Islami Pedia: islam di tepian laut kaspia
News Update
Loading...
Showing posts with label islam di tepian laut kaspia. Show all posts
Showing posts with label islam di tepian laut kaspia. Show all posts

Wednesday, October 7, 2020

Islam di Azerbaijan (Bagian-1)

Di tepian Laut Kaspia. Azerbaijan berada di tepian Laut Kaspia, bertetangga dengan Iran di Selatan, Rusia dan Georgia di utara dan Armenia di sebelah barat. Sedangkan wilayah otonomi Nakhchivan berada diantara Armenia dan Iran, terpisah cukup jauh dari wilayah induk Azerbaijan.

Mengenal Azerbaijan

Azerbaijan adalah negara Eropa Timur yang sekuler dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Secara geografis Azerbaikan berada kawasan pegunungan Kaukasus di tepian laut Kaspia, Baku nama ibukotanya, berada di semenanjung Absheron yang menjorok ke laut Kaspia. Sebelum merdeka, Azerbaijan merupakan bagian dari Uni Soviet. Berbatasan dengan Rusia dan Georgia di sebelah utara, laut Kaspia di sebelah timur, Iran disebelah selatan serta Armenia disebelah timur. Azerbaijan memiliki wilayah Exclave atau wilayah yang terpisah jauh dari wilayah induk negaranya, yakni wilayah Nakhchivan yang yang terpisah dari wilayah induk Azerbaijan oleh wilayah negara Armenia, berbatasan dengan Iran dan sedikit dengan wilayah Turki.

Azerbaijan pertama kali di memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1918 sebagai Republik Democratik Azerbaijan, menjadikannya sebagai negara berpenduduk secara umum dikuasai muslim pertama yang berbentuk demokratik & sekuler, sekaligus jua sebagai negara dominan muslim pertama yg memiliki gedung operas, teater & universitas modern. Tahun 1920 atau dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan, Azerbaijan bergabung menggunakan Uni Soviet, namanya pun berubah sebagai Azerbaijan Soviet Socialist Republic. Seiring menggunakan runtuhnya Uni Soviet, Azerbaijan kembali memproklamirkan kemerdekaannya dalam tanggal 30 Agustus 1991, satu bulan sebelum dibubarkannya Uni Soviet secara resmi.

Di tahun yang sama pecah perang yang dipicu oleh keinginan penduduk di wilayah Nagorno-Karabakh untuk mendirikan negara sendiri dibantu oleh Armenia karena memang mayoritas penduduk di wilayah tersebut mayoritas dari etnis Armenia. hingga perang usai,  Wilayah Nagorno-Karabakh secara de fakto telah menjadi sebuah Republik Independen namun tidak memiliki pengakuan dari dunia Internasional kecuali oleh Armenia. Azerbaijan menjadi anggota PBB di tahun 1992.

Keseluruhan wilayah Azerbaijan, termasuk wilayah Nagorno-Karabakh yang memisahkan diri dan exclave Nakhchivan adalah seluas 86,600 km2 atau kira kira hampir sama dengan luas wilayah propinsi Sumatera Selatan (85.679 km2). sedangkan penduduk Azerbaijan sejumlah 9,165,000 jiwa di tahun 2011, atau hampir setara dengan penduduk Jakarta (9.607.787 jiwa, tahun 2010). Dari total penduduknya hampir 52% tinggal di kawasan perkotaan. Orang orang Azerbaijan biasa disebut Azeri atau Azeris.

Baku, Ibukota Azerbaijan merupakan kota metropolis ditepian Laut Kaspia. Meski politik negara ini menganut sistem sekuler, namun tetap berupaya mempertahankan ke-Islaman nya. Kehadiran masjid bertebaran di negara ini seperti salah satunya dalam foto diatas anda akan dengan mudah menemukan masjid Turki di tengah kota Baku diantara 3 Tower Of  Flame yang menjadi ikon kota Baku.

Mayoritas penduduknya ber-etnis Azerbaijani (91.60%), Lezgian (2.02%), Armenian (1.35%), Russian (1.34%) dan Talysh (1.26%), lain lain (2.43%).  Sebagian besar penduduk ber-etnis Armenia tinggal di wilayah yang memisahkan diri Nagorno-Karabakh. Bahasa resmi Azerbaijan adalah Bahasa Azerbaijan yang digunakan oleh 92% penduduk, Bahasa Azerbaijan sendiri merupakan bagian dari Bahasa Turki karena memang memiliki keterkaitan etnis dengan Turki. Selain itu juga digunakan Bahasa Rusia dan Bahasa Inggris.

Kehidupan Beragama di Azerbaijan

Sebagai sebuah negara sekuler, Konsitusi Azerbaijan tidak memutuskan kepercayaan resmi yg diakui negara. Namun menjamin kebebasan beragama bagi penduduknya. Azerbaijan tercatat menjadi negara yang mempunyai tingkat pengembangan SDM yg sangat tinggi dibandingkan dengan negara negara eropa timur lainnya, termasuk pada perkembangan ekonomi & taraf pengangguran yang rendah begitu jua dengan taraf buta aksara.

Sekitar 95% dari total populasi Azerbaijan memeluk agama Islam. Dan diperkirakan 85% dari muslim disana menganut Syi’ah, karena memang secara geografis bertetangga langsung dengan Republik Islam Iran, menempatkan Azerbaijan sebagai negara dengan penganut Syi’ah terbesar kedua di dunia, setelah Iran.  Hanya sekitar 15% muslim disana yang menganut Islam Suni.

Selain Islam, sebagian mini penduduk Azerbaijan memeluk kepercayaan Kristen (tiga.1%) sebagian akbar adalah Kristen Ortodox Rusia, Georgia & Russian Armenian Apostolic, sebagian mini lainnya memeluk agama Katholik Roma, Protestan, dan penganut Ajaran Yahudi Kuno yg pada anut oleh kurang lebih 10,000-20,000 yg tinggal di Azerbaijan

Islam di Azerbaijan

Berbagai laporan mengungkapkan hal senada tentang jumlah muslim di Azerbaijan yg adalah lebih banyak didominasi pada negara tersebut. CIA World Fact Book mengungkapkan nomor 91.6%, Berkley Center ditahun 2012 menyebutkan nomor 93.4%), dan pada tahun 2009 Pew Research Center mengumumkan output penelitian mereka bahwa 99.Dua% penduduk Azerbaijan adalah penganut agama Islam. Sebagian besar muslim disana menganut Syi?Ah.

Syi?Ah memiliki akar yang bertenaga pada wilayah selatan yg berbatasan menggunakan Iran termasuk kota Baku selaku ibukota negara & daerah Lenkoran, sedangkan Suni yg adalah minoritas pada negara tersebut sebagian besar tinggal dibagian utara yg bertetangga dengan Republik Dagestan, Rusia.

Selama 71 tahun negara tadi berada dibawah Uni Soviet membuat kehidupan beragama memang sebagai sesuatu yang terlarang, sehabis merdeka sejak tahun 1991, para pemimpin pada negara tadi menjadikan Azerbaijan sebagai negara sekuler namun permanen menaruh jaminan bagi kebebasan beragama. Tetapi pemerintah nir merogoh bagian kebijakan pada pendidikan agama Islam dengan nir memasukkan mata pelajaran agama pada pada kurikulum pendidikan.

Masjid Bibi Heybat, salah satu masjid bersejarah di Azerbaijan. Pernah dihancurkan semasa pendudukan Uni Soviet di Azerbaijan, namun kemudian di rekonstruksi setelah Azerbaijan kembali memperoleh kemerdekaannya.

