Islami Pedia: Masjid di Sri Lanka
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Sri Lanka. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sri Lanka. Show all posts

Friday, October 2, 2020

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Masjid Jum?Ah Wekande, Slave Island, Kolombo, Sri Lanka

(Foto dari Wekandemasjid)

Wekande Jummah Masjid atau Masjid Jum’ah Wekande adalah salah satu masjid tertua dan terbesar di Kolombo dan Sri Lanka. Masjid ini berada di Wekande Jumma Masjid Road, Slave Island, kota Kolombo. Disebut Slave Island, karena memang daerah ini dulunya adalah tempat bermukimnya kaum budak dari Afrika yang dibawa oleh penjajah Portugis dan Belanda ke Sri Lanka. Slave Island, juga bukanlah sebuah pulau dalam arti sebenarnya. Disebut Island karena sebagian besar daerah ini menjorok ke tengah danau Beira di sebelah selatan Benteng Kolombo. Sri Lanka.

Tak banyak orang tahu, bahwa di Sri Lanka yang 75% penduduknya beragama Budha tersebut terdapat komunitas muslim Melayu keturunan Indonesia sejak masa penjajahan Belanda. Mereka adalah keturunan dari penentang penjajahan Belanda di Indonesia yang kemudian ditangkap dan dibuang oleh Belanda ke Sri Lanka pada saat Sri Lanka juga berada di bawah jajahan Belanda. Masjid Jum’ah Wekande yang akan kita ulas berikut ini merupakan Wakaf dari Pandan Bali, sorang bangsawan kaya asal Indonesia yang dibuang Belanda ke Sri Lanka di abad ke 18.

Lokasi & Alamat Masjid Jum?Ah Wekande

# 21, Wekande Jummah Masjid Mawatha, Colombo 02, Sri Lanka

Tel. 011 2320355

Sejarah Masjid Jum?Ah Wekande

Sejarah Masjid Jum?Ah Wekande atau dalam bahasa Inggris disebut Wekande Jummah Masjid berawal di abad ke 18 masehi ketika Sri Lanka (saat itu masih bernama Ceylon) berada di bawah penjajahan Belanda. Belanda berkuasa di Sri Lanka selama 228 tahun dari tahun 1568 setelah mengalahkan Portugis hingga tahun 1796. Di tahun 1796 penjajahan Belanda di Sri Lanka berahir seiring kekalahan Belanda melawan Inggris.

Selama menjajah Sri Lanka, Belanda menjadikan Negara Pulau ini sebagai salah satu tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia yang terdiri dari tokoh tokoh Istana, raja, pangeran, panglima, alim ulama hingga tokoh masyarakat di tanah air. Mereka di tangkap bersama keluarganya lalu dibuang ke Sri Lanka. Orang buangan dari Indonesia tersebut kemudian menjadi komunitas muslim melayu di Sri Lanka dan menjadi bagian dari muslim awal yang masuk ke Sri Lanka hingga kini.

Wakaf Dari Pandan Bali

Pandan Bali adalah seorang muslim dari kalangan bangsawan kaya dari pulau Jawa, Indonesia (kala itu masih bernama Hindia Belanda / Hindia Timur) yang dibuang Belanda ke Sri Lanka, Pandaan Bali tiba di Sri Lanka bersama dengan kontingen tentara Resimen Melayu bentukan Belanda yang akan ditempatkan di Sri Lanka. Takdir kemudian mempertemukan Pandan Bali dengan Sabu Latif, seorang bangsawan Indonesia yang juga dibuang Belanda ke Sri Lanka. Sabu Latif tiba ke Sri Lanka di tahun 1772 bersama ayahandanya Raden Framana Latiff dari Kesunanan Casar, Kalimantan Barat – Indonesia. Sabu Latif menikah dengan putri dari Arufus Camaldeen, Kapten dari Tentara Resimen Melayu.

(Foto dariWekandemasjid)

Pandan Bali menikah di Beruwala dan cukup lama tak dikaruniai keturunan. Sampai kemudian beliau bernazar akan membangun masjid bila dikaruniai keturunan. Ketika beliau dikaruniai seorang anak perempuan, belliau memberinya nama Sariya Umma (juga dikenal dengan nama Pallie Umma). Pandan Bali memenuhi nazarnya dengan mewakafkan sebidang tanah sekaligus membangun masjid disana berikut taman pemakaman umum muslim sesuai dengan Nazarnya.

Lahan Masjid Jum’ah Wekande dibeli oleh Pandan Bali dari Jeynadien Marikar Sinna Cassien di tahun 1786M (1201H). Pada tanggal 17 Agustus 1786M (1201H) Pandan Bali mewakafkan lahan tersebut untuk kaum muslimin, dan mempercayakan amah itu kepada Sabu Latif Untuk pengelolaannya. Sesuai dengan Nazarnya Pandan Bali juga menanggung seluruh biaya pembangunan Masjid Jum’ah Wekande berikut taman pemakaman umum muslim disana. Sabu Latif menjadi imam pertama Masjid Jum’ah Wekande dengan sebutan Khateeb (khatib), dan secara tradisi jabatan tersebut dipegang oleh keturunan beliau hingga kini.

Pandan Bali kemudian kembali ke Indonesia namun Istri dan putrinya tetap tinggal di Sri Lanka. Putri beliau Sariya Umma menikah dengan Alfaraz Nazar seorang muslim melayu berkerja di kapal Singapura dan singgah ke Sri Lanka. Keturunan dari Pandan Bali saat ini dikenali dari nama “Pallie” yang mereka gunakan sebagai nama keluarga pada nama mereka masing masing.

(Foto dariWekandemasjid)

Satu hal yang patut dicatat dari pembangunan masjid ini. Masjid Juma’ah Wekande dibangun di era kolonial Belanda yang sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat kepada agama dan budaya masyarakat setempat. Pandan Bali dan umat Islam saat itu telah menunjukkan perhatian yang begitu besar pada perkembangan dan kebutuhan masyarakat Islam di lingkungannya di Sri Lanka dan manfaatnya terasa hingga kini.

Perkembangan Masjid Jum?Ah Wekande

Sekolah Islam Masjid Jum?Ah Masjid Wekande

Masjid memang tidak saja sebagai tempat untuk beribadah tapi merupakan focal point dari keselutuhan aktivitas ummat Islam. Di berbagai negara Islam disekitar masjid diramaikan dengan beragam aktivitas mewarnai kehidupan ke Islaman. Di Masjid ini juga dilengkapi dengan bangunan madrasah untuk belajar agama, AL-qur’an dan bahasa Arab, gedung madarasah tersebut di namai Pandan Bali Hall sebagai penghormatan kepada mendiang Pandan Bali.

Din Yunus (Deen Joonoos), salah satu pengurus masjid ini yang begitu enerjik telah menunjukkan perhatian yang luar biasa kepada masjid ini dan senantiasa menjadikan masjid ini sebagai bagian integral dari kehidupan muslim Kolombo. Beliau kemudian membangun sebuah sekolah dengan nama Deen Joonoos Hall yang kemudian menjadi Sekolah Bilingual Negeri Wekande (Wekande Government Bi-lingual school).

Dalam upaya memenuhi kebutuhan ummat islam setempat akan pendidikan bagi putra dan putri mereka, sekolah tersebut kemudian terus di tingkatkan kualitasnya oleh Dr. T.B Jayah dan kemudian ubah sebagai cabang dari sekolah Zahira College Colombo serta kemudian di ubah namanya menjadi Zahira Collegege Slave Island, dan kemudian di ubah lagi menjadi T.B. Jayah Maha Vidyalaya untuk mengenang pedirinya yang sudah menunjukkan pengabdian luar biasa pada pendidikan di Sri Lanka dan menghasilkan pemimpin pemimpin Islam Sri Lanka di kemudian hari.

Perluasan Masjid Jum?Ah Wekande

Ketika jemaah semakin membludak dan Masjid Jum’ah Wekande -pun sudah terasa terlalu sempit untuk menampung jemaah yang semakin bertambah. Ketua pengurus Masjid Jum’ah Wekande kala itu Haji M.D. Kitchilan dan dewan pengurus membutuhkan dana untuk memperluas masjid ini. pada saat kritis tersebut S.H. Moosajee mengajukan diri mendanai semua proses perluasan masjid tersebut. Berkat kebaikan dari beliau sayap kanan masjid ini kemudian berdiri dan diresmikan pada bulan Desember 1966 dihadiri oleh Perdana Menteri Sri Lanka Dudley Senanayake.

(Foto dariWekandemasjid)

Namun gedung tambahan tersebut hanya mampu menampung membludaknya jamaah untuk sementara, Hanya selang beberapa waktu, jemaah jemaah yang membludak sudah tak tertampung oleh bangunan masjid yang sudah diperluas. Ketua dan dewan pengurus masjid kemudian untuk kedua kalinya menemui S.H. Moosajee. Mendiskusikan masalah tersebut. dan untuk kedua kalinya S.H. Moosajee dengan ikhlas mendanai sendiri perluasan masjid tersebut dengan membangun lantai dua. Peresmian perluasan kedua Masjid Jum’ah Wekande ini dilakukan oleh menteri pendidikan Sri Lanka Dr. Badiudin.

Di tahun 1986 pengurus Masjid Jum’ah Wekande menyelenggarakan peringatan dua ratus tahun Masjid Jum’ah Wekande (1786-1986), bersamaan dengan acara tersebut diselenggarakan peletakan batu pertama perluasan masjid di sayap selatan. Hadir dalam kesempatan itu mantan Menteri Urusan Agama dan Budaya Islam Sri Lanka M.H. Muhammed berkenan mewakili seluruh tamu undangan meletakkan batu pertama perluasan Masjid Jum’ah Wekande di sayap selatan. Takblikh akbar juga diselenggarakan di lokasi akan dibangunnya perluasan masjid tersebut pada tanggal 31 Agustus 1986.

Peran KBRI, Pakistan, Qatar dan Dermawan Lain nya

Proses perluasan masjid ini dimulai setahun kemudian, tepatnya pada bulan Agustus 1987 dengan dana sumbangan sebesar Rs. 135,000, diterima melalui Duta Besar Republik Indonesia Untuk Sri Lanka merangkap Maladewa yang berkedudukan di Kota Kolombo, Jufri Yusuf.

