Islami Pedia: Masjid di Baltik
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid di Baltik. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Baltik. Show all posts

Monday, October 5, 2020

Islamic Center Turath, Estonia

TAK MIRIP MASJID. Bangunan Islamic Center Turath di kota Tallin, Estonia

Islamic Center Turath berada tidak jauh dari bandara Ülemiste kota Tallin, Ibukota Estonia. Secara resminya masjid ini bernama Kultuuri Keskus Turath atau Cultural Center Turath. Tidak ada kata Masjid ataupun Islam di nama resminya. Sama seperti halnya dengan bangunan masjidnya yang sama sekali tidak mirip dengan bentuk masjid pada umumnya. Bangunan masjid yang berdiri diantara gedung gedung bertingkat di kota Tallin diantara hingar bingar kota yang ahirnya mengizinkan pembangunan masjid setelah perjuangan bertahun tahun muslim disana, meski dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi termasuk tentang penggunaan nama dan bentuk bangunan yang disebutkan tadi.

Masjid ini dapat dicapai menggunakan bus Nomor 65, 15 dan 7. berhenti di perhentian bus Dvigateli, lalu menyeberang jalan dibelakang Universitas. Masjid ini berada di sebelah gedung the big black Microlink building. bila dari pusat kota dapat menggunakan bus nomor 2. kemudian berhenti di disebelah Ülemiste shopping center, lalu menyeberang jalan berbelok ke kiri kemudian ke kanan. Imam Masjid ini Mufti Ildar Muhhamedšin dapat memandu anda menuju masjid ini, beliau mampu berbicara dalam Bahasa Estonia, Russia, Arab, Tatar dan sedikit Bahasa Inggris. Hingga kini, masjid ini merupakan masjid satu satunya di Estonia.

9, Keevise St

11415 Tallinn, Estonia

Mufti Ildar Muhhamedšin  (00 372) 55 94 76 89(00 372) 55 94 76 89

situs resmi www.turath.ee

http://www.islam.pri.ee/index.php?lang=2

Berdirinya masjid dan Islamic Center di Kota Tallin, Ibukota Estonia ini tidaklah berjalan mulus. Seperti telah disinggung dalam artikel sebelumnya tentang Islam di Estonia, perdebatan panjang dan penolakan keras mewarnai pembangunan masjid ini sejak baru pada tahap wacana. Pembangunan masjid yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan muslim setempat yang digagas oleh Komunitas Muslim Azeri di negara kawasan Nordic tersebut memicu perdebatan sengit ditengah masayarakat yang mayoritas beragama Kristen di negara itu.

Diperkirakan ada sekitar 10 ribu muslim di Estonia yang berasal dari etnis Tatar dan Azeri (Azerbaijan) yang berimigrasi ke Estonia selama kekuasaan Uni Soviet. Sebelum negara tersebut menjadi bagian Soviet bahkan sudah ada komunitas muslim di kota Narva dan Tallin. Negara baru seperti Estonia yang merdeka penuh setelah runtuhnya Uni Soviet memang tidak serta merta mampu mengintegrasikan seluruh elemen masyarakatnya yang beragam etnis selain etnis Estonia yang merupakan pribumi untuk semua nya menjadi Satu Estonia yang multikultural.

Penolakan keras dari kalangan elit politik partai Kristen yang mengaku mewakili kaum Lutheranis dan Kristen Ortodok yang merupakan mayoritas di Estonia. Namun dengan jumlah 10 ribu jiwa, muslim disana bahkan sudah jauh lebih banyak dibandingkan komunitas Katholik ditambah dengan komunitas Baptis yang ada di negara tersebut. Berita tentang Islam memang sangat jarang muncul di media Estonia dikarenakan sebagian besar muslim disana tidak berbicara dalam Bahasa Estonia dalam kesehariannya tapi berbicara dalam Bahasa Rusia, juga jarang muncul di media berbahasa Rusia dikarenakan rata rata orang Estonia yang menggunakan Bahasa Rusia adalah penganut Kristen Ortodok.

Manakala wacana pembangunan masjid muncul di salah satu media pada bulan januari 2001 langsung mendapatkan tanggapan serius dari masyarakat disana dan memicu depat dan penolakan berkepanjangan termasuk dari parlemen negara tersebut. Namun demikian Walikota Tallin Jüri Mõis mengungkapkan hal yang sedikit berbeda daripada sekedar menolak mentah mentah pembangunan masjid. Beliau fokus pada lokasi masjid yang akan dibangun, harus dalam bentuk yang senada dengan bangunan yang sudah ada sehingga tidak merusak panorama kota serta tentang kemungkinan masa depan terkait dengan pariwisata dan investasi yang akan masuk ke kota itu. Sementara inisiator pembangunan masjid tersebut, Habib Gulijev menyebutkan bahwa kemungkinan wilayah Prita di Kota Tallin sebagai lokasi yang dipilih dengan pemandangan yang baik ke arah laut. Habib Gulijev adalah muslim keturunan Azerbaijan yang meraih sukses di Tallin dengan bisnis import jus pomegranad dari Azerbaijan ke Estonia.

Bagian dalam masjid Turath

Turath Islamic Center ahirnya berdiri di tahun 2009 dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi termasuk tidak diperkenankan mengumandangkan azan ke luar bangunan. persyaratan lainnya yang harus tetap dipenuhi adalah agar masjid yang dibangun bentuknya harus menyelaraskan dengan bangunan disekitarnya dan tidak menyolok. itu sebabnya bangunan masjid ini dibangun layaknya sebuah bangunan bertingkat biasa. tidak seperti bangunan masjid yang biasa kita kenal.

Kini muslim disana kini sudah memiliki tempat berkumpul resmi dan permanen untuk menyelenggarakan sholat berjamaah, pengajian dan aktivitas lainnya. Muslim dari berbagai bangsa termasuk dari Estonia sendiri, dari timur tengah, Rusia, Turki, Tatar dan lain lain tumpek plek disana secara akrab dan terbuka. Ildar Muhhamedšin, imam masjid ini selalu dengan ramah kepada siapapun yang datang ke masjid ini. Beliau bahkan masih menyimpan Al-Qur’an pemberian Kakeknya yang sudah wafat.

Dimasa pendudukan Uni Soviet di Estonia, ummat Islam disana berada dalam situasi yang teramat tidak menguntungkan. Untuk sekedar melaksanakan sholat pun mereka harus melaksanakannya secara sembunyi sembunyi karena penguasa komunis saat ini sangat melarang aktivitas peribadatan. Kondisi berubah drastic saat Estonia Merdeka, meski diskriminasi dan sentiment anti Islam juga merebak di negara itu.

Masjid Turath

Masjid Turath terbuka untuk semua muslim, Ruang sholat untuk Jemaah pria disediakan di lantai dua sedangkan Jemaah wanita ruang sholatnya berada di lantai tiga. Masing masing lantai sudah disediakan rak kayu untuk menyimpan alas kaki para jamaah. Jemaah wanita akan bergabung ke lantai dua di balik tirai pada saat sesi pelajaran Bahasa Arab dan kajian lainnya. Ruang sholat di masjid ini cukup leluasa, lengkap dengan mimbar dari kayu berukir tempat khatib menyampaikan khutbah. Seluruh lantainya ditutup dengan karpet merah sajadah. Di beberapa bagian di pasang beberapa hiasan kaligrafi.

Pemisahan ruang sholat antara jema’ah pria dan wanita ini memang hal yang mutlak dalam Islam, namun merupakan hal yang aneh bagi tradisi Eropa. Itu sebab nya hal ini menjadi salah satu hal wajib yang harus dijelaskan kepada non muslim yang berminat untuk berkunjung ke masjid, termasuk juga tentan kewajiban untuk menutup aurat.

Ada jejeran kursi di bagian shaf paling belakang. biasanya digunakan untuk jemaah yang tidak mampu untuk sholat berdiri. ataupun untuk jemaah pengajian yang tidak bisa atau tidak kuat untuk duduk dilantai.

Turath dalam Bahasa Arab berarti Heritage (warisan budaya), digunakannya nama Turath untuk masjid dan Islamic Center ini dikarenakan para pendiri masjid ini berharap para jemaahnya untuk tetap mengingat budaya (Islam) dan memperkenalkan budaya tersebut kepada siapapun yang tertarik kepada agama Islam, sebagai bagian dari usaha untuk membangkitkan kembali Islam di Estonia dari Masjid satu satu nya tersebut.

bila dibandingkan dengan Kota kota besar Eropa lainnya, perkembangan Islam di Estonia dapat dikatagorikan stagnan karena berbagai factor termasuk aturan ke-imigrasian yang mempersulit bahkan melarang masuknya imigran dari negara negara Islam ke negara tersebut. wajar bila kemudian para Pendiri masjid Di Tallin ini memberi nama Turath (Heritage) pada masjid pertama tersebut sebagai do’a untuk senantiasa mempertahankan Islamic Heritage di negara tersebut.

