TAK MIRIP MASJID. Bangunan Islamic Center Turath di kota Tallin, Estonia
Islamic Center Turath berada tidak jauh dari bandara Ülemiste kota Tallin, Ibukota Estonia. Secara resminya masjid ini bernama Kultuuri Keskus Turath atau Cultural Center Turath. Tidak ada kata Masjid ataupun Islam di nama resminya. Sama seperti halnya dengan bangunan masjidnya yang sama sekali tidak mirip dengan bentuk masjid pada umumnya. Bangunan masjid yang berdiri diantara gedung gedung bertingkat di kota Tallin diantara hingar bingar kota yang ahirnya mengizinkan pembangunan masjid setelah perjuangan bertahun tahun muslim disana, meski dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi termasuk tentang penggunaan nama dan bentuk bangunan yang disebutkan tadi.
Masjid ini dapat dicapai menggunakan bus Nomor 65, 15 dan 7. berhenti di perhentian bus Dvigateli, lalu menyeberang jalan dibelakang Universitas. Masjid ini berada di sebelah gedung the big black Microlink building. bila dari pusat kota dapat menggunakan bus nomor 2. kemudian berhenti di disebelah Ülemiste shopping center, lalu menyeberang jalan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Imam Masjid ini Mufti Ildar Muhhamedšin dapat memandu anda menuju masjid ini, beliau mampu berbicara dalam Bahasa Estonia, Russia, Arab, Tatar dan sedikit Bahasa Inggris. Hingga kini, masjid ini merupakan masjid satu satunya di Estonia.
Berdirinya masjid dan Islamic Center di Kota Tallin, Ibukota Estonia ini tidaklah berjalan mulus. Seperti telah disinggung dalam artikel sebelumnya tentang Islam di Estonia, perdebatan panjang dan penolakan keras mewarnai pembangunan masjid ini sejak baru pada tahap wacana. Pembangunan masjid yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan muslim setempat yang digagas oleh Komunitas Muslim Azeri di negara kawasan Nordic tersebut memicu perdebatan sengit ditengah masayarakat yang mayoritas beragama Kristen di negara itu.
Diperkirakan ada sekitar 10 ribu muslim di Estonia yang berasal dari etnis Tatar dan Azeri (Azerbaijan) yang berimigrasi ke Estonia selama kekuasaan Uni Soviet. Sebelum negara tersebut menjadi bagian Soviet bahkan sudah ada komunitas muslim di kota Narva dan Tallin. Negara baru seperti Estonia yang merdeka penuh setelah runtuhnya Uni Soviet memang tidak serta merta mampu mengintegrasikan seluruh elemen masyarakatnya yang beragam etnis selain etnis Estonia yang merupakan pribumi untuk semua nya menjadi Satu Estonia yang multikultural.
Penolakan keras dari kalangan elit politik partai Kristen yang mengaku mewakili kaum Lutheranis dan Kristen Ortodok yang merupakan mayoritas di Estonia. Namun dengan jumlah 10 ribu jiwa, muslim disana bahkan sudah jauh lebih banyak dibandingkan komunitas Katholik ditambah dengan komunitas Baptis yang ada di negara tersebut. Berita tentang Islam memang sangat jarang muncul di media Estonia dikarenakan sebagian besar muslim disana tidak berbicara dalam Bahasa Estonia dalam kesehariannya tapi berbicara dalam Bahasa Rusia, juga jarang muncul di media berbahasa Rusia dikarenakan rata rata orang Estonia yang menggunakan Bahasa Rusia adalah penganut Kristen Ortodok.
Manakala wacana pembangunan masjid muncul di salah satu media pada bulan januari 2001 langsung mendapatkan tanggapan serius dari masyarakat disana dan memicu depat dan penolakan berkepanjangan termasuk dari parlemen negara tersebut. Namun demikian Walikota Tallin Jüri Mõis mengungkapkan hal yang sedikit berbeda daripada sekedar menolak mentah mentah pembangunan masjid. Beliau fokus pada lokasi masjid yang akan dibangun, harus dalam bentuk yang senada dengan bangunan yang sudah ada sehingga tidak merusak panorama kota serta tentang kemungkinan masa depan terkait dengan pariwisata dan investasi yang akan masuk ke kota itu. Sementara inisiator pembangunan masjid tersebut, Habib Gulijev menyebutkan bahwa kemungkinan wilayah Prita di Kota Tallin sebagai lokasi yang dipilih dengan pemandangan yang baik ke arah laut. Habib Gulijev adalah muslim keturunan Azerbaijan yang meraih sukses di Tallin dengan bisnis import jus pomegranad dari Azerbaijan ke Estonia.
Bagian dalam masjid Turath
Turath Islamic Center ahirnya berdiri di tahun 2009 dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi termasuk tidak diperkenankan mengumandangkan azan ke luar bangunan. persyaratan lainnya yang harus tetap dipenuhi adalah agar masjid yang dibangun bentuknya harus menyelaraskan dengan bangunan disekitarnya dan tidak menyolok. itu sebabnya bangunan masjid ini dibangun layaknya sebuah bangunan bertingkat biasa. tidak seperti bangunan masjid yang biasa kita kenal.
Kini muslim disana kini sudah memiliki tempat berkumpul resmi dan permanen untuk menyelenggarakan sholat berjamaah, pengajian dan aktivitas lainnya. Muslim dari berbagai bangsa termasuk dari Estonia sendiri, dari timur tengah, Rusia, Turki, Tatar dan lain lain tumpek plek disana secara akrab dan terbuka. Ildar Muhhamedšin, imam masjid ini selalu dengan ramah kepada siapapun yang datang ke masjid ini. Beliau bahkan masih menyimpan Al-Qur’an pemberian Kakeknya yang sudah wafat.
Dimasa pendudukan Uni Soviet di Estonia, ummat Islam disana berada dalam situasi yang teramat tidak menguntungkan. Untuk sekedar melaksanakan sholat pun mereka harus melaksanakannya secara sembunyi sembunyi karena penguasa komunis saat ini sangat melarang aktivitas peribadatan. Kondisi berubah drastic saat Estonia Merdeka, meski diskriminasi dan sentiment anti Islam juga merebak di negara itu.
Masjid Turath
Masjid Turath terbuka untuk semua muslim, Ruang sholat untuk Jemaah pria disediakan di lantai dua sedangkan Jemaah wanita ruang sholatnya berada di lantai tiga. Masing masing lantai sudah disediakan rak kayu untuk menyimpan alas kaki para jamaah. Jemaah wanita akan bergabung ke lantai dua di balik tirai pada saat sesi pelajaran Bahasa Arab dan kajian lainnya. Ruang sholat di masjid ini cukup leluasa, lengkap dengan mimbar dari kayu berukir tempat khatib menyampaikan khutbah. Seluruh lantainya ditutup dengan karpet merah sajadah. Di beberapa bagian di pasang beberapa hiasan kaligrafi.
Pemisahan ruang sholat antara jema’ah pria dan wanita ini memang hal yang mutlak dalam Islam, namun merupakan hal yang aneh bagi tradisi Eropa. Itu sebab nya hal ini menjadi salah satu hal wajib yang harus dijelaskan kepada non muslim yang berminat untuk berkunjung ke masjid, termasuk juga tentan kewajiban untuk menutup aurat.