(Foto dariWekandemasjid)

Manakala bantuan menurut luar negeri tak mencukupi buat perluasan bangunan masjid, para pengurus beserta menggunakan para ulama dan jemaah menggunakan persetujuan dari dewan pembina, lalu mendatangani jemaah masjid dari tempat tinggal ke rumah mengumpulkan donasi. Dari upaya tersebut terkumpul dana sebesar Rs.245 ribu. Lembaran lembaran karcis amal jua disebarkan pada para jemaah sholat tarawih selama bulan kudus Ramadhan sebagai upaya penggalangan dana.

Darwis Hadjar kemudian mengajukan diri untuk mendanai pengecoran beton bertulang penghubung bangunan sayap selatan dan utara masjid. Beberapa anggota jemaah kemudian meminta kepada dewan pengurus untuk membangun kembali sebuah replika dari mimbar asli Masjid Jum’ah Wekande yang dirobohkan tahun 1965 saat S.H. Moosajee membangun lantai dasar sayap utara masjid dengan dana pribadinya sendirinya. Namn pada saat itu pekerjaan pembangunan masjid dan gedung madrasah sempat terhenti karena masalah pendanaan.

Tanpa disangka sangka seorang pengusaha dari Qatar bernama Nasser Al Kaabi pada suatu ketika singgah ke masjid ini untuk menunaikan sholat magrib, beliau turut menyumbang sebesar sebesar Rs. 5,300, lalu donasi Komisi Tinggi dari Pakistan sebesar Rs. 97,774 ditambah dengan donasi yang sangat besar dari para dermawan sekitar masjid sebesar Rs. 200,000 membantu menyelesaikan perluasan masjid dan madrasah yang sempat terhenti tersebut. Pembangunan lanjutan dilakukan oleh dewan pengurus dengan menambahkan lantai dua di bagian atas tangki penampungan air wudhu untuk menambah daya tampung masjid yang sudah sangat mendesak di tahun 2001.

Gerbang Masjid Jum’ah Wekande (foto dari Panoramio)

Dengan sesudah keseluruhan proses pembangunan tersebut dewan pengurus Masjid Jum?Ah Wekande telah merampungkan proyek ekspansi masjid yang ditujukan buat peringatan 200 tahun berdirinya masjid tadi yang terlakasana pada periode 1986/87 menggunakan total areal tambahan seluas 7,377 kaki persegi.

Peluncuran Website Masjid Jum?Ah Wekande sang Dubes RI

Pada tanggal 27 November 2011 bertepatan dengan tahun baru 1 Muharram 1433H, Masjid Jummah Wekande meluncurkan website Masjid Jummah Wekanda beralamat di www.wekandamasjid.com. Peluncuran website itu juga bertepatan dengan perayaan 232 tahun berdirinya Masjid Jum’ah Wekande (berdasarkan Kalender Hijriah 1201H~1433H). Dalam kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Sri Lanka merangkap Maladewa, Djafar Husein didaulat untuk meresmikan peluncuran website tersebut.

Turut hadir diantara para tamu kehormatan dalam acara tersebut adalah sekretaris ke-3 Kuasa Usaha Malaysia, Azzezul Hakeem dan Kuasa Usaha Malaysia untuk Sri Lanka, Azmi Zainudeen. Usai peresmian dilanjutkan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh As Sheikh Arkam Nooramith dari Darul Uloom, Afrika Selatan dan juga Chairman dari Darul Hasanath Foundation. Website masjid ini merupakan gagasan dari Nazeer Mueen Latif, salah dari pembina Masjid Jum’ah Wekande, beliau adalah keturunan dari Khatib Sabu Latif. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan sambutan khusus yang diberi judul “Wekande Jummah masjid in retrospect”

Tarik pembangunan Masjid Jum?Ah Wekande ditulis menggunakan hurup akbar

di sisi gerbang utama masjid (Foto dari Panoramio)

Khatib Khatib Masjid Jum?Ah Wekande

Selama 232 tahun posisi Khatib Kepala di Masjid Wekande dipegang oleh keturunan Khatib Saboo Latiff, khatib pertama sekaligus penerima amanah wakaf langsung dari Pandan Bali. Konsistusi Masjid Jum’ah Wekande dengan tegas menyebutkan bahwa jabatan Khatib Ketua Masjid Jum’ah Wekande dipegang oleh anggota keluarga keturunan Khatib Sabu Latif atau Khatib M.T.T Ameer yang juga merupakan keluarga dekat keluarga Latif. Berikut daftar Khatib Masjid Jum’ah Wekande sejak dari Khatib pertama Khatib Sabu Latif beserta masa bhaktinya.

01. Sabu Latif - selama 53 tahun (1786 – 1839)

02. Chinnan Latiff - selama 50 tahun (1810 – 1860)

03. Ariffin Latiff - selama 6 tahun (1860 – 1866)

04. Thaiff Latiff (Packir Bawa Latiff)  - selama 3 tahun (1866 – 1869)

05. Thaiban Latiff –selama 13 tahun (1869 – 1882)

06. Noordeen Thaiff Latiff (juga menjabat di Masjidul Akbar) –selama 50 tahun (1870 – 1920)

07. Buhary Noordeen Latiff  - selama 28 tahun (1903 – 1931)

08. Sadiq Buhary Latiff - selama 12 tahun (1934 – 1946)

09. Muyinudeen Buhary Latiff – selama 20 tahun (1946 – 1966)

10. M.T.Thajudeen Ameer

11. M. Faiz Ameer

12. Moulavi M. Muzni Ameer (Dheeni)

Wekande Ma?Al Madrasah

Wekande Ma?Al Madrasah, Madrasah pendidikan Al-Qur’an di Masjid Jum’ah Wekande didirikan pada tahun 1997. Lebih dari 100 santri putra dan putri belajar di madrasah ini setelah jam sekolah. Pengurus masjid menyediakan buku buku, alat alat tulis berikut seragam nya secara gratis bagi seluruh santri di Madrasah. Sudah cukup banyak santri alumni madrasah ini yang berhasil menjadi Hafiz (penghafal Al-qur’an).

Interior Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)

Ruang Sholat Khsusus Jemaah Wanita

Slave Island, berada di lokasi yang strategis, ribuan orang datang secara berkala untuk berbagai macam kepentingan mulai dari bekerja, berbisnis hingga untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Diantara mereka ada muslimah yang berjuang keras hanya untuk melaksanakan sholat zuhur/ashar selama jam kerja karena ketiadaan fasiltas khusus jemaah wanita di masjid masjid yang ada. Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut, pengurus Masjid Jum’at Wekande kemudian menyediakan ruang khusus bagi jemaah wanita di Masjid Jum’ah Wekande

Aktivitas Sosial Masjid Wekande

Dewan pengurus bersama Khatib Masjid Jum?Ah Wekande turut ambil bagian dalam kehidupan warga secara luas. Beberapa kegiatan sosial Masjid Jum?Ah Wekande yg patut dicatat beberapa diantaranya merupakan sebagai berikut :

  • Membangun sekolah dan madrasah yang keduanya memberikan pendidikan agama Islam. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
  • Khatib Haji Buhary Noordeen Latiff (menjabat tahun 1903 – 1931) dibantu oleh H.L. De Mel dan dewan kota Kolombo meminjamkan ruang sekolah di Masjid Jum’ah Wekande berikut ruangan pribadi Khatib Haji Buhary Noordeen Latiff sebagai tempat penyimpanan beras selama terjadi krisis beras akibat kondisi darurat selama perang dunia pertama.
  • Di tahun 1920 Khatib Haji Buhary Noordeen Latiff juga turut memainkan peran teramat penting dalam pendirian Asosiasi Politik Melayu dan menjadi Ketua pertama Asosiasi tersebut.
  • Khatib Haji Buhary Noordeen Latiff dengan kesederhanannya bekerja bersama dengan H.L. Del Mel selama perayaan “Armistice Day” memberi makan kepada fakir miskin dan menyantuni anak anak yatim di Masjid Jum’ah Wekande.
  • Mantan Presiden Dewan Pengurus Masjid Jum’ah Wekande, M.D. Kitchilan pernah menjabat sebagai anggota senat sekaligus sebagai wakil Walikota dari Dewan Kota Kolombo.
  • Pahlawan Nasional Sri Lanka dan juga juga salah satu tokoh muslim melayu Sri Lanka T.B. Jayah adalah merupakan orang yang begitu dekat dengan Masjid Jum’ah Wekande.
  • Mantan Presiden Dewan Pengurus Masjid Jum’ah Wekande, M.D. Kitchilan pernah menjabat sebagai sektetaris dari ‘All Ceylon Malay League” yang dipimpin oleh T.B. Jayah.
  • Masjid Jum’ah Wekande juga memberikan beasiswa kepada beberapa mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan tinggi mereka baik di pendidikan Islam dan pendidikan di Universitas. Melalui program tersebut tercatat dua orang santri berhasil menyelesaikan pendidikan mereka di perguruan tinggi. Sementara dua mahasiswa lagi masih mengikuti program ini.
  • Masjid Jum’ah Wekande Juga memainkan peran penting dalam ‘Kompeniweediya Masjid Federation’. Bantuan finansial juga diberikan Masjid Wekande bagi proyek proyek dari federasi tersebut.

Interior Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)

The Federation of Kompannaveediya Mosques

The Federation of Kompannaveediya Mosques (FKM) adalah organisasi yang di-dedikasikan bagi kesejahteraan komunitas muslim Slave Island, Colombo 2. Dibentuk oleh 10 manajemen masjid yang ada di Slave Island pada tahun 2005, tak lama setelah bencana Tsunami akibat gempa samudera Hindia 24 Desember 2005 yang mengakibatkan bencana besar di sepanjang pantai samudera hindia termasuk Indonesia dan Sri Lanka.

Pekerjaan berat ditangani FKM paska bencana tersebut salah satunya adalah proyek pembangunan kembali masjid masjid yang hancur akibat tsunami di kawasan pantai timur dan selatan Sri Lanka terutama di Kota Kirinda dan Hambantota. Termasuk juga penanganan paska terjadinya peristiwa di Mutur yang terkenal dengan “Mawil aru’ incident”. FKM menyumbangkan dana sebesar Rs. 300,000 menanggapi permintaan dari my All Ceylon Jemmiyathul Ulema dalam upaya pemulihan bagi ummat Islam yang terusir akibat peristiwa tersebut. 55 orang sukarelawan FKM kemudian ditempatkan di kamp pengungsi Kanthle selama 4 hari masa pemulihan. Aktivitas FKM lainnya adalah menggalang zakat kolektif, menunjang peningkatan pendidikan di Slave Island, program dana pensiun bagi Khatib dan Muazin yang telah pensiun, menyelenggarakan tenda kesehatan dan lain lain.

