Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor - Islami Pedia
News Update
Loading...

Sunday, August 16, 2020

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor

Masjid Al-Ijtihaj di Kampungnya para pemburu paus, Lamakera

Lamakera adalah sebuah desa di pantai ujung timur pulau Solor, Nusa Tenggara Timur. Secara administratif desa ini masuk ke dalam kecamatan Solor Timur, kabupaten Flores Timur, dan selama berabad abad terkenal menjadi desanya para pemburu ikan paus, sebuah propesi yang sahih sahih langka dan membutuhkan nyali akbar buat menjalaninya. Lamakera adalah satu dari 2 desa di NTT yang penduduknya mempunyai propesi tidak biasa tersebut, desa lainnya adalah desa yg namanya nyaris sama, yakni Desa Lamalera pada Kabupaten Lembata.

Sejak tahun 2015 Lamakera dikembangkan oleh Pemkab Flotim sebagai daerah pariwisata laut baru bagi para pecinta dunia laut. Di Lamakera dtemukan sejumlah jenis ikan langka yg hayati diperaian ini semenjak berabad abad silam. Beberapa diantara hewan fauna laut itu sekarang bahkan nyaris punah, antara lain dalah ikan paus, hiu, lumba lumba dan ikan pari manta atau dalam bahasa setempat dianggap ikan Moku.

Lamakera merupakan sebuah perkampungan berbasis islam, letaknya yg berada pada ujung timur pulau solor menjadikannya sebagai wilayah yg cukup strategis karena menjadi tempat pertemuan arus & mudah menjangkau bahari sawu. Orang Lamakera adalah nelayan ulung yang memulai tradisi perburuan paus biru dengan hanya bermodalkan ?Gala?(Tombak) menggunakan bertelanjang dada melesat diatas ganasnya lautan.

Laskar Lamakera nama gelar buat para penangkap paus desa Lamakera seajak dahulu. Laskar lamakera inilah yg memulai tradisi perburuan paus yang lalu ditiru desa serumpunnya Lamalera disebelah selatan pulau lomblen (Lembata) yang bermayoritas Katolik dan Kristen protestan. Hanya saja justru desa Lamalera yg pada eskpose sang media massa yg menjadikan protes keras menurut warga Lamakera.

Kampung yang indah menghadap ke bahari lepas berlatar bukit menghijau

Dulunya, Desa Lamakera terdiri berdasarkan dua dusun, yaitu Dusun Motonwutun di sebelah timur dan Dusun Watobuku pada sebelah barat. Seiring meningkatnya jumlah penduduk di ke 2 dusun tadi, kini statusnya telah semakin tinggi sebagai desa, yaitu Desa Motonwutun dan Desa Watobuku. Meski telah terbagi menjadi dua desa, akan tetapi warga kedua desa tersebut tetap menyebut dirinya sebagai Warga Desa Lamakera.

Untuk mencapai Desa Lamakera, memang butuh sedikit perjuangan. Dari kota Larantuka, mak kota Kabupaten Flores Timur bisa ditempuh dengan perahu (kapal motor) selama lebih kurang 2 jam. Satu-satunya kapal motor yang menuju Lamakera adalah Kapal Motor (KM) Rahmat Solor yg dimiliki oleh Warga Lamakera. Setiap hari kapal ini berangkat menurut Pelabuhan Larantuka jam 12.00 siang & tiba di Desa Lamakera sekitar jam 14.00.

Opsi lainnya untuk menuju ke Lamakera, dari Larantuka Anda bisa naik bahtera sampai ke Kota Waiwerang, Pulau Adonara kemudian lanjut naik perahu kecil hingga tiba pada Lamakera. (edyra). Sampai ketika ini tidak terdapat hotel ataupun penginapan pada Desa Lamakera. Namun, pengunjung sanggup menginap pada rumah rakyat yg ramah & terbuka terhadap para pengunjung desa mereka.

Sebagai sebuah desa dengan penduduk beragama Islam, pada Lamakera berdiri sebuah masjid megah bergaya terbaru dengan nama Masjid Al-Ijtihaj. Sebuah bangunan megah dengan menaranya yg tinggi menjulang sudah menjadi landmark Lamakera sejak masjid tersebut berdiri. Bagaimana tidak selain menjadi bangunan termegah di seantero desa, masjid ini pula merupakan bangunan tertinggi sekawasan.

