Islami Pedia: Masjid Cirebon
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Masjid Cirebon. Show all posts

Wednesday, October 21, 2020

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Gerbang sisi baratnya.

Kebakaran dan Renovasi Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Baik catatan sejarah maupun sejarah tutur yang berkembang di masyarakat Cirebon, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini sempat mengalami kebarakaran hebat pada masa Awal bedirinya bangunan masjid ini. Disebutkan bahwa masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat yang pada bagian atapnya yang masih menggunakan daun rumbia sebagai akibat terror dari pendekar Menjangan Wulung yang memiliki kesaktian ilmu hitam. Kisah ini terkait dengan sejarah awal dikumandangkannya Azan Pitu (azan tujuh) di Masjid ini.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1549, Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang merupakan istri pertama Sunan Gunung Jati, wafat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam usia yang sangat tua setelah turut serta berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda Masjid Agung ini. Apakah kedua rentetan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama ? wallohua’lam. Paska kebararan yang mengakibatkan kerusakan pastinya dilakukan perbaikan atas bagian bagian yang rusak, meski tak ada catatan pasti tentang proses perbaikan tersebut.

:: Pemugaran Oleh Pemerintah R.I. ::

Prasati Pemugaran Masjid Agung Cirebon oleh Pemerintah R.I.

Beberapa meter dari pintu gerbang utara masjid, menghadap ke arah pintu gerbang tersebut, kini berdiri sebuah prasasti peringatan tentang renovasi yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap masjid ini dan diresmikan pada tanggal 23 Februari tahun 1978. berikut kutipan isi dari Prasasti tersebut :

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PADA HARI KAMIS TANGGAL 23 FEBRUARI 1978 MENTERI PdanK TELAH MERESMIKAN HASIL PEMUGARAN MESJID AGUNG CIREBON…..MENTERI PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN R.I…… SJARIF THAJEB”

Penyanggah penyanggah besi baja di dalam masjid Agung Sang Cipta Rasa dipasang pada 12 sokoguru masjid ini untuk menopangnya, mengingat bangunan masjid ini yang sudah tidak muda lagi.

Kemungkinan besar pemugaran yang dimaksud dalam prasasti ini adalah penambahan tiang besi baja pada 12 sokoguru di dalam ruang utama masjid serta beberapa sokoguru dibagian luar. Dan penambahan empat pendopo di sekeliling bangunan utama. Mengingat lokasi penempatan dari prasasti ini sendiri berada pada sisi luar pendopo.

Hikayat Azan Pitu, Memolo Dan Masjid Berpasangan

Azan Pitu atau azan tujuh adalah tradisi azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Biasanya azan ini dilantunkan saat jelang sholat subuh dan sholat Jum’at. Selain azan pitu, di Cirebon juga mengenal azan awal sebelum sholat subuh sebagai pengingat bagi kaum muslimin bahwa waktu subuh akan segera tiba supaya bersiap diri.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Dari titik tengah ini azan pitu dikumandangkan dari masjid ini.

Azan pitu pada mulanya dilaksanakan atas perintah dari Sunan Gunung Jati untuk memusnahkan pengaruh sihir yang ditebarkan oleh Menjangan Wulung terhadap jemaah yang akan masuk ke masjid Sang Cipta Rasa Cirebon untuk melaksanakan sholat subuh. Disebutkan bahwa pada suatu masa ketika Islam baru menunjukkan perkembangan yang baik di wilayah Cirebon, beberapa orang yang keberatan dengan hal tersebut berupaya menebar terror.

Sosok Menjangan Wulung sendiri menurut beberapa sumber merupakan sosok ghaib yang di utus oleh seseorang ke Masjid Agung Cirebon untuk menebar terror. Korban pertamanya adalah muazin yang akan mengumandangkan azan subuh di masjid ini yang mendadak tewas secara misterius. Mengakibatkan ketakutan yang luar biasa bagi jemaah lainnya yang akan masuk ke masjid ini. Amukan Menjangan wulung ini juga mengakibatkan atap masjid yang masih terbuat dari rumbia mengalami kebakaran hebat.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933 saat bangunan utama masjid ini belum dilengkapi dengan berbagai bangunan pendopo yang kini mengelilinginya. Perhatikan puncak atap masjidnya yang tidak dilengkapi dengan memolo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin, atas perintah dari Sunan Gunung Jati berdasarkan petunjuk Ilahi.

Menjangan Wulung berhasil ditaklukkan, konon dia melarikan diri ke arah Banten dan tak pernah kembali. Masih dalam kaitan dengan hikayat ini disebutkan juga bahwa menjangan wulung juga menghantam memolo yang ada di puncak masjid hingga terpental jauh. Ada juga yang menyebut bahwa memolo (mastaka / ornament hiasan berbentuk simbar dipuncak masjid) tersebut hancur akibat ledakan yang terjadi saat aksi Menjangan Wulung tersebut.