Sebagai pusat ke-Islaman, Masjid Turath ini menyelenggarakan pendidikan Bahasa Arab, Pembinaan pemuda / remaja muslim, sekolah minggu serta mencetak dan mendistribusikan koran koran islami ke seluruh kelompol kelompok pengajian yang tersebar di Estonia dan wilayah Baltik lainnya. Masjid Turath juga menyelenggarakan pernikahan dan pengurusan jenazah secara Islam.***

dari berbagai sumber

---------- ooo000ooo ----------

Artikel Terkait

Islam di Estonia

Baca juga artikel masjid masjid di Eropa

nMasjid dan Pusat Kebudayaan Islam Paola, Malta nMasjid Agung Konstantia RomanianMasjid Sentral London nMasjid Didsbury dan Islamic Center Manchester nMasjid Jami Zakariyya Bolton nPusat Kebudayaan Islam IrlandianMasjid Essalam, Rotterdam n nMasjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina nMasjid Pusat Kebudayaan Islam - Oslo nMasjid Agung BrusselsnMasjid Banya Bashi Bulgaria nMasjid Islamic Center Wina nMasjid Agung Paris nMasjid Masjid di Inggris yang dulunya Gereja nMasjid Sentral Permn

Monday, August 3, 2020

Islam di Islandia

Tak Punya Tetangga Dekat, begitulah letak geografis Negara Pulau Islandia. Sendirian ditengah tengah laut Atlantik Utara diantara Benua Eropa bagian utara dengan Pulau Greenland di kutub utara, Perhatikan peta google map di bawah.

Islandia, sebuah Negara pulau vulkanik di wilayah Nordic dalam lingkar kutub utara, merupakan salah satu Negara Eropa yang turut mendukung dan telahmengakui Negara Palestina yangbaru disahkan oleh PBB sebagai Negara peninjau non anggota pada sidang umum PBB Kamis 29 November 2012 yang lalu, menjadi menarik karena Islandia sendiri tercatat sebagai salah satu Negara dengan penduduk Islam paling sedikit di dunia.

Islandia Mengakui Negara Palestina

Pengakuan tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Islandia Aissour Scarvidenson dalam hari Kamis 15 Desember 2011sebagai sebagai komitmen berdasarkan parlemen Islandia. Pengumuman tersebut menyusul output pemilihan bunyi pada parlemen Islandia yang diselenggarakan dalam lepas 28 November 2012 dengan keputusan mengakui Negara Palestina menggunakan perbatasan sebelum perang tahun 1967. Pengakuan Islandia ini diumumkan selesainya beberapa hari sebelumnya bendera Negara Palestina dikibarkan buat pertama kalinya pada markas akbar UNESCO pada Paris.

Islam pada Islandia

Berdasarkan data dariWorld fact book, mayoritas penduduk Islandia beragama Kristen (Gereja Lutheran Islandia 80.7%, Katholik Roma 2.5%, Reykjavik Free Church 2.4%, dan Hafnarfjorour Free Church 1.6%) Agama agama lain hanya 3.6%, serta tak menyebutkan agama yang di anut 3% hingga 6.2% (data perkiraan tahun 2006)

Merujuk kepadaWikipedia, komunitas muslim di Islandia hanya terdiri dari sekitar 694 orang saja atau setara dengan 0.2% saja dari total penduduk Islandia, yang tergabung dalam dua organisasi Islam yang sudah berdiri disana. Meskipun ditengarai jumlah muslim disana lebih banyak dari angka tersebut.

Masuknya Islam ke Islandia diperkirakan terjadi sejak tahun 1627, ketika para bajak laut dari Afrika Utara mencaplok sebagian pulau tersebut hingga ke pantai barat daya, Vestmannaeyjar, dan bagian selatan fjords. Peristiwa tersebut dikenal dalam sejarah Islandia sebagai Tyrkjaránið atau "Turkish Abductions"

April 2009 yang lalu, merupakan hari bahagia bagi pasangan Hjalti Bjorn Valthorsson dan Gunnhildur Aevarsdottir, yang menjadi pasanganpengantin muslim Islandia pertama yang melaksanakan pernikahan di negara tersebut. Salmann Tamimi, Presiden Asosiasi Muslim bertindak sebagai penghulu dalam upacara pernikahan yang dilakukan di ruang sholat milik Asosiasi Muslim Islandia yang mereka sebut sebagaiMasjid An-Nur Reykjavík.

Masjid di Reykjavik, nir berbentuk misalnya bangunan masjid yg kita kenal namun, bangunan ini sebagai tumpuan kegiatan ke Islaman di ibukota negara dengan suhu tidak penah sehangat pada Nusantara ini.

Organsasi Muslim Islandia

Muslim Islandia sudah memiliki dua organisasi resmi yang diakui oleh pemerintah setempat yakni Asosiasi Muslim Islandia, didirikan pada tahun 1997 oleh Salmann Tamimi, seorang warga imigran dari Palestina dengan anggota berjumlah sekitar 419 orang. Dan Islamic Center Islandia, didirikan antara tahun 2009 dan 2010 beranggotakan 275 orang.

Karena belum ada satupun bangunan masjid di Negara kutub utara ini setidaknya hingga tahun 2012 lalu. Untuk memfasilitasi kebutuhan akan tempat ibadah, Asosiasi Muslim Islandia menggunakan ruangan di lantai tiga gedung Ármúli 38 di kota Reykjavík sebagai ruang sholat sejak tahun 2002 lalu dan biasa disebut sebagaiMasjid An-Nur Reykjavík. Berikut alamat lengkap organisasi tersebut.

                The Muslim Association of Iceland

?Rm?Li 38, 3rd floor (entrance from Selm?Li), 108 Reykjavik

President: Salmann Tamimi

telephone: 354 895-1967

website :http://www.islam.is

e-mail:salmannt@gmail.com

Sedangkan Islamic Center Islandia menempati lantai dua gedung Ýmishúsið diGrensásvegur 8 – 108 kota Reykjavík. Alamat lengkapnya adalah sebagai berikut.

                The Islamic Cultural Centre of Iceland

Grens?Svegur 8 - 108 Reykjavik, Iceland

GSM: 354 776 16 10

Imam : Ahmad Seddeeq

Website :http://www.islamiccci.com/

Email :imam_icci@Hotmail.com,aseddeeq@gmail.com

Dua ruang sholat tersebut selain difungsikan sebagai tempat melaksanakan sholat lima waktu berjamaah, juga digunakan untuk menyelenggarakan sholat fardu Jum’at yang diikuti oleh muslim asli Islandia dan muslim dari berbagai Negara lainnya. Seluruh aktivitas keIslaman bagi muslim disana dipusatkan di dua institusi tersebut.

Jemaah di masjid reykjavik

Masjid di Islandia

Meski belum memiliki satupun bangunan masjid di negaranya, muslim Islandia bersikukuhmenolak bantuan asing untuk membangun masjid bagi mereka. Pada tahun 2000 yang lalu,The Muslim Association of Iceland mengajukan permohonan pembangunan masjid di Reykjavík. Namun tidak sepenuhnya disetujui oleh dewan kota, meskipun begitu otoritas setempat tetap menawarkan lahan berukuran 1,500 meter persegi di tahun berikutnya, lahan yang jauh lebih kecil dari yang diminta oleh asosiasi muslim disana.

Persetujuan untuk penambahan lahan yang diinginkan oleh muslim setempat dikaitkan dengan persetujuan terhadap Gereja Ortodok Rusia yang rencananya akan dibangun berdekatan. Belum lagi keinginan dari dewan kota yang menginginkan agar muslim disana agar bergabung dalam satu wadah masjid saja tidak dapat diterima oleh Asosiasi Muslim yang telah lebih dulu mengajukan permohonan.

Tahun 2013 yang kemudian pemerintah Islandia ahirnya menerbitkan biar bagi pembangunan masjid pertama pada negara itu. Diklaim sebagai masjid pertama, lantaran ini adalah buat pertama kali pemerintah menerbitkan izin untuk menciptakan bangunan masjid sebenarnya, bukan masjid sementara yang menumpang di fasilitas umum misalnya saat ini.

Hanya saja sampai kini pembangunan masjid tersebut belum terwujud terkendala menggunakan dana, meskipun huma dan rancangan masjid pun telah disiapkan output menurut sayembara rancangan masjid yang diselenggarakan sang panita pembangunan. Impian muslim disana buat mempunyai sebuah bangunan masjid megah sepertinya masih wajib bersabar.

Rancangan bangunan masjid pertama Islandia.

Perkembangan Islam pada Islandia

Kehidupan muslim di Islandia ini sempat menarik perhatian stasiun tivi Al-Jazeera.Dokumentasi Aljazeera di Islandia ini berupaya mendokumentasikan kehidupan sehari hari muslim disana. Terutama tentang bagaimana muslim Islandia menjalankan Ibadah puasa Ramadhan di negeri pulau yang mataharinya enggan untuk terbit itu, sehingga waktu puasa bagi muslim disana menjadi jauh lebih panjang dibandingkan dengan muslim dibagian bumi yang lain.

Hal lain yang menarik dari Negara kutub ini adalah sudah diterapkannyaSistem pemotongan hewan Islami di Islandia. Sejak musim gugur tahun 2010 lalu rumah rumah jagal ternak disana menghadirkan muslim untuk membacakan doa sesuai dengan proses penyembelihan yang diatur dalam hukum Islam. Hal positif bagi Islandia adalah diterimanya produk daging sapi dan domba mereka di pasar dunia islam. Sedangkan bagi muslim Islandia hal tersebut tentunya merupakan bentuk pengakuan yang luar biasa.

Hubungan dengan Indonesia

Indonesia sudah memiliki interaksi diplomatik dengan Islandia, meskipun pemerintah Indonesia belum menempatkan kantor perwakilan di Islandia. Perwakilan Indonesia buat Islandia dirangkap oleh Duta Besar Indonesia untuk Norwegia dan Islandia yang berkedudukan pada kota Oslo, Ibukota Norwegia, yang beralamat di

Fritzners Gate 12, 0244, Oslo, Norway.

