Islami Pedia: Masjid Masjid di dunia Arab
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Masjid di dunia Arab. Show all posts
Showing posts with label Masjid Masjid di dunia Arab. Show all posts

Friday, October 30, 2020

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid terapung laut merah di kota Jeddah Saudi Arabia, dulunya bernama Masjid Fatimah, lalu diganti dengan nama Masjid Arrahmah. (foto dari imageplanet)

Masjid satu ini boleh jadi merupakan masjid paling popular pada kota Jeddah bagi para jemaah haji ataupun jemaah umroh, termasuk jemaah berdasarkan Indonesia. Nama ?Masjid terapung bahari merah? Seolah telah melekat dalam daftar kunjungan yg disiapkan sang para penyelenggara ibadah haji & umroh pada tanah air, walaupun sebenarnya tak ada keistimewaan apapun dalam kaitannya menggunakan ibadah haji ataupun umroh dengan masjid satu ini, tidak ada kaintannya juga dengan sejarah Islam serta tak ada keistimewaan pahala sholat pada masjid ini, kunjungan ke sini hanya sebatas wisata.

Awalnya masjid ini sempat diberi nama masjid Fatimah, dikemudian hari pengunjung ke masjid ini se-akan terpeleset pengecap menyebut nama masjid ini menjadi Masjid Fatimah Az-Zahra, dan dikait kait kan menggunakan Nama putrid Rosulullah S.A.W tersebut, sampai kemudian pemerintah Saudi Arabia mengubah nama masjid ini sebagai Masjid Arrahmah hingga hari ini. Penggantian nama tersebut memang disengaja, keliru satu sebab adalah buat menghindari salah pengertian diantara para jemaah terkait menggunakan eksistensi masjid ini.

Masjid Arrahmah

Corniche Road, Al Shati Jeddah 23613 Arab Saudi‎

Masjid Arrahmah ini berdiri pada daerah Jeddah Corniche atau Jeddah Kurnis, daerah baru yg dikembangkan sang otoritas setempat menjadi kawasan wisata disepanjang pantai laut merah. Laut merah-nya sendiri memang disebutkan dalam Al-Qur?An pada kisah Nabi Musa A.S. Yg dikejar sang Fir?Aun dan tentaranya kemudian atas biar Allah S.W.T dia berhasil menyeberangi bahari merah yg terbelah sampai selamat hingga ke Palestina bersama para pengikut setianya, sedangkan Fir?Aun & bencana tentaranya mati ditelah sang laut merah.

Kota Jeddah sendiri sudah berdiri semenjak sebelum Islam, namun titik awal perkembangan pesat kota ini terjadi dalam masa pemerihan Khalifah Usman Bin Affan, Khalifah ke-tiga berdasarkan jajaran Khulafaur Rasyidin. Di tahun ke 26 Hijriah atau bertepatan menggunakan tahun 647M. Beliau yg pertama kali mengakibatkan kota Jeddah menjadi kota pelabuhan laut internasional bagi jemaah haji yg yang datang dari semua penjuru global, membuahkan Jeddah sebagai gerbang primer bagi para calhaj buat menuju ke Mekah dan Madinah karenanya kota Jeddah juga menerima julukan sebagai ?Pintu gerbang 2 tanah haram?.

Masjid Arrahmah dari udara (foto dari Hatim AL-harbi)

Kota Jeddah juga sangat populer menjadi tempat peristirahatan terahir ibu seluruh insan, Siti Hawa, Istri dari Nabi Adam A.S. Karena itu Jeddah sendiri sering diartikan menjadi ?Nenek? Pada kaitannya dengan sejarah tadi. Makam Bunda Hawa berada di tempat pemakaman kuno pada sentra kota Jeddah. Makam ini dikenal menjadi Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Meskipun begitu poly anggaran yg harus dipatuhi saat berziarah ke makam ini, antara lain merupakan dilarang membawa kamera, video dan alat perekam lainnya dan wanita tidak boleh masuk ke areal pemakaman tadi.

Seperti halnya kota metropolitan lainnya pada bagian global yg lain, kota Jeddah juga senantiasa bersolek, daerah kurnis kota Jeddah loka masjid terapung ini berada adalah galat satu daerah yg di tata begitu latif & sangata menawan. Wajar jika kemudian kota Jeddah pun mendapat julukan sebagai ?Pengantin perempuannya bahari merah?, & mengingat kota ini begitu ramai sejak masa ke khalifahan, kota Jeddah pun mendapat julukan menjadi "Kota di tengah Pasar".

Kawasan Kurnis Kota Jeddah

Satu lagi foto masjid Arrahmah dari udara, Masjid Arrahmah di kurnis kota Jeddah. satu dari beberapa masjid terapung yang ada di kawasan yang sama. (foto dari julycool dipanoramio)

Pemerintah Saudi Arabia menyulap kawasan pantai kota Jeddah yang menghadap ke Laut Merah menjadi sebuah kawasan kota baru yang terkenal dengan sebutan Jeddah cornice. Kata Kurnis atau Corniche berasal dari bahasa Prancis route à corniche yang bermakna ruas jalanan ditepian terjal.  Namun kemudian kata kurnis itu sendiri bergeser makna menjadi sebuah kawasan terbuka yang luas di tepian badan air. Ada banyak tempat seperti ini yang terkenal diantaranya adalah Corniche of beirut di Libanon, corniche of Alexandria di Mesir, dan tentu saja adalah Corniche of Jeddah ini.

Proyek pengembangan kawasan kurnis kota Jeddah ini berhasil menyabet penghargaan ?Big Project Middle East Award? Di bulan Desember 2012 yang diselenggarakan oleh Big Project Middle East Magazine, yg memberikan penghargaan bagi perusahaan ataupun individu yg sudah berkontribusi bagi pembangunan & industry yg berkelanjutan di negara negara teluk.

Jika anda berharap menemukan masjid yang sahih sahih terapung pada atas bahari merah waktu akan berkunjung kemari, pastinya anda akan kecewa. Karena memang bangunan masjid ini tidaklah benar benar mengapung pada atas air, melainkan dibangun diatas tiang pancang yg ditancapkan ke bahari. Kesan pandangan mata dari arah seberangnya lah yang menampilkan pemandangan seakan akan masjid ini mengapung di atas air (doc. Eksklusif).

Masjid Ar-Rahmah ini bukanlah satu satunya masjid yang terdapat di tempat Kurnis kota Jeddah. Tapi ada beberapa masjid lainnya yg berukuran lebih mini dibangun di sepenjang pantai tersebut sebagai fasilitas keagamaan bagi muslim mana saja yang sedang berada di kawasan tersebut. Diantara masjid masjid tersebut adalah Island Mosque atau Masjid Pulau, Masjid Ruwais dan masjid Kurnis yg semuanya berhasil mendapatkan penghargaan menurut Aga Khan Award of Architecture.

Masjid Terapung Kota Jeddah

Meskipun begitu banyak ulasan terkait masjid terapung kota Jeddah yg satu ini. Tetapi sangat sedikit fakta yg menyebutkan lebih detil mengenai sejarah pembangunannya. Berbagai sumber tulisan yg terdapat pada global maya menjelaskan bahwa masjid ini dibangun sang seorang janda kaya kota Jeddah, namun sama sekali tidak menyebut siapa namanya, kapan dibangunnya dan berapa porto yang dihabiskan buat proyek pembangunannya. Tetapi satu hal yang pasti bahwa pembangunan masjid ini telah sebagai pandangan baru poly negara buat membangun masjid serupa.

Mihrab bergaya mughal dengan denah setengah lingkaran. (doc. pribadi).

Di Indonesia sendiri telah terdapat beberapa ?Masjid terapung? Yang dibangun. Diantaranya adalah Masjid Munawaroh pada Ternate, Masjid Terapung Kota Palu, & Masjid Terapung Kota Makasar. Belum lagi yg masih dalam termin pembangunan misalnya Masjid terapung Al-Alam di Teluk Kendari, Sulawesi Tenggara dan Masjid Terapung Banten (MTB) yang baru saja dicanangkan oleh pemerintah provinsi Banten. Satu decade belakangan ini pembangunan masjid terapung seakan menjadi musim baru pada banyak sekali negara Islam.