Memolo di puncak atap masjid Agung Banten. Memolo yang memang bertumpuk dua. Apakah salah satunya merupakan memolo Masjid Agung Cirebon yang terpelanting hingga ke Banten akibat ledakan semasa huru hara Menjangan Wulung, tiga tahun sebelum Masjid Agung Banten ini dibangun ?.

Namun satu hikayat yang senantiasa dituturkan oleh pemandu wisata di Masjid ini bahwa memolo tersebut terpental hingga ke Masjid Agung Banten. Dan itu sebabnya Masjid Agung Banten memiliki dua memolo sedangkan Masjid Agung Cirebon tanpa memolo sama sekali. Cerita terahir tersebut memiliki penafsiran yang bermacam macam.

Pertama bahwa masjid Agung Banten dibangun jauh setelah berdirinya Masjid Agung Cirebon. Bila kita merujuk kepada tahun wafatnya Ratu Dewi Pakungwati yakni tahun 1549 sebagai tahun terjadinya huru hara Menjangan Wulung, artinya : meski memolo tersebut memang terpental jauh hingga ke Banten, tidak serta merta langsung bertengger di Masjid Agung Banten tapi butuh setidaknya tiga tahun bagi siapapun disana untuk memungut memolo tersebut dan memasangnya ke Masjid Agung Banten yang baru dibangun tiga tahun kemudian (1552-1570).

::Masjid Sepasang:: Kanan adalah Masjid Agung Demak dan Kiri adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Bisa anda temukan persamaan dan perbedaannya ?.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektural, Masjid Agung Cipta Rasa disebutkan sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak Maskulin lengkap dengan memolo dan berdiri gagah, lain halnya dengan masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun dalam watak Fenimim dengan denah persegi panjang, boleh jadi sejak awal masjid ini memang dibangun tanpa memolo sebagai perwujudan dari kefemeninimannya.

Namun demikian, tradisi azan pitu ini tetap dilestarikan di Masjid Agung Cirebon ini. sebagai sebuah tradisi yang merupakan satu satunya masjid dengan tradisi yang amat unik dan langka ini. Azan pitu dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus dengan pakaian putih putih kadang dilengkapi dengan jubah. Mereka bertujuh berjejer di tengah tengah bangunan asli tepat dibawah wuwungan atap masjid.

Masih mengenai memolo, versi lain menyebutkan bahwa memolo tersebut hancur karena secara tidak sengaja terkena lemparan tongkat Panebahan Satu pada saat Cirebon dilanda wabah penyakit yang konon datang secara ghaib. Panebahan Ratu adalah Raja ke empat Kesultanan Cirebon, beliau adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.

Pengeras suara di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini diletkaan dibawah empat penjuru atap puncaknya. Sama hal nya dengan masjid masjid tua tanah Jawa Lainnya.

Menara dan Penghormatan Kepada Raja

Bila diperhatikan masjid masjid tua di tanah Jawa termasuk Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Saka Tunggal di Banyumas, Sunan Ampel di Surabaya dan lainnya, selalu saja dibangun tanpa menara. Meski dari sisi tradisi arsitektural tanah air, ketiadaan menara ini sudah menjadi pakem bagi masjid tradisional Indonesia namun dibalik semua itu ada makna filosofis yang mendalam.

Ketiadaan menara pada bangunan masjid masjid tua tersebut kait mengait dengan tradisi tanah jawa yang menjungjung tinggi ewuh pakewuh. Keberadaan menara yang memang pada masa awalnya merupakan tempat muazin mengumandangkan azan akan memposisikan muazin yang berada di menara lebih tinggi dari seluruh jemaah yang ada di dalam masjid termasuk Raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Hal tersebut dianggap tidak sopan.

Karenanya masjid masjid tua tanah Jawa hampir seluruhnya tidak dilengkapi dengan menara. Menara di Masjid Agung Demak pun dibangun belakangan bukan merupakan komponen asli yang dibangun sejak awal pembangunan masjid. Seiring dengan telah dikembangkannya perangkat pengeras suara, muazin tak perlu lagi menaiki menara pada saat akan mengumandangkan azan cukup pengeras suaranya yang disimpan di menara sedangkan azannya dilantunkan muazin dari dalam masjid.

Bersambung kebagian-4

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

Sisi depan Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon

Terhindar dari ledakan Bom

Jum’at, 26 Februari 2010 Masjid Agung Sang Ciptarasa dihebohkan dengan ditemukannya bungkusan yang di duga Bom. Merujuk kepada penjelasan pihak kepolisian bom tersebut berdaya ledak rendah dan dilengkapi dengan pengatur waktu. Bom tersebut ditemukan selang sehari setelah perayaan besar peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W di masjid tersebut.

