Islami Pedia: Masjid Indonesia di Luar Negeri
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Indonesia di Luar Negeri. Show all posts
Showing posts with label Masjid Indonesia di Luar Negeri. Show all posts

Friday, October 9, 2020

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza - Palestina

Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid membentuk satu unit masjid pada daerah Gaza tengah, tepatnya pada daerah Deir Balah, Masjid tadi diberi nama Masjid Daarut Tauhiid Indonesia, karena uang yg digunakan untuk menciptakan masjid tersebut merupakan output bantuan dari muslim dan warga Indonesia melalui Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid.

Pembangunan masjid ini karena melihat salah satu kebutuhan saudara kita dalam hal tempat ibadah yang aman dan nyaman. Karena paska penyerangan zionis tahun lalu, banyak masjid yg hancur, Bahkan mereka melaksanakan salat terawih, salat jumat, & salat berjamaah 5 ketika diantara puing-puing bangunan masjid yang musnah.

Masjid dibangun di atas huma milik Departemen Agama dan Perwakafan Palestina. Ditambah lagi wakaf tanah menurut rakyat setempat dengan luas 250 meter persegi. Masjid tadi diperkirakan sanggup menampung 300 jamah, dilengkapi menggunakan karpet dan kipas angin, loka wudhu, dan 4 tiolet. Konstruksinya full beton dengan fondasi dasar berkekuatan lima lantai. Rencananya insya Allah, akan dibangun lantai 2 untuk dijadikan sebagai loka menghafal Qur?An diberi nama Markaz Baitul Qur?An.

Saat proses pembangunan

Perjalanan Pembangunan Masjid

Program pembangunan Masjid DT atas ilham & konsep menurut Aa Gym selaku Presidium Yayasan Daarut Tauhiid Indonesia. Program dimulai dengan proses survei lapangan di masing-masing wilayah di Jalur Gaza khususnya daerah porak poranda akibat dibombardier sang pihak militer Israel. Dari beberapa wilayah yg disurvei akhirnya Deir Balah Gaza tengah yang menjadi target awal pembangunan Masjid DT.

Pada lepas 31 Juli 2015 ba'da sholat Jum'at DPU DT sudah memulai pembangunan Masjid di dimulai dengan peletakan batu pertama. Awal bulan September 2015, tim konstruksi & enginering memulai pembangunan diatas huma wafaf dari pihak Kementrian Agama dan Wakaf Gaza Palestina. Proses pembangunan pada jadwalkan hanya memakan ketika kurang dari dua bulan. Akan tetapi mundur menjadi empat bulan dikarenakan faktor krisis material & bahan bangunan lainnya yang masih melanda wilayah Gaza.

Seluruh bahan material dan bahan bangunan seperti semen, besi dll masuk ke Gaza hanya berdasarkan satu jalur yaitu melalui pintu perbatasan Kareem Abo Saleem pintu perbatasan antara Gaza dan Israel. Bahan material masuk ke Gaza harus izin & persetujuan berdasarkan Israel. Tidak ada cara lain , penggunaan semen dengan memakai sistem, satu sak semen masuk Gaza akan ditanya dipakai buat apa? Mana surat-surat pengajuan permintaan semen? Bangun masjid dimana? Luas berapa? Setelah memenuhi persyaratan ini baru mereka berikan semen, dan dikirim secara berangsur.

Hampir selesai

Lambat akan tetapi niscaya pembangunan Masjid DT berjalan lancar. Pihak LSM lokal yang rutin mengecek perkembangan pun tidak meminta imbalan. Saat diberi uang transportasi pun mereka menolak.

?Ini bagian dari tanggung jawab kami selaku putra daerah, apalagi ini rumah ibadah bagi kita Umat Islam. Kami siap bantu sinkron dengan kemampuan kami, tentu hanya berharap ridho Allah Swt,? Kata LSM lokal Palestinian Welfare House yang di ketuai Ir.Jomah Al-Najjar.

Diresmikan

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza Palestina diresmikan dalam hari Kamis 31 Desember 2015 jam 10 pagi saat Gaza secara pribadi oleh Aa? Gym melalui sambungan telepon langsung dari pondok pesantren Daarut Tauhid pada Geger Kalong Bandung. ?Semoga menjadi amal saleh bagi semua yg ikut membantu mambangun Masjid Daarut Tauhiid di Gaza, Palestina,? Kata Aa Gym penuh haru. Masjid sendiri sudah dimanfaatkan oleh kaum Muslimin pada Gaza khususnya di Deir Balah Gaza Tengah dua hari sebelum peresmian. Tadinya dijadwalkan saat acara peresmian, KH.Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) akan membicarakan istilah sambutan via Skype. Sayangnya serentak listrik padam, Gaza masih krisis listrik. Akhirnya Aa Gym hanya mengungkapkan salam pada para jamaah warga Gaza melalui jaringan telepon.

Suasana waktu peresmian

Ratusan jamaah bersiap menyaksikan. Ketika video call antara Aa Gym dan Abdillah Onim (Perwakilan Warga Gaza) dimulai, jamaah nir kuasa menunda haru. Suasana di Gaza pun nir kalah ramainya. Kebahagiaan tampak kentara berdasarkan wajah mereka. Abdillah Onim mewakili Warga Gaza jua menyampaikan rasa terima kasihnya. ?Jazakumullah Khairan Katsira kepada para donatur yang telah berdonasi buat Pembangunan Masjid Daarut Tauhiid Gaza,? Ujarnya.

Abdullah Onim melaporkan, tampak hadir pada pelantikan Masjid Daarut Tauhid para Ulama Palestina, pihak Walikota, pihak Kapolda dan stafnya, Wakil Menteri Agama dan Wakaf Gaza, pihak pengajar Daarul Qur?An Nusantara cabang Gaza dan ratusan santri DAQU Gaza, pihak Daarul Qur?An wa Sunnah Gaza Palestina, para kepala NGO lokal pada Gaza, tokoh rakyat Gaza, masyarakat Gaza serta WNI Relawan Rumah Sakit Indonesia.

Diresmikan

Acara diawali dengan pembacaan Al Qur?An oleh santri DAQU Gaza dan diakhiri dengan pelantikan masjid ditandai menggunakan pembukaan tirai penutup batu alam yg bertuliskan : Alhamdulillah, Atas ijin Allah Swt, sudah selesai pembangunan Masjid Daarut Tauhiid yang didanai oleh Donatur DPU DAARUT TAUHIID, tertulis pula : Hadiah dari Rakyat Indonesia. Pihak Kementrian Agama & Wakaf Gaza Palestina, pada kata sambutan mengungkapkan rasa syukur & terima kasih kepada Kaum Muslimin di Indonesia khususnya kepada pihak DPU Daarut Tauhid atas hibah sebuah Masjid.

Sementara tokok Masyakarat Gaza menilai hadiah ini sangat luar biasa bermanfaat bagi kaum Muslimin pada Gaza Palestina. Warga Deir Balah pun bersyukur dan berbahagia menggunakan keberadaan masjid DT. Dan mereka menyepakati secara resmi menamakan wilayah kurang lebih Masjid Daarut Tauhid diberi nama Kampung Tauhid.

Dompet Peduli Ummat

Bagi sahabat yang ingin berdonasi buat Masjid Daarut Tauhiiid Palestina, bantuan bisa disalurkan melalui Kantor DPU Daarut Tauhiid, Jl. Gegerkalong Girang Bandung. Transfer donasi melalui BNI Syariah (Kode Bank 009) 009.2553.41 a.N DPU IS Khusus. BCA (Kode Bank 014) 777.0333.151 a.N DPU IS Khusus. Indformasi dan konfirmasi: 0851-0001-7002 dan BBM: DPUDT1.

Referensi

arrahmah.com – masjid daarut tauhiid gaza diresmikan

daaruttauhiid.org – aa gym live streaming resmikan masjid . . .

daaruttauhiid.org – dpu daarut tauhiid bangun masjid di gaza

dmi.or.id – dpu daarut tauhid resmikan masjid di gaza

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian pertama)

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian kedua)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia pada Den Haag - bagian dua

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia di Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian kedua)

Peresmian IMAAM Center oleh Presiden SBY

Penantian 20 Tahun

Kisah berubah tatkala terpampang iklan pada sebuah media online yg menyebut soal planning penjualan gereja tua pada daerah Georgia Avenue, Silver Spring, MD, Maryland. Iklan itu ditayangkan oleh pengurus gereja yang mengaku terpaksa menjual gedung itu karena tidak terdapat lagi kegiatan ibadah pada sana. Sejak lima tahun terakhir, gereja itu dibiarkan kosong melompong karena sebagian akbar jemaahnya sekarang menganut atheis. Sehingga gereja itu tak lagi digunakan buat aktivitas ibadah.

Ukuran gereja itu relatif besar . Luas gedungnya saja mencapai tiga.520 m persegi, menggunakan luas tanahnya mencapai 15.625 m persegi. Kapasitas ruangan di pada sanggup menampung sekitar 350 orang. Lapangan parkirnya pula cukup luas, bisa menampung lebih berdasarkan 100 mobil. Harga jualnya US$3 juta atau lebih kurang Rp 33 miliar, dengan kurs kurang lebih Rp 11.000 perdolar. Gedung yg dibangun tahun 1955 itu, berada di tengah kota Maryland. Merujuk pada izinnya, gedung itu hanya spesifik buat aktivitas rumah ibadah. Pihak gereja sebenarnya telah usang ingin menjual gedung itu, tapi nir laku karena biar penggunaannya nir mampu digunakan selain buat ibadah.

