Islami Pedia: Masjid di Kalimantan Timur
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Kalimantan Timur. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Kalimantan Timur. Show all posts

Monday, September 28, 2020

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Islamic Center Samarinda Propinsi Kalimantan Timur dari arah

sungai Mahakam (foto dari mozaicdunia)

Masjid Islamic Center Samarinda Propinsi Kalimantan Timur terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sisi depannya berada di Jl. Slamet Riyadi No 1 Samarinda, sedang kanan kirinya diapit oleh Jl. Anggi dan Jl. Meranti sedangkan bagian belakang berada di Jl. Ulin, juga menghadap ke sungai Mahakam. Sangat mudah untuk menemukan Islamic Center Samarinda, lokasinya hanya +/- 2 km dari jembatan Mahakam.

View Larger Map

Sejarah Masjid Islamic Center Samarinda - Kaltim

Pembangunan Islamic Center diharapkan dapat membangkitkan semangat kebersamaan dalam upaya menghadapi era global, selain merupakan tuntutan masyarakat untuk Samarinda memiliki sebuah sarana tempat ibadah yang memadai. Lokasi tempat berdirinya ini sebelumnya merupakan areal penggergajian kayu milik PT. Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Proyek Islamic Center Samarinda didanai dengan dana APBD Pemerintah propinsi Kalimantan Timur dibawah Gubernur Kaltim (saat itu) Suwarna Abdul Fatah.

Proses perencanannya melibatkan konsultan perencana arsitektur PT. Anggara Architeam, perencana struktur PT. Perkasa carista estetika, Perencana M&E oleh PT. Meco Systech Internusa dan perencana estetika Biro Arsitektur Achmad Noe’man. Konsultan pengawas yang mengawasi jalannya pembangunan ICS Kaltim dipercayakan kepada PT. Adiya Widyajasa sedangkan pelaksanaan pembangunannya dipercayakan kepada Kontraktor PT. Total Bangun Persada Tbk.

upacara pPemancangan tiang pertama proyek Islamic Center Samarinda

oleh Presiden Megawati Sukarno Putri 5 Juli 2001. Proses pembangunan Islamic Center Samarinda dimulai pada tanggal 5 Juli 2001 ditandai dengan penekanan tombol pemancangan tiang pancang pertama proyek pembangunan islamic Center Samarinda oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 5 Juli 2001. Dan tujuh tahun kemudian komplek Islamic Center Samarinda diresmikan oleh Presiden RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 16 Juni 2008.

Arsitektural Masjid Islamic Center Samarinda

Rancangan menara MICS di-ilhami dari menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, dan kubah utamanya di-ilhami masjid Haghia Sophia di Istambul – Turki. Menempati area seluas +/- 8 hektar, menyediakan lahan terbuka bagi masyarakat kota Samarinda, termasuk area parkir dan taman yang luas lengkap dengan pohon kurma yang ditanam di halaman depan kawasan masjid menghadirkan kesan Timur Tengah di kota Samarinda. Luas bangunan utama Islamic Center Samarinda seluas 43.500 m2, luas bangunan 7.115 m2, luas lantai basement 10.235 m2, sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 m2, dan lantai utama seluas 8.185 m2, sedangkan luas lantai mezanin 5.290 m2.

enam menara Masjid Islamic Center Samarinda menyimbolkan enam -

rukun iman. Kubah besar di atap utama nya di inspirasi dari kubah masjid

hagha shofia di Istambul - Turki (foto dari kasakusuk.com) Angka Simbolis di Masjid Islamic Center Samarinda

MICS dilengkapi dengan 7 menara terdiri dari satu menara utama setinggi 99 meter terpisah dari bangunan utama masjid. Ketinggian 99 meter menara utama tersebut bermakna 99 isim asmaul husna atau 99 nama-nama Allah. Menara utama tersebut terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Empat menara penjuru setinggi 70 meter dibangun di empat penjuru masjid ditambah dua menara gerbang yang berada di sisi kiri dan kanan gerbang utama masing masing setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai enam rukun iman. Selain angka 99 dan angka 6 masih ada angka 33 di masjid ini mewakili 33 biji tasbih yang diwakili oleh jumlah anak tangga menuju lantai utama dari lantai dasar MICS.

Menara utama MICS setinggi 99 meter

sesuai dengan Isim Asmaul Husna

(foto dari Kasakusuk.com) Lantai Basement MICS digunakan untuk area parkir kendaraan dengan kapasitas 200 mobil dan 138 buah sepeda motor, toilet pria dan wanita untuk para jamaah. Dan Ground water Tank (GWT) sebagai penampungan air bersih untuk toilet dan tempat wudhu. MICS juga dilengkapi dengan Plaza Dalam (inner court yard) dan Plaza Luar mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang. Di samping kiri dan kanannya difungsikan sebagai area parkir berkapasitas 391 mobil dan 430 sepeda motor. Di Plaza ini disediakan keran keran air di sisi kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat wudhu.

Lantai dasar Islamic Center Samarinda dipergunakan sebagai ruang pertemuan. Biasanya dipakai untuk acara seminar dan resepsi pernikahan dengna daya tampung ruangan mencapai 5000 undangan. Permukaan lantai masjid ini ditutup dengan granit pilihan dengan aneka ragam corak menampilkan nuansa hangat namun tetap sejuk dengan pemakaian AC di dalam ruangan.

