Islami Pedia: Masjid di Semenanjung Balkan
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Semenanjung Balkan. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Semenanjung Balkan. Show all posts

Saturday, October 17, 2020

Islamic Center Rijeka, Masjid Pertama di Adriatik

Islamic Center Rijeka di Kroasia, dibangun berdasarkan hasil karya seniman patung ternama Kroasia. Menghasilkan sebuah bangunan yg tidak saja sebagai sentra ke-Islaman akan tetapi jua menjadi sebuah masterpiece karya seni patung dalam berukuran super akbar.

Masjid Pertama di Rijeka & Adriatik, ketiga di Kroasia

Ribuan jemaah muslim memadati areal Islamic Center di kota Rijeka, Kroasia, pada tanggal 5 Mei 2013 yang lalu setelah melalui proses pembangunan sejak tahun 2009. Islamic Center dengan rancangan futuristik ini merupakan masjid sekaligus Islamic Center pertama di kota Rijeka dan seluruh kawasan pantai Laut Adriatik setelah lebih dari lima abad, dan menjadi masjid ketiga di Kroasia. 20 ribu hingga 30 ribu muslim hadir dengan penuh antusias dalam acara peresmian tersebut bergabung dengan tamu undangan yang hadir dari berbagai Negara termasuk dari Negara tetangga dekatnya, Bosnia Herzegovina.

Islamic Center ini dirancang menjadi sebuah bangunan masjid berarsitektur terkini dan futuristik, sekilas pandang mirip dengan bangunan keong Emas di Taman Mini Indonesia Indah tetapi dalam balutan warna perak ad interim dari sudut pandang yang lain tampak misalnya sebuah kapal luar angkasa. Bangunan masjid ini dilengkapi menggunakan sebatang menara dengan tinggi 23 meter (75 kaki) menggunakan bentuk yg pula sangat unik dan disebut sebut menjadi bangunan tempat ibadah paling latif di Eropa.

Rijeka Islamic Center

51000, Rijeka, Croatia

Situs resmi : http://www.medzlis-rijeka.org

Album foto di : picasa

45° 20' 47.22" N  14° 23' 48.85" E

View Rijeka Islamic Center - Croatia in a larger map

Peresmian Islamic Center Rijeka

Upacara peresmian Islamic Center ini dlakukan langsung oleh Presiden Kroasia, Ivo Josipovic, pada tanggal 4 Mei 2013 yang lalu bersama anggota Anggota Kepresidenan Tripartit Negara dari Etnis Bosnia, Bakir Izetbegovic dan Menteri Wakaf dan Urusan Islam Qatar, Ghaith bin Mubarak Al-Kuwari, yang hadir mewakili Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa al-Thani selaku penyandang dana terbesar pembangunan Masjid dan Islamic Center ini. Proyek pembangunan Islamic Center ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 3 Oktober 2009 yang lalu. Sedangkan ide pembangunnya sendiri sudah muncul sejak tahun 1968.

Media menyebut komplek Islamic Center Rijeka ini sebagai “Masjid Pertama di Kawasan Adriatik” setelah Ke-Khalifahan Usmaniah meninggalkan kawasan tersebut 500 tahun yang lalu. Sementara presiden Kroasia dalam sambutannya mengatakan bahwa “Islam dan tradisinya telah menjadi bagian dari sejarah Kroasia bersama dengan tradisi minoritas lainnya telah memperkaya budaya dan identitas Negara”.

Presiden Tripartit dari Etnis Bosnia, Bakr Izetbegovik mengatakan bahwa Kroasia merupakan tempat yang nyaman bagi muslim etnis Bosnia untuk menetap dan membuka pusat ke-Islaman, menyampaikan sinyal positif ke seluruh dunia. Sedangkan Menteri Wakaf dan Urusan Islam Qatar, Al-Kuwari menyampaikan harapan bahwa Islamic Center Rijeka dapat membantu membantu memperbaiki citra Islam dan muslim.

Kompilasi foto Islamic Center Rijeka menurut berbagai asal

Turut hadir dalam peresmian tersebut para tokoh tokoh penting Uni Eropa dan Kroasia, diantaranya adalah ; Josip Leko - Juru Bicara Parlemen Kroasia. Husein Kavazovic - pemimpin muslim di Bosnia & Herzegovina. Aziz Hasanovic – Mufti kota Zagreb (Kroasia) dan Paul Vandoren – Delegasi Presiden Uni Eropa untuk Kroasia. Serta tokoh tokoh lintas agama. Paul Vandoren menyampaikan harapan bahwa Islamic Center Rijeka sebagai pusat Ke-Islaman juga sebagai pusat multikultural, toleransi dan saling pengertian antar pemeluk agama di Kroasia.

Muslim dan Masjid di Kroasia

Saat ini lebih dari 10 ribu muslim tinggal di kota Rijeka dan sebagian besar dari Bosnia & Herzegovina. Rencana pembangunan masjid dan Islamic Center ini telah muncul sejak lima decade yang lalu. Komunitas muslim di Kroasia menecapai 1,5% atau sekitar 63 ribu jiwa dari total 4,2 juta penduduk Kroasia dan sekitar 10 ribu diantaranya tinggal di kota Rijeka dan sekitarnya. Sekitar 87% penduduk Kroasia beragama Katholik Roma dan Islam menempati tempat sebagai minoritas ketiga di Negara tersebut.

Kemeriahan suasana peresmian Islamic Center Rijeka

Selama ini muslim Kroasia hanya memiliki dua masjid di sana yakni sebuah masjid kecil di kota Gunja di bagian barat Kroasia berbatasan dengan Bosnia & Herzegovina yang dibangun tahun 1960-an dan satu masjid lagi di kota Zagreb dibangun tahun 1987 sebagai pusat peribadatan bagi muslim Kroasia yang merupakan kaum minoritas terbesar ketiga di Kroasia berdasarkan sensus tahun 2011.

Fasilitas & Aritektur Islamic Center Rijeka

Masjid & Islamic Center Rijeka dibangun seluas 10 ribu meter persegi dan menghabiskan dana lebih dari 10 juta Euro ($13 juta dolar). Keseluruhan komplek ini terdiri dari bangunan Masjid sebagai bangunan utama, Aula Serbaguna, ruang kuliah, Taman Kanak Kanak, Perpustakaan, ruang makan, Guest House, cafeteria, Kantor pengelola dan disediakannya juga lapangan Basket dan sepakbola serta lapangan parkir.

Islamic Center Rijeka dibangun dalam ukuran yang cukup besar dan berada di atas bukit membuatnya terlihat dari kejauhan hingga ke bibir pantai.

Bentuk umum bangunannya berupa kubah kubah besar bewarna perak dengan sebatang bangunan menara terpisah setinggi 23 meter (75 kaki). Rancangan masjid ini ditangani oleh (Almarhum) Dušan Džamonja (1928 - 2009). seorang pemahat professional Kroasia ber-etnis Sebia. Beliau yang merancang konsep bangunan Islamic Center ini dalam bentuk miniature bangunan masjid yang akan dibangun tersebut. Lokasi bangunannya sengaja dipilih dipuncak sebuah bukit membuatnya dapat terlihat dari kejauhan hingga ke Teluk Kvarner bay.

Dari bentuk miniatur tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rancangan arsitektur oleh Arsitek Darko Vlahović dan Branko Vučinović dan hasilnya adalah sebuah proyek bangunan masjid dengan estetika yang superior. Kubah utama bangunan nya terdiri dari lima bagian terpisa yang secara kasat mata tampak sebagai satu kesatuan. Dalam pelaksanaannya pembangunan masjid ini juga melibatkan arsitek Dora Vlahović, Luka Vlahović, Dubravka Đurkan-Horvat dan Davor Mauser.

Islamic Center Rijeka dengan latar belakang laut Adriatik di Teluk Kvalrner

Pada saat menggagas bentuk kubah bangunan masjid ini kemungkinan besar sang konseptor, Dušan Džamonja, memiliki pemahaman yang luas tentang rancangan kubah masjid masjid Usmaniah yang bertebaran disepanjang pantai mediterania yang kemudian dengan caranya sendiri membentuk kubah tersebut kedalam bentuk yang baru.

Hal yang kemudian menjadikan rancangan masjid ini menjadi begitu artistik, bernilai dan unik adalah keberhasilan memainkan bentuk geometeris yang kemudian memunculkan  fakta bahwa bangunan masjid ini lebih sebagai sebuah pencapaian seni pahatan dari sang konseptor dibandingkan sebuah pusat budaya dan agama serta arsitektur bangunan secara umum. Keseluruhan proyek pembangunan masjid ini sebagian besar di danai oleh pemerintah Qatar.***

Islamic Center Rijeka saat proses pembangunan
Satu Lagi Aerial View Islamic Center Rijeka
Interior Islamic Center Rijeka
Exterior Islamic Center Rijeka

Referensi

globalpost.com - staunchly-catholic-croatia-opens-major-islamic-centre

islamicartsmagazine.com – the mosque in Rijeka a masterpiece of contemporary architecture

onislam.net - adriatics-first-post-ottoman-mosque-opens

balkaninsight.com - croatia-new-mosque-opened-in-rijeka

adb-arhitektura.hr - islamski-centar-rijekaisliamic-center-in-the-city-of-rijeka

Baca Juga

Masjid Ali Pasha's Sarajevo

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-2)

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-1)

The Emperors Mosque, Sarajevo – Bosnia and Herzegovina

Friday, October 16, 2020

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-1)

Islamic Center Zagreb - di Ibukota Republik Kroasia. Hadir menlayani 1.3% muslim di negara berpenduduk mayoritas (87%) Katholik tersebut sejak tahun 1987 yang lalu.

Zagreb adalah ibukota Negara Republik Kroasia. Republik yang baru berdiri paska runtuhnya Yugoslavia. Di Zagreb berdiri megah bangunan masjid satu satunya di kota itu, bernama Islamic Center Zagreb, bangunan masjid yang begitu menarik perhatian karena arsitektut bangunannya yang unik meski tak meninggalkan ciri utama sebuah bangunan masjid dengan satu menaranya yang tinggi menjulang berbentuk seperti sebatang lilin.