Meskipun sebenarnya semua masjid yg diklaim menjadi masjid terapung tadi mulai dari Masjid Hasan II di Maroko, masjid masjid terapung kota Jeddah termasuk Masjid Arrahmah ini, masjid masjid masjid terapung di Malaysia (barat & timur) sampai ke masjid Al-Munawwaroh di Ternate, Masjid terapung kota Palu sampai Makasar, tidak satupun yang benar sahih mengapung pada atas air. Tetapi sebuah masjid yang dibangun pada atas landasan yang di tancapkan ke dasar bahari tempatnya berdiri atau sebagian landasannya berada di dalam air bahari.

Panorama Masjid Arrahmah foto dari Sakhr Abdullah di panoramio.

Nama Masjid Terapung kota Jeddah

Masjid Terapung kota Jeddah yang kita ulas ini dalam awalnya diberi nama ?Masjid Fatimah?. Fatimah yang dimaksud adalah nama Ibunda berdasarkan pembangun masjid ini, tak kaitannya menggunakan Fatimah Az-Zahra putrid Nabi & tidak ada kaitannya menggunakan sejarah Islam ataupun sejarah Saudi Arabia. Tetapi dikemudian hari rakyat luas mengait ngaitkan nama tersebut dengan ?Fatimah Az-Zahra? Putri Rosulullah S.A.W. Keberadaan masjid ini pun seakan akan terdapat kaitannya dengan putri nabi & sejarah Islam.

Untuk mencegah keliru penafsiran yg berkepanjangan, ditambah dengan fenomena bahwa masjid ini sudah menjadi galat satu kunjungan pavorit jemaah menurut Asia (termasuk Indonesia) dan terutama menurut Iran, dan buat meluruskan berita, maka pada bulan Desember tahun 2010 kemudian pemerintah kota Jeddah mengganti nama masjid ini berdasarkan ?Masjid Fatimah? Sebagai ?Masjid Arrahmah?.

Seringnya jemaah Asia (terutama yang paling banyak dari Indonesia) melaksanakan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini, sampai sampai pengurus masjid memasang larang melakukan sholat berjamaah ganda di dalam masjid ini. (Foto dari Faruk Ramzi di Kompasiana)

Jemaah Sholat Ganda pada Masjid Arrahmah

Boleh jadi masjid ini satu satunya masjid pada dunia yg pengurusnya hingga sampai memasang larangan sholat berjamaah lebih berdasarkan satu gerombolan , menggunakan pengumuman tetap yg dipasang pada dalam masjid. Mungkin karena jemaah haji dan umroh yang tiba ke Saudi Arabia tiba dalam grup kelompok sinkron menggunakan agen perjalanannya sebagai akibatnya masing masing mereka melaksanakan sholat berjamaah pada dalam masjid dalam masing masing gerombolan dan enggan bergabung dengan jemaah yg telah ada dan sedang berlangsung di pada masjid. Padahal hal tersebut tidak diperbolehkan. Semestinya jika didalam masjid tersebut telah terdapat class sholat berjammah maka anda tinggal mengikuti jammaah tersebut, bila tertinggal rakaatnya tinggal (masbuk) tinggal melanjutkan sejumlah rakaat yg telah tertinggal.

Daya Tarik Masjid Arrahmah

Masjid berukuran sekitar 20 x 30 meter ini memang cukup menarik untuk dikunjungi. Bagian dalam masjid dihias dengan banyak tulisan kaligrafi. Bukan hanya Masjid Terapung yang bisa dinikmati, air Laut Merah pun menjadi objek favorit jemaah. Bangunan masjid yang menggabungkan arsitektur modern dan seni bangunan Islam kuno. Memiliki ruang sholat yang luas dengan dekorasi sangat indah, dilengkapi peralatan berteknologi terbaru terutama dalam hal sound system. Sementara  selama musim dingin,  disediakan keran-keran air hangat.

Interior masjid Arrahmah ini memang cukup menawan, cahaya alami matahari masuk ke dalam ruang utama dengan lembut melalui celah diantara kubah utama dan atapnya. Bukaan jendela yang lebar, penyejuk udara, karpet lembut dan suasana yang nyaman (foto dari arminarekajatim)

Referensi

jafariyanews.com - saudis_change_Masjid_Fatimah

scta.gov.sa - historical jeddah

spirithaji.com - jeddah-dan-masjid-terapung

arabnews.com - jeddah-corniche-project-wins-award

kompasiana.com - masjid-terapung-yang-tidak-mengapung-di-laut-merah-jeddah

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid pada Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II ?Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana?A ? Yaman

Thursday, October 29, 2020

Masjid Omar Makram, Saksi Bisu Reformasi Mesir

Patung diri Omar Makram menghadap ke Tahrir Square, sementara Masjid Omar Makram berada di latar belakang foto dengan menara tingginya itu (foto dari teachingthemiddleeast)

Bila anda memperhatikan berita video ataupun berita foto terkait demonstrasi besar besaran rakyat Mesir menuntut pengunduran diri presiden Hosni Mubarak beberapa waktu lalu yang dipusatkan di lapangan Tahrir (Tahrir Square) di pusat kota Kairo, anda akan menemukan sebuah masjid lengkap dengan sebuah bangunan menara tinggi-nya tak jauh dari lokasi tersebut. Masjid tersebut bernama Masjid Omar Makram.

Meski bangunan masjid ini bukanlah sebuah bangunan masjid kuno namun masjid ini memiliki sejarah sendiri dalam proses reformasi Mesir. Selama terjadinya demonstrasi besar besaran rakyat Mesir di Lapangan Tahrir, masjid Omar Makram ini tidak saja menjadi sebagai tempat ibadah bagi ummat Islam namun mendadak menjadi bangunan multi fungsi termasuk di dalamnya sebagai rumah sakit lapangan untuk para demonstran.

Paramedis begitu sibuk menjalankan tugas mereka merawat dan mengobati para demonstran yan cidera selama demonstrasi. Masjid ini juga tidak luput dari serbuan aparat kepolisian Mesir yg menghalau para demonstran, termasuk menjadi target tembakan gas air mata buat membubarkan demonstran.

Sebagian ruangan masjid ini dijadikan tempat menginap, istirahat, ruang perawatan Lebih menurut 2000 demonstran terluka dampak friksi menggunakan polisi, sampai menjadi gudang logistik supply kuliner dan obat obatan. Masjid ini juga menjadi loka perlindungan para demonstan selama proses demonstrasi masa akbar besaran yang terpusat pada Lapangan Tahrir pada depan masjid ini. Sebuah saksi bisu atas sebuah tuntutan besar bagi sebuah reformasi pada negeri yang menjadi tempat tinggal bagi sebuah peradaban antik.

Lokasi Masjid Omar Makram

Masjid Omar Makram

Bab al-Louk, Tahrir square

Cairo, Egypt

Sejarah Pembangunan Masjid Omar Makram

Masjid Omar Makram dibangun untuk mengenang perjuangan Omar Makram atas jasanya menentang tentara pendudukan Prancis dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte yang berusaha menjajah Mesir pada masa Mesir masih menjadi bagian dari wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang berpusat di Istambul, Turki. Bedirinya masjid ini menjadikan nama sang pejuang tetap hidup dalam masyarakat Mesir.

Masjid Omar Pasha yang kini menjadi Ikon Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo, dibangun oleh Raja Farouq di tahun 1948 yang tak lain dan tak bukan adalah keturunan dari Muhammad Ali Pasha, raja Mesir dari dinasti Muhammad Ali yang naik ke kursi kekuasaan atas perjuangan Almarhum Omar Makram.

Lautan manusia di Tahrir Square semasa demonstrasi massa menentang pemerintahan Hosni Mubarak, Masjid Omar Makram ada disebelah kiri foto. (foto dariwikipedia)

Tak hanya membangun masjid dengan nama Omar Makram, tokoh nasional Mesir ini juga dikenang dengan dibuatkan sebuah patung diri Omar Makram di tahun 2003 dalam ukuran besar menghadap ke lapangan Tahrir tak seberapa jauh dari Masjid Omar Makram. Dua Ikon Omar Makram ini menjadi salah satu objek foto menarik bagi siapa saja yang berkunjung ke Lapangan Tahrir.

Siapakah Omar Makram

Naqib al-Ashraf Sayyid ‘Umar bin Husayn Makram (1750 or 1755-1822) atau lebih dikenal dengan nama Omar Makram adalah seorang pemimpin revolusi nasinal Mesir melawan invasi  tentara Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798-1800, dimasa Mesir masih menjadi bagian dari wilayah ke-Khalifahan Usmaniah yang berpusat di kota Istambul, Turki.

