Islami Pedia: Masjid di Himalaya
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Himalaya. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Himalaya. Show all posts

Monday, October 5, 2020

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami Nepal

Masjid Jami' Nepal di Kathmandu, satu menurut dua masjid akbar pada kota

metropolitan Khatmandu, ibukota Republik Demokratik Federal Nepal

(foto dari panoramio)

Bila dalam artikel sebelumnya sudah di ulas tentang Masjid Kashmiri Taqiya di KathmanduNepal, kali ini kita akan mengulas tentang masjid bersejarah dan terbesar ke dua di Nepal, Masjid Jami Nepal atau Kathmandu Jama Masjid, masjid Hindustan, masjid India atau Masjid Nepali dan kadang kadang media juga menyebut masjid ini sebagai Masjid Nasional Nepal, meski dengan jelas papan nama masjid ini tertulis “Nepali Jame Masjid”. Sejarah pembangunan awal masjid ini memang dilaksanakan oleh muslim dari India yang berimigrasi ke Nepal beberapa abad yang lalu.

Lokasi Masjid Jami Nepal

Alamat : Bag Bazaar, Kathmandu, Nepal

Tak jauh dari kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal.

Masjid Jami Nepal berada di sebelah selatan Masjid Kashmiri Taqiya hanya terpisah beberapa blok bangunan. Diantara kedua masjid ini berdiri Kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal. Lokasi dua masjid ini memang berada di kawasan boulevard utama kota metropolitan Kathmandu, tak jauh dari (bekas) Istana Raja Nepal di era Nepal masih berbentuk kerajaan Hindu. Masjid ini terbuka untuk umum. Secara tradisi masjid ini merupakan masjid Islam Sunni, menyelenggarakan sholat berjamaah lima waktu, sholat Jum’at juga dua sholat hari raya. Bahasa pengantar yang dipakai menggunakan bahasa Arab. Imam masjid saat ini dijabat oleh Hammad Fareed.

Sebagaimana fungsi masjid bagi ummat Islam, masjid Jami Nepal memiliki peran sentral bagi ummat Islam di Nepal. Hampir keseluruhan masjid di Nepal dijadikan semacam pusat komunitas ummat Islam, masjid Jami’ Nepal memilki bangunan sekolah Islam (madrasah) dan kawasan niaga. Meski selama ber-abad abad ummat Islam di Nepal dilarang menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu, hal tersebut masuk dalam katageri pelanggaran hukum berat dan dapat dikenai sangsi hukuman penjara selama tiga tahun. Perubahan signifikan pada masjid ini terjadi sejak tahun 1990-an, merubahnya menjadi sebuah simbol kehadiran muslim di Kathmandu khususnya di Nepal umumnya.

Pengurus dan jemaah masjid ini tidak terkait dengan kepentingan politik manapun di negeri tersebut. Namun masjid memang menjadi tempat titik berkumpul utama bagi muslim manapun termasuk muslim Kathmandu, secara khusus perubahan karakter simbolis masjid ini menarik perhatian dari golongan sayap kanan Hindu Nepal yang kerap kali memandang masjid ini sebagai pusat muslim termasuk pusat bagi “hal hal yang lain”. Boleh jadi itu sebabnya masjid ini sempat menjadi sasaran serangan dalam beberapa tahun terahir.

Sebuah menara tinggi melengkapi arsitektual Masjid Jami Nepal ini.

Masjid tiga lantai tak cukup lega buat menampung jemaah sholat Jum'at

apalagi di dua sholat hari raya (foto dari virtualtourist.com)

Sejarah Masjid Jami? Nepal

Muslim Hindustani (India) merupakan kelompok muslim kedua yang menetap di Nepal, gelombang pertama muslim yang mukim di Nepal adalah Muslim Khasmiri yang kemudian mendirikan Masjid Kashmiri Taqiya dan sudah di ulas dalam artikel sebelumnya. Kelompok pertama muslim Hindustani masuk ke Nepal semasa kekuasaan Raja Pratap Malla (1641-1674) dari dinasti Malla. Raja mengizinkan mereka menetap dan mendirikan masjid di selatan Masjid Kashmiri Taqiya yang sudah lebih dahulu berdiri.

Masjid yang dibangun oleh kelompok pertama Muslim Hindustani ini kemudian terkenal sebagai masjid Hindustani, Masjid India, Masjid Nepali atau Masjid Jami Kathmandu (Kathmandu Jama’ Mosque). Konon masjid ini pertama kali dibangun dengan beraliran syiah (boleh jadi itu sebabnya muslim Hindustani meminta izin kepada raja untuk membangun masjid sendiri terpisah dari Masjid Kashmiri Taqiya yang beraliran Suni). Bangunan masjid Hindustani ini saat itu dilengkapi dengan sebuah imambara, sekarang bangunan tersebut sudah tidak ada lagi.

Tahun  1857 tatkala Nepal dibawah kekuasaan Jang Bahadur dari dinasti Rana, sejumlah besar muslim Hindustani berimigrasi ke wilayah Terai – Nepal, sebagai akibat tekanan dari tentara Inggris yang menjajah India kala itu. Jang Bahadur memang bersedia menerima migrasi muslim India tersebut sebagai bagian dari persekongkolannya dengan Inggris untuk mengurangi konsentrasi muslim di kawasan yang bergelok di India utara. Konsentrasi muslim dalam jumlah besar di satu kawasan bergolak dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi Inggris di India. Para pengungsi ini sebagian tinggal di tinggal di Terai ini berdagang bahan bahan dari kulit atau bekerja sebagai buruh tani.

Pemberontakan muslim India utara tahun 1857 terhadap penindasan tentara Inggris, terkenal dengan sebutan Pemberontakan Sepoy. Pemberontakan tersebut berahir dengan kekalahan muslim dari tentara Inggris. Kalangan istana Lucknow yang memberontak terpaksa mengungsi ke Nepal termasuk diantara mereka adalah Maulana Sargaraz AH Shah (Mufti terahir dari dinasti Mughal semasa Sultan Bahadur Shah Zafar) yang mengungsi ke Kathmandu mengiringi kepergian Putri Begum Hazrat Mahal istri dari Nawab Wajid Ali penguasa Begum dari Lucknow berserta putra Mahkota Birjis Qadr).

Pasukan keamanan bersenjata lengkap dengan tunggangan militer

mengamankan masjid Jami' Nepal menurut rusuh massa 1 September 2004

militayphotos.Net

Maulana Sargaraz AH Shah yang kemudian mengubah Masjid Jami’ Kathmandu menjadi Masjid beraliran suni dan merenovasi keseluruhan bangunan masjid, dan membangun kediaman bagi keluarga kerajaan yang menetap disana, keseluruhan dana renovasi dan pembangunan tersebut berasal dari dana pribadi Putri Begum Hazrat Mahal.

Maulana Sargaraz dan Putri Begum Hazrat Mahal ketika wafat di Kathmandu keduanya dimakamkan di areal masjid Jami’ Kathmandu sesuai keinginan mereka semasa hidup. Putri Begum Hazrat Mahal wafat di Kathmandu pada tanggal 7 April 1879. Makam mereka masih dapat di jumpai disana meski selama berpuluh puluh tahun makam dan masjid tersebut sama sekali luput dari perhatian pemerintah Nepal. Sampai sampai Pandit Jawaharlal Nehru tokoh kemerdekaan India sempat kecewa ketika mengetahui kondisi makam pejuang India tersebut sama sekali tak terawat. Belakangan pemerintah Nepal mulai memperhatikan masjid dan makam ini.

Massa muslim pendukung Faizan Ahmad Ansari, berdemo di depan

masjid Jami' Nepal menuntut pengusutan tuntas perkara penghilangan nyawa

keji terhadap Faizan Ahmad Ansari & tokoh muslim lain nya

(foto demotix.com)

Saksi Bisu penghilangan nyawa Tokoh Islam Nepal

26 September 2011 Masjid Jami Nepal menjadi saksi bisu pembunuhan keji terhadap salah satu tokoh muslim Nepal, Faizan Ahmad Ansari (36 tahun), Sekretaris Jenderal Persatuan Islam Nepal. Beliau dibunuh oleh dua orang pria bersenjata api yang memberondongnya dengan peluru di jalan di depan Masjid ini sesaat setelah beliau menunaikan sholat Asyar.  Tubuh beliau terkapar bersimbah darah di bawah guyuran hujan deras. Imran saudara beliau bersama jemaah masjid yang kemudian melarikan nya ke rumah sakit Bir di pusat kota Kathmandu namun nyawanya tak tertolong.

Pembunuhan keji tersebut memicu kemarahan para pendukung dan keluarganya yang menggelar demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus pembunuhan tersebut. Kasus ini juga bukan kasus pembunuhan pertama terhadap tokoh muslim Nepal. Lebih ironis lagi karena lokasi masjid ini dan lokasi kejadian justru tak jauh dari markas kepolisian kota metropolitan Kathmandu. Persatuan Islam adalah ormas Islam Nepal yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan utama memajukan pendidikan bagi muslim Nepal.

Sepasukan polisi mengamankan aksi demo ummat Islam yang menuntut

pengusutan tuntas pembunuhan Faizan Ahmad Ansari (demotix.com).

