Islami Pedia: Masjid di Oceania
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Oceania. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Oceania. Show all posts

Sunday, October 18, 2020

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib, Lakemba - Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib di Lakemba, Syney - Australia. Salah satu masjid besar di Australia dibawah pengelolaan muslim keturunan Lebanon. Masjid dengan bentuk memanjang berkubah tunggal dan satu menara, cukup menyita perhatian diantara bangunan bangunan lain disekitarnya.
Masjid Lakemba merupakan salah satu masjid terbesar di Australia. Nama resmi masjid ini sebenarnya adalah Masjid Imam Ali Bin Abi Taleb namun karena lokasinya yang berada di kawasan Lakemba,New South Wales, maka lebih dikenal dengan nama Masjid Lakemba dibandingkan dengan nama aslinya.

Masjid Lakemba dibangun dan dikelola oleh Muslim Australia keturunan Lebanon atau dikenal dengan istilah Lebanese Australians. Selesai dibangun tahun 1977 yang lalu. Jemaah nya pun sebagian besar juga merupakan muslim Lebanon atau muslim keturunan Lebanon yang tinggal di Australia dibawah organisasi Lebanese Moslems Association.

Lokasi dan Alamat Masjid Lakemba

IMAM ALI IBNE ABI TALEB MOSQUE

(65-67  Wangee Road, LAKEMBA, NSW 2195 Australia)

Tel. 61-02-9759 2072 Fax. 61-02-97598149

Website : http://www.al-emaan.org

Koordinat Geografi : 33° 54' 48.34" S 151° 4' 26.23" E

View IMAM ALI IBNE ABI TALEB MOSQUE in a larger map

View IMAM ALI IBNE ABI TALEB MOSQUE in a larger map

Pengurus Masjid

Pengurus masjid Lakemba ini seringkali menjadi tajuk berita karena komentar komentar mereka yang dianggap controversial. Tokoh tokoh ternama Australia di masjid ini termasuk diantaranya adalah Mantan Mufti Australia & New Zealanda Taj El-Din Hilaly. Jabatan imam masjid Lakemba dipegang oleh Sheikh Yahya Safi, yang merupakan perwakilan Australia di lembaga Darul Fatwa Lebanon.

Sheikh Yahya dilahirkan di kota Tripoli,Lebanon (jangan sampai tertukar dengan Tripoli-Libya)  di tahun 1970. Beliau mendapatkan gelar sarjana hokum syariah tahun 1992, memulai karir sebagai imam di kota kelahirannya sebelum kemudian tiba di Australia dan menjadi imam di Masjid Lakemba tahun 1996.

Masjid Lakemba dibangun dalam rancangan kontemporer, mengingat lokasinya berdiri di dalam lingkungan perumahan, bangunan masjidnya mengikuti tata letak bangunan sekitarnya, bukan mengikuti arah kiblat. Konsekwensinya adalah garis shaf di masjid ini miring terhadap denah bangunan.
Beliau juga mendapatkan gelar master dalam bidang penterjemahan Al-Qur’an di tahun 2002 dan saat ini sedang melanjutkan studinya untuk meraih gelar Phd dalam bidang Studi Islam. Dalam menjalankan tugas kesehariannya beliau dibantu oleh Sheikh Bassam Alameddine. Tokoh lainnya yang juga merupakan tokoh masjid Lakemba adalah Sheikh Shady Alsuleiman yang merupakan wakil dari pemuda Islam. Beliau lahir di Sydney. Dan Faisal Kassir yang menjabat sebagai kepala departemen pendidikan di masjid Lakemba.

Kerusuhan Cronulla

Masjid Lakemba, sempat menjadi pusat konsentrasi massa pemuda muslim pada kerusuhan rasial Cronulla (Cronulla race-riots) di bulan Desember 2005 lalu. Kerusuhan rasial yang sempat menghebohkan sejarah Australia ini memicu kerumunan massa muslim dalam jumlah besar di Masjid Lakemba dalam upaya mengantisipasi issue serangan terhadap masjid tersebut.

Arsitektural Masjid

Masjid Lakemba dibangun dua lantai. Lantai pertama meruapakan ruang sholat utama diperuntukkan bagi jemaah laki laki sedangkan lantai dua diperuntukkan khusus bagi jemaah wanita. Bangunan masjid juga dilengkapi dengan area parkir di lantai sub basement yang dapat di akses dari lantai dasar.

Suasana di dalam Masjid Lakemba.
Masjid tersebut selain dilengkapi dengan fasilitas Al-Quran juga dilengkapi dengan ceramah-ceramah berbahasa arab dan kajian keislaman. Lebih dari 1000 orang mengikuti salat jamaah untuk setiap harinya, dan jumlah tersebut melonjak menjadi 5000 orang dalam pelaksanaan salat Jumat. Namun tak pelak lagi pada suasana sholat sunat di dua hari raya, jemaah masjid terpaksa memadati jalan raya di depan masjid karena daya tampung yang tidak mencukupi. Sudah sangat mirip dengan di Indonesia ya.

Tentang Lakemba

Lakemba merupakan salah satu wilayah di dalam kota Sydney, bila di Indonesia mungkin sama dengan Kecamatan. Di kota ini diperkirakan 80% penduduknya beragama Islam dari berbagai etnis dan bangsa termasuk Indonesia, Lebanon dan Turki. Dengan penduduk kota yang mayoritas muslim menjadikan wilayah ini sebagai surga bagi muslim mancanegara yang datang ke Australia.

Kaum muslim secara alamiah membentuk komunitas-komunitas keislaman berdasarkan asal negara mereka. Di kawasan kecil dari kota Sydney ini terdapat enam buah masjid dan mushola yang dikelola oleh berbagai komunitas muslim, salah satunya adalah masjid Al Hijrah yang dikelola muslim dari Indonesia.

Open Day Lakemba Mosque

Meriahnya suasana open day alias open house di Masjid Lakemba. Muslim dan Non Muslim setempat begitu antusias untuk datang ke masjid ini.
Demi menghilangkan kesalahpahaman dan mempromosikan citra Islam yang lebih baik, Masjid Lakemba membuka diri bagi semua kalangan untuk berkunjung ke masjid. Masjid Lakemba sendiri memberikan kesempatan kepada khalayak umum (non muslim) untuk berkunjung pada jam 10.00 hingga jam 17.00 sore. Pengunjung non muslim yang datang akan menikmati tur di masjid ditemani oleh pengurus masjid sebagai pemandu sekaligus siap menjawab pertanyaan para pengunjung tentang Islam.

Tuduhan Terorisme

Kompilasi foto Masjid Lakemba dari berbagai sumber

Referensi

express.whereilive.com.au - terrorist-conducts-sermon-via-phone-link-to-young-people-at-lakemba-mosque

hasanabdulwahab.wordpress.com - muslim-lakemba-australia

abc.net.au - major-police-presence-at-lakemba-mosque

voa-islam.com - masjid-di-australia-dibuka-untuk-non-muslim

en.wikipedia.org – lakemba mosque

lma.org.au – lakemba mosque

smh.com.au - mosque-plagued-by-ageold-problem

Baca Juga

Islam dan Masjid di Vanuatu

Masjid Sunshine – Victoria, Australia

Masjid Auburn Gallipoli, Sidney - Australia

Saturday, October 17, 2020

Masjid Auburn Gallipoli, Sidney - Australia

Masjid Auburn Gallipoli, Sydney - Australia. Setiap tahun masjid ini mengadakan acara open haouse bagi semua lapisan masyarakat untuk lebih mengenalkan Islam kepada khalayak luas dan memberikan pemahaman yang benar tentang Islam.
Masjid Auburn Gallipoli atau Auburn Gallipoli Mosque ini merupakan salah satu masjid terbesa di di Australia. Di bangun dan di kelola oleh muslim keturunan Turki. Sesuai dengan tradisi muslim pembangunnya, Masjid Auburn Gallipoli dibangun dalam gaya Usmani atau Ottoman. Masjid besar di Sydney,New South Wales,Australia ini menjadi symbol kedekatan persahabatan antara Australia dan Republik Turki.

Setiap hari jum’at masjid ini dipadati setidaknya 800 jemaah yang sebagian besar merupakan muslim Turkish Australians atau warga Australia keturunan Turki. Nama Gallipoli yang melekat pada nama masjid ini diambil dari Gallipoli Campaign semada perang Perang Dunia pertama, yang memainkan peranan teramat penting bagi hubungan sejarah antara kedua Negara, Australia dan Republik Turki.

Alamat dan Lokasi Masjid Auburn Gallipoli

Auburn Gallipoli Mosque?

15-19 Gelibolu Parade

Auburn NSW 2144, Australia

Telepon : 61 dua 9646 5972

Email : info@gallipolimosque.org.au

Situs resmi : www.gallipolimosque.org.au

View Larger Map

View Larger Map

Sejarah Masjid Auburn Gallipoli

Pada mulanya bangunan masjid pada lokasi kini ini adalah sebuah bangunan loka tinggal yang lalu dibongkar seluruh penyekatnya buat mendapatkan ruang terbuka yang cukup akbar & mulai dibuka buat kegiatan peribadatan pada lepas 3 November 1979. Sedangkan bangunan masjid Auburn Gallipoli yang berdiri begitu megah saat ini baru mulai dibangun tahun 1986 & diresmikan dalam tanggal 28 November 1999. Dua puluh tahun semenjak masjid pertama berdiri disana.

