Islami Pedia: Masjid di Amerika Utara
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Amerika Utara. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Amerika Utara. Show all posts

Friday, October 9, 2020

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian kedua)

Peresmian IMAAM Center oleh Presiden SBY

Penantian 20 Tahun

Kisah berubah tatkala terpampang iklan pada sebuah media online yg menyebut soal planning penjualan gereja tua pada daerah Georgia Avenue, Silver Spring, MD, Maryland. Iklan itu ditayangkan oleh pengurus gereja yang mengaku terpaksa menjual gedung itu karena tidak terdapat lagi kegiatan ibadah pada sana. Sejak lima tahun terakhir, gereja itu dibiarkan kosong melompong karena sebagian akbar jemaahnya sekarang menganut atheis. Sehingga gereja itu tak lagi digunakan buat aktivitas ibadah.

Ukuran gereja itu relatif besar . Luas gedungnya saja mencapai tiga.520 m persegi, menggunakan luas tanahnya mencapai 15.625 m persegi. Kapasitas ruangan di pada sanggup menampung sekitar 350 orang. Lapangan parkirnya pula cukup luas, bisa menampung lebih berdasarkan 100 mobil. Harga jualnya US$3 juta atau lebih kurang Rp 33 miliar, dengan kurs kurang lebih Rp 11.000 perdolar. Gedung yg dibangun tahun 1955 itu, berada di tengah kota Maryland. Merujuk pada izinnya, gedung itu hanya spesifik buat aktivitas rumah ibadah. Pihak gereja sebenarnya telah usang ingin menjual gedung itu, tapi nir laku karena biar penggunaannya nir mampu digunakan selain buat ibadah.

Lantai 2 IMAAM Center yang adalah ruang utama masjid.

Ini yang menciptakan pengurus IMAAM tertarik buat membelinya. Apabila gedung itu sanggup dibeli, maka tidak perlu lagi memohon izin pendirian rumah ibadah menurut pemerintah setempat karena sejak awal peruntukannya memang buat rumah ibadah. Namun masalahnya, darimana pengurus IMAAM sanggup menerima dana $3 juta? Kalaupun dua unit gedung yang ditempati IMAAM Center dijual, diperkirakan harganya $1 juta. Itu berarti masih kurang lebih kurang $2 juta lagi. Jelas ini bukan jumlah yg mini . Butuh bisnis ekstra buat menambal kekurangannya.

Bantuan Pemerintah Indonesia

Sampai akhirnya muncullah pandangan baru menurut pengurus IMAAM buat menyampaikan kasus ini dengan Dino Pati Djalal yg ketika itu menjabat menjadi Duta Besar Indonesia buat Amerika. Dino yg menyambut baik pandangan baru itu lalu mengungkapkan berita ini eksklusif ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Gayung bersambut, SBY rupanya sangat tertarik dengan ide itu. Ia pun pribadi membahas kasus ini menggunakan DPR. Kebetulan waktu itu masih ada sisa aturan $5 juta yang belum terpakai. Tak butuh ketika lama bagi DPR & pemerintah buat menyepakati pemberian hibah $3 juta untuk IMAAM menjadi modal buat membeli gereja pada Amerika itu. Sedangkan sisanya yg $2 juta digunakan buat membangun gedung mahasiswa Indonesia pada Mesir.

Presiden SBY memimpin sholat berjamaah selesainya pelantikan masjid IMAAM Center

12 Juni 2014 IMAAM resmi mengambil alih First Baptist Church Montgomery Maryland buat dijadikan sebagai masjid. Upaya renovasi langsung dilakukan secara sedikit demi sedikit. Kursi panjang yang biasa dipakai buat beribadah pada gereja dibongkar dan digantikan dengan karpet menurut Arab. Para Muslim Amerika beramai-ramai urun rembuk dan mengumpulkan dana buat renovasi gedung tersebut. Berbagai aktivitas syiar Islam mulai aktif dilakukan di dalamnya. Beberapa tokoh Islam di Washington diundang buat menaruh ceramah agama di sana.

Awal September 2014, suasana di dalam gedung itu terlihat sangat asri. Selain papan nama yg tengah dihapus, di bagian luar tak ada indikasi-pertanda lagi yang memberitahuakn bangunan itu adalah bekas gereja. Di bagian pada, hanya ada pentas di bagian depan yg biasa digunakan rahib atau penyanyi koor gereja buat tampil di depan jamaahnya. Dekorasi itu memang agak unik buat dihadirkan di dalam masjid. Tapi pengurus IMAAM berencana akan mengubahnya secara sedikit demi sedikit sebagai akibatnya nantinya desain khas masjid itu bernuansa Indonesia.

Diresmikan sang Presiden SBY

Sesuai dengan rencana, IMAAM Center diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Jum’at 25 September 2014 pukul 12.30 waktu setempat. Acara peresmian berlangsung di lantai bawah, hadir dalam acara ini Utusan Khusus Komunitas Muslim Kemlu AS Sharif Gaffar, para tokoh muslim setempat, dan anggota komunitas muslim Indonesia. Seusai peresmian, para undangan menunaikan salat Jumat berjamaah bersama denganPresiden SBY dan rombongan dari Jakarta.

Dalam pidatonya, Presiden SBY ‎mengaku sangat bersyukur dan bahagia setelah mendengar sambutan Presiden IMAAM Center Aris Mustofa dan Sharif Gaffar. “Hati kita teduh dan damai, ingin menjalin kerjasama dan kebersamaan untuk membuat dunia adil dan sejahtera,” Menurut Presiden SBY, Masjid tersebut diharapkan menjadi duta umat muslim di Indonesia yang ingin bersahabat dengan bangsa manapun. “Kami akan menjadi agent of peace, kami akan tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin,” ujar SBY. Kunjungan Presiden SBY ke Amerika Serikat adalah bagian dari lawatan Presiden Indonesia ke tiga negara, yaitu Portugal, Amerika Serikat dan Jepang dari tanggal 17 September hingga 30 September 2014.

Presiden Joko Widodo saat menunaikan sholat tahiyatul masjid di IMAAM Center

Dikunjungi Presiden Jokowi

Hari selasa 27 Oktober 2015 pukul 15:20 waktu setempat atau hari Rabu 28 Oktober 2015 Pukul 14:20 Waktu Indonesia Bagian Barat, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri berkunjung ke Masjid IMAAM Center ini dalam perjalanan dinasnya ke Amerika Serikat. Selama kunjungan singkat tersebut presiden Jokowi langsung menuju ke lantai dasar masjid yang merupakan area untuk keperluan umum, disambut oleh para pengurus masjid yang sudah menunggu kemudian berkunjung ke perpustakaan masjid.

Presiden Jokowi kemudian menuju ke area sholat di lantai dua masjid, namun karena waktu asyar belum tiba, maka beliau menunaikan sholat sunah tahiyatul masjid, setelah itu presiden menyempatkan diri berfoto bersama dengan jemaah warga Indonesia yang ada disana termasuk memenuhi permintaan beberapa warga Indonesia yang meminta ber-selfie bersama beliau. Presiden berangkat meninggalkan IMAAM Center pada pukul 15:45 waktu setempat menuju ke the Blair House, tempat beliau menginap selama kunjungan kerja di Amerika Serikat. ***

Kembali ke Bagian Pertama

Referensi

dream.co.id – muslim indonesia beli gereja amerika untuk dijadikan masjid

bubblews.com - indonesian Muslims to cite this Buy American Church Mosque

atjehpost.co - Muslim-Indonesia-di-Amerika-Mengubah-Gereja-Menjadi-Masjid

aktualita.co - presiden-sby-resmikan-masjid-imaam-centre-di-amerika-serikat/

muslimlinkpaper.com - IMAAM Center Realizes 20 Year Old Dream

antara.com – Jokowi sholat tahiyatul masjid di imaam center

setkab.go.id - before-return-to-homeland-president-jokowi-visits-imaam-mosque

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia pada Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian pertama)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (Bagian Pertama)

TIDAK MIRIP MASJID. Bangunan masjid IMAAM Center ini sama sekali nir seperti dengan bangunan masjid seperti yang biasa kita kenal. Karena memang sebelumnya adalah sebuah Gereja bergaya Amerika dengan empat pilar akbar pada depan nya mirip dengan bangunan gedung putih, Istana Presiden Amerika.

Bekas gereja yang sebagai masjid muslim Indonesia pada Amerika

IMAAM Center adalah masjid komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Masjid ini menjadi masjid kedua yang dimiliki dan dikelola oleh muslim Indonesia setelah Masjid Al-Hikmah di New York City. IMAAM Center berada di Georgia Avenue, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, tak jauh dari Washington DC, Ibukota Amerika Serikat. IMAAM Center dibangun diatas tanah seluas 1,15 hektar ini beralamatkan di 9100 Georgia Ave, Silver Spring, Washington, DC. Lokasi masjid ini cukup strategis, karena berada di perbatasan Washington DC dengan Maryland.

Sebelum dibeli pada lepas 12 Juni 2014, bangunan 2 lantai berbatu bata merah ini merupakan gereja First Baptist Church Montgomery Maryland yg sudah 5 tahun nir dipakai lantaran sebagian besar jemaahnya beralih menganut atheis & lalu dibeli oleh komunitas Muslim Indonesia buat dijadikan menjadi masjid. Gereja tersebut dibangun tahun 1955 dengan biar resmi dari pemerintah hanya buat digunakan sebagai tempat peribadatan. Itu sebabnya pengurus gereja kesulitan buat menjual bangunan tersebut buat keperluan lain, tetapi justru hal tersebut yg sebagai nilai tambah bagi muslim Indonesia disana lantaran menggunakan membeli gedung gereja tersebut nir perlu lagi mengurus izin buat membentuk tempat ibadah.