Sepuluh Masjid anggota FKM adalah : (1). Wekande Jummah Masjid (2), Masjidul Akbar Jummah Mosques di Kew Road, (3) Masjidul Jamiya Jummah Mosques di Java Lane, (4).  Masjidul Quadhir Hanafi Jummah Mosque di Church Street, (5) Zaviyathul Khairiya Thakkiya di De Mel Street, (6) Shahul Hameediyah Jummah Mosque di Stuart Street, (7). Al Masjidul Muhaiyadeen di Union Lane, (8). Masjidul Badhiriya Ma'al Madhrasa di Wekande Road, (9). Abi Ubaida Jummah Mosque di Station Passage dan (10). Ukwathul Islam Jummah Mosque di Dawson Street.

Interior Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)

Ucapan Terima Kasih

Dengan kerendahan hati, pengurus Masjid Jum’ah Wekande mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi tinggi nya kepada semua pihak yang telah berkontribusi kepada Masjid Jum’ah Wekande. Hal tersebut dinyatakan dalam laman resmi Masjid Jum’ah Wekande, diantara mereka disebutkan pada urutan pertama adalah Pandan Bali selaku pendiri masjid, lalu Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka , Pakistan High Commission, Mr. S.H. Moosajee, Darwish Hadjiar, Mr. Nasser Al Kaabi – Qatar, Sheikah Layla Mohamed Althani & Sheikh Jassim bin Mohamed Althani – Qatar, para dermawan dan seluruh jemaah Masjid Jum’ah Wekande.

Pengurus Masjid Jum’ah Wekande

Seperti telah sedikit disinggung sebelumnya bahwa pengurus Masjid Jum’ah Wekande dipegang oleh keturunan dari Khatib Sabu Latif, keturunan dari Pandan Bali, keluarga mereka, Muslim Melayu Sri Lanka, serta muslim non Melayu jemaah Masjid Jum’ah Wekande. Konstitusi masjid ini dengan tegas menyebutkan bahwa dalam kepengurusan masjid harus ada setidaknya 2 anggota tetap di dalam dewan Pembina masjid dari keluarga Pandan Bali dan Khatib Sabu Latif.

Berikut daftar Pengurus Masjid Jum’ah Wekande saat ini (2011)

Presiden & Pembina Masjid : Basheer .M. Latiff (keturunan langsung Kathib Sabu Latif)

Sekretaris : Tuan Nilamdeen Pallie (Keturunan dari Pandan Bali)

Bendahara dan Pembina Masjid : T.N. Jainudeen (keturunan dari Pandan Bali)

Wakil Presiden : Al Haj. M. Anver Ameer J.P. (Putra dari M.T.Thajudeen Ameer – juga dari keluarga Latif)

Internal Auditor : T. Murad Samath

Anggota Dewan Pembina : Nazeer Mueen Latiff (Keturunan dari Kathib Sabu Latif),Al Haj. T.Haroon Miskin, T.Sakreen Amith, Al Haj. T.Harris Amith, T.Marzook Noor, Al Haj. T.M.K.Buhary, T.Rasheed Puwasa, M.N. Johar, M.S. Mustaq Ali, Kalabooshana Al Haj. S.M. Shabdeen J.P.

Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)

Dan berikut adalah daftar Imam Masjid Jum’ah Wekande Saat ini (2011)

  • Khatib Ketua : Moulavi M. Muzni Ameer (Dheeni)  (keturunan dari Kathib M.T.Thajudeen Ameer)
  • Imam : Moulavi M. Nazeer Buhardeen (Najahi ), dan
  • Imam : Moulavi A.H.M. Sameem (Ajwardi)

Foto Lain Masjid Jum'ah Wekande

Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)
Madrasah di Masjid Jum’ah Wekande (Foto dariWekandemasjid)
Masjid Jum’ah Wekande dari arah Jalan Raya (Foto wetravelworld)

Referensi

situs resmi masjid jum’ah wekande – www.wekandamasjid.com

kemlu.go.id - duta besar ri resmikan website masjid jummah wekande

----------------------------ooOOOoo---------------------------

Artikel Terkait

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Atas : Masjid Agung Kolombo & Masjid Jum'ah Wekande

Bawah : Masjid Melayu Kurunegala & Masjid Melayu Java Lane

Sri Lanka, Ceylon, Sailan, Lankadwipa atau orang Sri Lanka terbiasa menyebut negeri mereka sebagai “Lanka” saja. Adalah negara pulau yang terletak di samudera Hindia di lepas pantai tenggara India.  Pulau Sri Lanka bila dilihat di peta, bentuknya tampak mirip seperti buah pear ini sejak tahun 1982 memindahkan ibukota negaranya dari Kolombo ke Sri Jayawardenapura atau Kotte, meski beberapa negara tetap mempertahankan kantor perwakilan mereka di Kolombo, termasuk KBRI untuk Sri Lanka & Maladewa, yang berada di sarana road, Kolombo berseberangan dengan komplek Bandaranaike Center for International Studies (BCIS). Sri Lanka dikenal dunia internasional sebagai negara pertama yang dipimpin oleh seorang wanita ketika Sirimavo Bandaranaike menempati jabatan sebagai perdana menteri untuk masa jabatan pertama di tahun 1960-1965. Sri Lanka memiliki keterkaitan sejarah yang cukup erat dengan Indonesia, meski  media di Indonesia sangat jarang memberitakan negara ini.

Antara Indonesia dan Sri Lanka

75% penduduk Sri Lanka ber-etnis Shinhala yang beragama Budha. Kerajaan kerajaan Budha di Indonesia pada masa lalu bermula dari ajaran Budha yang dibawa masuk ke Indonesia dari kerajaan kerajaan Budha di Sri Lanka, dan kerajaan kerajaan tersebut memilki keterkaitan sejarah satu dengan lainnya. Sri Lanka dan Indonesia juga pernah sama sama pada masa yang sama dijajah oleh Belanda. Penjajah Belanda kala itu menjadikan Sri Lanka sebagai tempat pengasingan atau lebih tepatnya disebut sebagai tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan di saat Indonesia masih berupa Kerajaan Kerajaan dan Kesultanan yang tersebar dari Papua hingga Aceh.

Lokasi Sri Lanka di Samudera Hindia
Sri Lanka adalah salah satu Negara yang turut aktif dalam Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. John Kotelawala (1897-1980), Perdana Menteri Sri Lanka ke-3 menyelenggarakan konfrensi Kolombo tahun 1954 yang menjadi titik awal penyelenggaraan KAA di Bandung. Sri Lanka pernah menjadi buah bibir di tanah air ketika terjadi dua kali kecelakaan penerbangan pengangkut calon jemaah haji Indonesia tahun 1974 dan 1978 menewaskan ratusan penumpangnya, kecelakaan pesawat di Sri Lanka tersebut menjadi kecelakaan penerbangan terburuk yang pernah terjadi. Tahun 2004 lalu Sri Lanka kembali muncul di berbagai media tanah air ketika terjadi gempa bumi samudera hindia pada tanggal 26 Desember 2004, Gelombang tsunami akibat gempa tersebut menghancurkan Aceh dan Sumatera Utara, juga meluluhlantakkan wilayah pantai timur dan selatan Sri Lanka. Lebih dari 30 ribu rakyat Sri Lanka tewas dalam bencana tersebut.

Ada Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Tahukah anda, ada jejak Indonesia di masjid masjid Sri Lanka. Muslim Indonesia yang dibuang ke Sri Lanka di masa lalu oleh penjajah Belanda telah berkontribusi bagi syiar Islam disana. Masjid Agung Kolombo yang berdiri kokoh di pusat kota Kolombo dirancang dan dibangun oleh bangsawan Bugis dari Goa. Masjid Jum’ah Wekande di kawasan Slave Island, Kolombo selatan merupakan wakaf dari Ulama Jawa, Masjid Militer Melayu di Java Lane Kolombo dibangun dengan dana pensiun Resimen Melayu di Kolombo, begitu pula halnya dengan Masjid Melayu di Kota Kurunegala dan Masjid Akbar di Kolombo yang dibangun oleh Inggris untuk Resimen Melayu yang bertugas disana. Masih ada sederet masjid yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia di Sri Lanka. Bila mencermati sejarah masjid masjid tua Sri Lanka, kita akan menemukan nama nama melayu pada daftar nama pendirinya. Masjid masjid tersebut beberapa diantaranya akan di ulas dalam artikel ini.

Peta sebaran etnis etnis di Sri Lanka

etnis Islam ditandai dengan lambang

bulan sabit Islam di Sri Lanka

Tahun 1980 pemerintah Sri Lanka membentuk Departemen Urusan Agama dan Budaya Islam, khusus menangani kepentingan muslim Sri Lanka, juga merupakan sikap tegas pemerintah Sri Lanka terhadap usaha Etnis Tamil yang berupaya menjadikan Muslim Sri Lanka sebagai bagian dari Etnis Tamil. Pemerintah Sri Lanka yang dikuasai oleh Etnis Shinhala menentang usaha tersebut dan tetap menjadikan umat Islam disana sebagai ‘etnis muslim’ dengan identitas-nya sendiri. Selain Muslim Suni (mazhaf Syafi’I dan Hanafi) serta komunitas kecil Shiah, Komunitas Ahmadiyah di Sri Lanka sudah berdiri sejak tahun 1915, namun muslim Sri Lanka menganggap Ahmadiyah bukan bagian dari Islam.

Saat ini ada sekitar 5000 masjid di Sri Lanka yang senantiasa berkoordinasi dengan Departemen urusan agama dan Budaya Islam Sri Lanka. Selain masjid, ada sekitar 749 sekolah Islam dan 205 madrasah di Sri Lanka yang mengajarkan pendidikan Islam, salah satu sekolah Islam ternama di Sri Lanka adalah Zahira College di Kolombo. Zahira College merupakan sekolah Islam pertama di Sri Lanka, dibangun pada tahun 1892 oleh tokoh muslim Sri Lanka I. L. M. Abdul Aziz danArasi Marikar Wapchie Marikar dengan bantuan dana dari Ahmed Orabi Pasha.  Awalnya sekolah ini merupakan Madrasah bernama Al Madrasathul Zahira dan kini menjadi sekolah Islam terbesar dengan siswanya mencapai 4000 orang dan merupakan salah satu sekolah paling bergengsi di Sri Lanka. Di dalam komplek sekolah ini terdapat masjid tertua di Sri Lanka, yang masih eksis hingga kini. Muslim Sri Lanka juga memilki universitas Islam di Beruwala (Jamiya Naleemiya).