Komunitas Musim Turki di Australia telah mulai mendiskusikan pembangunan masjid di tahun 1974. Diskusi yg kemudian dilanjukan menggunakan mematangkan planning pembangunan dan pengajuan ke dewan kota. Dewan Kota Auburn menerbitkan biar pembangunan masjid tersebut pada bulan Juli 1985 bagi komunitas muslim untuk menciptakan masjid sebagaimana yg diajukan sang Auburn Turkish Cultural Center, dengan asumsi dana pembangunan mencapai $4,5 juta dolar, berdaya tampung sampai 5000 jemaah.

Masjid Auburn Gallipoli diantara rumah rumah penduduk
Sedangkan lokasi yang dipilih dan disetujui adalah lokasi rumah yang selama ini dijadikan sebagai masjid sementara. Pemilihan lokasi ini juga tak lepas dari fakta bahwa di lokasi tersebut telah lama menjadi pusat peribadatan bagi komunitas muslim dari Turki dan berbagai bangsa yang telah lama hadir dan menetap di sekitar lokasi tersebut. Kendati demikian, tak urung mengundang kecaman keras dari komunitas non muslim setempat atas persetujuan yang dikeluarkan oleh dewan kota, dengan dalih bahwa keberadaan masjid dilokasi tersebut akan memicu kemacetan di setiap hari Jum’at.

Sebuah keberatan yg jua dimuat di Koran setempat termasuk di dalamnya kalimat kalimat negatif tak layak misalnya ?Budaya dan Tradisi Islam tak terdapat tempat pada Australia?. Namun demikian bangunan masjid ini menjadi bagian krusial bagi Komunitas muslim setempat & pula bagi organisasi budaya di Turki dan Negara Negara Islam lainnya. Setelah melalui proses pembangunan, Masjid Auburn Gallipoli ahirnya diresmikan penggunaannya pada lepas 28 November 1999 menghabiskan dana sebanyak $6,5 juta Dolar.

Masjid Auburn Gallipoli ketika dibangun dan waktu ini

Jika di runut tahun pembangunannya, proses pembangunan masjid ini memakan ketika relatif panjang hingga hampir 14 tahun, sejak tahun 1985 hingga tahun 1999. Hal ini tidak lain lantaran masalah pendanaan. Proyek pembangunan masjid ini adalah inisiatif muslim keturunan Turki yg tinggal disana, termasuk sebagian akbar dana pembangunannya. 50% menurut jemaah masjid ini dari menurut muslim Turki dan 50% lainnya adalah muslim menurut berbagai bangsa.

Arsitektur Masjid Auburn Gallipoli

Masjid Auburn Gallipoli berdiri diatas lahan seluar 1 Acre atau setara dengan 4000 meter persegi. Rancang bangun masjid nya ditangani sang Arsitek Omer Kirazoglu, berdasarkan pada rancangan bangunan masjid bergaya usmani klasik. Bangunan masjid yg ditandai dengan satu kubah utama berukuran akbar & menara ramping yg tinggi & lancip. Sedangkan kontraktor pembangunannya adalah Ahmet Asim yg sudah menghabiskan begitu poly waktu menangani pembangunan Masjid ini.

Rancangan pembangunannya merujuk kepada masjid Sultan Ahmed di Istambul ? Turki, sekaligus menegaskan kehadiran komunitas muslim pada kota tadi. Eksterior masjid terdiri menurut satu kubah utama bergaris tengah 16,6 meter ditambah 8 bentuk semi kubah & dua menara dengan tinggi 39 meter mengapit bangunan masjid. Kubah primer masjid ini relatif tinggi mencapai 22,6 meter menurut permukaan lantai primer masjid. Keseluruhan bangunan masjid ini memakai konstruksi beton bertulang & batu batu.

Di dalam kubah primer terdapat 8 kolom yang ditopang oleh bangunan semi kubah. Sedangkan dinding bagian pada dan lantai masjid dihiasi menggunakan aneka macam bentuk ornamen mozaik warna warni. Jendela masjid nya dihias menggunakan kaca patri rona warni, & dalam bagian bawah kubah utama masih ada jendela jendela kecil yang dihias denga kaligrafi 99 asma?Ul husna. Dibagian pada masjid ini dibangun lantai mezanin yg diperuntukkan khusus bagi jemaah wanita & anak anak balita.

Interior Masjid Auburn Gallipoli

Kompilasi foto masjid Auburn Gallipoli berdasarkan banyak sekali asal

Referensi

situs resmi - http://www.gallipolimosque.com/

Baca Juga

Islam dan Masjid pada Vanuatu

Masjid Sunshine ? Victoria, Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib, Lakemba - Australia

Monday, October 12, 2020

Kabar Dari Vanuatu

Muslim antar bangsa di Masjid Mele, Saudara kita dari Indonesia di antara-nya.
Bila dalam posting sebelumnya tentang Islam & Masjid di Vanuatu telah diulas tuntas sejarah masuk-nya Islam ke Vanuatu dan perkembangannya, termasuk hadirnya beberapa saudara muslim Indonesia disana, maka, kali ini kami akan menyajikan kabar terbaru muslim Vanuatu terutama di kota Port Villa dengan Masjid Mele nya.

Alhamdulillah saudara saudara muslim di Vanuatu semakin bergairah pada memeriksa kepercayaan Islam yang nisbi baru bagi mereka. Sudara kita, Kris Triyantio yang kini sedang menjalankan tugasnya sebagai Asisstan Manager di keliru satu perusahaan yang berkiprah dibidang IT di Vanuatu mengabarkan perkembangan Islam terbaru di menurut Masjid Mele, Kota Port Villa, Republik Vanuatu.

Sejak dia tiba di kota Mele, beliau dianggap oleh jemaah muslim disana buat bergabung dalam kepengurusan Masjid Mele, kira kira sama dengan ?Pengurus DKM? Di Indonesia. Masjid Mele merupakan loka berkumpulnya komunitas muslim di Port Villa, Ibukota Vanuatu. Masjid sederhana itu kini sedang menciptakan kamar mini & merapikan ruang sholat khusus buat jemaah wanita-nya sejak 2 minggu yg kemudian.

Dan Alhamdulillah, sokongan kuat juga datang menurut saudara saudara muslim yg tiba menurut Selandia Baru (New Zealand) yg sengaja tiba ke Vanuatu buat membantu muslim setempat dalam mendalami ajaran Islam. Mereka Juga pulang ke beberapa wilayah pedalaman Vanuatu yang terdapat konsentrasi umat Islam di sana.

Saat ini Masjid Mele juga tengah menggencarkan kelas sosialisasi Islam khusus buat wanita mulai menurut anak-anak sampai orang tua, yg diadakan setiap hari Minggu sebelum Zuhur. Mereka mulai pada perkenalkan menggunakan Al Quran (menggunakan buku Iqro) dan juga pengenalan Islam secara generik (misalnya puasa, sholat dan sebagainya) mulai menurut yang ringan agar mereka tidak terlalu kaget. Sangat menarik ya ternyata buku IQRO yg dibentuk pada Indonesia itu, tidak saja terkenal di negara negara ASEAN akan tetapi juga telah hingga ke Vanuatu, yang begitu jauh pada Samudera Pasifik Selatan sana.

Kompilasi foto perbangunan sarana kamar mini dan area sholat khusus jemaah Wanita di Masjid Mele.

Tak hanya hingga disitu, kesadaran akan Halalnya kuliner yang dikonsumsi pun mulai menerima perhatian, Sebuah peternakan Ayam pada Vanuatu telah menggunakan tenaga tukang potong berdasarkan umat Muslim disana, supaya proses mutilasi ayam tersebut menggunakan cara cara sesuai syari?Ah untuk menjamin kehalalannya. Dan ketika ini mereka sedang mencari tukang potong sapi menurut ummat islam buat juga dapat memastikan kehalalan daging sapi sesuai menggunakan syariah Islam.

Teriring do?A semoga saudara saudara muslim disana senantiasa menerima bimbingan, proteksi, Rahmat & Hidayah menurut Allah Subhanahuwata?Ala, wabil khususon saudara kita Kris Triyantio dan saudara saudara lainnya agar senantiasa diberikan kekuatan lahir & bathin & keberkahan pada menjalankan tugas & segala aktivitasnya, Amin.***

Baca Juga

Islam & Masjid di Vanuatu

Tuesday, September 1, 2020

Islam dan Masjid di Vanuatu

Dimanakah Vanuatu ? ::: Vanuatu berada pada jajaran negara negara pulau di samudera Pasifik Bagian Selatan, bertetangga menggunakan Fiji, Kaledonia Baru & lainnya.

Pernah mendengar nama Vanuatu ?. Atau malah belum pernah sama sekali !. tak mengherankan, karena Vanuatu memang sebuah negara yang terdiri dari gugusan pulau kecil di tengah Samudera Pasifik Bagian Selatan, Beri-Ibukota di Port Villa, tergolong sebagai salah satu negara miskin namun memiliki keindahan alam yang memukau. Bila dibandingkan dengan Indonesia, maka Indonesia akan menjadi Negara super kaya dan super luas dibandingkan Vanuatu.

