Islami Pedia: Masjid di Jawa Barat
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Jawa Barat. Show all posts

Saturday, October 24, 2020

Masjid Pusat Studi dan Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat (Bagian-2)

Sisi depan Masjid PUSDAI pada Bandung - Jawa Barat

Fasilitas Dan Sarana Pendukung PUSDAI

Fitur utama komplek PUSDAI ini adalah bangunan Masjid yang biasa disebut dengan nama Masjid PUSDAI berkapasitas 4.600 orang dan dilengkapi dengan fasiltas pendukung berupa  Ruang Seminar Besar (Ruang Cendekia C) berkapasitas 100 orang, Ruang Seminar Kecil (Ruang Cendekia D) berkapasitas 40 orang, Gedung  Bale  Asri (Gedung Serba Guna) berkapasitas 2.000 orang untuk acara pertemuan, seminar, resepsi, pameran, dan sebagainya, Ruang Pameran Mushaf Sundawi, Ruang Perkantoran, Tempat Wudhu Pria dan Wanita, Perpustakaan dan Lembaga Bahasa, Kantin, Wartel, dan Café, Area Parkir, Ruang Multimedia, Ruang Lumbung Zakat Pusdai dan Ruang Galeri Pusdai.

Sumber dana Pembangunan

Pembangunan seluruh bangunan kompleks Pusdai Jawa Barat itu telah menghabiskan biaya sebesar Rp 27 Milliar. Sebagian besar sumber dana diperoleh dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat, dimulai dari tahun anggaran 1991-1992  sampai  dengan  tahun  anggaran 1997/1998. Dan menghabiskan biaya sekitar Rp 49 Milliar.

Aireal View Masjid Pusdai Bandung - Jawa Barat

Kiblat & Uswah Dakwah Islam

Pembangunan Pusdai di kota Bandung ini dilatarbelakangi impian buat menjadikannya sebagai kiblat & uswah (teladan) dakwah Islam yg mengemban 2 fungsi utama yakni menjadi wahana pengembangan dan penyebaran Islam serta kebudayaan Islam di Jawa Barat dan menjadi pusat penggodokan sumber daya insan umat Islam yang berdaya cipta & berdaya pembaharuan yang beriman, bertakwa, serta berilmu pengetahuan.

Disamping dua fungsi utama tersebut, Purdai juga memegang lima fungsi lainnya yang begitu penting yaitu sebagai mediator silaturahim antar umat  dengan ulama, umat  dengan umaro, ulama dengan ulama, ulama dengan umaro, dan umat dengan masyarakat umum. Sebagai fasilitator yang menyediakan fasilitas dan berbagai aktivitas umat dalam merealisasikan sebagian progamnya. Sebagai Inovator terdepan dalam pengembangan pemikiran dan aktualisasi ajaran Islam. Sebagai koordinator yang mengkoordinir aktivitas lembaga umat Islam Jawa Barat. Dan mengemban fungsi dinamisator, sebagai salah satu lokomotif dakwah Islamiyah di Jawa Barat.

Arsitektur Indonesia sangat kental dalam struktur atap masjid dipadu dengan arsitektur kontempore pada menara, dan bagian bagian bangunan lainnya.

Arsitektur Masjid PUSDAI Jawa Barat

Dirancang oleh arsitek Slamet Wirasonjaya. Masjid 2 lantai & dilengkapi satu menara ini dapat menampung lebih kurang 4000 jamaah. Bentuk kubah pada masjid ini tidak sinkron dengan kubah pada umumnya, kubah berbentuk atap kayu simpang susun bertingkat. Rangka atapnya menggunakan struktur baja menggunakan mengadopsi bentuk atap bangunan tradisional Indonesia.

Secara keseluruhan arsitektur masjid PUSDAI ditinjau sekilas pun eksklusif menyiratkan muatan lokal yg begitu kental, menggunakan sentuhan terbaru. Gedung yg cukup megah tanpa kehilangan ke arifan lokal.

Ruang Utama Masjid Pusdai

Interior masjid didominasi oleh batu marmer & profil kayu dan dihiasi menggunakan sejumlah tulisan kaligrafi dengan hiasan motif etnis di beberapa bagian. Bagian mihrab yg dihiasi ornamen kayu dibuat leluasa dengan luas kurang lebih 30m2.

Selain bangunan utama masjid, PUSDAI ini dilengkapi pula menggunakan banyak sekali wahana buat kepentingan syiar ummat antara lain merupakan Plaza, ruangan seminar besar & mini , perpustakaan elektronik, pusat bahasa, auditorium, Galeri Al Qur?An & Laboratorium Al Qur?An, klinik kesehatan, kafetaria, & area parkir yg luas. Koneksi antara bangunan satu dan lainnya dihubungkan oleh sejumlah koridor yg berfungsi buat melindungi jamaah menurut panas & hujan.

Keliru satu sisi Masjid Pusdai berdasarkan balik lengkungan koridor

Salah satu wahana unik yang ada di sini merupakan galeri AI Qur?An mushaf sundawi yang berada pada bagian timur bangunan. Al Qur?An ini dibentuk menggunakan goresan pena yang diperkaya menggunakan motif-motif Islami khas Sunda, misalnya contohnya motif batik Sunda & motif tanaman -flora khas Jawa Barat.

Selain menyelenggarakan banyak sekali aktivitas ibadah sejumlah aktivitas lainnya rutin diselenggarakan oleh Pusdai, pada antaranya merupakan kuliah dhuha tiap hari Ahad pada ruang seminar (09.00-10.30 WIB), kursus aneka macam bahasa asing, kajian tafsir, diskusi keislaman, dan seminar, dan sebagainya .

Pengelolaan Pusdai

Awal April 2010, pengelolaan aset Pusat Dakwah Islam (Pusdai), diambil alih oleh Pemprov Jabar. Melaluai Surat Keputusan Gubernur Jabar tentang penarikan pulang aset Pusdai ke Pemprov Jabar, yang memutuskan tim pengelola transisional Pusdai Jabar yang selama ini dikelola sang Yayasan Pusdai. Walaupun aset Pusdai Jabar ditarik balik sang Pemprov Jabar, tetapi fungsi-fungsi yg sudah inheren di Pusdai Jabar tetap akan berjalan misalnya biasa.

Penarikan aset Pusdai itu sebagai bagian menurut program Pemprov Jabar buat menata dan menertibkan aset-aset yang dikerjasamakan, dipinjamkan, atau digunakan sang yayasan. Hal itu dilakukan sesuai dengan kebijakan pemerintah sentra, yg mengharuskan keseimbangan antara neraca aset & neraca keuangan, yang nantinya akan diklaim menjadi neraca daerah. Di sisi lain, undang-undang tentang yayasan pun mengatur bahwa yayasan tidak boleh lagi memakai aset pemerintah.

RIBUAN umat Muslim melaksanakan shaalat Jumat pertama pada Bulan Ramadan, pada Masjid Pusdai, Jln. Diponegoro, Kota Bandung.

Selain alasan tadi, jua terdapat masukan berdasarkan Kantor Perwakilan BPK RI pada Bandung bahwa pengelolaan aset Pusdai sang yayasan nir memberikan keuntungan yang kentara bagi Pemprov Jabar. Pengelola sentra pengembangan itu akan berupa unit tersendiri pada bawah Pemprov Jabar. Tetapi, buat masa transisi akan ditetapkan tim transisional yang terdiri berdasarkan unsur pemerintah & yayasan yg mengelola Pusdai. Tim itu bekerja, sehabis Gubernur Jabar mengeluarkan SK pembentukannya. ***

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan pada Masjid Pusdai

Kembali ke Bagian-1

Referensi

Situs Pusdai - http://pusdai.com (broken link)

Blog Pusdai - http://pusdai.wordpress.com

archnet.org - PUSDAI Islamic Center

----------------------------------oooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Raya (sekarang Masjid Besar) Cipaganti, Bandung

Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid PUSDAI Jawa Barat - (Bagian-1)

Masjid Pusat Studi dan Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat - (Bagian-1)

Masjid pada Komplek PUSDAI Bandung

Pusat Dakwah Islam atau biasa disingkat PUSDAI, adalah sentra pengembangan Islam milik pemerintah provinsi Jawa Barat pada kota Bandung. Lokasinya berdiri memang tidak seberapa jauh menurut Gedung Sate, yang menjadi sentra pemerintahan provinsi Jawa Barat sekaligus landmark kota Bandung. Selain itu gedung PUSDAI ini pula berjejer menggunakan gedung Geologi Bandung yang juga adalah satu berdasarkan bangunan bersejarah yg masih berdiri kokoh di kota Bandung.