Telepon: (47) 2212-5130. Fax: (47) 2212-5131.

Website :http://norway.kemlu.go.id

------------------------------------------------------------------

Follow & Like akun Instagram kami di@masjidinfo dan@masjidinfo.id

🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

------------------------------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kutub Utara lain nya

Islam pada Islandia

Masjid Innuvik Masjid ke 4 di Kutub Utara

Tiga Masjid di Kutub Utara

Masjid Nord Kamal Norislk-Russia ; Masjid Paling Utara di Bumi

Perkembangan pembangunan Masjid pertama di Alaska

MASJID PERTAMA DI ALASKA (AS) SEGERA DIBANGUN,

Masjid 4000 kilometer

Sunday, August 2, 2020

Islam di Lithuania

Lokasi Lithuania di antara negara negara Baltik.

Dimanakah Lithuania

Republik Lithuania atau dalam Bahasa resminya disebut Lietuvos Respublika, adalah negara di benua Eropa bagian utara di tepian laut Baltik berseberangan dengan Denmark & Swedia. Lithuania berbatasan darat dengan Latvia di sebelah utara, Belarusia di sisi selatan, sedangkan di sebelah baratnya berbatasan menggunakan wilayah Exlave milik Russia di Kaliningrat & Polandia.

Lithuania sempat mencapai masa kebesarannya pada abad ke 14 saat negara tersebut dibawah pimpinan Grand Duchy (Raja) Vytautas. Daerahnya meliputi daerah negara Lithuania ketika ini termasuk pula negara negara tetangganya, Polandia, Belarusia, sebagian Latvia hingga hampir semua wilayah Ukraina.

Lithuania juga pernah membentuk persemakmuran bersama dengan Polandia di abad ke 16, lalu keluar dari persemakmuran tersebut di abad ke 18. Lithuania pertama kali menyatakan kemerdekaan pada tanggal 16 Februari 1918, namun kemudian seluruh wilayah ini dicaplok oleh Uni Soviet pada 15 Juni 1940 kemudian di duduki oleh Nazi Jerman setahun kemudian dan kembali ke tangan Uni Soviet di tahun 1944. Pemulihan kemerdekaan terjadi pada 11 Maret 1990 setelah ambruknya Uni Soviet.

700 Tahun Islam di Lithuania

Seperti Negara Negara Eropa Utara & Eropa bagian timur lainnya, Islam pada Lithuania telah hadir sejak berabad abad yg kemudian. Pada abad pertengahan Negara yg sekarang dikenal menjadi Republik Lithuania merupakan bagian dari Grand Duchy of Lithuania yang bergabung pada Negara persemakmuran Polish?Lithuanian Commonwealth.

Wilayah Lithuania sepanjang sejarah

Wilayahnya membentang berdasarkan laut Baltik hingga ke Laut Hitam, termasuk beberapa daerah menggunakan penduduk muslim di bagian selatan seperti daerah Semanjung Krimea yg dihuni sang para muslim Tatar. Sejarah masuknya Islam di Republik Lithuania memang tak bisa dilepaskan menurut sejarah muslim Tatar pada Lithuania.

Muslim Tatar dari Semanjung Krimea (sekarang masuk pada daerah Negara Ukraina) merupakan keturunan Mongolia terkenal menggunakan kemahiran mereka dalam berperang dan loyalitasnya. Di masa kekuasaan Raja (Grand Duke) Vytautas, Pasukan muslim Tatar dari Krimea ini di undang ke Lithuania buat memperkuat militer Lithuania.

Pada masa itu Lithuania adalah sebuah kerajaan penganut Paganisme tetapi mempunyai tradisi toleransi yg sangat kuat & telah menjalin komunikasi intensif dan aliansi dengan dunia Islam yg telah mengakar pada bagian selatan Eropa termasuk semenanjung Krimea.

Gelombang pertama kedatangan pasukan Muslim Tatar ke Lithuania terjadi pada tahun 1398. Sebagian besar pasukan Tatar ini ditempatkan sang Kaisar Vytautas pada lebih kurang ibukota kerajaan pada Trakai dan mereka membangun pemukimannya sendiri, menggunakan tujuan sewaktu waktu diharapkan akan dengan gampang dihubungi dan digerakkan. Mereka kemudian mendirikan desa mereka sendiri antara lain di Vilnius, Trakai, Hrodna & kaunas & lalu menyebar di seluruh daerah Commonwealth diluar daerah Negara Lithuania pada daerah yang sekarang sebagai Republik Polandia & Belarusia.

Empat Masjid di Lithuania yang masih ada ketika ini: Dari sebelah kiri atas searah jarum Jam : Masjid Forty Tatar Village, Masjid Nemezis, Masjid Raiziai dan Masjid Kaunas yg paling baru dan paling modern dibangun tahun 1930. Tiga berdasarkan empat Masjid tua yang terdapat pada Lithuania waktu ini tiga diantaranya dibangun dari bahan kayu & berbentuk bangunan tradisional warga setempat, layaknya sebuah tempat tinggal hunian yg menghadap ke kiblat.

Masjid Lithuania

Desa desa tersebut masih bisa lacak & dikenali, tiga diantaranya masih mempunyai masjid orisinil mereka dari masa itu, yakni; Desa Keturiasde?Imt Totori? Atau Forty Tatar Village dan Desa Nem??Is yang berada pada pada daerah Distrik Vilnius dan Desa Rai?Iai pada Distrik Alytus. Dan satu lagi masjid yg masih berdiri kokoh sampai kini merupakan masjid Kaunas yg dibangun selama perang kemerdekaan Lithuania di tahun 1930.

Pembangunan masjid tersebut dilaksanakan pada rangkaian peringatan 500 tahun kematian Raja Vytautas yang merupakan raja terbesar pada sejarah Lithuania sekaligus jua merupakan tokoh penting yang membawa Muslim Tatar masuk ke Lithuania menandai masuknya Islam ke Negara Baltik tersebut.

Ketika pasukan salib Jerman yg berintikan para Ksatria Teutonic menyerbu ke Lithuania dalam 15 Juli 1410 peperangan tidak terhindarkan di sekitar kota Tannenber (Grunwald) yang populer dalam sejarah sebagai perang Grunwald. Pasukan Lithuania yg pada dukung pasukan Muslim Tatar, Polandia, Czech dan Russia menggunakan jumlah mencapai 30.000 orang, dengan gemilang menaklukkan 20.000 orang pasukan para Ksatria Teutonic tadi.

Sebagai ucapan terima kasih, Kaisar Vytautas mengizinkan Muslim Tatar menetap di Lithuania & menghadiahkan tanah yg sangat luas kepada Muslim Tatar, sebuah daerah yg membentang menurut selatan ibukota Lithuania di Trakai hingga ke kota Bialystok (kini masuk daerah Negara Polandia) pada sebelah barat, membentang sampai ke pinggiran kota Minsk (kini ibukota Negara Belarusia), tidak hanya itu, kaisar jua menjamin kebebasan bagi Muslim Tatar buat menjalankan syariat Islam. Hal tadi terus berlaku hingga ke para kaisar pengganti Kaisar Vytautas meskipun lalu Para kaisar selanjutnya telah memeluk Kristen.

Identitas Muslim Tatar

Tujuh abad muslim Tatar tinggal dan hidup bersama menggunakan rakyat orisinil Lihtuania berasimilasi & berintegrasi. Banyak dari mereka yang lalu menjadi tuan tanah, pengusaha, pedagang, birokrat sampai menduduki jabatan tinggi di kemiliteran Lithuania. Pusat pengembangan Islam tumbuh pada banyak sekali tempat di Lithuania. Muslim Tatar di masa itu bahkan mempunyai sekitar 25 masjid di berbagai kota temasuk pada ibukota negara. Diseluruh daerah Commonwealth Lithuania-Polandia bahkan diperkirakan terdapat ratusan masjid dan pusat ke-Islaman bagi lebih kurang 200 ribu muslim Tatar yg tinggal disana.

Masa Suram Muslim Lithuania

Namun situasi lalu perlahan berubah, manakala kerajaan mulai semakin ortodok, memutus interaksi dengan pihak selatan, semanjung Chrimea & Islam, Muslim Tatar menggunakan sendirinya terisolasi berdasarkan global Islam. Keadaan semakin parah manakala Lithuania menjadi bagian Uni Soviet pada abad ke 20 Miladiyah. Muslim Tatar memasuki masa paling suram dalam sejarah mereka di Lithuania.

Agama menjadi hal terlarang, mereka yang menolak kebijakan itu akan menghadapi pembunuhan atau di asingkan oleh penguasa. Masjid masjid ditutup, pada alih fungsi atau bahkan dihancurkan. Ketika Uni Soviet ambruk, Lithuania menentukan merdeka & melepaskan diri berdasarkan federasi, pada Negara itu hanya tersisa tiga bangunan masjid saja yang masih utuh dalam kondisi yang mengenaskan, dan tidak satupun yang tersisa pada ibukota Negara.

Tak hanya masjid namun semua yang berhubungan dengan Islam dan agama dihancurkan sang pemerintah Uni Soviet termasuk sebuah komplek pemakaman tua pada tengah kota Kaunas yg merupakan bagian berdasarkan huma masjid Kaunas, diratakan dengan tenah menggunakan alasan lokasinya telah tidak sinkron lagi karena berada pada tengah tengah kota, namun alasan sebenarnya dari pengancuran tadi adalah buat menghapus jejak Islam dari daerah tersebut.