Keseluruhan luas Vanuatu (perairan dan daratannya) sekitar 12,190 km2 hampir setara dengan luas propinsi Gorontalo (11.257.07 km2) di Pulau Sulawesi. Vanuatu terdiri dari 82 pulau dengan ukuran relatif kecil, 14 pulau yang memiliki ukuran >100 km2 (10 ribu hektar atau 10kmx10km), 19 pulau tak berpenghuni, sementara dua pulau kecilnya di lokasi paling selatan, di klaim oleh Prancis sebagai bagian dari Kaledonia Baru. Luas keseluruhan pulaunya itu bila digabung jadi satu hanya seluas sekitar 4.700 km2 lebih kecil sedikit dibandingkan dengan luas propinsi Bali (5.780.06 km2)

Gaya Baru ::: Muslim Mualaf Vanuatu dengan gaya baru & jalan hayati yang baru. Gamis putih menggantikan busana dan seluruh kebiasaan lamanya.

Karena ukuran pulau nya yang mungil mungil Negara ini sangat rentan dengan dampak pemanasan global, dan bila pemerintah dan rakyatnya gagal menjaga kelestarian hutan, kekurangan air bersih segera menjadi bencana. Namun menariknya, di tahun 2010 lalu Vanuatu bertengger di puncak daftar Negara yang penduduknya paling gembira di dunia versi lonelyplanet, mengalahkan Indonesia yang super kaya dan super besar yang bahkan tak masuk dalam daftar nomonasi.

Dan menariknya lagi meski letaknya yang terpencil di tengah deburan ombak Samudera Pasifik dan berjarak sekitar 15 ribu kilometer dari Mekah, Islam telah hadir di Negara pulau ini sejak tahun 1978 lalu, bukan diantar masuk kesana tapi di jemput sendiri oleh penduduk asli nya yang kemudian menjadi muslim pertama di Negara itu. Benar benar “sesuatu” yang tentunya cukup  menarik untuk di ulas.

Vanuatu Islamic Association

Mele Village, Port Villa, Vanuatu

Po Box 1436

View Mele - Port Villa - Vanuatu in a larger map

Vanuatu muncul dalam sejarah Nasional Indonesia ketika diselenggarakan Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, kala ituitu Vanuatu masih berstatus koloni Prancis dan Inggris. Namun semangat untuk merdeka mengantarkan mereka ke kancah dunia di kota Bandung tersebut.

Muslim dan Masjid Pertama pada Vanuatu

Dua kali sensus resmi yang telah diselenggarakan di Vanuatu sama sekali tidak menyebut tentang adanya komunitas muslim di Vanuatu, baik dalam sensus penduduk tahun 1999 maupun sensus penduduk di tahun 2009. Meskipun begitu dilaporkan bahwa ada sekitar 200 mualaf muslim di Negara pulau ini, sumber lain bahkan menyebut angka 1000 jiwa.

Masjid kecil di tengah kampung Mele ::: Kecil dan sederhana dan tak tampak seperti bangunan masjid. Inilah masjid pertama di Republik Vanuatu. Masjid Wakaf dari muslim setempat. Acungan dua jempol rasanya tak cukup untuk memuji muslim di negara pulau ini. (foto kiriman dari Kris Triyantio di Melle).
Penduduk Vanuatu mayoritas beragama Kristen. namun telah hadir di negara ini. dan tak sulit menemukan komunitas muslim disini. Sebagai negeri yang sedang gencar gencarnya mempromosikan pariwisata di negeri mereka, para pengelola perhotelan pun turut menyerap semua informasi tentang negaranya termasuk komunitas Islam di negara mereka, dan dengan mudah mereka menjelaskan hal tersebut.

Mustapha Kaloas, Sekretaris Jenderal Vanuatu Islam Society menuturkan bahwa sejarah Islam di Vanuatu dimulai sejak tahun 1978 lalu. Masih belum lama bahkan belum sampai setengah abad dibandingkan dengan sejarah Islam di Indonesia. Adalah Henry Nabanga seorang warga asli Vanuatu yang melanjutkan studinya ke India untuk mempelajari proses penterjemahan naskah.

Henry Nabanga berasal dari Desa Mele di Port Villa, Vanuatu. Di tahun 1973 beliau memutuskan untuk berangkat ke India guna mempelajari penterjemahan naskah disana. Sentuhan nya dengan Islam berawal di sana. Aktivitas belajarnya kemudian membuatnya mempelajari segala sesuatu yang bahkan jauh lebih luas sampai kemudian mengenalkannya pada Islam. Dan menarik minatnya untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Hasilnya, ketika beliau kembali ke desa Mele di Vanuatu beliau sudah menjadi seorang muslim dan mengganti namanya menjadi Husein Nabanga. Sejak tahun 1978 Islam bermula tumbuh di desa Mele dan sekitarnya dan kemudian menyebar hingga ke berbagai pulau di Vanuatu.

Kepribadian Husein yg menarik ditambah dengan pembawaannya yang humoris serta penyampaiannya tentang Islam menggunakan cara yg sederhana memudahkan keluarga dan penduduk desanya buat memahami kepercayaan yg baru beliau bawa pergi dari India. Dan segera Islam diterima dengan baik dan berkembang di desanya. Ketika Husein Nabanga wafat pengikut dan keluarganya melanjutkan syiar Islam. Sebagian berdasarkan mereka pindah menurut Port Villa ke ke pulau Tanna & berbagi Islam disana. Bermula dari 50 Kepala famili di Desa Mele Islam berkembang pesat hingga menyentuh angka 1000 jiwa.

Di pada Masjid Mele ::: Dalam segala kesederhanaannya Muslim Vanuatu semuanya adalah mualaf yg hijrah ke dalam Islam berdasarkan agama & agama lama mereka. Mereka sangat butuh donasi menurut muslim pada bagian global lain termasuk donasi pengajaran cara ber Islam menggunakan benar.

Empat belas tahun sejak kepulangan Husein dari India atau di tahun 1992, masjid pertama di Vanuatu pun berdiri di desa Mele, di pinggiran kota Port Villa. Lahan dan bangunan masjid ini merupakan wakaf dari Mohammed Seddiq, salah satu Mualaf Vanuatu Muslim. Beliau sebelumnya merupakan pemeluk agama Kristen Pantekosta. Masjid kecil ini selain berfungi sebagai tempat ibadah tapi juga berfungsi sebagai madrasah bagi anak anak dan dewasa. Dan sekaligus menjadi rumah bagi Vanuatu Islamic Association.

Sebuah masjid yang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid yang biasa kita kenal. Bangunan masjid Mele yang merupakan masjid pertama di Vanuatu ini berupa sebuah bangunan rumah biasa tanpa kubah apalagi menara. Sebuah papan nama sederhana bertuliskan muslim Mosque dipasang atau lebih tepatnya di geletakkan di depan bangunan ini. sementara gerbang pagarnya diberi bentuk sperti kubah diatasnya, sangat sederhana. Namun inilah masjid pertama yang mengukir sejarah eksistensi Islam di Vanuatu.

Lantunan azan tanpa pengeras suara dalam dialeg setempat yang terdengar cadel melapalkan lafaz azan terdengar syahdu pada tengah kampung sederhana, Mele, dipinggiran kota Port Villa, Ibukota Republik Vanuatu.

Tak ada perangkat pengeras bunyi di masjid ini, lantaran ukurannya yg mini hanya sanggup menampung belasan jemaah di dalamnya, jika di Indonesia, hanya seukuran sebuah surau di tengah kampung. Sebagian berdasarkan jemaahnya terpaksa sholat pada luar masjid. Di pada masjid, kita pula nir akan menemukan mihrab yang biasa menghias sisi kiblat di dalam masjid. Mimbarnya dibuat sederhana berupa 3 undakan tangga, cukup buat memberikan loka lebih tinggi bagi khatib sholat Jum'at. Sebidang loka kecil di partisi menggunakan kain putih menjadi tempat buat jemaah wanita pada pada masjid.

Usia peradaban Islam di Vanuatu memang masih teramat muda ditambah dengan lokasinya yang begitu terpencil berakibat pada minimnya para da'i yang memberikan pengajaran Islam dan akibatnya minim pula pemahaman mereka terhadap agama Islam yang begitu mereka cintai. sebagaimana di akui oleh tokoh muslim setempat bahwa mereka sangat haus akan bimbingan untuk berislam secara kaffah. Beberapa muslim setempat bahkan dengan bangga menggunakan gamis dan sorban sebagai penanda bahwa mereka adalah muslim. Semua itu menjadi tanggung jawab muslim di bagian dunia lainnya termasuk di Indonesia.

Pintu utama masjid Melle (foto kiriman dari Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal di Vanuatu)..
Muslim Vanuatu mengajarkan kita sebuah pelajaran yang teramat berharga. Bahwa kemiskinan, keterpencilan, keterasingan dan segala keterbatasan dan kekurangan tak menghalangi mereka untuk menjadi warga dunia yang paling bahagia dan tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menemukan Islam.***

Muslim Indonesia pada Vanuatu

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata?Ala, Kris Triyantio, Adalah keliru satu muslim Indonesia yg baru saja menerima tugas dan sekarang tinggal di Vanuatu, beliau bekerja pada perusahaan yang bergerak dibidang IT. Melalui emailnya menyebutkan bahwa terdapat beberapa muslim Indonesia yg tinggal di Vanuatu lebih kurang lima-6 orang termasuk dirinya.

Jemaah antar bangsa pada Masjid Melle (foto kiriman menurut Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal pada Vanuatu).

