Islami Pedia: Masjid di Aceh
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Aceh. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Aceh. Show all posts

Tuesday, September 8, 2020

Islamic Center Lhokseumawe (Bagian I)

Megah : meski belum rampung seluruhnya, gedung masjid agung Islamic Centre Lhokseumawe  terlihat begitu megah, menghadirkan nuansa Timur Tengah di Nangroe Aceh Darussalam.

Berdiri megah pada sentra kota Lhokseumawe, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Islamic Center / Almarkazul Islami Lhokseumawe menghadirkan perbedaan makna Timur Tengah pada tanah Aceh yang fertile. Berdirinya Islamic Center ini membangkitkan kembali ingatan kita pada sejarah kejayaan Kerajaan Islam Samudera Pasai (Samudera Pase) yang tercatat dalam sejarah menjadi kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Tahap pertama proyek pembangunan Islamic Center ini dimulai dengan membangun masjid agung yang strukturnya begitu besar menggunakan susunan kubah kubah besarnya yg rupawan. Kehadiran Islamic Center ini meski belum selesai seluruhnya menghadirkan semangat baru bagi warga Aceh umumnya & rakyat Lhokseumawe khususnya paska bala kemanusiaan gempa dan Tsunami yang meluluhlantakkan daerah itu beberapa tahun kemudian Telp: (0645) 44887

Email:isu@islamiccenterlhokseumawe.Com

Koordinat Geografi :? 5?10'47.49danquot;N ?97? 8'31.09"E

Bangunan Islamic center ini memang belum sepenuhnya rampung. Nantinya Islamic center ini akan dilengkapi menggunakan fasilitas fasilitas penunjang selain Masjid Agungnya sendiri terdiri menurut : Gedung Serba Guna, Gedung Pustaka, Diniyah / Sekolah, Museum

Lhokseumawe - NAD 24313 | Telp: (0645) 44887

Email:info@islamiccenterlhokseumawe.com

Koordinat Geografi :  5°10'47.49"N  97° 8'31.09"E

Bangunan Islamic center ini memang belum sepenuhnya rampung. Nantinya Islamic center ini akan dilengkapi dengan fasilitas fasilitas penunjang selain Masjid Agungnya sendiri terdiri dari : Gedung Serba Guna, Gedung Pustaka, Diniyah / Sekolah, Museum & Rumoh Aceh, Mess / Wisma Tamu, gerai-gerai / Kios Makanan dan Soevenir, Taman kanak-kanak dan Taman Pengajian Al-Qur'an (TPA) serta Rumah Imam Besar. Proyek ini memang begitu besar dan membutuhkan dana yang tidak sedikit wajar bila pembangunannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebagaimana dijelaskan di dalam situs resmi Islamic Center Lhokseumawe, berikut adalah tujuan dan fungsi Islamic Center Lhokseumawe yang hendak di capai serta latar belakang pembangunan Islamic Center tersebut dengan beberapa pengeditan seperlunya.

Tujuan Koordinat Geografi :? 5?10'47.49danquot;N ?97? 8'31.09"E

  • Mewujudkan Masjid yang makmur dan monumental sebagai sentrum pembinaan umat dan budaya Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumberdaya Muslim melalui dakwah, pendidikan dan pelatihan.
  • Kegiatan pengkajian bagi pengembangan pemikiran dan wawasan Islami.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan seni budaya Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan masyarakat dan layanan sosial.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan data dan Informasi Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan usaha dan pengembangan bisnis Islami.
  • Mewujudkan tataruang lingkungan Islamic Center kota Lhokseumawe yang bernuansa Islami, indah, nyaman dan monumental.

Fungsi Koordinat Geografi :? 5?10'47.49danquot;N ?97? 8'31.09"E

  • Fungsi Takmir Mesjid ( Kemakmuran Mesjid )
  • Fungsi Pendidikan dan Latihan
  • Fungsi Sosial Budaya
  • Fungsi Informasi dan Komunikasi
  • Fungsi Pengembangan Bisnis yang Islami
  • Fungsi Pendukung Lainnya

Fasilitas Islamic Centre Lhokseumawe

(1). Masjid Agung : Bangunan masjid Agung di komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini terdiri dari bangunan tiga lantai, dua lantai sebagai area sholat dengan daya tampung ± 6000 jemaah di lantai satu dan ± 3000 jemaah di lantai dua. Ditambah dengan lantai basement.(2). Gedung Perpustakaan, berupa bangunan seluas 3662m2 mampu menampung 250 orang sekaligus, sebagai referensi bagi para peneliti / intelektual dan mahasiswa.(3). Mess / Wisma Tamu : berupa bangunan lantai dua, dengan sepuluh kamar tidur dengan kapasitas 2 orang per kamar untuk menampung tamu tamu dalamkegiatan dakwah.(4). Madrasah Diniyah : dengan dua belas ruang belajar, ditambah dua ruang laboratiorium dan satu ruang pustaka, mampu menampung 368 siswa.

Fasilitas Komplek Islamic Centre Lhokseumawe / Al Markaz Al Islamy :: (1) Masjid Agung, (2) . Gedung Perpustakaan, (4). Madrasah Diniyah, (5). Gerai Pedagang. (6). Musium Islam. (7). Gedung Serbaguna. (8). Kediaman Imam Besar.

(5). Gerai gerai (kios kios), terdiri dari 20 kios makanan / kantin serta tujuh took souvenir, toko buku, ATK & fotokopi, Boutique, wartel, warnet dan lain lain.(6). Museum : museum ini dibangun sebagai wadah tempat penyimpanan benda benda budaya yang bernilai sejarah dan seni, terdiri dari ruang pamer tetap ruang pamer temporer dengan total luas keseluruhan mencapai 1.112 m2.(7). Gedung Serbaguna, yang dapat dipergunakan sebagai ruang pertunjukan, kesenian dan olahraga dengan daya tampung mencapai 2.200 orang. dan(8). Rumah Imam besar, untuk kepentingan kesejahteraan imam besar agar tugas tugas dapat berjalan lancar.

Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan  Islamic Center Kota Lhokseumawe

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam atau yang lebih di kenal dengan sebutan Islamic Center (al-Markazul Islami) yang berdiri tepat di pusat Kota Lhokseumawe, merupakan sebuah Ikon baru wilayah  Samudra Pase sebagai pusat Konsentrasi Baru Untuk mewujudkan kembali kejayaan dan Peradaban Islam Yang terbenam di wilayah Negara Islam Pertama di Asia Tenggara.

Masjid Islamic Centre Lhokseumawe, dari gambar rancangan masjid pada foto atas dan foto bangunan masjid saat ini hanya menaranya saja yang belum dibangun.

Sejarah kebesaran Kesultanan Samudera Pasai sampai ke kesultanan Aceh Darussalam hingga niat untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam menjadi latar belakang utama dibangunnya Islamic Center Lhokseumawe ini. menilik sejarah Rosulullah S.A.W ketika beliau hijrah ke Madinah pun, hal pertama yang beliau bangunan adalah Masjid. Semua itu memberikan pelajaran kepada kita betapa pentingnya peran masjid bagi kehidupan muslim.

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudra Pasai

Wilayah Pase’ merupakan sebuah daerah bekas kerajaan Islam samudra Pasai atau Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera Pasai, atau Samudera Darussalam, kerajaan Islam di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, sekarang ini. Didirikan oleh Meurah Silu, bergelar Malik al-Saleh, sekitar tahun 1267 dan Sultan Malik as-Saleh menjadi Raja pertamanya, Sultan Malik as-Saleh wafat pada tahun 696H/1297M dan kekuasaannya diteruskan oleh Sultan Malik at-Thahir putra tertua beliau yang sangat kental dengan nilai-nilai peradaban  Islam.

