Islami Pedia: Masjid Kepulauan Riau
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Kepulauan Riau. Show all posts
Showing posts with label Masjid Kepulauan Riau. Show all posts

Wednesday, July 22, 2020

Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Pulau Penyengat atau lengkapnya bernama Pulau Penyengat Indera Sakti, adalah pulau kecil di kota Tanjung Pinang, Ibukota provinsi Kepulauan Riau (KEPRI). Pulau kecil dengan luas sekitar 240 hektar atau 3,5 kilometer persegi namun menyimpan begitu banyak warisan sejarah kebesaran Riau di masa lalu, sejarah sebuah kesultanan Islam yang begitu berpengaruh. Sebut saja penyair Raja Ali Haji yang terkenal dengan karyanya yang begitu melegenda Gurindam Dua Belas, adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia dan dinobatkan sebagia Bapak bahasa melayu Indonesia, berasal dari Pulau kecil ini. Bila berkesempatan berkunjung ke Pulau ini anda dapat menikmati bait bait Syair Gurindam Dua Belas yang terpatri rapi di tembok dalam komplek pemakaman Engku Putri, tempat dimana Makam Raja Ali Haji berada.

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pulau Penyengat merupakan bangunan dari masa kegemilangan kesultan Riau di Pulau Penyengat yang masih terawat baik dari masa itu hingga hari ini. Masjid yang kadang juga disebut sebagai masjid putih telur itu berada di posisi yang begitu mecolok mata dengan warna kuning menyala, dapat dipandang dengan mata telanjang dari pantai kota Tanjung Pinang, seakan menyambut dengan ramah semua orang yang berkunjung ke Pulau Penyengat. Keberadaan masjid ini menjadi Ikon sejarah yang begitu penting bagi Pulau Penyengat dan provinsi Kepulauan Riau.

Lokasi Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau berada dalam kawasan Cagar Budaya Pulau Penyengat dapat dicapai beberapa menit menggunakan perahu motor atau dalam bahasa setempat disebut Pompong atau pancung, dari dermaga Sri Bintan Indrapura kota Tanjung Pinang. Jangan lupa untuk masuk ke dermaga lokal bukan dermaga antar bangsa. Karena dermaga kota Tanjung Pinang selain melayani rute lokal, antar pulau antar provinsi, juga melayani perjalanan laut internasional.

Dari Kota Industri Batam, dapat dicapai menggunakan Kapal cepat dengan lama perjalanan kurang lebih satu jam dari beberapa dermaga di Kota Batam ke dermaga Tanjung Pinang. Sementara perjalanan dari pulau pulau lain Indonesia, selain dapat ditempuh dengan transit di kota Batam, dapat memilih rute perjalanan laut langsung ke dermaga Tanjung Pinang atau rute penerbangan langsung ke Bandar Udara Internasional Haji Fisabilillah, di kawasan Kijang, Kota Tanjung Pinang. Tergantung mana yang lebih nyaman bagi perjalanan anda.

View Larger Map "color:#0000FF;text-align:left">View Larger Map

Akomodasi

Letak kota Tanjung Pinang yang berada di tepi laut di teluk Bintan memberikan pemandangan yang cukup menawan. Kota ini menyediakan cukup banyak alternatif tempat menginap mulai dari penginapan hingga perhotelan.

Sejarah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat dilihat dari Pantai Tanjung Pinang

Masjid Putih Telur

Masjid yang diklaim sebut menjadi masjid putih telur ini, pada proses pembangunannya memang poly memakai putih telur buat campuran material kapur, pasir dan tanah liat yg digunakan untuk membentuk masjid ini. Hal tersebut terjadi lantaran begitu melimpahnya pasokan telur berdasarkan rakyat secara senang rela bagi keperluan para pekerja pembangunan masjid ini hingga telur telur yg tak habis buat pada konsumsi lalu sang para pekerja ketika dipakai sebagai pencampur material dengan harapan agar masjid ini lebih kokoh & tahan lama .

Mahar Sultan Mahmudsyah Untuk Engku Putri

Pulau Penyengat merupakan Mahar (emas Kawin) dari Raja Mahmudsyah untuk Istrinya, Engku Putri atau Raja Hamidah di tahun 1805. Engku Putri atau Raja Hamidah adalah putri dari Raja Haji Fisabilillah Yang dipertuan muda Riau ke-4. Di tahun yang sama dimulai pembangunan masjid kecil dari kayu di lokasi yang sama. Penerus Sultan Mahmudsyah yang kemudian membangun masjid ini hingga berwujud seperti yang sekarang kita lihat.

Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat

Sejarah mencatat bahwa perkawinan Raja Mahmudsyah dengan Engku Putri ini menjadi peristiwa yang penting terkait dengan Kesultan Riau Johor, lantaran Engku Putri di beri amanat buat memegang lambang lambang kebesaran kesultanan atau Regelia yang menjadi syarat syah nya penobatan seorang Sultan menurut tradisi setempat. Itu sebabnya di jaman kekuasaan Belanda, pemerintah kolonial Belanda berusaha sekuat tenaha buat merampas lambang lambang tersebut menurut tangan Engku Putri. Namun Engku Putri teguh memegang amanah sampai ahir hayatnya.