Dari laporan laporan media masa mengungkapkan bahwa pemerintah negara tersebut jua tidak memperkenankan digunakannya symbol symbol agama di sekolah juga pada kantor tempat kerja pemerintahan termasuk di dalamnya tidak diperkenankan untuk memakai hijab bagi para muslimah. Akumulasi dari seluruh pertarungan tadi berakibat kepercayaan lebih poly dijalankan sebagai sebuah tradisi turun temurun.

Masuknya Islam Ke Azerbaijan

Islam pertam akali masuk ke Azerbaijan dibawa sang muslim awab pada abag ke tujuh masehi, secara berkelanjutan menggantikan ajaran Kristen dan kultus kultus paganism yg pernah terdapat sebelumnya. Di abad ke enam belas, Shah pertama dari Dinasti Safavid, Islamil I (1486-1524) membuahkan Syi?Ah menjadi kepercayaan negara, kendatipun sebagian muslim disana mengana Suni. Dijadikannya syi?Ah menjadi kepercayaan negara menimbulkan ketegangan antara penguasa dinasti Safavid menggunakan Penguasa dinasti Usmaiyah (Turki) yang menganut Suni.

Pada abad ke sembilanbelas, terjadi gelombang migrasi besar besaran berdasarkan Azerbaijan yang berada dibawah kendali Rusia menjadi dampak serangkaian perang antara Russia menggunakan dinastia Usmani (Turki) & menggunakan sendiri nya semenjak waktu itu, populasi syi?Ah di Azerbaijan sebagai secara umum dikuasai hingga waktu ini. Antagoni antara Suni dan Syi?Ah menyurut di penghujung abad ke sembilanbelas seiring dengan ditumbuhkannya rasa nasionalisme serta seiring dengan kebijakan pengusa yang meulai menekankan dalam warisan budaya Turki & berupaya menolak impak menurut Iran. [Bersambung]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

n Islam di Belarusia n Islam di Korea Utara n Islam di Kepulauan Reunion (Prancis) n Islam di Brazil n Islam di Ecuador (Bagian 2) n Islam di Ecuador (Bagian 1) n Islam di Barbados n Islam di Belize (Bagian 2) n Islam di Belize (Bagian 1) | Islam di Bolivia (Bagian 1) n Islam di Bolivia (Bagian 2) n Islam di Brazil n Islam di Paraguay (Bagian 1) n Islam di Paraguay (Bagian 2) n Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago n Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2) n Islam di Uruguay n Islam dan Masjid di Vanuatu n Islam dan Masjid di  Puerto Rico nIslam di Macao n

Islam di Azerbaijan (Bagian-2)

Azerbaijan relatif berhasil memadukan menggunakan cantik daerah kota tuanya menggunakan laju pembangunan di ibukota negara. Foto diatas mempelihatkan flame tower yg menjadi pujian warga kota Baku di latar belakang ad interim pada latar depannya berdiri dengan latif Masjid Taza Pir, keliru satu masjid bersejarah di kawasan kota tua Baku.

Islam di Azerbaijan Dimasa Uni Soviet

Di masa kekuasaan Uni Soviet, sebagian besar menurut 2000 (dua ribu) masjid yang sebelumnya aktif pada Azerbaijan di tutup oleh penguasa pada tahun 1930-an, meski lalu beberapa antara lain boleh dibuka kembali selama perang dunia ke 2. Soviet kemudian mempromosikan kesadaran nasionalisme bagi rakyat Azerbaijan, sebagi pengganti bukti diri sebelumnya yg melekat menjadi bagian global Islam.

Selama perang dunia kedua otoritas soviet membentuk Badan Agama Islam Transcaucasia di Kota Baku sebagai lembaga pengatur Islam di Kaukasus. yang berdampak pada dihidupkannya kembali Lembaga Islam seperti di masa kekuasaan Tsar. Pada masa soviet dibawah pimpinan Leonid Brezhnev dan Mikhail Gorbachev, Petinggi Soviet di Moskow mendorong pemimpin Muslim di Azerbaijan untuk mengunjungi dan menjadi tuan rumah para pertemuan negara negara Islam, dengan tujuan untuk mengesankan adanya kebebasan beragama dan kondisi kehidupan superior yang dinikmati oleh umat Islam di bawah kekuasaan komunis Soviet.

Selama Azerbaijan berada dibawah Uni Soviet hanya terdapat 17 Masjid pada negara itu yg boleh dibuka & dipakai. Di tahun 1980 hanya 2 masjid akbar & 5 masjid kecil yg berfungsi pada Kota Baku dan hanya sebelas masjid lainnya yang berfungsi menjadi masjid pada semua wilayah Azerbaijan. Muslim disana kala itu mengadakan peribadatan berjamaah secara sembunyi sembunyi pada tempat tempat rahasia.

Satu satunya tempat di Azerbaijan dimana symbol symbol Islam bebas digunakan adalah pusat Islam Syi’ah Konservatif di kota Nardaran, sekitar 25 kilometer di timur laut dari pusat kota Baku, disana juga di tempat tersebut juga terkenal dengan tempat suci Syi’ah dari abad ke 13 masehi. Kontradiktif dengan bagian wilayah Azerbaijan lainnya di Nardaran, penduduknya taat beragama, di mana jalan-jalan menampilkan spanduk spanduk agama dan kebanyakan wanita mengenakan cadar di area publik. Partai Islam yang merupakan partai oposisi di Azerbaijan didirikan di kota ini dan berpusat di sana. Selain Suni dan Syi’ah di Azerbaijan juga terdapat kelompok kelompok Sufi.

ADU TINGGI. Menara masjid Sahidlar yang berdiri tak tak jauh dari Flame Tower di pusat kota Baku, seakan adu tinggi dengan gedung tertinggi dan terindah di Azerbaijan itu.  Dari jauh, Masjid ini terlihat seperti liliput dibandngkan dengan bangunan Flame Tower yang ada di sebelahnya itu.

Islam pada Negara Sekuler

Seiring dengan meredupnya Uni Soviet dan merdeka nya Azerbaijan, terjadi pertumbuhan jumlah masjid yang luar biasa dinegara tersebut. Banyak diantara bangunan masjid tadi dalam pembangunannya dibantu sang negara negara Islam seperti Iran, Oman & Saudi Arabia yang juga berkontribusi memasok Al-Qur?An & energi pengajar. Hingga tahun 2014 diperkirakan sudah berdiri lebih berdasarkan 2000 masjid pada Azerbaijan.

Pasal 7 Konstitusi Azerbaijan menyatakan bahwa Azerbaijan merupakan negara Sekuler pada Pasal 19 Konstitusi nya menggunakan tegas menyatakan pemisahan antara agama menggunakan negara & menyatakan persamaan hak semua agama, termasuk pula karakter sekuler pada sistem pendidikannya. Merupakan bahwa tidak terdapat kurikulum pelajaran agama dalam sistem pendidikan Azerbaijan.

Para politisi sekuler pada Azerbaijan sudah menyuarakan keprihatinan tentang kebangkitan politik Islam, tetapi yang lain berpendapat bahwa Islam di Azerbaijan hanya memainkan peran yg sangat terbatas di bidang politik dan hanya sebagian mini dari populasi mendukung gagasan untuk melaksanakan hokum bernafaskan Islam. Hal ini ditimbulkan tradisi sekularisme yang telah berjalan relatif usang di Azerbaijan. Kemdati demikian dari beberapa analis, pada jangka panjang, bila politisi sekuler tidak berhasil memperbaiki kondisi, maka kemungkinan penduduk akan mengekspresikan ketidakpuasan mereka melalui politik Islam.***

MASJID HEYDAR. Masjid terbesar dan termegah di Azerbaijan dan kawasan sekitarnya. Masjid ini dibangun oleh presiden Ilham Lamiyev sebagai pemersatu ummat Islam di Azerbaijan. di masjid ini jemaah suni dan syi'ah sholat bersama dipimpin oleh imam dari suni dan syi'ah secara bergiliran setiap minggu.