Lantai 2 IMAAM Center yang adalah ruang utama masjid.

Ini yang menciptakan pengurus IMAAM tertarik buat membelinya. Apabila gedung itu sanggup dibeli, maka tidak perlu lagi memohon izin pendirian rumah ibadah menurut pemerintah setempat karena sejak awal peruntukannya memang buat rumah ibadah. Namun masalahnya, darimana pengurus IMAAM sanggup menerima dana $3 juta? Kalaupun dua unit gedung yang ditempati IMAAM Center dijual, diperkirakan harganya $1 juta. Itu berarti masih kurang lebih kurang $2 juta lagi. Jelas ini bukan jumlah yg mini . Butuh bisnis ekstra buat menambal kekurangannya.

Bantuan Pemerintah Indonesia

Sampai akhirnya muncullah pandangan baru menurut pengurus IMAAM buat menyampaikan kasus ini dengan Dino Pati Djalal yg ketika itu menjabat menjadi Duta Besar Indonesia buat Amerika. Dino yg menyambut baik pandangan baru itu lalu mengungkapkan berita ini eksklusif ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Gayung bersambut, SBY rupanya sangat tertarik dengan ide itu. Ia pun pribadi membahas kasus ini menggunakan DPR. Kebetulan waktu itu masih ada sisa aturan $5 juta yang belum terpakai. Tak butuh ketika lama bagi DPR & pemerintah buat menyepakati pemberian hibah $3 juta untuk IMAAM menjadi modal buat membeli gereja pada Amerika itu. Sedangkan sisanya yg $2 juta digunakan buat membangun gedung mahasiswa Indonesia pada Mesir.

Presiden SBY memimpin sholat berjamaah selesainya pelantikan masjid IMAAM Center

12 Juni 2014 IMAAM resmi mengambil alih First Baptist Church Montgomery Maryland buat dijadikan sebagai masjid. Upaya renovasi langsung dilakukan secara sedikit demi sedikit. Kursi panjang yang biasa dipakai buat beribadah pada gereja dibongkar dan digantikan dengan karpet menurut Arab. Para Muslim Amerika beramai-ramai urun rembuk dan mengumpulkan dana buat renovasi gedung tersebut. Berbagai aktivitas syiar Islam mulai aktif dilakukan di dalamnya. Beberapa tokoh Islam di Washington diundang buat menaruh ceramah agama di sana.

Awal September 2014, suasana di dalam gedung itu terlihat sangat asri. Selain papan nama yg tengah dihapus, di bagian luar tak ada indikasi-pertanda lagi yang memberitahuakn bangunan itu adalah bekas gereja. Di bagian pada, hanya ada pentas di bagian depan yg biasa digunakan rahib atau penyanyi koor gereja buat tampil di depan jamaahnya. Dekorasi itu memang agak unik buat dihadirkan di dalam masjid. Tapi pengurus IMAAM berencana akan mengubahnya secara sedikit demi sedikit sebagai akibatnya nantinya desain khas masjid itu bernuansa Indonesia.

Diresmikan sang Presiden SBY

Sesuai dengan rencana, IMAAM Center diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Jum’at 25 September 2014 pukul 12.30 waktu setempat. Acara peresmian berlangsung di lantai bawah, hadir dalam acara ini Utusan Khusus Komunitas Muslim Kemlu AS Sharif Gaffar, para tokoh muslim setempat, dan anggota komunitas muslim Indonesia. Seusai peresmian, para undangan menunaikan salat Jumat berjamaah bersama denganPresiden SBY dan rombongan dari Jakarta.

Dalam pidatonya, Presiden SBY ‎mengaku sangat bersyukur dan bahagia setelah mendengar sambutan Presiden IMAAM Center Aris Mustofa dan Sharif Gaffar. “Hati kita teduh dan damai, ingin menjalin kerjasama dan kebersamaan untuk membuat dunia adil dan sejahtera,” Menurut Presiden SBY, Masjid tersebut diharapkan menjadi duta umat muslim di Indonesia yang ingin bersahabat dengan bangsa manapun. “Kami akan menjadi agent of peace, kami akan tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin,” ujar SBY. Kunjungan Presiden SBY ke Amerika Serikat adalah bagian dari lawatan Presiden Indonesia ke tiga negara, yaitu Portugal, Amerika Serikat dan Jepang dari tanggal 17 September hingga 30 September 2014.

Presiden Joko Widodo saat menunaikan sholat tahiyatul masjid di IMAAM Center

Dikunjungi Presiden Jokowi

Hari selasa 27 Oktober 2015 pukul 15:20 waktu setempat atau hari Rabu 28 Oktober 2015 Pukul 14:20 Waktu Indonesia Bagian Barat, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri berkunjung ke Masjid IMAAM Center ini dalam perjalanan dinasnya ke Amerika Serikat. Selama kunjungan singkat tersebut presiden Jokowi langsung menuju ke lantai dasar masjid yang merupakan area untuk keperluan umum, disambut oleh para pengurus masjid yang sudah menunggu kemudian berkunjung ke perpustakaan masjid.

Presiden Jokowi kemudian menuju ke area sholat di lantai dua masjid, namun karena waktu asyar belum tiba, maka beliau menunaikan sholat sunah tahiyatul masjid, setelah itu presiden menyempatkan diri berfoto bersama dengan jemaah warga Indonesia yang ada disana termasuk memenuhi permintaan beberapa warga Indonesia yang meminta ber-selfie bersama beliau. Presiden berangkat meninggalkan IMAAM Center pada pukul 15:45 waktu setempat menuju ke the Blair House, tempat beliau menginap selama kunjungan kerja di Amerika Serikat. ***

Kembali ke Bagian Pertama

Referensi

dream.co.id – muslim indonesia beli gereja amerika untuk dijadikan masjid

bubblews.com - indonesian Muslims to cite this Buy American Church Mosque

atjehpost.co - Muslim-Indonesia-di-Amerika-Mengubah-Gereja-Menjadi-Masjid

aktualita.co - presiden-sby-resmikan-masjid-imaam-centre-di-amerika-serikat/

muslimlinkpaper.com - IMAAM Center Realizes 20 Year Old Dream

antara.com – Jokowi sholat tahiyatul masjid di imaam center

setkab.go.id - before-return-to-homeland-president-jokowi-visits-imaam-mosque

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia pada Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian pertama)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (Bagian Pertama)

TIDAK MIRIP MASJID. Bangunan masjid IMAAM Center ini sama sekali nir seperti dengan bangunan masjid seperti yang biasa kita kenal. Karena memang sebelumnya adalah sebuah Gereja bergaya Amerika dengan empat pilar akbar pada depan nya mirip dengan bangunan gedung putih, Istana Presiden Amerika.

Bekas gereja yang sebagai masjid muslim Indonesia pada Amerika

IMAAM Center adalah masjid komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Masjid ini menjadi masjid kedua yang dimiliki dan dikelola oleh muslim Indonesia setelah Masjid Al-Hikmah di New York City. IMAAM Center berada di Georgia Avenue, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, tak jauh dari Washington DC, Ibukota Amerika Serikat. IMAAM Center dibangun diatas tanah seluas 1,15 hektar ini beralamatkan di 9100 Georgia Ave, Silver Spring, Washington, DC. Lokasi masjid ini cukup strategis, karena berada di perbatasan Washington DC dengan Maryland.

Sebelum dibeli pada lepas 12 Juni 2014, bangunan 2 lantai berbatu bata merah ini merupakan gereja First Baptist Church Montgomery Maryland yg sudah 5 tahun nir dipakai lantaran sebagian besar jemaahnya beralih menganut atheis & lalu dibeli oleh komunitas Muslim Indonesia buat dijadikan menjadi masjid. Gereja tersebut dibangun tahun 1955 dengan biar resmi dari pemerintah hanya buat digunakan sebagai tempat peribadatan. Itu sebabnya pengurus gereja kesulitan buat menjual bangunan tersebut buat keperluan lain, tetapi justru hal tersebut yg sebagai nilai tambah bagi muslim Indonesia disana lantaran menggunakan membeli gedung gereja tersebut nir perlu lagi mengurus izin buat membentuk tempat ibadah.

Imaam Center

Address: 9100 Georgia Avenue, Silver Spring, MD 20910

Phone: 240-233-6967

Website : http://www.imaamcenter.org

Facebook : IMAAM Center

Telepon: 1 301-588-0693

Tentang IMAAM

IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) atau Komunitas Muslim Indonesia di Amerika Serikat. Awalnya dibentuk oleh beberapa belas muslim Indonesia yang tinggal di kawasan Washington DC dan sekitarnya yang memiliki perhatian terhadap pentingnya keseimbangan hubungan horizontal dan vertikal bagi generasi mendatang, maka pada tanggal 21 Desember 1993 dibentuklah IMAAM dan didaftarkan sebagai organisasi nirlaba keagamaan di negara bagian Maryland.  Organisasi ini aktif menggelar kegiatan keagamaan, termasuk berupaya mendirikan masjid di Washington DC.