Peringatan Maulid Nabi atau Mauludan diperingati setiap tahun secara meriah di masjid ini dan dihadiri ribuan jemaah dari penjuru Nusantara memadati masjid hingga ke luar halaman. Merujuk kepada Ustadz Rahmad salah satu pengurus masjid yang menemukan bungkusan tersebut, Bila melihat kondisi fisiknya, kemungkinan bom tersebut semestinya sudah meledak namun Alhamdulillah Allah melindungi masjid ini beserta jemaahnya dari bencana.

Anggota GEGANA POLRI di Masjid Agung

Sang Ciptarasa - Cirebon.

Menurut penjelasan Putra mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, kepada media, kemungkinan besar bom tersebut sengaja dipasan dengan menjadikan sultan sepuh Maulana Pakuningrat sebagai target utama mengingat lokasi penemuannya berada di dekat denga Krapyak (maksurah) Sultan Sepuh di shaf paling depan disamping mihrab dan mimbar masjid. Kemungkinan besar bom tersebut akan diledakkan saat sholat Jum’at atau proseso Pajang jimat yang kan digelar dihari yang sama. Seyogyanya hari Jum’at tersebut Sultan akan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid tersebut namun batal karena sesuatu dan lain hal.

Ancaman bom di tahun 2010 tersebut bukanlah pertama kali terjadi di masjid ini. Merujuk penjelasan para tetua disana, semasa perang kemerdekaan masjid ini beberapa kali menjadi target serangan bom oleh pasukan Belanda maupun Jepang, namun tak satupun bom bom tersebut yang berhasil menyasar masjid tua ini, tapi justru menghantam sasaran lain.

Tradisi Tradisi di Masjid Agung Sang Ciptarasa

Seperti halnya masjid masjid tua serta merupakan masjid keraton kesultanan. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon ini juga memiliki beberapa tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun tanpa terputus sejak awal pembangunannya hingga kini. Diantara tradisi tradisi tersebut merupakan tradisi unik dan hanya ada di masjid ini. Terutama adalah tradisi Azan Pitu atau azan tujuh yang sudah di ulas tuntas dalam bagian-3.

Azan Pitu

Azan pitu atau azan tujuh adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Tradisi ini bermula sejak awal berdirinya masjid Agung Sang Ciptarasa dan sejak awal berkembangnya Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Azan pitu pada awalnya dilakanakan atas perintah langsung dari Sunan Gunung Jati untuk mengatasi serangan ghaib dari Menjangan wulung yang menyebar terror di masjid ini sehingga menyebabkan tewasnya beberapa muazin serta menyebabkan kebakaran di masjid ini.

Kemungkinan besar peristiwa tersebut terjadi di tahun 1549 masehi. Tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Dewi Pakungwati, permaisuri Sunan Gunung Jati yang wafat di masjid ini. Beberapa sumber menyebutkan beliau wafat dalam usia yang sanga tua di dalam masjid ini setelah turut serta dalam upaya memadamkan kebakaran yang terjadi di masjid ini.

Khutbah Berbahasa Arab

Mimbar di masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, tanpak sedikit disebelah kanan foto adalah Maksurah atau Krapyak tempat sholat khusus Sultan dan Keluarga. disebelah Maksurah itu ada satu lagi mimbar lama yang disimpan disana.

Tradisi yang tak kalah uniknya dari masjid ini adalah sampai saat ini khotbah Jum'at selalu dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan meski hampir semua jama'ah tak memahami artinya jamaah tetap menyimaknya dengan khusu tanpa mengobrol dengan rekan disebelahnya. Tujuan dari tetap dilestarikannya khotbah berbahasa Arab ini sendiri konon untuk memotivasi jamaahnya agar mau belajar bahasa Arab.

Ada jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at

Pada setiap sholat Jum'at yang kebetulan jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dengan satu keyakinan bahwa bila mereka ikut sholat Jum'at yang jatuh tepat pada hari Jum'at Kliwon maka yang bersangkutan akan memperoleh berkah. Atas dasar keyakinan itulah, pada Jum'at Kliwon banyak jemaah perempuan yang datang tidak hanya dari daerah Cirebon tapi juga banyak yang datang dari luar kota untuk ikut bersholat Jum'at di Masjid ini.

Sumur Keramat

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapatsumur zam-zam atauBanyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulanRamadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Sumur Banyu Cis yang dikenal sebagai zam zamnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Beberapa jamaah masjid ini datang jauh jauh dari berbagai daerah selain untuk sholat di masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur tersebut. Dua kolam dari batu bundar ini dulunya berada di luar bangunan utama namun kini sudah berada di dalam pandopo utara. Disekitar kolamnya juga sudah di kelilingi dengan pagar besi. Menariknya air dari sumur ini dipercaya juga dapat digunakan sebagai media untuk menguji kejujuran seseorang.