Meski belum selesai seluruhnya Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe sudah dipakai untuk aktivitas sholat termasuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri 1430H/2009 lalu. Ribuan Jemaah memadati masjid ini di dalam dan diluar masjid. Berdirinya Masjid ini menjadi berkahbaru bagi warga Lhokseumawe setelah tahun tahun sebelumnya warga menyelenggarakan sholat Ied di lapangan Hiraq disamping Masjid ini.
Eksistensi peradaban Islam di kesultanan Samudera Pasai dicatat dalm jurnal perjalanan Marco Polo yang telah singgah di pulau Sumatra Tahun 1292, lalu dilanjutkan dengan catatan dari Abu Abdullah ibnu Batuthah (1304–1368), seorang musafir Maroko yang singgah di Samudera tahun 1345 di dalam kitabnya Rihlah ilal-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) juga menyebutkan bahwa Sultan Malik az-Zahir di negeri Samatrah yang menyambutnya dengan penuh keramahan dan penduduk Muslim Samatrah (Samudera) yang menganut Mazhab as-Syafi’I serta Pemimpinnya yang sangat Alim dan Shaleh.

Samudra Pasai juga memiliki relasi cukup luas dengan kerajaan luar. Pada masa jayanya, Pesisir samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam (Thailand), Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam serta berbagai disiplin ilmu yang tidak sedikit pada masanya dimana masjid sebagai sentrumnya.

Satu Masjid Dua Jemaah ::: Masyarakat kota Lhokseumawe dan sekitarnya merayakan Idul Adha atau hari raya Kurban pada hari Rabu 17/11/2010 sesuai dengan penetapan pemerintah di Masjid Agung Islamic Centre, Lhokseumawe. Sehari sebelumnya (16/11/1010) Sekitar seribu umat muslim Muhamadiyah telah lebih dulu menyelenggarakan sholat Idul Adha di masjid ini juga. (fotoANTARA).

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik al-Dhahir banyak para pedakwah Islam yang dikirim oleh kerajaan untuk menyebarkan Islam keseluruh Melayu dan Nusantara. Sultan Ahmad Syah di Malaka (Tanah Melayu) telah memeluk Islam dan menikahi putri Raja Samudra Pase, dan beliau dikenal dengan sebutan Sultan Iskandar Syah (1324-1444 M), Kerajaan Islam Samudra Pasai Juga mengirimkan Da’i ke Barus di Pantai Barat Pulau Sumatera dan bagian Timur Pulau, Sampai ke penduduk Aru, sehingga Kerajaan Batak di Sumatra Utara Memeluk agama Islam.

Pada tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Saat itu, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Setelah sekian lama, pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya bersatu menjadi satu pada Kesultanan Aceh Darus Salam, seperti Tamiang dan Lamuri.

Bersambung keIslamic Centre Lhokseumawe (bagian II)

Kompilasi foto Islamic Centre Lhokseumawe
serial view islamic Centre Lhokseumawe

Lebih dekat

Belum selesai seluruhnya dan masih banyak membutuhkan dana
Meski belum seluruhnya selesai, Masjid Agung di Komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini telah menunjukkan kemegahannya di malam hari

Referensi

eksposnews.com –masjid agung islamic center lhokseumawe selenggarakan ramadhan fair

atjehpost.com –tarawih perdana ribuan warga lhokseumawe padati mesjid islamic center

atjehpost.com –bkm mesjid islamic center lhokseumawe bagikan kanji rumbi gratis

situs resmi -islamiccenterlhokseumawe.com

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid di Aceh lainnya

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Masjid Rahmatullah Lampu’uk, Lhoknga

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri Aceh

Masjid Agung Baitul Ma’mur Meulaboh Aceh Barat

Islamic Center Lhokseumawe (Bagian II)

Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe ? Nangroe Aceh Darussalam

(foto dari Panoramio)

Kemunduran Kerajaan-kerajaan Islam & Jauhnya efek Masjid tehadap Ummat Islam

Setelah Eropa Nasrani (Spanyol, Portugis & Belanda) berdatangan dan dengan rakusnya ingin menguasai daerah Aceh, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus.Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh dan Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Aceh dan Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka dan membatasi fungsi Masjid hanya sebagai tempat beribadah. Sehingga terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari negara lain yang telah terjalin ratusan tahun dan terbatasnya masjid sabagai tempat syiar Islam.

Stempel Kerajaan Samudra Pasai yang digunakan pada awal abad IX Hijriah. Stempel berusia 683 tahun ditemukan warga di areal pertambakan di Desa Kuta Krueng. Stempel yang diduga milik Kerajaan Samudera Pasai ditemukan di pematang tambak di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Cap kerajaan itu diyakini milik Sultan Muhammad al Malik az Zhahir, yang wafat di tahun 726 Hijriyah (1326 Masehi).acehkita.com

Hal ini yang membuat Ummat Islam semakin Jauh dari ajaran-ajaran yang telah ditanamkan oleh para Ulama, apalagi dengan strategi politik Snouck Hurgronye, penasehat urusan Pribumi dan Arab, pemerintahan Belanda menjadi lebih berani membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam, karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di negeri Arab (Mekkah), Jawa, dan Aceh. Ia mengemukakan gagasannya yang dikenal dengan politik islamnya yang menyesatkan dengan memisahkan Agama dari Negara atau yang dikenal dengan Teori Sekulerime.

Orang islam dilarang membahas hukum islam, baik Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan dan ketatanegaraan. Terdapat asumsi yang senantiasa melekat dalam setiap penelitian sejarah bahwa masa kini sebagian dibentuk oleh masa lalu dan sebagian masa depan dibentuk hari ini. Demikian pula halnya dengan kenyataan umat Islam Aceh dan Indonesia saat ini, tentu sangat dipengaruhi oleh masa lalunya. Islam yang telah diakui sebagai kekuatan Kultural, tetapi dicegah untuk merumuskan sebuah bangsa menurut versi Islam. Sebagai kekuatan moral dan budaya, Islam diakui keberadaannya, tetapi tidak pada kekuatan politik secara riil (nyata) di negeri ini.

Komplek Makam Malikussaleh di Geudong Aceh Utara, 20 km arah Timur Lhokseumawe. (foto dariskyscraper city)

Perkembangan selanjutnya pada masa Orde Lama, islam telah diberi tempat tertentu dalam konfigurasi (bentuk/wujud) yang paradoks, terutama dalam dunia politik. Sedangkan pada masa Orde Baru, tampaknya islam diakui hanya sebatas sebagai landasan moral bagi pembangunan bangsa dan negara.

Mengembalikan Fungsi Totalitas Sebuah Masjid

Jika kita kembali pada masa keemasan Islam, ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, bangunan yang pertama kali dibangun adalah Masjid. Sebuah negeri dapat dikategorikan sebagai negeri kaum muslimin jika memenuhi tiga syarat; (1). mayoritas penduduknya muslim; (2). pemimpin atau presidennya seorang muslim; serta (3). bebasnya syiar Islam di negeri tersebut dan masjid adalah pusat Syiar Islam.

Batu nisan dan prasasti peninggalan zaman Kerajaan Samudera Pasai di kompleks pemakaman Tengku Batee Balee, Desa Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Setidaknya ada sepuluh fungsi atau peranan yang dimainkan oleh Masjid Nabawi di zaman kenabian; (1). tempat ibadah (salat, zikir), (2) tempat untuk berkonsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial, dan budaya), tempat pendidikan, tempat pemberdayaan ekonomi dan santunan sosial (baitul maal), tempat pelatihan militer dan penyimpanan alat-alat perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat pengadilan dan pendamaian sengketa, tempat menerima tamu, tempat menahan tawanan, dan tempat penerangan dan informasi serta pembelaan agama.

Fungsi masjid seperti inilah yang diteruskan dan dilestarikan oleh para salafusshalih, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, dan tabi’uttabi’in rahimahmuullah sehingga kejayaan Islam berhasil mereka raih dengan gemilang dan mampu mencapai puncak peradaban.

meski belum selesai seluruhnya Masjid Islamic Centre Lhokseumawe ini sudah menunjukkan keindahannya di malam hari (skyscrapercity)

Sejarah Awal Pembangunan Islamic Center Lhokseumawe

Atas dasar goresan sejarah, untuk mengembalikan kejayaan Islam Samudra Pasai dan mengembalikan fungsi totalitas sebuah Masjid serta menyatukan Perpecahan Ummat Islam didalam sebuah wadah utama yaitu masjid yang di kenal dengan Al-Markazul Islami Kota Lhokseumawe di rancang, bangunan mega ini digagas oleh Tokoh-tokoh Ulama dan Cendikiawan yang berada diwilayah Aceh Utara dibawah Pimpinan mantan Bupati Aceh Utara, Ir. H. Tarmizi A Karim, M.Sc.