Di area lobi lantai dasar masjid ini juga menjadi tempat sebuah bedug berukuran besar yang dibuat dari sebatang kayu dari hutan Kalimantan utuh berdiameter 180 senti meter, diameter yang bahkan lebih tinggi dari rata rata tinggi orang Indonesia. Batang kayu untuk beduk yang tidak bulat sempurna membuat tampilan beduk ini sedikit berbeda dan cukup unik. Beduk besar ini merupakan sumbangan dari Bapak H. Suwarna (mantan) Gubernur Kalimantan Timur.

Beduk besar di lantai dasar Masjid Islamic Center Samarinda. begitu besar

bahkan diameter beduk ini jauh lebih tinggi dari pria dewasa yang berdiri di-

depannya (foto dari panoramio) Dibelakang beduk ini ditempatkan maket model Masjid Islamic Center Samarinda ini dalam sebuah meja dari kaca, maket yang menjadi salah satu perhatian utama para pengunjung masjid ini. sedangkan di ketinggian plafon masjid dipercantik dengan lampu gantung dari bahan kuningan. Bahan kuningan yang dipakai pada lampu gantung ini memberi sentuhan klasik dalam balutan teknologi modern.

Fasilitas Masjid Islamic Center Samarinda

TK Internasional, semula bangunan ini terdiri dari TK, Kantin dan Koperasi. Kemudian disesuaikan fungsinya menjadi TK Internasional.

Bangunan Utilitas, Bangunan ini terdiri dari Ruang Genset, Ruang Pompa, GWT, Ruang Travo serta ruang penyimpanan BBM untuk Genset.

Poliklinik Plus, Gedung poliklinik 1 lantai ini menerima pasien untuk rawat inap, operasi dan bersalin.

Asrama, gedung asrama terdiri dari asrama putra dan asrama putri. masing-masing gedung terdiri dari 2 lantai. masing-masing lantai ada 13 kamar tidur.

Gedung Serba Guna, Gedung ini berfungsi sebagai ruang pertemuan.

gemerlap lampu yang menerangi Masjid Islamic Center Samarinda ini

menghadirkan keindahan tersendiri di gelap malamnya kota Samarinda

tampak begitu menawan dari seberang sungai Mahakam (panoramio) Rumah Imam, Rumah imam ini nantinya sebagai rumah tinggal bagi Imam masjid Islamic Center. Bangunan rumah imam terdiri dari kopel 2 rumah berdampingan.

Rumah Penjaga Masjid, Rumah penjaga masjid nantinya difungsikan bagi rumah tinggal pengelola masjid islamic center. Terdiri dari bangunan kopel 2 rumah berdampingan.

Tata Lampu Masjid Islamic Center Samarinda (MICS)

Menyangkut penerangan masjid di malam hari di Masjid Islamic Center Samarinda ini cukup mendapat perhatian dari Imam Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub saat bersama gubernur Kaltim Awang Faroek mengisi seminar sehari tentang ibadah qurban di Ruang Ruhui Rahayu, pada hari Selasa 9 November 2010. Beliau memberi saran agar bangunan megah tersebut tetap diberikan penerang yang cukup pada malam hari.

Interior Masjid Islamic Center Samrinda dengan Jemaahnya interior yang

begitu megah dan lega tentunya (panoramio)

Hal tersebut sangat penting selain agar tetap memberikan keindahan di malam hari, juga akan menghindari kemungkinan terjadinya pemanfaatan yang keliru oleh masyarakat, Jika ini bisa dilakukan, justru daerah ini akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Selain memberi kesan positif, keindahan Islamic Center, siang atau malam hari akan membantu kepentingan promosi daerah.

Saat ini Masjid Islamic Center Samarinda dilengkapi dengan sistim tata lampu yang sangat baik, menghadirkan Masjid Islamic Center Samarinda sebagai salah satu pemandangan indah di gelap malamnya kota Samarinda. Kemegahan Masjid Islamic Center Samarinda ini tampak begitu anggun dalam kemilau lampu yang meneranginya, Tak salah bila warga kota Samarinda berbangga hati dengan salah satu masjid termegah dan terindah di Asia Tenggara ini.

Video Masjid Islamic Center Samarinda

Foto Foto Masjid Islamic Center Samarinda

Samarinda Islamic Center Mosque 01 in Indonesia

Selasar Masjid Islamic Center Samarinda (herryimagery)
selasar yang mengelilingi plaza tengah Masjid Islamic Center Samarinda

melihat majsid semegah ini pantaslah bila warga Samarinda berbangga -

hati dengan kehadirannya (panoramio)

Suasana Malam Hari di Masjid Islamic Center Samarinda, sangat indah

dalam dengan tata lampunya yang cukup apik (panoramio)

di sisi kanan adalah menara utama Masjid Islamic Center Samarinda

setinggi 99 meter. sementara disisi masjid adalah bangunan selasar yang

dibangun mengelilingi masjid dan plaza tengahnya (panoramio)

Masjid Islamic Center Samarinda dari arah daratan, sungai Mahakam

berada tepat di belakang masjid ini (panoramio)

satu lagi foto keindahan Masjid Islamic Center Samarinda dari arah sungai

Mahakam, sangat indah (foto dari panoramio)

klik fotonya untuk memperbesar dan anada akan menemukan masjid

Islamic Center Samarinda yang berada ditepian sungai Mahakam yang -

membelah kota Samarinda ini (foto dari panoramio)

and the night fall at Islamic Center Samarinda (panoramio)