Renovasi & ekspansi

Pembangunan masjid secara akbar-besaran dilakukan waktu Abdurahman Muazham Shah berkuasa di Riau dengan gelar Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga (1832-1844) menggantikan Raja Ja'far. Tak usang setelah memegang jabatan itu, dalam 1 Syawal tahun 1284 H (1832 M), setelah usai shalat Idul Fitri, beliau menyeru warga buat bergotong royong membangun masjid. Dalam gotong royong itulah, rakyat membawa berbagai perbekalan. Termasuk telur. Karena berlimpah, banyak putih telur yg nir habis dimakan. Dan sang pekerja, putih telur itu dijadikan adonan adukan.

Sejak dibangun tahun 1832 dengan bangunan beton seperti yang kita lihat sekarang ini. Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat, tidak pernah di renovasi atau di ubah bentuknya. Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat ini sudah dijadikan situs cagar budaya oleh pemerintah Republik Indonesia.

Al-Qur?An Tulisan Tangan Koleksi Masjid Sultan Riau

Salah Satu Al-Qur'an tulisan tangan koleksi Masjid

dipajang dalam kaca dekat pintu masuk masjid

Selain bangunan yang indah, masjid Penyengat menyimpan dua mushaf Alquran tulisan tangan yang diletakkan dalam peti kaca di depan pintu masuk. Mushaf ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul. Putera Riau asli Pulau Penyengat yang dikirim oleh Sultan untuk belajar ke Turki pada tahun 1867.

Ada Alquran tulis tangan lain yg terdapat di masjid, yaitu Alqur`an tulisan tangan Abdullah Al Bugisi tahun 1752. Tetapi, tak diperlihatkan pada umum lantaran sudah terlalu tua dan ringkih serta rentan akan kerusakan. Uniknya, di bingkai mushaf Alqur?An ini terdapat tafsiran-tafsiran berdasarkan ayat-ayat Alquran. Bahkan, masih ada aneka macam terjemahan dalam bahasa Melayu, istilah per kata pada atas goresan pena ayat-ayat tadi. Mushaf ini tersimpan bersama 300-an kitab termasuk buku buku kuning, dalam dua lemari pada sayap kanan depan masjid.

Alqur`an tulisan tangan Abdurrahman Stambul masih mampu dipandang didalam Masjid yg dipajang didalam lemari kaca persis didepan pintu masuk, sedangkan karya Abdullah Al Bugisi nir mampu ditinjau lagi & disimpan lantaran sudah rusak dan rapuh.

Arsitektur Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Ada 13 kubah berbentuk bawang pada masjid ini yang susunannya bervariasi. Ditopang oleh empat pilat beton dibagian tengah. Ditambah menggunakan empat menara disetiap penjuru yg masing-masing memiliki ketinggian lebih kurang 19 meter, dulunya menara ini dipakai menjadi tempat muazin mengumandangkan azan, sebelum lalu digantikan dengan pengeras suara yg dipasang pada ke empat menara tersebut.

Masjid ini pula mempunyai 17 bubung. Angka 17 ini diartikan menjadi jumlah rakaat shalat. Masjid ini adalah satu-satunya peninggalan Kerajaan Riau-Lingga yg masih ada. Berukuran kurang lebih 54 x 32 meter. Ukuran bangunan induknya sekitar 29,3 x 19,5 meter. Disekitar masjid pula terdapat pemakaman muslim.

Keindahan arsitektur masjid sangat unik. Masjid ini bergaya India karena memang tukang-tukang yang membangun bangunan utamanya adalah orang-orang India yang didatangkan dari Singapura. Di halaman mesjid, terdapat dua buah rumahsotoh yang diperuntukkan bagi musafir dan tempat musyawarah. Selain itu terdapat juga dua balai, tempat orang biasanya menghidangkan makanan ketika kenduri dan untuk berbuka puasa yang disediakan pengurus mesjid setiap hari.

Saat pertama kali dibangun, Masjid Sultan Riau berwarna putih, saat ini sudah dicat dengan warna kebesaran Melayu, warna kuning dipadukan dengan warna hijau sebagi warna kebesaran umat Islam. Ruangan Masjid Sultan Riau bisa dibagi lima ruangan, sebagai penanda Rukun Islam ada lima, ditopang empat tiang beton didalam ruangan berdiameter sekitar 1 meter yang menggambarkan Gurindam Dua Belas yang dinyatakan Raja Ali Haji, "Barang siapa mengenal yang empat, maka dia itulah orang yang ma`rifat". Empat tiang tersebut juga menandakan Islam mempunyai empat Mazhab, yaitu Hambali, Maliki, Syafii dan Hanafi.

