Islami Pedia: Islamic Center Provinsi
News Update
Loading...
Showing posts with label Islamic Center Provinsi. Show all posts
Showing posts with label Islamic Center Provinsi. Show all posts

Tuesday, September 29, 2020

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru (photobucket.com)

Riau adalah keliru satu propinsi yang berlimpah kekayaan alam pada Republik tercinta ini, keliru satu propinsi penghasil migas terbesar, saking kaya minyaknya sampai sampai lahirlah gurauan akan tetapi betulan ?Riau itu saking kayanya di bawah tanahnya ada minyak pada atas tanahnya pun terdapat minyak?. Dibawah tanah maksudnya tentu saja adalah minyak bumi & gas (migas) sedangkan pada atas tanah maksudnya merupakan minyak sawit. Perkebunan sawit telah sebagai salah satu primadona sumber pendapatan orisinil daerah (PAD) bagi propinsi Riau sesudah migas.

Selain kaya, rakyat melayu Riau juga terkenal sangat relijius. Sejarah mencatat bahwa Riau sebagai tempat tinggal bagi kesultanan kesultanan Islam yang pernah berjaya pada masa kemudian, wajar apabila kemudian pada kota Pekanbaru (ibukota propinsi Riau) & kota kota lainnya di propinsi ini berdiri masjid masjid megah, indah dan mengundang decak kagum sampai tahun 2009 dari data berdasarkan Kanwil Departemen Agama menampakan bahwa pada tahun 2009 di Provinsi Riau terdapat 5 229 mesjid. Salah satunya adalah Masjid Agung An-Nur Riau di kota Pekanbaru yang akan kita ulas pada artikel ini.

Masjid Agung An-Nur di malam hari (fotopanoramio)

Masjid Agung An-Nur adalah masjid terbesar sekaligus menjadi masjid propinsi Riau ketika ini. Awalnya sempat terdapat bermakna ganda pada peyebutan nama Masjid Agung An-Nur ini. Apakah Masjid Agung An-Nur Riau atau Masjid Agung An-nur Pekanbaru. Tetapi sehabis rampungnya renovasi total terhadap Masjid Ar-Raman pada pusat kota Pekanbaru, maka sah-lah Masjid termegah di Riau ini sebagai Masjid Agung An-Nur Riau.

L okasi Masjid Agung An-Nur Riau

Masjid Agung An-Nur Riau terletak di jalan Hang Tuah dalam wilayah kecamatan Pekanbaru Kota yg berbatasan dengan daerah menjadi berikut : sebelah Utara menggunakan Jl. Sisingamangaraja, sebelah Selatan dengan Jl. Hang Tuah, sebelah Barat menggunakan Jl. Syekh Burhanuddin & sebelah Timur menggunakan Jl. Sultan Syarif Kasim.

Klik untuk melihat lokasi masjid Agung An-Nur Riau di wikimapia

Korrdinat geografi : 0° 31' 34.00" N  101° 27' 7.00" E

Lihat Masjid An-Nur Riau di Pekanbaru di peta yang lebih besar

Sejarah Pembangunan Masjid Agung An-Nur Riau

Seiring menggunakan perkembangan kota dan berkembangnya penduduk, maka Pemda Tingkat I (PEMPROP) Riau merencanakan mendirikan Masjid Agung An-Nur dalam tahun 1963. Sebagai pelaksana pembangunan adalah CV. Waskita Karya. Lantaran belum selesai, dilanjutkan oleh CV. Sakijo dalam tahun 1966 dan direksinya menurut Dinas PU Kotamadya Pekanbaru dan dimulai dalam masa pemerintahan Gubernur Riau Kaharuddin Nasution.

Masjid Agung An-Nur Riau dirancang oleh Ir. Roseno dengan ukuran 50 X 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yg luasnya 400 X 200 m. Kapasitas masjid bisa menampung lebih kurang 4.500 orang jamaah. Bangunan masjid terdiri berdasarkan 3 taraf. Tingkat atas digunakan buat sholat, dan taraf bawah buat tempat kerja & ruang rendezvous.

Suasana Idul Fitri di Masjid Agung An-Nur Riau (imageshack.us)

Masjid ini mempunyai 3 buah tangga, 1 butir tangga di bagian muka & 2 butir tangga pada bagian samping. Di bagian atas terdiri dari 13 butir pintu & bagian bawah terdiri dari 4 butir pintu dan mempunyai kamar-kamar yang akbar dan sebuah aula. Tulisan kaligrafi yang terdapat pada ruangan masjid ini ditulis oleh Azhari Nur seorang kaligrafer menurut Jakarta dalam tahun 1970.