Masjid Kaunas ini adalah satu satunya masjid dari bahan beton berdasarkan empat masjid yang ada pada Lithuania. Kini masjid Kaunas sebagai keliru satu daya pikat wisatawan yg berkunjung ke Kaunas. Ukurannya yg mini menciptakan jemaah sholat jum'at lebih banyak yang sholat di luar bangunan daripada yg berada di pada ruangan.

Lapangan luas bekas pemakaman umum tersebut lalu di ubah sebagai taman kota & sekarang dimasa kemerdekaan Lithuania dikenal menggunakan Ramybes Park atau Taman Keheningan sinkron menggunakan kenyataan tempat tersebut pada masa kemudian. Beberapa monument peringatan dibangun ditempat tersebut menjadi pengingat bahwa disana dulunya adalah sebuah komplek pemakaman tua.

Muslim Lithuania Saat ini

Setelah Lithuania pulang berdiri sebagai sebuah Negara merdeka dan melepaskan diri berdasarkan Uni Soviet, Negara itu mulai menata pulang kehidupannya. Muslim Lithuania mendpatkan dukungan berdasarkan Negara buat memulihkan kehidupan ke-Islaman mereka termasuk mengembalikan masjid dan property kaum muslimin yang masih tersisa pada komunitas muslim disana.

Kini hanya tersisa sekitar ribuan muslim pada Lithuania terdiri dari Muslim Tatar yang adalah ernit muslim mayoritas di Lithuania ditambah menggunakan sejumlah kecil rakyat pribumi yang memeluk Islam dan beberapa imigran muslim yang masuk ke Negara tersebut sesudah kemerdekaan. Hasil sensus penduduk pada tahun 2001 menerangkan nomor sekitar 3000 muslim yang terdapat di Lithuania, jumlah yg sangat mini dibandingkan menggunakan muslim pada Negara Negara Eropa Timur lainnya.

Selain pada Lithuania, Muslim tatar dari masa Kerajaan Lithuania sekarang beredar pada bekas daerah kerajaan tadi, termasuk lahan yang dulunya merupakan hadiah dari Raja Vytautas. Ada empat masjid diluar daerah territorial Republik Lithuania yang masih berdiri di atas huma dimaksud yakni dua Masjid di Polandia masing masing pada kota Kruszyniany & kota Bohiniki, & 2 masjid di Belarusia masing masing pada kota Navahrudak & Kota Iwie.

Kondisi Muslim tatar ini juga sangat membutuhkan perhatian, Terisolasi selama beberapa generasi menurut dunia Islam menciptakan pemahaman mereka tentang agama Islam terdegradasi menggunakan sendirinya. Tidak hanya terkucil namun tekanan teramat berat dari penguasa terutama pada era Uni Soviet bukanlah hal gampang buat mereka lalui, & luar biasa setelah melewati masa masa tidak terperi tersebut, muslim Tatar bisa mempertahankan bukti diri ke-Islaman mereka.

Muslim Tatar pada Lithuania ini juga telah kehilangan kemampuan mereka buat berbahasa Tatar dan mereka sekarang berbicara dengan bahasa Lithuania. Saudara saudara kita ini tidak saja membutuhkan bantuan buat memulihkan properti warisan menurut para leluhur mereka termasuk empat bangunan masjid yang masih ada, namun juga sangat membutuhkan bimbingan menurut para Da?I buat mengajarkan mereka mengenai kepercayaan Islam yang mereka akui menggunakan bangga menjadi kepercayaan mereka secara turun temurun melintasi begitu kerasnya kenyaataan zaman.

Masjid Kelima pada Lithuania

Beberapa ketika yang lalu sempat tersebar fakta akan dibangunnya masjid baru sekaligus masjid kelima di Negara itu. Disebutkan bahwa Distrik Naujininkai pada Vilnius berencana membentuk sebuah masjid baru lengkap dengan lahan pemakaman muslim disekitarnya. Tetapi sampai goresan pena ini ditayangkan tadi belum ada perkembangan lanjutannyai.

Referensi

https://deepbaltic.Com/2015/11/30/forty-tatars-in-the-lithuanian-countryside-one-villages-600-years-of-islamic-history/

http://en.Islamasvisiems.Lt/mosques-islamic-centres-and-tourist-place/

http://www.Bbc.Com/news/magazine-35170834

http://web.Archive.Org/web/20100802145523/http://www.Kpd.Lt/epd2009/index.Php/lt/kitoks-pveldas/totoriu-paveldas

http://en.Wikipedia.Org/wiki/Islam_in_Lithuania

http://www.Lithuaniatribune.Com/2010/08/12/5th-mosque-planned-in-vilnius/

Saturday, August 1, 2020

Forty Tatar Village Mosque, Masjid Tertua di Lithuania

Masjid Forty Tatar Village dengan latar belakang, rumah rumah penduduk desa tersebut. Masjid ini merupakan masjid tertua yang masih berdiri di Lithuania, Pertama kali dibangun tahun 1556 namun hancur dalam penyerbuan Napoleon, dibangun ulang tahun 1815.

Lithuania adalah salah satu Negara pecahan Uni Soviet yang berada di kawasan Baltik di sebelah utara Benua Eropa. Negara ini awalnya disebut sebut sebagai satu satunya Negara di kawasan Baltik yang memiliki masjid, merujuk kepada masjid masjid tua Muslim Tatar di Negara tersebut, sampai kemudian beberapa Negara di Baltik seperti Estonia mengizinkan Muslim di negaranya membangun masjid dan Islamic Center di Tallin ibukota Negara Estonia di tahun 2009.

Islam dan Muslim di Lithuania memiliki rentang sejarah selama 6 abad, maka wajar bila masjid dan desa desa muslim masih ditemukan di Negara tersebut hingga kini. Salah satunya adalah Masjid di Desa Forty Tatar Village. Agak susah menterjemahkan nama masjid ini karena memang nama tersebut sekaligus juga nama Desa tempat masjid ini berada, nama itupun sudah diterjemahkan ke-bahasa Inggris bukan dalam nama aslinya.

Forty Tartar Mosque

Forty Tatar village, Vilnius District, Lithuania

Koordinat: 54.562245 ° N 25.170295 ° E

Forty Tatar village mosque demikian nama masjid tersebut berdiri disebuah desa dengan nama yang sama Desa Forty Tatar. Nama dalam bahasa setempatnya adalah Keturiasdesimit Totoriu Kaimo, Musulmonu Sunitu Mecete. Agak susah untuk dilafalkan oleh lidah orang Indonesia.

Sejarah Masjid Forty Tatar Village

Keberadaan masjid ini sudah cukup tua, pertama kali muncul dalam catatan yang dari tahun 1558 namun kemungkin masjid tersebut hangus terbakar pada saat serbuan Napoleon ke Russia. Muslim di kampung ini kemudian membangun lagi sebuah masjid dari kayu di tahun 1815 dan bertahan melintasi waktu hingga saat ini dan merupakan masjid tertua di Lithuania.

Pada masa Uni Soviet masjid ini ditutup total oleh penguasa komunis kala itu dan seluruh aktivitas keagamaan dilarang oleh Negara, namun muslim setempat secara sembunyi sembunyi tetap menggunakan masjid ini untuk peribadatan. Baru pada tahun 1980 masjid Forty Tatar Village dikembalikan lagi ke masyarakat muslim disana dan kembali difungsikan sebagaimana mestinya.

Di tahun 1993 masjid dilakukan pemugaran untuk memperbaiki kerusakan yang dialaminya setelah selama berpuluh puluh tahun terbengkalai. Di masa kemerdekaan Lithuania dari Uni Soviet. Dan di tahun 1996 Masjid ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya nasional yang dilindungi oleh Negara dengan nomor sertifikat pengesahan 1768. Sebagai batu prasasti peringatan kemudian dibangun di halaman masjid ini memperingati 600 tahun kehadiran muslim Tatar di Lithuania.

Masjid Forty Tatar Village dengan pemakaman umum di sekitarnya yang sudah berumur ratusan tahun.

Masjid ini kini menjadi satu satunya masjid di wilayah tersebut, dan di desa ini ada sekitar 120 orang muslim dan kebanyakan dari mereka merupakan keturuanan langsung dari anggota pasukan Muslim Tatar yang datang kesana di abad ke 14 atas undangan Kaisar Vytautas.

Seperti kebanyakan masjid masjid tua lainnya, di sekitar masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman tua (Mizaras) dan dibagian lain kampung tersebut juga ditemukan tiga makam berusia tua dari muslim Tatar. Pemakaman ini diperkirakan berasal dari era awal terbentuknya perkampungan muslim ini disekitar abad XIV – XVII.

Namun makam makam tersebut kebanyakan hanya ditandai dengan batu bukan nisan bertulis yang dapat dijejak dengan mudah sejak kapan makam tersebut berada disana. Ada beberapa makam yang dapat dikenali dari inskipsi yang ada di batu nisannya berasal dari paruh kedua abad ke tujuh belas miladiyah bertarikh tahun 1621 atas nama Allahberdi. Makam tersebut merupakan makam muslim tertua yang dapat dikenali di seluruh wilayah Lithuania.

Muslim Tatar Lithuania dalam lintasan Sejarah

Forty Tatar Village atau Keturiasdešimt Totorių adalah sebuah desa yang berjarak sekitar 20 menit berkendara ke arah selatan dari pusat kota Vilnius, Ibukota Lithuania. Desa kecil dengan sejarah hampir 600 tahun dan memainkan peranan sangat penting tidak saja bagi sejarah Islam namun juga bagi sejarah Negara Lithuania dan sejarah abad pertengahan kawasan Baltik, namun nyaris terlupakan.