Lukisan wajah Omar Makram

Beliau juga merupakan figur sentral yang berhasil mendapatkan dukungan relijius bagi pengakuan terhadap Muhammad Ali Pasha sebagai Raja Muda Mesir, sekaligus pendirian dinasti Muhammad Ali sebagai penguasa Mesir hingga tahun 1952 (dan berkuasa hingga tahun 1953). Namun nasib Omar Makram tak jauh berbeda dengan nasib King Maker lainnya, beliau justru dijatuhkan oleh Muhammad Ali Pasha yang telah diantarkannya ke kursi kekuasaan.

Omar Makram lahir di Asyut di kawasan Upper Egypt sekitar tahun 1750 atau tahun 1755. Beliau adalah lulusan dari Universitas Al-Azhar, beliau juga disebut sebut merupakan keturunan Rosulullah S.A.W. Di tahun 1793 beliau berhasil mendapatkan jabatan Naqib al-Ashraf, sebuah jabatan penting dimasa ke-Khalifahan Usmaniyah.

Sebuah jabatan administratif yang memegang posisi penting dalam urusan keagamaan dan jabatan sipil sebagai kepala lembaga keturunan Rosulullah. Beliau kemudian berbagi kewenangan dengan pemimpin Al-Azhar dan pemimpin para Sufi. Beliau juga dikenal sebagai tokoh penentang penerapan pajak tinggi bahkan jauh sebelum era kedatangan pasukan Prancis di Mesir.

Pahlawan Penentang Penjajahan Mesir

Tatkala ekspedisi Napoleon Bonaparte mendarat disekitar Alexandria tahun 1798, Omar Makram turut membantu pengornaisasian gerakan perlawanan terhadap pendudukan Prancis. Setelah Prancis berhasil dikalahkan oleh dinasti Mamluk di Imbaba, Kairo tak terkalahkan kecuali oleh milisi local yang dibentuk oleh Omar Makram bersama para pemuka agama lainnya.

Lapangan Tahrir dengan menara Masjid Omar Makram dalam suasana normal, lapangan ini memang lapangan terbesar di kota Kairo (foto dari wikipedia)

Beliau melepaskan jabatannya tatkala Kairo jatuh ke tangan Prancis dan mundur ke Bilbays, memimpin perlawanan di propinsi Sharqiyya. Beliau mundur hingga ke Gaza (kini di Palestina) kemudian ke Jaffa (juga di Palestina) sampai kemudian tahun 1798 beliau tertangkap oleh pasukan Prancis saat penyerbuan Prancis ke Palestina dan dipulangkan ke Mesir.

Omar Makram kembali ke Kairo paska kembalinya pasukan Napoleon Bonaparte ke Prancis, di tahun 1800 beliau memimpin sebuah organisasi perlawanan baru terhadap penjajahan Prancis terhadap Mesir.  Ketika Prancis meninggalkan Mesir Omar Makram sudah dikenal luas sebagai aktivis pergerakan yang memiliki kemampuan memobilisasi masa termasuk mengorganisir aksi boykot oleh para penjaga toko dan bentuk bentuk protes jalanan lainnya, membuat dirinya begitu berpengaruh sepanjang tahun tahun anarkis selama proses penarikan pasukan Prancis dari Mesir.

Pihak pendudukan Prancis beberapa kali berupaya melumpuhkan kekuasaan dinasti Mamluk, dan perjuangan untuk mengembalikan kekuasan Mamluk serta kekuasaan dinasti Umayyah yang berkali kali berupaya mengembalikan kekuasan Mereka di wilayah Mesir memicu perjuangan internal bagi Mesir selama bertahun tahun.

The King Maker

lapangan Tahir dan Masjid Omar Makram dari sudut yang sama dengan foto sebelumnya dalam suasana siang hari di kondisi normal (foto dari panoramio)

Makram dan para ulama lainnya memainkan peran aktif selama masa ini. di tahun 1805 beliau dan pemimpin agama lainnya berupaya mendepak Raja Muda Usmaniyah, Khurshid Pasha dari tampuk kekuasaan di Mesir dan menggantikannya dengan pemimpin militer Albania yang juga seorang petualang sejati, Muhammad Ali Pasha. Perjuangan tersebut berhasil menaikkan Muhammad Ali Pasha ke tampuk kekuasaan dan mendirikan dinasti baru memimpin Mesir selama beberapa generasi hingga pertengahan abad 20.

Persekutuan antara Omar Makram dan Muhammad Ali Pasha terjalin selama beberapa tahun. Mereka juga memberikan dukungan kepada Muhammad Ali Pasha untuk menolak semua perintah dari para Khalifah Usmaniyah yang berpusat di Istambul mengakibatkan munculnya upaya untuk mengusirnya keluar dari Mesir, tanah yang direbutnya dari dinasti Mamluk. (dinasti Mamluk sendiri ahirnya berahir di tahun 1811).

Ketika Ekspedisi Inggris merebut Alexandria di tahun 1807 (Usmaniyah bersekutu dengan Prancis dalam perang Napoleon Bonaparte, sehingga Inggris teribat dalam perang Porte tahun 1807 -1809), Makram membantu mengorganisir perlawanan di Kairo sedangkan Muhammad ‘Ali Pasha berperang melawan pemberontakan dinasti Mamluk di Upper Egypt.

Nasib Ironis Sang Pahlawan & King Maker

Masjid Omar Makram, seperti halnya rancangan masjid masjid lainnya di Mesir, Masjid Omar Makram juga dibangun dalam Arabia dengan sedikit sentuhan soviet. beberapa penulis menggambarkan masjid ini laksana sistem birokrasi mesir semasa masjid ini dibangun (foto dari panoramio dengan sedikit editing)

Di sisi lain Muhammad Ali Pasha sendiri berkali kali menggunakan Omar Makram dan lembaga keagamaan untuk melegalkan upayanya untuk menaikkan pajak dan upaya mengambil alih pajak lahan pertanian (iltizam) milik dinasti Mamluk. Upaya upaya Muhammad Ali Pasha untuk menjadikan dirinya sebagai sentral kekuasaan memicu perpecahan aliansi-nya dengan Omar Makram. Berkali kali Omar Makram memobilisasi massa di jalanan kota Kairo menentang kebijakan para tokoh politik negara.

Akibatnya beliau mulai dicurigai oleh Muhammad Ali Pasha dan koleganya, yang tadinya justru naik ke tampuk kekuasaan atas jasa Omar Makram sang King Maker. Puncaknya terjadi di tahun 1809, Omar Makram memimpin pemberontakan menentang Pajak namun justru membuatnya terpojok, beliau kehilangan semua jabatannya lalu diasingkan ke Damietta kemudian dipindahkan ke Tanta sampai beliau wafat ditahun 1822.

Nasib Omar Makram memang sangat ironis. Beliau adalah seorang pejuang yang menentang pendudukan Prancis atas negerinya, menjadikan beliau sebagai symbol bagi rakyat Mesir bagi perjuangan menentang penjajahan asing atas Mesir, semangat yang sama muncul ketika menentang penjajahan Inggris. Beliau yang memperjuangkan bedirinya dinasti Muhammad Ali berkuasa di Mesir namun Ironisnya justru beliau terjungkal oleh sang raja yang diperjuangkannya.

tembakan gas air mata dari aparat keamanan Mesir yang ditujukan untuk membubarkan massa demonstran di lapangan Tahrir tak urung turut menghajar Masjid Omar Makram yang memang berada di lokasi tersebut dan menjadi pusat perlindungan demonstran yang menjadi korban (foto dari album picasa)

Lebih ironisnya lagi, Masjid Omar Pasha yang kini menjadi Ikon Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo itu justru dibangun oleh Raja Farouq (1920-1965) yang tak lain dan tak bukan adalah keturunan dari Muhammad Ali Pasha, sang raja yang dulu menyingkirkannya sampai beliau wafat di pengasingan.

Dirayakan di Prancis, sepi pada Mesir

Perayaan mengenang Omar Makram senantiasa diselenggarakan di Louvre, Prancis meskipun tak ada perayaan yang sama di Mesir. Dalam perayaan mengenang Omar Makram pemerintah Kota Louvre mengundang Mahmoud Makram yang merupakan cucu dari Omar Makram untuk menghadiri perayaan tersebut. Dalam satu kesempatan mahmoud Makram sempat berujar “saya senang dapat melihat sebuah perayaan mengenang sejarah dan pencapai kakek saya di Louvre, namun disaat yang sama saya juga sedih karena tidak adanya perayaan serupa yang diselenggarakan di Mesir”.

