Islami Pedia: masjid para wali
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid para wali. Show all posts
Showing posts with label masjid para wali. Show all posts

Friday, October 23, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Rangkaian bangunan di komplek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini ditandai dengan tembok pagarnya yang berwarna merah dengan tiga gerbang paduraksa. Bangunan aslinya adalah bangunan dengan atap paling tinggi seperti terlihat pada foto di atas. Langgam bangunan Jawa sangat kental pada bangunan masjid ini.

Pembauran Seni Arsitektural di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Bangunan utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun dalam bentuk atap bersusun tiga meski tidak berbentuk piramida (prisma) seperti Masjid Agung Demak. Makna mendalam terselip dalam susunan atap yang bersusun tiga ini. kepercayaan lama ditanah air memaknainya sebagai tiga tahapan kehidupan manusia mulai dari kehidupan di dalam Kandungan, di alam dunia dan di alam setelah kematian. Sedangkan dalam makna Islami diterjemahkan sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Selain bentuk atap limas bersusun, di masjid ini juga menyerap bentuk punden berundak pada pagar batanya yang mengitari kawasan masjid. Menilik jauh ke belakang, kamus besar bahasa Indonesia memaknai punden berundak ini sebagai “bangunan pemujaan tradisi megalitikum yg bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat”. Dan nyatanya makna tersebut tak bergeser hingga kini meski dalam kontek yang berbeda.

Bentuk Gerbang paduraksa dimasjid agung Cirebon, digunakan pada tiga gerbangnya termasuk gerbang utama. Bentuk gerbang seperti ini merupakan warisan budaya sebelum Islam.

Selain itu tiga gerbang depan masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengadopsi bentuk gerbang Paduraksa yang biasa digunakan pada bangunan bangunan candi, dengan berbagai modifikasi, namun ornamen punden berundak tak hilang dari gerbang ini, termasuk ornamen yang ditempelkan menjadi penghias gerbang dan pintu besarnya.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Perbedaan mendasar antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini baru terasa pada saat kita masuk ke dalam bangunan utama yang merupakan bangunan asli. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter.

seluruh dua belas sokoguru utama di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa sudah di topang dengan besi baja untuk menjaga keutuhan struktur kayu bangunan masjid tua ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian.

Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika. Keseluruhan sokoguru masjid ini berdiri di atas umpak batu kali. Umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat dan di bagian serambi berbentuk kotak.

Rangkaian rumit saling silang pasangan kayu konstruksi di dalam masjid ini benar benar melemparkan kita ke masa lalu mengingat teramat sulit untuk menemukan bangunan baru dengan rancangan yang serupa. Atap puncak masjid (wuwungan) ditopang oleh dua sokoguru paling tengah. Dan diantara dua sokoguru ini yang menjadi titik tengah bangunan utama sekaligus menjadi titik berdirinya muazin saat mengumandangkan azan termasuk azan pitu (azan tujuh) saat sholat Jum’at.

::Maksurah::

Maksurah. Di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ada dua Maksurah. Satu maksurah ditempatkan di shaf paling depan bersebelahan dengan mimbar, satu maksurah lagi ditempatkan pada shaf paling belakang disebelah kiri pintu masuk utama.

Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman.

Maksurah, banyak ditemui di masjid masjid tua Arabia, Afrika Utara hingga wilayah wilayah bekas kekuasaan emperium Turki Usmani. Fungsi awalnya adalah sebagai perlindungan bagi Sultan dan pejabat tinggi kerajaan selama melaksanakan sholat di masjid dari kemungkinan serangan fisik terhadap petinggi kerajaan. Di dalam maksurah ini pada masanya juga dilengkapi dengan senjata ringan pembelaan diri seperti tombak dan lainnya.

::Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa::

Ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.

Menjadi lebih menarik manakala kita masuk ke dalam bangunan masjid ini. nyaris tak ada ornamen Islami seperti yang biasa kita temukan di dalam sebuah bangunan masjid bergaya Arabia. Mihrab dan mimbar di masjid ini sepi dari ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Mihrab nya sendiri dibangun dari batu batu pualam berukuran floral, yang berpusat pada bentuk yang menyerupai bunga matahari pada bagian puncak mihrab.

Adanya bentuk bunga matahari di mihrab masjid ini mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit. Memang tak mengerankan, karena konon memang proses pembangunan masjid ini turut melibatkan Raden Sepat yang tak lain adalah panglima pasukan Majapahit yang kalah perang dalam serangannya ke Demak di masa kekuasaan Raden Fatah dan kemudian memeluk Islam.

Pola ukiran diatas mimbar masjid Agung Cipta Rasa ini sangat mirip dengan bentuk mahkota raja raja Jawa. Lebih menariknya lagi adanya ornament bunga matahari di bagian tengahnya itu mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit.

Maka wajar bila kemudian ada banyak kemiripan antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Sang Cipta Rasa ini termasuk Masjid Agung Banten di Banten Lama, provinsi Banten karena memang melibatkan orang yang sama dalam proses pembangunannya. Sampai sejauh ini belum ditemukan catatan tentang Raden Sepat dan sisa pasukannya yang dibawa ke Cirebon termasuk dimana beliau dimakamkan.

Seluruh bagian mihrab masjid ini menggunakan batu pualam putih. Selain ukiran floral dibagian atas mihrab, juga terdapat dua pilar pualam disisi kiri dan kanannya. Konon pilar ini di ukir oleh Sunan Kali Jaga dalam bentuk kelopak bunga teratai. Selain ukiran floral di sisi kiri dan kanan bagian depan mihrab ini terdapat ukiran geometris yang sangat menarik serupa dengan ukiran pada dinding depan masjid. Di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ubin tersebut dipasang olehSunan Gunung Jati,Sunan Bonang, danSunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Balok balok penghubung antara satu tiang dengan tiang lainnya di masjid ini bersusun hingga lima balok penghubung antara masing masing tiang untuk saling menguatkan, sedangkan dibagian bawah masing masing sokoguru ini berupa umpak batu berbentuk bundar.

Ada dua mimbar yang serupa di dalam masjid ini. dua duanya penuh dengan ukiran yang sangat indah. Satu mimbar diletakkan di sisi mihrab yang digunakan saat sholat Jum’at dan dua hari raya sedangkan mimbar yang lainnya diletakkan disebelah maksurah merupakan mimbar lama yang sudah tidak dipakai lagi. Pada bagian kaki mimbarnya ada bentuk seperti kepala macan, mengingatkan pada kejayaan Prabu Siliwangi raja Padjajaran yang tak lain adalah Kakek dari Sunan Gunung Jati dari garis Ibu.

::Masjid dengan Sembilan Pintu::

Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi utara dan selatan (kanan dan kiri) bangunan utama dengan ukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu.

Bungkukkan badan, rendahkan hati. Adalah pesan tak tertulis setiap kali kita akan masuk ke dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini melalui salah satu dari delapan pintu sampingnya yang sengaja dibuat dalam ukuran kecil.

