Islami Pedia: masjid di madinah
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di madinah. Show all posts
Showing posts with label masjid di madinah. Show all posts

Tuesday, May 5, 2020

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Masjid Al-Ghamamah adalah galat satu masjid bersejarah pada kota Madinah, di lokasi tempat masjid ini berdiri pernah sebagai loka Rosulullah melaksanakan sholat Istisqo' (sholat meminta hujan) dan setelah itu awang mendung (Al-Ghomammah) pun menggelayut diatas tempat itu.

Masjid Al-Ghamamah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini berada sekitar 300 meter sebelah barat daya Masjid Nabawi, tak bejauhan dengan Masjid Abu Bakar Siddiq R.A dan Masjid Ali Bin Abi Thalib R.A. Bangunan masjid ini dibangun untuk mengenang beberapa peristiwa penting dimasa kehidupan Rosulullah S.A.W. dan peristiwa peristiwa penting tersebut juga yang hingga kini melekat sebagai nama masjid ini.

Masjid ini beserta masjid masjid bersejarah yang berada disekitar Masjid Nabawi lainnya sempat pada kabarkan banyak sekali media, akan di gusur sang pemerintah Arab Saudi pada rangka proyek perluasan Masjid Nabawi. Hal tadi lebih kepada ke khawatiran akan lenyapnya situ situs sejarah Islam disana misalnya yg telah dilansir berbagai media bagaimana mega proyek perluasan Masjidil Haram pada kota Mekah sudah mengakibatkan lenyapnya situs situs sejarah disana.

Tetapi, sampai goresan pena ini kami muat, masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk aslinya & pemerintah Arab Saudi pula sudah melakukan langkah langkah perlindungan terhadap bangunan bangunan tersebut termasuk renovasi dan penataan kawasan disekitarnya bersamaan menggunakan proyek perluasan Masjid Nabawi.

Lokasi Masjid Al-Ghamamah saat ini hanya terpaut beberapa meter dari sudut barat daya areal pelataran Masjid Nabawi paska perluasan. Sehingga komplek Masjid Nabawi pun terlihat jelas dari masjid ini begitupun sebaliknya. Lokasi masjid Al-Ghamamah juga berdekatan dengan dua masjid bersejarah lainnya yakni Masjid AbuBakar Sidik dan Masjid Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Nama & Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Disebut menjadi masjid Al-Ghamamah yg berarti awan mendung, di lahan masjid ini berdiri adalah loka Rosulullah S.A.W melaksanakan Sholat Istisqo? Buat memohon kepada Allah supaya diturunkan hujan. Dan segera sehabis pelaksanaan sholat awan mendung pun datang menggelayut disusul dengan turun-nya hujan. Itu sebabnya sampai kini masjid ini diklaim Masjid Al-Ghamamah, mengabadikan insiden pada masa Rosulullah tersebut.

Masjid Al-Ghomamah paska renovasi bersamaan menggunakan proyek ekspansi Masjid Nabawi.

Masjid ini jua disebut sebagai masjid Id atau masjid Hari Raya, karena dalam sejarahnya, lokasi tempat masjid ini berdiri adalah loka Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan sholat hari raya pada empat tahun terahir kehidupan Beliau. Perlu di ketahui bahwa pada masa Rosulullah pada tempat ini hanyalah tanah lapang yang dia pakai buat melaksanakan sholat, belum berbentuk sebuah bangunan masjid.

Di lokasi ini atau di lokasi yg berdekatan menggunakan lokasi masjid ini, Rosulullah S.A.W pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi. Beliau adalah Kaisar Aksum pada Abbysinia (sekarang Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, tetapi menyambut baik kedatangan kaum muslimin yg mengungsi ke negerinya menghindar berdasarkan kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Ketika Najashi wafat, tidak terdapat siapapun yang bersedia memimpin sholat jenazah baginya & kemudian Rosulullah yang men-sholatkan dia secara ghaib. Peristiwa ini merupakan satu satunya insiden Rosulullah melakukan sholat ghaib atau sholat jenazah tanpa kehadiran menurut jenazah yg pada sholatkan.

Di latar belakang terlihat jelas masjid Nabawi & pelatarannya selesainya proyek ekspansi, tampak gemerlap dengan lampu lampu yg menyinarinya di malam hari.