Pada masa konflik Aceh dulu. Dalam Program jangka pendek Islamic Center dimulai dengan pembangunan Masjid Agung (induk) seluas 16.475,80 Meter persegi dan diperkirakan akan dapat menampung 20.000 Jama’ah. Untuk mengembalikan fungsi totalitas sebuah masjid ikut dirancang pembangunan gedung serba guna (Multy Purpose Building), perpustakaan umum, Dirasah khassah (Islamic Studies), Museum / Art Gallery dan Play Grup, wisma tamu (Guest House), Gerai-gerai (kios-kios), Rumah Imam Besar, Menara dan Tugu yang semuanya membutuhkan biaya sebesar Rp. 150 Miliar.

Jamaah shalat Idul Fitri menuju Mesjid Islamic Centre Lhokseumawe Aceh. Minggu (20/9/2009). Meski pengerjaan baru mencapai 70% dengan realisasi anggaran Rp.110 miliyar, Ribuan ummat muslim di Aceh Lhokseumawe melaksanakan shalat Idul Fitri perdana di Mesjid Islamic Centre Lhokseumawe (foto dari antara).

Pembentukan Kota Lhokseumawe

Dalam rentang waktu beberapa tahun pembangunan berjalan, sharing dana anggaran pembangunan dan belanja kabupaten (APBK) Aceh Utara, sudah mencapai sekitar Rp. 100 miliar. Asupan dana terhenti seiring pemekaran daerah kota lhokseumawe dari kabupaten Aceh Utara pada Tahun 2001 sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Lhokseumawe yang dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2002 tentang pemberlakuan secara efektif Undang-Undang Nomor 2 tahun 2001.

Setelah terhenti sekian lama, penyerahan Islamic Center seutuhnya kepada Pemkot Lhokseumawe dilaksanakan pada Tanggal 6 Mei 2009 diserahkan langsung oleh bupati Aceh Utara Ilyas Pase dan diterima Oleh Walikota Lhokseumawe Munir Usman. Pembangunan gedung yang sempat terhenti itu mulai dilanjutkan kembali. Dana yang tersedia baru Rp. 4 Miliar yang bersumber dari APBK Kota Lhokseumawe dan APBA 2008 serta bantuan dari PT. Arun sebesar 500 juta. Sementara kebutuhan dana untuk merampungkan bangunan ini adalah sekitar Rp. 70 Miliar lagi. Dengan dana yang telah tersedia tersebut Pemko Lhokseumawe melanjutkan Pembangunan yang mencakup tempat wudhu, jaringan listrik, pembersihan lantai serta sound system yang kini proses pengerjaannya telah mencapai 80%.

Begini bentuk utuh masjid Islamic Centre Lhokseumawe ketika selesai nanti

Pemko Lhokseumawe membentuk Badan Panitia pembangunan yang diketuai Oleh Drs. Arifin Abdullah dan Badan Panitia Pengelolaan dan ta’mir Masjid pada hari Selasa tanggal 20 Juni 2010 yang diketuai Oleh Tgk. H. Ramli Amin, S.Ag. dengan adanya panitia khusus ini diharapkan kelanjutan proses pembangunan gedung Islamic Center akan lebih fokus. Dan dengan struktural dan manajemen yang berkompeten diharapkan fungsi totalitas sebuah Islamic center baik bidang peribadatan maupun bidang pendidikan serta pelatihan bisa dinikmati seceptanya oleh warga Kota Lhokseumawe, Aceh Utara dan sekitarnya.

Hasil silaturrahim pengurus Islamic center kepada para ulama di wilayah pase dan sekitarnya mendapatkan respon positif, untuk berbagai program  ataupun kegiatan yang telah dicanangkan oleh pengurus Islamic center. Dan hasil dari kunjungan tersebut memberikan ide-ide serta motivasi yang kreatif untuk membantu pengurus Islamic Center Kota Lhokseumawe.

detil kubah yang indah di Masjid Islamic Centre Lhokseumawe

Meskipun Bangunan yang belum rampung 100% serta falisiltas yang sangat memadai pengurus Islamic Center telah menjalankan program program di Islamic center ini dengan baik. Kehadiran Islamic center ditengah-tengah Ummat Muslim Kota lhokseumawe dan Aceh secara Umum, tidak hanya sekedar untuk menggali kembali peradaban Islam yang pernah bergemilang ditanah Rencong tetapi sebagai wilayah konsentrasi baru kebangkitan Islam di dunia sehingga keberadaannya ditengah-tengah kota Lhokseumawe dapat menunjukkan peran strategisnya sebagai pusat pembaharuan menuju tata nilai kehidupan yang lebih Islami.

Tradisi Kanji Rumbi Selama Ramadhan

Kanji Rumbi jadi penganan khas berbuka di hari pertama bagi warga Lhokseumawe. Bubur yang mempunyai rasa ciri khas rasa itu ramai diserbu masyarakat,terlebih lagi tanpa perlu membeli, kerena disediakan gratis oleh pengurus Islamic center Lhokseumawe. Seperti yang terjadi pada hari pertama Ramadhan 1433H, yang jatuh pada tanggal 21 Juli 2012 yang lalu.

Exterior Masjid Islamic Centre Lhokseumawe

Badan Kenaziran Mesjid (BKM) Islamic Center Kota Lhokseumawe, bekerjasama dengan pemerintah setempat membagikan Kanji Rumbi secara gratis kepada dua ratusan masyarakat Islam kota kota Lhokseumawe, pembagian panganan khas Aceh ini dilakukan di halaman Mesjid Islamic Center. pembagian kanji rumbi secara gratis merupakan salah satu agenda rutin BKM dan pemerintah kota di bulan suci Ramadhan.

Selain pembagian kanji rumbi juga dilaksanakan kegiatan lainnya seperti buka puasa bersama dan pesantren Ramadhan 1433 Hijriah. Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya ikut turun langsung membagikan kanji rumbi gratis kepada masyarakat menyebutkan, kanji rumbi tersebut merupakan hasil sumbangan bersama oleh masyarakat.

dibawah kibaran merah putih

Seperti di masjid masjid seluruh dunia, acara buka puasa di bulan Ramadhan dilanjutkan dengan sholat Tarawih berjamaah. Di Islamic Center Lhokseumawe, ribuan warga dari empat kecamatan dalam kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Jumat 20 Juli 2012 malam memadati Mesjid Islamic Center untuk melaksanakan Sholat Tarawih perdana masuknya bulan Suci Ramadhan 1433 Hijriah. Tarawih perdana itu juga turut diramaikan oleh pejabat teras Pemerintah Kota Lhoskeumawe dan Pemkab Aceh Utara. Tradisi Tarawih di Masjid Islamic Center Lhokseumawe dimulai dengan ceramah agama dan dilaksanakan sebanyak 20 rekaat ditambah dengan witir 3 rekaat.

Selain Sholat Tarawih berjamaah diserta ceramah agama, juga digelar i’tiqaf bersama pada 10 hari terakhir Ramadhan yang diisi dengan shalat malam dan zikir sampai menjelang sahur. Selain itu juga ada tadarus dengan menghadirkan qori-qori pilihan di Lhokseumawe, serta program pesantren kilat bagi pelajar.

Menyambut Ramadhan, pengurus Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe juga mengadakan Ramadhan Fair di halaman masjid setempat selama puasa berlangsung. Kegiatannya dibuka menjelang shalat Ashar dan tutup sementara menjelang Magrib. Kemudian dibuka kembali usai shalat Tarawih. Di Ramadhan 1433 / 2012 disediakan 20 stand yang menjual makanan dan minuman berbuka, serta berbagai pakaian muslim dan barang-barang lainnya

Kembali ke bagian I

Referensi

eksposnews.com – masjid agung islamic center lhokseumawe selenggarakan ramadhan fair

atjehpost.com – tarawih perdana ribuan warga lhokseumawe padati mesjid islamic center

atjehpost.com – bkm mesjid islamic center lhokseumawe bagikan kanji rumbi gratis

situs resmi - islamiccenterlhokseumawe.com

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid di Aceh lainnya

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Masjid Rahmatullah Lampu’uk, Lhoknga

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri Aceh

Masjid Agung Baitul Ma’mur Meulaboh Aceh Barat

Monday, September 7, 2020

Masjid Rahmatullah Lampu’uk, Lhoknga, Aceh Besar

Bertahan dari terjangan tsunami 2004. Masjid Rahmatullah Lampu'uk, Lhoknga, Aceh Utara, Nangroe Aceh Darussalam. Salah satu masjid yang mampu berdiri kokoh sendirian diantara bangunan dan seluruh kawasan Lampu'uk yang rata dengan tanah oleh bencana tsunami Aceh dan kawasan Samudera Hindia 26 Desember 2004 silam. Pertama kali dibangun tahun 1990 dan direnovasi tahun 2004.