PUSDAI dibangun selesai dibangun tahun 1998 menghabiskan dana sekitar Rp. 49 Milyar Rupiah. Sejarah pembangunannya cukup panjang dan berliku. Ide pembangunannya sendiri telah mencuat semenjak masa pemerintahan gubernur H. Aang Kunaefi antara tahun 1977-1978 namun proses pembangunannya sendiri baru mulai berjalan empat belas tahun lalu atau pada tahun 1991.

Masjid Pusdai dibangun dalam arsitektur asli Indonesia menggunakan bentuk bentuk atap limas yg diaplikasikan pada seluruh atap bangunannya di padu dengan banyak sekali gaya arsitektur masjid masjid dunia Islam.

Komplek yg berdiri di atas huma seluas 4,5 hektar ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung untuk menjalankan 2 fungsi utamanya menjadi sarana pengembangan dan penyebaran Islam dan kebudayaan Islam pada Jawa Barat dan menjadi sentra penggodokan asal daya manusia umat Islam yg berdaya cipta & berdaya pembaharuan yang beriman, bertakwa, serta berilmu pengetahuan.

Lokasi Masjid PUSDAI Jawa Barat

Alamat : Jalan Diponegoro 63 Bandung 40115 Jawa Barat, Indonesia

Telepon : 62-22-721531

Fax : 62-22-7217531

Blog : http://pusdai.wordpress.com

Situs : http://www.pusdai.com/

Sejumlah rute angkutan kota juga bis kota melewati Kompleks Pusdai, pada antaranya: Angkot jurusan Cicaheum-Ciwastra, Riung Bandung-Dago, Cicaheum-Ciroyom, Cicaheum-Ledeng, ST Hall-Sadang Serang, Caringin-Dago, Gedebage-Awiligar, & bis kota jurusan Dipatiukur-Jatinangor.

View Untitled in a larger map

Tentang PUSDAI ? Pusat Dakwah Islam Jawa Barat

PUSDAI sendiri merupakan lembaga dakwah atas fasilitas Pemerintah Provinsi Jawa Barat buat menjadi sentral pemrograman, pelatihan, & pengembangan syiar Islam pada daerah Jawa Barat. Lembaga ini beserta Masjid At-Ta?Wun Puncak Bogor dan Gedung Bale Asri, berada di bawah kendali Yayasan Darma Asri (dahulu bernama Yayasan Dharma Bhakti), sebuah yayasan yang berada pada bawah naungan Pemprov Jabar.

Dalam struktur organisasi, Pusdai dipimpin oleh seorang Direktur (kini dijabat sang Drs. H. Zaenal Abidin, M.Ag) yg membawahkan empat bidang: Bidang Kajian Informasi & Kemasyarakatan (KIK), Bidang Administrasi & Keuangan (Adkeu), Bidang Pelayanan Ibadah dan Haji (PIH), dan Bidang Pendidikan dan Dakwah (Dikda).

4.5 hektar, cukup luas buat sebuah pusat pengembangan Islam, wajar jika kompleks PUSDAI ini dilengkai dengan aneka macam fasilitas pendukung.

Masjid Pusdai merupakan bangunan utama pada Kompleks Pusdai. Di sekeliling masjid terdapat aneka macam ruang ?Termasuk ruang seminar, perpustakaan, & sebagainya? Sebagai kantor pengurus & aktivis Pusdai.

Sejarah Pusdai

Gagasan  pendirian Pusat Dakwah Islam (Pusdai) atau Islamic Center di Jawa Barat muncul tahun 1977-1978 , saat pemerintahan Provinsi Jawa Barat dipimpin  oleh Gubernur H. Aang Kunaefi (1975-1985 ).

Gagasan tersebut kemudian mulai menjadi pembicaraan hangat  di kalangan umat Islam Jawa Barat,  terutama sejak munculnya instruksi  bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9  dan  30/1979   tertanggal  29  Oktober  1979  tentang perlunya umat Islam menyambut Abad XV Hijriyah dengan meningkatkan kegiatan dakwah guna menyongsong  “Abad Kebangkitan Kembali Umat Islam.”

Interior Masjid PUSDAI

Tanggal  19  Oktober 1997, sejumlah ulama, da’i, pakar, cedekiawan, dan pejabat dari berbagai organisasi di Jawa Barat mengadakan diskusi di kantor Bappeda Jabar.  Dalam diskusi itu antara  lain berbicara Gubernur Jawa Barat, Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar,  Kakanwil  Departemen Agama Jabar,  perwakilan Angkatan  ‘45,  dan lain-lain. Pada  intinya, mereka mendukung  rencana  pendirian Islamic Center di Jawa  Barat dan meminta pembangunannya segera dimulai.

Diskusi dilanjutkandalam di berbagai  kesempatan dan mencapai puncaknya pada Musyawarah Ulama dan Pemuka Agama Islam seluruh Jawa Barat tanggal 11  September 1980 di kampus Uswatun Hasanah, Nagrek, Kabupaten Bandung. Dalam musyawarah disepakati untuk segera merealisasikan gagasan pembangunan Islamic Center tersebut.

Exterior Masjid Pusdai

Bersambung ke Bagian 2

Referensi

Situs Pusdai - http://pusdai.com (broken link)

Blog Pusdai - http://pusdai.wordpress.com

archnet.org - PUSDAI Islamic Center

----------------------------------oooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Raya (sekarang Masjid Besar) Cipaganti, Bandung

Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Lautze dua Bandung

Friday, October 23, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Rangkaian bangunan di komplek Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini ditandai dengan tembok pagarnya yang berwarna merah dengan tiga gerbang paduraksa. Bangunan aslinya adalah bangunan dengan atap paling tinggi seperti terlihat pada foto di atas. Langgam bangunan Jawa sangat kental pada bangunan masjid ini.

Pembauran Seni Arsitektural di Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Bangunan utama masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon dibangun dalam bentuk atap bersusun tiga meski tidak berbentuk piramida (prisma) seperti Masjid Agung Demak. Makna mendalam terselip dalam susunan atap yang bersusun tiga ini. kepercayaan lama ditanah air memaknainya sebagai tiga tahapan kehidupan manusia mulai dari kehidupan di dalam Kandungan, di alam dunia dan di alam setelah kematian. Sedangkan dalam makna Islami diterjemahkan sebagai Iman, Islam dan Ikhsan.

Selain bentuk atap limas bersusun, di masjid ini juga menyerap bentuk punden berundak pada pagar batanya yang mengitari kawasan masjid. Menilik jauh ke belakang, kamus besar bahasa Indonesia memaknai punden berundak ini sebagai “bangunan pemujaan tradisi megalitikum yg bentuknya persegi empat dan tersusun bertingkat-tingkat”. Dan nyatanya makna tersebut tak bergeser hingga kini meski dalam kontek yang berbeda.

Bentuk Gerbang paduraksa dimasjid agung Cirebon, digunakan pada tiga gerbangnya termasuk gerbang utama. Bentuk gerbang seperti ini merupakan warisan budaya sebelum Islam.

Selain itu tiga gerbang depan masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengadopsi bentuk gerbang Paduraksa yang biasa digunakan pada bangunan bangunan candi, dengan berbagai modifikasi, namun ornamen punden berundak tak hilang dari gerbang ini, termasuk ornamen yang ditempelkan menjadi penghias gerbang dan pintu besarnya.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Perbedaan mendasar antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini baru terasa pada saat kita masuk ke dalam bangunan utama yang merupakan bangunan asli. Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki sokoguru tidak hanya empat tapi dua belas. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter sekitar 60cm dan tinggi mencapai 14 meter.

seluruh dua belas sokoguru utama di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa sudah di topang dengan besi baja untuk menjaga keutuhan struktur kayu bangunan masjid tua ini. Hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian.

Mengingat usianya yang sudah sangat tua, seluruh sokoguru di dalam masjid ini sudah ditopang dengan rangkaian besi baja untuk mengurangi beban dari masing masing pilar tersebut, hanya saja kehadiran besi besi baja tersebut sedikit mengurangi estetika. Keseluruhan sokoguru masjid ini berdiri di atas umpak batu kali. Umpak pada tiang-tiang utama berbentuk bulat dan di bagian serambi berbentuk kotak.

Rangkaian rumit saling silang pasangan kayu konstruksi di dalam masjid ini benar benar melemparkan kita ke masa lalu mengingat teramat sulit untuk menemukan bangunan baru dengan rancangan yang serupa. Atap puncak masjid (wuwungan) ditopang oleh dua sokoguru paling tengah. Dan diantara dua sokoguru ini yang menjadi titik tengah bangunan utama sekaligus menjadi titik berdirinya muazin saat mengumandangkan azan termasuk azan pitu (azan tujuh) saat sholat Jum’at.

::Maksurah::

Maksurah. Di dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ada dua Maksurah. Satu maksurah ditempatkan di shaf paling depan bersebelahan dengan mimbar, satu maksurah lagi ditempatkan pada shaf paling belakang disebelah kiri pintu masuk utama.

