Islami Pedia: Masjid di Mesir
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Mesir. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Mesir. Show all posts

Thursday, October 29, 2020

Masjid Omar Makram, Saksi Bisu Reformasi Mesir

Patung diri Omar Makram menghadap ke Tahrir Square, sementara Masjid Omar Makram berada di latar belakang foto dengan menara tingginya itu (foto dari teachingthemiddleeast)

Bila anda memperhatikan berita video ataupun berita foto terkait demonstrasi besar besaran rakyat Mesir menuntut pengunduran diri presiden Hosni Mubarak beberapa waktu lalu yang dipusatkan di lapangan Tahrir (Tahrir Square) di pusat kota Kairo, anda akan menemukan sebuah masjid lengkap dengan sebuah bangunan menara tinggi-nya tak jauh dari lokasi tersebut. Masjid tersebut bernama Masjid Omar Makram.

Meski bangunan masjid ini bukanlah sebuah bangunan masjid kuno namun masjid ini memiliki sejarah sendiri dalam proses reformasi Mesir. Selama terjadinya demonstrasi besar besaran rakyat Mesir di Lapangan Tahrir, masjid Omar Makram ini tidak saja menjadi sebagai tempat ibadah bagi ummat Islam namun mendadak menjadi bangunan multi fungsi termasuk di dalamnya sebagai rumah sakit lapangan untuk para demonstran.

Paramedis begitu sibuk menjalankan tugas mereka merawat dan mengobati para demonstran yan cidera selama demonstrasi. Masjid ini juga tidak luput dari serbuan aparat kepolisian Mesir yg menghalau para demonstran, termasuk menjadi target tembakan gas air mata buat membubarkan demonstran.

Sebagian ruangan masjid ini dijadikan tempat menginap, istirahat, ruang perawatan Lebih menurut 2000 demonstran terluka dampak friksi menggunakan polisi, sampai menjadi gudang logistik supply kuliner dan obat obatan. Masjid ini juga menjadi loka perlindungan para demonstan selama proses demonstrasi masa akbar besaran yang terpusat pada Lapangan Tahrir pada depan masjid ini. Sebuah saksi bisu atas sebuah tuntutan besar bagi sebuah reformasi pada negeri yang menjadi tempat tinggal bagi sebuah peradaban antik.

Lokasi Masjid Omar Makram

Masjid Omar Makram

Bab al-Louk, Tahrir square

Cairo, Egypt

Sejarah Pembangunan Masjid Omar Makram

Masjid Omar Makram dibangun untuk mengenang perjuangan Omar Makram atas jasanya menentang tentara pendudukan Prancis dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte yang berusaha menjajah Mesir pada masa Mesir masih menjadi bagian dari wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang berpusat di Istambul, Turki. Bedirinya masjid ini menjadikan nama sang pejuang tetap hidup dalam masyarakat Mesir.

Masjid Omar Pasha yang kini menjadi Ikon Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo, dibangun oleh Raja Farouq di tahun 1948 yang tak lain dan tak bukan adalah keturunan dari Muhammad Ali Pasha, raja Mesir dari dinasti Muhammad Ali yang naik ke kursi kekuasaan atas perjuangan Almarhum Omar Makram.

Lautan manusia di Tahrir Square semasa demonstrasi massa menentang pemerintahan Hosni Mubarak, Masjid Omar Makram ada disebelah kiri foto. (foto dariwikipedia)

Tak hanya membangun masjid dengan nama Omar Makram, tokoh nasional Mesir ini juga dikenang dengan dibuatkan sebuah patung diri Omar Makram di tahun 2003 dalam ukuran besar menghadap ke lapangan Tahrir tak seberapa jauh dari Masjid Omar Makram. Dua Ikon Omar Makram ini menjadi salah satu objek foto menarik bagi siapa saja yang berkunjung ke Lapangan Tahrir.

Siapakah Omar Makram

Naqib al-Ashraf Sayyid ‘Umar bin Husayn Makram (1750 or 1755-1822) atau lebih dikenal dengan nama Omar Makram adalah seorang pemimpin revolusi nasinal Mesir melawan invasi  tentara Prancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798-1800, dimasa Mesir masih menjadi bagian dari wilayah ke-Khalifahan Usmaniah yang berpusat di kota Istambul, Turki.

Lukisan wajah Omar Makram

Beliau juga merupakan figur sentral yang berhasil mendapatkan dukungan relijius bagi pengakuan terhadap Muhammad Ali Pasha sebagai Raja Muda Mesir, sekaligus pendirian dinasti Muhammad Ali sebagai penguasa Mesir hingga tahun 1952 (dan berkuasa hingga tahun 1953). Namun nasib Omar Makram tak jauh berbeda dengan nasib King Maker lainnya, beliau justru dijatuhkan oleh Muhammad Ali Pasha yang telah diantarkannya ke kursi kekuasaan.

Omar Makram lahir di Asyut di kawasan Upper Egypt sekitar tahun 1750 atau tahun 1755. Beliau adalah lulusan dari Universitas Al-Azhar, beliau juga disebut sebut merupakan keturunan Rosulullah S.A.W. Di tahun 1793 beliau berhasil mendapatkan jabatan Naqib al-Ashraf, sebuah jabatan penting dimasa ke-Khalifahan Usmaniyah.

Sebuah jabatan administratif yang memegang posisi penting dalam urusan keagamaan dan jabatan sipil sebagai kepala lembaga keturunan Rosulullah. Beliau kemudian berbagi kewenangan dengan pemimpin Al-Azhar dan pemimpin para Sufi. Beliau juga dikenal sebagai tokoh penentang penerapan pajak tinggi bahkan jauh sebelum era kedatangan pasukan Prancis di Mesir.