Islamic Center Zagreb mulai dibangun dengan peletakan batu pertama pada tanggal 11 September 1981 dan diresmikan tahun 1987. Meskipun Masjid Islamic Center ini merupakan satu satunya masjid di kota Zagreb, namun masjid ini bukanlah masjid pertama di kota itu. Masjid pertama kota Zagreb sudah ada sejak tahun 1916, sebuah bangunan di barak militer garnizun Infanteri di ubah menjadi masjid bagi anggota militer dan keluarganya. Lalu bangunan masjid sebenarnya juga pernah berdiri begitu megah dengan tiga menara di ditengah kota Zagreb.

MASJID MAESTROVIC PAVILION. gedung maestrovic pavilion di pusat kota Zagreb pernah dijadikan masjid semasa perang dunia kedua saat Kroasia dibawah kendali pemerintahan Negara Independen Kroasia yang dibentuk oleh Nazi Jerman. Sesuatu yang tak belangsung lama dan kini Maestrovic Pavilion masih berdiri megah di pusat kota Zagreb meski gundul tanpa tiga menaranya yang sudah diruntuhkan tahun 1948.

Hanya saja masjid masjid pertama itu tidak berumur panjang seiring dengan silih bergantinya kekuatan yang menguasai wilayah Kroasia. Bangunan masjid dengan tiga menara di pusat kota Zagreb itu diresmikan tahun 1944 saat Kroasia diperintah oleh “Negara Independen Kroasia” bentukan Nazi Jerman. Namun ditutup tahun 1945 seiring kekalahan Nazi dalam perang dunia kedua. Bekas bangunan masjid itu masih berdiri hingga kini sebagai museum di pusat kota Zagreb dengan nama Meštrović Pavilion.

Islamic Center Zagreb

Gavellina 40,

Zagreb, Croatia 10 000, CROATIA

Phone: 00385-16137162

Fax: 0038516137159

Email: mesihat@zg.t-com.hr

URL: www.islamska-zajednica.hr

View Islamic Center Zagreb in a larger map

View Islamic Center Zagreb in a larger map

Islamic Center Zagreb dapat dicapai dari depan stasiun utama Zagreb dengan menggunakan Tram nomor 6, 7, 8 dan 14 lalu turun di stasiun Folnegovićevo naselje. Darisana berjalan kaki sekitar 15 menit melewati bangunan bangunan bangunan flat hunian hingga mencapai jalan utama dipersimpangan lampu lalu lintas. Menara masjid Islamic Center sudah terlihat dari tempat anda berdiri.

Satu satunya bangunan Masjid “sebenarnya” di kota Zagreb ini berdiri megah ditengah tengah lahan yang cukup luas di kawasan Borovje kota Zagreb dengan landskap yang ditata begitu apik, bangunannya terlihat jelas saat berada di Gavella street. Berdiri di atas lahan seluas 17.938 meter persegi, lahan yang cukup luas ini selain sebagai taman juga disediakan sebagai cadangan untuk pengembangan dikemudian hari.

FOTO UDARA Islamic Center Zagreb, megah ditengah lahan luas yang memang dipersiapkan bagi pengembangan di masa depan. Beberapa bangunan disebelah bawah foto adalah kediaman imam dan keluarganya serta guest house untuk para tamu.

Dibangun dalam arsitektur yang cukup unik, tidak saja sebagai pusat Ke-Islaman di kota itu tapi juga sebagai sebuah karya seni yang menawan. Bangunan utamanya terdiri dari belahan tiga kubah besar berwarna hijau yang dibangun saling berhadapan. Dua belahan kubah berada di atap masjid dan satu belahan lagi menutup hingga ke sisi mihrab. Masing masing belahan kubah ini dibangun dengan tingkat elevasi berbeda yang kemudian menghadirkan celah diantara ketiganya. Celah tersebut yang dimanfaatkan sebagai jendela kaca dalam ukuran besar di atap masjid.

Selain tiga belahan kubah tersebut masih ada satu belahan kubah lainnya yang diletakkan di sisi depan masjid menghadap ke tangga utama berfungsi sebagai beranda, akses utama ke Masjid dengan tiga pintu, di bagian masing masing pintu ini dipasang tiga buah jendela dengan bentuk yang senada karya dari (alm) Sefkija Baručija. Di depan beranda ini terhampar halaman berlantai batu putih lengkap dengan ornament pancuran air. Kubah masjid yang terdiri dari tiga belahan ini dihias dengan caligrafi bertuliskan kalimat Basmallah.

BERANDA Masjid Islamic Center Zagreb, sangat unik dan menarik.

Masuk ke dalam masjid ini menghadirkan suasana yang sedikit berbeda dibandingkan dengan interior masjid pada umumnya, bukaan besar di atap masjid tidak sebagai bukaan melingkar dibawah kubah tapi tercipta dari perbedaan ketinggian masing masing belahan kubah. dibawahnya digantung lampu hias dalam ukuran besar. Mihrab Masjid ini juga dibuar dalam bentuk yang senada dengan ukiran kaligrafi Ayat Kursi yang begitu apik.

Di sisi kiri dan kanan bagian atas mihrab dihias dengan dua emblem bertuliskan kaligrafi Allah dan Muhammad. Tak kalah menarik perhatian adalah mimbarnya yang juga dibuat dari batu putih dengan bentuk yang tinggi tapi ramping dengan jejeran anak tangga yang cukup tinggi. Mimbar ini dilengkapi dengan gerbang melengkung yang juga dibuat dari batu putih.

INTERIOR masjid Islamic Center Zagreb dari arah mezanin lantai dua.

Denah interior ruang utama masjid ini berbentuk oval, menyambung dari bentuk belahan kubah yang menjadi dinding utama ruang mihrab. Mezanin lantai dua ruang dalam masjid dengan sendirinya juga mengikuti ruang utama dibawahnya. Keseluruhan permukaan lantai dalam masjid dilapisi dengan karpet Persia blagozeleni hadiah dari rakyat muslim Iran.

Masjid ini juga menyediakan ruang khusus untuk jemaah wanita dan dari ruangan khusus wanita ini tersedia akses menuju ke menara masjid. menara masjid yang dibangun terpisah dari bangunan utama ini setinggi 42 meter di ukur dari pelataran masjid tempatnya berdiri. Bentuknya yang lancip dan tinggi seakan membentuk sebuah lilin raksasa. Ruang khusus wanita di masjid ini juga dilengkapi dengan dua kubah kaca yang memungkinkan jemaah didalamnya untuk melihat ujung menara.

INTERIOR Islamic Center Zagreb dari arah Mimbar

Keseluruhan dinding masjid bagian luar ditutup dengan batu pualam warna putih dan di tembok sisi kanan sebelah luar dihias dengan satu kaligrafi yang begitu indah dalam ukuran besar. Dari pintu masuk sebelah kiri akan mengantarkan jemaah menuju ke ruang basement tempat wudhu jemaah pria ada disana, termasuk ruang maktab (kuliah), Aula serbaguna, ruang ganti, resepsionis, perpustakaan, kantor pengelola, serta rumah makan.

Di dalam komplek Islamic center ini juga dibangun rumah tempat tinggal untuk imam dan keluarganya serta guest house yang disediakan bagi para tamu dari berbagai komunitas Islam yang berkunjung secara resmi kesana. Ruang basement masjid ini tadinya disediakan untuk tempat parkir tapi kemudian di alih fungsi sebagai ruang madrasah "Dr. Ahmed Smajloivić" yang berada di lantai dua basement. Sedangkan lantai dasar basement dijadikan ruang khusus ibu menyusui dan area bermain anak anak, fasilitas remaja masjid dan amphitheater.

Bersambung ke Bagian-2

Baca Juga

Islamic Center Rijeka, Masjid Pertama Adriatik

Masjid Ali Pasha's Sarajevo

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-2)

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-1)

The Emperors Mosque, Sarajevo – Bosnia and Herzegovina

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-2)

Sejarah Islamic Center Zagreb

MASJID PERTAMA DI KOTA ZAGREB. Untuk pertama kalinya di tahun 1944 muslim kota Zagreb memiliki bangunan masjid sebenarnya dengan diresmikannya alih fungsi gedung Maestrovic Pavilion sebagai Masjid pertama di kota itu. hanya saja setahun kemudian masjid ini ditutup oleh penguasa baru, tiga menaranya diruntuhkan tahun 1948.

Antara tahun 1868 hingga tahun 1918 Kroasia merupakan wilayah otonomi dibawah kerajaan Hongaria yang kemudian bergabung dalam Kekaisaran Astro-Hongary. Kekaisaran ini yang kemudian mencaplok wilayah Bosnia & Herzegovina yang mayoritas penduduknya Bergama Islam ke dalam wilayah mereka. Sekaligus menandai masuknya Islam sebagai agama yang di anut di dalam Kekaisaran tersebut, yang wilayahnya juga meliputi wilayah yang kini dikenal sebagai Republik Kroasia, beribukota di Zagreb.

Sejarah Islamic Cente Zagreb tidak lepas dari sejarah Islam di kota Zagreb khususnya dan sejarah Islam di Republik Kroasia pada umumnya. Masjid pertama di Zagreb sudah ada sejak tahun 1916 manakala garnizun militer disana menunjuk seorang imam anggota militer yang beragama Islam. Dia menjalankan tugasnya secara berkala termasuk mengurusi masalah sipil diluar ketentaraan. Ditahun 1917 dibentuk Komunitas Muslim Zagreb yang kemudian menunjuk seorang mufti membawahi keseluruhan Muslim di semua kota di Kroasia.

ISLAMIC CENTER ZAGREB saat ini.

Ismet ef Muftić menjadi Mufti Zagreb pertama. Di saat yang sama HFZ. Abdullah ef Muhasilović bertindak sebagai imam militer dan mengubah barak militer infantri resimen Zrinski menjadi sebuah masjid bagi muslim kota Zagreb. Seiring dengan rencana untuk membangun masjid sesungguhnya, telah terkumpul dana sebesar 100 ribu Crown dan pemerintah Kroasia saat itu secara tentatif telah menyumbangkan lahan di sebelah selatan bangunan teater, namun rencana itu gagal. Setelah berahirnya perang dunia pertama, terjadi pergantian pemerintah di Kroasia, seiring dengan runtuhnya kekaisaran Astro-Hongary dan wilayah Kroasia kemudian masuk kedalam Kerajaan Yugoslavia (1918-1943).