Pesan Sunan Gunung Djati

Sunan Gunungjati, sultan pertama Kesultanan Cirebon dan pendiri Masjid Agung Sang Ciptarasa ini, wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Selama hidupnya Sunan Gunung Jati pernah berpesan, diantara yang paling terkenal dari pesan pesan beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang lain diantaranya sebagai berikut.

Ilustrasi wajah Sunan Gunung Jati

Singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), Duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), Angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya), Aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), Den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu), Angasana diri (harus mawas diri), Tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik).

Ngoletena rejeki sing halal (carilah rejeki yang halal), Aja akeh kang den pamrih (jangan banyak mengharap pamrih), Gegunem sifat kang pinuji (miliki sifat terpuji), Aja ilok gawe lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang), Ake lara ati, namung saking duriat (jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri), Aja ujub ria suma takabur (jangan sombong dan takabur), Aja duwe ati ngunek (jangan dendam), Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua), Den hormat ing leluhur (harus hormat pada leluhur), Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka), Den welas asih ing sapapada (hendaklah menyanyangi sesama manusia).

Pesan beliau yang berbunyi "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)" juga dipampang di depan makam beliau. Dan menariknya pesan yang sama dipampang di depan Makam Sheh Quro di Karawang. Hanya saja, entah karena kesalahan penafsiran terhadap pesan beliau, hingga kini bila anda berkunjung ke masjid Agung Sang Ciptarasa bertepatan dengan sholat Jum’at atau pada peringatan hari besar Islam di halaman masjid ini berjejer para peminta peminta.

Peminta minta di Makam dan Masjid Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya di masjid, kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau di komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di komplek pemakaman  tersebut, para pengemis dan peminta minta tidak sekedar berjejer tapi sudah sampai para tahap mengerubuti para peziarah. Bagi mereka yang tak terbiasa akan terkaget kaget dengan kondisi itu. Terlebih bila anda hanya memberikan sedekah hanya kepada salah satu dari mereka maka yang lainnya sontak akan beramai ramai menghampiri.

Kondisi yang hampir sama juga akan kita temui saat berziarah ke makam Sheh Nur Jati di gunung Jati. Peminta minta disana bahkan dari golongan pria dewasa yang berbadan sehat segar bugar dengan sedikit memaksa. Saya pribadi lebih menghargai mereka mereka yang mencari berkah disekitar makam para wali tersebut dengan menawarkan jasa sebagai pemandu, tukang parkir, atau mereka yang rela begadang menjaga kendaraan peziarah, atau berjualan keperluan bagi para peziarah hingga membuka warung makan disana.

Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau menitipkan tajuk dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau sepertinya bukanlah refleksi yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.  (SELESAI).***

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Tuesday, October 20, 2020

Masjid Merah Panjunan – Cirebon

TERTUA DI CIREBON ?. Konon Masjid Merah Panjunan dibangun lebih dulu sebelum Masjid Agung Sang Ciptarasa oleh Pangeran Panjunan yang merupakan putra penguasa Bagdad (Iraq). Beliau datang ke Cirebon bersama 40 orang yang kemudian menetap di kampung yang dikemudian hari disebut sebagai kampung Panjunan. Di kampung itu beliau mendirikan tajuk sebagai tempat beribadah bagi para pelaku bisnis yang datang dari berbagai bangsa di kawasan itu. Juga sebagai tempat pertemuan beliau dengan Sunan Gunung Jati.

Masjid Merah Panjunan merupakan salah satu masjid tua di kota Cirebon. Awalnya masjid ini bernama Al-Athyang yang artinya dikasihi Disebut masjid merah karena memang hampir keseluruhan bangunan masjid ini berbalut warna merah. Dan nama Panjunan pada nama masjid ini merujuk kepada nama Pangeran Panjunan pendiri masjid ini yang dikemudian hari nama yang sama juga menjadi nama desa tempat masjid ini berada.

Pangeran Panjunan bernama asli Maulana Abdul Rahman, nama Panjunan yang disandangnya merupakan gelaran atas profesi yang digelutinya sebagai pembuat Anjun atau Gerabah porselen. Profesi yang cukup lama ditekuni oleh keturunannya yang tinggal di desa Panjunan sampai ahirnya perlahan terkikis tinggal kenangan menjadi sebuah nama desa.