Sejarah Islam di Sri Lanka

75% penduduk Sri Lanka ber-etnis Sinhala yang beragama Budha, di-ikuti etnis Tamil yang beragama Hindu, sedangkan Islam merupakan agama minoritas kedua dengan jumlah penganut sekitar 7% ~ 10% dari keseluruhan penduduk Sri Lanka, Berdasarkan sensus tahun 2001 yang diselenggarakan oleh GOSL menunjukkan bahwa ada 1,711,000 muslim di Sri Lanka yang terdiri dari tiga etnis yaitu (1) Moor Sri Lanka, (2) Muslim India dan (3) muslim Melayu. Masing masing memilki sejarah dan tradisi mereka sendiri. Angka tersebut menurut beberapa pihak lebih kecil dari angka sesungguhnya yang diperkirakan mencapai 10%.

salah satu nama jalan di kota Kolombo

Java Lane. Java di nama jalan tersebut

memang merujuk kepada kata Jawa.

(foto daricutijalan.blogspot) Etnis Moor Sri Lanka merupakan etnis muslim terbesar sekitar 92% dari keseluruhan muslim disana, disusul oleh etnis melayu sekitar 5% dan etnis India. Masyarakat dan pemerintah, menyebut semua etnis muslim tersebut dalam satu kesatuan sebagai “etnis Muslim” secara khusus ditujukan kepada muslim Moor Sri Lanka. Yang lebih menarik adalah etnis Shinhala yang beragam Islam pun turut disebut sebagai “Etnis Muslim”.

Muslim Moor Sri Lanka

Islam masuk ke Sri Lanka di mulai di abad ke 8 Masehi dibawa oleh para pedagang pedagang Arab, sejak itu Islam mulai berkembang di Sri Lanka. Sejarawan Islam Ibnu Batutah pernah menyinggahi pelabuhan Kolombo di abad ke 14M dan menulis dalam catatannya tentang Kolombo yang disebutnya sebagai Kalanpu. Di abad ke 15M pedagang arab sudah menguasai jalur perdagangan di kawasan samudera hindia termasuk Sri Lanka. Banyak diantara mereka yang kemudian menetap disana dan turut memperkuat syiar Islam.

Tahun 1505 penjelajah Portugis dibawah pimpinan Lourenço de Almeida mulai masuk ke Sri Lanka Lanka lalu membuat perjanjian dagang dengan raja Kotte Parakramabahu VIII (1484–1508), namun kemudian berubah menjadi penjajahan Portugis atas Sri Lanka, ummat Islam mulai ditindas, termasuk dipaksa untuk pindah ke pedalaman dan pantai timur Sri Lanka. Portugis yang secara tradisi memusuhi muslim Moor (Maroko) tetangganya di Afrika, kemudian menyamaratakan semua muslim yang ditemuinya sebagai musuh dan menyebutnya dengan sebutan Moor atau Moro, terutama kepada muslim arab. Itu sebabnya Portugis juga menyebut semua muslim Arab di Sri Lanka dengan sebutan Moor. Sebutan itu menjadi satu nama yang terwariskan hingga kini di Sri Lanka.

Muslim yang tinggal di kawasan Pettah membangun sebuah masjid yang sangat impresif dengan rancangan unik mirip sebuah bangunan istana gula gula dengan warnanya yang berlapis lapis merah dan putih seperti kue lapis. Masjid ini begitu terkenal di kota Kolombo sampai sampai disebut sebagai Landmark nya kota Kolombo sejak selesai dibangun tahun 1909 hingga kini. Masjid tersebut terkenal dengan nama masjid Pettah atau Saman Kotai, aslinya bernama Masjid Jami Ul Alfar.

Masjid Jami Ul Alfar di Pettah

Salah satu warisan budaya Islam

di Kolombo (foto wikipedia) Muslim India - Sri Lanka

Muslim India pertama kali masuk ke Sri Lanka di masa penjajahan Portugis lalu gelombang berikutnya masuk di masa penjajahan Inggris (saat itu India juga dibawah jajahan Inggris). Yang paling dikenal adalah muslim dari Pakistan dan India selatan yang memperkenalkan mazhab Hanafi dan Syiah. Mereka masuk ke Sri Lanka untuk mencari peluang usaha. Mayoritas muslim India berasal dari Tamil Nadu dan Kerala (Kerala terkenal dengan masjid Jami’ Cheraman, masjid pertama di India, sudah pernah di ulas dalam posting sebelumnya di blog ini).

Sedangkan muslim Memon berasal dari Sindh (kini masuk ke dalam wilayah Pakistan). Tahun 1980 jumlah muslim India di Sri Lanka ada sekitar 3000 jiwa, mereka juga muslim suni, mengikuti mazhab Hanafi. Salah satu masjid warisan dari muslim India di Sri Lanka adalah masjid Al Jami ul Azhar Jumma Mosque di kota Kurunegala. Masjid Muslim India ini cukup besar dan indah, kini menjadi masjid Jami’ nya kota Kurunegala, Letaknya tak jauh dari Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala.

Muslim Melayu Sri Lanka

Di abad ke 18, Muslim Melayu dari Indonesia dan Malaysia masuk ke Sri Lanka dibawa oleh penguasa Belanda. Kala itu baik Indonesia, Malaysia dan Sri Lanka sama sama dibawah penjajahan Belanda. Muslim melayu yang masuk ke Sri Lanka merupakan tentara resimen melayu bentukan Belanda untuk ditempatkan di Sri Lanka dan para tahanan Politik dari Indonesia yang dibuang ke sana. Muslim dari Indonesia terdiri dari para bangsawan, tokoh masyarakat, ulama beserta keluarganya yang menentang penjajahan Belanda.

Ada sekitar 50 ribu jiwa keturunan mereka kini yang di Sri Lanka, mereka mengadaptasi beberapa tradisi Moor Sri Lanka namun tetap mempertahankan tradisi melayu termasuk penggunaan Bahasa Melayu di lingkungan mereka sendiri hingga kini. Sama seperti di Indonesia dan Malaysia, muslim melayu Sri Lanka merupakan muslim sunni dan berpegang pada mazhab Safi’i. Berikut ini beberapa masjid di Sri Lanka yang memiliki ‘keterkaitan’ dengan Melayu Indonesia dan Malaysia.

Masjid Agung Kolombo

Ketika Portugis datang ke Sri Lanka tahun 1505, Masjid AgungKolombo sudah berdiri di lokasinya yang sekaran, meski tak ada catatan pasti kapan pertama kali masjid tersebut dibangun. Portugis kemudian malah menjadikan Sri Lanka sebagai wilayah jajahan. Tahun 1520 Raja Vijaya Bahu menyerbu benteng Portugis, namun tentara Portugis yang unggul persenjataan dan teknik perang, berhasil memukul mundur pasukan Raja Vijaya Bahu. Tak sampai disitu, Portugis bahkan membumihanguskan kota Kolombo berikut Masjid Agung-nya hingga rata dengan tanah. Ummat Islam sempat mengalami masa masa sulit, sebagian besar terusir dari kota Kolombo. 24 tahun setelah itu (tahun 1524) sebuah masjid baru dengan ukuran lebih kecil kembali dibangun persis di lokasi asli masjid sebelumnya.

Masjid Agung Kolombo, dibangun oleh Muhammad Balang Kaya, putra

dari Hulu Balang Kaya, Bangsawan dari Goa Sulawesi Selatan.

(foto dari Panoramio)

Tahun 1658 giliran Belanda yang berkuasa di Sri Lanka dan menjadikan wilayah jajahan barunya itu sebagai tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan Indonesia. Tokoh tokoh istana dan kalangan ningrat hingga alim ulama yang menentang penjajahan Belanda ditangkap dan dibuang ke Sri Lanka. Di tahun 1790 tercatat 176 orang tahanan politik yang terdiri dari 23 keluarga dari Indonesia, tiba di Kolombo. Diantara 23 keluarga tersebut terdapat Sultan Goa - Sulawesi Selatan yang bernama Raja Gusman Usman dan seorang pejabat menterinya bernama Hulu Balang Kaya, mereka semua tinggal di kawasan Moor Street, tempat dimana Masjid Agung Kolombo berada. Hulu Balang Kaya memiliki putra bernama Muhammad Balang Kaya. Dan Tuan Bagoos Krawan Balangkaya.

Ketika Inggris berkuasa di Sri Lanka (1796-1948), Masjid Agung Kolombo yang kecil itu sudah benar benar tak mampu lagi menampung jemaah. Muhammad Balang Kaya yang merupakan seorang arsitek otodidak, kemudian merancang sendiri sekaligus membangun masjid Agung Kolombo dengan dananya sendiri bersama teman teman bisnisnya dari kalangan Muslim Moor. Tahun 1826 Masjid Agung Kolombo selesai dibangun dalam bentuk nya saat ini. Gubernur Inggris di Sri Lanka Letnan Jenderal Sir Edward Barnes, GCB, datang berkunjung ke masjid ini memuji hasil kerja Muhammad Balang Kaya yang luar biasa di masjid tersebut.

Tuan Bagoos Krawan Balangkaya Putra bungsu dari Muhammad Balangkaya lahir pada hari selasa, 21 Rajab 1243H / 28 January 1827. Adalah seorang cendekiawan muslim yang kemudan ketika dewasa menempati posisi sebagai Khalifah di Kolombo. Tuan Bagoos Krawan Balangkaya merupakan salah satu tokoh terkemuka Muslim Melayu yang bermakam di pemakaman Muslim Masjid Agung Kolombo.

Wekande Jummah Masjid (Masjid Jum’ah Wekande)

Wekande Jummah Masjid atau Masjid Jum’ah Wekande adalah salah satu masjid tertua dan terbesar di Kolombo dan Sri Lanka. Masjid ini berada di Wekande Jumma Masjid Road, Slave Island, kota Kolombo. Disebut Slave Island, karena memang daerah ini dulunya adalah tempat bermukimnya kaum budak dari Afrika yang dibawa oleh penjajah Portugis dan Belanda ke Sri Lanka. Slave Island, juga bukanlah sebuah pulau dalam arti sebenarnya. Disebut Island karena sebagian besar daerah ini menjorok ke tengah danau Beira di sebelah selatan Benteng Kolombo.