Di bulan Ramadhan tahun 1920-an muslim Zagreb menyewa berbagai tempat sebagai masjid sementara untuk memenuhi kebutuhan mereka akan tempat ibadah. Di tahun 1935 dua apartemen yang beralamat di Tomasiceva 12 digabungkan menjadi satu lalu direnovasi untuk dijadikan masjid pertama di Zagreb yang dibuka secara resmi pada tanggal 29 November 1935.

RANCANGAN MASJID DI ZALENGAJ tahun 1937 yang tak pernah terwujud.

Saat itu komunitas muslim telah mendaftarkan anggota mereka sejumlah 1250 orang, dan bila digabungkan dengan tenaga kerja musiman serta mahasiswa asing yang ada disana mencapai hingga 3000 jiwa. Gedung apartemen tersebut juga menjadi kantor bagi Komunitas muslim dan Mufti Ismet ef Muftića.  Di pihak militer saat itu yang menjadi imam adalah Halil ef Imamoviæ dan I Ragib ef Muftić sebagai muazin.

Ditahun yang sama dibentuk semacam panitia pembangunan bagi sebuah bangunan masjid sebenarnya yang diketuai oleh Mufti Ismet ef Muftića. Menyusul kemudian di tahun 1937 dirumuskan sebuah rencana berikut rancangan bangunan masjidnya yang akan dibangun di kawasan  Zelengaj namun rencana itu terganjal oleh pecah nya perang dunia kedua (1939-1945), Croasia dan Bosnia Herzegovina jatuh ke tangan Nazi Jerman yang kemudian membentuk pemerintahan Boneka bernama Independent state of Croatia atau lebih dikenal dengan nama NDH (singkatan dalam bahasa Kroasia : Nezavisna Država Hrvatska) pada tanggal 10 April 1941.

Masjid di Gedung Meštrović Pavilion

EXTERIOR & INTERIOR masjid pertama kota Zagreb.

Angin segar justru berhembus dari pemerintahan boneka bentukan Nazi ini. Proposal pembangunan masjid memang ditolak namun mereka memberikan solusi untuk mengubah gedung pameran benda seni Meštrović Pavilion di lapangan Žrtava Fašizma Square (lapangan korban tindak fasisme) untuk di ubah menjadi masjid. Sebuah bangunan prestisius karya Ivan Meštrović dibangun tahun 1938 sebagai pusat pameran karya seni sekaligus sebagai sekretariat komunitas seniman Kroasia.

Di musim gugur tahun 1941 dimulai renovasi besar besaran terhadap Meštrović Pavilion untuk mengubahnya menjadi masjid termasuk pembangunan tiga menara masing masing setinggi 45 meter di sekeliling disekeliling bangunan tersebut. Masing masing menara ini dirancang untuk dilengkapi dengan elevator namun tak pernah dipasangkan karena akibat kondisi perang yang masih berkecamuk.

KENANGAN DARI SERPIHAN SEJARAH. Sisa sisa Mihrab dari Masjid Pertam kota Zagreb (Gedung Maestrovic Pavilion) yang kini disimpan di Islamic Center Zagreb.

Masjid tersebut dibuka secara resmi di tahun 1944. Namun hal tersebut tidak belangsung lama. Jerman kalah dalam perang dunia kedua. Penguasa di Kroasia pun berganti lagi. Bangunan masjid yang baru diresmikan di hari Jum’at 18 Agustus 1944 itu ditutup setahun kemudian, tiga menaranya diruntuhkan tahun 1948. Mufti Ismet ef Muftića di hukum mati oleh penguasa baru di depan masjid yang di-impikan dan perjuangkannya selama berpuluh tahun itu.

Paska ditutup permanennya masjid di Meštrović Pavilion, seluruh aktivitas muslim Kroasia kembali ke tempat mereka semula di Tomašićeva ulica 12 10000, Zagreb, yang lokasinya hanya terpisah satu blok dari tempat itu dan bertahan sebagai kantor Komunitas Muslim Kroasia Croatia‎ hingga hari ini  Penguasa di Kroasia masih terus berganti sejak hari itu, dan Meštrović Pavilion juga silih berganti fungsi sampai ahirnya dikembalikan lagi ke fungsi awalnya sebagai galeri seni oleh pemerintahan Kroasia saat ini, namun kebanyakan orang disana masih saja menyebutnya sebagai Džamija alias masjid.***

MIHRAB masjid Islamic Center Zagreb saat ini, indah dengan ukiran kaligrafi ayat kursi.

Kembali ke Bagian-1 atau lanjutkan ke Bagian 3

Baca Juga

Islamic Center Rijeka, Masjid Pertama Adriatik

Masjid Ali Pasha's Sarajevo

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-2)

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-1)

The Emperors Mosque, Sarajevo – Bosnia and Herzegovina

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-1)

Thursday, October 15, 2020

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-3)

kompilasi foto Islamic Center Zagreb

Pembangunan Islamic Center Zagreb

Tak lama setelah penutupan dan penghancuran masjid di Maetrovic Pavilion terbentuk Pan Islamic Community yang ditokohi oleh Hifzi ef Alagiæ, Dr. Suleiman Masovic, Murat Omanoviæ, Asim Šaæiragiæ, Mehmedalija Jusufbegoviæ, Riza Elezoviæ dan Ičić Muzuroviæ.

Segera mereka memulai untuk membangun sebuah masjid baru sebagai pengganti. Cikal bakal rancangan bangunan masjid oleh panitia yang telah dibuat oleh komunitas muslim sejak tahun 1962, tahun ketika komite diketuai oleh Asim Šaæiragiæ, yang tak lain adalah seorang pematung yang sangat handal dari Zagreb. Kala itu dengan penuh antusias membentuk tim bersama imam Merzuk ef Vejzagiæa serta Dr. Sulaiman Masovic, Hifzi ef Alagiæ, Dr. Mohammed Balic, Ali Èabaravdiæ, Adham Æelhasiæ, Dr. Kamil Kamariæ, Salim Šabiæ, Azim Karamehmedoviæ, Azra Ruždija dan Sejida Bejtoviæ.

Yang pertama dilakukan oleh komite yang sudah terbentuk ini adalah melakukan pendekatan bagi pemenuhan izin bagi gedung yang selama ini sudah dijadikan sebagai Masjid di Tomašiæevoj street no 12th, tempat berkumpulnya pemuda / pemudi Islam yang semakin solid dalam aktivitas kepemudaan mereka.

Kiri : lahan Islamic Center Zagreb sebelum dibangun. Kanan : Islamic Center Zagreb Saat ini

Asim Šaæiragiæ dengan pertalian sosialnya yang kuat segera melakukan upaya pencaian kemungkingkan untuk membangun masjid baru dan kemudian membentuk panita yang terdiri dari: Asim Šaæiragiæ - Chairman, Dr. Osman Muftiæ - Secretary-ing Hamdi Samardzic, engineer Mustafa Cvijetiæ, Engineer Mohammed Mujièiæ, Azim Karamehmedoviæ ing, ing Nedim Lagumdzija, Ismet Golubovic, Huso Mehanoviæ, Ferid Mekiæ, Dr. Salih Salahoviæ, Salim Šabiæ, Smajo Tataragiæ, ing Emin Softiæ, Ibrahim Busovarfa, Midhat Šeæerkadiæ, Dr. Suleiman Masovic, Dr. Salko Kuloviæ, Rasim Omanoviæ Dr. Šemso Tankoviæ, ing Seid Husedžinoviæ , Muharem Teskeredžiæ, Ali Èabaravdiæ, Adham Èelhasiæ, Sakib Bulbuloviæ, Mustafa Srna, jam Muhasiloviæ, Azim Muzuroviæ and Hivzi ef Alagiæ.

Asim Šaæiragiæ berhasil menego dewan kota untuk mendapatkan lokasi bagi masjid yang akan dibangun (6438 m2). Lokasi yang ditunjuk adalah sebidang lahan di sebelah selatan pemakaman umum kota Zagreb di Mirogoj. Peluang yang segera saja ditangkap dan segera dibuat rancangan awal oleh Arsitek George Neidhardt bersama prof. Džemala Èeliæa, yang kedua duanya dari Fakultas Arsitektur Sarajevo. Dan penggalangan dana bagi pembangunan masjid pun dimulai. Salah satunya adalah dengan pembuatan dan penyebaran rekaman dakwah islam atas ide dari Asim Šaæiragiæa yang dikemudian hari dirasakan begitu bermanfaat dan efektif.

suasana upacara peletakan batu pertama Islamic Center Zagreb

Panitia pembangunan masjid pun mengalami perombakan lagi kali ini dipimpin oleh Salim Šabiæ, wakil : Osman Muftiæ dan Azim Karamehmedoviæ, anggota : Ahmed Ikanoviæ-Umum : Ševko ef Omerbasic, Asim Šaæiragiæ, Mustafa Pliæaniæ, Ferid Mekiæ-treasurer, Ibrahim Busovarfa, Dr. Suleiman Masovic, Mirsad Srebrenikoviæ, Muhammad Ali, Asim Badiaa, Mustafa Srna, Fehim Nuhbegoviæ, Adnan Omanoviæ, Hazim Krajnoviæ, Nadžija Muftiæ, Fakhr Muzuroviæ, Nasuf But Salih Alièelebiæ, Mehmed Sarajliæ, Æoso bugaboo, Uzeir Huskoviæ, Merzuk Žuniæ, Salih clamor, Muharem Xhaferi dan Ismail Mujiæ.

Proyek Pembangunan Masjid dimulai

Di tahun 1979 dewan kota Zagreb menawarkan lima lokasi kepada Komunitas Muslim Zagreb sebagai lokasi pembangunan Masjid. Namun pada ahirnya tercapai kata sepakat untuk membangun masjid di di daerah Borovje di atas lahan seluas 17,938 meter persegi. Lokasi nya berada di sebelah timur desa Folnegovićevog dan sebelah selatan jalan tol tak jauh dari pabrik Coca-Cola. Hanya saja di lahan tersebut sama sekali belum tersedia insfrastuktur kota termasuk belum ada pasokan air, listrik dan apapun.