Imaam Center

Address: 9100 Georgia Avenue, Silver Spring, MD 20910

Phone: 240-233-6967

Website : http://www.imaamcenter.org

Facebook : IMAAM Center

Telepon: 1 301-588-0693

Tentang IMAAM

IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) atau Komunitas Muslim Indonesia di Amerika Serikat. Awalnya dibentuk oleh beberapa belas muslim Indonesia yang tinggal di kawasan Washington DC dan sekitarnya yang memiliki perhatian terhadap pentingnya keseimbangan hubungan horizontal dan vertikal bagi generasi mendatang, maka pada tanggal 21 Desember 1993 dibentuklah IMAAM dan didaftarkan sebagai organisasi nirlaba keagamaan di negara bagian Maryland.  Organisasi ini aktif menggelar kegiatan keagamaan, termasuk berupaya mendirikan masjid di Washington DC.

Kepengurusan IMAAM dipilih secara periodik setiap tiga tahun dalam sidang generik tahunan. Ada sembilan pengurus primer IMAAM yang terdiri menurut;

  1. Bpk. Firdaus Kadir, Chairman of the Board, 2015-2018.
  2. Bpk. Amang Sukasih, President, 2015-2018
  3. Bpk. Bambang Achiruddin, Vice President, 2013-2016
  4. Bpk. Varga Syahroni, Secretary, 2013-2016
  5. Ibu. Waty Yirka, Treasurer, 2015-2018
  6. Bpk. Syafrin Murdas, Regular Trustee, 2014-2017
  7. Bpk. Arif Mustofa, Regular Trustee, 2013-2016
  8. Ibu. Nurul Fathiyah, Regular Trustee, 2014-2017
  9. Bpk. Andri Antoni, Regular Trustee, 2014-2017

GEREJA TAK TERPAKAI. Begini bentuk aslinya bangunan masjid IMAAM Center ketika muncul di situs iklan penjualan properti, sebelum lalu dibeli & pada alih fungsi sebagai masjid oleh IMAAM Center.

Perjalanan Panjang Masjid Imam Center

Impian memiliki masjid sendiri pada Amerika menjadi tempat berkumpul beserta bagi muslim Indonesia bukanlah perkara gampang. Selain terkendala dengan masalah dana yang tidak sedikit buat membeli properti disana, tetapi pula perkara perizinan yg memang nir gampang diperoleh. Upaya IMAAM buat mendirikan masjid nyaris terwujud pada 1995. Kala itu, organisasi yg sekarang beranggotakan sekitar 2000 orang ini bisa membeli dua unit tempat tinggal pada daerah Veirs Mill Rd, Rockville, Maryland.

Rumah itulah yg hendak dijadikan masjid, namun rencana itu mendapat protes dari warga setempat. Apa boleh buat, keinginan mendirikan masjid bernuansa Indonesia di Amerika terpaksa ditunda. Jika ke 2 rumah itu bisa difungsikan menjadi masjid kala itu, maka warga Muslim Indonesia yg tinggal di Amerika lebih menyatu & kompak, sehingga memudahan buat melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Namun virtual itu belum berhasil lantaran kendala menurut warga setempat. Pemerintah Maryland pula tidak memberi biar jikalau rakyat lebih kurang masih menolak.

Akibat penolakan itu, dua gedung yang dibeli di kawasan Rockville hanya bisa dijadikan sebagai IMAAM Center. Tidak ada aktivitas ibadah di sana. Sementara untuk salat atau kegiatan ibadah lainnya, warga Muslim Indonesia harus menyebar di sejumlah masjid yang ada di Washington dan sekitarnya. Masalah perizinan ini bahkan pernah dikemukakan oleh Imam Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Musthafa Ya'qub langsung kepada Presiden Barack Obama saat kunjungannya ke Masjid Istiqlal pada 10 Nopember 2010.

Bersambung ke Bagian Kedua

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia pada Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Sunday, September 13, 2020

Masjid Al-Rashid Edmunton, Masjid Pertama di Kanada

Masjid Al-Rashid, Canada Islamic Center (foto dari webshot.com)

Masjid Al-Rashid Islamic Center Kanada di Edmunton merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Wilayah Kanada, sekaligus merupakan organisasi Islam terbesar di Edmunton. Bangunan asli Masjid Al-Rashid pertama kali diresmikan pada tahun 1938. Penyelenggaranya adalah wali kota Edmunton John Wesley Fry, seorang keturunan Arab-Kristen. Di sanalah sebuah pandangan multi keagamaan Kanada dimulai, ketika wali kota Edmonton hadir dalam acara itu bersama sama dengan masyarakat dari beragam agama. Peresmian masjid tersebut turut dihadiri oleh Yusuf Ali, seorang sarjana Muslim Lebanon yang terkenal sebagai penerjemah Al-Quran yang paling banyak digunakan dalam bahasa Inggris.

Di tahun 1982 bangunan baru Masjid Al-Rashid selesai dibangun buat menggantikan fungsi masjid usang Al-Rashid yg telah terlampau kecil untuk menampung kegiatan jemaah yang kala itu jumlahnya telah membengkak berkali lipat. Dan pada tahun 1991 bangunan asli Masjid Al-Rashid dipindahkan menurut lokasi aslinya ke lokasinya kini pada dalam Fort Edmunton Historical Park tahun 1991 dan terselesaikan direstorasi tahun 1992. Bangunan orisinil masjid Al-Rashid itu kini berdiri megah bersama sama dengan berbagai bangunan bersejarah Edmunton lainnya yang sengaja di relokasi ke taman sejarah tadi sebagai warisan sejarah Kanada.

Lama & Baru ::: sebelah kiri merupakan bangunan asli Masjid Al-Rashid, sekarang di konservasi di Taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park), sedangkan disebelah kanan merupakan Bangunan Masjid Al-Rashid yang kini berdiri megah menggantikan masjid lama .

Bangunan baru masjid Al-Rashid yang kini berdiri sama sekali tidak selaras menggunakan bangunan masjid Ar-Rashid sebelumnya. Dibangun menggunakan arsitektural masjid Universal, sebuah bangunan masjid yg biasa kita kenal lengkap dengan kubah akbar & sebuah menara tinggi terpisah berdasarkan bangunan utama serta ditopang menggunakan berbagai fasilitas pendukungnya menjadi sebuah Islamic Center. Sedangkan bangunan orisinil Masjid Al-Rashid lebih seperti sebuah Gereja dibandingkan sebuah masjid.

Alamat dan Lokasi Masjid Ar-Rashid

Canadian Islamic Centre (Al-Rashid)

13070 ? 113 Street, Edmonton, Alberta T5E 5A8, Canada

Tel: (780) 451-6694

Fax: (780) 452-1243

Situs resmi : http://alrashidmosque.ca/

Email: info@alrashidmosque.ca

Koordinat geografi : 53?30?N 113?34?W

View Larger Map

Mengingat bahwa masjid Al-Rashid merupakan masjid pertama pada Kanada & daerah Amerika Utara, terdapat baiknya kita sedikit mengenal tentang sejarah masuknya Islam ke Kanada buat memberikan gambaran komprehensif mengenai Masjid Al-Rashid, Komunitas muslim Kanada dan sejarah & latar belakangnya. Lantaran sejarah sebuah masjid tidak lepas menurut sejarah komunitas muslim tempatnya berdiri.

Masuknya Islam Ke Kanada

Sejarah Masjid Al-Rashid nir saja mengukir sejarah menjadi masjid pertama di Kanada dan Kawasan Amerika Utara tapi juga mengukir sejarah perjuangan muslimah Kanada. Sejak pembangunan pada tahun 1938 sampai ke masa preservasi bangunan bersejarah tersebut pada tahun 1992, Masjid Al-Rashid sudah sebagai asal pujian komunitas muslim kanada sebagai sebuah tempat dimana sebuah tradisi pantas untuk dijaga dan dirayakan. Semuanya bermula menurut imigran Arab pertama ke Kanada di tahun 1882.

Dulu & Sekarang ::: foto sebelah kiri adalah bangunan Masjid Al-Rashid sekitar tahun 1938 dilokasi aslinya. Foto sebelah kanan, bangunan masjid yang sama selesainya pada relokasi ke Taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park)

Sebagian akbar berdasarkan imigran arab tadi dari berdasarkan Suriah, dan kebanyakan berdasarkan mereka merupakan anak anak muda yg menghindar menurut wajib militer di era kekuasaan Emperium Usmaniah (Otoman Empire) yg berpusat di Istambul, Turki. Rata rata mereka adalah warga Kristen, dan hanya sebagian kecil saja yang beragama Islam, sebagian besar lalu menetap pada tempat timur Kanada tetapi lalu beberapa pindah ke daerah barat. Mereka bekerja sebagai pedagang keliling & sebagian lagi bahkan mencapai wilayah paling ujung tempat barat yang kemudian dikenal menjadi kawasan Canada's western frontier.

Sejarawaran Gilbert Johnson menyebut para pedagang keliling imigran Suriah ini sebagai sesuatu yang paling dominan di kawasan pemukiman paling barat Kanada kala itu. Pedagang keliling yang benar benar berkeliling berjalan kaki memanggul barang dagangannya di pundak dan beberapa dagangan kecil ditenteng di tangan kiri dan kanannya. Tapi kebanyakan mereka menggunakan kuda dan kereta kecil di musim panas atau dengan kereta luncur di musim dingin. Mereka berkelanan melintasi padang rumput di  rute yang selalu sama.

