Islami Pedia: masjid di sulawesi tenggara
News Update
Loading...
Showing posts with label masjid di sulawesi tenggara. Show all posts
Showing posts with label masjid di sulawesi tenggara. Show all posts

Tuesday, June 16, 2020

Masjid Agung Keraton Buton

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Masjid Agung Keraton Buton terletak di dalam Lingkungan Benteng Kesultanan Buton, Benteng tua terluas di dunia menurut catatan rekor MURI. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang berukuran 20,6 x 19,40 m dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton.

Lantai satu yg lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai 2 yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan. Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil & merupakan zenit kerucut menurut holistik bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air.

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Jangkar Kapal VOC yg karam di Buton pada latar depan & di belakang adalah Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti semenjak didirikan merupakan fondasi & bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid pula masih tetap misalnya aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter. Masjid Agung Keraton Buton merupakan salah satu menurut sembilan Masjid antik di Indonesia dan sudah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai benda cagar budaya atau situs cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan & Pariwisata No : KM.8/PW.007/MKP.03 Tanggal 04 Maret 2003

Lokasi

Masjid Agung Keraton Buton terletak di komplek Keraton Kesultanan Buton yg dikenal menggunakan sebutan Keraton Wolio pada pada tembok Benteng Kesultanan Buton. Masuk dalam wilayah Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Dapat dicapat dari berdasarkan Kota Kendari ke Bau-Bau menggunakan pesawat pioner selama 1 jam penerbangan atau kapal laut selama 4 jam pelayaran.

Sejarah

Masjid Agung Keraton Buton pertama kali didirikan pada tahun 1538 M. Tidak lama berselang, masjid ini terbakar dampak perang saudara yg terjadi di Kesultanan Buton dalam perebutan kekuasaan. Pembangunan masjid tersebut baru dimulai lagi pada tahun 1712 M menggunakan lokasi yg nir begitu jauh menurut tempat semula pada masa pemerintahan Sultan Zakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX)

Renovasi

Renovasi mesjid ini telah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929, 1978, 1986 dan 2002. Renovasi pertama dilakukan tahun 1930, pada masa Sultan Hamidi (Sultan Buton ke-37). Struktur asli bangunan tetap dipertahankan dan hanya membarui sebagian rangka kayu lantaran telah lapuk dimakan usia, lantainya disemen. Sedangkan atap yg semula menggunakan atap rumbia diganti menggunakan seng. Pemugaran kedua dan ketiga masing masing tahun 1978, & 1986 pula buat membarui atap seng yg telah usang. Renovasi terahir dilakukan tahun 2002. Dengan merenovasi lantai masjid menggunakan marmer atas donasi Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Didalam Masjid Agung Kraton Buton

Megawati pernah berkunjung ke masjid tua itu menjelang Pemilu 1999. & kemudian menaruh donasi buat merenovasi Masjid terebut waktu dia telah menjadi Presiden. Pelaksanaan renovasi masjid itu ditangani Gubernur Sultra Laode Kaimuddin & Ketua PDI-P Sultra Laode Rifai Pedansa.

Keunikan

Masjid Agung Keraton Buton nir mempunyai menara. Tetapi, pada sisi bangunan sebelah utara berdiri sebuah tiang bendera yg ujungnya lebih tinggi dibandingkan puncak kerucut masjid. Menurut Buya Hamka pada buku tafsirnya, Al Azhar, tiang bendera itu jua berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung menurut syariat Islam.

Menurut Buya Hamka, Tiang bendera di areal Masjid Agung ini difungsikan jua menjadi tiang gantungan buat aplikasi hukuman gantung di masa pemerintahan Kesultanan Buton

Tiang bendera itu didirikan nir lama setelah masjid dibangun. Kayu yang digunakan untuk tiang bendera tadi dibawa sang pedagang beras berdasarkan Pattani, Siam (sekarang Thailand). Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengubah bagian bahtera yang rusak di perjalanan, Setelah dagangan mereka habis dan hendak balik ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan buat dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yg berwarna kuning, merah, putih, dan hitam pada tiang tadi.

Total perangkat pengurus masjid Keratorn itu berjumlah 60 orang, terdiri dari lakina kepercayaan , imam, empat khatib, 12 moji, dan 40 mukimi. Khatib & moji melakukan tugasnya secara bergilir. Perangkat semacam itu tidak dimiliki masjid lain di Nusantara.