Meski kemudian pemerintahan maois Nepal mencopot kepala kepolisan metro Kathmandu, namun massa yang sudah terlanjur kecewa menuntut pengunduran diri wakil perdana menteri dan Mendagri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan mereka melindungi warga negaranya dari rangkaian aksi pembunuhan.

Masjid ini juga nyaris menjadi sasaran amuk massa pada 1 September 2004 silam yang melampiaskan kemarahan mereka atas terbunuhnya 12 pekerja Nepal di Iraq. Massa yang marah merusak dan menghancurkan kantor pengerah tenaga kerja di pusat Kathmandu yang dituduh bertanggung jawab atas pengiriman 12 pekerja tersebut ke Iraq, kantor kantor maskapai penerbangan asing tak luput dari amuk massa termasuk Masjid Kashmiri Taqiya yang tak terpisah jauh dari Masjid ini. Aparat keamanan kemudian memblokir kawasan ini dengan pengerahan pasukan dan kendaraan berat militer untuk menghentikan amuk masa, meski sebagian kalangan mengecam pihak keamanan yang dianggap terlambat mengantisipasi tindakan anarkis tersebut.

Nama resmi Masjid ini tertulis dengan hurup besar di gedung tempat kerja

pengelola masjid. Sedangkan menara kecil ini adalah tempat muazin

mengumandangkan azan di masjid Jami Nepal (flickr)

Arsitektural Masjid Jami Nepal

Masjid Jami’ Nepal yang kini berdiri merupakan bangunan baru bukan bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh muslim india di tahun 1641-1674 dan kemudian di renovasi total oleh Putri Begum Hazrat Mahal pada tahun 1857. Bangunan masjid ini kini berdiri tiga lantai dalam arsitektur yang lebih modern. Dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi sedikit terpisah dari bangunan masjid. Uniknya ada satu bangunan menara lain yang tidak seberapa tinggi di halaman masjid ini yang dijadikan tempat muazin mengumandangkan azan.

Kawasan masjid Jami Nepal di Kathmandu ini kini menjadi pusat aktivitas muslim di kota metropolitan Kathmandu. Berderet toko menyajikan berbagai kebutuhan ummat Islam termasuk rumah makan muslim yang menyediakan makanan halal dan toko toko yang menyediakan berbagai kebutuhan lainnya. Di kawasan masjid ini juga berdiri sekolah islam yang dikelola oleh pengurus masjid. Selama bulan suci Ramadhan secara khusus pengurus masjid menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi jemaah masjid. Penyediaan makanan untuk berbuka ini menjadi suatu perhelatan rutin yang cukup besar di masjid ini.

Foto foto Masjid Jami Nepal

bangunan misalnya menara kecil disebelah kiri adalah tempat muazin

mengumandangkan azan di masjid ini (foto dariflickr)

Massa muslim pendukung Faizan Ahmad Ansari, berdemo di depan

masjid Jami' Nepal menuntut pengusutan tuntas perkara penghilangan nyawa

keji terhadap Faizan Ahmad Ansari & tokoh muslim lain nya

(fotodemotix.com)

dua remaja sedang berbincang di depan Masjid Jami Nepal (ibtimes)
Sholat Jum'at di Masjid Jami' Nepal (allposters)
Referensi

travelpod.com – Kathmandu mosque

salatomic.com – Kathmandu jama masjid

himalmag.com – how crescent fares in Nepal

asianshcolarship.org - a study of contemporary nepalese muslim political discourse.pdf

pdf file - nepali times edisi 10-16 September 2004.

sabili – tokoh pemimpin organisasi islam Nepal ditembak mati

oudh.tripod.com – begum hazrat mahal

--------------

Artikel terkait :

Masjid di Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya ? Nepal

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid di Atap Dunia, Masjid Chaqchan, Pakistan

Masjid 4000 kilometer

Friday, June 26, 2020

Masjid di Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya – Nepal

Masjid Khasmiri Taqia - Kathmandu, Nepal di Idul Adha 17 Nov 2010 yang lalu (sacbee.com)
Para pendaki gunung mengenang Nepal dengan puncak tertinggi di dunia dipegunungan Himalaya yang berdiri kokoh diperbatasan Negara tersebut dengan China. Sherpa salah satu suku bangsa yang hidup di Nepal secara tradisi merupakan para pemandu ulung bagi para penakluk puncak Himalaya. Nepal merupakan wilayah yang terkunci dari wilayah laut berada di ketinggian Himalaya menjadikannya sebagai Negara dengan letak geografis tertinggi di Bumi. Kathmandu, Ibukota Nepal berada sebuah lembah di ketinggian rata rata 1400 meter dari permukaan laut.

Nepal, Negara republik paling baru terbentuk setelah selama 250 tahun berbentuk monarki Hindu dibawah pimpinan seorang raja. Nepal merupakan tanah kelahiran Sidharta Budha Gautama tokoh paling penting agama Budha, Sidharta Budha Gautama lahir di Nepal pada tahun 563SM, Agama Budha pernah menjadi agama mayoritas di Nepal dan menjadi agama Negara. Sampai kemudian berubah menjadi Kerajaan Hindu di tahun 200SM paska invasi dinasti Gupta dari India utara yang beragama Hindu ke wilayah Nepal. Dan sejak tahun 2008 lalu Nepal mengesahkan dirinya sebagai sebuah Negara Republik Demokratik Federal, seiring dengan jatuhnya kekuasaan Raja Nepal terahir Raja Gyanendra shah.

Tentang Nepal

Wilayah Negara Nepal seluas 140.800km2, sedikit lebih kecil dari luas propinsi Kalimantan Barat (147.800km2). Beriklim dingin menyengat di bagian utara dan sedikit hangat di bagian selatan, berbatasan dengan dua negara besar, Cina dan India. Berpenduduk lumayan padat, sekitar 27.676.547 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Brahman, Chetri, Newar, Gurung, Magar, Tamang, Rai, Limbu, Sherpa dan Tharu, mayoritas menganut agama Hindu (86,2%), Budha (7,8%), Islam (3,8%) dan lainnya 2,2%.

Lokasi dan Alamat Masjid Kashmiri Taqia - Nepal

Dunbar Marg, Ratna Park, Kathmandu, Nepal

Telepon : 0097-98415373657

Wikimapia : http://wikimapia.org/9264170/kashmiri-masjid

Islam di Nepal

Merujuk kepada hasil sensus penduduk Nepal tahun 1991 penduduk muslim di Nepal menempati urutan ke 3 dengan jumlah populasi sebesar 591,340 jiwa dibawah pemeluk agama Hindu dan Budha. Setara dengan 3.8% dari keseluruhan penduduk Nepal. Angka tersebut ditengarai jauh lebih kecil dari angka sebenarnya.

Secara garis besar muslim Nepal dibagi ke dalam 4 etnis besar masing masing adalah Muslim India, Khasmir (Khasmiri), Tibet (Tibetan) dan Muslim asli Nepal (Nepali). Selain itu masih ada lagi muslim Nepal gunung yang memang tinggal di kawasan pegunungan, mereka merupakan keturunan dari orang tua campuran dan rata rata merupakan keturunan dari ibu yang merupakan orang Nepal gunung. Perbedaan etnis tersebut secara kasar dapat terlihat dari penampilan fisik mereka, bahasa sehari hari yang digunakan, budaya dan juga mereka memang tidak berbaur satu dengan yang lainnya.

sholat jum’at di masjid Khasmiri Taqia Kathmandu, 5 Agustus 2011 (foto darisawbeirut.com)

Sedangkan muslim Kashmir (India) dipercaya sebagai muslim pertama yang bedomisili di Nepal. Gelombang pertama muslim Khasmir masuk dan menetap di Nepal pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1482-1520) dari dinasti Malla.  Mereka merupakan para saudagar yang melakukan perdagangan dengan Tibet lalu juga berdagang di Nepal. Barang dagangan mereka berupa karpet, bahan bahan kulit binatang dan bahan bahan yang terbuat dari woll.

sholat jum’at di Khasmiri Taqia

5 Agustus 2011 (foto :ccoro.org)

Kasta Masyarakat Nepal Paling Bawah

Gelombang kedua muslim India masuk ke Nepal dan tinggal di di wilayah Terai (perbatasan India dan Nepal) pada abad ke 19 tepatnya di tahun 1857M. Tahun 1857 wilayah Terai diakuisisi oleh Nepal di bawah Perdana Menteri Jung Bahadur bersama kerajaan Inggris. Hal tersebut sebenarnya upaya Inggris agar muslim tidak terkonsentrasi di India yang semakin membahayakan penjajahan Inggris atas India. Di bawah tekanan penjajah Inggris, Muslim di daerah perbatasan mengungsi ke wilayah Terai yang dijadikan wilayah Nepal. Sejak saat itu Muslim tunduk pada undang-undang Kerajaan Nepal tahun 1853 sebagai warga Negara dengan kasta terendah.

Sebagian besar muslim di wilayah Terai tersebut bukanlah pendatang namun menjadi bagian muslim Nepal karena 4 distrik territorial mereka yang tadinya merupakan wilayah India utara dimasukkan ke dalam teritori Nepal oleh Inggris sebagai hadiah untuk raja Nepal yang membantu Inggris dalam perang terhadap kerajaan Nawab dari Oudh yang ingin merdeka.