Suasana peresmian Masjid Islamic Center Zagreb

Sementara lahan bakal masjid yang masih kosong ditanami oleh para jemaah dengan beraneka tanaman dan sayuran, sambil memberikan waktu yang cukup kepada arsitek Dzemaludin steels dan Mirza Gols menyelesaikan rancangan awal bangunan masjid yang akan dibangun disana. Kedua arsitek ini merupakan arsitek dari Fakultas Arsitektur Sarajevo (Bosnia) dibawah Professor Najdhardta.

Pada tanggal 11 September 1981 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Zagreb. Acara ini dihadiri begitu banyak tokoh tokoh muslim dan tokoh terkemuka serta tamu undangan. Dibuka oleh Salim Sabic selaku ketua pelaksana pembangunan. Dilanjutkan sambutan oleh Rois Ulama Komunitas Islam Yugoslavia, dan terahir oleh Ketua dewan masjid Bosnia Herzegovina, Kroasia dan Slovenia, Dr. Ahmed Smajlović.  Luar biasanya, setelah upacara itu, komunitas muslim disana secara bergotong royong membersihkan seluruh lahan tempat bakal masjid ini secara sukarela selama beberapa minggu.

Suasana yang mirip dengandi Indonesia. Jemaah masjid bergotong royong secara sukarela selama beberapa minggu sebelum dan selama pembangunan masjid Islamic Center Zagreb ini. lahan kosong dimanfaatkan untuk bercocok tanam sekaligus membersihkan seluruh area tempat bakal masjid berdiri.

Penandatangan kesepakatan telah ditandatangani antara Ketua Komunitas mUslim Zagreb, Mustafa Plicanic bersama Ketua Panita pembangunan masjid Salim Sabic dengan pihak kontraktor pada bulan Agustus 1981. Dengan jaminan pendanaan oleh Bank penjamin. Segera setelah itu proyek pembangunan dilaksanakan dan pada awal tahun 1982 sudah masuk dalam tahap pengecoran.

Selama pembangunan berlangsung begitu banyak tamu kerhormatan yang mengunjungi proyek pembangunan masjid ini. Sementara Ševko Omerbašić dan Salim Sabic terus bergerak mendatangi setiap individu maupun institusi dalam upaya penggalangan dana dari dalam maupun dari berbagai Negara Islam. Dr. Baasha, Shaikh Sultan batch dari Sudan menyumbangkan dana US$2.5 juta dolar, menjadi penyumbang terbesar pembangunan masjid ini.

Keseluruhan pembangunan Islamic Center Zagreb ini selesai dibangun pada pada musim semi tahun 1987 dan diresmikan di tahun yang sama dihadiri oleh lebih dari 100 ribu orang memadati areal masjid ini tak peduli dengan hujan yang mengguyur saat upacara berlangsung.***

Selesai.***

Referensi

situs resmi komunitas muslim kroasia [dalam bahasa bosnia]

Baca Juga

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-1)

Islamic Center Zagreb – Kroasia (Bagian-2)

Islamic Center Rijeka, Masjid Pertama Adriatik

Masjid Ali Pasha's Sarajevo

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-2)

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo (bagian-1)

The Emperors Mosque, Sarajevo – Bosnia and Herzegovina

Thursday, August 6, 2020

Masjid Hussein Pasha di Pljevlja, Montenegro

Menara Masjid Tertinggi di Semenanjung Balkan. Masjid Hussein Pasha di Pljevlja merupakan masjid dengan menara tertinggi di semenanjung Balkan.

Republik Montenegro merupakan salah satu negara pecahan dari bekas negara Yugoslavia (1918 - 2003) yang kini sudah lenyap dari peta dunia dan terbelah menjadi 7 negara merdeka, terdiri dari  Republik Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Serbia, Makedonia, Montenegro dan Kosovo. Yugoslavia muncul dalam sejarah nasional Indonesia dalam perannya bersama Indonesia membentuk Gerakan Negara Negara Non Blok dimasa perang dingin.

Montenegro menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 3 Juni 2006 dan melepaskan diri dari ikatan singkat bersama Serbia sebagai negara “Serbia Montenegro” yang hanya bertahan selama tiga tahun (2003-2006). Montenegro beribukota di Podgoricaa atau pada masa Yugoslavia sempat berganti nama menjadi Titograd, yang merupakan kota terbesar di Montenegro.

Islam merupakan agama minoritas terbesar di Montenegro, merujuk kepada hasil sensus tahun 2011 menunjukkan ada 118.477 muslim di Montenegro atau setara dengan 20% dari keseluruhan penduduk negara tersebut. Sama halnya seperti di Indonesia, Muslim Montenegro menganut faham Suni.

Islam telah masuk ke Montenegro sejak abad ke 15 dan sempat menikmati masa ke-emasan pada masa kekuasaan Emperium Turki Usmaniyah di tahun 1470–1833, pada masa itu Montenegro bersama dengan Bosnia berada di dalam wilayah provinsi Sanjak Bosnia yang beribukota di Foča sampai tahun 1572 lalu dipindahkan ke Taşlıca (Pljevlja).

Pljevlja adalah kota di bagian utara Montenegro, merupakan kota terbesar ketiga di negara tersebut dan juga merupakan kota pegunungan dengan ketinggian rata rata 770 m dari permukaan laut. Di tahun 2011 penduduk kota ini mencapai 19.489. Sebagai sebuah kota bekas ibukota Sanjak Bosnia dimasa kekuasaan Emperium Usmaniyah, Pljevlja memiliki warisan budaya Islam yang masih berdiri kokoh hingga kini, yakni Masjid Hussein Pasha.

Husein Pašina Džamija

Vuka Kneževića, Pljevlja, Montenegro

islamskazajednica.ba

Berdiri megah di pusat kota Pljevlja, Masjid Hussein Pasha merupakan penanda kota Pljevlja yang paling terkenal bersama dengan Biara Holy Trinity dan menjadi salah satu monumen sejarah dan tradisi paling penting di kota Pljevlja, Republik Montenegro dan wilayah semenanjung Balkan.

Masjid Husein Pasha atau dalam Bahasa setempat disebut Husein Pašina Džamija dibangun oleh Hussein Pasha Boljanić pada tahun 1569 pada saat Montenegro masih merupakan wilayah kekuasaan Emperium Usmaniyah (Turki). Bersama dengan Bosnia Herzegovina, wilayah Montenegro masuk ke dalam provinsi Sanjak Bosnia dan Hussein Pasha merupakan putra daerah Montenegro yang kemudian menjadi Gubernur di wilayah ini.

Hussein Pasha Boljanić merupakan gubernur ke-9 di Sanjak Bosnia (1569–72, 1594–95). Hussein merupakan nama asli beliau, Pasha adalah gelar bagi pejabat tinggi Usmaniyah, sedangkan Boljanić merupakan nama keluarga sekaligus nama desa tempat kelahiran beliau, yang berada di luar kota Pljevlja. Nama beliau-lah yang kemudian dilekatkan kepada nama masjid terbesar di kota Pljevlja ini.

Sejarah Masjid Hussein Pasha

Bermula saat kedatangan pasukan Hussein Pasha Boljanić di Pljevlja bersama pasukkannya mendirikan kemah di dekat bangunan Biara Holy Trinity. Beliau kemudian memutuskan untuk membangun masjid di tempat tersebut sebagai warisan darinya di tanah kelahirannya sendiri.

Aerial View Masjid Hussein Pasha Pljevlja

Sebelumnya sepupu dari Hussein Pasha yang bernama Mehmed Pasha Sokolovic (Sokollu Mehmed Pasha - Gubernur Jendral di Provinsi Rumelia) telah membangun jembatan terkenal di Drina (Višegrad, Bosnia and Herzegovina), karenanya Hussein Pasha pun berkeinginan memberikan sesuatu untuk kampung halamannya, dengan membangun sebuah masjid.

Jembatan yang dibangun oleh Mehmed Paša Sokolović ini memang sangat terkenal sampai sampai seorang penulis Ivo Andrić yang merupakan seorang penulis terkenal dimasa Yugoslavia, menulis sebuah novel fiksi sejarah yang begitu terkenal dengan judul Na Drini ćuprija (The Bridge on the Drina) pada bulan maret 1945.

Pembangunan masjid ini dibawah pengawasan kontraktor ternama pada masa itu yang bernama Hajrudin, beliau juga merupakan pembangun Jembatan Mostar yang juga begitu terkenal di seluruh wilayah Sanjak Bosnia. Pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1569 dan menjadi salah satu bangunan Budaya Islam yang terpenting dan terindah diseluruh semenanjung Balkan.

Sepanjang perjalanan sejarahnya yang begitu panjang masjid ini telah menarik perhatian para pengelana untuk singgah dan mencatat dalam buku catatan perjalanan mereka, seperti pengelana dan penulis Prancis, Philip Dufresne-Kane, yang pernah tinggal di Pljevlja tahun 1573, menulis " di tempat masjid ini berdiri terlihat sebuah pancuran dengan karya seni yang indah” . Kemudian Paolo Contarini dari Venesia yang pernah melintas di Pljevlja tahun 1580, mencatat dalam bukunya telah melihat sebuah masjid dengan pancurannya yang indah.

Megah di tengah kota Pljevlja

Lefebvre, seorang pengelena Prancis lainnya ditahun 1611 mencatat bahwa “di Pljevlja terdapat tiga masjid, dua masjid dari batu dengan pancurannya yang indah dan satu masjid dari kayu”. Sedangkan seorang pengelana Turki Evliya Çelebi di tahun 1660 menuliskan dalam catatannya " (masjid ini) seperti masjid kekaisaran . . . . memiliki kindahan yang luar biasa pada menara dan kubah birunya yang tinggi….”.

Legenda Kulit Sapi

Merujuk kepada legenda setempat, konon Hussein Pasha membangun masjid di tempat tersebut karena mendengar suara bisikan yang terdengar dari tembok Biara Trinity. Kemudian beliau mendatangi Biarawan disana untuk meminta sedikit lahan bagi pembangunan masjid dimaksud. Pihak Biara tidak berkeberatan untuk memberikan lahan mereka namun dengan ukuran yang tidak lebih lebar dari selembar kulit sapi.