Pahlawan Penentang Penjajahan Mesir

Tatkala ekspedisi Napoleon Bonaparte mendarat disekitar Alexandria tahun 1798, Omar Makram turut membantu pengornaisasian gerakan perlawanan terhadap pendudukan Prancis. Setelah Prancis berhasil dikalahkan oleh dinasti Mamluk di Imbaba, Kairo tak terkalahkan kecuali oleh milisi local yang dibentuk oleh Omar Makram bersama para pemuka agama lainnya.

Lapangan Tahrir dengan menara Masjid Omar Makram dalam suasana normal, lapangan ini memang lapangan terbesar di kota Kairo (foto dari wikipedia)

Beliau melepaskan jabatannya tatkala Kairo jatuh ke tangan Prancis dan mundur ke Bilbays, memimpin perlawanan di propinsi Sharqiyya. Beliau mundur hingga ke Gaza (kini di Palestina) kemudian ke Jaffa (juga di Palestina) sampai kemudian tahun 1798 beliau tertangkap oleh pasukan Prancis saat penyerbuan Prancis ke Palestina dan dipulangkan ke Mesir.

Omar Makram kembali ke Kairo paska kembalinya pasukan Napoleon Bonaparte ke Prancis, di tahun 1800 beliau memimpin sebuah organisasi perlawanan baru terhadap penjajahan Prancis terhadap Mesir.  Ketika Prancis meninggalkan Mesir Omar Makram sudah dikenal luas sebagai aktivis pergerakan yang memiliki kemampuan memobilisasi masa termasuk mengorganisir aksi boykot oleh para penjaga toko dan bentuk bentuk protes jalanan lainnya, membuat dirinya begitu berpengaruh sepanjang tahun tahun anarkis selama proses penarikan pasukan Prancis dari Mesir.

Pihak pendudukan Prancis beberapa kali berupaya melumpuhkan kekuasaan dinasti Mamluk, dan perjuangan untuk mengembalikan kekuasan Mamluk serta kekuasaan dinasti Umayyah yang berkali kali berupaya mengembalikan kekuasan Mereka di wilayah Mesir memicu perjuangan internal bagi Mesir selama bertahun tahun.

The King Maker

lapangan Tahir dan Masjid Omar Makram dari sudut yang sama dengan foto sebelumnya dalam suasana siang hari di kondisi normal (foto dari panoramio)

Makram dan para ulama lainnya memainkan peran aktif selama masa ini. di tahun 1805 beliau dan pemimpin agama lainnya berupaya mendepak Raja Muda Usmaniyah, Khurshid Pasha dari tampuk kekuasaan di Mesir dan menggantikannya dengan pemimpin militer Albania yang juga seorang petualang sejati, Muhammad Ali Pasha. Perjuangan tersebut berhasil menaikkan Muhammad Ali Pasha ke tampuk kekuasaan dan mendirikan dinasti baru memimpin Mesir selama beberapa generasi hingga pertengahan abad 20.

Persekutuan antara Omar Makram dan Muhammad Ali Pasha terjalin selama beberapa tahun. Mereka juga memberikan dukungan kepada Muhammad Ali Pasha untuk menolak semua perintah dari para Khalifah Usmaniyah yang berpusat di Istambul mengakibatkan munculnya upaya untuk mengusirnya keluar dari Mesir, tanah yang direbutnya dari dinasti Mamluk. (dinasti Mamluk sendiri ahirnya berahir di tahun 1811).

Ketika Ekspedisi Inggris merebut Alexandria di tahun 1807 (Usmaniyah bersekutu dengan Prancis dalam perang Napoleon Bonaparte, sehingga Inggris teribat dalam perang Porte tahun 1807 -1809), Makram membantu mengorganisir perlawanan di Kairo sedangkan Muhammad ‘Ali Pasha berperang melawan pemberontakan dinasti Mamluk di Upper Egypt.

Nasib Ironis Sang Pahlawan & King Maker

Masjid Omar Makram, seperti halnya rancangan masjid masjid lainnya di Mesir, Masjid Omar Makram juga dibangun dalam Arabia dengan sedikit sentuhan soviet. beberapa penulis menggambarkan masjid ini laksana sistem birokrasi mesir semasa masjid ini dibangun (foto dari panoramio dengan sedikit editing)

Di sisi lain Muhammad Ali Pasha sendiri berkali kali menggunakan Omar Makram dan lembaga keagamaan untuk melegalkan upayanya untuk menaikkan pajak dan upaya mengambil alih pajak lahan pertanian (iltizam) milik dinasti Mamluk. Upaya upaya Muhammad Ali Pasha untuk menjadikan dirinya sebagai sentral kekuasaan memicu perpecahan aliansi-nya dengan Omar Makram. Berkali kali Omar Makram memobilisasi massa di jalanan kota Kairo menentang kebijakan para tokoh politik negara.

Akibatnya beliau mulai dicurigai oleh Muhammad Ali Pasha dan koleganya, yang tadinya justru naik ke tampuk kekuasaan atas jasa Omar Makram sang King Maker. Puncaknya terjadi di tahun 1809, Omar Makram memimpin pemberontakan menentang Pajak namun justru membuatnya terpojok, beliau kehilangan semua jabatannya lalu diasingkan ke Damietta kemudian dipindahkan ke Tanta sampai beliau wafat ditahun 1822.

Nasib Omar Makram memang sangat ironis. Beliau adalah seorang pejuang yang menentang pendudukan Prancis atas negerinya, menjadikan beliau sebagai symbol bagi rakyat Mesir bagi perjuangan menentang penjajahan asing atas Mesir, semangat yang sama muncul ketika menentang penjajahan Inggris. Beliau yang memperjuangkan bedirinya dinasti Muhammad Ali berkuasa di Mesir namun Ironisnya justru beliau terjungkal oleh sang raja yang diperjuangkannya.

tembakan gas air mata dari aparat keamanan Mesir yang ditujukan untuk membubarkan massa demonstran di lapangan Tahrir tak urung turut menghajar Masjid Omar Makram yang memang berada di lokasi tersebut dan menjadi pusat perlindungan demonstran yang menjadi korban (foto dari album picasa)

Lebih ironisnya lagi, Masjid Omar Pasha yang kini menjadi Ikon Lapangan Tahrir di pusat kota Kairo itu justru dibangun oleh Raja Farouq (1920-1965) yang tak lain dan tak bukan adalah keturunan dari Muhammad Ali Pasha, sang raja yang dulu menyingkirkannya sampai beliau wafat di pengasingan.