Pada hari biasa hanya ada satu pintu yang senantiasa dibuka oleh pengurus masjid yakni satu pintu di sisi kanan bangunan. Seluruh delapan pintu samping masjid ini sengaja dibuat dalam ukuran kecil dan sempit memaksa setiap orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

Delapan pintu samping ini juga dilengkapi dengan daun pintu yang ukurannya juga kecil di cat warna hijau dan sepi dari ukuran. Berbeda dengan pintu utamanya yang berukuran besar dan penuh dengan ukiran yang sangat indah.ruang dalam masjid ini juga tidak digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu. Pelaksanaan sholat lima waktu dilaksanakan di pendopo depan. Sebuah partisi berukir dari kayu jati di sisi depan area pendopo sebagai penanda tempat bagi imam.

::Masjid Benteng atau Benteng Masjid ?::

Latar belakang merah pada foto interior masjid di atas merupakan tembok bata yang mengelilingi seluruh bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Tembok bata ini dibangun hanya tak sampai setengah dari tinggi keseluruhan bangunan-nya menyisakan sisi atasnya tetap terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Namun bagian itu kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat.

Tembok bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dari susunan bata merah yang sama sekali tidak diplester, namun memiliki ketebalan hampir 70cm. tembok yang sangat tebal layaknya tembok sebuah benteng. Tembok ini hanya dibangun setengah saja tidak sampai ke atap, bagian atasnya dibiarkan terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Hanya saja bagian terbuka di sisi atas tembok ini kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat untuk menghindari masuk dan bersarangnya burung dan hewan lainnya di dalam masjid.

Namun kehadiran dinding kaca dan anyaman kawat tersebut justru menghilangkan salah satu ciri khas masjid ini yang memang dirancang terbuka sebagai sebuah bangunan tropis. Ditambah lagi dengan bentuk ornamen kaligrafi yang digunakan untuk menghias dinding kaca tersebut tak senada dengan arsitektural keseluruhan bangunan asli. Ditambah lagi dengan konsekwensi rusaknya sirkulasi udara hingga harus dikonpensasi dengan pemasangan beberapa kipas angin di bagian dalam.***

Bersambung kebagian-3

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Thursday, October 22, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Masjid Agung Sang Cipta Rasa di depan Keraton Kasepuhan Cirebon ini dibangun setahun setelah pembangunan Masjid Agung Demak sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa. Dibangun atas usulan Putri Pakungwati kepada suaminya, Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) merupakan masjid tua di kompleks Keraton Kasepuhan,Cirebon,Jawa Barat,Indonesia. masjid ini adalah masjid tertua diCirebon,sekaligus sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Dibangun sekitar tahun 1480M atau semasa denganWali Songo menyebarkanagama Islam di tanahJawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.

Pembangunanmasjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang terdiri dari mantan pasukan Majapahit, dari Demak, dan dari Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya,Sunan Gunung Jati menunjukSunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu,Sunan Gunung Jati juga memboyongRaden Sepat, seorang mantan panglima pasukan Majapahit yang juga memiliki kemampuan rancang bangun, untuk membantuSunan Kalijaga merancang masjid tersebut.

Lokasi Masjid Agung Sang Ciptarasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Jalan Keraton Kasepuhan 43,Kelurahan Kesepuhan

Kecamatan Lemahwungkuk,Kota Cirebon

Jawa Barat,Indonesia

6° 43' 31.97" S, 108° 34' 11.71" E

Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak ±100 m sebelah baratlaut dari Keraton Kasepuhan, tepatnya disisi barat alun alun keraton Kesepuhan. Ciri utama bangunan masjid ini adalah tembok pagar kelilingnya yang dibangun dari bata merah dengan tiga pintu gerbang berbentuk padureksa.

Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Situs pemerintah propinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa : “Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 M oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Mesjid ini dinamai Sang Cipta Rasa karena merupakan pengejawantahan dari rasa dan kepercayaan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933, terlihat bangunan asli dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebelum dilengkapi dengan berbagai bangunan tambahan seperti yang kini kita lihat (foto : wikipedia)

Penduduk Cirebon pada masa itu menamai mesjid ini Mesjid Pakungwati karena dulu terletak dalam komplek Keraton Pakungwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan komplek Keraton Kesepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh”.

Masih menurut situs yang sama, disebutkan bahwa Masjid Sang Cipta Rasa ini menjadi tempat tutup usianya Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, dalam usia yang sangat tua di tahun 1549. Nama keraton Pakungwati bagi keraton kesultanan Cirebon (kini menjadi keraton Kasepuhan) dinisbatkan kepada dirinya karena memang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, ayahanda beliau yang juga merupakan putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.

Denah Masjid Agung Sang Ciptarasayang menunjukkan bagian bagian masjid lama : garis hitam A-A merupakan dari batu bata merah yang amat tebal. B: Michrab. C-C: titik penjuru dari bagian masjid lama, batas perluasan setelah terjadi kebakaran di abad ke 15. Tiang tiang kayu asli dari bangunan lama merupakan tiang tiang dalam kotak hitam C-C yang ditandai dengan tanda hitam, sedangkan tiang tiang yang dibangun kemudian di abad ke 19 adalah tiang yang ditandai dengan tanda lingkaran. (foto darilecturer.ukdw.ac.id)

Adapun Raden Sepat sebelumnya merupakan panglima pasukan Majapahit yang ditugasi memimpin pasukan menyerbu dan menaklukan Kesultanan Demak yang baru berdiri. Penyerbuan yang berahir dengan kekalahan. Beliau dan sisa pasukannya tak pernah kembali ke Majapahit karena memutuskan untuk mengabdi kepada Sultan Demak dan masuk Islam.

Pasangan Masjid Agung Demak

Menurut satu riwayat tutur menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini merupakan pasangan dari Masjid Agung Demak. Pada waktu pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Karena merupakan masjid yang sepasang maka, kedua masjid ini memiliki wataknya masing masing. Bila masjid Agung Demak berwatak Maskulin dengan tampilannya yang gagah, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berwatak feminim.

Masjid Sepasang. Bisa temukan kemiripannya ?. sejarah tutur menyebutkan bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dengan watak maskulin maka bangunan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon dibangun dengan watak Feminim.

Diceritakan juga bahwa para wali pada saat masjid ini selesai didirikan berjamaah sholat Maghrib disini dan kemudian Sholat Subuh di Masjid Demak. Sementara versi yang lain bahwa masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam, karena pada waktu ke esokan harinya sudah dipakai untuk sholat subuh. Sebagai sebuah pasangan disebutkan bahwa pembangunan dua masjid ini dilakukan bersamaan atau setidaknya dalam waktu yang tidak terpaut jauh.

Kontradiksi Tahun Pembangunan

Hanya saja bila mengikuti tahun pembangunan seperti yang disebut oleh situs pemprov Jabar bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun tahun 1498M, sedangkan pembangunan Masjid Agung Demak oleh Raden Fatah dilaksanakan tahun 1401 Saka atau 1477M (dua tahun setelah berdirinya kesultanan Demak), sepertinya cerita bahwa masjid ini dibangun dalam waktu bersamaan diragukan keberannya.