Ide Persatuan Islam Azerbaijan

Presiden Ilham Aliyev yang sedang berkuasa menggulirkan sebuah gagasan persatuan ummat Islam Azerbaijan buat menghindari & menganulir perselisihan antara Syi?Ah yg lebih banyak didominasi dengan Suni yang minoritas, sedangkan arah kebijakan pemerintahannya justru berusaha menjalin balik kedekatan menggunakan Turki menjadi tetangga serumpun. Salah satu idenya merupakan menggunakan membangun Masjid yang diperuntukkan bagi semua muslim tanpa memandang golongannya. Masjid Heydar berdiri megah di Pusat Kota Baku dibangun selama 2 tahun & diresmikan penggunaannya oleh Presiden Ilham Aliyev pada tahun 2014.

Di Masjid ini, dan mungkin jua hanya pada masjid ini satu satunya pada global, yang imam sholatnya di atur bergiliran antara Imam berdasarkan Syi?Ah & Suni. Selain itu, presiden Ilham Aliyev pula gencar membentuk pulang masjid masjid yg dulu sempat dihancurkan atau rusak selama kekuasaan Uni Soviet termasuk membentuk ulang masjid bersejarah yg dikenal sebagai Masjid Bibi Heybat. Di masjid ini pula masih ada mausoleum penyebar Islam pada kota Baku & dia disebut sebut merupakan keturuanan menurut Rosulullah S.A.W.*** [selesai]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

Islam di Azerbaijan (bagian-1) n Islam di Belarusia n Islam di Korea Utara n Islam di Kepulauan Reunion (Prancis) n Islam di Brazil n Islam di Ecuador (Bagian 2) n Islam di Ecuador (Bagian 1) n Islam di Barbados n Islam di Belize (Bagian 2) n Islam di Belize (Bagian 1) | Islam di Bolivia (Bagian 1) n Islam di Bolivia (Bagian 2) n Islam di Brazil n Islam di Paraguay (Bagian 1) n Islam di Paraguay (Bagian 2) n Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago n Islam dan Masjid di Trinidad & Tobago (bagian-2) n Islam di Uruguay n Islam dan Masjid di Vanuatu n Islam dan Masjid di  Puerto Rico nIslam di Macao

Tuesday, October 6, 2020

Masjid Bibi Heybat Baku – Azerbaijan

Berlatar belakang pelabuhan di tepian laut at kaspia Masjid Bibi Hebat menyuguhkan pemandangan yang cukup menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.

Masjid Bibi Heybat adalah Masjid Megah di pinggiran kota Baku, Azerbaijan. Masjid dengan kisah teramat panjang. Masjid ini dibangun di tepian laut Kaspia di sekitar abad ke 13 untuk menghormati seorang muslimah yang diyakini muslim setempat sebagai masih keturunan Nabi Muhammad S.A.W. Awalnya hanya sebuah bangunan kecil dan kemudian dibangun sebuah masjid besar yang indah. Bibi Heybat yang menjadi nama masjid ini ternyata memang Berarti Bibi atau Tante Hebat. Sempat dihancurkan dimasa Uni Soviet kemudian dibangun lagi dengan bentuk yang serupa setelah Azerbaijan merdeka.

Dibangun Abad ke Tiga Belas

Masjid Bibi-Heybat didirikan pada abad 13 di pinggiran kota Baku – Ibukota Azerbaijan, dekat makam Ukeyma Khanum, yang diyakini oleh masyarakat setempat masih  merupakan keturunan Nabi  Muhammad SAW. Legenda masjid ini jauh mundur ke belakang ke Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid yang kekuasaannya berpusat di kota Bagdad (Iraq). Kala itu terjadi perselisihan antara Khalifah dengan Ali Ibnu Musa yang diyakini sebagai imam ke delapan oleh para pengikut Syi’ah. Pertikaian yang berujung hijrahnya Ali Ibnu Musa beserta pengikutnya keluar dari Bagdad ke provinsi Khorasan (kini Iran) dan menetap di sebuah desa kecil disana. Setelah wafat beliau di dimakam di tempat tersebut sebagai martir oleh para pengikutnya. Dikemudian hari makam beliau menjadi salah satu tempat tujuan ziarah utama bagi para penganut Syi’ah. Kota Mashad kemudian berkembang pesat disekitar lokasi tersebut dan menjadi salah satu kota Utama bagi Kaum Syi’ah.

Putri dari Ali Ibnu Musa yang bernama Okuma Khanim pindah ke kota Baku – Azerbaijan dalam upaya untuk menghindari perhatian dari pihak penguasa, menetap tak jauh dari pantai Laut Kaspia di kota Baku dan menjalani hidup sebagai wanita sholehah sesuai dengan keyakinan yang di anutnya. Beliau wafat dan dimakam disana, masyarakat setempat kemudian mendirikan bangunan kecil di atas pusaranya. Beberapa tahun berlalu, kabar tersebar kemana mana tentang makam seorang muslimah keturunan Nabi di kota Baku dan kemudian tempat tersebut-pun begitu dihormati.

Para Syeikh kemudian mulai menetap di sekitar lokasi makam dan tempat itu kemudian diberi nama Sheikhovo lalu menjadi Shikhovo. Disebutkan bahwa muslim dari berbagai daerah termasuk luar negara mulai datang berziarah makam Okuma Khanim. Kemudian sebuah bangunan masjid kecil dibangun dengan satu ruangan dengan satu tulisan kecil “dibangun oleh Mahmud ibnu Sa’ad." Plakat lainnya mengindikasikan bahwa bangunan masjid tersebut dibangun antara tahun 663H dan 665H atau bertepatan dengan tahun 1264-1266M. Mahmud ibnu Sa’ad  (adalah seorang arsitek, beliau juga yang merancang Benteng Kuno Nardaran, tak jauh dari kota Baku serta Masjid Mullah Ahmad di bagian kota tua Baku.

Komplek pemakaman di belakang masjid (dari arah jalan raya)

Pada tahun 1911, Pelindung kota Baku bernama Alasgar Agha Dadashov dengan arsitek Haji Najaf Kemudian membangun masjid baru yang megah di lokasi tersebut termasuk merekonstruksi bangunan makam. Bangunan masjid yang lama berbentuk kubus. Di dekat masjid ini terdapat komplek pemakaman muslim, dan salah satunya dikenal dengan nama Haji Syeikh Sharif, yang datang ke kota Baku untuk menyebarkan faham sufisme dan menghabiskan hidupnya di masjid ini.

Di tahun 1840 masjid ini dikunjungi oleh seorang petualang dan penulis dari Prancis bernama Alexander Dumas dan menceritakan masjid ini didalam bukunya yang berjudul "The World" dan mendeskripsikan masjid ini dalam buku nya sebagai “tempat peribadatan bagi para wanita mandul, mereka datang dengan berjalan kaki, berziarah dan dalam setahun mereka pun kemudian mampu memiliki keturunan”. Alexander Dumas bukan satu satunya yang menulis tentang masjid ini dalam buku perjalanan nya, diantaranya juga ada Abbasgulu Bakikhanov, Ilya Berezin, Johannes Albrecht Bernhard Dorn, Nicholas Khanykov dan Yevgeni Pakhomov.

Asal Muasal Nama Bibi Heybat

Nama Bibi Heybat berasal dari Bahasa Azerbaijan yang maknanya nyaris sama persis dengan Bahasa Indonesia. Bibi yang dimaksud dalam nama ini memang berarti Tante. Sedangkan Heybat yang dimaksud adalah nama pembantu dari Okuma Khanim. Kala itu di kalangan masyarakat setempat sangat tabu untuk memanggil seorang wanita dengan menyebut nama depannya. itu sebabnya kemudian masyarakat disana menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Bibi Heybat alias Masjidnya Si Bibi atau Tante Hebat.