Ada jejeran kursi di bagian shaf paling belakang. biasanya digunakan untuk jemaah yang tidak mampu untuk sholat berdiri. ataupun untuk jemaah pengajian yang tidak bisa atau tidak kuat untuk duduk dilantai.
Turath dalam Bahasa Arab berarti Heritage (warisan budaya), digunakannya nama Turath untuk masjid dan Islamic Center ini dikarenakan para pendiri masjid ini berharap para jemaahnya untuk tetap mengingat budaya (Islam) dan memperkenalkan budaya tersebut kepada siapapun yang tertarik kepada agama Islam, sebagai bagian dari usaha untuk membangkitkan kembali Islam di Estonia dari Masjid satu satu nya tersebut.
bila dibandingkan dengan Kota kota besar Eropa lainnya, perkembangan Islam di Estonia dapat dikatagorikan stagnan karena berbagai factor termasuk aturan ke-imigrasian yang mempersulit bahkan melarang masuknya imigran dari negara negara Islam ke negara tersebut. wajar bila kemudian para Pendiri masjid Di Tallin ini memberi nama Turath (Heritage) pada masjid pertama tersebut sebagai do’a untuk senantiasa mempertahankan Islamic Heritage di negara tersebut.
Sebagai pusat ke-Islaman, Masjid Turath ini menyelenggarakan pendidikan Bahasa Arab, Pembinaan pemuda / remaja muslim, sekolah minggu serta mencetak dan mendistribusikan koran koran islami ke seluruh kelompol kelompok pengajian yang tersebar di Estonia dan wilayah Baltik lainnya. Masjid Turath juga menyelenggarakan pernikahan dan pengurusan jenazah secara Islam.***
Masjid Ar-Rahma Kiev, Ukraina (foto dari islamyat.org)
Para pecinta sepakbola mengenal kota Kiev, Republik Ukraina sebagai markasnya club Sepakbola Dynamo Kiev dengan Olimpiysky National Sports Complex (NSC Olimpiysky)-nya yang segera akan menjadi pusat perhatian dunia di tanggal 1 Juli nanti. NSC Olimpiysky, Kiev, Ukraina, akan menggelar hajatan besar sebagai tuan rumah penutupan Piala Eropa 2012 (UEFA Euro 2012) tanggal 1 Juli 2012 nanti.
Ukraina, salah satu negara pecahan bekas Uni Soviet di tepian laut Hitam, secara resmi memperoleh kemerdekaanya pada tanggal 24 Agustus 1991 seiring dengan keruntuhan Uni Soviet. Sebuah referandum dilaksanakan pada tanggal 1 Desember 1990, dan kemerdekaan negara ini dari Uni Soviet di difinalisasi pada 26 Desember 1990. Republik Ukraina ber-ibukota di Kota Kiev.
Diperkirakan ada dua juta Muslim di Ukraina meski sumber lain menyebut angka hanya 500 ribu. Sebagian besar dari mereka merupakan muslim Tatar Kremia. di Ukraina saat ini tercatat ada 487 komunitas muslim, 368 diantaranya berada di semenanjung Kremia. Di Kota Kiev sendiri ada sekitar 50 ribu warga muslim termasuk dari mereka merupakan warga yang berasal dari luar negara.
Setelah penantian begitu lama muslim kota Kiev ahirnya memiliki sebuah masjid besar, sekaligus menjadi masjid pertama yang di bangun di ibukota negara Ukraina itu. Gagasan dan keinginan untuk membangun masjid di ibukota negara itu sudah mencuat sejak tahun 1897 namun dikarenakan berbagai kendala baru terealisasi di tahun 2000.
Majid pertama di kota Kiev dan terbesar serta terlengkap di Ukraina itu diberi nama Ar-Rahma atau Ar-Rahmah, atau dalam aksara setempat ditulis Мечеть Ар-Рахма, dibangun dari dana swadaya muslim Ukraina sejak tahun 1996 dan diresmikan penggunaannya untuk umum bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Ukraina ke 20 pada tanggal 3 Desember 2000. Ar-Rahma yang menjadi nama masjid ini diambil dari kosa kata bahasa Arab “Ar-Rahmah”, bila di Indonesia-kan bermakna “Kasih Sayang.
Kawasan Tatarka di bukit Shchekavitsya, lokasi tempat masjid ini berdiri merupakan kawasan komunitas muslim Tatar di kota Kiev. Di daerah ini komunitas muslim Tatar sudah eksis sejak lama, Pemakaman khusus muslim Kiev berada tak jauh dari komplek masjid ini, di dalam peta di atas ditulis dengan nama Mosulman’s-ke cemetry.
Sejarah Masjid Ar-Rahma, Kiev – Ukraina
Paska keruntuhan Uni Soviet, minoritas muslim di Ukraina berusaha menunjukkan jati diri mereka untuk dapat terwakili dengan baik di dalam tatanan baru maysarakat republik Ukraina merdeka yang baru terbentuk. Berbagai komunitas dan organisasi berbasis Islam pun mulai berdiri. Di tahun 1992 dibentuklah Badan Urusan Agama Islam Ukraina (DUMA) di ibukota negara, Kiev. Dan tahun 1994 diselenggarakan kongres DUMA pertama yang menghasilkan susunan pengurus DUMA.
Tamin Achmed Mohammed Mutach terpilih sebagai presiden DUMA pertama. Tamim Ahmed, adalah muslim Tatar kelahiran Lebanon tahun 1956. Mengenyam pendidikan teologi Islam di Fakultas Teologi Universitas Arab di Beirut hingga memperoleh gelar sarjana di Universitas tersebut. Beliau juga adalah seorang penulis beberapa buku tentang Islam di tahun 1994.
Seluruh muslim Ukraina dari beragam etnis, kelompok dan klan di ajak untuk bergabung bersama dalam organisasi tersebut. DUMA telah memiliki setidaknya 10 kantor pewakilan di berbagai wilayah Ukraina, kantor pusatnya berada di Kiev secara berkala menerbitkan Surat Kabar berbahasa Rusia dengan nama Daily Minaret serta mengelola sebuah Institut Agama Islam. DUMA yang kemudian memotori pembangunan Masjid Ar-Rahma di kota Kiev.
Begini bentuk utuk masjid Ar-Rahma di atas bukit Shchekavitsya di kota Kiev Ibukota Ukraina (foto dari islamyat.org)
Merujuk kepada koran "Kyiv idea" terbit di kota Kiev pada tanggal 30 Oktober 1913, rencananya pembangunan masjid akan diselenggarakan di jalan Gogol’s House no 29. Namun rencana besar pembangunan masjid tersebut batal akibat berkobarnya perang dunia pertama dan revolusi Oktober 1917.