Gerbang Paduraksa atau Padureksa warisan dari kebudayaan Indonesia sebelum Islam di serap menjadi gerbang Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menjadi satu penanda bahwa masjid agung Cirebon dibangun oleh dan untuk muslim yang berasal dari berbagai latar belakang. pembangunan masjid ini pun dalam sejarahnya melibatkan berbagai kelompok masyarakat Jawa, Demak, Majapahit dan Cirebon sendiri.

Catatan Keraton Kasepuhan Cirebon, yang mengacu pada candrasengkala, masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada “waspada panembahe yuganing ratu”.Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka. Dari catatan tahun Saka tersebut-pun terpaut waktu 21 tahun yang memisahkan pembangunan antara kedua bangunan masjid tua tersebut.

Namun beberapa sejarawan justru memilih tahun 1478 sebagai tahun pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa bersamaan dengan didirikannya Kesultanan Cirebon dengan Sultan pertamanya Sunan Gunung Jati. Tahun 1478 hanya selisih satu tahun lebih muda bila dibandingkan dengan pembangunan masjid Agung Demak (1477).

Arsitektural Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tiga gerbang di bagian depannya tapi hanya satu gerbang di sebelah utara (kanan) ini yang paling sering dibuka di hari hari biasa menjelang waktu sholat. Diluar waktu sholat pengunjung harus melewati gerbang belakang dengan melewati jalan setapak di sebelah kanan tembok utara masjid atau lebih ke kanan dari foto di atas.

Dari sudut pandang arsitektur, Masid Agung Sang Cipta Rasa ini memang mewakili watak feminin. Tidak seperti masjid-masjid wali pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug atau limas bersusun dengan jumlah ganjil, Masid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan diatasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Bisa jadi inipun juga perlambang dari sifat feminin-nya. Bentuk konstruksi secara keseluruhan-pun terlihat lebih pendek dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang kelihatan tinggi dan gagah.

Denah Bangunan

Bangunan utama masjid Agung Sang Cipta Rasa berdenah persegi panjang seluas sekitar 400 meter persegi. Beberapa bangunan tambahan kini mengitari bangunan utama. Ada dua pendopo besar persegi panjang yang dibangun dan ditambahkan disisi timur (depan), dua pendopo panjang di sisi utara (kanan) dan satu pendopo dengan ukuran yang serupa juga dibangun disisi selatan (kiri).

Denah Masjid Agung Sang Cipta Rasa saat ini. Gerbang belakang yang ditunjukkan dengan panah warna ungu adalah gerbang yang senantiasa dibuka untuk pengunjung masjid 24 jam sehari semalam. pengunjung luar kota biasanya akan langsung dikenali oleh para pengurus masjid dan diminta untuk mengisi buku tamu yang sudah disediakan di meja kecil di pendopo beberapa meter dari gerbang tersebut.

Bangunan tempat wudhu dan kamar mandi juga dibangun kemudian di sisi paling utara dan selatan. Sayangnya bangunan tempat wudhu dan kamar mandi ini dibangun dengan tidak mengikuti pakem dari bangunan utama maupun bangunan tambahannya sehingga terlihat sangat kontras. Ditambah lagi dengan tidak adanya pemisahan yang jelas antara area jemaah wanita dan pria.

Bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dapat dikenali dari tembok pagar dan gapuranya yang sangat khas. Tembok pagar masjid ini menggunakan susunan bata merah tanpa di plester memberikan kesan yang sangat unik, ditambah dengan padanan gerbang paduraksa yang kini menjadi ikon masjid Sang Cipta Rasa.***

Bersambung kebagian-2

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Wednesday, October 21, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Gerbang sisi baratnya.

Kebakaran dan Renovasi Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Baik catatan sejarah maupun sejarah tutur yang berkembang di masyarakat Cirebon, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini sempat mengalami kebarakaran hebat pada masa Awal bedirinya bangunan masjid ini. Disebutkan bahwa masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat yang pada bagian atapnya yang masih menggunakan daun rumbia sebagai akibat terror dari pendekar Menjangan Wulung yang memiliki kesaktian ilmu hitam. Kisah ini terkait dengan sejarah awal dikumandangkannya Azan Pitu (azan tujuh) di Masjid ini.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1549, Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang merupakan istri pertama Sunan Gunung Jati, wafat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam usia yang sangat tua setelah turut serta berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda Masjid Agung ini. Apakah kedua rentetan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama ? wallohua’lam. Paska kebararan yang mengakibatkan kerusakan pastinya dilakukan perbaikan atas bagian bagian yang rusak, meski tak ada catatan pasti tentang proses perbaikan tersebut.

:: Pemugaran Oleh Pemerintah R.I. ::

Prasati Pemugaran Masjid Agung Cirebon oleh Pemerintah R.I.

Beberapa meter dari pintu gerbang utara masjid, menghadap ke arah pintu gerbang tersebut, kini berdiri sebuah prasasti peringatan tentang renovasi yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap masjid ini dan diresmikan pada tanggal 23 Februari tahun 1978. berikut kutipan isi dari Prasasti tersebut :

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PADA HARI KAMIS TANGGAL 23 FEBRUARI 1978 MENTERI PdanK TELAH MERESMIKAN HASIL PEMUGARAN MESJID AGUNG CIREBON…..MENTERI PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN R.I…… SJARIF THAJEB”

Penyanggah penyanggah besi baja di dalam masjid Agung Sang Cipta Rasa dipasang pada 12 sokoguru masjid ini untuk menopangnya, mengingat bangunan masjid ini yang sudah tidak muda lagi.

Kemungkinan besar pemugaran yang dimaksud dalam prasasti ini adalah penambahan tiang besi baja pada 12 sokoguru di dalam ruang utama masjid serta beberapa sokoguru dibagian luar. Dan penambahan empat pendopo di sekeliling bangunan utama. Mengingat lokasi penempatan dari prasasti ini sendiri berada pada sisi luar pendopo.

Hikayat Azan Pitu, Memolo Dan Masjid Berpasangan

Azan Pitu atau azan tujuh adalah tradisi azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Biasanya azan ini dilantunkan saat jelang sholat subuh dan sholat Jum’at. Selain azan pitu, di Cirebon juga mengenal azan awal sebelum sholat subuh sebagai pengingat bagi kaum muslimin bahwa waktu subuh akan segera tiba supaya bersiap diri.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Dari titik tengah ini azan pitu dikumandangkan dari masjid ini.

Azan pitu pada mulanya dilaksanakan atas perintah dari Sunan Gunung Jati untuk memusnahkan pengaruh sihir yang ditebarkan oleh Menjangan Wulung terhadap jemaah yang akan masuk ke masjid Sang Cipta Rasa Cirebon untuk melaksanakan sholat subuh. Disebutkan bahwa pada suatu masa ketika Islam baru menunjukkan perkembangan yang baik di wilayah Cirebon, beberapa orang yang keberatan dengan hal tersebut berupaya menebar terror.