Selembar foto lama suasana sholat berjamaah di pada masjid lama Al-Rashid

(foto dari omnibc.ca)

Di penghujung 1920-an keluarga muslim tersebar pada aneka macam loka pada Alberta, Edmunton. Mencari nafkah menjadi pedagang sampai pedagang toko. Jumlah muslim yang tidak terlalu banyak pada kota itu membuat mereka saling mengenal dengan baik satu dengan yang lainnya. Sensus penduduk pada tahun 1931 tercatat 645 muslim diantara 10,070 warga arab-Kanada. Sebagian akbar berdasarkan mereka menetap pada propinsi daerah barat pada Ontario dan Quebec.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Rashid

Hasil perjuangan Muslimah Kanada

Pendiri Dewan Muslimah Kanada tahun 1982, Lila Fahlman menceritakan tentang sejarah Masjid Al-Rashid. Di awal tahun 1930-an beliau masih belia, ketika keluarga muslim saat itu memperbincangkan tentang pembangunan masjid pertama disana, muncullah Hilwi Hamdon, seorang muslimah yang berkepribadian begitu menarik dan diterima di kalangan manapun. Hilwi Hamdon bersama temannya yang kemudian melobi walikota Alberta, John Wesley Fry untuk mendapatkan sebidang lahan bagi pembangunan masjid untuk muslim kota tersebut. John Wesley Fry adalah seorang keturuan imigran Arab Kristen. John Wesley Fry sempat berujar “kalian tidak punya uang untuk membangun masjid” namun dengan cepat Hilwi Hamdon dan rekannya menjawab “kami akan dapatkan uangnya”.

Sebuah catatan sejarah dipasang di depan bangunan asli Masjid Al-Rashid di Fort Edmunton Historical Park (foto dari Iqra.ca)

John Wesley Fry setuju untuk menyediakan lahan bagi pembangunan masjid yang diinginkan, apabila kaum muslimin memang memiliki dana yang cukup untuk membangun masjid dimaksud. Kala itu mereka membutuhkan dana setidaknya $5000 dolar, angka yang begitu berat di kondisi depresi yang teramat dalam ketika itu. Penggalangan dana dimulai, mereka mendatangi satu persatu setiap toko di sepanjang ruas jalan Jasper Avenue, ruas jalan utama Edmunton. Tak peduli apakah pemilik toko nya seorang Yahudi, Nasrani atau Muslim. Para muslimah ini meminta mereka untuk memberikan dukungan bagi pembangunan masjid tersebut. dan Alhamdulillah, komunitas kota itu sangat mendukung. Berdirilah Masjid Ar-Rashid yang dibangun dari dana sumbangan tiga pemeluk agama samawi.

Masalah mini ada saat akan mencari arsitek untuk merancang bangunan masjid yang akan dibangun, para pengembang di sana tidak satupun yang mengenal bangunan masjid, jangankan mengenal, mereka bahkan belum pernah melihat misalnya apa gerangan bangunan masjid. Para muslimah tadi pada ahirnya memilih arsitek Kanada-Ukraina bernama Mike Drewoth & berkata padanya ?Kami ingin membangun loka ibadah?. Setelah serangkaian diskusi, Drewoth membuat sebuah rancangan masjid terbaik yg beliau bisa, ?Sebuah bangunan yg lebih seperti Gereja Ortodok Rusia dibandingkan sebuah bangunan masjid yang dikenal secara generik?.

bangunan asli ::: begini bentuk asli bangunan Masjid Al-Rashid (foto dari cafaedmonton.ca)

Bangunan tersebut berupa bangunan memanjang menggunakan pintu utama di keliru satu sisinya lengkap menggunakan tangga, dilengkapi ruang terbuka yang besar pada dalamnya sahih sahih seperti sebuah gereja, tetapi jendelanya dibuat berlengkung & dilengkapi jua dengan dua ruang mini loka berwudhu, ruang basement (bawah tanah) buat aktivitas sosial & dibuatkan dua menara berdenah segi delapan dengan kubah bawang bewarna perak dipasangkan di atasnya lalu dipasang simbol bulan sabit dibagian puncaknya buat menegaskan bahwa bangunan tadi merupakan bangunan masjid bukan gereja. Meski dibangun sangat seperti dengan sebuah gereja konservatif, komunitas muslim setempat sangat bangga menggunakan masjid pertama mereka & dengan sangat antusias menyumbangkan lampu lampu gantung dan karpet.

Peresmian Masjid Al-Rashid

Pembangunan masjid tadi sudah selesai dilaksanakan pada bulan November 1938, sebuah upacara pemakaman bagi Ali Tarrabain, yg pada sholatkan pada masjid yg baru saja terselesaikan dibangun itu sebagai sholat jenazah yg pertama kali diselenggarakan di masjid Al-Rashid, justru dalam waktu masjid tadi baru saja selesai dibangun dan bahkan belum diresmikan penggunaannya. Peresmian masjid ini baru diselenggarakan sebulan kemudian.

Bangunan baru Masjid Al-Rashid Edmunton (foto dari alrashidmosque.ca)

Pada tanggal 12 Desember 1938 Masjid Al-Rashid secara resmi dibuka oleh Walikota Edmunton John Wesley Fry dan I.F Shaker, yang juga seorang Kristen Arab, walikota Hanna, Alberta. Diantara para tamu undangan turut hadir seorang penterjemah Al-Qur’an dari Pakistan bernama Abdullah Yusud Ali. Sebuah upacara peresmian masjid yang benar benar tak biasa, merefleksikan keberagaman di Kanada. Mengutip sambutan yang disampaikan oleh John Wesley Fry saat peresmian masjid tersebut, beliau mengatakan “sangat penting bahwa berbagai kalangan dari berbagai agama duduk bersama dengan sangat bersahabat satu dengan lain-nya”

Lebih berdasarkan tiga dasa warsa, masjid mini tadi sebagai sentra aktivitas komunitas muslim setempat, termasuk seremoni pernikahan, pemakaman, dua hari raya (Idul Fitri & Idul Adha) dilaksanakan pada ruang utamanya. Ruang basement nya digunakan sebagai sentra kegiatan sosial komunitas arab disana dari berbagai latar belakang agama. Ruang tempat bertemunya komonitas setempat pada berbagai kegiatan komunal.

Sisi Depan Masjid Al-Rashid yang baru ::: jauh lebih besar dan megah serta lengkap dengan sarana pendukungnya sebagai sebuah Islamic Center (foto dariwaymarking.com).

Setiap masjid memang menyimpan ceritanya sendiri, seperti halnya masjid kecil Al-Rashid ini. Pada awal penggunaannya jemaah muslimah melaksanakan sholat pada shaf paling belakang tanpa penyekat, hingga suatu hari dipasang penyekat berdasarkan tirai bewarna hijau membagi ruangan sholat sebagai dua bagian. Sempat terjadi perdebatan mini diantara komunitas, ada yang tak ingin menggunakan tirai sementara lain nya menginginkan dipasang tirai, namun ahirnya tirai tersebut permanen ditempatnya.

Konservasi Yang Mengharukan

Paska perang dunia ke 2, imigran arab mulai membanjiri Kanada ::: sekitar 50 ribu di tahun 1946 dan 1975, dengan persentase jumlah muslimnya yang lebih akbar menurut imigran sebelum nya. Di tahun 1980 komunitas muslim pada Edmunton mencapai 16 ribu jiwa, menciptakan masjid Al-Rashid menjadi begitu kecil buat dapat menampung jemaah nya yg benar benar telah membludak. Tiba waktunya buat membentuk masjid baru yang lebih besar . Di tahun 1982 bangunan lama Masjid Al-Rashid ditutup, seluruh kegiatan ke-Islaman yg tadinya dilaksanakan pada Masjid itu dipindahkan ke bangunan Masjid Al-Rashid yang baru yang lebih akbar & lebih lengkap. Lebih berdasarkan sepuluh tahun bangunan masjid lama itu dibiarkan kosong tidak dipakai dan terbengkalai ditempatnya, bersebelahan dengan Rumah Sakit Royal Alexandra Hospital.

ketika pertama kali Masjid Al-Rashid di buka tahun 1938, Muslim di Edmunton tak lebih dari 700 jiwa saja (foto dari wikipedia)

Ketika terjadi booming minyak bumi terjadi pada tahun 1980-an, populasi Edmunton pun melonjak, pada tahun 1988, Rumah Sakit Royal Alexandra berencana memperluas lahan parkirnya. Bangunan lama Masjid Al-Rashid yang terbengkalai terancam akan digusur karena memang sudah sangat usang terbengkalai. Komunitas muslim setempat mulai mempertimbangkan usaha buat menyelamatkan bangunan tua tadi, selesainya lebih menurut 1/2 abad pembangunannya kini bangunan lama Masjid Al-Rashid itu sudah menjadi bangunan bersejarah nir saja bagi muslim Edmunton akan tetapi jua bagi sejarah Kanada.

Masjid Al-Rashid Edmunton ditengah dinginnya musim salju yang membeku (foto dari anewlife.ca)

Penggalangan dana pun dilakukan tetapi dana yg dihasilkan tidak mencukupi. Sampai kemudian Lila Fahlman melakukan pendekatan pada CCMW yang bermarkas di Edmunton dan meminta CCMW buat mengambil langkah langkah penyelamatan terhadap bangunan tua masjid Al-Rashid. Diantara para anggota CCMW masih ada Karen & Evelyn Hamdon yg merupakan cucu dan cucu kemenakan Hilwi Hamdon, sosok muslimah yang dulunya menggalang dana bagi pembangunan masjid Al-Rashid.