Pelataran tengah masjid Ar-Rahma di antara koridor yang berbentuk setengah lingkaran dengan bangunan utama masjid (foto dari islamyat.org)
Upaya pembangunan masjid mengemuka lagi di tahun 1991. Momen akbar bagi muslim Ukraina untuk mendirikan masjid pertama di Ibukota negara ahirnya terwujud dengan upaya dari Badan Urusan Agama Islam Ukraina (DUMA) yang menghibahkan lahannya untuk pembangunan masjid. Izin pembangunan masjid dari otoritas kota Kiev keluar pada tanggal 5 Februari 1996. Sebelum itu umat Islam Ukraina telah memiliki beberapa bangunan, seperti apartemen, perpustakaan, dan kompleks olahraga.
Pembangunan Masjid Ar-Rahma ini cukup menarik, mengingat begitu banyak duta besar dan perwakilan negara sahabat yang turut serta dalam upacara peletakan batu pertama, proses pembangunan nya hingga peresmian masjid ini. Diantaranya yang cukup unik adalah Duta Besar Irak yang mengunjungi proyek pembangunan masjid ini, tak sekedar berkunjung tapi ikut memanjat ke atas tembok masjid yang sedang dibangun untuk turut serta memasang bata di lokasi tersebut.
Gerbang utama, Menara dan salah satu kubah bangunan masjid Ar-Rahma
Dalam sambutannya saat upacara peresmian Masjid Ar-Rahma, Juru Bicara Kepresidenan Ukraina, Anna Jerman mengatakan “Saya ucapkan selamat kepada Muslim Ukraina terutama di Kiev, ini adalah simbol perlindungan Ukraina terhadap hak konstitusi kebebasan beragama dan hak asasi manusia dan keberhasilan demokrasi di Ukraina”, Anna Jerman juga menyampaikan harapannya agar masjid ini selain tempat beribadah, juga sebagai tempat ketenangan dan kedamaian bagi warga Ukraina dan simbol persaudaraan di seluruh dunia.
“Saya ucapkan selamat kepada Muslim Ukraina terutama di Kiev, ini adalah simbol perlindungan Ukraina terhadap hak konstitusi kebebasan beragama dan hak asasi manusia dan keberhasilan demokrasi di Ukraina" (Anna Jerman)
Peresmian masjid Ar-Rahma (foto dari islamyat.org)
Rancang Bangun Masjid Ar-Rahma
Rancangan masjid Ar-Rahma ditangani oleh arsitek Alexander Komorowski dengan mengadopsi arsitektural berbagai budaya islam sekawasan tersebut lengkap dengan sebuah bangunan menara tunggal setinggi 27 meter dan kubah besar, dengan kapasitas 3000 jemah, lengkap dengan gedung madrasah. Rancangan masjid ini memang cukup unik dalam bentuk denahnya yang tak biasa.
Denah masjid Ar-rahma dirancang berbentuk melingkar, menghasilkan bangunan masjid yang cukup unik. Dari kejauhan masjid Ar-Rahma menghadirkan pemandangan tersendiri yang khas di atas bukit tempatnya berdiri. Sentuhan arsitektural bangunan masjid ini sangat detil sehingga menghasilkan karya seni arsitektural yang begitu apik.
Sejarah Islam di Ukraina memiliki akar yang teramat dalam. Masyarakat setempat pertama kali mendengar tentang Islam melalui kunjungan bisnis para saudagar dari tanah Arab dan negara negara timur di selatan wilayah Ukraina. Seiring dengan berjalannya waktu antara dua negara mulai menjalin hubungan dagang yang erat serta ikatan diplomatik. Menurut sejarah resmi, pemukiman muslim pertama di kota Kiev sudah eksis sejak abad ke 18. Di dua abad terahir komunitas muslim di tanah Ukraina terus membengkak, dan diperkirakan saat ini ada sekitar dua juta Muslim di Ukraina.
Hingga tahun 1917 perkembangan Islam di Ukraina cukup stabil, namun seiring dengan berkuasanya rezim Uni Soviet (1922-1991) di Ukraina, terjadi kesulitan yang luar biasa bagi penyelenggaraan peribadatan publik, meskipun begitu muslim Ukraina tetap menjalankan ibadah dan mempertahankan agama yang diwariskan secara turun temurun dari para pendahulu mereka, serta menjaga segala warisan ke-Islaman-nya.
Perubahan dramatis terjadi di awal tahun 1990-an dalam komunitas muslim Ukraina. Terkait dengan permulaan transformasi demokrasi di Uni Soviet, diikuti dengan perubahan fundamental dalam hal kaitannya dengan pengakuan negara terhadap hak hak publik. Ummat Islam dapat dengan terbuka membicarakan dan menjalankan ajaran Islam dengan bebas. Ketika Ukraina memperoleh kemerdekaannya kesempatan untuk membentuk lembaga komunitas pusat muslim pun terbuka lebar untuk dapat merancang sebuah koordinasi proses proses kebangkitan kembali kehidupan beragama Islam di negeri itu.
Tanggal 9 September 1992 Dewan Urusan Agama dibawah Kabinet kementerian kabinet Ukraina telah menerima pendaftaran Badan Urusan Agama Islam Ukraina (DUMA) yang menyatukan seluruh komunitas muslim di Ukraina. Pemimpin DUMA yang mengorganisir diantara komunitas muslim Ukraina dan luar negeri, dibawah pimpinan Tamin Achmed Mohammed Mutach.
DUMA berupaya menyebarkan ajaran Islam yang benar guna melawan ideologi ektrimis yang saat ini oleh sebagian orang disematkan kepada Islam. DUMA merupakan anggota tetap dari Dewan Keagamaan dan Tempat Ibadah Seluruh Ukraina. DUMA melibatkan diri dalam berbagai komfrensi, simposium termasuk berpartisipasi dalam pembentukan dialog lintas agama.
Foto Foto Masjid Arrahma, Kiev – Ukraina
Aerial View Masjid Ar-Rahma Kiev
Ketika senja perlahan jatuh di bukit Shchekavitsya meninggalkan siluet Masjid Ar-Rahma dari Kejauhan
Masjid Ar-Rahma Kiev diantara rindang nya pucuk pucuk pepohonan (foto dari Panoramio)
Masjid Ar-Rahma Kiev diantara rindang nya pucuk pucuk pepohonan (foto dari Panoramio)
Sisi Mihrab Masjid Ar-Rahma Kiev dari kejauhan (foto dari Panoramio)
Dari balik batu nisan pemakaman umum di (foto dari Panoramio)
Foto Detil Masjid Arrahma, Kiev – Ukraina
Jendela Jendela kecil di sekeliling kubah Masjid Ar-Rahma Kiev
Ukiran Floral dengan pahatan begitu halus di gerbang utama Masjid Ar-Rahma Kiev
Kubah Utama Masjid Ar-Rahma Kiev
Bulan Sabit di ujung kubah dengan warna emas menjadi ciri utama pembeda masjid dengan tempat tempat ibadah lain nya
Polandia atau resminya bernama Republic of Poland atau dilidah orang Indonesia menjadi Republik Polandia, kini sedang menyiapkan diri untuk perhelatan akbar Piala Eropa 2012 atau Euro 2012 akan dilaksanakan di Polandia bersama Ukraina tanggal 8 Juni hingga 1 Juli 2012 nanti. Upacara Pembukaan Euro 2012 akan dilakanakan di Warsawa, Polandia, sedangkan upacara penutupannya akan diselenggarakan di Kiev, Ukraina, tetangga sebelah baratnya Polandia.