Referensi

Islamiccentersamarinda – data teknis pembangunan Islamic center

Kasakusuk.com – Islamic center mosque samarinda termegah dan terindah

Id.wikipedia – masjid Islamic center samarinda

Blog Islamic center samarinda - http://islamiccentersamarinda.blogspot.com

Kaltimprov.go.id - Keindahan Masjid Islamic Center Bantu Promosi Daerah

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (Bagian I) dan (Bagian II)

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Makasar – Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Agung An-Nur Riau di Pekanbaru

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Sunday, September 27, 2020

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda - Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (fotoratihkusumawanti)

Kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur, salah satu kota kaya minyak bumi dengan kemajuan yang cukup pesat. Di kota ini berdiri megah Stadion Utama Palaran yang hingga kini masih tercatat sebagai stadion sepakbola termewah di tanah air. Kota ini juga memiliki Islamic Center Samarinda yang menjadi salah satu Islamic Center termegah dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Kota Samarinda dibelah oleh sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur. Dulunya kota Samarinda hanya terdiri dari 3 kecamatan yang namanya disandarkan pada letak kecamatan kecamatan tersebut terhadap sungai Mahakam, masing masing  adalah Samarinda Ulu,Samarinda Ilir danSamarinda Seberang. Saat ini kedua sisi kota Samarinda dihubungkan dengan dua jembatan yang sudah berfungsi yaitu Jembatan Mahakam (Mahkota I) dan Jembatan Mahakam Ulu, ditambah satu lagi jembatan yang sedang dalam proyek pengerjaan adalah jembatan Mahkota II yang nantinya akan menghubungkan kecamatanSambutan dan Palaran.

Di usia yg telah melampaui 120 tahun, masjid Shirothal Mustaqim

Samarinda masih terlihat kokoh & tampak rapuh bagai usianya

(foto skyscrapercity)

Di Samarinda Seberang ada sebuah kampung yang bernama “Kampung Mesjid”. Kata “Mesjid” pada nama kampung ini memang merujuk pada sebuah masjid yang sudah berdiri ditengah kampung tersebut sejak abad ke 19. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di kota Samarinda dibangun pada tahun 1881 dengan nama Masjid Jami’ dan sejak tahun 1960 namanya berganti menjadi Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara,Kelurahan Masjid,Kecamatan Samarinda Seberang,Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.

Lihat Masjid Shirathal Mustaqim - Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda dipercayai didirikan oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda sekitar abad 16. Sebagian pejuang Bugis yang menentang Belanda memilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai kala itu. Kedatangan mereka ini disambut baik oleh Raja Kutai yang ditunjukkan dengan pemberian lokasi pemukiman di sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.

Dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Orang-orang Bugis Wajo mulai menetap di lokasi tersebut pada bulan Januari 1668. Lama kelamaan kawasan ini berkembang dan dikenal dengan sebutan Samarinda, yang berasal dari kata “sama rendah” yang dimaksudkan untuk menunjukkan persamaan hak dan kedudukan masyarakatnya.

Foto tua menara masjid

shirothal mustaqim

(foto dari wiki)

Sekitar tahun 1880, datang seorang pedagang muslim dariPontianak,Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sembari menyiarkan AgamaIslam, ia memilih kawasanSamarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh Sultan KutaiAji Muhammad Sulaiman. Melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di kawasan Samarinda Seberang dan memberinya gelar sebagai Pengeran Bendahara.

Sebagai tokoh rakyat, Said Abdurachman mengemban tugas & tanggungjawab yang akbar. Berawal dari keprihatianannya terhadap syarat rakyat kala itu yang masih senang berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) dan memyembah berhala, beliau tergerak hati buat menciptakan sebuah masjid yg lokasinya pada sentra kegiatan tersebut dengan harapan bisa menghentikan kegiatan maksiat & sesat tadi.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1881M dengan pemancangan 4 tiang utama (soko guru). Ke em[at soko guru tersebut merupakan sumbangan dari tokoh adat kala itu, 1 tiang utama dari Kapitan Jaya didatangkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang utama dari Pengeran Bendahara didatangkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan 1 tiang utama lainnya dari didatangkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini memiliki cerita sendiri yang melegenda hingga kini ditengah masyarakat Samarinda.

Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya sampai sepuluh tahun. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid akhirnya rampung dan diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus di daulat menjadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diselenggarakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini berada kemudian dikenal dengan nama Kampung Mesjid, sedangkan ruas jalan di depan masjid ini dinamai dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang merupakan gelar dari Said Abdurachman bin Assegaf, sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya.

Masjid Shirothal Mustaqim dan Menaranya, sama sama menurut kayu Ulin masih

kokoh hingga kini setelah lebih dari seratus tahun (foto dari khanan28) Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia tahun 2003
Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Renovasi & Perbaikan Masjid Shirothal Mustaqim

Masjid Shirothal Mustaqim pernah menjalani perbaikan perbaikan ringan dan penambahan fasilitas penunjang. Berturut pembangunan masjid dilakukan tahun 1970, 1989 dan terahir tahun 2001 oleh Wali Kota Samarinda Achmad Amins, tanpa merubah bentuk tapi menambah fasilitas prasarana masjid misalkan tempat wudhu, rumah kaum, perpustakaan, sekretariat Irma dan taman masjid.