Juga terdapat Mahmuda Ali, cucu berdasarkan Mary Saddy, teman dekat dari mendiang Hilwi Hamdon. Pada kesempatan itu Karen Hamdon sempat berujar ?Bangunan usang masjid Al-Rashid memiliki keterikatan emosional yg sangat kuat dengan kita, Paman & Bibi kita menjadi pasangan pertama yg melangsungkan pernikahan pada masjid itu?. Grup muslimah inilah yang lalu meneruskan apa yang sudah dilakukan pendahulunya, menggalang dana buat menyelamatkan bangunan masjid pertama Kanada tersebut.

Kubah dan menara Masjid Al-Rashid dengan putihnya salju yang menempel di permukaannya (foto daricanada.com)

Terkumpul dana sebesar $75 ribu dolar cukup untuk mengangkut bangunan lama Masjid Al-Rashid ke tempat taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park). Upaya para muslimah tersebut menggalang dana, ternyata hanyalah perjuangan awal bagi penyelamatan bangunan itu. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan para petinggi pada kota itu untuk mengizinkan relokasi bangunan masjid ke taman sejarah kota.

Di tahun 1980-an Edmunton tidak lagi mempunyai area padang rumput yang luas seperti era sebelumnya, menjadi tidak mudah untuk menempatkan bangunan masjid tua itu ke taman sejarah menggunakan bijaksana. Berbagai penolakanpun timbul ke bagian atas, para penentang penempatan masjid ke taman kota berpendapat bahwa bangunan masjid tua itu bukanlah gedung bersejarah, tak tanggung tanggung bahkan dalam sebuah Jurnal terbitan Edmunton sempat menyebut ?Fort Edmunton Park sudah dipaksa buat mendapat sebuah infiltrasi Kesejarahan?

Masjid Al-Rashid, Islamic Center Kanada

Namun ahirnya di tahun 1991, setelah tiga tahun menggalang dana & membuat petisi, ahirnya atap bangunan lama Masjid Al-Rashid pun dibuka & bangunan tadi dengan hati hati di angkat ke atas sebuah truk pengangkut yg sangat besar . Dibawah sinar bulan, bangunan masjid tua itu dipindahkan ditengah kesunyian malam kota Edmunton yg tengah terlelap, menuju lokasi barunya. Mahmuda Ali & Karen Hamdon mengikuti truk pengangkut itu berdasarkan belakang dengan kendaraan langsung mereka mengembangkan setermos kopi panas demi mastikan & melihat sendiri bangunan masjid bersejarah itu datang ditujuannya dengan aman.

Hampir setahun lamanya bangunan masjid tersebut berdiri pada taman kota tanpa atap. Menjadi tempat bersarangnya burung burung merpati diantara balok balok bagian atasnya. Sementara itu anggota anggota CCMW berupaya menggalang dana buat melakukan restorasi terhadap bangunan masjid itu yg wajib segera dipugar & diberi atap sebelum ekspresi dominan dingin datang.

Interior bangunan orisinil masjid Al-Rashid, mungil & sederhana. Hanya seukuran sebuah Mushola di kebanyakan kampung di Indonesia

Pada tanggal 28 Mei 1992 proses restorasi selesai dilaksanakan dan bangunan masjid tua tersebut kembali dibuka dalam sebuah upacara yang penuh haru. Para pemimpin kota memberikan penghormatan yang mendalam kepada para muslimah yang dulu telah membangun masjid tersebut dan bagi para muslimah keturunannya yang kemudian menyelamatkan bangunan tersebut dari kehancuran, Pada kesempatan tersebut Soraya Hafez, selaku presiden CCMW berujar “sekarang masjid bersejarah kita ada disini,  Masjid ini seolah berkata bahwa Kita Ada disini".

Lembaga Lembaga Milik Masjid Ar-Rashid

Edmonton Islamic Academy (EIA)

Sebagaimana dijelaskan di www.islamicacademy.ca, EIA dibentuk sebagai sebuah keharusan demi mencetak generasi Islami. Siswa di akademi ini berasal dari berbagai kalangan etnis dan latar belakang budaya. EIA menyelenggarakan pendidikan berbagai tingkatan mulai dari Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar Islam (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga studi bahasa Arab dan Ilmu Islam.

Edmunton Islamic Academi

Islamic Investment Corporation (IIC)

Islamic Investment Corporation (IIC) merupakan perusahaan patungan antara Arabian Muslim Association (51%) dan Islamic Call Society of Libya (49%). Perusahaan yang berkecimpung dibidang estate properti. IIC menjalankan banyak sekali bidang usaha yakni : Al Rashid Apartment (32 suites) berada pada 13016 ? 113 Street, Castle Apartment (17 suites) di lokasi 11309 ? 132 Ave dan 2 bangunan gedung diseberang Masjid.

Al Rashid Youth & Sports Club

Lembaga ini menyediakan sarana bagi kaum muda muslim Edmunton dan Kanada dari berbagai umur dan memfasilitasi aktivitas kaum muda disana dalam berbagai aktivitas positif yang sesuai dengan ajaran Islam melalui berbagai program yang dikelola dengan baik, aktivitas aktivitas tersebut adalah : Sport teams termasuk Sepak Bola. hockey, basketball, volleyball, tenis meja dan lain lain, lalu ada Islamic days, acting, menyanyi, Eid contests dengan mengadakan lomba lomba penulisan puisi, menulis cerita, pidato, menggambar dan sebagainya. Penyelenggaraan berbagai turnamen dan segudang aktivitas kreatif lainnya.

Jemaah di dalam Masjid Al-Rashid Edmunton - Kanada

Salah satu program kepemudaan terbaru di Masjid Al-Rashid yang cukup menarik adalah program yang mereka sebut sebagai Program Cahaya Jum’at Malam (Friday Night Light-FNL) dalam program yang diselenggarakan setiap hari Jum’at antara pukul 6 hingga pukul 9 malam ini, para remaja laki laki muslim yang berumur antara 12 hingga 16 tahun di ajak besama sama dalam acara yang bersuasana religius untuk menanamkan persaudaraan, spiritualitas, rasa hormat serta kebugaran fisik. Layaknya acara untuk remaja, segala urusan menyangkut acara ini juga dapat mereka ikuti perkembangan nya melalui situs jejaring sosial di internet.

Islamic Funeral Society

Islamic funeral services ini adalah layanan penyelenggaraan jenazah yang diselenggarakan di Masjid Al-Rashid, termasuk pemandian, pengkapanan, pemakaman hingga pengurusan administrasinya ke pemerintahan, termasuk pengurusan izin pemakamannya. Masjid juga menyediakan jasa transfortasi dari rumah sakit ke masjid hingga ke pemakaman serta tentu

suasana di pekarangan Masjid Al-Rashid, persiapan prosesi pemakaman seorang jemaah yang di sholatkan di Masjid ini.

Layanan Pernikahan

Selain menyelenggarakan sholat fardhu lima waktu termasuk sholat fardhu Jum’at dan dua hari raya (idul Fitri dan Idul Adha), Masjid Al-Rashid menyediakan layanan penyelenggaraan pernikahan. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan akad nikah dibawah bimbingan langsung Imam Masjid Al-Rashid, Sheikh Mustafa Khattab, Akta Nikah (surat nikah) hingga penyelenggaran resepsinya secara Islami.

Foto Foto Masjid Al-Rashid

View Larger Map

Masjid Al-Rashid dengan pekarangannya yang tertutup salju

Referensi

alrashidmosque.ca - history of al-rashid mosque

edmontonmuslims.com – edmonton mosques

en.wikipedia.org – al rashid mosque

h2g2.com - the al rashid mosque, edmonton, canada

ijnap.wordpress.com – islam di kanada

saudiaramcoworld.com - Canada's Pioneer Mosque

wikipedia  – islam in canada

--------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Amerika Utara Lain-nya

Masjid Islamic Cultural Center (ICC) New York CityôMasjid Islamic Center Washington DCôPerkembangan pembangunan Masjid pertama di AlaskaôMasjid 4000 kilometerôMasjid Innuvik, Masjid ke 4 di Kutub UtaraôMasjid Pertama di Alaska Segera DibangunôObama Dukung Pembangunan Masjid Dekat Ground ZeroôDibangun, Masjid di Sekitar Reruntuhan WTCôAktivis Yahudi AS Dukung Pembangunan Masjid Ground ZeroôKelompok Yahudi Menentang Pembangunan Masjid di Ground ZeroôMasjid Al-Rashid Edmunton, Masjid Pertama di Kanadaô

Friday, August 28, 2020

Masjid Diyanet Center of America

Mengahdirkan Turki di Amerika. Komplek Kuliye ini selain berdiri bangunan masjid khas Turki juga dibangun rumah tempat tinggal dan bangunan pendukung lainnya yang semuanya berarsitektur khas Turki, sehingga seakan akan menghadirkan Turki di Amerika.

Masjid Agung Bergaya Usmaniyah Terbesar Pertama pada AS

Sabtu dua April, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdo?An meresmikan Islamic Center pertama di daerah Maryland-Amerika menggunakan pendanaan 100% menurut pemrintahTurki. Komplek Islamic center yang dalam kata Turki diklaim Kulliye ini mencerminkan pemikiran berdasarkan dunia Islam. Dengan pemahaman buat membentuk sebuah kota Islam Turki antik pada Amerika. Struktur kota klasik berdasarkan masa Emperium Islam Usmaniyah menjadi unggulan bagi masjid yang menjadi sentra buat kota yg dibangun pada sekitarnya.

9704 Good Luck Rd

Lanham, MD 20706

Amerika Serikat

Telepon: 1 301-459-9589)

Keseluruhan komplek Kuliye ini seluas 60.000 meter persegi (64.600 kaki persegi). Bangunan masjid menjadi pusatnya dibangun pada atas huma seluas 879 meter persegi (9.461 kaki persegi) dan dilengkapi dengan page yg cukup akbar buat menampung kurang lebih tiga.000 jamaah pada ketika yg sama, dilengkapi juga menggunakan taman Islam spesial Turki di depannya, tepat pada sebelahnya, ada sentra budaya, yang merupakan harmoni antara arsitektur klasik & modern. Pusat kebudayaan mencakup perpustakaan, ruang konferensi dan pameran, sebuah aula rendezvous & ruang penyambutan.