Muslim dari Tibet masuk ke Nepal awalnya juga untuk berdagang dan kemudian menetap di Nepal. Dalam sebuah kunjungan kenegaraan Raja Ratna Malla ke Lhasa, beliau juga mengundang para pengusaha muslim Tibet untuk membuka usaha di Kathmandu. Dan muslim pendatang dari Tibet bertambah di era 1960-an sebagai akibat gejolak politik di Tibet. Kini muslim Tibet yang ada di Nepal sudah berbaur dengan warga setempat baik bahasa, budaya hingga cara berpakaian merekapun sudah seperti orang Nepal. Muslim keturunan Tibet rata rata sukses, mereka masih melanjutkan bisnis dengan Tibet tanah leluhur mereka dan tentunya dengan China yang kini berkuasa di Tibet.

jemaah masjid Khasmiri Taqia

di halaman tengah (flickr) Ketika Angin perubahan berhembus

Selama berabad abad lamanya muslim Nepal hidup dalam ketertindasan penguasa dan mengalami ketertinggalan hampir disegala bidang salah satu sebabnya adalah status sosial mereka yang berada di kasta paling bawah menyebabkan mereka tak memiliki akses ke dunia pendidikan hingga politik. Tahun 1951 kekuasaan rezim dinasti Rana Berahir. Raja baru kurang bersimpatik dengan Muslim karena dianggap orang orang dekatnya dinasti sebelumnya. Perubahan kondisi politik mulai terjadi di tahun 1959 dengan keluarnya konsitusi baru dan pembentukan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dengan B.P. Koirala sebagai perdana menteri, namun kemudian sistim pemerintahan yang baru terbentuk ini dibubarkan oleh raja Mahendra setahun kemudian Dan menggantinya dengan sistim monarki terpimpin yang baru.

Namun sejak tahun 1960 itu pula tersebut raja Mahendra menghapus Undang undang tahun 1853 dengan menerbitkan undang undang baru yang mengangkat status kewarganegaraan muslim setara dengan warga negara lainnya. Meskipun UU tahun 1963 ini memberikan kebebasan beragama namun tetap melarang perpindahan agama (dari Hindu ke Islam) dan tetap melarang perceraian sebagaimana diatur dalam UU tahun 1853. Pelanggaran terhadap aturan tersebut akan dikenakan penjara selama 3 tahun. Raja Mahendra juga mengangkat satu orang wakil dari muslim untuk duduk di Dewan Perwakilan Nasional (Panchayat) dan tidak ada larangan bagi pendirian madrasah.

Hasilnya adalah 31 pemimpin muslim dapat ikut serta untuk pertama kali dalam kancah politik Nepal dengan ambil bagian dalam pemilu tahun 1991 dan lima dari mereka berhasil terpilih. Tiga dari mereka masuk dalam jajaran anggota kongres Nepal (dari partai komunis dan partai Sadbhavana) sedangkan Sheikh Idris yang menjadi anggota kongres juga masuk ke dalam jajaran kabinet.

18 Mei 2006 Parlemen Sementara Nepal mengesahkan undang undang baru yang secara tegas menyebutkan bahwa Nepal merupakan sebuah Negara merdeka, berdaulat dan Sekuler. Undang undang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Konstitusi Sementara di bulan Mei tahun 2007 yang menyatakan bahwa Nepal adalah sebuah negara yang Independen, invisible, berdaulat, sekuler dan inklusif serta Negara yang berdemokrasi secara penuh. Dewan perwakilan yang terpilih dalam pemilu di tahun tersebut harus mengesahkan hal teresebut.

Ancaman Terhadap Pimpinan Organisasi Islam Nepal

Salah satu organisai Islam di Nepal yang berupaya meningkatkan pendidikan ummat Islam Nepal adalah Persatuan Islam (islami Sangh), Sekretaris Jendral organisasi ini bernama Faizan Ahmad Ansari pada tanggal 26 September 2011 silam menjadi korban penembakan oleh dua orang pria bersenjata tak dikenal dan nyawanya tak tertolong. Kala itu beliau baru saja selesai menunaikan sholat di masjid yang lokasinya justru di depan pos polisi di kawasan metropolitan Kathmandu. Di bawah guyuran hujan deras dua pria berjas hujan memberondong beliau dengan peluru hingga tewas. Pembunuhan itu memicu protes dan kemarahan dari pendukung dan keluarga beliau. Beliau bukan satu satunya pemimpin muslim yang menjadi korban pembunuhan di Nepal, sebelumnya seorang pengusaha media muslim setempat, Jamin Sahah juga mengalami nasib serupa dalam waktu yang tak berselang terlalu lama.

Serangkaian pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap tokoh tokoh muslim di Nepal mengundang kecaman dari berbagai pihak termasuk dari tokoh tokoh agama selain Islam di Nepal. Peristiwa tersebut berujung kepada pencopotan kepala kepolian Kathmandu dan pembentukan komisi penyidik kasus pembunuhan tersebut namun tak membuahkan hasil. Lebih jauh ummat Islam Nepal kini menuntut pengunduran diri wakil Perdana Meteri dan Menteri dalam Negeri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab atas serangkaian pembunuhan terhadap tokoh tokoh Islam di negeri tersebut.

Al Qur’an berbahasa Nepal

Muslim Nepal kini bisa memiliki kitab suci Al Qur’an terjemahan bahasa Nepal sebagai upaya penyebaran dakwah di kalangan umat Islam di sana. Terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal mencakup 1.168 halaman, ditulis dengan tulisan Nepal dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran yang diterjemahkan dalam tulisan Arab. Untuk tahap pertama, terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal dicetak lebih dari 5.000 eksemplar, 2.500 diantaranya dikirim ke New Delhi (India), Buthan, dan Myanmar hingga kemudian semakin banyaklah Muslim Nepal yang mengenal kembali Islam lewat ayat-ayat Al Qur’an dalam bahasa yang mereka pahami.

Masjid Khasmiri Taqia yang terbakar saar rusuh massa 1 September tahun 2004 lalu (theage.com.au)

Sejarah Masjid Khasmiri Taqia - Nepal

Masjid Khasmiri Atau Masjid Khasmiri Pancha Taqia dibangun pertama kali oleh seorang ulama Islam Khasmir pada tahun 1524M di masa kekuasaan raja Rama Malla (1484-1520). Masjid ini merupakan masjid pertama dan terbesar di Nepal. Keturunan beliau dan para pengikutnya kini masih eksis di Kathmandu. Beliau merupakan salah satu dari pedagang khasmir yang sukses di Kathmandu, menjalankan bisnis perdagangannya dengan Tibet dan India dengan berpusat di Kathmandu.

Beliau dan para pegadang Khasmir lainnya ketika itu mendapatkan izin dari raja untuk berdagang dan menetap di Kathmandu dengan satu syarat agar tidak menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu. Masjid yang dibangun hanya untuk kepentingan ibadah bagi muslim yang ada dan tidak untuk dijadikan sebagai pusat pengembangan Islam kepada pemeluk agama Hindu.

Sholat idul adha 7 November 2010 yang lalu (jafrianews.com)
Masjid yang sudah berumur lebih dari 480 tahun ini sempat mengalami kerusakan parah akibat serangan sekitar 4000 massa pada tanggal 1 September 2004 lalu. Serangan tersebut menyusul terjadinya insiden terbunuhnya 12 pekerja Nepal yang diculik oleh milisi bersenjata di Iraq. Warga Nepal kemudian melampiaskan kemarahan atas insiden tersebut dengan menyerang Masjid Khasmiri Takiya. Merusak dan menyeret keluar perabotan masjid dan membakar ruangan utama masjid Khasmiri.

Beruntung aksi tersebut berhasil dibubarkan oleh pasukan polisi anti huru hara Nepal hingga tindak anarkis tersebut tak meluas. Polisi juga sempat menutup kawasan tersebut yang tak jauh dari (bekas) istana Kerajaan Narayanhity dan memberlakukan jam malam selama beberapa waktu, melarang penduduk keluar rumah di malam hari dan mengeluarkan perintah tembak di tempat bagi pelaku kerusuhan lanjutan. Kelompok massa yang sama sebelumnya juga telah mendemo dan merusak lusinan kantor perusahaan pengerah tenaga kerja yang dipersalahkan karena telah mengirim warga Nepal ke Iraq. Kerusuhan ini dikenal dengan sebutan black Wednesday di kupas tuntas dalam tabloid nepali times edisi 10-16 September 2004.

Meski masjid ini dibangun dan dikelola oleh muslim khasmir, namun terbuka untuk semua kalangan. Khutbah jum’at disampaikan dalam bahasa Arab. Jabatan Imam saat ini dipegang oleh Ali Manzar. Di saat penyelenggaraan sholat jum’at dan dua sholat hari raya masjid ini penuh sesak oleh jemaah pria sampai ke atap dan areal sekitar masjid.

Bangunan utama Masjid Khasmiri Taqia, dihalaman tengah masjid Khasmiri Taqia (foto source)

Arsitekrual Masjid Kashmiri Taqia - Nepal

Bangunan utama Masjid Khasmiri Taqia merupakan bangunan masjid yang sangat kental dengan sentuhan India utara sebagai tanah leluhur dari muslim Khasmiri di Nepal. Menara menara kecil menghias atap masjid. Tiga kubah batu menghias atap bangunan utama. Sentuhan seni dinasti Mughal terlihat disini dan pada menara menara kecilnya.