Pada tanggal 27 Rajab 1388 H atau 19 Oktober 1968 bertepatan menggunakan peringatan Isra? Mikraj Nabi Besar Muhammad SAW, Masjid Agung An-Nur diresmikan sang Arifin Ahmad, Gubernur Riau kala itu. Pada kesempatan itu Gubernur jua mengangkat pengurus pertama masjid Agung An-Nur yaitu: (1). H. Nur Rauf menurut staf Kantor Gubernur yang bertugas mengelola bidang fisik, & (dua). H. Nurdin Abdul Jalil berdasarkan Kepala Departemen Agama Propinsi menjadi pengelola imarah masjid.

Enam tahun lalu di tahun 1974 dibuat pengurus Masjid Agung An-Nur yang baru sinkron menggunakan keputusan Walikota Pekanbaru tanggal 16 Agustus 1974 No. SK.53/HUK-VII/1974 & berdasarkan keputusan Gubernur KDH Tk. I Propinsi Riau lepas 11 Juni 1974 tentang pembentukan pengurus Masjid Agung An-Nur Pekanbaru. Dalam perjalanannya kepengurusan masjid mengalami pergantian seiring menggunakan periodesasi kepengurusannya.

Masjid Agung An-Nur sebelum di renovasi

Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekabaru di awal pendiriannya sampai tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru.

Imam Imam Masjid Agung An-Nur Riau

H. Tamim Ibrahim (1968-1969)

Abdul Jalil Manaf (1970-1977)

H. Junaidi A. A. (1971)

M. Yusuf (1968-1974)

Imam Masjid Agung An-Nur Riau waktu ini : Ustadz Zulkifli MA

Bilal Masjid Agung An-Nur Riau

Amir MZ (1968-1973)

Khalil Yahya (1968-1969)

Abdul Wahab (1968-1969)

Mahadi S (1979)

Mas`ari (1970-1971)

panorama Masjid Agung An-Nur di malam hari (foto dariflickr)

Renovasi Total Masjid Agung An-Nur Riau

Masjid Agung An-Nur Riau yang kita saksikan begitu megah waktu ini bukanlah bangunan asli hasil pembangunan tahun 1966 & diresmikan tahun 1968. Tapi adalah bangunan hasil renovasi total dan pembangunan pulang menurut masjid Agung An-Nur yg usang. Di pergantian milenium tahun 2000 kemudian, dalam waktu Riau dibawah kepemimpinan gubernur Shaleh Djasit, Masjid Agung An-Nur yang lama pada rombak total ke bentuknya saat ini.

Dari pembangunan tahun 2000 tadi luas huma masjid ini bertambah 3 kali lipat dari sebelumnya yg hanya seluas 4 hektar sebagai 12.6 hektar. Luasnya huma masjid baru ini menaruh keleluasaan bagi penyediakan lahan terbuka buat publik Pekanbaru termasuk di dalamnya daerah taman nan hijau dan lahan parkir yang begitu luas.

Arsitektural Masjid Agung An-Nur Riau

Arsitektural Masjid Agung An-Nur yg usang sama sekali berubah ke dalam wujudnya yang baru seperti yang kita lihat waktu ini. Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini disebut dianggap sebagai Taj Mahalnya propinsi Riau. Jika kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang mempunyai beberapa kecenderungan dengan Taj Mahal. Lengkap menggunakan kubah besar -nya & empat menara tinggi pada ke-empat penjurunya. Namun tentu saja Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini adalah bangunan modern & dilengkapi fitur fitur abad 21.

Tata lampu yang menghias masjid ini memang menarik perhatian

fotografer untuk di abadikan keindahannya di malam hariPanoramio

Masjid Agung An-Nur Riau terdiri dari 2 lantai, ruang sholat primer berada di permukaan & pada lantai bawah adalah sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid dan tempat pelaksanaan pendidikan Islam. Halaman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas, apabila sore hari ramai dikunjungi rakyat kota buat berolahraga atau bersantai. Suasana meriah ini meningkat berkali kali lipat selama bulan suci Ramadhan.

Fasilitas Masjid Agung An-Nur Pekanbaru

Lantai bawah masjid merupakan sekretariat pengurus masjid, manajemen, remaja masjid serta ruang ruang kelas loka aplikasi pendidikan Islam.

Tersedia fasilitas hot spot gratis tanpa bayar dan free user logon tanpa harus meminta password, jadi apabila anda bawa laptop berfasilitas Wifi anda dapat berinternet sepuasnya.

Eskalator di masjid Agung An-Nur Riau

Untuk memudahkan gerak jemaah, Masjid Agung An-Nur Riau pula dilengkapi menggunakan eskalator penghubung antara lantai satu & dua.

Di laman masjid Agung An-Nur Riau merupakan lapangan luas, jika sore hari ramai dikunjungi rakyat kota Pekanbaru untuk berolahraga atau bersantai.