Di Kota Warsawa, ibukota Polandia, terdapat sebuah Masjid bernama Masjid Warsawa, masjid ini merupakan masjid pertama yang berdiri di Warsawa dan hingga tulisan ini ditayangkan masih menjadi satu satunya masjid resmi di kota Warsawa. sementara di Kota Kiev, Ukraina yang akan menjadi penyelenggara penutupan Euro 2012 ada Masjid Ar-Rahma yang juga satu satunya di kota itu, namun lengkap dengan berbagai fasilitas penunjangnya dan mendapat perhatian penuh dari pemerintah Ukraina. Jadi bila anda salah satu dari pecinta bola yang akan menikmati pertandingan langsung di dua kota itu, sempatkan singgah ke masjid masjid itu ya.
Peta Polandia
Sekilas Tentang Polandia
Sejarah politik dunia mencatat Polandia sebagai rumah tempat lahirnya Fakta Warsawa. Menandai perubahan peta politik dunia menjadi tiga blok politik. Blok Timur di komandoi oleh Rusia dengan Uni Soviet-nya, Blok barat di komandani oleh Amerika dan sekutunya. Dan tentu saja Blok Negara Negara yang tidak masuk salah satunya lalu bergabung dalam Gerakan Non Blok, di motori oleh Indonesia.
Sejarah penerbangan telah mencatat Polandia sebagai Negara yang kehilangan presidennya yang sedang berkuasa akibat kecelakaan penerbangan. kecelakaan pesawat tragis yang merenggut nyawa hampir 100 tokoh terkemuka di negara itu, termasuk Presiden Polandia, Lech Kaczynski. Sedangkan Ummat Katholik sedunia mengingat Polandia sebagai tempat lahirnya Paus Paulus Johanes II.
Sejarah perang mencatat Polandia sebagai Negara paling remuk dan hancur ketika perang dunia kedua meletus. Polandia menjadi pusat perebutan dan pertempuran sengit antara pasukan Nazi Jerman dengan Uni Soviet pada bulan September 1939, berujung kepada kemenangan Uni Soviet yang kemudian merubah Negara itu menjadi Republik Komunis Polandia dan bergabung dengan blok timur. Diperkirakan enam juta rakyat Polandia tewas dalam perang brutal tersebut. Tak sampai disitu sebagian wilayah nya di caplok oleh Jerman sementara sebagiannya lagi di kuasai secara utuh oleh Uni Soviet.
Masjid Warsawa sejatinya hanyalah gedung biasa yang kemudian di renovasi menjadi sebuah masjid. Bangunan masih berbentuk aslinya hanya ditambah ornament beton di sisi depan masjid mengarah ke jalan raya sebagai petanda bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid (foto dari cafebabel.co.uk)
Orang Indonesia akan sangat mudah mengingat Polandia dari bendera kebangsaannya. Bendera kebangsaan Polandia merupakan kebalikan bendera kebangsaan Indonesia. Putih Merah. Polandia ber-ibukota di Warsawa, bahasa resminya adalah Polski, orang-nya disebut Polish, bangsanya biasa disebut Polska. Mendeklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 11 November 1918, lalu bergabung dengan Uni Soviet tahun 1945, lalu lepas dari Soviet dan menjadi Republik pada tanggal 13 September 1989 dan kemudian bergabung dengan Uni Eropa di tahun 2004. Dan benar benar menghapus kisah lalu dengan Uni Soviet saat Polandia bergabung dengan NATO pada tahun 1999.
Masjid Warsawa Satu Satunya di Ibukota Negara Polandia
Polandia, kini benar benar sudah berubah. Termasuk kebijakan publik terkait dengan kebebasan menjalan agama. Ummat Islam di Kota Warsawa kini telah memiliki sebuah masjid dan Islamic center meskipun ukurannya relative kecil dan sudah tidak mencukupi untuk menampung jemaah muslim Warsawa yang kian hari menunjukkan tendensi terus bertambah. Masjid Warsawa, merupakan satu satunya masjid di Ibukota Polandia itu. menjadi tumpuan syiar Islam di bekas Negara komunis itu.
Warszawa (biasa dibaca Warsawa oleh lidah orang Indonesia, sementara pengucapan yang benar menurut bahasa Poland berbunyi ‘Varsyav’) adalah ibu kota Polandia yang tadinya hancur lebur di saat Perang Dunia II (PD II). Pembangunan kembali pusat kota tua yang jadi kebanggaan masyarakatnya telah sukses mengeruk keuntungan di bidang pariwisata.
Saat muslim yang tinggal di Polandia terus bertambah—meskipun ribuan pelajar datang dan pergi kembali ke tanah air masing-masing, mulailah ada geliat aktivitas keislaman yang akhirnya terbentuklah ‘Liga-Liga Muslim’ di setiap kota sebagai wadah komunitasnya. Masjid Warszawa (yang tampak dalam gambar) terletak di dekat pusat kota Warszawa, Wilanów Wiertnicza 103, sekarang menjadi salah satu dari beberapa rumah ibadah ‘muzułmanom’ (muslim) yang berdiri bebas & resmi dan merupakan masjid aktif di Polandia, dengan Islamic Centre-nya.
Polandia memiliki sejarah panjang sebagai Negara dengan etnis tunggal, 97% penduduk Polandia berasal dari etnis yang sama dan hampir semua warga negara Eropa itu non-Muslim. Dari 38,6 juta warga Polandia, sekitar 96 persen di antaranya beragama Katolik Roma. Islam termasuk agama minoritas bersama Kristen Protestan, Katolik Ortodoks, dan Yahudi.
Maka dari itu dapat dimengerti bila kemudian muslim di sana sangat sedikit hanya sekitar 1 persen dari 30 juta-an penduduk Polandia. Kebanyakan muslim disana berasal dari etnis Tatar yang memang sudah menjadi bagian dari Polandia selama ber-abad abad. Namun demikian sebagaimana disampaikan oleh Nezar Sharif, pimpinan Masjid Warsawa, komunitas muslim Polandia terus bertambah dari laju imigrasi dari Negara Negara Islam kesana.
Masjid di Warsawa ini tadinya adalah sebuah vila lalu diadaptasi, resmi menjadi masjid pada tahun 1993. Bangunan di jalan Wiertnicza 103, Warszawa, Polska ini perlahan-lahan merenovasi bangunannya, terbentuk kantor kecil untuk urusan agama Islam dan lembaga kebudayaan islam, meskipun disini tidak memiliki menara. Ruangan masjid tersebut selalu dipenuhi umat Islam terutama di hari Jum’at, hari-hari Ramadhan, Sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Masjid kecil ini menjadi satu satunya bangunan yang benar benar utuh berfungsi sebagai Masjid di Kota Warsawa.
Ketika Masjid Warsawa pertama kali dibuka, jemaah masjid ini puluhan jemaah saja. Namun kini setiap sholat jum’at ratusan jemaah memadati masjid Warsawa dan sudah tidak tertampung oleh masjid kecil itu. Menurut informasi beberapa forum muslim di Warsawa, ada sekitar tiga masjid kecil lainnya yang tersebar berjauhan di Warsawa. Semua ruang sholat sangat sederhana. Juga ada lumayan banyak kedai daging halal di sana.