Bangunan masjid megah dalam komplek Islamic Center ini dibangun menggunakan arsitektur Imperium Usmani abad ke 16 yg sangat khas ditandai dengan bangunan berukuran tinggi besar menggunakan Kubah ukuran akbar di atapnya ditambah dengan 2 bangunan menara lancip tinggi menjulang seperti sebatang pensil yang diraut runcing pada bagian ujungnya. Ornamen Bulan Sabit menjadi ciri spesial lainnya menurut semua bangunan masjid Khas Turki Usmani.

Taman pada depan masjid

Sedangkan Gedung Pusat Budaya yg masih ada pada dalam komplek Islamic Centers ini dibangun menggunakan contoh spesial arsitektur Imperium Islam Seljuk abad ke 11, yang terdiri menurut ruang perpustakaan, ruang konferensi, ruang-ruang pameran, ruang-ruang meeting, dan ruang khusus buat penyambutan para tamu.

Ada juga Pusat Penelitian Islam dalam gedung yang akan memberikan layanan konsultasi untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang berasal dari Turki di  AS. Ada juga Museum Seni Islam seluas 300 meter persegi (3.229 kaki persegi)  di bawah masjid dan 10 rumah tradisional Usmaniyah, di mana para tamu dapat menginap. Rumah-rumah di kompleks dibentuk seperti lingkungan Islam Turki. Komplek ini juga dilengkapi dengan pemandian tradisional Turki (Hamam) untuk pria dan wanita, kolam renang, ruang serbaguna, dan sebuah kompleks olahraga dalam ruangan. Masjid di komplek islamic center atau Diyanet Center atau kuliye ini menjadi masjid terbesar di Amerika Serikat.

Riwayat Pembangunan

Pembangunan komplek ini dimulai tahun 1990 dengan pembelian tanah rawa rawa sang Turkish Presidency of Religious Affairs, sedangkan rancangan bangunnannya ditangani oleh arsitek Turki, Muharrem Hilmi Senalp. Proyek konstruksinya dimulai tahun 2009 dengan proses pembangunan

Pelataran tengah lengkap dengan area tempat wudhu nya

Dalam membentuk masjid, Dinasti Usmaniyah menggunakan sistem pengukuran yang disebut yard Turki yang digunakan selama beberapa masa bahkan oleh Republik Turki yg baru didirikan sehabis keruntuhan Dinasti Usmani. Sistem satuan pengukuran tadi digunakan dalam pembangunan komplek kulliye pada Maryland ini diklaim sebut buat mematuhi gaya tradisional.

Meskipun bekerja sama menggunakan perusahaan Alaihi Salam buat pembangunan kulliye, seluruh bahan material diangkut melalui bahari atau udara berdasarkan Turki. Semua energi ahli juga tiba menurut Turki buat menciptakan kompleks ini. Bahkan seni & kerajinan dalam kulliye dikerjakan sang pengrajin Turki yang sangat istimewa menggunakan menggunakan teknik kuno dan hampir punah.

Ada banyak koordinasi dengan otoritas AS tentang rincian arsitektur dalam menciptakan kompleks dimana struktural seperti ini belum pernah terdapat sebelumnya di Amerika, yang menjadikan proyek pembangunan komplek ini terbilang relatif unik.

Di dalam masjid

Wakil Presiden JK Ikut Meresmikan

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla hadir dan ikut meresmikan Dinayet Center of America ini bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Sabtu, dua April 2016. Kehadiran Wakil Presiden Jusuf Kalla pada peresmian Dinayet Center of America ini usai mengikuti Nuclear Security Summit (NSS/KTT Keamanan Nuklir) yg berlangsung pada Washinton DC dalam 31 Maret-1 April 2016. Dimana Erdogan pula ikut pada KTT tadi. NSS ketika ini beranggotakan 52 negara (termasuk Indonesia) & 4 Organisasi Internasional.

Kritik Erdogan

Dalam upacara peresmian yg dipadati ribuan orang pada halaman masjid ini, Erdogan sempat melontarkan penyataan yang relatif keras menggunakan menyebut ?Masih ada orang orang yang berjalan berkeliling & menyebut muslim menjadi teroris? Sebuah pernyataan yg oleh poly pihak disebut sebut sebagai kritisi terhadap para elit dan masyarakat Amerika.

Beliau menyalahkan kandidat presiden yang disebutnya turut menyebarkan sentimen anti Islam dalam masyarakat Amerika. Pernyataan tersebut mengesankan ditujukan kepada capres dari pantai Republik, Donald Trump yang dalam kapanyenya menyerukan “pelarangan sementara bagi masuknya muslim ke Amerika”. Bahkan kolega dekatnya. Ted Cruz – meminta polisi di negara tersebut untuk berpatroli di lingkungan muslim di Amerika.

Pak JK bersama Erdogan meresmikan masjid Turki pada Amerika

?Suatu yg sangat menarik perhatian & sangat mengejutkan, bahwa beberapa kandidat presiden di Amerika Serikat menggunakan Alegasinya dan menggunakan Label yang inheren dalam diri mereka buat melawan Ummat Islam secara terbuka & secara berkelanjutan.? Ungkapnya. ?Tidak ada kaitan terorisme menggunakan komunitas muslim, bahkan faktanya komunitas muslim justru berkontribusi menciptakan kekuatan Amerika Serikat? Imbuhnya & ?Komunitas muslim telah menjadi elemen primer masyarakat Amerika? Tambahnya.

Pemerintah Turki dibawah pemerintahan Erdogan tekenal sangat militan mengkampanyekan Islam ke semua dunia, salah satunya dengan mendanai proyek pembangunan masjid pada aneka macam negara termasuk pada negara negara menggunakan komunitas muslim yang minoritas. Di dalam negeri Turki sendiri pemerintahannya gencar mengupayakan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid selesainya lebih dari 80 tahun pada alih fungsi menjadi museum oleh Kemal Attaturk paska penggulingan Khalifah Islam terahir yang berpusat pada Istambul pada lepas tiga Maret 1922, & kemudian mendirikan Republik Turki yang sekuler.***

Sisi Kiblat

------------------------

Baca Juga

Masjid Sarang Singa, Tertua pada Turki

Masjid Auburn Gallipoli, Sidney

Masjid Nizamiye Johannesburg

Masjid Hala Sultan Tekke, Cyprus

Masjid Gazi Husrev-Beg, Sarajevo

The Emperor?S Mosque - Sarajevo

Masjid Agung Makhachkala, Dagestan ? Rusia

(Rencana) Masjid Agung kota Magas, Republik Ingushetia

Monday, August 10, 2020

Masjid Dar-As-Salam Pertama di P.E.I Kanada

Tidak mirip dengan masjid pada umumnya, bangunan Masjid Dar-As-Salam pada kota Charlestown provinsi Prince Edward Island, Canada, dibangun menggunakan gaya seperti bangunan setempat pada umumnya sehingga eksistensi Masjid pertama di Prince Edward Island ini nir terlihat mencolok diantara gedung gedung lainnya.

Prince Edward Island (P.E.I) adalah salah satu provinsi di Kanada dengan luas dan jumlah penduduk terkecil. Provinsi juga merupakan satu satunya provinsi di Kanada yang seluruh wilayahnya merupakan jajaran pulau pulau terdiri dari pulau terbesarnya adalah Prince Edward Island atau Pulau Pangeran Edward serta 231 pulau pulau kecil disekitarnya. Keseluruhan wilayah daratan pulau pulau di provinsi ini bila disatukan luasnya sekitar 5,685.73 km2, sedikit lebih luas dari pulau Bali 5.561 km2 ataupun pulau Madura 5.290 km2.

Pulau Prince Edward terhubung langsung menggunakan daratan akbar Kanada melalui sebuah jembatan bahari sepanjang 13 kilometer bernama Jembatan Konfederasi (Confederation Bridge / Pont De La Confederation). Provinsi P.E.I beribukota di Charlottetown. Nama pulau ini dinisbatkan kepada Pangeran Edward, Duke of Kent and Strathearn (1767?1820) yg adalah putra ke empat berdasarkan Raja George III dan Ratu Victoria.

Penjelajah Prancis Jacques Cartier adalah orang Eropa pertama yg melihat pulau tadi pada tahun 1534 menyusul kemudian menjadi bagian dari Koloni Prancis, dan kemudian sebagai koloni Inggris sejak 1763. Pulau Pangeran Edward ini mempunyai sejarah krusial bagi Kanada Karena di pulau inilah sejarah awal pembentukan negara Kanada di tahun 1867, itu sebabnya Pulau ini pula tak jarang disebut menjadi Pulau Konfederasi.

Di provinsi P.E.I Kanada ini terdapat sekelompok kecil kaum muslimin yg tinggal disana, Komunitas mini muslim pada P.E.I ini kebanyakan berasal menurut Timur Tengah termasuk Mesir. Sejak tahun 1990 mereka telah menciptakan organisasi resmi menggunakan nama Muslim Society of Prince Edward Island. Mereka pula sudah mempunyai satu bangunan Masjid lengkap menggunakan sarana pendukungnya & masjid tadi adalah masjid pertama pada provinsi P.E.I. Masjid tadi bernama Masjid Dar-As-Salam.