Corak bagian dalam 13 kubah tersebut pula mempunyai corak & variasi yg tidak sama satu sama lainnya, ada yang berbentuk bundar , segi tiga, segi 5, segi empat dengan oval keatas, yang menurut sejarahnya diartikan sebagai sholat 5 waktu memiliki jumlah rakaat yg tidak sama.

peninggalan sejarah yang ada di masjid tersebut berupa Mimbar untuk Khatib dalam Sholat Juma`t yang didatangkan dari Demak dibuat tahun 1832, berupa kayu jati ukiran Jepara dan masih difungsikan sampai sekarang untuk Khatib Sholat Jum`at dan hari raya. Mimbar ini dipesan deari Jepara, Jawa Tengah, sebanyak dua mimbar. Satu mimbar diletakkan di Mesjid Sultan di Pulau Penyengat, sedangkan mimbar lain yang berukuran lebih kecil, diletakkan pada mesjid di Daik. Sementara lampu kristal hadiah dari Kerajaan Prusia (Jerman) pada tahun 1860-an masih terpasang di salah satu bagian kubah masjid.

Pasir Mekah

di dekat mimbar Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat ini disimpan sepiring pasir yang berasal dari Makkah al-Mukarramah, dibawa oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua bangsawan Riau pertama mengerjakan haji tahun 1820-an. Pasir tersebut senantiasa digunakan masyarakat dalam upacarajejak tanah, suatu tradisi menginjak tanah untuk pertama kali bagi kanak-kanak.

Masjid Indonesia pertama yang memakai kubah

Dalam dua kali pameran mesjid pada Festival Istiqlal di Jakarta (1991-1995) disebutkan bahwa Mesjid Sultan Riau Pulau Penyengat ini merupakan mesjid pertama di Indonesia yang memakai kubah.

Tradisi Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat memiliki tradisi unik dalam memperingatai hari-hari besar Islam, seperti tahun baru Islam setiap tanggal 1 Muharram yang ditandai dengan berkeliling kampung selama tiga hari pada malam hari dengan Ratib Saman. Tujuannya untuk pembersihan kampung dari hal-hal yang tidak baik, seperti mengazankan tempat-tempat yang dianggap angker.

Pada Maulid Nabi Muhammad SAW jua berkeliling kampung sebelum membacakan Kitab Al-Barzanji pada Masjid. Selain itu pula pembacaan hikayat Isra Mi`raj Nabi Muhammad S.A.W saat peringatan Isra Mi`raj. Beberapa hari sebelum tiba bulan Ramdhan setiap tahun juga dilakukan `Kenduri Jamak` yang diikuti semua masyarakat Penyengat & rakyat lainnya pada Masjid Sultan Riau.

Cagar Budaya

Mimbar dan Mihrab Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau atau Masjid Raya Penyengat, ditetapkan pemerintah sebagai benda cagar budaya bersama 16 situs sejarah lainnya di Pulau milik Engku Putri itu. Pemerintah bersama warga Pulau Penyengat tetap berusaha melestarikan peninggalan sejarah Kerjaan Riau-Lingga di pulau itu.

Pelestarian benda-benda cagar budaya di Pulau Penyengat dibawah pengawasan Pemkot Tanjungpinang, provinsi Kepulauan Riau, Kementerian Kebudyaan dan Pariwisata, serta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Sumatra Barat dan Balai Arkeologi Medan.

Tujuan Wisata Rohani

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat senantiasa menarik perhatian para pengunjung dari berbagai daerah, terutama di bulan suci Ramadhan. Pengunjung dari berbagai daerah Indonesia serta dari manca negara terutama dari Singapura dan Malaysia berdatangan ke masjid ini. Selain untuk melakanakan sholat juga untuk menikmati keindahan masjid tua ini.

Video Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Foto Foto Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Referensi

Jelajah Bersejarah di Pulau Penyengat

Masjid Raya Penyengat

Masjid Sultan Riau di Pulau Engku Putri

bpbudayapenyengat

Mesjid Sultan pada Penyengat-Riau

Napak Tilas Sejarah pada Pulau Penyengat

·Pulau Penyengat, Pesona di Balik Kebersahajaan

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Raya Batam, Kepulauan Riau

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Natuna Kepulauan Riau

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan Bagian II

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Agung Sultan Palembang Bagian I dan (Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang, Sumatera Selatan

Masjid Ganting - Padang

Mesjid Nurul Iman kota Padang, Sumatera Barat?

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Tuesday, July 21, 2020

Masjid Raya Batam, Kepulauan Riau

Masjid Raya Batam (bloger)

Masjid Raya Batam dirancang sebagai pemenuhan kebutuhan fasilitas peribadatan yang melayani penduduk Pulau Batam pada umumnya. Dan khususnya bagi warga muslim di daerah Batam Centre. Masjid ini diharapkan dapat menjadi tempat yang representatif yang bisa menampung kegiatan umat Islam dalam hal keagamaan, pendidikan, sosial, ukhuwah, budaya mau pun syiar Islam. Sehingga menjadi kebanggaan umat Islam di Batam dan Kepualuan Riau. Selain hal itu, diharapkan masjid dapat menunjang dunia kepariwisataan nasional. Masjid Raya Batam meraih penghargaan Masjid Award dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) tahun 2009.