Dirayakan di Prancis, sepi pada Mesir

Perayaan mengenang Omar Makram senantiasa diselenggarakan di Louvre, Prancis meskipun tak ada perayaan yang sama di Mesir. Dalam perayaan mengenang Omar Makram pemerintah Kota Louvre mengundang Mahmoud Makram yang merupakan cucu dari Omar Makram untuk menghadiri perayaan tersebut. Dalam satu kesempatan mahmoud Makram sempat berujar “saya senang dapat melihat sebuah perayaan mengenang sejarah dan pencapai kakek saya di Louvre, namun disaat yang sama saya juga sedih karena tidak adanya perayaan serupa yang diselenggarakan di Mesir”.

Dia melanjutkan “kami ini tidak saja sebagai anggota keluarga dari Omar Makram, namun juga merupakan keturunan dari Al-Mahdi, Sheikh Al-Azhar”. Keturunan Omar Makram merasa pemerintah Mesir kurang memberikan penghormatan kepada Omar Makram. Pihak keluarga sempat meminta pemerintah Mesir untuk merenovasi bekas kediaman Omar Makram, termasuk membangun museum untuk menyimpan dan menampilkan seluruh perjuangan dan catatan pencapaian beliau. .

Rangkaian foto yg diambil menurut aneka macam sumber diatas meenggambarkan suasan pada masjid Omar Makram selama demonstrasi akbar besaran yang berpusat di lapangan Tahrir, sentra kota Kairo.

Makam Omar Makram sendiri hanya mendapatkan sedikit perhatian dari pemerintah, pihak kementerian kebudayaan Mesir berdalih bahwa makam Omar Makram tidak tercatat sebagai situs bersejarah karenanya tidak mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah, meskipun begitu sebuah makam keluarga dalam ukuran kecil di daerah Azramk Dome masuk dalam dafta benda bersejarah. Akibatnya, pihak keluarga melakukan renovasi sendiri tanpa merasa perlu mendapatkan izin dari Kementrian kebudayaan.

Cucu Omar Makram mengakui bahwa pihak keluarga menerima dana bulanan berdasarkan dinas purbakala buat biaya perawatan & renovasi namun diserahkan sepenuhnya pada pihak keluarga buat pengelolaannya. Pihak keluarga bahkan melakukan publikasi sendiri buat membukukan biografi Omar Makram.

Aktivitas Masjid Omar Makram

Dikondisi normal Masjid Omar Makram ini dibawah kendali kementrian Agama & Wakaf. Selain menjadi loka ibadah, pengelola masjid juga menjadi pusat pendidikan keliru satunya adalah menyelenggarakan pendidikan personal komputer buat umum menggunakan porto murah.

dan ini kondisi Masjid Omar Makram dalam suasana normal (foto dari mideasti)

Karena lokasinya yang berada di lokasi strategis menjadikan masjid ini begitu masyur sebagai tempat penyelenggaraan jenazah bagi tokoh tokoh politik, actor hingga tokoh ternama dan selebriti Mesir yang meninggal dunia, hingga ke proses pemakaman, meskipun biaya penyelenggaraan prosesi tersebut tidaklah murah, satu prosesi penyelenggaraan jenazah di masjid ini mencapai 4000-an Pound Mesir, dana tersebut nantinya dipakai oleh pengurus masjid bagi kepentingan amal.

Masjid Omar Makram juga menjadi lokasi akad nikah pavorit bagi keluarga kaya dan terpandang, mengingat lokasinya yang berada di lokasi paling begengsi di kota Kairo, menyelenggarakan pernikahan di masjid ini menjadi momen luar biasa bagi setiap pasangan pengantin dan keluarganya. Dua ruang hall berukuran besar di masjid ini yang dijadikan ruang resepsi.

Dalam syarat normal jemaah masjid ini mencapai hingga 3000 jemaah perhari, maklum lokasinya memang berada pada kawasan usaha super sibuk pada pusat kota Kairo, pada tempat ini berdiri perhotelan kelas atas termasuk tempat kerja kantor pejabat tinggi pemerintahan Mesir. Tetapi pada hari Jum?At jumlah jemaah tersebut melonjak berkali lipat.

Paska demonstrasi massa besar besaran yg melibatkan Masjid Omar Makram ini ke dalam catatan sejarah reformasi Mesir itu, tentunya menggunakan sendirinya akan semakin meningkatkan rating masjid ini sebagai pilihan paling menarik bagi pasangan pasangan muda berdasarkan keluarga muslim kaya kota Kairo buat melaksanakan upacara akad nikah mereka pada masjid ini.

Referensi

touregypt.net - Omar Makram An Egyptian Hero Still a Little Lost in Egypt

mideasti  - ‘Umar Makram: The "Patron Saint" of Tahrir Square

gulfnews.com - Cairo mosque becomes protest rallying point

egypttravelsearch.net Omar Makram Mosque & Rooms occasions

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 2)

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Suasana sholat tarawih di Masjid Amru Bin Ash, ketika jemaahnya membludak hingga ke luar areal masjid selama bulan suci Ramadhan (foto dari wn.com)

Republik Arab Mesir, orang Melayu termasuk Indonesia mengenalnya dengan nama Mesir dari kata Bahasa Arab, ‘Misri’ sedangkan orang Eropa terbiasa menyebutnya Egypt, Negeri tua yang beribota di Kairo. Kairo sendiri merupakan sebuah kota tua yang seringkali dijuluki sebagai kota seribu menara saking banyaknya menara di kota tua satu ini. Kota yang menjadi salah satu tujuan pavorit mahasiswa Islam seluruh dunia untuk melanjutkan pendidikannya ke sana.