Masjid Jum'ah Wekande (Wekande Jummah Mosque) dibangun di atas

tanah  wakaf  dari  Pandaan  Bali, Orang  Indonesia  yang berasal dari

pulau Jawa. Masjid Jummah Wekande dibangun di atas lahan wakaf bangsawan asal Indonesia dari pulau Jawa bernama Pandaan Bali. Lahan tersebut kemudian diserahkan kepada Khatib Saboo Latiff pada tanggal 17 Agustus 1786M (1201H) untuk pembangunan masjid dan lahan pemakaman muslim. Pandaan Bali tiba di Kolombo dalam pengasingan-nya oleh Belanda bersama dengan tentara Resimen Melayu bentukan Belanda.

Sedangkan Kathib Saboo Latiff adalah seorang ulama besar Sri Lanka yang juga seorang bangsawan dari kesultanan di Kalimantan Barat. Pandaan Bali memang tak penah tahu bahwa 225 tahun setelah beliau mewakafkan tanah miliknya untuk masjid di Kolombo, Indonesia mengumandangkan proklamasi kemerdekaan di tanggal yang sama persis dengan tanggal beliau mewakafkan tanahnya. Meski beliau tak sempat menikmati kemerdekaan itu, namun berkat sumbangan beliau, muslim Kolombo yang minoritas memilki sebuah masjid besar bersejarah yang manfaatnya masih terasa hingga kini.

Pada 27 November 2011, yang bertepatan dengan tahun baru hijriah 1 Muharram 1433, Masjid Jummah Wekande meluncurkan website Masjid Jummah Wekanda dengan alamat www.wekandamasjid.com. Peluncuran website itu juga bertepatan dengan perayaan 232 tahun berdirinya masjid tersebut (berdasarkan Kalender Hijriah 1201H~1433H). Dalam kesempatan itu, Duta Besar RI untuk Sri Lanka, Djafar Husein didaulat untuk meresmikan peluncuran website tersebut. Usai peresmian dilanjutkan dengan pengajian umum yang disampaikan oleh As Sheikh Arkam Nooramith dari Darul Uloom, Afrika Selatan dan juga Chairman dari Darul Hasanath Foundation.

Malay Jumma Mosque Kurunegala

Malay Jumma Mosque Kurunegala atau Masjid Jum’ah Melayu di Kurunegala. Lokasinya ada di persimpangan jalan Dambula road, Welagedara Veediya dan Nortk tank road Kurunegala. Masjid ini merupakan masjid pertama di Kurunegala. Dibangun oleh pemerintah kolonial inggris pada tahun 1848 untuk tentara resimen melayu yang bertugas di kota tersebut.

Malay Jumma Mosque Kurunegala (Masjid Jum'ah Melayu Kurunegala)

dibangun bagi Muslim Anggota Resimen Melayu di Sri Lanka

(foto dari lankalibrary)

Resimen melayu awalnya merupakan tentara bentukan Belanda di Hindia Belanda (indonesia) yang kemudian dibawa ke Sri Lanka. Ketika inggris menang perang melawan Belanda dan berkuasa di Sri Lanka, resimen melayu ini kemudian menjadi bagian dari Resimen Melayu dibawah kekuasaan Inggris, Inggris sendiri yang juga berkuasa di Malaysia dan Singapura menambah pasukan resimen melayu ini dengan anggota pasukan yang direkrut dari Malaysia.

Karena keseluruhan anggota resimen melayu beragama Islam, Inggris kemudian membangun sebuah masjid untuk keperluan mereka beribadah. Awalnya masjid ini dikenal sebagai Malay military Mosque (Masjid Militer Melayu) dan kemudian terkenal dengan nama Masjid Jum’ah Melayu (Malay Jumma Mosque in Kurunegala). Masji ini masih eksis hingga kini. Letaknya tak jauh dari danau kurunegala, di persimpangan jalan di pusat kota kurunegala, Sri Lanka tengah.

Masjid Melayu di Java Lane - Kolombo

Java Lane tempat masjid ini berada merujuk kepada kawasan yang merupakan pemukiman muslim Jawa di kota Kolombo. Resminya masjid ini bernama Masjidul Jamiah namun lebih dikenal dengan nama Masjid Militer Melayu (Malay Military Mosque) atau Java Lane Mosque. Masjid ini dibangun dari uang pensiun para pensiunan tentara Resimen Melayu di Kolombo.

Masjid Melayu di Java Lane - Kolombo, atau disebut juga Java Lane-

Mosque atau Malay Military Mosque, dibangun dari dana pensiun

Anggota Resimen Melayu di Kolombo. Masjid Melayu Java Lane dibangun tahun 1864, dan di fungsikan sebagai masjid Jum’ah (masjid yang digunakan untuk sholat Jum’at, di Indonesia kita menyebutnya sebagai masjid Jami’). Di masa pendudukan Inggris di Sri Lanka beberapa lagi masjid Melayu yang dibangun di daerah Kandy, Kurunegala, Trincomalee, Hambantota dan Kinniya.

Referensi

International.kompas.com – tragedi besar bagi indonesia pada 4 desember

kemlu.go.id - Duta Besar RI resmikan website Masjid Jummah Wekande

wekandamasjid.com – history of masjid

lankalibrari - malay mosque in kurunegala

rootsweb.ancestry.com - A brief History of the Colombo Grand Mosque

situs resmi masjid jum’ah wekande – www.wekandamasjid.com

------------------------ooOOOoo----------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Terkait

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Thursday, October 1, 2020

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Pettah, Kolombo, Sri Lanka (foto dari pbase)

Di bagian kota tua Kolombo - Sri Lanka, berdiri sebuah masjid tua dan unik bernama Masjid Ul Alfar. Sangat unik dalam bentuknya yang sangat impresif dengan rancangan unik mirip sebuah bangunan istana gula gula dengan warnanya yang berlapis lapis merah dan putih seperti kue lapis. Warna merah lebih mendominasi warna ekterior masjid ini. Daerah Pettah tempat masjid ini berdiri merupakan cikal bakal kota Kolombo bermula, dan daerah ini merupakan daerah berpenduduk mayoritas kaum muslimin.

Masjid ini begitu terkenal di kota Kolombo hingga ke mancanegara sampai sampai disebut sebagai landmark nya kota Kolombo sejak selesai dibangun tahun 1909 hingga kini. Masjid tersebut terkenal juga dengan nama masjid Pettah karena berada di daerah Pettah. Etnis Shinhala yang merupakan etnis terbesar di Sri Lanka menyebutnya Rathu Palliya, Etnis Tamil etnis terbesar kedua di Sri Lanka menyebutnya dengan nama Samman Jottu Palli, dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Red Masjid, Nama resmi nya adalah Masjid “Jamiul Adhfar” tertulis dengan jelas dalam hurup Arab di fasad depan masjid (mungkin karena dialek setempat yang menjadikanya berbunyi Masjid Jamiul Alfar atau Jami Ul-Alfar), semua nama itu bermakna “Masjid Merah” sebagaimana alamat website nya www.redmasjid.org

Lokasi Masjid Ul Alfar Colombo ? Sri Lanka

No 228 Second Cross Street, Pettah, Colombo 11, Western Province, Sri Lanka

Situs resmi :http://www.redmasjid.com

E-mail: contact@redmasjid.com

Telepon : 0094 11 2451975

Skype: redmasjid

Masjid Jami-Ul-Alfar berada di Second Cross Street di kawasan Pettah, Kolombo, Sri Lanka. Pettah merupakan kawasan kota  tua yang merupakan cikal bakal kota modern Kolombo. Dari sisi sejarah, kota Kolombo identik dengan Pettah dan kawasan disekitarnya. Kantor pemerintahan kota Kolombo berada di kawasan ini. Pada jamannya kawasan ini merupakan pusat perdagangan dan aktivitas termaju di Sri Lanka dan kawasan samudera hindia. Masjid Jami Ul Alfar di kawasan Pettah ini menjadi penanda utama kota Kolombo.

Sejarah Masjid Jami Ul Alfar Colombo

Kedatangan Saudagar Muslim India ke Sri Lanka

Sejarah Masjid Jami Ul-Alfar tak lepas dari peran Muslim asal India, Muslim India pertama kali masuk ke Sri Lanka di masa penjajahan Portugis setelah sebelumnya Muslim Arab sudah lebih dulu masuk ke Sri Lanka.  Lalu gelombang berikutnya masuk di masa penjajahan Inggris (saat itu India juga dibawah jajahan Inggris). Yang paling dikenal adalah muslim dari Pakistan dan India selatan yang memperkenalkan mazhab Hanafi dan Syiah. Mereka masuk ke Sri Lanka untuk mencari peluang usaha.

Masjid Jami Ul-Alfar, berdiri di kawasan Pettah, kawasan perdagangan

paling sibuk kota Kolombo, Sri Lanka (foto dari Flickr)

Mayoritas muslim India berasal dari Tamil Nadu dan Kerala (Kerala terkenal dengan masjid Jami’ Cheraman, masjid pertama di India, sudah pernah di ulas dalam posting sebelumnya di blog ini). Sedangkan muslim Memon berasal dari Sindh (kini masuk ke dalam wilayah Pakistan). Tahun 1980 jumlah muslim India di Sri Lanka ada sekitar 3000 jiwa, mereka juga muslim suni, mengikuti mazhab Hanafi.

Para pendatang ke Kolombo di masa awal melakukan aktivitas perdagangan di daerah Pettah, termasuk para pedagang Muslim dari semenanjung Arabia, India dan bagian dunia lainnya. Muslim di Pettah menguasai perdagangan disana, sebagian dari mereka menetap sebagian lagi berkunjung secara berkala untuk menjalankan bisnis perdagangan mereka.