Kepengurusan IMAAM dipilih secara periodik setiap tiga tahun dalam sidang generik tahunan. Ada sembilan pengurus primer IMAAM yang terdiri menurut;

  1. Bpk. Firdaus Kadir, Chairman of the Board, 2015-2018.
  2. Bpk. Amang Sukasih, President, 2015-2018
  3. Bpk. Bambang Achiruddin, Vice President, 2013-2016
  4. Bpk. Varga Syahroni, Secretary, 2013-2016
  5. Ibu. Waty Yirka, Treasurer, 2015-2018
  6. Bpk. Syafrin Murdas, Regular Trustee, 2014-2017
  7. Bpk. Arif Mustofa, Regular Trustee, 2013-2016
  8. Ibu. Nurul Fathiyah, Regular Trustee, 2014-2017
  9. Bpk. Andri Antoni, Regular Trustee, 2014-2017

GEREJA TAK TERPAKAI. Begini bentuk aslinya bangunan masjid IMAAM Center ketika muncul di situs iklan penjualan properti, sebelum lalu dibeli & pada alih fungsi sebagai masjid oleh IMAAM Center.

Perjalanan Panjang Masjid Imam Center

Impian memiliki masjid sendiri pada Amerika menjadi tempat berkumpul beserta bagi muslim Indonesia bukanlah perkara gampang. Selain terkendala dengan masalah dana yang tidak sedikit buat membeli properti disana, tetapi pula perkara perizinan yg memang nir gampang diperoleh. Upaya IMAAM buat mendirikan masjid nyaris terwujud pada 1995. Kala itu, organisasi yg sekarang beranggotakan sekitar 2000 orang ini bisa membeli dua unit tempat tinggal pada daerah Veirs Mill Rd, Rockville, Maryland.

Rumah itulah yg hendak dijadikan masjid, namun rencana itu mendapat protes dari warga setempat. Apa boleh buat, keinginan mendirikan masjid bernuansa Indonesia di Amerika terpaksa ditunda. Jika ke 2 rumah itu bisa difungsikan menjadi masjid kala itu, maka warga Muslim Indonesia yg tinggal di Amerika lebih menyatu & kompak, sehingga memudahan buat melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Namun virtual itu belum berhasil lantaran kendala menurut warga setempat. Pemerintah Maryland pula tidak memberi biar jikalau rakyat lebih kurang masih menolak.

Akibat penolakan itu, dua gedung yang dibeli di kawasan Rockville hanya bisa dijadikan sebagai IMAAM Center. Tidak ada aktivitas ibadah di sana. Sementara untuk salat atau kegiatan ibadah lainnya, warga Muslim Indonesia harus menyebar di sejumlah masjid yang ada di Washington dan sekitarnya. Masalah perizinan ini bahkan pernah dikemukakan oleh Imam Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Musthafa Ya'qub langsung kepada Presiden Barack Obama saat kunjungannya ke Masjid Istiqlal pada 10 Nopember 2010.

Bersambung ke Bagian Kedua

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia pada Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Saturday, September 12, 2020

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina – Austria

Suasana di Masjid As-Salam Wapena, Wina, Austria sesaat setelah peresmian masjid oleh Duta Besar RI untuk Austria & Slovenia, Bapa I Gusti Agung Wesaka Puja.

Muslim Indonesia yang tinggal di Indonesia kini dapat berbangga hati setelah masjid Indonesia pertama di Austria di resmikan pada bulan Januari 2012 yang baru lalu. Masjid tersebut diberi nama Masjid As-Salam Wapena yang bermakna keselamatan atau kedamaian, diharapkan jamaah yang menjalani ibadah di masjid ini akan menemukan suasana hati penuh kedamaian dan ketentraman. Selain itu juga, Salam juga bisa diartikan menyapa. Para pengurus dan jemaah Masjid As-Salam ingin menyapa kepada semua umat muslim Austria untuk beribadah di masjid As-Salam.

Membangun masjid bukanlah perkara mudah di Austria, tidak saja menyangkut masalah perizinan yang begitu rumit ditambah lagi dengan biaya yang dibutuhkan sangatlah mahal. Itu sebabnya dari puluhan masjid yang ada di kota Wina dan wilayah Austria lainnya berupa masjid masjid yang menempati ruang apartemen sewaan, atau yang memang dibeli untuk kemudian di alih fungsi sebagai masjid. Begitupun dengan masjid As-Salam milik komunitas Muslim Indonesia di Wina ini. hingga kini di kota Wina hanya ada satu saja bangunan masjid yang benar benar berwujud sebagai masjid seperti yang kita kenal lengkap dengan kubah dan menaranya, yakni Masjid Islamic Center Wina.

Pak Dubes RI untuk Austria dan Ketua Wapena saat penandantanganan plakat peresmian Masjid As-Salam Wapena, Wina, Austria
Meski dibentuk dan dikelola oleh muslim Indonesia di kota Wina – Austria, Alhamdulillah masjid ini juga diramaikan oleh muslim serantau melayu termasuk muslim Malaysia dan Singapura yang tinggal di Wina. Duta besar Malaysia untuk Austria pun turut hadir dalam upacara peresmian Masjid As-Salam yang dilakukan oleh Duta Besar RI untuk Austria, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja. Upacara peresmian itu dihadiri oleh ratusan muslim tak hanya warga Indonesia di Wina tapi juga beberapa muslim warga Pakistan, Malaysia, Singapura, Turki dan beberapa muslim Austria.

Berdirinya Masjid As-Salam menambah khasanah masjid masjid komunitas muslim Indonesia di Eropa setelah sebelumnya telah berdiri Masjid Al-Hikmah di Den Hag yang dibangun dari gedung bekas sebuah gereja, lalu masih di Belanda juga ada Masjid Nasuha di kota Rotterdam, serta Masjid Al-Falah di Berlin-Jerman, yang kesemuanya merupakan masjid masjid yang dibangun dan dikelola oleh komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Eropa.

Masjid As-Salam Wapena

Malfattigasse 18, 1120 Wien, Austria

Telepon : +43 650 4051201

Situs : www.wapena.org

Lihat Peta Lebih Besar

Setelah sekitar sepuluh tahun menjadi wacana, akhirnya warga muslim Indonesia yang bermukim di Wina dan sekitarnya meneguhkan jati dirinya dengan mewujudkan sarana ibadah yang dinamakan masjid As-Salam Wapena. Sebuah apartemen sederhana yang terletak di Distrik 12 Meidling jalan Malfattigasse 18 A-1120 Wien telah diubah fungsinya menjadi tempat bernaung melantunkan doa-doa dan harapan. Peresmian masjid ini dilakukan oleh Duta Besar Indonesia untuk Austria dan Slovenia, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, pada 21 Januari 2012.

Sejarah Masjid As-Salam Wapena

Warga Pengajian Wina atau disingkat Wapena merupakan kelompok pengajian (majelis ta’lim) muslim Indonesia yang tinggal di kota Wina, Austria. Saat ini ada sekitar 180 hingga 200 warga muslim Indonesia yang tinggal di Austria. Pengajian rutin mingguan diselenggarakan di kantor perwakilan Indonesia di Wina. Pengajian Wapena kemudian juga di ikuti tidak saja oleh muslim Indonesia, tapi turut pula diramaikan oleh muslim Malaysia dan Singapura yang tinggal di Austria. Bahkan Duta besar Malaysia untuk Austria, Datuk Mohammad Daud pun acap kali mengikuti acara pengajian tersebut yang tentu saja menjadi motor penggerak bagi muslim Malaysia di Wina.

Duber RI untuk Austria bersama pengurus Wapena di depan pintu Masjid As-Salam Wapena  sesaat setelah peresmian masjid.
Wacana untuk mendirikan masjid sebenarnya sudah mengemuka sejak sepuluh tahun lalu. Namun mendirikan masjid di kota Wina bukanlah perkara mudah, disamping urusan perizinannya yang tidak gampang tapi juga membutuhkan dana yang sangat besar. Karenanya Wapena kemudian berusaha mewujudkan mimpi memiliki masjid sendiri dengan meniru pola yang sudah dilakukan oleh muslim Indonesia di Jerman yang membangun Masjid Al-Falah Berlin di lantai dasar sebuah gedung apartemen di pusat kota Berlin.

Sebagaimana dijelaskan oleh Andi Ahmad Junirsah (Acha), ketua Wapena, bahwa pada saat mematangkan rencana pendirian masjid,  mereka mencoba realistis. Dalam mewujudkan keinginan memiliki masjid sendiri, termasuk masalah dana yang diperlukan harus bisa dijangkau. Gayung bersambut, terdengar kabar bahwa komunitas muslim Pakistan akan menutup aktivitas Masjid Makki yang mereka kelola seiring dengan rencana kepulangan Dr. Raffi yang selama ini mengetuai masjid tersebut.

Begini suasana betapa hangatnya persaudaraan Muslim Indonesia di Wina, Austria,  di Bulan suci Ramadhan.
Mengetahui akan adanya kabar tersebut, Acha berkoordinasi dengan pengurus Wapena lainnya, langsung cek ke lokasi, dan setelah berbicara dengan pengelola masjid, dalam hitungan hari, diputuskan untuk melanjutkan pengelolaan masjid Muslim Pakistan tersebut dengan beberapa pertimbangan yang menguntungkan, diantaranya adalah terkait urusan perizinan. Fungsi bangunan tersebut sudah terdaftar sebagai tempat ibadah sehingga tidak perlu lagi mengurus perizinan pendirian tempat ibadah baru, dan Wapena sebagai calon pengelola baru, telah resmi terdaftar di kepolisian dan pemerintah kota Wina.  Sehingga status Wapena hanya melakukan pengalihan dari pengelola masjid lama.