Lahan Parkir Masjid Agung sangat luas, baik sepeda motor juga tunggangan roda empat.

Masjid Agung An Nur juga dilengkapi oleh bermacam fasilitas seperti pendidikan mulai dari playgrup, TK, SD, SMP & SMA, perpustakaan yang lengkap dan fasiltas lain seperti aula dan ruang pertemuan, ruand kelas dan ruang ruang kantor.

Aktivitas Masjid Agung An-Nur Riau

Selain menjadi pusat peribadatan, seperti penyelenggaraan sholat lima waktu termasuk sholat Jum’at, sholat Idul Fitri dan Idul Adha dan kegiatan umat lainnya yang merupakan bentuk-bentuk pengimarahan masjid, Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini juga menyelenggarakan pengajian rutin bagi pembinaan ummat. Kegiatan pengajian mempunyai dua bentuk yaitu ceramah dan membaca Al-Quran.

Ceramah agama dilaksanakan setiap hari ba’da sholat maghrib dan ba’da sholat subuh. Ceramah agama mingguan dilaksanakan setiap hari Kamis, Sabtu dan Ahad ba’da sholat Ashar. Untuk kegiatan membaca Al-Quran terdiri dari membaca Al-Quran tingkat dasar setiap hari kecuali hari Ahad, dan pelajaran seni membaca Al-Qur’an (tilawatil Qur’an) disetiap hari Senin, Rabu dan Sabtu.

Pengasuh kajian agama Islam di Masjid Agung An-Nur ini juga dari kalangan yang begitu kompeten, salah satunya adalah Ustadz Dr Musthafa Umar, Doktor tafsir dari Universitas Malaya Malaysia yang secara rutin menjadi pengasuh kajian Tafsir dan Kuliah Subuh di Masjid Annur Pekanbaru sejak tahun 2003. Jemaah tetap Kajian Tafsir dan kuliah subuh Masjid Agung An-Nur ini pada bulan Juni lalu mengikuti program Diploma Eksekutif Pengurusan Masjid (DePim) di Kuala Lumpur, Malaysia.

Masjid Agung An-Nur Riau di malam hari (foto daripanoramio)

Program Diploma Eksekutif Pengurusan Masjid (DePim) tersebut diselenggarakan selama enam minggu oleh Universitas Malaysia Sabah (UMS), Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan Masjid Al-Ghufran Kuala Lumpur. Tujuan dari program tersebut adalah untuk menghasilkan sumberdaya manusia pengelola masjid profesional. Program tersebut terbuka bagi pengelola, pengurus, imam, bilal dan individu yang berminat dari manapun, baik dalam maupun luar Malaysia.

Selain itu salah satu acara yang cukup menarik jemaah di Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru ini adalah program I’tikaf selama bulan suci Ramadhan yang diikuti oleh begitu banyak jemaah. Pada Ramadhan 1431H/2010 lalu di hari ke 27 Ramadhan tercatat diikuti oleh 2470 jemaah, tidak termasuk jemaah yang tidak mengisi daftar hadir, sebuah program yang cukup meriah tentunya.

Foto Foto Masjid Agung An-Nur Riau

Nice night light reflection (panoramio)

Night silhouet (photobucket)

dari sudut taman (foto dariFlickr)

Idul Fitri 1428H (foto dariflickr)

Dari pengamatan CCTV (foto dariflickr)

Referensi

riau.kemenag.go.id  - Masjid Agung An-Nur, Masjid Kebanggaan Masyarakat Riau

pekanbaruriau.com – mesjid agung an-nur

alikhlasjatipadang.com – masjid agung an-nur riau

uin.suska.ac.id – sejarah ringkas uin suska

hidayatullah.com – tingkatkan sdm masjid, malaysia selenggarakan diploma khusus

------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca juga artikel masjid masjid di pulau Sumatera lainnya

Mesjid Nurul Iman kota Padang, Sumatera Barat‎

Masjid Agung Al Falah Jambi, Masjid Seribu Tiang

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan (Bagian II)

Masjid Jami' Indrapuri, Aceh

Masjid Raya Batam, Kepulauan Riau

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Agung Sultan Palembang (Bagian I) dan (Bagian II)

Monday, September 28, 2020

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Islamic Center Samarinda Propinsi Kalimantan Timur dari arah

sungai Mahakam (foto dari mozaicdunia)

Masjid Islamic Center Samarinda Propinsi Kalimantan Timur terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sisi depannya berada di Jl. Slamet Riyadi No 1 Samarinda, sedang kanan kirinya diapit oleh Jl. Anggi dan Jl. Meranti sedangkan bagian belakang berada di Jl. Ulin, juga menghadap ke sungai Mahakam. Sangat mudah untuk menemukan Islamic Center Samarinda, lokasinya hanya +/- 2 km dari jembatan Mahakam.