Masjid Agung Kraton Buton pada malam hari

Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang galat satu pada antaranya berfungsi menjadi pintu utama. Pada bagian depan masjid - di sebelah timur masjid, masih ada serambi terbuka. Pada pada masjid terdapat sebuah mihrab & mimbar yg terletak secara berdampingan. Keduanya terbuat menurut batu bata yang pada bagian atasnya masih ada hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tanaman yang seperti menggunakan gesekan Arab.

kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Drs. Alaihi Salam Tamrin, MH dan Wa Ode Maasra Manarfa, S.Sos, M. Si saat doa beserta perangkat Masjid Agung Keraton Buton, pada rangkaian pelantikannya menjadi Walikota dan Wakil Walikota Baubau periode 2013-2018

Di depan pintu primer di antara 2 selasar masih ada sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tadi telah ditempatkan pada situ semenjak adanya masjid ini menjadi penampungan air buat berwudu

Sebuah lampu antik yg terbuat dari perunggu bercabang 3 yang digantung sempurna pada tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tadi, tersedia tiga loka buat bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan contoh itu hanya masih ada di 3 loka di Indonesia, dua lagi masih ada di pada Istana Negara Jakarta & Keraton Yogyakarta.

Masjid Agung Kraton Buton

Tak jauh berdasarkan masjid, masih ada makam raja terakhir sekaligus Sultan pertama Buton, Murhum yg jua dikenal menggunakan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum bisa menyelesaikan perang saudara antara Konawe menggunakan Mekongga dalam saat delapan hari.

Murhum merupakan raja Buton pertama yg menganut ajaran Islam. Sejak itu jua, sistem pemerintahan berubah menurut Kerajaan sebagai kesultanan. Makam Murhum terletak pada belakang Baruga Keraton Buton (balai rendezvous) yg berada di hadapan Masjid Agung Keraton Buton.

Tradisi Ramadahan pada Masjid Agung Kraton Buton

Pelaksanaan Shalat Tarwih di beberapa malam Ramadhan, seperti malam pertama (Tembaana Bula), Malam Nuzul Quran ke-17 (Qunua), malam 27 (Qadiri/ lailatur Qadar). Pada malam tersebut shalat tarwih dilaksanakan tepat dalam pukul 00.00 malam yg dirangkai dengan sahur beserta yg dilakukan perangkat Syara Masjid Agung Keraton Buton bersama pemerintah wilayah. Tradisi itu masih terjaga sampai sekarang.***

Thursday, May 7, 2020

Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari

Masjid terapung Al-Alam Kota Kendari dibangun ditengah laut teluk Kendari. Pembangunannya dimulai tahun 2010, mulai dipakai tahun 2017 & diresmikan tahun 2018. Masjid ini sebagai masjid pertama pada Indonesia yg dibangun begitu jauh ditengah bahari dan pada ukuran yang cukup besar , meski sebelumnya sudah ada masjid masjid serupa pada tanah air.

Berdiri megah ditengah laut teluk kendari, Masjid Al-Alam pada saat air pasang masjid ini benar benar tampak seolah olah terapung diatas laut teluk Kendari. Rancang bangunnya mengingatkan kita kepada bangunan bangunan megah dunia. Perhatikan empat menara di empat penjuru masjid yang mirip dengan menara Burj Al-Arab di Jumeirah-Dubai, Uni Emirat Arab, sedangkan fasad masjid ini mengingatkan kita pada Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau juga terkenal dengan sebutan masjid besi di Putrajaya, ibukota (baru) Malaysia.

Masjid Al-Alam kini menjadi Ikon baru kota Kendari dan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan sebagai salah satu objek wisata pavorit masyarakat di kota itu. Kehadiran masjid ini menambah perpaduan masjid masjid megah pada Kendari selesainya Masjid Raya Al-kautsar Kendari dan Masjid Raya Kendari atau biasa pula dikenal dengan nama Masjid Raya Kota lama yg sudah berdiri terlebih dahulu.

Masjid Al-Alam diperkiirakan mampu menampung sampai 10.000 Jemaah sekaligus menggunakan asumsi dilantai satu bisa menampung lebih menurut 5000 jemaah ditambah lantai 2 & lantai tiga yang diperkirakan masing masing sanggup menampung lebih menurut 2000 jemaah sekaligus. Untuk menampung tunggangan Jemaah, masjid Al-Alam dilengkapi dengan huma parkir yang bisa menampung sampai 700 kendaraan roda empat.