Masjid Khasmiri Taqia dilengkapi denga halaman tengah yang cukup luas. Bangunan koridor berlantai tiga mengitari halaman tengah ini. bangunan koridor ini memiliki daya tampung jauh lebih besar dibandingkan dengan bangunan utama masjid. Halaman tengah masjid ini juga difungsikan sebagai areal tempat sholat. Bangunan koridor yang mengitari halaman tengah masjid ini memiliki seni bangunan yang khas. Dengan lengkungan yang tidak biasa. Lengkungan yang biasa kita kenal adalah sebuah lengkungan lengkungan yang rata. Namun lengkungan di masjid ini dibentuk sedemikian rupa dengan lengkungan yang lebih kecil.

Yang lebih menarik adalah disedikannya sebuah tempat khusus untuk muazin mengumandangkan azan. Bangunan seperti menara tapi tidak terlalu tinggi, di salah satu penjuru bangunan koridor. Dan bila didengarkan video di bawah ini, kumandang azan di masjid Nepal ini sangat jauh berbeda langgamnya dengan kumandang azan yang biasa kita dengar di Nusantara hingga kawasan semenanjung Malaya.

Azan di Indonesia biasanya dilantunkan dengan lafaz yang panjang dan mendayu dayu merdu. Di Masjid Khasmiri Takiya azan nya lebih datar meski lafaznya juga panjang panjang. Namun tentu saja kumandang azan seperti ini terdengar asing bagi muslim Indonesia dan Muslim Nusantara. Bagaimanapun lain lubuk lain ikannya, lain laing lain pula belalangnya. Tapi justru itu salah satu letak indahnya keragaman. Menambah khazanah dunia Islam.

Foto Foto Masjid Kashmiri Taqia - Nepal

Bangunan utama Masjid Khasmiri Taqia - Nepal (foto source)

Seorang anak sedang khusuk berdoa di masjid Khasmiri Taqia di bulan Ramadhan / Agustus 2011 yang lalu (boston.com)
Seorang anak sedang khusuk berdoa di masjid Khasmiri Taqia di bulan Ramadhan / Agustus 2011 yang lalu (boston.com)

Referensi

en.wikipedia – islam in nepal

dakwatuna.com – habis shalat pemimpin organisasi islam Nepal ditempak mati

modusaceh.com – kabar islam di nepal

islaminnepal.wordpress.ccom – islam in nepal

republika – kekuatan asing intimidasi muslim Nepal

republika – pemimpin Nepal tewa ditembak pembunuh berjas hujan

sabili – tokoh pemimpin organisasi islam Nepal ditembak mati

himalmag.com – how the crescent fares in Nepal

salatomic.com – khasmiri masjid

smh.com.au – Kathmandu mosque ablaze after hostage killings

situs islam Nepal http://www.nepalimuslims.org/

democraticunderground.com - Mosque set on fire as thousands rampage in Nepal after hostages killed

theage.com - Nepal mob attacks mosque

madhesi.wordpress - muslim in Nepal : becoming an assertive minority

pdf file - ISIM_6_Ethnic_Variation_of_Nepal-s_Muslim_Minority.pdf

ipac.kacst.edu.sa - Muslim Population in the Kingdom of Nepal: Some Outstanding Features

-------------

Artikel terkait :

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami’ Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid di Atap Dunia, Masjid Chaqchan, Pakistan

Masjid 4000 kilometer

Masjid Di Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid Agung Lhasa – Tibet (foto dari Panoramio)

Dimanakah Letak Masjid Agung Lasha

Tibet, sebuah negeri yang juga berada di lokasi geografis tertinggi di bumi dengan elevasi rata rata 4900 meter dari permukaan laut. Jauh lebih tinggi dari gunung semeru (3676mdpl) puncak tertinggi di pulau Jawa. Dengan ketinggian itu menjadikan Tibet sebagai kawasan tertinggi di planet bumi. Wajar bila kemudian Tibet disebut sebagai Negeri di atap Dunia. Tibet beribukota di Lhasa. Kota yang menjadi rumah bagi Masjid Agung Lhasa yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Tibet dulunya merupakan sebuah Monarki dengan agama Budha sebagai agama negara, pemimpin negaranya juga merupakan pemimpin tertinggi agama Budha, bergelar Dalai Lama. Negeri dengan bangunan bangunan megah peninggalan Sang penguasa negeri atap dunia. Kota Lasha kadang kadang juga dijuluki sebagai “tempat bersemayam-nya para dewa”. Sebuah bangunan istana monumental menjadi landmark dan tujuan wisata utama di jantung kota Lhasa, Istana Potala namanya. Bangunan istana yang menyandang predikat sebagai istana kuno dengan lokasi geografis tertinggi di muka bumi. Istana tempat bertahtanya Dalai Lama pertama hingga Dalai Lama terahir.

Lokasi Tibet Autonomous Region - China
Di tengah negeri yang kental dengan tradisi Budha ini, Islam telah eksis sejak hampir seribu tahun lalu. Masjid Agung Lasha yang akan kita ulas dalam artikel ini merupakan salah satu bukti eksistensi Islam di Tibet umumnya dan di kota Lasha khususnya. Lokasinya yang berada di kota tertinggi di bumi menjadikan masjid Agung Lasha sebagai masjid yang juga terletak di lokasi tertinggi di Bumi. Masjid di atap dunia. Arsitektural masjid ini begitu unik dalam kesederhanaannya memadukan arsitektural Islam dengan arsitektural tradisonal asli Tibet dengan sentuhan tradisional Hui.

Tahun 1950 pasukan merah China menginvasi Tibet dan di musim gugur tahun 1951 pasukan merah China berhasil menduduki kota Lhasa. Pada tanggal 17 Maret 1959 Pemimpin tertinggi Tibet, Dalai Lama berhasil meloloskan diri dari tangkapan pasukan merah China dan hidup di pengasingan bersama keluarga serta pengikut setianya di Dharamsala, India, dan membentuk semacam pemerintahan di pengasingan. Dalai Lama yang sekarang adalah Dalai lama ke 14 atau Tenzin Gyatso. Tahun 1965 pemerintah China menjadikan Tibet sebagai salah satu propinsi di Republik Rakyat China dengan status otonomi Khusus bernama resmi Tibet Autonomous Region atau Xizang Autonomous Region.

Alamat Masjid Agung Lasha

Wengduixingka Road No.Tiga, Hui Community

Southeast of Hebalin, Old Town, Lasha

Tibet (Xizang) Autonomous Region, China

Koordinat geografi :  29°39'3"N   91°8'12"E

Sejarah Masjid Agung Lasha

Masjid Agung Lhasa juga dikenal dengan nama Masjid Hebalin, karena lokasinya yang berada di kawasan Hebalin, di pusat kota Lasha. Masjid yang menjadi pusat komunitas muslim Hui di Tibet. Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Kangxi dari dinasti Qing. Pertama kali dibangun masjid Agung tersebut hanya seluas 200 meter persegi. Bangunan masjid pertama itu kemudian diperluas tahun 1793M ketika banyak tentara muslim yang menetap di Lhasa. Bangunan masjid tersebut hancur dalam kebakaran di tahun 1959 dan kemudian dibangun lagi ditahun yang sama. Bangunan yang kini kita lihat di pusat kota Lasha adalah bangunan setelah renovasi terahir tersebut.

Di bulan Maret tahun 2008, kawasan muslim quarter di Hebalin termasuk Masjid Agung Lhasa ini sempat dirusak massa pendemo anti China di Tibet. Kawasan Hebalin dan Masjid Agung mengalami kerusakan disana sini akibat rusuh massa. Polisi setempat sempat menutup kawasan tersebut, melarang siapapun masuk kesana kecuali warga asli Hebalin dan muslim dari area lain yang akan menunaikan sholat di Masjid Agung.

Masjid Agung Lasha dengan gerbang nya yang sangat khas (foto dari flikr.com)

Masjid lainnya disebut masjid kecil (Lhasa Small Mosque) adalah masjid yang dibangun untuk para muslim pendatang dari Kashmir. Masjid kecil, pertama kali dibangun tahun 1863M. Masjid ini berukuran 130 meter persegi dilengkapi dengan bangunan sekolah Islam dibangun tahun 1952 dan menginduk ke sekolah Islam di masjid Agung Lhasa. Di sekitar Masjid Kecil, ada 63 keluarga yang tinggal disana termasuk 11 keluarga warga asing dengan total populasi sekitar 315 jiwa. Masjid Kecil Lasha terletak di Balang Steet, Hebalin, Chengbing District, Lhasa.

Fasad depan Masjid Agung Lasha menggunakan

ornamen khas etnis Hui (foto pbase.com)

Masjid Agung Lasha dibangun dalam arsitektural tradisional Tibet dengan bentuk bentuk lengkungan sirkular dan dua menara kecil menyatu dengan atap masjid di atap sisi depan masjid. Dekorasi masjid didominasi oleh ukiran dan lukisan bunga bunga dan flora, dalam sentuhan warna biru. Arsitektur masjid ini cukup sederhana namun cukup menyolok diantara bangunan bangunan lain di pusat kota Lasha. dua menara dan Kubah utama di atap masjid terlihat sampai jauh, memberikan nuansa lain di kota Lasha.