Teras dan dinding masjid Shirothal Mustaqim, suasana hangat & &

bersahaja (foto dari skyscrapercity) Perubahan Nama Masjid Shirothal Mustaqim

Pada bulan Desember 2011, Ishak Ismail, Humas Masjid Sirathal Mustaqim mengungkapkan kepada publik bahwa output penelusuran yang dilakukan didapatkan bukti bahwa masjid Shirothal Mustaqim pada awalnya berdirinya hingga tahun 1960 bernama Masjid Jami. Nama Shirotal Mustaqim mulai disandang masjid ini dari tahun 1960 sehabis datangnya ulama dari Banjarmasin bernama KH Samuri Arsyad yg aktif mengajar pada masjid ini. Perubahan nama masjid itu diawali beberapa musyawarah yang dilakukan KH Samsuri Arsyad bersama beberapa tokoh warga & imam masjid. Setelah meminta petunjuk pada Allah SWT, akhirnya masjid itu berubah nama sebagai Masjid Shirothal Mustaqim hingga waktu ini.

Legenda Sokoguru Masjid Shiratal Mustaqim

Sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Masjid Shiratal Mustaqim, H Zainuddin Abdullah, Masjid Shiratal Mustaqim dibangun dengan cara bergotong royong, namun pada saat itu warga yang bergotong royong menghadapi masalah pada saat akan mendirikan empat tiang utama bangunan masjid. Ukuran tiang yang cukup  besar sepanjang ± 7 meter dari kayu ulin sangat sulit untuk didirikan sampai kemudian warga menyerah untuk mendirikan empat tiang besar tersebut.

Masjid Shirothal Mustaqim dicermati menurut arah Sungai Mahakam

(foto dari kaltimpost) Hingga akhirnya datang seorang nenek dengan menggunakan jubah putih ke hadapan mereka. Siapa dia tak ada yang tahu. Namun ia berpesan kepada Pengeran Bendahara dan sejumlah pengikutnya. Disebutkan, ia akan membantu mendirikan 4 tiang utama tersebut dengan syarat tak ada satu wargapun yang melihat prosesi pendiriannya. Keesokan harinya, sejumlah warga tertegun melihat 4 tiang utama sudah berdiri tegak. Bahkan saat warga mencoba mencari sosok seorang nenek tersebut, mereka tak kunjung menemukannya. Sehingga warga tak ada yang tahu pasti siapa dia.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas dua.028 M2 dengan luas bangunannya 718.32m2 terdiri dari ruang primer 418,18 M2, Ruang serambi depan 125,56 M2, dan Ruang serambi kanan kiri 174,58 M2. Dibangun memakai bahan kayu Ulin, membuatnya begitu kuno. Kayu ulin memang kayu dengan kualitas terbaik selain keras, bertenaga dan anti rayap kayu ini pula sangat tahan terhadap cuaca. Wajar jika bangunan masjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang meski sudah berumur 120 tahun lebih.

Page masjid Shirothal Mustaqim yang kini telah diperindah dengan

taman (foto dari suaraikadi) Masjid Shirothal Mustaqim dibangun dalam arsitektural khas Indonesia, berdenah segi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter lebih kurang 60cm di tengah ruang masjid. Pembeda utama masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia lainnya adalah susunan atapnya yang terdiri dari 4 susun. Kebanyakan masjid masjid tua di tanah air terdiri dari 3 susun saja.

Di tiap sisi bangunan primer dilengkapi menggunakan serambi & disetiap sisi serambi pada lengkapi menggunakan pagar (railing) yang jua dibuat berdasarkan kayu ulin. Mihrab masjid ini dibentuk tersendiri menggunakan atap yg berbentuk sama menggunakan atap bangunan primer. Menara masjid yg dibangun 20 tahun setelah masjid berdiri memang memiliki sedikit disparitas arsitektural dari bangunan utama masjid, meski dibangun menggunakan bahan kayu yg sama. Keseluruhan Jendela dalam bangunan masjid ini berbentuk segi empat menggunakan 2 daun jendela begitupula menggunakan pintu pintunya, namun pada bangunan menara nir menggunakan bentuk segi empat tapi memakai pola lengkungan pada setiap bukaannya.

Menara Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (foto dari bybay)
Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 meter dengan empat lantai masing masing lantai dilengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang sangat unik dan menarik karena sangat berbeda dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua lainnya yang ada di Indonesia, ditambah lagi dengan bahan bangunanannya yang menggunakan kayu besi juga menjadikannya begitu istimewa.

Aktifitas Masjid Shiratal Mustaqiem

Dalam perkembangannya Masjid Shirothal Mustaqim pun dilengkapi menggunakan wahana pendidikan. Pada tahun 1956 didirikan Madrasah Dinul Islamiyah (MDI) kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di tahun 1972 & pembangunan perpustakaan masjid. Kegiatan keagamaan di masjid ini begitu semarak menurut siang sampai malam hari mulai berdasarkan taklim ba?Da maghrib hingga pedagogi baca Al Qur?An.

Hal unik lain yang bisa ditemui di Masjid yang sudah berumur lebih dari 127 tahun ini adalah pembuatan bubur pecak (bubur khas Bugis) yang terbuat dari rempah-rempah dan santan kelapa yang dihidangkan setiap bulan suci sebagai menu untuk berbuka puasa bagi para musafir dan masyarakat sekitar. Sedikitnya 250 porsi bubur disediakan setiap hari selama bulan Ramadhan. Adanya tradisi Bugis di masjid ini tentu saja tak lepas dari peran masyarakat keturunan Bugis yang memang telah menempati kawasan Samarinda Seberang sejak masa kesultanan Kutai sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini.