Hussein Pasha cukup cerdik, beliau kemudian memotong kulit sapi dimaksud begitu tipis dan panjang sehingga membentuk sebuah tali yang cukup panjang dan mampu mengitari luasan tanah yang cukup luas, dan di atas lahan itulah masjid dibangun dan kini dikenal sebagai Masjid Hussein Pasha.

Arsitektur Masjid Hussein Pasha

Bangunan masjid Hussein Pasha berada di persimpangan dua ruas jalan, terlihat menjulang sendirian diantara bangunan disekitarnya. Sebagian besar bangunan-nya disusun dari susunan batu alam yang dibentuk kotak kotak yang dikenal sebagai metoda Ashlar. Penggunaan bahan bangunan ini memberikan nilai artistik tersendiri pada tembok bangunannya.

Interior Masjid Hussein Pasha Pljevlja

Sisi utara dan selatan masjid diberi pagar besi yang tidak terlalu tinggi, akses ke masjid dari arah barat laut, ada sederet anak tangga dari batu menghubungkan lantai dalam masjid ini dengan pekarangannya. Di samping tangga terdapat sebuah pancuran yang dikelilingi oleh pemakaman kaum muslimin setempat. Diluar pekarangan masjid di pertigaan jalan di sisi barat daya, terdapat sebuah menara jam yang dibangun pada paruh kedua abad ke 16.

Bangunan masjidnya berdenah segi empat dengan satu kubah besar di atapnya, dilengkapi dengan sebuah bangunan menara yang menjulang, ramping dan lancip sangat khas menara masjid dinasti Usmaniyah. Dengan tinggi 42 meter menjadikan menara masjid ini sebagai menara masjid tertinggi di semenanjung Balkan. Menara masjid ini sempat mengalami kerusakan akibat disambar petir di tahun 1911 dan kemudian diperbaiki sesuai bentuk-nya semula.

Masjid Husein Pasha berukuran panjang 17.20 m X 13.10 m pada sisi luar dengan tembok setebal 1.10 m, sedangkan ukuran dalamnya hanya 10.70 x 10.80 x 10.30 m. Interiornya kaya dengan dekorasi, ornamen warna warni, beragam motif oriental dan kaligrafi Al-Qur’an. Rehabilitasi terhadap bangunan masjid ini dilaksanakan pada tahun 2006 untuk mengkonservasi bangunan bersejarah ini, proses konservasi berlanjut hingga ke tahun 2007 oleh para ahli.

Masjid Hussein Pasha di Perangko Montenegro
Selama proses studi untuk restorasi dan konservasi tersebut ditemukan fakta baru bahwa lapisan cat pada dekorasi hias di dalam masjid ini dan pada bagian kubahnya merupakan lapisan cat ketiga dan kemungkinan dibuat di sekitar tahun 1888 jauh setelah masjid ini berdiri. Namun pada bagian bagian masjid lainnya termasuk pada sisi tembok dalam masjid ditemukan lapisan cat yang lebih tua.

Al-Qur’an Kuno

Masjid Hussein Pasha ini juga menyimpan banyak buku buku dan manuskrip kuno termasuk sebuah kitab Suci Al-Qur’an Kuno dengan terjemahan Bahasa Turki dari abad ke 16. Mushaf Al-Qur’an tersebut sangat indah dihias dengan 352 hiasan dari emas, terdiri dari 233 halaman, menjadikan masjid ini memiliki arti dan nilai yang begitu tinggi bagi sejarah Montenegro dan Semenanjung Balkan.***

Referensi

http://www.mojacrnagora.com/pljevlja-husein-pasina-dzamija/

https://mostovikulture.wordpress.com/spomenici-kulture/husein-pasina-dzamija/

http://www.visit-montenegro.com/montenegro/montenegro-museum-in-the-open/most-important-muslim-religious-edifices-in-montenegro/

http://indavel.com/montenegro/pljevlja/husein-pasa-mosque-pljevlja

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Bridge_on_the_Drina

Wednesday, August 5, 2020

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli Beograd, Serbia

Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang tersisa, masih berdiri dan masih berfungsi di kota Beograd. Pertama kali dibangun pada tahun 1575 dimasa Emperium Usmaniyah berkuasa di wilayah Serbia. Masjid ini sempat di ubah menjadi gereja Katholik pada masa kekuasaan singkat kekaisaran Austria di Serbia diantara tahun 1717-1739. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu.

Bertahan melewati masa berat di perang dunia kedua, masa kekuasaan Uni Soviet, era Yugoslavia, hingga ke masa Serbia saat ini paska runtuhnya Negara Yugoslavia yang bekas wilayahnya kini masing masing berdiri sendiri sebagai Negara merdeka, Terdiri dari Republik Serbia, Slovenia, Croasia, Bosnia & Herzegovina, Macedonia, Montenegro dan Kosovo.

Bajrakli mosque, Belgrade

Gospodar Jevremova 11, Beograd 105402, Serbia

Telepon: +381 11 2622428, 3031-284

Tel/faks: +381 11 3031-285

Web site: www.izs.org.yu

e-mail: jus@beotel.yu

Mufti of the Islamic Community, tel. 2622-337, 3283-195

Council of the Islamic Community, tel. 2622-337, 2622-428

Kota Beograd yang kini menjadi ibukota Negara Serbia pernah menjadi bagian dari wilayah Emperium Usmaniyah (Turki) pada paruh pertama abad ke 16 hingga paruh kedua abad ke-19. Salama masa itu kota Beograd menjadi pusat kebudayaan utama bersama dengan beberapa kota lainnya di kawasan semenanjung Balkan, seperti Sarajevo dan Skoplje di Bosnia, dengan sekitar 160 masjid dari 273 masjid diseluruh Serbia, 7 pemandian umum khas Turki dan sekitar 7000 gedung kamar mandi dan 21 caravan-saray.

Namun dari sekian banyak bangunan tersebut telah mengalami kerusakan ataupun pengrusakan sejak masa kekuasaan Kekaisaran Austria hingga ke masa pemerintahan Serbia. Dari sekian banyak masjid yang ada di kota Beograd hanya tersisa Masjid Bajrakli sebagai satu satu nya masjid di kota Beograd hingga hari ini yang masih berdiri di kawasan tertua di kota Beograd.

Masjid Bajrakli berdiri kokoh di tepian ruas jalan Gospodar Jevremova yang lenggang namun kaya dengan sejarah masa lalu di kota Beograd di sekitar sudut jalan Kralja Petra Street, berdekatan dengan bekas Sinagog Yahudi yang kini sudah beralih fungsi menjadi Galeri dan sebuah Gereja Ortodok, di wilayah yang bernama Dorcol.

Bendera di menara Masjid Bajrakli

Nama Dorcol bagi kawasan ini berasal dari Bahasa Turki yang berarti “Empat jalan”. Pada masanya kawasan ini merupakan salah satu harmoni kehidupan di pusat kota Beograd, ditempat ini menjadi rumah bagi tiga pemeluk agama berbeda. Namun keharmonisan tersebut ternoda oleh sebuah kerusuhan massa pada tahun 2004 pada saat masjid tersebut dibakar oleh sekelompok masa akibat sentiment anti Kosovo yang dianggap melakukan tindakan disintegrasi.

Dari nama dan gaya arsitektunya, kawasan Darcol di kota Beograd ini mencerminkan sejarah masayarakat sekaligus kota Beograd. Khusus tentang kawasan Dorcol ini, seorang penulis dan pelukis ternama setempat pernah menulis “Bila saya hanya diberi waktu satu jam untuk menunjukkan seperti apa Serbia kepada pelancong yang datang, maka saya akan membawanya ke Kralja Petra street. Laksana sebuah pelangi, ruas jalan ini menghubungkan dua peradaban, dua budaya dan dua sungai sekaligus yakni Sungai Sava dan Sungai Danube”.

Satu Masjid Tiga Nama

Pada awal di bangun tahun 1575 masjid ini bernama Masjid Čohadži mengambil nama dari pendirinya yang bernama Hadzi Alija. Beliau adalah seorang muslim pedagang kain (tekstil). Pada masa itu pedagang kain dipanggil Coha, sehingga beliau lebih dikenal dengan nama panggilan CoHadzi dan nama itu pula yang kemudian dilekatkan kepada masjid ini.

Bendera yang serupa di dalam masjid Bajrakli

Serbia sempat jatuh ke tangan kekaisaran Austria tahun 1717 hingga tahun 1739 dan masjid ini sempat di ubah menjadi Gereja Katholik. Namun kemudian dikembalikan fungsinya sebagai masjid pada tahun 1741 seiring dengan kembalinya kekuasaan Emperium Usamniyah di wilayah itu

Masjid Bajrakli kemudian di diperbaiki dan dikembalikan ke bentuk dan fungsinya semula sebagai masjid oleh Hussein-bey, yang merupakan chehaya (wakil) dari komandan pasukan Usmaniyah Turki, Ali-pasha. Dan oleh Karena itu pula masjid ini sempat juga disebut sebagai Masjid Hussein-Bey atau Masjid Hussein-chehaya.

Pada ahir abad ke 18 Masjid ini menjadi masjid utama di Beograd dan masjid masjid lainnya akan mengikuti aba aba dari masjid ini untuk mengumandangkan azan. Aba aba yang digunakan adalah dengan mengibarkan Bendera bulan sabit bewarna hijau di atas menara masjid, setelah melihat bendera tersebut baru masjid lainnya mengikuti menyuarakan azan.

Bangunan asli Masjid Bajrakli, terlihat sedikit di sisi kanan foto bangunan tambahan di belakang bangunan asli.

Bendera dalam Bahasa Turki disebut Bajrak, dan sejak saat ini masjid ini lebih dikenal dengan Nama Bajrakli atau secara harfiah bermakna sebagai masjid berbendera. Hingga kini bendera bulan sabit hijau senantiasa dipasang di menara masjid ini. Namun demikian tak ada lagi suara azan bersahutan dan berkelanjutan dari masjid masjid lain-nya karena memang Masjid Bajrakli merupakan satu satunya masjid yang masih berdiri di kota Beograd.

Masjid ini pernah di restorasi pada abad ke 19 oleh seorang bangsawan Serbia. Di tahun 2004, masjid ini sempat mengalami kerusakan parah akibat kebakaran dalam rusuh masa, namun kemudian kembali diperbaiki dan dikembalikan ke bentuknya semula. Peristiwa berawal dari pemisahan diri Kosovo sebagai Negara merdeka dari Federasi Yugoslavia yang ditentang oleh pemerintah pusat di Beograd.