Sebagai kota seribu menara, Kairo memiliku begitu banyak masjid masjid megah, tua dan bersejarah. Satu dari sekian banyak masjid bersejarah di kota ini adalah Masjid Amru bin Ash. Masjid tua yang dinamai sesuai dengan nama pendirinya Amru bin Ash. Beliau adalah Sahabat Baginda Rosulullah S.A.W. Beliau juga adalah panglima perang Islam pembebas dan penakluk Mesir dari kekuasaan Kekaisaran Romawi. Atas jasanya beliau mendapatkan kedudukan sebagai Gubernur Mesir pertama dimasa Khalifah Umar Bin Khattab. Selama memertinah Amru Bin Ash sempat membangun beberapa masjid diantaranya adalah Masjid Amru bin Al Ash, masjid Atiq, masjid Tajul Jawami’ dan masjid Ahli Arrayah.

View Masjid Amru Bin Ash in a larger map

Masjid Amru Bin Ash ini seringkali disebut oleh sejarawan arab abad pertengahan sebagai 'Taj Al-Jawami' atau 'Mahkotanya Masjid'. Meskipun bangunan masjid yang kini berdiri bukanlah bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Amru Bin Ash tahun 641-642M namun perjalanan sejarahnya lah yang menjadikan masjid ini tak ternilai. Catatan sejarah juga menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga melibatkan Al-Muqawqis yang merupakan keponakan dari Wali Mesir di masa kekuasaan Romawi dan kemudian masuk Islam. Beliau turut serta dalam proses perancangan masjid ini.

Mesjid ini berada di wilayah Fusthath dibagian kota tua Kairo. Di lokasi ini dulunya pada masa penyerbuan pasukan Amru bin Ash, beliau mendirikan tenda komando, konon di seekor burung dara liar kemudian bersarang dan bertelur di atap tenda beliau. Paska penaklukan Mesir, Amru bin Ash mendapat arahan dari Khalifah Umar untuk mendirikan pusat pemerintahan baru tak jauh dari kota Alexandria.

Dan pilihan Amru bin Ash adalah lokasi dimana tendanya pertama kali di didirikan, maka dimulailah pembangunan kota baru yang dinamai Misri Al- Fustat atau kota tenda di lokasi tersebut. Dikemudian hari di lokasi tempat tenda beliau yang atapnya dijadikan sarang oleh burung dara tersebut menjadi tempat berdirinya Masjid Amru bin Ash yang masih berdiri kokoh hingga kini. Kini di salah satu sudut masjid ini terdapat makam Abdullah, putra Amru bin Ash.

Arsitektural Masjid Amru Bin Ash

Seperti umumnya masjid-masid kuno lainnya di mesir, bangunan masjid Amr berdenah empat persegi panjang, Dilengkapi dengan halaman tengah yang dibiarkan terbuka tanpa atap tapi berlantai marmer. Ditengah halaman tengah ini berdiri sebuah bangunan kubah bertiang delapan tempat disediakannya air siap minum bagi jemaah, airnya segar dan dingin. Lokasi ini pernah diabadikan dalam adegan Film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy.

bagian depan Masjid Amru Bin Ash (foto dari Panoramio)

Secara keseluruhan bangunan masjid Amru Bin Ash ini merupakan bangunan besar berdinding tembok massif dengan atap datar seperti kebanyakan bangunan tradisional arabia lainnya. Jendela jendela masjid dibangun cukup tinggi dengan bukaan lebar. bagian tembok luar masjid ini yang begitu tinggi sekilas tampak seperti bangunan benteng. Masing masing jendelanya tidak dilengkapi daun pintu tapi ukiran kerrawang berpola simetris.

Masuk ke dalam masjid, berjejer pilar pilar batu pualam bergaya romawi menopang struktur atap masjid. masing masing pilar dihubungkan satu dengan yang lainnya dengan sebatang palang kayu dan bentuk lengkungan. Bentuk pilar yang memang serupa dengan pilar pilar Masjid Agung Damaskus di Syria ataupun Masjid Al-Aqso di Palestina. Ke arah manapun kita memandang di dalam masjid ini akan ditemukan pemandangan yang serupa.

Interior masjid Amru Bin Ash (foto dari memphistours)

Lampu lampu gantung antic ukuran kecil menghias bagian dalam masjid ini. sementara hamparan karpet merah berpola sajadah menutup seluruh permukaan lantai. Atapnya yang tinggi, jendela dengan bukaan lebar namun ditempatkan pada posisi yang cukup tinggi menghasilkan suasan yang sejuk dan tenang di dalam masjid ini meskipun ditengah panasnya cuaca di luar masjid.

Mihrabnya dibangun berdenah setengah lingkaran dengan ornament ukiran warna emas. Sedangkan mimbarnya sangat khas mihrab masjid masjid Mesir, berupa mimbar kayu yang cukup tinggi tanpa podium. Bila memandang ke atas, sisi langit langit masjid ini memang dibiarkan terbuka tanpa plafon, jejeran balok kayu tertata rapi di bawah atap. Di bagian dalam masjid ini juga ditempatkan beberapa bangku panjang yang disediakan khusus bagi jemaah yang tidak mampu duduk di lantai ataupun berdiri dengan baik.

Hal lain yang cukup menarik bagi jemaah yang pernah ke masjid ini adalah area tempat wudlu-nya. Tempat wudhlunya dibagi menjadi dua. Tempat pertama diperuntukkan bagi yang menggunakan sandal, sementara yang menggunakan sepatu bisa melepasnya dan tanpa alas kaki langsung mengambil wudlu di tempat yang disediakan.