Masjid Agung Lasha memiliki tiga pintu masuk menuju halaman tengah nya. Seperti kebanyakan bangunan relijius di Tibet Masjid Agung Lasha juga dilengkapi dengan sebuah pintu gerbang besar menuju halaman masjid. Gerbang dengan arsitektural khas Tibet, mirip seperti gerbang sebuah vihara Budha. Ornamen gerbang ini didominasi polesan warna merah, lukisan floral, dan atap khas yang terdiri dari tiga undakan atap. Pembedanya dengan bangunan relijius lainnya adalah sebuah papan nama besar yang bila di Indonesia-kan artinya adalah “Masjid Agung Lasha di Tibet”, yang ditulis dengan tiga aksara sekaligus. Aksara dan bahasa arab serta dua aksara setempat.

Keseluruhan bangunan masjid ini menempati area seluas 2600 meter persegi termasuk bangunannya seluas 1300 meter persegi. Bangunan utama nya terdiri berdasarkan ruang sholat primer, & bangunan penunjang termasuk bangunan bunker, menara air, kamar mandi, tempat wudhu & lain lainnya. Ruang sholat masjid ini seluas 285 meter persegi terdiri dari ruang inti, & ruang terbuka. Gedung bunker atau gedung Xuanli, adalah bangunan primer masjid ini.

Salah satu menara masjid Agung Lasha

(foto dari pbase.com)

Selain Masid Agung Lasha dan Masjid Kecil Lhasa, masih ada dua Masjid Lagi di Kota Lasha, yakni dua masjid yang dikelola oleh Muslim Khasmir, biasa disebut masjid Khasmiri (masjidnya muslim Kharsmir) yang berada di Gyangda Linka (taman Muslim) dan Masjid Khasmiri di pusat kota Lasha. Masjid Khasmiri dan muslim Khasmir di Lasha memiliki sejarah yang unik, karena Gyangda linka (Taman Muslim) yang menjadi kampung muslim Khasmir pertama di Lasha merupakan hadiah dari Dalai Lama ke-5 untuk muslim Khasmir. Di seluruh wilayah Tibet ada 6 Masjid, selain dari 4 yang sudah disebutkan tadi masih ada satu masjid di Shigatze dan satu masjid di Changdu di bagian Timur Tibet.

Sejarah Islam Di Tibet

Saudagar muslim dari negara negara Arab sudah mencapai Tibet pada sekitar abad ke 8 ~ 9 masehi. Perkembangan Islam menyebar disebelah barat Tibet dan Kashmir pada abad ke 11 masehi. Di abad ke 12M kelompok saudagar muslim dari Kashmir dan Ladakh masuk ke Tibet dan menetap di Lasha. Pernikahan antara pria muslim pendatang dengan wanita Tibet serta interaksi sosial diantara muslim dan warga asli mengukuhkan eksistensi mereka disana. Bahkan bahasa Tibet memiliki kosa kata sendiri untuk menyebut Muslim, dengan kata Kha-che. Masjid pertama di Tibet dibangun pada tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Qing dari dinasti Kangxi. Masjid pertama itu yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Lasha.

Interior Masjid Agung Lasha

(foto dari pbase.com)

Muslim China di Tibet merupakan Muslim dari marga Hui, secara berkesinambungan mereka tinggal di Suing dan Kawasan Kokonor di bagian barat Tibet, dan menjalankan perdagangan dengan Tibet Tengah. Sebagian dari mereka merupakan pedagang dan tinggal secara permanen di kawasan timur Tibet, keturunan mereka masih dapat ditemui hingga kini, beberapa diantaranya juga datang dari barat secara berkesinambungan kemudian pindah ke Lhasa. Menetap disana mempertahan akidah dan persaudaraan yang erat satu sama lainnya.

Berbagai sumber di Tibet menunjukkan bahwa penguasa Tibet pernah menguasai kawasan luas di Asia Tengah sebelah barat hingga ke Persia di abad ke 8 dan 9 Masehi, dimasa ketika Persia, Uigur, Turk dan Tibet berlomba untuk menguasai kawasan tersebut terutama dari penguasa Kabul, yang semula merupakan pengikut raja Tibet namun kemudian berganti keyakinan dari Budha dan masuk Islam di sekitar tahun 812 – 814M, dan tunduk kepada Khalifah Al-Ma’mun dari dinasti Abbas.

Sebagai suatu penghormatan kepada khalifah Islamiyah, raja Kabul kala itu memberi hadiah kepada Al-Ma’mun berupa kepingan emas yang merupakan hasil dari peleburan patung emas Budha. Kepingan emas tersebut kemudian dikirimkan kepada khalifah. Itu sebabnya Kawasan yang kini kita kenal sebagai Afganistan dan beberapa Negara baru di kawasan asia tengah merupakan kawasan yang tak tersentuh oleh pengaruh Tibet selama beberapa abad.

jemaah sholat jum’at di Masjid Agung Lasha (peopledaily.com.cn)

Kha-Ce, Masjid Chota & Gya Kha Che, Masjid Bara

Komunitas muslim di Lhasa saat ini terdiri dari dua kelompok yang berbeda, keduanya menjadi warisan budaya di masyarakat China (Tibet), Khasmir, Nepal, Ladakh, Sikh atau bahkan bagi masyarakat non China. Komunitas kecil muslim kurang dari 1000 jiwa yang kini disebut Kha-Che merupakan merupakan keturunan dari para pedagang muslim di abad ke 12M. Sedangkan orang Muslim China dari marga Hui dipanggil Gya Kha Che, jumlah mereka ada sekitar 2000 jiwa.

Masing masing komunitas kecil tersebut menggunakan dan mengelola masjid mereka sendiri. Muslim Khasmir (Khasmiri) dan muslim non China menggunakan Masjid Chota atau Masjid Kecil, sedangkan Orang Hui menggunakan Masjid Bara atau Masjid Besar. Masing masing komunitas memiliki pemuka agama dari kalangan mereka sendiri, mengola  sekolah Islam, mengurus administrasi mereka masing masing kepada pemerintah lokal Tibet, hingga pemakaman umum yang mereka sebut Kygasha, lokasinya sekitar 15Km diluar kota Lhasa.

gerbang Masjid Agung Lasha (cnr.cn)

Hadiah Lahan ?Sejauh Jangkauan Anak Panah?

Meskipun para saudagar muslim pendatang sudah lama hadir di Lhasa dan kota kota lain di Tibet, namun baru pada saat naiknya Dalai lama ke lima (1617-1682) menjadi titik balik bagi Islam di Tibet. Berdasarkan sejarah lisan disebutkan bahwa beberapa ulama Islam yang hidup di Lhasa pada masa itu selalu melaksanakan sholat di bukit bukit terpencil di pinggir kota. Dalai Lama menjumpai mereka saat mereka sholat setiap hari, sampai suatu hari beliau bertanya tentang apa yang mereka lakukan. Salah satu Ulama kemudian menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan sholat sesuai dengan ajaran Islam, dan mereka melaksanakannya di bukit terpencil karena ketiadaan masjid di pusat kota untuk mereka jadikan sebagai tempat sholat berjamaah.

Terkesan dengan penjelasan tersebut, Dalai Lama kemudian mengutus seorang pemanah ke bukit dimana kaum muslimin sering sholat berjamaah disana dan memerintahkannya untuk menembakkan anak empat panahnya ke empat penjuru mata angin. Dari tempat dimana dimana anak panah dilepaskan hingga ke tempat dimana ke empat anak panah tersebut jatuh, seluas itulah lahan yang kemudian diberikan oleh Dalai Lama ke-5 kepada kaum muslimin untuk mendirikan Masjid dan sebagainya. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai “sejauh jangkauan anak panah” yang kemudian menjadi tempat bagi bangunan masjid dan lahan pemakaman muslim pertama di kota Lhasa hingga kini.

Prasasti pada Muslim Park kota Lasha , pada 4 bahasa, mengenang

kebaikan Dalai Lama ke-5 yang memberikan lahan bagi

kaum muslimin di tahun 1650 (cnr.cn)

Kini, lahan yang dihadiahkan oleh Dalai Lama Ke-Lima tersebut dikenal sebagai Che Kha Gling Ga atau Taman Muslim (Muslim Park) yang digunakan oleh komunitas muslim sebagai tempat piknik. Sebuah bangunan berbentuk lengkungan khas Tibet (sgo) dibangun untuk menandai di masjid pertama yang dibangun tempat itu sekaligus untuk mengenang kebaikan Dalai Lama ke Lima.