View Larger Map

Sejarah Masjid Islamic Center Samarinda - Kaltim

Pembangunan Islamic Center diharapkan dapat membangkitkan semangat kebersamaan dalam upaya menghadapi era global, selain merupakan tuntutan masyarakat untuk Samarinda memiliki sebuah sarana tempat ibadah yang memadai. Lokasi tempat berdirinya ini sebelumnya merupakan areal penggergajian kayu milik PT. Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Proyek Islamic Center Samarinda didanai dengan dana APBD Pemerintah propinsi Kalimantan Timur dibawah Gubernur Kaltim (saat itu) Suwarna Abdul Fatah.

Proses perencanannya melibatkan konsultan perencana arsitektur PT. Anggara Architeam, perencana struktur PT. Perkasa carista estetika, Perencana M&E oleh PT. Meco Systech Internusa dan perencana estetika Biro Arsitektur Achmad Noe’man. Konsultan pengawas yang mengawasi jalannya pembangunan ICS Kaltim dipercayakan kepada PT. Adiya Widyajasa sedangkan pelaksanaan pembangunannya dipercayakan kepada Kontraktor PT. Total Bangun Persada Tbk.

upacara pPemancangan tiang pertama proyek Islamic Center Samarinda

oleh Presiden Megawati Sukarno Putri 5 Juli 2001. Proses pembangunan Islamic Center Samarinda dimulai pada tanggal 5 Juli 2001 ditandai dengan penekanan tombol pemancangan tiang pancang pertama proyek pembangunan islamic Center Samarinda oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 5 Juli 2001. Dan tujuh tahun kemudian komplek Islamic Center Samarinda diresmikan oleh Presiden RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 16 Juni 2008.

Arsitektural Masjid Islamic Center Samarinda

Rancangan menara MICS di-ilhami dari menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, dan kubah utamanya di-ilhami masjid Haghia Sophia di Istambul – Turki. Menempati area seluas +/- 8 hektar, menyediakan lahan terbuka bagi masyarakat kota Samarinda, termasuk area parkir dan taman yang luas lengkap dengan pohon kurma yang ditanam di halaman depan kawasan masjid menghadirkan kesan Timur Tengah di kota Samarinda. Luas bangunan utama Islamic Center Samarinda seluas 43.500 m2, luas bangunan 7.115 m2, luas lantai basement 10.235 m2, sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 m2, dan lantai utama seluas 8.185 m2, sedangkan luas lantai mezanin 5.290 m2.

enam menara Masjid Islamic Center Samarinda menyimbolkan enam -

rukun iman. Kubah besar di atap utama nya di inspirasi dari kubah masjid

hagha shofia di Istambul - Turki (foto dari kasakusuk.com) Angka Simbolis di Masjid Islamic Center Samarinda

MICS dilengkapi dengan 7 menara terdiri dari satu menara utama setinggi 99 meter terpisah dari bangunan utama masjid. Ketinggian 99 meter menara utama tersebut bermakna 99 isim asmaul husna atau 99 nama-nama Allah. Menara utama tersebut terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Empat menara penjuru setinggi 70 meter dibangun di empat penjuru masjid ditambah dua menara gerbang yang berada di sisi kiri dan kanan gerbang utama masing masing setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai enam rukun iman. Selain angka 99 dan angka 6 masih ada angka 33 di masjid ini mewakili 33 biji tasbih yang diwakili oleh jumlah anak tangga menuju lantai utama dari lantai dasar MICS.

Menara utama MICS setinggi 99 meter

sesuai dengan Isim Asmaul Husna

(foto dari Kasakusuk.com) Lantai Basement MICS digunakan untuk area parkir kendaraan dengan kapasitas 200 mobil dan 138 buah sepeda motor, toilet pria dan wanita untuk para jamaah. Dan Ground water Tank (GWT) sebagai penampungan air bersih untuk toilet dan tempat wudhu. MICS juga dilengkapi dengan Plaza Dalam (inner court yard) dan Plaza Luar mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang. Di samping kiri dan kanannya difungsikan sebagai area parkir berkapasitas 391 mobil dan 430 sepeda motor. Di Plaza ini disediakan keran keran air di sisi kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat wudhu.

Lantai dasar Islamic Center Samarinda dipergunakan sebagai ruang pertemuan. Biasanya dipakai untuk acara seminar dan resepsi pernikahan dengna daya tampung ruangan mencapai 5000 undangan. Permukaan lantai masjid ini ditutup dengan granit pilihan dengan aneka ragam corak menampilkan nuansa hangat namun tetap sejuk dengan pemakaian AC di dalam ruangan.