Bersambung ke bagian-2

Gerbang utama Masjid Amru Bin Ash (foto dari fightforjusticeforever)

Fasad depan bangunan masjid Amru Bin Ash (foto dari Flickr)

Sisi depan Masjid Amru Bin Ash (foto dari eltayebtravel)

Referensi

archnet.org – early Islamic architecture in cairo pdf file

archnet.org – Jami' 'Amr ibn al-'As

karawang.us - amr-bin-ash-mosque-egypt-oldest-mosque

en.wikipedia - Mosque_of_Amr_ibn_al-As

dedenmaulidarajat - menengok-masjid-pertama-di-afrika

egyptfan - Mosque of Amr ibn al-As

allangkati - kota-fusthath-dan-masjid-amr-bin-ash

kompasiana - menikmati-sunyi-di-masjid-amr-bin-ash

masisironline - mesjid-amr-bin-ash

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 2)

Lautan manusia membanjiri Masjid Amru Bin Ash di malam hari selama bulan suci Ramadhan (foto dari masisironline)

Sejarah Masjid Amru Bin Ash

Masjid Amru bin Ash di Kairo, Ibukota Mesir disebut sebut sebagai masjid tertua di Mesir dan di seluruh benua Afrika. Dibangun oleh Amru bin Ash pada tahun 641 Masehi bertepatan dengan tahun ke 21 Hijirah tak lama setelah penaklukan Mesir. Gubernur Amru bin Ash membuka Mesir dan membangun kotaFusthat sebagai ibu kota Islam pertama di Mesir pada 1 Muharram 20 H./8 November 641 M.

Selama proses pembangunan masjid ini setidaknya melibatkan enam puluh orang sahabat Rosulullah, mereka juga yang menentukan arah kiblat masjid ini. Diantara para sahabat yang turut serta dalam pembangunan awal masjid ini adalah Zubair bin Awam, alMiqdad, Ubadah Bin Shamat, Abu Darda, Abu Zar Al Gifari, Abu Bashrah, Mahmiyah bin Jaza’ Azzubaidi, dan Nabih bin Shawwab Al Bashra, ridhwanullahi alaihim dan lain lain.

Gerbang utama masjid Amru Bin Ash (foto dari Wikipedia)

Denah bangunan masjidnya dibangun persegi panjang dengan ukuran panjang 28.9 meter dan lebar 17.4 meter. Pada mulanya dibangun menggunakan dinding batu bata, beralaskan batu kerikil dan beratapkan daun kurma, ditopang oleh pohon kurma sebagai tiangnya, bangunan utamanya dilengkapi dengan enam pintu akses.

Masjid Amru bin Al Ash diresmikan dengan melaksanakan shalat Juma’at pertama, pada 6 Muharram 21 H./ 17 Desember 642 M, masjid pertama di Mesir dan benua Afrika, menjadi bangunan masjid ke empat di dunia, setelah masjid Nabawi, masjid Bashrah dan masjid Kufah. Namun bangunan awal mesjid ini sudah tidak ada yang tersisa.

Renovasi dan Perluasan Masjid Amru Bin Ash

Foto tua masjid Amru Bin Ash ketika belum di renovasi (foto dari archnet)

Orang yang pertama merenovasi masjid Amru bin Al Ash adalah Maslamah bin Al-Anshori Mukhallad Al Anshari selaku Wali Mesir pada masa kekuasaan Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan di tahun ke 53 Hijriah (672/673M). Di masa itu bangunan asli masjid diperluas kemudian ditambahkan empat menara di masing masing penjuru bangunan masjid dengan tangga di sisi luarnya, sebagai tempat muazin mengumandangkan azan, setelah sebelumnya azan di lantunkan dari atap masjid.

Penambahan empat menara pada tiap sudut masjid ini merupakan perintah langsung dari Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan yang berkedudukan di Damaskus. Itu sebabnya beberapa sejarawan menyatakan bahwa penambahan empat menara tersebut terinspirasi dari Masjid Agung Damaskus yang sudah lebih dulu dibangun dengan empat menara. Sejak saat itu semua bangunan masjid di Mesir dilengkapi dengan menara.

Jemaah masjid Amru Bin Ash di Halaman tengah masjid. bangunan berkubah kuning itu adalah area tempat air minum bagi jemaah.

Kemudian diperluas lagi oleh Abdul Aziz bin Marwan (gubernur Mesir ketika itu) tahun 79H/698M dengan menambah luas ukuran masjid ini dua kali lipat. Di tahun 711 denah mihrab yang sebelumnya berbentuk datar kemudian dibangun setengah lingkaran. Di masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik Bin Marwan masjid ini kembali diperbesar oleh Abdullah Malik bin Thahir tahun ke 827M, beliau menambahkan tujuh banjar pilar di dalam masjid ini, pilar paling depan dan belakang menempel ke tembok, penambahan tersebut dengan sendirinya menggandakan ukuran masjid ini. Sampai sekarang luasnya mesjid Amru Bin Ash tidak berubah dari perluasan Abdul Malik Bin Thahir,

Di abad ke 9 masehi masjid ini kembali direnovasi oleh Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Beliau menambahkan area baru di sisi barat daya masjid, menambah luas keseluruhan masjid ini menjadi 120m x 112m. Pada masa kekuasaan Dinasti Fathimiyah Masjid Amru Bin Ash memiliki lima buah menara, satu tambahan menara dibangun di area gerbang utama namun menara ke lima ini kini sudah tidak ada lagi.

Sisi mihrab Masjid Amru Bin Ash (foto dari fightforjusticeforever)

Masih di masa dinasti Fathimiyah, Khalifah Al-Mustansir menambahkan ornamen dari perak pada ruang mihrab masjid namun kemudian dibongkar pada saat restorasi masjid di masa Sultan Salahudin Al-Ayubi. Pada tahun 1169M, Syawur, Menteri khalifah Al Adhid li Dinillah, khalifah terahir Dinasti Fathimiyah memerintahkan tentaranya untuk membumihanguskan kota Al Fushthath dan masjid Amru bin Al Ash, sehingga terbakar sampai 53 hari, demi mengelabui Amuri, raja Yarussalem yang bekerja sama dengan tentara perang salib, untuk menjajah Mesir.