Layaknya sebuah masjid kerajaan, di masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga disediakan tempat sholat khusus bagi keluarga kerajaan atau Maksurah berupa area yang dipagar dengan pagar kayu berukir. Ada dua Maksurah di dalam masjid ini. satu maksurah di shaf paling depan sebelah kanan mihrab dan mimbar diperuntukkan bagi Sultan dan Keluarga keraton Kasepuhan. Serta satu Maksurah di shaf paling belakang disamping kiri pintu utama diperuntukkan bagi Sultan dan keluarga keraton Kanoman.

Maksurah, banyak ditemui di masjid masjid tua Arabia, Afrika Utara hingga wilayah wilayah bekas kekuasaan emperium Turki Usmani. Fungsi awalnya adalah sebagai perlindungan bagi Sultan dan pejabat tinggi kerajaan selama melaksanakan sholat di masjid dari kemungkinan serangan fisik terhadap petinggi kerajaan. Di dalam maksurah ini pada masanya juga dilengkapi dengan senjata ringan pembelaan diri seperti tombak dan lainnya.

::Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Sang Cipta Rasa::

Ada dua mimbar di dalam masjid ini yang bentuk dan ukurannya sama persis. Mimbar yang kini dipakai merupakan mimbar pengganti, disebelah kanan mimbar ini terdapat maksurah dan disebelah kanan maksurah mimbar lamanya ditempatkan.

Menjadi lebih menarik manakala kita masuk ke dalam bangunan masjid ini. nyaris tak ada ornamen Islami seperti yang biasa kita temukan di dalam sebuah bangunan masjid bergaya Arabia. Mihrab dan mimbar di masjid ini sepi dari ukiran ayat ayat suci Al-Qur’an. Mihrab nya sendiri dibangun dari batu batu pualam berukuran floral, yang berpusat pada bentuk yang menyerupai bunga matahari pada bagian puncak mihrab.

Adanya bentuk bunga matahari di mihrab masjid ini mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kebesaran Kerajaan Majapahit. Memang tak mengerankan, karena konon memang proses pembangunan masjid ini turut melibatkan Raden Sepat yang tak lain adalah panglima pasukan Majapahit yang kalah perang dalam serangannya ke Demak di masa kekuasaan Raden Fatah dan kemudian memeluk Islam.

Pola ukiran diatas mimbar masjid Agung Cipta Rasa ini sangat mirip dengan bentuk mahkota raja raja Jawa. Lebih menariknya lagi adanya ornament bunga matahari di bagian tengahnya itu mengingatkan kita pada bentuk Surya Majapahit yang merupakan lambang kerajaan Majapahit.

Maka wajar bila kemudian ada banyak kemiripan antara Masjid Agung Demak dengan Masjid Sang Cipta Rasa ini termasuk Masjid Agung Banten di Banten Lama, provinsi Banten karena memang melibatkan orang yang sama dalam proses pembangunannya. Sampai sejauh ini belum ditemukan catatan tentang Raden Sepat dan sisa pasukannya yang dibawa ke Cirebon termasuk dimana beliau dimakamkan.

Seluruh bagian mihrab masjid ini menggunakan batu pualam putih. Selain ukiran floral dibagian atas mihrab, juga terdapat dua pilar pualam disisi kiri dan kanannya. Konon pilar ini di ukir oleh Sunan Kali Jaga dalam bentuk kelopak bunga teratai. Selain ukiran floral di sisi kiri dan kanan bagian depan mihrab ini terdapat ukiran geometris yang sangat menarik serupa dengan ukiran pada dinding depan masjid. Di bagian mihrab juga terdapat tiga buah ubin bertanda khusus yang melambangkan tiga ajaran pokok agama, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ubin tersebut dipasang olehSunan Gunung Jati,Sunan Bonang, danSunan Kalijaga pada awal berdirinya masjid.

Balok balok penghubung antara satu tiang dengan tiang lainnya di masjid ini bersusun hingga lima balok penghubung antara masing masing tiang untuk saling menguatkan, sedangkan dibagian bawah masing masing sokoguru ini berupa umpak batu berbentuk bundar.

Ada dua mimbar yang serupa di dalam masjid ini. dua duanya penuh dengan ukiran yang sangat indah. Satu mimbar diletakkan di sisi mihrab yang digunakan saat sholat Jum’at dan dua hari raya sedangkan mimbar yang lainnya diletakkan disebelah maksurah merupakan mimbar lama yang sudah tidak dipakai lagi. Pada bagian kaki mimbarnya ada bentuk seperti kepala macan, mengingatkan pada kejayaan Prabu Siliwangi raja Padjajaran yang tak lain adalah Kakek dari Sunan Gunung Jati dari garis Ibu.

::Masjid dengan Sembilan Pintu::

Bangunan utama (asli) Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki Sembilan Pintu menyimbolkan Sembilan Wali (Wali Songo) yang turut berkontribusi aktif dalam proses pembangunannya. Pintu utama nya berada di sisi timur sejajar dengan mihrab, namun pintu utama ini nyaris tak pernah dibuka kecuali pada saat sholat Jum’at, sholat hari raya dan peringatan hari hari besar Islam. Delapan pintu lainnya ditempatkan di sisi utara dan selatan (kanan dan kiri) bangunan utama dengan ukuran sangat kecil dibandingkan ukuran normal sebuah pintu.

Bungkukkan badan, rendahkan hati. Adalah pesan tak tertulis setiap kali kita akan masuk ke dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini melalui salah satu dari delapan pintu sampingnya yang sengaja dibuat dalam ukuran kecil.

Pada hari biasa hanya ada satu pintu yang senantiasa dibuka oleh pengurus masjid yakni satu pintu di sisi kanan bangunan. Seluruh delapan pintu samping masjid ini sengaja dibuat dalam ukuran kecil dan sempit memaksa setiap orang dewasa untuk menunduk saat akan masuk ke dalam masjid, meyimbolkan penghormatan dan merendahkan diri dan hati manakala memasuki masjid.

Delapan pintu samping ini juga dilengkapi dengan daun pintu yang ukurannya juga kecil di cat warna hijau dan sepi dari ukuran. Berbeda dengan pintu utamanya yang berukuran besar dan penuh dengan ukiran yang sangat indah.ruang dalam masjid ini juga tidak digunakan untuk sholat berjamaah lima waktu. Pelaksanaan sholat lima waktu dilaksanakan di pendopo depan. Sebuah partisi berukir dari kayu jati di sisi depan area pendopo sebagai penanda tempat bagi imam.

::Masjid Benteng atau Benteng Masjid ?::

Latar belakang merah pada foto interior masjid di atas merupakan tembok bata yang mengelilingi seluruh bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Tembok bata ini dibangun hanya tak sampai setengah dari tinggi keseluruhan bangunan-nya menyisakan sisi atasnya tetap terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Namun bagian itu kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat.

Tembok bangunan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dibangun dari susunan bata merah yang sama sekali tidak diplester, namun memiliki ketebalan hampir 70cm. tembok yang sangat tebal layaknya tembok sebuah benteng. Tembok ini hanya dibangun setengah saja tidak sampai ke atap, bagian atasnya dibiarkan terbuka sebagai ventilasi udara dan cahaya. Hanya saja bagian terbuka di sisi atas tembok ini kini sudah ditutup dengan kaca dan anyaman kawat untuk menghindari masuk dan bersarangnya burung dan hewan lainnya di dalam masjid.

Namun kehadiran dinding kaca dan anyaman kawat tersebut justru menghilangkan salah satu ciri khas masjid ini yang memang dirancang terbuka sebagai sebuah bangunan tropis. Ditambah lagi dengan bentuk ornamen kaligrafi yang digunakan untuk menghias dinding kaca tersebut tak senada dengan arsitektural keseluruhan bangunan asli. Ditambah lagi dengan konsekwensi rusaknya sirkulasi udara hingga harus dikonpensasi dengan pemasangan beberapa kipas angin di bagian dalam.***

Bersambung kebagian-3

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Thursday, October 22, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Masjid Agung Sang Cipta Rasa di depan Keraton Kasepuhan Cirebon ini dibangun setahun setelah pembangunan Masjid Agung Demak sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa. Dibangun atas usulan Putri Pakungwati kepada suaminya, Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (dikenal juga sebagai Masjid Agung Kasepuhan atau Masjid Agung Cirebon) merupakan masjid tua di kompleks Keraton Kasepuhan,Cirebon,Jawa Barat,Indonesia. masjid ini adalah masjid tertua diCirebon,sekaligus sebagai salah satu masjid tertua di tanah Jawa dan Indonesia. Dibangun sekitar tahun 1480M atau semasa denganWali Songo menyebarkanagama Islam di tanahJawa. Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan.