Memang terlalu sulit untuk membayangkan dan mengirangira bagaimana mungkin masjid satu ini bisa selamat dari terjangan dasyatnya tsunami yang menyapu daratan Aceh dan kawasan Samudera Hindia 26 Desember 2004 silam padahal lokasinya hanya terpaut sekitar 500 meter dari bibir pantai, sementara seluruh bangunan disekitarnya luluh lantak menyisakan puing puing berserakan. Lampu’uk dan seluruh kota Lhoknga rata dengan tanah, tak hanya meluluhlantakkan Lhoknga tanpa sisa, dahsyatnya tsunami itu telah merenggut ribuan jiwa penduduk Lhoknga dari awalnya lebih dari 6000 jiwa, paska tsunami tersisa hanya sekitar 700 jiwa saja. 250 ribu orang meninggal dunia dengan sekejap di seluruh Aceh dan Nias. Infrastruktur yang berada 3-4 km dari garis pantai hancur total dilanda tsunami yang datang dengan kecepatan mencapai 600 km/per jam itu.

Tak mengherankan bila kemudian para penulis, jurnalis, reporter, relawan hingga masyarakat dalam dan luar negeri menyebut masjid ini dan masjid masjid lainnya yang selamat dari tsunami Aceh sebagai masjid Ajaib. Siapapun yang melintas di daratan, lautan ataupun wilayah udara Lhoknga paska tsunami hanya dapat menyaksikan bangunan masjid ini sebagai satu satunya bangunan yang masih berdiri di hamparan puing puing kota Lhoknga yang terdiam dalam sunyi selama berbulan bulan sampai kemudian proses pemulihan kawasan tersebut dimulai dan denyut kehidupanpun kembali berdetak di kawasan itu.  Nyatanya nama masjid ini nyatanya tak sekedar nama tapi benar benar sebuah doa yang di ijabah sebagai masjid yang dirahmati Allah.

dulu dan sekarang ::: foto atas ketika tsunami menghajar Aceh, Masjid Rahmatullah menjadi satu satunya spot yang masih utuh berdiri meski seluruh kawasan disekitarnya tak bersisa dihantam gelombang tsunami. Foto bawah, kondisi saat ini di kawasan Lampu'uk di abadikan dari salah satu dari dua menara Masjid Rahmatullah.

Masjid Rahmatullah bukanlah satu satunya masjid yang masih berdiri sendirian diantara puing puing kehancuran tsunami Aceh, selain Masjid Rahmatullah ada sekitar 25 masjid lainnya di seantero Aceh yang mengalami keajaiban serupa termasuk diantaranya adalah Masjid Raya Baiturrahman di Kutaraja Banda Aceh, Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue, Masjid Raya Teuku Cik Maharaja Ghurah di Peukan Bada, Masjid dekat makam Syah Kuala, Masjid di Ujung Karang, Meulaboh, dan beberapa masjid lain di sejumlah tempat di Nangroe Aceh Darussalam.

Alamat dan Lokasi Masjid Rahmatullah

Mesjid Rahmatullah Lampu’uk

Jalan Banda Aceh – Meulaboh, Desa Lhonga km 2.1

Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar

Propinsi Nangroe Aceh Darussalam - Indonesia

Koordinat Geografi : 5°29'39.39" N 95°14'6.78" E

Catatan Sejarah Masjid Rahmatullah Lampu’uk

Bila berkunjung ke Masjid Rahmatullah kita akan menemukan tiga prasati pembangunan sekaligus yang menorehkan sejarah masjid Rahmatullah sejak pertama kali dibangun hingga kemudian mengalami proses renovasi besar besaran paska tsunami oleh Bulan Sabit Merah Turki yang tidak saja melakukan renovasi masjid ini tetapi juga membangun kota baru di sekitar Masjid Rahmatullah lengkap dengan fasilitas pendukungnya bagi penduduk Lhoknga yang selamat. Kawasan baru tersebut dinamai dengan “perkampungan Bulan Sabit Merah Turki - Turkish Red Crescent Village”

Sebagaimana dijelaskan dalam prasasti pertama bahwa Masjid Rahmatullah Lampu’uk pertama kali dibangun pada tahun 1990M (1410H), ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan masjid oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Aceh Besar, Drs. H. Sanusi Wahab, pada tanggal 21 Sya'ban 1410H bertepatan dengan tanggal 19 Maret 1990.

Empat prasasti peringatan pembangunan masjid Rahmatullah.

Proses pembangunan masjid selesai dilaksanakan dan diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Prof. DR. H. Syamsuddin Mahmud Pada tanggal 10 Jumadil Awal 1818H bertepatan dengan tanggal 12 September 1997M. sebagaimana dijelaskan dalam prasasti kedua.

Prasasti ketiga dibuat dalam tiga bahasa yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Turki, menjelaskan pembangunan masjid ini paska tsunami 2004. Teks lengkapnya berbunyi sebagai berikut :

“Pekerjaan perbaikan mesjid Rahmatullah yang rusak akibat gempa dan tsunami pembangunan dua unit menara dan pagar keliling oleh Bulan Sabit Merah Turki”

“Rahmatullah Caminin Tsunamide hasar gormus kisimlari, minateleti ve cevre duvarlari Turkiye Kizilay Dernegi Tarafindan Yapilmistir”

“The parts damaged by tsunami, the minarets and the sorounding walls of Rahmatullah Mosque mosque were constructed by Turkish Red Crescent Society”

2004 - 2012 ::: foto atas adalah kondisi masjid Rahmatullah setelah dihantam tsunami 26 Desember 2004, sedangkan foto bawah adalah kondisi masjid Rahmatullah saat ini, selain seluruh bangunan sudah direnovasi total oleh Bulan Sabit Merah Turki, tapi kini jugda dilengkapi dengan dua menara. menara kembar seperti ini merupakan arsitektur khas Turki meski bentuknya sudah disingkronisasi dengan bentuk bangunan induk.

Sedangkan prasasti ke empat menjelaskan perjalanan singkat sejarah masjid Rahmatullah dalam Bahasa Aceh, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Meuseujid Rahmatullah Lampu'uk geupeudong bak uroe 19 Maret 1990. Bak waree tsunami 26 Desember 2004, cit meung Mesuseujid nyoe sagai bangonan nyang seulamat di dairah Lampu'uk.”

“Masjid ini pertama kali dibuka untuk umum pada 19 Maret 1990. Ketika tsunami 26 Desember 2004 terjadi mesjid ini merupakan satu satunya bangunan yang tetap berdiri dari daerah Lampu'uk.”

“This Mosque was first opened to the publik in 19 March 1990. at the time of tsunami on 26 December 2004, this mosque was the only building left standing in the Lampu'uk area.”

Lampu'uk dulu dan kini ::: 8 Tahun Paska tsunami kini Lampu'uk sudah kembali normal, kawasan yang hancur dan benar benar terkikis habis di Lampu'uk seperti foto atas kini berdiri Perkampungan Bulan Sabit Merah Turki.

Bantuan dan Jejak Turki di Tanah Rencong, Serambi Mekah

Pemerintah Turki melalui Bulan Sabit Merah Turki memberikan dukungan luar biasa bagi pemulihan Aceh paska tsunami. Hubungan sejarah yang begitu erat di masa lalu memang membangkitkan semangat persaudaraan sesama muslim di Turki untuk memberikan segala bantuan yang diperlukan bagi muslim Aceh Korban tsunami. Hari Selasa 26 Desember 2006, dua tahun paska bencana tsunami Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Ali Sahin datang langsung ke Lampu’uk mewakili pemerintah dan rakyat Turki untuk meresmikan berbagai fasilitas yang dibangun oleh Bulan Sabit Merah Turki di Aceh dalam sebuah acara yang dipusatkan di halaman Masjid Rahmatullah Lampu’uk.