Nama desa ini bila di Indonesia-kan berarti Desa Benteng/pertahanan Tatar, bukan sekedar nama, namun dari tata letak desanya yang masih bertahan hingga kini memperlihatkan struktur pedesaan dari sebuah Kamp Militer Etnis Tatar. Karena desa ini memang pada awalnya dibangun oleh pasukan militer Tatar yang ditempatkan disana.

Menara mungil di puncak atap masjid Forty Tatar Village

Penempatan pasukan tersebut bertujuan untuk melindungi Lithuania dari serbuan pasukan Intoleran dari Eropa barat. Anggota pasukan Tatar tersebut notabene adalah kaum muslimin. Itu sebabnya dalam sejarah setempat desa ini kemudian disebut dengan Keturiasdešimt Totorių atau Forty Tatar Village atau Desa Benteng Pertahanan Kaum Muslimin Tatar.

Kehadiran muslim Tatar di Lithuania dimulai sejak abad ke 14 Miladiyah dimasa kekuasaan Kaisar Vytautas. Di masa kekuasaanya wilayah kerajaan Lithuania membentang dari Laut Baltik di utara hingga ke Laut Hitam di timur. Dalam upaya mempertahankan kerajaannya dari serangan kerajaan Jerman, Kaisar Vytautas mendatangkan pasukan Muslim Tatar dari semenanjung Chrimea untuk membantu mempertahankan wilayah kekuasaannya.

Pada masa itu Lithuania merupakan sebuah kerajaan penganut Paganisme namun memiliki tradisi toleransi yang sangat kuat dan sudah menjalin komunikasi intensif dan aliansi dengan dunia Islam yang sudah mengakar di bagian selatan Eropa termasuk semenanjung Chrimea (kini secara dejure merupakan bagian dari wilayah Ukraina namun secara defacto dikuasai oleh Russia).

Gelombang pertama kedatangan pasukan Muslim Tatar ke Lithuania terjadi di tahun 1398. Pasukan Muslim Tatar yang merupakan bangsa Eropa keturunan Mongol ini memiliki reputasi ketangguhan luar biasa dalam berperang serta memiliki loyalitas yang tinggi. Sebagian besar pasukan Tatar ini ditempatkan oleh Kaisar Vytautas di sekitar ibukota kerajaan di Trakai dan mereka membentuk pemukimannya sendiri, dengan tujuan sewaktu waktu dibutuhkan akan dengan mudah dihubungi dan digerakkan. Salah satunya adalah di Desa yang kini dikenal dengan nama Keturiasdešimt Totorių atau Forty Tatar Village.

Interior Masjid Forty Tatar Village

Ketika pasukan salib Jerman yang berintikan para Ksatria Teutonic menyerbu ke Lithuania pada 15 Juli 1410 peperangan tak terhindarkan di sekitar kota Tannenber (Grunwald) yang terkenal dalam sejarah sebagai perang Grunwald. Pasukan Lithuania yang di dukung pasukan Muslim Tatar, Polandia, Czech dan Russia dengan jumlah mencapai 30.000 orang, dengan gemilang menaklukkan 20.000 orang pasukan para Ksatria Teutonic tersebut.

Sebagai ucapan terima kasih, Kaisar Vytautas mengizinkan Muslim Tatar menetap di Lithuania dan menghadiahkan tanah yang sangat luas kepada Muslim Tatar, sebuah wilayah yang membentang dari selatan ibukota Lithuania di Trakai hingga ke kota Bialystok (kini masuk wilayah Negara Polandia) di sebelah barat, membentang hingga ke pinggiran kota Minsk (kini ibukota Negara Belarusia), tidak hanya itu, kaisar juga menjamin kebebasan bagi Muslim Tatar untuk menjalankan syariat Islam. Hal tersebut terus berlaku hingga ke para kaisar pengganti Kaisar Vytautas meskipun kemudian Para kaisar selanjutnya telah memeluk Kristen.

Tujuh abad muslim Tatar tinggal dan hidup bersama dengan warga asli Lihtuania berasimilasi dan berintegrasi. Banyak dari mereka yang kemudian menjadi tuan tanah, pengusaha, pedagang, birokrat hingga menduduki jabatan tinggi di kemiliteran Lithuania. Pusat pengembangan Islam tumbuh di berbagai tempat. Muslim Tatar di masa itu bahkan memiliki sekitar 25 masjid di berbagai kota temasuk di ibukota negara.

Namun situasi kemudian perlahan berubah, manakala kerajaan mulai semakin konservatif, memutus hubungan dengan pihak selatan, semanjung Chrimea dan Islam, Muslim Tatar dengan sendirinya terisolasi dari dunia Islam. Keadaan semakin parah manakala Lithuania menjadi bagian Uni Soviet di abad ke 20 Miladiyah. Muslim Tatar memasuki masa paling suram dalam sejarah mereka di Lithuania.

Agama menjadi hal terlarang, mereka yang menolak kebijakan itu akan menghadapi pembunuhan atau di asingkan oleh penguasa. Masjid masjid ditutup, di alih fungsi atau bahkan dihancurkan. Ketika Uni Soviet ambruk, Lithuania memilih merdeka dan melepaskan diri dari federasi, di Negara itu hanya tersisa tiga bangunan masjid saja yang masih utuh dalam kondisi yang mengenaskan, dan tak satupun yang tersisa di ibukota Negara. Salah satu masjid tersebut adalah Masjid di desa Keturiasdešimt Totorių atau Forty Tatar Village yang merupakan titik awal kedatangan pasukan Muslim Tatar di Lithuania.

Beberapa batu nisan dari pemakaman tua di sekitar masjid Forty Tatar Mosque.

Saat ini ada sekitar 3000 muslim di Lithuania dan sebagian besar dari mereka merupakan muslim keturuan Tatar, yang selama beberapa generasi mempertahankan identitas keislaman mereka melintasi masa yang begitu berat. Terisolasi selama beberapa generasi dari dunia Islam membuat muslim Tatar di Lithuania kini harus bekerja keras untuk memahami kembali ajaran Islam sebagaimana mestinya untuk tidak sekedar sebagai sebuah identitas semata.

Selain Masjid di Forty Tatar Village, masjid masjid yang dibangun diatas tanah hadiah dari Kaisar Vytautas kini tersisa empat masjid saja dan telah berada di lintas Negara, yakni; dua Masjid di Polandia masing masing di kota Kruszyniany dan kota Bohiniki, dan dua masjid di Belarusia masing masing di kota Navahrudak dan Kota Iwie.

Arsitektur Masjid Forty Tatar Village

Masjid Forty Tatar village berdenah segi empat, seluruh strukturnya menggunakan kayu, berdinding papan dan tanpa menara. Mirip dengan kebanyakan bangunan rumah rumah tua di desa itu. Yang menjadi pembeda yang sangat jelas bangunan masjid ini dengan bangunan lainnya adalah adanya kubah metal di puncak atapnya.

Kubah berdenah segi delapan ini berdiri diatas sebuah tatakan bundar yang juga berstruktur kayu, dengan bentuk menyerupai sebuah menara kecil di puncak atap masjid, di ujung kubah ditempatkan satu simbol bulan sabit. Masjid ini bahkan tak dilengkapi dengan mihrab. di sisi kiblatnya diletakkan sebuah mimbar dari kayu berukuran kecil.

Meski berukuran kecil, ruang sholat untuk Jemaah wanita dipisahkan secara permanen dengan sekat dari dinding kayu, ruangan sholat untuk Jemaah wanita ini letaknya bersisian dengan ruangan sholat utama, namun dengan pintu akses yang terpisah. Ada sedikit bukaan antara ruangan ini namun tetap ditutup dengan tirai kain tipis.

Di dalam masjid, struktur kayu masjid ini benar benar terlihat karena seluruh kayunya dibiarkan dengan warna aslinya, hanya bagian lantainya saja yang tak tampak kayunya karena ditutup dengan karpet sajadah. Bila di Indonesia, suasana di dalam masjid ini mirip dengan suasana di dalam rumah rumah tradisional Melayu di Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi yang terbuat dari kayu, maskipun masjid ini tidak dibangun sebagai rumah panggung.***

Referensi

https://www.beautifulmosque.com/Forty-Tatar-Mosque-in-Vilniaus-Lithuania

https://deepbaltic.com/2015/11/30/forty-tatars-in-the-lithuanian-countryside-one-villages-600-years-of-islamic-history/

http://en.islamasvisiems.lt/mosques-islamic-centres-and-tourist-place/

http://www.bbc.com/news/magazine-35170834

http://web.archive.org/web/20100802145523/http://www.kpd.lt/epd2009/index.php/lt/kitoks-pveldas/totoriu-paveldas

Masjid Kaunas, Lithuania

Terindah di Lithuania, Masjid Kaunas ini merupakan satu satunya masjid di Lithuania yang dibangun dalam bentuk bangunan masjid sebenarnya seperti pada umumnya lengkap dengan kubah besar dan menara, tiga masjid Lithuania lainnya dibangun dari kayu dengan bentuk hampir sama dengan kebanyakan bangunan hunian penduduk setempat.

Kaunas adalah sebuah kota di Republik Lithuania, yang merupakan kota terbesar kedua di Lithuania setelah Ibukota Negara, Vilnius. Kota ini mencakup wilayah seluas 157 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 321 ribu jiwa di tahun 2011. Kota Kaunas dilalui oleh dua sungai yakni Sungai Nemunas dan Sungai Neris yang menjadi saksi bisu sejarah panjang kota tersebut.