Lokasi Masjid Raya Batam

Masjid Raya Batam berada di kawasan Batam Center yang merupakan pusat pemerintahan kota Batam. Berhadap hadapan dengan kantor Badan Otorita Pengemabngan Pulau Batam atau BIDA (Batam Industrial Development Authority).

Situs Resmi masjid Raya Batam : http://masjidrayabatam.net

Koordinat : 1° 7' 35.01" N  104° 3' 12.25" E

View Masjid Raya Batam in a larger map

Klik url ini untuk kunjungan virtual ke Masjid Raya Batam

Sejarah Pembangunan Masjid Raya Batam

Masjid Raya Batam di desain oleh Ir Achmad Noe'man dan disetujui pada tanggal 31 Agustus 1997.  Mulai di bangun pada tahun 1999. Ir Achmad Noe'man terkenal dengan karya karya monumentalnya termasuk diantaranya adalah Masjid Salman di ITB di Bandung, Masjid Baiturrahim di kawasan Istana Negara Jakarta,  Masjid Al-Furqan di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia (d/h IKIP) Bandung, Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makasar dan Masjid Istiklal Indonesia di Sarajevo, Bosnia Herzegovina.

Arsitektur Masjid Raya Batam

Ukuran dan Kapasitas Masjid

Masjid Raya Batam dibangun di atas lahan seluas ± 75.000 m2, terdiri dari ruang salat dan mezanin 2515,00 m2, ruang wudhu pria 506,70 m2, ruang wudhu wanita 178,10 m2, ruang simpan sepatu 39,96 m2, Ruang kegiatan (lantai dasar) 2.190,24 m2, dilengkapi dengan menara setinggi 66 m dengan luas 9,00 m2, ditambah selasar penghubung seluas 1.270,00 m2. Dengan ukuran yang demikian besar Masjid Raya Batam dapat menampung jemaah di dalam masjid ± 3.500 jamaah dan luar masjid ± 15.000 jamaah.

Aerial View masjid Raya Batam 22 Feb 2008

Bantuk balok bujur kandang

Bentuk yang dirancang merupakan penggabungan dari dua bentuk dasar yaitu : balok bujur sangkar sebagai badan bangunan, dan limas sama sisi (teriris tiga bagian) sebagai kepala bangunan.  Dipilihnya bentuk balok bujur sangkar dengan pertimbangan bahwa bentuk tersebut lebih kompak dan kokoh sehingga lebih memenuhi syarat untuk fungsi masjid dalam membentuk keimanan yang kuat, dan lebih memenuhi syarat untuk bangunan bentang besar atau bebas kolom sehingga mampu menampung jamaah salat lebih besar.

Atap limas Masjid Raya Batam (bloger)

Atap limas

Sedangkan bentuk limas sama sisi (teriris tiga bagian) dipilih dengan pertimbangan bahwa bentuk atap yang cocok buat denah bangunan bujur sangkar, memiliki persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas menjadi simbol interaksi antara manusia & Tuhan (habluminallah). Sedangkan Irisan tiga bagian adalah simbol bepergian hayati insan (menjadi hamba Allah) dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam global, & alam akhirat.

Plaza Salat

Plaza salat berupa pelataran laman primer masjid yg karena pertimbangan topografis dan arsitektural letaknya lebih tinggi menurut jalan masuk. Plaza salat dibuat sebagai perluasan ruang masjid manakala jamaah melebihi kapasitas atau dalam ketika salat Idul Fitri dan Idul Adha yg umumnya diselenggarakan pada lapangan terbuka. Agar penyelenggaraan salat sinkron dengan tuntunan agama, dibuatlah garis-garis shaf yang akan mengarahkan jamaah salat menggunakan berbaris lurus menghadap kiblat. Lebar shaf ditentukan 120 cm. Plaza ini terdiri menurut 2 strata yaitu plaza bawah & plaza atas. Hal ini buat menaruh kesempatan pada pengunjung buat beristirahat sejenak sebelum naik lagi menuju masjid.

Di plaza bawah terdapat kolam air mancur yang bisa pula dipakai sebagai tempat berwudhu. Selain kolam air mancur & tangga-tangga merupakan bak-bak flora batu kali, lampu-lampu taman dan deretan pohon-pohon palem raja. Keseluruhan elemen diharapkan menciptakan suasana plaza shalat lebih nyaman, lebih latif & berwibawa sebagai suatu plaza salat masjid raya.