Di area lobi lantai dasar masjid ini juga menjadi tempat sebuah bedug berukuran besar yang dibuat dari sebatang kayu dari hutan Kalimantan utuh berdiameter 180 senti meter, diameter yang bahkan lebih tinggi dari rata rata tinggi orang Indonesia. Batang kayu untuk beduk yang tidak bulat sempurna membuat tampilan beduk ini sedikit berbeda dan cukup unik. Beduk besar ini merupakan sumbangan dari Bapak H. Suwarna (mantan) Gubernur Kalimantan Timur.

Beduk besar di lantai dasar Masjid Islamic Center Samarinda. begitu besar

bahkan diameter beduk ini jauh lebih tinggi dari pria dewasa yang berdiri di-

depannya (foto dari panoramio) Dibelakang beduk ini ditempatkan maket model Masjid Islamic Center Samarinda ini dalam sebuah meja dari kaca, maket yang menjadi salah satu perhatian utama para pengunjung masjid ini. sedangkan di ketinggian plafon masjid dipercantik dengan lampu gantung dari bahan kuningan. Bahan kuningan yang dipakai pada lampu gantung ini memberi sentuhan klasik dalam balutan teknologi modern.

Fasilitas Masjid Islamic Center Samarinda

TK Internasional, semula bangunan ini terdiri dari TK, Kantin dan Koperasi. Kemudian disesuaikan fungsinya menjadi TK Internasional.

Bangunan Utilitas, Bangunan ini terdiri dari Ruang Genset, Ruang Pompa, GWT, Ruang Travo serta ruang penyimpanan BBM untuk Genset.

Poliklinik Plus, Gedung poliklinik 1 lantai ini menerima pasien untuk rawat inap, operasi dan bersalin.

Asrama, gedung asrama terdiri dari asrama putra dan asrama putri. masing-masing gedung terdiri dari 2 lantai. masing-masing lantai ada 13 kamar tidur.

Gedung Serba Guna, Gedung ini berfungsi sebagai ruang pertemuan.

gemerlap lampu yang menerangi Masjid Islamic Center Samarinda ini

menghadirkan keindahan tersendiri di gelap malamnya kota Samarinda

tampak begitu menawan dari seberang sungai Mahakam (panoramio) Rumah Imam, Rumah imam ini nantinya sebagai rumah tinggal bagi Imam masjid Islamic Center. Bangunan rumah imam terdiri dari kopel 2 rumah berdampingan.

Rumah Penjaga Masjid, Rumah penjaga masjid nantinya difungsikan bagi rumah tinggal pengelola masjid islamic center. Terdiri dari bangunan kopel 2 rumah berdampingan.

Tata Lampu Masjid Islamic Center Samarinda (MICS)

Menyangkut penerangan masjid di malam hari di Masjid Islamic Center Samarinda ini cukup mendapat perhatian dari Imam Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub saat bersama gubernur Kaltim Awang Faroek mengisi seminar sehari tentang ibadah qurban di Ruang Ruhui Rahayu, pada hari Selasa 9 November 2010. Beliau memberi saran agar bangunan megah tersebut tetap diberikan penerang yang cukup pada malam hari.

Interior Masjid Islamic Center Samrinda dengan Jemaahnya interior yang

begitu megah dan lega tentunya (panoramio)

Hal tersebut sangat penting selain agar tetap memberikan keindahan di malam hari, juga akan menghindari kemungkinan terjadinya pemanfaatan yang keliru oleh masyarakat, Jika ini bisa dilakukan, justru daerah ini akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Selain memberi kesan positif, keindahan Islamic Center, siang atau malam hari akan membantu kepentingan promosi daerah.

Saat ini Masjid Islamic Center Samarinda dilengkapi dengan sistim tata lampu yang sangat baik, menghadirkan Masjid Islamic Center Samarinda sebagai salah satu pemandangan indah di gelap malamnya kota Samarinda. Kemegahan Masjid Islamic Center Samarinda ini tampak begitu anggun dalam kemilau lampu yang meneranginya, Tak salah bila warga kota Samarinda berbangga hati dengan salah satu masjid termegah dan terindah di Asia Tenggara ini.

Video Masjid Islamic Center Samarinda

Foto Foto Masjid Islamic Center Samarinda

Samarinda Islamic Center Mosque 01 in Indonesia

Selasar Masjid Islamic Center Samarinda (herryimagery)
selasar yang mengelilingi plaza tengah Masjid Islamic Center Samarinda

melihat majsid semegah ini pantaslah bila warga Samarinda berbangga -

hati dengan kehadirannya (panoramio)

Suasana Malam Hari di Masjid Islamic Center Samarinda, sangat indah

dalam dengan tata lampunya yang cukup apik (panoramio)

di sisi kanan adalah menara utama Masjid Islamic Center Samarinda

setinggi 99 meter. sementara disisi masjid adalah bangunan selasar yang

dibangun mengelilingi masjid dan plaza tengahnya (panoramio)