Sosok Menjangan Wulung sendiri menurut beberapa sumber merupakan sosok ghaib yang di utus oleh seseorang ke Masjid Agung Cirebon untuk menebar terror. Korban pertamanya adalah muazin yang akan mengumandangkan azan subuh di masjid ini yang mendadak tewas secara misterius. Mengakibatkan ketakutan yang luar biasa bagi jemaah lainnya yang akan masuk ke masjid ini. Amukan Menjangan wulung ini juga mengakibatkan atap masjid yang masih terbuat dari rumbia mengalami kebakaran hebat.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933 saat bangunan utama masjid ini belum dilengkapi dengan berbagai bangunan pendopo yang kini mengelilinginya. Perhatikan puncak atap masjidnya yang tidak dilengkapi dengan memolo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin, atas perintah dari Sunan Gunung Jati berdasarkan petunjuk Ilahi.

Menjangan Wulung berhasil ditaklukkan, konon dia melarikan diri ke arah Banten dan tak pernah kembali. Masih dalam kaitan dengan hikayat ini disebutkan juga bahwa menjangan wulung juga menghantam memolo yang ada di puncak masjid hingga terpental jauh. Ada juga yang menyebut bahwa memolo (mastaka / ornament hiasan berbentuk simbar dipuncak masjid) tersebut hancur akibat ledakan yang terjadi saat aksi Menjangan Wulung tersebut.

Memolo di puncak atap masjid Agung Banten. Memolo yang memang bertumpuk dua. Apakah salah satunya merupakan memolo Masjid Agung Cirebon yang terpelanting hingga ke Banten akibat ledakan semasa huru hara Menjangan Wulung, tiga tahun sebelum Masjid Agung Banten ini dibangun ?.

Namun satu hikayat yang senantiasa dituturkan oleh pemandu wisata di Masjid ini bahwa memolo tersebut terpental hingga ke Masjid Agung Banten. Dan itu sebabnya Masjid Agung Banten memiliki dua memolo sedangkan Masjid Agung Cirebon tanpa memolo sama sekali. Cerita terahir tersebut memiliki penafsiran yang bermacam macam.

Pertama bahwa masjid Agung Banten dibangun jauh setelah berdirinya Masjid Agung Cirebon. Bila kita merujuk kepada tahun wafatnya Ratu Dewi Pakungwati yakni tahun 1549 sebagai tahun terjadinya huru hara Menjangan Wulung, artinya : meski memolo tersebut memang terpental jauh hingga ke Banten, tidak serta merta langsung bertengger di Masjid Agung Banten tapi butuh setidaknya tiga tahun bagi siapapun disana untuk memungut memolo tersebut dan memasangnya ke Masjid Agung Banten yang baru dibangun tiga tahun kemudian (1552-1570).

::Masjid Sepasang:: Kanan adalah Masjid Agung Demak dan Kiri adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Bisa anda temukan persamaan dan perbedaannya ?.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektural, Masjid Agung Cipta Rasa disebutkan sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak Maskulin lengkap dengan memolo dan berdiri gagah, lain halnya dengan masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun dalam watak Fenimim dengan denah persegi panjang, boleh jadi sejak awal masjid ini memang dibangun tanpa memolo sebagai perwujudan dari kefemeninimannya.

Namun demikian, tradisi azan pitu ini tetap dilestarikan di Masjid Agung Cirebon ini. sebagai sebuah tradisi yang merupakan satu satunya masjid dengan tradisi yang amat unik dan langka ini. Azan pitu dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus dengan pakaian putih putih kadang dilengkapi dengan jubah. Mereka bertujuh berjejer di tengah tengah bangunan asli tepat dibawah wuwungan atap masjid.

Masih mengenai memolo, versi lain menyebutkan bahwa memolo tersebut hancur karena secara tidak sengaja terkena lemparan tongkat Panebahan Satu pada saat Cirebon dilanda wabah penyakit yang konon datang secara ghaib. Panebahan Ratu adalah Raja ke empat Kesultanan Cirebon, beliau adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.

Pengeras suara di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini diletkaan dibawah empat penjuru atap puncaknya. Sama hal nya dengan masjid masjid tua tanah Jawa Lainnya.

Menara dan Penghormatan Kepada Raja

Bila diperhatikan masjid masjid tua di tanah Jawa termasuk Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Saka Tunggal di Banyumas, Sunan Ampel di Surabaya dan lainnya, selalu saja dibangun tanpa menara. Meski dari sisi tradisi arsitektural tanah air, ketiadaan menara ini sudah menjadi pakem bagi masjid tradisional Indonesia namun dibalik semua itu ada makna filosofis yang mendalam.

Ketiadaan menara pada bangunan masjid masjid tua tersebut kait mengait dengan tradisi tanah jawa yang menjungjung tinggi ewuh pakewuh. Keberadaan menara yang memang pada masa awalnya merupakan tempat muazin mengumandangkan azan akan memposisikan muazin yang berada di menara lebih tinggi dari seluruh jemaah yang ada di dalam masjid termasuk Raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Hal tersebut dianggap tidak sopan.

Karenanya masjid masjid tua tanah Jawa hampir seluruhnya tidak dilengkapi dengan menara. Menara di Masjid Agung Demak pun dibangun belakangan bukan merupakan komponen asli yang dibangun sejak awal pembangunan masjid. Seiring dengan telah dikembangkannya perangkat pengeras suara, muazin tak perlu lagi menaiki menara pada saat akan mengumandangkan azan cukup pengeras suaranya yang disimpan di menara sedangkan azannya dilantunkan muazin dari dalam masjid.

Bersambung kebagian-4

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

Sisi depan Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon

Terhindar dari ledakan Bom

Jum’at, 26 Februari 2010 Masjid Agung Sang Ciptarasa dihebohkan dengan ditemukannya bungkusan yang di duga Bom. Merujuk kepada penjelasan pihak kepolisian bom tersebut berdaya ledak rendah dan dilengkapi dengan pengatur waktu. Bom tersebut ditemukan selang sehari setelah perayaan besar peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W di masjid tersebut.

Peringatan Maulid Nabi atau Mauludan diperingati setiap tahun secara meriah di masjid ini dan dihadiri ribuan jemaah dari penjuru Nusantara memadati masjid hingga ke luar halaman. Merujuk kepada Ustadz Rahmad salah satu pengurus masjid yang menemukan bungkusan tersebut, Bila melihat kondisi fisiknya, kemungkinan bom tersebut semestinya sudah meledak namun Alhamdulillah Allah melindungi masjid ini beserta jemaahnya dari bencana.

Anggota GEGANA POLRI di Masjid Agung

Sang Ciptarasa - Cirebon.

Menurut penjelasan Putra mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, kepada media, kemungkinan besar bom tersebut sengaja dipasan dengan menjadikan sultan sepuh Maulana Pakuningrat sebagai target utama mengingat lokasi penemuannya berada di dekat denga Krapyak (maksurah) Sultan Sepuh di shaf paling depan disamping mihrab dan mimbar masjid. Kemungkinan besar bom tersebut akan diledakkan saat sholat Jum’at atau proseso Pajang jimat yang kan digelar dihari yang sama. Seyogyanya hari Jum’at tersebut Sultan akan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid tersebut namun batal karena sesuatu dan lain hal.