Pembangunanmasjid ini dikabarkan melibatkan sekitar 500 orang yang terdiri dari mantan pasukan Majapahit, dari Demak, dan dari Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya,Sunan Gunung Jati menunjukSunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu,Sunan Gunung Jati juga memboyongRaden Sepat, seorang mantan panglima pasukan Majapahit yang juga memiliki kemampuan rancang bangun, untuk membantuSunan Kalijaga merancang masjid tersebut.

Lokasi Masjid Agung Sang Ciptarasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Jalan Keraton Kasepuhan 43,Kelurahan Kesepuhan

Kecamatan Lemahwungkuk,Kota Cirebon

Jawa Barat,Indonesia

6° 43' 31.97" S, 108° 34' 11.71" E

Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak ±100 m sebelah baratlaut dari Keraton Kasepuhan, tepatnya disisi barat alun alun keraton Kesepuhan. Ciri utama bangunan masjid ini adalah tembok pagar kelilingnya yang dibangun dari bata merah dengan tiga pintu gerbang berbentuk padureksa.

Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Situs pemerintah propinsi Jawa Barat menyebutkan bahwa : “Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada tahun 1498 M oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Mesjid ini dinamai Sang Cipta Rasa karena merupakan pengejawantahan dari rasa dan kepercayaan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933, terlihat bangunan asli dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebelum dilengkapi dengan berbagai bangunan tambahan seperti yang kini kita lihat (foto : wikipedia)

Penduduk Cirebon pada masa itu menamai mesjid ini Mesjid Pakungwati karena dulu terletak dalam komplek Keraton Pakungwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan komplek Keraton Kesepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat Subuh”.

Masih menurut situs yang sama, disebutkan bahwa Masjid Sang Cipta Rasa ini menjadi tempat tutup usianya Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati, dalam usia yang sangat tua di tahun 1549. Nama keraton Pakungwati bagi keraton kesultanan Cirebon (kini menjadi keraton Kasepuhan) dinisbatkan kepada dirinya karena memang dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, ayahanda beliau yang juga merupakan putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran.

Denah Masjid Agung Sang Ciptarasayang menunjukkan bagian bagian masjid lama : garis hitam A-A merupakan dari batu bata merah yang amat tebal. B: Michrab. C-C: titik penjuru dari bagian masjid lama, batas perluasan setelah terjadi kebakaran di abad ke 15. Tiang tiang kayu asli dari bangunan lama merupakan tiang tiang dalam kotak hitam C-C yang ditandai dengan tanda hitam, sedangkan tiang tiang yang dibangun kemudian di abad ke 19 adalah tiang yang ditandai dengan tanda lingkaran. (foto darilecturer.ukdw.ac.id)

Adapun Raden Sepat sebelumnya merupakan panglima pasukan Majapahit yang ditugasi memimpin pasukan menyerbu dan menaklukan Kesultanan Demak yang baru berdiri. Penyerbuan yang berahir dengan kekalahan. Beliau dan sisa pasukannya tak pernah kembali ke Majapahit karena memutuskan untuk mengabdi kepada Sultan Demak dan masuk Islam.

Pasangan Masjid Agung Demak

Menurut satu riwayat tutur menyebutkan bahwa pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini merupakan pasangan dari Masjid Agung Demak. Pada waktu pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon ijin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Karena merupakan masjid yang sepasang maka, kedua masjid ini memiliki wataknya masing masing. Bila masjid Agung Demak berwatak Maskulin dengan tampilannya yang gagah, maka masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berwatak feminim.

Masjid Sepasang. Bisa temukan kemiripannya ?. sejarah tutur menyebutkan bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dengan watak maskulin maka bangunan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon dibangun dengan watak Feminim.

Diceritakan juga bahwa para wali pada saat masjid ini selesai didirikan berjamaah sholat Maghrib disini dan kemudian Sholat Subuh di Masjid Demak. Sementara versi yang lain bahwa masjid ini dibangun hanya dalam waktu satu malam, karena pada waktu ke esokan harinya sudah dipakai untuk sholat subuh. Sebagai sebuah pasangan disebutkan bahwa pembangunan dua masjid ini dilakukan bersamaan atau setidaknya dalam waktu yang tidak terpaut jauh.

Kontradiksi Tahun Pembangunan

Hanya saja bila mengikuti tahun pembangunan seperti yang disebut oleh situs pemprov Jabar bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun tahun 1498M, sedangkan pembangunan Masjid Agung Demak oleh Raden Fatah dilaksanakan tahun 1401 Saka atau 1477M (dua tahun setelah berdirinya kesultanan Demak), sepertinya cerita bahwa masjid ini dibangun dalam waktu bersamaan diragukan keberannya.

Gerbang Paduraksa atau Padureksa warisan dari kebudayaan Indonesia sebelum Islam di serap menjadi gerbang Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menjadi satu penanda bahwa masjid agung Cirebon dibangun oleh dan untuk muslim yang berasal dari berbagai latar belakang. pembangunan masjid ini pun dalam sejarahnya melibatkan berbagai kelompok masyarakat Jawa, Demak, Majapahit dan Cirebon sendiri.

Catatan Keraton Kasepuhan Cirebon, yang mengacu pada candrasengkala, masjid Agung Sang Cipta Rasa dibangun pada “waspada panembahe yuganing ratu”.Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka. Dari catatan tahun Saka tersebut-pun terpaut waktu 21 tahun yang memisahkan pembangunan antara kedua bangunan masjid tua tersebut.

Namun beberapa sejarawan justru memilih tahun 1478 sebagai tahun pembangunan masjid Agung Sang Cipta Rasa bersamaan dengan didirikannya Kesultanan Cirebon dengan Sultan pertamanya Sunan Gunung Jati. Tahun 1478 hanya selisih satu tahun lebih muda bila dibandingkan dengan pembangunan masjid Agung Demak (1477).

Arsitektural Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki tiga gerbang di bagian depannya tapi hanya satu gerbang di sebelah utara (kanan) ini yang paling sering dibuka di hari hari biasa menjelang waktu sholat. Diluar waktu sholat pengunjung harus melewati gerbang belakang dengan melewati jalan setapak di sebelah kanan tembok utara masjid atau lebih ke kanan dari foto di atas.

Dari sudut pandang arsitektur, Masid Agung Sang Cipta Rasa ini memang mewakili watak feminin. Tidak seperti masjid-masjid wali pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug atau limas bersusun dengan jumlah ganjil, Masid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan diatasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Bisa jadi inipun juga perlambang dari sifat feminin-nya. Bentuk konstruksi secara keseluruhan-pun terlihat lebih pendek dibandingkan dengan Masjid Agung Demak yang kelihatan tinggi dan gagah.

Denah Bangunan

Bangunan utama masjid Agung Sang Cipta Rasa berdenah persegi panjang seluas sekitar 400 meter persegi. Beberapa bangunan tambahan kini mengitari bangunan utama. Ada dua pendopo besar persegi panjang yang dibangun dan ditambahkan disisi timur (depan), dua pendopo panjang di sisi utara (kanan) dan satu pendopo dengan ukuran yang serupa juga dibangun disisi selatan (kiri).

Denah Masjid Agung Sang Cipta Rasa saat ini. Gerbang belakang yang ditunjukkan dengan panah warna ungu adalah gerbang yang senantiasa dibuka untuk pengunjung masjid 24 jam sehari semalam. pengunjung luar kota biasanya akan langsung dikenali oleh para pengurus masjid dan diminta untuk mengisi buku tamu yang sudah disediakan di meja kecil di pendopo beberapa meter dari gerbang tersebut.

Bangunan tempat wudhu dan kamar mandi juga dibangun kemudian di sisi paling utara dan selatan. Sayangnya bangunan tempat wudhu dan kamar mandi ini dibangun dengan tidak mengikuti pakem dari bangunan utama maupun bangunan tambahannya sehingga terlihat sangat kontras. Ditambah lagi dengan tidak adanya pemisahan yang jelas antara area jemaah wanita dan pria.

Bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dapat dikenali dari tembok pagar dan gapuranya yang sangat khas. Tembok pagar masjid ini menggunakan susunan bata merah tanpa di plester memberikan kesan yang sangat unik, ditambah dengan padanan gerbang paduraksa yang kini menjadi ikon masjid Sang Cipta Rasa.***

Bersambung kebagian-2

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Wednesday, October 21, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Gerbang sisi baratnya.

Kebakaran dan Renovasi Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Baik catatan sejarah maupun sejarah tutur yang berkembang di masyarakat Cirebon, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini sempat mengalami kebarakaran hebat pada masa Awal bedirinya bangunan masjid ini. Disebutkan bahwa masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat yang pada bagian atapnya yang masih menggunakan daun rumbia sebagai akibat terror dari pendekar Menjangan Wulung yang memiliki kesaktian ilmu hitam. Kisah ini terkait dengan sejarah awal dikumandangkannya Azan Pitu (azan tujuh) di Masjid ini.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1549, Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang merupakan istri pertama Sunan Gunung Jati, wafat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam usia yang sangat tua setelah turut serta berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda Masjid Agung ini. Apakah kedua rentetan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama ? wallohua’lam. Paska kebararan yang mengakibatkan kerusakan pastinya dilakukan perbaikan atas bagian bagian yang rusak, meski tak ada catatan pasti tentang proses perbaikan tersebut.