Masjid Islamic Center Samarinda dari arah daratan, sungai Mahakam

berada tepat di belakang masjid ini (panoramio)

satu lagi foto keindahan Masjid Islamic Center Samarinda dari arah sungai

Mahakam, sangat indah (foto dari panoramio)

klik fotonya untuk memperbesar dan anada akan menemukan masjid

Islamic Center Samarinda yang berada ditepian sungai Mahakam yang -

membelah kota Samarinda ini (foto dari panoramio)

and the night fall at Islamic Center Samarinda (panoramio)

Referensi

Islamiccentersamarinda – data teknis pembangunan Islamic center

Kasakusuk.com – Islamic center mosque samarinda termegah dan terindah

Id.wikipedia – masjid Islamic center samarinda

Blog Islamic center samarinda - http://islamiccentersamarinda.blogspot.com

Kaltimprov.go.id - Keindahan Masjid Islamic Center Bantu Promosi Daerah

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan (Bagian II)

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Makasar – Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Sunday, August 9, 2020

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Aerial View Masjid Jakarta Islamic Center

Dari Lokasi Prostitusi Menjadi Pusat Pengkajian Islam

Sulit membayangkan bahwa huma loka masjid ini berdiri dulunya adalah bekas lahan prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di daerah Jakarta Utara. Tapi begitulah faktanya. Situs resmi masjid ini menyebut kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yg merubah tanah hitam sebagai tanah putih, "min al-dzulumaat ila an-nuur", diperlukan sanggup menampilkan citra baru yg memancarkan nilai-nilai keimanan & ketakwaan yg menyejukkan nurani.

Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta atau yg lebih dikenal dengan Islamic Center Jakarta atau Jakarta Islamic Centre (JIC), merupakan organisasi Non Struktural pada bawah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dibangun para era kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Rancangannya ditangani sang Prof. Muhammad Nu?Man yang terkenal menggunakan mahakarya arsitekturnya, beberapa diantara-nya adalah Masjid Amir Hamzah pada Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Indonesia atau Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Jl, Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara

Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara

Provinsi DKI Jakarta

Situs resmi : http://www.islamic-center.or.id/

Mengubah Tanah Hitam Menjadi Putih

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) yang berdiri megah saat ini sebelumnya adalah Lokasi Resosialisasi (Lokres) Kramat Tunggak dengan nama resmi Panti Sosial Karya Wanita (PKSW) Teratai Harapan Kramat Tunggak, bahasa sederhana-nya adalah Pusat Lokalisasi para WTS atau PSK, yang terletak di jalan Kramat Jaya RW 019, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara, menempati lahan seluas 109.435 m2 terdiri dari sembilan Rukun Tetangga (RT).

Lokres Kramtung tidak saja terkenal di Indonesia, namun pula populer sampai ke Asia Tenggara menjadi pusat jajan terbesar bagi para pria hidung belang, yg dalam ahirnya mengakibatkan begitu poly masalah sosial seiring dengan perkembangannya yg luar biasa, sanggup dibayangkan jika pada ketika dibuka tahun 1972, pada loka ini masih ada 300 orang WTS menggunakan 76 orang germo dan menjelang ditutupnya Lokres tersebut di tahun 1999, jumlahnya telah membengkak 1.615 orang WTS dan 258 orang germo. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang mempunyai 3.546 kamar.

Selain kasus sosial yang ditimbulkannya Lokres ini menciderai citra Jakarta yg tidak mampu dipisahkan dari sejarahnya menjadi sebuah kultur Betawi yang sangat identik sebagai komunitas Islam yg terbuka, bersemangat multikultur, toleran & sangat mencintai Islam menjadi bukti diri primer kebudayaan mereka. Kondisi ini menyebabkan friksi tidak henti-hentinya berdasarkan ulama dan masyarakat agar komplek tersebut segera ditutup. Merespon hal tadi Dinas Sosial beserta Universitas Indonesia melakukan penelitian di tahun 1997 & merekomendasikan penutupan komplek pelacuran tadi.

Interior Islamic Center Jakarta

Pada tahun 1998 dimuntahkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. 495/1998 tentang penutupan panti sosial tadi selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada 31 Desember 1999, Lokres Kramat Tunggak secara resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Selanjutnya Pemda Provinsi DKI Jakarta melakukan pembebasan lahan eks lokres Kramat Tunggak.

Setelah dibebaskan banyak muncul gagasan terhadap lokasi bekas Kramat Tunggak tersebut, ada yg mengusulkan pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran & lain sebagainya. Namun Gubernur H. Sutiyoso justru menggaungkan inspirasi membentuk Islamic Centre dilokasi tersebut. Sebuah ide yang brilian yg menyatukan kelompok-gerombolan lain yg awalnya berbeda-beda.