Foto Foto Masjid Shirothal Mustaqim ? Samarinda

sisi mihrab masjid Shirothal Mustaqim (foto dari wisatakaltimsamarinda)
Masjid Shirothal Mustaqim dari sisi timur (foto dari panoramio)
foto dari sky scrapercity
foto dari skyscrapercity
Referensi

khanan28 – masjid shiratal mustaqim masjid tertua di samarinda

sapos.co.id - Nenek Dirikan 4 Pilar Masjid Sirathal Mutaqiem

sapos.co.id - Sejarah Perubahan Nama Masjid Sirathal Mustaqiem

suaraikadi.blogspot.com - masjid-shirathal-mustaqiem-samarinda

poskotakaltim.com - mesjid-shirathal-mustaqiem-tetap-kokoh-di-usia-tua

cintamasjid - Masjid Sirathal Mustaqiem (1881 M), Samarinda - Kalimantan Timur

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Islamic Center Samarinda

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Agung An-Nur Riau pada Pekanbaru

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Raya Darussalam Samarinda – Kaltim

Masjid Raya Darussalam Samarinda, Kalimantan Timur. dilihat dari arah

Sungai Mahakam (foto forumbebas)

Berdiri megah di tepian sungai Mahakam, Masjid Raya Darussalam menghadirkan nuansa Turki Usmani di pusat kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur. Masjid bergaya Turki Usmani (Otoman) dapat dengan mudah dikenali dari bentuk menara nya yang dibuat seramping dan setinggi mungkin. Menara dalam bentuk ini memang memberikan kesan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan masjid bergaya Arabi seperti pada Masjid Islamic Center Samarinda yang juga berlokasi ditepian sungai Mahakam dan terpaut tak terlalu jauh jaraknya dari masjid ini.

kubah utama Masjid Raya Darussalam

(foto dari panoramio)

Masjid Raya Darrusalam adalah masjid terbesar kedua di Samarinda dan di provinsi Kalimantan Timur setelah Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid Raya Darussalam dari kejauhan-pun langsung dapat dikenali dengan empat menara tinggginya yang dibangun di ke-empat penjuru bangunan utama masjid ditambah dengan kubah besar warna hijau di atap tengah masjid dan di apit oleh beberapa kubah berukuran kecil.

Lokasi Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam berada di di kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda Ilir, kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Kelurahan Pasar Pagi merupakan salah satu pusat keramaian kota Samarinda.  Pasar pagi yang menjadi nama kelurahan ini benar benar bangunan pasar pagi yang letaknya hanya terpisah satu blok bangunan dari Masjid Raya Samarinda.

Koordinat geografi : -0°30'11"N   117°8'51"E

Lihat Masjid Raya Darussalam Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Raya Samarinda

Bangunan awal masjid Raya Darussalam dibangun oleh para saudagar Bugis dan Banjar yang tinggal di Samarinda sekitar tahun 1925. Lokasinya saat itu berada di tepian sungai Mahakam diatas lahan berukuran 25 meter x 25 meter. Sejak dibangun pertama kali telah mengalami beberapa kali perbaikan diantaranya tahun 1953 dan 1967 meski tanpa merubah ciri khasnya. Sejak pertama kali dibangun masjid ini sebagai masjid Jami’ (masjid yang dipakai untuk sholat Jum’at selain sholat lima waktu lainnya).

Seiring dengan kemajuan Kota Samarinda yang semakin pesat dibutuhkan bangunan masjid yang lebih besar dengan lahan yang lebih luas, maka lokasi masjidpun bergeser ke Jalan Yos Sudarso dengan lahan seluas sekitar 15 ribu meter persegi. Bangunan masjid yang kini berdiri adalah hasil pembangunan tahun 1990-an, diresmikan penggunaannya oleh Dr. H. Tarmizi Taher - Menteri Agama RI, pada tanggal 21 Rabi'ul Akhir 1418H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 1997M. Masjid berkonstruksi  beton  ini berlantai tiga dan dapar menampung sekitar 14.000 jemaah. Di  lingkungan masjid ini dilengkapi taman, kolam dan perpustakaan.

Masjid Raya Darussalam Samarinda dari arah Jalan Gajah Mada yang

membentang di depan masjid ini (foto skyscrapercity)

Di bulan September tahun 2010 sempat ada wacana untuk mengubah Masjid Raya Darussalam menjadi Masjid Agung. Wacana tersebut dikemukakan Kanwil Kemenag Kaltim, dasarnya adalah Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 394 tahun 2004 tentang penetapan status masjid wilayah. Di sana disebutkan, di satu propinsi, harus ada masjid yang disebut masjid raya. Sementara tingkat kabupaten/kota bernama masjid agung.

Wacana tersebut langsung mendapat penolakan dari Wali Kota Samarinda Achmad Amins, penolakan dari walikota ini di dukung oleh tokoh masyarakat Samarinda termasuk dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagaimana disampaikan oleh sekretaris DMI Samarinda, HM Yusuf Mugenie. Penolakan tersebut didasarkan pada alasan sejarah dan demi menghormati para pendiri masjid Raya Darussalam, ditambah lagi fakta bahwa nama Masjid Raya sudah melekat di hati masyarakat Samarinda dan Kaltim.