Masjid Dar As-Salam

15 MacAleer Drive, Charlottetown, PE C1E 2A1, Canada

www.Muslimpei.Com

1 902-367-3659

Masjid Dar As Salam P.E.I ini berada pada 15 MacAleer Drive. Kota Charlottetown, Propinsi Prince Endward Island, Kanada. Lokasi masjid ini berada pada ujung barat daya Bandara Charlottetown, & hanya terpaut sekiat 200 meter berdasarkan Gereja Good News Baptist Church-Fundamental, atau sekitar 100-an meter berdasarkan gerbang Bandara Charlottetown.

Masjid Dar-As-Salam dibangun seperti kebanyakan  bangunan setempat, tidak seperti bangunan masjid yang kita kenal dengan kubah besar dan menara. Seperti kebanyakan bangunan setempat lainnya, Masjid Dar-As-Salam inipun dilengkapi dengan ruang basement yang menjadi ruang pendukung bagi aktivitas masjid ini, di lantai ini merupakan area ruang pengelola, tempat wudhu hing dapur untuk keperluan masjid.

Pembangunan masjid ini diselenggarakan sang The Muslim Society of P.E.I yg merupakan Komunitas Muslim setempat dengan dana swadaya jemaah, proses pembangunannya dimulai sejak empat tahun 2008. Gagasan pembangunannya telah dicetuskan semenjak pertama kali pembentukan komunitas Muslim P.E.I di tahun 1990 dimulai dengan menggunakan penggalangan dana berdasarkan seluruh jemaah.

Masjid Dar-As-Salam pada saat dalam proses termin ahir pembangunan

Pada waktu rencana pembangunan masjid pertama kali digulirkan, panitia pembangunan hanya mengantongi dana kurang dari $100 ribu, cita rasanya nir mungkin dapat dilakukan buat mengumpulkan dana sampai setengah juta dolar hanya dalam saat enam bulan. Tetapi berkat kerja keras dari panitia penggalangan dana yg diketua sang Dr. Suleiman Sefau, sukses menangguk dana berdasarkan banyak sekali kalangan.

Metoda penggalangan dana dilakukan menggunakan mengirimkan ratusan surat, menelepon semua pihak yg dianggap bisa membantu termasuk kolega, teman & saudar, malam penggalangan dana, bazaar kuliner, permintaan dana menurut individu ke individu lainnya sampai ahirnya berhasil menerima dana yg diperlukan. Selesainya melalui masa pembangunan selama hampir 4 tahun Masjid Dar As Salam diresmikan hari Sabtu 14 Juli 2012 dihadiri oleh semua muslim pada propinsi pulau tadi.

Pada ketika pelantikan masjid seluruh anggota komunitas berkumpul disana menggunakan membawa anggota famili mereka. Upacara peresmian ditandai dengan mutilasi kudapan manis sang presiden komunitas muslim P.E.I, Najam Chishti. Dalam sambutannya dia berkata bahwa pembangunan masjid tadi tidak akan terwujud tanpa kerjasama berdasarkan seluruh komponen rakyat P.E.I.

Interior Masjid Dar-As-Salam

Acara peresmian tersebut turut dihadiri Walikota Charlottetown, Clifford Lee yang hadir dalam acara open house di masjid tersebut. Beliau sempat berujar  bahwa masjid tersebut merupakan satu contoh pengakuan akan pentingnya para imigran di P.E.I dan bagaimana masjid tersebut menjadi contoh sempurna bagi sebuah tempat dimana semua orang dari komunitas masyarakat dapat datang dan berkumpul disana.

Jum?Atan di Gereja

Sebelum masjid ini dibangun komunitas muslim disana meyelenggarakan ibadah sholat berjamaah dengan menumpang pada aula gereja. Di hari minggu gereja dipakai sang umat Kristen & datang pada hari Jum?At digunakan sang muslim disana buat menunaikan ibadah sholat fardhu Jum?At.

Kini sesudah masjid Dar As Salam resmi dibuka komunitas muslim disana dapat menggunakan leluasa menjalan aktivitas komunal mereka termasuk sholat berjamaah, kegiatan sosial dan budaya termasuk pendidikan bagi putra putri mereka, pada masjid yang baru berdiri tadi.

Area loka wudhunya yang unik

Masjid Dar As Salam tidak saja menyelenggarakan kegiatan ibadah rutin, tapi juga berfungsi sebagai Islamic Center dengan menyelenggarakan program pendidikan Sunday School (Sekolah Minggu untuk anak anak –mirip dengan program Gereja), halaqoh, belajar membaca Al-Qur’an serta ta’lim bagi jemaah muslim dan muslimah. Masjid ini juga terbuka bagi non muslim dalam suasana yang  bersahabat guna menciptakan iklim yang baik bagi dialog lintas kepercayaan, perdamaian dan saling pengertian.

Komunitas kecil muslim di P.E.I yang sebagian besar adalah imigran telah menjadi bagian integral dari pulau tersebut, mereka secara aktif terlibat dalam semua aktivitas sosial kemasyarakatan termasuk dalam berbagai aktivitas penggalangan dana bagi pembangunan rumah sakit, Bank makanan, hingga penggalangan dana untuk palang merah Kanada.(dari bujanglanang)***

--------------------------------------

Baca Juga

Masjid 4000 Kilometer

Masjid Innuvik, Masjid ke 4 di Kutub Utara

Monday, July 27, 2020

Masjid 4000 kilometer

Masjid Innuvik, waktu sedang dalam pengerjaan pada kota Winnipeg, Manitoba, Kanada

Masjid itu memang belum diberi nama, secara berseloroh jemaah setempat menyebutnya sebagai masjid yang diberkahi  karena telah menempuh perjalanan teramat jauh lebih dari 4000 kilometer sebelum ahirnya tiba di lokasi.

Ini merupakan kisah perjalanan sebuah masjid yang dibuat buat rakyat muslim pada kota Innuvik, kota kecil pada wilayah Nortwest Teritories, Kanada. Kota yg secara geografis terletak 2 derajat pada atas garis lingkar kutub utara. Kota yang senantiasa bersuhu rendah, latif dengan padang tundra yang luas. Diantara tiga ribuan penduduk nya terdapat seratus rakyat muslim yang sudah sekian usang merindukan hadirnya bangunan masjid yang layak.

Selama satu dekade belakangan mereka menyelenggarakan segala aktivitas ibadah di sebuah trailer tua yang sempit dan tidak sanggup lagi menampung jemaah yg terdapat. Tiga tahun terahir masyarakat muslim disana telah mengumpulkan dana bagi pendirian masjid dan pembelian lahan buat masjid dimaksud. Dana yg terkumpul sudah digunakan buat membeli lahan akan tetapi mengingat lokasi kota tersebut yg terpencil di wilayah paling utara Kanada membuat bahan bangunan dan jasa sangat mahal.

Rute bepergian Masjid Innuvik

Perjalanan Masjid 4000 Kilometer

Mulai di bangun di bulan Juni 2010, bepergian masjid dimulai pertengahan agustus 2010. Dengan sebuah truk trailer beranjak perlahan meninggalkan kota Winnipeg menghadapi cuaca jelek, jalanan sempit, stagnasi parah, jembatan sempit yang hanya pas buat ukuran badan truk, badan jalan yang tidak sanggup menahan beban sampai roda truk terperosok, hingga berbelitnya ijin melintas pada Negara bagian berdeda yg cukup rumit bagi muatan barang tidak biasa itu.

Mengarungi sungai Hay & sungai Mackenzie

Tiba di kota Edmunton, bangunan masjid di pindahkan dengan sangat hati hati dari Truk ke kapal tunda di sungai Hay, untuk memulai perjalanan baru menyusuri sungai Hay menuju sungai Mackenzie. 22 September 2010 petang hari setelah melalui perjalanan lebih dari 24 hari masjid itu ahirnya tiba di dermaga kota Innuvik di delta sungai Mackenzi, disambut dengan suka cita oleh warga muslim kota Innuvik yang menanti dengan harap harap  cemas, akankah masjid yang mereka tunggu tunggu itu akan tiba dalam kondisi utuh.

Dan keraguan itu berganti kegembiraan yang mengharu biru saat kapal tunda yg membawa masjid tersebut merapat ke dermaga Innuvik. Masjid tiba menggunakan selamat bahkan tanpa tergores. Masjid ini memang masih wajib pada angkut lagi menuju lokasi yang sudah disiapkan, di lengkapi dengan karpet, pintu tambahan dan sebagainya sebelum dapat dipakai sang muslim innuvik, diperkirakan pada pertengahan bulan ini (Oktober 2010) telah bisa difungsikan dengan paripurna.

Masjid penuh rekor

tiba pada dermaga innuvik

Masjid innuvik ini memang luar biasa, bagaimana tidak, ketika masjid ini tiba di dermaga kota Innuvik, bahkan sebelum ada satupun jemaah yang masuk kedalam masjid. Bangunan masjid ini sudah memecahkan rekor sebagai masjid paling utara di benua amerika. Dan menjadi masjid paling utara ke-4 dibumi, setelah Tiga Masjid pada Kutub Utara yang sudah ada sebelumnya di kota Norilsk, Russia dan masjid di Tromsø, Norwegia yang letaknya masih lebih utara dari masjid Inuvik. Masjid tersebut juga menjadi bangunan yang bergerak paling jauh di Kanada, dan boleh jadi masjid yang bergerak paling jauh di dunia.

Benar benar luar biasa.