Diantara jejeran pertokoan abad

ke 18 (foto dari panoramio)

Para saudagar Muslim asal India yang melakukan perjalanan bisnis dan singgah di wilayah Pettah maupun yang menetap disana, sudah dapat dipastikan sangat membutuhkan masjid untuk melaksanakan peribadatan maupun sebagai pusat ke-Islaman dan keberadaan bangunan tempat ibadah menjadi persoalan serius kala itu

Atas inisiatif para pedagang Muslim India ini, kemudian dibangunlah sebuah masjid di sana. Keberadaan bangunan masjid ini, Mulai dibangun pada tahun 1908 dan selesai tahun 1909. dirancang oleh HL Saibo Lebbe. Seluruh dana pembangunan masjid ini ditanggung oleh komunitas muslim Pettah saat itu. Pengaruh arsitektur India cukup kentara pada masjid ini. Sentuhan kebesaran masjid masjid dinasti Mughal dan bangunan bangunan kastil Inggris cukup terasa meski balutan warna merah dan putih nya yang khas itu menjadikan masjid ini begitu istimewa dan tampil beda.

Dan sangat menarik mencermati bahwa masjid Jami Ul-Alfar ini sangat mirip dengan rancangan arsitektural masjid Jami’ Kuala Lumpur di Malaysia yang juga selesai dibangun di tahun yang sama, dan disaat bersamaan Malaysia dan Sri Lanka memang sama sama masih berada di bawah kekuasaan Inggris.

Arsitektural Masjid Jami Ul-Alfar

(foto daritintatintacinta)

Sejak selesai dibangun hingga detik ini masjid Jami Ul-Alfar menjadi salah satu bangunan dengan daya tarik utama bagi para pelancong di Kolombo. Dengan arsitekturalnya yang khas dalam kemasan warna berlapis lapis merah dan putih yang unik seperti kue lapis masjid ini tampil begitu menyolok diantara bangunan lain disekitarnya. Arsitektur masjid ini menambah lagi satu Khasanah kebudayaan seni bina bangunan Islam.

Detil struktur bagian luar masjid yang didominasi warna merah dan putih tetapi nir menghilangkan nilai spiritual yang terdapat dalam bangunan megah ini. Sedangkan dinding bagian pada didominasi oleh rona hijau toska. Tidak hanya menampilkan efek kue lapis berwarna merah-putih, arsitek masjid ini juga berupaya mengedepankan pola lengkungan dalam bagian atap dinding. Pola lengkungan ini digunakan hampir pada setiap pintu masuk yang menghubungkan bagian page pada masjid menggunakan ruang loka shalat di lantai dasar.

Seperti lazimnya bangunan sebuah masjid, Masjid Jami Ul-Alfar juga dilengkapi dengan menara. Keseluruhannya terdapat empat belas menara pada bangunan masjid ini, terdiri dari dua menara berukuran sedang dan sisanya berukuran mini . Lokasinya yg berada tepat di tengah pusat keramaian komunitas Muslim, menciptakan pada setiap sudut dalam bagian atap masjid dilengkapi sebuah pengeras bunyi buat mengumandangkan bunyi azan.

Jemaah yang meluber ke jalan raya (redmasjid.com)

Perluasan yg mendesak

Ketika pertama kali dibangun tahun 1908-1909 masjid ini hanya dipersiapkan buat menampung maksimum 1500 jemaah, disaat itu hanya rata rata 500 jemaah saja yg hadir di masjid ini. Di awal tahun 70-an masjid ini sudah tampak terlalu sempit buat menampung jemaah yang hadir. Maka di tahun 1975 pengurus masjid melakukan perluasan buat pertama kalinya dengan menghubungkan bangunan masjid yg ada dengan gedung yang bersebelahan dengan bangunan Haji Omar Trust.

Pengurus masjid membeli huma dibelakang masjid berhampiran dengan bangunan H A K Omar Trust yg menghadap ke jalan raya & merupakan komplek pertokoan menggunakan 32 ruang toko disepanjang ruas jalan disana. Perluasan yg mengambil lokasi di huma yang dibeli sang masjid dan huma Haji Omar Trust tadi sanggup menambah kapasitas masjid dari hanya 1500 jemaah.

Saat ini terjadi lagi peningkatan signifikan jemaah sholat pada masjid Jami Ul-Alfar mencapai kurang lebih 5000 jemaah. Pada hari biasa ada sekitar 2000 jemaah memadati masjid ini buat sholat berjamaah sementara selama bulan Ramadhan mencapai 3000 jemaah sholat berjamaah. Kapasitas masjid ini telah tidak lagi mencukupi buat menampung jemaah yg meluber hingga ke jalan raya di saat pelaksanaan sholat Jum?At apalagi pada pelaksanaan 2 sholat hari raya.

Sebuah pemandangan yang tentu saja tak lazim terjadi di sebuah negeri non muslim ketika jemaah memadati bukan lagi ruang masjid tapi memadati seluruh ruas jalan di sekitarnya karena ketidakcukupan kapasitas masjid yang terasa semakin menyempit karena semakin membengkaknya jumlah jamaah. Sebagai kawasan bisnis tersibuk di Kolombo dan Sri Lanka kawasan disekitar masjid ini benar benar tumpek plek pada saat pelaksanaan sholat jum’at. Setiap jengkal lahan dan ruas jalan di sekitar masjid penuh terisi oleh jemaah. Dapat dibayangkan kondisi yang sangat menyedihkan bagi jemaah yang tak kebagian tempat di dalam masjid dikala musim hujan (4 bulan dalam setahun).

Interior masjid Jami Ul-Alfar (virtualtourist.com)

Untuk mengatasi hal tersebut pengurus masjid meluncurkan program perluasan masjid untuk menambah daya tampung guna menyediakan tempat yang layak bagi jemaah yang selama ini sebagian besar sholat di jalan raya karena ketidakcukupan daya tampung masjid. Perluasan kali ini lagi lagi harus menyentuh komplek pertokoan Haji Omar Trust. Mengubah komplek pertokoan yang dibeli oleh Haji Omar Trust menjadi ruang sholat. Artinya pengurus masjid harus menyediakan tempat bagi 32 penyewa ruang toko tersebut untuk kemudian di relokasi dan diberikan kompensasi atas kerugian mereka setelah sekian tahun menjalankan roda usaha mereka di kawasan paling sibuk di Kolombo.

Setelah melalui proses perundingan yang teramat panjang & niat baik berdasarkan galat satu dewan Pembina masjid ini menggunakan menyumbangkan gedung toko terdekat dengan proses perluasan, maka rencana perluasanpun bisa berjalan menggunakan baik. Alhamdhulillah toko milik Haji Omar Trust kini sebagai milik masjid dan beberapa toko tersebut telah dirobohkan pada upaya perluasan masjid. Proses aplikasi nya sedang berjalan buat menyelaraskan bangunan baru dengan bangunan masjid yang asli.

Proyek perluasan Masjid Jami Ul-Alfar kali ini rencananya merupakan

membangun bangunan masjid empat lantai seluas 50 ribu kaki persegi dan mampu menampung 10 ribu jemaah sekaligus. Anggota eksekutif bisa melaksanakan rapat di ruang yg cukup lega pada masjid ini buat mendiskusikan masalah perkara kemasyarakatan secara umum.

Proyek perluasan ini juga rencananya akan menyediakan ruang istirahat untuk membantu jemaah yang datang dari tempat yang jauh, wisatawan ataupun sebagai tempat persinggahan sementara bagi Jemaah haji & umroh.

Menyediakan ruang sholat khusus bagi jemaah wanita yang akan menunaikan sholat maupun beristirahat saat subuh dan Isya.

Menyediakan eskalator untuk memudahkan jemaah lanjut usia

Para alim, ulama, muazin dan pengurus masjid dapat beristirahat di tempat yang rencananya menyatu dengan fasilitas ruang istirahat berdekatan dengan area tempat berwudhu.

Rencana fasad depan masjid

(redmasjid.com) Untuk mewujudkan fasilitas fasilitas seperti tersebut di atas dan pembayaran kompensasi kepada para penyewa ruang toko, proyek yang sudah dilaksanakan sejak tahun lalu dengan perkiraan biaya sekitar Rs. 150 juta (sekitar US$1,4 juta dolar) namun sekarang diperkirakan membengkak mencapai Rs. 260 juta Rupee Sri Lanka (sekitar US$ 2,4 juta dolar).  Proyek perluasan tersebut sudah dilaksanakan dengan merelokasi 32 ruang toko, pembayaran konpensasi, merobohkan bangunan bekas toko serta pekerjaan struktur dari dana yang sudah berhasil dikumpulkan.

Namun masih cukup besar dana yang dibutuhkan untuk melanjutkan dan meyelesaikan proyek perluasan tersebut.  Pengurus masjid membuka peluang bagi para dermawan untuk turut mengambil bagian dalam pendanaan proyek perluasan masjid bersejarah di kota Kolombo ini, baik sumbangan dana dari individu, lembaga non pemerintah, kalangan bisnis serta perwakilan Negara sahabat baik di Sri Lanka ataupun di belahan dunia lainnya, akan sangat membantu proyek tersebut.

Donasi

Untuk mendapatkan informasi terkait dengan kontribusi pada proyek perluasan dan pembangunan masjid Jami Ul-Alfar Kolombo ini dapat menghubungi :

Haji S M M M Ibrahim (S.S.K.), Executive President & President Construction Committee, Tel: 0094112421326 atau  0094777372166.

Haji PM Pallaku Lebbai, Secretary, Tel: 0094112431797.

Haji A Haris Anver, Asst. Secretary, Tel: 0094112421366

Untuk sumbangan berbentuk material bangunan dapat menghubungi

Haji Sathak Abdul Kadar, Treasurer Constructionn Committee, di nomor telepon 0094777878787

Haji T M N Ameer Sultan, Treasurer, di nomor telepon 0094112441810 dan

Haji J'afar Ali Farook, Asst. Treasure, di nomor telepon 0094777383593

Masjid Jami Ul-Alfar, masjid Merah di Jantung Kolombo (redmasjid.com)

Untuk sumbangan berupa cheque dapat ditujukan kepada ‘JAMIUL ALFAR MOSQUE'

Atau dikirim langsung ke

Bank: COMMERCIAL BANK OF CEYLON PLC .,

Branch:KEYZER STREET BRANCH

Account Name: JAMIUL ALFAR MOSQUE

Account Number: 139-000-8888

32, KEYZER STREET,

COLOMBO-11. SRI LANKA

Bank: HABIB BANK LTD.,

Branch: SECOND CROSS STREET

Account Name: JAMIUL ALFAR MOSQUE (EXPANSION FUND)

Account Number: 96155

Swift Code: HABBLKLC

Dewan Pembina dan Dewan Pengurus Masjid Jami Ul-Alfar

Presiden : Haji M.A. Mohamed Abdullah Alim

Executive President & President - Construction Committee : Alhaj S.M.M.M. Ibrahim (S.S.K),

Secretary  : P.M. Pallaku Lebbai

Treasurer : Haji. T.M. Ameer Sultan, J.P,

Treasurer Construction Committee  : Haji Sathak Abdul Kadar

Asst. Treasurer : Haji J'afar Ali Farook

Asst. Secretary : Haji  A. Haris Anver

Member Construction Committee : Haji Marikkarpillai Peerlannu, J.P.