Sampai kemudian masjid baru bagi muslim Khasmir (masjid kecil / chota masjid) dibangun di pusat kota Lhasa. Dulunya masjid di Kha Che Gling Ga (taman muslim / muslim park) merupakan satu satunya tempat bagi Muslim Khasmir untuk berkumpul melaksanakan sholat Jum’at secara rutin. Muslim dari komunitas Khasmir ketika itu harus berjalan cukup jauh beberapa kilometer setiap hari Jum’at untuk mencapai masjid dari rumah mereka di pusat kota menuju masjid di Kha Che Gling Ga dan kemudian berbagi roti bersama jemaah yang lain setiap bakda sholat Jum’at. Sebagian dari roti yang tidak habis disantap kemudian dibawa kembali ke pusat kota dibagikan kepada mereka yang tidak dapat hadir di masjid hari itu sebagai “tshogs” atau roti berkat.

jemaah Masjid Agung Kota Lasha, (foto dari booked1.blogspot)

Sebagaimana masyarakat Tibet lainnya, muslim Tibet pun mengalami masa masa sulit sejak pencaplokan wilayah Tibet oleh tentara China. Meskipun situasinya kini sudah berangsur angsur membaik dari sebelumnya. Kini mereka sudah sedikit menikmati kebebasan untuk menjalankan agamanya dibandingkan masa masa sebelumnya. Namun begitu pasukan merah China senantiasa mengawasi semua aktivitas warga Tibet dalam upaya mencegah segala bentuk upaya separatisme kemerdekaan Tibet dari China. Tentara menjaga setiap sudut kota Lhasa termasuk di kawasan Masjid Agung Kota Lhasa.

interior lantai-1 Masjid Agung Lasha (foto dari Panoramio)

Tibet dengan ibukotanya Lhasa, selama berabad abad menjadi tempat yang penuh misteri bagi para petualang karena ketertutupannya dari dunia luar. Tempat yang begitu terpencil di ketinggian pegunungan Himalaya ini menjadi salah satu perlintasan sepanjang jalur sutera di abad pertengahan. Sampai kemudian Tibet takluk dibawah kekuasaan China tahun 1950 Tibet mulai terbuka dan dikenal secara luas oleh dunia Internasional. Jalur kereta api yang dibangun pemerintah China melintas di kawasan Tibet dari wilayah China lainnya menjadi lintasan kereta api di tempat tertinggi di bumi. Proyek proyek pembangunan berskala raksasa diluncurkan pemerintah China di kawasan itu.

Kehadiran Islam, muslim dan masjid di kota Lhasa, ibukota Tibet itu membuka mata kita, bahwa di negeri atas langit yang mayoritas penduduknya beragama Budha itu ada saudara saudara kita sesama muslim. Meski berbeda suku bangsa, berbeda warna kulit, bahasa dan budaya, tapi Islam mempersatukan kita dalam satu ikatan ukhuwah. Semoga Islam semakin bersemi di negeri istananya para dewa itu dan menjadi rahmat bagi Tibet dan China secara keseluruhan. Amin.

Foto Foto Masjid Agung Lhasa - Tibet

suasana masjid Agung Lasha (panoramio)

interior lantai-2 Masjid Agung Lasha (foto dari Panoramio)

Papan nama Masjid Agung Tibet dalam tiga bahasa (foto dari pbase.com)

kubah dan menara Masjid Agung Lasha dari kejauhan (foto dari penganyamkata.net)

Referensi

saudiaramcoworld.com – islam on the roof of the world

tibetmaster.com – lhasa mosque

chinahighlights.com – lhasa mosque

penganyamkata.net – adzan tiba di kota lhasa

en.wikipedia - tibet

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel ?Bukan Masjid Biasa? Lainnya

Masjid Innuvik, Masjid ke 4 pada Kutub Utara

Tiga Masjid pada Kutub Utara

Masjid 4000 kilometer

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Jami? Nepal

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya ? Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid pada Atap dunia, Masjid Chaqchan ? Pakistan

Masjid di Atap dunia, Masjid Chaqchan – Pakistan

Masjid Chaqchan, Khaplu, Baltistan, Pakistan (foto dari Panoramio)

Dimanakah letak masjid Chaqchan

Pernah dengar nama Himalaya ?, pernah dong, itu loh pegunungan tertinggi di muka bumi itu. Pegunungan Himalaya membentang dibeberapa Negara termasuk Pakistan. Masjid Chaqchan yang akan kita bahas dalam tulisan ini berada di daerah Khaplu, Distrik Ghangche, kawasan Gilgit Baltistan di Propinsi Paling utara Republik Islam Pakistan. Kawasan Gilgit Baltistan satu dari kawasan paling spektakuler di utara Pakistan. Kawasan yang berada di pertemuan tiga puncak tertinggi di dunia masing masing Pegunungan Karakorum, Hindukush dan Himalaya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan yang berada di atap dunia.

Keseluruhan kawasan Gilgit-Baltistan merupakan sorga bagi para pendaki gunung, pemanjat tebing, trekker dan hiker. Kawasan ini juga merupakan kawasan bersejarah yang kaya dengan warisan budaya dan beragam flora dan fauna langka. Kawasan bersejarah Gilgit-Baltistan, sekian lama menjadi pusat perebutan kekuasan politik maupun militer antara emporium Russia, Inggris Raya dan China. Sampai kemudian berahirnya kekuasaan Inggris di Anak Benua India tahun 1947, warga di kawasan ini memilih untuk bergabung dengan Pakistan melalui sebuah pemberontakan lokal yang begitu terkenal melawan Maharaja Kashmir.

Posisi koordinat geografi : 35°9'24"N 76°19'45"E

Sekedar informasi, wilayah Kashmir kini tercabik cabik ke dalam territorial tiga Negara, sebagian besar masuk ke dalam wilayah India sebagai Negara bagian Jammu & Kasmir (termasuk wilayah Ladakh) sebagian besar lagi masuk ke dalam wilayah Pakistan menjadi propinsi Northern Area termasuk Baltistan, serta sebagian kecil lagi masuk ke dalam teritori China menjadi propinsi Aksai Chin, bertetangga dengan wilayah otonomi Tibet. Namun hingga kini, Salah satu negeri atap dunia ini terus saja menjadi titik ketegangan antara Pakistan, India dan China.

Lokasi Baltistan di peta Kashmir (peta dari fravahr.org)

Diantara bangunan warisan sejarah masa lalu di Gilgit – Baltistan adalah bangunan masjid masjid kuno dengan arsitektural Tibet yang sangat antik, salah satunya adalah masjid Chaqchan di daerah Khaplu. Masjid ini dipercaya sebagai tempat ibadah yang pertama hadir sejak muncul nya peradaban manusia di kawasan tersebut. Arsitektural masjid ini sangat unik menggambarkan sebuah seni Islam yang sangat kuno.

Tentang Khaplu (Ghangche)

Khaplu merupakan gerbang menuju beberapa puncak tertinggi di bumi termasuk Himalaya, diantaranya ; puncak Masherbrum 1 & 2 (7821 mdpl), Puncak K7 (6921 mdpl), K6 (7281 mdpl), puncak Gondogoro (5650 mdpl) ,Puncak K2 (8611 mdpl) dan kawasan lainnya yang menyajikan pemandangan yang begitu indah dengan lintasan hiking, rafting, rock climbing, dan kegiatan alam liar lainnya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat paforit bagi para peminat kegiatan petualangan di alam terbuka. K2 merupakan puncak tertinggi di bumi setelah puncak Himalaya.

Khaplu memiliki banyak nama seperti “Lembah Shyok”, “Ghangche” dan “Little Tibet”. Khaplu juga menjadi ibukotanya Distrik Ghangche. Khaplu menjadi rumah bagi begitu banyak tempat dan bangunan bersejarah termasuk masjid tua Chaqchan yang sudah berumur 700 tahun lebih, Istana Raja (Raja Palace) sebuah bangunan istana dengan arsitektur Tibet terahir dan terbaik di Pakistan, merupakan penghormatan kepada Muhammad Shah yang dibangun tahun 1712M / 1124H. serta begitu banyak bangunan berasrsitektur penuh sejarah lainnya di Khaplu.

masjid Cahqchan dari sisi depan (foto dari my.opera.com)

Islam di Baltistan

Islam masuk ke kawasan Baltistan, Kargil dan beberapa desa di Ladakh (kini masuk ke dalam wilayah Negara India) hasil dari dakwah Islam yang disampaikan oleh Syed Ali Hamdani (714 AH/1314M -786H/1384M) seorang ulama sufi. Dakwah beliau kemudian dilanjutkan oleh Syed Muhammad Nurbakhsh (795H/1393M – 859H/) yang merupakan murid dari Khawaja Ishaq Khatlani yang juga beraliran sufi. Penduduk setempat yang tadinya beragama Budha kemudian masuk Islam dan membentuk komunitas muslim pertama di bagian utara anak benua India. Syed Mohammad Nurbakhsh mengajarkan Qur’an dan Sunnah termasuk juga menulis buku fiqh, furu, usuluddin. Aliran sufi disana kemudian dikenal dengan nama Sufi Nurbakshia.

Syed Ali Hamdani semasa hidupnya menulis 170 buku, dan materi cetakan lainnya yang 70 diantaranya dapat ditelusuri baik yang sudah di publikasikan atau tidak. Begitu juga dengan Syed Muhammad Nurbakhsh menulis setengah satu setengah lusin buku dalam bahasa Parsi dan Arab. Pengaruh dua guru besar ini menyebar hingga ke kawasan Kashmir (yang masuk wilayah China maupun India) hingga ke Tajikistan, Siangkang dan propinsi Yarqand di China hingga ke Kurdistan dan Iran. Materi materi ajaran beliau berdua masih dapat ditemui di perpustakaan “Barat” di Khaplu dan perpustakaan Islam Suffa, di Madrasah Shah-e-Hamdani..