Sebelum menjadi masjid, ruangan tersebut dulunya merupakan sarana olahraga semacam fitness center.  Warga muslim Bosnia dan Makedonia yang pertama menjadikannya sebagai masjid, lalu pada awal tahun 2011 warga muslim Pakistan yang diketuai Dr. Rafi melanjut estafet pengelolaan masjid tersebut. Sebagai pengelola baru, muslim Pakistan menamainya dengan nama masjid Makki, sebutan lain untuk kota suci Makkah. Hanya saja, belum satu tahun mengelola, kegiatan peribadahan di masjid Makki terancam dihentikan seiring rencana kepulangan Dr. Raffi ke Pakistan. Kesempatan baik yang tak disia siakan oleh Wapena.

Undangan Peresmian Masjid As-Salam 21 Januari 2012 lalu
Untuk mengambil alih pengelolaan masjid, pihak Wapena harus menyiapkan dana sedikitnya 5.000 Euro atau sekitar Rp. 60 Juta (1 Euro = Rp12 ribu). Dana tersebut diperlukan untuk uang jaminan sebesar 2 bulan sewa kepada pemilik apartemen, sewa satu bulan pertama sebesar 750 Euro (Rp. 9 Juta), biaya administrasi sebesar satu bulan sewa, dan renovasi ruang. Antusiasme muslim Indonsia sangat luar biasa dalam upaya tersebut. Dukungan juga datang dari muslim Malaysia dan Singapura.

Pada tanggal 21 Januari 2012 Masjid As-Salam Wapena secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria dan Slovenia Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja yang hadir beserta istri beliau. Turut hadir dalam upacara peresmian tersebut Duta Besar Malaysia untuk Austria, Datuk Muhammad Daud yang memang sejak lama acap kali hadir di pengajian yang diselenggarakan di KBRI Wina dan menjadi motor penggerak bagi muslim Malaysia di Austria. Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, memberikan appresiasi kepada Datuk Muhammad Daud dengan menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada beliau.

Taushiah dalam peringatan maulid nabi di masjid As-Salam
Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 100 orang warga. Mereka yang hadir tak hanya muslim asal Indonesia yang bermukim di Wina saja, tapi ada juga yang dari kota di sekitarnya. Termasuk muslim Malaysia, Pakistan, Turki serta beberapa muslim Austria. Hadir pula perwakilan warga muslim Indonesia dari Jerman dan pengurus Masjid Al-Falah Berlin yang merupakan masjid indonesia di Jerman, saat ini pengurus Masjid Al-Falah Berlin sedang berusaha mengurus kepemilikan atas bangunan yang kini difungsikan sebagai Masjid Al-Falah.

Berdirinya masjid As-Salam di Austria ini menjadi tempat berhimpunnya muslim Indonesia disana, bersama sama dengan muslim Malaysia dan Singapura, serta tak lupa pengurus masjid As-Salam juga mengajak muslim Pakistan yang merupakan jemaah ataupun pengurus masjid sebelumnya untuk tetap bergabung, dan tentu saja masjid ini pun terbuka bagi semua muslim. Selain dari itu, kehadiran masjid As-Salam Wapena di kota Wina ini menambah khasanah masjid masjid Indonesia di daratan Eropa setelah sebelumnya telah lebih dulu berdiri dua masjid di Belanda yakni Masjid Al-Hikmah di Den Hag dan Masjid Nasuha di kota Rotterdam, serta Masjid Al-Falah di Berlin-Jerman.

suasana upacara peresmian Masjid As-Salam

Operasional dan Aktivitas Masjid As-Salam

Operasional masjid selama satu bulan diperkirakan memakan dana sekitar 1.000 Euro (Rp12 juta)  untuk biaya sewa tempat, biaya gas, listrik, dan perawatan. Dukungan warga baik moral dan material, sangat luar biasa terhadap Masjid As-Salam. Bahkan, dukungan tersebut tidak hanya datang dari warga muslim Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga mendukung berdirinya Masjid As-Salam.

Masjid ini memiliki ruang utama berukuran sekitar 70m2. Selain menjadi tempat pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu, juga menjadi tempat melaksanakan pertemuan rutin mingguan komunitas Muslim Indonesia, Malaysia dan Singapura yang tergabung dalam komunitas Warga Pengajian Wina (Wapena).  Selain itu juga masjid ini merupakan tempat pelaksanaan rutin shalat Jum'at, dan khusus minggu terakhir setiap bulannya dilaksanakan shalat jum'at dengan khutbah dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Pengajian jarak jauh bersama Aa' Gym di masjid As-Salam, Wina - Austria.
Sebuah catatan kecil di penyelenggaraan sholat jum’at pertama di masjid As-Salam ini pada tanggal 27 Januari 2012 lalu yang diikuti oleh . Puluhan warga muslim Indonesia mulai dari pejabat KBRI/PTRI Wina, pekerja di organisasi PBB, hingga pelajar dan mahasiswa menjalani salat fardhu ain di masjid Indonesia pertama di ibu kota Austria tersebut. Selain warga Indonesia, beberapa jamaah dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Bosnia, dan Mesir juga mengikuti ibadah wajib tersebut, dalam kesempatan itu ketua Warga Pengajian Wina (Wapena), Andi Ahmad Junirsah bertindak sebagai khatib dengan menggunakan Bahasa indonesia.

Ba’da sholat Jum’at hari itu masjid As-Salam kedatangan tamu,  Dia adalah Gottfried Klug. Warga Austria yang menikahi wanita Indonesia ini meminta kepada pengurus masjid As-Salam untuk memandunya masuk Islam. Hadir sebagai saksi dalam proses tersebut di antaranya, Penasehat Wapena, Dewanto Saptoadi, dan Minister Counsellor Pensosbud KBRI/PTRI Wina S. Djati Ismojo. Acha selaku ketua Wapena memandu Gottfried membaca dua kalimat Syahadat.

Wajah wajah ceria dan sumringah sesaat setelah peresmian masjid

Berbahasa Indonesia dan Inggris

Sebagai Masjid yang dibangun oleh komunitas muslim Indonesia dan negeri serantau, Masjid As-Salam berupaya menghadirkan bahasa Indonesia dalam khutbah Jum’atnya setidaknya sekali dalam sebulan.  Selain itu digunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk kegiatan salat lima waktu, pihak Wapena masih mengandalkan pengelola masjid sebelumnya, yang merupakan jemaah muslim Pakistan.

Masjid As-Salam juga menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bagi warga muslim. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Sabtu. Ada tiga kelas TPA. Kelas I untuk usia 4-6 tahun, kelas II usia 7-11 tahun, dan kelas III 12 tahun ke atas. Selain itu Pengurus Wapena juga menggelar pengajian rutin setiap minggu. Kegiatan ini tidak hanya untuk warga muslim Indonesia, tapi juga terbuka bagi sahabat-sahabat dari Malaysia dan Singapura.

Sebelum masjid ini berdiri, Wapena secara rutin melakukan pengajian bersama warga Malaysia dan Singapura di ruang serba guna KBRI. Kegiatan tersebut kini dilanjutkan di masjid As-Salam, Selain di akhir pekan, ada juga kegiatan Islami di hari-hari kerja. Salah satunya pengajian bersama yang dilakukan oleh ibu-ibu muslim Indonesia. Ada juga kajian Islami after work yang digelar kalangan mahasiswa. pihak Wapena tidak hanya membuka pintu bagi warga muslim Indonesia untuk menggunakan fasilitas masjid sebagai tempat aktivitas Islami, tapi juga kepada warga muslim asal negara-negara tetangga.

Referensi

ppiaustria.org - peribadatan

wapena.org - awalnya-tempat-fitnes-di-ruang-dasar-apartemen

republika.co.id - assalam-masjid-indonesia-pertama-di-austria

indopos.co.id - salat-jumat-perdana-mualafkan-seorang-warga-austria

riaupos.co - Dibeli Warga Bosnia, Terusir Saat Pakistan

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian pertama)

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian kedua)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia di New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina – Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia di Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Tuesday, August 11, 2020

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka Warisan Muslim Indonesia

Bermula menurut sebuah masjid sederhana pada abad ke 18 kini Masjid Melayu Kurunegala telah bertranformasi menjadi sebuah bangunan masjid modern di sentra kota Kurunegala, Sri Lanka.

Serpihan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan

Sesuai menggunakan namanya Masjid Melayu Kurunegala atau Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum?Ah Melayu Kurunegala merupakan masjid?Nya muslim melayu yg berada pada di kota kurunegala, Sri Lanka. Masjid Melayu ini merupakan masjid tertua pada Kununegala dibangun dalam masa kolonial Inggris di Sri Lanka, sebagai fasilitas bagi muslim melayu yg pertama tiba dan menetap disana. Masjid Melayu Merupakan Masjid tertua pada Kurunegala & menjadi salah satu berdasarkan begitu poly masjid pada Srilanka yang penduduknya dominan beragama Hindu dan Budha.

Indonesia, Malayasia dan Sri Lanka sama sama pernah pada Jajah oleh Belanda. Sri Lanka dijadikan keliru satu loka pengasingan atau lebih tepatnya menjadi tempat pembuangan bagi para tokoh tokoh konvoi tanah air, beberapa diantara mereka bahkan tidak pernah pulang lagi ke tanah air lantaran kekuasaan Belanad di Sri Lanka dalam ahirnya jatuh ke tangan Inggris. Beberapa lagi dari mereka adalah bagian dari Pasukan Resimen Melayu dari era Belanda & Pasukan Resimen Melayu bentukan Inggris yang lalu ditempatkan pada Sri Lanka.