Selain rakyat Indonesia jua ada muslim Pakistan, Fiji & negara lainnya yg turut membantu memakmurkan Masjid Melle ini. Dari beliau saat ini pengurus Masjid Melle sedang penekanan merapikan struktur organisasi dan dokumentasi keuangan. Dan beliau sendiri meski merupakan rakyat baru disana dianggap untuk sebagai penasihat bidang Teknologi pada Masjid Melle.

Dipenutup emailnya dia membicarakan bahwa ?Saudara saudara muslim kita pada Vanuatu masih perlu banyak bimbingan baik agama & lain sebagainya dan Marilah kita membantu muslim Vanuatu pada hal apa saja berdasarkan yg sederhana yaitu doa yang lapang dada :)?. (updated : Rabu, 27 Februari 2013)

Aktivitas pengajian pada Masjid Melle - vanuatu (foto kiriman menurut Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal pada Vanuatu).

Referensi

kavkazcenter.com  - Muslims in Vanuatu ( Interview With M. Kaloas)

id.wikipedia.org – islam di vanuatu

pupr.edu - Muslim Population in Oceania (pdf)

smh.com.au  - Heeding the call to prayer in a region that reveres the pig

isdb.org - IDB Scholarship Programme for Muslim Communities

Thursday, August 13, 2020

Islam Dan Masjid di Pulau Christmas

Lokasi Pulau Christmas berada sekitar 350 km pada sebelah selatan pulau Jawa.

Dimanakah Pulau Christmas

Pulau Christmas atau pulau Natal merupakan sebuah pulau kecil beriklim tropis pada Samudera Hindia yg adalah daerah territorial Australia. Lokasinya terpisah sekitar 2600 kilometer ke arah barat menurut tanggal pantai Kota Perth pada Australia Barat, dan 350 kilometer sebelah selatan pulau Jawa, Indonesia. Meski berjarak hingga 350 kilometer, pulau Jawa adalah tetangga terdekat pulau Christmas.

Luas keseluruhan pulau Christmas hanya sekitar 135 km2 sedikit lebih kecil dari pulau Weh (156,3 km²) di kota Sabang, provinsi Aceh. Sekitar 63% wilayah pulau Christmas merupakan taman nasional dengan beraneka ragam flora dan fauna-nya yang unik, beberapa bagian dari hutan tropis di pulau ini merupakan wilayah hutan purba dan belum terjamah, menjadikan sebagai rumah yang nyaman bagi berbagai flora dan fauna endemik. Salah fauna-nya yang menarik wisatawan adalah Red Crab atau Kepiting Merah dengan populasi mencapai sekitar 100 juta ekor hidup di lantai hutan pulau ini. Aktivitas petambangan phosphate di pulau ini sudah berjalan selama bertahun tahun dan sejauh ini belum ada laporan kerusakan lingkungan dari aktivitas pertambangan tersebut.

Flaying Fish Cove atau Stellement atau Kampong Melayu pada Pulau Christmas, menggunakan fasilitas pengapalan phosphate terlihat pada bagian yg menjorok ke tengah laut.

Pulau Christmas acapkali timbul di media internasional dalam keterkaitan-nya dengan para imigran & para pencari suaka berdasarkan Negara Negara yang sedang ternggelam dalam perseteruan berkepanjangan berakibat pulau ini sebagai pulau tujuan pada upaya mereka buat mencapai daratan Australia. Penanganan pihak berwenang Australia sering menjadi sorotan dunia internasional & sempat memicu kecamaman dan ketegangan dengan Indonesia.

Dengan penghuni permanen kurang lebih 1500 jiwa, pulau Christmas juga dikenal mempunyai penduduk yg unik yang adalah pembauran berdasarkan aneka macam etnis, terdiri berdasarkan Etnis China, Melayu & Eropa yang kebanyakan datang berdasarkan daratan Australia ke pulau terpencil tadi. Keragaman kultur dan kepercayaan dipulau ini ditandai dengan berdirinya majemuk tempat ibadah misalnya Gereja Kristen, Kuil Ummat Budha & Masjid bagi umat Islam. Mereka tinggal pada ujung utara pulau terdiri berdasarkan beberapa pemukiman penduduk yakni; Settlement atau Flying Fish Cove atau Kampong, Silver City, Poon Saan, dan Drumsite. Mayoritas penduduk pulau ini adalah etnis China Australia.

Asal Muasal Nama Christmas

Pulau Christmas pertama kali ditemukan oleh pelaut Inggris, Captain William Mynors dalam pelayarannya dengan kapal Royal Mary milik British East India Company melintasi pulau ini pada hari Natal tahun 1643 tepat 373 tahun lalu pada saat artikel ini diterbitkan. Karenanya beliau kemudian menamakan pulau yang baru ditemukannya tersebut dengan nama Pulau Christmas (pulau Natal).

Masjid di Kampong Melayu Pulau Christmas pada tanggal 15 Nopember 1938

Pulau ini sudah dimasukkan ke dalam peta navigasi pelaut Inggris dan Belanda di awal abad ke 17 sebelum tahun 1666, karena pada tahun tadi seorang kartografi Belanda bernama Pieter Goos menerbitkan sebuah peta dan memasukkan pulau tadi menggunakan nama pulau Mony, nama Mony sendiri tidak diketahui dengan pasti. Catatan kunjungan pertama ke pulau ini timbul dalam catatan Navigator Inggris William Dampier, yg lego jangkar pada dekat pulau ini di tahun 1688 dan menyatakan bahwa pulau tersebut adalah pulau kosong tidak berpenghuni. Damier berlabuh pada pantai barat pulau Christmas (kini lebih kurang di kurang lebih daerah Dales), 2 orang kru-nya diperintahkan buat turun dan memeriksa pulau itu menjadikan 2 orang tadi sebagai 2 orang yg pertama kali menginjakkan kakinya pada pulau Christmas.

Sejarah Singkat Pulau Christmas

Pulau Christmas di aneksasi oleh Kerajaan Inggris pada lepas 6 Juni 1888 sesudah Sir John Davis Murray menemukan kandungan phosphate murni pada pulau itu. Segera seteah itu sebuah pemukiman kecil terbentuk di Flying Fish Cove oleh G. Clunies Ross, Sang pemilik pulau Cocos (Keeling) yang berada sekitar 900 kilometer barat daya pulau Christmas dalam upaya nya untuk mendapatkan kayu & pasokan bagi pembangunan industry pada pulau Cocos.

Masjid At-Taqwa di Pulau Christmas ketika ini berdiri di tepian pantai pada tengah Kampung Melayu, rakyat muslim pulau Christmas.

Pertambangan Phosphate dimulai pada pulau Christmas tahun 1890 menggunakan menggunakan para pekerja paksa orang orang melayu berdasarkan pulau Singapura, Malaya & China, itu sebabnya sampai sekarang penduduk pulau Christmas pada penguasaan oleh etnis China & Melayu. Tidak ada penduduk asli atau pribumi pada pulau Christmast.

John Davis Murray yg kemudian dikirim menjadi pengawas pertambangan mewakili perusahaan Phosphate Mining and Shipping Company. Dikemudian hari Murray dikenal menjadi "King of Christmas Islanddanquot; atau Raja Pulau Christmas sampai tahun 1910, ketika beliau menikah & menetap pada London.

Masjid Pulau Christmas pada perangko Australia

Secara administrasi Pulau Christmas dikontrol beserta oleh British Phosphate Commissioners dan District Officers Kerajaan Inggris untuk wilayah Koloni yang berkedudukan pada Singapura. Sampai lalu dikendalikan sepenuhnya oleh Pemerintah Inggris di Singapura, sebagai bagian berdasarkan daerah administrasi kolonial Inggris Singapura.

Dimasa perang dunia ke-2 pulau Christmas senasib dengan Indonesia, sama sama jatuh ke tangan pasukan Jepang, pada bulan November 1943, lebih menurut 60% penduduk pulau Christmas pada evakuasi ke camp tahanan pada Surabaya (Indonesia) menyisakan penduduk pulau ini kurang menurut 500 orang China dan Melayu dan 15 orang Jepang. Pulau Christmas sempat sebagai sentra pengujian senjata nuklir oleh pemerintah Inggris diantara tahun 1956 & 1958 menjadi bagian menurut Operasi Grapple.

Satu loka dua nama

Pada tahun 1957, pulau Christmas diserahkan kepada Pemerintah Australia oleh Kerajaan Inggris dengan konpensasi sebanyak ?Dua.9 Juta Pundsterling diserahkan pemerintah Australia pada pemerintah Singapura berdasarkan perkiraan cadangan phosphate yg terdapat pada pulau itu. Dan sejak tahun 1997, Pemerintah Federal Australia menyatukan administrasi Pulau Christmas menggunakan Pulau Cocos (Keeling) ke dalam kesatuan Administrasi menggunakan nama Australian Indian Ocean Territories (Wilayah Teritorial Australia di Samudera Hindia) dikepalai oleh seseorang Administratur yang berkedudukan di Pulau Christmas.