Selain membangun ulang, pemerintah Azerbaijan juga mempercantik dan menambahkan fasilitas baru di area masjid ini salah satunya adalah pelataran luas lengkap dengan pancurannya.

Dimasa Uni Soviet

Masjid Bibi Heybat pernah mengalami kerusakan parah pada saat Azerbaijan berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Uni Soviet masuk ke Azerbaijan tahun 1920, Bolsheviks mulai melancarkan gerakan anti keagamaan. Masjid Bibi-Heybat menjadi target pertama serta Katedral Ortodoks Rusia Alexander Nevsky dan Gereja Katholik Roma Immaculate Conception menjadi sasaran penghancuran berikutnya menggunakan bahan peledak. Beberapa tempat ibadah lainnya yang tidak dihancurkan di alih fungsi menjadi gudang, museum, bengkel ataupun menjadi fasilitas militer.

Ironisnya, setelah penghancuran masjid tahun 1934, di tahun yang sama di Moskow, pemerintah Uni Sovyet memutuskan untuk melakukan konservasi terhadap bangunan bangunan bersejarah sebagai monumen arsitektur yang mengandung nilai sejarah penting.  Menyusul putusan itu, ketua Azkomstarisa Salamov dihukum 20 tahun di pengasingan di Siberia, karena telah menghancurkan masjid masjid bersejarah.

Rekonstruksi Masjid Bibi Heybat

Tahun 1994, setelah Azerbaijan merdeka, Presiden Azerbaijan, Heydar Aliyev memerintahkan pembangunan kembali masjid baru Bibi-Heybat  persis di tempat masjid asli yang sudah hancur. Denah dan ukuran kompleks masjid yang dipugar tahun 1980, didasarkan pada foto-foto yang diambil sesaat sebelum  masjid diledakkan, termasuk catatan dari sejumlah penjelajah yang menggambarkan  kondisi masjid hingga pertengahan tahun 1920an juga turut memberikan kontribusi teramat penting dalam restorasi Masjid Bibi-Heybat adalah artikel singkat yang ditulis oleh Sadig tahun 1925.

Keindahan Masjid Bibi Heybat di malam hari

Rekonstruksi masjid dan komplek disekitarnya selesai dan diresmikan pada tanggal 11 Juli 1997 dalam sebuah acara resmi yang dihadiri presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev. 63 Tahun setelah dihancurkan masjid penuh legenda itu ahirnya berdiri kembali. Di tahun 2005 bangunan masjid ini diperluas dengan menambahkan ruangan baru dalam ukuran besar dan selesai di tahun 2008, untuk memastikan kenyamanan Jema’ah.

Objek Wisata

Masjid berukuran besar ini menjadi salah satu daya Tarik wisata Azerbaijan terutama di Kota Baku. beberapa rumah makan khas kuliner setempat berdiri tidak jauh dari masjidi ini yang memang letaknnya tidak terlalu jauh dari bibir panta. Bangunan Masjid Bibi Heybat ini serta beberapa bangunan masjid lainnya di Azerbaijan memang lebih terlihat indah di senja dan malam hari dengan taburan cahaya lampu yang menyinarinya. sementara disiang hari yang tampak kemegahan bangunan dengan warna yang senada.

Aritektural Masjid Bibi Heybat

Interior masjid ini di dekorasi dengan keramik bewarna biru. sebuah lampu Kristal besar mengantung di ruang utama. Manakala angina kencang kota baku berhembus masuk ke dalam masjid, Kristal pada lampu gantung masjid ini mengeluarkan bunyi gemerincing. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan Menara setinggi 20 meter sebagai tempat muazin menyuarakan azan. ada 40 anak tangga dari batu yang menghubungkan masjid ini dengan pelabuhan kecil terdekat di pantai laut Kaspia sebagai tempat pengunjung menambatkan perahu atau kapal mereka. Legenda menyebutkan bahwa dinding tebal masjid Bibi Heybat ini teramat sulit untuk dihancurkan dengan cara manual termasuk bangunan menaranya, itu sebabnya kemudian diledakkan dengan dinamit oleh rezim komunis sPage 3 of 4aat itu.

dari arah yang lain

Di tahun 1903 seorang seniman membuat lukisan masjid ini. Orang Inggris pernah berupaya membujuk seniman tersebut untuk menjual lukisan itu padanya. namun kemudian kabar itu terdengar oleh seorang pengusaha minyak kaya raya bernama Taghiyev menemukannya dan membawa kembali lukisan tersebut hingga tidak keluar dari Azerbaijan. Semasa revosulis Bolshevik (1920) saat seluruh kekayaan Taghiyev's disita penguasa komunis, lukisan tersebut lenyap tanpa jejak. 40 tahun kemudian atau di tahun 1964 setelah Stalin Wafat, seseorang yang tidak disebutkan namanya menyumbangkan lukisan dimaksud ke Musium Seni Azerbaijan dan masih tersimpan disana hingga kini.

Setelah di restorasi masjid ini menjadi lebih besar dan lebih megah namun tetap dengan bentuk arsitetur awal. Proses rekonstruksi melibatkan arsitek terkenal Sanan Sultanov yang merancang masjid ini dengan gaya Arsitektur Shirvan, dengan mempertahankan pola tradisional bangunan aslinya. Bangunannya dilengkapi dengan tiga kubah dan dua Menara mengapit bangunan utama. bagian dalam kubah dihias dengan kaligrafi Al-Quran dengan paduan warna hijau dan biru kehijauan.

Legenda Masjid Bibi Heybat

Legenda masyarakat setempat menyebutkan bahwa dua malam setelah masjid tersebut dihancurkan. masyarakat disana tidak bisa tidur akibat menahan rasa marah karena tempat ibadah mereka sudah dihancurkan. saat fajar tiba terdengar suara teriakan keras diiringi suara benda jatuh yang begitu keras dari arah reruntuhan masjid. Masyarakat yang kaget berlarian ke arah reruntuhan masjid tersebut dan mendapati pasukan merah yang ditugaskan menjaga tempat itu berdiri dengan mata  terbelalak dalam ketakutan teramat sangat, mereka menunjuk ke arah laut Kaspia sambil menyeracau dengan suara keras.

Orang orang yang berkumpul disana melihat seorang wanita berkerudung putih sedang berjalan turun ke laut lalu menghilang ke dalam rona merah matahari yang sedang terbut dan kilauan cahayanya di permukaan air laut. Seorang pria tua diantara mereka kemudian bergumam “Dia pasti akan kembali lagi, kembali dalam waktu yang lebih baik”. Sementara anggota tentara merah yang menjaga disana mengaku terbangun dari tidur mereka oleh suara seperti benturan banturan batu yang teramat keras kemudian melihat sesosok wanita berpakaian putih tiba tiba muncul begitu saja dari puing puing reruntuhan dan saat melintasi mereka tercium aroma mawar yang semerbak.

legenda lainnya menyebutkan bahwa tentara merah yang terlibat dalam penghancuran Masjid Bibi Heybat semuanya mati dalam keadaan menggenaskan. Ada yang mati karena tenggelam, tertimpa batu besar bahkan ada yang mati kesetrum. yang namanya legenda tetaplah legenda dan teramat sulit untuk dipisahkan dengan fakta. namun yang benar benar terjadi adalah 63 tahun setelah dihancurkan masjid itu memang berdiri kembali alias dibangun ulang dalam bentuk yang lebih baik di masa yang lebih baik seperti yang di ucapkan sosok wanita berpakaian putih sebagaimana disebutkan dalam legenda tadi. Dan Nyatanya bahwa masjid ini memang telah menjadi salah satu ikon yang memiliki kesan teramat mendalam bagi warga setempat.***

[Dari berbagai sumber]

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

n Islam di Azerbaijan (bagian-1) n Islam di Azerbaijan (bagian-2) n Masjid Heydar Baku – Azerbaijan n Masjid Saint Petersburgn Masjid Sentral Perm (Perm Central Mosque) n Masjid Akhmad Kadyrov Chechnya n Masjid Agung Makhachkala Dagestann Masjid Agung Magas Ingushetia n Masjid Moscow Historical Mosque (MHM) n Masjid Memorial Moskow n Masjid Katedral Moskow n

Masjid Heydar - Baku, Azerbaijan

MEGAH DI MALAM HARI. Masjid Heydar di kota Baku, Azerbaijan. Tampak mewah dalam balutan warna ke emasan dari sinar lampu yang menyinarinya di malam hari.