Berbagai pejabat negara datang ke tempat acara yang dipusatkan di halaman Masjid Rahmatullah Lhok Nga itu. Termasuk (ketika itu masih calon gubernur NAD) Muhammad Nazar yang hadir duduk membaur diantara para tamu sampai kemudian panitia menyadari kehadirannya dan meminta beliau duduk bersama para tamu kehormatan di acara tersebut. Termasuk juga Irawadi Yusuf (pasangan M. Nazar dalam Pilkada Aceh Pertama).

Rangkaian sejarah Masjid Rahmatullah sejak tsunami, renovasi dan penambahan dua menara  hingga ke bentuknya saat ini lengkap dengan gerbang bertuliskan nama masjid dalam 3 bahasa, Bahasa Indonesia, Turki dan Inggris.

Dua tahun paska tsunami memang bukan waktu yang lama. Tapi perubahan dratis kini 'me 'menyulap' Serambi Makkah termasuk desa Lampu’uk di Lhoknga. Kawasan Lhoknga yang dahulu rata dengan tanah, pun mulai hidup kembali. Jalanan sudah teraspal rapi. Masjid Rahmatullah megah berdiri setelah direnovasi. 1.052 rumah dengan tipe 45 yang dibangun dengan biaya Rp 92 juta per unit, fasilitas umum, dan empat gedung sekolah. serta perbaikan pemakaman prajurit Turki di kampung Bitai, dan sebuah masjid di dirikan di depannya. Pemakaman tersebut merupakan komplek pemakaman prajurit Turki yang dikirim ke Aceh untuk membela Aceh dari serbuan Kolonial Portugis empat ratus tahun silam.

Kedahsyatan bencana tsunami Aceh, menurut Wakil Perdana Menteri Turki, Mehmet Ali Sahin, langsung mengusik rakyat Turki dengan segera membuka rekening dompet bencana `Asia Menangis'. Hasilnya, lebih dari dua juta warga negara yang mayoritas Muslim di daratan Eropa itu, terketuk hatinya. Sebesar 260 juta dolar AS kemudian disumbangkan ke Aceh. Empat ratus tahun silam Turki pernah mengirimkan bantuan untuk mengusir penjajah Portugis dari Aceh. Sultan Selim dari Mesir memberangkatkan 15 kapal perang ke Aceh. Bahkan sebagian dari prajurit Turki itu kemudian menjadi warga Aceh dan dimakamkan di Kampung Bitai, Sebagai bukti dari hangatnya hubungan Aceh-Turki.

Gerbang Masjid Rahmatullah ::: Rahmatullah Camii ::: Rahmatullah Mosque

Dari cerita orang kampung, jasad yang dimakamkan itu adalah para ahli meriam dan strategi perang. Salah satu murid asuhannya adalah Laksamana Malahayati. Tentara Turki ini yang mengajari Aceh bagaimana membangun sebuah angkatan laut yang baik. 'Jasa mereka memang besar. Bahkan, sebelum bencana ada dua meriam peninggalan mereka yang dipajang di depan kompleks makam, namun ikut hilang dibawa tsunami. Pakar sejarah Islam Universitas Indonesia, Dr Muhammad Zafar Iqbal, menyatakan beberapa ratus tahun lalu 300 orang prajurit Turki didatangkan ke Aceh. 'Sultan Al Kohar yang berkuasa di Aceh memang meminta bantuan Sultan Turki untuk melawan Portugis.

Masjid Rahmatullah Kini

Hampir 6 bulan, kesan kehancuran masih tampak kental di kawasan ini. Hanya sekitar 700 orang yang selamat dari enam ribu lebih penduduknya yang terdiri dari kebanyakannya pekerja PT Semen Andalas Indonesia (SAI) Lampu’uk, guru, doktor, petani dan nelayan. Sebelum tsunami Lampu’uk mempunyai pantai yang indah sehingga merupakan salah satu tempat rekreasi bagi masyarakat Banda Aceh dan daerah sekitarnya. Paska tsunami seluruh kawasan rata dengan tanah, termasuk pabrik PT. SAI. Sedimen pasir dan tanah telah menutup kawasan itu berpuluh puluh sentimeter dari permukaan aslinya.

Salah satu sudut Masjid Rahmatullah

Meski masih berdiri kokoh sebagai satu satunya bangunan yang tersisa di Lampu’uk dan Lhoknga, Masjid Rahmatullah memang tidak benar benar utuh dari terjangan tsunami tersebut, kerusakan cukup parah menerpa beberapa bagian masjid ini. setelah mengalami proses renovasi total dan penambahan berbagai fasilitas penunjang masjid Rahmatullah kini kembali pulih dan siap melayani muslim Lampu’uk dan muslim manapun yang sedang melawat ke masjid ini. satu sudut ruang dalam masjid sengaja dibiarkan tak diperbaiki dari kerusakan sebagai pengingat bencana kemanusiaan itu. Sekeliling area tersebut dipagar kaca tembus pandang lengkap dengan berbagai koleksi foto foto bencana tsunami. Dan selembar tulisan berbahasa Turki, Indonesia dan Inggris “Tsunami Yi Unitma - Jangan Lupakan Tsunami – Don’t Forget Tsunami”.

Kawasan Pantai Lampu’uk telah populer sejak tahun 90-an. Tiap akhir pekan atau pada masa liburan, pantai ini selalu padat dikunjungi wisatawan. Sekitar lokasi pantai merupakan tempat hunian bagi ribuan warga yang lengkap dengan fasilitas pemukiman kelas menengah atas.  Tahun 2012 ini, delapan tahun sejak terjadinya tsunami, Pantai Lampu’uk telah berbenah. Berbagai fasilitas pelengkap seperti banana boat dan cottage telah tersedia seiring makin banyaknya wisatawan yang berkunjung. Masjid Rahmatullah yang populer karena keutuhan bangunannya setelah diterjang tsunami akhirnya juga menjadi salah satu tujuan wisata orang-orang yang berkunjung ke Pantai Lampu’uk.

Salah satu sudut interior Masjid Rahmatullah ini dengan sengaja tidak direnovasi  sebagai pengingat bagi peristiwa besar yang mengguncang Aceh tersebut.
Pemandangan kawasan Lampu'uk dari menara masjid Rahmatullah, pandangan jauh hingga ke garis langit. Disebelah kiri foto adalah Perkampungan Bulan Sabit Merah Turki untuk masyarakat Lampu'uk
Khas Aceh ::: Kubah dan fasad masjid Rahmatullah ini serupa dengan kubah dan fasad masjid masjid lainnya di Aceh, seperti juga pada Masjid Raya Baiturrahman, kutaraja - Banda Aceh.
Interior Masjid Rahmatullah, lampu'uk
Mimbar dan Mihrab Masjid Rahmatullah, Lampu'uk
Masjid Rahmatullah Lampu'uk ini dibangun dengan kubah lebih dari satu menghasilkan suasana interior yang lega berikut ventilasi cahaya alami di jendela jendela kecil di bawah kubahnya.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Referensi

heliconia.wordpress.com - masjid lampuuk (keajaiban tsunami)

bundaelly.multiply.com -perjalanan ke aceh disini di lampuuk

dudung.net – rahmatullah masjid ajaib

tourismnews.co.id - masjid-rahmatullah-kokoh-berdiri-walau-diterjang-tsunami-aceh

infoanda.com - aksi rafli dan sinbad di lhoknga

wikimapia.org - Turkish-Red-Crescent-Village

foto foto koleksi pribadi penulis dan kunjungan lokasi

------------------------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid di Aceh lainnya

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian II)

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri Aceh

Masjid Agung Baitul Ma’mur Meulaboh Aceh Barat

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh. Salah satu masjid yang selamat dari terjangan tsunami tahun 2004 lalu meski lokasinya berada di kawasan pantai. Sebuah peristiwa langka yang tak terpecahkan hingga kini, bagaimana masjid dari bahan batu bata tanpa tulang beton ini bisa bertahan dari dasyatnya terjangan tsunami sementara seluruh bangunan disekitarnya tak bersisa rata dengan tanah. (foto dari dhannysurya.blogspot.com)

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue adalah keliru satu masjid bersejarah pada kota Banda Aceh selain Masjid Raya Baiturrahman. Sama misalnya Masjid Baiturrahman, Masjid Baiturrahim pun telah sebagai saksi bisu perjalanan sejarah Aceh semenjak masa kesultanan, penjajahan Belanda, Jepang, hingga era kemerdekaan dengan segala getir manisnya sejarah. Bencara Tsunami 26 Desember 2004 mengangkat masjid Baiturrahim ke media pemberitaan dalam & luar negeri ketika hantaman air tsunami berlalu menyisakan bekas yg luar biasa mengerikan, seluruh kota luluh lantak kecuali bangunan masjid Baiturrahim.