Interior Masjid Warsawa tak ubahnya dengan interior masjid masjid lainnya meskipun merupakan sebuah bangunan biasa yang kemudian dikonversi menjadi bangunan masjid (foto dari cafebabel.co.uk)
Sebagai satu-satunya masjid resmi di Warsawa, Masjid Warsawa juga menjadi tempat dilakukan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan Islam. juga menjadi semacam pusat informasi tentang Islam. Di sana pula Asosiasi Muslim Polandia yang diketuai oleh Poplawski berkantor, di salah satu ruangan di lantai atas masjid.
Setiap hari Sabtu diselenggarakan kegiatan pendidikan Al Quran bagi anak-anak perempuan, Pengurus masjid dan asosiasi juga sering mendapat kunjungan dari para siswa sekolah Katolik yang meminta diberi penjelasan tentang Islam. Warga Muslim di Warsawa dan di Polandia umumnya tak pernah memiliki masalah serius dengan umat mayoritas Katolik maupun dengan kelompok agama lain. Mereka bebas beribadah dan menjalankan berbagai kewajiban lain sebagai umat Islam. Tak ada larangan, tekanan, dan diskriminasi.
Sementara di sejumlah negara Eropa kini tengah terjadi proses penipisan toleransi terhadap kaum Muslim sebagai dampak peristiwa serangan teror 11 September 2001 di New York dan Washington (yang menewaskan hampir 3.000 orang), di Polandia kehadiran kaum Muslim tetap disambut baik. Mereka diberi hak-hak yang sama dengan warga negara dari golongan lain.
Selain kota Warsawa, umat Islam yang tersebar di Polandia dapat menikmati ukhuwah islamiyah yang kental di kota Białystok, Gdańsk, Lublin, Poznań, dan Wrocław, semua kota tersebut sudah memiliki pusat keislaman resmi, lengkap dengan kedai makanan halalnya. Di Krakow, insya Allah segera menyusul, sudah ada sinyalpositif dari pihak dewan kota untuk menyediakan sarana ibadah bagi umat Islam yang ada di Krakow setelah pengajuan permohonan liga muslim Krakow selalu ditolak berkali-kali, terutama yang paling terasa penting adalah ruangan Sholat Jum’at yang sudah berpuluh-puluh tahun disewa per-minggu, namun ruangan itu hanya sepetak kecil, sekitar 3 x 5 meter persegi dengan satu pemanas.
Di Polandia, Ramadhan masyarakat muslim Polandia berbondong-bondong menuju mesjid, untuk shalat taraweh ataupun tadarus dan berbuka puasa bersama. Makanan yang menjadi ciri khas berbuka adalah makanan timur tengah. Maklum, hampir sebagian masyarakat muslim disini adalah keturunan timur tengah. Muslim di Polandia menjalani puasa biasanya selama hampir 17 jam. Hal ini dikarenakan waktu berbuka puasa di Polandia pukul delapan malam dan imsak pada pukul tiga dinihari.
Hari Raya Idul Fitri adalah hari yang paling dinanti muslim Polandia. Setelah diumumkan di mesjid Warsawa, biasanya Shalat Ied dimulai jam 09,00 pagi, dan dipimpin oleh Imam Emir Poplawski. Masyarakat Muslim di Polandia keturunan Tartar menyebut Idul Fitri sebagai Hari Ramadhan Bayram (Dni Bayram Ramadhan). Bayram diambil dari bahasa Turki yang berarti perayaan. Di hari paling mulia ini, muslim Polandia yang berusia tua, dan muda semua berbaur dan tampil dengan busana terbaik mereka.
Suasana Idul Fitri juga bergema di kota-kota lainnya seperti Wroclaw, Krakow, Lublin, Poznan dan Gdansk pada pusat-pusat kebudayaan Islam sekaligus yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Di samping berfungsi sebagai pusat ibadah, tempat-tempat ini juga digunakan untuk dialog dan pertemuan dengan masyarakat yang ingin tahu tentang Islam serta dengan penganut agama lainnya untuk menguatkan citra toleransi beragama yang tinggi di Polandia.
Pada perayaan Idul Fitri, Shalat Ied, dilakukan di pagi hari dengan suhu dingin 10 derajat celsius. Sebagaimana di Indonesia, dilaksanakan dua rakaat, dan dilanjutkan dengan khotbah dalam bahasa Arab dan Polandia. Imam fasih berbahasa Polandia karena memang lahir dan besar di Polandia. Imam mengumumkan, sebelum shalat dimulai, umat dipersilahkan untuk membayar zakat fitrah dan bersedekah. Jam 8.30 pagi mesjid telah penuh sesak, sekitar 400 jamaah pria dan wanita dengan ruang terpisah telah mengambil tempat. Ada pula yang mengabadikan suasana bersukacita itu dengan kamera telepon genggam.
Masjid Warsawa terdiri dari dua lantai: wanita di lantai atas sedangkan pria di lantai bawah. Sebagian ruangan dijadikan kantor, dan ruang depan dijadikan toko koperasi yang menjual berbagai keperluan umat Islam serta makanan kecil halal. Pada hari-hari kerja, ruangan digunakan untuk pendidikan dan pertemuan sosial termasuk melayani tamu-tamu yang menginginkan informasi mengenai Islam.
Rencana Pembangunan Masjid Baru Warsawa
Pembangunan gedung Islamic Center yang baru di Warsawa disambut baik oleh muslim kota Warsawa. Pembangunan masjid kedua tersebut sudah dimulai tahun 2009. Merujuk kepada cetak biru pembangunannya masjid baru tersebut berukuran tiga kali lebih besar dari masjid yang kini berdiri. Namun tidak seperti masjid pertama yang dibangun dengan dana murni dari jemaah muslim setempat, masjid baru ini akan di danai oleh sponsor dari luar Polandia.
Fakta bahwa pembangunan tersebut didanai oleh Saudi Arabia menuai issue politik di Polandia. Serangkaian akti protes menolak pembangunan masjid merebak di kota Warsawa dengan berbagai alasan termasuk ketakutan akan Islamisasi di begara tersebut,issue terorisme dan sebagainya,bahkan masuk ke ranah rasial. Seorang sosiolog dari Polish Academy of Science bernama Zbigniew Mikolejko, bahkan menagatakan bahwa pembangunan masjid baru tersebut sama saja seperti Bom Waktu yang bisa meledak kapan saja, dan akan memicu konflik kapan saja di masa depan. Meskipun semua aksi protes tersebut sedikit di dinginkan oleh komisi Hak Asasi Uni Eropa.
Masjid kedua bagi Muslim Warsawa itu mestinya sudah selesai dibangun pada 1991, hasil rancangan seorang arsitek Polandia, Sayang, proyek pembangunan masjid itu batal, hingga bulan Desember 2006 lalu, negara Arab yang berjanji akan jadi sponsor tak kunjung mengucurkan dana yang diperlukan.