Dari sisi berukuran dan jarak berdasarkan bibir pantai, masjid Al-Alam Kendari ini memang masjid pertama di Indonesia yg dibangun menggunakan berukuran dan posisi seperti ini. Selain ukurannya yg akbar, jeda dari pantai pun cukup jauh.

Tentang Al-Alam

Secara harfiah, Al-Alam asal berdasarkan bahasa arab yg berari alam semesta, tetapi masyarakat akan langsung mengaitkan nama masjid ini menggunakan nama inisiator pembangunannya, Gubernur ketujuh Sulawesi Tenggara, Nur Alam. Masjid Al-Alam atau lebih dikenal pula sebagai Masjid Terapung Al-Alam adalah masjid megah yg dibangun ditengah laut teluk Kendari, kota Kendari, provinsi Sulawesi Tenggara. Tak tanggung tanggung, lokasi masjid ini dibangun sejauh 1,6 kilometer berdasarkan bibir pantai kota Kendari.

Dari kejauhan bangunan masjid ini tampak mengapung di permukaan laut teluk Kendari, dengan posisinya yang demikian itu yang menjadikannya disebut sebagai masjid terapung. Meskipun sebenatnya tidak benar benar mengapung di atas air laut melainkan berdiri diatas tiang tiang panyanggah beton bertulang yang ditancapkan ke dasar  laut.

Dari segi rapikan letaknya masjid terapung Al-Alam kota Kendari ini memang bartu satu satunya di Indonesia dan di global yg dibangun begitu jauh di tengah laut. Meskipun masjid masjid yg serupa ini sudah begitu poly dibangun pada Indonesia dan di global, & seolah menjadi demam isu baru dalam pembangunan masjid waktu ini.

Masjid Al Alam Kendari

Jalan Masjid Al-Alam, Teluk Kendari

Kota Kendari, Sulawesi Tenggara

Indonesia

Sebelumnya di Indonesia sudah ada beberapa bangunan Masjid Terapung, sebut saja daintaranya adalah Masjid Masjid Raya Al-Munawaroh di Ternate, Masjid Amirul Mu’minin kota Makasar, dan lain lain, sementara yang paling terkenal di luar negeri diantaranya adalah Masjid Terapung Ar-Rahmah yang mengapung di laut merah kota Jeddah, Arab Saudi dan Masjid Hassan II, Casablanca - Maroko.yang seolah mengapung di samudera Atlantik Utara.

Proyek Pembangunan Masjid Al-Alam

Proyek pembangunan Masjid Terapung Al-Alam Kota Kendari ini mulai dibangun tahun 2010 yang lalu dan baru terselesaikan dan diresmikan delapan tahun lalu di tahun 2018 yang lalu. Proses pembangunan yg cukup usang menggunakan segala kendala dan masalahnya sendiri. Sebuah mega project yang cukup ambisius, sempat menuai kontroversi & penolakan menurut aneka macam lapisan warga .

Sejak awal pengumuman pembangunannya, sudah menuai banyak sekali komentar pada warga hingga para tokoh pada Kendari dan Sulawesi Tenggara termasuk nilai proyeknya yg diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 230 Milyar Rupiah. Nilai sebegitu akbar dievaluasi akan lebih bermanfaat jika dimaksimalkan buat kesejahteraan warga , ditambah lagi dengan keberatan berdasarkan para pemerhati & penggiat pelestarian lingkungan.

Interior Masjid Al-Alam, terperinci benderang & lega. Menurut 3 lantai masjid ini, mampu menampung hingga 10 ribu jamaah.

Proses pembangunannya dimulai menggunakan pemancangan tiang pertama dalam hari Selasa 17 Agustus 2010 dipimpin sang Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Saleh Lasata, Walikota Kendari Ir Asrun, Wakil Ketua DPRD, La Pili, pejabat muspida & mantan Menteri Agama, Prof DR Said Agil Al Munawar.

Upacara pemancangan tiang pertama itu bertepatan menggunakan lepas 7 Romadhon, dan lepas 7 tadi dikait kaitkan dengan jabatan Gubernur Nur Alam yang adalah Gubernur Sulawesi Tenggara Ke 7.