Ancaman bom di tahun 2010 tersebut bukanlah pertama kali terjadi di masjid ini. Merujuk penjelasan para tetua disana, semasa perang kemerdekaan masjid ini beberapa kali menjadi target serangan bom oleh pasukan Belanda maupun Jepang, namun tak satupun bom bom tersebut yang berhasil menyasar masjid tua ini, tapi justru menghantam sasaran lain.

Tradisi Tradisi di Masjid Agung Sang Ciptarasa

Seperti halnya masjid masjid tua serta merupakan masjid keraton kesultanan. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon ini juga memiliki beberapa tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun tanpa terputus sejak awal pembangunannya hingga kini. Diantara tradisi tradisi tersebut merupakan tradisi unik dan hanya ada di masjid ini. Terutama adalah tradisi Azan Pitu atau azan tujuh yang sudah di ulas tuntas dalam bagian-3.

Azan Pitu

Azan pitu atau azan tujuh adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Tradisi ini bermula sejak awal berdirinya masjid Agung Sang Ciptarasa dan sejak awal berkembangnya Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Azan pitu pada awalnya dilakanakan atas perintah langsung dari Sunan Gunung Jati untuk mengatasi serangan ghaib dari Menjangan wulung yang menyebar terror di masjid ini sehingga menyebabkan tewasnya beberapa muazin serta menyebabkan kebakaran di masjid ini.

Kemungkinan besar peristiwa tersebut terjadi di tahun 1549 masehi. Tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Dewi Pakungwati, permaisuri Sunan Gunung Jati yang wafat di masjid ini. Beberapa sumber menyebutkan beliau wafat dalam usia yang sanga tua di dalam masjid ini setelah turut serta dalam upaya memadamkan kebakaran yang terjadi di masjid ini.

Khutbah Berbahasa Arab

Mimbar di masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, tanpak sedikit disebelah kanan foto adalah Maksurah atau Krapyak tempat sholat khusus Sultan dan Keluarga. disebelah Maksurah itu ada satu lagi mimbar lama yang disimpan disana.

Tradisi yang tak kalah uniknya dari masjid ini adalah sampai saat ini khotbah Jum'at selalu dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan meski hampir semua jama'ah tak memahami artinya jamaah tetap menyimaknya dengan khusu tanpa mengobrol dengan rekan disebelahnya. Tujuan dari tetap dilestarikannya khotbah berbahasa Arab ini sendiri konon untuk memotivasi jamaahnya agar mau belajar bahasa Arab.

Ada jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at

Pada setiap sholat Jum'at yang kebetulan jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dengan satu keyakinan bahwa bila mereka ikut sholat Jum'at yang jatuh tepat pada hari Jum'at Kliwon maka yang bersangkutan akan memperoleh berkah. Atas dasar keyakinan itulah, pada Jum'at Kliwon banyak jemaah perempuan yang datang tidak hanya dari daerah Cirebon tapi juga banyak yang datang dari luar kota untuk ikut bersholat Jum'at di Masjid ini.

Sumur Keramat

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapatsumur zam-zam atauBanyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulanRamadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Sumur Banyu Cis yang dikenal sebagai zam zamnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Beberapa jamaah masjid ini datang jauh jauh dari berbagai daerah selain untuk sholat di masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur tersebut. Dua kolam dari batu bundar ini dulunya berada di luar bangunan utama namun kini sudah berada di dalam pandopo utara. Disekitar kolamnya juga sudah di kelilingi dengan pagar besi. Menariknya air dari sumur ini dipercaya juga dapat digunakan sebagai media untuk menguji kejujuran seseorang.

Pesan Sunan Gunung Djati

Sunan Gunungjati, sultan pertama Kesultanan Cirebon dan pendiri Masjid Agung Sang Ciptarasa ini, wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Selama hidupnya Sunan Gunung Jati pernah berpesan, diantara yang paling terkenal dari pesan pesan beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang lain diantaranya sebagai berikut.

Ilustrasi wajah Sunan Gunung Jati

Singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), Duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), Angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya), Aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), Den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu), Angasana diri (harus mawas diri), Tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik).

Ngoletena rejeki sing halal (carilah rejeki yang halal), Aja akeh kang den pamrih (jangan banyak mengharap pamrih), Gegunem sifat kang pinuji (miliki sifat terpuji), Aja ilok gawe lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang), Ake lara ati, namung saking duriat (jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri), Aja ujub ria suma takabur (jangan sombong dan takabur), Aja duwe ati ngunek (jangan dendam), Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua), Den hormat ing leluhur (harus hormat pada leluhur), Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka), Den welas asih ing sapapada (hendaklah menyanyangi sesama manusia).

Pesan beliau yang berbunyi "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)" juga dipampang di depan makam beliau. Dan menariknya pesan yang sama dipampang di depan Makam Sheh Quro di Karawang. Hanya saja, entah karena kesalahan penafsiran terhadap pesan beliau, hingga kini bila anda berkunjung ke masjid Agung Sang Ciptarasa bertepatan dengan sholat Jum’at atau pada peringatan hari besar Islam di halaman masjid ini berjejer para peminta peminta.

Peminta minta di Makam dan Masjid Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya di masjid, kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau di komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di komplek pemakaman  tersebut, para pengemis dan peminta minta tidak sekedar berjejer tapi sudah sampai para tahap mengerubuti para peziarah. Bagi mereka yang tak terbiasa akan terkaget kaget dengan kondisi itu. Terlebih bila anda hanya memberikan sedekah hanya kepada salah satu dari mereka maka yang lainnya sontak akan beramai ramai menghampiri.

Kondisi yang hampir sama juga akan kita temui saat berziarah ke makam Sheh Nur Jati di gunung Jati. Peminta minta disana bahkan dari golongan pria dewasa yang berbadan sehat segar bugar dengan sedikit memaksa. Saya pribadi lebih menghargai mereka mereka yang mencari berkah disekitar makam para wali tersebut dengan menawarkan jasa sebagai pemandu, tukang parkir, atau mereka yang rela begadang menjaga kendaraan peziarah, atau berjualan keperluan bagi para peziarah hingga membuka warung makan disana.

Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau menitipkan tajuk dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau sepertinya bukanlah refleksi yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.  (SELESAI).***

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Friday, August 21, 2020

Mesjid Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur

Masjid Sendang Duwur dengan latar depan komplek makam Sendang Duwur

Mesjid Sendang Dhuwur, merupakan mesjid tertua pada Lamongan. Mesjid tersebut adalah bukti kebesaran usaha Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan & Tuban. Meski berusia 477 tahun, bangunannya masih berdiri kokoh & menjadi bukti sejarah Islam yg tidak lekang dimakan saat. Bangunan masid Sendang Dhuwur sempat mengalami perbaikan dalam tahun 1920. Tetapi, arsitektur aslinya masih tampak & menggambarkan kebesaran dalam zamannya. Beberapa peninggalan sejarah masih tersisa seperti mimbar, beduk kulit, dan gentong tempat air minum.