Islam di Pulau Christmas

Berdasarkan data Biro pusat statistic Australia menurut sensus tahun 2001 populasi penduduk pulau Christmas adalah 1,508 jiwa dan diperkiraan tahun 2006, populasi pulau Christmas merupakan 1,493 jiwa, dengan komposisi etnis terdiri menurut 70% China, 20% Eropa, dan 10% Melayu. Jika merujuk kepada data CIA World Factbook, kepercayaan kepercayaan yg dianut penduduk pulau Christmas terdiri menurut Budha 36%, Kristen 18%, Islam 25% dan agama serta kepercayaan lainya 21%. Sedangkan Bahasa yg digunakan sang penduduk pulau ini terdiri menurut Bahasa Inggris sebagai Bahasa resmi, Bahasa China dan Bahasa Melayu.

Masjid Pulau Christmas, bangunan madrasah sedikit terlihat di belakang menara

Dari komposisi tersebut, islam adalah agama terbesar kedua pada pulau Christmas yang dianut oleh orang orang Melayu disana, selesainya penganut kepercayaan Budha yang secara umum dikuasai pada anut sang rakyat etni China. Mayoritas etnis melayu muslim di pulau Christmas tinggal di Flying Fish Cove atau Kampong Melayu atau umumnya hanya dianggap ?Kampong? Saja & kadang kadang pula dianggap menggunakan settlement.

Muslim di pulau Christmas ini merupakan keturunan dari para pekerja paksa berdasarkan Singapura & Malaya yg dibawa ke pulau ini oleh pemerintah colonial Inggris menjadi pekerja pada pertambangan phosphate. Selama beberapa generasi mereka mempertahankan ke-Islaman mereka sampai ke generasi ketika ini.

Masjid pada Pulau Christmas

Masjid At-Taqwa

Cove Kampong, Christmas Island, Western Australia, 6798,

Flying Fish Cove, Christmas Island 6798, CHRISTMAS ISLAND

Kampung Melayu atau Kampong tempat mereka menetap kini sudah tertata sebagai hunian yang nyaman lengkap dengan masjid sejejer dengan rumah rumah susun penduduk disana yang semuanya menghadap ke pantai.  Masjid At-Taqwa namanya, selain sebagai tempat peribadatan, masjid ini juga mengelola Madrasah bagi anak anak yang dimulai pukul 3:30 sampai pukul 5:00 sore setiap harinya. Kampong memiliki sebuah pelabuhan kecil yang menjadi tempat berlabuh kapal-kapal wisatawan. Pemandangannya sangat cantik dengan garis pantai yang elok dipandang mata.

Muslimin di kawasan Christmas Island diizinkan untuk menggelar budaya Islam tradisional, sebagaimana di Indonesia dan Malaysia dalam memperingati hari kematian, pengajian, khitanan, syukuran, maulidan dan perayaan lainnya yang didukung warga dalam kerukunan yang damai dalam hidup, bersanding dan bersama.  Di tengah beragamnya etnis di pulau migran, masyarakat Muslim di sana tetap hidup damai. Bahkan, pemerintah setempat menerapkan libur untuk hari besar tiap etnis dan umat beragama, termasuk dua hari raya besar umat Islam (Idul fitri dan Idul adha).***

Baca Juga

Masjid Sunshine ? Victoria, Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib, Lakemba - Australia

Masjid Auburn Galipoli Sidney

Islam dan Masjid pada Vanuatu

Wednesday, August 12, 2020

Islam Dan Masjid di Fiji

Sebuah masjid pada Fiji di abadikan pada salah satu seri perangko keberagaman negara tadi.

Muslim pada Fiji diperkirakan mencapai 7% berdasarkan total penduduk negara tersebut atau kira kira setara dengan 62,534 jiwa. Komunitas muslim disana terdiri berdasarkan muslim yang dari menurut India, keturunan dari para pekerja paksa menggunakan masa kontrak eksklusif yg dibawa ke pulau tadi di penghujung abad 19 masehi sang penguasa kolonial Inggris dalam masa itu, ditambah menggunakan mualaf pribumi salah satunya adalah tokoh politik disana bernama Apisai Tora.

Pendatang menurut India ini lalu dikenal menjadi masyarakat Indo-Fijian atau warga Fiji keturunan India. Mayoritas dari komunitas Indo-Fijian ini menganut agama Hindu dan diperkirakan sekitar 16% diantaranya merupakan muslim. Sekitar 59.7% Muslim Fiji bermazhab Hanafi yang bernaung dibawah Organisasi Liga Muslim Fiji, sebagian lagi kurang lebih 30% mengikuti mazhab Syafi?I, bernaung dibawah organisasi Maunatul Islam Association of Fiji, & sisanya nir mengikuti atau tidak dijelaskan menggunakan jelas mazhab yang diikutinya.

Perkembangan Islam pada Fiji cukup baik, dukungan negara terhadap komunitas muslim disana jua memberikan atmosfir yang baik bagi perkembangan Islam pada negara pulau di Samudera Pasific bagian selatan itu. Seiring menggunakan perkembangan Islam disana sempat mengakibatkan kekhawatiran berlebihan dari negara tetangganya, Samoa Amerika. Di tahun 2002 Fiji sebagai keliru satu berdasarkan 25 negara yg rakyat negaranya dilarang masuk ke daerah Samoa Amerika. Kebijakan yang mengundang protes keras berdasarkan pemerintah Fiji, & pada tahun 2003, Fiji telah dicoret menurut daftar embargo tersebut.

Sejarah Muslim Fiji

Seperti disebutkan di awal tadi, muslim Fiji pada mulanya merupakan para pekerja paksa yang di datangkan sang pemerintah kolonial Inggris ke pulau tadi buat bekerja dengan ikatan kontrak selama 5 tahun pada perkebunan perkebunan tebu disana. Kelompok muslim pertama yang datang pada Fiji merupakan bagian menurut rombongan pekerja paksa yang dibawa kapal Leonidas tahun 1879, diperkirakan setidaknya terdapat 22% seluruh penumpang kapal tersebut adalah muslim.

Diantara tahun 1879 sampai tahun 1916 tercatat 60.553 jiwa telah dibawa ke Fiji menurut India dengan buat dipekerjakan disana. Mereka diberangkatkan dari pelabuhan Kalkuta, 6.557 jiwa diantaranya adalah pekerja muslim. Diantaranya merupakan 1.091 jiwa muslim tiba menurut Madras & 1.450 jiwa dari daerah provinsi di utara, Baluchistan-Afghanistan & daerah Punjab.

Kehidupan S emasa K erja P aksa

Sementara saat, dengan kehilangan sistem kasta, pekerja yang beragama Hindu tidak memiliki satu institusi atau sistem yg mengikat mereka dalam satu kebersamaan, sedangkan ajaran Islam agak mensugesti kehidupan meskipun sedikit hingga ke tempat pedalaman, kendatipun komunitas mereka dalam awalnya cukup memprihatinkan lantaran ketiadaan masjid dan tanpa pemuka agama.

Masjid Jami' Toorak yg menjadi tempat bersejarah, dimasjid ini Liga Muslim Fiji pertama kali dibuat.

Komunitas muslim bisa menjaga ritual agama mereka, pelaksaaan ibadah & hari besar Islam tetapi dibawah realitas tekanan hebat sistem kerja paksa, mereka sangat sulit buat sekedar melaksanakan sholat lima ketika & melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadahan dampak perbudakan semasa sistem kerja paksa yang mengikat mereka.

C.F. Andrews dalam salah satu laporannya sehabis kunjungan ke Fiji mencatat, bahwa kemerosotan beragama pada kalangan penganut Islam nir lah separah di kalangan umat hindu, & pada kunjungan keduanya dia mencatat bahwa muslim Fiji bisa mempertahankan sistem sosial & kehidupan keagamaan mereka.

Muslim di Fiji memainkan kiprah krusial pada aksi protes menentang sistem kerja paksa. Di tahun 1907 sekelompok Indo-Fijian melakukan unjuk rasa pada Labasa selesainya dipaksa buat bekerja pada perkebunan tebu, padahal pada waktu perekrutan mereka dijanjikan akan dipekerjakan menjadi polisi, sebagian besar dari para pengunjuk rasa tadi merupakan muslim Pasthun dari Afgan dan Punjab, India.

Masjid Pertama pada Fiji

Dari & sesudah tahun 1884, para pekerja paksa di Fiji telah menyelesaikan masa kontrak kerja lima tahun mereka, Muslim disana mulai membentuk kehidupan mereka menjadi orang merdeka di aneka macam lini kehidupan di Fiji. Meski jumlah mereka sedikit kadangkala pula terisolir namun memperlihatkan harapan saling bersilaturrahmi dan berafiliasi diantara sesame muslim dalam kehidupan social & keagamaan.

Kelompok muslim ini adalah kelompok generasi pertama berdasarkan para pekerja paksa menurut India, rata rata menurut mereka memiliki kemampuan baca tulis yg baik termasuk kemampuan membaca kitab kudus Al-Qur?An sehingga tak terlalu sulit buat membangun struktur mayarakatnya sendiri termasuk dalam kepemimpinan aplikasi sholat, pedagogi dan sebagainya. Sholat berjamaah masih dilaksanakan pada tempat tinggal lantaran belum adanya masjid, tetapi semangat itu telah sangat membantu mengokohkan identitas ke-Islaman mereka dan menampakan ukhuwah yg kuat.