Islam pertama kali dibawa ke Polandia antara abad ke-14 dan ke-17 oleh berbagai puak suku Tatar yang bermigrasi ke wilayah persemakmuran Polandia-Lituania. Mereka datang dari wilayah Gerombolan Emas (Golden Horde), kerajaan yang dibangun pada abad ke-13 oleh Batu Khan, cucu Jengis Khan, penguasa Tatar yang tersohor itu. Orang China sering menyebut suku Tatar yang menjadi tentara Batu Khan sebagai orang-orang Mongolia. Soalnya, waktu itu, meski sebagian besar prajurit Tatar berasal dari Turki, para perwiranya kebanyakan orang Mongolia.
Kelompok-kelompok Tatar datang ke Polandia-Lituania atas undangan para bangsawan Lituania, yang terkesan pada kehebatan mereka sebagai prajurit tempur. Itu sebabnya, banyak orang Tatar yang kemudian dianugerahi status kebangsawanan, tradisi yang baru dihapus saat tamatnya riwayat negara persemakmuran Polandia-Lituania, abad ke-18.
Sebagai imbalan atas kesediaan bergabung dalam bala tentara Polandia-Lituania, diaspora Tatar diberi kebebasan mempertahankan kebudayaan, adat kebiasaan, dan, terutama, agama Islam aliran Sunni yang mereka peluk. Berdasarkan Konstitusi Mei 1791, kaum minoritas Tatar juga berhak menempatkan wakil mereka di sejm alias parlemen.
Di zaman Kerajaan Polandia-Lituania, para lelaki Tatar bahkan diperbolehkan menikahi perempuan Polandia beragama Katolik Roma atau Ortodoks, tanpa harus beralih keyakinan agama. Meski berasal dari golongan minoritas, kehadiran warga keturunan Tatar cukup mencolok dalam angkatan bersenjata Kerajaan Polandia-Lituania. Dalam masyarakat Polandia masa kini keberadaan mereka juga dikenal luas karena adanya para sastrawan dan akademisi ternama Polandia yang berdarah Tatar.
Sekarang ini diperkirakan ada 3.000 warga keturunan Tatar di Polandia. Salah satunya adalah Emir Poplawski (Imam Masjid Warsawa) yang masih keturunan orang-orang Tatar yang membawa Islam untuk pertama kali ke Polandia. Sebagian keturunan Tatar tinggal di Desa Bohoniki dan Kruszyniani di Polandia timur laut. Sisanya tinggal tersebar di berbagai kota. Pada awal 1990-an dikabarkan juga ada komunitas kecil imigran asal Polandia berdarah Tatar di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, tempat mereka mendirikan sebuah masjid yang masih berfungsi hingga hari ini.
Sejak 1970-an, masyarakat Muslim Polandia tumbuh dengan adanya kaum imigran baru. Mereka adalah para mahasiswa dari sejumlah negara berbahasa Arab di Timur Tengah dan Afrika yang berorientasi politik sosialis. Sebagian kemudian memutuskan menetap di Polandia. Di samping warga keturunan Tatar, mereka inilah yang juga mendirikan mushala atau masjid di sejumlah kota, seperti di Warsawa, Bialystok, Gdańsk, Wrocław, Lublin, dan Poznań.
Seiring dengan runtuhnya komunisme pada 1989, kelompok-kelompok imigran Muslim lain juga mulai berdatangan ke Polandia. Mereka terutama berasal dari Turki dan bekas Yugoslavia. Kelompok-kelompok yang lebih kecil ada pula yang berasal dari Pakistan, Afganistan, dan Chechnya. Populasi Muslim di Polandia saat ini tak diketahui dengan pasti karena agama tak ditanyakan dalam pelaksanaan sensus nasional terakhir, tahun 2002. Namun, diperkirakan, di seluruh Polandia terdapat 30.000 pemeluk Islam, dengan 3.000 sampai 5.000 di antaranya adalah keturunan Tatar. (3 Juni 2012).
Empat Masjid di Empat Kota penyelenggara Euro 2012 Polandia
Pesta sepakbola Eropa empat tahunan Euro 2012 akan segera bergulir di dua Negara, Polandia dan Ukraina. Dua Negara yang dulunya pernah sama sama dalam pengaruh Uni Soviet, Ukraina sendiri bahkan pernah menjadi bagian dari Uni Soviet sedangkan Polandia dengan Ibukotanya Warsawa bahkan pernah di caplok sebagian wilayahnya oleh Soviet,sementara sebagaian lainnya dicaplok oleh Nazi Jerman.
Paska keruntuhan Uni Soviet di awal 1990-am, dua Negara ini mengalami perubahan luar biasa. Tak tanggung tanggung Polandia bahkan kini bergabung dengan Nato yang di masa lalu justru merupakan blok yang berseberangan dengan Polandia. Kini Polandia juga bergabung dengan Uni Eropa.
Lokasi empat kota penyelenggara EURO 2012 Polandia dengan masjid-nya
Ada empat kota di Polandia yang akan menjadi tuan rumah penyelenggara Euro 2012 yakni Warsawa bertempat di National Stadium, Warsaw, Gdańsk dengan stadion PGE Arena Gdańsk, Wrocław dengan Stadion Miejski dan kota Poznań dengan Stadion Miejski (Poznań). Tahukah anda di dua Negara penyelenggara EURO 2012 ini ada komunitas muslim yang sudah eksis disana sejak berabad lalu meski jumlahnya merupakan minoritas di dua Negara tersebut.
Ada kaum musliminnya sudah barang tentu ada pula masjidnya. Di Polandia dan Ukraina sudah berdiri beberapa masjid megah meski tentu saja tak sebanyak dan tak sebesar masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Berikut masjid masjid di yang ada di kota kota penyelenggara EURO 2012 Polandia. Masjid masjid Ukraina, Insya Alloh akan menyusul di posting berikutnya.
Warsawa atau Warszawa, ibukota Negara Polandia ini berpenduduk mayoritas Katholik, disusul oleh Yahudi dan agama agama minoritas termasuk agama Islam. Populasi Muslim di Polandia saat ini tak diketahui dengan pasti karena agama tak ditanyakan dalam pelaksanaan sensus nasional terakhir, tahun 2002. Namun, diperkirakan, di seluruh Polandia terdapat 30.000 pemeluk Islam, dengan 3.000 sampai 5.000 di antaranya adalah keturunan Tatar.
Di kota Warsawa hanya ada satu masjid bagi muslim kota itu yakni Masjid Warsawa sebuah masjid yang merupakan sebuah bangunan biasa yang dibeli oleh muslimin kota Warsawa lalu direnovasi dan di alihfungsi menjadi sebuah masjid. Untuk membedakannya dengan bangunan disekitar, muslim disana membangun ornamen beton di depan masjid ini dengan bentuk lengkungan dan kubah kubah kecil di ujung atasnya. Masjid Warsawa resmi dibuka pada tahun 1993. Bangunan di jalan Wiertnicza 103 ini, selain berfungsi sebagai masjid disini juga terdapat kantor kecil untuk urusan agama Islam dan lembaga kebudayaan islam.