Plaza salat ditutup klinker terakota yang berwarna merah bata. Garis-garis shaf menggunakan bahan paving blocks yang dipola menggunakan warna kelabu sebagai akibatnya terlihat paradoksal menggunakan merah batanya klinker terakota

Selasar Tertutup

Adanya selasar tertutup yaitu selasar yang beratap menjadi pembatas plaza salat & penanda zona transisi atau semi suci sebelum masuk ke zona suci atau ruang primer masjid. Selasar tertutup ini dirancang sedemikian rupa dan merupakan elemen arsitektur yang cukup berarti ditinjau dari segi fungsi maupun arsitektural masjid. Dipilih bahan beton bertulang buat kolom mau pun atap. Agar tidak berkesan tidak aktif, masih ada permainan irama atap yaitu atap pelat beton diselingi atap limas dari bahan transparan menggunakan struktur pipa besi hitam. Bahan penutup lantainya adalah keramik

Senja di Masjid Raya Batam (panoramio)

Tangga

Pencapaian utama melalui tangga primer yg eksklusif menghadap plaza salat. Tangga spesifik dari ruang wudhu & untuk menuju mezanine pada ekspresikan ke dalam bentuk ruang tangga yang berupa core tangga yg terletak dibagian kiri & kanan

Fasilitas Penyandang Cacat

Untuk kemudahan penyandang stigma terutama pemakai kursi roda, disediakan ramp menuju ruang utama Masjid maupun ruang wudhu. Ramp primer yaitu menuju ruang salat primer menggunakan bahan beton bertulang. Kemiringan ramp yang direncanakan merupakan 1:15 atau ? 6,9%. Selain ramp disediakan juga toilet spesifik baik untuk pria mau pun wanita

Fasilitas Parkir

Disediakan areal parkir buat para jamaah yg menampung; tunggangan roda empat (mobil) menggunakan kapasitas ? 158 kendaraan, bus menggunakan kapasitas ? 9 kendaraan, kendaraan roda dua (sepeda motor) dengan kapasitas ? 140 kendaraan, kendaraan VIP dengan kapasitas ? 8 kendaraan, parkir pada pintu utara menggunakan kapasitas ? 20 kendaraan roda empat

Plaza Kurban

Untuk penyelenggaraan pemotongari hewan kurban, disediakan tempat yg permanen yg telah dilengkapi dengan tempat penampungan dan saluran air limbah darah, tiang-tiang tenda pelindung cuaca. Dengan tersedianya plaza kurban yang permanen diharapkan lingkungan masjid akan tetap higienis dan nyaman terutama dalam hari-hari menjelang, pada waktu & sinkron hari Idul Adha

Interior Masjid Raya Batam

Menara

Fungsi utama adalah loka menyimpan alat-alat rapikan bunyi agar suara adzan bisa terdengar lebih jauh dan jelas. Dari sisi arsitektural adalah eye catcher & penanda lingkungan, karena berupa unsur vertikal yang relatif lebih banyak didominasi menggunakan penempatan di sudut tapak menghadap ke sentra perempatan jalan. Tinggi menara 66 meter sebagai penandaan akan jumlah ayat di pada Al Qur'an, 6.666 ayat

Tata Hijau

Ruang lingkup menurut pekerjaan landscaping merupakan menata elemen-elemen keras dan lunak pada page dan plaza salat Masjid Raya Batam Centre sedemikian rupa dalam rangka mendukung kemakmuran aktifitas rutin dan berkala. Tujuan khususnya adalah buat membangun suasana ruang luar supaya lebih hijau, sejuk dan nyaman.

Bak-bak flora (bloembak)

Bak flora memakai bahan batu kali berwarna ketabu kehitaman, hal ini buat memberi kesan alami & kokoh. Berfungsi pula menjadi pengakhiran tangga dan turap resistor tanah

Masjid Raya Batam (panoramio)

Suasana di pada Masjid Raya Batam

Referensi

Situs Resmi Masjid Raya Batam

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Natuna Kepulauan Riau

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan Bagian II

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Agung Sultan Palembang Bagian I dan (Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang, Sumatera Selatan

Masjid Ganting - Padang

Mesjid Nurul Iman kota Padang, Sumatera Barat?

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Sunday, June 7, 2020

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Indahnya Masjid Raya Natuna (foto dari kaskuser)

Masjid Raya Natuna atau oleh masyarakat setempat disebut sebagai Masjid Agung Natuna diresmikan penggunaannya pada tanggal 4 April 2009. Masjid tersebut merupakan simbol kebangkitan Islam di Natuna dan kebangkitan awal bagi pembangunan dan pengembangan Islam dan Iman masyarakat natuna sesuai dengan visi dan misi pemerintah Kabupaten Natuna yang dikemas dalam kalimat singkat Pencapaian Natuna MAS 2020 (MAS = Masyarakat Adil dan Sejahtera) Kehadiran Masjid Agung di Komplek Gerbang Utaraku (Gerakan Membangun Untuk Sejahtera hingga ke Anak cucu) juga merujuk pada posisi Natuna secara geografis yang merupakan wilayah paling utara Indonesia.  merupakan salah satu bentuk pengejawantahan hal tersebut. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari mega proyek yang diberi nama Gerbang Utara Ku, yang meliputi perumahan DPRD, rumah dinas bupati dan wakil bupati, kampus dan asrama perguruan tinggi.

interior masjid raya natuna (foto dari skyscrapercity)

Disetiap kesempatan Bupati Natuna selalu mengajak khususnya PNS dilingkungan Pemkab Natuna buat senantiasa berjamaah 5 ketika. Yang sangat menarik disana yaitu kebersamaan para pejabat wilayah terutama Muspida disetiap shalat 5 saat selalu berbaur ulama,umara' dan umat. Setelah shalat berjamaah senantiasa dilaksanakan kuliah tujuh mnt, khususnya Mahgrib sehabis ceramah kepercayaan jelang Isya dilaksanakan ngopi & ngeteh bersama pada teras masjid menggunakan sajian, kurma, goreng ubi & pisang goreng.