Lokasi dan Alamat Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan

Jl. Kolektoran (perempatan dengan Jl. Kenduran)

Kampung Panjunan, Desa Panjunan

Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon

Provinsi Jawa Barat

Koordinat : 6° 43' 3.16" S  108° 33' 57.71" E

View Masjid Merah Panjunan in a larger map

Sejarah Masjid Merah Panjunan

Menurut sumber yang terpampang sebelum pintu masuk ke Masjid Merah Panjunan, Masjid Merah ini pertama kali dibangun oleh Pangeran Panjunan, salah seorang murid Sunan Gunung Jati pada tahun 1480 dalam bentuk surau kecil atau tajuk berukurn 150 m2 di dalam lingkungan perkampungan masyarakat keturunan Arab.

Nama asli dari Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman, pemimpin kelompok pendatang Arab dari Baghdad. Sang Pangeran dan keluarga mencari nafkah dari membuat keramik porselen. sehingga kampong tempat mereka tinggal diberi nama Panjunan, pembuat Anjun. Konon pembangunan masjid tersebut di-arsiteki oleh Pangeran Losari.

AKULTURASU BUDAYA. Digunakannya bentuk gerbang candi bentar bagi gerbang masjid Panjunan ini merupakan salah satu ciri berpadunya berbagai budaya di masjid tua satu ini. Selain itu, Budaya Jawa khsusunya Majapahit sangat kental terlihat pada penggunaan bentuk bangunannya yang berupa bangunan limasan.

Pembangunan Tajug atau Mushola sederhana tersebut sebagai tempat ibadah bagi para pedagang dari berbagai suku bangsa yang bertemu dan bertransaksi disana. Selain untuk beribadah, awalnya masjid ini juga menjadi tempat berbagi ilmu Wali Songo atau antara Wali Songo, terutama Sunan Gunung Jati, dengan Pangeran Panjunan. Gaya bangunannya sendiri merupakan perpaduan budaya dan agama sejak sebelum Islam, yaitu Hindu – Budha. Dan juga turut dipengaruhi oleh gaya Jawa dan Cina.

Pagar Kutaosod yang mengelilingi masjid ini dan terbuat dari susunan bata merah merupakan hasil pembangunan tahun 1949 oleh panembahan Ratu (Cicit Sunan Gunung Jati) berikut pembuatan pintu masuk di bangun sepasang candi bentar dan pintu panel Jati Berukir. Pada tahun 1978 masyarakat setempat membangun menara di halaman depan sebelah selatan sementara candi bentar dan pintu panel dibongkar. Renovasi terahir dilakukan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi Jawa Barat yang melakukan penggantian atap sirap tahun 2001-2002.

MENARA YANG HILANG. foto bawah memperlihatkan Masjid Merah Panjunan dengan menaranya yang dibangun tahun 1978, namun belakangan menara ini lenyap. Sejauh ini kami belum menemukan keterangan tentang raib nya menara tersebut.

Hanya saja tidak jelas kapan bangunan menara di depan masjid ini dibongkar. Bentuk menara tersebut hanya dapat dinikmati di situs suara Cirebon terbitan 7 September 2012. Semula masjid ini dikelola oleh pihak Kesultanan Kasepuhan, tetapi selanjutnya diserahkan kepada DKM Panjunan. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001, Masjid Merah ditetapkan sebagai benda cagar budaya.

Arsitektural Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan termasuk bangunan ukuran kecil dengan jarak antara lantai dan atap yang rendah seperti rumah-rumah tua di Jawa. Bangunan utamanya berukuran 25 x 25 m memiliki halaman yang sangat sempit. Lantai keramik berwarna merah marun, Gerbang dan dinding bata merah sangat mencolok dan tak lazim sebagai bangunan masjid, batu bata sangat lumrah dipakai untuk membuat candi.

INTERIOR. Bagian dalam masjid Merah Panjunan ini memang di dominasi oleh warna merah pada tembok kelilingnya yang tidak menutup hingga ke atap. Pola yang serupa juga dapat ditemui di Masjid Agung Sang Ciptarasa di wilayah Kraton Kasepuhan.

Masjid Merah disokong 17 tiang penyangga yang melambangkan 17 rakaat dalam salat. Empat dari 17 tiang penyangga itu ada empat sokoguru yang merupakan penyangga utama sebagai simbol empat imam dalam hukum atau syariat Islam. Mereka adalah Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi'i, dan Imam Hanafi.

Ujung setiap tiang penyokong itu berbentuk bintang dengan delapan bunga. Hal itu membuktikan adanya pengaruh arsitektur Arab pada masjid itu. Bintang itu melambangkan delapan lafal selawat yang diajarkan Rasulullah.

KERAMIK CINA. Beberapa sumber menyatakan bahwa keramik keramik yang ada di Masjid Merah Panjunan ini merupakan keramik dari Cina yang merupakan hadiah dari kaisar Cina. Sedangkan beberapa keramik lainnya merupakan keramik dari kerajaan Belanda.