Ruangan masjid tersebut selalu dipenuhi umat Islam terutama di hari Jum’at, hari-hari Ramadhan, Sholat Iedul Fitri dan Iedul Adha. Ketika Masjid Warsawa pertama kali dibuka, jemaah masjid ini puluhan jemaah saja. Namun kini setiap sholat jum’at ratusan jemaah memadati Masjid Warsawa dan sudah tidak tertampung oleh masjid kecil itu. Menurut informasi beberapa forum muslim di Warsawa, masih aada sekitar tiga tempat ibadah ummat Islam yang tersebar berjauhan di Warsawa. Namun tidak berbentuk seperti sebuah bangunan masjid namun hanya sebuah ruang sholat sangat sederhana.
2. Gda?Sk Mosque / Masjid Kota Gda?Sk
Masjid di kota Gdansk, Benar benar berwujud sebuah bangunan masjid megah tidak seperti tiga masjid lain-nya
Masjid di Kota Gdansk ini dibangun sang muslim Tatar di Polandia dalam tahun 1990. Artisitektural masjid ini sahih benar menampilkan sebuah bangunan masjid utuh sebagaimana masjid universal yg kita kenal lengkap dengan kubah & menaranya. Masjid Gdansk mempunyai multifungsi, sekaligus sebagai Pusat Kebudayaan & Informasi Islam.Masjid Gdansk sebagai loka yang khusus karena memiliki menara. Uniknya, Masjid di kota Gdansk ini berdekatan menggunakan sebuah Gereja Katholik Roma, sebagai akibatnya terkadang bunyi azan berdasarkan menara masjid bersahutan dengan dentang lonceng gereja.
Di kota Gdanks diperkirakan terdapat kurang lebih 5000 muslim Tatar yg bertahan berdasarkan tekanan luar biasa selama rezim komunis berkuasa di Polandia. Mereka tetap mempertahankan budaya dan identitas ke-Islaman mereka hingga kini . Masjid pada kota Gdansk ini mulai dibangun menggunakan peletakan batu pertama dalam September 1984, & diresmikan tahun 1990. Selain sebagai loka ibadah Masjid Gdansk pula dilengkapi menggunakan fasilitas perpustakaan & menyelenggarakan training bahasa Arab. Masjid bergaya Turki ini dirancang oleh Arsitek Polandia, Marian Wszelaki.
3. Islamic Center Wroc?Aw
Islamic Center Kota Wrocklaw bertempat di sebuah bangunan Villa
Islamic Center Wroclaw atau biasa disebut juga sebagai Muslim Cultural and Educational Center, di kota Wroclaw ini tidaklah berwujud menjadi sebuah bangunan masjid. Islamic Center ini mengambil loka disebuah bangunan Villa tua di tempat St. Anthony Street, Kasprowicz 24, Wroklaw. Polandia. Bangunan tersebut dibeli oleh Asosiasi Kebudayaan dan Pendidikan Muslim kota Wrockla dibawah penanganan para tokoh muslim setempat.
Islamic Center ini pula sebagai rumah bagi Liga Muslim pada Polandia cabang kota Wrocklaw yg diketuai oleh Dr. Abdul Salam Al-Medhagi & Asosiasi Mahasiswa Muslim Polandia cabang Wrocklaw yang diketuai sang Osama Samara. Lantai paling bawah bangunannya dipakai bagi dua ruang kelas dan dapur. Sementara lantai dasarnya difungsikan menjadi Ruang Sholat & kamar mandi, toilet dan area berwudhu. Sedangkan lantai dua masjid digunakan sebagai kantor bagi Direktur Islamic Center Wrocklaw, Dr Imam Ali Abi Issa. Selain itu dilantai ini jua menjadi kantor Editor Majalah Islam ?As-Salam?, 3 ruang kelas & perpustakaan.
Selain menjadi pusat peribadatan komunal muslim Wrocklaw, termasuk penyelenggaraan sholat fardhu 5 saat berjama?Ah, sholat Jum?At & 2 hari raya, Islamic Center ini jua mengelola Remaja Masjid (Youth Club) menggunakan majemuk aktivitasnya, sekolah dasar Islam, eksebisi dan pameran Islam yang biasa diselenggarakan menggunakan tajuk ?Mosque Open Day?, dan menerbitkan Majalah Islam As-Salam.
4. Muslim Cultural Center, Poznan
Pusat Kebudayaan Islam Kota Poznan bertempat dibangunan layaknya Ruko.
Sama misalnya pada kota Wrockla, di kota Poznan ini, satu satunya masjid yg ada tidaklah berwujud sebagai sebuah bangunan masjid umumnya. Masjid Kota Poznan inipun bahkan tidak menyebut dirinya menjadi masjid tapi sebagai Pusat Kebudayaan Islam Posznan atau Muslim Cultural Center Poznan (MCCP) yang pada bahasa setempat diklaim sebagai Muzu?Ma?Skie Centrum Kulturalno O?Wiatowe (MCKO).
Meski berukuran kecil, Muslim Cultural Center Poznan dilengkapi dengan fasilitas ruang sholat beserta pendukungnya yang sudah dipisahkan untuk jemaah pria dan wanita. MCKO ini begitu padat dengan beragam aktivitas syiar Islam. Setiap pecan MCKO mengadakan ta’lim yang bertajuk “Discover Islam", yang menjadi rangkaian kuliah umum tentang Islam serta kebudayaan dan tradisi Muslim. Dan satu penggalan status update-nya di akun face book mereka tanggal 4 Juni 2012 berbunyi “….we do not have camels :)”. Sebuah gurauan dan sindiran yang cukup menarik.
Jadi, jika memang telah packing barang, booking tiket penerbangan & sebagainya, jangan lupa ya, di ingat ingat alamat masjid di atas. Pesan orang tua dan para guru ?Nonton bola sih nonton bola, tapi, dimana loka pun bila dah datang waktu-nya, kudu sholat dulu. Dan sholat yang primer bagi muslim merupakan pada masjid. Dan jika sedang pada empat kota penyelenggara Euro 2012 di Polandia, terdapat baiknya singgah sebentar ke masjid masjid tadi. Semoga berguna. Wassalamualaikum.
Empat Masjid pada Empat kota penyelenggara Euro 2012 Ukraina
Euro 2012 segera akan segera bergulir tanggal 8 Juni hingga 1 Juli 2012 nanti di dua negara yang menjadi tuan rumah bersama Polandia dan Ukraina. Bagi anda, muslim, yang akan meyaksikan langsung pertandingan pertandingan tersebut berikut masjid masjid di kota kota penyelenggara perhelatan akbar sepakbola Eropa empat tahunan tersebut di empat kota besar Ukraina. Sedangkan masjid masjid di kota penyelenggara Euro 2012 di Polandia, dapat dibaca di artikel “Masjid Euro 2012 Polandia” pada posting sebelumnya.
Para penggemar sepakbola pastinya sudah faham betul empat kota Ukraina yang akan menjadi penyelenggara Euro 2012. Kota kota tersebut adalah : KotaKiev, ibukota Ukraina dengan Stadion Olimpiysky National Sports Complex atau disingkat NSC Olimpiysky (60 ribu tempat duduk), kota Donetsk dengan stadion Donbass Arena (50 ribu tempat duduk), Kota Kharkiv dengan Metalist Stadium-nya yang berkapasitas 35 ribu tempat duduk dan kota Lviv dengan stadion Arena Lviv berkapasitas 30 ribu tempat duduk.