Salahudin Al-Ayubi yang kemudian berhasil merebut kembali kota ini setelah berhasil mengalahkan pasukan Salib gabungan dari negara negara Eropa, beliau mulai membangun kembali kota Fustath dari kehancuran termasuk merestorasi Masjid Amru Bin Ash di tahun 568H/1172M sedangkan sumber lain menyebut angka tahun 1179M.

Di dalam Masjid Amru Bin Ash (foto dari Wikipedia)

Burhan al-Din Ibrahim al-Mahalli pernah melakukan restorasi atas masjid ini dengan biayanya sendiri di abad ke 14 Masehi. Pernah juga direstorasi oleh Amir Salar setelah mengalami kerusakan akibat gempa di tahun 1303M, beliau yang menambahkan ornamen stako pada sisi luar bangunan mihrab, namun kini ornamen tersebut sudah tidak ada lagi.

Di abad ke 18 Masehi, Murad Bey dari Dinasti Mamluk dengan terpaksa menghancurkan masjid Amru Bin Ash karena kerusakan yang sudah teramat parah dan kemudian membangunnya kembali di tahun 1796-1800, sebelum kedatangan ekspedisi militer Napoleon Bonaparte dari Prancis ke Mesir. Murad Bey mengurangi jumlah baris pilar di dalam masjid dari tujuh deret pilar menjadi enam deret pilar dan meluruskan arah kiblatnya. Bangunan menara yang kini berdiri merupakan bangunan dari era Murad Bey.

Jejeran pilar pilar di dalam masjid ini menghasilkan lorong diantara masing masing deret masing masing pilar tersebut (foto dari imamhasanuddin)

Di tahun 1875 masjid ini kembali direnovasi oleh Sultan Muhammad Ali. Sedangkan di abad ke 20 masehi semasa kekuasaan Abbas Hilmi II masjid Amru Bin Ash kembali di restorasi. Bagian dari pintu gerbang utama di rekonstruksi pada tahun 1980. Masjid Amru Bin Ash terakhir kali direnovasi pada masa pemerintahan Presiden Husni Mubarak pada tahun 1998. Bagian paling tua dari masjid ini tersisa beberapa bagian pada sisi sepanjang tembok selantan masjid yang kemungkinan besar merupakan peningalan dari rekonstruksi tahun 827M.

Pusat Pendidikan Islam Pertama di Benua Afrika

Sebelum masjid Al Azhar dibangun, masjid Amru bin Al Ash menjadi pusat pendidikan Islam, para pengajarnya terdiri dari para shahabat Rasulullah saw. Di antaranya; Abdullah bin Amru bin Al Ash (sebagai inisiator dan pendiri), Abdullah bin Sa’ad bin Abi sarh Al Amiri, Azzubair bin Al Awwam, Al Miqdad bin Al Aswad, Ubbadah bin Ashshamit, Abdullah bin Umar bin Al Khaththab, Kharijah bin Huzafah Al Adawi, ridhwanullahi alaihim, dll.

Halaman tengah Masjid Amru Bin Ash di siang hari pada hari biasa dibiarkan terbuka tanpa hamparan karpet merah sebagai sajadah. (foto dari flickr)

Demikian pula dengan Imam Syafi’I, pendiri mazhab Syafi’i, setelah datang ke Mesir, dia mengajar di masjid Amru bin Al Ash sampai meninggal di Mesir. Imam Syafi’I dilahirkan di Ashkelon, Gaza, Palestina, pada tahun 150 H / 767M  dan wafat serta dimakamkan di Fusthat, Mesir tahun 204H / 819M. Hingga hari ini Masjid Amru Bin Ash masih digungakan oleh para mahasiswa Universitas Al-Azhar untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an.

Ulama Mesir yang terkenal, jebolan Masjid Amru bin Al Ash, di antaranya; Pangeran Abdul Aziz bin Marwan bin Al Hakam Al Umawi, Yazid bin Habib (Suwaid Al Azdi Abu Raja’ Al Misri), Abu Abdirrahman Abdillah bin Luhaiah Al Hadhrami, dan Allaist bin Saad bin Abdirrahman Al Fahmi.

Kisah Wanita Tua Yahudi dan Amru bin Ash

Suasana Iktikaf di masjid Amru Bin Ash (foto dari kompasianer)

Sisi lain dari sejarah Masjid Amru Bin Ash adalah kisah tentang seorang wanita tua Yahudi yang mengadukan Amru bin Ash ke Khalifah Umar di Madinah. Sebuah kisah teladan yang begitu berharga. Kisah ini pernah menjadi topik ceramah kyai sejuta ummat (alm) Zainudin MZ. Disebutkan bahwa Gubernur Amru bin Ash berniat untuk membangun masjid besar di atas tanah yang cukup luas tak jauh dari kediaman resminya.

Hanya saja di atas lahan tersebut terdapat sebuah gubuk milik seorang Yahudi tua. Amru bin Ash sudah melakukan negosiasi langsung dengan-nya namun Yahudi tua tersebut menolah untuk menyerahkan tanah milik-nya, hal tersebut membuat Gubernur Amru bin Ash naik pitam dan memerintahkan pembongkaran paksa atas gubuk reot tersebut. Dalam keputus-asa-an menghadapi kesewenangan gubernurnya, Yahudi tua tersebut memutuskan untuk mengadu ke Khalifah Umar Bin Khattab di Madinah.

Selain nyaman untuk sholat, masjid ini juga nyaman untuk ngaso sejenak, beberapa dari jemaah bahkan meluangkan waktu sejenak untuk tidur siang di masjid ini (foto dari Wikipedia)

Peristiwa setelah itu mengubah segalanya. Yahudi tua tersebut sama sekali tak menduga bahwa Khalifah yang ditemuinya adalah seorang yang sangat sederhana jauh dari kemewahan, lebih terheran heran lagi ketika setelah mengadukan masalahnya, khalifah Umar ternyata marah besar dan meminta-nya untuk mengambil sepotong tulang, lalu dengan ujung pedangnya Umar menorehkan garis lurus di potongan tulang tersebut dan meminta Yahudi tua tersebut memberikan tulang itu langsung ke Gubernur Amru bin Ash di Mesir.