Hiasan piring keramik menempel pada dinding bagian dalam masjid baik bagian kiri, sisi kanan, maupun bagian depan. Konon, piring-piring keramik itu berasal dari Cina. Selain menandakan hubungan Kerajaan Cirebon dengan Cina pada masa lalu, itu menyimbolkan bahwa ajaran Islam tidak hanya berkembang di tanah air.

Meskipun bentuk dan tinggi pagar sama, hiasan pada dinding pagar ini beda motif. Dinding kanan pintu masuk Masjid Merah dihiasi motif batik, sedangkan dinding pagar kiri polos tanpa hiasan. Dinding itu memang sengaja dibangun demikian dan memiliki makna khusus.

PEMBAURAN YANG SEMPURNA. Sepeti halnya masjid Agung Sang Ciptarasa, di Masjid Merah Panjunan inipun watak pembauran dalam arsitekturalnya sangat terasa. Pembauran tradisi Islam, Jawa, Cina dan Eropa berbaur jadi satu menghasilkan bangunan masjid tua yang sangat menarik dan menjadi simbol keberhasilan Islam menyelaraskan tradisi dengan syar'i.

"Di luar orang boleh berbeda, tetapi ketika memasuki ke masjid, semua orang satu tujuan. Di dalam masjid, setiap orang harus berhati bersih dan punya satu tujuan yang sama untuk menghadap Allah,"  Filosofi itu pun mewakili perbedaan karakter Wali Songo (sembilan wali). Namun, mereka toh tetap bersatu, berkumpul, dan berdiskusi tentang ajaran Islam.

Dinding masjid masih dipertahankan agar tetap tampak warna asli, merah tanah liat. dinding pagar dan dinding masjid merah tanah liat masjid selalu dipertahankan karena dua alasan. Pertama, merah liat itu melambangkan keberanian Pangeran Panjunan serta Wali Songo untuk mengambil keputusan.

MAKAM SANG PANGERAN. Masjid Merah Panjunan ini juga menjadi tempat bermakamnya Pangeran Panjunan, maka lengkaplah sudah nama Panjunan sebagai nama Desa, nama profesi, yang juga menjadi gelar bagi Sang Pangeran.

Selain itu, merah liat sebagai ciri khas dari masjid tersebut, sehingga disebut Masjid Merah. Dari beranda masjid, ada satu pintu utama dengan ukuran kecil, hal itu mengingatkan agar orang yang masuk ke masjid menanggalkan kesombongnya dan dengan rendah hati menghadap Allah. Hal itu dipertegas dengan adanya tulisan kalimat Syahadat yang digantung sebelum pintu itu. Namun, tulisan itu baru menjadi tambahan sekitar 1980-an.

Meskipun masjid ini difungsikan hanya untuk tempat shalat sehari-hari, tidak dipakai untuk ibadah shalat Jumat. Namun pada saat bulan suci Ramadhan tiba, masjid ini banyak dikunjungi para peziarah. Selain itu, menu kopi arab dan makanan ringan khas Cirebon dan Arab menjadi suguhan wajib saat waktu berbuka tiba.

Referensi

jabar.tribunnews.com - Masjid Warisan Pangeran Panjunan dengan 17 Tiang Penyangga

anyerpanarukan.blogspot.com – masjid merahpanjunan

disparbud.jabarprov.go.id - Masjid Merah Panjunan

suara Cirebon - mengenal masjid panjunan atau masjid merah

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Monday, October 19, 2020

Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon

::: terlihat sepi pada hari biasa, tetapi Langgar Agung ini sahih sahih dopadati jem'ah sampai ke jalanan di 2 sholat hari raya & di perayaan maulid nabi :::

Langgar Agung atau kadang diklaim Masjid Langgar Agung merupakan mushola tua yg berada pada pada komplek keraton Kasepuhan Cirebon. Kata Langgar adalah sama menggunakan surau atau mushola. Disebut & difungsikan menjadi Langgar lantaran memang tak jauh menurut lokasi nya, berdiri megah Masjid Agung Sang Ciptarasa yg merupakan masjid resmi kesultanan Cirebon, dan pada pada komplek keraton ini juga terdapat Langgar Alit dengan berukuran yg jauh lebih mini .

Ada beberapa tradisi yang sangat unik dari Langgar Agung ini yang permanen dilestarikan oleh keluarga keraton Kasepuhan Cirebon. Diantaranya yg paling menyedot perhatian warga luas adalah perhelatan Panjang Jimat oleh Keraton Kasepuhan yang program puncaknya digelar pada Langgar Agung ini.