Sumber pendanaan

DPRD beserta pemkab mengalokasikan dana APBD sebesar 10 Miliar buat keperluan pemancangan tiang penyanggah masjid ini yg keseluruhannya mencapai 509 tiang yg akan ditancapkan pada teluk Kendari hingga kedalaman 30 meter. Tahap pertama di tahun 2010 dikerjakan penancapan 37 tiang pancang.

Masjid Al-Alam nantinya akan dilengkapi menggunakan banyak sekali sarana pendukung termasuk taman masjid yg sekarang sedang dalam proses reklamasi (terlihat pada belakang masjid) dan wahana pendukung lainnya.

Total saat yg direncanakan untuk menyelesaikan pembangunan masjid adalah empat tahun. Selain bangunan masjid, sebuah jalan penghubung sejauh 1,6 Kilometer pula dibangun menghubungkan daratan kota kendari ke kompleks masjid ini. Berbeda dengan konstruksi masjid yg memakai tiang pancang, causeway atau jalan penghubung ini dibangun dengan metoda menimbun bahari atau reklamasi.

Adapun nilai proyek pembangunan masjid ini memang cukup fantastis, hingga menggunakan ketika diselenggarakannya Sholat subuh perdana di masjid ini, pembangunannya sudah menghabiskan dana kurang lebih Rp. 250 Milyar Rupiah, & pada saat pertama kali dipakai, Gubernur Nur Alam bahkan menyebut proyek tersebut menghabiskan dana hingga RP. 250 Milyar Rupiah seluruhnya bersumber berdasarkan APBD provinsi Sulawesi Tenggara.

Prakarsa Gubernur Nur Alam

Proyek pembangunan masjid ini pada prakarsai oleh Gubernur ketujuh provinsi Sulawesi Tenggara, Nur Alam, dimulai dengan pemancangan tiang pertama dalam peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2010 yg lalu. Menjelang ahir masa jabatan Gubernur Nur Alam masjid ini baru mencapai progress 75% namun telah dapat digunakan buat peribadatan ditandai dengan penyelenggaraan sholat subuh berjamaah pertama yg dihadiri Gubernur Nur Alam, pejabat daerah & rakyat muslim setempat dalam lepas 28 Mei 2017.

Pembangunan masjid ini dilanjutkan hingga terselesaikan & dresmikan sang Pejabat Gubernur Sulawesi Tenggara Teguh Setyabudi, dalam hari Jumat 27 April 2018 bertepatan menggunakan ulang tahun provinsi Sulawesi Tenggara ke 54. Peresmian tersebut juga ditandai dengan penyelenggaraan sholat jum?At beserta di masjid Al-Alam. Upacara peresmian tadi turut dihadiri Ketua DPRD Sulawesi Tenggara, Abdurrahman Saleh yg jua merupakan Ketua DPW PAN Sulawesi Tenggara, para pejabat & rakyat muslim kota Kendari.

Letaknya yg tak lazim & bangunan ma jidnya pun elok , mengakibatkan masjid ini sebagai keliru satu objek wisata favorit warga .

Objek wisata baru kota Kendari

Pembangunan pada kompleks masjid terapung ini masih dilanjutkan buat dilengkapi dengan aneka macam fasilitas & prasarana pendukung. Termasuk didalamnya pembangunan taman di ulau reklamasi pada depan masjid, causeway atau jalan hubung pada sisi selatan dan sarana sarana pendukung lainnya.

Meski beberapa poin tidak selaras dengan rencana awal, Masjid Terapung Al-Alam ini kini bediri begitu megah di tengah tengah bahari teluk Kendari & menjadi Ikon baru kota Kendari & provinsi Sulawesi Tenggara. Selain sebagai tempat ibadah kompleks masjid ini kini pula menjadi objek wisata baru bagi warga Kendari dan sekitarnya.

Ruas jalan hubung ke masjid ini yang relatif panjang, menjadi tempat pavorit rakyat buat berolah raga atau sekedar melepas lelah menikmati pemandangan bahari teluk kendari menggunakan Masjid Al-Alam sebagai Ikon nya. Setiap hari tempat ini selalu ramai dikunjungi masyarakat termasuk mereka yg datang buat sekedar ber-selfie ria, di luar ketika sholat.(menurut banyak sekali asal, data diolah).***

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Proyek Masjid Al-Alam Kendari

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate

Masjid Hassan II, Casablanca - Maroko

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin

Masjid Terapung Ar-Rahmah, Jeddah

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done