Malay Jumma Mosque

155 Maha Veediya, Kurunegala 60000

North Western Province, Sri Lanka

Masjid Diaspora Indonesia pada Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala ini bukanlah satu satunya masjid yg dibangun dan herbi muslim Melayu dari Indonesia & pula Malaysia. Di Sri Lanka ada beberapa masjid tua bersejarah lainnya yang jua bekerjasama erat dengan muslim Indonesia. Sebut saja Masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo didesain dan dibangun oleh Muhammad Balang Kaya, dia merupakan putra menurut Hulu Balang Kaya, Hulu Balang menurut kesultanan Goa, Sulawesi Selatan, yg di asingkan ke Sri Lanka oleh pemerintahan kolonial Belanda dalam tahun 1796.

Kemudian masjid Jum?Ah Wekande atau The Wekande Jumma Mosque merupakan wakaf dari Muslim Indonesia, Pandaan Balie pada tahun 1796. Sementara Masjidul Jami?A yg berada pada Java Lane dibangun berdasarkan dana pensiun dari anggota Resimen Melayu pada Sri Lanka. Resimen Melayu (Malay Regiment) merupakan tentara bentukan Belanda lalu dilanjutkan oleh penjajah Inggris yang terdiri menurut orang orang melayu yg lalu ditempatkan pada Sri Lanka, tetapi lalu mereka tidak pernah balik ke tanah air. Beberapa masjid lain pula dibangun pada periode ini termasuk di Kandy, Trincomalee, Hambantota dan Kinniya.

Masjid Melayu Kurunegala di abad ke 18

Masjid Pertama pada Kurunegala

Pemerintah Inggis kala itu pada upaya konsolidasi kekuasaan mereka di pulau Sri Lanka mulai menyebarkan pengaruhnya di seluruh negeri menggunakan menempatkan pasukan tentara pada banyak sekali kota primer Sri Lanka, pada mulai berdasarkan Kandy, Pada tahun 1848 satu Resimen Melayu yg terdiri dari 30 tentara dan 2 orang staf di tempatkan di Kurunegala, resimen ini kemudian ditempatkan secara tetap di Kurunegala. Staf militer yang ditempatkan disana membawa dan seluruh keluarganya berdasarkan Kandy ke Kurunegala, karena memang pemerintah Inggris memberi mereka huma tanah.

Resimen Melayu semuanya anggotanya beragama Islam & sangat relijius, itu sebabnya dalam tahun 1850 pemerintah kolonial menciptakan sebuah masjid buat keperluan mereka beribadah, sebuah masjid di tepian danau Kurunegala. Dari fenomena ini sangat mungkin anggota resimen ini menyelenggarakan sholat Jum?At hanya menggunakan 32 Jemaah.

Staf militer dari Resimen British Melayu bersama semua anggota pasukannya tinggal di sepanjang Parade Street (sekarang menjadi jalan Dr. H. K. T. De Zylva Mawatha) dan daerah diseberang masjid diantara Dambulla Road & the Maligawa grounds. Nama Jalan Parade Steet sendiri diklaim demikian karena memang anggota pasukan Resimen British Melayu ini secara terjadwal melakukan parade milter di sepanjang ruas jalan ini.

Pada awalnya bangunan masjid ini berupa bangunan masjid sederhana menggunakan fasad depan bercorak bangunan India dan dikenal menggunakan nama Malay Military Mosque, atau masjid militer melayu. Seiring menggunakan perjalanan saat masjid tersebut lalu dikenal menggunakan nama Malay Mosque atau masjid Melayu atau "Java Palli" sampai lalu menjadi "Ja Palliya".

Orang Jakarta akan sangat familiar dengan moda tranformasi bewarna merah yang parkir disamping masjid tertua & pertama di Kurunegala pada foto diatas. Kendaraan yang asal berdasarkan India tersebut ternyata pula populer di Sri Lanka.

Masjid ini adalah masjid pertama pada Kurunegala sekaligus adalah bangunan tempat ibadah pertama yang mendapatkan pengakuan resmi menurut pemerintah bagi seluruh muslim yg tinggal pada Kurunegala & sekitarnya, menyusul kemudian berdirinya Masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang dibangun & dikelola sang muslim India.

Pada mula-nya komunitas muslim India datang ke Korunegala sebagai pedagang & mereka turut menjadi bagian dari Jemaah masjid melayu Kurunegala, namun demikian seiring dengan perbedaan budaya diantara muslim melayu & muslim India, komunitas muslim India lalu mulai mendirikan masjid bagi komunitas mereka sendiri menggunakan membeli bekas kediaman Opsir Inggris yang telah terbengkalai di sentra kota Korunegala menandai berdirinya Al-Jami Ul Azhar Jumma Mosque, atau "Sonaha Pallidanquot; atau "Marakkala Palliya" sedangkan khatibnya mereka hadirkan pribadi berdasarkan India.

Pemakaman Muslim Pertama pada Kurunegala

Hampir bersamaan menggunakan berdirinya Masjid Melayu Kurunegala ini, sebidang lahan menggunakan luas lebih kurang 3 acre yang berlokasi di ruas jalan Dambulla Road daerah Pollathapitiya, berjarak kurang lebih setengah kilometer dari Masjid Melayu Kurunegala dijadikan menjadi lahan pemakaman muslim. Seperti halnya menggunakan masjid Melayu Kurunegala, pemakaman ini pun menjadi komplek pemakaman muslim pertama pada Kurunegala & misalnya halnya pada Indonesia komplek pemakaman ini pun sampai sekarang disebut menggunakan kata ?Makam? Oleh penduduk setempat.

Nama nama melayu mendominasi jejeran pengurus masjid ini semenjak awal hingga era tahun 1960-an & tersimpan rapi di masjid ini. Seiring perjalanan saat, kurunegala telah bertransformasi sebagai sebuah kota yg berkembang pesat, masjid Melayu Kurunegala yang dulu berupa masjid sederhana pada tengah kampoig, kini telah berubah sebagai sebuah masjid terbaru pada tepian jalan primer ditengah hiruk pikuk kota Kurunegala.

Pengembangan & pembangunan masjid ini tidak saja sebagai hajatan kaum muslimin melayu disana namun juga mendapatkan sokongan penuh menurut pemerintah setempat guna mengakomodir kebutuhan Jemaah yg semakin semakin tinggi dari hari ke hari. Para pengurus & Jemaah masjid ini, mayoritas merupakan keturunan dari komunitas muslim melayu yg pertama menetap disana & sekarang telah sebagai bagian menurut lebih kurang 50.000 muslim melayu Sri Lanka. Secara keseluruhan Muslim pada Sri Lanka hampir mencapai 2 juta jiwa atau setara menggunakan lebih kurang 9% dari holistik penduduk Sri Lanka.***

Disarikan dari Malay_Kurunegala dan berbagai sumber

Artikel terkait

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Agung Colombo, dibangun sang Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun sang Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami Ul Alfar, Masjid Merah Colombo

Monday, July 13, 2020

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di New York City

Masjid Al-Hikmah Indonesian Muslim Community (dari aviator_rob di Panoramio)

Masjid ini bernama Masjid Al-Hikmah Indonesian Muslim Community, dibangun & dikelola oleh Komunitas Muslim Indonesia pada New York, Amerika Serikat. Merupakan salah satu Masjid Komunitas Muslim Indonesia di luar negeri, dan satu satunya masjid yang dikelola sang muslim Indonesia pada New York City. Masjid yang dibangun berdasarkan dana yg dihimpun berdasarkan komunitas muslim di New York, para pengusaha muslim Indonesia dan bantuan dari aneka macam pihak termasuk berdasarkan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yayasan yg diimpinan mendiang Presiden Soeharto. Masjid yang Menjadi tempat berhimpun muslim Indonesia pada New York City, dan adalah keliru satu tempat kunjungan pavorit bagi muslim menurut tanah air yg berkesempatan berkunjung ke kota ini.

Alamat Masjid Al-Hikmah

Masjid Al-Hikmah ? Indonesian Muslim Community

4801 31st Avenue

Long Island

Telepon : 718-721-8881

Fax : 718-721-8851

Url masjid : www.masjidalhikmahnewyork.org

View Larger Map

Sejarah Masjid Al-Hikmah

Di tahun 1980-an beberapa muslim Indonesia mulai berkumpul dalam sebuah pengajian. Yang kemudian diklaim dengan Keluarga Pengajian Indonesia pada New York City. Pada awalnya pengajian di selenggarakan secara berkeliling pada kediaman masing masing Muslim Indonesia baik di rumah ataupun pada apartemen.

Seiring dengan bertambahnya jumlah jemaah pengajian tersebut, apartemen ataupun rumah kediaman yang dijadikan loka pengajian sudah tidak lagi sanggup menampung nya. Kegiatan pengajian lalu dipindahkan ke keliru satu ruang di gedung konsulat Republik Indonesia di Washington DC atas izin dari konsulat. Pengajian tersebut kemudian sebagai pengajian rutin bulanan hingga kemudian pengajian tersebut mempunyai masjid sendiri.