Pertentangan tersebut berujung kepada ikut campurnya dunia internasional. Di tahun 1999 kota Beograd digempur oleh pasukan NATO dalam upaya menekan Yugoslavia (Negara kesatuan sebelum terpecah belah) yang melakukan intimidasi kejahatan kepada rakyat Kosovo. Berbagai gedung strategis militer dan pemerintahan di bombardir oleh tentara NATO. Sebagai salahsatu bentuk perlawanan, Masjid ini kemudian dibakar oleh masyarakat Serbia sebagai bentuk protes dan kekesalan warga terhadap sikap disintegrasi Kosovo yang notabene berhaluan Islam.

Interior Masjid Bajrakli ke arah pintu masuk dan mezanin

Arsitektur Masjid Bajrakli

Bangunan masjid ini menjadi tumpuan satu satunya bagi muslim kota Beograd yang merupakan bagian dari muslim Serbia yang kini hanya tersisa sekitar 3% dari total penduduk Negara tersebut. Bangunan yang dilengkapi dengan satu kubah utama dan satu menara terpisah dari bangunan utama.

Masjid Bajrakli kini sudah dilengkapi dengan bangunan masjid tambahan yang berada di belakang bangunan asli tanpa mengubah bentuk bangunan asalnya. Bangunan tambah ini selain berfungsi sebagai area sholat, juga merupakan bagian dari pusat aktivitas ke-Islaman muslim Beograd, termasuk tempat bekantornya Mufti dari Komunitas Muslim Serbia serta Konsul Komunitas Muslim Serbia.

Bangunan asli masih dengan bentuk dan fitur aslinya, Bangunan utamanya terdiri dari dua lantai, lantai dua-nya berupa lantai mezanin dari kayu yang dikhususkan untuk jemaah wanita. Lantai dasar atau area sholat utamanya khusus untuk jamaah laki laki. Ruangan dalam-nya tidak dilengkapi dengan peralatan pengatur suhu ruangan sehingga pada musim dingin suhu dalam ruangan masjid ini akan terasa alami dinginnya, berbeda dengan bangunan tambahannya yang merupakan bangunan baru dan sudah dilengkapi dengan perangkat penghangat ruangan.

Masjid Bajrakli saat dibakar tahun 2004

Ditahun 2014, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Indonesia di Beograd turut andil memantu muslim Serbia membangun kembali masjid ini dan turut menyampaikan harapan dari umat Islam Serbia, kepada Presiden Serbia, Nikolic, kiranya berkenan melimpahkan tanah dan bangunan di komplek Masjid "Bajrakli" di Beograd, menjadi milik umat Islam Serbia dan membantu rencana pendirian Islamic Center di kota Beograd. Atas dukungan dan upaya upaya tersebut, Dubes Indonesia mendapatkan penghargaan tertinggi dari Komunitas Muslim Serbia.

Masjid ini mengamalkan Islam Sunni, dan banyak dipengaruhi oleh pengaruh kultur Turki dan Bosnia. Khutbah jumat dilakukan dalam 3 bahasa, yakni Inggris, Serbia dan Arab. Jamaah masjid ini umumnya adalah warga keturunan dan para ekspatriat asing yang ada di Beograd. Warga muslim Serbia sendiri sudah banyak yang memilih mengungsi dan menetap di Albania, Bosnia, atau Kosovo.***

Referensi

http://gcpserbia2012.blogspot.co.id/2012/03/bajrakli-mosque-in-belgrade-serbia.html

http://www.phone-travel.com/ideas/serbia/belgrade/religious-places/bajrakli-mosque

https://realhousewifeofbelgrade.wordpress.com/2010/11/21/mosque-on-sunday/

http://islamicartsmagazine.com/magazine/view/bajrakli_mosque_in_belgrade_serbia/

http://www.beograd.rs/index.php?lang=cir&kat=beoinfo&sub=201404%3F

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/08/10/na2t2y-indonesia-bantu-muslim-serbia-bangun-masjid-di-beograd

https://farismind.wordpress.com/2015/05/02/masjid-bajrakli-saksi-pergantian-peradaban-islam-yang-tersisa-di-serbia/

https://www.klix.ba/vijesti/regija/sud-u-beogradu-niko-nije-kriv-za-paljenje-bajrakli-dzamije/130717116

http://turkishlegacyinserbia.weebly.com/blog/category/mosques-in-serbia

https://en.wikipedia.org/wiki/Bajrakli_Mosque,_Belgrade

Monday, August 3, 2020

Masjid Et'hem Bey Tirana, Albania

Masjid Et'hem Bey dipusat kota Tirana, Albania.

Tirana adalah ibukota dari Republik Albania, salah satu Negara dengan penduduk mayoritas muslim di Semenanjung Balkan. Albania juga merupakan salah satu negara Eropa yang berpenduduk mayoritas muslim. Selain nama sebuah Negara, Albania juga merupakan entitas suku bangsa, etnis Albania tidak saja tinggal dan membentuk Negara Republik Albania, tapi juga menjadi etnis mayoritas dari Republik Kosovo yang terbentuk paska runtuhnya Federasi Yugoslavia.

Di pusat kota Tirana, terdapat sebuah lapangan yang dikenal dengan Skanderbeg Square, nama lapangan ini dinisbatkan kepada nama Pahlawan nasional Albania, Gjergj Kastriot Skanderbeg. Disekitar lapangan ini berdiri bangunan bangunan penting termasuk Masjid tua Et'hem Bej  yang kini menjadi salah satu landmark kota Tirana bersama dengan menara Jam setinggi 35 meter dan dibangun tahun 1820 yang berdiri disebelahnya serta patung sang pahlawan Skanderbeg ditengah tengah Lapangan Skanderbeg Square.

Et'hem Bej Mosque

Sheshi Skënderbej, Tirana 1000, Albania

Masjid Et'hem Bey atau Et'hem Bey Mosque atau dalam bahasa Albania disebut  Xhamia e Et'hem Beut (Masjid Jami Et'hem Bey) pertama kali dibangun tahun 1823 dan kini telah ditetapkan sebagai salah satu Monumen Kebudayaan Nasional Albania. Pembangunannya dimulai tahun 1789 oleh Molla Bey dan diselesaikan tahun 1823 oleh putranya yang bernama Haxhi Ethem Bey, yang juga merupakan cicit dari Sulejman Pasha. Kemudian nama dari Haxhi Ethem Bey inilah yang kemudian menjadi nama masjid ini.

Masjid Et'hem Bey di pusat kota Tirana ini menjadi Simbol kembalinya kebebasan beragama di Albania, paska runtuhnya rezim Uni Soviet. Selama beberapa decade, Albania merupakan bagian dari Federasi rapuh Uni Soviet yang membuat kemerdekaan beragama di Negara itu diberangus secara total, seluruh kegiatan perbadatan dilarang oleh penguasa, masjid masjid ditutup paksa dari segala aktivitas peribadatan tak terkecuali masjid Et'hem Bey ini. Masjid tua ini baru dibuka kembali tahun 1991 meskipun tanpa izin dari pemerintah komunis yang berkuasa.

Pada tanggal 18 Januari 1991 sekitar 10,000 masa ummat Islam melakukan aksi pengambilalihan masjid Et'hem Bey dan mempfungsikannya kembali sebagai masjid. Aparat kepolisian yang disiagakan oleh penguasa komunis yang berkuasa saat itu, terkesan dengan sengaja melakukan pembiaran dan tidak melakukan tindakan pencegahan apapun. Aksi tersebut menjadi titik awal kembalinya kebebasan beragama di Albania.

Masjid Et'hem Bey memang memiliki rancangan yang cukup unik, meskipun tidak berukuran besar sebagaimana masjid masjid yang dibangun oleh Dinasti Usmaniyah, masjid tua ini memiliki ragam hias yang langka. Ornamen hias baik diluar maupun di dalam masjid ini merupakan ornament lukis tangan, bukan menggunakan keramik lukis seperti kebanyakan masjid masjid tua warisan dinasti Usmaniyah lainnya.

Saat salju membekukan suasana di Tirana.

Lukisan lukisan dindingnya nya banyak menggunakan panorama alam termasuk lukisan pepohonan dan tanaman sulur hingga air terjun dan jembatan, sesuatu yang sangat langka ditemukan digunakan sebagai ornamen hias Islam terutama digunakan untuk masjid. Kini Masjid Et'hem Bey menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Albania, Masjid ini terbuka untuk kunjungan umum setiap hari terkecuali pada jam jam pelaksanaan sholat berjamaah.

Masjid Et’hem Bey dan Kota Tirana

Tirana sebagai sebuah kota relatif belum terlalu tua dibandingkan kota kota Eropa lainnya, dibuka pertama kali tahun 1614 oleh Sulayman Pasha, Kota ini bergerak tumbuh di awal abad ke 18 namun tidak menjadikannya sebagai sebuah kota penting karena kondisi geografisnya yang terletak jauh di tengah tengah wilayah daratan Albania sampai kemudian diproklamirkan sebagai ibukota Republik Albania di tahun 1920.

Masjid Et'hem Bey di malam hari.

Adalah ahli tata kota dan juga arsitek dari Italia yang kemudian merancang kota ini dilengkapi dengan Alun alun yang dinamai dengan Skanderbeg Square, membangun buelevard berukuran besar, gedung gedung pemerintahan, balai kota hingga bank nasional Albania. Kini Albania tidak saja menjadi ibukota politik dan ekonomi Albania, kota ini telah menjelma menjadi kota dengan penduduk terpadat di Albania (lebih dari 800 ribu jiwa).

Letak georgafisnya kini justru menguntungkan sektor pariwisata karena berada diantara pegunungan Dajti dan Laut Adriatik, wisatawan yang berkunjung ke Tirana dapat mengunjungi dua objek wisata tersebut dengan waktu tempuh yang tidak terlalu jauh. Selain juga dapat mengunjungi objek wisata di pusat kota termasuk masjid Et’hem Bey, Skanderbeg square dengan patung Skanderbeg ditengahnya, Menara Jam disamping masjid, Gedung Opera dan Teater Balet, Perpustakaan nasional dan Musium sejarah nasional Albania.