Selembar foto yang menunjukkan masjid ini berdiri sendirian ditengah daerah Ulee Lehue yg luluh lantak sudah menyita perhatian begitu poly kalangan, dari yang menganggap itu menjadi foto editan, hoak sampai bahkan ada yg penuh penasaran mengunjungi langsung lokasi masjid ini beberapa hari paska bala hanya demi mengambarkan kebenaran fakta tadi. Sejarah sudah mencatat bahwa Masjid Baiturrahim Ulee Lheue adalah salah satu masjid pada Aceh yg selamat dari terjangan tsunami meskipun seluruh bangunan disekitarnya hancur tidak bersisa.

2 wajah ::: foto bawah adalah kondiri masjid Baiturrahim paska bencana tsunami berdiri sendirian ditengah tengah puing daerah Ulee Lheue. Dan foto atas kondisi masjid selesainya dibersihkan dari puing puing dan pada proses perbaikan.

Lokasi Masjid Baiturrahim

Masjid Baiturrahim berdiri di Kawasan wisata pantai Cermin Ulee Lheue, sebuah daerah pantai yg sangat indah dan penuh menggunakan kenangan sejarah. Ketika Belanda melakukan ekspedisi pertama ke Aceh pada tahun 1873 dilakukan melalui Pantai Cermin (Pante Ceureumen) ini, Untuk kelancaran operasi militer di Aceh, Belanda menciptakan dermaga di Ulee Lheue sebagai pintu gerbang ke Aceh pada tahun 1874 & terselesaikan pembangunannya pada tahun 1875. Untuk menghubungkan Ulee Lheue ke Banda Aceh dibangun jalan kereta barah menggunakan stasiunnya pada kurang lebih depan Mesjid Raya Baiturrahman kini .

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Kawasan objek wisata Pantai Cermin Ulee Lheue

Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh

Propinsi Nangroe Aceh Darussalam

Indonesia

Koordinat geografi : 5°33'21.01" N   95°17'2.71"E

Sejarah Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, telah berdiri sejak masa kesultanan Aceh pada abad ke-17. Masa itu masjid tadi bernama Masjid Jami? Ulee Lheu (masjid Jami? Ole Le) dibangun diatas tanah wakaf famili besar Teungku Hamzah. Pada 1873 saat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dibakar Belanda, seluruh jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Masjid Jami Ulee Lheue. Dan semenjak ketika itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim.

Sejak berdirinya sampai kini masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Awalnya masjid dibangun menggunakan konstruksi seutuhnya terbuat menurut kayu, dengan bentuk sederhana dan letaknya berada pada samping lokasi masjid yg sekarang. Karena terbuat dari kayu, bangunan masjid tidak bertahan usang karena lapuk sehingga wajib dirobohkan.

Foto udara tempat Ulee Lheue pra & paska tsunami, Masjid Baiturrahim adalah bangunan beratap hijau di bagian 'bawah tengah' foto atas, dan paska tsunami menyisakan masjid ini satu satunya bangunan yg masih utuh pada daerah itu misalnya terlihat pada foto bawah.

Pada 1922 dimasa pemerintahan kolonial Hindia Belanda masjid Baiturrahim dibangun menggunakan material tetap menggunakan gaya arsitektur Eropa. Berkaligrafi ejaan Arab Jawo. Masjid ini nir memakai material besi atau tulang penyangga melainkan hanya susunan batu bata & semen saja. Masjid ini dibangun secara swadaya oleh rakyat Meuraxa, pada saat itu dipimpin oleh Teuku Teungoh Meuraxa lebih kurang tahun 1923/1926 Masehi. Almarhum Teuku Teungoh ini juga salah seorang yg kini konon memiliki tanah warisan di Pulo Batee, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Program swadaya menggunakan azas gotong-royong sangat terlihat dalam warga Meuraxa pada ketika itu buat mengumpulkan dana, bagi sebagian besar kaum adam yg berprofesi menjadi nelayan, setiap pergi dari melaut hasil penjualannya disisihkan buat masjid begitu pula dengan ibu-mak mengumpulkan beras sedikit-sedikit pada eumpang (karung beras) sebesar satu mok (satu kaleng susu), dimana akhir bulan diserahkan pada panitia pembangunan masjid.

Metamorfosis Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Awalnya masjid ini berdiri dalam akhir tahun 1923 tanpa memiliki kubah seperti pada umumnya, melainkan hanya ada sebuah puncak masjid yang berbentuk persegi empat. Masjid ini pun hanya bisa menampung jamaah sekitar 400-500 orang. Konon cerita dari verbal ke verbal, jenis kayu buat plafon & dinding terluar pada lantai dua menara mesjid ini, didatangkan dari berbagai wilayah di Aceh seperti Meulaboh, Singkil, & Tapaktuan. Pada tahun 1930, selasar depan terpaksa diubah lantaran bentuknya menyerupai bangunan gereja. Di tahun 1981, masjid Baiturrahim menerima bantuan menurut Kerajaan Arab Saudi, sebagai akibatnya dilakukanlah perluasan ke samping kiri & kanan buat dapat menampung jamaah hingga 1.500 orang.

Dua Babak Bencana

Pada tahun 1983 Banda Aceh diguncang gempa dahsyat & meruntuhkan kubah masjid Baiturrahim. Setelah itu warga menciptakan kembali masjid tetapi nir lagi memasang kubah, hanya atap biasa. Sepuluh tahun lalu, tahun 1993 dilakukanlah renovasi besar -besaran terhadap bangunan masjid, hanya menggunakan menyisakan bangunan asli di bagian depan paska gempa tahun 1983. Selebihnya 60 persen adalah bangunan baru yg disambungkan ke bangunan asli. Sampai kini bangunan asli masjid masih terlihat kokoh di bagian depannya holistik proses renovasi itu terselesaikan tahun 1997.

Masjid Baiturrahim setelah mengalami serangkaian restorasi dan penambahan fasilitas pendukung termasuk bangunan menara tunggalnya yang merupakan sumbangan dari Sultan Brunai Darussalam (foto dari acehkita.com)

Pada 26 Desember 2004, gempa bumi yang disusul terjangan tsunami meratakan seluruh bangunan di sekitar masjid dan satu-satunya bangunan yang tersisa dan selamat adalah Masjid Baiturrahim. Kondisi masjid yang terbuat dari batu bata tersebut hanya rusak sekitar dua puluh persen saja. seperti pecahnya kaca jendela serta robohnya dinding dikarena dihantam oleh mobil yang terbawa arus. Detil kerusakan masjid Baiturrahim dapat dilihat di file pdf di link berikut ini.

Pada saat tsunami, di masjid ini ada sembilan orang yang selamat. Bahkan, ada bayi dalam gendongan orangtuanya. Mereka mampu naik hingga ke kubahnya. Merekalah yang melihat langsung dahsyatnya tsunami pada saat itu. Kini masjid dengan balutan warna putih plus arsitektur menarik dan jendela hijau di bibir pantai Ulee Lheue ini semakin cantik, apalagi hadirnya sebuah menara kecil disampingnya.