Artikel yang sama juga di posting di Kompasiana

***********************

Baca juga : masjid innuvik masjid ke 3 di kutub utara

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel ?Bukan Masjid Biasa? Lainnya

Masjid Innuvik, Masjid ke 4 di Kutub Utara

Tiga Masjid pada Kutub Utara

Masjid 4000 kilometer

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami? Nepal

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya ? Nepal

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid di Atap global, Masjid Chaqchan ? Pakistan

Tuesday, July 21, 2020

Perkembangan pembangunan Masjid pertama di Alaska

Rencana Masjid Pertama Alaska

Menyambung posting terdahulu MASJID PERTAMA DI ALASKA (AS) SEGERA DIBANGUN. Perkembangan terahir pembangunan masjid tersebut sudah dimulai dengan pelaksanaan ceremoni peletakan batu pertama (ground breaking) pada hari Sabtu, 16 Oktober 2010 yang lalu. Proses tersebut turut dihadiri oleh presiden CAIR (Council on American-Islamic Relations) Nihad Awad.

Masjid ini nantinya akan menjadi masjid pertama di Alaska, wilayah paling utara Amerika Serikat, dan akan menjadi salah satu masjid paling utara di bumi. Proses pembangunan masjid ini berlokasi di 8005 Spring Street, Anchorage, Alaska 99518. sepetak lahan seluas 70 ribu kaki persegi yang di beli oleh komunitas muslim setempat beberapa waktu lalu dengan harga US$600 ribu dolar Amerika, murni dari dana donasi para Jemaah.

View Larger Map

Masjid ini dibangun atas inisiatif menurut Islamic Community Center of Anchorage Alaska (ICCAA) yang merupakan komunitas muslim menurut berbagai kalangan termasuk berdasarkan Afro Amerika, Kaukasia, Albania, Asia Selatan, Afrika, Timur Tengah, Indonesia, Malaysia, dan muslim orisinil Alaska. Perkiraan ummat Islam di Alaska waktu ini mencapai 2000 hingga 3000 jiwa.

Reka bangun masjid tersebut berikut narasi dalam bahasa Indonesia dapat dilihat di posting sebelumnya di MASJID PERTAMA DI ALASKA (AS) SEGERA DIBANGUN atau langsung berkunjung ke situs resmi ICCAA dalam bahasa Inggris.di http://www.alaskamasjid.com. Bagi saudara saudara yang ingin beramal jariyah juga dapat mengikuti arahan di situs tersebut.

Foto foto peletakan batu pertama masjid Alaska

Wajah wajah sumringah di cerahnya cuaca Alaska
Lahan Untuk Masjid yang sudah diratakan
Lahan untuk masjid Alaska ketika dalam Proses persiapan

video nya ada disini

Baca Juga

Masjid Islamic Cultural Center (ICC) New York City, Amerika Serikat

Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat

Masjid pertama pada Alaska (Alaihi Salam) Segera dibangun

Perkembangan pembangunan Masjid pertama pada Alaska

Masjid Diyanet Center of America

Islamic Center Santa Ana, California

Wednesday, July 8, 2020

Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat

Masjid Islamic Center Washington DC (Foto dariFlickr)

Islam menjadi issue utama di Amerika Serikat paska serangan 11 September 2001. tragedi yang tak bisa dipungkiri meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban khsusunya, dan warga Amerika umumnya. Dunia tak pernah sama lagi setelah peristiwa itu. Islam dan ummatnya menjadi sorotan di berbagai belahan bumi. Berbagai perlakuan dan tindakan tak nyaman menerpa muslim yang tinggal di Amerika dan negara negara barat lainnya. Namun peristiwa itu juga yang kemudian membuat begitu banyak orang yang masih mau berfikir jernih untuk mulai bertanya tanya tentang Islam dan pada ahirnya beberapa dari mereka tidak saja sekedar bertanya tapi justru kemudian menjadikan Islam sebagai pegangan hidupnya, setelah menemukan kebenaran Islam.

Sejarah mencatat, hanya beberapa hari setelah peristiwa itu, di tanggal 17 September 2001, presiden Amerika Serikat kala itu George Walker Bush memilih Masjid Islamic Center Washington DC untuk menyampaikan pidatonya. Dalam pidato tersebut Presiden George Walker Bush menyampaikan bahwa Muslim Amerika adalah bagian dari Amerika dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan setara dengan warga Amerika yang lain.

George Bush Di Masjid Islamic Center Washington DC

tanggal 17 September 2001.

"Americans who mistreat Muslims should be ashamed,". "In our anger and emotion, our fellow Americans must treat each other with respect."

Namun serangan 11 September 2001 tersebut malah kemudian berujung kepada penyerbuan tentara Amerika ke Afganistan dengan dalih perang terhadap teroris dan bercokol disana hingga kini. (klik disini untuk membaca transkrip lengkap pidato George Walker Bush tersebut). Tek pelak tindakan tersebut membuat beberapa kalangan menyebutnya sebagai bentuk lain dari tindakan terorisme oleh sebuah negara berdaulat terhadap negara berdaulat lain nya.

Masjid Islamic Center Washington DC juga pernah mengalami sejarah kelam dalam peristiwa yang terkenal dengan 1977 Hanafi Siege. Ketika tanggal 9~11 Maret 1977, tiga orang bersenjata menyerbu ke dalam Masjid dan menyandera 11 orang. Tiga orang tersebut merupakan bagian dari kelompokHamaas Abdul Khaalis yang disaat hampir bersamaan menyerbu 3 tempat berbeda di Washington DC. Kelompok ini mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah Amerika Serikat. Penyanderaan tersebut berahir setelah tiga orang duta besar negara Islam melakukan perundingan dengan kelompok tersebut.

Presiden Soekarno di Islamic Center Washington DC tahun 1956.

Setahun sebelum masjid tadi diresmikan pemakaiannya.

Di bawah pengawalan ketat dari aparat keamanan Amerika

ditambah penyambutan yg luar biasa kala itu.

Sejarah juga mencatat bahwa presiden pertama dan proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Ahmad Soekarno pernah singgah dan sholat di Masjid Islamic Center Washington DC ini selama kunjungan kenegaraannya selama 19 hari ke Amerika Serikat atas undangan dari Presiden Amerika ketika itu, David Dwight  Eisenhower di bulan Mei 1956. Cukup menarik karena ketika itu masjid Islamic Center Washington DC bahkan belum sepenuhnya selesai dibangun, dan baru secara resmi diresmikan setahun kemudian.

Dalam kunjungan itu Ir. Soekarno mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pemerintah dan rakyat Amerika, Presiden Eisenhover bahkan menunjuk Wakil Presiden Richard Nixon untuk menjemput langsung Presiden Soekarno ke Bandara. Konon penyambutan terhadap presiden Soekarno ketika itu merupakan sambutan terbesar oleh Amerika terhadap pemimpin dari dunia ketika yang berkunjung ke Amerika.

Alamat & Lokasi Masjid Islamic Center Washington DC

2551 Massachusetts Avenue Northwest,

Washington D.C., DC,  USA

Nomor Telepon : 1 202-332-8343

Situs resmi : www.theislamiccenter.com/

Koordinat peta : 38° 55′ 1″ N, 77° 3′ 25″ W

Lihat Peta Lebih Besar

Sejarah Pembagunan Masjid Islamic Center Washington DC

Gagasan untuk membangun masjid ini pertama kali lahir pada tahun 1944 saat perang dunia kedua sedang bergolak. Ditahun yang sama ditanggal 11 November 1944 Mehmet Münir Ertegün, Duta besar Republik Turki pertama untuk Amerika Serikat wafat, dan tidak ada satu masjid pun di washington DC untuk keperluan pelaksanaan sholat jenazah. Ketika itu sempat terjadi perbincangan antara A.J Howar, pengusaha muslim Amerika yang berasal dari Palestina dan bernama Asli Yusuf Al-Hawa dengan duta besar Mesir Mahmud Hasan Pasha yang mengatakan “sangat memalukan bahwa sholat jenazah untuk seorang yang sangat terhormat seperti almahum Munir Estegun, tidak diselenggarakan di masjid. Dan Dubes Mesir ketika itu meminta Howar untuk mendirikan masjid yang dimaksud, mengingat beliau adalah seorang kontraktor sukses di Amerika. Hal itulah yang menjadi awal keseluruhan porses pembangunan masjid Islamic Center Washington DC.

Bung Karno & rombongan saat sholat

di Masjid Islamic Center Washington DC.

Dengan prakarsa negara-negara Islam, proses pembangunan masjid Islamic center Washington DC dimulai dengan peletakan batu pertama dalam lepas 11 Januari 1949, pada atas lahan yang dibeli tahun 1946. Peletakan batu pertama itu bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ke 1420. Mengutip situs pemerintah Amerika Serikat, disebutkan bahwa dana pembangunan masjid dihimpun berdasarkan banyak sekali kalangan, misalnya Komunitas Muslim Amerika, negara-negara Islam di semua global, termasuk Afghanistan, Mesir, Indonesia, Iraq, Iran, Syria, Turki, Pakistan dan Saudi Arabia.

Selain sumbangan dana, di masjid ini pula berhimpung material terpilih sumbangan berdasarkan aneka macam Negara Islam. Mesir menyumbang lampu gantung akbar yang sangat latif, termasuk para artis yg mengukir kaligrafi Al-Qur?An di keseluruhan dinding dan kubah masjid. Iran menyumbang karpet rajutan yg luar biasa, Malaysia menyumbang kubah, Maroko kaca ventilasi, Turkey menyumbang keramik lantai & dinding, dan Iraq menyumbang kaca kuning.

Pembangunannya sendiri berlangsung awal Desember 1949 menggunakan kontraktor lokal. Keterlambatan proses pembangunan ini disebabkan adanya hambatan komunikasi antara arsitek dengan kontraktor. Di ketika pembangunan tengah berjalan, penentuan arah kiblat sempat menjadi pro & kontra, hingga pertengahan 1957. Sampai akhirnya diputuskan seseorang ahli, kiblat menghadap timur laut.

