi bahasa nasional negara tersebut disebut Primeira Mesquita do Brasil atau bila di Indonesiakan menjadi Masjid Pertama di Brazil, sesuai dengan namanya masjid ini memang merupakan masjid pertama yang dibangun di negara tersebut. São Paulo merupakan kota terbesar di Brazil, di kota ini pula menjadi tempat bermukimnya komunitas muslim terbesar di negara tersebut.

Komunitas muslim di Brazil memang terkonsentrasi di beberapa kota besar paling banyak di São Paulo menyusul kemudian Foz do Iguazu yang berada di perbatasan tiga negara Argentina-Brazil-Paraguay, dengan pusat Ke-Islamannya di ketuai oleh Profesor Mohsen Bin Musa El-Husseini. Kota kota lain di Brazil yang memiliki komunitas muslim cukup banyak ada di Santos, Paraná, Curitiba, Lajes, Maringá, hingga ke Rio de Janeiro dan berbagai kota lainnya di seantero Brazil.

Gaya Arabia sangat kental pada bangunan Masjid Brazil ini

Sekitar 80% muslim di Brazil merupakan imigran. Pada awalnya Islam masuk ke negara tersebut dibawa oleh para budak afrika yang dibawa secara paksa ke Brazil oleh tentara penjajahan Portugis. Diantara tiga juta-an budak yang dibawa kesana diantara mereka merupakan muslim Afrika.

Gelombang berikutnya adalah para imigran dari negara negara timur tengah yang bermigrasi ke Brazil sebagai akibat perang yang berkecamuk di Lebanon, Syria dan Palestina. Meski sebagian besar dari mereka menganut agama Kristen Maronit dan sebagian kecil beragama Islam. sebagian besar dari mereka menetap di kawasan negara bagian Sao Paolo dan kota kota besar lainnya.

Salah satu dari sepasang menara tinggi di Masjid Brazil

Sejarah panjang Islam di Brazil turut mewarnai budaya negara tersebut mulai dari kuliner, arsitektural, busana, bahasa hingga ke nama nama tempat disana yang menggunakan bahasa Arab dan bercorak Islam. Komunitas Muslim Arab di Sao Paolo ini yang kemudian membangun Masjid pertama di Brazil yang berlokasi di di Av. do Estado.

Pembangunan masjid Brazil ini di mulai dengan pembentukan organisasi Islam the Muslim Beneficent Society Palestine di tahun 1927 oleh Hosni Adura Darwich Gazal. Menyusul dengan kedatangan muslim dari Syria dan Lebanon maka di tahun 1929 organisasi tersebut berganti nama menjadi Sociedade Beneficente Muçulmana (SBM) atau Muslim Beneficent Society.

Jemaah di Masjid Brazil

Awalnya organisasi tersebut berkantor di street Mooca, 1070 sedangkan ruangan sholatnya menggunakan ruangan yang disewa di Rangel Pestana Avenue dan Baron Duprat. Sepuluh tahun setelah organisasi berdiri barulah kemudian SBM membeli lahan di Av. do Estado 5282 untuk keperluan pembangunan masjid. Dana yang digunakan untuk membeli lahan masjid tersebut di dapat dari patungan tokoh-tokoh muslim Brasil saat itu.

Peletakan batu pertamanya dilakukan pada tahun 1948, dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1952, yang kini dikenal sebagai masjid Brazil. Lamanya proses pembangunan masjid tersebut dari sejak pembelian lahan tak lepas dari sulitnya upaya penggalangan dana yang dilakukan umat Islam saat itu.

Lokasinya cukup strategis di sebuah persimpangan jalan utama di kota Sao Paolo

Begitu pembangunan masjid rampung, umat Islam sudah tersebar ke seantero Brasil yang kini sudah mencapai 127 masjid. Dalam kota Sao Paulo sendiri ada sekitar sepuluh masjid, termasuk Masjid Brazil ini. Sejak diresmikan tahun 1952, cukup lama masjid ini bertahan sebagai masjid utama di Brazil sampai kemudian di tahun 1980 baru mulai menjamur masjid masjid di berbagai kota di Brazil.

Lokasi dan Alamat Masjid Brazil

Mesquita Brasil

Sociedade Beneficente Muçulmana no Brasil (SBM)

Av. do Estado, 5382 - Cambuci – CEP: 01516-000

São Paulo - SP 01516-000, BRAZIL

Tel: 3208-3726 - Fax: 3209-2728

Situs resmi : www.mesquitabrasil.com.br

E-Mail: mesquitadobrasil@hotmail.com

Koordinat Geografi : 23° 33' 28.10" S  46° 37' 5.36" W

View Mesquita Brasil in a larger map

View Mesquita Brasil in a larger map

Lokasi Masjid ini berdiri memang berada di pusat keramaian kota Sao Paolo, letaknya yang tak berdekatan dengan metro station Pedro II (Rua da Figueira) memudahkan untuk dijangkau. sejak pertama kali dibangun, masjid ini telah dilengkapi dengan sekolah Al-Qur’an, Perpustakaan Islam, dapur umum, ruang serbaguna serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Pengelolaan dan Aktivitas Masjid Brazil

Masjid Brazil berada dibawah pengelolaan Islamic charitable society of Sao Paulo (SBM) dengan dua orang imam yakni Sheikh Sami dan Sheikh Mohamad yang menyelenggarakan kuliah umum setiap hari Sabtu jam 10:00 hingga 12:00. Seperti masjid masjid lainnya Masjid Brazil juga menyelenggarakan sholat Jum’at dan dua hari raya. Lalu menyelenggarakan pendidikan untuk anak anak, wanita dan umum.

Interior Masjid Brazil

Perkembangan Islam di Brazil memang sedang menggeliat dengan sejarah panjangnya yang begitu pahit di masa lalu namun kini dapat menikmati kebebasan beragama di negara tersebut. Meski demikian masalah kurangnya tenaga Imam menjadi kendala utama bagi masjid masjid disana ditambah dengan kebutuhan yang tinggi atas persediaan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Portugis.

Untuk mengatasi masalah tersebut beberapa pengurus masjid menyiasatinya dengan meminta satu orang imam untuk menangani beberapa masjid, seperti yang dilakukan oleh Imam Muhammad dan Imam Sami di Masjid Brazil ini yang juga menangani masjid masjid lainnya. Dan beberapa imam masjid ini pun digaji oleh negara negara pendonor di Timur Tengah.***

Seni Ukir Islami terpatri dengan indah di langit langit kubah masjid Brazil ini.
Kehadiran Masjid Brazil di Sao Paolo yang dibangun oleh komunitas muslim migran dari Arabia ini memang seakan akan menghadirkan nuansa Arabia yang sangat kental di negeri bikini, Brazil.
just like another Arabian Mosque around the world.
Nama Masjid dalam lidah Portugis

Referensi

paulo g. pinto, Universidade Federal Fluminense - muslim identities in brazil

madinatulilmi.com - Islam di brasil: geliat beragama di negeri samba

situs resmi SBM - http://www.mesquitabrasil.com.br

centro islamico no brasil - http://www.arresala.org.br

centro islamico no brasil - http://www.islam.org.br

islamicfinder.org – Islamic center of brazil

---------------

Baca Juga

Islam di Brazil

Masjid Brazil di Sao Paolo

Masjid Brás – Brazil

Masjid Islamic Center Brazil di Brazilia

Masjid Salahudin Al-Ayubi, Sao Paolo – Brazil

Masjid Abu Bakar Assidik, São Bernardo - Brazil

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done