Azerbaijan galat satu negara berpenduduk mayoritas muslim, berada pada tepian Laut Kaspia. Meski berpenduduk secara umum dikuasai muslim, negara ini secara tegas menganut sistem sekuler di pemerintahannya yg memisahkan agama dari politik & ketatanegaraan. Lebih menurut itu pada negara ini pelajaran agama nir masuk dalam kurikulum pendidikan nasional. Beberapa pengamat politik menyebut bahwa elit politik negara ini masih belum sepenuhnya bebas berdasarkan impak Soviet yang menguasai negara ini selama beberapa puluh tahun sebagai akibatnya mengikis sedikit-sedikit pemahaman mereka mengenai Islam, sehingga menjadi masuk akal pada saat negara ini kembali merdeka seiring menggunakan ambruknya Uni Soviet para elitnya lebih memilih sekulerisme sebagai landasan politiknya.

Namun demikian, secara individu, muslim pada negara ini permanen tidak mau kehilangan bukti diri ke-Islaman mereka, pun dengan pemerintahannya. Sebagian akbar muslim di Azerbaijan menganut faham Syi?Ah, ad interim Suni adalah minoritas, meski belum terdapat laporan ukiran yang berujung tindak kekerasan pernah terjadi pada negara tersebut. Beberapa pihak menengarai bahwa ?Kerukunan? Diantara dua gerombolan ini terjalin menjadi impak berdasarkan beberapa faktor antara lain merupakan kerasnya gaung Nasionalisme yg dikumandangkan sang penguasa Uni Soviet ketika berkuasa di negara itu masih membahana sampai hari ini. Ditambah menggunakan factor ke 2 yakni rendahnya pemahaman mereka akan ajaran Islam yg kini lebih banyak dijalankan dari tradisi turun temurun berdasarkan nenek moyang.

TANPA WARNA WARNI. Ciri khas masjid di Kaukasus dan Azerbaijan adalah bangunan luarnya tanpa warna warni yang menyolok meski dengan berbagai deril ornamen yang menawan.

Gagasan Persatuan Ummat Islam Azerbaijan

Pemerintah Azerbaijan dibawah kepemimpinan presiden Ilham Aliyev menggagas ide persatuan ummat Islam Azerbaijan. Ide ini tentu saja untuk meredam perselisihan diantara pada penganut Syi’ah dan Suni di negara tersebut. Salah satu wujud dari ide tersebut dengan dibangunnya masjid Nasional di Ibukota Baku dan diberi nama Masjid Heydar. Masjid yang begitu megah ini dibangun atas perintah langsung dari presiden Ilham Aliyev beliau sendiri bahkan berkali kali melakukan inspeksi mendadak terhadap progress pembangunan masjid ini.

Heydar mosque atau masjid Heydar merupakan masjid terbesar di kota Baku, Ibukota Republik Azerbaijan sekaligus disebut sebut sebagai masjid terbesar di kawasan kaspia dan sekitarnya. Dengan luas area mencapai 12 ribu meter persegi dilengkapi dengan empat Menara setinggi 95 meter. Sebagai masjid nasional, masjid ini terbuka bagi semua pemeluk Islam tanpa memandang mazhab, aliran dan faham yang mereka anut.

Proyek masjid ini mengambil loka pada distrik Binagati kota Baku, pembangunannya dimulai bulan September tahun 2012, dan diselesaikan pada ketika 2 tahun, dibawah pengawasan eksklusif berdasarkan presiden Azerbaijan yg berulang kali meninjau perkembangan pembangunan masjid tersebut, termasuk pembangunan tiga jalan akses menuju masjid Heydar ini. Bangunan masjid glamor ini diresmikan sang presiden Ilham Aliyev dalam lepas 26 Desember 2014. Pembangunan masjid ini diperkirakan menghabiskan dana lebih kurang 10 juta manats.

Nama Tokoh Nasional

Sesuai dengan ide pembangunannya sebagai pemersatu ummat Islam nasional, penamaan masjid inipun mengambil nama tokoh nasional Azerbaijan, nama Heydar diambil dari nama mendiang pemimpin besar Azerbaijan, Heydar Aliyev, yang tak lain adalah ayah dari Presiden Ilham Aliyev. Dimasa kempemimpinan Heydar Aliyev, Azerbaijan mengalami perkembangan yang cukup pesat semasa negara tersebut masih bergabung bersama uni Soviet (1970-1980) hingga dimasa merdeka. Sosok Heydar Aliyev yang menetapkan pondasi perjuangan bagi kemerdekaan Azerbaijan meskipun kemerdekaan belumlah tercapai dimasa itu. Beliau juga yang menetapkan bendera tiga warna Azerbaijan dalam salah satu sesi Majelis tertinggi Nakhchivan di masa Uni Soviet.

MEWAH. Tampak megah meski dengan satu warna pada sisi luar masjid dengan empat Menara menjulang tinggi ini, namun bertabur cahaya warna warni dan meriah di malam hari.

Heydar Aliyev juga terpilih sebagai presiden Azerbaijan tahun 1993 setelah berahirnya perang akibat pendudukan oleh Armenia. Dimasa kepemimpinan Heydar Aliyev telah dibangun lebih dari 500 masjid baru di Azerbaijan, ratusan masjid telah diperbaiki, semasa hidupnya Heydar Aliyev juga pernah menunaikan Ibadah Haji dan berkesempatan berdoa di dalam Ka’bah.

Imam Suni & Syi?Ah satu atap

Masjid Heydar pada kota Baku ini menjadi symbol persatuan Ummat Islam di Azerbaijan. Di masjid ini Suni dan Syiah sholat beserta sama dengan imam secara bergantian setiap pekan baik dari Suni maupun menurut Syiah. Hafiz Abbasov secara teratur ditunjuk sebagai Imam Sunni bergantian menggunakan Rufat Garayev sebagai Imam Syiah pada masjid tersebut. Sebuah harmoni yg sepertinya teramat sulit dilaksanakan pada negara negara berpenduduk dominan muslim lainnya termasuk di Indonesia.

AROMA SEKULER. Upacara peresmian Masjid Heydar. Agak terlihat aneh bagi orang Indonesia atau Muslim di negara lainnya, acara peresmian masjid (di dalam masjid) tapi tamunya menggunakan kursi meski tetap membuka alas kaki dan Ibu Negaranya tampil tidak dengan busana Muslimah.

Masjid Terbesar di Kaukasus

Beberapa laporan media menyebut masjid Heydar pada kota Baku ini menjadi masjid terbesar menggunakan Menara tertinggi pada tempat Kaukasus. Empat Menara setinggi 95 meter yang berdiri di empat penjuru masjid ini dilengkapi dengan empat elevator buat menuju ke puncak Menara. Keindahan masjid ini pula pada lengkapi dengan kaligrafi berdasarkan ayat ayau Al-Qur?An. Selain empat elevator pada Menara, masjid ini juga dilengkapi dengan escalator, 4 escalator buat ke ruang Jemaah laki laki & dua escalator ke ruang Jemaah spesifik wanita.