Lokasi Masjid Raya Natuna

Masjid Raya Natuna terletak & merupakan bagian dari Komplek Gerbang Utaraku, kawasan yg dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan & bisnis Natuna pada daerah Ranai yg menjadi ibukota kabupaten Natuna, dengan Masjid menjadi titik pusatnya. Kawasan ini akan dilengkapi dengan 8 sentra aktifitas warga 1. Masjid Agung, 2. Menara, tiga. Asrama Haji, 4. Gedung Pertemuan, 5. Gedung Pendidikan, 6. Gedung Komersial, 7. Gerbang, 8. Plaza serta taman kota.

Masjid Raya Natuna (foto dari kaskuser)

Sejarah Masjid Raya Natuna Gerbang Utara ku

Terbentuknya kabupaten Natuna dengan visi dan misi pembangunan Kabupaten Natuna yang tertuang pada 5 pilar primer, Pembangunan dibidang keimanan adalah point utama menjadi konsep acara pembangunan wilayah. Hal tersebut yang melandasi pandangan baru pembangunan masjid raya Natuna dengan asa supaya pelaksanaan syi?Ar Islam dapat ditingkatan dalam rangka menciptakan suasana yg religi ditengah-tengah warga Kabupaten Natuna pada umumnya. Dan nantinya dapat dijadikan sebagai maskot pujian bagi warga Kabupaten Natuna dimasa-masa yg akan datang.

Proses pembangunan ini telah direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006, atau sejak bupati  kabupaten Natuna Drs. H. Daeng Rusnadi, M.Si menduduki jabatannya sebagai bupati Kabupaten Natuna. Setelah melalui beberapa proses perencanaan yang disesuaikan dengan arti filosofi dari pembangunan Masjid Raya dan Komplek Gerbang Utaraku, proses pembangunan fisik dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 04 Mei 2007.

Masjid Raya Natuna dalam siraman cahaya (foto dari skyscrapercity)

Masjid Raya Natuna adalah titik primer komplek Gerbang Utaraku. Kemudian dilanjutkan pada proses pembangunan lanjutan termin I B, pembangunan fasilitas lain akan dilaksanakan, antara lain pembangunan Masjid Laut, Pusat perekonomian, pasar, terminal, Asrama STAI, Gedung Olah raga, & lain sebagainya. Komplek gerbang utaraku merupakan implementasi pembangunan 5 (5) pilar primer, yaitu Keimanan, Kesehatan, Pendidikan, Perekonomian dan hukum. Tahapan Tahap I A. Diresmikan penggunaan fasilitasnya oleh Bupati Kabupaten Natuna Drs.H Daeng Rusnadi,M.S dalam hari Jum?At 4 April 2009.

Pada ketika pelantikan penggunaan fasilitas tahap IA Sebenarnya pembangunan Tahap I A belum rampung dan masih pada termin pengerjaan. Tetapi untuk bangunan Masjid Agung telah bisa digunakan. Pembangunan Tahap I A terselesaikan dalam awal bulan Mei 2009 dan segera dilanjutkan menggunakan pembangunan Tahap I B.

Masjid Raya Natuna dari sisi yang lain (foto dari skyscrapercity)

Total aturan yg akan dihabiskan seluruhnya (termasuk dana pembangunan masjid) sebesar Rp781 miliar lebih. Dari APBD 2007, aturan 2008 & 2009, Anggaran pembangunan masjid Raya sendiri senilai Rp 400 miliar lebih atau setara menggunakan APBD Kota Tanjungpinang (mak kota Provinsi Kepulauan Riau) tahun 2007.

Arsitektur Masjid Raya Natuna

Lorongyg menghubungkan ke lokasi

tempat wudhu, asrama haji, perpustakaan

dan mini market (foto dari skyscrapercity)

Ornamen Masjid Agung Natuna mengambil insfirasi dari Al’quran, karena AlØ·quran merupakan sumber dari segala hukum. Dengan bentuk kubah mirip kubah Taj Mahal di India dan menjadi masjid terbesar dan dan termegah di Propinsi Kepulauan Riau. Masjid yang cukup megah dan  luas. Satu barisan shaf di dalam masjid ini cukup untuk memuat hingga 180 jemaah.