Masjid Baiturrahim saat ini (foto dariatjehpost.com)

Banyak wisatawan yang menyempatkan diri buat berkunjung ke sini walaupun sekedar mengabadikan foto, tercatat Sultan Bolkiah berdasarkan Brunei Darussalam, Bill Clinton yg jua mantan presiden AS serta presiden SBY sendiri sudah berkunjung kesini.

Masjid yang saat ini mampu menampung lebih kurang 1.500 jemaah itu, pada 2005 mendapat donasi berdasarkan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi (BRR) Aceh/Nias berupa penambahan kubah seperti waktu dibangun pada masa Belanda. Di sebelah kanan berdiri kokoh menara yg menjulang tinggi. Ini adalah bangunan bantuan berdasarkan Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei Darussalam, pasca tsunami 26 Desember 2004.

kini masjid Baiturrahim menjadi salah satu objek wisata ruhani di Ulee Lheue, di papan nama masjid ini tertera dengan jelas amaran untuk mengenakan busana muslim/muslimah saat memasuki area masjid (foto dariatjehpost.com)
interior Masjid Baiturrahim (foto dariatjehpost.com)
Masjid Baiturrahim seutuhnya (foto dari holiday-to-aceh.blogspot.com)
kembali ke bentuk aslinya, dan dilengkapi dengan menara (foto dariPanoramio)
Masjid Baiturrahim di temaramnya lampu lampu kawasan Ulee Lheue
Senja yang memerah di Ulee Lheue dengan Masjid Baiturrahim di latar belakang (foto dariPanoramio)

Referensi

wikipedia - masjid baiturrahim ulee lheue

atjehpost.com - Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Dua Babak Bencana dan Jejak Aceh Masa Silam

bpsntbandaaceh.blogspot.com – banda aceh pusat objek wisata made in tsunami

kompasiana.com - Ini Dia Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

analisadaily.com - Baiturrahim, Dunia Kagumi Kekokohannya

------------------------------------------------

Baca jua artikel masjid masjid pada Aceh lainnya

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Masjid Rahmatullah Lampu?Uk, Lhoknga

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian II)

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri Aceh

Masjid Agung Baitul Ma’mur Meulaboh Aceh Barat

Sunday, September 6, 2020

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh

Masjid Agung Lampriet, Banda Aceh.

Nangroe Aceh Darussalam, propinsi bergelar Serambi Mekah ini memang memiliki sejumlah masjid masjid indah, syarat sejarah bahkan beberapa diantaranya digelari sebagai masjid ajaib karena mampu selamat dari terjangan bencana tsunami yang teramat dasyat di penghujung tahun 2004 yang lalu. Beberapa diantaranya sudah di ulas dalam posting posting terdahulu termasuk Masjid Raya Baiturrahman BandaAceh, Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, dan Masjid Rahmatullah Lampu’uk diLhoknga. Namun dari sekian banyak masjid yang tetap kokoh berdiri tersebut, Masjid Agung Lampriet merupakan salah satu masjid yang mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami 26 Desember 2004 tersebut.

Masjid Agung Lampriet awal mulanya sudah dibangun secara sedikit demi sedikit sedikit demi sedikit sang rakyat muslim setempat dari tahun 1979 menggunakan nama Masjid Baitul Makmur dengan status sebagai Masjid Agung bagi kota Banda Aceh. Ketika gempa disusul sang gelombang tsunami menghantam Aceh, Nias dan daerah Samudera Hindia lainnya, menyebabkan kerusakan parah pada bangunan masjid ini. Pemerintah Kesultanan Oman yang kemudian menaruh dana bantuan buat membentuk balik masjid tadi sebagai sebuah masjid Agung nan megah berarsitektur Timur Tengah misalnya yg kita kenal saat ini.

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh diwaktu malam dari sudut yang sama dengan foto pertama (foto dari tatapannegeri.blogspot.com)

Proses pembangunannya dimulai tahun 2006 dan diresmikan tahun 2008. Sempat mengemuka untuk menamakan masjid agung ini dengan nama Masjid Agung Al-Makmur Sultan Kabus, diambil dari nama Sultan Qaboos, Sultan Oman. Namun justru Sultan Oman yang kemudian mengatakan bahwa beliau tulus ikhlas lillahita’ala membantu muslim Aceh dan tidak perlu menyangkutpautkan bantuan tersebut dengan namanya. Sekedar catatan, nama Sultan Qaboos sudah di abadikan sebagai nama Masjid Nasional Oman dengan nama Masjid Agung Sultan Qaboos Muscat.

Lokasi dan Alamat Masjid Al-Makmur Lampriet

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Jl. Taman Ratu Syafaruddin / Muhammad Daud Beureuh

Lampriet, Banda Aceh 24452

Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia

Koordinat Geografi : 5° 34' 2.46" N  95° 20' 18.56" E

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet berada di pertigaan jalan Jl. Taman Ratu Syafaruddin / Muhammad Daud Beureuh, berseberangan dengan taman Ratu Safiatuddin di kota Banda Aceh. Dari kejauhan masjid ini sudah terlihat kemegahannya. Aroma Timur Tengah memang sangat kental dalam bangunan masjid satu ini. Lengkap dengan kubah besar & menara kembar-nya. Keseluruhan proses rancangan, pembangunan dan pendanaannya ditangani langsung sang pemerintah Oman.

Sejarah Masjid Agung Lampriet

Mesjid Al Makmur Lampriet merupakan galat satu menurut sekian mesjid di Kota Banda Aceh. Mesjid itu telah didirikan pada 1979 oleh rakyat setempat secara swadaya sedikit demi sedikit menggunakan status menjadi masjid Agung bagi Kota Banda Aceh. Dulu kawasan Lampriet merupakan komplek pegawai pemerintahan yg sempat diduduki sang penjajah Belanda & dijadikan tanah erpah. Ketika gempa & tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004, syarat mesjid tersebut runtuh dan rusak total. Sejumlah orang berpendapat mesjid itu tidak layak lagi dipakai.

Menurut Muhammad Razali, Imam besar Mesjid Agung Lampriet, Proses pembangunan mesjid itu dimulai pada tahun 1979 menggunakan peletakan batu pertama sang Prof A Madjid Ibrahim. Awalnya diberi nama Masjid Baitul Makmur oleh tengku H Abdullah Ujong Rimba yg ketika itu merupakan imam akbar mesjid ini sekaligus sebagai Ketua MUI masa itu. Nama masjid ini lalu diganti lagi sebagai Masjid Al-Makmur.

Bentuk asli bangunan Masjid Agung Al-Makmur Lampriet sebelum rusak parah sebelum tsunami, kualitas fotonya rendah tapi cukup menaruh gambaran bentuk awal masjid ini.

Digantinya nama masjid ini dari 'Baitul Makmur' Menjadi Al-Makmur, salah satunya adalah  karena Baitul Makmur itu artinya 'Arasy Allah' yang berada di aras. Baitul Makmur hanya ada di aras, sedangkan di dunia ini tidak ada. Itu sebabnya kemudian disepakati diubah namanya menjadi Al Makmur. Pergantian nama ini dilakukan pada tahun 1980-an, sesudah mesjid berdiri.

Utusan Pemerintah Oman yang tiba ke Aceh kala itu sempat menyeleksi apakah akan menciptakan mesjid Lamprit atau Mesjid Lamgugop. Dengan aneka macam pertimbangan, galat satunya karena masjid ini dekat dan strategis, Pemerintah Kesultanan Oman lalu membangun mesjid ini. Proses pembangunan mesjid itu dimulai 2006 & terselesaikan keseluruhan tahun 2008.

Mesjid Al-Makmur Lampriet Banda Aceh terlihat megah setelah proses rekontruksi yang dibiayai oleh Kesultanan Oman. Persiapannya pun dilakukan secepatnya guna menyambut Idul Fitri 1428 H. Foto dari hinamagazine.com

Setelah proses pembangunan selesai sempat timbul gagasan buat menamai bangunan baru Masjid Agung Banda Aceh ini menggunakan Mesjid Agung Almakmur Sultan Kabus. Diambil dari nama Sultan Oman, Sultan Qaboos, Tetapi sultan Qaboos sendiri kemudian menyatakan hadiah ini merupakan ihklas & tidak perlu dihunghubungkan menggunakan namanya. Karenanya lalu masjid ini resmi bernama Masjid Agung Al-Makmur. Tetapi demikian kebanyakan orang sudah terlanjur menyebut masjid Agung ini menjadi Masjid Oman.