Kapasitas masjid ini diperkirakan mencapai lebih dari 2000 jemaah. ruang sholat utamanya seluas 900 meter persegi  ditambah dengan ruang sholat khusus Jemaah wanita seluas 350 meter persegi. di lantai dasar masjid disediakan tempat parkir dan beberapa ruangan untuk peruntukan umum termasuk untuk kantor pengelola.

SIDAK PRESIDEN. Presiden Ilhan Aliyev bersama Istrinya Mehriban Aliyeva dalam salah satu kunjungannya meninjau pembangunan masjid Heyadar.

Dari sisi arsitektur masjid masjid pada kota Baku termasuk juga Masjid Heydar ini bisa dikenali menurut bentuk-nya yang sederhana tetapi dengan rancang bangun yang bagus. Beberapa masjid masjid bersejarah bertebaran pada kota ini dengan rancangan yang memiliki kemiripan menggunakan masjid Masjid Heydar meski dengan skala dan zaman yang tidak selaras. Seperti model merupakan Masjid Goy yg dibangun tahun 1912.

Lalu Komplek Masjid Bibi Heybat, yang jua terdapat makam tokoh tokoh terkemuka penyebar Islam pada Azerbaijan, hingga kini dikenal sebagai galat satu bangunan yang sangat terkenal pada Azerbaijan. Ditambah lagi dengan bangunan masjid Taza Pir yang adalah galat satu bangunan terkemuka pada kota Baku dibangun tahun 1905 dan selesai tahun 1914. Berdirinya Masjid Heydar ini menambah jejeran bangunan Islam ternama di kota Baku Khususnya dan Azerbaijan dalam umumnya.***

---------- ooo000ooo ----------

Baca Juga

n Islam di Azerbaijan (bagian-1) n Islam di Azerbaijan (bagian-2) n Masjid Saint Petersburgn Masjid Sentral Perm (Perm Central Mosque) n Masjid Akhmad Kadyrov Chechnya n Masjid Agung Makhachkala Dagestann Masjid Agung Magas Ingushetia n Masjid Moscow Historical Mosque (MHM) n Masjid Memorial Moskow n Masjid Katedral, Masjid Agung kota Moskow n

Saturday, August 29, 2020

Islam di Kazakhstan

Muslim Kazakhstan dalam kesibukan menyiapkan domba pada hari raya Idul Adha di pekarangan masjid Agung Al-Maty.

Tentang Kazakhstan

Republik Kazakhstan adalah sebuah negara pecahan Uni Soviet yang memproklamirkan kemerdekaannya pada 16 Desember 1991. Secara geografis Kazakhstan berada di daerah Asia Tengah, wilayahnya terkunci pada daratan tanpa akses sama sekali ke lautan. Luas Kazakhstan mencapai 2,724,900 Km2, bahkan lebih luas dari luas adonan semua negara Eropa Barat. Dengan luasnya itu menjadikan negara ini sebagai Negara daratan tanpa samudera menggunakan wilayah terluas di global, sekaligus sebagai negara bekas wilayah Soviet terluas kedua setelah Rusia, & negara terluas ke 9 di dunia.

Kazakhstan juga merupakan negara lintas benua, sebagian besar wilayahnya masuk dalam kawasan Asia bagian Tengah dan sebagian kecil lainnya masuk kawasan Eropa bagian Timur, sehingga memiliki keuntungan geografis dan secara geopolitik layak diperhitungkan. Wilayahnya yang terbentang dari barisan Pegunungan Altai di timur, hingga Laut Kaspia  di barat. Kazakhstan sering disebut dengan “Virgin Lands” karena beberapa wilayahnya yang belum tersentuh sama sekali. Sebagian besar wilayahnya berbatasan langsung dengan Rusia, terutama di sebelah utara dan barat. Di sebelah timur, berbatasan dengan Provinsi Xinjiang, Tiongkok, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Uzbekistan, Turkmenistan, dan Kirgistan.

Kazakhstan, Al-Farabi & Boikonur

Kazakhstan merupakan tanah kelahiran Al-Farabi (870-950), Ahli filsafat Islam dimasa kekuasaan dinasti Abasiyah, beliau berasal dari Farab dan bernama asli Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi' dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir. ia mengenal para filsuf Yunani; Plato, Aristoteles dan Plotinus dengan baik. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa. Selain itu, ia juga dapat memainkan dan telah menciptakan bebagai alat musik.

Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Dia adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Pemerintah Kazakhstan memberikan penghormatan kepada Al-Farabi dengan mengabadikan lukisan dirinya di lembaran uang kertas Kazakhstan.

Baikonur adalah sebuah kota di Kazakhstan bagian selatan. Terkenal di dunia internasional dengan kosmodrom-nya atau pusat peluncuran pesawat luar angkasa yang sudah ada sejak masa Uni Soviet. Pesawat luar angkas Uni Soviet, Sputnik, yang melegenda karena keberhasilannya mendarat di bulan, diluncurkan dari tempat ini. Kini Kosmodrom Baikonur di operasikan oleh Pemerintah Rusia dengan status sewa lahan kepada pemerintah Kazakhstan hingga tahun 2050 dengan nilai sewa mencapai US$115,000,000 per tahun. Aidyn Aimbetov adalah astronot Kazakhstan pertama yang meluncur ke angkasa luar dari Kosmodrom Boikonur di tahun 2015.

Al-Farabi di mata uang kertas kazakhstan, Tenge (KZT)

Sejarah Singkat Kazakhstan

Wilayah yang kini menjadi Republik Kazakhstan dalam sejarahnya pada awalnya dihuni oleh suku suku yang hidup nomaden. Selama berabad abad wilayah ini dipengaruhi begitu kuat oleh Turki dan Mongol, pernah juga menjadi bagian dari wilayah dinasti Abasiyah. Di abad ke 13 Gengis Khan dari Mongolia mencaplok wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai bagian dari Kekaisaran Mongolia. Wajar bila kini secara genetik Kazakhstan merupakan perpaduan antara etnis Turki dan Mongol.

Kekuasaan Rusia mulai masuk ke wilayah itu di abad ke 18 hingga pertengahan abad ke 19 sampai ahirnya seluruh wilayah tersebut masuk ke dalam kekuasaan Kekaisaran Rusia. Seiring dengan terjadinya revousia Rusia tahun 1917 dan serangkaian perang sipil, wilayah Kazakhstan kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet dengan nama Kazakh Soviet Sosialis Republic. Dan ketika Emperium Uni Soviet runtuh di tahun 1991, Kazakhstan menjadi negara terahir yang memproklamirkan kemerdekaan nya lepas dari Uni Soviet.

Kazakhstan pada mulanya beribukota di Almaty hingga tahun 1998 atau tujuh tahun setelah merdeka dari Uni Soviet, ibukota negaranya dipindahkan ke Astana yang merupakan kota baru yang sengaja dibangun sebagai ibukota pemerintahan negara. Hingga kini Astana menjadi kota terbesar ke dua di negara tersebut setelah Almaty.

Agama di Kazakhstan

Jumlah penduduk Kazakhstan sekitar 15.753.460 jiwa, Etnik terbesar Kazakstan merupakan keturunan dari kabilah Turki dan Mongol. Komposisi pemeluk agama di Kazakhstan yaitu 70,2 persen Muslim; 26,6 persen Kristen; 0,1 persen Budha; 0,2 Yahudi dan 2,8 persen Atheis. Sementara 0.5 persen tidak menjawab, kemungkinan Kristen dari campuran Rusia atau Eropa.