Sejarah masa lalu kota Kaunas cukup berdarah darah. Sempat menjadi bagian dari wilayah Negara Commonwealth Polandia dan Lithuanian sampai tahun 1795, dan pada saat Negara Commonwealth tersebut terbelah, kota Kaunas menjadi bagian dari Kekaisaran Russia. Ketika pasukan Napoleon dari Prancis berupaya menyerbu Russia, kota Kaunas menjadi laluan pasukan Napoleon, dua kali Pasukan Napoleon melalui kota ini dan dua kali pula Kaunas mengalami kehancuran.

Di kota Kaunas sejak enam abad yang lalu terdapat komunitas kecil ummat Islam dari Etnis Tatar yang kini telah menjadi bagian integral dari Negara tersebut, dan sejak tahun 1930 kaum muslim Tatar di Kota Kaunas ini telah memiliki masjid yang terkenal dengan sebutan masjid Kaunas. Lokasinya berdiri tepat dijantung kota bersebelahan dengan taman Ramybes Park dan dua Gereja Ortodox, diapit oleh dua ruas jalan utama Traku street dan Vytautas boulevard di Ramybes park.

Vytauto Didžiojo mečetė

Totorių. 6, Kaunas 44236, Lituania

musulmonai.lt

koordinat: 54°53'39"N   23°55'42"E

Dari empat masjid tua yang masih ada di Lithuania, Masjid Kaunas merupakan satu satunya masjid tua yang dibangun dengan gaya masjid sebenarnya dari bahan beton lengkap dengan kubah dan menara. Masjid Kaunas juga masjid pertama dan satu satunya yang dibangun dengan dana bantuan dari pemerintah Lithuania sebelum Negara tersebut menjadi bagian dari Federasi Uni Soviet.

Pembangunan masjid Kaunas dilaksanakan bersamaan dengan peringatan 500 tahun wafatnya raja terbesar Lithuania, Vytautas di tahun 1930. Kala itu pemerintah Lithuania menyelenggarakan berbagai even untuk peringatan dimaksud dan bertepatan dengan momen tersebut, muslim Tatar di Kaunas mengajukan rencana membangun sebuah masjid sebagai bagian dari peringatan tersebut.

Sebelumnya Masyarakat muslim Kaunas menyelenggarakan peribadatan di gedung komunitas yang dibangun tahun 1910 oleh seorang muslim Tatar Kaya Raya, Haji Alexander Ilyasevich. Dan Masjid yang akan dibangun direncanakan di lahan disamping gedung milik komunitas muslim tersebut.

Setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah Lithuania, sebagian besar dana pembangunan masjid ini dikucurkan oleh pemerintah sedangkan sisanya ditanggung bersama oleh Muslim Tatar. Sedangkan proyek pembangunannya ditangani oleh arsitek Adolfas Netyksa dan Vaclovas Michnevicus.

Setelah menjalani proses pembangunan selama tiga tahun, seluruh proses pembangunan masjid Kaunas selesai dan diresmikan pada tanggal 15 Juli tahun 1933 dan secara resmi diberi nama Vytautas Didysis Mosque. Bangunan masjid ini cukup indah dengan memadukan gaya masjid Tatar dengan gaya masjid Arabia, meskipun ukurannya tidak terlalu besar sesuai dengan populasi muslim disana.

Exterior masjid tampil sangat menyolok diantara bangunan lainnya, dengan kubah setengah lingkaran berukuran cukup besar di atap bangunan diapit oleh empat kubah berukuran lebih kecil di empat penjuru atap ditambah dengan satu kubah diatas beranda. Di sisi kiblatnya juga dilengkapi dengan mihrab, sementara sebuah menara menjulang di sisi kanan pintu masuk.

Mimbar dan Mihrab Di dalam Masjid Kaunas.

Interior masjid ini terdiri dari ruang sholat utama berukuran 90m² untuk Jemaah laki laki dan ruang sholat Jemaah wanita seluas 45m² yang berada di balkoni terbuka di dalam masjid. Selain itu masjid ini juga dilengkapi dengan ruang pengurusan jenazah, ruang peralatan masjid bersebelahan dengan tangga menuju ke balkon dan menara.

Rangkaian Sejarah Masjid Kaunas

Sedangkan di pekarangan masjid terdapat komplek pemakaman bagi muslim setempat yang berada di sudut  pertigaan ruas jalan Tatars’ street dan Traku Street, dipisahkan oleh pagar. Tidak ada perubahan berarti terhadap bangunan masjid ini seiring perjalanan waktu namun demikian pemakaman umum yang ada disekitarnya telah lenyap diratakan dengan tanah dimasa Uni Soviet, termasuk pemakaman umum yang sudah ada disana sejak tahun 1847.

Penghancuran komplek makam tersebut dimulai tahun 1952, sebagian komplek pemakaman diratakan dengan tanah dengan alasan lokasinya yang sudah tidak tepat lagi karena berada di pusat kota. Namun alasan sebenarnya adalah Pemerintah Uni Soviet tidak merasa nyaman dengan begitu banyak monument dan dan makam kaum muslimin ditempat itu. Ditambah lagi dengan peristiwa demonstasi Solidaritas mahasiswa Kaunas bersama dengan orang orang Hongaria di bulan Oktober 1956 di tempat tersebut memicu penghancuran total seluruh area makam.

Masjid Kaunas di Musim Salju.

Kini lahan bekas pemakaman tersebut dikenal dengan nama Taman Ramybes park (Silence park) atau taman keheningan sesuai dengan suasana tempat tersebut sebelum di ubah menjadi taman hijau oleh pemerintah Soviet. Pemerintah Lithuania juga membangun beberapa prasasti peringatan untuk mengenang bahwa tempat tersebut dahuluna adalah sebuah komplek pemakaman tua. Bangunan bekas tempat tinggal penjaga makam bahkan masih berdiri hingga kini dan dirawat sebagai bagian sejarah. Di Tahun 2006, pemerintah Hongaria menyelenggarakan peringatan peristiwa berdarah di tempat tersebut dan membangun sebuah tugu peringatan disana.

Pembredelan Masjid Kaunas

Pada tahun 1941 masjid ini di tutup dan mengalami penjarahan, kaca kaca jendela nya rusak, karpet, karpet, furniture serta manuskrip Al-Qur’an tua yang ada di masjid ini pun dicuri. Selama periode tahun 1941 hingga tahun 1947 masjid ini masih dibuka dan berfungsi sebagaimana mestinya namun kemudian lagi lagi di tutup dalam kurun waktu yang sangat lama sejak tahun 1947.

Pada mulanya masjid ini diserahkan kepada Kantor Arsip Kaunas dan digunakan sebagai gudang arsip. Kemudian di tahun 1950 digunakan sebagai tempat sirkus kelompok Valentinas Dikulis. Tahun 1986 masjid Kaunas kembali di ubah fungsi menjadi gedung perpustakaan dan gudang Musium Seni Mikalojus Konstantinas Ciurlionis.

Di musim panas dengan warna langit yang membiru dengan sedikit sapuan awan.

Di periode tahun 1972-1973 bangunan masjid Kaunas kemudian diperbaiki sebagai bagian dari proyek Arsitek Z. Dargis. Sebuah ruang galeri kemudian dibangun pada bagian selatan tembok masjid sebagai bagian dari rencana untuk mendirikan Musium Seni Ketimuran di masjid tersebut, namun rencana itu tidak pernah benar benar terwujud.

Barulah di tahun 1991, setelah Lithuania merdeka dari cengkraman Uni Soviet, bangunan masjid serta lahan seluas 0.84 hektar tempatnya berdiri diserahkan kembali oleh pemerintah Lithuania kepada komunitas muslim Kaunas dan kembali difungsikan sebagai masjid setelah selama 44 tahun di tutup total.

Ditahun 2009 pemerintah Lithuania menetapkan Masjid Kaunas sebagai salah satu Cagar Budaya dan dilindungi oleh Negara dan sampai tahun 2009 masjid ini bertahan sebagai satu satunya masjid berbahan beton yang ada di Negara Negara kawasan laut Baltik, sampai kemudian berdirinya Masjid dan Islamic Center di kota Tallin ibukota Republik Estonia.

Saat ini ada sekitar 260 jiwa muslim Kaunas yang merupakan Muslim Tatar, jumlah yang hampir sama dengan saat perang dunia kedua berahir saat muslim Tatar masuk ke Lithuania dari kawasan Kaukasus, Krimea dan Asia Tengah dan kemudian mendapatkan status kewarganegaraaan Lithuania.

Masjid ini kini turut diramaikan oleh mahasiswa yang datang dari Negara Negara Timur Dekat dan Negara Negara Islam. Di setiap hari Jum’at masjid ini penuh sesak oleh Jemaah sholat jum’at yang meluber hingga kehalamannya., dan jumlah muslim di Kaunas dan Lithuania semakin meningkat dari waktu ke waktu.***

Referensi

http://en.islamasvisiems.lt/mosques-islamic-centres-and-tourist-place/

http://www.my-world-travelguides.com/kaunas-lithuania.htm

http://vyrud.livejournal.com/963.html?thread=451

http://members.virtualtourist.com/m/p/m/8ed0f/#ixzz1x7np74FY

http://mosqueedelituanie.over-blog.com/4-index.html

Masjid Raižiai Lithuania

Berselimut Salju, Masjid Raiziai di Lithuania, salah satu dari empat masjid di negara itu.