Sejumlah penerangan lebih jelasnya mengenai arsitektur masjid terpaksa berulang kali harus diterjemahkan pada bahasa Arab & Inggris. Gambar bangunan berikut interiornya, dibentuk oleh tenaga-energi arsitek berdasarkan Kementerian Agama, Kairo, Mesir. Menariknya, selama proses pembuatan gambar, ada keterlibatan seorang arsitek menurut Italia, Professor Mario Rossi.

Keramik/porselen sumbangan Turki di Islamic Center Washington DC

(foto dari Flickr)

6 tahun lebih sejak dibangun, atau tepatnya 28 Juni 1957, Islamic Center akhirnya diresmikan. Presiden Amerika Serikat Eisenhower turut hadir dan memberikan sambutan dalam acara peresmian tersebut. Pemerintah Amerika kini melindungi bangunan ini dengan memasukkannya ke dalam daftar bangunan-bangunan historis di Amerika.

Masjid Islamic Center ini menjadi masjid pertama dan tertua di ibukota negara Amerika Serikat, dan pada saat selesai dibangun menjadi masjid terbesar di kawasan Amerika bagian Barat. Keindahan ornamen di Islamic Center ini, sebagian buah karya sang profesor, terinpsirasi kemegahan masjid-masjid kuno Kairo. Professor Rossi akhirnya menjadi seorang muslim, dan berganti nama menjadi Muhammad Mahdi.

Arsitektur Masjid Islamic Center Washington DC

Di masjid itu, ruangan pria dan perempuan terdapat pada lantai yang terpisah. Lantai atas masjid diperuntukkan bagi jemaah laki, sedangkan jemaah perempuan di ruangan bawah. Pemisahan letak lantai antara laki-laki & wanita yg baru diterapkan bulan Juli 2010 menjelang Ramadhan pada tahun tersebut. Keputusan sempat sempat mengakibatkan kontroversi karena sebagaian kaum wanita menduga hal itu menjadi subordinat.

Tetapi, pihak masjid mengatakan penetapan baru itu dibuat karena kapasitas ruangan di lantai atas yang telah tidak memadai. Hampir 50-an masyarakat Indonesia secara aktif beribadah pada masjid Islamic Center ini, yg datang menurut banyak sekali kota di kurang lebih Washington DC terutama selama bulan Ramadhan.

Aktivitas Masjid Islamic Center Washington DC

Fasad depan masjid Islamic Center Washington DC, loka dimana -

Foto Bung Karno di ambil di foto sebelumbya (foto dari Panoramio)

Selain sholat jum`at berjama`ah, aktivitas misalnya pengajian, Sunday School bagi anak-anak atau kajian-kajian tentang Islam, rutin digelar. Keberadaan Islamic Center pada ibukota negara adidaya ini, benar-benar berarti bagi kaum muslim. Masjid bersejarah ini senantiasa membuka diri buat dikunjungi sang siapapun, setiap hari masjiid ini mendapat tamu antara 100 hingga 600 orang. Non-Muslim berdasarkan Amerika & luar Amerika tiba bergabung dalam sebuah tur. Beberapa tur dilakukan bagi para pejabat Departemen Luar Negeri Amerika yang akan berdinas di global Islam atau para pelajar yang akan belajar di negara-negara Muslim.

Mereka datang buat mengikuti ceramah dan seminar mengenai situasi pada Timur Tengah dan apa yang dibutuhkan & bagaimana berperilaku pada sebuah negara Islam. Selama tur, para pejabat masjid juga memberikan kabar mengenai Islam, ajaran-ajarannya dan Nabi Muhammad SAW & menjawab pertanyaan dari pengunjung yang masih penasaran soal Islam.

Ornamen Interior di bawah kubah, lukisan dan ukiran Kaligrafi Al-Qur'an

tersebut merupakan karya para seniman Mesir

Perpustakaan dengan koleksi lengkap

Masjid Islamic Center Washington DC jua dilengkapi menggunakan perpustakaan akbar dengan segala macam kitab tentang Islam, dan memiliki kelas-kelas buat pelajaran Bahasa Arab, Al-Qur'an, aturan Islam & mata pelajaran lain yg terkait kepercayaan Islam. Meski tidak tidak memungkinkan untuk menciptakan sekolah, tapi Masjid ini berhasil mengatur kelas Sabtu dan Minggu buat enam kelas.

Layanan Pemakaman Gratis

Masjid ini juga terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat dengan memberikan konseling perkawinan, membantu memahami prosedur pemakaman dan penguburan. Pengurus masjid juga sudah membeli sebuah kuburan pemakaman dan tersedia bagi umat Islam untuk menguburkan orang yang meninggal secara gratis, karena biaya pemakaman di sini di Amerika Serikat adalah sangat mahal.

Dakwah pada Narapidana di Penjara

Layanan Islamic Center yg paling membanggakan merupakan program da`wah. Ada sejumlah akbar orang yg masuk Islam di sini setiap bulan, seminar bagi para mualaf, dilaksanakan secara rutin buat membantu mereka terlibat dalam agama baru mereka, sebagai akibatnya mereka memahami & mempunyai visi yang kentara, bukan hanya mengikuti metode-metode eksklusif.

Islamic Center pula menegaskan bahwa penjangkauan mereka melampaui bangunan masjid. Masjid mempunyai peserta buat membantu kami mengirimkan paket buku ke forum-lembaga di seluruh Alaihi Salam, khususnya di penjara-penjara pada mana orang ingin memahami tentang Islam. Dan hasilnya sungguh luar biasa, beberapa ketua penjara berkirim surat ke masjid Islamic Center dan berterima kasih karena sehabis mendapat Islam para tahanan terdapat perubahan konduite mereka dan mereka menjadi insan yang lebih baik.

Kontroversi yg tak berkesudahan

Imam Al-Asi dan jemaah nya

Di bulan November 1981, untuk pertama kali Masjid Islamic Center Washington DC melakukan pemilihan Imam secara langsung, ketika itu terpilihlah Muhammad Al-Asi sebagai imam Masjid Islamic Center Washington DC. Namun kemudian Imam Muhammad Al-Asi berselisih faham dengan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Pada tanggal 5 Maret 1983 Imam Muhammad Al-Asi beserta keluarganya diminta keluar dan meninggalkan Masjid Islamic Center Washington DC.

Namun Imam Muhammad Al-Asi enggan menanggalkan jabatan imam nya dan meneruskan menjalankan tugasnya sebagai imam dengan memimpin jemaah diluar gedung Masjid, di halaman rumput bahkan di trotoar seberang jalan Masjid Islamic Center Washington DC.

Idul Fitri bulan Juli tahun 1983, Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaah pengikutnya memaksa masuk ke dalam Masjid untuk menjalankan ibadah sholat idul fitri, tindakan ini kemudian memicu pengelola Islamic Center memanggil aparat keamanan, akibatnya Imam Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaahnya di ciduk aparat berwajib meski kemudian dibebaskan kembali. Namun juri di pengadilan Amerika Serikat memutuskan mereka bersalah karena telah mengganggu jalannya peribadatan yang dipimpin oleh imam yang lain. Dan pengadilan kemudian memutuskan Imam Muhammad Al-Asi beserta jemaahnya dilarang untuk memasuki Masjid Islamic Center.

Menurut Imam Abdullah Muhammad Khouj (imam masjid saat ini) jemaah sholat lima

saat pada masjid ini meningkat menurut ratusan menjadi ribuan jemaah sejak tahun 1984

Hingga kini Imam Muhammad Al-Asi masih mengukuhkan dirinya sebagai Imam Masjid Islamic Center Washington DC meskipun pihak Masjid Islamic Center sudah mengumumkan bahwa beliau sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Masjid Islamic Center Washington DC. Upaya upaya rekonsiliasi sudah dilakukan oleh berbagai pihak namun tak membuahkan hasil, hingga kini pun Imam Al-‘Asi masih senantiasa memimpin jemaahnya menjalankan sholat Jum’at di trotoar diseberang Masjid Islamic Center Washington DC, beliau dan jemaahnya juga mengelola situs sendiri untuk Islamic Center Washington DC.

Video Masjid Islamic Center Washington DC

Foto Foto Masjid Islamic Center Washington DC

Street view Masjid Washington DC

View Larger Map

Bendera negara negara islam di depan Islamic Center Washington DC

(foto dari Panoramio)

Bendera Merah Putih Berkibar diantara bendera negara negara Islam Lainnya

di depan Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat.

Foto dari Flickr
Foto dari Flickr
Bung Karno di Masjid Islamic Center Washington DC, melintasi petugas kemanan

yang bersiaga penuh selama kunjungan kerja beliau ke Amerika Serikat.

Interior Masjid Islamic Center Washington DC (foto dari Flickr)
Referensi

indosiar.com – The Islamic Center Washington DC

voanews.com – Tarawih pertama di Islamic Center Washington DC

articles.cnn.com - Bush: U.S. Muslims should feel safe

eramuslim.com – Masjid Islamic Center Washington DC tempat menimba Ilmu Islam

sacret-destination.com – Washington DC Islamic Center

situs resmi Islamic Center Washington DC –http://www.theislamiccenter.com/

islamiccenterdc.com – whathappened

shahzadraza.com – A Tale of two Friday prayers

kabarinews.com – Antara Soekarno dan Amerika part-1

en.wikipedia – Islamic Center of Washington DC

america.gov - Islamic Center of Washington Boasts a Rich History

Baca Juga

Masjid Islamic Cultural Center (ICC) New York City, Amerika Serikat

Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat

Masjid pertama di Alaska (AS) Segera dibangun

Perkembangan pembangunan Masjid pertama pada Alaska

Masjid Diyanet Center of America

Islamic Center Santa Ana, California

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done