Masjid Agung Al-Maty

Paling Makmur di Asia Tengah

Titik penting Kazakhstan bisa dilihat dari sosok negara ini yang dahulunya tak dikenal karena terpencil di wilayah Asia Tengah, kini menjelma menjadi sebuah negara dengan kekuatan minyak dunia. Ketika masih bergabung dengan Uni Soviet, Kazakhstan hanya dikenal karena masakan khasnya berupa hasil olahan daging kuda. Namun kini, Kazakhstan berubah menjadi negara paling makmur di antara negara-negara Asia Tengah. Dengan cadangan minyak sebesar 29 miliar barel, menjadikan negara ini sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di luar kawasan Timur Tengah.

Cadangan tersebut diperkirakan berlipat ganda pada dasawarsa berikutnya, sehingga mendatangkan pebisnis-pebisnis dari luar negeri. Chevron dan Exxon Mobil dari Amerika Serikat, Total dari Perancis, Gazprom dan Lukoil dari Rusia, serta Chinese National Petroleum Company dari Republik Rakyat Tiongkok sudah mengantri untuk mengeksploitasi minyak. Ladang minyak yang dia buka di Tengiz dan Kazhagan banyak menghasilkan keuntungan bagi Kazakhstan. Tiongkok bahkan merancang jalur pipa sepanjang 1.000 km untuk mengalirkan minyak dari Atasu di Kazakhstan ke Daerah Otonomi Xinjiang di Tiongkok.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Kazakhstan

Hubungan Indonesia dan Kazakhstan

Pemerintah Republik Indonesia telah menjalin hubungan diplomatik dengan Republik Kazakhstan sejak 2 Juni 1993. Pembukaan hubungan diplomatik secara resmi tersebut merupakan titik awal hubungan kerja sama kedua negara, setelah sebelumnya Indonesia memberikan pengakuannya bagi proklamasi kemerdekaan negara Republik Kazakhstan, pada 16 Desember 1991. Indonesia telah menempatkan kantor Kedutaan besar Republik Indonesia di kota Astana. Duta Besar Republik Indonesia yang berkedudukan di Astana sekaligus merangkap sebagai duta besar dan berkuasa penuh Republik Indonesia untuk Republik Tajikistan. Kunjungan tingkat kepala negara pernah dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Kazakhstan di Bulan September 2013.

Indonesia dan Kazakhstan memiliki banyak kesamaan, berupa sumber daya alam melimpah, yang membuat keduanya dapat memperoleh pendapatan negara yang signifikan. Mayoritas penduduk kedua negara memeluk agama Islam, dengan keanekaragaman budaya yang melimpah dan dapat hidup berdampingan secara harmonis, serta sama-sama memiliki komitmen di bidang penegakan hak asasi manusia, supremasi hukum dan demokrasi.

Islam di Kazakhstan

Islam mulai masuk ke Kazakhstan di abad ke-8 saat bangsa Arab mulai masuk ke Kazakhstan dan memperkenalkan Islam. Bangsa Arab menguasai Transoxania (Mavarannahr) di bagian selatan Kazakhstan, terletak antara sungai Syr-dar’ya dan Amu-dar’ya dan secara bertahap berkembang hingga wilayah utara. Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Irak menguasai wilayah Kazakhstan hingga abad ke-12. Islamisasi pertama kali terjadi pada masa ini, dimana penduduk Kazakhstan saat itu masih banyak menganut Zoroaster (penyembah api), Kristen, Budha dan pagan masih banyak dianut oleh penduduk Kazakhstan. Namun proses Islamisasi ini berakhir ketika Mongol menguasai Kazakhstan pada tahun 1220-an.

Tradisi Islam. Pakaian tradisional Kazakhstan di abadikan dalam salah satu prangko resmi Kazakhstan. Dari pakaiannya terlihat tradisi Islam memang sudah mengakar dalam tradisi dan budaya Kazakhstan, sejak berabad abad yang lalu.

Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada abad ke-18 dan 19, ketika Islam mendominasi di bidang politik saat Kazakhstan berada di bawah kekuasaan Tsar Rusia. Kekaisaran Rusia memberi ruang bagi perkembangan Islam dimasa Kazakhstan berada dibawah kendali Kazan Khanate. Gerakan nasionalisme sempat muncul di tahun 1917 digaungkan oleh kelompok nasionalis sekuler yang dikenal dengan Horde of Alash (nama legendaris bagi bangsa Kazakhs) dan mereka berhasil mewujudkannya, namun hanya berlangsung selama dua tahun (1918-1920).

Pemerintahan ini akhirnya dilindas oleh Uni Soviet, dan Kazakhstan akhirnya dijadikan salah satu republik otonom di lingkungan Uni Soviet. Berkuasanya Uni Soviet di Kazakhstan sekligus juga menghentikan perkembangan Islam periode kedua di wilayah tersebut. Seiring dengan runtuhnya Tsar Rusia dan berganti dengan rezim Uni Soviet yang berhaluan Komunis memberangus Nasionalisme dan Islamisasi di Kazakhstan.

Runtuhnya Uni Soviet

Mikhail S. Gorbachev naik sebagai penguasa Soviet pada tahun 1985-1991 dia menunjuk Gennady Kolbin sebagai penguasa di Kazakhstan, menggantikan Dinmukhamed Kunayev yang dianggap oleh pemerintah Moscow melakukan KKN. Namun kepemimpinan Kolbin tak disukai oleh warga Kazakhstan. Pada akhirnya kedudukan Kolbin digantikan oleh Nursultan Nazarbayev, seorang insinyur, pada tahun 1989.

Masjid Agung Oktobe di kota Oktober, Kazakhstan

Ketika Gorbachev mendeklarasikan perestroika, dan diikuti oleh kemerdekaan negara-negara di bawah payung Uni Soviet, pada tahun 1990, maka pada bulan Maret 1990, Kazakhstan mengadakan pemilu multipartai, dan Nursultan Nazarbayev memenangkan pemilu tersebut. Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1991, Kazakhstan menyatakan kemerdekaannya, dan melepaskan diri dari cengkeraman Uni Soviet, Nursultan A. Nazarbayev terpilih sebagai presiden pertama di era merdeka.

Kemerdekaan negara itu memberikan ruang kepada Islam untuk kembali berkembang di Kazakhstan. Islam tumbuh dengan cepat antara tahun 1990-1995. Pembangunan masjid baru maupun menghidupkan masjid yang terbengkelai ketika komunis Soviet berkuasa dilakukan hampir seluruh kota di seluruh Kazakhstan. Hingga tahun 1991 saja, sudah 170 masjid yang dibuka di negara ini, dan lebih setengahnya adalah masjid masjid baru, dan diperkirakan komunitas Islam saat itu sudah mencapai 230 organisasi yang aktif berdakwah. Edisi al-Qur’an terjemahan pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet Cyrillic diterbitkan di Almaty pada tahun 1992.

Perguruan tinggi Islam banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab. Dengan ghirah Islam seperti itu, banyak negara-negara Islam yang bersimpati dan akhirnya memberikan bantuan dana demi tegaknya Islam di Kazakhstan, antara lain berasal dari Turki, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka memberikan donasi sebesar US $ 10 juta untuk membangun Pusat Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Center) di Almaty, dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Nursultan Nazarbayev, Presiden Kazakhstan pada tahun 1993.

Masjid Agung Nur Astana di Astana, Ibukota Kazakhstan

Islam dan Negara

Di tahun 1990 Nulsultan Nazarbayev yang berstatus sebagai Sekjen Partai Komunis Kazakhstan di era Soviet, mendirikan lembaga Islam negara yang lepas dari Otoritas Lembaga Islam Asia Tengah bentukan Uni Soviet yang berfungsi sebagai lembaga induk seluruh organisasi Islam di kawasan Asia Tengah. Nazarbayev kemudian membentuk lembaga Islam sendiri (Mufti) bagi muslim Kazakhstan. Pemisahan diri dari lembaga Mufti Asia Tengah tersebut justru menandai dengan tegas pemisahan agama (Islam) dari Negara.