Masjid Raižiai adalah salah satu dari empat masjid tua yang ada di Lithuania, sama seperti tiga masjid Lithuania lainnya, masjid inipun dibangun oleh Anggota Pasukan Muslim Tatar yang datang ke Lithuania pada aad ke 14 atas undangan dari Raja Vytautas, Raja terbesar dalam sejarah Lithuania. Dibangun dalam arsitektur tempatan membuat masjid ini sama sekali tidak mirip dengan masjid pada umumnya bahkan lebih mirip sebuah bangunan Gereja.

Masjid tua ini berdiri di tengah desa dengan nama yang sama, Desa Raižiai, sebuah desa kuno yang dibangun di penghujung abad ke 15 hingga awal abad ke 16 miladiyah dan hingga kini merupakan desa yang penghuninya hampir seluruh nya merupakan kaum muslimin Tatar, bahkan kini seringkali disebut sebut sebagai ibukotanya Tatar di Lithuania.

Sebagian besar Muslim Tatar masuk ke Lithuania pada masa pemerintahan Grand Duke Vytautas (1392-1430) karena memang diundang oleh Raja Vytautas untuk bergabung dengan pasukannya mempertahankan diri dari serbuan pasukan Jerman. Sebagian dari pasukan muslim Tatar ini beserta keluarganya  kemudian bermukim di desa Raižiai dan kemudian membangun masjid disana.

Masjid Desa Raiziai ini pertama kali dibangun tahun 1556. Namun bangunan yang kini berdiri merupakan bangunan dari tahun 1889. Pada masa Uni Soviet masjid ini menjadi satu satunya masjid yang diperbolehkan menjalankan aktivitas-nya diseluruh wilayah Lithuania. Dan dimasa kemerdekaan Lithuania, masjid ini telah disyahkan sebagai Cagar Budaya Nasional yang dilindungi oleh Negara.

Masjid Tua menjadi saksi sejarah Lithuania.

Arsitektur Masjid Raižiai

Seperti telah disinggung di awal tulisan tadi, Masjid Raižiai dibangun dengan arsitektur tempatan sebagaimana bangunan hunian yang ada di Lithuania. Dari sisi ukuran, Masjid Raižiai memang sedikit lebih besar dibandingkan dengan Masjid Forty Tatar Village dan Masjid Nemezis meskipun dengan arsitektur yang serupa.

Seluruh bangunannya berbahan kayu kecuali bagian kubah dan atap nya yang menggunakan bahan seng. Bangunannya berdenah segi empat, dengan sisi depannya rata seperti layaknya sebuah bangunan gereja. Berbeda dengan dua masjid tua dari kayu di Lithuania lainnya Masjid Raižiai ini tidak menggunakan tiang dibagian tengahnya sehingga ruang utamanya terkesan lebih luas.

Ruang dalam masjid dibagi dua bersisian, disekat permanen dengan dinding kayu diberi sedikit bukaan namun tetap ditutup dengan tirai dari kain tipis. Ruang terpisah tersebut merupakan ruang sholat khusus untuk Jemaah wanita. Ruangan sholat utama hanya untuk Jemaah pria. Pintu masuk untuk masing masing ruang ini pun dibuat terpisah.

Mirip dengan sebuah gereja karena memang dibangun seperti layaknya bangunan hunian di daerah tersebut.

Masjid Raižiai ini tidak memiliki ruangan khusus mihrab, namun sebagai penggantinya ada tempat khusus untuk imam yang dibuat seperti sebuah gapura disebelah mimbar dari kayu berukir yang di sisi kiblatnya. Seluruh lantainya ditutup dengan karpet dan beberapa helai sajadah berukuran besar dibentangkan di tengah ruangan.

Mimbar masjid ini yang terbuat dari kayu di ukir dengan tangan, namun tidak ada informasi terkait siapa pengukirnya. Sebuah mimbar tua yang dibuat sekitar tahun 1684 dan dipindahkan kemasjid ini sekitar abad ke 18 atau abad ke 20 dari sebuah bangunan masjid yang terbakar di desa tetangganya, Desa Bazorai.

Interior Masjid Raiziai.

Sebuah menara kecil seperti sebuah gazebo berkubah ditempatkan di atap masjid bagian depan, lagi lagi bentuknya justru lebih mirip kubah pada sebuah bangunan Gereja, hanya saja di puncak nya ditempatkan symbol bulan sabit penanda bahwa bangunan ini merupakan sebuah Masjid.

Desa Raižiai memiliki beberapa lahan pemakaman umum dan salah satunya berada di pekarangan masjid ini yang digunakan untuk pemakaman muslim Tatar dan muslim dari suku bangsa lainnya hingga hari ini. Beberapa makam di kompleks ini bahkan sudah sangat tua sementara sebagian lagi tak dapat dilacak tahunnya karena hanya bernisan batu alam tanpa tulisan apapun.

Dari sekitar 3000-an muslim Lithuania, sebagian besar merupakan muslim Tatar dan sekitar 400-an muslim Tatar ini tinggal di Distrik Alytus terutama di desa Raižiai ini. Selain di Raižiai, daerah lain di distrtik Alytus yang menjadi tempat tinggal Muslim Tatar ada di desa Butrimonys dan kota Alytus.***

Menara kecil di atap masjid dengan ornamen bulan sabit di ujung nya.
Jam Matahari di halaman Masjid Raiziai.

Referensi

http://en.islamasvisiems.lt/mosques-islamic-centres-and-tourist-place/

http://www.kelioniumanija.lt/kelioniu-idejos/keliones-po-lietuva/raiziai-vieta-kur-musulmonu-maldose-minimas-vytautas-didysis/

https://lt.wikipedia.org/wiki/Rai%C5%BEi%C5%B3_me%C4%8Det%C4%97

http://www.danielius.net/dzukija/lietuvos-totoriu-sostine-raiziai-pagerbe-vytauto-didziojo-atminima-ir-pergale-zalgirio-musyje

http://alytus-tourism.lt/en/places-to-visit/architecture-values/tatar-s-mosque-in-raiziai

Friday, July 31, 2020

Masjid Nemėžis, Lithuania

Masjid Nemeziz, sebuah masjid dari kayu dengan sebuah bentuk menara di puncak atapnya, tapil menjadi satu satunya masjid di daerah tersebut dan merupakan salah satu dari empat masjid di Lithuania.

Masjid Nemėžis adalah salah satu dari empat masjid tua yang masih ada di Negara Lithuania. Masjid ini sebenarnya tidak memiliki nama, Nemėžis sendiri adalah nama desa tempat masjid ini berada, sama halnya dengan masjid di desa Forty Tatar, masjid ini dibangun oleh anggota pasukan muslim Tatar dari semenanjung Chrimea yang di datangkan oleh Raja Vytautas ke Lithuania di tahun 1397.

Kaisat Vytautas merupakan raja terbesar dalam sejarah Lithuania, dimasa kekuasaanya wilayah Lithuania membentang hingga ke wilayah yang kini menjadi Negara Polandia dan Belarusia. Ada empat masjid peninggalan masa itu yang kini masih berdiri di Polandia dan Belarusia dan semuanya merupakan warisan dari Muslim Tatar. Sejarah masuknya muslim Tatar ke Lithuania selengkapnya dapat anda baca di artikel Forty Tatar Mosque di posting sebelumnya.

Nemėžio totorių mečetė

Totirų g. 4, Nemėžis 13262, Lituania

Desa Nemezis dibangun oleh Pasukan Militer Muslim Tatar di luar tembok kota Vilnius sebagai bagian dari upaya Raja Vytautas untuk memperkuat pertahanan negaranya dari serbuan Kerajaan Jerman. Ditempatkannya pasukann Militer Tatar tak jauh dari pusat ibukota kerajaan ini tak lain sebagai bagian dari strategi militer dengan pertimbangan sewaktu waktu dibutuhkan akan mudah dihubungi dan dikerahkan. Selain itu, di Nemezis juga terdapat Istana musim panas Raja Vytautas dan Permaisurinya yang juga di bangun di abad ke 14.

Masjid Nemezis pertama kali dibangun tahun 1684, namun bangunan tersebut habis terbakar dan kemudian dibangun ulang ditahun 1909 dengan rancangan dari arsitek A. Soninas. Bangunan masjidnya dibangun dari kayu berdinding papan dan atap seng. Dibagian puncak atapnya ditempatkan sebuah bentuk gazebo menyerupai sebuah menara masjid dengan Kubah metal berdenah segi delapan, dan dibagian puncak kubah diletakkan symbol bulan sabit sebagai symbol dunia Islam. Sebuah pemakaman tua juga terdapat di pekarangan masjid ini.

Di masa perang dan pada masa Uni Soviet masjid ini mengalami kerusakan parah. Di ahir perang dunia kedua komplek pemakaman di pekarangan masjid ini bahkan dijadikan lokasi penempatan Misil milik Uni Soviet yang digunakan untuk membombardir kota Vilnius.

Interior Masjid Nemezis

Kerusakan semakin parah ditahun 1963 manakala kebakaran melanda masjid ini namun masih beruntung api dapat dipadamkan dengan memotong bagian menara di puncak atap masjid yang menjadi titik asal kobaran api.

Sesaat setelah pemerintah Uni Soviet berencana menghancurkan masjid yang sudah rusak tersebut namun ditentang oleh warga muslim setempat. Penghancuran memang tidak jadi dilaksanakan namun masjid tersebut dijadikan gudang penyimpanan biji gandum di tahun 1968, kemudian dialiffungsi lagi menjadi museum.