:: Pemugaran Oleh Pemerintah R.I. ::

Prasati Pemugaran Masjid Agung Cirebon oleh Pemerintah R.I.

Beberapa meter dari pintu gerbang utara masjid, menghadap ke arah pintu gerbang tersebut, kini berdiri sebuah prasasti peringatan tentang renovasi yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap masjid ini dan diresmikan pada tanggal 23 Februari tahun 1978. berikut kutipan isi dari Prasasti tersebut :

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PADA HARI KAMIS TANGGAL 23 FEBRUARI 1978 MENTERI PdanK TELAH MERESMIKAN HASIL PEMUGARAN MESJID AGUNG CIREBON…..MENTERI PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN R.I…… SJARIF THAJEB”

Penyanggah penyanggah besi baja di dalam masjid Agung Sang Cipta Rasa dipasang pada 12 sokoguru masjid ini untuk menopangnya, mengingat bangunan masjid ini yang sudah tidak muda lagi.

Kemungkinan besar pemugaran yang dimaksud dalam prasasti ini adalah penambahan tiang besi baja pada 12 sokoguru di dalam ruang utama masjid serta beberapa sokoguru dibagian luar. Dan penambahan empat pendopo di sekeliling bangunan utama. Mengingat lokasi penempatan dari prasasti ini sendiri berada pada sisi luar pendopo.

Hikayat Azan Pitu, Memolo Dan Masjid Berpasangan

Azan Pitu atau azan tujuh adalah tradisi azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Biasanya azan ini dilantunkan saat jelang sholat subuh dan sholat Jum’at. Selain azan pitu, di Cirebon juga mengenal azan awal sebelum sholat subuh sebagai pengingat bagi kaum muslimin bahwa waktu subuh akan segera tiba supaya bersiap diri.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Dari titik tengah ini azan pitu dikumandangkan dari masjid ini.

Azan pitu pada mulanya dilaksanakan atas perintah dari Sunan Gunung Jati untuk memusnahkan pengaruh sihir yang ditebarkan oleh Menjangan Wulung terhadap jemaah yang akan masuk ke masjid Sang Cipta Rasa Cirebon untuk melaksanakan sholat subuh. Disebutkan bahwa pada suatu masa ketika Islam baru menunjukkan perkembangan yang baik di wilayah Cirebon, beberapa orang yang keberatan dengan hal tersebut berupaya menebar terror.

Sosok Menjangan Wulung sendiri menurut beberapa sumber merupakan sosok ghaib yang di utus oleh seseorang ke Masjid Agung Cirebon untuk menebar terror. Korban pertamanya adalah muazin yang akan mengumandangkan azan subuh di masjid ini yang mendadak tewas secara misterius. Mengakibatkan ketakutan yang luar biasa bagi jemaah lainnya yang akan masuk ke masjid ini. Amukan Menjangan wulung ini juga mengakibatkan atap masjid yang masih terbuat dari rumbia mengalami kebakaran hebat.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933 saat bangunan utama masjid ini belum dilengkapi dengan berbagai bangunan pendopo yang kini mengelilinginya. Perhatikan puncak atap masjidnya yang tidak dilengkapi dengan memolo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin, atas perintah dari Sunan Gunung Jati berdasarkan petunjuk Ilahi.

Menjangan Wulung berhasil ditaklukkan, konon dia melarikan diri ke arah Banten dan tak pernah kembali. Masih dalam kaitan dengan hikayat ini disebutkan juga bahwa menjangan wulung juga menghantam memolo yang ada di puncak masjid hingga terpental jauh. Ada juga yang menyebut bahwa memolo (mastaka / ornament hiasan berbentuk simbar dipuncak masjid) tersebut hancur akibat ledakan yang terjadi saat aksi Menjangan Wulung tersebut.

Memolo di puncak atap masjid Agung Banten. Memolo yang memang bertumpuk dua. Apakah salah satunya merupakan memolo Masjid Agung Cirebon yang terpelanting hingga ke Banten akibat ledakan semasa huru hara Menjangan Wulung, tiga tahun sebelum Masjid Agung Banten ini dibangun ?.

Namun satu hikayat yang senantiasa dituturkan oleh pemandu wisata di Masjid ini bahwa memolo tersebut terpental hingga ke Masjid Agung Banten. Dan itu sebabnya Masjid Agung Banten memiliki dua memolo sedangkan Masjid Agung Cirebon tanpa memolo sama sekali. Cerita terahir tersebut memiliki penafsiran yang bermacam macam.

Pertama bahwa masjid Agung Banten dibangun jauh setelah berdirinya Masjid Agung Cirebon. Bila kita merujuk kepada tahun wafatnya Ratu Dewi Pakungwati yakni tahun 1549 sebagai tahun terjadinya huru hara Menjangan Wulung, artinya : meski memolo tersebut memang terpental jauh hingga ke Banten, tidak serta merta langsung bertengger di Masjid Agung Banten tapi butuh setidaknya tiga tahun bagi siapapun disana untuk memungut memolo tersebut dan memasangnya ke Masjid Agung Banten yang baru dibangun tiga tahun kemudian (1552-1570).

::Masjid Sepasang:: Kanan adalah Masjid Agung Demak dan Kiri adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Bisa anda temukan persamaan dan perbedaannya ?.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektural, Masjid Agung Cipta Rasa disebutkan sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak Maskulin lengkap dengan memolo dan berdiri gagah, lain halnya dengan masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun dalam watak Fenimim dengan denah persegi panjang, boleh jadi sejak awal masjid ini memang dibangun tanpa memolo sebagai perwujudan dari kefemeninimannya.

Namun demikian, tradisi azan pitu ini tetap dilestarikan di Masjid Agung Cirebon ini. sebagai sebuah tradisi yang merupakan satu satunya masjid dengan tradisi yang amat unik dan langka ini. Azan pitu dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus dengan pakaian putih putih kadang dilengkapi dengan jubah. Mereka bertujuh berjejer di tengah tengah bangunan asli tepat dibawah wuwungan atap masjid.

Masih mengenai memolo, versi lain menyebutkan bahwa memolo tersebut hancur karena secara tidak sengaja terkena lemparan tongkat Panebahan Satu pada saat Cirebon dilanda wabah penyakit yang konon datang secara ghaib. Panebahan Ratu adalah Raja ke empat Kesultanan Cirebon, beliau adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.

Pengeras suara di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini diletkaan dibawah empat penjuru atap puncaknya. Sama hal nya dengan masjid masjid tua tanah Jawa Lainnya.

Menara dan Penghormatan Kepada Raja

Bila diperhatikan masjid masjid tua di tanah Jawa termasuk Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Saka Tunggal di Banyumas, Sunan Ampel di Surabaya dan lainnya, selalu saja dibangun tanpa menara. Meski dari sisi tradisi arsitektural tanah air, ketiadaan menara ini sudah menjadi pakem bagi masjid tradisional Indonesia namun dibalik semua itu ada makna filosofis yang mendalam.

Ketiadaan menara pada bangunan masjid masjid tua tersebut kait mengait dengan tradisi tanah jawa yang menjungjung tinggi ewuh pakewuh. Keberadaan menara yang memang pada masa awalnya merupakan tempat muazin mengumandangkan azan akan memposisikan muazin yang berada di menara lebih tinggi dari seluruh jemaah yang ada di dalam masjid termasuk Raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Hal tersebut dianggap tidak sopan.

Karenanya masjid masjid tua tanah Jawa hampir seluruhnya tidak dilengkapi dengan menara. Menara di Masjid Agung Demak pun dibangun belakangan bukan merupakan komponen asli yang dibangun sejak awal pembangunan masjid. Seiring dengan telah dikembangkannya perangkat pengeras suara, muazin tak perlu lagi menaiki menara pada saat akan mengumandangkan azan cukup pengeras suaranya yang disimpan di menara sedangkan azannya dilantunkan muazin dari dalam masjid.

Bersambung kebagian-4

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

Sisi depan Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon

Terhindar dari ledakan Bom

Jum’at, 26 Februari 2010 Masjid Agung Sang Ciptarasa dihebohkan dengan ditemukannya bungkusan yang di duga Bom. Merujuk kepada penjelasan pihak kepolisian bom tersebut berdaya ledak rendah dan dilengkapi dengan pengatur waktu. Bom tersebut ditemukan selang sehari setelah perayaan besar peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W di masjid tersebut.