Peristiwa tadi terekam dalam galat satu hadist Rosulullah;

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengumumkan kematian Al-Najasyi dalam hari kematiannya. Kemudian, beliau keluar menuju tempat shalat. Lalu, beliau membariskan shaf, lalu bertakbir empat kali. (HR Bukhari dan Muslim).

Pembangunan Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada Madinah antara tahun 89 sampai tahun 93 Hijriah (jangan sampai keliru dengan Khalifah Umar Bin Khattab). Bangunan tersebut lalu direnovasi sang Sultan dinasti Mamluk, Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah. Kemudian pemugaran pemugaran oleh Syarif Saifuddin Inal Al-Ala'i pada tahun 861 Hijriah.

Setelah itu, Sultan Abdul Majid I semasa kekuasaan Khalifah Islamiyah di Istabul ? Turki dalam tahun 1275 Hijriah / 1859 melakukan renovasi ke bentuk masjidnya misalnya saat ini, selain pemugaran-perbaikan yang dilakukan sang Sultan Abdul Hamid & di renovasi kembali oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, selaku Raja Saudi Arabia.

Payung payung sedang mekar di pelataran Masjid Nabawi, tampak pada latar belakang masjid Al-Ghamamah.

Masjid Al-Ghamamah balik direnovasi secara menyeluruh sang pemerintah Arab Saudi bersamaan dengan perluasan Masjid Nabawi menggunakan membentuk & menata kawasan disekitar masjid ini yang disinkronkan menggunakan Masjid Nabawi, yang pelataran sisi selatan-nya sekarang sudah sangat dekat dengan masjid Al-Ghamamah, karena itu Masjid Al-Ghamamah ini nir lagi digunakan buat penyelenggaraan sholat 5 ketika yg telah dialihkan ke Masjid Nabawi.

Arsitektur Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah ini dibangun pada arsitektur bangunan masjid bergaya klasik, tidak seutuhnya bergaya usmani meski sempat berada di bawah kekuasaan dinasti Turki Usmani. Denah bangunannya berbentuk persegi panjang, terdiri menurut dua bagian; bagian beranda dan ruang shalat utama. Berandanya berbentuk persegi panjang menggunakan panjang 26 meter & lebar empat meter, di bagian atapnya dilengkapi menggunakan 5 kubah, dilengkapi menggunakan lengkungan lengkungan.

Ruang sholat berukuran panjang 30 meter dan lebar 15 meter, ruangannya seolah terbadi 2 oleh jejeran pilar pilar berlengkung penyanggah struktur atap. Bagian atapnya masih ada enam kubah, atap masjid dibangun lebih tinggi dibandingkan atap bagian berandanya. Enam kubah diatap masjid ini dibangun dua jejer dengan kubah paling besar berada di bagian atas area mihrab yang menghadap ke selatan. Karena posisi Kota Madinah berada disebelah utara menurut Ka?Bah di kota Mekah, arah kiblat masjid ini menghadap ke selatan.

Gaya bangunan masjid masjid tua Turki sangat kental dalam gaya bangunan Masjid Al-Ghamamah karena memang dibangun dalam masa kekuasaan Turki Usmani.

Bentuk jendela nya sangat khas, gugusan 2 ventilasi dengan permukaan berbentuk oval dibagian atasnya ditempatkan satu jendela bulat. Padanan jendela ventilasi ini ditempatkan di seluruh sisi masjid. Pintunya dibuat dari kayu yang dihias ukiran khat Utsmani. Masjid Al-Ghamamah dilengkapi dengan satu menara yg dibangun menyatu menggunakan bagian masjid di pojok barat bahari bangunan utama.

Secara keseluruhan sisi luar Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian pada, dinding dan cekungan kubah dipoles menggunakan rona putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles menggunakan warna hitam sehingga memberikan pemandangan latif dalam masjid menggunakan 2 rona yg harmonis***.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

https://www.republika.co.id/berita/jurnal-haji/wijhat/14/10/28/ne50aq-masjidmasjid-bersejarah-di-madinah-masjid-alghamamah

https://ne3matullah.wordpress.com/2010/07/04/masjid-ghamama/

http://www.islamiclandmarks.com/madinah-other/masjid-ghamama

Baca Juga

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Monday, May 4, 2020

Masjid Abu Bakar Siddiq .R.A – Madinah

Meskipun berhubungan dengan sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, namun keberadaan bangunan masjid Abu Bakar Siddiq ini baru berdiri di masa pemerintahan Khalifah Ummar Bin Abdul Aziz. Jauh setelah Rosulullah wafat.