Lokasi Empat Stadion dan Empat Masjid di Empat Kota penyelenggara Euro 2012 Ukraina
Ukraina memiliki jumlah muslim yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan tetangganya, Polandia yang sama sama menjadi tuan rumah Euro 2012. Bila kita merujuk kepada catatan wikipedia saja, di Ukraina terdapat selusin masjid megah berukuran besar bagi sekitar dua juta Muslim di negara itu. dari dua belas masjid itu tiga diantaranya berada di tiga kota penyelenggara Euro 2012, yakni Masjid Ar-Rahma di Kota Kiev, Ahat Jami Mosque Donetsk di kota Donetsk dan Kharkov Cathedral Mosque di kota Kharkiv, sedangkan kota kota Lviv belum memiliki bangunan masjid. Jadi, Nonton Euro 2012 secara langsung oke saja tapi jangan lupa sholat ya. Berikut ini ulasan masjid masjid tersebut.
1. Masjid Ar-Rahma Kota KIEV
Masjid Ar-Rahma Kota Kiev, Ukraina
Kiev ibukota Ukraina. Kota ini terpilih menjadi salah satu penyelenggara Euro 2012, telah menyiapkan stadion mewah bernamaNSC Olimpiysky,Kiev yang menjadi sarangnya dari klub bola ternama kota itu, Dynamo Kiev. Kota kiev memiliki satu satunya masjid resmi, sisanya adalah masjid tak resmi di pusat pusat perniagaan kota itu. Setelah sekian lama muslim kota ini mengimpi impikan memiliki sebuah masjid, ahirnya impian itu terwujud di tahun 2000 lalu. Masjid Ar-Rahma Kiev dibangun dari dana swadaya muslim Kiev sejak tahun 1996 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 3 Desember 2000, bertepatan dengan hari peringatan kemerdekaan Ukraina ke 20.
Masjid Ar-Rahma dibangun di Kawasan Tatarka di bukit Shchekavitsya, lokasi merupakan kawasan komunitas muslim Tatar di kotaKiev. Di daerah ini komunitas muslim Tatar sudah eksis sejak lama, Pemakaman khusus muslim Kiev berada tak jauh dari komplek masjid ini, di dalam peta di atas komplek pemakaman muslim tersebut ditulis dengan nama mosulman’s-ke cemetry.
2. Ahat Jami Mosque, Donetsk
Masjid Jami Ahat di Kota Donetsk, Ukraina
Masjid Jami Ahat di kota Donetsk, Ukraina dibangun sebagai penghormatan kepada Akhat Bragin, yang mendanai pembangunannya. Sedangkan salah satu menaranya diberi nama Rinat Akhmetov, sebagai penghormatan kepada beliau. Sejarah masjid ini bermula di tahun 1993 ketika muslim kota Donetsk membentuk sebuah yayasan bernama Star of the Prophet (bintang Nabi) dan setahun kemudian yayasan tersebut meretas jalan bagi pendirian masjid pertama di kawasan itu dengan nama Masjid Ibnu Fadlan. Rencananya masjid tersebut akan dibangun meniru salah satu masjid di Istambul, Turki.
Akhat Bragin selaku penyandang dana utama pembangunan masjid ini, tewas secara tragis pada 15 Oktober 1995 dan nama beliau kemudian di abadikan menjadi nama masjid ini sebagai bentuk penghormatan bagi-nya. Awalnya masjid ini hanya akan dilengkapi dengan satu menara namun dengan pendanaan dari Rinat Akhmetov kemudian dibangun dua menara. Itu sebabnya salah satu menara tersebut diberi nama menara Rinat Akhmetov.
Masjid ini selain sebagai tempat ibadah utama ummat islam di kota Donetsk, di sini juga menjadi kampus bagi Universitas Islam Ukraina yang menjadi institusi pendidikan tinggi Islam pertama di Ukraina. Masjid Ahat diresmikan pada tanggal 3 September 1999 bersamaan dengan peresmian Universitas Islam Ukraina yang bermarkas di salah satu lantai masjid ini.
3. Kharkiv Cathedral Mosque
Masjid Katedral kota Kharkiv, Ukraina
Di kota Kharkiv berdiri megah Masjid Katedral Kharkiv, juga biasa disebut sebagai Masjid Khavidrali, (dalam bahasa Ukraina: Харківська соборна мечеть). Masjid Katedral Kharkiv aslinya sudah berdiri sejak tahun 1905 namun kemudian dihancurkan tahun 1936 semasa kekuasaan Uni Soviet. Barulah pada tahun 2006 bangunan masjid tersebut dibangun kembali di lokasi yang sama.
Masjid Katedral Kharkiv dibangun tahun 1905 ditepian sungai Lopan. Namun di masa kekuasaan Uni Soviet di Ukraina, tahun 1936 pemerintahan komunis merobohkan masjid tersebut dengan alasan bahwa bangunan masjid Katedral Kharkiv menghalangi aliran sungai Lopan. Paska kemerdekaan Ukraina setelah runtuhnya Uni Soviet, maka masjid inipun dibangun kembali di lokasi yang sama oleh komunitas muslim setempat di tahun 1999. Kini Umat Islam Kharkiv dapat kembali menjalankan peribadatan dengan bebas tanpa tekanan dan intimidasi. Mayoritas jemaah masjid ini terdiri dari jemaah muslim Tatar, Tatar Krimea dan keturunan Turki.
4. Lviv, Islamic Center - Mosque
Masjid di asrama mahasiswa Liviv National Medical University, kota Lviv, Ukraina
Kota Lviv menjadi satu satunya kota penyelenggara Euro 2012 di Ukraina yang belum memiliki satupun bangunan masjid. Sampai kini sejumlah kecil muslim di Kota Lviv menjalankan aktivitas peribadatan dan aktivitas ke-Islaman lainnya di sebuah ruang aula di lantai atas asrama mahasiswa di kampus Liviv National Medical University. Mahasiswa dari berbagai negara Islam di Timur Tengah hingga kawasan Afrika yang menuntut ilmu di kampus ini yang kemudian berinisiatif mendirikan masjid di asrama mereka.
Masjid di asrama kampus tersebut diberi nama Masjid Al-Nebras. Masjid ini menjadi satu satunya institusi Islam di kota Kota Lviv. Al-Nebras juga menjadi lembaga yang mengelola masjid dan dakwah Islam di Kota Lviv dibawah pimpinan Dr. Waleed Masoud. Lembaga ini mendorong muslim Lviv untuk lebih dekat dengan Islam dengan pemahaman yang baik. Al-Nebras juga memberikan bimbingan bagi Mualaf, pendidikan Al-Qur’an, menyelenggarakan sholat berjamaah lima waktu termasuk sholat Jum’at dan ritual peribatan selama bulan suci Ramadhan dan dua hari raya. Khutbah Jum’at di masjid ini disampaikan dalam dua bahasa, bahasa Arab dan Bahasa Rusia.