Peringatan Maulid Nabi atau Mauludan diperingati setiap tahun secara meriah di masjid ini dan dihadiri ribuan jemaah dari penjuru Nusantara memadati masjid hingga ke luar halaman. Merujuk kepada Ustadz Rahmad salah satu pengurus masjid yang menemukan bungkusan tersebut, Bila melihat kondisi fisiknya, kemungkinan bom tersebut semestinya sudah meledak namun Alhamdulillah Allah melindungi masjid ini beserta jemaahnya dari bencana.

Anggota GEGANA POLRI di Masjid Agung

Sang Ciptarasa - Cirebon.

Menurut penjelasan Putra mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, kepada media, kemungkinan besar bom tersebut sengaja dipasan dengan menjadikan sultan sepuh Maulana Pakuningrat sebagai target utama mengingat lokasi penemuannya berada di dekat denga Krapyak (maksurah) Sultan Sepuh di shaf paling depan disamping mihrab dan mimbar masjid. Kemungkinan besar bom tersebut akan diledakkan saat sholat Jum’at atau proseso Pajang jimat yang kan digelar dihari yang sama. Seyogyanya hari Jum’at tersebut Sultan akan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid tersebut namun batal karena sesuatu dan lain hal.

Ancaman bom di tahun 2010 tersebut bukanlah pertama kali terjadi di masjid ini. Merujuk penjelasan para tetua disana, semasa perang kemerdekaan masjid ini beberapa kali menjadi target serangan bom oleh pasukan Belanda maupun Jepang, namun tak satupun bom bom tersebut yang berhasil menyasar masjid tua ini, tapi justru menghantam sasaran lain.

Tradisi Tradisi di Masjid Agung Sang Ciptarasa

Seperti halnya masjid masjid tua serta merupakan masjid keraton kesultanan. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon ini juga memiliki beberapa tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun tanpa terputus sejak awal pembangunannya hingga kini. Diantara tradisi tradisi tersebut merupakan tradisi unik dan hanya ada di masjid ini. Terutama adalah tradisi Azan Pitu atau azan tujuh yang sudah di ulas tuntas dalam bagian-3.

Azan Pitu

Azan pitu atau azan tujuh adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Tradisi ini bermula sejak awal berdirinya masjid Agung Sang Ciptarasa dan sejak awal berkembangnya Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Azan pitu pada awalnya dilakanakan atas perintah langsung dari Sunan Gunung Jati untuk mengatasi serangan ghaib dari Menjangan wulung yang menyebar terror di masjid ini sehingga menyebabkan tewasnya beberapa muazin serta menyebabkan kebakaran di masjid ini.

Kemungkinan besar peristiwa tersebut terjadi di tahun 1549 masehi. Tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Dewi Pakungwati, permaisuri Sunan Gunung Jati yang wafat di masjid ini. Beberapa sumber menyebutkan beliau wafat dalam usia yang sanga tua di dalam masjid ini setelah turut serta dalam upaya memadamkan kebakaran yang terjadi di masjid ini.

Khutbah Berbahasa Arab

Mimbar di masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, tanpak sedikit disebelah kanan foto adalah Maksurah atau Krapyak tempat sholat khusus Sultan dan Keluarga. disebelah Maksurah itu ada satu lagi mimbar lama yang disimpan disana.

Tradisi yang tak kalah uniknya dari masjid ini adalah sampai saat ini khotbah Jum'at selalu dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan meski hampir semua jama'ah tak memahami artinya jamaah tetap menyimaknya dengan khusu tanpa mengobrol dengan rekan disebelahnya. Tujuan dari tetap dilestarikannya khotbah berbahasa Arab ini sendiri konon untuk memotivasi jamaahnya agar mau belajar bahasa Arab.

Ada jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at

Pada setiap sholat Jum'at yang kebetulan jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dengan satu keyakinan bahwa bila mereka ikut sholat Jum'at yang jatuh tepat pada hari Jum'at Kliwon maka yang bersangkutan akan memperoleh berkah. Atas dasar keyakinan itulah, pada Jum'at Kliwon banyak jemaah perempuan yang datang tidak hanya dari daerah Cirebon tapi juga banyak yang datang dari luar kota untuk ikut bersholat Jum'at di Masjid ini.

Sumur Keramat

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapatsumur zam-zam atauBanyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulanRamadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Sumur Banyu Cis yang dikenal sebagai zam zamnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Beberapa jamaah masjid ini datang jauh jauh dari berbagai daerah selain untuk sholat di masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur tersebut. Dua kolam dari batu bundar ini dulunya berada di luar bangunan utama namun kini sudah berada di dalam pandopo utara. Disekitar kolamnya juga sudah di kelilingi dengan pagar besi. Menariknya air dari sumur ini dipercaya juga dapat digunakan sebagai media untuk menguji kejujuran seseorang.

Pesan Sunan Gunung Djati

Sunan Gunungjati, sultan pertama Kesultanan Cirebon dan pendiri Masjid Agung Sang Ciptarasa ini, wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Selama hidupnya Sunan Gunung Jati pernah berpesan, diantara yang paling terkenal dari pesan pesan beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang lain diantaranya sebagai berikut.

Ilustrasi wajah Sunan Gunung Jati

Singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), Duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), Angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya), Aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), Den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu), Angasana diri (harus mawas diri), Tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik).

Ngoletena rejeki sing halal (carilah rejeki yang halal), Aja akeh kang den pamrih (jangan banyak mengharap pamrih), Gegunem sifat kang pinuji (miliki sifat terpuji), Aja ilok gawe lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang), Ake lara ati, namung saking duriat (jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri), Aja ujub ria suma takabur (jangan sombong dan takabur), Aja duwe ati ngunek (jangan dendam), Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua), Den hormat ing leluhur (harus hormat pada leluhur), Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka), Den welas asih ing sapapada (hendaklah menyanyangi sesama manusia).

Pesan beliau yang berbunyi "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)" juga dipampang di depan makam beliau. Dan menariknya pesan yang sama dipampang di depan Makam Sheh Quro di Karawang. Hanya saja, entah karena kesalahan penafsiran terhadap pesan beliau, hingga kini bila anda berkunjung ke masjid Agung Sang Ciptarasa bertepatan dengan sholat Jum’at atau pada peringatan hari besar Islam di halaman masjid ini berjejer para peminta peminta.

Peminta minta di Makam dan Masjid Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya di masjid, kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau di komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di komplek pemakaman  tersebut, para pengemis dan peminta minta tidak sekedar berjejer tapi sudah sampai para tahap mengerubuti para peziarah. Bagi mereka yang tak terbiasa akan terkaget kaget dengan kondisi itu. Terlebih bila anda hanya memberikan sedekah hanya kepada salah satu dari mereka maka yang lainnya sontak akan beramai ramai menghampiri.

Kondisi yang hampir sama juga akan kita temui saat berziarah ke makam Sheh Nur Jati di gunung Jati. Peminta minta disana bahkan dari golongan pria dewasa yang berbadan sehat segar bugar dengan sedikit memaksa. Saya pribadi lebih menghargai mereka mereka yang mencari berkah disekitar makam para wali tersebut dengan menawarkan jasa sebagai pemandu, tukang parkir, atau mereka yang rela begadang menjaga kendaraan peziarah, atau berjualan keperluan bagi para peziarah hingga membuka warung makan disana.

Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau menitipkan tajuk dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau sepertinya bukanlah refleksi yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.  (SELESAI).***

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Tuesday, October 20, 2020

Masjid Merah Panjunan – Cirebon

TERTUA DI CIREBON ?. Konon Masjid Merah Panjunan dibangun lebih dulu sebelum Masjid Agung Sang Ciptarasa oleh Pangeran Panjunan yang merupakan putra penguasa Bagdad (Iraq). Beliau datang ke Cirebon bersama 40 orang yang kemudian menetap di kampung yang dikemudian hari disebut sebagai kampung Panjunan. Di kampung itu beliau mendirikan tajuk sebagai tempat beribadah bagi para pelaku bisnis yang datang dari berbagai bangsa di kawasan itu. Juga sebagai tempat pertemuan beliau dengan Sunan Gunung Jati.

Masjid Merah Panjunan merupakan salah satu masjid tua di kota Cirebon. Awalnya masjid ini bernama Al-Athyang yang artinya dikasihi Disebut masjid merah karena memang hampir keseluruhan bangunan masjid ini berbalut warna merah. Dan nama Panjunan pada nama masjid ini merujuk kepada nama Pangeran Panjunan pendiri masjid ini yang dikemudian hari nama yang sama juga menjadi nama desa tempat masjid ini berada.