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A.merupakan salah satu dari tiga masjid tua bersejarah yang “tempatnya berdiri” berhubungan erat dengan sejarah awal perkembangan risalah Islam di kota Madinah. Lokasi masjid Abu Bakar Assidik berada di sisi barat daya Masjid Nabawi. Pelataran Masjid Nabawi setelah perluasan hanya berjarak beberapa meter dari masjid ini.

Lokasi Masjid Abu Bakar Assidiq ini sangat berdekatan dengan Masjid Ghamama dan Masjid Ali. Hanya terpaut sekitar 40 meter dari Masjid Ghamama dan pada saat pemerintah Arab Saudi meluncurkan proyek perluasan Masjid Nabawi, tiga masjid ini sempat menjadi buah bibir karena disebut sebut akan dibongkar untuk keperluan proyek perluasan Masjid Nabawi. Namun saat proyek perluasan berlangsung, pemerintah Arab Saudi justru merenovasi masjid masjid bersejarah ini.

Masjid Abu Bakr Siddeeq RA

Al Haram, Madinah 42311, Arab Saudi

Renovasi yang dilakukan pemerintah Saudi lebih kepada perbaikan masjid dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya serta melakukan penataan kawasan disekitar masjid ini sehingga tampak lebih apik serta disinkronkan dengan kawasan Masjid Nabawi. Keseluruhan kawasan disekitar tiga masjid ini dirapikan dengan dilapis dengan lantai batu dari berbagai jenis ditambah dengan bangku bangku dari batu dan penanaman pepohonan pelindung.

Pada saat proses renovasi masjid masjid ini ditutup termasuk masjid Abu Bakar Assidiq, dan kemudian dibuka lagi untuk umum setelah renovasi dan proyek penataan selesai dilaksanakan. Namun demikian tidak seperti Masjid Al-Ghamamah yang pintunya selalu dibuka sehingga Jemaah bisa masuk ke dalam masjid, Masjid Abu Bakar ini pintunya tidak pernah dibuka untuk umum.

Masjid Abu Bakar Siddiq di latar depan, di belakang sebelah kanan adalah masjid Al-Ghamamah, jauh di belakangnya sebelah kiri atas foto adalah sisi paling selatan pelataran Masjid Nabawi.

Beberapa Jemaah yang datang kesana dan sepertinya memang berniat untuk sholat di masjid ini tampak melakukan ibadah shoat sunnat di depan pintu masjid. Tiga masjid bersejarah ini memang tidak lagi menyelenggarakan sholat lima waktu, karena sudah dialihkan ke Masjid Nabawi yang kini sudah begitu dekat terutama setelah proyek perluasan.

Sejarah Masjid Abu Bakar Siddiq

Ada dua versi tentang latar belakang sejarah Masjid Abu Bakar, versi pertama menyebutkan bahwa di lokasi masjid ini, Khalifah Abu Bakar Siddiq semasa hidupnya pernah menyelenggarakan sholat Hari Raya bersama Rosululah dan muslim terdahulu. Versi kedua menyebutkan bahwa dilokasi tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan rumah kediaman Abu Bakar Siddiq. R.A. Bisa jadi kedua peristiwa tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

Karena tidak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah, pintunya pun selelu terkunci, masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai tugu peringatan sejarah dari tempatnya berdiri.

Karena latar belakang sejarah tersebutlah, masjid ini dibangun di lokasi ini. Kemudian dibangun sebuah masjid untuk megenang sejarah tersebut oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun ke 50H. Masjid tersebut kemudian dibangun ulang dalam bentuknya sekarang oleh Sultan Mahmud Khan al-Utsmani (Sultan Mahmud II, wafat tahun 1255 H/ 1839M).

Bangunan masjid dari masa Sultan Mahmud Khan Al-Usmani tersebut kemudian direnovasi oleh Raja Fahd tahun 1411H tanpa mengubah bentuk aslinya. Luas Masjid Abu Bakar Siddiq ini berukuran 19.5 x 15 m, lebih kecil dibandingkan dengan Masjid Al-Ghamamah.