Masjid Natuna, telah jelas-jelas bahwa lambang dan makna dekoratif yang muncul menunjukkan bahwa gedung tersebut adalah bangunan Islami.  Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas. Bagian tengahnya diterangi oleh cahaya alami yang bersumber dari kubah masjid. Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya dibuat bukaan berupa karawang yang terletak di atas pintu masuk yang memilliki dimensi cukup besar. Terasa bahwa ruang remang pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas layaknya ruang-ruang gotik. Dari segi bentuk, pintu masuk ini memiliki geometrika lengkung yang bagian atasnya lancip. Dua pintu utama yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat juga mengarahkan nuansa ruang menjadi terfokus pada sumber cahaya Ilahi.

ornamen pintu masjid raya natuna

(foto dari skyscrapercity)

Latar belakang mihrab Masjid Raya pada Natuna dibentuk dari bahan kayu menggunakan bentuk yg cukup besar . Geometrika nya juga terbentuk berdasarkan lengkung atau busur menggunakan pertemuan lancip di bagian tengah/atasnya. Latar mihrab tersebut pula dirancang dengan labirin busur lancip hingga semakin memperkuat kesan gotik-nya.

Referensi

Masjid Raya Natuna Diresmikan 23 Maret

Berjamaah di Masjid Agung Natuna

Peresmian Pemakaian Fasilitas Masjid Agung Kabupaten Natuna

Titik Hitam Natuna

Implementasi Visi Natuna MAS 2020 Semakin Nyata

Dugaan Penyalahgunaan Anggaran di Natuna (1)

Ruang Gothic dalam Interior Masjid

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid pada Pulau Sumatera Lainnya

Masjid Raya Batam, Kepulauan Riau

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan Bagian II

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Agung Sultan Palembang Bagian I dan (Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang, Sumatera Selatan

Masjid Ganting - Padang

Mesjid Nurul Iman kota Padang, Sumatera Barat?

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Thursday, May 21, 2020

Masjid Nurul Islam Muka Kuning – Batam

Masjid Nurul Islam - Muka Kuning diantara sakura yang bermekaran.

Masjid Nurul Islam Muka Kuning ini menjadi salah satu masjid paling unik di Indonesia. Di masjid ini sholat Tarawih selama bulan Romadhon dilaksanakan dua ship untuk mengakomodir jemaah yang bekerja di ship yang berbeda. Saking ramainya, jemaah yang hadir saat sholat Tarawih memadati setiap jengkal lantai masjid hingga ke pekarangan dan tempat parkirnya.

Apa dan dimana Muka Kuning itu

Muka Kuning, adalah nama deerah di Pulau Batam, propinsi Kepulauan Riau. Daerah  itu kemudian disulap menjadi kawasan industri maju dengan nama Batamindo Industrial Park hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Singapura. Saya sendiri hingga kini belum tahu mengapa daerah itu diberi nama Muka Kuning.

Kawasan industri ini dibangun (tadinya di tengah hutan belantara pulau batam) dengan fasilitas lengkap. Infrastruktur sebagai kawasan industri sudah dipersiapkan sejak awal termasuk kawasan hunian bagi para pekerja nya yang ditempatkan ditengah tengah kawasan, biasa disebut dengan dormitory yang diperuntukkan bagi karyawan lajang. Ada blok khusus untuk para staf di Blok S dan blok khusus untuk karyawan yang sudah menikah (berkeluarga) di blok M.

Masjid Nurul Islam Muka Kuning Batam dari arah Gerbang utama Batamindo, terlihat menaranya yang menjulang diantara bunga sakura yang sedang bermekaran begitu indahnya.

Kawasan ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lainnya termasuk didalamnya adalah community center, supermarket, mini market, rumah sakit, pujasera dan tentu saja Masjid Nurul Islam. Satu lagi fasiltas penunjang yang begitu menarik minat kala itu adalah WARTEL, bagi anda yang seumuran saya pasti ingat apa itu wartel alias Warung Telekomunikasi. Maklumlah kala itu Hand Phone masih belum populer seperti sekarang ini, wartel adalah tumpuan harapan untuk berkomunikasi dengan sanak keluarga yang jauh dimata hingga rela antri hingga tengah malam.

Sekitar tahun 1996 salah satu tetanggaku, Muslim Bangladesh, sempat terperangah ketika beliau ku ajak berangkat bareng untuk sholat hari raya di lapangan community Centre Muka Kuning, tak jauh dari Masjid ini. apa sebabnya ?. dia takjub menyaksikan begitu banyak kaum muslimin yang hadir disana. Lebih takjub lagi menyaksikan jemaah muslimah di bagian belakang yang memutih dengan mukenanya.

Masjid Nurul Nurul Islam dari arah barat

Dengan polos-nya dia bertanya “wanita ikut sholat hari raya di lapangan juga ?” dan dengan polos juga kujawab “ya iya dong, kok nanya nya begitu?”. “Di Bangladesh, wanita dilarang seperti itu. . .” ujarnya. “tapi disini boleh ya” lanjut dia. Sejujurnya waktu itu, aku memang agak kaget dengan penjelasan beliau. Tapi ya sudah lah. Seperti kata pepatah melayu, Lain lubuk lain ikan nya, begitupun lain ladang lain pula belalangnya.