Sejarah berdirinya masjid ini kondisi menggunakan cerita yang luar biasa. Masyarakat setempat konfiden bahwa masjid ini dibangun dalam waktu satu malam. Disebutkan bahwa Sunan Sendang Dhuwur memindahkan masjid ini dari Mantingan pada Jepara ? Jawa Tengah ke Lokasi yang sekarang, dalam saat satu malam. Itu sebabnya masjid ini pula diklaim menjadi masjid Tiban. Kini, Mesjid Sendang Dhuwur menjadi satu di antara 3 mesjid peninggalan wali yang masih terawat menggunakan baik. Dua di antaranya yakni Mesjid Sunan Ampel dan Sunan Giri.

Lokasi Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran

Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra berdasarkan Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yg asal berdasarkan Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir dalam tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini bisa ditinjau pada pahatan yang terdapat di dinding makam dia. Beliau merupakan tokoh kharismatik yang pengaruhnya bisa disejajarkan menggunakan Wali Songo pada waktu itu.

Ada yg mengungkapkan Sunan Sendang Duwur sebagai putra Abdul Qohar menurut Sedayu (Gresik), keliru satu anak didik Sunan Drajad. Ada jua yang menyebut Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar tapi nir berguru dalam Sunan Drajad. Namun dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya diwisuda Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Sejarah Masjid Sunan Sendang Dhuwur

Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap sanggup mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Lantaran tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad membicarakan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang ketika itu memiliki masjid.

Interior Masjid Sendang Duwur

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di daerahnya dalam 1531 Masehi. Banyak ulama & kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pulang ke Jepara buat menanyakan masjid tadi. Tapi apa istilah Mbok Rondo Mantingan waktu itu? Hai anak rupawan, mengertilah, aku nir akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (waktu itu telah tewas, Red) berpesan, siapa saja yang sanggup memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan aku berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yg masih belia saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya & tentunya dengan izin Allah, pada waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri pada sana, ditandai mentari sengkala yg berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun 1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tadi dibawa rombongan (yg diperintah Sunan Drajad & Sunan Sendang Duwur) melalui bahari berdasarkan Mantingan menuju timur (Lamongan) pada satu malam. Rombongan itu diminta mendarat pada pantai penuh bebatuan seperti kodok (Tanjung Kodok) yg terletak pada sebelah utara bukit Amitunon pada Sendang Duwur.

Akulturasi budaya pada komplek masjid dan makam Sendang Duwur

Tradisi Kupatan pada Tanjung Kodok Lamongan

Rombongan menurut Mantingan itu disambut Sunan Drajat & Sunan Sendang Duwur bersama pengikutnya. Sebelum meneruskan bepergian membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sesudah menunaikan tugas berat. Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu menggunakan kupat atau ketupat & lepet serta legen, minuman spesial daerah setempat. Berawal menurut sini, sebagai akibatnya setiap tahun pada Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

Masjid itu sekarang sudah berusia 477 tahun (didirikan R. Thoyib di Mantingan dalam 1531). Karena usianya yang tua, beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang orisinil tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Maski masjid antik itu sempat dipugar, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak & mendeskripsikan kebesaran pada zamannya.

Ajaran Sunan Sendang Dhuwur

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yg masih relevan pada zaman kini merupakan : "mlakuho dalan kang sahih, ilingo wong kang sak burimudanquot; (berjalanlah pada jalan yg sahih, & ingatlah pada orang yg terdapat di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau dalam seseorang supaya berjalan pada jalan yg benar & jikalau telah menerima kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Meski berada pada ketinggian, masjid & komplek makam ini bisa di capai dengan tunggangan bermotor.

Hubungan Sunan Drajad menggunakan Sunan Sendang Duwur sangat erat dalam siar kepercayaan Islam, & interaksi itu terus mengalir hingga kini . Terlihat, nir jarang para peziarah ke makam Sunan Drajad di Desa Drajad, Kec. Paciran untuk singgah ke Sunan Sendang Duwur.

Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid & makam. Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini memiliki page sendiri-sendiri. Dari arah jalan, yang tampak lebih dulu merupakan kompleks pecandian. Sedangkan gapura page berbentuk mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi misalnya ini telah dikenal semenjak zaman Majapahit, misalnya Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur yg dikeramatkan sang penduduk lebih kurang tadi berarsitektur tinggi yang mendeskripsikan gugusan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar & gapura bagian pada berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi gesekan kayu jati yg bernilai seni tinggi & sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

Makam Sunan Sendang Duwur yg letaknya di atas bukit itu, namun bisa dijangkau oleh kendaraan generik ataupun langsung. Sarana jalan yg telah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yg ingin kesana buat berwisata ziarah.***

Monday, June 1, 2020

Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, Gresik

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri dulunya berada di atas bukit Kedaton kemudian dipindahkan ke Bukit Giri

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri atau biasa diklaim Masjid Sunan Giri, terletak pada komplek makam Sunan Giri pada Bukit Giri, Kelurahan Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur. Posisinya hanya beberapa langkah disebelah makam Sunan Giri melewati jalan mini disamping sejejeran makam makam tua. Untuk sampai ke masjid ini pengunjung akan melewati sebuah lorong yang dikiri kanannya dipenuhi kios kios pedagang menjajakan perlengkapan ibadah, cindera mata, & barang-barang lainnya.

Kios-kios yg dikelola sang Paguyuban Pedagang Lorong Masjid Sunan Giri. Semakin siang, semakin ramai peziarah yg berkunjung ke makam & Masjid Sunan Giri ini, dan lorong ini pun bisa disesaki oleh para peziarah yg berlalu lalang. Makam Sunan Giri sudah sebagai salah satu objek wisata rohani yang menarik para wisatawan berdasarkan berbagai pelosok tanah air.

Masjid Sunan Giri

Bukit Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur 61124

GPS: -7.1691319, 112.6316857.

Butuh sedikit perjuangan untuk mencapai masjid ini. Dari area parkir kendaraan harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter. Cukup melelahkan, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek. Memasuki lokasi ada sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid.

Sedangkan, makam utama loka Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat menurut batu andesit, yang poly dipakai juga buat menciptakan candi atau arca di zaman kejayaan Hindu & Budha.

Sejarah Masjid Sunan Giri

Kehadiran masjid ini nir bisa dipisahkan berdasarkan sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Paku Ainul Yaqin, keliru seorang berdasarkan Wali Songo yg bergelar Sunan Giri. Masjid Sunan Giri didirikan dalam 1544 atas prakarsa Nyi Ageng Kabunan (cucu Sunan Giri), lantaran sesudah Sunan Giri mangkat dalam 1506 poly para peziarah berdatangan ke Makam Sunan Giri, & para pengikutnya pun berpindah tempat & tinggal di lebih kurang Bukit Giri, agar lebih dekat ke makam Sang Sunan.

Masjid Sunan giri jelang waktu magrib

Masjid tersebut sebenarnya adalah bangunan masjid berdasarkan komplek pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton yg dibangun tahun 1399 saka, pada ketika itu pesantren Sunan Giri pada Bukit Kedaton mengalami perkembangan pesat, sehingga kemudian dibangunlah sebuah musolla buat shalat jamaah dan buat kegiatan-kegiatan peantren. Tahun 1407 Saka/1481 Miladiyah dipugar menggunakan memperluas bangunan & masjid itu dinamakan masjid Jamik.