Karena tidak difungsikan sebagai tempat ibadah dan pintunya pun selalu terkunci, Masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai sebuah bangunan prasasti pengingat sejarah masa lampau. Meski bangunannya terawatt dengan baik, beberapa bagian masjid terutama pada bagian pintu terdapat banyak sekali coretan coretan baik dengan hurup arab maupun dengan hurup latin. Entahlah apa tujuan dari orang orang pelaku pencoretan tersebut.

Gaya Byzantium (Romawi Timur) sangat kental pada bentuk kubah tunggalnya.

Arsitektur Masjid Abu Bakar Siddiq

Masjid Abu Bakar Siddiq dibangun dalam gaya klasik era awal Usmaniyah. Terdiri dari dua bangunan yakni bangunan masjid dengan kubah besar haya Byzantium di atapnya, ditambah dengan satu menara degan satu balkoni berukiran qurnis dan ujung menara nya dibuat lancip seperti lazimnya masjid masjid Usmani. Menara ini dibangun disi utara menempel dengan bangunan masjid. Fasad depannya dilapis dengan batu batu alam hitam.

Ada dua pintu akses di masjid ini yang sedikit masuk ke dalam tembok bangunan membentuk sebuah ceruk berlengkung yang tak terlalu dalam. Dua pintu ini dibuat senada, terbuat dari bahan kayu tanpa ornamen. Pintu utama berada ditengah dengan bukaan yang berukuran lebih besar, dibagian atasnya terdapat tulisan nama masjid ini dalam aksara arab.***

Detail bagian atas pintu utama Masjid Abu Bakar Siddiq.
Batu batu basal pada fasad depan Masjid Abu Bakar Assidiq yang tampak sudah begitu tua termakan waktu.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

http://www.jurnalhaji.com/masjid-masjid-bersejarah-di-madinah-masjid-abu-bakar-shiddiq/

http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2011/12/mengunjungi-masjid-masjid-bersejarah-di-madinah-2/

http://jelajahdunia.wordpress.com/2010/03/28/madinah-hari-ke-7-melihat-masjid-masjid-di-sekitar-masjid-nabawi/

http://www.aulia-e-hind.com/dargah/Intl/masjidAbubakr.htm

http://www.ahlanpk.org/md800.htm

Baca Juga

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Sunday, May 3, 2020

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid serba putih, Masjid Ali Bin Abi Thalib di kota Madinah, dibangun atas lahan bekas rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan istrinya tercinta Fatimah Az-Zahra yang juga merupakan Putri Rosulullah S.A.W.

Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan satu dari tiga masjid bersejarah yang berada di sebelah barat Masjid Nabawi bersama sama dengan Masjid Al-Ghamamah dan MasjidAbu Bakar Siddiq R.A. Lokasi Masjid ini hanya terpaut sejauh sekitar 100 meter sebelah barat dari gerbang nomor 7 pelataran masjid Nabawi setelah perluasan dan sekitar 122 meter ke utara dari Masjid Al-Ghamamah. Lokasi Masjid Ali bin Abi Thalib berada di sisi selatan ruas jalan As-Salam, ruas jalan yang berahir ke gerbang Nomor 7 pelataran Masjid Nabawi.

Masjid Ali Bin Abu Thalib tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah, karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, semua aktivitas sholat lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi. Pintu masjid ini selalu terkunci, namun tetap menarik perhatian Jemaah dari berbagai Negara untuk sekedar berkunjung. Sayangnya ada saja Jemaah yang melakukan perbuatan kurang terpuji dengan mencoret coret tembok masjid ini terutama di sisi sekitar pintu gerbang sisi timur masjid.

Sejarah Masjid Ali Bin Abu Thalib

Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahra yang merupakan putri kesayangan Rosulullah S.A.W. itu sebabnya masjid ini dinamai dengan nama Masjid Ali Bin Abu Thalib.

Bersamaan dengan dimulainya proyek perluasan Masjid Nabawi, masjid Ali Bin Abi Thalib dan dua masjid lainnya di lokasi yang berdekatan sempat dikabarkan akan di gusur, namun ternyata berita itu tak terbukti, masjid Ali Bin Abu Thalib masih berdiri ditempatnya meski tidak dibuka untuk umum. Semua aktivitas sholat berjamaah lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi karena memang lokasinya yang tidak berjauhan. Dan memang tidak ada anjuran ataupun keistimewaan untuk melakukan sholat di masjid ini.