Dua Masjid Megah di tepian sungai Mahakam, di latar depan adalah -

Masjid Raya Darussalam Samarinda sedangkan Masjid di belakangnya

adalah Masjid Islamic Center Samarinda, keduanya tampak begitu indah

di gelap malam kota Samarinda (foto skyscrapercity)

Arsitektural Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Turki Usmani atau dalam lidah orang Eropa yang tak pandai menyebut Usmani berubah menjadi Otoman, mewariskan seni bina bangunan masjid dengan gayanya sendiri ditandai dengan beberapa ciri utama diantaranya adalah bentuk menara seperti yang sudah sedikit disinggung di awal, menara masjid bergaya Usmani ditandai dengan bentuk bundar, ramping, tinggi menjulang dengan puncak menara yang meruncing dan tak pernah absen lambang bulan sabit di ujung tertinggi menara.

Di Masjid Raya Darussalam Samarinda empat menara masjid diletakkan di empat penjuru bangunan utama masjid. Warna putih mendominasi bangunan menara. Sedikit keunikan pada kubah utama Masjid Raya Darussalam ini, kubah utama berukuran besar itu diapit oleh delapan kubah berukuran lebih kecil yang menempel pada kubah utama. Empat kubah lebih kecil juga menghias ke empat penjuru atap masjid ini. Ornamen khas Kalimantan menghias sisi luar masing masing kubah memberi keistimewaan tersendiri bagi masjid ini.

Masjid Raya Darussalam dipandang dari menara utama Masjid Islamic -

Center Samarinda (kompasiana)

Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan Beranda dengan bukaan besar berlengkung, sana seperti beranda keseluruhan jendela masjid ini juga dilengkapi dengan ornamen lengkungan. Masuk ke dalam masjid, akan dijumpai ruang sholat yang lega tanpa tiang tiang penyanggah struktur atap di tengah masjid. Ruang sholat Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan lantai mezanin. Secara keseluruhan Masjid Raya Samarinda mampu menampung jemaah hingga empat belas ribu jemaah sekaligus.

Warna hijau mendominasi warna karpet sejadah di ruang sholat, warna yang senada dengan warna plafon (langit langit) masjid. Seperti kebanyakan masjid masjid lainnya, dinding sisi mihrab masjid Raya Darussalam Samarinda juga dilapis dengan bahan bewarna lebih gelap dibandingkan sisi dinding yang lain. Dan tak ketinggalan juga lampu lampu gantung di pasang dilangit langit masjid turut memperindah masjid ini.

Fasad masjid Raya Darussalam Samarinda (foto dari skyscrapercity)

Aktivitas Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Walaupun Masjid Islamic Center Samarinda telah rampung dibangun, tetapi masyarakat samarinda masih tetap menyukai beribadah di Masjid Raya. Karena dari segi letak masih dekat dengan lingkungan pemukiman. Masjid ini pun pernah mengukir sejarah. Pada bulan Ramadhan 2006, Presiden SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono pernah singgah ke ke Masjid Raya Darussalam untuk melaksanakan sholat Tarawih berjamaah bersama masyarakat Kaltim dipimpin imam K.H.Ramly.

Di dua hari raya Masjid Raya Darussalam ini dipadari ribuan jamaah dari berbagai penjuru kota Samarinda seperti yang terjadi pada sholat hari raya idulfitri pada Rabu 31 Agustus 2011 lalu. Pada kesempatan tersebut turut hadir Walikota Samarinda Syaharie Jaang dan Wakil Walikota Nusyirwan Ismail serta para ulama dan tokoh masyarakat diantara ribuan jemaah lainnya.

Foto Foto Masjid Raya Darussalam Samarinda

Masjid Raya Darussalam dengan kubahnya yang sudah diperindah dengan

ornamen khas Kalimantan

Interior Masjid Raya Darussalam Samarinda (foto halamanrohmad)
pemandangan malam yang begitu indah di tepian sungai Mahakam

dengan dominasi kubah dan menara masjid Raya Darussalam

(foto dari herryimagery)

Menjelang malam di Masjid Raya Darussalam Samarinda (skyscrapercity)
Presiden SBY di Masjid Raya Darussalam Samarinda (presidensby)

Referensi

berita.liputan6.com - masjid raya darussalam, simbol islam di samarinda

kaltim.tribunnew.com - ribuan jamaah padati masjid raya darussalam

http://fatawisata.com/kalimantan-timur/1174-kota-samarinda

kaltimpost.co.id - jangan ubah masjid raya

presidensby.info - ditata kembali, pipanisasi gas dari bontang ke pulau jawa

----------------------------------ooOOOoo----------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda – Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda – Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Al-Alam Kota Kendari Masjid Raya Makasar – Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Friday, May 22, 2020

Masjid Agung Baitul Hikmah Tanjung Redep

Aerial view Masjid Agung Baitul Hikmah Tanjung Redep, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Kabupaten Berau merupakan keliru satu Kabupaten pada Provinsi Kalimantan Timur. Ibukota kabupaten Berau berada di Tanjung Redep. Sebagai sentra pemerintahan Kabupaten Berau, di Tanjung Redep telah berdiri megah kantor Bupati Berau lengkap menggunakan taman kota cendana yg asri pada depan komplek kantor Bupati tersebut. Di Tanjung Redep pula berdiri megah Masjid Agung Kabupaten yg diberi nama Masjid Agung Baitul Hikmah.

Masjid Agung Baitul Hikmah merupakan masjid terbesar dan termegah di Kabupaten Berau, & tentu saja menambah khasazah deretan masjid masjid megah di provinsi Kalimantan Timur, sebut saja diantara yg lainnya adalah Masjid Agung Nurul Falah pada Tanah Grogot Kabupaten Paser & Masjid Islamic Center Samarindah yg ketiga tiga memiliki kemiripan arsitektur.