Masjid Chaqchan saat sebelum di restorasi, sangat mengkhawatirkan

(foto dari  tibet-encyclopaedia)

Masjid Chaqchan

Masjid chaqchan merupakan salah satu masjid tertua di kawasan Khaplu yang dibangun oleh Syed Ali Hamdani (714 AH/1314M -786H/1384M) sebagai bagian dari dakwah beliau di daerah tersebut. Beliau begitu dihormati muslim setempat sebagai seorang waliullah. Dan senantiasa ditambahkan gelar R.A (RodiAllohu Anhu) di belakang namanya. Masjid ini menjadi salah satu tempat suci di kawasan Khaplu, muslim dari berbagai negeri datang ke masjid ini untuk menikmati keindahan dan penyegaran keimananan mereka. Masjid ini dipercaya sebagai salah satu masjid yang sudah eksis sejak awal peradaban Islam di kawasan Khaplu.

Masjid Chaqchan ini sempat mengalami kerusakan karena termakan usia. Maklum, sebagian besar bahan bangunan yang dipakai untuk masjid ini berbahan kayu. Kayu kayu pilihan yang kemudian diukir sedemikian rupa dengan ukiran khas Tibet, sangat indah. Untuk mencegah ambruknya bangunan tersebut dan hilangnya salah satu warisan budaya dunia, lembaha Aga Khan melakukan restorasi total terhadap masjid ini dan berhasil mengembalikan bentuknya kepada bentuk aslinya dan tetap berdiri kokoh di lokasi awalnya dan terus menjadi pusat peribadatan muslim setempat, dan para pengembara dunia yang singgah ke Khaplu.

Interior masjid Chaqchan (foto dari pakwheels.com)

Arsitektural Masjid Chaqchan

Sekilas pandang, siapapun (selain penduduk setempat) tak kan mengira bangunan tua nan antic ini adalah sebuah masjid. Butuh pengamatan lebih untuk menemukan bukti bahwa bangunan ini adalah bangunan masjid. Bangunan kayu yang pondasi nya berupa susunan batu alam dan semen ini memang kental dengan sentuhan seni tradisional Tibet. Bentuk bangunan hingga ornament di atap bangunan benar benar identik dengan bangunan bangunan peribadatan Budha di Tibet.

Hal tersebut dapat difahami karena memang wilayah Khaplu 700 tahun lalu sebelum kedatangan Islam merupakan wilayah yang penduduknya beragama Budha, sama seperti di kawasan Tibet (kini menjadi wilayah otonomi China) yang memiliki kedekatan geografis. Lain halnya dengan Tibet yang kini penduduknyamasih mayoritas beragama Budha, di wilayah wilayah Kashmir baik yang masuk ke dalam wilayah China, India dan Pakistan, mayoritas penduduknya beragama Islam.

Detil ukiran interior masjid Chaqchan (foto dari pbase.com)

Warisan budaya Tibet di kawasan tersebut masih eksis hingga kini dalam seni bangunannya. Tidak hanya masjid berusia tua di pedalaman seperti masjid Chaqchan ini tapi juga masjid masjid agung di pusat kota seperti Jama Masjid Srinagar, India, seni bangunan nya pun turut dipengaruhi oleh budaya Tibet. Sangat menyolok terlihat pada ornamen atap utama bangunan masjid.

Masjid Chaqchan di Khaplu ini penuh dengan ukiran kayu khas Tibet yang menghias hampir keseluruhan fasad bangunan. Ekterior maupun interior bangunan. Ukiran dengan pola geometris dan floral warna warni dapat ditemui di dinding bagian luar dan dalam masjid. Ventilasi bangunan menggunakan jalinan kayu juga berpola geometris. Masjid Chaqchan ini terdiri dari dua lantai yang dipakai di musim yang berbeda. Lantai dasar masjid digunakan semasa musim dingin sedangkan lantai atas di gunakan semasa musim panas.

Masjid Chaqchan dari sisi yang berbeda (foto dari panoramio)

Empat tiang kayu berukir menopang struktur atap bangunan ini. ukiran geometris warna warni juga memenuhi keseluruhan plafon masjid ini. namun tak ditemui ukiran di jendela dan pintu masjid ini. mihrab masjid ini begitu kecil hanya berupa sebuah ceruk yang dipenuhi dengan hiasan ornamen geometris.  Tampilan sederhana sebuah mimbar disebelah mihrab, mimbar yang juga dari kayu, Satu anak tangga ditinggikan dari permukaan lantai, satu tingkatan lagi untuk tempat duduk khatib. Sebuah mimbar yang sederhana.

Penutup

Dilihat dari lokasinya, Masjid ini memang menjadi tempat yang begitu nyaman untuk beribadah, terutama bagi para pengembara yang sengaja datang ke daerah ini. tempat yang begitu terpencil, di kawasan ketinggian, salah satu atap dunia, sunyi dan jauh dari hiruk pikuk dunia. Ditambah lagi dengan penduduknya yang ramah dan suasana Islami di kawasan tersebut. Dan jangan lupakan bahwa Khaplu dipeluk oleh berjejer puncak puncak gunung tertinggi dibumi. Tempat yang ideal untuk merenungi kecilnya diri dihadapan kekuasaan Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan Yang Maha Esa pemilik alam semesta beserta isinya.

Foto Foto Masjid Chaqchan

Foto dari panoramio

Foto dari pbase.com

(foto dari  tibet-encyclopaedia)

(foto dari  tibet-encyclopaedia)

Referensi

gilgit-skardu-baltistan.blogspot.com – historic places of gilgit baltistan

en.wikipedia – skardu district

khaplu.yolasite.com – place to visit

wikimapia – chaqchan mosque

baltistantours.com - balstistan

globalsecurity.org - skardu

wikitravel.org - skardu

visitgilgitbaltistan.gov.pk - brocure

tibet-encyclopaedia.de – moscheen baltistan

en,Wikipedia – baltistan

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel “Bukan Masjid Biasa” Lainnya

Masjid Innuvik, Masjid ke 4 di Kutub Utara

Tiga Masjid di Kutub Utara

Masjid 4000 kilometer

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami’ Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya – Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Thursday, June 25, 2020

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq – Pakistan

puncak kawasan Baltistan (Foto dariarchnet.org)

Masjid Amburiq, Shigar, Skardu, Baltistan, Pakistan dengan latar belakang

Dimanakah letak Masjid Amburiq

Sama sepertiMasjid Chaqchan yang diulas di artikel sebelumnya di blog ini, Masjid Amburiq juga berada di daerah Baltistan – Pakistan. Tepatnya berada di Shigar, Skardu, Baltistan, Propinsi Utara Pakistan. Arsitektural-nya pun sangat identik satu dengan lainnya dengan sentuhan Tibet yang sangat kental. Masjid Amburiq danMasjid Chaqchan merupakan dua dari masjid masjid tua di Baltistan yang memiliki kesamaan arsitektural. Sepintas lalu agak sulit membedakan masjid masjid tersebut. Di Shigar sendiri selain Masjid Amburiq, masih ada masjid Khilingrong yang memilki arsitektural yang sama dengan Masjid Amburiq dan juga merupakan masjid tua di kawasan tersebut.

Masjid Amburiq terletak di lembah Shigar, 32 km jaraknya dari Skardu, sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan. Skardu adalah ibukota Baltistan, di Propinsi Utara – Pakistan. Sedangkan Shigar merupakan ibukota kerajaan Shigar dimasa lalu. Shigar kini hanya sebuuah desa atau sebuah kota kecil di ketinggian kawasan Baltistan. Kawasan dengan bentang alam yang begitu menakjubkan di atap dunia yang begitu jauh dari jangkauan sampai sampai seringkali disebut sebagai sebuah surga di “hiden Land”.