Fasad Depan masjid Al-Hikmah

Secara alamiah, aspirasi buat memiliki masjid sendiripun tercetus buat menampug aktivitas pengajian & aktivitas Islami lain nya yang meningkat. Kotak amal pun di edarkan diantara para jamaah pengajian. Menyadari bahwa tidak mungkin selamanya buat mengandalkan bantuan menurut kotak amal untuk mengumpulkan dana buat membeli sebuah properti bagi bangunan masjid, komunitas pengajian tersebut lalu membentuk organisasi resmi bernama The Indonesian Muslim Community, Inc. (IMCI). Organisasi yg menerima dispensasi pajak, di lepas 22 Desember 1989.

Sampai ditahap itu, petugas menurut pemerintah Indonesia dan pegawai pegawai pegawai dari perusahaan perusahaan Indonesia yang mempunyai cabang pada Kota New York turut terlibat. Duta besar Republik Indonesia buat Amerika Serikat, Perwakilan permanen Indonesia di PBB & Achmad Padang yang mewakili Komunitas bertindak sebagai ketua kehotmatan.

Suasana penghitungan hasil bantuan jemaah masjid

untuk disumbangkan ke korbanTsunami Aceh.

Presiden IMCI dijabat sang Prang Sakirman, dibantu oleh yg lain nya, Ibrahim Zarkasyi, kemudian Kepada Bank Indonesia kantor cabang New York bertindak sebagai Direktur penggalangan dana. Di tokohi sang para petinggi, IMCI mampu menggalang dana donasi cukup akbar, sebagian berasal menurut pengusaha pada Indonesia. Dipertengahan 1990-an, IMCI sudah berhasil menggalang relatif dana buat membeli sebuah bangunan di wilayah Queens, New York City, seharga US$ 385.000. Bangunan bekas gudang yg dibeli tersebut menghabiskan dana US$ 125,000 buat renovasi dan ahirnya digunaka buat pertama kali satu 1/2 bulan lalu.

Di bulan Oktober 1995 delegasi IMCI bertemu menggunakan Presiden Suharto yg sedang pada kunjungan kenegaraan ke New York City buat sebuah pertemuan kenegaraan pada Markas akbar PBB New York. Dalam kesempatan tadi delegasi IMCI memaparkan planning pengembangan masjid tersebut. Presiden Suharto yang kala itu jua bertindak menjadi ketua dari Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila yg sudah membentuk ratusan masjid di semua Indonesia, mewakili Yayasan menyumbangkan dana sebanyak US$ 150,000.

Masjid Al-Hikmah ketika sedang renovasi

Renovasi berlanjut hingga lalu masjid sekitar mencapai bentuknya yg kini ini, diikuti dengan beberapa renovasi & perawatan kecil. Tepat pada lepas 17 Agustus 1995 bersamaan menggunakan Hari Ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 50, Masjid Al-Hikmah secara resmi berdiri.

Masjid tersebut diberi nama Masjid Al-Hikmah yang berarti Masjid Kebijaksanaan. Nama yang merujuk kepada ayat Al-Qur’an surah ke 16 (An-Nahl) ayat ke 125 yang artinya “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan HIKMAH dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Buka bersama di Masjid Al-Hikmah

Aktivitas Masjid Al-Hikmah

Sebagai sebuah masjid tentu saja fungsi primer nya adalah menjadi tempat ibadah. Tak terkecuali masjid Al-Hikmah New York City ini. Sejak awal Masjid Al-Hikmah telah melibatkan diri dalam layanan komunitas pada layanan sosial yg bersifat generik ditekankan kepada kaum muslimin dan tentusaja bagi Muslim Indonesia di New York.

Masjid Al-Hikmah jua menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi beragam pengajian. Salah satu acara yang telah diluncurkan sejak pertama masjid berdiri menggunakan mengabaikan ukurannya, masjid jua menaruh pendidikan singkat agama Islam buat kanak kanak dan generasi belia. Masjid Al-Hikmah jua memperlihatkan sekolah hari Sabtu, buat siswa siswa sekolah dasar & Sekolah Menengah pertama buat memberi kesempatak pada anak anak belajar mengenai Islam.

Tahun baruan di Masjid Al-Hikmah

Sekolah Sabtu ini sudah mulai bahkan sebelum Masjid Al-Hikmah berdiri & dari berdasarkan keprihatinan para orang tua terhadap kurangnya pendidikan Islam dan nilai nilai Islam pada pendidikan putra putri mereka. Saat ini dengan anak didik lebih berdasarkan seratus orang dan beberapa murid nya bukan orang Indonesia, sekolah Sabtu ini menjadi galat satu layanan sosial Masjid Al-Hikmah terhadap lingkungannya.

Masjid Al-Hikmah jua menyelenggarakan layanan sosial termasuk menyediakan loka bagi penyelenggaraan akad nikah, obrolan antar agama, bazaar, tempat para jemaah menyelenggarakan sholat Ghaib bagi kerabat yg wafat di tempat yg jauh.

Masjid Al-Hikmah hingga sekarang masih adalah satu satunya masjid yg dikelola sang Komunitas Muslim Indonesia pada New York City. Menjadi loka bagi muslim Indonesia yg tinggal pada sana buat mencicipi suasana Indonesia pada dua hari raya Islam, Sholat Jum?At, pengajian bulanan, Buka puasa bersama di bulan Ramadhan, yasinan hingga tahlilan bagi kerabat anggota komunitas yg tewas dunia.

Sekaligus sebagai sebuah kesadaran yang sudah mendarah daging bagi komunitas muslim Indonesia di New York City menjadi tambatan tradisi dan semangat Islam dalam kehidupan jaringan sosial trans nasional mereka.

Letak Masjid yg diperempatan, gampang untuk ditemukan

Koperasi Masjid Al-Hikmah

Koperasi Al-Hikmah didirikan pada bulan November 2007 sebagai upaya buat memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yg haus akan makanan asli berdasarkan kampung halaman. Menyediakan begitu banyak jenis makanan termasuk keripik, roti, kue, kuliner instan, kecap, kopi, teh & sebagainya. Termasuk jua kostum muslim, batik, jilbab & sebagainya

Pemeliharaan Masjid

Masjid Al-Hikmah terus dibenahi sang pengelola. Saat ini masjid telah direnovasi dalam bagian luar di dekorasi ulang tampilan artistiknya dengan plesteran akrilik, pualam & Mahkota hasil cetakan. Untuk sirkulas udara, masjid sudah ditambahkan dengan sepuluh ventilasi baru disekeliling bangunan. Untuk kenyamanan pejalan kaki, trotoarnya pun sudah diperbaharui.

Masih dalam proses renovasi
Bagian dalam masjid juga di renovasi termasuk penggunaan pualam, dapur dan renovasi kamar mandi, ruang sholat utama, penambahan pualam di lantai basement. Masjid Al-Hikmah juga menyediakan lift khesus bagi jemaah penyandang cacat, system pemadaman api kebakaran, serta pintu keluar darurat kea rah jalan 31st Avenue dan lain lain. Renovasi dan perawatan ini terus dilakukan terhadap semua ruang masjid ini.

Pengurus Komunitas Muslim Indonesia New York

Saat ini kepengurusan Komunitas Muslim Indonesia di New York City masih melanjutkan tradisi sejak pertama Komunitas ini didirikan, dengan melibatkan 3 pejabat pemerintah Republik Indonesia yg bertugas pada New York City di posisi penasehat, sementara pada posisi kepala di pegang sang Kyai Indonesia ternama di Amerika Serikat yg pula salah satu Imam Masjid Islamic Center New York City, M. Syamsi Ali. Selengkapnya sususan pengurus tersebut adalah sebagai berikut :

Syamsi Ali, Ketua Komunitas Muslim

Indonesia di New York City & juga Imam

Masjid Islamic Center Washington DC. Advisory Board :

(1) Bapak Wakil Tetap RI untuk PBB (2) Ibu konsul Jendral RI New York (3) Bapak Kepala Perwakilan BI New York (4) Bapak Achmad D. Padang

Board Of Director :

(1) Chairman : M. Syamsi Ali (2) Vice Chairman : M. Toha

Members :   (1). Bambang Sunarno, (2). Syaiful Hamid, (3). Amir Sumaila,  (4). Bambang Antarikso, (5). Hery Sarifuddin, (6). Dany Rukmana, (7). Denny Purba, (8). Novi Setiadi

Excecutive Officers :

(1) President : Syaiful Hamid. (2) Vise President : Bambang Sunarno. (3) Secretary-1 : Novita Sari Rahayu. (4) Secretary-2 : Ade Ratna (5). Treasurer-1 : Atiek Saridjo Treasurer-2 : Emma Alweny.

Prayer & Social Service, Prayer Service : (1) Ucok Zaidan (2) Nazarudin (3) M. Zaini (4) Husni Husain. Social Service : (1) Enny Sunarno (2) Aryani Hamid (3) T. Sunarto

Educational/Religious : Budi Setiadi

Woman Affairs : Novi Setiadi, Educational : Winy, Muthiah, Food & Beverages : (1) Tati Husni, (2) Yasmin Zein, (3) Ida Arman, (4) Sri Haryono, (5) Dini Cheney, (6) Marti Pirekso, (7) Uci Haryono, (8) Ice Budi, (9) Upi Rizal, (10) Des Darmon, (11) Tuti Soni, (12) Yushro Zaini, (13) Tenri Akbar, (14) Mimin Kunimin. Cultural : (1) Riza Pramono, (2) Ade Jorge

Public Affairs : (1) Mimi Loeis, (2) Ade Hadiz

Youth. Religious : (1) Adhi Ardianto, (2) Rundi Yazid. Sport Activity : (1) Adi Hernowo, (2) Bayu Saputra

Saturday School, Principal : M. Toha

Household Utility : Soni Tuyulawe, Ahmadi Syarifuddin

Building Development and Maintenance : Kasiyo Marjo, Djoko Supatmono

Business Development/ Koperasi : Aisyah Kasim

Foto foto Masjid Al-Hikmah

Referensi

Situs resmi masjid Al-Hikmah - http://www.masjidalhikmahnewyork.org

Foto foto diambil dari situs remi masjid Al-Hikmah dan dari Street View Google Earth.