Masjid Agung Baitul Hikmah

Jl. APT. Pranoto, Tanjung Redeb

Kabupaten Berau, Kalimantan Timur 77311

Indonesia

Tanjung Redep Selayang Pandang

Kabupaten Berau merupakan kabupaten yang dianugerahi daerah yang begitu luas kurang lebih 34 ribu kilometer persegi serta kekayaan alam yang melimpah namun dengan jumlah penduduk yang baru lebih kurang 150 ribu jiwa, relatif masih sedikit dibandingkan dengan luas wilayahnya, memberi laba tersendiri bagi warga disana yg masih dapat menikmati hijaunya hutan & atmosfir yang alami dengan udara bersih dan segar, sesuatu yang tidak mungkin ditemukan di kota kota akbar.

Sebagian akbar penduduk Berau terkonsentrasi di Kota Tanjung Redep yang juga diramaikan sang rakyat banyak sekali etnis yg berusaha disana. Mayoritas warga Tanjung Redep dari menurut etnis Bugis dan Jawa serta penduduk asli dari suku Banua dan etnis lainnya. Selain etnis Banua pada Berau pula dihuni sang etnis Dayak seperti halnya wilayah Kalimantan lainnya. Geliat ekonomi pada Tanjung Redeb berkembang cukup pesat, termasuk geliat perdagangan & sektor industri yang didominasi sang industri perkayuan & pertambangan batubara. Kabupaten Berau memang cukup makmur, berdasarkan sektor industri saja menggunakan 500 lebih perusahaan yang beroperasi disana, kabupaten ini mempunyai potensi dana CSR mencapai lebih menurut 1/2 triliun per tahun.

Cukup menarik mengingat bahwa Tanjung Redep pernah tepilih sebagai salah satu penyelenggara Pekan Olah Raga Nasional (PON) ke-17 tahun 2008 yang dielenggarakan di provinsi Kalimantan Timur. Pembenahan besar besaran dilakukan oleh pemerintah setempat,  pembenahan di setiap sudut kota, jalan-jalan protokol, trotoar, saluran air, dan berbagai fasilitas kota direnovasi dan ditata lebih baik. Terlebih lagi Tanjung Redep merupakan salah satu titik tolak menuju ke pulau Derawan dan sangalaki yang terkenal memiliki keindahan alam laut dan bawahnya. Sebagian wisatawan menyebutnya sebagai sorga bawah laut terindah di dunia.

Pelangi di atas Masjid Agung kabupaten Berau

Nama Berau yang sekarang disandang oleh kabupaten ini sesungguhnya merupakan nama sebuah Kerajaan yg pernah berjaya disana pada sekitar abad ke-14. Raja pertamanya bernama Baddit Dipattung bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan permaisurinya bernama Baddit Kurindan bergelar Aji Permaisuri. Pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah sebagai 2 yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini masih bisa disaksikan peninggalan bersejarah kesultanan keraton dan museum Sambaliung menggunakan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1902-1959).

Aji Raden Suryanata Kesuma memerintah tahun 1400?1432, dia berhasil menyatukan wilayah pemukiman rakyat Berau yang dianggap Banua, yaitu Banua Merancang, Banua Pantai, Banua Kuran, Banua Rantau Buyut & Banua Rantau Sewakung. Di samping kewibawaannya, kedudukan Aji Raden Suryanata Kesuma juga sangat berpengaruh, menjadikan beliau disegani lawan juga mitra. Untuk mengenang jasa Raja Berau yg pertama ini, Pemerintah telah mengabdikannya namanya menjadi nama Korem 091 Aji Raden Surya Nata Kesuma yg adalah bagian menurut Kodam VI/TPR.

Kabupaten Berau adalah wilayah provinsi Kalimantan Timur paling utara, kota Tanjung Redep & kota Balikpapan terpaut jeda sekitar 665 km, bila ditempuh menggunakan tunggangan roda empat menghabiskan saat kurang lebih 20 jam. Tersedia rute penerbangan eksklusif Balikpapan ? Tanjung Redep meski bukan menggunakan pesawat berbadan lebar. Rute lainnya merupakan penerbangan kota Balikpapan ? Kota Tarakan dan dilanjutkan dengan bepergian laut menggunakan Ferry penyeberangan.

Kehadiran Masjid Agung Baitul Hikmah ini sekarang mendominasi pemandangan langit kota Tanjung Redep

Landmark Kabupaten Berau

Masjid Agung Baitul Hikmah mulai dibangun tahun 2002 & diresmikan pada tanggal 17 Ramadhan 1425 H / 31 Desember 2004 M. Menyusul lalu pelantikan perpustakaan pada masjid ini pada tanggal 1 Ramadhan 1432 H/01 Agustus 2011 M Oleh Bupati Berau. Selain perpustakaan, masjid ini juga memiliki klinik pengobatan perdeo orang nir sanggup yg didanai sang Badan Amil Zakat Pusat.

Sejak berdiri, Masjid Agung Baitul Hikmah sudah menjadi landmak baru bagi Tanjung Redep dan kabupaten Berau. Tak keliru, lantaran bengunan masjid ini begitu megah dan tampil begitu menyolok di tengah tengah kota Tanjung Redep. Arsitekturnya memang dagi dilihat mata, warna hijau yg mendominasi warna masjid ini senada menggunakan landscape kabupaten berau yg memang masih di penguasaan oleh hijaunya hutan perawan.