Pada tahun 2001 Gubernur Sutiyoso mengadakan Forum Curah Gagasan menggunakan semua elemen masyarakat buat mengetahui sejauhmana dukungan warga . Gagasan buat membentuk Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Gubernur Sutiyoso pada Prof. Azzumardi Azra (Rektor UIN Syarif Hidayatullah) pada New York pada sela-sela kunjungannya ke PBB dalam lepas 11-18 April 2001 & menerima respon yang sangat positif.

Ekterior Masjid Jakarta Islamic Center. Ada kemiripan yang relatif kuat antara foto kiri atas & foto kanan bawah dengan Masjid Agung At-Tin pada Jakarta Timur.

Master plan pembangunan JIC dirumuskan pada tahun 2002 sehabis konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi lokal maupun regional sampai international. Di tahun yang sama dilakukan studi banding ke Islamic Centre pada Mesir, Iran, Inggris & Perancis lalu dilanjutkan dengan perumusan Organisasi & Manajemen JIC.

Masjid Jakarta Islamic Center diresmikan pada lepas 4 Maret 2003 Luas bangunan masjidnya mencapai 2200 meter di atas lahan tanah seluas 109,435 m2 & sanggup menampung hingga 20.680 jemaah sekaligus. Pembentukan Organisasi & Tata Kerja Badan Pengelola Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) ditetapkan tahun 2003 melalui SK Gubernur KDKI No. 99/2003. Kemudian dilalkukan penetapan Badan Pengelola Pusat Pengkajian & Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamci Centre) melaui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 651/2004 dalam bulan April 2004.

Tetapi selanjutnya, kehadiran JIC nir sekedar hanya merubah tanah hitam sebagai putih, atau hanya sebuah masjid saja, melainkan lebih berdasarkan itu JIC diperlukan sebagai keliru satu simpul sentra peradaban Islam pada Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia & Dunia. Ciri peradaban yg dimaksud adalah menggunakan adanya kelengkapan fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang terdiri menurut fungsi peribadatan, fungsi kediklatan dan fungsi pedagangan/usaha.

Interior Masjid Jakarta Islamic Center. Lega dan lapang tanpa tiang tiang penyanggah di tengah tengah ruangan masjid, serta unik dengan ornamen lampu gantung berbentuk ornamen spesial Betawi menjadi penghias ruangan.

Arsitektural Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Sebagai sebuah Islamic Center, pada dalam komplek JIC ini nir hanya terdapat bangunan Masjid dengan ukuran sangat besar tetapi jua dilengkapi dengan fasilitas fasilitas pendukung termasuk komplek gedung perkantoran, aula dan perpustakaan dan fasilitas pendukung lainnya. Kesan megah & terbaru sangat terasa pada komplek Islamic Center terbesar Indonesia ini. Sejauh ini JIC jua eksis pada dunia maya melalui situs yang mereka kelola.

Gaya Usmaniyah Turki sangat kental dalam bangunan masjid ini, baik pada gaya juga ukurannya, kesan tadi sangat terasa saat memandang masjid ini menurut kejauhan. Masjid masjid menurut era Usmaniyah terkenal menggunakan ukurannya yang gigantik alias tinggi akbar, kubah besar dan menara tinggi yg ramping & lancip, ditambah dengan area pelataran (court yard) yang memang sudah mentradisi sebelum masa Emperium Usmaniyah. Masjid JIC ini seolah menghadirkan Masjid Usmaniyah (Turki) di Ibukota Negara Indonesia dengan rasa Nusantara

Perbedaan paling menyolok Antara masjid ini dengan masjid Klasik Usmaniyah terlihat kentara di ruang primer masjid yang sama sekali nir masih ada tiang penyanggah, yg justru menjadi salah satu karakteristik spesial Masjid Usmaniyah. Dalam skala yg lebih mini , Penggunaan contoh atap masjid misalnya atap masjd JIC ini bisa anda temukan pada Masjid Agung Kota Cimahi, Jawa Barat.

Dari kejauhan tampak menggunakan utuh kemegahan masjid ini beserta sebatang menaranya yang menjulang.

Ruangan masjid tanpa tiang misalnya ini telah lama dijadikan baku sang Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) bagi 1000 masjid yang telah mereka bangun baik pada pada maupun pada luar negeri. Rancangan misalnya ini menghadirkan perbedaan makna lebih luas di pada masjid yg pada Masjid Usmaniyah disiasati dengan pembuatan ventilasi jendela kaca ukuran akbar pada jumah poly.