Di tahun 1898 Mulla Mirza Khan tiba pada Fiji menurut India sebagai imigran dan membantu penguatan da?Wah Islam pada Fiji lantaran keterlibatannya secara aktif dalam global pendidikan & keagamaan. Dua tahun sesudah itu atau pada tahun 1900 sebuah masjid pertama dibangun pada Navua pada atas lahan yang disediakan sang Perusahaan Gula Fiji kemudian menyusul pembangunan Masjid Kecil & Sekolah pada Nausori di atas huma yg disediakan sang Perusahaan Refineri Gula Kolonial, dan sebuah Masjid lainnya dibangun pada Labasa tahun 1902. Di tahun 1908 terdapat sekitar 4000 muslim di Fiji & sepertiga dari mereka waktu itu masih berstatus sebagai para pekerja paksa.

Organisasi Islam di Fiji

Di tahun 1915 organisasi muslim pertama pada Fiji dibentuk pada Nausori dengan nama the Anjuman Hidayat-e-Islam, ditahun yg sama the Anjuman Hidayat ul-Islam mengeluarkan petisi pada pemerintah setempat buat mengakui pernikahan yg dilaksanakan secara Islam & meminta mengangkat seseorang Kadi (semacam penghulu pernikahan) buat wilayah Suva.

Masjid Noor ketika senja tiba

Setahun kemudian, pada tahun 1916 organisasi Islam Anjunan Isha Ithul Islam terbentuk di Lautoka, pada upaya muslim pada Lautoka buat membentuk masjid disana. Suva yg adalah Ibukota pemerintahan Fiji, kala itu belum memiliki masjid ataupun sekolah bagi sekitar 70 muslim disana, tetapi jumlah mereka mengali peningkatan pesat pada tahun 1919, lalu dibuat organisasi Anjuman-e-Islam bagi muslim yg tinggal disana. Pada rendezvous para pengurus organisasi Islam pada Masjid Jami di Toorak, disepaki pembentukan Liga Muslim Fiji (The Fiji Muslim League) pada lepas 31 Oktober 1926.

Di tahun 1942 organisasi Islam bernama Maunatul Islam Association of Fiji dibentuk buat mewadahi kaum muslimin yang bermazhab Syafi?E yg terdiri menurut sekitar 30% menurut holistik muslim di Fiji. Organisasi ini bergerak menggunakan nama "The India Maunatul Islam Association of Fiji?. Muslim bermazhab Syafi?I ini merupakan kaum muslimin keturunan dari para pekerja paksa muslim menurut Malayalam yang di datangkan ke Fiji berdasarkan Kerala antara tahun 1903 sampai 1916.

Peran Muslim Fiji di Dunia Pendidikan, Sosial & Politik

Muslim di Fiji terlibat aktif di global pendidikan dengan mendirikan sekolah sekolah Islam. Sekolah Islam tertua pada Fiji dikenal dengan nama Suva Muslim Primary School (Sekolah Dasar Islam Suva) didiirikan tahun 1926 sang Liga Muslim Fiji yg sekarang telah mempunyai & mengelola 17 Sekolah Dasar Islam & lima Sekolah Menengah pertama Islam diseluruh Fiji ditambah menggunakan satu institut dengan nama the Islamic Institute of the South Pacific.

Sekolah sekolah tersebut tidak hanya menerima murid berdasarkan kalangan muslim tetapi jua mendapat murida siswa dari pemeluk agama lain yg berminat buat sekolah disana. Disamping itu dengan di topang asal pendanaan yang bertenaga dari para pendiri dan berdasarkan Bank Pembangunan Islam (IDB) sekolah sekolah tadi pula memberikan donasi bea murid ataupun dana pinjaman pendidikan pada para muridnya yg kurang sanggup. Termasuk membantu pendidikan mereka sampai ke luar negeri.

Masjid Lautoka

Organisasi organisasi muslim pada Fiji juga terlibat aktif dalam kegiatan sosial bagi bagi para anggotanya juga secara umum baik berskala nasional juga lokal, termasuk terlibat aktif dalam penanganan bencana alam yang sempat menghantam negara pulau tadi. Organisasi Islam di Fiji berperan secara aktif melakukan tindakan tanggap bencana termasuk membuka masjid masjid yang selamat menurut bala menjadi loka perlindungan sementara bagi para pengungsi.

Sejak tahun 1929 Liga Muslim Fiji sudah berusaha buat menerima pemisahan perwakilan spesifik bagi muslim pada kursi dewan legislatif negara dan dari tahun 1970 berupaya buat menempatkan perwakilannya di parlemen. Kecuali antara tahun 1932-1937, muslim Fiji sudah terwakili menggunakan pada Parlemen Fiji. Dari tahun 1937 ? 1963 setidaknya satu perwakilan muslim selalu masuk nomisasi buat duduk di Dewan Legislatif menurut 5 perwakilan Indo-Fijian. Sehingga dengan sendirinya muslim mewakili 20% dari anggota Indo-Fujian di Dewan legislatif menggunakan kisaran 15% populasi muslim pada pada grup rakyat Indo-Fijian (masyarakat Fiji Keturunan India).

Muhammad Sidiq Koya sebagai muslim pertama yg terpilih buat pertama kali duduk pada dewan perwakilan di tahun 1963 sebagai akibatnya untuk pertama kalinya jua muslim Fiji menempatkan 2 perwakilannya di Dewan Legislatif dari enam kursi yang sediakan bagi masyarakat Indo-Fijian. Satu perwakilan muslim lainnya adalah C.A. Shah yang menduduki posisinya menurut proses nominasi. Pada pemilu tahun 1966 berdasarkan 12 anggota legislatif mewakili Indo-Fijian merupakan muslim. Mereka merupakan Sidiq Koya, C.A. Shah, dan Mohammed Towahir Khan menurut Partai Federasi (Federation Party) dan Abdul Lateef menurut Partai Aliansi (Alliance Party).***

------------------------

Baca Juga

Masjid Auburn Gallipoli Sidney, Australia

Masjid Sunshine ? Victoria, Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib, Lakemba, Australia

Islam dan Masjid di Vanuatu

Masjid Sentral Adelaide Australia

Empat menara antik dari Bata menjadi salah satu ciri khas masjid tertua dan masih berfungsi sampai hari ini di kota Adelaide, Australia.

Adelaide merupakan ibukota bagi wilayah selatan Australia, didirikan tahun 1830 disepanjang sisi sungai Torrens, mulanya pada diami oleh pemukim bebas, kini penduduk Adelaide mencapai 1.28 juta jiwa menjadikannya sebagai kota terbesar ke lima pada Australia. Adelaide adalah kota pantai yg latif. Pantai merupakan loka hang-out paling paforit bagi penduduk kota ini.

Islam Telah hadir pada Australia dan Adelaide dari tahun 1860-an, di mulai dengan masuknya muslim imigran menurut Afganistan yang masuk ke Australia menjadi penunggang Onta yang digunakan menjadi moda transportasi untuk mendukung kegiatan pertambangan di daerah gurun Australia. Mereka yang kemudian membangun masjid pertama pada Adelaide yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Sentral Adelaide atau Central Mosque Adelaide, dikelola sang islamic Sociaty of South Australia.

Masjid Sentral Adelaide atau The Central Adelaide Mosque dibangun tahun 1888, dan merupakan masjid tertua di Australia yang berada di kota besar. Bangunan masjid nya dilengkapi dengan empat menara yang dibangun tahun 1903. Umat islam yang berasal dari berbagai tempat yang cukup jauh termasuk dari Broken Hill danKalgoorlie berkumpul di masjid ini terutama selama bulan suci Romadhan. Di tahun 1890 dilaporkan jemaah masjid ini terdiri dari 80 muslim Afgan yang meramaikan masjid ini selama bulan suci Romadhan dan hari raya Idul fitri.

Adelaide C entral Mosque

Little Gilbert Street, Adelaide

Australia

Masjid Sentral Adelaide ini seringkali disebut pula menggunakan nama Masjid Afgan atau Afghan Chapel, karena memang dibangun sang para muslim imigran menurut Afganistan yang kala itu tinggal pada bagian barat daya kota Adelaide. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana 150 pound yg ditanggung oleh muslim penunggang onta setempat & dibantu sang beberapa sponsor berdasarkan kota Melbourne sebagaimana dilaporkan oleh surat liputan yg terbit saat itu. Para penunggang Onta pertama kali tiba di Austalia dalam tahun 1860 mereka menyediakan jasa transportasi di wilayah gurun pada sentral Australia.

Di abad ke 19 tepatnya tahun 1865 ratusan Onta pada datangkan ke Adelaide buat digunakan menjadi moda transportasi di wilayah gurun Australia. Turut didatangkan juga para penunggang onta menurut Afgan ke Adelaide. Para penunggang Onta ini seluruhnya beragama Islam dan lalu mendirikan masjid disana sebagai tempat peribadatan.

Masjid Adelaide  pada saat dalam proses restorasi dengan satu menaranya yang masih belum selesai.

Sebuah harian surat keterangan yg terbit di bulan April 1930 pada keliru satu tajuk utamanya yang berjudul ?Mohammedan Mosque Brings the East to the Westdanquot; (Masjid Pengikut Muhammad menjembatani timur & barat) menyampaikan:

?Perang telah memberikan perbedaan akbar kepada masjid Adelaide, dalam ketika dimana masyarakat umum merasa sangat nir nyaman menggunakan kehadiran orang asing sebagai akibatnya masjid tersebut lalu pada tutup selama beberapa tahun. Pada saat masjid tersebut dibuka pulang para jemaah pulang kesana walau buat pulang lagi. Hal tadi adalah kewajiban pada agama mereka tiba ke masjid & melakukan peribatan sebagaimana diajarkan oleh agama?