Masjid Ali Bin Abu Thalib di tepi jalan Assalam dilihat dari arah pintu gerbang nomor 7 pelataran Masjid Nabawi. di sebelah kanan foto tepat disamping gerbang sebelah kanan terdapat gedung Museum Assalam.

Sejarah Pembangunan Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abi Thalib pertama kali dibangun ole Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang memerintah di Madinah sebagai pengingat sejarah tempatnya berdiri. Bangunan tersebut kkemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I pada saat Arab Saudi menjadi bagian dari wilayah Khalifah Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Renovasi terhadap masjid ini kembali dilakukan tahun 1269 H.

Dimasa kekuasaan kekuasaan Kerajaan Arab Saudi, Masjid Ali Bin Abu Thalib kembali  direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H, sebagaimana dijelaskan pada prasasti yang dipasang ditembok pagar disamping gerbang timur masjid. Raja Fahd memperluas masjid ini hingga mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter.

Sisi depan Masjid Ali Bin Abu Thalib menghadap ke jalan As-Salam, tampak dua gerbang pagarnya yang selalu tertutup dan terkunci rapat. Kini ada mesin ATM di depan masjid di area pedesterian, disebelah kanan gerbang utama-nya.

Arsitektur Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abu Thalib terdiri dari bangunan utama, satu menara, gerbang dan pagar keliling serta kamar mandi. Bangunan utama masjid ini dilengkapi dengan serambi dengan lima lengkungan berceruk dalam bentuk senada. Pintu utama berada di lengkungan tengah, empat lengkungan lain terdapat jendela berbentuk segi empat. Pintu masjid ini sejajar dengan gerbang utama masjid yang menghadap ke jalan raya As-Salam di sebelah utara masjid.

Bangunan utama masjid ini memanjang timur barat sepanjang 35 meter dengan lebar 9 meter. Dengan tembok massif warna putih tanpa kanopi. Bagian atapnya dilengkapi dengan tujuh kubah. Satu kubah utama sedikit ditinggikan dibagian tengah dengan denah segi delapan,sementara enam kubah lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan masing masing berdenah segi empat.

Masa kini Masjid Ali Bin Abu Thalib, berdiri diantara jejeran gedung gedung hotel yang berjejer di sekitar Kompleks Masjid Nabawi.

Sisi kiblat masjid Ali Bin Abi Thalib berada di sisi selatan karena memang kota Madinah berada di sebelah utara kota Mekah. Mihrab masjid ini berada dibagian tengah sisi kiblat berupa sebuah cerukan sedalam 1.25 meter di tembok sisi selatan yang sedikit dibangun menonjol kesisi luar, setinggi sekitar tiga meter. Dinding sisi selatan masjid ini dilengkapi dengan beberapa penopang tembok di sisi luar.

Secara keseluruhan masjid Ali Bin Abu Thalib ini memiliki langgam bangunan yang mirip dengan Masjid Al-Ghamamah, namun menaranya dibangun serupa dengan menara MasjidAbu Bakar Assidiq, berupa menara berdenah segi delapan dengan satu balkoni dan bagian puncaknya berbentuk kerucut lancip layaknya bangunan menara gaya Usmani. Satu menaranya ini dibangun di sudut tenggara masjid menempel ke tembok masjid.

Bangunan kamar mandi dan tempat wudhu dibangun di sebelah barat bangunan utama. Sekeliling masjid ini kini dilengkapi dengan pagar tembok dan dua gapura. Gapura utama di sisi utara dan gapura kedua di sisi timur. Pintu pagar di dua gerbang ini kini selalu dalam keadaan terkunci. Di bagian depan masjid di tengah jalur pedestrian kini berdiri 4 unit bangunan ATM berdenah segi delapan.***

Masjid Ali Bin Abu Thalib dengan latar depan arkade Hotel Aramas yang berada diseberang jalan masjid Ali bin Abu Thalib.
Aerial view Masjid Ali Bin Abu Thalib dari sisi selatan (sisi kiblat) tampak area mihrabnya yang sedikit menonjol keluar dari tembok masjid dibagian tengah.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A. Madinah

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Friday, May 1, 2020

Masjid Miqot Bir Ali, Madinah

Gerbang primer Masjid Miqot Bir Ali di Dhul Hulaifah, Madinah.