Foto Foto Masjid Jami Ul-Alfar

salah satu proyek perluasan yang sedang dilaksanakan (redmasjid.com)
Warna merah putih yang berlapis lapis pada masjid ini sangat unik

dan satu satunya masjid dengan corak seperti ini (foto dari pbase.com)

Sebenarnya nama masjid ini adalah Jamiul Adhfar, mungkin karena

dialek masyarakat setempat yang membuatnya berbunyi Alfar ?

(foto dari pbase.com)

Letaknya yang berada di jejeran pertokoan di kawasan sibuk Pettah,

namun dengan rancang bangun dan warnanya menjadikan masjid ini

benar benar tampil beda dan menarik perhatian mata (foto dari pbase)

Perhatikan warna pilar masjid ini, benar benar mirip kembang gula,

sedangkan dinding bangunannya sangat mirip dengan kue lapis

(foto darialposters.com)

Referensi

en.wikipedia – islam in sri lanka

en.wikipedia – jami ul-alfar mosque

asianexplorers.com – jami ul alfar mosque

alifmagz.com – masjid merah putih dari srilanka

tintatintacinta – masjid merah di jantung kolombo

situs resmi masjid jami ul-alfar – www.redmasjid.com

----------------------ooOOOoo---------------------

Baca Juga Artikel Terkait

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Masjid Agung Kolombo (The Colombo Grand Mosque) foto panoramio

Masjid Agung Kolombo atau “The Colombo Grand Mosque” merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh Muslim Melayu Sri Lanka yang berasal dari Indonesia sebagaimana sudah disinggung dalam artikel terdahulu berjudul “Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka”. Masjid Agung Kolombo menjadi saksi bisu sejarah dua bangsa ; Indonesia dan Sri Lanka. Di areal pemakaman Islam di Masjid Ini terbaring tokoh tokoh yang lebih memilih dibuang dari tanah airnya dan di cabut dari akar kehidupannya daripada harus bekerjasama dengan bangsa asing yang datang untuk menistakan bangsanya.

Masjid Agung Kolombo pertama kali dibangun oleh Muslim Arab yang melakukan perdagangan Internasional lintas Samudera Hindia, sebagian dari mereka kemudian menetap di Kolombo, menjadi bagian dari Kolombo dan membangun sebuah masjid. Pada masa itu Sri Lanka masih berbentuk Kerajaan dibawah pimpinan seorang Raja dari suku Shinhala, jauh sebelum kedatangan Portugis yang kemudian menjajah Sri Lanka. Masjid tersebut kemudian dihancurkan oleh tentara Portugis dan dibangun Kembali dalam bentuknya saat ini oleh seorang anggota keluarga bangsawan asal Indonesia.

Lokasi Masjid Agung Kolombo

151, New Moor Street, Colombo 12, Sri Lanka

Koordinat geografi : 6°56'25"N   79°51'32"E

Penulisan Sejarah Masjid Agung Kolombo

Masjid Agung Kolombo memiliki tempat yang unik di dalam kehidupan komunitas muslim Srilanka sejak masa kejayaan kerajaan Sinhala di masa lalu. Sejarah awal masjid ini seakan meredup berikut sejarah perjalanan serta tradisinya yang panjang. Peran pentingnya serta posisinya bagi komunitas muslim masih terasa hingga kini dan memainkan peranan penting bagi aktivitas keagamaan dalam masyarakat Islam kota Kolombo khususnya dan Sri Lanka pada umumnya.

Menyadari pentingnya sejarah sebuah bagi ummat Islam, di tahun 1959 salah satu pengurus masjid ini MIL Muhammad Nuhman, melakukan penyusunan sejarah Masjid Agung Kolombo dan hasil penelusurannya terhadap dokumen dokumen yang ada kemudian di presentasikan di hadapan para pengurus Masjid Agung Kolombo pada tanggal 25 Juli 1959. MIL Muhammad Nuhman merupakan salah satu alumni dari Sekolah Islam Hameedia Boys English School tahun 1905 yang dikelola oleh Masjid Agung Kolombo.

The Colombo Grand Mosque (foto dari Panoramio)

Sejarah Singkat Masjid Agung Kolombo

Hingga abad ke enam belas para pedagang Arab sudah melakukan kontak perdagangan dengan dunia timur termasuk Sri Lanka yang kala itu masih bernama Ceylon. Saat itu para pedagang Arab telah secara intensif melakukan perjalanan laut melintasi Samudera Hindia, menghubungkan pos pos perdagangan mereka yang tersebar di sepanjang garis pantai barat Sri Lanka ke Eropa di kawasan laut mediterania. Sebagian dari mereka kemudian menetap di Kolombo, membentuk sebuah komunitas muslim dan mendirikan masjid. Hingga tahun 1505 perdagangan di kawasan Samudera Hindia di kuasai oleh para pedagang Arab.

Masa Penjajahan Portugis 1505-1658

Pada tanggal 15 November 1505 Portugis tiba di Ceylon untuk pertama kali dan membuat sebuah kesepakatan dengan Raja Sri Lanka dari Suku Shinhala King Vijaya Bahu. Untuk membuka pos perdagangan mereka di Kolombo. Portugis yang secara tradisi memusuhi muslim Moor (Maroko) kemudian menyamaratakan semua muslim sebagai musuh tak terkecuali Muslim Arab yang sudah lebih dulu menetap di Kolombo. Portugis juga menyebut muslim Kolombo sebagai bangsa Moor atau Moro dengan maksud merendahkan.

Di gerbang Masjid Agung Kolombo dicantumkan lepas pendirian

masjid ini 15 November 1505, adalah tanggal untuk pertama kali

masjid ini disebut dalam sebuah catatan tertulis (foto panoramio)

Beberapa tahun kemudian gubernur Portugis yang berkuasa di Goa (india) Diego Lopez de Siqueyra, mengutus Lopo De Britto untuk menempati posisi sebagai Kapten untuk wilayah Kolombo (1518-1521) membawa para pekerja untuk membangun sebuah benteng kokoh di Kolombo. Hal tersebut tidak saja untuk memperkuat posisi mereka terhadap serangan kerajaan Shinhala tapi juga untuk melumpuhkan kompetisi perdagangan yang terhadap bangsa Moor / Arab.

King Vijaya Bahu Tidak menentang keinginan Portugis untuk membangun pos perdagangan di Kolombo, tapi beliau cukup tersinggung dengan kelancangan Portugis yang berusaha mendominasi perdagangan laut dengan membangun sebuah benteng. Beliau kemudian melancarkan serangan terhadap Portugis di tahun 1520. Meskipun pasukan Portugis lebih sedikit tapi memiliki keunggulan persenjataan dan kemampuan perang, membuat raja terpaksa menarik mundur pasukannya. Kekalahan tersebut berakibat fatal, pasukan Portugis membumi hanguskan kota Kolombo termasuk bangunan masjid yang sebelumnya sudah berdiri ditengah tengah pemukiman bangsa Arab / Moor.

Muslim Kolombo mengalami masa masa sulit, sebagian dari mereka terpaksa keluar dari Kolombo pindah ke pedalaman dan melakukan perdagangan disana, sebagian lagi pindah ke sisi lain pulau Sri Lanka sementara yang masih tinggal di dalam kota hidup dibawah tekanan penguasa Portugis. Namun gesekan antara Portugis dan etnis Shinhala tak juga mereda, kondisi diperburuk lagi dengan ketidakmampuan Portugis mengimbangi penguasaan perdagangan di kawasan pedalaman yang dikuasai oleh Arab.

Menara masjid ini relatif unik, sedangkan bangunan utama

masjid ini memang tampak terlalu modern buat bangunan

yang dibangun di awal abad ke 19 (foto panoramio)

Tahun 1524 Vasco da Gama tiba di India dalam penjelajajahan ke dua nya, dia diperintahkan oleh Raja Portugis untuk melucuti benteng Kolombo, menyisakan hanya pabrik disana. Benteng nya sendiri pada ahirnya dihancurkan sedangkan pasukan berikut persenjataan artileri yang ada kemudian dipindahkan ke Goa (india). kondisi ini menguntungkan bagi bangsa muslim Arab dan dengan rahmat Allah kemudian membangun kembali sebuah masjid kecil di pusat kota Kolombo di lahan asli bekas masjid pertama yang dihancurkan oleh Portugis.

Tahun tahun setelah itu Portugis mengubah strategi dengan menjalin kerja sama perdagangan dengan Muslim Moor, kondisi yang benar benar menguntungkan Muslim Moor, Portugis memberikan ruang kebebasan kepada ummat Islam. Dalam catatan keluarga S.G Perera disebutkan bahwa populasi kota Kolombo saat itu sebagian besar merupakan kaum muslimin, disana sudah ada Masjid dan pemakaman umum khusus untuk muslim serta memilki peradilan hukum mereka sendiri untuk menyelesaikan perselisihan diantara mereka sesuai dengan syariah Islam.

Masa Penjajahan Belanda 1658 ? 1796 & masuknya muslim Indonesia ke Srilanka

Belanda menguasai Ceylon di tahun 1658 menyingkirkan kekuasaan Portugis, perlakuan Belanda terhadap muslim sama sekali berbeda dengan Portugis disana terutama karena dua alasan, pertama ; karena perbedaan agama dan kedua, Belanda terlalu rakus untuk berbagi lahan dengan orang lain dalam perdagangannya. Serangkaian aturan dikeluarkan untuk melarang orang moor tinggal di dalam kota Kolombo bahkan melarang orang Moor membeli property apapun di dalam kota Kolombo. Kondisi yang memaksa orang Moor pindah ke pedalaman pulau hidup bersama penduduk asli.