Pada waktu itu Sunan Giri diangkat sebagai penasihat sang Raden Patah selaku Sultan Demak pertama, sekaligus menjadi kepala berdasarkan para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya nisbi kecil namun cukup indah dan artistik penuh goresan & kaligrafi huruf arab dan ayat kudus Al-Qur?An. Atap masjid terbuat menurut sirip kayu, pondasinya terbuat menurut batu-batu berukir sampai sekarang permanen dalam keadaan utuh pada atas bukit Kedaton.

Setelah 10 tahun sunan Giri wafat, perhatian masyarakat beralih pada makam Sunan Giri, di Bukit Giri, maka terjadilah perpindahan penduduk, mereka banyak bertempat tinggal di Bukit Giri. Melihat hal itu maka tergeraklah hati Nyi Ageng Kabunan (cucu ketiga Sunan Giri yang menjanda) untuk memindahkan masjid dari Bukit Kedaton Kebukit Giri dekat makam Sunan Giri.

Mihrab Masjid Sunan Giri

Pemindahan dilakukan pada tahun 1544 Masehi.  Dalam waktu yang relatif singkat masjid berdiri dengan ukuran 150 m2. Masjid tersebut kemudian berganti nama menjadi Masjid Sunan Giri Ainul Yakin. Berdirinya masjid ini direkam dalam ukiran ber-aksara arab ditempatkan di atas pintu utama masjid. Tulisan tersebut berbunyi “Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M”. Tulisan tersebut dibuat oleh Haji Ya’kub Rekso Astono tahun 1856 M,

Masjid ini sendiri sampai sekarang sudah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilaksanakan dalam tahun 1857 saat masjid ini berusia lebih kurang 313 tahun & kondisi bangunan masjid menurut kayu itu yang semakin lapuk. Pada tahun yang sama jua didirikan masjid wedok (masjid khusus kaum wanita) dan konon pula bekas masjid berdasarkan Sunan Prapen cucu menurut Sunan Giri.

Tahun 1789 M diadakan ekspansi oleh H. Ya?Kub Rekso Astono, terkait hal tersebut, sda pendapat yg berkata bahwa bangunan masjid inti yang terlihat waktu ini justru output karya H. Ya?Kub ini, sedang masjid asli yang dipindahkan sang Nyi Ageng Kabunan menurut berdasarkan Giri Kedaton ke tempat ini adalah bangunan yg sekarang menjadi masjid wedok.

Atap limas bersusun tiga di masjid Sunan Giri

Perbaikan selanjutnya terjadi di era Indonesia merdeka. Di tahun 1950 Masjid Sunan Giri mengalami kerusakan dampak gempa bumi. Proses perbaikan dipimpin sang H. Zaenal Abidin selaku juru kunci makam beserta rakyat Giri memperbaiki masjid ini pada dalam waktu tiga bulan.

Perluasan halaman masjid dilakukan tahun 1957 sang Panitia Kesejahteraan Makam & Masjid Sunan Giri. Perluasan page tersebut dilakukan menggunakan memindahkan pendopo masjid berdasarkan depan masjid ke kesebelah utara, serta penggantian atap masjid menurut atap sirap menggunakan atap genteng & memperluas bak penampungan air hujan guna keperluan air bersih.

Perbaikan perbaikan kecil terus dilakukan hingga era 1970-an. Renovasi terahir dilakukan pada tahun 1982, peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982. Kini luas bangunannya mencapai 1.750 m² sudah berkali kali lipat luasnya dari ukuran semula, di atas lahas seluas 3.000 m².

Unik bukan ? Pintu gapura masjid berbentuk gapura candi

Monumen Sejarah

Masjid Ainul Yakin Sunan Giri ini sudah menjadi monument sejarah yg dilindungi oleh negara semenjak dari masa penjajahan Belanda. Di zaman Hindia Belanda, masjid ini terdaftar sebagai peninggalan sejarah, didaftar pada ?Monumenten ordonantie? Dengan angka staat blaad 238 dalam tahun 1931. Kini berada pada bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah & Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Arsitektur Masjid Ainul Yakin Sunan Giri

Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun mempunyai bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas menggunakan tiga undakan. Akulturasi dengan budaya sebelum Islam sangat kental terlihat di masjid ini, yg paling menyolok adalah adanya beberapa pintu gerbang berupa gapura paduraksa termasuk pintu masuk utama ke masjid ini.

Dibagian pada masjid akan kita temukan sokoguru dari kayu yang berjejer menopang struktur atap masjid ini. Masing masing masing sokoguru ini berdiri diatas umpak dari batu. Umpak batu di hias menggunakan rona emas, bagian bawah tiang dihias dengan tabrakan yg meruncing juga dengan rona emas.

Interior Masjid  Sunan Giri

Batang sokoguru terbuat berdasarkan sebatang kayu berukuran akbar, pada profil sekelilingnya, di cat dengan rona hijau muda. Di setiap rendezvous sokoguru menggunakan soko alangnya jua dihias dengan ukiran yg meruncing bewarna emas. Hampir seluruh materi kayu di dalam masjid ini di cat dengan warna hijau belia. Di bawah atap utama menggantung lampu antik menjuntai di atas ruang primer.

Mihrab masjid terdiri menurut tiga bagian ceruk. Sebalah kiri pada tempatkan sebuah jam berdiri ukuran besar . Ceruk tengah adalah tempat imam dengan & paling kanan adalah ceruk dimana mimbar tempat khatib ditempatkan. Mimbar berukir menurut kayu ini jua dicat dengan paduan hijau muda & rona emas.

Sebagai rumah ibadah, masjid ini begitu ramai dikunjungi jamaah buat shalat rawatib (shalat 5 ketika) juga shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan akbar, misalnya bulan Muharam, Dzulhijjah, & Rabi?Ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah menurut luar pulau Jawa, misalnya Sumatera & Kalimantan***.

Tuesday, May 26, 2020

Masjid Sunan Bonang Rembang

Masjid Sunan Bonang pada Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang adalah masjid yg dianggap dibangun sang Sunan Bonang. Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim lahir dalam tahun 1465 Masehi, salah satu berdasarkan sembilan Walisongo yg membuatkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya pada Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang berada pada desa Bonang yg terletak dalam daerah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, masjid ini sebagai galat satu bukti & peninggalan menurut bepergian dakwah Sunan Bonang pada Rembang & sekitarnya. Lokasi masjid ini saat ini lebih kurang 50 meter disebelah selatan makam Sunan Bonang.

Sebelum menjadi desa daerah ini merupakan sebuah hutan yang terkenal dengan sebutan Alas Kemuning. Di awal awal dibangunnya masjid ini, masyarakat setempat tidak menyebutnya masjid namun menyebut bangunan ini sebagai Omah Gede atau Rumah Besar karena bentuknya yang berupa sebuah bangunan berukuran besar. Masyatakat setempat kala itu merasa heran karena bangunan masjid ini disebut sebut berdiri secara tiba tiba ditengah hutan.