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag, Belanda (Bagian I)

Masjid Al-Hikmah Masjid Komunitas Muslim Indonesia pada Den Haag, Belanda

Resminya masjid ini bernama Masjid Al-Hikmah terletak di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag, Negeri Belanda. Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang formasi jumlah masjid pada Belanda. Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 pada seluruh Belanda. Masjid Al-Hikmah ini pula bukan masjid pertama yang didirikan oleh Muslim Indonesia atau muslim yang mempunyai keterikatan menggunakan Indonesia pada Belanda. Sebelumnya telah terdapat Mushola Al-Ittihad pada Daguerrestr No 2 Den Haag, dan Masjid Maluku An-Nur pada Balk yang didirikan sang muslim mantan pasukan KNIL di tahun 1950-an.

Dari sudut manapun kita memandang masjid Al-Hikmah yang -

dikelola PMME ini sama sekali tak berbentuk seperti masjid yang

biasa kita kenal.

Menjadi cukup menarik karena sebelumnya di blog ini juga di postingan sebelumnya kita telah mengulas masjid Indonesia di New York City, Amerika Serikat yang memiliki nama yang sama dengan masjid Indonesia di Den Haag ini. Sama sama bernama Masjid Al-Hikmah. Masjid Al-Hikmah di Den Haag ini dikelola oleh PPME berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Masjid Al-Hikmah tak hanya di ramaikan oleh warga Indonesia tapi juga turut diramaikan oleh kaum muslimin dari berbagai warga negara di Den Haag termasuk dari Turki, Maroko, dan muslim Belanda, terutama di sholat jum’at dan dua sholat hari raya.

Lokasi Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Mesjid berlantai dua ini berada persis di seberang jalur trem 16 menuju Wateringen. Berikut alamat lengkap masjid ini menurut foursquare. Berkat petunjuk dari situ situ juga kutemukan lokasi masjid ini di google maps. Maklum karena situs resmi PPME sendiri tak mencantumkan peta masjid ini. (please feel free to feed back if the place i pointed is not correct)

Masjid Al-Hikmah

Heeswijkplein 170-171

btw Medlerstraat & Heeswijkplein

Den Haag, The Netherlands

Lihat Peta Lebih Besar

Sejarah Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Masjid Bekas Gereja Immanuel. Wakaf H. Probosutedjo

Dari luar, bangunan itu tidak mirip dengan masjid umumnya. Rumah panjang bertingkat dua, tanpa kubah. Suasana masjid baru terlihat ketika masuk ke dalam. Ada mihrab dan bentangan sajadah. Masjid Al-Hikmah di Heeswijkpein, Moerwijk kota Den Haag itu awalnya adalah gereja Immanuel.

Pada akhir 1995, di saat umat Islam Indonesia berupaya keras mengumpulkan dana untuk mendirikan masjid, setelah musholah Al-Ittihad tidak dapat lagi menampung jamaah yang terus bertambah. Adalah Bapak H. Probosutedjo, pengusaha Indonesia, yang membeli gereja tersebut seharga sekitar 1.350.000 golden dan mewakafkannya atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang wafat di Leiden, Desember 1995 setelah dirawat di kota itu.

Susana di deopan Masjid setelah Sholat Idul Fitri (foto dariBudi Adi Tirta di flickr)

Masjid itu diserahterimakan Pak Probo untuk umat Islam pada 1 Juli 1996 atau 15 Safar 1417 H. Awal mulanya masjid ini akan diberi nama Al-Ikhlas, tapi kemudian oleh Probosutedjo nama itu diubah dengan nama Al Hikmah. Pemilihan nama ini langsung disampaikan oleh Probo saat meresmikan masjid ini.

Dipilihnya bekas bangunan gereja untuk masjid ini tak lepas dari permasalahan tidak mudahnya mendirikan bangunan baru di Belanda, sementara ketika itu banyak gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, masyarakat sekitar gereja lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada digunakan untuk kepentingan lain, diskotik misalnya. Gereja Immanuel itu kini menjadi masjid. Lantai bawah digunakan untuk pengajian dan kegiatan remaja Islam. Lantai atas untuk shalat. Pada Ramadhan, masjid Al-Hikmah dipenuhi warga Indonesia, yang diperkirakan lebih 5.000 orang.

Interior Masjid Al-Hikmah, Den Haag. Interior masjid ini memang minim dekorasi.

di bagian ujung terlihat kaligrafi khas Aceh yang dipasang menghias masjid. (foto dari PPME)

Masjid Al-Hikmah Den Haag ini merupakan berkah sendiri bagi muslim Indonesia di Den Haag, mengingat sekarang kini tersiar kabar bahwa pemerintah Belanda sudah mengeluarkan aturan yang melarang penjualan gereja tak terpakai untuk di ubah menjadi masjid. Gereja gereja tak terpakai di arahkan untuk di alih fungsi menjadi perkantoran ataupun tempat tinggal. Lagipula bila pembelian gedung dilaksanakan saat ini, sudah pasti harganya sudah jauh melambung tinggi.

Proses renovasi gereja menjadi masjid

Karena bangunan awalnya adalah sebuah gereja yang dilengkapi dengan mimbar gereja serta balkon, maka terlebih dulu dilakukan beberapa renovasi. Bahkan lantainya dulu tidak rata karena dibuat miring untuk jemaah gereja. Seperti gedung teater. Karena itulah dilakukan renovasi. Lantai dua yang kini biasa digunakan untuk salat Jumat, Tarawih, sekaligus Idulfitri, diratakan dengan cara ditutup gabus khusus. Bahkan pemanas ruangan berada di bawah lantai sehingga saat winter (musim dingin), suhu ruangan tetap hangat bagi jemaah. Selain merenovasi lantai, Masjid Al Hikmah juga berbenah agar terlihat lebih Islami sebagai tempat ibadah umat muslim.

Kaligrafi karya Ustadz Ali Mahfud di Masjid Al-Hikmah Den Haag

(foto daridutakaligrafi)

Pendirian bangunan di Belanda memang tak mudah, jangankan untuk mendirikan bangunan baru ataupun mendirikan masjid, untuk sekedar membuat lukisan kubah disetiap jendela masjid Al-Hikmah ketika dalam renovasi untuk mengubahnya dari sebuah gereja menjadi bangunan yang layak untuk sebuah masjid, takmir masjid harus meminta izin kepada pihak pemerintah kota atau Gementee. Bahkan gambar kubah yang akan dipakai juga harus disetujui terlebih dahulu. Tidak boleh sembarangan menambah apa pun yang terlihat di luar bangunan masjid.

Selain itu, bila di kampung-kampung di Indonesia, sering terdengar lantunan ayat-ayat suci Alquran dari pengeras suara di surau-surau dan masjid masjid, maka di Belanda, kita tidak akan pernah mendengarnya. Masjid memang tidak diperkenankan memasang pengeras suara di luar. Pengeras suara hanya ada di dalam ruangan. Di tahun 2009, interior masjid Al-Hikmah diperindah dengan lukisan kaligrafi karya kaligrafer Indonesia KH Ali Mahfudz Suyat MA yang sengaja di datangkan ke Den Haag Belanda untuk memperindah Masjid tersebut. Beliau juga yang kemudian menjadi imam dan khatip sholat Idul Fitri di Masjid Al-Hikmah tahun 2009.

Berikut ini video sekilas Masjid Al-Hikmah Den Haag

Foto foto Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Jemaah Sholat Ied di Masjid Al-Hikmah yang membludak hingga keluar masjid

(foto dari wartakota)

Susana diluar masjid di cuaca musim gugur setelah sholat ied (detikfoto)
Sebelum Sholat Idul Fitri dilaksanakan Panitia masih melakukan penerimaan Zakat

Mal dan Zakat Fitrah (detikfoto)

Jemaah idul fitri yang membludak di dalam masjid (detikfoto)
Muslimah Indonesia di Den Haag, Belanda

Lanjutkan membaca ke bagian II

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian pertama)

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian kedua)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia di New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina – Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia di Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Sunday, July 12, 2020

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag, Belanda (Bagian II)

Lanjutan dari Bagian I

Masjid Al-Hikmah, Den Haag, Belanda (foto dari PPME)

Yang unik dari Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Ada sesuatu yang unik di Masjid Al-Hikmah, Den Haag ini. Di sholat idul fitri ketika jemaah masjid membludak & tidak tertampung buat pelaksanaan sholat Ied sekaligus, masjid Al-Hikmah ini menggelar sholat Ied 2 kali atau dua babak, misalnya yang terjadi di Idul Fitri tahun 2009 kemudian, babak pertama bertindak selaku imam Shalat Id merupakan KH Ali Mahfudz Suyat MA, seorang ulama & ahli seni kaligrafi yang sengaja didatangkan secara spesifik dari Indonesia. Kemudian Sholat Id shift ke 2 dipimpin oleh imam KH Naf'an yg sehari-hari merupakan imam masjid Al Hikmah Belanda. Sholat Id digelar tepat pukul 10.00 saat setempat & dilanjutkan menggunakan khotbah Idul Fitri oleh KH Ali Mahfudz. Sholat ied di masjid Al-Hikmah ini selain dihadiri sang jemaah yang membludak, pula pada hadiri sang para petinggi menurut KBRI pada Den Haag.