Seketika setelah menerima potongan tulang dari Yahudi tua itu, Gubernur Amru bin Ash pucat pasi dan serta merta memerintahkan semua bawahannya untuk mengentikan pembangunan masjid di lahan Yahudi tua tersebut dan memerintahkan menghancurkan bangunan masjid yang sudah setengah jadi berdiri disana. Kontan saja tindakan itu membuat Yahudi tua itu terhenyak dalam keheran yang bertubi tubi sejak dia bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Seorang lelaki tua sedang serius membaca kitab Suci Al-Qur’an di Masjid Amru Bin Ash (foto dari antara)

Gubernur Amru bin Ash yang kemudian menjelaskan semuanya setelah meminta maaf atas kesewenang wenangnannya. Beliau menjelaskan bahwa tulang yang diserahkan Yahudi tua itu adalah perintah langsung dari Khalifah kepada dirinya selaku gubernur, untuk senantiasa bertindah adil, bertindak lurus baik dari kalangan atas sampai kalangan paling bawah seperti hurup alif yang digoreskan khalifah Umar di atas tulang tersebut, bilamana tak mampu menjalankan amanah dengan adil maka pedang khalifah Umar sendiri yang akan memenggal kepalanya. Itu sebabnya Gubernur Amru bin Ash langsung pucat pasi menerima peringatan langsung dari Khalifah tersebut.

Alih alih gembira dengan keputusan gubernurnya yang menghentikan pembangunan masjid di atas lahan miliknya, Yahudi tua tersebut malah meminta khalifah untuk menghentikan pembongkaran bangunan masjid yang sedang dibangun itu. Dia mengaku sangat kagum dengan kepemimpinan Khalifah Umar yang begitu adil dan sangat kagum dengan ajaran Islam dan karenanya dia ridho menyerahkan lahannya untuk dibangun masjid dan meminta Gubernur Amru bin Ash untuk membimbingnya masuk Islam. Subhanallah.

Aktivitas Masjid Amru Bin Ash

Ukiran halus menjadi penghias di lengkungan dalam di Masjid Amru Bin Ash (pcinu-mesir)

Masjid Amr bin Ash atauGami Amru begitu orang-orang Mesir biasa menyebutnya. Telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di kota Kairo. Sebagai tempat wisata, areal masjid ini pun dijaga oleh mabahist. Memasuki pelataran masjid ini pengunjung disambut ramah oleh suara cericit burung yang terbang bebas di areal Masjid.

Burung-burung itu berloncatan di langit-langit mesjid, menukik tajam lalu terbang menerobos ventilasi yang ada di dinding Masjid dan telah menjadikan areal masjid ini sebagai habitatnya. Burung-burung tersebut bersarang di lampu-lampu gantung yang terletak disekeliling masjid. Mungkin karena tidak adanya hutan di Mesir, sehingga burung-burung itu pun memilih gedung-gedung tua untuk dijadikan tempat berhabitat.

dan ini adalah salah satu sudut masjid yang disediakan bangku panjang bagi jemaah yang membutuhkannya (foto dari paroramio)

Sepanjang hari masjid ini tak pernah sepi dari pengunjung, baik yang datang untuk menuaikan sholat hingga yang sekedar berkunjung seperti yang dilakukan oleh para turis non muslim yang datang lalu pergi lagi, termasuk juga kunjungan dari anak anak sekolah yang dipandu oleh gurunya masing masing. Mahasiswa dari Universitas Al-Azhar pun masih banyak yang melanjutkan tradisi belajar di masjid ini. Karena memang masjid itu terletak tepat di keramaian, dan dekat dengan kampus

Masjid Amru Bin Al Ash, khususnya pada hari Jum’at selalu ramai dikunjungi jemaah untuk shalat Jum’at, dan lebih khusus lagi pada bulan puasa, tanggal 27 Ramadhan, orang Mesir baik dari dalam maupun dari luar kota Kairo, berlomba-lomba datang untuk shalat taraweh dan Khatamul Alquran yang dipimpin/diimami oleh Imam Syekh Muhammad Jibril.***

Kembali ke Bagian 1

Referensi

archnet.org – early Islamic architecture in cairo pdf file

archnet.org – Jami' 'Amr ibn al-'As

karawang.us - amr-bin-ash-mosque-egypt-oldest-mosque

en.wikipedia - Mosque_of_Amr_ibn_al-As

dedenmaulidarajat - menengok-masjid-pertama-di-afrika

egyptfan - Mosque of Amr ibn al-As

allangkati - kota-fusthath-dan-masjid-amr-bin-ash

kompasiana - menikmati-sunyi-di-masjid-amr-bin-ash

masisironline - mesjid-amr-bin-ash

----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid di Dunia Arab Lainnya

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Sidi Uqba, Biskra, Aljazair

Masjid Uqba Bin Nafi, Masjid Agung Kairouan, Tunisia

Masjid Agung Damaskus, Syria

Masjid Agung Kuwait (Bagian I)

Masjid Agung Kuwait (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian I)

Masjid Agung Sheikh Zayed (bagian II)

Masjid Agung Sultan Qaboos, Muscat - Oman

Masjid Al-Saleh, Sana’a – Yaman

Masjid Arrahmah, Masjid Terapung Kota Jeddah

Masjid Amru Bin Ash, Kairo – Mesir (Bagian 1)

Wednesday, August 26, 2020

Masjid Muhammad Ali Pasha, Kairo

Tinggi menjulang di atas benteng Salahudin di atas bukit kota Kairo, Masjid Muhammad Ali Pasha tak pelak lagi menjadi landmark kota Kairo (foto dari wikipedia)

Tak galat bila Kairo dijuluki menjadi kota seribu menara, kota ini memang bertabur menara menara masjid latif berdasarkan banyak sekali era kekuasaan yang silih berganti menguasai Mesir. Salah satu masjid dengan menara tinggi & dapat dilihat dari jeda yang begitu jauh karena berada diketinggian Benteng Shalahuddin di atas sebuah bukit pada kota Kairo, yakni Masjid Muhammad Ali Pasha. Saking tingginya lokasi masjid ini, Ketika sudah berada disana, pengunjung dapat melihat hampir seantero Kota Kairo, bersama sungai Nil dan piramida dikejauhan berdasarkan laman masjid.