Pangeran Panjunan bernama asli Maulana Abdul Rahman, nama Panjunan yang disandangnya merupakan gelaran atas profesi yang digelutinya sebagai pembuat Anjun atau Gerabah porselen. Profesi yang cukup lama ditekuni oleh keturunannya yang tinggal di desa Panjunan sampai ahirnya perlahan terkikis tinggal kenangan menjadi sebuah nama desa.

Lokasi dan Alamat Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan

Jl. Kolektoran (perempatan dengan Jl. Kenduran)

Kampung Panjunan, Desa Panjunan

Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon

Provinsi Jawa Barat

Koordinat : 6° 43' 3.16" S  108° 33' 57.71" E

View Masjid Merah Panjunan in a larger map

Sejarah Masjid Merah Panjunan

Menurut sumber yang terpampang sebelum pintu masuk ke Masjid Merah Panjunan, Masjid Merah ini pertama kali dibangun oleh Pangeran Panjunan, salah seorang murid Sunan Gunung Jati pada tahun 1480 dalam bentuk surau kecil atau tajuk berukurn 150 m2 di dalam lingkungan perkampungan masyarakat keturunan Arab.

Nama asli dari Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman, pemimpin kelompok pendatang Arab dari Baghdad. Sang Pangeran dan keluarga mencari nafkah dari membuat keramik porselen. sehingga kampong tempat mereka tinggal diberi nama Panjunan, pembuat Anjun. Konon pembangunan masjid tersebut di-arsiteki oleh Pangeran Losari.

AKULTURASU BUDAYA. Digunakannya bentuk gerbang candi bentar bagi gerbang masjid Panjunan ini merupakan salah satu ciri berpadunya berbagai budaya di masjid tua satu ini. Selain itu, Budaya Jawa khsusunya Majapahit sangat kental terlihat pada penggunaan bentuk bangunannya yang berupa bangunan limasan.

Pembangunan Tajug atau Mushola sederhana tersebut sebagai tempat ibadah bagi para pedagang dari berbagai suku bangsa yang bertemu dan bertransaksi disana. Selain untuk beribadah, awalnya masjid ini juga menjadi tempat berbagi ilmu Wali Songo atau antara Wali Songo, terutama Sunan Gunung Jati, dengan Pangeran Panjunan. Gaya bangunannya sendiri merupakan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Dan juga turut dipengaruhi oleh gaya Jawa dan Cina.

Pagar Kutaosod yang mengelilingi masjid ini dan terbuat dari susunan bata merah merupakan hasil pembangunan tahun 1949 oleh panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunung Jati) berikut pembuatan pintu masuk di bangun sepasang candi bentar dan pintu panel Jati Berukir. Pada tahun 1978 masyarakat setempat membangun menara di halaman depan sebelah selatan sementara candi bentar dan pintu panel dibongkar. Renovasi terahir dilakukan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi Jawa Barat yang melakukan penggantian atap sirap tahun 2001-2002.

MENARA YANG HILANG. foto bawah memperlihatkan Masjid Merah Panjunan dengan menaranya yang dibangun tahun 1978, namun belakangan menara ini lenyap. Sejauh ini kami belum menemukan keterangan tentang raib nya menara tersebut.

Hanya saja tidak jelas kapan bangunan menara di depan masjid ini dibongkar. Bentuk menara tersebut hanya dapat dinikmati di situs suara Cirebon terbitan 7 September 2012. Semula masjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, tetapi selanjutnya diserahkan kepada DKM Panjunan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001, Masjid Merah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

Arsitektural Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan termasuk bangunan ukuran kecil dengan jarak antara lantai dan atap yang rendah seperti rumah-rumah tua di Jawa. Bangunan utamanya berukuran 25 x 25 m memiliki halaman yang sangat sempit. Lantai keramik berwarna merah marun, Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok dan tak lazim sebagai bangunan masjid, batu bata sangat lumrah dipakai untuk membuat candi.

INTERIOR. Bagian dalam masjid Merah Panjunan ini memang di dominasi oleh warna merah pada tembok kelilingnya yang tidak menutup hingga ke atap. Pola yang serupa juga dapat ditemui di Masjid Agung Sang Ciptarasa di wilayah Kraton Kasepuhan.

Masjid Merah disokong 17 tiang penyangga yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Empat dari 17 tiang penyangga itu ada empat sokoguru yang merupakan penyangga utama sebagai simbol empat imam dalam hukum atau syariat Islam. Mereka adalah Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi'i, dan Imam Hanafi.

Ujung setiap tiang penyokong itu berbentuk bintang dengan delapan bunga. Hal itu membuktikan adanya pengaruh arsitektur Arab pada masjid itu. Bintang itu melambangkan delapan lafal selawat yang diajarkan Rasulullah.

KERAMIK CINA. Beberapa sumber menyatakan bahwa keramik keramik yang ada di Masjid Merah Panjunan ini merupakan keramik dari Cina yang merupakan hadiah dari kaisar Cina. Sedangkan beberapa keramik lainnya merupakan keramik dari kerajaan Belanda.

Hiasan piring keramik menempel pada dinding bagian dalam masjid baik bagian kiri, sisi kanan, maupun bagian depan. Konon, piring-piring keramik itu berasal dari Cina. Selain menandakan hubungan Kerajaan Cirebon dengan Cina pada masa lalu, itu menyimbolkan bahwa ajaran Islam tidak hanya berkembang di tanah air.

Meskipun bentuk dan tinggi pagar sama, hiasan pada dinding pagar ini beda motif. Dinding kanan pintu masuk Masjid Merah dihiasi motif batik, sedangkan dinding pagar kiri polos tanpa hiasan. Dinding itu memang sengaja dibangun demikian dan memiliki makna khusus.

PEMBAURAN YANG SEMPURNA. Sepeti halnya masjid Agung Sang Ciptarasa, di Masjid Merah Panjunan inipun watak pembauran dalam arsitekturalnya sangat terasa. Pembauran tradisi Islam, Jawa, Cina dan Eropa berbaur jadi satu menghasilkan bangunan masjid tua yang sangat menarik dan menjadi simbol keberhasilan Islam menyelaraskan tradisi dengan syar'i.

"Di luar orang boleh berbeda, tetapi ketika memasuki ke masjid, semua orang satu tujuan. Di dalam masjid, setiap orang harus berhati bersih dan punya satu tujuan yang sama untuk menghadap Allah,"  Filosofi itu pun mewakili perbedaan karakter Wali Songo (sembilan wali). Namun, mereka toh tetap bersatu, berkumpul, dan berdiskusi tentang ajaran Islam.

Dinding masjid masih dipertahankan agar tetap tampak warna asli, merah tanah liat. dinding pagar dan dinding masjid merah tanah liat masjid selalu dipertahankan karena dua alasan. Pertama, merah liat itu melambangkan keberanian Pangeran Panjunan serta Wali Songo untuk mengambil keputusan.

MAKAM SANG PANGERAN. Masjid Merah Panjunan ini juga menjadi tempat bermakamnya Pangeran Panjunan, maka lengkaplah sudah nama Panjunan sebagai nama Desa, nama profesi, yang juga menjadi gelar bagi Sang Pangeran.

Selain itu, merah liat sebagai ciri khas dari masjid tersebut, sehingga disebut Masjid Merah. Dari beranda masjid, ada satu pintu utama dengan ukuran kecil, hal itu mengingatkan agar orang yang masuk ke masjid menanggalkan kesombongnya dan dengan rendah hati menghadap Allah. Hal itu dipertegas dengan adanya tulisan kalimat Syahadat yang digantung sebelum pintu itu. Namun, tulisan itu baru menjadi tambahan sekitar 1980-an.

Meskipun masjid ini difungsikan hanya untuk tempat shalat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah shalat Jumat. Namun pada saat bulan suci Ramadhan tiba, masjid ini banyak dikunjungi para peziarah. Selain itu, menu kopi arab dan makanan ringan khas Cirebon dan Arab menjadi suguhan wajib saat waktu berbuka tiba.

Referensi

jabar.tribunnews.com - Masjid Warisan Pangeran Panjunan dengan 17 Tiang Penyangga

anyerpanarukan.blogspot.com – masjid merahpanjunan

disparbud.jabarprov.go.id - Masjid Merah Panjunan

suara Cirebon - mengenal masjid panjunan atau masjid merah

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Monday, October 19, 2020

Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon

::: terlihat sepi pada hari biasa, tetapi Langgar Agung ini sahih sahih dopadati jem'ah sampai ke jalanan di 2 sholat hari raya & di perayaan maulid nabi :::

Langgar Agung atau kadang diklaim Masjid Langgar Agung merupakan mushola tua yg berada pada pada komplek keraton Kasepuhan Cirebon. Kata Langgar adalah sama menggunakan surau atau mushola. Disebut & difungsikan menjadi Langgar lantaran memang tak jauh menurut lokasi nya, berdiri megah Masjid Agung Sang Ciptarasa yg merupakan masjid resmi kesultanan Cirebon, dan pada pada komplek keraton ini juga terdapat Langgar Alit dengan berukuran yg jauh lebih mini .