“Sebagian besar dari mereka adalah para lelaki renta dengan jenggot panjang yang sudah memutih, dengan tatapan mata lelah menatap kehidupan. Dan pada hari dimana mereka tidak mampu lagi untuk pergi ke mekah yang begitu mereka dambakan, sedangkan bangunan nya  akan ditinggalkan sepi dengan para hantunya, dengan kenangannya . . .”

Interior Masjid Adelaide

Meskipun sebegitu muramnya prediksi surat informasi tadi terhadap masjid ini dan para jemaahnya saat itu, nyatanya Masjid Sentral Adelaide masih bertahan & eksis sampai sekarang, dan kini begitu poly anak anak muda yang melintasi pintu masjid ini, tidak hanya pria laki-laki berjenggot ubanan seperti ramalan surat berita itu.

Pria laki-laki tua berjenggot ubanan yang mereka gambarkan dalam surat berita itu sekarang memang sudah wafat & dimakamkan pada pemakaman the West Terrace Cemetery. Tetapi jangan pernah lupa pada kerja keras menurut para imigran muslim generasi awal tadi, mereka yang menciptakan masjid ini melaksanakan sholat pada masjid ini, bertahan dengan identitas ke-Islaman mereka meski terpisah teramat jauh dari kampung page loka mereka dari.

Kehidupan muslim Afgan pada era awal pada Australia menjadi penunggang Onta tidaklah mudah. Kehidupan keras yg diwarnai dengan tindakan rasisme karena agama Islam yg mereka anut, lantaran warna kulit dan penampilan mereka serta lantaran persaingan dengan penyedia jasa transportasi lainnya. Sekedar salut tidaklah relatif buat menghormati keteguhan mereka memegang teguh ajaran agama yang mereka anut, bahkan mampu mewariskan sebuah bangunan sejarah yg tidak saja sangat berharga bagi muslim saja tapi pula bagi Australia.

Hasil pemugaran dan restorasi sang pemerintah Australia telah memulihkan syarat masjid ini bahkan tampak lebih kokoh & lebih apik.

Arsitektural Masjid Central Adelaide

Ukuran masjid ini tidak terlalu besar apalagi apabila dibandingkan menggunakan masjid masjid utama di negara negara Islam misalnya pada Indonesia, malaysia atau Turki. Denah bangunan utamanya persegi panjang membujur ke garis kiblat. Dindingnya memakai batu batu alam & batu bata, sedangkan dinding bagian pada seluruhnya pada tutup dengan kayu. Di bagian dalam bangunan ini terkesan sangat sederhana atau bahkan mirip pada ruangan sebuah cabin atau bangunan pondok peristirahatan di tengah hutan pinus yg terbuat menurut kayu. Bahan kayu yang dipakai pada dalam masjid ini memang menaruh kesan hangat tersendiri.

Ruangannya sepi berdasarkan berbagai ornamen, tetapi lengkap menggunakan mihrab mini berupa ceruk mini , sedangkan mimbarnya diletakkan pada pokok ruangan & seluruhnya tebuat menurut kayu. Jendela ventilasi kaca di buat tinggi dengan lengkungan di atasnya. Bagian flafon nya pun menggunakan kayu yg nir pada cat permukaannya melainkan di lapis menggunakan lapisan pernis buat menjaga ketahanan kayu namun permanen menonjolkan warna alaminya.

Bangunan nya pada buat berlantai 2, bagian lantai 2 hanya berukuran separuh berdasarkan ukuran lantai dasarnya karena memang hanya menutup separuh menurut ruang di lantai dasar. Empat menara masjid ini terbuat menurut bata, dua diantaranya sempat runtuh lantaran termakan usia namun sekarang telah dipulihkan kembali sehabis proses restorasi. Empat menara ini lebih menjadi bangunan pelengkap, sebagai penanda karena sama sekali tidak difungsikan sebagai menara untuk menyuarakan azan, dan memang nir terdapat ruang buat itu.

Rekaman sejarah Masjid Adelaide

Restorasi oleh Pemerintah Australia

Di tahun 2010 Pemerintah Australia mengucurkan dana buat melakukan pemugaran menyeluruh terhadap bangunan Masjid Sentral Adelaide. Perbaikan dimaksud termasuk proyek restorasi terhadap 2 menaranya yang sudah runtuh dan mengembalikannnya pada bentuk semula, sehingga masjid ini pulang ke bentuk aslinya lengkap menggunakan empat bangunan menaranya. Menara sebelah barat laut masjid ini sudah runtuh sebagian sedangkan menara disebelah Timur Laut nya telah runtuh keseluruhannya, menyisakan hanya dua menaranya saja yang masih utuh.

Proses restorasi dua bangunan menaranya menggunakan bahan asli menurut bangunan menara sebelumnya yg salah satunya memang sengaja diruntuhkan demi keamanan jemaah lantaran telah lapuk dan terancam runtuh sendiri. Dua menara menar tersebut lalu di bangun ulang sinkron bentuk aslinya & diperkuat dengan beton bertulang. Restorasi juga memulihkan seluruh bagian bangunan termasuk area sekitarnya & pagar keliling & gerbang masjid.

Susunan batu alam yang sebagai dinding masjid ini menampilkan pemandangan alamiah dengan keindahannya yang spesial .

Program tersebut seluruhnya pada danai sang Skema pendanaan dari Dewan Kota Adelaide sebesar $329,000 Dolar Australia. Masjid Sentral Adelaide telah menjadi keliru satu cagar budaya di Adelaide sebagai akibatnya pemerintah setempat turun tangan untuk melestarikannya. Hingga kini masjid ini masih menjalankan manfaatnya, menjadi sentra peribadatan bagi muslim disana. Masjid Sentral Adelaide tidak saja adalah masjid tertua pada Adelaide akan tetapi juga adalah masjid tertua pada Australia yg dibangun di kota besar .

Setelah dilakukan restorasi & pemugaran menyeluruh, kini masjid Sentral Adelaide pulang ke bentuk megahnya semula dengan empat menara di ke empat sudut masjid nya. Perbaikan tadi jua memulihkan syarat struktur masjid baik ekterior maupun interiornya. Masjid Sentral Adelaide adalah salah satu bangunan krusial pada Adelaide menggunakan nilai sejarah yang melekat padanya, nir saja menjadi pusat peribadatan bagi muslim disana tapi jua menjadi keliru satu tujuan wisata pada kota itu.

Di Australia tercatat terdapat lebih menurut 340 ribu muslim yg tinggal disana atau setara dengan lebih dari 1.7% dari total 20 juta penduduknya. Islam sudah hadir pada Australia lebih dari 200 tahun lamanya dan telah sebagai agama terbesar ke 2 pada Australia sehabis Agama Kristen.***

-----------------------------------

Referensi

http://www.aussiemuslims.com/forums/showthread.php?24472-Aussie-Oldest-Mosque-Gets-Facelift&s=0c086319e47b95d32d037ba6748c589a

http://www.yelp.com.au/biz/adelaide-city-mosque-adelaide

http://www.weekendnotes.com/adelaide-city-afghan-mosque/

http://en.wikipedia.org/wiki/Central_Adelaide_Mosque

http://www.cityofadelaide.com.au/sights/adelaide-mosque

http://www.environment.gov.au/heritage/programs/jobs-fund/case-studies/adelaide-mosque/index.html

http://hisyam.wordpress.com/2005/09/13/adelaide-city-mosque/

Baca Juga

Masjid Auburn Gallipoli Sidney, Australia

Masjid Sunshine – Victoria, Australia

Masjid Imam Ali Bin Abi Thalib, Lakemba, Australia

Islam dan Masjid di Vanuatu

Saturday, July 11, 2020

Masjid Sunshine – Victoria, Australia

Foto dari WilliamBullimore di Flickr

Sunshine, bila di Indonesiakan menjadi kilauan mentari, adalah nama sebuah tempat di Victoria, Australia, negeri tetangga kita di sebelah selatan. Nama tempat itu yang kemudian lengket dengan nama masjid ini. Masjid yang dibangun dan dikelola oleh komunitas muslim keturunan Siprus Turki di Australia.

Resminya masjid ini bernama Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria. Cyprus Turkish atau Turkish Cypriot merupakan sebutan untuk orang orang Siprus ber-etnis Turki. Siprus sendiri memang hingga kini merupakan negara pulau di laut mediterania yang terbelah menjadi dua, paska invasi Turki ke pulau tersebut di tahun 1978. The Republic of Cyprus di bagian selatan dikuasai oleh warga Siprus keturunan Yunani, sedangkan Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC) di bagian utara merupakan warga Siprus keturunan Turki.

photos bySerkan007 di Panoramio

Muslim Siprus keturuanan Turki inilah yang kemudian hijrah ke Australia. Dan kini sudah menjadi bagian dari warga negara Australia tanpa kehilangan identitas ke Islaman dan Siprus Turki mereka. Dan itu pula sebabnya masjid ini benar benar merepresentasikan nuansa Turki yang sangat kental. Menghadirkan bangunan Turki di Australia.