Konstitusi Kazakhstan tahun 1993 dengan jelas melarang parta politik berbasis agama. Disusul kemudian dengan konstitusi tahun 1995 dengan tegas melarang organisasi apapun yang berlabel suku bangsa tertentu baik secara politik ataupun agama, serta memberikan pengawasan yang ketat terhadap lembaga keagamaan negara luar yang beroperasi di Kazakhstan. Konstitusi 1995 tersebut secara tegas menjadikan negara itu sebagai negara sekuler, Sekaligus menjadikan Kazakhstan sebagai satu satunya negara Asia Tengah yang tidak memberikan status khusus apapun kepada Islam dalam konstitusinya, meskipun negara tersebut menjadi bagian dari Organisasi Konfrensi Islam (OKI).

Kazakhstan menjadi sebuah negara berpenduduk mayoritas muslim namun memproklamirkan diri sebagai negara sekuler. Akan tetapi di sisi lain tetap mempertahankan identitas ke-Islaman-nya. Nursultan Nazarbayev berusaha memainkan peran sebagai penghubung dunia Islam di timur dengan dunia Kristen di barat, menjalin hubungan erat dengan negara negara Islam dan dunia barat namun tetap berupaya mendapatkan dukungan dari Rusia, sebagai contoh nyata adalah ketika di tahun 1994 beliau berkunjung ke ke kota suci Mekah, namun di tahun yang sama beliau juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Paus Paulus II di Vatikan.***

-----------------

Baca Juga

Masjid Baiken Dibangun di Bekas Tempat Judi

Masjid Bibi Heybat Baku – Azerbaijan

Masjid Heydar Baku – Azerbaijan

Masjid Saint Petersburg

Masjid Sentral Perm (Perm Central Mosque)

Masjid Akhmad Kadyrov Chechnya

Masjid Agung Makhachkala Dagestan

Masjid Agung Magas Ingushetia

Masjid Katedral Moskow

Thursday, August 27, 2020

Masjid Nur- Astana, Kazakhstan

PRESIDEN DAN IBUKOTA. Masjid Nur Astana, merupakan masjid terbesar kedua di Kazakhstan setelah masjid Hasrat Sultan yang juga berada di Astana. Nur adalah nama depan presiden Nursultan Nazarbayev. dan Astana adalah nama kota baru yang dibangun Presiden Nursultan sebagai Ibukota Negara. Paduan dua nama yang cukup selaras.

Astana yg dimaksud disini merupakan Kota Astana yg adalah ibukota Republik Kazakhstan. Dalam Bahasa Kazakh Astana berarti ?Ibukota?, sinkron menggunakan status nya sebagai ibukota negara. Astana merupakan kawasan kota baru yang sengaja pada buka dan dikembangkan sang Presiden Nursultan Nazarbayev Sebagai Ibukota baru Republik Kazakhstan menggantikan kota Almaty. Secara resmi ibukota negara Kazakhstan pindah ke Astana di tahun 1998. Di pilihnya nama Astana bagi nama Ibukota negara menggunakan pertimbangan bahwa istilah ?Astana? Gampang pada ucapkan dalam berbagai Bahasa global.

Merujuk pada data dari Spiritual Division of Moslems of Kazakhstan (SDMK), 9 juta jiwa atau setara menggunakan 67% menurut penduduk Kazakhstan adalah pemeluk agama Islam yg tergabung pada 2337 komunitas Islam. 2334 adalah komunitas muslim Suni sedangkan tiga komunitas lainnya merupakan komunitas Syi?Ah.

GLAMOR dengan kubah berlapis emas pada jantung kota Astana

Sejak merdeka menjadi sebuah negara independen tanggal menurut Uni Soviet, perkembangan Islam pada negara ini demikian pesat seiring dengan pencapaian tingkat ekonominya yg membuahkan Kazakhstan menjadi negara paling makmur pada daerah Asia Tengah. Islam pada Kazakhstan dibawah kendali Spiritual Division of Moslems of Kazakhstan (SDMK), lembaga ini yang sebagai induk organisasi Islam di Negara tersebut.

Lima belas tahun sejak merdeka telah lebih menurut seribu masjid dibangun di semua Kazakhstan termasuk pada pada kota Almaty, Aktau, Aktobe, Karaganda, Pavlodar, Satpayev dan banyak sekali wilayah lainnya pada negara tadi. Termasuk Masjid Nur Astana yang dibangun atas kerjasama pemerintah Kazakhstan menggunakan Pemerintah Qatar. Pemerintah Kazakhstan memang relatif agresif menjalin kerjasama dengan banyak sekali negara Islam termasuk Qatar, Turki, Mesir dan Saudi Arabia pada upaya memajukan Islam disana.

INTERIOR MEWAH masjid Nur Astana

Nur Astana Terbesar ke 2 pada Asia Tengah

Masjid Nur Astana, berada pada tepian sungai pada kota Astana, Ibukota Kazakhstan, dianggap sebut menjadi masjid terbesar nir saja pada Kazakstan tapi jua terbesar ke 2 pada daerah Asia tengah, dengan luas holistik mencapai 4000 m2 sanggup menampung hingga 5000 jemaah termasuk area pelatarannya. Mulai dibangun 22 Maret 2005 dan diresmikan tahun 2008 & pengelolaannya dilakukan sang Spiritual Association of Muslims of Kazakhstan.

Masjid megah ini dibangun menggunakan memakai batu granit & beton & tidak tanggung tanggung buat kubah utamanya bahkan dilapis dengan emas, sampai kemilaunya benar sahih tampak dibawah sorotan sinar surya. Empat menaranya berdiri menjulang masing masing setinggi 63 meter (207 ft), Kubah utamanya di topang menggunakan delapan pilar berukuran akbar yg pada hias begitu indah termasuk menggunakan tabrakan ukiran kaligrafi Al-Qur?An. Bagian lantai duanya dikhususkan buat jemaah wanita. Landscape masjid ini ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan harmoni menggunakan kawasan elit pada sentra kota Astana diantara bangunan supermodern di kota itu.

Alamat Masjid Nur Astana

Kabanbay-batyr Avenue, 36

Astana - Kazakhstan

Coordinates:   51°7'36"N   71°24'56"E

Simbolisasi

Masjid Nur Astana dibangun setinggi 40 meter menyimbolkan usia Nabi Muhammad s.A.W saat pertama kali menerima wahyu menurut Allah swt, sedangkan tinggi masing masing empat menaranya yang dengan tinggi 63 meter menyimbolkan usia nabi Muhammad s.A.W ketika dia wafat. Di masjid ini juga disimpan bagian menurut kiswah (kain penutup Ka?Bah), disebut sebut jua menyimpan bagian batu berdasarkan Ka?Bah dan Kitab Suci Al-Qur?An berdasarkan Saudi Arabia. Pembangunan masjid ini sendiri merupakan hadiah berdasarkan pemerintah Qatar sesuai dengan kesepakatan antara presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev dan Emir Qatar, Hamad bin Khalifa.

-------------------------

Baca Juga

Masjid Baiken dibangun di Bekas Tempat Judi

Masjid Bibi Heybat Baku ? Azerbaijan

Masjid Heydar Baku ? Azerbaijan

Masjid Saint Petersburg

Masjid Sentral Perm (Perm Central Mosque)

Masjid Akhmad Kadyrov Chechnya

Masjid Agung Makhachkala Dagestan

Masjid Agung Magas Ingushetia

Masjid Katedral Moskow

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done