Dia melanjutkan “kami ini tidak saja sebagai anggota keluarga dari Omar Makram, namun juga merupakan keturunan dari Al-Mahdi, Sheikh Al-Azhar”. Keturunan Omar Makram merasa pemerintah Mesir kurang memberikan penghormatan kepada Omar Makram. Pihak keluarga sempat meminta pemerintah Mesir untuk merenovasi bekas kediaman Omar Makram, termasuk membangun museum untuk menyimpan dan menampilkan seluruh perjuangan dan catatan pencapaian beliau. .

Rangkaian foto yg diambil menurut aneka macam sumber diatas meenggambarkan suasan pada masjid Omar Makram selama demonstrasi akbar besaran yang berpusat di lapangan Tahrir, sentra kota Kairo.

Makam Omar Makram sendiri hanya mendapatkan sedikit perhatian dari pemerintah, pihak kementerian kebudayaan Mesir berdalih bahwa makam Omar Makram tidak tercatat sebagai situs bersejarah karenanya tidak mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, meskipun begitu sebuah makam keluarga dalam ukuran kecil di daerah Azramk Dome masuk dalam dafta benda bersejarah. Akibatnya, pihak keluarga melakukan renovasi sendiri tanpa merasa perlu mendapatkan izin dari Kementrian kebudayaan.

Cucu Omar Makram mengakui bahwa pihak keluarga menerima dana bulanan berdasarkan dinas purbakala buat biaya perawatan & renovasi namun diserahkan sepenuhnya pada pihak keluarga buat pengelolaannya. Pihak keluarga bahkan melakukan publikasi sendiri buat membukukan biografi Omar Makram.

Aktivitas Masjid Omar Makram

Dikondisi normal Masjid Omar Makram ini dibawah kendali kementrian Agama & Wakaf. Selain menjadi loka ibadah, pengelola masjid juga menjadi pusat pendidikan keliru satunya adalah menyelenggarakan pendidikan personal komputer buat umum menggunakan porto murah.

dan ini kondisi Masjid Omar Makram dalam suasana normal (foto dari mideasti)

Karena lokasinya yang berada di lokasi strategis menjadikan masjid ini begitu masyur sebagai tempat penyelenggaraan jenazah bagi tokoh tokoh politik, actor hingga tokoh ternama dan selebriti Mesir yang meninggal dunia, hingga ke proses pemakaman, meskipun biaya penyelenggaraan prosesi tersebut tidaklah murah, satu prosesi penyelenggaraan jenazah di masjid ini mencapai 4000-an Pound Mesir, dana tersebut nantinya dipakai oleh pengurus masjid bagi kepentingan amal.

Masjid Omar Makram juga menjadi lokasi akad nikah pavorit bagi keluarga kaya dan terpandang, mengingat lokasinya yang berada di lokasi paling begengsi di kota Kairo, menyelenggarakan pernikahan di masjid ini menjadi momen luar biasa bagi setiap pasangan pengantin dan keluarganya. Dua ruang hall berukuran besar di masjid ini yang dijadikan ruang resepsi.

Dalam syarat normal jemaah masjid ini mencapai hingga 3000 jemaah perhari, maklum lokasinya memang berada pada kawasan usaha super sibuk pada pusat kota Kairo, pada tempat ini berdiri perhotelan kelas atas termasuk tempat kerja kantor pejabat tinggi pemerintahan Mesir. Tetapi pada hari Jum?At jumlah jemaah tersebut melonjak berkali lipat.

Paska demonstrasi massa besar besaran yg melibatkan Masjid Omar Makram ini ke dalam catatan sejarah reformasi Mesir itu, tentunya menggunakan sendirinya akan semakin meningkatkan rating masjid ini sebagai pilihan paling menarik bagi pasangan pasangan muda berdasarkan keluarga muslim kaya kota Kairo buat melaksanakan upacara akad nikah mereka pada masjid ini.

Referensi

touregypt.net - Omar Makram An Egyptian Hero Still a Little Lost in Egypt

mideasti  - ‘Umar Makram: The "Patron Saint" of Tahrir Square

gulfnews.com - Cairo mosque becomes protest rallying point

egypttravelsearch.net Omar Makram Mosque & Rooms occasions

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 2)

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Suasana sholat tarawih di Masjid Amru Bin Ash, ketika jemaahnya membludak hingga ke luar areal masjid selama bulan suci Ramadhan (foto dari wn.com)

Republik Arab Mesir, orang Melayu termasuk Indonesia mengenalnya dengan nama Mesir dari kata Bahasa Arab, ‘Misri’ sedangkan orang Eropa terbiasa menyebutnya Egypt, Negeri tua yang beribota di Kairo. Kairo sendiri merupakan sebuah kota tua yang seringkali dijuluki sebagai kota seribu menara saking banyaknya menara di kota tua satu ini. Kota yang menjadi salah satu tujuan pavorit mahasiswa Islam seluruh dunia untuk melanjutkan pendidikannya ke sana.

Sebagai kota seribu menara, Kairo memiliku begitu banyak masjid masjid megah, tua dan bersejarah. Satu dari sekian banyak masjid bersejarah di kota ini adalah Masjid Amru bin Ash. Masjid tua yang dinamai sesuai dengan nama pendirinya Amru bin Ash. Beliau adalah Sahabat Baginda Rosulullah S.A.W. Beliau juga adalah panglima perang Islam pembebas dan penakluk Mesir dari kekuasaan Kekaisaran Romawi. Atas jasanya beliau mendapatkan kedudukan sebagai Gubernur Mesir pertama dimasa Khalifah Umar Bin Khattab. Selama memertinah Amru Bin Ash sempat membangun beberapa masjid diantaranya adalah Masjid Amru bin Al Ash, masjid Atiq, masjid Tajul Jawami’ dan masjid Ahli Arrayah.

View Masjid Amru Bin Ash in a larger map

Masjid Amru Bin Ash ini seringkali disebut oleh sejarawan arab abad pertengahan sebagai 'Taj Al-Jawami' atau 'Mahkotanya Masjid'. Meskipun bangunan masjid yang kini berdiri bukanlah bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Amru Bin Ash tahun 641-642M namun perjalanan sejarahnya lah yang menjadikan masjid ini tak ternilai. Catatan sejarah juga menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga melibatkan Al-Muqawqis yang merupakan keponakan dari Wali Mesir di masa kekuasaan Romawi dan kemudian masuk Islam. Beliau turut serta dalam proses perancangan masjid ini.

Mesjid ini berada di wilayah Fusthath dibagian kota tua Kairo. Di lokasi ini dulunya pada masa penyerbuan pasukan Amru bin Ash, beliau mendirikan tenda komando, konon di seekor burung dara liar kemudian bersarang dan bertelur di atap tenda beliau. Paska penaklukan Mesir, Amru bin Ash mendapat arahan dari Khalifah Umar untuk mendirikan pusat pemerintahan baru tak jauh dari kota Alexandria.

Dan pilihan Amru bin Ash adalah lokasi dimana tendanya pertama kali di didirikan, maka dimulailah pembangunan kota baru yang dinamai Misri Al- Fustat atau kota tenda di lokasi tersebut. Dikemudian hari di lokasi tempat tenda beliau yang atapnya dijadikan sarang oleh burung dara tersebut menjadi tempat berdirinya Masjid Amru bin Ash yang masih berdiri kokoh hingga kini. Kini di salah satu sudut masjid ini terdapat makam Abdullah, putra Amru bin Ash.

Arsitektural Masjid Amru Bin Ash

Seperti umumnya masjid-masid kuno lainnya di mesir, bangunan masjid Amr berdenah empat persegi panjang, Dilengkapi dengan halaman tengah yang dibiarkan terbuka tanpa atap tapi berlantai marmer. Ditengah halaman tengah ini berdiri sebuah bangunan kubah bertiang delapan tempat disediakannya air siap minum bagi jemaah, airnya segar dan dingin. Lokasi ini pernah diabadikan dalam adegan Film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy.

bagian depan Masjid Amru Bin Ash (foto dari Panoramio)

Secara keseluruhan bangunan masjid Amru Bin Ash ini merupakan bangunan besar berdinding tembok massif dengan atap datar seperti kebanyakan bangunan tradisional arabia lainnya. Jendela jendela masjid dibangun cukup tinggi dengan bukaan lebar. bagian tembok luar masjid ini yang begitu tinggi sekilas tampak seperti bangunan benteng. Masing masing jendelanya tidak dilengkapi daun pintu tapi ukiran kerrawang berpola simetris.