Lembah Shigar berada dipelukan puncak puncak tertinggi di bumi yang berketinggian rata rata diatas 8000 meter dari permukaan laut (mdpl). Lembah Shigar merupakan perhentian terahir untuk menuju empat dari empat belas puncak tertinggi di bumi dari desa yang bernama Askole di lembah Shigar ini petualangan menuju puncak puncak tersebut bermula ; K2, tertinggi ke-2 (8611mdpl),Gasherbrum I, ke-11, ( 8,080mdpl),Broad Peak, ke-12 (8,047mdpl),Gasherbrum II, ke-13 (8,035mdpl),Gasherbrum III, (7,946mdpl),Gasherbrum IV, ke-17 (7,932mdpl),Masherbrum (K1), ke-22 (7,821mdpl),Chogolisa, ke-36 (7,665mdpl),Muztagh Tower, (7,273mdpl),Snow Dome, (7,160mdpl),Biarchedi, (6,781mdpl),Trango Towers, (6,363mdpl), dan Mitre Peak. (6,010mdpl)

Plakat restorasi (pemugaran) Masjid Amburiq

(foto dari takasan.travel.coocan.jp)

Masjid Warisan Budaya Dunia

Masjid tua bersejarah di Baltistan –Pakistan ini berhasil diselamatkan dari kehancuran total setelah melalui proses pemugaran (restorasi total) yang diselenggarakan oleh Yayasan The Aga Khan Trust for Culture (AKTC), bersama dengan Aga Khan Cultural Service Pakistan. Dan di danai oleh pemerintah propinsi utara Pakistan. Proyek pemugaran tersebut bertujuan memulihkan kembali bangunan masjid tua ini kepada bentuk aslinya. Dan kini salah satu bangunan warisan Islam di Baltistan tersebut dapat kembali berfungsi dengan baik untuk dapat digunakan oleh muslim setempat,

Masjid tua ini sudah masuk ke dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO, untuk katagori konservasi warisan budaya dunia. Dalam plakat penghargaan dari Asia Pasific Heritage Award for Cultural Heritage Conservation untuk Masjid Amburiq, Shigar, Baltistan, Pakistan tersebut ditujukan kepada pemilik proyek pemugaran Masjid ini Ali Hassan S/o Haji Muhammad Bashir. Dengan tim penganggung jawab proyek terdiri dari Dr. Stefano Bunca, Masood A. Khan, Richard Hughes, Abbas Ali Shah, Sher Ghazi, dan Jawaib Iqbal. Sedangkan arsitek yang menangani proyek pemugaran tersebut ditangani langsung oleh team dari Aga Khan Trust for Culture (AKTC) bersama dengan Aga Khan Cultural Service Pakistan (AKCSP). Sedangkan kontaktor pelaksana dipercayakan kepada Aga Khan Cultural Service Pakistan.

Puncak atap Masjid Amburiq, sangat

khas Tibet (foto dari urbanpk.com)

Arsitektural Masjid Amburiq

Arsitektural masjid Amburiq memang sama sekali jauh dari gambaran sebuah masjid yang dikenal secara umum. Tak ada bangunan kubah atau menara tinggi di masjid ini. Bahkan lambang bulan sabit dan bintang ataupun asma Allah di ujung atap tertinggi pun tak terlihat di masjid ini. Sekilas pandang tak akan menyangka bila bangunan tua ini adalah masjid. Sedikit inskripsi arab di atas pintu masuk dan adanya mihrab mengarah ke kiblat di Mekah dan mimbar kecil di dalam masjid serta bentangan bentangan sajadah sederhana yang menjadi ciri bahwa bangunan ini adalah sebuah masjid.

Ditengah ruang sholat Masjid Amburiq terdapat tiang kayu berukir yang berdiri menopang balok diatasnya yang melintang menopang struktur atap di bagian atas nya. Mihrab kecil disisi barat ruang masjid ini dihias dengan kayu berukir. Tembok masjid ini menggunakan kayu yang celah celahnya kemudian di isi dengan bebatuan. Komposisi antara bahan kayu dan batu pada tembok masjid ini adalah 15 ~ 20% merupakan bahan batu dan 75~80% menggunakan kayu.

Atap masjid ini terdiri dari dua susun. Atap bawah seluruhnya menggunakan bahan kayu Juniper. Puncak atapnya dihias dengan kubah berbentuk menara kecil bergaya Tibet berbahan kayu penuh dengan ukiran bermotif Kashmir Tibet dan Mughal. Ukiran ukiran tersebut sangat khas seni masyarakat setempat yang sudah berumur ratusan tahun.

(foto dari urbanpk.com)

Sejarah Masjid Amburiq

Masjid Amburiq dibangun oleh Syed Ali Hamdani (714 AH/1314M ~ 786H/1384M) semasa beliau berdakwah di daerah tersebut. Seperti di ulas dalam artikel Masjid Chaqchan, Syed Ali Hamdani adalah penyebar Islam pertama di kawasan Baltistan. Para pengukir professional Kashmir yang datang bersama beliau yang kemudian memperindah masjid ini dengan karya ukir mereka yang masih dapat dinikmati hingga hari ini. Masjid Amburiq lebih dulu dibangun dibandingkan dengan Masjid Chaqchan, artinya masjid ini juga lebih tua dibandingkan dengan Masjid Chaqchan.

Proyek pemugaran masjid Amburiq

Proyek pemugaran masjid Amburiq ini dilaksanakan atas permohonan dari masyarakat muslim setempat kepada tim Aga Khan yang berkunjung ke Baltistan tahun 1996. Satu tahun kemudian, satu tim ahli dikirim ke Baltistan tahun 1997 yang melakukan survey permulaan ke masjid Amburiq. Kunjungan tersebut berlanjut kepada studi kelayakan tahun 1998 yang mengkonfirmasi dan mendokumentasi eksistensi dari sebuah keragaman budaya dan sebuah warisan arsitektural yang begitu impresif di Baltistan dan tak ternilai harganya di wilayah utara Pakistan. Hasil utama dari studi kelayakan tersebut adalah lahirnya keputusan untuk melaksanakan pemugaran total terhadap masjid Amburiq.

Proyek pemugaran terhadap masjid ini dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dan ketelitian yang tinggi mengingat kandungan sejarah yang begitu kental pada masjid ini. Masjid Amburiq merupakan masjid pertama yang dibangun di Baltistan langsung oleh penyebar Islam pertama di kawasan tersebut, selain itu bangunan bersejarah ini memilki keunikan dari seni bangunan dan teknis pembangunannya.

(foto dari urbanpk.com)

Pendekatan Pemugaran

Selama proses pendokumentasian ditemukan fakta bahwa tembok masjid sisi barat daya sudah tenggelam melesak ke dalam tanah sedalam 45 sentimeter akibat pergerakan tanah disekitarnya. Atap bangunan juga sudah bobrok dan bocor disana sini, begitu juga dengan  dinding bangunan yang rusak akibat angin dan hujan. Pucuk menara nya yang khas bangunan Tibet juga miring karena kerusakan struktur yang menopangnya. Hanya beberapa jemaah yang masih menggunakan masjid ini ketika itu karena parahnya kerusakan dimasjid tersebut.

Berdasarkan data temuan selama proses dokumentasi tersebut kemudian dirumuskan proposal proyek pemugaran secara mendetil untuk mengkalkulasi cakupan proyek dan jangka waktu proyek pemugaran. Dari detil data tersebut proyek pemugaran kemudian dijalankan. Pemugaran masjid ini mengutamakan para ahli bangunan setempat termasuk penggunaan material bangunaan dan teknik pembangunannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal sesuai dengan budaya setempat. Intervensi oleh tim pemugar lebih difokuskan kepada pengumpulan data dari kawasan sekitar terutama pada proses pemulihan bagian bagian bangunan yang telah rusak, tidak utuh lagi, atau hilang termakan waktu terutama pada bagian menara di ujung atap masjid yang sangat khas Tibet.

Pondasi masjid diperkuat termasuk struktur bangunan. Keseluruhan material yang digunakan merupakan material asli dari bangunan asli masjid Amburiq. Penggunaan material untuk mengganti bagian yang sudah hilang atau rusak, menggunakan material yang  sama dengan material aslinya.

Detil ornamen Jendela dan dinding luar Masjid AMburiq

foto dari takasan.travel.coocan.jp)

Keseluruhan proyek pemugaran Masjid Amburiq selesai dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 1998, menghabiskan dana sebesar US$ 18,300 dolar Amerika. Dana yang cukup besar untuk sebuah bangunan seukuran 63 meter persegi. Proses pemugaran terhadap masjid ini tak lepas dari peran pemerintah Pakistan, Pemerintah popinsi Northern Area, Aga Khan Development Network dan masyarakat Shigar.

Keterlibatan masyarakan setempat diharapkan dalam menjaga kelestarian masjid ini paska pemugaran termasuk merawat jalan akses menuju masjid dan bangunan masjid nya sendiri. Dan yang lebih penting adalah memakmurkan masjid ini. Sebuah ruangan khusus difungsikan sebagai musium kecil di masjid ini paska selesainya proses pemugaran untuk menyimpan benda benda antik yang ditemukan di atap masjid selama proses pemugaran. Kutipan sumbangan sukarela diberlakukan untuk pengunjung ruang museum ini termasuk juga penggunaan area wudhu dan sarana penyelenggaraan jenazah, yang dananya nantinya akan digunakan untuk melestarikan Masjid bersejarah ini.

(foto dari takasan.travel.coocan.jp)

interior Masjid Amburiq (Foto dari archnet.org)

detil ukiran pada kusen pintu, jendela dan dinding Masjid Amburiq (Foto dariarchnet.org)
 (Foto dariarchnet.org)

Masjid Amburiq, Shigar, Skardu, Baltistan, Pakistan dengan latar belakang

puncak kawasan Baltistan (foto dariurbanpk.com)

Referensi

unesobkk.org – amburiq mosque skardu baltistan Pakistan

serenahotels.com – what to do and see at shigar fort residence

archnet.org – amburiq mosque restoration

wikitravel.org - skardu

visitgilgitbaltistan.gov.pk - brocure

tibet-encyclopaedia.de – moscheen baltistan

en.Wikipedia – baltistan

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Baca Juga Artikel “Bukan Masjid Biasa” Lainnya

Masjid Innuvik, Masjid ke 4 di Kutub Utara

Tiga Masjid di Kutub Utara

Masjid 4000 kilometer

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami’ Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya – Nepal

Masjid di Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid di Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid di Atap dunia, Masjid Chaqchan – Pakistan

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done