Masjid Agung Berau terdiri menurut bangunan primer Masjid, ditambah dengan pelataran dilingkupi koridor dan satu menara tertinggi terpisah berdasarkan bangunan primer. Bangunan utama masjid Agung Baitul Hikmah berdenah segi empat menggunakan kubah akbar di atapnya. Ada empat menara masing msing dengan tinggi 40 meter pada ke empat penjuru masjid. Ada beranda berukuran akbar di tempatkan disi sisi timur bangunan primer masjid mengayomi pintu primer yang menghadap eksklusif ke pelataran tengah.

Megah dan modern

Pelataran yg dikelilingi koridor berada pada sisi timur bangunan utama. Di area pelataran tengah ini berdiri megah menara utama setinggi 70 meter terlihat menjulang jauh labih tinggi menurut ke empat menara lainnya. Pelataran masjid dapat di akses berdasarkan gapura di sisi timur dan gapura yang lebih rendah di sisi utara dan selatan. Sederetan kubah kubah lebih mini menghias bagian atap koridor, gerbang dan beranda masjid.

Secara garis akbar bangunan masjid ini dibangun dalam arsitektur masjid terbaru menggunakan gaya Timur Tengah, Turki dan sentuhan minimalis yang cukup kental. Kubah akbar di atap masjid ini mengingatkan kepada kubah masjid masjid Usmaniyah pada Istanbul Turki & sekitarnya. Begitupun menggunakan menara tinggi nya yang lancip menjulang tinggi. Area pelataran tengah yang dikelilingi koridor adalah bentuk yang lazim di masjid masjid pada daerah Timur Tengah, Persia dan Jazirah India terutama masjid masjid dari era Emperium Mughal. Bangunan beranda masjid berukuran besar seperti pada masjid ini jua dikenal dengan kata Iwan & merupakan hal yg lazim digunakan di masjid masjid tempat Asia Tengah dengan bentuk yang sedikit berbeda.

Ada hal yang teramat unik dari Masjid Agung Baitul Hikmah Kabupaten Berau di Tanjung Redep ini sebagaimana dilaporkan Bloger setempat, bangunan menara ini ternyata tidak saja menarik para wisatawan buat menikmati pemandangan Tanjung Redep berdasarkan ketinggian tetapi pula ternyata menarik sekawanan burung walet untuk bersarang disana secara alamiah. Anda tentu faham tentang nilai hemat sarang burung walet yang cukup tinggi tentu menjadi berkah tersendiri bagi masjid megah ini. Maklumlah karena ternyata ada ratusan sarang burung walet bergantungan di menara tadi dan siap dipanen setiap bulannya.

Sejak diresmikan masjid ini selalu makmur jemaah mulai menurut Sholat Rawatib, apalagi Sholat Jum?At, Sholat Idul fitri, Maupun Sholat Idul Adha selalu saja berlimpah jemaah sampai ke halaman Masjid. Di momen sholat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, jemaah masjid ini diperkirakan mencapai 10 ribu Jama?Ah.

Di pada Masjid Agung Baitul Hikmah Tanjung Redeb.

Berbagai kegiatan ke-Islaman tingkat kabupaten pada helat di masjid ini termasuk aktivitas mengawali bulan kudus Ramadhan dilaksanakan Pawai keliling sang grup Remaja dan Taman Kanak-kanak/TPA yang di awali berdasarkan masjid ini, pasar Ramadhan, hingga rutinitas Sholat Tarawih, Ta?Jil, Tadarus Al-Qur?An, Pengajian & I?Tikab. Sholat tarawih pada masjid ini diselenggarakan 20 Rakaat dan tiga rakaat Witir. Sedangkan Ta?Jil / Buka Puasa bersama dimasjid ini selalu diramaikan tak kurang menurut 270 Jama?Ah setiap harinya.

Masjid Terbaik Nasional 2016

Masjid Agung Baitul Hikmah menyabet penghargaan sebagai Masjid Agung terbaik ketiga bidang administrasi taraf nasional tahun 2016. Masjid Agung Baitul Hikmah dievaluasi memiliki pengelolaan administrasi yang baik, selain itu tim penilai menurut Kementrian Agama pula memberikan appresiasi pada masjid ini yg keberadaannya saling mendukung

aktivitas keagamaan tempat tinggal ibadah lain yang ada di sekitarnya.

Contohnya, ketika seremoni Natal, masjid agung membuka ruang seluas-luasnya kepada umat nasrani yg ingin beribadah pada gereja yang berada di depan masjid agung tadi. Begitu pula sebaliknya. Saat Idulfitri, umat Islam jua mampu parkir kendaraannya di page gereja. Ada tiga kriteria penilaian Masjid Terbaik Nasional yakni Masjid Agung Percontohan Paripurna, Masjid Agung Percontohan Idarah atau administrasi, Masjid Agung Percontohan Imarah atau kemakmuran dan Masjid Agung Percontohan Riayah atau pemeliharaan kebersihan.***

Referensi

madurejo.wordpress.com - Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

kaltim.tribunnews.com - Gerimis Warnai Shalat Id di Kabupaten Berau

mbaitulhikmah.blogspot.com - bulan-suci-ramadhan-1432-h

berau.prokal.co - keren-masjid-agung-baitul-hikmah-tanjung-redeb-terbaik-nasional

Baca Juga

Masjid Jami? Kesultanan Sambas

Masjid Kiai Gede Kotawaringin

Masjid Islamic Center Samarinda

Masjid Djami Keraton Landak

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done