Masuk ke dalam masjid, berjejer pilar pilar batu pualam bergaya romawi menopang struktur atap masjid. masing masing pilar dihubungkan satu dengan yang lainnya dengan sebatang palang kayu dan bentuk lengkungan. Bentuk pilar yang memang serupa dengan pilar pilar Masjid Agung Damaskus di Syria ataupun Masjid Al-Aqso di Palestina. Ke arah manapun kita memandang di dalam masjid ini akan ditemukan pemandangan yang serupa.

Interior masjid Amru Bin Ash (foto dari memphistours)

Lampu lampu gantung antic ukuran kecil menghias bagian dalam masjid ini. sementara hamparan karpet merah berpola sajadah menutup seluruh permukaan lantai. Atapnya yang tinggi, jendela dengan bukaan lebar namun ditempatkan pada posisi yang cukup tinggi menghasilkan suasan yang sejuk dan tenang di dalam masjid ini meskipun ditengah panasnya cuaca di luar masjid.

Mihrabnya dibangun berdenah setengah lingkaran dengan ornament ukiran warna emas. Sedangkan mimbarnya sangat khas mihrab masjid masjid Mesir, berupa mimbar kayu yang cukup tinggi tanpa podium. Bila memandang ke atas, sisi langit langit masjid ini memang dibiarkan terbuka tanpa plafon, jejeran balok kayu tertata rapi di bawah atap. Di bagian dalam masjid ini juga ditempatkan beberapa bangku panjang yang disediakan khusus bagi jemaah yang tidak mampu duduk di lantai ataupun berdiri dengan baik.

Hal lain yang cukup menarik bagi jemaah yang pernah ke masjid ini adalah area tempat wudlu-nya. Tempat wudhlunya dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.

Bersambung ke bagian-2

Gerbang utama Masjid Amru Bin Ash (foto dari fightforjusticeforever)

Fasad depan bangunan masjid Amru Bin Ash (foto dari Flickr)

Sisi depan Masjid Amru Bin Ash (foto dari eltayebtravel)

Referensi

archnet.org – early Islamic architecture in cairo pdf file

archnet.org – Jami' 'Amr ibn al-'As

karawang.us - amr-bin-ash-mosque-egypt-oldest-mosque

en.wikipedia - Mosque_of_Amr_ibn_al-As

dedenmaulidarajat - menengok-masjid-pertama-di-afrika

egyptfan - Mosque of Amr ibn al-As

allangkati - kota-fusthath-dan-masjid-amr-bin-ash

kompasiana - menikmati-sunyi-di-masjid-amr-bin-ash

masisironline - mesjid-amr-bin-ash

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 2)

Lautan manusia membanjiri Masjid Amru Bin Ash di malam hari selama bulan suci Ramadhan (foto dari masisironline)

Sejarah Masjid Amru Bin Ash

Masjid Amru bin Ash di Kairo, Ibukota Mesir disebut sebut sebagai masjid tertua di Mesir dan di seluruh benua Afrika. Dibangun oleh Amru bin Ash pada tahun 641 Masehi bertepatan dengan tahun ke 21 Hijirah tak lama setelah penaklukan Mesir. Gubernur Amru bin Ash membuka Mesir dan membangun kotaFusthat sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir pada 1 Muharram 20 H./8 November 641 M.

Selama proses pembangunan masjid ini setidaknya melibatkan enam puluh orang sahabat Rosulullah, mereka juga yang menentukan arah kiblat masjid ini. Diantara para sahabat yang turut serta dalam pembangunan awal masjid ini adalah Zubair bin Awam, alMiqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, Abu Zar Al Gifari, Abu Bashrah, Mahmiyah bin Jaza’ Azzubaidi, dan Nabih bin Shawwab Al Bashra, ridhwanullahi alaihim dan lain lain.

Gerbang utama masjid Amru Bin Ash (foto dari Wikipedia)

Denah bangunan masjidnya dibangun persegi panjang dengan ukuran panjang 28.9 meter dan lebar 17.4 meter. Pada mulanya dibangun menggunakan dinding batu bata, beralaskan batu kerikil dan beratapkan daun kurma, ditopang oleh pohon kurma sebagai tiangnya, bangunan utamanya dilengkapi dengan enam pintu akses.

Masjid Amru bin Al Ash diresmikan dengan melaksanakan shalat Juma’at pertama, pada 6 Muharram 21 H./ 17 Desember 642 M, masjid pertama di Mesir dan benua Afrika, menjadi bangunan masjid ke empat di dunia, setelah masjid Nabawi, masjid Bashrah dan masjid Kufah. Namun bangunan awal mesjid ini sudah tidak ada yang tersisa.

Renovasi dan Perluasan Masjid Amru Bin Ash

Foto tua masjid Amru Bin Ash ketika belum di renovasi (foto dari archnet)

Orang yang pertama merenovasi masjid Amru bin Al Ash adalah Maslamah bin Al-Anshori Mukhallad Al Anshari selaku Wali Mesir pada masa kekuasaan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan di tahun ke 53 Hijriah (672/673M). Di masa itu bangunan asli masjid diperluas kemudian ditambahkan empat menara di masing masing penjuru bangunan masjid dengan tangga di sisi luarnya, sebagai tempat muazin mengumandangkan azan, setelah sebelumnya azan di lantunkan dari atap masjid.

Penambahan empat menara pada tiap sudut masjid ini merupakan perintah langsung dari Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan yang berkedudukan di Damaskus. Itu sebabnya beberapa sejarawan menyatakan bahwa penambahan empat menara tersebut terinspirasi dari Masjid Agung Damaskus yang sudah lebih dulu dibangun dengan empat menara. Sejak saat itu semua bangunan masjid di Mesir dilengkapi dengan menara.

Jemaah masjid Amru Bin Ash di Halaman tengah masjid. bangunan berkubah kuning itu adalah area tempat air minum bagi jemaah.

Kemudian diperluas lagi oleh Abdul Aziz bin Marwan (gubernur Mesir ketika itu) tahun 79H/698M dengan menambah luas ukuran masjid ini dua kali lipat. Di tahun 711 denah mihrab yang sebelumnya berbentuk datar kemudian dibangun setengah lingkaran. Di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan masjid ini kembali diperbesar oleh Abdullah Malik bin Thahir tahun ke 827M, beliau menambahkan tujuh banjar pilar di dalam masjid ini, pilar paling depan dan belakang menempel ke tembok, penambahan tersebut dengan sendirinya menggandakan ukuran masjid ini. Sampai sekarang luasnya mesjid Amru Bin Ash tidak berubah dari perluasan Abdul Malik Bin Thahir,

Di abad ke 9 masehi masjid ini kembali direnovasi oleh Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Beliau menambahkan area baru di sisi barat daya masjid, menambah luas keseluruhan masjid ini menjadi 120m x 112m. Pada masa kekuasaan Dinasti Fathimiyah Masjid Amru Bin Ash memiliki lima buah menara, satu tambahan menara dibangun di area gerbang utama namun menara ke lima ini kini sudah tidak ada lagi.

Sisi mihrab Masjid Amru Bin Ash (foto dari fightforjusticeforever)

Masih di masa dinasti Fathimiyah, Khalifah Al-Mustansir menambahkan ornamen dari perak pada ruang mihrab masjid namun kemudian dibongkar pada saat restorasi masjid di masa Sultan Salahudin Al-Ayubi. Pada tahun 1169M, Syawur, Menteri khalifah Al Adhid li Dinillah, khalifah terahir Dinasti Fathimiyah memerintahkan tentaranya untuk membumihanguskan kota Al Fushthath dan masjid Amru bin Al Ash, sehingga terbakar sampai 53 hari, demi mengelabui Amuri, raja Yarussalem yang bekerja sama dengan tentara perang salib, untuk menjajah Mesir.

Salahudin Al-Ayubi yang kemudian berhasil merebut kembali kota ini setelah berhasil mengalahkan pasukan Salib gabungan dari negara negara Eropa, beliau mulai membangun kembali kota Fustath dari kehancuran termasuk merestorasi Masjid Amru Bin Ash di tahun 568H/1172M sedangkan sumber lain menyebut angka tahun 1179M.