Masjid AlIjtihad Lamakera

Desa Watobuku, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur

Provinsi Nusa Tenggara Timur. Indonesia

Koordinat : 8?26'4danquot;S 123?9'49danquot;E

Posisi Lamakera yang berada pada bibir pantai dan lokasi masjid ini yang jua berada pada tepi pantai membuat menara dan kubah besarnya telah terlihat berdasarkan kejauhan, sebagai semacam mercusuar bagi para nelayan Lamakera yg sedang melaut. Dari bukit batu yang berada pada sisi barat desa bangunan masjid ini terlihat tinggi menjulang diantara bangunan tempat tinggal rumah penduduk.

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat muslim setempat dari tahun 2012, sebuah upaya & semangat ke-Islaman yg luar biasa berdasarkan muslim setempat menggunakan segala keterpencilannya, sanggup membangun sebuah masjid yang begitu megah, bahkan menara utama masjid ini memiliki ketinggian hingga 45 meter menjadi menara masjid tertinggi pada kabupaten Flores Timur & provinsi NTT.

Masjid Al-Ijtihat memiliki tujuh pintu, & masing masing pintu diberi nama sinkron nama tujuh suku yang ada pada Lamakera, yaitu Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kuku Onang. Masjid ini mempunyai 5 menara menggunakan menara primer yang berada pada depan masjid menjulang setinggi 45 meter.

Masya Allah Indahnya

Lamakera memiliki pesona alam yg menawan. Pengunjung yg datang kesana dapat memanjat ratusan anak tangga sampai ke zenit menara menggunakan meminta biar menurut takmir masjid. Panorama yang terlihat dari puncak menara sangat menakjubkan. Seluruh Desa Lamakera mampu terlihat menggunakan kentara lengkap menggunakan bukit-bukit hijau pada belakang desa & Selat Solor yang berair biru di depannya. Pulau Adonara pada seberang selat dan Pulau Lembata pada sebelah timur pula terlihat jelas.

Desa Lamakera diapit 2 butir tanjung. Di sebelah barat desa namanya Tanjung Watobuku dan pada sebelah timur desa namanya Tanjung Motonwutun. Nama ke 2 tanjung ini kemudian dijadikan nama desa, selesainya Desa Lamakera dipecah sebagai dua. Panorama di Tanjung Watobuku sangat cantik. Di tanjung ini terdapat sekumpulan batuan menggunakan bentuk yg unik. Batu ini dikeramatkan sang Warga Lamakera.

Tak jauh menurut Tanjung Watobuku jua terdapat sebuah pantai yg menarik, namanya Pantai Kebang. Di pantai ini masih ada sebuah batu karang yang menjorok ke laut, bentuknya mirip moncong/lisan buaya. Ada jua batuan berwarna merah pada pinggir pantai yang semakin menambah keindahan pantai Di dekat Pantai Kebang jua masih ada padang savana menggunakan rumput hijau yang menghampar luas. Selain itu, kita juga bisa melihat Gunung Ile Bolang yang berdiri menjulang pada Pulau Adonara.

Sejarah Masuknya Agama Islam pada Lamakera

Lamakera berdasarkan bebukitan

Kepercayaan nenek moyang rakyat Lamakera sebelum kedatangan Islam merupakan animisme. Seperti di kawasan Indonesia pada umumnya, awal masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan ulama. Pada abad XV, poly para pedagang Islam berdasarkan berbagai wilayah pada Nusantara, seperti para pedagang berdasarkan pulau Jawa, Sumatera & Bugis Makasar yang melakukan perdagangan dan atau menyinggahi aneka macam wilayah di Nusa Tenggara Timur sebagai tempat transit sebelum meneruskan pelayaran ke Maluku, Makasar ataupun ke bandar-bandar di pulau Jawa.

Karena faktor tersebut agama Islam paling awal masuk pada daerah Nusa Tenggara Timur adalah pada sekitar bandar-bandar strategis yg banyak dikunjungi para pedagang Islam. Tempat-loka tersebut diantaranya : Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Alor, Kota Kupang, & pesisir utara Sumba Barat. Pulau Solor merupakan loka yang paling strategis jika dilihat dari segi perdagangan lantaran berada dalam posisi silang pelayaran berdasarkan bandar pada pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke Maluku atau kebalikannya, berdasarkan bandar-bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke pulau Timor & menurut bandar pada Makasar ke pantai utara Australia.