DIPUSAT KOTA TIRANA. Masjid Et'hem Bey berdiri megah melewati zaman di pusat kota Tirana, bersisian dengan Skanderberg Square dengan patung sang  pahlawan sedang mnunggang kuda menjadi salah satu Ikon kota Tirana.

Masjid Masjid Albania Sepanjang Sejarah

Pembangunan Masjid di kota Tirana menjadi sebuah keharusan dimasa kekuasaan Usmaniyah, kala itu Kota Tirana memiliki setidaknya 27 Masjid bagi muslim di kota tersebut. Pada masa itu, membangun masjid membutuhkan waktu yang cukup lama. Bangunan masjid dibangun dengan perhatian penuh, selain bentuknya yang megah, juga dilengkapi dengan berbagai ornamen indah yang rumit hingga ke pemilihan material yang tidak selalu tersedia. Sejarawan menyebutkan bahwa lukisan dan ukiran di masjid ini bahkan dikerjakan oleh para pelukis dan pengukir dari wilayah Dalmatia di Italia.

Pengerjaan ukiran dan lukisan dengan tangan membutuhkan waktu bertahun tahun untuk menghasilkan sebuah karya seni yang indah. Dan hasilnya memang masih dapat dinikmati hingga hari ini, termasuk di dalamnya ukiran kayu, ukiran batu dan lukisan dinding dengan motif floral, kolom kolom tiang berukir, lubang angin ventilasi, hingga aneka ornamen di dalam maupun di luar masjid yang sangat langka.

salah satu sisi exteriro Masjid Et'hem Bey.

Keindahan masjid ini telah menjadi perhatian banyak tokoh sepanjang sejarah, mereka mencatatnya dalam catatan perjalanan mereka saat berkunjunjung ke Tirana. Adalah seorang Konsul Prancis di Shkodra bernama A. Degrand manakala berkunjung ke Tirana tahun 1901, menulis dalam catatannya:

“Masjid Tirana disesaki oleh aneka warna lukisan yang sangat indah dibawah terpaan cahaya matahari siang hari di Tirana menghadirkan sensasi tersendiri, tidak ada kota lain di Albania yang pernah saya lihat memiliki masjid dengan ukiran dan lukisan seindah ini”

Sementara itu Edit Durham, yang berkunjung ke Tirana di tahun 1904 Tirana mendeskripsikan kota itu sebagai “kota yang luar biasa bersih dengan pemandangan masjidnya yang luar biasa. Masjid Tirana benar benar luar biasa indah dengan lukisan yang aneka warna menarik dengan lukisan pemandangan yang menakjubkan”.

Keseharian di masjid Et'hem Bey

Manakala komunis menguasai Albania, begitu banyak masjid dan bangunan islam lainnya yang dihancuran ataupun di alih fungsi, dari 27 masjid yang ada di kota Tirana sedikit saja yang selamat dari “Red Terror” atau Teror Merah, begitu sejarawan menyebut terror yang ditebarkan oleh Pasukan Merah Soviet kepada Ummat Islam di Albania.

Di tahun 1967, Enver Hoxha, pimpinan partai komunias yang berkuasa di Albania kala itu memproklamirkan Albania sebagai Negara Atheis, dan melakukan serangkaian tindakan penutupan, alih fungsi hingga pengancuran masjid masjid di seluruh Albania. Begitu banyak properti ummat Islam yang diambil-alih secara paksa oleh pemerintah dan kemudian dihancurkan dan diganti dengan bangunan lain atau untuk dialih fungsi.

Masjid Et'hem Bey di masa lalu, lapangan luas di depannya masih bertahan hingga kini, namun masjid besar yang berdiri di latar depan kini sudah tidak ada lagi, lenyap di masa Uni Soviet.

Sebagai contoh adalah Gedung Opera dan Teater Balet Tirana dulunya adalah Masjid Karapici Tirana. Sedangkan Sekolah Constantine Kristoforidhi dulunya adalah Masjid Pasar Cham (market Cham Mosque), Masjid Bashir di ubah menjadi sekolah Sami Frasher, Masjid Haji Jasës di ubah menjadi gedung Rumah sakit Materiniteti Geraldine, Masjid Islam Alla di ubah menjadi sekolah Jeronim Derada, dan masih banyak lagi.

Ketika kebebasan beragama telah kembali di Negara tersebut, tidak mudah untuk mengembalikan lagi masjid masjid tersebut ke fungsi aslinya. Beberapa diantaranya yang masih bertahan dari kehancuran butuh dana tidak sedikit untuk sekedar mengembalikan-nya ke bentuk asli ataupun membangunnya kembali sebagai sebuah masjid yang layak. Kini diKota Tirana tersisa hanya delapan masjid yang masih berdiri setelah Negara itu membebaskan diri dari cengkraman rezim komunis Uni Soviet,

Interior Masjid Et'hem Bey dengan ornamen lukis yang tak biasa.

Bantuan Pemerintah Turki

Di tahun 2014 pemerintah Republik Turki selaku kelanjutan dari Dinasti Usmaniyah menggelontrorkan dana bagi upaya restorasi masjid masjid tua peninggalan dinasti Usmaniyah di Albania termasuk proyek restorasi Masjid Et’hem Bey. Upaya tersebut disampaikan oleh wakil perdana Turki Emrullah Isler atas nama Turkish Cooperation and Coordination Agency (TIKA) dalam kunjungannya ke Tirana.

Restorasi terhadap masjid Et’hem Bey memakan waktu selama dua tahun untuk memulihkan kondisinya, mulai dari memperbaiki kerusakan, keretakan hingga pemulihan berbagai ornamen dan ragam hias masjid tersebut, sebagai bagian dari upaya pemulihan kondisi masjid bersejarah tersebut.***

Referensi

http://www.fryma.org/qyteti-400-vjecar-qe-u-themelua-nga-xhamite-tirana-2/ (bahasa Albani)

http://en.wikipedia.org/wiki/Et'hem_Bey_Mosque

http://islam.ru/en/content/story/turkey-restore-oldest-mosque-albanian-capital

https://www.ata.gov.al/wowtravel-8-gjerat-kryesore-qe-mund-te-beni-ne-tirane/ (bahasa Albani)

Tuesday, June 2, 2020

Masjid Budapest, Hungaria

Tidak mirip majid ?. Betul, memang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid yang biasa kita kenal karena memang Masjid Budapest ini sebelumnya adalah bangunan komersial yang kemudian dibeli oleh Organisasi Muslim Hongaria (MME) dan diubah suai sebagai masjid.

Hongaria merupakan sebuah negara berbentuk republik yang berada di benua Eropa bagian tengah. Secara geografis negara ini berada pada dalam cekungan Carpathia dan berbatasan dengan Austria pada sebelah barat, Slowakia di sebelah utara, Ukraina pada sebelah timur, Rumania pada sebelah tenggara, Kroasia dan Serbia di sebelah selatan, Slovenia di sebelah barat daya, & Austria di barat. Dalam bahasa setempat, negara ini dikenal menjadi Magyarorsz?G yg berarti daerah Magyar.

Islam memilik sejarah teramat panjang di Hongaria, seluruh daerah negara ini pernah sebagai bagian berdasarkan daerah Kekhalifahan Islam Usmaniyah selama lebih berdasarkan 150 tahun. Namun demikian setelah semua itu berlalu, sekarang Islam balik asing pada negeri itu. Kini diperkirakan terdapat lebih kurang 26 ribu jiwa muslim yang terdapat di Hongaria, sebagian besar asal berdasarkan jazirah arab dan Turki. Tetapi demikian pertumbuhan Islam diantara pribumi cukup semakin tinggi dari waktu ke waktu.

Kota Budapest selaku ibukota negara Hongaria, masih ada beberapa organisasi Islam, galat satunya merupakan Organisasi Muslim Hongaria atau dalam Bahasa setempat disebut Magyarorsz?Gi Muszlimok Egyh?Za (MME) yang adalah organisasi Islam terbesar di Hongaria. MME memiliki & mengelola beberapa masjid di Hongaria, yang terbesar dalah Masjid Budapest sekaligus sebagai kantor sentra MME.

Magyarorsz?Gi Muszlimok Egyh?Za - Budapest Mecset

H-1119 Budapest, Feh?Rv?Ri ?T 41.

Phone: 36-1-208-4040

E-mail: mmehungary@gmail.com

Mobil: 36-20-204-5852

Fax: 36-1-208-1552

 

Masjid Budapest mudah di akses dengan menggunakan kendaraan umum. Bangunan masjid berlantai tiga dengan area parkir. Masjid Budapest dikelolah oleh Organisasi Muslim Hongaria. Masjid ini pertama kali dibuka untuk umum pada bulan Romadhon tahun 2011, sekitar 500 jemaah memadati masjid ini disetiap hari Jum’at.<o:p></o:p>

 

Khutbah Jum’at di masjid ini disampaikan dalam Bahasa Arab dengan terjemahan Bahasa Hongaria termasuk juga dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakan di masjid ini namun demikian pada pengajian ataupun kelas ahir pecan menggunakan Bahasa Hongaria termasuk untuk kelas hari Sabtu.<o:p></o:p>

 

Organisasi Muslim Hongaria membuka kelas ahir pekan bagi anak anam muslim disana yang bertempat di Masjid Budapest ini. Kelas hari sabtu tersebut telah dimulai sejak tahun 2011 ketika masjid mulai dibuka. Nur School nama sekolah tersebut dengan peserta didik sekitar 200 anak anak muslim mulai dari usia 7 hingga 16 tahun. di sekolah ahir pekan ini anak anak mendapatkan pelajaran Bahasa Arab, Baca Al-Qur’an, kajian fiqih dasar termasuk di dalamnya  tentang tata cara sholat dengan baik dan benar.<o:p></o:p>

Suasana ruang sholat di dalam Masjid Budapest
Bersebelahan dengan sebuah taman kecil.
dari seberang jalan

Masjid Budapest gampang pada akses dengan menggunakan kendaraan generik. Bangunan masjid berlantai tiga dengan area parkir. Masjid Budapest dikelolah sang Organisasi Muslim Hongaria. Masjid ini pertama kali dibuka buat umum pada bulan Romadhon tahun 2011, sekitar 500 jemaah memadati masjid ini disetiap hari Jum?At.