Di dalam Masjid Amru Bin Ash (foto dari Wikipedia)

Burhan al-Din Ibrahim al-Mahalli pernah melakukan restorasi atas masjid ini dengan biayanya sendiri di abad ke 14 Masehi. Pernah juga direstorasi oleh Amir Salar setelah mengalami kerusakan akibat gempa di tahun 1303M, beliau yang menambahkan ornamen stako pada sisi luar bangunan mihrab, namun kini ornamen tersebut sudah tidak ada lagi.

Di abad ke 18 Masehi, Murad Bey dari Dinasti Mamluk dengan terpaksa menghancurkan masjid Amru Bin Ash karena kerusakan yang sudah teramat parah dan kemudian membangunnya kembali di tahun 1796-1800, sebelum kedatangan ekspedisi militer Napoleon Bonaparte dari Prancis ke Mesir. Murad Bey mengurangi jumlah baris pilar di dalam masjid dari tujuh deret pilar menjadi enam deret pilar dan meluruskan arah kiblatnya. Bangunan menara yang kini berdiri merupakan bangunan dari era Murad Bey.

Jejeran pilar pilar di dalam masjid ini menghasilkan lorong diantara masing masing deret masing masing pilar tersebut (foto dari imamhasanuddin)

Di tahun 1875 masjid ini kembali direnovasi oleh Sultan Muhammad Ali. Sedangkan di abad ke 20 masehi semasa kekuasaan Abbas Hilmi II masjid Amru Bin Ash kembali di restorasi. Bagian dari pintu gerbang utama di rekonstruksi pada tahun 1980. Masjid Amru Bin Ash terakhir kali direnovasi pada masa pemerintahan Presiden Husni Mubarak pada tahun 1998. Bagian paling tua dari masjid ini tersisa beberapa bagian pada sisi sepanjang tembok selantan masjid yang kemungkinan besar merupakan peningalan dari rekonstruksi tahun 827M.

Pusat Pendidikan Islam Pertama di Benua Afrika

Sebelum masjid Al Azhar dibangun, masjid Amru bin Al Ash menjadi pusat pendidikan Islam, para pengajarnya terdiri dari para shahabat Rasulullah saw. Di antaranya; Abdullah bin Amru bin Al Ash (sebagai inisiator dan pendiri), Abdullah bin Sa’ad bin Abi sarh Al Amiri, Azzubair bin Al Awwam, Al Miqdad bin Al Aswad, Ubbadah bin Ashshamit, Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, Kharijah bin Huzafah Al Adawi, ridhwanullahi alaihim, dll.

Halaman tengah Masjid Amru Bin Ash di siang hari pada hari biasa dibiarkan terbuka tanpa hamparan karpet merah sebagai sajadah. (foto dari flickr)

Demikian pula dengan Imam Syafi’I, pendiri mazhab Syafi’i, setelah datang ke Mesir, dia mengajar di masjid Amru bin Al Ash sampai meninggal di Mesir. Imam Syafi’I dilahirkan di Ashkelon, Gaza, Palestina, pada tahun 150 H / 767M  dan wafat serta dimakamkan di Fusthat, Mesir tahun 204H / 819M. Hingga hari ini Masjid Amru Bin Ash masih digungakan oleh para mahasiswa Universitas Al-Azhar untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an.

Ulama Mesir yang terkenal, jebolan Masjid Amru bin Al Ash, di antaranya; Pangeran Abdul Aziz bin Marwan bin Al Hakam Al Umawi, Yazid bin Habib (Suwaid Al Azdi Abu Raja’ Al Misri), Abu Abdirrahman Abdillah bin Luhaiah Al Hadhrami, dan Allaist bin Saad bin Abdirrahman Al Fahmi.

Kisah Wanita Tua Yahudi dan Amru bin Ash

Suasana Iktikaf di masjid Amru Bin Ash (foto dari kompasianer)

Sisi lain dari sejarah Masjid Amru Bin Ash adalah kisah tentang seorang wanita tua Yahudi yang mengadukan Amru bin Ash ke Khalifah Umar di Madinah. Sebuah kisah teladan yang begitu berharga. Kisah ini pernah menjadi topik ceramah kyai sejuta ummat (alm) Zainudin MZ. Disebutkan bahwa Gubernur Amru bin Ash berniat untuk membangun masjid besar di atas tanah yang cukup luas tak jauh dari kediaman resminya.

Hanya saja di atas lahan tersebut terdapat sebuah gubuk milik seorang Yahudi tua. Amru bin Ash sudah melakukan negosiasi langsung dengan-nya namun Yahudi tua tersebut menolah untuk menyerahkan tanah milik-nya, hal tersebut membuat Gubernur Amru bin Ash naik pitam dan memerintahkan pembongkaran paksa atas gubuk reot tersebut. Dalam keputus-asa-an menghadapi kesewenangan gubernurnya, Yahudi tua tersebut memutuskan untuk mengadu ke Khalifah Umar Bin Khattab di Madinah.

Selain nyaman untuk sholat, masjid ini juga nyaman untuk ngaso sejenak, beberapa dari jemaah bahkan meluangkan waktu sejenak untuk tidur siang di masjid ini (foto dari Wikipedia)

Peristiwa setelah itu mengubah segalanya. Yahudi tua tersebut sama sekali tak menduga bahwa Khalifah yang ditemuinya adalah seorang yang sangat sederhana jauh dari kemewahan, lebih terheran heran lagi ketika setelah mengadukan masalahnya, khalifah Umar ternyata marah besar dan meminta-nya untuk mengambil sepotong tulang, lalu dengan ujung pedangnya Umar menorehkan garis lurus di potongan tulang tersebut dan meminta Yahudi tua tersebut memberikan tulang itu langsung ke Gubernur Amru bin Ash di Mesir.

Seketika setelah menerima potongan tulang dari Yahudi tua itu, Gubernur Amru bin Ash pucat pasi dan serta merta memerintahkan semua bawahannya untuk mengentikan pembangunan masjid di lahan Yahudi tua tersebut dan memerintahkan menghancurkan bangunan masjid yang sudah setengah jadi berdiri disana. Kontan saja tindakan itu membuat Yahudi tua itu terhenyak dalam keheran yang bertubi tubi sejak dia bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Seorang lelaki tua sedang serius membaca kitab Suci Al-Qur’an di Masjid Amru Bin Ash (foto dari antara)

Gubernur Amru bin Ash yang kemudian menjelaskan semuanya setelah meminta maaf atas kesewenang wenangnannya. Beliau menjelaskan bahwa tulang yang diserahkan Yahudi tua itu adalah perintah langsung dari Khalifah kepada dirinya selaku gubernur, untuk senantiasa bertindah adil, bertindak lurus baik dari kalangan atas sampai kalangan paling bawah seperti hurup alif yang digoreskan khalifah Umar di atas tulang tersebut, bilamana tak mampu menjalankan amanah dengan adil maka pedang khalifah Umar sendiri yang akan memenggal kepalanya. Itu sebabnya Gubernur Amru bin Ash langsung pucat pasi menerima peringatan langsung dari Khalifah tersebut.

Alih alih gembira dengan keputusan gubernurnya yang menghentikan pembangunan masjid di atas lahan miliknya, Yahudi tua tersebut malah meminta khalifah untuk menghentikan pembongkaran bangunan masjid yang sedang dibangun itu. Dia mengaku sangat kagum dengan kepemimpinan Khalifah Umar yang begitu adil dan sangat kagum dengan ajaran Islam dan karenanya dia ridho menyerahkan lahannya untuk dibangun masjid dan meminta Gubernur Amru bin Ash untuk membimbingnya masuk Islam. Subhanallah.

Aktivitas Masjid Amru Bin Ash

Ukiran halus menjadi penghias di lengkungan dalam di Masjid Amru Bin Ash (pcinu-mesir)

Masjid Amr bin Ash atauGami Amru begitu orang-orang Mesir biasa menyebutnya. Telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di kota Kairo. Sebagai tempat wisata, areal masjid ini pun dijaga oleh mabahist. Memasuki pelataran masjid ini pengunjung disambut ramah oleh suara cericit burung yang terbang bebas di areal Masjid.