Demikian banyaknya umat, sebagai akibatnya shalat Id terpaksa dilakukan 2 babak.

babak pertama yang sudah selesai shalat diminta duduk merapat sambil

menunggu khotbah (detikfoto)

Di sholat idul fitri jemaah berdasarkan banyak sekali bangsa yang memadati masjid ini nir saja diruang dalam masjid akan tetapi jemaah pula rela sholat ied pada halaman masjid beralaskan terpal & papan, pada suhu musim gugur Belanda yg permanen saja dingin bagi orang Indonesia yg tak terbiasa, maklumlah suhu hangat disana hanya kurang lebih 13 derajat selsius.

Kapasitas dan Kegiatan Masjid Al-Hikmah Den Haag

Masjid Al Hikmah merupakan bangunan dua lantai yang mampu menampung lebih kurang 800 jamaah. Pada hari Jumat dan selama bulan Ramadan, umumnya jumlah jamaah mampu mencapai sekitar 400 orang. Lantai dasar, digunakan buat aktivitas remaja masjid Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) Den Haag, & kegiatan pengajian lainnya, ad interim lantai atas, dipergunakan buat sholat. Pada akhir pekan masjid ini biasanya menggelar aktivitas pengajian, Taman Pendidikan Alquran (TPA) & buka puasa beserta yang diikuti muslim menurut berbagai komunitas. Tak hanya muslim Indonesia, akan tetapi juga Maroko, Turki, Somalia, dan Belanda.

Duta Besar Republik Indonesia Untuk Negeri Belanda, Bapak J.E. Habibie Ketika turut

serta dalam sholat berjamaah Idul Fitri di masjid Al-Hikmah Den Haag (detikfoto)

Masjid Masjid di Belanda

Berdirinya Masjid Al-Hikmah memperpanjang kumpulan jumlah masjid di Belanda. Pada 1990 saja, jumlah masjid sudah mencapai 300 pada semua Belanda. Ini meningkat jauh menurut 1971, yang saat itu hanya masih ada beberapa buah, di antaranya Masjid Mubarak yg didirikan kalangan Ahmadiyah (1953), dan Masjid Maluku An-Nur di Balk. Masjid Maluku itu didirikan eks anggota Koninklijk Nederlandse Indische Leger (KNIL). Pada 1951-1952 lebih kurang 12 ribu anggota KNIL bersama keluarganya berdasarkan Maluku dibawa ke Belanda. Sebagian mereka beragama Kristen, sebagian lainnya Islam. Saat ini diperkirakan terdapat lebih 50 ribu orang Maluku di Belanda.

Indonesia & Islam di Belanda

Muslim aneka macam bangsa memadati Masjid

Al-Hikmah Den Haag Untuk Sholat Idul Fitri

(detikfoto)

Berdasarkan data statistik Central Bureau de Statistiek 1994, jumlah umat Islam berdasarkan 15.341.553 jumlah penduduk Belanda waktu itu, menempati posisi ketiga (tiga,7 persen), selesainya Katolik Roma (32 persen), dan Kristen Protestan (22 persen). Sebanyak 40 % rakyat Belanda mengaku nir beragama, & sekitar 0,5 persen pemeluk Hindu. Pada 1971, jumlah umat Islam 54.300 jiwa, dan meningkat pesat dalam 1993 sebagai 560.300 jiwa. Kenaikan rata-rata 0,6 % setahun. Umat Islam itu asal dari Turki (46 persen), Maroko (38,8 persen), Suriname (6,dua %), Pakistan (2,dua persen), Mesir (0,7 persen), Tunisia (0,9 persen), Indonesia (1,6 persen), & lainnya (3,9 persen). Bertambahnya jumlah umat Islam menurut tahun ke tahun itu, diperkirakan dari dari imigran dan sebagian lain menerima hidayah, dan pernikahan.

Muslim pertama di Belanda merupakan dubes kesultanan Aceh Darussalam

Islam di Belanda awalnya diperkenalkan sekelompok mubaligh Ahmadiyah. Kelompok yang menamakan dirinya Holland Mission ini giat berdakwah melalui diskusi dan berbagai tulisan. Mereka juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Belanda. Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, seperti dikutip Muhammad Hisyam dalam buku PPME; Sekilas Sejarah dan Peranannya dalam Dakwah Islam di Nederland, orang Islam pertama yang datang ke Belanda justru adalah Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Hanya saja, kedatangan Abdus Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu kunjungan yang singkat.

Selain Ahmadiyah, Islam mulai berkembang melalui orang-orang Indonesia. Ketika Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yg sebagian besar beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan Perkoempoelan Islam. Organisasi, yg didirikan seseorang Belanda Van Beetem yang lalu berganti nama menjadi Mohammad Ali, ini diakui pemerintah Belanda, dan merupakan organisasi Islam pertama.

Seorang petugas kepolisian Negeri Belanda

Berjaga jaga di areal masjid Al-Hikmah saat

pelaksaan Sholat Hari Raya (detikfoto)

Selanjutnya, pada 1951-1952, lebih kurang 12 ribu anggota KNIL yg sebagian besar berasal menurut Maluku, sebanyak 200 pada antaranya beragama Islam, tiba ke Belanda. Mereka yang semula ditempatkan pada satu kamp menggunakan non-Muslim, lalu memisahkan diri & bergabung sesama Muslim pada kamp Wijldemaerk, Desa Balk, Provinsi Friesland. Di sinilah mereka menciptakan Masjid An-Nur yg dipimpin Haji Ahmad Tan. Sebagian lain, yg pindah ke Riiderkerk, mendirikan Masjid Baiturrahman yg indah dalam 1990. Masjid ini pendanaannya dibantu Pemerintah Belanda.

Muslim Indonesia di Belanda dan PPME

Seperti Muslim yang berasal dari negara negara lain termasuk dari Maroko, Suriname, dan Tunisia, yang mendirikan organisasi, tempat ibadah, dakwah, dan membina agama bagi kelompoknya, Muslim Indonesia pun membentuk kelompok tersendiri. Selain Perkoempoelan Islam, juga berdiri Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) pada 12 April 1971 atau 17 Safar 1391 H, Abdul Wahid Kadungga sebagai ketua untuk pertama kali dan sekteratis dijabat oleh Hambali Maksum. PPME yang hingga kini tetap bertahan, didirikan oleh mahasiswa dan pemuda Indonesia di Belanda dan Timur Tengah. Salah satu mahasiswa Indonesia turut membidani PMME adalah mendiang K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mantan Presiden RI ke-4 yang ketika itu di unggulkan menjadi ketua untuk pertama kali namun menolak karena ingin kembali ke tanah air.

Jemaah dari berbagai bangsa turut memadari masjid Al-Hikmah (detikfoto)

Sesuai dengan keputusan Ratu Juliana dan Menteri Kehakiman pada tanggal 6 Mei 1974, PPME yang berstatus “Vereniging atau Perkumpulan” telah mendapat persetujuan untuk menjalankan kegiatannya selama 20 (dua puluh) tahun. Pada tanggal 14 Desember 1995 keputusan tersebut di ubah sesuai dengan perubahan undang-undang yang berlaku menjadi untuk kurun waktu yang tidak terbatas. Seiring perkembangan waktu dan besarnya potensi masyarakat Islam Indonesia, dirasa perlu adanya perpanjangan fungsi dan peran PPME di berbagai kota di Negeri Belanda, maka tidak lama kemudian secara bertahap dibentuk PPME Cabang Den Haag, PPME Cabang Rotterdam, PPME Cabang Amsterdam (1975), PPME Cabang Heemskerk (1998) dan yang terakhir PPME Cabang Breda (2005).

Video Masjid Al-Hikmah Den Haag

Tersedia poly rekaman video aktivitas masjid Al-Hikmah ini di situs you tube. Berikut ini saya pilihkan 2 diantaranya. Masing masing merupakan video program ramah tamah dan Cak Nun yg tampil di Masjid Al-Hikmah.

Foto Foto Masjid Al-Hikmah, Den Haag

Suasana di dalam Masjid Al-Hikmah
Suasana Idul Fitri 1429 H di dalam Masjid Al-Hikmah (detikfoto)
Jemaah wanita masjid Al-Hikmah, Den Haag (detikfoto)
Rapat 1 Syawal pengurus masjid AL\l-Hikmah, Den Haag
Jemaah wanita pun harus bergantian untuk sholat idul fitri

Referensi

media isnet-Semburat Cahaya Islam di Belanda

kaligrafi dari – dutakaligrafi

foto sholat ied dari - detikfoto

situs resmi PPME - http://www.ppme.nl

wartakota-Sholat Id di Belanda Digelar Dua Ronde

tribunjabar - Masjid Berlantai Gabus

tribunjabar - Keliling Dunia Berkat Kaligrafi

antara/embunrevolusi – bila gereja di belanda bermetamorfosis menjadi masjid

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian pertama)

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian kedua)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia pada Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia pada Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia pada Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia di Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done