Khutbah Jum?At di masjid ini disampaikan dalam Bahasa Arab dengan terjemahan Bahasa Hongaria termasuk jua pada proses belajar mengajar yg diselenggarakan di masjid ini namun demikian pada pengajian ataupun kelas ahir pecan menggunakan Bahasa Hongaria termasuk buat kelas hari Sabtu.

Organisasi Muslim Hongaria membuka kelas ahir pekan bagi anak anam muslim disana yang bertempat di Masjid Budapest ini. Kelas hari sabtu tersebut telah dimulai sejak tahun 2011 ketika masjid mulai dibuka. Nur School nama sekolah tersebut dengan peserta didik sekitar 200 anak anak muslim mulai dari usia 7 hingga 16 tahun. di sekolah ahir pekan ini anak anak mendapatkan pelajaran Bahasa Arab, Baca Al-Qur’an, kajian fiqih dasar termasuk di dalamnya  tentang tata cara sholat dengan baik dan benar.

Suasana pada pada Masjid Budapest.

Aktivitas Masjid Budapest

Disamping mengelola Masjid Budapest & sekolah bagi anak anak, Organisasi Islam Hongaria ini juga menyelenggarakan Summer Camp (Perkemahan Musim Panas) yg diselenggarakan pada berbagai tempat berbeda beda, menterjemahkan dan mengkompilasi berbagai kitab buku Islam menurut banyak sekali asal, serta beragam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sejarah Organisasi Muslim Hongaria

Organisasi Muslim Hongaria dibentuk dalam lepas 22 September 2000 dibawah undang undang kebebasan beragama pada negara tersebut. Namun demikian organisasi ini sebenarnya bukanlah organisasi baru dan adalah integrase dari banyak sekali kegiatan dan pengalaman muslim Hongaria sejak tahun 1987 manakala organisasi Islam pertama berdiri dengan nama Asosiasi Pelajar Muslim Hongaria.

Pada mulanya Organisasi ini menumpang tempat menggunakan lembaga Islam lainnya yg sudah terdapat pada Budapest yakni Masjid Dar As-Salam. Baru kemudian berupaya mendapatkan loka sendiri bagi aktivitasnya. Perjuangan buat mendapatkan izin resmi menjadi sebuah organisasi keagamaan juga tidak mudah, lebih menurut setahun pengurus organisasi ini mengupayakan perizinan dimaksud baru lalu mendapatkan persetujuan dari parlemen & kini eksis beserta 35 organisasi kegamaan lainnya pada negara tadi yang mempunyai loka peribadatannya sendiri.

Sebuah taman kecil didepan Masjid Budapest

Seiring bepergian ketika, Jemaah semakin meningkat berdasarkan sebelumnya hanya diperkirakan dibutuhkan loka bagi kurang lebih 100 jemaah tetapi ternyata aktual kebutuhannya jauh lebih besar dari itu. Permintaan bantuan di beberapa negara Islam & lalu ada donator yg siap membantu hingga lalu pada beli lah sebuah gedung yg cukup akbar kemudian pada rombak menjadi masjid yg kini dikenal dengan nama Masjid Budapest.

Berdirinya Masjid Budapest menggunakan mengganti gedung bangunan yang sudah ada menggunakan banyak sekali pertimbangan termasuk pertimbangan porto. Pembangunan masjid sebenarnya misalnya bangunan masjid dalam umumnya yang dilengkapi menggunakan kubah & menara dan berupa bangunan yg berdiri sendiri, membutuhkan biaya setidaknya tiga kali lipat dibandingkan menggunakan mengalihfungsi bangunan gedung yang sudah terdapat.

Ditambah lagi dengan masalah perizinan yang tidak gampang. Sebagai contoh Organisasi islam Dar As-Salam yang sudah lebih dulu menurut Organisasi Muslim Hongaria ini pun sudah mencoba melakukan hal tersebut, tetapi tidak kunjung terealisasi sehabis hampir sepuluh tahun. Itu sebabnya Organisasi Muslim Hongaria inipun tetapkan buat membeli gedung yang sudah terdapat dan mengubahnya menjadi masjid.

Dari seberang jalan

Organisasi Muslim Hongaria menjalankan aktivitasnya mewakili muslim disana dan senantiasa sedapat mungkin hadir di setiap lembaga termasuk dialog antar pemeluk kepercayaan buat mengklarifikasi kesalahfahaman mengenai Islam.

Selain Masjid Budapest, Organisasi Muslim Hongaria juga mengelola Masjid lainnya yang juga di kota Budapest tepatnya di the 8th district , dan di kota Szeged serta mengorganisir komunitas muslim di kota Pécs serta Salgótarján. Organisasi ini juga menjalin hubungan erat dengan kaum muslimin Hongaria yang tinggal di Slovakia dan Romania.

Mayoritas muslim Hongaria tinggal di Budapest selaku ibukota negara. 60% berdasarkan mereka dari menurut negara negara arab, 30% berdasarkan banyak sekali latar belakang termasuk Turki, Persia dan Afrika, serta kurang lebih 10% nya merupakan muslim pribumi Hongaria.

Pelaksanaan kursus Bahasa arab di masjid Budapest ini perdeo, alias nir dipungut biaya serta terbuka bagi seluruh kalangan termasuk bagi non muslim. Masjid Budapest juga terbuka bagi siapapun yg hendak berkunjung ataupun bertanya mengenai Islam. Termasuk pula mendapat kunjungan dari wisatawan.***

Referensi

http://aboutislam.Net/family-society/culture/budapest-masjid-heart-europe/

http://iszlam.Com/english/item/2290-budapest-mosque-a-mosque-in-budapest-in-the-heart-of-hungary

http://iszlam.Com/english/item/2290-budapest-mosque-a-mosque-in-budapest-in-the-heart-of-hungary

http://aboutislam.Net/family-society/culture/budapest-masjid-heart-europe/

<o:p></o:p>

Referensi

Pelaksanaan kursus Bahasa arab di masjid Budapest ini perdeo, alias nir dipungut biaya serta terbuka bagi seluruh kalangan termasuk bagi non muslim. Masjid Budapest juga terbuka bagi siapapun yg hendak berkunjung ataupun bertanya mengenai Islam. Termasuk pula mendapat kunjungan dari wisatawan.***

Mayoritas muslim Hongaria tinggal di Budapest selaku ibukota negara. 60% berdasarkan mereka dari menurut negara negara arab, 30% berdasarkan banyak sekali latar belakang termasuk Turki, Persia dan Afrika, serta kurang lebih 10% nya merupakan muslim pribumi Hongaria.

Selain Masjid Budapest, Organisasi Muslim Hongaria juga mengelola Masjid lainnya yang juga di kota Budapest tepatnya di the 8th district , dan di kota Szeged serta mengorganisir komunitas muslim di kota Pécs serta Salgótarján. Organisasi ini juga menjalin hubungan erat dengan kaum muslimin Hongaria yang tinggal di Slovakia dan Romania.

Organisasi Muslim Hongaria menjalankan aktivitasnya mewakili muslim disana dan senantiasa sedapat mungkin hadir di setiap lembaga termasuk dialog antar pemeluk kepercayaan buat mengklarifikasi kesalahfahaman mengenai Islam.

Ditambah lagi dengan masalah perizinan yang tidak gampang. Sebagai contoh Organisasi islam Dar As-Salam yang sudah lebih dulu menurut Organisasi Muslim Hongaria ini pun sudah mencoba melakukan hal tersebut, tetapi tidak kunjung terealisasi sehabis hampir sepuluh tahun. Itu sebabnya Organisasi Muslim Hongaria inipun tetapkan buat membeli gedung yang sudah terdapat dan mengubahnya menjadi masjid.

Berdirinya Masjid Budapest menggunakan mengganti gedung bangunan yang sudah ada menggunakan banyak sekali pertimbangan termasuk pertimbangan porto. Pembangunan masjid sebenarnya misalnya bangunan masjid dalam umumnya yang dilengkapi menggunakan kubah & menara dan berupa bangunan yg berdiri sendiri, membutuhkan biaya setidaknya tiga kali lipat dibandingkan menggunakan mengalihfungsi bangunan gedung yang sudah terdapat.

Seiring bepergian ketika, Jemaah semakin meningkat berdasarkan sebelumnya hanya diperkirakan dibutuhkan loka bagi kurang lebih 100 jemaah tetapi ternyata aktual kebutuhannya jauh lebih besar dari itu. Permintaan bantuan di beberapa negara Islam & lalu ada donator yg siap membantu hingga lalu pada beli lah sebuah gedung yg cukup akbar kemudian pada rombak menjadi masjid yg kini dikenal dengan nama Masjid Budapest.

<o:p></o:p>

Pada mulanya Organisasi ini menumpang tempat menggunakan lembaga Islam lainnya yg sudah terdapat pada Budapest yakni Masjid Dar As-Salam. Baru kemudian berupaya mendapatkan loka sendiri bagi aktivitasnya. Perjuangan buat mendapatkan izin resmi menjadi sebuah organisasi keagamaan juga tidak mudah, lebih menurut setahun pengurus organisasi ini mengupayakan perizinan dimaksud baru lalu mendapatkan persetujuan dari parlemen & kini eksis beserta 35 organisasi kegamaan lainnya pada negara tadi yang mempunyai loka peribadatannya sendiri.

Organisasi Muslim Hongaria dibentuk dalam lepas 22 September 2000 dibawah undang undang kebebasan beragama pada negara tersebut. Namun demikian organisasi ini sebenarnya bukanlah organisasi baru dan adalah integrase dari banyak sekali kegiatan dan pengalaman muslim Hongaria sejak tahun 1987 manakala organisasi Islam pertama berdiri dengan nama Asosiasi Pelajar Muslim Hongaria.

<o:p></o:p>

Sejarah Organisasi Muslim Hongaria

Disamping mengelola Masjid Budapest & sekolah bagi anak anak, Organisasi Islam Hongaria ini juga menyelenggarakan Summer Camp (Perkemahan Musim Panas) yg diselenggarakan pada berbagai tempat berbeda beda, menterjemahkan dan mengkompilasi berbagai kitab buku Islam menurut banyak sekali asal, serta beragam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Aktivitas Masjid Budapest

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done