Burung-burung itu berloncatan di langit-langit mesjid, menukik tajam lalu terbang menerobos ventilasi yang ada di dinding Masjid dan telah menjadikan areal masjid ini sebagai habitatnya. Burung-burung tersebut bersarang di lampu-lampu gantung yang terletak disekeliling masjid. Mungkin karena tidak adanya hutan di Mesir, sehingga burung-burung itu pun memilih gedung-gedung tua untuk dijadikan tempat berhabitat.

dan ini adalah salah satu sudut masjid yang disediakan bangku panjang bagi jemaah yang membutuhkannya (foto dari paroramio)

Sepanjang hari masjid ini tak pernah sepi dari pengunjung, baik yang datang untuk menuaikan sholat hingga yang sekedar berkunjung seperti yang dilakukan oleh para turis non muslim yang datang lalu pergi lagi, termasuk juga kunjungan dari anak anak sekolah yang dipandu oleh gurunya masing masing. Mahasiswa dari Universitas Al-Azhar pun masih banyak yang melanjutkan tradisi belajar di masjid ini. Karena memang masjid itu terletak tepat di keramaian, dan dekat dengan kampus

Masjid Amru Bin Al Ash, khususnya pada hari Jum’at selalu ramai dikunjungi jemaah untuk shalat Jum’at, dan lebih khusus lagi pada bulan puasa, tanggal 27 Ramadhan, orang Mesir baik dari dalam maupun dari luar kota Kairo, berlomba-lomba datang untuk shalat taraweh dan Khatamul Alquran yang dipimpin/diimami oleh Imam Syekh Muhammad Jibril.***

Kembali ke Bagian 1

Referensi

archnet.org – early Islamic architecture in cairo pdf file

archnet.org – Jami' 'Amr ibn al-'As

karawang.us - amr-bin-ash-mosque-egypt-oldest-mosque

en.wikipedia - Mosque_of_Amr_ibn_al-As

dedenmaulidarajat - menengok-masjid-pertama-di-afrika

egyptfan - Mosque of Amr ibn al-As

allangkati - kota-fusthath-dan-masjid-amr-bin-ash

kompasiana - menikmati-sunyi-di-masjid-amr-bin-ash

masisironline - mesjid-amr-bin-ash

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Monday, October 19, 2020

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Sejak pertama kali dibangun oleh dinasti Mamluk, kubah hijau Masjid Nabawi di kota Madinah, Saudi Arabia sudah menjadi ikon penting bagi Masjid Nabawi & kota Madinah secara holistik. Dan semenjak dibangun pula kubah ini senantiasa menuai silang pendapat dikalangan umat Islam sendiri, dan sangat menarik bahwa, kubah hijau tersebut turut sebagai perhatian ulama Indonesia di tahun 1926, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan sang Bung Karno & Bung Hatta.

Kubah hijau yang dikemudian hari menginspirasi poly orang buat membangun kubah yg seperti, di masjid masjid di kampung halaman mereka untuk sekedar mengobati kerinduan akan Masjid Nabi yg pernah mereka kunjungi dalam rangkaian ibadah haji atau umroh yg pernah mereka lakukan. Namun, ada golongan umat Islam yang menginginkan agar kubah tersebut dirobohkan lantaran dipercaya tidak sinkron menggunakan syariat, atau setidaknya akan mengganggu keyakinan ummat Islam.

Ada Apa di Bawah Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah hijau Masjid Nabawi dibangun buat menaungi makam Rosulullah Muhammad S.A.W, Makam Khalifah Abu Bakar Asy-Sidik dan Makam Khalifah Umar Bin Khattab. Ketiga makam ini sesungguhnya berada pada dalam tempat tinggal baginda Rosulullah bersama istri Beliau Aisyah r.A. Yang seluruhnya sekarang dikelilingi tiga lapis dinding, sebagai pemisah-nya berdasarkan Masjid Nabawi.

Kubah hijau masjid Nabawi ini sebagai begitu krusial bagi ummat Islam dunia karena dibawah kubah inilah tempat dimakamkannya jenazah Baginda Rosululullah Muhammad S.A.W, Nabi epilog para nabi, junjungan kita semua, bersama 2 sahabatnya Khalifah Abu Bakar Asy-Siddik r.A. Dan Khalifah Ummar Bin Khattab r.A.

Tempat yg sekarang dinaungi dengan kubah hijau itu, semasa Rosulullah hayati, merupakan rumah beliau yang sangat sederhana. Di rumah tadi beliau tinggal bersama Ummul Mu?Minin Aisyah, sampai menutup mata pada ahir hayatnya. Ditempat itu pula jenazah beliau dimakamkan. Rumah kediaman Rosulullah tadi sering jua dianggap menjadi tempat tinggal Aisyah.

Apakah Makam Baginda Rosulullah berada pada Dalam Masjid Nabawi ?

Tertutup rapat

Rumah Rosulullah dan Aisyah yang menjadi tempat bermakamnya Rosulullah ini dibangun menempel dengan dinding Masjid Nabi (Masjid Nabawi). Dibangun setelah pembangunan Masjid Nabi selesai dilaksanakan. Masjid Nabawi sendiri merupakan bangunan pertama yang dibangun oleh Rosulullah  bersama sama dengan ummat Islam di Kota Madinah sekitar tahun 622 masehi, ketika pertama kali sampai di kota Madinah dalam perjalanan hijrah dari kota Mekah.

Saat dia wafat, jenazah dia dimakamkan di rumah tadi. Aisyah r.A lalu menciptakan sekat dinding, sebagian buat makam Rosulullah dan sebagian lagi sebagai tempat tinggal Aisyah. Dan saat Khalifah Abu Bakar Wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Rosullullah, Aisyah berpindah loka tinggal dan waktu Khalifah Umar Bin Khattab wafat, jenazah dia pun turut dimakamkan berdampingan dengan makam Rosulullah S.A.W

Raudhah atau Raudhatul Jannah. Adalah loka diantara rumah Rosulullah dengan Mimbar beliau. Loka ini senantiasa menjadi incaran para jemaah berdasarkan mancanegara buat berdoa di loka ini lantaran sinkron dengan sabda Rosulullah bahwa loka ini merupakan galat satu tempat yg makbul.

Makam Rosulullah, Khalifah Abu Bakar r.a dan Khalifah Umar tetap berada di luar kawasan Masjid Nabawi hingga tahun ke 88 Hijriah atau tahun 707 masehi. Sampai kemudian pada bulan Rabiul Awwal tahun 88H, Khalifah Al-Walid (705-715) dari bani Ummayah yang berkedudukan di Damaskus, memerintahkan kepada gubernur Hijaz (kini Saudi Arabia) Umar Bin Abdul Aziz, untuk membongkar bangunan lama Masjid Nabawi dan membangunnya menjadi masjid yang lebih besar dan megah serta menyatukan rumah Aisyah dengan masjid Nabawi.

Sempat terjadi pertentangan dikalangan fuqaha yang menolak upaya tadi menggunakan alasan bahwa rumah tadi merupakan lambang berdasarkan khidupan zuhud Rosulullah. Said bin al-Musayyab nir menyatakan ketidaksetujuannya kerana takut makam Nabi s.A.W dan dua teman Baginda dijadikan menjadi daerah masjid. Namun, para tabiin rahiamahumullah memahami perkara ini lalu mereka memisahkan kubur Nabi s.A.W & 2 sahabat baginda menggunakan tiga lapis dinding menjadi pemisah menggunakan tempat Masjid Nabawi.

Kubah hijau Masjid Nabawi diantara kubah kubah kecil pada atas bangunan Masjid Nabawi yang dibangun dalam era Dinasti Usmaniyah (Turki).

Umar bin Abdul Aziz menambahkan tembok pemisah terluar menurut tembok rumah Aisyah menjadi pembatas tempat tempat tinggal Aisyah yang sebagai Makam Rosulullah menggunakan daerah Masjid Nabawi. Ada jarak yang cukup jauh antara tembok Umar Bin Abdul Aziz menggunakan tembok tempat tinggal Aisyah.

Maka dinding Umar ini sekaligus mengeluarkan daerah perkuburan Rasulullah s.A.W & 2 sahabat Baginda dari tempat masjid buat menghindari jemaah yang sholat menghadap ke kuburan. Sejak saat itu seluruh area rumah Aisyah tertutup kedap tanpa pintu dan jendela buat menuju kesana.

Siapa Yang Membangun Kubah Hijau Masjid Nabawi

Kubah Hijau Masjid Nabawi saat ini.