Bantuan Kesultanan Oman

Oman merupakan negara Islam pada Timur Tengah yang pertama kali datang membantu Aceh selesainya sebagian akbar wilayah pesisir pantai hancur diterjang bala alam tsunami 26 Desember 2004. Direktur Eksekutif Oman Charity, Ali Ibrahim Al Raisi, langsung tiba sendiri ke Aceh seminggu paska tsunami buat melihat dengan mata kepalanya sendiri dahsyatnya musibah tadi. Beliau berada di Aceh selama 45 hari & saat pulang ke negaranya ia eksklusif melaporkan kepada Sultan Oman apa saja donasi yg perlu segera disalurkan.

Ekterior Masjid Agung Al-Makmur, Lampriet, Banda Aceh

Ali Ibrahim Al Raisi  mengatakan bahwa “Kami tersanjung karena Oman adalah negara Arab pertama yang datang seminggu setelah tsunami. Kami membawa bantuan tanggap darurat ke Banda Aceh dan Meulaboh”. Oman dan Aceh memang memiliki hubungan emosional yang sangat erat baik dari sejarah maupun perdagangan yang mengawali masuknya peradaban Islam di provinsi ujung barat Sumatera ini. masih menurut Ali Ibrahim, kesamaan lainnya yaitu nama ibukota Oman, Muscat menjadi nama salah satu makanan tradisional Aceh yang masih digemari hingga kini. “Meuseukat” merupakan bukti adanya hubungan erat dan membanggakan.

Masjid Agung Al Makmur dibangun atas dana donasi dari Kesultanan Oman menggunakan menghabiskan dana lebih kurang Rp17 miliar rupiah, sebagai bagian menurut paket bantuan kesultanan Oman untuk rakyat Aceh. Bantuan berdasarkan kesultanan Oman sudah mengalir ke Aceh sejak masa tanggap darurat & ditangani pribadi oleh Ali Ibrahim Al Raisi, semasa tanggap darurat, Oman mengirimkan bahan makanan & kebutuhan lainnya sebanyak 60 ton ke Banda Aceh & Meulaboh. Menyusul lalu puluhan unit ambulan & dilanjutkan dengan donasi tahap kedua di masa rehabilitasi & rekonstruksi Aceh berupa donasi perumahan berupa 150 rumah di Montasik yg dianggap Oman Vilage, gedung sekolah serta masjid.

Ekterior Masjid Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh

Kesultanan Oman jua berkomitmen membantu 500 anak yatim di Provinsi Aceh selama sepuluh tahun paska bala yang adalah bagian menurut proyek bantuan rehabilitasi & rekonstruksi. Tiga tahun sebelum nya Oman pula telah membantu memberikan beasiswa pendidikan pada santri pesantren di Aceh dan donasi tadi akan berlanjut sampai 15 tahun.

Peresmian Masjid Agung Lampriet

19 Mei 2009 Masjid Agung Al-Makmur, Lampriet diresmikan penggunaannya. Hadir pada upacara peresmian tersebut Ali Ibrahim Al Raisy, Direktur Eksekutif Oman Charitible Organitation mewakili pemerintahan Kesultanan Oman. Dalam pidatonya dia menyatakan pemerintah dan masyarakat Oman sangat gembira bisa membantu masyarakat Aceh sesudah dilanda tsunami. ?Sultan Oman mengucapkan selamat atas proses pembangunan balik Aceh usai bencana,? Ujarnya. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sebesar 1,3 juta dolar AS atau lebih kurang Rp 17 miliar Rupiah yang seluruhnya bantuan Kesultanan Oman.

Interior Masjid Agung Al-Makmur Lampriet, Banda Aceh

Turut hadir dalam upacara pelantikan tadi Wakil Gubernur Muhammad Nazar, Wali Kota Banda Aceh Mawardy Nurdin dan Kepala Perwakilan Oman di Indonesia Hussain Ali Taher Musqaibal. Wali Kota Mawardy Nurdin mengatakan, Provinsi Aceh mempunyai Masjid Raya Baiturrahman sebagai kebanggaan, sedangkan Masjid Agung Al Makmur ini menjadi kebanggaan Kota Banda Aceh. Walikota mengharapkan kehadiran masjid akan semakin mempererat tali persaudaraan antara Aceh dan Oman yg telah sejak usang terjalin, serta mengharapkan kepada warga Kota Banda Aceh buat memakmurkan masjid ini supaya sinkron namanya. Selain membentuk Masjid Agung Al-Makmur Oman Charity juga membangun

Aktivitas Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Menurut Imam masjid Agung Lampriet, tingkan ummat muslim yg beribadah di sini, tergolong rame, lantaran tempatnya strategis buat disinggahi oleh orang yang lewat,Saat magrib pada hari biasa bukan pada bulan puasa (Ramadhan), jemaah yang hadir hingga enam saf. Dalam sekali magrib, jemaah yang beribadah pada mesjid itu mencapai 500 orang, laki dan wanita. Jemaah menyusut waktu subuh paling banyak hanya satu setengah Saf. Tetapi, di ketika jumat jemaahnya memenuhi mesjid ini. Di hari Jumat terkadang mesjid itu tidak mampu menampung semua jemaah.

Jema'ah pada Masjid Agung Al-Makmur, Lampriet, Banda Aceh

Sebagai masjid Agung, Masjid Agung Lampriet ini menjadi tempat dilaksanakannya acara acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Banda Aceh maupun Pemerintah Propinsi NAD bersama Masjid Raya Baiturrahman. Termasuk acara Pekan Budaya Aceh hingga proses seleksi bagi para calon walikota Banda Aceh yang di uji kemampuan mereka membaca Al-Qur’an juga diselenggarakan di Masjid Agung Lampriet ini. Seperti yang dilaksanakan saat Banda Aceh akan memiliki Empat pasangan bakal calon wali kota/wakil wali kota Banda Aceh periode 2012-2017, semua bakal calon mengikuti uji kemampuan baca Al Quran pada tanggal 16 Oktober 2011 lalu.

Empat pasangan yang mengikuti uji bisa baca Al-quran itu yakni T Irwan Johan/Tgk Alamsyah, Aminullah Usman/Tgk Muhibban, Zulmaifikar/Lindawati & Mawardy Nurdin/Illiza Sa?Aduddin Djamal. Mereka dievaluasi oleh tim menurut Lembaga Pembinaan Tilawatil Quran (LPTQ). Sangat menarik, lantaran sepertinya baru di Aceh yg berakibat kemampuan membaca Al-Qur?An menjadi salah satu kriteria bagi calon pemimpin nya.

Acara lain yang tak kalah menarik & relatif unik diselenggarakan di masjid Agung Lampriet ini beserta menggunakan masjid masjid besar di Aceh termasuk pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, adalah penyelenggaraan zikir yang dilaksanakan pada malam pergantian tahun, misalnya yg diselenggarakan dalam malam pergantian tahun 2011-2012 kemudian. Zikir & muhasabah yang digelar pada Masjid Al Makmur Lampriet tadi diakhiri dengan melaksanakan shalat malam.

Referensi

acehkita.com – masjid al-makmur diresmikan

beritasore.com - masjid-bantuan-sultan-oman-diresmikan

zulfajri-aceh.blogspot.com - pemandangan-timur-tengah

atjehpost.com – riwayat mesjid agung lampriet dari aceh ke oman

beritasore.com - masjid-bantuan-sultan-oman-diresmikan

harian-aceh.com - calon-wali-kota-diuji-baca-al-quran

kpubandaaceh.wordpress.com - KIP Kota Banda Aceh Gelar Tes Uji Mampu Baca Al Quran

gemabaiturrahman.com - lantunan-zikir-iringi-pergantian-tahun

------------------------------------------------

Baca jua artikel masjid masjid di Aceh lainnya

Masjid Agung Al-Makmur Lampriet

Masjid Rahmatullah Lampu?Uk, Lhoknga

Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian II)

Islamic Centre Lhokseumawe (bagian I)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh (Bagian I) &(Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri Aceh

Masjid Agung Baitul Ma’mur Meulaboh Aceh Barat

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done