Batamindo Industrial Park (BIP) – Muka Kuning ini bukanlah satu satunya kawasan industri di Pulau Batam, masih banyak sederet kawasan industri lainnya. Pulau Batam memang di kembangkan sebagai kawasan industri di masa pemerintahan Pak Harto dibawah kendali Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau Batam Industrial Development Authority disingkat BIDA atau lebih dikenal dengan “Otorita Batam” yang di ketuanya ditunjuk langsung oleh Presiden. Dikemudian hari Otorita Batam berubah menjadi Badan Penguasaan Batam (BP Batam) disahkan dengan Peraturan Pemerintah No. 46.[i]

Masjid Nurul Islam – Muka Kuning

Batamindo Industrial Park (Mukakuning)

Batam, Kepulauan Riau 29433, Indonesia[ii]

Masjid Nurul Islam yang diresmikan oleh Prof. DR. B.J. Habibie pada tanggal 26 Oktober 1991 menjadi sentral kegiatan ibadah dan dakwah yang dilakukan oleh para karyawan. Awalnya masjid ini memang satu satunya tempat ibadah di kawasan tersebut. Pada awalnya aktivitas di masjid ini ramai di setiap malam minggu dengan di isi berbagai kajian ke islaman. Dikemudian hari aktivitas dan program kerja masjid ini sudah semakin berkembang pesat dan dibentuk grup kerja yang diberi nama Nurul Islam Grup (NIG). Tentang profil dan apa saja aktivitas grup ini dapat langsung berkunjung ke situs internetnya dinurulislamgroup.co.id

Aku dan Masjid Nurul Islam

Remaja Masjid Nurul Islam ini memang sangat giat dan aktif. Secara pribadi saya sangat berterima kasih kepada para aktivis remaja Masjid Nurul Islam Muka Kuning, khusus-nya bagi yang aktif pada periode 1996-1997 dibawah pimpinan Sdr. Siswoyo[iii]. Saya tidak ingat satu persatu nama nama mereka, tapi saya tidak akan pernah lupa amal baik mereka semua. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya untuk kita semua.

Nurul Islam dari sisi yang lain

Salah satu penggalan memori di masjid ini adalah ketika basah kuyup kehujanan saat sholat Jum’at. Hari itu cuaca cerah saat saya dan seorang teman berangkat ke masjid ini. tiba disana, bagian dalam masjid sudah penuh sesak begitupun halamannya, mau tak mau kami berdua kebagian tempat di luar masjid tepatnya di halaman rumput sebelah selatan masjid. Cuaca masih cerah saat khutbah dimulai dan perlahan mendung menjelang khutbah berahir.

Dan benar saja, mendung makin pekat saat sholat akan dimulai. Takbir pertama, guntur menggelegar hujan turun mendadak begitu deras dan lebih deras lagi air yang mengguyur kepalaku yang berdiri tepat dibawah cucuran atap masjid. Sekujur tubuh basah kuyup sejak rokaat pertama dan setiap kali sujud harus menahan nafas karena hamparan sajadah yang tergenang air hujan. Usai sholat, sesama jemaah yang kebagian sholat diluar sepertiku tidak hanya saling besalaman tapi juga saling ledek karena sama sama basah kuyup. Itu salah satu momen tak terlupakan di Masjid Nurul Islam yang satu ini.

Bukan tanpa alasan bila hari ini aku kangen tempat ini, mungkin karena sudah terlalu lama tak kembali kesana. Mungkin juga karena aku mulai lupa seperti apa suasana di dalamnya saat itu, apalagi kini. yang pasti sudah lama sekali berlalu. mungkin juga karena memang tak alasan untuk kembali. namun memang tak ada alasan untuk melupakan. Selamat Ulang Tahun untuk Jeanie Hanneke Diana. Terima kasih sudah menjadi salah satu saksi bahwa aku memang pernah ada di dunia ini.

Sakura di Masjid Nurul Islam

Pihak pengelola kawasan Industri Batamindo memang menanam berbagai jenis pohon untuk menghijaukan kawasan ini. salah satu jenis pohon yang ditanam disana adalah jenis sakura yang menghasilkan bunga yang sangat indah pada musim berbunga yang bertepatan dengan musim berbunganya sakura di Jepang. Kini bunga bunga indah itu menjadi keindahan tersendiri bagi warga Muka Kuning khususnya dan bagi warga Batam umumnya.

Sakura di halaman Masjid Nurul Islam, menara masjid di latar belakang
begini pemandangan di sepanjang jalan di depan masjid Nurul Islam saat sakura berbunga.
Masjid nurul Islam dari sisi selatan
Masjid Nurul Islam tampak keseluruhan dari sudut tenggara.

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

🌎 informasi dunia Islam.

------------------------------------------------------------------

Referensi

[i]http://www.bpbatam.go.id/ini/aboutBida/bida_history.jsp

[ii]https://foursquare.com/v/masjid-nurul-islam/4c458f46429a0f478b384a1e

[iii]http://www.nurulislamgroup.or.id/page-16-profilnurulislamgroup.html

Baca Juga

Masjid Raya Batam

Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat

Masjid Raya Natuna Kepulauan Riau

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan Bagian II

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Agung Sultan Palembang Bagian I dan (Bagian II)

Masjid Babussalam Gelumbang, Sumatera Selatan

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done