Alamat dan Lokasi Masjid Sunshine

Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria

618 Ballarat Road

Sunshine

Victoria Australia 3020

Telephone: +61 03 9363 8245

Situs resmi : http://sunshinemosque.com.au/index.php

FB Account : Sunshine-mosque

View Larger Map

Sejarah Masjid Sunshine

Tahun 1956 Komunitas Siprus Turki di Australia membeli sebuah gedung di 588 Rathdowne street, Carlton, dan membentuk Asosiasi Turki Siprus. Gedung tersebut digunakan sebagai aula serbaguna, untuk segala macam kegiatan sosial dan pertemuan termasuk sholat berjamaah di perayaan Bayram juga diselenggarakan di tempat ini, karena gedung itu merupakan satu satunya yang dimiliki oleh muslim Siprus Turki ketika itu.

Komunitas Siprus Turki di Australia atau Cyprus Turkish Islamic Community of Victoria, dalam perkembangan nya memiliki akar sejarah di Richmond, Clifton Hill, dan kemudian direlokasi ke Ballarat Road, kawasan Sunshine tahun 1985. Bangunan yang berupa masjid ini yang kemudian terkenal dengan nama “Sunshine Mosque” atau Masjid Sunshine, merupakan masjid terbesar di Negara bagian Victoria, Australia.

Sebuah foto lama. Muslim Siprus Turki diantara muslim lainnya

di masjid Sunshine. tampak jelas ada beberapa Muslim dalam

pakaian dan peci khas Nusantara.

Tidaklah mudah bagi Masjid Sunshine untuk mendapatkan statusnya di negara bagian Victoria. Membutuhkan segala daya upaya dan keteguhan serta bantuan finansial yang tidak sedikit dari komunitas lokal. Keseluruhan proyek itu di tangani oleh Almarhum Hasan Dellal, yang sudah meluangkan waktu untuk mengkoordinir jalannya proyek dimaksud.

Era Rathdowne street

Muslim dari berbagai bangsa kemudian memadati gedung di Rathdowne Street untuk melaksanakan ibadah sholat. Jemaah berdatangan ke Rathdowne street sebagaimana bangunan kecil yang terpisah beberapa ruas jalan dari sana juga digunakan sebagai tempat ibadah. Individu individu yang yang memiliki pengetahuan Islam menuju ke rathdowne street ini untuk menunaikan ibadah sholat. Kala itu masih belum ada imam yang memiliki latar belakang pendidikan agama secara khusus.

Tahun demi tahun berlalu komunitas muslim meningkat dan Rathdown street tidak lagi mampu mengakomodir para jemaah. Kemudian keluar gagasan untuk memusatkan kegiatan peribadatan di sebuah bangunan masjid yang cukup besar untuk menampung jemaah yang semakin meningkat sudah menjadi konsensus bersama diantara para jemaah.

Interior Masjdi Sunshine

Beberapa jamaah berkeyakinan dan menganggap penting untuk mendukung pembentukan administrasi di Masjid Preston yang digunakan oleh berbagai muslimin dari berbagai kalangan, sementara jemaah lainnya berpendapat mereka memiliki kapasitas yang sangat terbatas untuk berkontribusi ke organisasi lain nya dan pada ahirnya memilih bertahan di Rathdowne street.

Peran Hasan Dellal

Masjid Preston adalah satu dari tempat ibadah resmi bagi komunitas muslim, dan di kelola oleh muslimin dari berbagai bangsa. Termasuk dari muslim Siprus Turki. Tahun 1962 terbentuklah Fedrasi Masyarakat Muslim Australia (Astralian Federation of Islamic Sociaties-AFIS) yang menghimpun semua organisasi komunitas Muslim dari berbagai kalangan di Australia yang semakin berkembang.

Ornamen Mihrab yang menawan

Kesempatan tersebut menjadi hal yang penting bagi komunitas muslim Siprus Turki karena Ibrahim Dellal menjadi salah satu pendiri federasi tersebut. Ibrahim merangkap jabatan dan tanggung jawabnya sebagai orang Siprus Turki beliau bekerja keras di AFIS dan Masjid Preston yang keduanya merupakan representasi muslim dari berbagai bangsa.

Ibrahim terlibat dalam kepengurusan Masjid Preston bersama dua saudaranya Hasan dan Ahmet, menjadi faktor kunci dalam perkembangan kehadiran Muslim Siprus Turki disana. Penghargaan kepada segala upaya mereka terkait dengan kerja keras mereka dalam komunitas memberikan perkembangan yang baik. Partisipasi Muslim Siprus Turki yang turut serta dalam sholat berjamaah di masjid tersebut dan melibatkan diri dalam aktivitas sosial termasuk program penggalangan dana.

Mimbar dan Mihrab

Perpindahan dari Ratdowne street ke Masjid Preston dengan sendirinya memberikan pengalaman kepemimpinan dan kemampuan administrasi yang menjadi bekal berharga mereka dikemudian hari ketika membantu mendirikan dan menjalankan Masjid Sunshine.

Pembangunan Masjid Sunshine

Tahun 1985 komunitas Siprus Turki menemukan lahan kosong di kawasan industri ringan di daerah Ballarat Road, daerah Sunshine dan sepertinya cocok sebagai tempat mendirikan masjid.

Tiga anggota komite masing masing Hasan Dellal, Salih Huseyin dan Huseyin Deniz menggadaikan rumah mereka ke bank sekaligus menjadi penjamin pinjaman untuk pembelian lahan masjid tersebut seharga $191 ribu dolar.

Hasan Dellal kemudian menjadi presiden, Manajer sekaligus juru bicara dari Masyarakat Islam Siprus Turki sejak awal pembangunan masjid Sunshine ketika masih berupa lahan kosong penuh rumput liar. Dengan bantuan dari komite Hasan berikrar untuk bekerja semata mata lillahita’ala. Beliau telah mempersembahkan hidupnya untuk mengabdi bagi komunitas muslim untuk menyelesaikan pembangunan masjid setelah beliau memasuki masa pensiun. Di tahun  pertama setelah membeli lahan tersebut masjid dan rumah kediaman bagi imam pun dibangun menghabiskan dana sekitar $130 ribu dolat. Biaya untuk membangun rumah imam dapat ditekan karena kontraktor yang membangun masjid bekerja bersama masyarakat muslim dengan sukarela sampai pembangunan nya selesai.

Ruang Sholat Utama Masjid Sunshine

Setelah melunasi pinjaman di bank dari dana donasi, lahan tersebut diserahterimakan ke Masyarakat Islam Siprus Turki di tahun 1990. dan mendapatkan statusnya sebagai badan hukum di tanggal 9 Oktober tahun yang sama.

Pembangunan masjid tersebut dimulai tahun 1992 dirancang oleh arsitek Turki Turkan dan Yilmaz Gursoy. Komunitas Siprus Turki berkeinginan menghadirkan membangun sebuah masjid dengan design jaman ke emasan Turki Usmani di Australia. Mengingat nenek moyang mereka yang ada yang berasal dari Asia, Afrika dan Eropa. Masjid tersebut merupakan cerminan dari Masjid Biru di Istanbul, Turki, dalam ukuran yang lebih kecil, namun menjadi salah satu masjid terbesar di Australia. Namun demikian masjid yang kini berdiri tidaklah sama dengan rencana awalnya.

Saat ini masjid Sunshine memiliki 17 kubah dan berlantai dua. Dilengkapi dengan satu menara, plaza tengah dengan tempat penyelenggaraan jenazah serta lahan parkir. Merki belum selesai 100% masjid ini merepresentasikan pencapaian dan berkah bagi keseluruhan komunitas Ausitralia dari Komunitas Cyprus Turki. Bagi kaum muslimin bangunan ini menjadi tempat beribadah dan bagi non muslim dapat mengagumi dan menikmati keindahan masjid ini tatkala melintas di jalan lingkar menuju ke pusat kota Melbourne.

Open day tahun 2007 d masjid Sunshine

Imam Masjid

Masjid Sunshine menjalankan tugas tidak saja sebagai tempat ibadah.  Imam masjid ini di datangkan langsung dari Turki dan ditangani serta di danai oleh lembaga Diyanet yang bertanggung jawab penuh bagi biaya perjalanan, gaji untuk imam dalam kontrak kerja selama 3 tahunan hingga ongkos kembali nya imam ke Turki bersama keluarganya. Imam yang bekerja di Masjid Sunshine ini adalah para sarjana Islam lulusan dari universitar universitar terkemuka yang diakui oleh pemerintah Turki.

Masjid yang membuka diri

Dalam upaya memperkenalkan Islam, mempererat relasi dengan pemeluk agama lain serta menurunkan tensi Islamphobia sebagai akibat kesalahfahaman tentang Islam, Masjid Sunshine ini membuka diri untuk kunjungan dari pihak manapun termasuk dari kalangan non muslim. Kunjungan dari manapun difasilitasi dengan baik oleh pengurus masjid. Interfaith dialog bukan hal aneh di masjid ini, dalam usaha mereka menjalin kerukunan sesama pemeluk agama di sana.

Video Masjid Sunshine

Maaf, belum ada video masjid ini di Youtube.

Foto foto masjid Sunshine

Semua foto di ambil dari situs resmi masjid Sunshine, kecuali disebut terpisah.

Jemaah sholat berjamaah di masjid Sunshine
Mozaik kaca jendela
Kubah masjid dari atas menara
Teras Masjid
Sisi lain Masjid Sunshine

Referensi

Situs resmi masjid Sunshine  - www.sunshinemosque.com.au

Klik disini untuk membaca buku sejarah masjid ini secara online (in English)

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done