Lokasi Langgar Agung

Untuk menuju ke Langgar Agung, tentu saja harus menuju ke Keraton Kasepuhan Cirebon, salah satu menurut tiga Keraton di Kota Cirebon yg dalam awalnya merupakan satu Kesultanan yakni Kesultanan Cirebon sebelum lalu terbagi menjadi 3 Keraton yaitu Keraton Kasepuhan dengan Sultan Sepuh menjadi penguasanya, Lalu Keraton Kanoman dengan Sultan Anom-nya & Keraton Kacirbonan.

Dari arah gerbang paling depan yang menghadap ke Alun Alun Keraton Kasepuhan, Langgar Agung berada pada page ke 2 yang berada diatara gerbang pertama & kedua (Regol Pengada), dua gerbang yg sama sama berbentuk paduraksa beratap genteng. Hanya sedikit perbedaan pada ornamen atap dan rona-nya.

Gerbang paduraksa kedua (Regol Pengada) berukuran 5 x 6,5m dibangun memakai batu & daun pintunya menurut kayu. Adalah gerbang masuk ke page keraton Kasepuhan. Dari gerbang peduraksa pertama Langgar Agung terdapat di sebelah kanan (sisi barat).

Langgar Agung Keraton Kasepuhan

Kompek Keraton Kasepuhan Cirebon

Kampung Mandalangan, Kelurahan Kasepuhan

Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.

Koordinat Geografi :  6°43'36.66"S 108°34'13.89"E

View Langgar Agung Keraton Kasepuhan in a larger map

Sejarah Pembangunan Langgar Agung

Sejauh ini kami belum menemukan literatur yang secara kentara mengungkapkan kapan & sang siapa Langgar ini dibangun. Hanya saja, menjadi sebuah kerajaan Islam, pembangunan komplek keraton umumnya berbarengan menggunakan pembangunan sebuah masjid atau mushola atau setidaknya pembangunan antara gedung keraton & mushola / masjidnya tidak terpaut jauh.

Keraton Kasepuhan pada awalnya dibangun oleh Pangeran Cakrabuana, putra Prabu Siliwangi II menggunakan nama Keraton Pakungwati atau Dalem Agung Pakungwati pada tahun 1452. Nama tadi dinisbatkan pada putri tunggal dia yg bernama Putri Pakungwati. Sebagai pusat pemerintahan Cirebon yang kala itu masih merupakan wilayah bawahan kerajaan Padjajaran.

Dikemudian hari putri Pakungwati dinikahkan oleh Pangeran Cakrabuana dengan keponakannya yg tak lain merupakan Syarif Hidayatullah yang dikemudian hari menjadi Sultan Pertama di Kesultanan Cirebon. Keraton tersebut diperluas kurang lebih tahun 1479. Bangunan asli Keraton Pakungwati sendiri kini telah tidak ada lagi.

Lokasinya kini ditandai dengan 3 bangunan petilasan, yakni petilasan Sunan Gunung Jati, Petilasan Pangeran Cakrabuana & petilasan Walisongo. Ketiga petilasan tadi dilingkupi dengan pagar tembok menurut susunan bata merah menggunakan gerbang berpintu kayu berukir. Di pada komplek petilasan ini masih ada sumur Kejayaan.

Sedangkan bangunan keraton yang sekarang berdiri dibangun sehabis wafatnya Sunan Gunung Jati dan posisi dia digantikan sang cicitnya yg bernama Pangeran Emas Zaenal Arifin, bergelar Panembahan Pakungwati I. Pada tahun 1529 beliau menciptakan keraton baru di sebelah barat daya keraton lama . Kemungkinan akbar Langgar Agung dibangun bersamaan menggunakan pembangunan tersebut.

Tradisi Mauludan

Sekali pada setahun, Langgar Agung Keraton Kasepuhan menjadi pusat peringatan Maulid Nabi yg diselenggarakan setiap tahun pada Keraton Kasepuhan. Tradisi Mauludan di kota Cirebon atau lebih dikenal menggunakan nama tradisi Panjang Jimat adalah tradisi yang diselenggarakan sang tiga Keraton di kota Cirebon, baik di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman & Keraton Kacirbonan.

Panjang Jimat merupakan serangkaian ritual panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Yg dimulai menggunakan pencucian benda benda pusaka keraton yg akan dipergunakan dalam prosesi Maulid Nabi, hingga ke program puncaknya berupa iring iringan benda benda pusaka tadi menurut keraton Kasepuhan menuju ke Langgar Agung buat pelaksanaan program puncak peringatan Maulid Nabi yg dipimpin sang imam Masjid Agung Sang Ciptarasa.