Baru di tahun 1978 masjid ini dikembalikan kepada komunitas muslim setempat dan dilakukan perbaikan di tahun 1993 kemudian menyusul dilaksanakan renovasi total pada tahun 2009. Kini masjid Nemeziz telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya oleh pemerintah Lithuania merdeka.

Makam makam tua disamping Masjid Nemezis.

Arsitektur Masjid Nemezis

Masjid Nemezis dibangun dengan bahan kayu sama seperti halnya dengan Masjid Forty Tatar Mosque dan Masjid Raiziai yang sama sama dibangun dari kayu seperti layaknya rumah hunian warga setempat. Sebuah bentuk menara ditempatkan di puncak atap masjid dengan bulan sabit di ujung kubahnya menjadi satu satunya pembeda dan penanda bahwa bangunan ini adalah masjid serta arah bangunannya yang menghadap ke kiblat.

Menara di puncak atap masjid ini dibuat cukup besar layaknya sebuah menara meskipun tidak terlalu tinggi, berbeda dengan yang terdapat di masjid Forty Tatar Village yang dibuat begitu mungil. Arsitektur masjid kayu seperti ini menang sangat unik dan hanya ditemui pada masjid masjid muslim Tatar di wilayah Lithuania dan bekas wilayahnya yang kini menjadi Negara Polandia dan Belarusia.

Syahdu, Masjid Nemezis di musim salju yang memutih dari depan pintu gerbangnya dengan ornamen bulat sabit.

Masjid Nemezis juga tidak dilengkapi dengan kiblat, di sisi kiblat di dalam masjid ditempatkan sebuah mimbar kayu berukir bergaya Tatar, berupa mimbar dengan beberapa undakan tangga tanpa podium, sebagai tempat khatib berdiri menyampaikan khutbah. Seluruh interior masjid ini sama seperti bagian luarnya, urat urat kayu dari dinding papan dan strukturnya terlihat alamiah tanpa lapisan cat menutupinya, menghadirkan suasana tenang dan kehangatan alami.

Masjid ini dilengkapi dengan sebuah beranda tertutup, dan pintu akses masjid ini ditempatkan di beranda tersebut. Lahan tempat masjid ini berdiri cukup luas, dan sekelilingnya telah dipagar, ornament bulan sabit dapat kita temukan diujung ujung jeruji besi pada pintu gerbang masjid ini. Di lahan pekarangan sekitar masjid ini terdapat komplek pemakaman muslim yang se-usia atau bahkan lebih tua dari bangunan masjidnya sendiri.***

Referensi

http://en.islamasvisiems.lt/mosques-islamic-centres-and-tourist-place/

Thursday, July 30, 2020

Masjid Bohoniki, Polandia

Masjid sederhana terbuat dari kayu menjadi cici ciri masjid peninggalan era kejayaan Lithuania pada masa kejayaan Kaisar Vytautas termasuk masuk masjid tua Boniniki di Polandia ini.

Bohiniki adalah sebuah desa kecil di sebaah timur laut Polandia yang berada tak jauh dari garis perbatasan negaranya dengan Republik Belarusia serta Lithuania. Penduduk desa kecil Bohiniki ini tak lebih dari 100 jiwa, namun alam sejarahnya yang begitu panjang memang memiliki keterkaitan dengan Belarusia dan Lithuania, mengingat ketiga negara tersebut pada abad ke 14 pernah terikat dalam persemakmuran.

Dimasa itu, Muslim Tatar dari semenanjung Krimea (Ukraina) masuk ke wilayah Persemakmuran Lithuania-Polandia atas undangan dari Raja Vytautas. Muslim Tatar  yang terkenal sebagai pasukan perang terlatih ini pada awalnya menetap di sekitar ibukota Lithuania dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah persemakmuran tersebut, dan pada saat persemakmuran dibubarkan membentuk negara masing masing, desa Bohiniki kini masuk ke dalam wilayah negara Polandia.

Meczet w Bohonikach

16-100 Bohoniki, Gmina Sokółka, Polandia

Koordinat: 53°23′N 23°36′E

Desa Bohoniki ini merupakan salah satu desa muslim Tatar di Polandia, Muslim Tatar di kawasan Baltik seringkali disebut dengan Lipka Tatar, Lipka merupakan nama lain dari Lithuania, dan Lithuania yang dimaksud adalah wilayah Lithuania di masa lalu yang meliputi wilayah yang jauh lebi luas dibangingkan dengan wilayah republic Lithuania saat ini, dan Polandia merupakan bagian dari wilayah persemakmuran bersama Lithuania-Polandia di masa lalu, begitupun dengan Belarusia, sebagian Ukraina dan Latvia.

Sejarah yang membentang 7 abad itu meninggalkan begitu banyak artefak dari masa lalu termasuk komplek pemakaman muslim yang berusia berabad abad, masjid dan masyarakat muslim Tatar yang masih eksis hingga hari ini di desa Bohiniki, meskipun mereka tak lagi berbicara dalam bahasa Tatar.

Desa Bohiniki merupakan satu dari dua Desa yang dibangun oleh Muslim Tatar di masa lalu, wilayah tersebut merupakan pemberian dari penguasa Polandia, King Jan III Sobieski, di sekitar abad ke 17, kepada kaum Muslim Tatar sebagai imbalan atas keikutsertaan mereka dalam perang melawan Turki.

Masjid Bohiniki dari arah sisi kiblat. bagian yang menjorok keluar dari bangunan utama itu adalah bagian mihrab.

Penduduk desa ini sebenarnya mencapai 3000-an jiwa namun sebagian besar dari mereka tertutama kaum muda sudah pindah ke pusat kota ataupun ke luar negeri untuk kehidupan yang lebih baik, Tersisa orang orang tua masih tinggal dan menetap di desa ini. Di masa kemerdekaan Polandia, kini desa Bohiniki telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh pemerintah Polandia sejak tanggal 20 Nopember 2012 dibawah pengelolaan Badan Cagar Budaya Nasional Polandia.

Masjid Bohiniki

Desa Bohiniki telah lama memiliki sebuah bangunan masjid tua yang dibangun dari kayu dengan arsitektur mirip dengan kebanyakan bangunan rumah rumah penduduk disana. Tidak ada data pasti kapan masjid ini dibangun, mengingat bahwa usia desa ini sudah begitu tua setua usia peradabannya, namun diperkirakan masjid kayu ini dibangun tahun 1873.

Di tahun tersebut terjadi kebakaran yang menghanguskan masjid desa Bohiniki dan kemudian ditahun yang lama dilakukan pembangunan masjid dimaksud. Kebakaran tersebut menghanguskan masjid desa Bohiniki yang terletak di sebelah pemakaman bersejarah di bagian timur dari desa, yang sudah ada sejak sekitar abad kedelapan belas, atau bahkan mungkin sejak abad ketujuh belas.

Interior Masjid Bohiniki, meskipun kecil dibangun dua lantai, Lantai atas (balkoni) hanya untuk jemaah wanita.

Selama Perang Dunia II, masjid ini dihancurkan oleh Wehrmacht, yang mengubah bangunan menjadi sebuah rumah sakit lapangan. Setelah 1945, masjid telah mengalami banyak renovasi kecil. Ada rencana untuk ekspansi masjid, namun terhalang oleh status masjid tersebut sebagai cagar budaya yang harus di konservasi.

Namun demikian, renovasi terhadap masjid ini tetap dilaksanakan tahun 2003 untuk menjaganya dari kerusakan. Atapnya yang semula dari timah dan sudah rudak diganti baru dengan sirap. Dan proses renovasi menyeluruh dilakukan pada tahun 2005. Proses renovasi dilakukan semata mata untuk kepentingan konservasi, seluruh pross dilakukan merujuk kepada bentuk dan material aslinya.

Arsitektur Masjid Bohiniki Tradisi Unik Pengunjung Non Muslim

Penampilan masjid Bohoniki mengingatkan kita pada sekolah di film Little House in The Prairie. Bukan di tengah padang rumput, tapi di tengah hamparan ladang gandum yang luas. Masjid ini merupakan satu dari dua pemukiman asli Tatar yang tersisa. Dibuat pada abad 17 dari kayu. Memiliki dua ruang kecil untuk shalat. Satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Hanya satu pintu masuk, dengan hiasan dinding kutipan dari ayat-ayat Al Qur’an menjadikan masjid ini tampak begitu sederhana.

Masjid Bohiniki dimusim salju yang membeku.

Tidak jauh dari desa ini, di hutan, terdapat pemakaman Islam, dimana makam-makam kuno dan baru berpadu membentuk garis-garis teratur. Nama-nama yang tertulis di makam tersebut kadang dari kata-kata bahasa Arab, namun juga ada yang berbahasa Polandia dengan simbol bulan sabit. Makam ini juga menjadi tempat yang kerap dikunjungi pengunjung Muslim, karena pemakaman ini merupakan salah satu dari tiga pemakaman muslim yang terdapat di Polandia.

Masjid Bohoniki ini juga sangat popular oleh penduduk non muslim sebagai obyek wisata. Lucunya, penduduk non Muslim yang ingin berkunjung ke masjid ini masuk dengan ritual dengan membuat tanda salib, seperti hendak memasuki gereja. Hal ini menunjukkan penghargaan kaum non muslim terhadap masjid setara dengan penghargaan mereka terhadap tempat ibadah mereka sendiri.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Bohoniki

https://en.wikipedia.org/wiki/Bohoniki

terpaku-masjid-masjid-kayu-di-polandia

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done