Dinasti Mamluk yg pertama kali membentuk kubah di atas makam Nabi Muhammad pada proyek pembangunan Masjid Nabawi. Lalu saat Madinah berada di bawah kekuasaan Dinasti Usmaniyah (Turki) dari tahun 1517 sampai perang dunia pertama, Sultan Sulaiman (1520-1566) membangun mihrab baru disebelah Mihrab Nabi serta memasang kubah baru pada atas Rumah & makam Nabi. Kubah berdasarkan tembaga & di cat menggunakan rona hijau.

Kubah tersebut dibangun ulang di masa pemerintahan Mahmud II bersamaan menggunakan pembangunan Ar-Raudah di tahun 1817 dan kembali di cat menggunakan rona hijau tahun 1839 hingga ahirnya dikenal menggunakan kubah hijau sampai hari ini. Sisi dalam kubah lalu pada hias menggunakan kaligrafi Al-Qur?An dimasa pemerintahan Sulan Majid II (1839-1861) menurut dinasti Usmaniyah.

Bersambung ke Bagian-2

Sunday, October 18, 2020

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Berdiri Megah di Kota Madinah. Kubah Hijau Masjid Nabawi.

Kebohongan Tentang Mayat pada Atas Kubah Hijau Masjid Nabawi

Beberapa waktu lalu sempat beredar luas di global maya warta hoax mengenai adanya mayat yg melekat di kubah hijau masjid Nabawi menggunakan bebeberapa versi. Intinya ada mayat yang menempel pada kubah tadi dan sama sekali tidak bisa dilepaskan hingga ahirnya mayat tadi dibuatkan epilog dan dibiarkan ditempatnya menempel. Pada atas kubah hijau masjid Nabawi memang ada benda menonjol yg diikat dengan tali apabila sekilas pandang memang akan terlihat layaknya sesuatu yg ditutupi.

Tapi sebenarnya benda tersebut adalah sebuah jendela yang dibubuhi kemudian buat menutup ventilasi atau celah atau jendela tetap yg dipasang pada kubah tersebut. Seluruh ruang dibawah kubah hijau ini dikemudian hari ditutup permanen tanpa pintu & jendela karenanya jendela di kubah inipun nir diperlukan lagi & lalu ditutup.

Titik mini yang di ikat dengan tali pada atas kubah hijau ini sempat sebagai isue sebagai kuburan seorang yg di sambar petir & mayatnya melekat disana nir mampu dilepaskan & ahirnya ditutup & di ikat menggunakan tali. Aslinya benda ini adalah penutup tetap bagi ventilasi yg dulunya sengaja dibentuk menjadi ventilasi di kubah ini.

Ukuran ventilasi tersebut pula terlalu mini buat berukuran tubuh orang dewasa yg sedang berbaring. Dan tentu saja nir akan cukup buat menampung ?Mayat? Yang pungkasnya meninggal tersambar petir karena berniat menghancurkan kubah hijau tadi. Ada beberapa orang yang telah mengunggah kabar tadi pada youtube & terdapat beberapa orang jua yang lalu mengunggah bantahannya.

Saudi Arabia, Wahabi & Peran Ulama Indonesia

Seiring dengan runtuhnya kekhlaifahan Islam Usmaniyah yg berpusat pada Istambull Turki pada tahun 1923, semenanjung Arabia terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan akbar. Hejaz & Najd. Tahun 1921 Ibnu Saud memproklamirkan dirinya menjadi Sultan Najd. Tahun 1924-25 beliau menaklukkan Hejaz & pada tanggal 10 Januari 1926 memproklamirkan diri sebagai Raja Hejaz menyusul setahun lalu menambahkan gelar-nya sebagai Raja Najd. Dengan sendirinya keseluruhan daerah Najd dan Hejaz Berada di bawah kekuasaan dia yg dikemudian dalam lepas 23 September 1932 memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia menggunakan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa'ud menjadi raja pertamanya.

Denah penampang melintang kubah hijau Masjid Nabawi ini akan menaruh citra letak ventilasi di atas kubahnya yg di isue-kan sebagai kuburan itu.

Ibnu Saud naik ke zenit kekuasaan menggunakan dukungan penuh berdasarkan gerakan wahabi dibawah pimpinan Muhammad bin Abdul Wahab. Gerakan Wahabi ini yang kemudian menghancurkan semua makam dan situs sejarah yg di Mekah & Madinah buat menghindari khurafat. Turut dihancurkan seluruh makam para syuhada yang ada pada pemakaman Jannatul Baqi termasuk makam khalifah Usman Bin Affan.

Pemerintah Saudi Arabia dalam ahirnya tetap mempertahankan kubah hijau tadi berikut makam Nabi dan dua Sahabat yang berada pada pada rumah Aisyah pada bawah kubah tersebut. Meski hingga sekarang tak jelas latar belakang dari kaum Wahabi mengurungkan niat menghancurkan Kubah Hijau berikut Makam Nabi & dua Sahabat Beliau dibawah kubah tersebut. Dalam bepergian sejarah, Ulama Indonesia turut berperan dalam hal itu.

KH. Wahab Hasbullah

Lahir keprihatinan atas apa yang terjadi pada semenanjung Arabia, ulama ditanah air yang ketika itu masih dibawah penjajahan Belanda menciptakan komite Hejaz atas gagasan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Komite yg awalnya dibuat buat mewakili muslim & ulama Indonesia pada rendezvous ummat Islam sedunia yang di gagas sang Ibnu Saud pada kota Mekah tahun 1926.

Komite Hejaz ini yg kemudian bermetamarfosis menadi Jamiatul Nahdhatul Ulama (NU Pada tanggal 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah beserta Syekh Ghonaim al-Misri diutus oleh NU buat menghadiri konfrensi umat Islam sedunia di Mekah sekaligus buat menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud guna membicarakan pesan dari ummat Islam Indonesia (Hindia Belanda) galat satunya adalah meminta Raja Abdul Aziz buat menaruh kebebasan bermazhab termasuk pula ?Penyelamatan makam Rosulullah menurut penghancuran?.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad & situs-itus sejarah Islam nir jadi dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar & memimpin di Haramain. Dua utusan ini pulang dengan membawa surat resmi berdasarkan raja Abdul Aziz ke Indonesia tertanggal 28 Dzul Hijjah 1347 H./ 13 Juni 1928 M., angka: 2082.

Dimasa Kekuasaan Saudi Arabia, Masjid Nabawi setidaknya sudah 3 kali mengalami renovasi besar besaran dan permanen memelihara kubah Hijau masjid Nabawi beserta semua yang ada di dalamnya, termasuk jua memperindah dan merawat unit bangunan tersebut. Perluasan Masjid Nabawi dimasa kekuasaan Saudi Arabia dilaksanakan sang Raja Abdul Aziz pada tahun 1951. Menyusul kemudian oleh Raja Faisal tahun 1973 dan terahir sang Raja Fahd. Saat ini-pun masjid Nabawi sedang pada proyek ekspansi akbar besaran buat kesekian kalinya.

Kabar tidak sedap sempat balik beredar di tahun 2007 kemudian ketika Kementerian Urusan Islam Kerajaan Saudi Arabia menerbitkan pamphlet yg turut pada paraf oleh Mufti Agung Saudi Arabia, yg menyatakan bahwa kubah hijau masjid Nabawi akan dihancurkan dan tiga makam dibawahnya akan diratakan. Dan lagi lagi risalah tadi mendapat kecaman dari ummat Islam berdasarkan banyak sekali penjuru dunia. Jangankan buat menghancurkan kubah dan makam Rosulullah, rencana pemerintah Saudi buat menghancurkan masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi dalam upaya menyediakan lahan bagi ekspansi Masjid Nabi tersebut-pun mendapatkan kecaman keras menurut seantero dunia Islam termasuk dari para sejawan dari aneka macam Negara.

Namun demikian, apabila mencermati maket masterplan mega proyek perluasan Masjid Nabawi yang disiapkan sang pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, sangat kentara terlihat, bagian Masjid Nabawi menggunakan kubah hijaunya masih dipertahankan pada sayap timur bangunan super besar yang akan dibangun dalam mega proyek ekspansi tersebut. Akankah kubah hijau yang telah sebagai ikon masjid Nabi tadi dalam ahirnya sahih benar dihancurkan berikut makam Baginda Rosulullah & 2 Sahabatnya ? Wallahu A'lam Bishawab.***

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done