Tak pelak lagi menggunakan posisinya yg berada pada ketinggian & bisa dilihat berdasarkan aneka macam sudut kota, masjid ini menggunakan secara otomatis menjadi landmark kota Kairo. Masjid Muhammad Ali Pasha dinamai sinkron dengan nama Muhammad Ali Pasha penguasa Mesir berdasarkan dinasti Muhammad Ali, dinasti Islam terahir yang berkuasa pada Mesir sebelum lalu negeri ini berubah sebagai Republik sampai saat ini. Masjid Muhammad Ali Pasha mempunyai banyak nama lain, antara lain merupakan Masjid Alabaster lantaran sebagian besar dilapisi dengan marmer alabaster. Kadangkala juga disebut menjadi masjid Almarmari merujuk pada bahan marmer yang mendominasi bangunan masjid ini.

Masjid ini sengaja dibangun sang Muhammad Ali Pasha ditahun 1830 hingga 1848, buat mengenang Tusun Pasha, putra tertua-nya yang mangkat pada tahun 1816. Untuk membentuk masjid tersebut, dia mengundang sejumlah insinyur berdasarkan Prancis & Italia buat merancang Masjid ini. Diantara pandangan baru cemerlang yang dikemukakan para insinyur yang mendirikan Masjid Muhammad Ali Pasha merupakan pemilihan lokasi yang unik, yakni di puncak Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada pada pinggiran Kota Kairo. Dengan dipilihnya lokasi tersebut, panorama pada lebih kurang benteng tersebut pun sebagai sahih-benar berubah. Rekonstruksi Masjid Muhammad Ali Pasha dimulai pada tahun 1830 atau sekitar tujuh abad selesainya berdirinya Citadel dan selesai tahun 1848.

Jazad Muhammad Ali Pasha sendiri ahirnya pada makamkan di laman masjid ini. Muhammad Ali Pasha wafat di Istana Ras el-Tin Palace di Alexandria dalam tanggal 2 Agustus 1849 dan dimakamkan pada pemakaman Hosh al-Basha. Adalah Raja Abbas I yang tidak lain merupakan cucu dari Muhammad Ali Pasha, putra berdasarkan Tusun Pasha yang lalu memindahkan makam Muhammad Ali Pasha ke halaman masjid ini pada tahun 1857.

Menurut segi ukuran, Masjid Muhammad Ali Pasha ini adalah masjid terbesar yang pernah dibangun di awal abad ke 19, terutama di Mesir dan Afrika.

Bergaya Turki menggunakan sentuhan Prancis dan Italia

Masjid Muhammad Ali Pasha secara umum dibangun dengan mengadopsi gaya masjid dinasti Usmaniyah, bangunan masjid dengan 2 butir menara tinggi yang ramping dan runcing seperti sebuah pinsil, mengapit kubah utama & sejumlah kubah mini disekitarnya. Tinggi kedua menara ini mencapai 82 meter. Sementara itu, bagian kubahnya dibuat megah dan tinggi, mirip dengan Masjid Aya Sofia di Istanbul, Turki.

Bangunan utamanya terdiri berdasarkan dua bagian. Pada bagian luar, terdapat tempat berwudhu yg letaknya sempurna pada tengah-tengah halaman masjid dan sebuah menara jam yang adalah hadiah menurut Raja Prancis, Louis Philippe I, pada tahun 1846. Konon, sebagai bantuan gratis balasan, Raja Muhammad Ali Pasha menaruh obelisk Ramses II menurut Kuil Luxor yg masih ada pada pintu masuk. Saat ini, obelisk Ramses II tersebut masih bisa dilihat di Place de la Concorde, Paris, Prancis.

Interior Masjid Muhammad Ali Pasha, tidak jauh tidak sinkron menggunakan interior masjid masjid berdasarkan masa Usmaniyah lainnya. Terutama Masjid Aya Sofia pada Istambul, Turki.

Ruang shalat berada pada bawah kubah-kubah yang terdiri atas satu kubah utama yang berada di tengah dan empat kubah berukuran menengah (sedang) serta empat kubah kecil yang mengapit kubah utama. Bagian langit-langit zenit kubah (menurut pada) dihiasi goresan geometris menggunakan empat pojok yang terukir kaligrafi empat nama Khulafaur Rasyidin. Dinding ruang sholat diberi celah-celah yg dihias menggunakan kaca patri berwarna-warni & pilar pilar pualam yang tidak membuat ruangan masjid tersebut terasa sempit. Di samping pilar pilar primer terdapat juga pilar pualam ramping yg menyangga atap dan kubah-kubah kecil.

Di pada Benteng Salahudin ini Selain Masjid Muhammad Ali jua terdapat dua museum, yaitu Museum Permata (Qashrul Jawharah) yg berisi perhiasan raja-raja Mesir, Singgasana Raja Farouk, & Museum Polisi (Mathaf As-Syurthah) yg terdiri menurut 6 bagian (diantaranya ruangan yang memamerkan senjata-senjata yg pernah dipakai polisi Mesir sepanjang sejarahnya, ruangan dokumen-dokumen krusial sejak masa pemerintahan Muhammad Ali Pasha hingga kini , dan ruangan-ruangan lainnya.

Menjulang di titik tertinggi benteng Shalahuddin

---------------------

Baca Juga

Masjid Amru Bin Ash

Masjid Omar Makram, Saksi Bisu Reformasi Mesir

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done