Ada beberapa tradisi yang sangat unik dari Langgar Agung ini yang permanen dilestarikan oleh keluarga keraton Kasepuhan Cirebon. Diantaranya yg paling menyedot perhatian warga luas adalah perhelatan Panjang Jimat oleh Keraton Kasepuhan yang program puncaknya digelar pada Langgar Agung ini.

Lokasi Langgar Agung

Untuk menuju ke Langgar Agung, tentu saja harus menuju ke Keraton Kasepuhan Cirebon, salah satu menurut tiga Keraton di Kota Cirebon yg dalam awalnya merupakan satu Kesultanan yakni Kesultanan Cirebon sebelum lalu terbagi menjadi 3 Keraton yaitu Keraton Kasepuhan dengan Sultan Sepuh menjadi penguasanya, Lalu Keraton Kanoman dengan Sultan Anom-nya & Keraton Kacirbonan.

Dari arah gerbang paling depan yang menghadap ke Alun Alun Keraton Kasepuhan, Langgar Agung berada pada page ke 2 yang berada diatara gerbang pertama & kedua (Regol Pengada), dua gerbang yg sama sama berbentuk paduraksa beratap genteng. Hanya sedikit perbedaan pada ornamen atap dan rona-nya.

Gerbang paduraksa kedua (Regol Pengada) berukuran 5 x 6,5m dibangun memakai batu & daun pintunya menurut kayu. Adalah gerbang masuk ke page keraton Kasepuhan. Dari gerbang peduraksa pertama Langgar Agung terdapat di sebelah kanan (sisi barat).

Langgar Agung Keraton Kasepuhan

Kompek Keraton Kasepuhan Cirebon

Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan

Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.

Koordinat Geografi :  6°43'36.66"S 108°34'13.89"E

View Langgar Agung Keraton Kasepuhan in a larger map

Sejarah Pembangunan Langgar Agung

Sejauh ini kami belum menemukan literatur yang secara kentara mengungkapkan kapan & sang siapa Langgar ini dibangun. Hanya saja, menjadi sebuah kerajaan Islam, pembangunan komplek keraton umumnya berbarengan menggunakan pembangunan sebuah masjid atau mushola atau setidaknya pembangunan antara gedung keraton & mushola / masjidnya tidak terpaut jauh.

Keraton Kasepuhan pada awalnya dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi II menggunakan nama Keraton Pakungwati atau Dalem Agung Pakungwati pada tahun 1452. Nama tadi dinisbatkan pada putri tunggal dia yg bernama Putri Pakungwati. Sebagai pusat pemerintahan Cirebon yang kala itu masih merupakan wilayah bawahan kerajaan Padjajaran.

Dikemudian hari putri Pakungwati dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan keponakannya yg tak lain merupakan Syarif Hidayatullah yang dikemudian hari menjadi Sultan Pertama di Kesultanan Cirebon. Keraton tersebut diperluas kurang lebih tahun 1479. Bangunan asli Keraton Pakungwati sendiri kini telah tidak ada lagi.

Lokasinya kini ditandai dengan 3 bangunan petilasan, yakni petilasan Sunan Gunung Jati, Petilasan Pangeran Cakrabuana & petilasan Walisongo. Ketiga petilasan tadi dilingkupi dengan pagar tembok menurut susunan bata merah menggunakan gerbang berpintu kayu berukir. Di pada komplek petilasan ini masih ada sumur Kejayaan.

Sedangkan bangunan keraton yang sekarang berdiri dibangun sehabis wafatnya Sunan Gunung Jati dan posisi dia digantikan sang cicitnya yg bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin, bergelar Panembahan Pakungwati I. Pada tahun 1529 beliau menciptakan keraton baru di sebelah barat daya keraton lama . Kemungkinan akbar Langgar Agung dibangun bersamaan menggunakan pembangunan tersebut.

Tradisi Mauludan

Sekali pada setahun, Langgar Agung Keraton Kasepuhan menjadi pusat peringatan Maulid Nabi yg diselenggarakan setiap tahun pada Keraton Kasepuhan. Tradisi Mauludan di kota Cirebon atau lebih dikenal menggunakan nama tradisi Panjang Jimat adalah tradisi yang diselenggarakan sang tiga Keraton di kota Cirebon, baik di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman & Keraton Kacirbonan.

Panjang Jimat merupakan serangkaian ritual panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Yg dimulai menggunakan pencucian benda benda pusaka keraton yg akan dipergunakan dalam prosesi Maulid Nabi, hingga ke program puncaknya berupa iring iringan benda benda pusaka tadi menurut keraton Kasepuhan menuju ke Langgar Agung buat pelaksanaan program puncak peringatan Maulid Nabi yg dipimpin sang imam Masjid Agung Sang Ciptarasa.

Sultan Kasepuhan Cirebon Salat Id Dua Kali

Selain tradisi Mauludan, yang tidak kalah menarik tradisi pada Langgar Agung ini merupakan tatkala Sultan Sepuh, penguasa Keraton Kasepuhan melaksanakan Sholat Idul Fitri & Idul Adha dua kali. Sholat Id pertama dilaksanakan pada Langgar Agung ini beserta menggunakan seluruh kerabat keraton kemudian kemudian dilanjutkan dengan Sholat Id kedua di Masjid Agung Sang Ciptarasa. Sultan dijemput oleh Imam Masjid ke keraton untuk kemudian berjalan kaki menuju ke Langgar Agung diiringi sang para kerabat.

Salah satu berdasarkan abdi dalem yg mengiringi keluarga Sultan membawa sebuah dupa yg menyala buat menebarkan aroma wewangian sejak berdasarkan keraton hingga masuk ke dalam Langgar Agung. Di pada Langgar Agung Sultan melaksanakan sholat membaur menggunakan semua kerabat dan rakyat pada lingkungan keraton, nir pada pada maksurah atau Krapyak seperti pada Masjid Agung Sang Ciptarasa.

Tradisi unik lainnya pada Langgar Agung ini adalah, khutbahnya disampaikan dalam bahasa Aeab, tradisi yang sama pula dilaksanakan pada Masjid Agung Sang Ciptarasa. Khutbah berbahasa Arab ini sudah dilaksanakan semenjak masa Sunan Gunung Jati menggunakan tujuan buat memotivasi jemaah buat belajar bahasa Arab.

Selesai melaksanakan sholat Id di Langgar Agung ini, Sultan sepuh dan keluarga akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lebih kurang 100 meter menuju ke Masjid Agung Sang Ciptarasa buat melaksanakan sholat Id beserta masyarakat umum pada masjid Kesultanan tadi.

Sepulang berdasarkan Masjid Agung Sang Ciptarasa, Sultan famili balik ke keraton dengan berjalan kaki dan disambut dengan tetabuhan gamelan sekaten pada pendopo keraton, disana Sultan akan singgah sejenak melepas lelah sembari menikmati irama gamelan sekaten yang hanya dimainkan 2 kali pada setahun yakni ketika Idul Fitri & peringatan Maulid Nabi.

Arstitektural Langgar Agung

Bangunan Langgar Agung mempunyai bangunan utama menggunakan ukuran 6 x 6 m. Teras 8 x 2, lima m. Denah bangunannya berbentuk ?T? Terbalik Karena teras depan lebih besar berdasarkan bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu 1/2 berdasarkan permukaan lantai, kemudian 1/2 permukaan diberi kisi-kisi kayu. Dinding bangunan primer merupakan dinding tembok. Mihrab berbentuk melengkung ukuran lima x tiga x 3 m. Di dalam mihrab tersebut terdapat mimbar terbuat menurut kayu berukuran 0,90x 0,70x2 m.

Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang 2 menggunakan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Langgar Agung ini mempunyai laman dengan berukuran 37 x 17 m. Langgar ini berfungsi menjadi loka ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar Agung dilengkapi jua menggunakan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke timur ini berdenah bujursangkar ukuran 4 x 4 m yang pada dalamnya masih ada bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, epilog atap didukung 4 tiang utama dan lima tiang pendukung.

::: Sultan Arif, Sedang menikmati alunan musik gamelan sekaten setelah menunaikan sholat Idul Fitri di Masjid Agung Sang Ciptarasa, dalam rangkaian sholat Idul Ftri dua kali yang diselenggarakan beliau bersama keluarga, setelah sebelumnya melaksanakan sholat Idul Fitri di Langgar Agung. :::
Referensi

disparbud.jabarprov.go.id - Keraton Kasepuhan

tugaskab.blogspot.com- ngelirik keraton di Cirebon

liputan6.com – sultan kasepuhan cirebon salay id dua kali

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian tiga)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 4)

Masjid Merah Panjunan - Cirebon

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done