Sebagai pengganti ?Kekosongan? Elemen? Tiang penyanggah ini dihadirkan elemen elemen dekoratif spesial tradisi Betawi pada langit langit bangunan yg plong tanpa plafon ditambah menggunakan dominasi rona biru diseluruh langit langit menghadirkan perbedaan makna langit tanpa awan ke dalam masjid ini. Pada kubah akbar masjid ini dilengkapi dengan ?Jendela jendea? Transfaran menciptakan pola menara menara mini disekeliling diameter kubah terlihat latif di siang hari waktu cahaya mentari menerebos masuk ke dalam masjid melalui ventilasi ventilasi tersebut.

Rancangan atap masjid ini memang tampak relatif rumit, sederhananya adalah berupa tumpukan tumpukan atap menyiratkan atap tradisional masjid masjid orisinil Indonesia. Pada setiap tingkatan atap masih ada sisi vertical & ditempatkan beberapa ventilasi kaca berukuran akbar menghadirkan penerangan gratis ke pada masjid dari cahaya surya disiang hari sekaligus memberikan imbas fantastis pada dalam masjid.

Untuk menghindari kesan sumpek dan pengap, dinding bagian pada masjid ini dibalut menggunakan warna cerah, kontras menggunakan rona langit langitnya yang lebih gelap, & area mezanin (lantai dua) nya dibangun tanpa menutupi area sholat primer. Rancangan seperti ini tentu saja pula akan anda temukan pada Masjid Agug At-Tin pada kawasan TMII, Jakarta Timur, lantaran memang dirancang oleh arsitek yg sama.

Bangunan bergaya Usmaniyah dengan cita rasa Indonesia.

Mihrab di dalam masjid ini di dominasi oleh Mimbar khatib yang relatif besar . Khatib akan menyampaikan khutbahnya pada mimbar yg ditempatkan cukup tinggi hingga bisa telihat sang Jemaah paling belakang. Posisi imam saat memimpin sholat nir pada pada mihrab akan tetapi beberapa meter di depan mihrab. Satu butir beduk yg jua ukuran akbar ditempatkan di dalam masjid ini di sudut kanan depan. Kehadiran beduk ini tentu saja menghadirkan nuansa yang sangat Indonesia.

Ruang sholat primer masjid ini berada di lantai dua, ada tangga akbar menuju ke lantai 2 yg mengarah pribadi ke pelataran masjid. Selain tangga masjid ini pula dilengkapi menggunakan perangkat eskalator. Lantai dasar masjid dipakai sebagai area pendukung & tempat kerja serta area tempat wudhu dan lainnya. Selain pada lantai dasar, loka wudhu juga tersedia di area pelataran yg dibangun relatif unik. Hal yang sama jua akan anda temui pada kebanyakan masjid masjid Usmaniyah.

Pelataran masjid ini relatif luas dikelilingi rangkaian koridor tak terputus. Seluruh bagian atas pelataran telah diberikan garis shaf tetap buat memudahkan Jemaah yg sholat pada luar masjid memilih garis shaf mereka. Sebatang menara ramping menjulang tinggi dibangun tepisah relatif jauh dari bangunan utama masjid.

Bangunan menara berdenah segi empat nir misalnya menara masjid Usmani yang bulat. Melihat menara ini mengesankan sebagai menara masjid Agung Demak dalam bentuk lebih akbar & terbaru. Ujung menara dilengkapi menggunakan kubah lonjong berwarna senada menggunakan kubah utama, pada atas kubah terdapat ornamen tusuk sate dengan 5 bentuk bola menyimbolkan lima rukun Islam & pada ujungnya ditempatkan simbol bulan sabit berbentuk simetris ke atas.

Masjid Masjid rancangan Prof. Muhammad Nu?Man mempunyai benang merah yg sangat kuat terhadap rancangan masjid masjid berdasarkan era ke-khalifahan Islam (Emperium) Usmaniyah yg berpusat di Istanbul, Turki. Namun sudah barang tentu dibangun dengan teknik terkini dan pada oplos dengan tradisi Islam Indonesia.

Bila Emperium Usmaniyah (Turki) memiliki arsitek ternama Mimar Sinan yang begitu melegenda, hingga hingga pemerintah Turki menciptakan sebuah masjid megah buat menghormatinya. Saya pribadi menjadi orang awam arsitektur menganggap Prof. Muhammad Nu?Man dengan karya karyanya yang sangat Usmaniyah, menjadi Mimar Sinan-nya Indonesia.*** (menurut aneka macam asal, data diolah).

Referensi

suarajakarta.com - Jakarta Islamic Centre : Gelapnya Hilang Menjadi Terang

insistnet.com - Ir. Achmad Noe'man: Sang Arsitek Pejuang

situs resmi JIC – http://islamic-center.or.id

jakarta.go.id - Jakarta Islamic Centre

dakwatuna.com - Kramat Tunggak, Dari Surga Prostitusi Menjadi Pusat Kegiatan Islam

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done