Lebih dekat ke menaranya yang unik

foto dari pbase

Ketika menjajah Ceylon, Belanda sudah lebih dulu menjajah Indonesia dibawah kendali Dutch United East India Company / V.O.C. Di zenit kekuasaannya, Belanda membawa tentara tentara bayaran (terkenal dalam sejarah Ceylon menjadi Resimen Melayu) ke Ceylon. Selain itu Belanda pula membuahkan Ceylon menjadi loka pembuangan para tokoh penentang penjajahan mereka pada Indonesia. Tokoh tokoh yg diasingkan disana rata homogen merupakan para raja, pangeran, kalangan ningrat sampai alim ulama. Mereka ditangkap & dibuang ke Ceylon bersama keluarga mereka menjadi tahan politik.

Tahun 1790 atau sebelum tahun tersebut tercatat 176 tahanan politik yang dibuang Belanda ke Ceylon terdiri dari 23 keluarga. Diantara mereka adalah Raja Gusman Usman, Sultan dari Kesultanan Goa (Sulawesi Selatan) bersama dengan salah satu pejabat menteri-nya Hulu Balang Kaya, mereka kemudian tinggal di kawasan Moor Street Kolombo, di lingkungan muslim Moor mengingat kesamaan agama mereka.

Masa Penjajahan Inggris 1796-1948

Kekalahan perang terhadap Inggris menyingkirkan Belanda dari Ceylon. Penguasa Inggris yang kemudian menjadi penjajah terahir Ceylon yang kemudian memperlakukan semua warga Ceylon lebih terhormat tanpa memandang latar belakang, suku bangsa dan ras nya. Muslim Ceylon mendapatkan hak untuk menjalankan syariat Islam dengan lebih baik seiring keluarnya sebuah resolusi 5 Agustus 1804, berupa aturan bagi pelaksanaan hukum Islam bagi muslim yang tinggal di wilayah propinsi Kolombo. Sebagian dari muslim Moor mulai kembali tinggal di Kolombo dan membentuk komunitas disana khususnya di kawasan Pettah secara berkelanjutan menggantikan kawasan yang dulunya di kuasai Belanda.

Pembangunan Ulang Masjid Agung Kolombo

Masjid Agung Kolombo yang kini berdiri dibangun pada masa kekuasaan Inggris di Ceylon. Cukup menarik mencermati segala sesuatu yang terkait dengan pembangunan kembali dan perluasan Masjid ini. Terlebih lagi adanya keterlibatan bangsawan asal Indonesia dalam proses pembangunan kembali dan perluasan masjid ini. Hulu Balang kaya yang sudah disinggung tadi memiliki seorang putra bernama Muhammad Balang Kaya yang begitu dekat dengan muslim Moor Ceylon. Beliau bahkan mengabaikan keberatan dan protes dari keluarga dan teman temannya untuk menikah dengan wanita dari kalangan muslim Moor, dari pernikahan tersebut beliau dikarunia enam orang putra serta tiga orang putri.

Muhammad Balang Kaya adalah seorang arsitek otodidak yang juga merupakan seorang alim ulama. Menyadari bahwa masjid yang ada di New Moor Street ini sudah tidak memadai lagi untuk menampung para jemaah, dengan dukungan dari kolega kolega kaya-nya dari kalangan muslim Moor, beliau kemudian merenovasi dan memperluas masjid tersebut menjadi bangunan masjid berlantai dua yang dirancang sendiri oleh beliau. Hasil kerja beliaulah masjid yang kini berdiri di tengah kota Kolombo. Kala itu merupakan masjid satu satunya dengan rancangan seperti ini dan mungkin bahkan di seluruh Ceylon.

Masjid Agung Kolombo (foto dari Flickr)

Ketika semua proses pembangunan masjid selesai dilaksanakan, gubernur Inggris di Ceylon Letnan Jenderal Sir Edward Barnes, GCB, datang berkunjung ke masjid ini di tahun 1826, beliau memuji hasil kerja Muhammad Balang Kaya yang luar biasa di masjid tersebut. 306 tahun setelah bangunan pertama masjid Agung Kolombo dibumihanguskan oleh Portugis, ahirnya berdiri kembali dengan bentuk yang lebih megah dan lebih luas.

Bangunan gedung tambahan di sisi sayap masjid ini dibangun oleh Mr. I.L.M.H. Muhammad Mohideen di tahun 1897 saat beliau menjadi pengurus Masjid Agung Kolombo. Bangunan tambahan ini selain digunakan sebagai bagian dari masjid juga digunakan sebagai ruang kelas bagi sekolah Hameedia Boys'English School di tahun 1959, bangunan ini juga terkenal dengan sebutan "kanjee maduwam" karena ruang tersebut dijadikan tempat menyajikan bubur nasi untuk berbuka selama bulan Ramadhan.

Sejarah Pengurus Masjid Agung Kolombo

Tanggal 17 Maret 1918, Sembilan puluh dua tahun setelah bangunan masjid besar ini selesai dibangun kembali, Untuk pertama kali dilaksanakan pemilihan secara demokratis dalam upaya memilih dewan pembina dan dewan pengurus. Hasilnya adalah secara bulat memilih Mr. I.L.M.H. Muhammad Mohideen sebagai dewan pembina pertama mengingat beliau sudah sejak lama mengurus masjid tersebut tak hanya menyumbangkan tenaga dan fikirannya tapi juga sumbangan harta bagi masjid tersebut. Terpilih juga dewan pengurus yang terdiri dari 45 orang, masing masing 16 orang sebagai dewan pengurus dan 29 orang anggota. Sejak itu kepengurusan masjid ini mulai berbadan hokum.

Perlu juga di cata bahwa putra bungsu dari Muhammad Balangkaya yang bernama Tuan Bagoos Krawan Balangkaya yang lahir pada hari selasa, 21 Rajab 1243H / 28 January 1827. Adalah seorang alim ulama dan cendekiawan muslim yang kemudian menempati posisi sebagai Khalifah di Kolombo.

dua aksara dipakai di gerbang nama masjid ini (pbase)

Meriam Masjid Agung Kolombo

Satu hal yang menjadi ciri khas dalam sejarah Masjid Agung Kolombo adalah keberadaan sebuah meriam masjid. Meriam ini sengaja di letakkan di masjid oleh para pengurus di kisaran tahun 1898. Meriam ini menjadi bagian dari sejarah masjid. Meriam aslinya dulu senantiasa digunakan sebagai penanda waktu Imsak dan berbuka selama bulan Ramadhan dan penanda tibanya hari raya Idul Fitri.

Meriam yang kini ada di masjid ini merupakan sumbangan dari A.A. Abdul Raheman, beliau adalah salah satu anggota dewan pengurus masjid Agung Kolombo yang juga seorang pedagang perangkat keras di Pettah. Meriam ini dirawat dengan baik oleh imam masjid agung Kolombo C.L.M. Abdul Hameed yang telah bekerja keras memberi yang terbaik bagi maasjid dan jamaah-nya.

Komunitas muslim disana mendapatkan izin spesifik berdasarkan seluruh pemerintahan yang berkuasa pada Ceylon buat membunyikan meriam ini termasuk pada masa perang global kedua dimana semua aktivitas misalnya itu dilarang dilakukan. Meriam masjid ini permanen menggunakan dentumannya semasa bulan Ramadhan sampai ketika ini.

Pemakaman generik

Pada saat selesai dibangun Masjid Agung Kolombo dilengkapi dengan areal pemakaman umum namun kemudian dinyatakan ditutup pada tanggal 21 Oktober 1874 atas permintaan dari pemerintah. Pemakaman generik muslim kemudian dipindahkan ke lahan seluas 1.25 hektar di Maradana Pada tanggal 12 Agustus 1875 bersamaan dengan dibangunnya Masjid di Maradana yang dikenal dengan nama Symonds Road Mosque. Pemakaman generik di sekitar masjid ini pun ahirnya ditutup pada tanggal 21 Mei 1875. Lahan pemakaman baru dibuka di di Maligawatte yang dibeli sejak tanggal 12 Oktober 1874, setahun sebelum ditutupnya pemakaman umum di Maradana. Lahan pemakaman umum di Maligawatte ini masih difungsikan sebagai pemakam umum muslim setidaknya hingga tahun 2002.

Sekolah Islam Al-Madrasatul Hameeda

Sejarah Masjid Agung Kolombo kurang lengkap tampa menyertakan sejarah Sekolah Islam yang terkenal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari masjid ini. peletakan batu pertama pembangunan sekolah ini dilakukan oleh konsul Turki untuk Ceylon pada tanggal 31 Agustus 1900M/1318H. bangunannya sendiri didirikan oleh I.L.M.H. Noordeen, seorang dermawan dan tokoh masyarakat muslim Kolombo, dibantu oleh para sahabat karibnya diantaranya OLM Ahamadu Lebbe Marikar Alim, SL Naina Marikar, AL Abdul Careem, dan SL Mahmood, JP. Yang memberikan segala dukungan bagi pendirian sekolah tersebut. Begitu banyak alumni dari sekolah ini dikemudian hari yang menempati posisi penting baik di pemerintahan, dewan perwakilan hingga duduk di jajaran Kabinet.

Penutup

Masjid Agung Kolombo membuka mata kita, bahwa keterasingan dari akar kehidupan tidak berarti menghentikan langkah kita untuk tetap berkarya nyata bagi masyarakat, melakukan kebaikan dengan niat tulus ikhlas tak kan membatasi kebebasan jiwa siapapun meski raganya jauh terbuang hingga ahir hayat dari tanah kelahiran ke negeri yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, seperti yang di alami oleh para pejuang kita di Sri Lanka tersebut.

Sejarah Masjid Agung Kolombo bila dihitung dari tahun 1505, tarikh untuk pertama kali masjid ini disebut dalam dokumen tertulis milik Portugis hingga saat ini (Desember 2011) sudah berumur lebih dari setengah millennium. Dan bila di ukur dari pembangunan kembali yang dilakukan oleh Muhammad Balang Kaya tahun 1826 hingga kini sudah berumur 185 tahun. Sebuah perjalanan yang teramat panjang bagi sebuah masjid di negeri non Muslim seperti Sri Lanka.

Referensi

rootsweb.ancestry.com - a brief history of colombo grand mosque

---------------------

catatan : lantaran kurangnya literatur mengenai arsitektural dan foto, ulasan mengenai arsitektural masjid ini belum mampu dimuat.

---------------------

Artikel Terkait

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun sang Tentara Resimen Melayu

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Masjid Jami? Cheraman, Masjid Pertama pada India

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done