Masjid Sunan Bonang

Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang

Jawa Tengah 59271. Indonesia

Bisa jadi karena memang sunan Bonang kala itu tinggal menyendiri di tengah hutan dan jauh menurut masyarakat sekitar, sebagai akibatnya nir ada warga yang mengetahui proses pembangunan masjid ini hingga kemudian mereka menemukan atau melihat bangunan tadi dalam saat telah jadi, rampung atau telah selesai sebagai akibatnya terkesan terjadi dengan tiba datang.

Dengan berdiriya sebuah masjid yang mereka sebut menjadi Omah Gede secara datang datang itu mereka menduga terjadi karena lantaran kekramatan seseorang wali kekasih Allah, mengakibatkan masyarakat sekitar sebagai heran, karena ditinjau sebagai insiden yang aneh, sehingga warga Bonang sangat ingin tiba buat melihat adanya masjid tadi.

Tetapi demikian cerita kata yg berkembang mengungkapkan bahwa Sunan Bonang membangun masjid ini dalam saat satu malam & kekramatan beliau sebagai akibatnya begitu banyak yang datang belajar dan berguru kepada beliau baik dari bangsa insan juga bangsa Jin.

Kala itu Sunan Bonang termasuk orang yang dituakan, sehingga rakyat disitu sangat tunduk dan menghormati akan kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Kesempatan yang baik itu beliau gunakan untuk bertabligh dan mengajarkan tentang maksud agama Islam. Mulai saat itulah para santri-santri berdatangan, baik mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan menimba ilmu dari Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem

Keterbatasan asal sumber tertulis terkait sejarah masjid ini, sehingga hingga saat ini belum diketahui menggunakan niscaya mengenai tarikh pendirian masjid ini. Sebagian besar sumber sejarah masjid ini beserta sejarah Sunan Bonang di Lasem berupa kisah ungkap yg disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.

Makam Mbah Jejeruk

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang ini dipercaya menjadi masjid pertama yang dibuat sang Sunan Bonang setelah beliau menerima kewaliannya. Dari sekian banyak anak didik anak didik dia yg datang dari berbagai penjuru Nusantara, keliru satunya adalah Sultan Machmud, Raja Minangkabau (di provinsi Sumatera Barat) belajar kepercayaan di masjid ini, sampai dia wafat. Oleh warga Bonang, Sultan Machmud dimakamkan di wilayahnya. Sekarang, makam itu lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Jejeruk.

Masjid Keramat

Masjid Sunan Bonang pada kecamatan Lasem ini sudah beberapa kali dipugar, namun demikian sisa-residu kekeramatannya masih terlihat. Sumur yg terdapat pada samping masjid, dikabarkan masih orisinil. Di dekat masjid itupun terdapat makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Sarido, imam masjid tersebut beserta keluarganya.

Menurut cerita, keangkeran masjid ini bisa dirasakan oleh sejumlah penduduk, sebagai akibatnya nir ada yg berani berbuat seenaknya sendiri. Kabarnya, seorang jemaah masjid pernah tidur pada dalam masjid ini. Namun, waktu ia bangun, beliau sudah berada di dekat keliru satu makam yang ada di samping masjid. Berdasarkan penuturan masyarakat, jemaah masjid ini bukan hanya kalangan insan. Konon, banyak pula bangsa jin yg menjalankan ibadahnya pada masjid Sunan Bonang. Agaknya, mereka pun ingin menerima karomah menurut masjid ini.

Masjid Sunan Bonang

Menurut informasi juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini mempunyai dua bagian. Serambi depan direhab menggunakan arsitektur terbaru, buat menampung jumlah jama'ah. Sedangkan bagian primer tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Tetapi permanen dirawat secara teratur.

Mimbar pada Teras Masjid

Di teras masjid Sunan Bonang pada Lasem, terdapat sebuah mimbar berukuran cukup akbar berdasarkan kayu jati & berukir indah. Menurut cerita, mimbar ini merupakan sumbangan menurut seseorang donator menurut kabupaten Jepara buat menggantikan mimbar lama di masjid Sunan Bonang.

Namun (masih berdasarkan cerita) meskipun sudah pada ukur sedemikan rupa pada ketika pembuatannya, dan pada ukur berulang kali pada saat akan ditempatkan di tempatnya, mimbar baru ini ternyata tidak bisa masuk ke lokasinya pada samping mihrab di pada Masjid Sunan Bonang, itu sebabnya sampai kini mimbar baru tersebut diletakkan pada teras masjid.

Mengenal Sunan Bonang

Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim beliau merupakan putra berdasarkan Raden Rochmat (Sunan Ampel) menggunakan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri menurut Raden Arya Tedja, keliru satu tumenggung berdasarkan kerajaan Majapahit yg berkuasa pada Tuban. Raden Makdum Ibrahim dilahirkan lebih kurang tahun 1465 M.

Raden Maulana Makdum Ibrahim telah dikirim ayahnya buat belajar ke Mesir hingga dia berusia dewasa & balik ke tanah air. Beliau kemudian mengabdikan ilmunya pada pondok pesantren yg dipimpin oleh ayahnya. Sampai lalu dia memulai memulai kehidupan baru dengan membuka hutan belantara Alas Kemuning yg kini dikenal dengan nama Desa Bonang.

Masjid Sunan Bonang

Di Alas Kemuning dia membina pengajaran Islam pada masyarakat setempat hingga lalu nama beliau dikenal sampai ke berbagai daerah, santri berdatangan buat berguru kepada beliau. Disebutkan jua bahwa beliau juga pernah belajara agama di kerajaan Samudera pasai di masa kejayaan Majapahit, itu sebabnya beliau jua dikenal menjadi tokoh yang mulai memasukkan pengaruh Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh & Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai berdasarkan Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok menjadi loka penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengungkapkan bahwa Sunan Bonang nir menikah sampai dia wafat, namun dalam riwayat lain menjelaskan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri berdasarkan R. Jaka Kandar dan memiliki keturunan satu yg bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja?Far Shodiq. Dari pernikahan Ja?Far Shodiq menggunakan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa pada status jejaka. Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat tahun 1525M, dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan pada tempat tinggal kediaman dia (Ndalem) pada desa Bonang Lasem. Setengah riwayat mengungkapkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengungkapkan di Madura.

Referensi

http://yayasansunanbonang.Blogspot.Co.Id/2012/10/berdirinya-masjid-sunan-bonang.Html

http://betulcerita.Blogspot.Co.Id/2016/08/sejarah-masjid-bonang-rembang.Html

http://www.Nu.Or.Id/post/read/61100/mengenang-petilasan-masjid-sunan-bonang-pada-rembang

http://yayasansunanbonang.Blogspot.Co.Id/2012/10/sejarah-singkat-perjuangan-sunan-bonang.Html

Baca Juga

Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, Gresik

Masjid Sunan Ampel - Surabaya

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 4)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 1)

Masjid ?Si Pitung? Al Alam ? Marunda, Jakarta Utara

Masjid Al Alam Cilincing Jakarta Utara

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done