Di samping itu di Lamakera masih ada pelabuhan alam yang indah dan aman menjadi tempat persinggahan kapal pada rangka menunggu cuaca & angin yang tepat buat berlayar. Itulah sebabnya Lamakera yg terletak pada ujung timur pulau Solor menjadi tempat yg paling banyak dikunjungi para pedagang dan pelaut Islam dan adalah salah satu loka di NTT yg paling awal menerima agama Islam.

Dari arah bahari

Keberuntungan yang disebabkan sang letak yang strategis pada jalur perdagangan dan tersedianya pelabuhan alam yg kondusif sudah membuahkan warga Lamakera sebagai komunitas yg terbuka untuk menerima segala hal baru yg dibawa para pedagang yg hilir mudik tersebut.

Apalagi tradisi raja Lamakera dalam waktu itu, merupakan mengundang & menjamu setiap saudagar berdasarkan luar yg singgah buat berdagang & atau sekedar berteduh dari gangguan isu terkini angin yang kencang. Keramahan tuan rumah seperti yg dicontohkan oleh raja tadi, merupakan kesempatan yang baik bagi para pedagang Islam, buat lebih gampang memperkenalkan Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera.

Sekitar abad ke XV, seorang pedagang berdasarkan Palembang bernama Syahbudin bin Ali bin Salman Al Farisyi atau yg lalu dikenal jua dengan Sultan Menanga, merupakan salah seseorang tokoh pioner penyebaran agama Islam. Tokoh ini sang Raja Sangaji Dasi diberi biar menetap di daerah perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lohayong. Di sana dia mendirikan perkampungan Islam yang diberi nama Menanga.

Melalui pendekatan kekeluargaan, tokoh ini berhasil menjadi menantu kerajaan dengan mengawini putri berdasarkan adik Raja Sangaji Dasi. Pada ketika bersamaan, beliau pula berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Dengan keberhasilan meng-Islam-kan tokoh kunci yakni raja dan keluarganya, maka semakin lancarlah upaya penyebaran agama Islam bagi pengikut dan masyarakat pada kerajaan tadi.

Lamakera dengan menara masjidnya yg menjulang menjadi semacam mercusuar bagi para nelayannya

Kemudian dalam tahun 1628, dibangunlah sebuah surau bagi pendukung pelatihan penyebaran kepercayaan Islam di Lamakera. Tokoh lain yg jua sebagai pioner penyebaran agama Islam pada Pulau Solor adalah seseorang ulama dari Ternate (Maluku) bernama Sutan Sahar & istrinya yang bernama Syarifah al Mansyur.

Kecerdasan para pedagang & ulama pada mengungkapkan ajaran Islam kepada penguasa & masyarakat Lamakera, sudah membuat Islam begitu mudah diterima dan dalam saat yg nir begitu lama penguasa dan warga Lamakera yang sebelumnya adalah penyembah Rera Wulan Tanah Ekang, sebagai penganut Islam yg taat.

Penyebaran Islam pada Lamakera bisa berjalan menggunakan baik & cepat diterima oleh warga Lamakera lantaran Sultan Menanga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Sepeninggal Sultan Mananga, maka buat menjalankan kewajiban menjadi seseorang muslim, penyebaran agama Islam selanjutnya dilaksanakan sang raja & dibantu sang Sultan Syarif Sahar.

Walaupun raja memiliki kekuasaan dan kewenangan yg bertenaga untuk memerintahkan masyarakatnya, tetapi pada hal penyebaran agama Islam tetap dilakukan baik, arif dan bijaksana dengan seruan-seruan yg baik tanpa kekerasan dan pemaksaan. Hal ini bisa dibuktikan bahwa Raja Sangaji Dasi yg pada saat itu berkuasa, adalah tokoh yang disegani, ditaati dan mempunyai kharisma serta dampak yang sangat luas sampai seluruh daerah Solor Timur, tetapi masih ada warga pada wilayah-daerah kekuasaannya permanen menyembah Rera Wulan Tanah Ekang dan baru memeluk ajaran Islam sehabis Indonesia merdeka, terutama setelah berkembangnya pendidikan kepercayaan Islam pada Solor Timur.***

Referensi

goodnewsfromindonesia.org  - lamakera, desa pemburu paus di pulau solor

kupang.tribunnews.com - kampung lamakera jadi kawasan pariwisata baru

edyraguapo.blogspot.co.id – lamakera desa pemburu paus di pulau solor

kompasiana.com – Sejarah masuknya agama islam di lamakera

Baca Juga

Masjid ?Bengak? Al-Raisiyah Masjid Tertua pada Mataram

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done