Sultan Kasepuhan Cirebon Salat Id Dua Kali

Selain tradisi Mauludan, yang tidak kalah menarik tradisi pada Langgar Agung ini merupakan tatkala Sultan Sepuh, penguasa Keraton Kasepuhan melaksanakan Sholat Idul Fitri & Idul Adha dua kali. Sholat Id pertama dilaksanakan pada Langgar Agung ini beserta menggunakan seluruh kerabat keraton kemudian kemudian dilanjutkan dengan Sholat Id kedua di Masjid Agung Sang Ciptarasa. Sultan dijemput oleh Imam Masjid ke keraton untuk kemudian berjalan kaki menuju ke Langgar Agung diiringi sang para kerabat.

Salah satu berdasarkan abdi dalem yg mengiringi keluarga Sultan membawa sebuah dupa yg menyala buat menebarkan aroma wewangian sejak berdasarkan keraton hingga masuk ke dalam Langgar Agung. Di pada Langgar Agung Sultan melaksanakan sholat membaur menggunakan semua kerabat dan rakyat pada lingkungan keraton, nir pada pada maksurah atau Krapyak seperti pada Masjid Agung Sang Ciptarasa.

Tradisi unik lainnya pada Langgar Agung ini adalah, khutbahnya disampaikan dalam bahasa Aeab, tradisi yang sama pula dilaksanakan pada Masjid Agung Sang Ciptarasa. Khutbah berbahasa Arab ini sudah dilaksanakan semenjak masa Sunan Gunung Jati menggunakan tujuan buat memotivasi jemaah buat belajar bahasa Arab.

Selesai melaksanakan sholat Id di Langgar Agung ini, Sultan sepuh dan keluarga akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki lebih kurang 100 meter menuju ke Masjid Agung Sang Ciptarasa buat melaksanakan sholat Id beserta masyarakat umum pada masjid Kesultanan tadi.

Sepulang berdasarkan Masjid Agung Sang Ciptarasa, Sultan famili balik ke keraton dengan berjalan kaki dan disambut dengan tetabuhan gamelan sekaten pada pendopo keraton, disana Sultan akan singgah sejenak melepas lelah sembari menikmati irama gamelan sekaten yang hanya dimainkan 2 kali pada setahun yakni ketika Idul Fitri & peringatan Maulid Nabi.

Arstitektural Langgar Agung

Bangunan Langgar Agung mempunyai bangunan utama menggunakan ukuran 6 x 6 m. Teras 8 x 2, lima m. Denah bangunannya berbentuk ?T? Terbalik Karena teras depan lebih besar berdasarkan bangunan utama. Bagian teras berdinding kayu 1/2 berdasarkan permukaan lantai, kemudian 1/2 permukaan diberi kisi-kisi kayu. Dinding bangunan primer merupakan dinding tembok. Mihrab berbentuk melengkung ukuran lima x tiga x 3 m. Di dalam mihrab tersebut terdapat mimbar terbuat menurut kayu berukuran 0,90x 0,70x2 m.

Atap Langgar Agung merupakan atap tumpang 2 menggunakan menggunakan sirap. Konstruksi atap disangga 4 tiang utama. Langgar Agung ini mempunyai laman dengan berukuran 37 x 17 m. Langgar ini berfungsi menjadi loka ibadah kerabat keraton. Bangunan Langgar Agung dilengkapi jua menggunakan Pos Bedug Somogiri. Bangunan yang menghadap ke timur ini berdenah bujursangkar ukuran 4 x 4 m yang pada dalamnya masih ada bedug (tambur). Bangunan ini tanpa dinding dan atap berbentuk limas, epilog atap didukung 4 tiang utama dan lima tiang pendukung.

::: Sultan Arif, Sedang menikmati alunan musik gamelan sekaten setelah menunaikan sholat Idul Fitri di Masjid Agung Sang Ciptarasa, dalam rangkaian sholat Idul Ftri dua kali yang diselenggarakan beliau bersama keluarga, setelah sebelumnya melaksanakan sholat Idul Fitri di Langgar Agung. :::
Referensi

disparbud.jabarprov.go.id - Keraton Kasepuhan

tugaskab.blogspot.com- ngelirik keraton di Cirebon

liputan6.com – sultan kasepuhan cirebon salay id dua kali

Artikel Terkait

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 1)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 2)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian tiga)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa ? Cirebon (Bagian 4)

Masjid Merah Panjunan - Cirebon

catatan hendra jailani - Apakah Sunan Gunung Jati Keturunan China ?

catatan hendra jailani - Matahari di Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Pesan Dari Masa Lalu Di Masjid Agung Cirebon

catatan hendra jailani - Bisikan dari pintu Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

catatan hendra jailani - Kisah Dua Masjid Yang Dibangun Berpasangan

ayo ke masjid - Mihrab Masjid Agung Sang Ciptarasa, Berukir Tanpa Kaligrafi

singgahkemasjid - Sepuluh Fakta Menarik Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done