Masjid Miqot Bir Ali atau Masjid Miqot Dhul Hulaifah adalah salah satu masjid tempat miqot  atau memulai ihram bagi Jemaah haji dan umroh yang berasal dari Madinah atau yang melalui Madinah. Secara harfiah, Bir Ali berarti “sumur sumur Ali”, nama tersebut berkaitan dengan peristiwa saat Ali bin Abu Thalib menggali sumur dengan jumlah yang sangat banyak di masjid ini.

Oleh karenanya loka ini diberi nama Bir Ali, bir yg ialah adalah sumur menggunakan bentuk jamak, sedangkan Ali merupakan tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak. Tetapi saat ini sumur-sumur itu tertutup sang bangunan-bangunan disekitar masjid & bangunan masjid itu sendiri. Masjid ini pula biasa diklaim menjadi Masjid Miqot Dhul Hulaifah merujuk pada nama wilayah tempatnya berada.

Dhul Hulaifah Miqat Mosque

Dhul Hulaifah, Medina 42393, Arab Saudi

Masjid Bir Ali adalah masjid miqot terjauh berdasarkan kota suci Mekah, sedangkan jarak tempuh berdasarkan kota Madinah ke Bir Ali lebih kurang 11 kilometer. Menggunakan mobil hanya memakan saat sekitar 15 mnt.

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri dalam masa Rosulullah masih ada sebuah pohon jenis akasia yg sebagai tempat Rosulullah berteduh waktu miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tadi kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun dalam masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Masjid yang sama lalu direnovasi dalam masa dinasti Abbasiyah & direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada ketika itu masjid masih berbentuk sangat mini dan terbuat berdasarkan batu, & belum terdapat jemaah haji & umrah yang singgah pada masjid ini.

Diantara pohon pohon kurma.

Perluasan & peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yg memerintahkan renovasi dan ekspansi masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini sudah diperluas beberapa kali lipat, & diberikannya fasilitas yang diharapkan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar menggunakan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dilingkupi koridor koridor panjang menggunakan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri secara umum dikuasai bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar menggunakan 2 menara diatasnya.

Menara spiral masjid miqot Bir Ali.

Bangunan primer masjid berada pada dalam ?Tembok benteng? Tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yg teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat ?Inner courtyard? Atau pelataran tengah dilengkapi menggunakan satu pancuran air pada bawah bangunan kecil berkubah dilingkupi taman yang menghijau.

?Bangunan seperti benteng? Yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, loka wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, tempat kerja petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Mihrab dan mimbar masjid miqot Bir Ali.

Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral dengan tinggi 62 meter, lokasinya berada pada bagian pada tembok benteng. Masuk ke pada masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran akbar yang masing masing terhubung menggunakan lengkungan menjadi penyangga struktur atap diatasnya.

Dominasi rona merah pada permukaan lengkungan & hamparan karpetnya menaruh kesan glamor di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yg relatif akbar, dibagian bawahnya dibentuk relung relung yg difungsikan sebagai rak loka menyimpan kitab kudus Al-Qur?An.

Didalam masjid miqot Bir Ali.

Untuk kenyamanan Jemaah masjid Bir Ali dilengkapi dengan lebih dari 500 toilet dan kamar mandi dibagi menjadi tiga peruntukan masing masing toilet dan kamar mandi untuk Jemaah pria, wanita dan Jemaah difabel.  Banyaknya kamar mandi dan toilet tersebut sangat membantu Jemaah yang akan membersihkan diri dan bersuci sebelum memulai ihram dari masjid ini. Di masjid ini Jemaah juga akan melaksanakan sholat sunah umrah dilanjutkan dengan berniat dan melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Landscape disekeliling masjid ini berupa pegunungan batu & pasir dan perkebunan kurma yg cukup luas. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Bir Ali pula dilengkapi menggunakan laman parkir yg relatif luas & parkirnya tidak berbayar alias gratis.***

Koridor panjang di Masjid Miqot Bir Ali.
Inner courtyard di masjid miqot Bir Ali.
Jejeran pintu masjid miqot Bir Ali.
Taman di Masjid Miqot Bir Ali.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Ali Bin Abu Thalib Madinah

Masjid Abu Bakar Siddiq Madinah

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-1)

Tokoh Dibalik Sliding Dome dan Payung Masjid Nabawi

Masjid Arrahmah - Masjid Terapung kota Jeddah

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done